(21) [LIVE] Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. | Faidah Sejarah Islam – YouTube
Transcript:
(00:04) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman walah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ba’du ikhtul islamakumullah sahabat di mana pun Anda berada.
(00:22) Alhamdulillah di kesempatan pagi hari ini kita dapat bersua kembali dan kita akan simak bersama kajian ilmiah yang kami secara langsung dari pembahasan faedah faeda sejarah Islam disampaikan oleh Al Ustaz Dr. Ali Musri Mjan Putra hafidahullahu taala. Alhamdulillah kami sudah terkoneksi dengan beliau yang berada di Pekanbaru Riau dan seperti biasa setelah materi yang akan disampaikan kami akan sediakan sesi soal jawab.
(00:46) Bagi Anda yang ingin bertanya silakan bisa mengirimkan pertanyaan secara langsung di pesan WhatsApp. ataupun Anda bisa menghubungi kami di layanan yang telepon biasa ya di 0218236543. Baik, kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada al ustaz kami persilakan. Ffadol masykur. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alaminatu wasalamu rasul.
(01:16) [Musik] pendengar dirahmati Allah subhanahu wa taala. Puji syukur kepada Allah Subhanahu wa taala semoga kita semua berada dalam keadaan sehatfiat serta selalu mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wa taala. Pemirsa dan pendengar yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.
(01:42) Pembahasan kita akan melanjutkan pembahasan tentang yaitu ee tanggapan terhadap tuduhan-tuduhan yang di lontarkan oleh orang-orang yang ee mengingkari ee sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Kepada Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang yaitu pembahasan ee mereka menuduh. Syamiah mengatakan bahwa Allah itu berada di jiha di patung jiha atau mereka mengatakan wb menyatakan bagi Allah subhanahu wa taala al jiha.
(02:30) Ajiha yang dimaksud oleh mereka orang-orang ahl kalam ini ee umum orang ahlul kalam baik kalangan asyairah maturiah dan seterusnya yaitu yang di mereka mat adalah Allah tidak memiliki sifat ulu dan tidak berua di atas arasy. Ketika orang-orang menetakan sifat ini ee ulu dan istiwa bagi Allah subhanahu wa taala. Bahwa Allah maha ating di atas semua makhluknya.
(02:57) bahwa Allah beristiwa di atas arasy, maka mereka menuduh orang tersebut telah mengatakan jiha bagi Allah. Jiha dalam bahasa kita ini adalah ee bukan jihad ya, tapi adalah arah. Arah dalam arah arti kita di sini adalah kalau ee pendapat para ulama mengatakan tidak ada dalil yang menafikan untuk menget bagi Allah. Dan ini sudah kita bahas waktu membahas tentang yaitu al alfat mujmalah lafaz-lafaz amibu yang digunakan oleh orang-orang ahli kalam dalam mentakwil dan mencari sifat-sifat Allah subhanahu wa taala.
(03:26) Di antaranya adalah ee yaitu istilah jiha. Istilah jihad bagi Allah. Maka mereka mengatakan di dalam pembahasan mereka ya ketika kita membahas tentang sifat-sifat Allah mereka mengatakan Allah jihad. Allah tidak berada di arah tertentu. Itu yang dimaksud mereka. Allah la jiha yang mereka maksud adalah Allah laa. Allah tidak berada di arah tertentu.
(03:52) Yang tujuan mereka mengatakan ee istilah ini adalah untuk mengkari bahwa Allah itu subhanahu wa taala berada di atas arasy atau beristiwa di atas arasy atau berada ee di atas semua makhluk atau bersifat ul. Nah, ini yang ingin mereka ingkari. Sehingga mereka tidak berani mengingkari ee istiwa atau sifat bagi Allah, tapi mereka menggunakan istilah lain yang bisa menimbulkan ee apa namanya itu fitnah dari orang awam, bisa orang-orang awam tertutup ya dengan maksud istilah-istilah yang mereka ee gunakan tersebut. Nah, ini di antara e tujuan
(04:28) mereka menggunakan istilah ini. Adapun tanggapan ulama terhadap Allah hij oleh jiha tadi sudah sebutkan para ulama mengatakan tidak ada di dalam Al-Qur’an istilah ataupun ayat maupun hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ya tidak ada yang menyetapkan ataupun menafikan. Ini yang pertama dulu.
(04:48) Jadi tidak ada dalam Alquran mengatakan apa ayat Quran menunjukkan bahwa Allah ituatul jihad. Allah tidak berada di arah tertentu. Kemudian juga tidak ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa Allah itu tidak berada di arah potensi. Bahkan semua ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam menakan bahwa Allah itu berada di atas semua makhluk.
(05:10) Allah fusama wastawa al as dan Allah berada di atas langit dan beristas di atas semua makhluk ya di atas langit dan Allah bertua di atas arasy itu yang ada di dalam Al-Quran maupun dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nanti yang pertama tanggapan para ulama terhadap istilah kata-kata jiha. Jiha yang dimaksud sini dalam bahasa kita ini itu adalah arah.
(05:28) Yang maksud orang alkalam di sini menggunakan ini tadi kita sebutkan adalah agar untuk ee menipu orang-orang awam agar ketika mereka diberikan terang oleh orang-orang alam bahwa Allah tidak berada di arah tertentu. Yang maksud mereka ingin menafikan adalah sifat ee atau sifat istiwa. Nah, itu yang mereka inginkan. Tetapi mereka kadang-kadang tidak ee berani mengatakan ee secara terang-terangan mengingkari sifat ulu bagi Allah maupun sifat istiwa bagi Allah.
(06:03) Karena mereka ee akan ee dibantah oleh orang-orang awam yang mengetahui isi Al-Qur’an maupun sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bahwa nyata di Al-Qur’an Allah itu memiliki sifat peristiwa dan sifat ulum ataupun dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian yang kedua, sikap ulama terhadap istilah ini ya adalah merinci merinci istilahnya yang dimaksud dengan kalimat itiha.
(06:30) Maka ulama mengatakan diminta penjelasan tentang maksud orang mengatakan kalimat jiha ini. Apakah yang mereka maksud jihat makhluk adalah Allah berada pada arah makhluk atau yang dimaksud adalah Allah berada di arah yang maha tinggi atau bersifat uluhu dan istiwa. Maka ulama kita menjelaskan jika mereka menafsirkan kalimat jiha itu dengan makna yang benar maka lafaznya diperbaiki supaya tidak menimbulkan keandiguan dan perselisihan dalam memahaminya yang menimbulkan nanti penafsiran-penafsiran multi atau bermacam-macam. Maka oleh sebab itu lafaznya harus
(07:18) diperbaiki. Jika ini maksud dalam makna yang batil yaitu mereka mengatakan maksud jihadnya Allah tidak berada memiliki arah. Maksudnya arah yang maha tinggi diima makhluknya ya sifat ulu dan sifat istiwa. Maka yun makna ma maka dinafikanlah istilah itu dan juga maknanya. Karena Allah memiliki sifat ul dan istiwa.
(07:44) Nah, ini ee pembuka ya. ee karena dibahas seperti ini oleh orang-orang ahli kalam kenapa tujuannya dan bagaimana jawaban umum para ulama tentang ee istilah jihad yang mereka gunakan untuk incari sifat itu bagi Allah. Nah, lalu mereka memahami orang alam kalau masuk dari orang alam ini adalah yang mereka maksud jihad itu Allah tidak berada di arah manaun ya.
(08:10) Sedangkan kalau ulama ahlusunah jamaah mengatakan ketika mencari makna ini digunakan oleh orang-orang kalam kalau yang dimaksud makna jihad itu Allah terkungkung oleh makhluk dalam arah yang terkumpung oleh makhluknya maka benar Allah tidak fenah di arah yang terkumpung oleh makhluknya atau dilai oleh makhluknya atau dilindungi oleh makhluk tidak maka mereka ingin menafikan sifat ul mereka menggunakan istilah jihad tersebut.
(08:40) Tetapi orang-orang alam menuduh Ibnu Taimiyah itu meyakini Allah bil jiha. Setelah mereka tafsirkan dulu jiha itu dihamut mereka adalah Allah tidak berada di arah manaun. Maka mereka menuduh Ibnu Tumiyah itu menetakkan Allah di arah tertentu.
(09:05) Lalu mereka mengatakan kalau Allah berada di arah tertentu berarti Allah terkungkung oleh makhluknya, diliputi oleh makhluknya, dilindungi oleh makhluknya. Nah, ini mereka gunakan untuk ee apa namanya? Memprovokasi orang-orang awam yang tidak mengerti tentang hal perkara dan masalah ini. Syikh Islam Timyah tidak pernah di dalam penjelasan beliau mengatakan menetapkan Allah itu dijiha oleh satu jihad.
(09:30) Tetapi beliau mendiskusikan maksud dari ungkapan orang-orang ahli kalam tentang pembahasan ini. Maka jika kalian maksud kata beliau adalah jihatul ulu Allah itu tidak berada di jihat ulah ini batil. Karena Allah berada di jihatil ul. Allah berada di arah yang paling tinggi dari makhluknya. Maha tinggi semua makhluknya. Nah, oleh sebab itu jika kita lihat ya penjelasan ee Sul Islamiah tentang pembahasan ini tentang sifat jihad ini, kita akan nukilkan perkataan-perkataan beliau.
(10:10) Di antara beliau menjelaskan la natawajah ilallah illa ilal ulu. kita tidak mengarahkan ya wajah kita ya permohonan kita kecuali kepada Allah ya. Ketika kita mengarahkan wajah kita kepada Allah, berharap dalam permintaan kita itu kita meyakini Allah itu berada di atas makhluk ya berada di atas semua makhluk yang maha tinggi. Tapi kalimat atas ini bukan berarti seperti ee gelas di atas meja ya.
(10:44) menempel dengan bukan begitu maksudnya karena tidak mesti sesuatu berada di atas yang lain itu menempel atau terletak seperti di atas kepala bukan begitu maksudnya ya. Karena setiap yang di atas sesuatu itu tidak mutlak. Dia harus ee apa namanya istilahnya berhubungan atau memiliki hubungan langsung bersentuhan dengan yang di bawahnya.
(11:08) Seperti kita katakan umpamanya langit di atas bumi. Tidak pernah langit itu tersentuh dengan bumi. Ketika kita katakan pesawat di atas udara ya kita tidak mengatakan bahwa pesawat itu ya di atas bumi, di atas rumah, di atas apa namanya tidak menyentuh apa namanya ee beda-beda yang di bawahnya. Nah, ketika orang-orang alkalam ingin menafsirkan kasih ulu itu seperti yang mereka pahami bahwa Allah itu kalau kita katakan Allah bersifat ulu, Allah beristiwa berarti Allah butuh kepada arasy. Allah lebih kecil arasy. Nah, itu mereka menafdirkan yang pada akhirnya
(11:47) mereka tidak percaya dan mengingkari atau mentakwil itu maha tinggi di atas makhluknya dan Allah itu beristiwa di atas arsy bab. Maka maksud dari pembel bahwa Allah itu artinya ya bahwa Allah berada di atas segala segala makhluknya. Maka di sini Allah itu berada di semaktiul arah atas ya di atas semua makhluk ya bahwa Allah di atas segala makhluk.
(12:30) Kemudian beliau menafikan tawahum artinya hal-hal yang akan dipahami eh waham dari sebagian orang. Beliau mengatakan, “Adapun orang yang memahami bahwa Allah itu berada di langit dengan arti bahwa langit meliputi Allah. Allah terkungkung dalam langit maka ini kebohongan itu pemahamanya perkataan yang bohong gitu ya. Jika dia menukil pemahaman itu dari yang lain ya dan dia sesat bila hal itu diyakini tentang Allah dengan Rabbnya bahwa Allah berada dalam langit terkumpung oleh langit ya. Nah, kalau itu yang dipahami ketika mengatakan Allah sama itu adalah
(13:23) pemahaman yang sesat dan pemahaman yang jika dia menukil orang lain adalah kebohong. Kata beliau, minzi tidak ada kita mendengar dari siapa pun kata beliau memahami lafaz itu seperti itu. Lalu tidak ada orang memahami. Bahkan orang-orang kafir Quraisy pun ketika mendengar ayat-ayat yang dibacakan oleh Allah oleh Rasul Sallahu Alaih Wasallam ya oleh Rasulullah Sallahu Alaih Wasallam ketika Jibril datang membawakan wahyu dari Allah Subhanahu wa taala tidak pernah mereka mengkritik mengatakan pahami dari ayat-ayat
(13:58) tersebut Allah berada terkumpung dalam langit maksudnya tidak pernah. Demikian pula apa? Al-alul kitab umpamanya orang Yahudi, Nasrani tidak pernah memahami ayat tersebut. Kalau seandainya ayat tersebut bisa dipahami demikian, tentulah mereka yang pertama akan men ee apa namanya itu membanta atau menjadikan ee hal itu sebagai argumentasi mereka untuk menyatakan Islam ini agama yang tidak benar. Baik.
(14:25) Maka beliau mengatakan tidak pernah ada orang ketika dikatakan Allah fusama. Demikian pula di masa sahabat tidak semua sahabat yang istilahnya orang-orang yang banyak juga orang sahabat yang datang dari pedalaman kan banyak yang dari Mesir dan Islam ternyata ya karena sahabat itu juga tentunya dan tidak semua yang berilmu seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ada mereka yang baru-baru masuk Islam gak pernah mereka memahami kalau maksudnya Allah fus sama Allah berada dalam langit ya. Jadi maksud di situ
(14:54) adalah Allah maha tinggi di atas semua makhluknya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa istilah jiha yang digunakan oleh orang-orang alkalam dalam mencari sifat Allah tidak ada di dalam firman Allah Subhanahu wa taala menutkan sini. Nah, beliau mengatakan orang mengatakan hal itu, beliau mengatakan dalam kitab beliau Alfatawa Alfubra itu jilid 5 halaman 31 tidak ada satuun dalam ungkapan kata beliau sama sekali menetapkan jihad atau Allah tertuntun.
(15:44) Tahay lillah itu tidak pernah menetapkan sifat jiwa atau tahayyuz bahwa Allah sifat ununtung berada di suatu ee posisi makhluk ya berkumpung oleh makhluk itu sama sekali tidak pernah menetapkannya bagi Allah mutlak sama sekali. Baik. Kemudian ee beliau menjelaskan, maka di dari penjelasan di atas tadi beliau menjelaskan bahwa jiha yang dipahami bahwa Allah subhanahu wa taala diliputi oleh arah makhluk tertentu.
(16:17) Ya, maka ini yang beliau nafikan bahwa beliau menafikan jihad dari Allah subhanahu wa taala. Jika ini dimaksud adalah amran wujudian atau maujudan bilqila yang dimaksud jiha tadi arah tadi itu adalah arah makhluk yang meliputi Allah subhanahu wa taala menguntung atau ee menutup ee atau meliputi Allah subhanahu wa taala atau melindungi Allah subhanahu wa taala atau mengatakan Allah butuh kepada makhluk tadi ketika Allah berada satu ee giatkan oleh orang Beliau mengatakan maujudinallah makhluk.
(16:58) Karena semua yang ada selain Allah itu adalah makhluk. Semua yang ada selain Allah adalah makhluk. Allah adalah makhluk subhan Allahkan fit segala sesuatuai semua yang Allah itu adalahir kepada Allah artinya adalah butuh kepada Allah dan Allah subhanahu wa taala wahua gani amwah Allah maha kaya dari semua makhluk ini. Allah tidak butuh.
(17:31) Gani itu artinya tidak butuh kepada makhluk. Ya. Ya. Ayyuhanas antumallah wallahul hamid. Kalian semuanya manusia, kalian semuanya adalah fakir. Jadi ketika orang ahli kalam mengatakan kalau kita katakan Allah itu berada di atas arsy berarti Allah butuh kepada arsy. Nah ini yang mereka ee apa gunakan argumentasinya untuk mencari sifat istiwa bagi Allah.
(17:56) Kedataan Allah itu mana butuh kepada arasy. Karena aras itu makhluk dan makhluk yang butuh kepada Allah. Allah tidak sama sekali butuh kepada makhluknya. Nah, itu di antara jawaban beliau di sini. Kemudian juga dijawab oleh beliau dalam bahasan yang lain.
(18:14) Beliau mengutuskan tidak mesti sesuatu yang berada di atas sesuatu yang di atas butuh kepada kayak yang di bawah. Banyak sekali contohnya. Ketika dikatakan umpamanya adalah ee langit di atas bumi, maka apa? langit butuh pada bumi untuk menopangnya gak jika langit pertama, langit kedua tidak butuh ke langit pertama, langit ketiga dan seterusnya. Matahari berada di atas bumi.
(18:39) Apa berarti matahari butuh kepada bumi? Jika makhluk saja tidak melazimkan hal itu terjadi, bahwa sesuatu yang ada di suatu yang di atas yang lain, maka yang di atas butuk kepada yang bawah pada makhluk saja itu tidak mesti melazimkan atau tidak mesti harus seperti itu setiap makhluk gitu. Memang ee sebagian makhluk bila berada di atas makhluk yang lain dia butuh kepada yang bawah.
(19:03) Seperti kita katakan tadi umpamanya air di atas meja ya, peci di atas kepala. Jadi kalau kepala enggak ee apa namanya jatuh pecinya jatuh kan begitu. Jadi kalauak gak mungkin peci digantung tetap ada kepala kecuali di gantung di dinding tetap butuh kepada gantungan gitu. Nah, tetapi sifat sesuatu berada di atas sesuatu yang lain tidak mutlak dia harus butuh kepada yang di bawahnya.
(19:33) Dan kalau kita sebutkan pokoknya tadi langit pertama atau bulan bintang matahari enggak butuh kepada bumi. Padahal dia berada di atas bumi. Jika hal itu memungkinkan pada makhluk tentu Allah sama sekali tidak akan butuh kepada Arasy. Nah, ini syubhat yang di ee kembangkan oleh orang alam itu. Kalau Allah kita katakan Allah pada aras nanti butuhlah Allah pada arasy. Begitu.
(19:55) Sedangkan Allah itu maha ya saya dari makhluk bahwa tidak butuh kepada makhluk. Baik. Kelaziman yang mereka katakan itu terjawab bahwa Allah tidak berikut kepada makhluk. Dan Allah Subhanahu wa taala di atas semua makhluknya ya dia makhluk yang paling tinggi itu adalah arasy. Maka Allah beristiwa di atas arasy. Bahaqin Allah itu ya terpisah dari makhluknya.
(20:21) Jadi kalau dikatakan Allah di atas aras sebag pemahaman orangimin bahwa kalau kita katakan Allah di atas aras berarti Allah berit kepada aras. Seakan-akan Allah itu menurut pandangan mereka adalah yaitu menyentuh arasy. Karena kata-kata iktiwa kalau pada makhluk kadang-kadangnya dikatakan ee istawa eh fulan alfin naik tentu dia butuh kepada tafal tadi. Kalau tenggelam tafal dia ikut tenggelam.
(20:46) Mereka meniaskan sifat makhluk ini kepada sifat Allah. Lalu mereka mengatakan kalau kita sifat Allah ini berarti Allah seperti makhluk. Nah itu kata mereka. Sedangkan Allah tidak milik makhluk. Berarti Allah tidak bertut istiwa. Nah, begitulah ee filsafat yang mereka bangun ya untuk mencari sifat istira bagi Allah Subhanahu wa taala.
(21:11) Maka Allah tidak berarti bahwa Allah berada di atas aras ya disamakan seperti makhluk berada di atas makhluk yang lain. Dan juga tidak berarti ya Allah beda tentang arasy. Allah itu bergantung kepada arasy. Jangankan Allah ee bergantung kepada aras, makhluk saja bila berada di atas makhluk yang lain tidak mutlaf, tidak harus harus diutuh kepada makhluk.
(21:38) di bawahnya di mana contoh yang telah kita sebutkan tadi seperti matahari yang berada di atas langit langit di atas bumi tidak saling bersentuhan dan tidak saling berkaitan atau apa namanya ee bergantung kondisinya di atas fotograf makhluk yang di bawah. Lalu beliau mengatakan bahwa Allah itu beristiwa di atas Arab, di atas semua makhluknya. Nah, keyakinan begini. Apakah digunakan bahasa jiha memakai lafaz jiha? Yang jelas maknanya Allah itu maha tinggi di atas makhluknya, beristiwa di atas arasnya.
(22:25) Nah, belum mengatakan jika makna ini maksudnya adalah maka ini makna yang benar. Baik digunakan katakan Allah itu jiha atau bukan. Bila yang dimaksud maknanya adalah Allah itu berada di atas semua makhluk bera di atas aras tidak bergantung kepada makhluknya tidak bersentuhan dengan makhluknya. Ya.
(22:48) Maka apa yang kamu katakan dengan makna ini? Kalau katakan itu maksud makna jihad kepada kamu, maka Allah berada di jihad. Kalau maknanya seperti itu, nah itu maksudnya. Apakah kamu digunakan istilah jihad atau bukan? Kata beliau, ya. Yang penting maknanya bila yang dimaksud Allah itu adalah beristiwa di atas aras, di atas semua makhluknya, maka itu adalah benar.
(23:15) Hal ini diyakini oleh para ulama-ulama dari pandang sejarah ya. Seperti Imam Thahawi dalam kitab beliau akidah thahawiyah terkenal dengan akidah. Beliau mengatakan wahwi taala Allah itu tidaklah dikumpung oleh arah yang enam. Jadi artinya arah yang en arah makhluk maksudnya. tidak terkumpul, tidak dibatasi.
(23:44) Ya, enam itu maksudnya apa? Bukan para ulama adalah ee atas bawah, depan belakang, kiri kanan. Atau juga istilah lainnya ditafsirkan adalah Allah atas bawah, kemudian timur barat ee ya timur barat kemudian selatan Arab. Nah, jika yang enam ini maksudnya jihatul makhluk, maka arah-arah makhluk yang enam ini tidaklah Allah berada di dalam posisi itu.
(24:18) Allah maha tinggi di atas semua makhluk. Arah yang enam itu hanya berlaku bagi makhluk, tidak berlaku bagi Allah subhanahu wa taala dari sisi posisi zatnya Allah Subhanahu wa taala maha tingi di atas semua makhluk. Kemudian hal ini dinukilkan oleh Ibnu Qadar almaqdisi juga dalam kitab beliau ee dari Imam Malik. Beliau mengatakan ulama almaqdisi ya yang wafat pada tahun 620 Hijriah dalam kitab beliau sifatul ulu tapi ada sifat ul beliau mempunyai sifat ul menanggapi ee orang-orang mutakalim orang ahli kalf. Maka beliau di dalam kitab Ulu
(25:03) memaparkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang menipatkan sifat ulu bagi Allah Subhanahu wa taala. Nah, kemudian setelah itu beliau menukil dari para kalang ulama-ulama salaf di antaranya oleh Imam Malik. Perkataan Imam Malik apa kata Imam Malik? Allahu fisama.
(25:21) Dan ini tentu kan ada dengan Al-Qur’an amintama amintumama. Allah mengatakan tentang dirinya di berada di langit bukan maksudnya famawat ya lus langit yang alama dalam ayat ini maksudnya adalah alulu sebenarnya penafsiran para ulama-ulama baik Imam Tabari ataupun Imam Bagawi dan sebagainya kemudian jamaahu alas sama bahwa Allah berada di atas langit wa ilmu fi makan. Adapun ilmu Allah berada di setiap tempat.
(25:54) Kata Imam Malik, minhuai. Tidak ada satuun yang tidak diliputi oleh ilmu Allah Subhanahu wa taala. Dan inilah Allah katakan dalam ayat ayat kursi ya. Baik. Kemudian ee maka tidak ada satuun yang luput dari im Allah subhanahu wa taala. Dan perkataan Imam Mahdi ini juga dinukil oleh Imam Abdul Bar dalam kitab Tamhidan para ulama Malikiah pertama.
(26:42) Dan ini membantah setiap nukilah yang dinukil oleh orang-orang ahli kalam tentang ee perkataan Imam Malik dalam sifat istiwi. Karena di kalangan ulama Malikiyah juga ada yang ee bermazhab e Asyairah. Lalu mereka mendustakan dan atau mentakwil atau merubah-rubah ungkapan Imam Malik ini. Kemudian ee Imam Malik juga meriwayatkan hadis hadis jariah yang masyhur di dalam Sahih Muslim itu ketika ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada jariah itu, Muawiyah bin Hakam yaitu budak perempuan Muawiyah bin Hakam mengatakan, “Ainallah qama?” “Di mana Allah?” Kata Rasul kepada budak perempuan perempuan
(27:24) perempuan itu menjawab adalah di langit. Dan juga dinukilkan oleh Ibnu Qudamah dalam dari Imam Ahmad. Kalau tadi Imam Malik, sekarang dari Imam Ahmad. Perkataan beliau adalah kata Imam Ahmad ya ini juga dinukil oleh Ibnu Qudama dalam sifatul ulu. Allahu azza walla faqamaah ala arsi.
(27:51) Allah berada di atas langit yang tujuh lapis di atas arasy. Itu perkataan Imam Ahmad. Ini diriwayatkan oleh Imam dalam kitab beliau sifatul atau alulu alulu war imam bukhari kitabal ibad dari Ibnu Mubarak yang juga diriwayatkan Imam Bukhari dan dalam kitab beliau af’al ibad dari Ibnu Mubarak. Mubarak ini adalah seorang ulama Abdullah bin Mubarak seorang tabiin ketika dia menjawab tatkala ditanya bayah kita mengenal Rabb kita ketika ada orang bertanya kepada Abdullah Mubar Allah itu berada di atas langit di atas ars itu jawabnya kemudian juga dalam kitab ini mazhab
(28:41) ulama-ulama ya perkataan para ulama Salaf dalam kitab fiqhul akbar ya yaitu kitab ini menisbatkan kepada Imam Abu Hanifah. Apa kata Imam Abu Hanifah? Man lafulah fama ard faq. Kalau ada orang mengatakan kata beliau saya tidak tahu Allah itu apakah di langit atau di bumi. Dia dia tidak tahu apakah Allah itu di langit atau di bumi.
(29:08) Apa kata Imam Abu Hanifah? Maka kafar sungguh dia telah kafir. Kata Imam Abu Hanifah. Kenapa demikian? karena dia mendustakan ayat Al-Qur’an yang menyatakan Allah itu fisama. Dan juga dinilkan oleh Imam Zahabi dalam kitabnya Al-Asy dan kitab Ulu. Imam itu ada dua kitab yang ter membahas tentang masalah ee uluullah, sifat Allah maha tinggi dan sifat dan juga Arasy.
(29:33) Juga beliau memiliki kitab ee namanya al-ulu dan juga kitab al-arasy. Dan juga dinukil hal yang sama oleh Imam Azzahabi ungkapan ee Imam Abu Hanifah tadi. Dan juga dinukilkan oleh Imam Baihaqi dari Abu Hanifah ya. Di antara perkataannya adalah Imam Bihaqi dalam kitab belum tentu Asma Sifat ya punya kitab namanya asma sifat itu perkataan Allah tabarak wa taala.
(30:04) Kata Imam Abu Hanifah mengatakan Allah itu di langit bukan di bumi. Allah itu di langit bukan di wasqala. Dan beliau ditanya tentang orang mengatakan, “Ya, saya meyakini Allah itu istiwa di atas arasy, tetapi tidak ketahui apakah arasy itu di langit atau di bumi.
(30:27) Gimana ungkapan orang itu?” Kata seseorang bertanya kepada Abu Hanifah. Abu Hanifah. Abu Hanifah mengatakan jika dia mengingkari Allah itu berada di langit maka semuanya. Nah, maka di sini juga bantahan bagi sebagian ulama-ulama Hanafiah yang bermazhab Maturidi ya dan mereka alkalam. Kemudian juga Imam Adul Bar menukilkan ijimak tentang hal ini ya.
(30:58) bahwa Allah Subhanahu wa taala ya Allah itu berada di langit di atas arasy di atas langit yang ya ketika beliau mensyarahkan hadis dan sifat nuzul bagi Allah subhanahu wa taala kepada langit bumi dan ini ee kalau kita lihat banyak tokoh-tokoh ahli kalam di ini yang paling masyhur di antaranya Alkaari itu ee nanti akan kita tanggapi ee dan banyak ahli kalam-ahli kalam yang ada di negeri kita ini ya itu mereka mengambil perkataan fausayu ini.
(31:42) Kalau ingin mengetahui syubhat-syubhat yang diekspos oleh orang-orang ahli kalam di Indonesia ini itu kebanyakan mereka menukil dari Al-Kautsari terutama nanti tentang perkataan ee Kautsari ee tentang hadis ee ajariah atau hadis budak perempuan ditanya oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di manakah Allah. Bahkan dia ee ilmu alfari ini membuat kedustaan atas ulama-ulama mazhab yang empat.
(32:17) Nah, mereka apa kata dia? Orang-orang yang meyakini Allah itu dibatul jihad menatkan jihad bagi Allah katanya itu kafir menurut imam yang empat. Im Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan itu menurut dia. Kemudian setelah itu Kausari ini menjelaskan apa maksudnya Allah menetakan Allah f maksudnya fil khitam dia katakan kesimpulan adalah bahwa imam-imamnya diikuti manusia yang paling jauh dari mengatakan bahwa Allah itu di langit. Ini bentuk kedustaannya terhadap ulama-ulama.
(32:55) Jadi memang tokoh-tokoh alkalami kebanyakan mereka itu yaitu itu ee membuat kedustaan atas nama-nama ulama. Contoh ini Alkutari ini menyebutkan dia mengatakan bahwa ulama mazhab yang empat itu ee apa namanya mensfirkan orang menyatakan jihad bagi Allah. Makud jiha bagi dia apa? Ya itu menfakkan Allah itu maha tinggi atas makhluknya bersifat ulu.
(33:21) Maka dia katakan sesungguhnya ya imam-imamnya diikuti manusia yang manusia yang paling jauh dari mengatakan bahwa Allah itu bilang setelah kitailkan kata Imam Malik, kata Imam Ahmad, kata Imam Abu Hanifah. Tapi bila kita minta kepada orang ahlul kalam ini gimana kamu mendapatkan ada perkataan-perkataan ulama mencari Allah diut mereka tidak.
(33:49) Kemudian Imam Qurtubi dalam tafsirnya ya ee yaitu beliau punya tafsir Imam Qurtubi ini jami Ahkam. Eh beliau mengatakan Imam Qubi mengakui awal para ulama-ulama salaf yang generasi awal lafuna mereka tidak pernah mengatakan dinafil menafikan jihad. Ini Imam Qurtubi Alutari adalah orang-orang muasirin, orang yang masa sekarang.
(34:29) Imam di dalam mengatakan bahwa sungguh salful aal semua ulama-ulama salaf yang awal radum sahabat dan para tabiin ada mereka mengatakan menafikan jihad dari Allah dan tidak pernah mereka mengucapkan hal-hal seperti itu karena tidak mengenal mereka istilah Bahkan mereka mengatakan bahkan semuanya ini ijm mengatakanillah menetapkan jihad bagi Allah kata Imam Quti yang maksud dengan jihad tadi apa? Jihad dalam pemahami orang mutakalimin Allah itu sifat-sifat.
(35:18) Semua ulama kata Imam Qurtubi ya wal menakkan hal itu kepada Allah sebenarnya Allah ya kitab Allah berkata demikian atau mengatakan hal itak rasuluhu dan yang dikabarkan oleh rasul-rasulnya. Kalau kita lihat umpamanya kisah para anbiya, para rasul ya mereka meyakini Allah itu fama ya Allah itu berada di atas ee tempat yang maha tinggi hak. Ini perkataan Imam Qurtubi ya.
(35:57) Tidak ada seorang pun dari ulama-ulama salafus saleh ya yang mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa taala itu beristiwa di atas aras secara hakiki. Tak ada satuun kata Imam Qurti, tidak ada seorang pun dari ulama salafus salh yang mencari bahwa Allah itu bertea di atas arasyikatan. Ya, silakan cek ya. Aljami liahkamil Quran ya.
(36:26) Aljamahkamil Quran jilid keempat ya, yaitu halaman ee 140. Baik. Nah, ini nukiran dari para ulama ini ingin membantah ungkapan ketika banyaknya orang-orang sekarang yang ngaku-ngaku mereka mengikuti ulama-ulama mazhab kata mereka. kita harus dan ada fulai mengatakan kita harus memegang mazhab tertentu. Bermazhab dengan mazhab tertentu tidak ada.
(36:58) Yang menjadi persoalan bagi ulama adalah ada dua hadis di sini. Ada yang mengambil perkataan-perkataan ulama itu hanya dari sisi ahkam saja. Hukum-hukum fikih, hukum muamalah, hukum munakahat, hukum ibadat, hukum jinayat. Ya, dia berpegang daripada beberapa ulama. Tapi dari sisi akidah yang pokok sekali mereka tidak mengikuti ulama mazhab tersebut.
(37:22) Yang kedua adalah persoalannya adalah ketika mereka mengatikuti suatu mazhab mereka menolak pendapat-pendapat ulama-ulama mazhab yang lain dan ini tidak pernah dilapor oleh para ulama kita. Yang dimaksud ulama-ulama kitab bermazhab dalam istimbat hukum-hukum ijtihadiah itu mereka memakai matabih istimbat atau usul fikih daniah ee yang digunakan oleh ulama tertentu dalam maatik bila mendapatkan hadis atau pendapat-pendapat yang lebih kuat hujannya mereka tidak mau meninggalkan pendapat imam mazhab bukan demikian pemahaman yang diingincari oleh para ulama adalah orang yang mefanastik
(38:01) dengan pendapat bukan imam mazhab saja ya sekarang kadang-kadang mereka mengatakan imam mazhab yang empat tapi yang mereka adalah ulama-ulama yang menisbahkan diri kepada mazhab ulama tersebut ya beda antara Syafi’i afwal Syafi’i dan ahwal Syafi’iah atau ahwal Malik ahwal Malikiah ya berbeda.
(38:27) Itu perkataan Imam Malik berbeda dengan perkataan ulama-ulama yang menci Imam Malik berbeda maksudnya apa? Tidak mutlak perkataan ulama-ulama mengaku sebagai mazhab Imam Malik akan juga benar-benar sesuai dengan pendapat Imam Malik. Demikian pula ulama-ulama Syafi’iah ada mereka yang menyelisihi pendapat-pendapat Imam Syafi’i sendiri. ulama-ulama yang mengikuti.
(38:47) Maka kalau Syafi’iah orang yang menisbahkan diri kepada mazhab Imam Syafi’i. J kalau Imam Syafi’i itu adalah Imam Mazhabi. Maka tidak mutlak-tiap pendapat para ulama yang mengaku Imam Syafi’i dalam metode hukum mutlak pendapatnya itu benar sesuai selalu dengan dalil-dalil. Karena ulama-ulama berbeda singkat-singkat iman mereka dan pemahaman mereka.
(39:12) Tentu maka oleh sebab itu ulama-ulama sesta dari masa ke masa selalu menguji setiap pendapat itu dengan dalil-dalil dan pendapat-pendapat ulama lain yang kontra pokanya agar didapat kesimpulan yang valid dan kuat. Baik. Bahkan ee seorang ahli kalam di masa sekarang ini seperti Kausari tadi mengatakan bahwa dia menuduh ya adanya kata Qurtubi iniamati adalah itu kata-kata jihad dalamal kalam itu maksudnya adalah ee salah tulis Dia pun demikian ya salah tulis.
(40:02) Kalau tulisan adalah salah ucap kalau itu salah tulis gitu. Nah, begitulah mereka bagaimana taamul mereka, bagaimana perilaku mereka terhadap ulama. Tidak ada pendapat ulama yang menyelisi pendapat mereka mengatakan, “Oh, itu kesalahan tulis, itu salah tulis.” Dan enaknya mereka menolak seperti itu. Padahal di kitab ditahk oleh para ulama dan terdapat dalam setiap nuskhah dari setiap kitab tafsiran dicetak ya kan ee toi gitu.
(40:29) Kemudian ee Imam Abdul Bar dalam kitabnya Tamhid dan juga Imam Abu Bakar Assmaini dalam kitab beliau Iktikad Ahlil Hadis ya. Imam Abdul Bar Imam Abdil Bar dalam kitab beliau Tamhid dan juga Imam eh Abu Bakar Ismail dalam kitab beliau Iqad Aimatil Hadis juga Imam Bhaqi dalam Asma Sifat ya.
(41:02) Dan Imam Assabuni alhafiz mufasir mutawafa 449 bukan Sabuni yang muasir ya dalam akidatus salaf Ibnu Qudama dalam sifat ulu dan Zahabi dalam kitab Ulu dan Arasy dan lainnya mereka menukil dari ulama-ulama saleh bahwa Allah Subhanahu wa taala di atas arsy. Jadi silakan cek kitab-kitab ulama ya. Tamhid saya Ibnu Abdul Bar.
(41:23) Iktikad aimati ahli hadis saya karya Abu Bakar Ismaili yang wafat 371 ulama-ulamain. Dan Imam Albaihaqi ya juga Imam Assabuni alhafiz mufassir ya yang wafat 449 bukan Assabunia sekarang ya. Beliau punya kitab itu akidatus salaf. Kemudian Ibnu Qudama dalam sifat kitab beliau Sifatul Ulu dan Imam Zahabi dalam dua kitab itu Sifatul Ulu dan e kitab beliau alulu dan arasy dan lain-lainnya.
(41:51) Ulama-ulama lain menukil tidak sedikit nukilan dari ulama salaf bahwa Allah Subhanahu wa taala di atas arsy. Ya, wa ars berada di atas langit yang tuilman. Maka tidak ulama-ulama ini lebih tinggi ilmunya. naqlan orang teliti dalam menukil maupun dalam berkata berpendapat orang yang paling fasif jujur ungkapannya ya akbar mereka adalah orang yang paling lebih ahli dalam memahami hadis-hadis dan arwal ahlul ilmi ya dan pendapat-pendapat para ulama baik dan ini tentu sesuai dengan apa yang Allah sebutkan dalam Quran Seperti firman Allah Subhanahu wa taala surah almulk pertamanya ayat 16.
(42:50) Apakah kalian merasa aman dari zat itu berada di langit bahwa ia menenggelamkan kalian ke bumi? Ini maksudnya Allah. Maka kalian merasa aman terhadap Allah yang berada di langit. Itu maksud semua terjemahan ahli tafsir mengatakan. Tetapi ada juga ahlul kalam yang lebih ee berani mengatakan itu manfama maksudnya malaikat. Apakah malaikat menciptakan? Ya.
(43:20) Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa taala contohnya contoh-contoh banyak sekali ayat-ayat itu tentunya dalam Al-Qur’an ya. Di contoh surah Al Imran ayat 55 ketika Allah menceritakan tentang Isa ya. Ketika Allah berfirman wahai isa in saya mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaku. Mengangkat itu maksudnya apa? Na ke atas. Ini menunjukkan bahwa Allah tu ilai mengangkat.
(43:52) Ketika Allah mengatakan ilai ijma Isa alaihi salam. Ketika ayat ini semua ulama sepakat bahwa Isa itu diangkat ke langit ya. Baik. Walu muslim. Nah, lalu bagaimana orang alkalam menyikapai hadis jariah? Ini hadis yang masyhur ya. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya hadis ini dalam Sahih Muslim. Bagaimana pula syubhat mereka tentang menangkapi hadis ini? Hadis ini dalam Sahih Muslim bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak perempuan ya kisahnya e Muad bin Hakam. Dia ee punya budak perempuan. Kemudian budak perempuan ini bertugas itu bekerja menjaga mengembala
(44:34) kambingnya ya. Kemudian salah seekor kambing dimakan oleh serigala lalu dia marah dan sempat memukul budak perempuan ini. Akhirnya dia ingin menembus kesalahannya itu. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada budak poin untuk buktikan dia seorang beriman atau tidak.
(44:55) Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata, “Ainallah qat fama di manakah Allah?” Jawabnya ada di langit.Q maha. Maka Nabi berkata kepada tuannya, “Merdekakanlah dia sesungguhnya dia telah beriman.” Telah beriman. Hadis ini diwakkan oleh siapa saja? Ulama. Banyak ulama yang mengatkan itu Muslim, Imam Malik, Ibnu Asim dalam kitab Sunah Ahmad, Albaihaqi, Alkai, Abu Daud, Annasai, Ibnu Quzaimah.
(45:23) Ya, kalau seandainya Allah itu bukan di langit ya tentulah Rasulullah pasti mengingkari perkataan wanita ini. Ya, karena Rasulullah tidak pernah diam terhadap kemungkaran siapapun yang melakukannya. Tentu Rasul akan mengajarkan kepada wanita ini dan membenarkan kesalahannya. Tetapi apa yang dilakukan oleh seorang ahlul kalam di masa sekarang itu namanya Kautari ini ya.
(45:49) Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah itirat. Dan saya juga menemukan salah satu pendapat yang menukil pendapat ini di Indonesia yang masyhur biasanya selalu saya bantah dahulu pendapat-pendapat dia. Yaitu yang terkenal ya dengan Aswaja katanya begitu. Dia mengatakan hadisnya hadis iktiraf dia muqallid di dalam hadis kepada Kautai.
(46:11) Tidak ada satuun ulama hadis menghukum hadis iktiraf. Tapi tatkala hadis ini berbeda dengan hawa nafsu orang alkalam, mereka langsung mengatakan hadis. Nah, lalu mereka mencoba itu memakai dalil-dalil akan ada dalam hadis Muslim itu hadis-hadis yang dibicarakan oleh ulama tentang kesahihan.
(46:30) Tidak ada ulama hadis-hadis yang membicarakan ulama tentang kesahihan tidak termasuk hadis ini. Tidak termasuk hadis ini. Baik. Ini akan kita lihatkan jawaban ee para ulama tentang hal ini ya. bahwa anggapan dia hadis ini adalah itiraq secara makna dan matan itu adalah ya secara sanad dan matan ini semataan mata kebohongan dan setelah kita lihat orang-orang hadis tadi adapun hadis yang terdapat dalam riwayat kedua ah dia membandingkan hadis yang sahih se muslim ada riwayat lain dengan lafaz yang berbeda. Lalu dikatakan ini
(47:06) lafaz yang berbeda. Berarti hadisnya iktiraf. Nah ini gimana jawabannya? Baik. Hadis irab itu adalah hadis yang diwak dengan ee lafaz atau apa namanya? Sanad yang berbeda-beda. Sannya sama, lafaznya berbeda-beda. Jadi ada rawat lain yaitu perkataan Nabi itu mengatakan dalam riwayat lain itu kepada jariah atas lailahaillallah.
(47:31) Jadi katanya dalam riwayat lain itu Nabi bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan yang sem kecanti dari kalimat ainallah?” Di manakah Allah? Tetapi sanad hadis ini adalah hadis mursal. Jadi tidak bisa hadis yang lemah ini dikatakan beriktiraf dengan hadis yang sahih ini.
(47:51) Karena ini sanad yang ini mengatakan hadis yang atau syari lailahaillallah ini sanadnya lemah. Yang iktiraf itu adalah kekuatan sanadnya sama-sama kuat. Tapi lafaznya berbeda-beda umpamanya tentang lafaz hadis ini. Maka ee tidak benar hadis ini dihukum oleh ee apa? dihukum dengan hukum bahwa hadis ini baik wal hadis mursal dif jumahir muhadisin ini hadis mursal hadis mutsal ini diif ya jumhur ulama muhaddisin ahli hadis baik Imam Syafi’i dan kebanyakan dari fuqaha ya dan juga eh ahli usul seb perkata Imam Nawawiqimah wah maka Maka Imam Nawawi menyebutkan, Hafiz Ibnu Khuzaim menyebutkan kata beliau,
(48:43) hadis ini dua riwayat yang berbeda bukan hadis yang satu. satu diif satu dan diriwayatkan oleh Imam Hafi dan riwayat yang lain dan juga Tabrani dengan sirah dengan sih yang lain yaitu sihnya adalah e lafaznya adalah marabuka e marabuki.
(49:07) Tetapi Imam Haitami di situ menjelaskan bahwa hadis bahkan Imam di fi lamif hadis juga difan orang yang tidak diketahui majahil dalam sanadnya ada orang-orang yang majhul faaihiwatifahudif semua maka tidak bisa dikatakan iktiraf dengan riwayat yang sahih maka tidak bisa dijadikan hadis-hadis yang itu sebagai ee hukum kepada Sall itu lalu dikatakan adanya perbedaan lafaz dan sanad. Baik.
(49:46) Kemudian hadis ini tidak bisa dikatakan dengan hadis iktiraf. Karena di antara hadis-had itu ya macam-macam hadis itu ada ee hukumnya bersab ada kalau dari Imam Fatih, hadis Imam Fatih, hadisnya mursal dan sebagainya. Jadi ada hadisnya muadal. Nah, kalau ini hadis iktib itu ada iktib ima dari sisi kanat dan matanya artinya goncang istilah bahasa kita ini hadis ini tentu tidak bisa dihukum sebagai hadis.
(50:16) Kenapa? Karena telah jelas riwayat karena salah satu riwayatnya lebih kuat, lebih sahih dari riwayat maka hadis yang lain tadi sanadnya tidak bisa diikan untuk pembanding kepada hadis yang sahih. Dan ini juga dikatakan oleh Imam Ibnu Salah ya, maka orang yang mengatakan hadis ini adalah orang mengatakan ini hadis telah menipu diri dan orang lain.
(50:56) Baik. Kemudian ee ini kita lihat bagaimana perilaku orang-orang ahli kalam terhadap ulama-ulama ya yang mensahihkan hadis ini. Kemudian kalau kita coba melihat ul- ulama mensyarah hadis Imam Muslim ini tidak ada satuunatun ulama yang mengkritik hadis ini secara daif. contoh ya e dan juga tidak ada seorang pun antara mereka mengatakan hadis itiraq dan juga tidak ada seorang pun mengatakan hadisnya ada tambahan.
(51:34) Bahkan Imam Nawawi mengatakan hadisul jari, hadis yang terdapat dalam S Muslim adalah hadis-hadis sifat kata beliau. Alhafiz Abul Abbas al-Qurtubi ini berbeda antara Abu Abdillah al-Qurtubi. Kalau Abu Abdillah al-Qurtubi itu adalah ee ahli tafsir. Kalau Abul Abbas al-Qurtubi adalah lebih apa namanya? Ee itu adalah ahli hadis ya.
(52:09) Beliau ketika mensyarah Sahih Muslim ya para tahfiz Muslim atau beliau mengatakan tentang hadis ini? Maka pertanyaan Nabi sallallahu alaihi wasallam ini adalah bertanya kepada budak perempuan sesuai kadar pemahaman yaitu tujuannya adalah ingin bahwa Rasulullah mengetahui bahwa wanita ini budak perempuan ini tidaklah menyembah berhala tapi telah beriman kepada Allah dan juga tidak menyembah batu-batu dan berhala yang ada di zombie.
(52:44) Kemudian mengatakan dalam hadis di manakah Allah ada faedah dan eh fikih di dalamnya bagi orang yang memiliki keteran keilmuan yang tinggi kata beliau di antaranya adalah beliau menyebutkan tidak ada disyaratkan seorang masuk Islam itu untuk melafalkan kalimat khusus seperti syahadat tapi cukup lafaz-lafaz menunjukkan tentang benar Sebenarnya seseorang tadi telah masuk Islam dan dia menganut Islam.
(53:17) Baik. Kemudian ee ada namanya Al-Habasyi. Al-Habasyi ini selu tokoh Syiah di Lebanon juga menanggapi hadis ini ya. Menanggapi hadis ini mengatakan itu hadis ini ditilai difen Rasulullah menghukumnya dengan masuk Islam. Padahal Rasul hanya bertanya, “Ainallah, kenapa dia tidak menyuruh menipkan syahadat?” Bukan bersyahadat.
(53:46) Nah, ini yang dijawab oleh ee Abul Abbas al-Qurtubi tadi. Dan juga ini sudah dijelaskan ya, bukan dijawab ini jawabannya ada apa yang dijelaskan Imam Qutubi tadi bahwa seseorang kalau masuk Islam tidak mutlak harus dia apa namanya ee melafakkan kalimat syahadatain tapi cukup dengan lafaz-lafaz yang mengindikasikan dia telah masuk Islam.
(54:05) Contoh kisah ketika Rasul Sallahu Alaihi Wasallam itu ee mengutus ya Khalid bin Walid kemudian kepada suatu kabilah dan kabilah ini tidak la yuhsinu mereka tidak bisa mengucapkan kalimat ee bahasa ashadu alla ilallah tapi mereka mengatakan sab ya artinya kata-kata sab menurut pemaham mereka adalah kami telah masuk Islam namun Khalid bin Walid tetap melakukan ee apa namanya menghukum mereka dan menganggap mereka tidak masuk Islam.
(54:39) Lalu Rasulullah berlepas dari perbuatan Khalid Walid yang membunuh mereka telah menyatakan maksud Islam tersebut. Nah, ini di antara pembahasan yang dibahas oleh ulama tentang syubhat-syubhat yang di ee apa namanya itu ya digunakan oleh ahlul kalam dalam menampai hadis sunah sehingga mereka berupaya untuk mencari keleman-kelemahan hadis ini sebagai sisi.
(55:02) Tapi jawabannya ya banyak sekali para ulama menjelas tentang jawapan-jolan tersebut. Bahwa oleh sebab itu disebutkan oleh Imam Qurtubi di sini bahwa Rasulullah sahu alaihi wasallam ketika ini mengetahui keislaman budak perempuan tadi itu sesuai dalam pemahaman maka ditanya di manakah Allah? Maka dia Allah itu di lanut bahwa Rasul sahu alaihi wasallam medikasi jawaban itu dia sudah masuk Islam. Baik.
(55:27) Maka oleh sebab itu tadi kita sebutkan perkataan Abul Abbas al-Qurtubi mengatkan bahwa perkataan faedah dari hadis ainallah itu adalah beliau mengatakan tidak disyaratkan seseorang ketika masuk dalam beriman melafazkan lafaz tuntutan tertentu. Tapi cukuplah setiap lafaz yang menunjukkan tentang kebenaran dia telah masuk ke dalam agama ini.
(55:48) Dan ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya dalam bab almaghazib yang tadi kita sebutkan bahwa Rasulullah mengirim Khalid bin Walid kepada Bani Duzaimum ilal Islam untuk mengajak mereka masuk Islam aslamna. Jadi mereka tidak eh menyatakan dalam bentuk aslamna kami telah masuk Islam.
(56:14) J mereka tidak ee apa namanya tidak bisa mengatakan kami telah masuk Islam. ini ee bahasa mereka tidak mengatakan demikian tapi ada lahj lain ituu mereka justru mengatakan artinya kami telah keluar meninggalkan agama kami maka khalid bin membunuh merekaan minhu itu khalid menyangka bahwa mereka belum masuk Islam tatkala sampai hal itu kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam maka Nabi mengatakan Allah ilika mim faq ya Allah saya berpatah berdiri kepada e berpas diri Ya. E ya Allah ya dari apa yang diperbuat oleh Khalid.
(56:52) Kemudian Rasul wasallam ee mengutus Ali bin Abi membayar Nabi Islam karena Nabi sallallahu alaihi wasallam telah menganggap mereka itu adalah masuk Islam. Nah, ini di antara hujah-hujah menjawab ee syubhat-syubhat yang dilontarkan, yang digunakan oleh orang-orang ya ee dan tentang mencari kelemahan hadis yaitu aljariah tadi.
(57:23) Kemudian di sini eh juga berkata Imam Nawawi, Muslim Abu Amr. Maka di sini Imam Nawawi menghukum orang-orang yang menganggap ya ee kelemahan Imam Muslim dalam beberapa hadis yang menjadi catatan para ulama hadis. Maka Imam annawawi mengatakan, “Hal aimbun itu orang yang yang cacat.” Ya. Kemudian berkata Imam Abul Abbas Qutubi tentang Sahih Muslim ini ya lakin hanajadur falilah memang ada ber hadis yang oleh ulama hadis tapi hadisnya tidak termasuk bagian dari hadis yang ada kelemahan dalamnya tidak ada satupun dalam Sahih Muslim itu hadis-hadis yang sepakat ulama meninggalkan
(58:31) tidak ada satupun isnad di Dalam itu yang ulama sepakat tentang dan Imam Muslim sendiri mengatakan abi. Jadi beliau pernah meminta kepada Abu Arzi untuk membaca kitab sahih sahih beliau tersebut. Sahih ya kitab sahih beliau tersebut. Jadi setiap yang dikatakan Abu Abu Arzi bahwa dalam sahih beliau itu adaah hadisnya maka beliau hafuz belum tinggal bila mengatakan bahwa hadis ini tidak ada cacat sanadnya dan matanya maka aku sebutkan dalam kitab sahih tersebut.
(59:17) Demikian pula tanggapan ulama-ulama seperti Say Hasan Khan Alqanuji dalam Sahih Muslim beliau mengatakan itu hadis Muslim berhujah dengan hadis-hadis dalam sahihnya tidak butuh lagi untuk diteliti dalam tentang rawi-rawi sanadnya. Karena karena tingginya dari kesahihan muslim ini dari segi kualitas kesahihan hadis dalam eh dalam sahihnya. Baik.
(59:51) Ini sebagian nukilan para ulama-ulama yang menanggapi apa namanya ee syubhat yang dibuat oleh orang-orang alkalam tentang hadis jariatan tadi. Baik. Baik, barangkali demikian dulu untuk pembahasan masalah ini ya. Ee telah kita jawab sebagian dari syubhat-syubat alkalam yang mencari hadis-hadis menunjukkan tentang ulu Allah subhanahu wa taala.
(1:00:23) Oleh sebab itu, Imam Albaihaqi menatkan dari Imam Auza’i. Imam Auza’i ini adalah yang wafat pada tahun 157 dengan sanad yang apa kata ee Imam Auza ini disebutkan oleh Imam Albaihaqi dalam kitab Asmafatunah. Ya, artinya mereka-mereka kami wastabiun dan para ulama-ulama mutabiin mutawafirun masih hidup.
(1:00:55) Kami mengatakan Allah itu di atas arasy. Ini pendapat-pendapat ulama tentang sifat Allah. Dan juga Imam Abu eh Abu Ismail Assabuni menyebutkan dalam kitab beliau eh iktikad ahli hadis ya ahlul hadisAllah subhanahu wa taala. Orang-orang hadis itu meyakini dan mereka bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa taala di atas ya langit yang tujuh di atas arasy.
(1:01:27) Demikian pula ya ee Imam Arrazi dan ketika dia ee ingin mencari sifat ulu, namun dia mengatakan ee bahwa meyakini bahwa ulama salaf ee mentafwid hal-hal ee hadis-hadis seperti ini, maka beliau tidak mentakwil. Tetapi ketika beliau mengatakan mazhab salaf itu takwid eh tafwid ini juga tidak benar. Karena tafwid dalam pandangan ulama salaf adalah dalam faifiyah bukan dalam makna asifa.
(1:01:55) Baik. Inilah beberapa jawaban terhadap tanggapan orang-orang alkalam ee munafasyat atau diskusi mendiskusikan ee syubhat mereka yang mengingkari sifat wudu bagi Allah subhanahu wa taala dengan mengemukakan syubhat aljiha menggunakan ee apa istilahnya argumentasi dengan menfikan jihad bagi Allah subhanahu wa taala. Wallahuam.
(1:02:21) Kita kembalikan pada alak kita studio nam. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Ustaz atas atas materi yang telah disampaikan di kesempatan pagi hari ini yaitu ee bantahan ahlul kalam. Bantahan ee yang diarahkan kepada ahlul kalam akan pandangan mereka menolak ee ulung Allah ya ketinggaan Allah Subhanahu wa taala.
(1:02:53) Baik, untuk selanjutnya kami buka sesi interaktif dan ada satu pertanyaan di layanan bersama WhatsApp ee kami ajukan dari Pamulang yaitu Ibu Hanay di Tangerang Selatan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yet, bagaimana cara menanamkan atau menjelaskan kepada anak-anak terkhusus ee anak 6 tahun ee ke bawah yaitu ee Allah berada di mana dan bahwa Allah berada di atas ars.
(1:03:20) Mohon jawaban dan pencerahannya. Baik. ee pembahasan tentang Allah berada di atas Allah berada di atas aras arasy. Nah, itu diajarkan juga oleh para sahabat, kepada anak-anak mereka dan juga diajarkan oleh para ulama kepada murid-murid mereka, kepada anak-anak mereka yang baik di tingkat bawah maupun yang baru-baru Islam pemindai orang-orang yang mereka menjelaskan apa adanya saja.
(1:03:51) Tidak ada memperlebar dengan menyebutkan argumentasi-argumentasi ee ahli kalam gitu. Karena anak-anak tersebut berada di atas fitrah mereka. Jika kita katakan Allah di atas fitrah, mereka paham. Allah berada di tempat yang maha tinggi. Dan kita jelas Allah itu berada di tempat yang maha tinggi di atas ar Allah merada dan arsy adalah makhluk Allah yang paling kuni dan tidak ada lagi makhluk setelah arsy.
(1:04:15) Maka jiha itu ada jihat makhluk ada jihat makhluk jiha yang paling terakhir arah ke atas arsyentu adalah yang ada di sana hanyalah Allah. Maka Allah maha tinggi di atas semua makhluk. Kita kasih Allah maha tinggi di atas untuk melihat apa yang dilakukan mengetahui apa yang dilakukan, mendengar apa yang di wallahuam bawab.
(1:04:40) Nah, baik terima kasih banyak. Syukran jazak khair. Dan selanjutnya kami berikan kesempatan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung di Len Telepon silakan di 0218236543. Bagi Anda yang ingin bertanya langsung sekali lagi nam mungkin ada yang ingin bertanya langsung silakan. Halo. Silakan. Halo. Nam. Halo. Asalamualaikum ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(1:05:03) Dengan Bapak siapa? Di mana? Saya Bowo dari Bogor. Silakan, Pak Bowo. Eh, Ustaz, saya mau nanya, apakah hukumnya mendirikan masjid di tengah-tengah perumahan di mana masjid itu menempel dengan tembok perumahan warga dan di samping kanan kirinya adalah ee warganya nonmuslim dan di situ tidak ada dikumandangkan azan untuk salat lima waktu. Itu aja yang sayaakan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(1:05:34) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik. Eh, Bapak ini bertisang apa ya? Eh, masjid yang dindingnya menempel ke rumah nonmuslim. Yang maksud tidak dikomandan asan ini bagaimana? Mungkin tidak dengan memasai mikrofon atau sama sekali tidak diteman. Jadi, persoalan seperti ini atau perlu di di di apa namanya? bicarakan dengan ee perbedaannya tokoh masyarakat yang ada di situ tadi terutama atau tokoh dari segi pemerintahan atau kalau umpamanya akan menangunan muslim itu maka kita harus ee ee apa namanya istilahnya ee meminta toleransi dan
(1:06:19) sebetulnya kan azan tidak mengu ee umat lain sebenarnya karena azan itu bagian dari ibadah di ee pening dan ee negara kita juga membolehkan menjalankan kemerdan beribadah bagi setiap yang apa sebagai beragama untuk menjalankan secara tetapi untuk hal-hal seperti ini tentu dilakukan ee diskusi duduk darara yang mencari solusi bersama kara syariat Islam tetap bisa dijalankan oleh pemeluknya dan ee umat lain juga tidak ee merasa ee adanya nya ee semacam gangguan kepada ini di musyawar bandar. Tapi kalau sementara azan tidak perlu matai
(1:07:08) mikrofon dan sebagainya, tentu dengan cara berdiskusi yang baik tadi akan disan solusinya. Ee apakah azannya cukup di dalam saja tidak perlu pakai ee mikrofon atau azannya tidak diarahkan ke arah yang rumah e nonmuslim. Jadi solusinya dibicarakan dengan tokoh-tokoh yang ada di tempat tersebut. agar ee semua warga merasakan kebebasan baik dalam beribadah maupun juga tidak terganggu dengan ee dan gangguan bagi mereka yang dari kegiatan-kegiatan ini di sekitar di selalu ee musyawarah musyawarah dan tetangga
(1:08:00) kita barakallahu fikum wallahuam Nam. Baik, terima kasih banyak Ustaz jazakullah atas jawaban dan penjelasannya. Dan satu pertanyaan kami ajukan kembali di layanan pesan WhatsApp ya Ustaz. Bagaimana dengan pemahaman bahwa Allah berada di dalam hati-hati kita? Artinya di dalam hari hati ee makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa taala.
(1:08:29) Apakah pemahaman tersebut bisa mengeluarkan dari Islam? Ustaz mohon cobaan dan penjelasannya. Baik. Jika dia memahami ee Allah itu dengan zat yang berada di mana-mana ini tidakutup ulama-ulama tapi mengatakan ini pemahaman yang bisa membawa kesukuran. Karena Allah maha suci dari segala ee tempat yang Allah maha besar dari semua makhluk ini. Allah tidak berada di dalam makhluk ini.
(1:08:57) Dan paham ini dibahas oleh para ulama dengan istilah adaudiah, ada itihadiah, ada wihdatul wujud. Wihdatulujud orang yang bertau dengan makhluk dengan zatnya. Zat makhluk dengan zat Allah bersatu. ini tidak ragu dengan kekufuran. Kemudian ada lagi namanya hudbiyah. Allah bersempat pada makhluk.
(1:09:22) Ada juga yang mengatakan Allah bersempat pada sebagian makhluk. Kemudian akidah nasara bahwa Allah menyatu dengan mustaif salam dan sebagainya. Nah, ada sebagian paham-paham dari ee gulatus sufiah memahami bahwa imam-imam mereka itu menyatu dengannya Tuhan. Sebagai ini jelas pemahaman kufur juga. sebelumnya paham Ibnu Arabi yang menyak bahwa dia sampai ee menyatu dengan Tuhan.
(1:09:49) Kemudian ada paham hadis juga ee menyaks yang sama masruf ee menyatu kalau yang eeulah adalah Allah bertent kalau ini menyatu sebenarnya hampir sama pemahaman wujud ini. Kalau wattil wujud mereka tidak mengakui wujud ini kecil hanya satu semua wujud Tuhan bagi semua yang wujud wujud Tuhan itu keyakinan Tuhan ini ee ditafsirkan oleh para ulama.
(1:10:18) Jadi tentulahuliah Allah bersifat pada makhluk atau ee Allah memberikan sebagian sifat-sifat dan juga itihadiah uliah danhadiah ini banyak dipahami oleh kelompok ee masidinya dan seperti peman-peman dari kelompok Syiah ada Durf namanya ada Nusairiah yaah Ismailiah ini perumahan mereka demikian makanya orang-orang siiah itu menganggap bahwa difat bahwa ee menyatakan ee Ali itu ee menyatu dengan Tuhan itu mereka seperti syariah atau imam-imam mereka menyakiti dengan paham ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunah. Maka oleh sebab itu kita yang ee tidak
(1:11:11) diragukan bahwa faham ini adalah memahami pemahaman yang menyimpang dari Al-Qur’an. Karena Allah Subhanahu wa taala tidak bercampur dengan makhluk dan maha suci dari segala kekurangan. Kalau Allah bercampur dengan makhluk, makhluk ini memiliki sifat yang banyak sekali kekurangannya dan juga kotoran diri.
(1:11:27) Kalau Allah diyakini di mana-mana atau berada dalam makhluk berarti Allah ya ee lebih kecil dari mak. Tetapi kalau dimaksud dalam Allah berada dalam hati selalu mengingat Allah, mengingat Allah Subhanahu wa taala tapi selalu ingat kepada Allah Subhanahu wa taala. Nah, tentu ini tidak membuat kekufuran.
(1:11:45) Tapi yang dimaksud ini adalah yaitu dia selalu ingat kepada Allah. Allah selalu berada dalam hatinya. Hati selalu ingat kepada Allah. Hal ini tentu tidak menyalahi tidak. Wallahuam. Dan satu pertanyaan tadi merupakan pertanyaan terakhir di kesempatan pertemuan kita di hari ini, Ustaz. Dan mungkin ada yang dapat disampaikan untuk pertemuan kita. Silakan.
(1:12:12) Baik, terima kasih. Allah Subhanahu wa taalaas memberikan ilmu manfaat negara kita dan memberikan kekuatan untuk mengamalkan ilmu kita dapat. Terima kasih atas segala kasihan dan pirannya mohon maaf at kekurangan. Terima kasih juga kepada teman-teman di luar studio studio e dan juga studio teman-teman dari semoga selalu menjaga ee antum semua dalam kebaikan.
(1:12:45) Wallahuam subhanak asadu anag. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan sekali lagi terima kasih banyak syukuran jazak khair atas waktu yang telah diluangkan untuk kami semua dari pembahasan pertemuan di hari ini yaitu faeda-faedah setelah era Islam bantahan kepada ahlul kalam mengenai pengingkaran mereka terhadap ketinggian Allah Subhanahu wa taala.
(1:13:10) Demikian kami undur diri mohon maaf apabila ada kesalahan. Subhanakumma wabihamdika ashadu alla ila anta astagfiruka wauik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka. Yeah.
Leave a Reply