Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat simak radio Raj Bogor 100.1 FM radio Roja Majalengka 93.1 FM radio Roja Palu 101,8 FM dan radio Roja Bandung 104.3 FM menyebar cahaya sunah [Musik] asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah alhamdulillahbil alamin wasatu wasalam Sayid Mursal pem TV dan pendengar Radi dirahmati Allah subhanahu wa taala Alhamdulillah segala puji bagi Allah sawat dan salam sem senantiasa tercurah kepada kedua Hasanah kita nabi besar Muhammad sallallahu alaihi Wasallam kepada keluarga beliau dan segenap sahabatnya dan orang-orang yang meniti sunahnya walhamdulillah di kesempatan sore hari ini kembali kita bertemu dalam majelis ilmu kajian dalam pembahasan wasaya W taujihatabbil bariyat bersama Al Ustaz Anas Burhan Ma hafidahullahu taala langsung dari ee stdi Jember dan Alhamdulillah kita tah terkoneksi bersama beliau dan Insyaallah kita akan simak pembahasan ini dan kami berikan kesempatan yang luas bagi para pemirsa dan pendengar untuk bersoal jawab dan bertanya dalam pembahasan ini di lain telepon 0218236543 Kemudian untuk pertanyaan via chat WhatsApp seperti biasa di 0819896543 baik kita mulai pembahasan dan kajian sore hari ini kami persilakan kepada Ustaz fad sekolah Bismillahirrahmanirrahim innalhamdulillah nahmaduhu wastainuhu wastagfiruh wa naudubillahi Min syururi anfusina W sayiati aalina yahdihillahu Fala mudillalah Wam yudlil Fala hadiyaalah wa Ashadu Alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asadu Anna muhammadan abduhu waasuluh Shallallahu Alaihi waa Al Masih bersama kajian tentang fikih beribadah kepada Allah subhanahu wa taala dengan kitab panduan wasaya wa taujihat F fqh taabbudbil bariat arahan-arahan dan catatan-catatan seputar fikih beribadah kepada Allah subhanahu wa taala ya karya profesor Dr Syekh Ibrahim bin Amir arruhaili hafidahullahu taala wasay W taujihat Fi fqhi taabbudbil bariat wasiat-wasiat dan arahan seputar fikih beribadah kepada Allah yang merupakan Tuhan semua makhluk pada dua pertemuan sebelumnya telah kita kaji bersama renungan yang pertama dan kedua renungan yang pertama adalah bahwasanya kita yang membutuhkan Allah subhanahu wa taala dan Allah subhanahu wa taala tidak membutuhkan kita ibadah kita tidak akan menambah kuasa Allah dan maksiat kita juga tidak akan mengurangi wibawanya namun Meskipun begitu Allah subhanahu wa taala sangat bahagia dengan Taubat dan amalan-amalan Saleh kita Allah subhanahu wa taala juga lebih sayang kepada hamba-hambanya daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya sendiri jadi rungan seperti ini hendaknya membuat kita semakin Bersyukur kepada allah subhanahu wa taala mengagungkannya lebih semangat untuk beribadah kepadanya menjalankan ketaatan kepadanya dan menghindari maksiat dan dosa sedangkan renungan yang keduaal Bahwasanya Allah subahu wa taala lebihhak untuk ibadahi dan ditaati dibanding kedua orang tua kita Indonesia ada sebagian orang yang bisa hormat kepada orang tuanya bisa berbakti menunaikan hak-hak orang tua tapi dia melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah subhanahu wa taala ini adalah satu hal yang ironis kalau dia bisa hormat berbakti menunaikan kewajiban kepada kedua orang tuanya maka hendaknya seharusnya dia lebih bisa untuk menunaikan hak-hak Allah subhanahu wa taala dan juga beribadah serta taat kepadanya pada kesempatan hari ini Insyaallah kita akan berpindah kepada renungan yang ketiga runan yang ketiga ini adalah bahwasanya sebaik apapun kita beribadah kepada Allah subhanahu wa taala maka kita tidak akan bisa menunaikan hak besar Allah subhanahu wa taala atas hamba-hambanya hak Allah subhanahu wa taala sangat besar Allah subhanahu wa taala memiliki hak atas hamba-hambanya untuk diibadahi dan juga untuk ditaati hak ini sangat besar karena Allah subhanahu wa taala adalah yang menciptakan kita yang memberikan rezeki yang menghidupkan mematikan urusan kita berada di Tang nya Semua urusan kita berada di tangannya maka Allah subhanahu wa taala memiliki hak yang sangat besar atas hamba-hambanya dan sebaliknya kita memiliki kewajiban yang besar kepada Allah subhanahu wa taala namun setinggi apapun ilmu kita maka kita tidak akan bisa memberikan hak pengenalan kepada Allah subhanahu wa taala demikian juga sebaik apapun Amalan kita kita tidak akan bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala atas kita jadi kelemahan kita ini dari dua sisi sisi ilmu dan Sisi amal dari sisi ilmu kita tidak akan bisa memahami Allah tidak bisa mengenal kesempurnaan Allah subhanahu wa taala sebagaimana semestinya ada banyak hal ada banyak sifat ya Ada banyak sisi-sisi kesempurnaan Allah subhanahu wa taala yang kita tidak bisa memahaminya dengan baik demikian juga sebaik apapun Amalan kita dan ibadah kita kepada Allah subhanahu wa taala maka itu juga tidak cukup untuk memenuhi hak Allah subhanahu wa taala atas hamba-hambanya maka dalam sebuah ayat di surah al-haj yakni ayat ke-74 Allah subhanahu wa taala berfirman Ma qadarullaha haqqa qodrih Innallaha laqowiyun Aziz Ma qodarullaha haqqa qodrih Innallaha laqowiyun Aziz mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya sungguh Allah subhanahu wa taala Maha Kuat lagi maha perkasa nah ini adalah terjemahan dari ayat yang agung ini alhafiz Ibnu Katsir alhafiz Ibnu Katsir rahimahullahu taala saat menafsirkan ayat ini beliau mengatakan maofu qadrallahi waamatahu Hatta abadu giriroh ti ya mereka orang-orang musyrikin tidak mengenal kedudukan Allah subhanahu wa taala dan keagungannya sebagaimana mestinya yaitu ketika mereka menyembah selain Allah subhanahu wa taala berupa sesembahan-sesembahan yang Bahkan untuk membela diri dari serangan lalat pun mereka tidak bisa mereka sangat lemah mereka sangat kerdil tapi ternyata sebagian orang-orang musyrikin menyembah sesembahan-sesembahan yang lemah ini bersama Allah subhanahu wa taala dan ini adalah kemusyrikan dalam uluhiyah yang cukup untuk membuat mereka dikafirkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Meskipun mereka menyembah Allah subhanahu wa taala juga tapi karena mereka masih menyembah Tuhan selain Allah subhanahu wa taala maka itu adalah Syirik Akbar yang membuat mereka dikeluarkan dari Islam dan tidak dianggap sebagai bagian dari umat Islam Jadi ayat ini berbicara tentang orang-orang musyrikin yang mereka tidak mengenal Allah sebagaimana mestinya mereka tidak mengetahui kedudukan dan keagungan Allah subhanahu wa taala sebag sebagaimana mestinya kalau seandainya mereka mengenal Allah kesempurnaannya tingginya kedudukannya Agungnya kemuliaannya maka mereka tidak akan menyembah selain Allah subhanahu wa taala tapi ketika mereka masih menyembah selain Allah subhanahu wa taala berupa sesembahan-sesembahan yang lemah padahal allah subhanahu wa taala yang Maha Kuat lagi maha perkasa maka ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak mengenal Allah dengan baik mereka tidak memahami kedudukan tinggi Allah subhanahu wa taala dan mereka juga tidak mengenal keagungan Allah sebagaimana mestinya jadi ini adalah sifat orang-orang musyrikin kemudian dalam surat yang lain yaitu dalam surah azzumar ayat 47 Allah subhanahu wa taala berfirman dengan redaksi yang mirip Tapi ada tambahan wau dalam FirmanNya di ayat yang kedua ini dan mereka orang-orang musyrikin tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya jadi ini adalah penegasan untuk surat ke eh penegasan untuk ayat ke 74 dari surat alhaj bedanya hanya ada tambahan wa di sini w qadarullah dan mereka tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya jadi ee para ahli Tafsir ya di antaranya Mujahid bin Jabar almaki rahimahullahu taala mengatakan bahwasanya ayat ini turun pada orang-orang Quraisy mereka yang menyembah selain Allah subhanahu wa taala dan menyekutukan Allah subhanahu wa taala dengan sesembahan yang lain sedangkan assuddi rahimahullahu taala mengatakan arti ayat ini adalah Ma orang-orang Quraisy dan orang-orang musyrikin tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya sedangkan alhafiz Ibnu katir rahimahullahu taala mengatakan dan orang-orang musyrikin tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala tidak memberikannya kedudukan yang mestinya ketika mereka masih beribadah kepada selain Allah subhanahu wa taala Jadi ibadah mereka untuk selain Allah meskipun ibadah itu juga bersama ibadah mereka kepada Allah jadi orang-orang musyrikin ini tidak berarti mereka tidak mengenal Allah subhanahu wa taala Bukannya orang-orang musyrikin ini tidak mengenal Allah subhanahu wa taala mereka kenal Allah mereka menganggap Allah sebagai Tuhan yang paling tinggi tapi bersama itu mereka masih menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah mereka tahu sesembahan-sembahan ini lemah ya lebih rendah dibanding Allah subhanahu wa taala tapi ternyata mereka masih menyembahnya ya makanya kemusyriikan adalah sesuatu yang buruk ini adalah dosa besar dalam Islam bahkan dosa yang paling Akbar karena di situ ada perbuatan yang sangat buruk perbuatan yang sangat tidak logis ya perbuatan yang melanggar intisari ajaran agama Islam Jadi mereka mengenal Allah subhanahu wa taala mereka juga menganggap Allah sebagai Tuhan bahkan mereka menganggap Allah sebagai Tuhan yang paling tinggi tapi bersama itu mereka masih menyembah selain Allah subhanahu wa taala baik itu berupa perepohonan patung-patung ya malaikat Jin ya para nabi orang-orang Saleh ada yang mereka sembah bersama Allah subhanahu wa taala ya maka ee dalam ayat ini Allah subhanahu wa taala membuka kedok mereka membuka aib dan kekurangan mereka dengan menyebutkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah subhanahu wa taala tidak memberikan kepada Allah subhanahu wa taala kedudukan yang seharusnya Dan mereka tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya kata alhafiz Ibnu Katsir wahimu padahal allah subhanahu wa taala adalah Tuhan yang paling Agung yang tidak ada sesuatu pun yang lebih agung dari dia alqadiru Ala kulai dia adalah yang maha berkuasa atas segala sesuatu almalikuulai dia adalah yang memiliki segala sesuatu wauaiin Tahta qohrihi wa qudratihi dan segala sesuatu itu berada di bawah kekuasaannya dan kemampuannya Nah jadi di sini Allah subhanahu wa taala menjelaskan kondisi orang-orang musyrik di mana mereka tidak mengenal Allah subhanahu wa taala dengan baik mereka tidak mengagungkan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya namun orang-orang yang beriman ya setinggi setinggi apapun ilmu yang mereka capai dalam mengenal Allah subhanahu wa taala maka itu juga tidak akan cukup untuk mengenal kesempurnaan Allah subhanahu wa taala demikian juga orang-orang yang beriman sebaik apapun amalan mereka sebaik apapun ibadah mereka kepada Allah subhanahu wa taala maka itu juga tidak cukup untuk memenuhi hak Allah subhanahu wa taala atas mereka juga atas hamba-hamba Allah yang lain karena memang hak Allah subhanahu wa taala terlalu besar untuk dipenuhi hak Allah subhanahu wa taala sangat besar dan terlalu besar untuk bisa dipenuhi maka kita adalah ee orang-orang yang tidak pernah mengenal Allah subhanahu wa taala dengan sempurna kita juga adalah orang-orang yang tidak pernah bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala atas hamba-hamb-nya bahkan kalau seandainya kita bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala sebenar dengan bahkan kalau kita bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala dengan sebenar-benar takwa seperti yang pernah diperintahkan di awal Islam yaitu perintah dalam surat alu Imran ayat 102 Ya ayyuhalladina amanutaqulaha haqq tuqatih wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya ini adalah sebuah ayat yang Masyur ya sering kita dengar berulang-ulang terutama di mimbar-mimbar khotbah Jumat kita terus diingatkan dengan ayat ini ya ayyuhadinaahqa Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya Abdullah bin Mas’ud radhiallahu Anhu saat menafsirkan ayat ini ya beliau mengatakanah wkar Fala Yunsa wauskar Fala yukfar bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar Takwa adalah mentaatinya bermaksiat selalu berzikir dan mengingatnya serta memujinya tanpa pernah lupa juga senantiasa bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala tanpa pernah kufur kepadanya nah ini adalah definisi dari bertakwa dengan sebenar-benar takwa kalau kita ingin bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa maka berarti kita harus taat kepada Allah dan tidak pernah berbuat maksiat Ingat kepada Allah dan tidak pernah lupa memuji Allah subhanahu wa taala terus-menerus dan tidak pernah lalai juga terus bersyukur kepada Allah dan tidak pernah kufur nikmat kepadanya tapi Siapa yang mampu untuk melakukan hal ini penafsiran yang sama yaitu menafsirkan taqwallahi haqq tuqatih bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya dengan tiga hal ini ya taat tanpa bermaksiat zikir tanpa lalai juga kemudian bersyukur tanpa kufur penafsiran ini juga disebutkan dari beberapa e ulama Salaf di antaranya adalah murah alhamadani kemudian arrabi bin khutaim Amru bin Maimun Amru bin Maimun alhan albashri thwus bin kaisan qotadah bin am ah assudusi albashri kemudian Ibrahim annakh’i ya Abu Sinan asuddi Sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim jadi Ibnu Abi Hatim meriwayatkan penafsiran yang sama seperti yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud dari beberapa ulama Salaf tadi itu maka arti dari bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar Takwa adalah taat tanpa bermaksiat ingat tanpa lupa berzikir dan tidak pernah lalai serta bersyukur dan tidak pernah kufur maka ini adalah sesuatu yang sangat berat yang karenanya kemudian akhirnya perintah ini dihapuskan dengan perintah yang lebih ringan dan mampu dilakukan oleh umat Islam Jadi ada sebuah riwayat dari e Said bin Zubair rahimahullahu taala Beliau mengatakan ketika ayat ini turun ya Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya maka ayat ini terasa berat atas para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam para sahabat radhiallahu Anhu merasa berat dengan perintah ini dengan ayat ini jadi memang kadang-kadang perintah dari Allah itu betul-betul serius dipikirkan oleh Sala para sahabat di sini mereka Piran Betapa sulitnya bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam ketika diperintahkan juga dengan Istiqamah di mana Istiqamah ini adalah e satu perintah yang luas maknanya mencakup semua bentuk ketaatan menjalankan perintah meninggalkan semua larangan dan sepanjang ayat sebagaimana disebutkan dalam surat hud ayat 112 maka kemudian Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam diriwayatkan mengatakan aku dibuat cepat beruban karena surat hud dan yang semisalnya yang semisalnya adalah Sur surat ee beberapa surat seperti alwaqiah almursalat kemudian amasa surah Annaba dan juga surah atakwir tentunya pendapat yang Mashur tentang Al Kenapa surat-surat ini membuat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam cepat beruban jawabannya adalah bahwasanya surat-surat Ini mengandung kabar-kabar tentang hari kiamat maka itu membuat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam terus keikiran beliau sangat serius menanggapi kabar-kabar yang datang dalam surat-surat ini sebuah teladan untuk kita yang kadang lalai kadang kurang mengagungkan ya Ee tidak peduli dengan tanda-tanda hari kiamat padahal Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sangat memikirkan itu semuanya beliau takut kiamat terjadi dalam waktu dekat di zaman beliau jadi ini teladan dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Adapun pendapat yang kedua adalah bahwasanya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam merasa berat dengan perintah Istiqamah dalam surat hud ini karena adalah perintah yang sangat Agung perintah yang praktik nya sangat sulit karena mencakup semua aspek Islam semua ketaatan yang menjalankan perintah meninggalkan semua larangan ya sepanjang Hayat sampai kita dipanggil oleh Allah subhanahu wa taala maka ini adalah sebuah perintah yang sangat sulit jadi eh menurut Sebagian ulama yang membuat uban beliau cepat tumbuh ya beliau cepat beruban sebabnya adalah karena perintah Istiqamah dalam surat ini Jadi ini adalah pendapat yang kedua dan demikian juga para sahabat Rasulullah S Wasallam ketika turun ayat surat alu Imran tadi ayat 102 mereka menganggap serius perintah ini yainalahqa wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya Jadi mereka serius karena memang mereka sudah terbiasa ketika ada perintah ada larangan ada kabar-kabar dalam alqur atau dalam hadis maka mereka segera mengamalkan kalau perintah segera mereka kerjakan kalau larangan segera mereka tinggalkan kalau berupa kabar-kabar segera mereka Imani dan percayai itu adalah teladan dari para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam demikian juga ketika turun ayat ini ya auhina amanlahqqqa maka mereka juga menganggap ini sebagai perintah yang berat tapi mereka tetap menjalankannya ya dengan memperbanyak ibadah salat puasa dan lain sebagainya sehingga sampai-sampai otot mereka bengkak ya jadi kaki mereka bengkak ya araqib arqib adalah eh otot yang terletak di atas tumit kita ya kalau kita memegang ee bagian tumit ya di atas tumit kita ini ada ada otot ya Ada otot di bagian belakang yang ini dikenal sebagai qub ya dalam bahasa Arab disebut sebagai urqub jamaknya adalah araqib Nah jadi otot di atas tumit ini sampai bengkak karena saking Rajinnya para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam beribadah Kenapa sebagai pengamalan dari ya ayuhina amanqulah ya ayyuhalladina amanuqulah haqq tuqatih mereka ingin benar-benar mengamalkan ayat ini sehingga mereka ingin mewujudkan takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa maka mereka banyak beribadah sampai akhirnya kaki mereka bengkak dan dahi-dahi mereka menjadi bernanah seaking banyak saking banyaknya mereka sujud kepada Allah subhanahu wa taala maka kemudian melihat ee kejadian seperti itu melihat respon para sahabat yang merasa berat dan terus beribadah sampai membahayakan badan mereka Maka Allah subhanahu wa taala menurunkan ayat yang meringankan perintah ini yaitu firman Allah subhanahu wa taala dalam surat atttagabun ayat 16 fattaqulaha mastatum maka bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampu kalian ya ini adalah eh surah at-tagabun ayat 16 kata Said bin Zubair fakat Al ayatal Ula ayat yang kedua ini kemudian menghapuskan ayat yang pertama tadi jadi para hadirin dan pemirsa yang dirahmati Allah subhanahu wa taala dalam Islam kita mengenal ada yang namanya penghapusan hukum ya Ada hukum-hukum Islam yang dihapus dahulu pernah ada tapi kemudian dihapus ya beberapa cara salat di awal Islam dihapus ya Beberapa praktik agama di awal Islam dihapus misalnya pada awal Islam Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan bahwasanya mandi wajib itu hanya kalau keluar mani n ini biasa dipraktikkan oleh para sahabat pada awal Islam Jadi kalau ada hubungan senggama antara suami dan istri hubungan intim ya kemudian tidak keluar air mani maka tidak wajib mandi pada awal Islam namun kemudian hukum itu berubah hukum itu dihapus kemudian diubah dengan hukum yang baru yaitu bahwasanya jika sepasang suami istri melakukan hubungan senggama atau hubungan intim maka itu sudah cukup untuk mewajibkan mereka mandi Meskipun tidak keluar mandi dalam hubungan tersebut sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam jika khitan laki-laki dengan khitan perempuan sudah bertemu maka sudah wajib mandi meskipun keduanya tidak mengeluarkan mani jadialah contoh penghapusan hukum ada hukum yang pada awalnya berlaku kemudian dihapus demikian juga perintah yang pertama yaina amlahq surah alu Imran ayat 102 ini hukumnya dihapus dengan surah attagabun ayat 16 fattaqulahastum maka bertakwalah kalian dengan semampu kalian maka bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampu kalian jadi ayat yang kedua ini menghapuskan ayat yang pertama Kenapa ayat yang pertama dipandang berat bagi para sahabat jadi mereka sudah pernah diuji dengan ayat ini kemudian mereka merasa berat sampai ketika mereka beribadah badan mereka sakit kaki mereka bengkak ya dahi mereka atau kening mereka sampai keluar nanah maka kemudian Allah subhanahu wa taala melihat itu semuanya dan mencukupkan ujian atas Mereka kemudian menurunkan perintah yang lebih ringan yaitu surat attagabun ayat 16 fattaqulahaastum maka bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampu kalian jadi itu adalah penjelasan dari eh Said bin Zubair ya yang merupakan salah satu eh tokoh mufassir ya ahli tafsir dari kalangan tabiin kemudian assuddi rahimahullahu taala ini juga salah satu ahli tafsir Beliau mengatakan firman Allah subhanahu wa taala ittaqulaha haqqa tuqatih bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa ketika turun ayat ini orang-orang tidak mampu untuk melakukannya orang-orang tidak mampu untuk menjalankannya maka kemudian Allah subhahu wa taala menghapuskan hukum ini atas mereka Maka Beliau mengatakan maka bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampualian apa disamp Bin tegaskan lagi oleh assuddi ya ditegaskan lagi oleh assuddi dan demikian jelas dan dengan demikian jelas bahwasanya eh surat at-tagabun ayat 16 ini oleh para ulama disebutkan menghapuskan hukum dari surah alu Imran ayat 102 fattaqulahastatum menghapuskan ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih W tamutun illa Anum muslimun yakni pada potongan yang pertama Ya Aina amanqulahqa jadi perintah maka bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampu kalian ini menghapuskan perintah untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa Kenapa karena itu sangat berat para sahabat tidak mampu sehingga akhirnya hikmah dan kebijaksanaan dari Allah subhanahu wa taala membuat Allah subhanahu wa taala mencabut perintah yang pertama dan menghapuskannya dengan perintah yang kedua ini jadi sebaik apapun ibadah kita kepada Allah subhanahu wa taala maka kita maka kita tidak akan bisa memenuhi hak besar Allah atas hamba-hamb-anya setinggi apapun ilmu kita sebagai seorang mukmin maka ilmu itu tidak akan bisa membuat kita mengenal Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya yang kita ketahui hanya sedikit ada asma dan sifat yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa taala saja tidak ada hamba-hambanya yang mengetahui maka masih ada banyak ilmu di luar sana yang belum kita pahami sehingga setinggi apapun ilmu kita sebagai seorang mukmin maka itu tidak bisa membuat kita mengenal Allah subhanahu wa taala dengan sempurna maka kalau kita sudah sadar dan paham bahwasanya ilmu kita sangat cetek sangat dangkal tidak bisa mengenal Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya dan amalan kita juga sebaik apapun Amalan kita itu tidak akan bisa memenuhi hak Allah subhanahu wa taala kepada hamba-hambanya maka hendaknya renungan ini membuat kita malu kepada Allah subhanahu wa taala juga murka dan marah kepada diri kita sendiri atas ketidakmampuan kita untuk memenuhi hak Allah subhanahu wa taala baik dalam aspek ilmu yaitu kita tidak bisa mengenal kesempurnaan Allah subhanahu wa taala sebagaimana mestinya ataupun dalam aspek amal yaitu kelemahan kita dalam menunaikan kewajiban-kewajiban kita dan ibadah-ibadah kita kepada Allah subhanahu wa taala jadi kita harus malu karena Siapakah dari kita yang bisa taat kepada Allah subhanahu wa taala tanpa berbuat maksiat at kepadanya tidak ada Siapakah di antara kita yang senantiasa zikir mengingat dan memuji Allah subhanahu wa taala tanpa lupa Dan lalai jawabannya tidak ada siapa di antara kita yang bisa bersyukur kepada Allah terus dan tidak pernah kufur kepada nikmatnya jawabannya juga tidak ada kita tidak mampu untuk melakukan hal tersebut maka berarti kita tidak bisa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa jadi ee renungan ini hendaknya membuat kita malu kepada Allah subhanahu wa taala dan juga marah dan murka kepada diri kita sendiri karena kelemahan dan kekurangan kita dalam menunaikan hak-hak Allah atas hamba-hamb-anyaah kemudian kalau para sahabat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ya yang mereka sangat rajin beribadah ilmu mereka jauh lebih tinggi dari kita kemudian ibadah mereka dan amal mereka juga jauh lebih baik daripada kita yang hidup di akhir zaman ini sementara mereka masih belum bisa menunaikan hak Allah subhanahu wa taala Padahal mereka sudah berusaha sampai-sampai kaki mereka bengkak dahi dan kening mereka bernanah karena saking banyaknya mereka sujud untuk Allah mereka qamil denganat salat yang sangat panjang tapi itu semuanya juga tidak membuat mereka cukup untuk memuni hak Allah subhanahu wa taala Nah kalau para sahabat saja seperti itu maka Bagaimana dengan dengan kita orang-orang yang hidup di abad ke-15 Hijriah jauh dari zaman kenabian juga jauh dari zaman para sahabat para tabiin para tabi tabiin para salafush n tentunya kita eh lebih lemah lagi lebih kurang lagi dan hendaknya lebih besar rasa maklu kita kepada Allah subhanahu wa taala bahkan kalau kita berbicara tentang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam maka disebutkan dalam hadis riwayat albukhari Beliau juga menjadi contoh bagi para sahabat disebutkan oleh Aisyah radhiallahu anha ibunda kaum mukminin dan istri tercinta Rasulullah Sallallahu Alaihi wasallama nabiah nabiullah Sallallahu Alaihi Wasallam bangun malam sampai kaki beliau bengkak maka kemudian Aisyah radiallah anha bertanya wahai Rasulullah kenapa engkau melakukan hal iniah kenapaau lakukan ini wahai Rasulullah padahal allah subhanahu wa taa sudah mengampuni untukmu dosa-dosa yang telah lalu dan dosa-dosa yang akan datang maka Apa jawaban Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Beliau mengatakan AB wahai Aisyah Tidakkah Aku senang untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada Allah jadi beliau bersyukur atas berbagai nikmat ya nikmat pilihan nikmat kenabian nikmat yang lain cara bersyukur beliau adalah dengan banyak beribadah kepada Allah subhanahu wa taala sampai kaki Beliau juga bengkak Ki mulai dengan waktu yang sangat panjang rakaat-rakaat yang khusyuk dan sangat panjang sebagaimana dijelaskan oleh EE para istri beliau namun ini juga tidak bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala ya Bahkan ee apa yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga Ee tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh para hamba ya Di mana mereka tidak bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala yang memang sangat sempurna dan sangat tinggi maka eh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah mengatakan la uhsanaan aku tidak bisa memujimu sebagaimana mestinya aku sangat kurang ya aku tidak bisa memujimu sebagaimana mestinya aku tidak bisa memujimu dan berzikir mengingatmu sebagaimana mestinya jadi itu pengakuan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ya Jadi ini adalah ee nukilan dari para sahabat juga dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang menunjukkan mereka sudah berusaha sedemikian banyak namun mereka tetap merasa kurang ya mereka ee merasa tidak bisa memenuhi hak Allah subhanahu wa taala atas mereka Namun ternyata memang rasa dan sikap seperti itulah yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa taala dari hamba-hambanya jadi justru merasa kerdil merasa kurang merasa tidak bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala ini adalah perasaan yang Justru harus kita kembangkan dalam diri kita ini adalah sebuah posisi yang diharapkan oleh Allah subhanahu wa taala jadi ternyata memang Allah subhanahu wa taala menginginkan dari hamba hambaNya untuk terus merasa kurang merasa ilmunya kurang amalannya kurang merasa ibadahnya sangat kurang untuk bisa memunuhi hak Allah subhanahu wa taala atas hamba-hambanya Justru dengan sikap seperti itu ketika seorang mukmin ya sampai kepada kes bulan ini sampai kepada sikap ini yaitu dia merasa kurang merasa tidak bisa memenuhi hak Allah subhanahu wa taala merasa ilmunya kurang merasa amalnya kurang justru itulah yang diharapkan oleh Allah subhanahu wa taala dan ketika dia punya sikap seperti itu maka Allah subhanahu wa taala mengampuninya dan menerima amal-amal salehnya makanya ee Syekh ya penulis Kitab hafidahullahu taala menyampaikan di akhir renungan yang ketiga ini bahwasanya ee Jika seorang hamba sudah sampai kepada hakikat ini ya dia sudah sampai kepada kesimpulan dan hakikat ini yaitu merasa lemah merasa tidak bisa memenuhi hak Allah subhanahu wa taala atas dirinya baik dalam aspek ilmu maupun dalam aspek amal maka kemudian dia merasa k dia merasa kerdil di hadapan penciptanya yaitu Allah tabaraka wa taala dia dia merasa malu kepada Allah subhanahu wa taala maka saat itulah Allah subhanahu wa taala menerima amalan-amalannya dan mengangkat dia ke derajat yang sangat tinggi Nah jadi eh Allah subhanahu wa taala ingin membuat kita sampai kepada kesimpulan bahwasanya kita ini terlalu lemah terlalu kerdil tidak bisa memuni hak Allah subhanahu wa taala dan kalau kita sudah sampai pada perasaan itu sampai pada posisi itu berarti kita telah sampai kepada hakikat yang sesungguhnya dan Justru itu yang diharapkan oleh Allah subhanahu wa taala tidak sebaliknya yakni Ketika ada seorang hamba yang merasa dia sudah mengenal Allah subhanahu wa taala dengan Paripurna dia sudah beramal dengan baik bahkan mungkin dia merasa berjasa kepada Allah subhanahu wa taala dia merasa sudah memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala maka perasaan seperti ini Justru malah bahaya posisi sepertinya adalah posisi yang tidak diridai oleh Allah subhanahu wa taala posisi itu akan membuat dia merasa sombong merasa berjasa Merasa punya Minah kepada Islam yaitu Merasa punya berjasa kepada Islam atau kepada Allah atau kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Justru malah itu yang tidak diharapkan oleh Allah subhanahu wa taala jadi ini unik kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wa taala untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa nah kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam para sahabat berusaha mengamalkan perintah ini mereka beribadah dengan sangat banyak sangat panjang sampai akhirnya mereka sakit kaki mereka bengkak ya Ee dahi mereka bernanah nah kemudian ketika Allah sudah Melihat kesungguhan itu Allah turunkan perintahnya Allah turunkan perintah yang lebih ringan yaitu perintah untuk bertakwa kepada Allah dengan semampu kita maka inilah yang menjadi syariat yang tidak terhapuskan ini adalah hukum yang muhkam muhkam itu artinya tidak dihapuskan kalau mansuh itu artinya dihapuskan maka surat Ali Imran ayat 102 paruh pertamanya yaina aman Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadanya hukum ini mansuk jadi bacaannya masih ada dalam Alquran bacaannya tidak dihapuskan tapi hukumnya di Hapuskan Kenapa karena kita tidak mampu untuk melakukan itu nah kemudian ee yang menjadi kewajiban kita dan menjadi hukum yang bertahan sampai akhir zaman ini adalah hukum yang muhkam yakni yang tidak terhapuskan dan terus relevan Sampai Akhir Zaman adalah kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing maka Alhamdulillah inilah yang menjadi syariat dan ajaran bagi umat Islam saat ini ya juga para umat Islam sebelum kita sampai zaman sahabat karena ee orang-orang yang tidak berada di zaman para sahabat maka mereka tidak menemui fase pertama perintah ini jadi ketika mereka lahir ketika mereka besar mereka sudah mukalaf ya sudah akil baligh ee saat itu sudah turun surat atawabun ayat 16 yaitu fattaqulahum bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian Nah jadi inilah yang berlaku untuk mereka ya para sahabat Junior ya para tabiin para tabi tabiin yang berlaku bagi mereka adalah perintah untuk bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing Adun bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa maka ini sempat diamalkan oleh Rasulullah wasallam juga oleh EE para sahabat yang masih menemui turunnya surat alu Imran ayat 102 ya kemudian setelah mereka amalkan nah ternyata mereka merasa berat dan kemudian Allah subhanahu wa taala menghapuskan hukum dari surah alimran ayat 102 ini dan menggantikannya dengan perintah yang lebih ringan ya auhina amanlahq digantikan dengan fattaqulahastum yaitu bertakwalah kalian kepada Allah dengan semampu kalian jadi Alhamdulillah atas hidayahnya Alhamdulillah atas keringanannya Alhamdulillah segala puji bagi Allah atas pilihan yang diberikannya dari dia kepada kita untuk bisa memeluk agama yang agung dan sempurna ini baik ini adalah akhir dari renungan yang ketiga dari kitab wasay W taujihat Fi fiqhi taabbud labbil bariyat wasiat-wasiat dan arahan seputar fikih beribadah kepada Allah Tuhan semua makhluk karya guru kami dan guru kita Syekh Prof Dr Ibrahim bin Amir arruhhaili hafidahullahu taala dari kota Madinah barangkali ini yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini semoga ee bermanfaat dan kalau kita bisa simpulkan ya kesimpulan dari renungan yang ketiga ini adalah Bahwasanya Allah subhanahu wa taala memiliki hak yang sangat besar atas hamba-hambanya namun hamba-hambanya tidak akan mampu untuk bisa memenuhi hak besar ini baik dari aspek ilmu maupun dari aspek amal ilmu mereka terbatas tidak bisa mengenal Allah dan kesempurnaannya sebagaimana mestinya amal kita juga terbatas bahkan sebaik apapun kita beramal maka kita tidak akan bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala atas kita sebagai hamba-hambanya maka renungan ini hendaknya memunculkan pada diri kita rasa malu dan rasa rendah diri di hadapan Allah subhanahu wa taala untuk kemudian kita merasa kerdil di hadapannya merasa belum bisa memenuhi hak-haknya yang sangat besar maka kemudian kita terus berusaha mengejar ridanya berusaha untuk memperbaiki diri dan ketika kita sudah sampai pada posisi itu ya merasa kita selalu kurang kita merasa tidak akan bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala maka pada saat itulah Allah memberikan ridanya dan menerima dari kita amalan-amalan kita Insyaallah Ya baik ini yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat ya semoga memotivasi dan menginspirasi wallahu taalaam illam Alhamdulillah jazakallah Khair kami sampaikan kepada Al Ustaz Anas burhanudinfidakahu taala atas Syarah dan juga penjelasan terkait dengan renungan dan poin pembahasan yang ketiga dan kita berikan kesempatan bagi ikhwah dan akhwat fzakumullah yang ingin bertanya terkait dengan pembahasan di sore hari ini anda bisa sampaikan pertanyaan via telepon di 0218236 543 dan untuk pertanyaan via chat WhatsApp di 0819 896543 eh baik Ustaz kita akan mengangkat pertanyaan via chat WhatsApp terlebih dahulu asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Barakallah Fik ee Ustaz Apakah seseorang dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa taala ee mencukupkan hanya ee mengharapkan semata-mata ee apa yang ada di di sisi Allah berkaitan dengan adanya syubhatketika ada yang berharap surga atau takut di takut terhadap neraka Allah maka sejatinya ibadahnya belum ikhlas sampai benar-benar hanya ditujukan karena Allah semata mohon nasihat dan EE pencerahannya jazakallah Khair Iya baik orang yang paling ikhlas dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa taala adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam Beliau mengatakan ama inni faatqum lillahi wa aksyakum lahu adapun saya ya maka saya adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah dan paling takut kepadanya ini bukan dalam rangka menyombongkan diri dalam rangka mengangkat diri sendiri untuk sombong di hadapan umat Islam tidak seperti itu tapi ini adalah sebuah hakikat dan fakta yang harus dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya semua umat Islam tidak akan bisa melebihi level Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebaik apapun ibadah mereka Maka mereka tidak akan bisa melebihi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam setinggi apapun ilmu agama mereka Maka maka mereka tidak akan bisa melebihi tingginya ilmu agama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan sebaik apapun amalan mereka Maka itu juga tidak bisa melampaui amalan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ini sebuah keyakinan yang harus kita yakini maka kita beriman bahwasanya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah hamba Allah yang paling bertakwa dan paling takut paling khasiah kepada Allah subhanahu wa taala termasuk juga beliau adalah hamba Allah yang Pal ikhlas dalam beramal Maka kalau kita ingin melihat keikhlasan yang sempurna keikhlasan yang benar-benar ikhlas maka itu adalah keikhlasan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam nah beliau beribadah kepada Allah beliau tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun ya beliau ee juga tidak pernah memberikan ibadah-ibadah kepada selain Allah subhanahu wa taala Tapi beliau tetap minta surga dan tetap minta dihindarkan dari api neraka jadi kita mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berdoa kepada eh kita tahu kita sampai kepada kita hadis dan keterangan bahwasanya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam juga meminta surga dan neraka maksudnya meminta surga dan minta dijauhkan dari neraka beliau misalnya nya mengatakan Allah ya Allah sungguh akua surga dan apa-apa yang mendekatkan kepada surga berupa perkataan ber perbuatan Beliau juga berlindung kepada Allah dari EMP hal di ak di akhirat belia Fit masih Dajjal di antara empat yang beliau minta perlindungan darinya itu adalah Meminta perlindungan dari neraka jahanam maka Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam yang merupakan orang yang paling ikhlas tetap meminta kepada Allah surga juga minta dilindungi dari api neraka dan ketika ada seorang badui yang curhat ya mengeluh kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya beliau tidak bisa berdoa sebaik Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan juga Muadz Bin Jabal beliau bercerita doaku hanya seputar surga dan neraka saja itu orangor Badu ini mengatakan Aku hanya bisa berdoa seputar surga dan neraka Wah Rasulullah Beliau mengatakan Aku tidak bisa mengikutimu aku tidak bisa bersaing dengan Muad Bin Jabal maka Apa jawaban Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Beliau mengatakan waulaha nudandin kami ya saya dan Muad Bin Jabal juga doa kami seputar surga dan neraka saja ya ya ini semuanya menunjukkan bahwasanya minta surga minta dihindarkan dari api neraka ya minta ee bisa mendapatkan kenikmatan-kenikmatan surga termasuk juga bisa melihat wajah Allah Azza waalla ya Itu semuanya adalah Ee tidak menafikan keikhlasan kita ya jadi bahkan itu adalah bagi dari keikhlasan itu adalah bagian dari keikhlasan Kenapa karena Allah subhanahu wa taala yang menjadikan surga sebagai tempat untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa Neraka adalah tempat bagi orang-orang yang bermaksiat dan kufur kepada Allah subhanahu wa taala mereka yang baik ibadahnya dengan ikhlas e memenuhi sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam maka merekalah yang akan ditempatkan ke dalam surga itu aturan Allah subhanahu wa taala jadi surga dan neraka ini adalah dua makhluk yang disiapkan oleh Allah subhanahu wa taala dan dijadikan sebagai perangkat untuk menghor untuk e menghargai ya atau memberikan ganjaran kepada hamba-hambanya yang beriman yaitu surga dan perangkat untuk mengazab hamba-hambanya yang bermaksiat dan juga kufur yaitu berupa neraka ya Jadi minta kepada Allah surga juga minta untuk di dihindarkan dari api neraka ini tidak menafikan keikhlasan kita kepada Allah subhanahu wa taala maka silakan banyak beribadah kepada Allah jangan sekutukan dia dengan sesuatu apapun ee perbanyak ibadah jangan berikan ibadah-ibadah kepada selain Allah dan EE teruslah meminta kepada Allah surga dan minta agar dihindarkan dari api neraka ya karena saat kita berdoa dan meminta kepada Allah maka itu adalah keikhlasan itu adalah tauhid Kenapa karena yang kita minta adalah Allah subhanahu wa taala pihak yang kita minta adalah Allah subhanahu wa taala berbeda kalau kita memintanya kepada orang yang tidak mampu untuk memberikannya kepada kita kita minta surga dan neraka kepada makhluk bahkan kalau itu adalah malaikat jibril atau bahkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wasallamah inilah yang tidak ikhlas inilah yang tidak tauhid inilah yang menafikan keikhlasan kita kepada Allah subhanahu wa taala Adapun kalau kita meminta surga minta dimasukkan surga kepada allah minta dihindarkan dari api neraka mintanya juga kepada Allah maka itu adalah ainut tauhid itu adalah intinya tauhid itulah tauhid itu sendiri dan itulah Ikhlas itu sendiri ya baik Semoga bisa dipahami dengan baik oleh Eh saudara penanya barakallahu Fik jazakallah kir Ustaz Barakallah Fik atas pencerahan dan jawaban yang disampaikan demikian pendengar dan pemirsa ee Roja TV yang bertanya baik kita berikan kesempatan bagi anda yang baru bergabung silakan di telepon 021 8236543 untuk pertanyaan via chat WhatsApp seperti biasa di 0819 896543 pertanyaan berikutnya kami angkat kembali via chat WhatsApp Asalamualaikum warahmatullah Barakallah Fik Ustaz Apakah hikmah ee di mana Allah subhanahu wa taala ee menyampaikan ditetapkan semua Takdir manusia dan manusia tetap diminta untuk beramal atau berbuat baik dan apakah sebanding antara kemaksiatan yang dilakukan dengan azab masih bisa baik kita akan ulangi kembali jazakallah Khair Barakallah Fik ee pertanyaan berikutnya Ustaz Apakah nangkap suara dengan baik mungkin Oh ya sudah sudah Alhamdulillah jazakallah kir Barakallah Fik kita akan ulang kembali pertanyaannya baik ee Asalamualaikum warahmatullah ee Ustaz mohon diberikan pencerahan dan nasihat terkait dengan Apakah faedah dan hikmah di mana Allah subhanahu wa taala telah menetapkan takdir semua makhluk dan akan Tapi kita masih diperintahkan untuk beramal dan juga berbuat kemudian apakah EE sebanding antara azab yang Allah berikan yang begitu sangat berat dengan pelanggaran yang dilakukan manusia yang secara kasat mata tidak ee seberapa mohon nasihatnya jazakah Khair Ya baik eh tentang takdir Allah subhanahu wa taala yaitu Bahwasanya Allah sudah mentakdirkan segala sesuatut untuk kita termasuk adalah takdir apakah kita akan masuk surga atau masuk neraka ini sudah ditakdirkan tapi kenapa kita masih diperintahkan untuk beramal nah pertanyaan yang sama pernah disampaikan oleh EE para sahabat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mereka mengatakan wahai Rasulullah kalau kita sudah Ee mengetahui ya kalau sudah ditakdirkan untuk kita tempat kita di surga dan di neraka maka eh untuk apa kemudian kita beramal mereka mengatakan fafimal amal ya Untuk apa kita beramal untuk apa lagi kita beramal maka jawaban Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam adalah kullun muyassarunalu faakullun muyassarun lima khuliqahu Beliau mengatakan beramallah kalian karena Sesungguhnya setiap orang itu Allah akan mudahkan untuk takdirnya yang dia diciptakan untuknya nya jadi ini adalah ee jawaban dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ketika para sahabat menyampaikan pertanyaan yang sama Jadi pertanyaan yang ditulis oleh EE saudara penanya kita ini Sebelumnya sudah pernah ditanyakan oleh para sahabat 15 abad yang lalu kepada siapa kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam maka pertanyaan yang senanda ini jawaban yang terbaiknya adalah jawaban Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam jadi ee yang nampak ya di situ beliau tidak berusaha untuk memberikan ee penjelasan logika atau ee hikmahnya apa secara eksplisit Tapi beliau menjawab dengan mengatakan imalu beramallah kalian fakullun muyasarun lima khuliq lahu jadi setiap orang itu akan dimudahkan untuk takdirnya yang dia diciptakan untuknya artinya kalau dia di takdirkan untuk menjadi penduduk surga maka Allah akan mudahkan dia amalan-amalan surga dan kalau ditakdir dan Kalau dia ditakdirkan untuk masuk ke neraka maka Allah akan mudahkan dia untuk melakukan amalan-amalan neraka jadi ini jawaban dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tapi kemudian kita bertanya apakah kita mengetahui takdir kita jawabannya tidak Apakah kita sudah mengetahu bahwasanya takdir kita adalah di surga maka berarti ya sudah berarti ya sudah kita tinggal tunggu takdir aja masuk surga atau sebaliknya kita sudah mengetahui bahwasanya kita akan masuk neraka jadi kalau kita pun beramal maka enggak ada gunanya kita akan masuk neraka juga Apakah kita mengetahui takdir itu jawabannya tidak Nah jadi eh Allah subhanahu wa taala mentakdirkan tapi Allah merahasiakan takdir ini kita para hambanya tidak tahu apakah kita akan masuk surga atau akan masuk neraka kita enggak tahu itu maka kita tidak boleh untuk menjadikan takdir sebagai alasan tidak boleh menjadikan takdir sebagai patokan atau sebagai pijakan untuk kemudian misalnya mengatakan ah Takdirku adalah surga maka Ya sudah aku santai-santai nanti akan masuk surga juga atau sebaliknya Takdirku adalah neraka maka aku santai-santai saja toh beramal juga enggak akan berguna karena Takdirku adalah di neraka nah masalah adalah kita tidak tahu itu ya jadi Allah mentakdirkan segala sesuatu bahkan menuliskan takdir ini 50.000 tahun sebelum ciptaan langit dan bumi inallaha kataba maqadir khaii qbla qbla ehard Al sungguh Allah subhanahu wa taala telah menulis takdir semua makhluk 50.000 tahun sebelum ciptaan langit dan bumi tapi kita tidak tahu itu maka karena kita tidak tahu kita diperintahkan untuk beramal saja sudah tentunya kita sebagai orang-orang yang beriman kita beramal saleh tauhid sunah berbagai ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam itu yang kita amalkanah maka nanti ketika beramal nanti akan akan beda ini karena amalan itu ada amalan baik ada amalan buruk maka mereka yang takdirnya Adalah surga akan akan Allah mudahkan untuk melakukan amalan-amalan surga di sebelah kanan sedangkan mereka yang takdirnya neraka mereka akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan-amalan yang buruk sehingga akhirnya mereka benar-benar masuk ke dalam nerakaah jadi seperti itu penjelasan dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan itulah jawaban untuk pertanyaan ini itu adalah jawaban terbaik untuk pertanyaan ini maka ayo kita beramal beramal saleh sebagaimana diperintahkan oleh al-qur’an juga oleh hadis-hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan eh tidak perlu merisaukan takdir Ya maksudnya dalam arti jangan terbebani dengan takdir ya berpikir tentang takdir berpikir tentang e Husnul Khatimah atau suul Khatimah itu teladan dari para Salafus Saleh Tapi maksud saya adalah bahwasanya kita tidak mengetahui takdir itu maka Jangan dijadikan patokan kita enggak pernah tahu itu jadi beramal saja sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ya kemudian eh yang selanjutnya Eh ini catatan penting dalam masalah takdir ini kata para ulama Babul Qadar mabniun alat Taslim ya jadi bab takdir atau bab Qadar ini kaidah dasarnya adalah kita menerima ya kita terima apa yang disampaikan oleh Allah dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam disebutkan Ya Allah sudah takdirkan maka kita terima itu ya jangan banyak protes ya boleh ada pertanyaan-pertanyaan kritis seperti yang disampaikan tadi karena para sahabat juga sudah bertanya hal yang sama kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tapi jangan sampai pertanyaannya berlebih ya karena kalau nanti kalau kita terus sambung nih ya kita akan sampai kepada ya kesimpulan-kesimpulan yang mungkin membuat kita sesat mungkin kita akan sampai pada pemikiran Bahwasanya Allah zalim kepada hamba-hambanya nauzubillah ik itu kalau kita berpikir kritis yang tidak yang tidak terkontrol jadi boleh kritis ya boleh bertanya penjelasan kepada para ulama kepada para Ustaz yang dianggap mampu ya tapi ingat bahwasanya bab takdir ini ya kaidah dasarnya adalah kita menerima ya kita terima dulu kita terima kita beramal ya jangan menolak kalau kita menolak atau kita kritis dengan cara kritis yang tidak terkontrol maka bisa-bisa kita sampai sesat seperti yang terjadi pada makbad aljuhani di zaman tabiin di kota Basrah ya masih di zaman tabiin masih di zaman orang-orang Saleh tapi dia ee keluar dari jalan ahlusunah Wal Jamaah Dengan mengatakan takdir itu enggak ada Nah maka kemudian pemikiran barunya ini disebut sebagai pemikiran qadariah jadi dia berpendapat bahwasanya takdir itu enggak ada dan segala sesuatu itu baru Allah takdirkan pada hari di mana dia diciptakan jadi ahlusunah Wal Jamaah ya kita Alhamdulillah terbiasa dididik dengan Akidah ahlus sunah Wal Jamaah kita meyakini bahwasanya takdir sudah Allah catatkan Allah sudah tuliskan 50.000 tahun sebelum ciptaan langit dan bumi kita terima itu terima itu jangan ditolak ya jangan Munculkan syubhat-syubhat yang dikhawatirkan membuat kita tersesat kita terima dulu nah kemudian pelan-pelan kita belajar Insyaallah nanti kita akan paham Oh ternyata tidak ada kezaliman dari Allah subhanahu wa taala Nah jadi eh seperti itu caranya ya jangan sampai eh kita jatuh pada kesalahan yang fatal seperti yang terjadi pada orang-orang qadariah yang dipeloporai oleh mabad aljuhani di kota Basrah ya ini eh adalah eh salah satu bukti orang yang tergelincir dari hak ketika dia eh banyak protes dan tidak menerima apa yang telah disampaikan oleh Allah dan rasulnya dalam ayat-ayat Alqur’an maupun dalam hadis-hadis yang sahih ee baik ini adalah pertanyaan pertama tadi pertanyaan kedua saya eh tidak bisa menangkapnya dengan baik mungkin barangkali bisa disampaikan lagi pada kesempatan berikutnya kir Barakallah Fik dan alhamdulillah ini merupakan pertanyaan kami terakhir Ustaz berkaitan dengan ee pembahasan dan sebagai ikhtitam serta kesimpulan kajian silakan Ustaz Ya baik ee renungan yang ketiga dalam kitab wasaya taujihat Fi fiqhi taabbudbil bariyat adalah Bahwasanya Allah subhanahu wa taala memiliki hak yang besar atas hamba-hambanya dan kita tidak akan bisa memenuhi hak itu baik dari aspek ilmu maupun dari aspek amal ya ilmu kita terlalu sedikit untuk bisa memahami Allah dengan berbagai kesempurnaannya amal kita juga terlalu sedikit untuk bisa memenuhi hak besar Allah subhanahu wa taala maka hendaknya renungan ini bisa menimbulkan pada diri kita rasa malu ya rasa kecewa kepada diri kita yang tidak mampu memenuhi hakak besar ini untuk kemudian kita merasa kurang merasa kerdil di hadapan Allah subhanahu wa taala dan sikap atau posisi itulah yang diharapkan oleh Allah subhanahu wa taala di mana saat kita merasa kurang merasa kerdil merasa tidak bisa memunuhi hak Allah Justru pada saat itulah Allah subhanahu wa taala menerima amalan-amalan kita dan mengangkat derajat kita sebaliknya kalau kita merasa terlalu percaya diri merasa sombong merasa berjasa kepada Islam merasa telah memenuhi hak Allah subhanahu wa taala maka ini justru adalah ee posisi dan sikap yang tidak diridai Allah subhanahu wa taala dan malah memancing murkanya baik Semoga kita bisa memilih Jalan kebijaksanaan ya memilih Apa yang menjadi penyebab Rida Allah subhanahu wa taala dan menghindari Apa yang menjadi penyebab murka Allah subhanahu wa taala demikian wallahu taalaam nah kami ucapkan jazakallah kir Ustaz drashanudin mafahu taala jazakahir Ustaz kan dan pembahasan sore hari ini dalam pembahasan kitab wasay waujihatil bariat kita akan Sambung kembali untuk faedah dan juga hikmah serta e Syarah dari pembahasan kitab ini di kesempatan dua pakannya akan datang sekali lagi jazakallah Khair atas e faedah ilmu dan juga pertanyaan yang sudah terjawab Barakallah Fik pemirsa dan pendengar R TV dan radio Roja demikian pembahasan sore hari ini semoga bermanfaat dan kami mohon maaf Ada sejumlah pertanyaan tidak bisa kami ajukan karena keterbatasan waktu yang ada kita akan simak kembali pembahasan ini di kesempatan yang akan datang jazakumullah Khair wabarakallah fikum semoga ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan Allah mudahkan kita memberikan Taufik untuk memudahkan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari jazakullah kir kami akhiri dengan kafaratul majelis subhanakallahumma wabihamdik Ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Terima kasih Anda masih bersama r t radio ikuti terus kajian Islam yang akan ditayangkan pada jam-jam berikut [Musik] ini Inil was
Ustadz Dr. Anas Burhanudin, M.A. – Washaya Wa Taujihat
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply