Transcript:
(00:01) Wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanuttaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslim wa antum muslimun ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa Saa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaanaana alaikumqiba.
(01:03) Ya ayyuhalladzina amanuttaqulaha waulu qulan sadida yuslih lakum a’malakum waagfir lakum dunubakum. Wamay yutiillaha waasulahu faqad faza fauzanima. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah.
(01:43) Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang melimpahkan berbagai macam nikmat dan kebaikan untuk kita. Utamanya tentu saja nikmat dan kebaikan dalam urusan agama kita. Sebab-sebab yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepadanya. termasuk nikmat taufik menuntut ilmu agama yang merupakan sebab perbaikan untuk lahir dan batin kita.
(02:19) Sebab untuk memudahkan kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala di waktu dhha ini kita diperkenankan dengan taufiknya untuk mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid As-sunah yang mubarak ini dengan tema kajian kunci hidup tenang yang tentu perkara ini pastinya merupakan salah satu hal yang diinginkan oleh manusia bahkan termasuk tuntutan terbesar dalam hidup manusia.
(03:06) Hidup yang tenang, hidup yang damai. Dan kita tahu agama Allah Subhanahu wa taala yang diturunkan dengan membawa kebaikan yang sempurna bagi manusia sebab-sebab keberkahan keberkahan hidup yang sempurna. Bagi manusia tidak mungkin luput untuk ya menjelaskan sebab sebab-sebab hidup yang tenang. Bahkan hidup yang tenang yang sesungguhnya karena kesempurnaan agama ini.
(03:42) Sehingga kebaikan-kebaikan besar seperti ini tidak mungkin tidak diterangkan dan tidak menjadi tujuan atau salah satu tujuan dari agama yang mulia ini. Barakallahu fikum ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah. Allah Subhanahu wa taala ketika menyebutkan tentang kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala turunkan secara sempurna dalam agamanya.
(04:15) Ya, yang kita ketahui bersama agama Islam ini kan petunjuknya sempurna, lengkap berdasarkan firman Allah Subhanahu wa taala yang kita kenal bersama di surat Al-Maidah ayat yang ketig. Azubillahiminasyaitanirrajim. Alyauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu alaikum nikmati waritu lakumul islama. Pada hari ini aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku jadikan nikmatku atasmu itu tamam.
(04:50) Yakni tam itu lengkap, sempurna dan aku ridai Islam sebagai agamamu. Jadi Allah Subhanahu wa taala menyempurnakan bagi kita nikmatnya dengan diturunkannya agama Islam yang sempurna. Berarti agama Islam ini adalah sebesar-besar nikmat yang Allah turunkan kepada manusia. Makanya hamba-hamba Allah yang beruntung, hamba-hamba Allah yang bertakwa yang keimanan mereka benar adalah hamba-hamba yang mendapatkan nikmat yang sempurna dari Allah Subhanahu wa taala dalam hidup mereka.
(05:43) Kenapa di surat Al-Fatihah waktu kita meminta hidayah agar selalu meniti jalan Allah yang lurus? Ihdinasiratal mustaqim. Ya Allah tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Yang kemudian diterangkan di ayat berikutnya siapakah orang-orang yang telah menempuh jalan yang lurus itu? Yaitu sirathalladzina an’amta alaihim.
(06:12) Jalan yang lurus itu adalah jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, engkau sempurnakan nikmat atas mereka. Ya. Yang kemudian orang-orang yang diberi nikmat ini ditafsirkan di ayat lain di surah An-Nisa sebagai hamba-hamba Allah yang paling sempurna iman dan ketakwaannya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wam yutiillaha warasula faulaika maalladina anamallahu alaihim minan nabiyina wasiddiqina wasyuhadaai wasihin wa hasuna ulaika rofiqo.
(07:00) ” Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka ini akan bersama orang-orang yang telah Allah berikan nikmat yang sempurna kepada mereka. Yakni minan nabiyin dari kalangan para nabi alaihi shalatu wasalam. Asiddiqin, orang-orang yang siddiq, orang-orang yang jujur dalam keimanannya. dalam ucapan dan perbuatannya lahir dan batinnya.
(07:36) orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Wahasuna ulaika rofiqo. Dan mereka itulah sebaik-baik teman yang menyertai. Kita perhatikan ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa agama Islam ini mengajak kita kepada sebab yang menyempurnakan nikmat Allah Subhanahu wa taala kepada kita. Tidak terkecuali nikmat yang didambahkan oleh semua manusia dalam hidupnya, yaitu nikmat ketenangan hidup.
(08:18) Ya, bahkan sudah kita ketahui di dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis-hadis yang sahih kalau kita baca ketika Allah Subhanahu wa taala menjanjikan kebaikan dalam agama ini atau menyebutkan sifat yang indah untuk agama ini, tidak pernah sekalipun ada lafaz atau ada kalimat yang menerangkan agama ini mempersulit hidup manusia atau menjauhkan mereka dari sebab-sebab ketenangan.
(09:00) Ya, ketika kita tahu semua doanya orang-orang yang beriman yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinazabanar. Ya Allah berikanlah kami di dunia ini kebaikan. Kan tidak mungkin dikatakan kebaikan kalau tidak tenang hidupnya di dunia dan di akhirat kebaikan.
(09:25) Lebih-lebih lagi sempurna kebaikannya di akhirat. Dan jagalah kami dari azab neraka. Di surat An-Nahl Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Man amila shiham min dzakarin au unsa. Wahua mukminun falanuhnahu hayatan thyibat wajziannahum ajrahum biahsani mau yammalun. Barang siapa yang melaksanakan amalan saleh baik dari kalangan laki-laki dan maupun perempuan wahua mukminun dalam keadaan dia beriman maka sungguh-sungguh kami akan berikan untuknya kehidupan yang baik kehidupan yang indah. Dan tidak mungkin dikatakan
(10:18) kehidupan yang baik kalau tidak tenang, kalau tidak tentram jiwa seseorang. Itu di dunia kata Imam Ibnu Qayyim. Ini balasan di dunia. Dan sungguh-sungguh kami akan berikan untuknya balasan yang lebih baik di akhirat nanti daripada apa yang mereka kerjakan di dunia. Seperti ini ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan hidupnya orang yang beriman dan beramal saleh.
(10:44) Sehingga kesan yang ya merupakan bisikan setan kepada banyak orang yang mengesankan bahwa berpegang teguh dengan agama ini, semangat menjalankan Islam akan menjadikan hidup sempit atau susah, tidak bebas dan seterusnya. Ini adalah kesan dan tipu daya setan yang buruk yang ingin menjauhkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa taala.
(11:16) Bahkan kita tahu jemaah sekalian hafidakumullah sesuatu yang namanya memberatkan justru Allah nafikan dari agama ini. Yuridullahu bikumul yusro wala yuridu bikum al usr. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan dia tidak menghendaki kesusahan. Ya. Wama ja’ala alaikum fiddini min haraj. Dan Allah tidak menjadikan bagi kalian dalam agama ini sesuatu yang memberatkan.
(11:49) lah sekarang kenapa banyak orang yang merasa berat melaksanakan salat, berat melaksanakan puasa itu kembali kepada dirinya, bukan kembali kepada agama ini. Ya, karena ada sesuatu penyakit di hatinya sehingga merasa berat melaksanakan sesuatu yang hakikatnya adalah justru kenikmatan dan kebahagiaan yang paling tinggi seandainya diamalkan dengan benar.
(12:20) Jadi Allah tiadakan. Bahkan dalam kaidah fikih ada kaidah yang terkenal almasyaqqatu tajlibut taisir. Sesuatu yang susah, yang berat itu akan mendatangkan kemudahan. Ya, ini semua gambaran yang Allah Subhanahu wa taala jelaskan ketika menyebutkan tentang keindahan dan keagungan agama ini. Tapi tentu saja ya tipu daya setan.
(12:57) Kemudian manusia punya hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala yang tentu akan menghalangi manusia dari kebaikan-kebaikan ini. Cuma di sini intinya jemaah sekalian hafidakumullah ketika kita mengkaji tema kunci hidup tenang, maka hakikatnya kunci ini dekat dengan kita.
(13:30) Bahkan kunci utama hidup tenang ini Allah Subhanahu wa taala turunkan secara sempurna dalam agama ini. Jemaah sekalian hafidakumullah. Kita tahu Allah Subhanahu wa taala menyatakan dengan tegas di dalam Al-Qur’an bahwa berzikir kepada Allah adalah satu-satunya tidak ada yang lainnya yang bisa menjadikan hidup atau hati manusia itu tenang, tentram.
(14:02) Dalam firman Allah Subhanahu wa taala, alladzina amanu watathmainnu qulubuhum bidzikrillahi ala bidzikrillahi tmainnul qulub. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah, berzikir kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah. Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah, dengan berzikir kepada Allah, yakni mendekatkan diri kepada Allah, hati manusia akan menjadi tenang.
(14:45) Hati manusia akan menjadi tentram. Kenapa di sini disebutkan hati? Karena hati adalah sumber kebaikan atau keburukan yang akan mempengaruhi semua anggota badan. Ketenangan harus bermula dari hati, baru anggota badan manusia akan tenang. Ya, tidak sebaliknya. Seolah-olah anggota badan manusia tenang, ternyata hatinya kacau.
(15:15) Ini seperti keadaan orang-orang munafik atau orang-orang yang beramal tidak ikhlas misalnya. Jadi, hati adalah sumber yang akan mempengaruhi semua anggota badan. Ya, kita tahu hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang terkenal riwayat Imam albukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu.
(15:35) Ala wa inna fil jasadi mugotan idza shahal jasadu kullu waidza fasadat fasadal jasadu kullu ala wahiyalqbu. Ketahuilah sesungguhnya pada diri manusia ada segumpal daging yang kalau segumpal daging ini baik semua anggota badan akan baik. Tapi kalau semua atau tapi kalau segumpal daging ini rusak atau buruk, semua anggota badan akan rusak.
(16:05) Ketahuilah itu adalah hati manusia. Nah, di sini kita perhatikan ya di dalam dalil-dalil ini menyebutkan bahwa hanya dengan menghadapkan diri kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, berzikir kepada Allah, hati manusia menjadi tenang. Berarti tidak ada sebab lain yang bisa menjadikan ketenangan bagi hati.
(16:41) Selain hal ini, perkara-perkara lain bisa menjadi pendukung ketenangan kalau dia membantu manusia dalam menyempurnakan zikir kepada Allah Subhanahu wa taala. yakni urusan-urusan dunia ya bisa menjadi sebab ketenangan kalau mendukung keimanan, tidak melalaikan manusia dari mengingat Allah subhanahu wa taala. Ini satu perkara yang harus kita yakini, yang harus kita benarkan.
(17:14) Karena dalil dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan demikian. Jemaah sekalian hafidakumullah. Ya, ketenangan hati itu digambarkan di dalam beberapa dalil dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, digambarkan atau disebutkan dengan istilah quratul ain atau quratul uyun, kesejukan hati.
(17:53) yang berasal dari kesejukan kita memandang sesuatu yang kita sukai kemudian hati kita menjadi tenang. Ya, ini diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Ightsatul Lahfan ketika beliau menafsirkan atau menjelaskan makna sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai dan yang lainnya dari Anas bin Malik radhiallahu taala anhu.
(18:28) Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Hubbiba ilaiya minad dunya anisau waibu wuilat quratu aini fisah wafi riwayatin fi shati dijadikan aku mencintai urusan-urusan dunia terhadap annisa perempuan yakni kepada istri-istri beliau yang Allah halalkan tentu saja ya sallallahu alaihi wasallam dan kepada atib minyak wangi ya karena baunya harum menyenangkan dan tentu juga dianjurkan ketika kita menghadap Allah dengan penampilan yang terbaik termasuk memakai wangi-wangian.
(19:16) Jadi perkara ini aku cintai dalam urusan dunia. Tetapi Allah menjadikan kesejukan hatiku, ketenangan jiwaku di dalam salatku. Ada urusan dunia yang dicintai dan itu boleh-boleh saja selama itu halal. Tapi ini tidak sampai pada tingkatan menjadi sebab inti yang menenangkan hati manusia. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam di sini membedakan ada yang dicintai dari urusan dunia tapi yang menjadi sebab ketenangan dalam jiwa, kedamaian di hati adalah ketika menunaikan salat.
(19:53) Nah, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tujuan ini berlaku untuk semua ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Puasa tujuannya adalah untuk menjadi quratul ain, penyejuk hati. umrah, haji, berjihad di jalan Allah, bersedekah, apalagi membaca Al-Qur’an ya, berzikir, berdoa. Semua tujuan utamanya adalah untuk menjadi sebab quratul ain, kesejukan hati.
(20:27) Sekarang antum perhatikan lafaz Qurratul ain ini juga Allah Subhanahu wa taala sebutkan di dalam Al-Qur’an ketika menggambarkan kenikmatan surga. Semoga Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita semua termasuk dalam golongan penghuni surga dengan rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa taala. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan kenikmatan surga sebagai quratul a’yun.
(21:05) Kenikmatan yang benar-benar menyenangkan hati. Ya, menjadi penyejuk jiwa. Allah Subhanahu wa taala berfirman di surat Asajadah setelah yang setelah pertengahan yni ayat ke-17 mungkin ya atau ke-18. Fala tlamu nafsum ma ukhfiya lahum min qurrati a’yunin jazaam bimau ymalun. Maka tidak ada satu jiwa pun seorang pun yang mengetahui ma ukhfiyalahum apa yang disembunyikan, yakni yang gaib yang tidak nampak bagi mereka ya berupa kenikmatan maksudnya kenikmatan surga yang merupakan kenikmatan yang quratu a’yun menyejukkan hati manusia.
(22:12) sebagai balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia. Karena seorang hamba yang beriman ketika di dunia selalu merasakan ibadah itu sebagai sebab yang menyejukkan hatinya, maka balasan yang Allah berikan untuknya adalah balasan yang sesuai. Hal jazaul ihsani illal ihsan. Bukankah balasan kebaikan itu tidak lain adalah kebaikan yang semisalnya? Al jazau min jinsil amal.
(22:45) Balasan dari jenis perbuatan. Ya, ini kenikmatan di surga. Kenikmatan yang tiada taranya lebih dari semua apa yang pernah dilihat, didengar atau dibayangkan manusia. Kita pernah dengar hadis qudsi riwayat Imam albukhari dan Muslim. Allah Subhanahu wa taala berfirman, aadu liibadi shihin mala ainun roat wala udun samiat wala khatoro ala qolbi basyar.
(23:16) Aku siapkan untuk hamba-hambaku yang saleh kenikmatan di surga yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, belum pernah terbetik terlintas dalam hati manusia. Maksudnya kalau kita pernah melihat kenikmatan sesuatu yang paling enak dalam kehidupan kita di dunia, maka di surga lebih dibandingkan itu.
(23:40) Mungkin tidak pernah kita lihat, kita pernah dengar kalau seperti ini, oh sesuatu indah, sesuatu sangat enak, sangat nikmat. Di surga lebih lagi. Mungkin kita pernah membayangkan sesuatu. Seandainya begini ya, kalau seperti ini bentuknya, kalau seperti ini rasanya, maka nikmat sekali di surga lebih daripada itu. Bagaimana mungkin tidak menj menyejukkan hati ya? Sehingga ini menunjukkan kepada kita bahwa balasan di surga itu kenikmatannya sangat tinggi.
(24:11) Sesuai dengan quratul ain tadi. Kesejukan hati yang dirasakan oleh orang yang beriman dengan ibadahnya itu sangat tinggi dan paling tinggi melebihi apapun dari kenikmatan yang ada dalam urusan dunia. Dari sini kita tahu kan kenapa orang-orang yang beriman itu ketika beribadah orang-orang yang saleh mereka beribadah dengan sangat gembira, berlomba-lomba, bersegera.
(24:41) Ulaika yusariuna filhairati wahum laha sabiquun. Mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera melakukan kebaikan-kebaikan dan berlomba-lomba mengerjakannya. Sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu yang tidak dirasakan nikmat, apakah orang akan berlomba mengerjakannya? Tidak mungkin. Syukur-syukur dia kerjakan. Ya.
(25:06) Jadi perhatikan quratul ain di dunia ibadah berzikir kepada Allah apalagi membaca Al-Qur’an, mentauhidkan Allah, menjauhi perbuatan syirik, menegakkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dan meninggalkan perbuatan bidah dan penyimpangan dari sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Balasannya quratul ain di akhirat nanti. Ya, makanya kenikmatan ini digandingkan agar kita tahu bahwa inilah sumber kebahagiaan dan kenikmatan hati manusia yang sesungguhnya dunia dan akhirat.
(25:50) Kalau tidak salah pertemuan yang lalu saya pernah nukilkan pernyataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala yang dinukil oleh muridnya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Alwabilus Shayyib Ibnu Taimiyah rahimahullah taala pernah mengatakan inna fid dunya jannatan man lam yadkhulha la yadkhulu jannatal akhirah.
(26:12) Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini, dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Inilah ketenangan hidup yang sesungguhnya. Makanya ketika kita mencari ee membahas tema kunci tenang, hidup tenang ini adalah pencarian untuk jalan yang sesungguhnya menuju surga di dunia.
(26:50) Karena tenangnya hidup inilah surga di mencari apa ini? Jalan menuju surga di akhirat nanti. Karena ketenangan hidup itulah surga di dunia yang sesungguhnya. Tidak ada kenikmatan yang melebihi nikmatnya seorang hamba yang mengenal Allah kemudian beribadah kepadanya dengan ikhlas mentauhidkannya dan selalu mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(27:17) Sampai sebagian dari ulama salaf ada yang mengatakan seperti ini di depan murid-muridnya. Masakinu ahli dunya khorju minha waba ma fiha. Alangkah miskin dan kasihan orang-orang yang berlomba-lomba mengejar dunia ketika mereka meninggalkan dunia ini, keluar dari dunia ini, ketika mereka mati, mereka juga tidak merasakan afyamu ma fiha kenikmatan tertinggi di dunia ini.
(27:49) Mereka berlomba mengejarnya tertipu dengan tipu daya setan. Padahal ujung-ujungnya mereka juga tidak merasakan kenikmatannya yang tertinggi. Ditanya oleh murid-muridnya, wauai ma fiha. Apa itu kenikmatan tertinggi yang ada di dunia? Maka ulama ini rahimahullah taala menjawab, “Marifatullah wa mahabbatuhu wal unsu biqurbihi wasyauqu ila liqaihi.
(28:16) ” Kenikmatan tertinggi dunia adalah mengenal Allah, mencintainya, merasakan nikmat ketika dekat ketika beribadah kepadanya, dan merasa rindu untuk bertemu dengannya. Inilah buah utama dari iman. Inilah sebabnya Nabi sallallahu alaihi wasallam menggambarkan iman yang sempurna dengan halawatul iman, manisnya iman. Di hadis yang lain, ladzatul iman.
(28:45) Kelazzatan iman. Ini sudah pernah kita terangkan di pertemuan yang lalu kalau tidak salah ingat. Barakallahu fikum. Yang jelas ya, antum perhatikan ini gambaran Islam seperti ini. Maka berarti kan tidak mungkin mencari ketenangan hidup selain dari memperbaiki agama kita. Ah, kecuali bagi orang-orang yang jahil.
(29:09) Dan ini keadaan mayoritas manusia. Ya, sebagaimana yang digambarkan di dalam Al-Qur’an. Yamunir minal dunya wahumil akirati humfilun. Kebanyakan manusia hanya mengetahui yang nampak dari kehidupan dunia. Tertipu dengan tipu daya setan. Tertipu dengan perhiasan dunia yang palsu. Mereka hanya mengetahui yang nampak dari kehidupan dunia.
(29:37) Sedangkan untuk urusan akhirat mereka lalai. Ya. Dan subhanallah satu hal lagi yang tadi kita katakan urusan-urusan dunia itu hanya bisa akan membantu kita, mendukung kita meraih ketenangan hidup kalau urusan dunia ini dibawa kepada sebab untuk mendukung keimanan di hati kita, membantu kita dalam menegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala.
(30:08) Apa buktinya? Buktinya Allah Subhanahu wa taala kita kembali kepada lafaz tadi ya quratul ain. Apa tadi artinya? Kesejukan hati, kesejukan jiwa. Lafaz ini juga disebutkan di dalam Al-Qur’an tadi. Pertama disebutkan untuk apa tadi? Salat. Iya kan? Dijadikan kesejukan hatiku ketika salat. Ini berlaku untuk semua ibadah yang lainnya.
(30:34) Seperti penjelasan Imam Ibnu Qayyim tadi. Yang kedua untuk apa? kenikmatan di surga. Iya kan? Kenikmatan di surga itu jelas menjadikan hati kita sejuk, jiwa kita tenang. Yang ketiga, Allah sebutkan quratul ain ini untuk keluarga kita yang saleh. Keluarga kita yang saleh, yakni anak dan istri atau anak dan suami bagi perempuan itu disebutkan di ayat Allah di di ayat Al-Qur’an di bagian akhir-akhir surah Al-Furqan ya, tentang doanya orang-orang yang beriman.
(31:16) Walladzina yaquuluna rbana hablana min azwajina wurzurriyatina qurrata a’yuni wa’alna lil muttaqina imama. Mereka orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang selalu berdoa. Apa doa mereka? Rabbana hablana. Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami min azwajina. dari istri-istri kami atau bagi istri suami-suami kami wurriyatina dan anak-anak keturunan kami.
(31:56) Mereka sebagai apa? Qurrata a’yun. sebagai penyejuk hati kami, penghibur bagi jiwa kami dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Kita buka tafsir Ibnu Katsir. Di situ ada nukilan dari pernyataan Imam Al-Han Albashri rahimahullahu taala. Al-Han Albashri ini imam besar dari kalangan tabiin penduduk Basrah.
(32:26) Alhan Ibnu Abil Hasan Albashri rahimahullahu taala. Ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Kenapa dikatakan anak-anak yang saleh atau istri-istri yang menyenangkan, demikian pula suami yang menyenangkan bagi istrinya sebagai penyejuk hati?” Beliau mengatakan, “An yuriyallahu liabdihil muslim fi waladihi wa walada waladihi wa hamimihi thaatallahi jalla waala.
(33:07) La wallahi laqinil muslim minar waladan waladin hamiman lahu mutian lillah.” yaitu dengan Allah memperlihatkan bagi hamb-Nya yang beriman pada diri, anaknya, cucunya, orang-orang yang dicintainya ketaatan kepada Allah. Sungguh demi Allah tidak ada satuun yang lebih menyenangkan matanya seorang mukmin.
(33:37) Tadi kita katakan quratul ain itu dari pandangan mata kemudian menyejukkan hati, kan begitu. Tidak ada satuun yang lebih menyenangkan pandangan mata dan menyejukkan hati orang yang beriman melebihi ketika dia melihat anaknya, orang-orang yang disayanginya, orang-orang yang dicintainya mengamalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Jadi, lafaz quratul ain itu disebutkan di ayat ini untuk hal-hal dari urusan dunia yang mendukung ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala.
(34:13) Nah, oleh karena itu di sini ketika kita membahas tentang kunci hidup tenang, kita harus punya keyakinan bahwa ketenangan hidup tidak perlu kita cari ke mana-mana. Kan tidak mungkin agama Islam ini agama yang sempurna. Karunia Allah yang paling besar bagi manusia. Nikmatnya dikatakan nikmat yang lengkap dan sempurna.
(34:41) Masa ketenangan hidup tidak dibahas, tidak diusahakan untuk diraih dalam agama Islam? Kalau begitu apa apa gunanya agama Islam dikatakan sebagai agama yang lengkap dan sempurna? Ya. Nah, kebanyakan orang biasanya kurang meyakini hal ini ketika mereka melihat kenyataan. Buktinya banyak orang tidak tenang dengan beragama. Buktinya banyak orang yang menjalankan agama susah hidupnya karena dia tidak boleh begini, tidak boleh begini.
(35:26) Ini haram, ini dilarang, ini melanggar agama. Sehingga dalam urusan mencari nafkah pun misalnya susah. Iya kan? kita harus tinggalkan ini, tinggalkan itu. Berarti kan mengekang kebebasan ini tipu daya setan dan istif ini pasti pemahaman yang salah. Antum pernah dengar firman Allah Subhanahu wa taala di dalam Al-Qur’an di surah Thaha? Ini salah satu contoh yang menunjukkan salahnya pemahaman ini.
(35:56) Ketika Allah Subhanahu wa taala menjelaskan orang yang berpaling dari petunjuknya dia akan merasakan kesempitan hidup. Allah azza waalla berfirman, “Wamanikri fainna lahu maanahsyuruhu yaumalqiamati qbi limaani ama waqtu bir qala kadika atatka ayatuna fasitaha fakadalikal yauma tuna. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanku, kata Allah, maka sungguh dia akan merasakan kehidupan yang sempit di dunia dan pada hari kiamat kehidupan yang susah di dunia dan pada hari kiamat dia akan dikumpulkan dalam keadaan buta.
(36:53) Maka dia berkata, “Wahai Rabbku, kenapa engkau mengumpulkan aku, membangkitkan aku dalam keadaan buta? Padahal sewaktu di dunia saya bisa melihat. Maka Allah berfirman, “Demikianlah ketika datang kepadamu peringatan di ayat-ayatku, kamu lupakan, kamu berpaling darinya, maka hari ini pun kamu dilupakan.” Lafaz maisyatan donka itu ada dua penafsirannya ya.
(37:18) Ini tidak bertentangan sebenarnya. Satu diartikan umum. Barang siapa yang berpaling dari peringatanku, dari petunjuk Allah, maka hidupnya secara umum akan susah. Ya, karena hidup itu bukan dari jumlah materi yang kita miliki. Iya kan? Tapi keberkahannya, kemanfaatannya untuk menjadikan tenang jiwa kita, mendukung kita dalam meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.
(37:49) Ada juga sebagian ulama yang mengartikan maisyah di sini sesuai dengan makna maisyah itu sendiri. Maisisyah artinya penghasilan. pendapatan yakni sebab-sebab mencari rezeki. itu dikatakan di ayat ini kalau kita artikan dengan pengertian yang kedua, barang siapa yang berpaling dari petunjukku dalam upayanya mencari rezeki, mencari sebab-sebab penghasilan untuk yakni nafkah bagi dirinya dan keluarganya, ketika berpaling dari petunjuk Allah, Allah akan jadikan kesempitan pada rezeki yang didapatkannya.
(38:30) Jadi ayat ini justru menjelaskan yang namanya kesempitan dalam penghasilan itu, yakni ketidakberkahan ya. Sesuatu yang kelihatannya banyak tapi kenapa cepat habis dan tidak mencukupi? Karena tidak berkah. Ini Allah Subhanahu wa taala justru sebutkan sebab dari semua ini adalah karena tidak berpegang teguh dengan prinsip-prinsip Islam yang mengatur halal dan haram.
(39:02) tentang mencari maisyah atau mencari sebab-sebab rezeki dari Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi tadi kita katakan banyak orang yang menganggap demikian. Inilah fungsinya kita belajar agama untuk meluruskan kesalahpahaman kita supaya nanti kemudian kita mengejar, oh ini ternyata kiat untuk hidup bahagia, untuk menjadikan hati tenang.
(39:31) Ini caranya kita kurang berarti kita perbaiki supaya kita tidak rugi dunia akhirat. Masalahnya tadi kata Ibnu Taimiyah apa? Tidak merasakan surga di dunia tidak akan merasakan surga di akhirat. Nauzubillah minzalik. Ini jemaah sekalian hafidakumullah sama dengan waktu kita menyampaikan pertanyaan seperti ini ya. Menjalankan agama Islam ini susah atau gampang? Kira-kira apa jawabannya? Berpegang teguh dengan agama.
(40:09) Belajar agama. Mengamalkannya. Mengamalkan tauhid. menjauhi syirik, mengamalkan sunah, menjauhi bidah dan segala penyimpangan itu gampang atau susah? Ada yang bilang gampang, tapi kenapa banyak orang yang tidak ngaji? Kan semua manusia pasti cari yang mudah-mudah. Iya kan? Ada yang bilang gampang, ada yang bilang susah.
(40:36) Kira-kira mana yang benar? Ya, kalau ditinjau dari hakikat agama Islam sendiri, Allah jadikan mudah atau susah? Mudah. Tadi ayatnya sudah kita baca apa? Yuridullahu bikumul yusro wala yuridu bikum alusr. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan dia tidak menghendaki kesusahan bagimu. Ya Al-Qur’an Allah jelaskan, tegaskan di beberapa ayat di surat Alqamar.
(41:09) Walaq yassarnal qurana lidzikri fahal min muddakir. Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an ini sebagai pelajaran. Apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran darinya, mengambil peringatan darinya? Ya, kata sebagian ulama salaf, hal min thbi thibil ilmi fayuanu alaih. Apakah ada orang-orang yang yang mau sungguh-sungguh menuntut ilmu maka Allah pasti menolongnya, pasti Allah mudahkan dia.
(41:37) Ini dari tinjauan syariat. Tapi kalau melihat kenyataan, kebanyakan manusia merasa agama ini justru mempersulit hidupnya karena tipu daya setan. Yang tadi sudah kita katakan ini kesalahan ini bukan kembali kepada agama. Seperti yang pernah mungkin kita pernah dengarkan contoh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala membuat contoh sederhana.
(42:05) Makanan enak dihidangkan kepada orang yang sakit. Dimakan apa tidak? Tidak dimakan. Mungkin tidak disentuh ya karena mau muntah, perutnya terasa penuh lidahnya terasa pahit. Iya kan? Padahal ini makanan enak disepakati orang-orang yang sehat. Ketika kita hadapkan kepada orang yang sehat yang kondisinya fit langsung dilahap dalam waktu singkat.
(42:34) Bahkan orang akan mencarinya dengan harga yang mahal karena makanan enak. Ya, banyak orang-orang yang akan mendatangi warung-warung yang makanannya enak seperti ini atau rumah makan yang makannya enak seperti ini. Tapi bawa kepada orang yang sakit tidak akan disentuh kalaupun dimakan sedikit. Yang bermasalah siapanya? Orangnya atau makanannya? Orangnya yang bermasalah.
(42:56) Nah, gambaran ya kesehatan hati, kesehatan iman kita dalam hal menghadapi kebaikan-kebaikan yang disyariatkan dalam agama ini lebih tinggi dibandingkan gambaran kesenangan manusia atau kesukaan manusia terhadap makanan yang paling lezat atau minuman yang paling nikmat dari urusan dunia kita. Oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah, jadi permasalahannya adalah kita yang kurang dalam memaksimalkan manfaat agama ini untuk menyempurnakan ketenangan dalam hidup kita.
(43:42) I karena tipu daya setan, karena penyakit hati, karena hawa nafsu yang diperturutkan. Karena banyaknya fitnah yang tersebar di sekitar kita sehingga ya menjadikan waktu kita kurang untuk perbaikan dalam urusan agama kita. Ya, padahal sungguh kalau kita mengetahui bagaimana manfaat dan fungsi agama ini dalam menyempurnakan kebaikan hidup kita, sungguh kita akan ya seperti kita baca biografinya orang-orang yang saleh seperti sebelum kita.
(44:28) Apakah mereka mau menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang tidak ada manfaatnya? Mereka tidak mau. Karena mereka tahu. Inilah kenikmatan yang sesungguhnya. Inilah sebab kebahagiaan yang sejati dunia dan akhirat. Seperti membaca Al-Qur’an ya. Kata Utsman bin Affan radhiallahu taala anhu, “Lau thhurat qulubuna lama syabi’at min kalamillah.
(44:52) ” Seandainya hati kita bersih, maka mestinya kita tidak akan pernah merasa puas, merasa bosan untuk terus membaca firman-firman Allah, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, berzikir kepada Allah. Ya. Kemudian secara umum kebaikan-kebaikan yang disyariatkan dalam Islam. Kenapa Allah perintahkan? Fastquul khairat.
(45:18) Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Seandainya kebaikan itu sesuatu yang tidak menyenang menyenangkan, tidak mendatangkan ketenangan, tidak mungkin Allah perintahkan kita untuk berlomba-lomba melakukannya. Jadi di sini hidup tenang ya, semua petunjuknya yang sempurna ada pada Islam. Cuma tadi permasalahannya kebanyakan orang-orang lalai, kebanyakan orang-orang tidak memahami keindahan agama ini karena setan memalingkan mereka darinya.
(45:53) Ya. Maka oleh karena itu, agama Islam ini diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala dengan petunjuk yang sempurna ya, yang dimulai dengan perbaikan hati kita kemudian menjadi sebab perbaikan semua anggota badan kita. Allah Subhanahu wa taala tentu maha mengetahui. Kendala yang di menimpa kebanyakan manusia tadi seperti yang kita sebutkan.
(46:22) Kebanyakan orang hanya mengetahui yang lahir dari urusan dunia. Allah maha tahu. Maka dengan kesempurnaan agama ini, Allah juga turunkan sebab untuk menyembuhkan penyakit hati tadi yang menghalangi manusia dari merasakan ketenangan hidup yang hakiki. Allah Subhanahu wa taala turunkan Al-Qur’an ya dan kebaikan-kebaikan yang Allah syariatkan dari dalam agamanya sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit hati kita yang menjadi sumber ketidaktenangan tadi.
(47:00) Makanya Al-Qur’an di antara fungsi terbesarnya adalah sebagai syifaun lima fisur. Coba lihat firman Allah Subhanahu wa taala di surat Yunus. Ya ayyuhanasu qod jaatkum mauidotum mirbikum wasifaul lima furi wa huda warahmatul lil mukminin. Wahai sekalian manusia, sungguh telah datang kepadamu mauidah, nasihat dari Rabbmu, dari Allah Subhanahu wa taala dan obat bagi penyakit hatimu, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(47:47) Kan tadi seperti anggota Badar ketika dia sakit belum bisa merasakan nikmatnya makanan yang lezat maka harus disembuhkan dulu sakitnya. Nah, kenikmatan agama ini lebih daripada kenikmatan apapun yang ada di dunia ya yang harusnya kita rasakan kenikmatan tertinggi ketika mengamalkan agama ini dengan benar.
(48:11) Tapi ketika ada penyakit di hati harus disembuhkan dulu penyakit tersebut. Para sahabat radhiallahu taala anhum bagaimana kita baca biografi mereka sangat berlomba-lomba waktu melakukan kebaikan. Bersedekah dengan sedekah yang tidak takut miskin. Bagaimana mereka berjihad? Bagaimana iman mereka? Allah gambarkan di dalam Al-Qur’an di awal-awal surat Alhujurat.
(48:38) Wakinnallaha hababa ilaikumul imana waayanahu fi qulubikum waha ilaikumulfusuq wal. Akan tetapi Allah Subhanahu wa taala menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu sebagai zinah, perhiasan yang paling indah di hatimu, serta menjadikan kalian benci kepada kekufuran, kefasikan, dan perbuatan maksiat.
(49:11) Lah iman itu paling indah di hatinya, perhiasan di hati mereka. Ya, wajar mereka semangat melakukan hal-hal yang mendukung keindahan perhiasan di hati itu. Nah, ini kan orang yang sehat hatinya. Kalau orang yang berpenyakit hatinya tidak akan merasakan keindahan itu berarti ya dia juga akan malas-malasan. Kalau di hatinya berpenyakit maka anggota badannya juga akan berpenyakit.
(49:37) Ya, orang-orang munafik kan berpenyakit hatinya. fi qulubihim maradun fazadahumullahu marad. Iya kan? Di dalam hati mereka ada penyakit sehingga Allah menambah penyakit hati mereka. Sehingga bagaimana mereka melaksanakan ibadah ketika melaksanakan salat? Apakah mereka malas atau rajin? Jelas Al-Qur’an menyebutkan waidza quu ilas shamu usala.
(50:06) Orang-orang munafik ketika mereka berdiri melaksanakan salat, mereka melakukannya dengan malas-malasan. Pasti, jemaah sekalian hafidakumullah, sesuatu yang kita tidak sukai asalnya kita akan malas lakukan. Kalaupun kita paksa-paksa ini bertahan hanya berapa kali saja ya pekerjaan dalam urusan dunia kalau tidak kita sukai pasti kita akan malas lakukan.
(50:32) Dan ini penyakit hati yang sangat parah. Makanya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Alfaid pernah menyebutkan satu kaidah, alladzatu tabiatun lil mahabbah. Kelezatan itu mengikuti rasa cinta. Antum kalau mencintai sesuatu pasti senang dekat dengannya. Kita mencintai kekasih kita, kita senang dekat.
(51:02) ngobrol dengan orang yang kita sukai ya. Kemudian kita akan sering mengingatnya. Tidak perlu dipaksa hati itu. Hati ini punya keinginan. Kalau dia senang dengan sesuatu maka dia akan senang melakukannya. Dia akan betah sering melakukannya. Seperti itu ibadah bahkan lebih daripada urusan dunia. Ya, bahkan kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, sebenarnya perbuatan yang kita lakukan dengan sadar itu adalah yang paling sering kita lakukan adalah tergantung apa yang dominan di hati.
(51:38) Kenapa orang semangat bekerja? Ada yang sampai lembur padahal pekerjaannya berat karena di hatinya ada keinginan untuk dapatkan imbalan, dapatkan gaji yang besar. Ya. Nah, orang-orang yang keimanannya kuat, kecintaan mereka kepada Allah adalah yang paling tinggi. Kenikmatan hati mereka yang paling besar mereka rasakan ketika beribadah.
(52:01) Ya wajar mereka tidak mau meninggalkan ibadah. Kenapa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kata Aisyah radhiallahu taala anha ketika salat malam berdirinya lama hatta tatafat qodama sampai kaki beliau bengkak. Karena di hatinya kecintaan kepada Allah yang paling tinggi sehingga betah berdiri berlama-lama membaca Al-Qur’an berjuz-juz ketika salat tahajud.
(52:31) Ya, ini kan kita dapatkan dalam gambaran kebanyakan manusia saat ini dalam urusan dunia orang beta berlama-lama bekerja dengan badannya karena mencari balasan materi. Padahal ini bukan ketenangan hati yang sesungguhnya. Ala kulihal yang jelas tadi ya. Allah Subhanahu wa taala menjadikan keimanan di hati ini adalah sebab utama yang akan menjadikan tenang dan damai hidup manusia.
(53:04) Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sewaktu menggambarkan tentang hal ini di dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Ya, ini salah satu hadis yang menggambarkan tentang iman itu rasanya manis dan nikmat. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini, hadis ini diriwayatkan oleh paman Nabi sallallahu alaihi wasallam, Abdullah e Albabbas bin Abdul Muthalib radhiallahu taala anhu.
(53:27) Samiu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaakul, “Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,”Qal iman man rodya billahi rban islami dinan wabi Muhammadin shallallallahu alaihi wasallam rasula.” Akan merasakan kenikmatan iman. Dan ini kata Imam ee kata Imam an-Nawawi dalam syarah Sahih Muslim, kenikmatan yang dirasakan nyata.
(53:55) Bukan cuma khayalan nyata. Iman itu terasa nikmatnya. Siapa dia yang merasakan ini? Orang yang rida kepada Allah sebagai Rabbnya satu-satunya. Hanya beribadah kepada Allah, mentauhidkan kepada Allah, beriman kepada Allah dengan benar. Dia akan merasakan nikmatnya iman ketika dia rida. Rid itu artinya menerima dengan lapang, dengan gembira.
(54:22) Tidak ada rasa berat di hatinya. Kemudian Islam sebagai agamanya. Sehingga ketika dia mempelajari Islam, merasa mulia dengan mengamalkan Islam ini benar-benar legang dari hatinya. Kemudian kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai rasulnya. Dia mengikuti sunah, mengamalkan sunah dengan perasaan gembira, dengan lapang dada, dengan senang di hatinya.
(54:52) Ini orang yang akan merasakan nikmatnya iman. Nah, oleh karena itulah jemaah sekalian hafidakumullah, ini yang kita katakan tadi ya. Manfaat kita belajar agama Allah Subhanahu wa taala agar kita mengetahui tujuan kita yang harus kita raih. Ingat ini bukan cuma sekedar ya apa yang dibayangkan sebagian orang bahwa ini misalnya tingkatan yang sangat tinggi.
(55:26) Kalaupun kita belum mencapainya kita bisa cukup tingkatan yang di bawahnya saja. Keliru kan? Sudah kita katakan tadi, ketenangan hidup yang hakiki kalau kita tidak rasakan di dunia, maka kita tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Nauzubillah minzalik. Ya, jadi kita harus memperbaiki hal ini dan ini adalah sesuatu yang kita yakini tadi.
(55:50) Allah Subhanahu wa taala akan memudahkan bagi kita untuk meraihnya kalau kita bersungguh-sungguh. Bagaimana cara kita memperbaiki diri dalam hal ini? Ya, jelas kita belajar Al-Qur’an, renungkan isinya supaya penyakit di hati kita tersentuh dengan pengobatan Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik pengobatan untuk penyakit hati kita. Kita belajar agama harus lebih banyak merenungkan ilmu yang sudah kita pelajari, kita ulang kembali supaya menyentuh hati kita.
(56:22) Karena yang mau diperbaiki ini kan dimulai dari hati. penyakitnya ada di hati. Kesembuhannya kita harus obatnya kita harus sentuhkan dengan hati kita. Ya, makanya belajar Al-Qur’an yang benar itu adalah membaca dengan perenungan. Karena kebaikan dan keberkahan Al-Qur’an itu didapatkan dengan sejauh mana kita memahaminya.
(56:47) Jadi, bukan cuma sekedar mencukupkan diri membaca huruf-hurufnya ya. Ini cara untuk menghilangkan penyakit hati sehingga ketenangan hidup yang sesungguhnya bisa dirasakan oleh hamba ini. Tentu semua dengan pertolongan dan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Maka oleh karena itu, jemaah sekalian hafidakumullah, mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala kita tahu disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai sebab yang menjadikan hati seseorang itu tenang, aman, damai.
(57:27) Karena perbuatan syirik ini menjadikan hati seseorang tidak tenang. Hati seorang menjadi kacau. Allah azza wa jalla berfirman di dalam Al-Qur’an, alladzina amanu walam yalbisu imanahum bidulmin ulaika lahumul amnu wahum muhtadun. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman, yaitu kesyirikan.
(58:05) Kita tahu ini disebutkan dalam tafsiran di hadis yang sahih. Yang tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman, yaitu kesyirikan. Merekalah orang-orang yang selalu mendapatkan keamanan, ketentraman, dan merekalah orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk. Hati manusia kan diciptakan oleh Allah. Iya. Berarti yang maha mengetahui untuk kebaikan hati ini hanya Allah Subhanahu wa taala semata-mata.
(58:36) Sehingga hati ini tidak akan cocok, tidak akan pas kecuali bertemu dengan sebab-sebab yang diturunkan oleh penciptaannya untuk menjadikannya tenang dan damai. Ini keadaan hati manusia. Kita tahu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan perumpamaan yang sangat indah tentang agama ini. Bagaimana fungsinya untuk menghidupkan dan menumbuhkan kebaikan pada hati manusia.
(59:08) Yaitu diperumpamakan seperti apa? Seperti hujan yang turun di permukaan bumi. Masyaallah. Ini merupakan perumpamaan yang sangat indah dari hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu taala anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam pernah bersabda, “Inna matsala ma baaniallahu bihi minal huda wal ilmi kamali gitin asoba ardon.
(59:41) ” Sesungguhnya perumpamaan atau permisalan ya dari petunjuk dan ilmu yang yang Allah turunkan kepadaku adalah seperti perumpamaan hujan yang bermanfaat yang diturunkan di muka bumi. Yakni hati itu kalau tidak tersentuh apa ini hujan wahyu dia gersang tidak mungkin tenang. Tidak ada sebab ketenangan selain dari hal ini.
(1:00:14) Semua sebab-sebab ketenangan yang digambarkan oleh setan bahwa inilah kebebasan, inilah ketenangan, semuanya palsu. Dan tidak akan pernah mendatangkan ketenangan bagi orang-orang yang berpaling dari petunjuk Allah ini. Ya. Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggambarkan dengan perumpamaan yang indah.
(1:00:34) Makanya di sini kita katakan tadi perkara ini adalah perkara yang wajib. Sehingga kenapa menuntut ilmu agama itu adalah kewajiban yang sampai digambarkan oleh para ulama ya kebutuhan kita terhadap agama kan melebihi kebutuhan terhadap makan dan minum ya. Karena pastinya kehidupan hati kita, kehidupan jiwa kita lebih penting dibandingkan kehidupan anggota badan kita ya.
(1:01:01) Karena kalau orang anggota badannya mati dan pasti juga akan mati, dia akan bisa berharap keselamatan di akhirat nanti. Tapi kalau hatinya sudah mati, jiwanya gersang, alamat dia akan binasa dunia dan akhirat. Inilah makna dari pernyataan Imam Ahmad bin Hambbal rahimahullah taala. Anasu yahtajuna ilal ilmi aksar min hajatihimami wasari yuhtajuai maratan marini wal ilmu yuhtaju ilaihi biadil anfas.
(1:01:38) Manusia butuh kepada ilmu agama lebih daripada kebutuhan mereka terhadap makan dan minum. Karena makan dan minum dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Sedangkan ilmu dibutuhkan oleh manusia sesuai dengan jumlah tarikan nafas mereka. Berarti kebutuhan kita yang paling besar dalam urusan dunia ini, yang menjadi sebab kebaikan kita yang paling besar di dunia dan di akhirat adalah kebutuhan terhadap ilmu agama.
(1:02:09) Ya, cuma kita harus ingat belajar agama dengan metode yang benar supaya ilmu ini bermanfaat menumbuhkan kebaikan di hati kita setelah membersihkan kotoran-kotoran dan penyakitnya. Jadi, belajar ilmu agama pun kan ada metodenya. Sebagaimana ibadah yang lainnya harus ada syaratnya ikhlas dan ittiba supaya nanti tidak lagi yang bertanya, “Ustaz, kan juga orang-orang awam banyak yang mengikuti kajian, banyak juga yang semangat menghadiri majelis taklim, tapi kenapa tidak menjadi sebab untuk perbaikan diri mereka?” Ya, jawabannya ilmu apa yang
(1:02:49) mereka pelajari? Apakah benar-benar ilmu yang tadi fungsinya seperti hujan, alilmu nafi, ilmu yang bermanfaat. Ya, kata para ulama, alilmu nafi adalah ilmu dari yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Yang kemudian kita mempelajarinya ya bukan cuma sekedar dijadikan sebagai apa ini? Wawasan tapi direnungkan di dalam hati kita supaya menumbuhkan kebaikan di dalam hati kita.
(1:03:25) Ya, makanya Imam Asyafi’i rahimahullah taala pernah mengatakan, “Al ilmu makana fihi haddasana wa akbar w siwawalika faw fawwasusatin ya fawasawisus syayatin ilmu itu adalah apa yang disebutkan di dalamnya haddasana wa akhbarona telah menceritakan kepadaku, meriwayatkan kepadaku, yakni ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(1:03:55) Adapun yang selain itu, maka itu adalah bisikan-bisikan setan. Oleh karena itu, menuntut ilmu agama, kewajiban kita yang paling besar menuntutnya dengan cara yang benar. Yakni belajar agama, kita pahami, kita renungkan di hati kita. Semua ibadah-ibadah disyariatkan kita amalkan dengan lahir dan batin kita supaya menjadi sebab yang akan menumbuhkan ketenangan di hati kita.
(1:04:23) yang kemudian dengan sebab itu akan ketenangan tersebut akan memancar pada anggota tubuh kita yang tentu semua kita dapatkan dengan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu tentu saja ya sebab yang paling utama kita lakukan di samping belajar agama adalah banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena segala ketenangan ya hanya bersumber dari sisi Allah Subhanahu wa taala.
(1:04:52) Hualladzi anzalasakinata fi qulubil mminina liyzdadu imanam ma imanihim. Dialah Allah yang menurunkan ketenangan di hati orang-orang yang beriman ya supaya menambah keimanankeimanan mereka dari keimanan yang sudah ada. Barakallahu fikum. Maka inilah ya kunci hidup yang tenang yang semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan bagi kita dengan taufiknya untuk selalu kita mengusahakan sebab-sebabnya dengan semangat kita mempelajari ilmu yang bermanfaat ilmu agama ini memahami kemudian mengamalkannya dan semoga Allah subhanahu wa taala menjadikan kita semua
(1:05:33) istiqamah di atas kebaikan ini sampai kita menghadapnya pada hari kiamat nanti. Barakallahu fikum. Demikian pengajian yang bisa kami sampaikan di kesempatan pagi menjelang siang hari ini. Semoga bermanfaat dan sebelum kita akhiri, kita dengarkan pertanyaan yang mungkin disampaikan oleh antum ya. Barakallahu fikum.
(1:05:57) shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin. Izin bertanya, Ustaz. Saat suami terlalu berlebihan dalam urusan dunia. Misal menemui teman yang datang ke rumah sampai jam 10. malam. Dari habis Isya ngobrol apa ini? Melulus sama teman-temannya hanya untuk urusan dunia.
(1:06:50) Lalu kita sebagai istri marah-marah karena sudah WA baik-baik tapi diabaikan. Pertanyaannya, apakah sebagai istri berarti jadi dapatnya dosa? Walaupun di hati kita karena enggak suka kalau suami sibuk urusan dunia. Iya. Masalah yang berhubungan dengan hal-hal yang melalaikan seperti ini, ngobrol dengan urusan dunia sampai berlarut-larut memang tidak tidak pantas dan kurang baik.
(1:07:19) Ya, wajar kalau ya orang yang sudah kenal agama apalagi orang yang sudah mengetahui hal-hal yang melalaikan seperti ini, wajar kalau dia mengingkari. Cuma mungkin kita katakan kepada istri yang mendapati suaminya seperti ini, diperbaiki cara mengingkarinya. Iya. Karena perbuatan tersebut salah karena suami lalai.
(1:07:42) Tapi istri mengingkarinya dengan marah-marah juga salah. Yakni jangan menjadi salah karena orang lain berbuat salah. Justru harusnya ketika ada yang salah, kita yang berbuat baik. Ya, ini kalau suaminya salah, istrinya salah, siapa yang akan menjadi sebab ee apa ini turunnya pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala kalau sama-sama berbuat salah.
(1:08:01) Ya, dalam Islam kita diperintahkan membalas keburukan dengan kebaikan. Idfa billati iya ahsan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik supaya ketika dia melanggar ini kan menjauhkan dari pertolongan Allah. Ada satu yang berbuat baik supaya menjadi sebab dekatnya kembali pertolongan Allah Subhanahu wa taala.
(1:08:21) Yni tentu idealnya kalau dua-duanya baik, tapi kalau ada satu yang salah jangan yang lain ikut-ikutan salah karena kesalahan pasangannya misalnya. Ini kan tidak bukanlah hal yang disyariatkan dalam Islam. Jadi tegur dengan cara yang baik, nasihati. Mudah-mudahan dengan sebab itu akan terbuka hatinya ya. Kalau masih melanggar juga terus menasihati.
(1:08:41) Yang jelas kalau istri sudah berusaha menasihati dengan cara yang baik dan suami tetap melakukan pelanggaran tadi ya naudubillah minzalik, maka tentu istri tidak ikut berdosa karena dia sudah ikut menasehhati dengan cara yang baik. Dan di sini jemaah sekalian hafidakumullah ya sebenarnya termasuk dari hal yang berhubungan dengan pembahasan kita ya ketenangan hati atau hidup yang tenang.
(1:09:10) Kan hidup yang tenang ini bukan cuma berhubungan dengan diri kita sendiri. Karena kita mau tidak mau kan kita makhluk ya makhluk sosial. kita bergaul, kita punya keluarga, kita punya orang-orang yang dicintai, ya. Nah, pergaulan dengan mereka kan juga mempengaruhi ketenangan dalam hidup kita.
(1:09:29) Seperti yang tadi kita sebutkan ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang anggota keluarga yang menjadi sebab apa ini? Kesejukan hati kita ya. Maka ini sumbernya dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena kaidah yang disebutkan oleh sebagian dari para ulama di dalam kitab Alwabilus Sayyib, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala mengatakan, “Man qarot ainuhu billahi qorot bihi kullu ain.
(1:09:59) ” Ya, barang siapa yang hatinya tenang ketika dekat dengan Allah, maka semua orang yang di sekitarnya akan tenang ketika dekat dengan dia. Yakni hubungan yang tidak harmonis. itu adalah hukuman atau dampak buruk yang Allah jadikan bagi orang-orang yang hubungannya dengan Allah tidak harmonis. Ya, ini sebagai hukuman yang Allah berikan.
(1:10:32) Misal dalam masalah rumah tangga ya, ada pernyataan salah seorang ulama salaf ini juga dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim di kitab Addaw Dawa. Ada salah seorang ulama salaf dulu mengatakan, “Inni laillaha faarika fi khulukati wabati. Aku pernah berbuat maksiat kepada Allah, maka aku melihat dampak perbuatan maksiatku ada pada tingkah laku istriku yang buruk.
(1:11:03) ” Ya. Dan kendaraanku, yni kendaraannya jadi bermasalah. Kalau di zaman dahulu kan bukan orang naik unta, naik kuda jadi liar begitu. Pelakunya berbuat maksiat seperti suami berbuat maksiat di luar tidak ketahuan, gak ada hubungannya dengan istrinya. Tapi Allah maha mengetahui dan menimpakan balasan langsung kepada orang yang terdekat dengannya supaya dia tahu akibat dari merusak hubungannya dengan Allah.
(1:11:28) Akhirnya rusak dengan hubungannya dengan orang-orang yang dicintainya. Tiba-tiba dia pulang ke rumah, istrinya bersikap kasar, tidak melayaninya dengan baik. Ya, karena Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Makanya ketika mendapatkan nasihat seperti ini, seperti kondisi yang melalaikan tadi, harusnya ya seorang suami menerima dengan baik.
(1:11:48) Karena ini tujuannya adalah untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka sendiri supaya tidak menjadi sebab ya, karena dia merusak hubungannya dengan Allah dalam hal-hal yang melalaikan tadi. Akhirnya menjadi sebab Allah Subhanahu wa taala merusak hubungannya dengan orang-orang yang terdekat dengan dirinya. Naudubillah minzalik.
(1:12:07) Nam barakallahu fik. Masih ada yang lain? Silakan. Iya boleh. Silakan. Bismillah. Ahsanallahu ilaikum ya ustaz. Jazak khair atas ilmu dan juga nasihatnya. Semoga menjadi jatalah bagi ustaz, keluarga, dan orang yang ustaz sayangi. Amin ya rabbal alamin. Izin bertanya, Ustaz. Ee bukankah Allah berfirman, “Ala bidzikrillahi tatinal qulub yang artinya mengingatku maka hati akan menjadi tenang.” Begitu ya, Ustaz? Ya.
(1:13:03) Lalu bagaimana ketika kita sudah melakukan salat malam, kemudian berusaha salat tepat waktu, kemudian zikir pagi petang juga tidak tinggalkan. Kemudian amal makruf lainnya, namun hati kok masih merasa kayak ada yang kurang gitu ya, Ustaz ya. Kayak ada yang kurang pas gitu. Itu ee mohon solusinya, Ustaz dan nasihatnya bagaimana bisa mendapatkan Qbun Salim. Barakallahu fikum.
(1:13:33) Iya. Barakallahu fikum. Orang yang telah berusaha ya mengamalkan apa yang disebutkan di dalam ayat tadi dengan menjaga salat lima waktunya, kemudian jaga salat malamnya, ditambah salat-salat sunah yang lain, menjaga zikirnya, ternyata dia belum bisa mendapatkan ketenangan. Ya, itu kemungkinannya pertama ya tadi yang kita sebutkan ibadah-ibadah yang dilakukannya ya masih bersifat ibadah-ibadah yang lahir saja jarang melibatkan hatinya.
(1:14:09) Kayak tadi membaca Al-Qur’an kurang merenungkan isinya. Zikir hanya sekedar dikejar kuantitas ya. Padahal zikir itu kan menyebut nama Allah dan mengingat dengan hati kita. Makanya kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, afdolikri wafuhu mafaqi alq lisan. Zikir yang paling bermanfaat dan paling utama adalah yang bersesuaian antara yang diucapkan oleh lidah, oleh lisan, dengan yang direnungkan dalam hati.
(1:14:42) Waktu kita mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Ya, kita harus renungkan dalam hati kita bahwa Allah azza wa jalla itu maha besar. Maha besar zatnya, maha besar keagungannya. Ya, kita renungkan sifat-sifat Allah yang agung ini agar menjadikan hati kita itu semakin meyakini kemaha besaran Allah yang dengan ini akan memudahkan kita tentu untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala.
(1:15:10) Hanya beribadah kepadanya semata-mata. Karena semua makhluk jelas tidak memiliki kemampuan apapun dibandingkan Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi, maha besar, dan maha agung sifat-sifatnya. Jadi ada perenungan seperti itu. Ini yang akan bermanfaat apa ini? Menyempurnakan penyakit hati kita sembuh dan menyempurnakan ketenangan yang akan dirasakan dalam hati kita.
(1:15:33) Itu kemungkinan yang pertama. Jadi ini kita harus perbaiki. Kayak tadi yang kita sebutkan contoh orang yang makan makanan lezat tapi dia merasa tidak enak berarti kan badannya berpenyakit karena dia tidak merasakan hakikat dari nikmatnya sesuatu itu. Kemungkinan yang kedua ada godaan dan tipu daya setan yang ingin mengesankan tentang agama ini agar kita atau agar orang-orang banyak menjauhi agama ini.
(1:16:05) Ya, seperti ini perumpamaannya dan ini juga perumpamaan yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab tadi Alwabilus Sayyib. Orang yang punya iman yang benar di hatinya itu ibaratnya seperti rumah yang dipenuhi dengan harta, barang-barang mewah. Setan itu pencuri. Kira-kira pencuri itu akan mendatangi rumah yang dipenuhi dengan harta atau rumah yang kosong dari barang-barang yang berharga? Mana yang akan didatanginya? penuh barang berharga.
(1:16:48) Kalau rumah kosong yang tidak punya apa-apa mungkin jadi rumahnya malah. Masa pencuri mau mencuri di rumahnya sendiri. Iya kan? Dan juga apa yang mau dicuri di situ. Yang namanya setan pasti punya kepentingan untuk mengganggu keimanan. Di sini kembali kita kita rasakan keberkahan dan rahmat Allah dengan belajar ilmu agama.
(1:17:10) Karena ilmu itu Allah jadikan sebagai penjaga hati kita. Memang ada bisikan setan yang membisiknya, membisikkan di hati kita, mengganggu kita karena dia selalu mengintai ya, kapan dia punya kesempatan mencuri iman di hati kita atau paling tidak mengurangi kebaikannya, maka kita mohon pertolongan kepada Allah dan bisikan-bisikan ini tidak akan tidak akan mengganggu kita ya.
(1:17:39) Jadi justru kalau seseorang itu ya merasa imannya benar tapi setan tidak mengganggunya, kita malah curiga dia punya perjanjian kerja sama apa dengan setan orang ini. Eh ya kalau punya dia iman yang benar pasti setan akan berkepentingan untuk mengganggunya. Ada asar dari Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma ketika ada salah seorang tabiin yang bertanya kepadanya, eh innal yahuda tazumu annahum la yuwaswuna fi shatihim atau fi ibadatihim ya salat fi shatiim orang-orang Yahudi menyangka mereka itu ketika melakukan ibadah atau
(1:18:23) salatnya tidak diganggu oleh setan. Ini berarti khusyuk sekali. Maka kata Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma menjawab pertanyaan ini, ma yasnausitanu biqolbin khab. Apa yang akan diperbuat oleh setan pada hati yang telah rusak? Yni apalagi yang mau dirusak? Oh, sudah rusak dianya. Ya.
(1:18:48) Jadi kadang-kadang ada sebagian orang-orang yang menyimpang. Katanya dengan zikir-zikir yang kita lakukan kita tenang. Tidak ada gangguan setan. N setan itu. Sedangkan para nabi saya digoda. Para sahabat radhiallahu taala anhu digoda oleh setan. Masa ada orang yang sama sekali tidak diganggu berarti dia berteman dengan setan. Naudubillah minzalik.
(1:19:08) Jadi bukan berarti yang namanya ketenangan itu tidak ada gangguan sama sekali. Ada gangguan. Tapi kita lawan dengan keimanan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, inilah hakikatnya. hidup tenang yang sesungguhnya. Yakni ketika ada gangguan-gangguan Allah Subhanahu wa taala jadikan sebab untuk menyelamatkan kita dan melindung kita dari gangguan-gangguan tersebut.
(1:19:35) Yang jelas ya, seorang yang berusaha untuk meniti jalan menuju Allah subhanahu wa taala tentu dia tidak akan lepas dari perjuangan karena setan terus menggodanya. Dia akan berjuang ya. yang kemudian dengan perjuangan itu Allah subhanahu wa taala akan memudahkan dia untuk meniti tangga-tangga kemuliaan ya Allah perbaiki keadaannya.
(1:19:58) Setelah itu kemudian Allah subhanahu wa taala mudahkan dia untuk merasakan ketenangan hidup yang sesungguhnya. Jadi kadang-kadang ini masih proses kita lakukan seperti orang yang sakit tadi masih butuh penyembuhan penyakit ya. ya orang yang yang namanya masih membutuhkan penyembuhan penyakit masih melakukan proses kan kadang-kadang dia merasakan makanan masih pahit harus minum obat yang pahit ya tapi kita yakin sebagaimana kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim Huffatil jannatu bil makarih
(1:20:29) wuffatinaru bisyahwat surga itu dilingkupi dengan hal-hal yang dibenci oleh nafsu. Jadi kita harus berjuang, harus bersabar. Sedangkan neraka itu dilingkupi dengan hal-hal yang disukai oleh syahwat manusia. Jadi kalau kita bersabar melakukan hal-hal yang mungkin berat dilakukan oleh nafsu kita, nanti ujung-ujungnya kita akan tembus kepada surga.
(1:20:54) Adapun orang yang perturutkan hawa nafsunya, nanti ujung-ujungnya dia akan ketemu dengan neraka. Nauzubillah minzalik. Barakallahu fikum. Nah, ya. Kalau masih ada silakan. Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.
(1:21:28) Kita akhiri shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin wa akiru dawanahamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kajian Tematik – Kunci Hidup Tenang – Ustadz Abdullah Taslim, MA. حفظه الله – YouTube
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply