Ustadz Abu Ihsan Al Maidany, M.A. – Talbis Iblis

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

dalam acara kajian ilmiah secara langsung Rodja TV saluran dan kajian Islam bismillah Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah alhamdulillah di kesempatan Senin siang yang berbahagia ini kembali kita akan simak satu program kajian ilmiah disampaikan oleh guru kita Ustadz Abu Ihsan al-ashari al-maidani Ma fidahulu dalam pembahasan dari kitab talbis iblis dibudaya iblis berkaitan dengan tawakal tetapi bukan berarti tidak berusaha namun Berikut kita akan simak penjelasan materi yang akan disampaikan Selanjutnya kami persilahkan kepada Al Ustadz Abdul Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh [Musik] [Musik] Huda Huda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan muslimat yang dimuliakan Allah pertama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas nikmat karunia yang Allah limpahkan kepada kita semua shalawat beriring salam atas nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam atas keluarga beliau sahabat beliau dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau sampai hari kemudian para pemerhati Roja kaum muslimin dan muslimat azan ya Allah pada kesempatan siang ini kita kembali melanjutkan pembahasan yang kita angkat dari buku televisi iblis kita masih berbicara tentang hubungan antara tawakal dan ikhtiar bahwa keliru dan salah orang yang membedakan atau memisahkan antara keduanya dan tawakal tanpa ikhtiar itu tidak dikategorikan sebagai tawakal dan ikhtiar tidak akan sempurna tanpa tawakal maka dari itu keduanya perlu disandingkan di dalam kehidupan kita antara tawakal dan ikhtiar dan berkaitan dengan hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengisyaratkan ya di dalam Alquran dalam banyak ayat ya perintah untuk tawakal itu yang pertama dan banyak lagi ayat-ayat yang menyuruh kita untuk bertawakal Adapun berikhtiar Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga telah Sebutkan itu di dalam Alquran dalam banyak ayat seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala persiapan kamu ya dan banyak lagi ayat-ayatnya yang menyuruh kita untuk melakukan usaha-usaha untuk meraih apa yang kita inginkan demikian juga sikap berhati-hati dan berjaga-jaga ini juga termasuk salah satu bentuk ikhtiar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengisyaratkannya di dalam beberapa ayat di dalam Alquran misalnya firman Allah dalam surat Yusuf ayat 5 Allah mengatakan berkaitan dengan mimpi yang dilihat oleh Yusuf Allah mengatakan la taqsus janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu yaitu ketika ayahnya yaitu Yakub menganjurkannya agar tidak menceritakan mimpi yang dilihatnya kepada saudara-saudaranya ini adalah bentuk kehati-hatian agar tidak muncul hasad dari penafsiran mimpi tersebut dari mimpi yang dilihatnya itu demikian juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala kamu masuk dari satu pintu gerbang ya ketika mereka ingin mengunjungi ataupun kembali ke Mesir ya untuk membebaskan dunia Min ya atau berusaha untuk mendapatkan bantuan dari raja maka ayah mereka berkata yaitu Nabi Yakub berkata kepada anak-anaknya la tadahulu mim ba bin Wahid jangan kalian masuk dari satu pintu gerbang demikian juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat al-mulk ayat 15 ya Jadi ini perintah untuk berupaya berikhtiar ya jadi ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita pentingnya untuk melakukan tindakan kehati-hatian terjaga-jaga itu masuk dalam Bab ikhtiar maka tidak ada alasan untuk mengabaikan karunia yang Allah sudah titipkan kepada manusia kepada kita lalu bersandar Ya hanya karena bersandar mengandalkan kedermawanan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu kita mengabaikan karunia yang Allah titipkan kepada kita lalu kita hanya Bersandar kepada kedermawanan Allah akan tetapi kita wajib tetap wajib menggunakan kekuatan yang dimiliki baru silahkan kita minta apa yang ada di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala di sinilah baru Selaras satu garis lurus antara doa tawakal dan ikhtiar dengan demikian kita bisa memahami takdir dengan benar ya antara doa apa yang kita minta kepada Allah tawakal menyerahkan keputusan akhir kepada Allah dan ikhtiar melakukan usaha dengan memaksimalkan potensi-potensi yang Allah berikan kepada kita ya maka untuk itu Allah menciptakan berbagai perlengkapan dan naluri ya pada makhluk hidup sebagai contoh burung Ya Allah menciptakan perlengkapan dan naluri bagi burung agar bisa menolak segala keburukan maka Allah melengkapinya dengan cakar kuku dan taring ya sehingga dia bisa berburu mencari makan dan mempertahankan diri dengan perlengkapan-perlengkapan itu dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah ya menciptakan akal bagi manusia ya Nah ini adalah perlengkapan yang paling tinggi yang Allah berikan kepada makhluk hidup yaitu akal ya itu hanya diberikan kepada manusia yang membimbing mereka supaya mampu mempertahankan diri mencari kehidupan ya bela diri yang menuntunnya agar apa namanya bisa mencapai apa yang dicita-citakan oleh manusia itu ya mencapai apa yang mereka inginkan ya Nah demikian Nah maka siapa yang mengabaikan nikmat Allah dengan tidak menjaganya ya dia tidak menjaga akalnya maka salah satu di antara doratul Hamzah adalah karena akal itu adalah karunia yang besar ya apabila kita mengabaikan nikmat Allah itu dengan tidak menjaganya berarti kita telah mengabaikan hikmahnya maka dari itu Ya Termasuk yang diharamkan adalah segala perkara yang bisa mematikan fungsi akal diharamkannya khamar dan segala makanan minuman yang memabukkan ya hal-hal Yang bisa menutupi akal itu dilarang ya untuk menjaga kesempurnaan akal yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan kepada kita ya maka kita tidak boleh mengabaikannya ya karena kita bisa hidup dengan itu Ya maka Mungkin ada satu hal yang kurang pada akal seseorang apabila dia mengabaikan ikhtiar lalu dia merasa tinggi imannya karena dia tawakal kepada Allah ini perlu diperiksakan mungkin akalnya ya Nah siapa yang mengabaikan nikmat Allah dengan tidak menjaganya berarti dia telah mengabaikan nikmat itu mengabaikan kebijaksanaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sama seperti orang yang tidak mau makan atau tidak minum obat ketika sakit sehingga dia mati mati kelaparan atau sakit parah atau dia jatuh dalam sakit yang parah karena dia tidak mau minum obat misalnya dia mati kelaparan karena dia nggak mau makan lalu di mana fungsi akal yang Allah berikan kepada kita jika dengan akal kita tidak bisa menolak mudharat yang bakal menimpa kita maka Makasih di syariah yang utama adalah ya meraih maslahat dan menolak mudharat ya itu termasuk dasar-dasar syariat Islam makanya termasuk dasar di dalam maqasidah syariah yaitu meraih maslahat dan menolak mafsadat Nah itu dibutuhkan akal yang sehat ya akal yang sehat karena Allah menciptakan itu agar manusia bisa ya mulia dengan akalnya jadi yang bisa melakukan sesuatu yang mendatangkan maslahat dan menghindari sesuatu yang bisa menimbulkan mudarat atas dirinya demikian dan tidak ada yang lebih jahil bodoh daripada seseorang yang mengaku punya akal bahkan mengaku punya ilmu namun berserah diri pada musibah ya orang yang bertawakal itu raganya bekerja raganya bekerja berbuat ya beraksi dan hatinya pasrah dia sandarkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik dia diberi ataupun tidak artinya sukses ataupun tidak berhasil ataupun tidak Karena tidak semua usaha itu sukses ya tidak semua usaha itu berhasil baik diberi maupun tidak ya maka orang yang tawakal itu dia menggabungkan dua hal tadi yaitu raganya bekerja hatinya Bersandar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Nah demikian ya Nah karena dia yakin bahwa allah subhanahu wa ta’ala hanya memutuskan berbuat berdasarkan hikmah dan masalah bagi makhluk ya Nah demikian Nah dengan keyakinan tersebut maka dia maka tidak memberi apa namanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya akan memberikan kepadanya satu pemahaman pengertian ya di dalam ya memahami ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu takdir sehingga dia tidak menyalahkan takdir atas apa yang menimpanya ya ketika dia sudah berikhtiar ketika dia sudah menyerahkan hatinya kepada Allah maka dia bisa menerima ketetapan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dengan lapang dada nama Berapa banyak orang-orang lemah yang memandang Ya baik kelemahan dirinya maka di dalam hadis nabi mengatakan istana bantuan kepada Allah jangan melemah namun ada sebagian orang yang justru memandang baik kelemahan dirinya dia mengikuti kelemahan dirinya ya dia malas tapi dia bangga dengan kemalasannya ya dia berpangku tangan dan dia merasa itulah jalan untuk meraih apa yang diinginkannya ya Nah ini tidak kita katakan tidak bisa diterima akal sehat sebenarnya orang yang berpikir seperti itu sama seperti orang yang mau kenyang tapi makanan yang ada di depannya tidak tidak dimakannya orang akan mengatakan Dia adalah orang idiot pasti ada orang yang lapar kepingin kenyang ada makanan di depannya tapi dia tidak mau makannya dia hanya melihatnya saja lalu dia bersandar kalau Allah menghendakinya nggak kenyang gitu yang nggak bisa Sampai kapanpun kita nggak akan bisa kenyang kalau makan itu kita tidak masukkan ke mulut kita ya Nah demikian Allahu a’lam jadi termasuk kelemahan akal ya bahkan terbujuk oleh jiwanya hingga menilai kelalaian sebagai tawakal ini kan sebenarnya tapi dia nilai sebagai tawakal akibatnya mereka pun menjadi seperti orang yang meyakini kecerobohan sebagai keberanian kelemahan sebagai kekuatan ya itu kan konyol ya kalau misalnya ada orang yang maju ke Medan peperangan tanpa senjata tanpa persiapan senjata dan Perisai itu namanya dia konyol itu itu ceroboh bukan berani Ya seperti orang yang ceroboh ya nekat begitu ya Menantang maut tapi dia tidak memperhatikan ya keselamatan keselamatan yang perlu dia persiapkan nah orang ini bukan berani sebenarnya Tapi ceroboh lebih cepat disebut orang yang ceroboh misalnya ya ada orang yang kebut-kebutan begitu ya dengan kendaraan yang dia boleh dikatakan tidak mumpuni kendaraannya tapi dia pacu Ya seperti mobil sport misalnya ya bukan berani bukan lebih lebih dikatakan sebagai orang yang ceroboh misalnya orang yang pergi ke hutan ya atau ke gunung naik gunung dia tanpa persiapan tanpa bawa jaket tanpa bawa bekal ya atau bahkan perlengkapan seadanya aja nggak bawa senter mungkin tangan kosong begitu nah ini bukan berani ini mungkin ini bukan berani ini namanya ceroboh bukan berani ya walaupun kita ya kadang-kadang ada orang seperti itu ya lalu ujungnya dia selamat tetap dia dikatakan orang yang [Musik] ceroboh bukan berani Nah demikian ya wallahualam Ada juga yang Selamat ya dan ada juga yang nggak Selamat ya dengan cara mendaki gunung seperti itu kan begitu tanpa persiapan tanpa lain segalanya ada yang juga apa namanya sendiri naik ke gunung kan begitu tanpa persiapan ya Ada juga yang Selamat ya tapi ini membahayakan dirinya dia tidak disebut berani di situ walaupun orang-orang berjejak kagum Mungkin dia bawa berani sekali dia Tapi itu tidak disebut keberanian yang termasuk akhlak mulia itu disebut kecerobohan bukan keberanian demikian juga dia mungkin akan menilai kelemahan itu sebagai kekuatan ya kelemahan sebagai suatu kekuatan wallahualam Jika ada yang berkata ya ini beliau ingin membantah ya argumentasi sebagian orang yang mengatakan kenapa aku harus siap siaga toh segala sesuatunya sudah ditakdirkan ya untuk apa prepare ya jaga-jaga Misalnya kita ya menabung misalnya contohnya atau kalau kita pergi Safar ya kita siapkan apa ya ke perlengkapan-perlengkapan ataupun bekal-bekal untuk berjaga-jaga di perjalanan dan begitu ya ya Jika ada yang mengatakan untuk apa bersiap siaga seperti itu kan segalanya sudah ditentukan sudah ditakdirkan maka kita jawab kata beliau ya Mengapa anda tidak mau bersiap-siap Padahal hal ini diperintahkan terkait segala sesuatu yang sudah ditakdirkan ya karena yang menentukan takdir yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dia pula yang memerintahkan kita untuk bersiap siaga Ya seperti perintah Allah Subhanahu Wa Ta’Ala kepada kita surat an-nisa ayat 102 dan bersiapsiagalah kamu walaupun menang kalah sudah ditakdirkan itu sudah ditulis bahkan ditulis 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi tapi Walaupun demikian [Musik] Ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetap perintahkan kita untuk bersiap siaga Allah yang memerintahkan untuk bersiap siaga dialah yang menetapkan takdir 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi jadi jangan dipertentangkan kita harus mendudukkan setiap Nas itu pada tempatnya ya tidak membenturkannya maka ini tidak bisa diterima oleh akal sehat ya orang yang meninggalkan ikhtiar lalu dia bertawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak bisa dibenarkan tawakalnya kepada Allah jika dia lakukan itu tanpa berikhtiar wallahualam dan tidak ada iman yang lebih tinggi daripada iman nabi ya Tidak ada yang lebih dekat kepada Allah daripada nabi tapi nabi juga bersiap siaga nabi juga berikhtiar nabi juga bekerja nabi melakukan segala yang bisa beliau lakukan sebagai bentuk ikhtiar selama di dalam koridor yang dibenarkan syariat halal maka beramal lah kamu vacullun muyasari limbah kulit sekolah karena setiap orang akan dimudahkan kepada takdirnya tapi malu dulu ya beramallah kamu berusahalah kamu karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang menjadi takdirnya ya wallahu akbar jadi dengan meletakkan ketiga hal ini dengan benar yaitu doa tawakal dan ikhtiar kita bisa memahami takdir itu dengan benar pula dan kita bisa lebih siap untuk menerima keputusan ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu takdir cara banyak orang yang nggak bisa menerima takdir ya mungkin ya ada salah satu dari tiga unsur ini tidak dia penuhi dia kurang doa dia kurang tawakal atau dia kurang ikhtiar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan tawakal bukan berarti tidak berusaha seperti yang kita sebutkan tadi ya Nah Senada dengan tipuan iblis terhadap kaum Sufi agar meninggalkan segala ikhtiar ya iblis juga menipu kebanyakan manusia bahwa tawakal itu berarti tidak perlu berusaha itu salah satu yang dibisikkan iblis ke telinga manusia ya diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah Dia berkata Siapa yang mencela sikap tawakal berarti dia mencela keimanan dan barangsiapa yang mencela sikap berusaha berarti dia telah mencela sunnah ya berarti dia telah mencela sunnah ya Sekali lagi beliau mengatakan Siapa yang mencela tawakal berarti dia telah mencela keimanan ya karena Allah perintahkan ya untuk tawakal itu siapa orang-orang yang beriman ya Wow dan kepada Allah lah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal Nah kalau dia beranggapan bahwa tawakal itu tidak perlu maka ini adalah satu bentuk ya kita katakan melecehkan ataupun merendahkan ya keimanan dan barangsiapa yang menjelaskan usaha atau ikhtiar maka ia telah mencela sunnah karena sunahlah yang memerintahkan kita untuk berikhtiar ya menafikan itu berarti kita telah menjelaskan ya diriwayatkan dari Muhammad bin Abdul Aziz dia menuturkan ada seorang yang mengajukan pertanyaan kepada Abu Abdillah bin Salim dan saat itu aku menyimaknya Apa pertanyaan itu Apakah kita diperintahkan supaya bekerja atau bertawakal itu pertanyaannya Apakah kita diperintahkan untuk bekerja dan bertawakal atau bertawakal jadi ini dia bertanya apa yang Apakah kita diperintahkan Apa yang diperintahkan kepada kita bekerja atau tawakal kira-kira demikian pertanyaannya maka Abdullah bin Salim menjawab Tawakal adalah kondisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedangkan bekerja adalah sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ya jadi nabi melalui sunnah telah menyuruh kita untuk bekerja dan nabi telah mencontohkan kepada kita ya bagaimana bertawakal jadi dua-duanya tidak lepas dari sunnah baik itu sunnah fi’liyah nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maupun sunnah qauliyah nabi yang memerintahkan kita untuk bertawakal jadi beliau menjawab ketika ditanya apa Apa yang diperintahkan kepada kita pekerja tertawakal kepada menjawab Tawakal adalah kondisi Rasulullah itu yang dicontohkan nabi ya Adapun bekerja adalah sunnah Rasulullah Rasulullah menyuruhnya juga dan Rasul memperagakannya juga ya makanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ya menyuruh kita untuk bekerja misalnya hampir seutas tali pergi ke hutan Cari kayu bakar jual di pasar yaitu yang diperintahkan nabi dan nabi menyontohkannya ya beliau ya dari kecil Ya sudah terbiasa untuk menghidupi ataupun mencukupi kehidupan beliau sendiri ya ada kalanya Beliau pernah beliau menjadi penggembala penggembala kambing penduduk Mekkah Beliau pernah menjadi orang yang dititipkan yaitu menerima titipan dari orang-orang Arab Quraisy ya jadi nabi juga berikhtiar berusaha ya sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan sesudah beliau diangkat menjadi nabi ya jadi itu kondisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jadi belum menjawab Tawakal adalah kondisi Rasulullah sedangkan bekerja adalah sunnah Rasulullah Ya bekerja dianjurkan bagi orang-orang yang lemah tawakalnya yang telah jatuh dari tingkatan sempurna Yaitu kondisi Rasulullah Siapa yang mampu bertawakal Maka bekerja sama sekali tidak diperbolehkan baginya kecuali pekerjaan mendukung ya bukan pekerjaan utama Siapa yang lemah siapa lemah dari kondisi tawakal yang merupakan kondisi Rasulullah maka boleh baginya mencari kehidupan penghidupan dengan bekerja agar dia tidak jatuh dari tingkatan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Nah demikian ya Jadi intinya adalah ya setiap orang tentunya ya diberi Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya potensi ya kekuatan yang dengan itu dia bisa mencukupi kebutuhan dirinya kehidupannya di dunia ya Maka jangan dia bersandar ataupun ya kepada kedermaran Allah kemudian dia meninggalkan ikhtiar itu lalu mengandalkan keimanannya Ya sama aja yang punya iman yang enggak punya iman kalau enggak mau bekerja ya enggak dapat ya Nah bukan itu yang yang apa namanya kelebihan yang Allah berikan dengan iman ya Maka kalau demikian ya orang yang enggak yang paling pertama utama untuk tidak berikhtiar itu nabi Karena nabi itu imannya paling tinggi ya kalaulah apa ya sebab berbanding lurus antara tingginya iman dengan kesuksesan dalam berikhtiar ya harusnya nabi tidak berkhiar lagi karena iman beliau jelas yang paling tinggi tapi tidak dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini menunjukkan bahwasanya yaitu harus sejalan ya tidak boleh ditumpang tindihkan ya jika kamu melihat ya jika kamu melihat dia seorang murid-murid ini adalah suatu istilah Ya bagi kaum sufi yang masih pemula tingkatannya dikatakan murid sibuk membuat keringanan dan usaha sungguh dia tidak akan mendapat dia tidak akan memberikan apapun ini ucapan mereka tentunya ya [Musik] menilai ya bahwa seorang murid ya itu orang yang baru menataki kehidupan sufinya lalu sibuk membuat keringanan dan buat melakukan usaha maka dia tidak akan memberikan apapun itu ada yang dapat yang tidak ada satupun yang didapatnya ini menurut pandangan mereka ya lah perkataan kaum yang tidak memahami makna tawakal mereka mengira tawakal sama dengan tidak bekerja dan menggugurkan seluruh anggota tubuh pada tawakal merupakan amalan hati yang sama sekali tidak menafikan usaha yang diupayakan oleh anggota tubuh jadi tawakal itu amalan hati Adapun anggota tubuh lainnya melakukan ikhtiar ya masing-masing melakukan perannya hati ya ikhtiarnya apa tawakal anggota tubuh ya ikhtiarnya adalah melakukan suatu usaha agar meraih apa yang diinginkan ya seandainya orang yang bekerja tidak layak disebut orang yang tawakal tentu para nabi bukanlah orang yang bertawakal ya kalaulah kata beliau disini seandainya kata Ibnu jauzi orang yang bekerja tidak layak disebut orang yang tawakal maka para nabi itu bukanlah orang yang bertawakal karena mereka berusaha mencari kehidupan yang mencari kita katakan nafkah rezeki mereka dengan tangan mereka sendiri maka para nabi telah demikian adanya tidak pantas disebut orang yang bertawakal Abu Bakar Usman Abdurrahman bin Auf ya dikenal sebagai pedagang ya di kota Madinah berada pada mereka adalah pedagang kain salah satunya Nah demikian pula hal ini dengan Muhammad bin Shirin dan Maimun bin Mihrab yang juga berdagang kain itu Amr Bin Ash juga Amir bin Quraisy termasuk para pedagang kain ya kain wol demikian pula Abu Hanifah jadi mereka-mereka ini para Salaf para ulama ya kita terdahulu mereka punya usaha diantara usaha mereka adalah dikenal mereka sebagai pedagang kain atau pengusaha kain tekstil Kalau sekarang kan begitu ya saat bin Abi waqqash bekerja sebagai pembuat anak panah ya beliau punya usaha yaitu membuat anak panah Utsman bin talhah berprofesi sebagai penjahit Hayat penjahit ya Nah demikian pula tabiin serta generasi Salaf sesudah mereka tetap bekerja dan memerintahkan orang-orang untuk bekerja bukan takut tangan ya membekali diri dengan ya kesiapan-kesiapan keahlian-keahlian supaya bisa mengais rezeki dengan keahlian-keahlian tersebut ya jadi salah berikutnya itu tetap bekerja dan memerintahkan orang-orang untuk bekerja Amr Bin Maimun dari ayahnya ya berkata Abu Bakar diangkat sebagai khalifah lalu ia pergi lalu dia diberi gaji 2000 Dirham ya gajinya 2000 Dirham Abu Bakar pun berkata tambahkanlah karena aku punya keluarga ya tambahkanlah artinya ini kurang 2000 dirham kurang tambahkanlah kan aku punya keluarga kalian telah membuatku sibuk hingga aku tidak bisa berdagang ini yang disebut dengan seorang yang kita tahan waktunya dia tidak bisa berikhtiar bekerja yang lain ya dan berhikmat untuk melakukan suatu pekerjaan itu maka kita berijulah dia misalnya ya tidak boleh mengambil upah dari adzan larangan ya mengambil upah dari adzan tapi itu siapa orang yang beradan ya mengambil upah dari adzan ya bukan Muazin ya muadzin yang kita telah tahan untuk memperhatikan waktu salat lima waktu di masjid ya itu jadi tanggung jawabnya yaitu mengumpatkan adzan pertanda masuknya waktu ya kita tahan dia atau ya seseorang yang kita tunjuk sebagai Imam Imam Ratib di masjid misalnya yang mana dia 5 waktu harus ada di masjid mengimami manusia salat demikian juga tadi ya kita sebutkan apa muadzin dia punya kewajiban yaitu memperhatikan waktu-waktu salat mengumandangkan Adzan ketika masuk waktu salat mayat Apabila mereka kita tahan waktunya untuk pekerjaan itu maka mereka layak pantas untuk mendapatkan jumlah seperti yang diriwayatkan di sini ya dari Abu Bakar Abu Bakar ketika diangkat sebagai khalifah ia diberi gaji 2000 dirham dia mengatakan ini tidak cukup tambahkan karena aku punya keluarga yang harus dihidupi Yana Demikian maka termasuk kezaliman juga ya orang yang kita tahan waktunya ya tapi kita tidak beri upahnya ya kita tidak memberikan upah kepadanya atas waktu yang kita ambil darinya demikian wallahualam bisa kita katakan Wah ini kerja sosial Kenapa ngambil upah dari seorang muadzin mengambil upah dari adzan Bukankah itu ya mencari apa namanya dunia dengan agama enggak seperti itu kadang-kadang nggak relevan ya kata-kata seperti itu dengan kenyataan lalu Siapa yang mau jadi Muazin yang kita kita tahan di situ dia untuk apa ya memantau waktu salat lima waktu Siapa yang mau jadi imam Ratib masing-masing orang akan sibuk dengan kesibukannya lalu Siapa yang bertanggung jawab di situ nah ketika tiba waktu salat udah nggak ada yang maju gitu saling dorong mendorong akhirnya terdoronglah yang enggak bisa baca al-fatihah begitu kadang enggak ada Imam rotinya ya karena mengandalkan apa wah ini pekerjaan sosial kita apa namanya nggak boleh cari dunia di sini bukan begitu bunyinya salah itu ada sebagian orang ada yang punya pikiran seperti itu lalu dia mengandalkan ya apa ya manusia ya untuk melakukan tugas-tugas seperti itu Ya bedalah Ketika seseorang itu dituju jadi imam Ratib tentu dia bertanggung jawab Soalnya 5 waktu dia ada di situ sebagai Imam ya dan dia tidak bisa berusaha kalau dia pergi berusaha bekerja berbisnis di luar mungkin dia tidak bisa hadir di situ ya Nah ketika dia tidak bisa hadir di situ ya terjadilah seperti yang kita lihat di banyak masjid juga kan gitu dorong-dorongan dorong-dorongan akhirnya tersorong lah yang enggak bisa baca al-fatihah pun tersorong juga akhirnya enggak ada yang bertanggung jawab nah ketika orang yang kita tahan di situ untuk jadi imam Ratib untuk jadi muadzin maka kita kasih jolah itu ya disebut juga berlebihan Jangan katakan wah ini dia kan sebagai lahan bisnis dan itu kata-kata yang enggak tepat juga ya nggak pada konteksnya itu ya Nah demikian wallahualam Bishawab ya jadi jangan salah memahami sesuatu gitu ya ada hadis larangan mengambil upah dari adzan itu bagi orang yang adzan lalu dia bisa adzan minta upah nggak boleh Ya tapi kalau dia ditunjuk sebagai muadzin dia perhatikan waktu salat ketika tiba salat dia kumandangkan adzan itu adalah tanggung jawabnya 5 waktu ya 5 waktu ya ini seorang Muazin atau Marbot lah kita katakan kita tahan dia di masjid itu untuk mengurus masjid nggak bisa kita katakan rumah Allah kamu harus ikhlas ya jangan menguji keikhlasan orang ya kalau kita diuji pikiran seperti itu juga kita nggak bisa nggak mau juga mungkin lalu kita memuji keikhlasan orang dengan kata-kata seperti itu Kamu harus ikhlas jangan harapkan dunia itu uruslah masjid ini rumah Allah Ya kenapa nggak kita aja kan kadang-kadang kata-kata yang nggak masuk akal itu saya bertanggung jawab mengimami sholat 5 waktu kalau nggak ada Imam ratibnya Siapa yang bertanggung jawab untuk mengumandangkan adzan di sholat 5 waktu 5 waktu itu jika nggak ada muadzin yang ditunjuk untuk itu ya Ada sebagian Masjid yang kadang-kadang adzan kadang-kadang adzan gitu ya atau ada Azan tapi nggak ngerti fiqih azan karena dia bukan Muazin jadi demikian ya apa namanya ya ada hal-hal tertentu yang memang kita harus beri apresiasi ya tidak boleh kita tahan manusia dengan waktunya lalu ya Kita uji keikhlasannya kamu ikhlas enggak gitu ya Oh ini kan kerja sosial ya ini kerja akhirat ya nggak tepat konteksnya kadang-kadang ya Nah demikian seperti di sini ya Abu Bakar merasa kurang karena dia punya keluarga tambahkan karena aku punya keluarga kalian telah membuatku sibuk menahanku di sini jadi aku tidak bisa berdagang mengurus siapa pekerjaan ya sebagai khalifah ada demikian nah para sahabat kemudian memberi tambahan 500 Dirham demikian para pemerhati raja kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah wallahualam bissawab ya nah jadi ini bukan wa kita katakan wa dia mata duitan atau ingin ini itu dan lain sebagainya kadang-kadang nggak tepat kata-kata seperti itu balikkan aja kepada kita kalau kita diambil waktunya lalu dibiarkan lalu dikatakannya kamu ikhlas ya itu kan enggak juga wallahualam Nah demikian para hadir aja kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah mudah-mudahan bermanfaat nanti akan kita lanjutkan lagi bincang-binjang kita ataupun pembahasan kita tentang buku televisi iblis berkaitan dengan tawakal ikhtiar usaha dan doa ya dan hubungannya dengan takdir yang memahami takdir dengan benar wallahualam subhanakallah Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Terima apa sih jazakallahu Khairan Barakallah fiikum Ustad atas penyampaian materi yang sangat bermanfaat demikian nikmat Islam program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin dari kitab talbis iblis tipu daya iblis nah Semoga apa yang telah kita simak dengarkan bersama dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna sebenarnya dari tawakal Ingatlah bahwa tawakal bukan berarti kita tidak perlu berusaha namun sebaliknya tawakal harus disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh nah kami yang bertugas mohon pamit undur diri mohon maaf atas segala kehilafan Terima kasih jazakumullahu Khairan Barakallah fiikum atas kebersamaan anda semua wabillahi taufik wal hidayah Subhanallah wabihamdika Ashadualla ilaha illa Anta subhanaka wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *