(21) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(21) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma – YouTube

Transcript:
(00:00) 104.3 mm menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. [Musik] Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim.
(01:04) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta’inu umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d. Kita panjatkan puja dan puji syukur keadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, hari Rabu malam Kamis tanggal 24 Rabiutani 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 15 Oktober 2025.
(02:05) kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin tafsir Al-Qur’an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Kita berharap semoga Allah subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala.
(02:47) Allahumma amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti. Seperti biasanya sebelum kita memasuki materi hari ini akan membaca sebagian dari ayat-ayat yang termaktub di dalam surah yang mulia, surah A.
(03:30) Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi majelis kita. Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Tertawa] Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. [Tertawa] Bismillahirrahmanirrahim. Habasa wa tawalla. jaahul a’ma [Musik] wama yudrika la’allahu yazzakka yudri laallahu yaszak
(04:38) au yadzakkaru fatanfaahikro auzakkarahuikro amma manistagna amma manistagna faanta lahu tasadda wika alla yazakkazak [Tepuk tangan] wa amma man jaaka yas’a amma [Tepuk tangan] Wahua yakhsya wahua yaksya faantahu talahhanahu
(05:51) kalla innaha tazkirah kalla [Tepuk tangan] inha Para hadirin dan hadirat sekalian dan juga segenap pendengar serta pemirsa rahimani warahimakumullah. Sebelum kita memasuki materi hari ini, ada dua hal yang perlu kami sampaikan. Yang pertama salah satu dari jemaah pengajian kita akan dioperasi bypass jantung.
(06:34) Ya, kita doakan semoga operasi tersebut berjalan dengan lancar dan beliau dikaruniai kesembuhan total oleh Allah Subhanahu wa taala. Beliau adalah Bapak Adi Fajar Soddiq. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin arrahmanirrahim. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama shaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidum majid.
(07:03) Allahumma rabbanas mudhibal bas isfi adi fajar shodq antas syafi la syifaa illa syifauk syifaan la yodir saqama. Allahumma rabbanas mudhibal bas isfihi antasyafi la sifaa illa siifauk syifaan la yughadiru saqama allahumma rabbanas mudhibal b’sfihi antas syafi la syifaa illa syifauk syifaan laa yughadir saqama wa akhiru dakwana anilhamdulillahi rabbil alamin.
(07:47) Adapun hal kedua, insyaallah tanggal 23 Oktober malam bakda Isya akan diadakan webinar spesial tentang rumah tangga dan keluarga secara online dengan tema manajemen keharmonisan rumah tangga. Manajemen keharmonisan rumah tangga yang diisi oleh kami dan juga oleh Ustaz Syafiq Basalamah berdua insyaallah dari jam .30 malam sampai .30 10 malam.
(08:40) Karena ini online dan ee terbatas, maka yang pengin ikut silakan bisa mendaftarkan diri. Cuman malam hari ini akan saya tunjuk beberapa orang ya yang kalau bisa menjawab pertanyaan seputar materi pengajian malam hari ini, maka dia enggak perlu daftar, cukup menyebutkan nama dan nomor WA-nya saja. Nanti akan dihubungi oleh panitia.
(09:17) Jadi yang fokus ya beberapa orang saja insya Allah. Kalau yang enggak ketunjuk gimana, Ustaz? Ya daftar ya. Yang enggak ketunjuk ya daftar. Baik. Ayat yang terakhir kita bahas ayat ke berapa? Ayat ketiga. Apa bunyinya? W yudrika la’allahu yazzakka. Tahukah engkau wahai Muhammad? Bisa jadi orang tersebut yaitu siapa? Ibnu Ummi Maktum datang untuk membersihkan diri.
(10:12) Ayat yang ketiga disampaikan dalam rangka untuk menjelaskan apa alasan Allah Subhanahu wa taala menegur Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sempat bersikap kurang simpatik kepada sinten? Ibnu Ummi Maktum. Sikap kurang simpatik itu adalah abasa wa tawalla bermuka masam dan memalingkan wajahnya.
(10:54) Maka sikap itu ditegur oleh Allah subhanahu wa taala. Kenapa Allah menegur Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam? Jawabannya ada di ayat yang ketiga. Wama yudrika la’allahu yazzakka. Orang ini wahai Muhammad bisa jadi datang dalam rangka misi mulia. Apa misi mulia tersebut? Mensucikan diri. Orang yang datang dalam langkah misi mulia seperti itu seharusnya dino? Disambut ya seharusnya diterima sebaik mungkin.
(11:44) Itu ayat yang ketiga. Ayat yang keempat yang akan kita pelajari malam hari ini juga masih dalam rangka menjelaskan misi mulia kedatangan Ibnu Ummi Maktum kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi kalau di ayat yang ketiga Allah Subhanahu wa taala menerangkan bahwa kedatangan Ibnu Ummi Maktum itu dalam rangka sebuah tujuan mulia yaitu mensucikan diri.
(12:20) Maka masih ada tujuan mulia yang lainnya. Di balik kedatangan Ibnu Ummi Maktum kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, misi berikutnya itu dijelaskan di ayat yang keempat. Apa tujuan Ibnu Ummi Maktum datang? Au yadzakkaru fatanfa’ahudzikra au yadzakkaru. Dia datang untuk mendapatkan pengajaran. Dia datang untuk mendapatkan ilmu.
(13:02) Dia datang untuk mendapatkan tausiah, mendapatkan peringatan. Fatanfaahuduzikro. Dan ilmu yang dia dapatkan itu akan memberikan manfaat untuk dirinya. Jadi, Ibnu Ummi Maktum ini datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam tergopoh-gopoh, datang dengan penuh kesulitan. Walaupun beliau memiliki kekurangan harus dituntun supaya datang ke majelisnya Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(13:46) Tujuannya adalah yazzakka au yadzakkaru. Ingin mensucikan diri dan ingin mendapatkan peringatan. [Musik] mendapatkan ilmu. Maka gabungan antara dua ayat ini, ayat yang ketiga dan ayat yang keempat mengajarkan kepada kita sebuah konsep bagaimana kita memperbaiki diri. Jadi supaya kita benar, supaya kita baik, itu ada konepnya, ada tahapannya, ada urutannya.
(14:37) Apa urutannya? Yang pertama adalah membersihkan. Yang kedua adalah mengisi. Apa konsep yang pertama? Membersihkan dulu. Kemudian baru noo mengisi. Membersihkan atau pembersihan itu diambil dari yazzakka. Ya, yazzakka membersihkan, mensucikan. Sedangkan mengisi itu diambil dari yadzakkaru ya.
(15:26) Jadi setelah sesuatu itu dibersihkan terus diapain? diisi. Itu yang diistilahkan oleh para ulama kita dengan attakhliah qoblat tahliah itu bahasa Arabnya dibersihkan dulu baru dinopo diisi. Jadi kalau ada botol nggih kotor ya dan isinya air yang keruh kemudian akan kita isi dengan air bersih atau akan kita isi dengan madu. Kita apakan dulu? Kita apakan dulu? Dikosongkan dulu air yang keruh kita apain? Kita buang.
(16:19) Kita buang. Cukup botsi. Setelah itu kita apain? Kita bersihkan. Kita sabuni. Ocok-ocok kemudian kita buang. Sudah bersih atau belum? Diapain? Mambu apa? Ya, ternyata masih bau enggak enak. Kita apa lagi? Kita bilas lagi bersih sampai bersih. Ini namanya membersihkan dulu. Setelah bersih baru diapain? Baru diisi. Itulah konsep memperbaiki diri.
(16:59) Apa yang mesti kita bersihkan dari dalam diri kita? Kotoran. Kotoran yang harus kita keluarkan dari dalam diri kita nopo? Hah? Dosa-dosa. Dosa apaagi? Iri, hasad, dengki, sombong, riak. Itu harus kita bersihkan dulu. Jadi sebelum kita sibuk untuk menjalankan amal-amal saleh yang bermacam-macam itu, kita harus bersihkan dulu hati kita.
(17:47) Jadi jangan sampai wadahnya masih kotor diisi macam-macam. Kira-kira nanti macam-macam yang kita masukkan ke dalam wadah yang kotor itu terkontaminasi atau tidak? Ya. Iya. Coba jenengan bayangkan ada piring. Ada nopo piring? Kecemplung. Nuwun sewu di comberan. Kecemplung di mana? Di comberan. Setelah itu piring itu kita keluarkan terus kita bikin nasi goreng.
(18:34) Nasi gorengnya itu ngepul enak langsung bruk dimasukkan ke mana? Biring yang baru dikeluarkan dari nopo? Comb terus disuguhkan purun jenengan mau enggak kena ngapa terkontasi dengan kotoran itu? Karena mungkin di situ banyak nopo nihuman. Banyak kumannya banyak kotorannya. Jadi kalau kita pengin memperbaiki diri, kotoran-kotoran dan sampah-sampah yang ada di dalam hati kita itu harus kita bersihkan.
(19:17) Itu sebabnya kenapa kok kadang-kadang kita merasa wis ngaji tapi efeknya kurang terasa. sudah membaca Al-Qur’an, sudah menghadiri nopo pengajian, sudah mendengarkan nasihat yang disampaikan oleh para ustaz. Coba sekarang saya tanya, berapa kali kita mendengarkan khotbah Jumat? Berapa kali kalau pengajian? Kan mungkin banyak orang yang enggak hadir pengajian.
(19:59) Kalau khotbah Jumat kan biasanya mau enggak mau pada hadir. Berapa kali orang dengerin khotbah Jumat seumur hidup? Perubahannya mana? Mana perubahan? Wah kowe salah khatibe ustaz. Goleh khotbah ora menarik. Sing salah wong liae. Kenapa kita tidak introspeksi diri? Mungkin saja ilmu yang luar biasa yang disampaikan tadi itu masuknya ke dalam hati yang masih kotor.
(20:38) Ibarat wadah yang baru dikeluarkan dari nopo wau? Dari comberan. Sehingga efek yang ditimbulkan itu tidak maksimal. Bukan kok setelah ini ya wis ne k usah ngaji bae bukan tapi ada hal yang perlu kita perbaiki dari dalam diri kita dan ada tahapannya memperbaiki diri ada ada aturannya ya ada urutannya kalau orang mau memperbaiki diri yang pertama dia lakukan adalah pembersihan baru setelah itu pengisian Jadi sebelum hati kita diisi, diapakan dulu? Dibersihkan dulu. Ya. Apa, Ustaz, yang perlu dibersihkan,
(21:33) Ustaz? Ya, dosa-dosa dan maksiat ya. Caranya, Ustaz, yang paling simpel caranya adalah dengan tau tobat, ya. Tobat dari apa? dari semua dosa, dosa mata, dosa telinga, dosa hati, dosa mulut, dosa kaki, dosa tangan. Ya, pokoknya kita berdoa kepada Allah, bertobat kepada Allah, menyesali semua perbuatan dosa yang pernah kita lakukan, wah itu dahsyat itu efeknya.
(22:11) Ibarat wadah itu wadahnya sudah bersih, kinclong ya, wangi. Begitu dimasukkan ilmu, maka ilmunya bleng bleng bleng bleng bleng bleng masuk. Dahsyat itu. Ya, itulah konsep yang pertama yaitu membersihkan dulu ya. Jadi harus kita bersihkan hati kita. Caranya dengan bertobat. Tobatan noo. Kemudian kita bersihkan terus.
(22:43) Kalau ada kotoran lagi, pripun? Bersihkan lagi. Kotor lagi, bersihkan lagi. Berarti pembersihan itu adalah kerjaan se se umur hidup. Jadi orang nana pre preine. Enggak ada pensiunnya membersihkan hati. Ya, kotor lagi bersihkan lagi. Kotor lagi bersihkan lagi. Seperti baju yang kita pakai ini. Begitu kotor cuci lagi.
(23:14) Dipakai kotor lagi cuci lagi. Kena keringat cuci lagi. Kena kotoran cuci lagi. Memang seperti itu. Cuman kita selama ini lebih fokus kepada membersihkan opo baju daripada membersihkan hati. Ya, padahal yang dilihat sama Allah nopo? Hati. Hati. Innallaha la yandzuru ila suarikum wala ila ajsadikum walakin yandzuru ila qulubikum wa a’malikum.
(23:51) Allah itu tidak melihat kepada bentuk lahiriah kalian dan bukan ngelihat kepada tubuh kita. Gede, kecil, apalagi pendek, tinggi, pendek, hitam, putih keriting, lurus, mancung, pesek. itu enggak dilihat sama Allah azza waalla juga tidak ngelihat bagaimana penampilan luar kita, lahiriah kita. Apakah bajunya warnanya hijau, kuning, biru, apalagi ya hitam, merah ya.
(24:31) Wakin yzuru ila qulubikum. Yang dilihat sama Allah adalah hati kita. Wa a’malikum. Dan amal kita itu yang akan dilihat sama Allah subhanahu wa taala. Sehingga kita bersihkan. Setelah kita bersihkan, sesuatu yang sudah bersih itu harus diapain? Harus diisi. Harus diisi. Jangan dibiarkan kosong blong walaupun bersih.
(25:08) Sesuatu yang bersih kalau dibiarkan aja enggak diisi lama-lama ya kotor. Ya kalau enggak percaya jenengan bersihkan rumah jenengan bersih sih. Setelah itu ditinggal setahun, ketika pulang ya kotor lagi. Jadi sesuatu yang sudah bersih ini harus diisi ya. Diisinya dengan apa? Diisinya dengan sesuatu yang baik ya. Makanya diistilahkan oleh para ulama kita attakhliah qoblat tahliah.
(25:40) Tahliah itu maknanya secara bahasa itu bukan hanya mengisi, tapi mengisi dengan sesuatu yang indah atau menghiasi. Jadi ibarat rumah itu setelah dibersihkan, dipel, terus dipasang nopo aksesoris? Ada meja, ada nopo? Ada kursi, ada kipas angin, ada lampu. Pokoknya lengkaplah di situ. Ada bed, ada lemari yang indah, yang cocok.
(26:18) Jadi, setelah ruangan itu dibersihkan secara bersih, setelah lahan itu kita bersihkan, kita siapkan, maka kita perlu menanam bibit. Bibit nopo? Unggul. Enggak cukup kita hanya sekedar menemukan atau nanam supaya senandure jangan. Kenapa? Eman-eman wong lahan itu sudah kita apain? Sudah kita siapkan, sudah kita bersihkan sebersih-bersihnya lahan tersebut.
(26:54) Setelah kita bersihkan, kita siapkan, baru kita tanami, kita cari benih-benih yang unggul. Ya, supaya apa? supaya tumbuhnya bagus ya. Nah, benih unggul itulah amal sa saleh. Contohnya nopo, Ustaz? Contohnya seperti ini. Kita hadir hari ini dan itulah yang dilakukan oleh siapa? Yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum. Ya, itu yang dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum datang kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(27:31) Untuk apa? untuk mendapatkan isi dari beliau sallallahu alaihi wasallam. Berarti jenengan hari ini datang untuk noo ngisi ngisi. Ngisi apa? Ngisi hati dengan apa? Dengan ilmu. Ilmu yang bermanfaat. Nanti kita akan jelaskan. A yadzakaru fatanfa’ahu zikro. Jadi kita isi ya, kita isi. Oke. Jadi konsep memperbaiki diri adalah dengan apao? Membersihkan kemudian mengisi.
(28:14) Kemudian di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa taala melanjutkan firmannya au yadzakkaru terus nopo? Fatanfaahudzikro. Perhatikan baik-baik, ada kalimat fatanfa’ahu dan peringatan itu bermanfaat untuknya. Berarti misi kita belajar adalah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. yang harus kita cari setiap hari adalah ilmu yang bermanfaat. Makanya setiap pagi doa kita nopo? Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an warizqan thayiban wa amalan mutaqabbala.
(29:14) Salah satu nasihat yang disampaikan oleh As Syekh Abdur Razzaq Albadr hafidahullahu taala adalah setiap hari seharusnya kita berpikir hari ini saya dapat ilmu yang bermanfaat atau tidak setiap hari. Kenapa, Ustaz? Karena setiap hari kita berdoa minta itu kepada Allah. Setiap pagi kita minta kepada Allah, Allahumma inni as’aluka ilman nafi.
(29:51) Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat. Setiap pagi kita berdoa, pertanyaannya, sore harinya, malam harinya, selama 1 hari full ini kita dapat ilmu yang bermanfaat atau tidak? Ustaz? Tahunya kita sudah dapat ilmu yang bermanfaat atau tidak? Ketika kita menghadiri majelis taklim, ketika kita ngaji, ketika kita dengarin radio, kita merasa lebih dekat kepada Allah atau tidak? Seandainya kita merasa lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa taala, lebih dekat sih ke pririwe, Ustaz. Tambah semangat boleh ngibadah.
(30:33) Itu berarti mendekat kepada sinten? Allah. Tambah bebeh, gole maksiat. Berarti nek kebalikane nopo? Jadi mendekat kepada Allah itu tambah semangat ngibadah, tambah bebeh maksiat. Berarti nek menjauh pripun? Tambah tambah bebeh ngibadah tambah semangat. Maksiat. Nauzubillahi minik.
(31:10) Coba ketika kita ngaji, ketika kita mendengarkan pengajian, ketika kita menghadiri majelis taklim, yang kita rasakan itu setelah selesai pengajian semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari Allah. Di situ kita mengukur apakah hari itu kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat atau tidak. Sehingga yang penting itu bukan sekedar menghadiri majelis taklim.
(31:44) Yang penting itu bukan sekedar mendengar nopo pengajian, tapi apakah di majelis taklim itu, di pengajian itu, kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat atau tidak? Ilmu yang bermanfaat itu yang sumbernya apa? Yo, apalagi kalau bukan Al-Qur’an dan sunah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(32:18) Jadi ketika kita menghadiri pengajian itu pengisinya itu menyampaikan opini pribadi dia, pendapat pribadi dia, atau yang dia sampaikan adalah Allah Subhanahu wa taala berfirman, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, yang disampaikan apa? Al-Qur’an, hadis atau pendapat pribadi ya. sehingga jangan kemudian ah apa-apa Quran, apa-apa hadis loh itu ilmu yang bermanfaat kok.
(32:52) Apa ada sesuatu yang bermanfaat lebih bermanfaat dibandingkan firman Allah dan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Ya, makanya apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Khairukum man ta’allamal qurana waamah. Manusia yang terbaik adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Mudah-mudahan kita termasuk manusia yang terbaik.
(33:25) Kita lagi apa? Belajar Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an kita pelajari. Mudah-mudahan itu indikator ilmu yang bermanfaat. Ah, sumbernya Al-Qur’an dan hadis. Kemudian tahunya ilmu itu, majelis taklim itu mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Di majelis taklim tersebut kita dimotivasi untuk mengamalkan ilmu dinopo motivasi disemangati untuk mengamalkan ilmu.
(34:05) Jadi enggak cuma sekedar belajar ayat, belajar nopo hadis, tapi juga sering dimotivasi untuk mengamalkan ayat dan hadis tersebut. Ya, sering ditanya gimana salat nya tambah bagus atau belum? Yang belum salat di masjid sudah berangkat ke masjid atau belum? Yang sudah berangkat ke masjid biasanya telat sudah gasik atau belum.
(34:38) Itu yang terkait dengan ibadah dengan Allah Subhanahu wa taala. Hablum minallah. yang hubungannya hablum minanas sering diingatkan yang punya orang tua sudah berbakti kepada orang tuanya atau belum. Yang punya anak sudah maksimal mendidik anaknya atau belum? yang punya istri sudah tambah sudah kok tambah istri sudah tambah sayang kepada istrinya atau belum yang punya suami sudah semakin berbakti melayani suaminya atau belum itu yang diajarkan.
(35:28) Jadi kalau misalnya jenengan hadir ke majelis taklim kok setiap hadir yang diingatkan gimana? Sudah ada perbaikan atau belum? Sudah ada ee perkembangan atau belum? Sudah ada peningkatan keimanan atau belum? Kalau itu yang selalu diingatkan, maka insyaallah itu adalah tanda bahwa majelis taklim itu adalah majelis taklim yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
(36:02) Lah kalau yang enggak bermanfaat apa, Ustaz? Yang enggak bermanfaat itu kalau kita hadir di sebuah majelis taklim isinya cuma debat. isinya cuma menjelekkan. Tidak ada unsur, tidak ada acakan untuk memperbaiki diri. Biasanya majelis taklim yang seperti itu membuat hati menjadi noopo? Keras. Harusnya hatinya nopo? Lembut.
(36:41) Harusnya hatinya lunak. Begitu begitu keluar dari majelis taklim gawane apa? Kesuh panas sebel bae. Ini bukan majelis taklim yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Isinya caci maki. Begitu keluar dari majelis taklim malah dapat kosakata sing ora genah.
(37:13) Biasanya kita mendengar kosakata-kosakata kotor seperti itu di mana? Di pasar. Terus di mana? Ya, di terminal. Kok di masjid ada kata-kata kotor kayak gini ya. Maka dari situ kita bisa mengetahui bahwa itu bukan majelis taklim yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat ya. Jadi indikatornya satu mengajarkan apao? Al-Qur’an dan hadis. Dua, memotivasi untuk noo mengamalkan ilmu.
(37:52) Yang ketiga, majelis taklim yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat itu tandanya adalah ada keteladanan di situ. Ada nopo? Keteladanan. Keteladanan dari siapa? Ya dari yang ngisi. Jadi ora jar jar koni. Saya kasih tahu. Imam Ahmad bin Hambal. Imam Ahmad bin Hambal, salah satu murid terunggulnya Imam Syafi’i rahimahullah. Yang hadir majelisnya ribuan, bahkan belasan ribu.
(38:54) Rata-rata mereka hadir untuk belajar adab. dari Imam Ahmad karena gurunya itu layak dijadikan apao? Teladan. Teladan dalam ibadah, teladan dalam perilaku, teladan dalam tutur kata. Makanya tadi saya katakan hadir pengajian kok malah dapat kosakataik sing ora benar. Bagaimana akan memberikan teladan? Ya. Oke. Tadi saya janjikan ada apa pertanyaan ya. Oke.
(39:28) Sudah siap belum? sebutkan konsep memperbaiki diri. Monggo. Bagus. Pembersihan kemudian pengisian. Nanti sebut nama sama nomor ya ke kameramen ya. Nggih. Pertanyaan kedua, sebutkan. Dua tanda majelis taklim yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Ya, mengajarkan Al-Qur’an dan sunah. Ada keteladanan. Bagus. Sama ya nanti ke sana.
(40:25) Pertanyaan ketiga, sebutkan doa yang tadi saya sebutkan, yang dibaca di pagi hari. Monggo. Masyaallah, barakallah fik. Tiga ya. Terus yang lainnya ustaz daftar. Silakan sebutkan nama sama nomor WA ke ee kameraman. Terima kasih atas perhatiannya, mohon atas segala kurangnya. Kita akhiri.
(41:01) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *