(21) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid – YouTube

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(21) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid – YouTube

Transcript:
(00:09) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala asrofiliya wal mursalin waa alihi wa ashabihi waman bianin yaumiddin. Ikhwat Islam rahimani warahimakumullah. Sahabat Roja, pemerhati Roja di manaun saat ini Anda bisa menyimak siaran kami.
(00:35) Kita memuji saya bersyukur pada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah limpahkan pada kita semuanya. Selawat dan salam semoga terlimpahkan serta tercurahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk keluarganya, untuk para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman nanti.
(00:57) Senang sekali pada kesempatan sore hari ini kami kembali menghadirkan program bimbingan dan kajian ilmiah yang sesaat lagi akan kita simak bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Kajian ini kami hadirkan secara langsung dari Masjid Agung Al-Ukhwah Jalan Wastu Kencana nomor 27 Kota Bandung guna melanjutkan pembahasan kitab Alqulul Farid Fawaid Ala Kitab Tauhid dan kita masuk pada bab rukun tauhid seperti apa dan bagaimana kita simak kurang lebih 1 setengah jam ke depan dan kami ingatkan bagi Anda yang bertanya seputar pembahasan ini nanti silakan Anda bisa menghubungi nomor kami di nomor berikut ini 0218236543.
(01:40) Anda bisa menghubungi via telepon maupun mengirimkan melalui pesan singkat WhatsApp. Selanjutnya kepada Ustaz kami persilakan falyatafadol maskuran ya Ustaz. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi wa mawwalah waman tabiahum biihsanin ila yaumil qiamah wa ba’ad.
(02:23) Hadirin jemaah Masjid Agung Al-Ukhwah Bandung, para pendengar Radio Tarbiyah Sunah Bandung, pendengar Radio Roja, pemirsa Roja TV, pendengar radio-radio lain, dan pemirsa TV-TV lain, juga para netizen. Kembali kita berjumpa. Kali ini kita akan membahas faedah dari sebuah ayat tauhid yang terdapat dalam Al-Isra 23. Allah berfirman, “Waqad rabbuka alla ta’budu illa iyahu wabil walidaini ihsana.
(03:18) Waqada dan telah menetapkan rabbuka rabmu alla ta’budu agar kalian jangan beribadah illa iyahu kecuali hanya kepadanya. Wabil walidaini ihsana. Dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat baik. Dari ayat ini ada banyak faedah atau pelajaran yang kita bisa ambil. Pertama, annal qada al mazkur huna qadaun syariyun. Famna qada a syara wa amaro.
(04:07) Pertama qada yang dimaksud dalam ayat ini Allah waqadbuka. Allah menetapkan qada. Qada di sini maksudnya ketetapan syar’i. Artinya Allah mensyariatkan atau memerintahkan. Ada qada yang lain. Ada dua jenis qada. Pertama qada syar’i. Yang kedua qada kauni qadari. Kalau qada syar’i, qada itu artinya ketetapan.
(04:50) Syari’i berupa syariat. Itu adalah agama. Ini perintah dan larangan itu disebut qada syar’i berupa syariat. Contohnya dalam ayat ini, waqad rabbuka alla ta’budu illa iyah wabil walidaini ihsana. Allah telah menetapkan qada. Arti telah menetapkan syariat yaitu jangan ibadah kecuali hanya kepada Allah. dan berbuat baik kepada kedua orang tua.
(05:31) Kedua, qada kauni qadari, ketetapan Allah yang Allah terapkan di alam berupa takdir. Takdir juga qada, ketetapan Allah. Contohnya surah al-Isra ayat 4 Allah menyatakan waqadaina ila bani israila fil kitab lufsidunna fil ardhi marratain wala talunna uluwan kabiro waqadaina dan kami telah menetapkan bagi bani israil di dalam kitab bahwa kalian hai Bani Israil tufsidunna ardi marratain.
(06:25) Kalian akan mengadakan kerusakan di muka bumi dua kali. Wala talunna uluwan kabiro. Dan kalian akan bersikap arogan, sombong dengan kesombongan yang tinggi dan besar. Allah sudah tetapkan karakter Bani Israil seperti itu. Dan inilah yang disebut dengan qada qadari berupa takdir. Kalau qada syar’i pasti dicintai oleh Allah. Qada ketetapan Allah berupa syariat itu berisi perintah untuk melakukan yang baik, larangan dari keburukan.
(07:18) Maka semua ketetapan yang berupa syariat pasti baik, pasti dicintai oleh Allah, tapi belum tentu terjadi. Bisa tidak terjadi. Contohnya ini, Allah menetapkan, “Jangan kalian ibadah kecuali kepada Allah dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tuanya. berisi dua hal, tauhid dan birrul walidain. Dua-duanya dicintai oleh Allah, tapi belum tentu terjadi.
(07:55) Buktinya banyak manusia yang tidak ibadah kepada Allah, malah ibadah kepada yang lainnya. Banyak manusia yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Inilah ketetapan syari. Jadi setiap ketetapan syari pasti dicintai oleh Allah tapi belum tentu terjadi. Adapun qada qadari kauni, ketetapan Allah yang berupa takdir belum tentu dicintai oleh Allah tapi pasti terjadi. Takdir Allah itu pasti terjadi.
(08:38) kana waman lam yasya lam yakun semua yang Allah kehendaki. Maksudnya semua yang Allah takdirkan pasti terjadi. Apa yang tidak Allah takdirkan tidak mungkin terjadi. Jadi ketetapan Allah yang qadari, yang kauni yang Allah berlakukan di alam pasti itu terjadi. Tidak mungkin. Tidak.
(09:11) Tapi tidak semua takdir Allah itu dicintai oleh Allah, disukai. Banyak yang dibenci, banyak takdir Allah yang Allah sendiri membenci takdir itu. Contohnya apa? Contohnya kufurnya orang-orang kafir. Kekufuran, perbuatan syirik, perbuatan bidah, perbuatan maksiat itu dibenci oleh Allah, tidak diridai oleh Allah. Tapi itu terjadi.
(09:50) Ada enggak perbuatan syirik? Banyak. Ada enggak perbuatan kufur? Banyak. Ada enggak orang durka? banyak terjadi. Terjadi. Kalau terjadi itu pasti Allah takdirkan. Tapi pasti Allah tidak mencintai. Perbuatan itu, kejadian itu tidak Allah sukai. Loh. Kalau tidak Allah sukai, tidak Allah cintai, kenapa ditetapkan, ditakdirkan? Nah, ada hikmah kebaikan di balik ketetapan takdir yang tidak Allah cintai tersebut. Lahir banyak kebaikan.
(10:36) Kebaikannya enggak bisa lahir tanpa ada keburukan yang Allah takdirkan. Contohnya apa? Apa sih kebaikan yang lahir dari perbuatan syirik, kufur, bidah, maksiat? Pertama lahirnya dakwah. Kenapa ada dakwah? Karena ada yang menyimpang. Karena ada yang durhaka, ada kedurhakaan. Ada amar makruf nahi munkar, ada jihad fisabilillah. Kenapa ada jihad? Karena ada pengingkaran orang-orang kafir, penyerangan orang kafir. Ada syahid. Kenapa ada mati syahid? Ada jihad.
(11:17) termasuk ada kesabaran sebagai ujian bagi manusia. Dan banyak kebaikan lain yang lahir dari keburukan ini. Keburukan sebagai ujian, keburukan sebagai lahan dakwah, amar makruf nahi munkar, jihad, syahid dan seterusnya. Nah, berarti ada takdir yang buruk. Iya. Hadis yang menyatakan wa an tmina bil qodari khairihi wararrihi.
(11:53) Salah satu rukun iman yang enam engkau beriman kepada takdir baik yang baik ataupun yang buruk. Tapi ada tapinya yang dimaksud buruk adalah almaqduru alaih. Apa yang ditakdirkan. Dalam sebuah peristiwa yang buruk ada dua hal. Hal pertama takdir ketetapan Allah dalam menetapkan peristiwa buruk tadi itunya pasti baik. Ketetapan Allah. Kenapa Allah membikin takdir yang buruk? Pasti baik.
(12:36) Kedua, peristiwa keburukan yang terjadi. Nah, ini buruk. Inilah yang dimaksud takdir yang buruk. Maksudnya peristiwa kejadiannya buruk. Kenapa? Karena membuat orang menderita seperti musibah, seperti sakit, seperti di kecurian, seperti dihina. itu buruk itu peristiwanya. Tapi ketetapan Allah dalam menetapkan peristiwa buruk itu baik.
(13:07) Kenapa baik? Dalam dari peristiwa buruk tadi lahir banyak keuntungan. Korban keburukannya dosanya gugur, dapat pahala, doanya dikabul dan seterusnya. Sebagai contoh, sebagai ilustrasi gini. Dokter seringki memberikan keputusan yang membuat pasien menderita. Ketika orang berobat, beberapa tindakan dokter yang membuat pasien menderita banyak.
(13:48) Disuntik sakit, diinfus, sakit pegalnya lebih lama disintik beberapa detik. Jos sudah diinfus kan bisa harian berhari-hari. Kadang harus dioperasi, kadang harus diamputasi membuat pasien menderita. Tapi keputusan dokter untuk nyuntik, untuk nge-infus baik apa buruk? Baik. memang menyakitkan, tapi di balik kesakitan yang dirasakan pasien ada keuntungan, ada kebaikan. Jadi sembuh.
(14:29) Kalau enggak diinfus, nutrisi, obat susah masuk, maka dengan infus bisa masuk dan itu menyembuhkan. Jadi, ada dua hal dalam keputusan dokter ketika nyuntik. pertama suntikannya dan itu merugikan karena membuat sakit. Yang kedua ketetapan dokter ketika menyuntik itu bagus, baik karena ada keuntungan. Nah, manusia aja begitu apalagi Allahu azza wa jalla.
(15:07) Jadi itulah perbedaan antara dua jenis qada. Ada qada syari’ berupa syariat. Ada qada kauni qadari berupa takdir Allahu azza wa jalla. Inilah faedah pertama dari ayat ini. Waqad rabbuka alla ta’budu illa iyah. Jadi qada yang dimaksud di sini qada syari. Kedua, faedah kedua adalah bayanu karamihillahi azza wa jalla fainnahu lama dakaro haqqahu dakaro haqqal makhluq tafadulan minhu azza waalla.
(15:58) Faahu lamma amar bitauhidihi amar bil ihsan ilal walidain wa katirun fin nususi syariah. Ayat ini menjelaskan kedermawanan Allah kepada makhluk. Karena apa? Karena ketika Allah menerangkan hak dirinya langsung Allah ikuti juga dengan hak makhluk. sebagai karunia dari Allah kepada makhluk. Itu bukti baiknya Allah kepada makhluk. Seperti contoh dalam ayat ini.
(16:33) Waqad rbuka alla ta’budu illa iyah. Ini hak Allah. Allah telah menetapkan, “Jangan kalian ibadah kecuali hanya kepada Allah.” Hak tauhid hanya ibadah kepada Allah. Lalu diberikan hak manusia wabil walidaini ihsan. Nah, dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat baik.
(17:01) Nas atau yang seperti ini banyak dalam Quran, dalam hadis Quran contohnya Al-An’am 151. Allah menyatakan, “Qul taala atlu ma harrombukum alaikum alla tusriku bihi wabil walidaini ihsana.” Katakan olehmu hai Muhammad, mari aku bacakan kepada kalian apa yang Allah haramkan kepada kalian. Yaitu jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu dan kepada kedua orang tua hendaklah berbuat baik.
(17:43) Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, “Ala ukhbirukum biakbaril kabair.” Mau enggak aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar? Lalu beliau menjelaskan pertama alisyraqu billah. Yang kedua, wauqul walidain. Wakana muttaqian tumma jalasa faqol ala walqulu zur ala wasyaatuzur. Dosa atau dosa besar terbesar yang pertama syirik kepada Allah.
(18:20) Ini hak Allah. Tidak boleh Allah disekutukan dalam hal ibadah. Kedua, menyakiti kedua orang tua. Ini hak sesama manusia, terutama orang tua. Beliau saat itu berdiri sambil bersandar. Lalu beliau duduk terus bilang, “Yang ketiga, yang ketiga adalah ucapan yang buruk, persaksian palsu. Yang menyakiti orang ini hak sesama manusia.
(18:51) ” Jadi Allah menetapkan aturan demi ketenangan, kenyamanan, kemaslahatan, kebahagiaan manusia. Dan ini bukti perhatian Allahu azza wa jalla kepada makhluk. Allah memerintahkan salat, tapi juga memerintahkan zakat, saum, dan itu ada hak sesama makhluk. Kalau salat hak Allah. Aqimus shah terus waatuzzakah. Dirikan salat, tunaikan zakat.
(19:35) Zakat itu menunaikan hak sesama manusia yang fakir, yang butuh. Dan ini Allah perintahkan. Karena itu ketika seseorang menunaikan hak sesama manusia atas perintah Allah, Allah kasih riwad, Allah kasih balasan, Allah kasih pahala, Allah kasih keridaannya. Karena aksi sosial kita kepada manusia itu melaksanakan perintah Allah. Allah yang perintahkan kita.
(20:09) Selain dikasih riw berupa pahala, Allah juga ngabibita atau memberikan iming-iming balasan setimpal di dunia. Man sataro musliman satarahullah. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan tutup aib dia dunia akhirat. Man nafas anminin qurbatan. Siapa orang yang melepaskan satu kesulitan dari diri seorang mukmin, Allah akan lepaskan dia dari kesulitan dunia akhirat. Sampai di akhir hadis itu, wallahu fiunil amdi kanal am fi auni akhih.
(20:51) Allah selalu menolong hamba-hambanya selama hamba itu suka menolong sesama manusia. Lihat bagaimana respon Allah, sikap Allah kepada orang yang melakukan aksi sosial kebaikan kepada sama manusia. Allah memberi balasan dengan balasan sejenis aljaza min jinsil amal. Kita menolong, Allah akan menolong kita.
(21:21) Kita melepaskan orang lain dari kesulitan, Allah akan melepaskan kita dari kesulitan. Kita tutup aib orang, Allah tutup aib kita dan seterusnya. begitu ya. Inilah faedah yang kedua. Faidah ketiga, anna lita tauhid ruknain. Ayat ini menjelaskan bahwa tauhid memiliki dua rukun. Ayat ini kan berisi tauhid. Alla ta’budu illa iyah.
(21:55) Jangan kalian beribadah kecuali hanya kepada dia. Ini tauhid. Makna tauhid mengesakan Allah dalam hal ibadah. Ibadah hanya ke Allah satu-satunya, enggak ke yang lain. Itu tauhid. Makna tauhid ja’alusai wahidan. Tauhid itu menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya esa.
(22:23) Allah dijadikan satu-satunya sesembahan yang hak itu tauhid. Dan ternyata tauhid itu ada rukunnya. Kalau rukunnya tidak dipenuhi, rusak tauhidnya, runtuh tauhidnya. Seperti rukun Islam ada lima. Satu aja umpama tidak dilakukan runtuh keislamannya. Tuh tauhid ada dua rukun. Wajib dipenuhi dua-duanya. Adapun rukun pertama disebut nafi. Nafi itu meniadakan, menolak, mengingkari. Itu nafi.
(23:05) Dan itu diambil dari kata alla ta’budu. Jangan kalian ibadah. Nafi menafikan enggak boleh ibadah. Toh diambil dari kalimat tauhid la ilaha. Tidak ada ilah, tidak ada sesembahan. nafi ini rukun yang pertama. Rukun yang kedua, isbat. Isbat itu menetapkan apa yang ditetapkan? Allah sebagai satu-satunya ilah. Dan ini diambil dari illa iyahu. Kata Allah, “Alla ta’budu illa iyahu.
(23:47) ” Jangan kalian ibadah kecuali hanya kepadanya. Jangan ibadah nafi. Enggak boleh ibadah kepada apapun, kepada siapapun. Illa iyahu ini isbat. Menetapkan satu-satunya yang diibadati secara benar disebut isbat. Lailaha nafi illallah isbat. Karena itu maka makna lailahaillallah atau makna alla ta’budu illa iyah fala budda an tanfial uluhiyah an girihi wa anbitaha lahu azza waalla wahdah hatta takuna muwahidan.
(24:37) Jadi kalimat lailahaillallah atau alla ta’budu illa iyah mau tidak mau kita harus menolak meniadakan semua sesembahan kepada apapun kepada siapapun lalu menetapkan satu-satunya sembahan yang hak yaitu Allah. Baru ini disebut dengan tauhid. Karena itulah maka tauhid wajib mengingkari penyembahan selain Allah.
(25:13) Siapa yang demikian mengingkari semua sembahan dan tetapkan Allah sebagai satu-satu sembahan, dia telah berpegang teguh kepada tali Allah yang kuat. Allah menyatakan, “Fam yakfur bitagut win billah. faqadistamsaka bil urwatil wq. Siapa orang yang kufur kepada thaut? Thaagut ini kullu ma ubida min dunillah.
(25:44) Segala yang disembah selain Allah itu togut. Wahua rodin dan dia rida disembah. Semua yang disembah selain Allah dan dia rida itu taggut. Seperti zaman baheula mah Firaun gitu. Raja Namrud, raja penguasa di zaman Ashabul Kahfi sampai tujuh pemuda kabur karena tidak mau menyembah sang raja sampai sembunyi di Gua Kahfi.
(26:15) Dan Allah abadikan dalam satu surah khusus surah Al-Kahfi itu thaut semua. Fam yakfur bitagut. Siapa yang kufur kepada thaut? Maknanya sesembahan-sembahan lain diingkari, dinafikan, dikufuri. Wa billah. Dan hanya iman kepada Allah. Faqad istamsaka bil urwatil wusqo. Dia telah berpegang teguh kepada tali Allah yang kuat. Albaghawi menyatakan alurwatul wqo maknanya kalimatut tauhid lailahaillallah.
(26:52) Jadi orang yang sudah kufur kepada takut dan iman kepada Allah, orang itu telah berpegang teguh kepada lailahaillallah sebagai tali terkuat. Lanfisalaha dia tidak akan pernah lepas selamanya. Inilah faedah ketiga. Faedah keempat. Annal istisnaa miyul umum. liluditi lillahi azza waalla lima q illa iyah w yaqtadil ikl azza waalla fi hadil ibadah.
(27:38) Faedah keempat dari ayat ini adalah bahwa huruf istisna, istisna itu pengecualian itu mengkhususkan apa yang tadinya umum. Contoh, jangan kalian ibadah, tidak ada sembahan. Ini kan umum. Lalu ada huruf pengecualian. Pengecualian ini memberi pengkhususan. khusus kepada ini harus gitu loh. Alla takburu jangan kalian ibadah. Ini umum illallah kecuali kepada Allah.
(28:18) Ini pengkhususan satu-satunya yang boleh diibadati secara khusus hanyalah Allah. Ini fungsi istisna. Istisna itu pengecualian tadi. Wah ya ikhlasu azza waalla. Dan ini wadil ikhlas lillahi azza waalla. Ini adalah memberi makna ikhlas. Ikhlas itu murni dalam peribadatan. Ikhlas itu maknanya adalah tidak tercampur dengan peribadatan kepada selain Allah.
(29:03) Dan keikhlasan ini harus diterapkan dalam dua hal ketika beribadah kepada Allah. Kemurnian ini harus diterapkan dalam dua hal ketika beribadah kepada Allah. Hal pertama adalah ibadah itu hanya khusus kepada Allah. Enggak boleh ditujukan kepada yang lain. Rukuk kita, sujud kita, salat kita itu hanya kepada Allah. Enggak boleh ruku, sujud kepada selain Allah.
(29:37) Rukuk kepada matahari, kepada binatang, kepada pohon, kepada malaikat, kepada para nabi, orang-orang yang sudah mati sujud. Enggak boleh. Itu ibadah. Murni, ikhlas. Kedua, keikhlasan kemurnian ini juga wajib diterapkan dalam hal tujuan dari ibadah itu. Tujuannya apa? Hanya memperoleh apa yang ada di sisi Allah. Kadang ada orang rukuknya, sujudnya, ibadahnya kepada Allah, tapi niatnya dibagi dua.
(30:16) Tidak untuk meraih apa yang ada di sisi Allah, tapi meraih juga apa yang ada di sisi manusia. Ingin diberi apresiasi, ingin diberi komen, komentar, ingin diberi penilaian, ingin diberi pujian, sanjungan, likes, jempol kan gitu. K. Jadi tidak ikhlas, tidak murni untuk Allah, tidak murni untuk memperoleh apa yang ada di sisi Allah, tapi juga mengharapkan apa yang ada di sisi manusia.
(30:49) Baik komennya, sanjungan atau bayarannya. Ada enggak orang mau ibadah asal dibayar? Ada. Umpamanya sok saya bacakan Al-Qur’an 30 juz. sajud sajutalah apapun terlepas dari boleh tidaknya secara fikih umpama menghadiahkan pahala bacaan Quran kepada yang mati gitu ya terlepas dari itu ulama ikhtilaf ada yang membolehkan ada yang tidak ahlusunah kita tidak mengingkari itu sama sekali tapi ada ikhtilaf tapi terlepas dari itak orang Saya bacakan 30 juz untuk yang mati tapi dibayar. Ada tim ada yang begitu? Ada.
(31:39) Kalau enggak dibayar mau enggak? Enggak mau. Padahal niatnya mengirimkan pahala bacaan kepada orang yang mati. Tapi dibayar. Ada enggak pahalanya? Kalau dibayar enggak ada pahalanya. Enggak ikhlas karena Allah. Kalau enggak ada pahala, apa yang akan dihadiahkan kepada si mati? Jadi, betapa banyaknya orang melakukan ibadahnya kepada Allah, tapi niatnya untuk dunia, untuk dibayar.
(32:11) Dan ini tidak ikhlas, tidak murni. Padahal wajib, ikhlas wajib murni di dalam beribadah kepada Allah dalam dua hal tadi. Pertama, ibadah itu ditujukan kepada Allah. Kedua, niat ibadah itu memperoleh apa yang ada di sisi Allah. Dapat pahalanya, keridaannya, ampunannya, rahmatnya, cinta kasih sayangnya, dan seterusnya. Ya.
(32:42) Kaidah yang kelima annahuna sigatu hasr waqasr wahiya min a’domi anwail qasr kama hiya indal balagin an nafyu wal istisna la huna nafiah illa adatu istisna waza min ablag asalibil hasr di Dalam kalimat lailahaillallah ada bentuk kata hasr qasr. Hasr itu pengkhususan, qasr itu pembatasan. Dan ini termasuk jenis kalimat pengkhususan yang paling agung dalam ilmu balaghah.
(33:35) Menurut para ahli balaghah, balagah itu sastra Arab. adanya pasangan nafi dan istisna ini termasuk hasr yang paling balagah. Contoh lailaha illallah. Huruf la disebut huruf nafi. Nafi itu yang menidakkan. Lailaha tidak ada illa. Terus di belakang ada illa. Pengecualian illallah. Susunan kalimat seperti ini ada pasangan nafi dan illa istisna balagah.
(34:16) Bisa diungkapkan dengan kalimat lain? Bisa. Umpamanya innamal ilahu huallah. Yang namanya ilah hanyalah Allah. Satu-satunya illah hanya Allah. Bisa aja dengan innama umpamanya. Atau umpamanya Allahu wahidun. Allah itu satu-satunya assa. bisa aja. Tapi dengan ungkapan lailahaillallah ini lebih sempurna, lebih indah juga disebut had min ablagi asal bilil hasr. Ini seindah-indah susunan kalimat yang bermakna hasr.
(34:58) Apa maknanya? Fafihi hasrun lil ubudiyah lahu azza wa jalla. Di dalam kalimat ini terkandung pengkhususan secara sempurna bahwa ibadah hanya boleh ditukan ditujukan kepada Allah, tidak boleh kepada yang lain. Sama dengan yang terdapat dalam surah azzariyat 56. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.
(35:33) Wama ma di sini ma nafi dan tidaklah khalaqtu aku menciptakan al jinna wal insa jin dan manusia terus di akhirnya ada illa illa kecuali liya’budun untuk beribadah kepadaku. Ada pasangan nafi dan illa istisna dan ini kalimat yang sangat ablag paling balaguh paling indah paling mendalam. kandungan maknanya. Itulah faedah yang kelima. Keenam anna ma amarallahu bihi h tauhid fnahu qaddamahu faqal waqbuka all tabudu illa iyah tummaakar ba’daika ibadatan ukhro wahi al ihsan ilal walidain wafil muqobil al amru bisai nahyunidal umuhid nahyun fakunir
(36:43) ma nahallahu anhu. Faidah keenam, ayat ini menjelaskan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid. Perintah untuk mentauhidkan Allah. Makanya diawalkan sebelum birrul walidain, sebelum amal lain, Allah menyatakan waqab rabbuka alla tabudu illa iya. Allah telah menetapkan satu syariat, satu perintah. Jangan kalian ibadah kecuali hanya kepada Allah. Ini dahulukan tauhid ini dahulukan.
(37:22) Baru setelah itu disebut ibadah lain berupa birrul walidain. Dan ada kaidah menyatakan alamru bisyai nahyun aniddih. Memerintahkan sesuatu berarti pula melarang dari hal yang sebaliknya dari yang diperintahkan. Jadi kalau ada perintah tauhid berarti sebaliknya dari tauhid yaitu syirik dilarang keras.
(38:01) Oleh karena itu, perintah mentauhidkan Allah mengandung makna larangan paling keras terhadap syirik. Sehingga syirik merupakan larangan Allah yang paling besar. Perintah yang paling agung adalah perintah tauhid. Larangan yang paling keras adalah larangan berbuat syirik. Karena itulah dosa terbesar pertama syirik. Baru yang kedua uqul walidain.
(38:34) Yang keduanya barulah menyakiti kedua orang tua. Inilah faedah yang keenam dari ayat ini. Kalau ada perintah yang paling agung yaitu tauhid, maka larangan terbesar adalah lawan dari tauhid yaitu syirik. Makanya kalau tauhid bisa memasukkan ke surga, bisa menghapuskan dosa sebanyak apapun, sebanyak buih di lautan, sebanyak seberat tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, maka sebaliknya syirik.
(39:21) Penyebab orang masuk neraka, penyebab tidak diampuninya dosa, penyebab terhapusnya semua kebaikan. Allah menyatakan, “Lain asrakta layahna amaluk.” Kalau kamu berbuat syirik, terhapus tuh semua amal-amal kamu. Terus dosa-dosanya kalau tidak ditobati sampai mati enggak diampuni. Innallaha la yagfiru ayusroka bih wagfiru ma dunaalika lima yasya.
(39:53) Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kalau ke bawa mati. Selain syirik walaupun kebawa mati diampuni. Limay yasya bagi orang-orang tertentu yang Allah kehendaki. Tidak semua orang. Inilah faedah keenam. Faidah ketujuh. Anna kalimata illa iyah tufid annal ibadah la takunu liyi liyi kaini manana. mursal. Ketujuh, faedah ketujuh bahwa kalimat illa iyah tidak boleh ibadah kecuali hanya kepadanya.
(40:41) Maknanya memberi makna ibadah tidak boleh ditujukan kepada apapun, kepada siapapun. sehebat apapun siapapun tersebut atau apapun tersebut, apapun yang hebat umpamanya arasy langit bumi kan ini hebat besar enggak boleh arasy disembah enggak boleh langit bumi disembah apalagi yang lebih kecil seperti matahari bulan, bintang atau makhluk hidup seperti yang hebat siapa? Malaikat tak ada yang lebih hebat daripada para malaikat dalam hal kekuatan, dalam hal ukuran gitu ya.
(41:28) Tapi sehebat itu pun malaikat enggak boleh disembah, enggak boleh diibadati atau dalam hal kemuliaan. Makhluknya kecil tapi sangat mulia. Seperti para nabi termasuk yang paling utama adalah nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Enggak boleh ibadah ditujukan kepada para nabi, baik ketika hidup apalagi setelah matinya.
(41:54) Bahkan yang lebih daripada para nabi seperti para malaikat yang ukurannya besar, yang kekuatannya dahsyat. Enggak boleh penyembahan peribadatan ditujukan kepada mereka. Makanya disebut anal ibadah la takunu liikaini manana la limalakin muqarin wala linabin mursal. Ayat ini memberikan makna bahwa ibadah tidak boleh ditujukan kepada apapun siapapun.
(42:27) Baik malaikat yang dekat ataupun nabi yang diutus. Enggak boleh. apapun bentuk ibadah itu rukuk sujud ke malaikat sujud kepada Nabi, apalagi kepada kuburan Nabi yang sudah wafat itu enggak boleh. Atau berdoa, “Ya, ya Rasulullah beri saya jodoh.” Enggak boleh. Karena doa ibadah. Adua wal ibadah. Nabi tidak bisa memenuhi doa, mengabulkan doa kita.
(43:01) Para malaikat juga begitu umpat kita mengetahui yang ngatur hujan, yang ngatur rezeki malaikat Mikail. Lalu kita minta, “Ya, Mikail turunkan hujan. Ya, Mikail beri saya rezeki.” Enggak boleh. Karena doa ibadah. Kalau minta berdoa kepada malaikat, berarti ibadah kepada malaikat sudah menyimpang dari lailahaillallah, sudah menyimpang dari alla ta’budu illa iyah. Minta kepada Allah, nanti Allah perintahkan Mikail untuk memberi rezeki.
(43:36) Minta kepada Allah untuk menurunkan hujan. Nanti Allah perintahkan Mikail untuk turunkan hujan. Inilah yang ketujuh. Faidah ke-elapan. Annal husna huwal husnus syar’i. Ayat ini juga menjelaskan bahwa al-husna wal husna itu kebaikan. Batasan kebaikanlah baik menurut syar’i, bukan menurut urf atau kebiasaan, bukan menurut akal, bukan juga menurut perasaan.
(44:26) Baik buruknya sesuatu diukur dengan syariat. Bukan ada budaya, kebiasaan, otak, akal, ryu manusia atau perasaan. Karena otak ryu budaya di tempat berbeda dengan di tempat lain kadang-kadang apa bertolak belakang. Umpamanya di kita yang saya tahu di daerah Jawa Barat lah Sunda gitu, jangan coba-coba me apa namanya memegang kepala apalagi jenggotnya dikini itu penghinaan itu.
(45:10) Makanya dalam bahasa Sunda dihina diistilahkan asa dicoo gado. di coo dimain-mainkin dimain-mainkan dago itu eh gado itu ini dagu. Kalau orang menghina kita disebut asa dicogado serasa dagu kita dipermainkan karena itu penghinaan. Tapi kalau di Timur Tengah diambil jenggotnya di di apa namanya? dielus-elus itu uh penghormatan luar biasa lagi marah gitu ambil aja jenggotnya kemudian kita cium tangan yang habis ngelus jenggot itu dia merasa terhormat banget itu bertolak belakang kan di kita kalau ketemu kawan lama
(46:03) lalu kawan lama itu nanya keluarga kita gimana istri orang mana istri teh siapa namanya gitu Kan kita merasa terhina apa terhormat? Terhormat. Oh, istri saya orang anu. Usia sekian namanya anu, sudah punya anak sekian. Jangan coba-coba nanya itu ke orang Arab. Istrinya siapa? Namanya istrinya berapa tahun usianya? Sekarang di mana? Wah, itu penghinaan luar biasa kan.
(46:36) Adat, budaya, kultur, kebiasaan. berbeda bahkan bertolak belakang. Jadi kebenaran enggak boleh diukur dengan kultur, budaya, kebiasaan, adat atau dengan ryu. Menurut seseorang ini dimemuliakan, menurut yang lain serasa dihinakan. Beda. Jadi baik buruknya sesuatu diukur oleh syari.
(47:07) Karena itu ayat yang menyatakan wabil walidaini ihsana hendaklah kedua kepada kedua orang tua berbuat baik. Maksudnya perbuatan baik yang dianggap baik menurut syariat baru itu lakukan. Tapi kalau menurut syariat itu buruk enggak boleh dilakukan. Contohnya umpamanya sampai sujud kepada orang tua sampai kalau kakinya kotor dicuci lalu air cuciannya di apa? Diminum.
(47:50) Itu perbuatan baik kepada orang tua mungkin menurut adat, menurut kultur, tapi menurut syariat enggak boleh. Walaupun sujudnya ke orang tua bukan sujud menyembah, beribadah, tapi hormat. Zaman baheula boleh. Zaman dulu para malaikat oleh Allah disujud kepada Adam dalam rangka menghormat. Syariat zaman itu boleh. Nabi Yaakub duduk di kursi. Yusuf dan saudara-saudaranya sujud menghormat.
(48:19) Yusuf duduk di kursi saudara-saudaranya sujud. Waktu itu boleh. Syariat zaman baheula boleh. Asal niatnya hormat bukan ibadah. Tapi di zaman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam menghormat dengan cara sujud enggak boleh. Kata Nabi alaihiatu wasalam, “Lau kuntu amiron ahadan liyasjuda liahadin laartul marata litasjuda lizaujiha liqihi alaiha.
(48:55) ” Kalau aku boleh menyuruh orang untuk sujud ke orang lain, aku perintahkan para istri untuk sujud ke suami. Saking besarnya, agungnya hak suami atas istrinya kalau boleh. Tapi karena enggak boleh ya enggak perintahkan. Nah, boleh istri sujud ke suami walaupun dalam rangka menghormat. Enggak boleh anak sujud ke orang tua walaupun dalam rangka menghormat.
(49:20) Enggak boleh murid sujud ke gurunya walaupun dalam rangka menghormat. Siapa orang yang sujud kepada orang lain dalam rangka ibadah, dalam rangka menyembah, musyrik dia. Siapa orang yang sujud kepada orang lain dalam rangka menghormat, tidak musyrik, tapi maksiat karena melanggar larangan Rasul sallallahu alaihi wasallam. Demikian juga tidak dikatakan berbuat baik ke orang tua kalau menuruti perintah orang tua yang salah, yang keliru.
(49:55) Orang tua bilang ke anaknya yang wanita, “Jangan tutup itu wajah dan rambutmu. Kamu cantik, rambutmu indah, nanti lelaki enggak ada yang melirik kamu. Buka, buka buka.” diperintah diturut jangan jangan itu perintah yang buruk mengikutinya adalah buruk jadi wabil walidani ihsana kepada orang tua berbuat baiklah maksudnya baik menurut syariat berkata Rasul sallallahu alaihi wasallam innama taatu fil maruf ketaatan hanya diboleh dilakukan dalam hal kebaikan laata limakluqin Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khaliq.
(50:47) Makanya Allah menyatakan wain jahaka anusrika bi maaisa bihi ilmun falauma washibhuma fid dunya marufah. Kalau kedua orang tuamu mengajakku untuk menyekutukan aku dengan sesuatu yang kamu enggak tahu ilmunya, fala tutihum. Jangan kamu taati orang tuamu. Nah, boleh ditiruti karena memerintahkan kepada keburukan.
(51:17) Mengikuti perintah orang tua yang buruk bukanlah birrul walidain. Bukan perbuatan baik ke orang tua, bukan. Tapi wasohibhuma fid dunya ma’rufah. perlakukan kedua orang tuanya dengan sebaik-baik perlakuan ketika di dunia. Kalau memerintahkan keburukan, menolaknya dengan sebaik-baik cara. Enggak boleh dengan cara kasar, keras, menyinggung.
(51:43) Dasar bapak, dasar mama enggak pernah belajar bodoh. Jadi aja menyuruh saya berbuat buruk. Ah, itu dosa. Dosanya bukan karena menolaknya, tapi cara menolaknya yang kasar, yang menyinggung. Inilah faedah yang ke-elapan. Jadi, baik buruknya sesuatu diukur oleh apa? Syariat. Bukan adat, bukan ryu juga bukan perasaan manusia.
(52:19) Faidah yang kesembilan ini kita akan jelaskannya Jumat yang akan datang karena panjang menyangkut tentang syarat-syarat lailahaillallah. Jadi selain ada dua rukun lailahaillallah yang wajib untuk diperhatikan, ada juga syarat. Ada tujuh syarat yang harus dipenuhi dalam kalimat lailahaillallah. Satu di antara syaratnya tidak dipenuhi, enggak sah.
(52:49) Tuh, gugur tuh. Kan syarat maknanya begitu ya. Kalau kita ngelamar kerja syaratnya apa? Ada ijazah. Ijazahnya asli, jangan palsu. Ijazah keluaran universitas bukan beli. Ada SKCK, SKCK ada surat keterangan dokternya ada apalagilah.
(53:19) Itu syarat satu syaratnya enggak dipenuhi bisa ditolak ya enggak pekerjaannya kalau jujur kalau benar gitu. Itu dalam urusan dunia apalagi dalam urusan agama apalagi dalam masalah tauhid lailahaillallah ada syarat yang wajib dipenuhi. Apa syarat itu? Insyaallah kita akan bahas di pertemuan yang akan datang. Sekarang cukup sampai di sini dulu dan kita masih punya sisa waktu untuk bertanya jawab khusus hari Jumat khusus untuk pendengar dan pendengar e dan pemirsa radio dan TV Raja yang akan dipandu oleh akh Ari di studio radio Raja. Silengsi dipersilakan.
(53:59) Wasallallahu ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabi wasallam. Silakan. Nam ustaz. Barakallah fikum. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas kesediaan ustaz untuk menyampaikan pelajaran bimbingan yang bermanfaat di kesempatan sore hari ini.
(54:18) Kita memohon taufik serta hidayah dan kemudahan dari Allah untuk bisa memahami pelajaran ini dan berusaha untuk mengamalkan faedah-faedah yang telah beliau sampaikan. Selanjutnya kami akan bacakan beberapa pesan singkat yang telah masuk dari Ibnu Yusuf di Kota Tangerang bertanya sebagai berikut. Mohon pencerahannya, Ustaz. Apakah termasuk penyembah togut apabila kita menunda ibadah salat karena adanya perintah atasan yang bertepatan dengan datangnya waktu salat dan kemungkinan pelaksanaan perintah atasan melewati waktu salat yang harusnya kita kerjakan. Syukran. Wabarakallahu fikum. Ustaz silakan.
(54:59) Tib. Barakallahu fik. Pas mau salat sudah azan. atasan kita menyuruh melakukan pekerjaan lalu ditaati, dikerjakan sehingga salatnya terlambat bahkan sampai habis waktu salat. Apakah itu sama dengan menyembah thaghut? Apakah atasan kita thaut? Bukan. Thaagut itu ada lima maknanya. Selain tadi segala sesuatu yang disembah selain Allah, ada lagi togut dengan makna iblis, setan. Ada togut dengan makna dukun, tukang sihir, tukang ramal.
(55:47) Ada togut dalam arti hakim yang menetapkan hukuman dengan hukum yang tidak Allah turunkan. Macam-macam. Adapun kalau ada orang memerintahkan keburukan kepada kita, dia bukan thagut. Dalam arti yang salah satu di antara yang lima, apalagi dia sesuatu yang disembah selain Allah dan dia rida. Enggak.
(56:18) Cuma ada cumanya kalau atasan tahu bahwa bawahannya itu mengikuti perintahnya berakibat meninggalkan salat, dia ikut dosa. Tapi kalau dia umpamanya kerjakan anu, tapi bebas waktunya kapan saja. Tapi kitanya yang diperintah justru langsung sampai meninggalkan salat kitanya yang dosa. Apalagi si bos kita mengatakan, “Kamu salat dulu setelah salat baru kerjakan.
(56:52) ” Nah, ternyata kita ah ingin terburu-buru beres. Akhirnya dikerjakan dulu, salatnya tertinggal. kitanya yang dosa, bosnya tidak berdosa. Jadi kalau umpamanya kita diperintahkan oleh orang, lalu ketika melaksanakan sampai mengabaikan hak Allah, maka kita dosa. Tapi apakah kita dianggap menyembah thaghut? Bukan. Tapi disebut mengabaikan perintah Allahu azza wa jalla atau lebih mendahulukan taat kepada sesama manusia.
(57:30) Mengabaikan ketaatan kepada Allah dan itu dosa besar. Apakah syirik? Kalau syiriknya syirik besar tidak. Apakah syirik kecil? Ya. Imam Ibnu Qayyim menyatakan seluruh dosa adalah syirik kecil. Karena setiap dosa berarti lebih mendahulukan ketaatan kepada makhluk daripada ketaatan kepada Allah. Dan itu termasuk syirik kecil.
(57:56) Pelakunya tidak murtad, tidak keluar dari Islam. Pelakunya tetap muslim, tapi muslim yang berdosa besar. Wallahuam. Silakan lagi Ari Tib. Ustaz, barakallah fikum. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas jawaban dan nasihat yang sangat bermanfaat yang telah disampaikan. Berikut ini kami bacakan kembali pertanyaan yang telah masuk dari pesan singkat di kesempatan sore hari ini.
(58:23) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz izin bertanya. Kita kan harus saling mencintai sesama muslim. Nah, jika ada yang sangat zalim terhadap diri kita, haruskah kita sebagai orang yang dizalimin, membalas dengan level cinta? Enggak bolehkah membenci orang yang zalim tersebut? Dari hamba Allah di Purwakarta. Silakan, Ustaz. Tib. Barakallahu fik.
(59:00) Hamba Allah di Purwakarta. Ya, kita wajib mencintai sesama muslim. Tapi ada muslim yang jahat kepada kita, apakah tetap wajib kita cintai ataukah tidak? Iya. Tetap wajib kita cintai sesuai dengan kadar keislaman dan keimanan yang ada pada dirinya dan membenci kemaksiatan, kezaliman sesuai dengan kadar kezaliman yang ada pada dirinya.
(59:41) Boleh enggak kita bagaimana cara menunjukkan benci dan cintanya? Ada tiga opsi yang Allah berikan. kepada kita. Bila kita dizalimi, opsi pertama boleh kita membalas. Famanada alaikum faadau alai bimli maada alaikum. Siapa orang yang berbuat aniaya, zalim, jahat kepadamu, balas dengan kadar kezaliman yang setara. Dibolehkan membalas, dibolehkan.
(1:00:18) Ini ayat ini yang pertama. Poin yang pertama. Tapi ini bukanlah yang terbaik. Poin yang kedua adalah memaafkan. Allah menyatakan dalam beberapa ayat di antaranya khudil afwa wamur bil urfi wa a’rid anil jahilin. Jadilah kamu pemaaf. Perintahkan orang lain untuk berbuat baik dan waid anil jahil. Berpaling dari orang bodoh. Jangan dilayani.
(1:00:58) Karena orang yang zalim dia melakukan kebodohan ketika dia sedang berbuat zalim. Jangan dil berpaling dari orang yang bodoh. Ini disebut cara menghadapi setan manusia. Karena ayat itu surah surah Ala’raf 187, 188, 189. Ini petunjuk Allah menghadapi dua jenis setan. Setan bangsa manusia dan setan bangsa jin. Setan bangsa manusia khuzil afwa. Jadilah memaaf-maafkan. bilfi jahirin.
(1:01:33) Maafkan perintahkan berbuat baik, berpaling dari orang bodoh. Nah, ayat berikutnya baru setan dari kalangan bangsa zin. Katalah, “Faimma yanzagonnaka minasyaitani nazun fastaid billah.” Kalau kamu dikenai oleh salah satu godaan setan dari bangsa jin, minta perlindungan kepada Allah. Jadi yang pertama kalau ada orang berbuat jahat boleh dibalas dengan yang setimpal tapi itu bukan yang terbaik. Kedua, yang lebih baik maafkan.
(1:02:11) Apa makna maafkan? Makna memaafkan tidak memberi balasan walaupun kita mampu membalas. Kalau bisa, kalau mau kita bisa balas, tapi tidak. Itu namanya memaafkan walaupun hati mangkel, kesal. Iya. Karena itu kalau umpamanya ada orang kita berbuat salah kepada dia, kita sudah minta maaf, dia sudah minta sudah memaafkan, tapi dia tetap kesal ke kita. Kita jangan protes. Katanya memaafkan tapi cepat kesal, tapi tetap kesal. Itulah memaafkan.
(1:02:52) Memaafkan itu tidak membalas. Padahal mampu membalas kalau dia mau. Tapi hati kesar masih cemprut. Iya itu masih memaafkan. Tidak dibalas juga sudah untung dia. Ya. Dan inilah karakter orang-orang yang bertakwa. Allah menyatakan walina aninas wallahu yuhibbul muhsinin. Allah menyatakan ee ketika menjelaskan apa? Orang bertakwa walibinal gid walinainas wallahu yuhibbul musuhin.
(1:03:31) Orang bertakwa orang yang mampu menahan amarah. Jadi orang zalim dia tahan amarah tidak membalas. Walina aninas memaafkan. Kalau mau dibalas bisa tapi enggak. Wallahu yuhibbul musinna. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Inilah opsi kedua. memaafkan dalam arti tidak membalas walaupun hati masih kesal, masih mangkel, masih cemberut kepada dia.
(1:04:03) Nah, yang ketiga ini ini yang terbaik membalas kejahatan dengan kebaikan. Itu yang Allah perintahkan dalam Al-Qur’an. Idfa billati hiya ahsan faidalladzi bainakainahuah kaahu waliun hamim. Balas keburukan itu dengan kebaikan. Maka orang yang antara kamu dengan dia tadinya ada permusuhan bisa berubah menjadi kawan yang dekat. Dia jahat kita balas dengan kebaikan, malu sendiri dia.
(1:04:36) Akhirnya minta maaf, akhirnya berbuat baik, akrab, dekat, bersahabat. Tapi kata Allah, “Wama yulaqqoha illalladinbaru w yulaqoha illa du hadin adim.” ini enggak bisa dilakukan kecuali orang-orang yang sabar. Tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang akan memperoleh balasan yang sangat agung.
(1:05:03) Dan ini yang terbaik membalas keburukan dengan kebaikan. Jadi tiga-tiganya dibolehkan dengan level kebaikan yang berbeda. Pertama boleh membalas dengan kadar yang sama. Yang kedua, memaafkan dalam arti tidak membalas walaupun kita mampu. Dan yang ketiga, membalas keburukan dengan kebaikan. Dan inilah yang terbaik. Ini pun kalau di dalamnya ada maslahat.
(1:05:35) Maslahatnya apa? Dia berubah menjadi baik. Dia berubah menjadi dekat, tidak lagi memusuhi. dia malu gitu baru. Adapun kalau memberi maaf tidak maslahat atau membalas keburukan dengan kebaikan malah menimbulkan madarat, maka tidak boleh memberi maaf, tidak boleh membalas keburukan dengan kebaikan karena tidak adanya maslahat.
(1:06:12) Makanya para ulama menyatakan memberi maaf adalah sunah meraih maslahat wajib. Allah menyatakan faman ufiya wa aslaha. Siapa yang memaafkan dan maslahat memaafkan itu dibatasi dengan adanya maslahat. Kalau memberi maaf maslahat maafkan. Kalau tidak maslahat malah madarat jangan dimaafkan. Contoh umpamanya ada orang anak muda bawa motor, mau mobil zigzag gitu, show of apa yang diangkat gitu standing apa ngebut akhirnya jedak nyenggol-nyenggol mobil kita kena. Jangan dimaafkan yang kayak gitu.
(1:06:59) Karena memaafkannya tidak maslahat. Dia nanti berbuat lagi. Saya mah banyak nyinggung mobil orang, nyenggol mobil orang, nabrak. Enggak pernah ada yang menuntut. Akhirnya tidak berubah dia gitu-gitu terus. Maka madarat. Nah, boleh dimaafkan kalau madarat. Tapi tuntut dia gunti rugi lapor polisi kalau bisa dipidanakan-pidanakan minimal perdatanya suruh ganti nanti dia kapok tidak memaafkan membuat dia kapok uang keluar banyak dia ditahan di polisi oleh orang tuanya juga dimarahi nanti dia berubah kapok maka maslahat tapi kalau dimaafkan, sudah dimaafkan
(1:07:43) enggak apa-apa ini musibah. Betul musibah. Tapi tidak berarti orang yang bersalah dalam musibah itu boleh dibiarkan bebas. Tidak ada hukuman. Kita dirampok, kita dibunuh, dipukul, musibah bukan musibah. Takdir, bukan takdir. Tapi jangan sampai ini kan musibah. Siapa yang ingin udah dimaafkan. Enggak.
(1:08:11) Pencurinya, perampoknya tuntut di muka hukum biar dia kapok. Biar dia berubah, biar melahirkan maslahat bagi orang. Orang jadi aman, tidak terkena kejahatan dia setelah dia dihukum. Jadi memaafkan disyaratkan kalau itu maslahat. Adapun kalau orang jegbrak kita terus dia merasa-berasa adus maaf ya tadi saya rada ngelamun. Maaf maaf, maaf. Nah itu maslahat.
(1:08:40) Kemudian berubah nanti di akhir hati-hati bagus maafkan. tidak perlu dituntut. Tapi kalau jei dia malah menyalahkan kita bahkan padahal dia yang salah arogan gitu ya, maka tuntut dia. Jangan dimaafkan. Memberi maafnya tidak maslahat. Tuntut agar lahir maslahat bagi manusia pada umumnya. Wallahuam bisawab. Silakan lagi Ari. Nah, Ustaz jazakallahu khairan.
(1:09:15) Terima kasih atas jawaban dan nasihat yang bermanfaat yang telah disampaikan. Selanjutnya kami bacakan kembali dari pesan singkat yang telah masuk saudara kita, saudari kita Hana di Pamulang, Tangerang Selatan. Asalamualaikum, Ustaz. Izin bertanya. Bagaimana cara menjelaskan kepada anak-anak kita khususnya yang masih umur 6 tahun ketika dia bertanya, “Allah ada di mana, Ibu? bahwa Allah ada di atas ars.
(1:09:44) Bagaimana cara menjelaskan agar hal ini bisa dipahami dan masuk di akal mereka? Silakan, Ustaz. Tib. Barakallahu fik. Iya. Jelaskan saja sebatas yang bisa dipahami. Allah di mana? Di atas langit. Langitnya mana? Kelihatan enggak? Itu yang kelihatan langit terdekat. Di atas langit itu ada langit-langit sampai tujuh. Di atas langit ketujuh ada air.
(1:10:14) Di atas air ada kursi Allah. Di atas kursi Allah ada air lagi. Di atas air itu ada arsy Allah. Di atas arasy tidak ada makhluk apapun. Allah istiwa di atas arasy dengan cara istiwa yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah azza waalla. Jangan dipahami seperti istiwanya makhluk. Kalau begitu Allah butuh tempat berarti salah pemahaman itu.
(1:10:49) Kalau gitu arsynya lebih besar berarti salah pemahaman itu. Tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan sifat Allahu azza waalla. Berarti keliru pemahaman istiwanya Allah di atas aras kalau begitu. Bukan. Jadi enggak apa-apa menjelaskan dengan penjelasan yang seperti tadi, Nak. Lihat ada langit. Ada itu langit terdekat. Di atas langit itu nanti ada air. Kita enggak bisa lihat. Di atas lagi ada langit.
(1:11:19) Terus nanti paling atas banget ada arsy. Allahu azza wa jalla itu sudah tertanam sejak kecil. Mau paham mau tidak, begitulah bayangan dia sesuai dengan keyakinan yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadis yang sahih. Aamintum man fisama? Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang ada di atas langit? Ketika seorang sahabat membebaskan hamba sahaya, dia minta bantuan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(1:12:00) oleh Nabi dites ainallah di mana Allah dijawab fisama di atas langit wanaman ana lalu aku siapa dia menjawab anta rasulullah engkau rasulullah beliau menyatakan atik fainnaha mukminah bebaskan dia karena dia seorang mukmin salah satu tesnya di mana Allah di atas langit orang semua memahami makna Allah ada di atas langit Iya. Memahami dan itu adalah akidah yang sesuai dengan Quran, sesuai dengan sunah, sesuai dengan penjelasan para sahabat dan para ulama ahlusunah. Wallahuam bisawab.
(1:12:41) Terakhir Ari ya. Silakan. Tib ustaz. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas jawabannya. Dan berikut ini kami berikan kesempatan bagi Anda yang ingin secara langsung bertanya via telepon. kami tunggu di layanan telepon 0218236543. Silakan. Halo. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:13:08) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan Bapak siapa? Di mana? Saya Ambrullah Yunaldi. Diubungagam, Sumatera Barat. Iya, silakan Pak Yuni. Ee kita ini khususnya manusia kan sudah ditentukan takdir kita. Apakah Allah tuh pengasih penyayang? Apakah manusia itu ada yang ditakdirkan masuk neraka atau tidak? Nah, takdir buruk. Sudah.
(1:13:40) Nah, mungkin itu pertama ee yang saya tanyakan. Terima kasih, Pak atas pertanyaannya. Ditunggu nasihat dan jawaban dari Ustaz. Silakan, Ustaz. Bisa dipahami pertanyaannya. Tib. Barakallah fik. Adakah manusia yang ditakdirkan ke surga dan ke neraka? Semua manusia ditakdirkan ke surga atau ke neraka? Berkata Rasul sallallahu alaihi wasallam, “Innallaha khalaqal jannata waalaqo laha ahlaha faqol fala ubali walaqanar walaqo laha ahlaha faqala la ubalig.
(1:14:21) ” Allah menciptakan surga dan menciptakan calon-calon penghuni surga. Lalu Allah berkata, “Aku enggak peduli.” Allah ciptakan neraka dan Allah ciptakan calon calon ahli neraka. Lalu Allah mengatakan, “Aku enggak peduli.” Jadi ke surga ke nerakanya seorang iya takdir. Betul itu.
(1:14:52) Pertama wajib kita yakini kalau kita ke surga atau seseorang ke neraka takdir Allah. Iya. Itu pertama. Kedua, wajib diyakini semua takdir Allah itu adil, bisa dipertanggungjawabkan. Kalau Allah mentakdirkan seseorang ke neraka pasti karena keadilan Allah, bukan karena kesewenang-wenangan Allah. Itu yang kedua. Ketiga, tidaklah Allah mentakdirkan sesuatu kecuali Allah takdirkan juga sebab-sebab dari sesuatu itu.
(1:15:35) Contoh, kalau Allah seseorang punya anak, pasti Allah takdirkan dia nikah dengan pasangan yang subur, yang tidak mandul. Karena nikah menjadi penyebab orang punya anak. Kalau Allah mentakdirkan seorang kenyang, pasti Allah takdirkan dia makan. Karena makan menjadi penyebab orang kenyang.
(1:16:07) Tidak mungkin ada yang mengatakan, “Saya mah kalau ditakdirkan punya anak, walaupun enggak nikah bakal punya anak.” Enggak mungkin. Karena takdir berkaitan dengan sebab. Sebab termasuk bagian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla. Termasuk kalau seseorang Allah takdirkan ke surga atau ke neraka, pasti Allah takdirkan dia iman atau durhaka.
(1:16:34) Kalau orang ditakdirkan ke neraka, pasti dia ditakdirkan durhaka selama di dunianya. Ya, mungkin ada orang ditakdirkan ke surga, tapi selama di dunia durhaka, kafir, menantang perintah Allah, mengabaikan larangan Allah gitu ya. Akhirnya ke surga mustahil. Karena antara takdir dengan sebabnya tidak sinkron. Sama dengan orang tidak pernah makan, tidak pernah minum, tapi kenyang terus. Mustahil.
(1:17:08) Jadi kalau seorang ditakdirkan ke neraka, pasti dia ditakdirkan durhaka ketika di dunianya. Kalau seorang ditakdirkan ke surga, pasti dia ditakdirkan beriman dan beramal saleh ketika di dunianya. Sampai sini paham kan? Tib kita lanjut. Kalau seseorang ditakdirkan beriman dan beramal saleh, itu pasti dia ditakdirkan berilmu. Karena iman dan amal saleh lahir dari ilmu. Allah mudahkan dia untuk belajar.
(1:17:49) Waktunya diberi semangat, diberi hidayah untuk belajar. Lalu paham. Setelah paham diyakini, diamalkan. Jadilah dia iman dan amal saleh. Adapun orang yang ditakdirkan durhaka, Allah takdirkan dia dijauhkan dari majelis ilmu, disibukkan dengan urusan duniawi, enggak mau belajar, enggak paham agama, enggak dapat hidayah, akhirnya mengabaikan agama.
(1:18:19) Larangan dilanggar, perintah diabaikan. Bodoh tentang agama. Kebodohan pokok pangkal, semua keburukan. Tidaklah orang kafir kecuali dia bodoh. Tidaklah orang berbuat syirik kecuali dia bodoh. Tidaklah orang terjerumus dalam bidah, ke dalam dosa, maksiat kecuali karena kebodohan. Kebodohan pokok pangkal dari semua keburukan. Kenapa dia bodoh? Karena tidak belajar.
(1:18:47) Nah, itu kesalahan dia. Ya. Terus sampai di sini paham kan? Kenapa orang beriman dan beramal saleh? Karena belajar agama. Kenapa orang durhaka? Karena bodoh tentang agama. Nah, sekarang kenapa orang bisa belajar agama? Karena dia memiliki tujuan ingin bahagia di akhirat. Hatinya ini nih. Saya enggak ingin bahagia dunia tapi di akhirat celaka.
(1:19:21) Makanya saya harus paham agama, belajar agama. Makanya semangat dia. Ini yang diapresiasi. Adapun orang tadi, saya mah yang penting mah senang weh di dunia akhiratnya gimana nanti. Makanya saya belajar ilmu dunia, urusan agama saya tidak peduli. Nah, itu tuh. Jadi itu yang menjadi alasan kenapa Allah menyesatkan dia.
(1:19:49) Kalau ada orang sesat, Allah yang menyesatkannya. Kalau ada orang dapat hidayah, Allah yang beri hidayah. Kata Allah dalam Al-Qur’an, “May yahdihillah fala mudillallah wam yudlil fala hadilah.” Siapa orang diberi hidayah oleh Allah, enggak akan ada yang bisa menyesatkan. Siapa orang yang disesatkan disesatkan oleh Allah bukan sesat sendiri, disesatkan. Tidak ada orang yang bisa memberikan hidayah.
(1:20:15) Kenapa dia disesatkan oleh Allah? Pasti ada sebab. Sebab apa? Sebabnya adalah kesalahan dosa awal yang dia lakukan. Tidaklah Allah menyesatkan orang yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an kecuali ada sebab. Contoh dalam Al dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
(1:20:45) Rasul sallallahu alaihi wasallam menyatakan iyakum wal kadiba fainnal kadiba yahdi ilal fujur wal fujuro yahdianar. Jauhi oleh kalian dusta. Karena dusta itu menyeret pelakunya kepada fujur. Fujur itu durhaka. Fujur itu bisa berarti melanggar larangan meninggalkan perintah atau berhenti dari ketaatan. Tadinya dia taat, tapi karena berdusta Allah cabut hidayah ketaatannya. Ini hukuman.
(1:21:18) Lalu Allah campakkan keinginan untuk berbuat dosa yang lain yang sebelumnya tidak dia kerjakan. Umpaya dia tidak pernah gibah. Kalau ada majelis gibah dia jauhi. Suatu saat dia berdusta. Apa akibatnya? Allah berikan keberanian kepada dia untuk bergibah. Keinginan untuk gibah itu hukuman atas dusta yang dia lakukan. Jadi kalau Allah menyesatkan seseorang pasti itu karena hukuman atas kesalahan sebelumnya.
(1:21:46) Maka yang wajib kita lakukan cepat tobat supaya dihapus nanti Allah kasih hidayah lagi kembalikan lagi hidayah itu kepada kita. Jangankan Allah atuh ya manusia aja guru di sekolah banyak murid beragam ada yang dikasih nilai 2 3 ada yang 10 ada yang 9 ada yang naik ada yang tidak ada yang lurus ada yang tidak itu tergantung apa tergantung muridnya serajin apa, seperhatian apa, sebaik apa, sepintar apa.
(1:22:25) itu kalau guru memberikan nilai buruk bukan karena zalim. Itu pasti hukuman atas kemalasan muridnya. Kalau guru memberikan nilai 10 itu bukan karena kasih sayang atau apa ee sikap subjektivitas guru, tapi pasti berdasarkan prestasi kebaikan dan kepintaran si anak. Manusia itu gitu, Bos.
(1:22:52) sebuah perusahaan di kalangan karyawannya ada yang discor di SP, ada yang dipecat, ada yang dilaporkan ke polisi, ada juga yang diberikan promosi naik jabatan, pangkat, fasilitas dan seterusnya. Bos, orang apakah karena zalim? Oh, ini mah karena dibenci akhirnya di SP. Apa begitu? Bukan. Pasti karena kesalahan dia.
(1:23:18) Karena salah di SP, karena salah ditegur, karena salah dipecat, karena salah kejahatan, korupsi, maling dilaporkan polisi. Yang ini, oh karena prestasinya bagus, disiplinnya bagus, dapat promosi. itu orang kan orang memberi promosi, memberi fee, memberi bonus, menaikkan jabatannya itu karena prestasi dan orang memberi hukuman, memberi SP, memecat itu karena kesalahan itu orang adil kan? Allah lebih adil lagi daripada itu.
(1:23:50) “Tidaklah Allah menyesatkan seorang kecuali pasti karena sebagai hukuman atas kesalahan orang tersebut. Tahu enggak kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, kalau kita tidak khusyuk dalam salat, jangan ada anggapan kitalah yang tidak khusyuk kepada Allah, tapi Allah mencabut kekhusyuan itu dari diri kita. Karena apa? Karena kelalaian kita, karena dosa, karena maksiat yang kita lakukan di luar salat.
(1:24:20) terlalu duniawi oriented, mengabaikan perintah, melanggar larangan, maka hatinya pasti dikondisikan buruk oleh Allah. Dalam kondisi sudah berdosa, sudah bermaksiat, kondisi hatinya buruk, masuk salat, bagaimana bisa khusyuk? Jadi kalau kamu berdusta ee berdosa kepada Allah, jangan ada anggapan Allah mencabut nikmat dalam bentuk kesehatan, dalam bentuk rezeki, dalam bentuk yang lain-lain.
(1:24:57) Tapi yang Allah cabutlah nikmat salat, kekhusyuan dalam salat, keikhlasan, dan seterusnya. Jadi kita bisa melihat keadilan Allah di dalam takdirnya. Termasuk mentakdirkan seseorang durhaka itu pasti karena hukuman atas dosa-dosa yang dia lakukan. Kalau Allah memberikan hidayah pasti karena prestasi ibadah atau amal saleh yang dia lakukan. Coba lihat kata Allah waquulu qulan sadida yuslih lakum a’alakum.
(1:25:27) Katakan olehmu perkataan yang baik, Allah akan mensalehkan amalmu. Kata Imam Ibnu Katsir, “Yuwafi lilali shih.” Allah akan beri hidayah taufik untuk beramal saleh. Kalau kamu berkata yang bagus, berkata bagus untuk baca Quran, zikir, amar makruf nahi munkar, belajar, mengajarkan ilmu, itu perkataan yang bagus.
(1:25:51) Siapa yang berkata yang baik? Allah kasih hidayah untuk melakukan amal saleh. Jadi Allah beri hidayah sebagai balasan atas kebaikan dia. Alaikum bisidqi fainnasidqo yahdi ilal bir wal birro yahdi ilal jannah. Wajib kamu jujur. Karena jujur menyeret atau menarik pelakunya kepada perbuatan bir. Bir itu baik. Karena jujur tiba-tiba ingin infak, ingin sedekah. Karena jujur tiba-tiba ingin menolong orang. Karena jujur tiba-tiba ingin baca Al-Qur’an.
(1:26:24) Itu hidayah, reward. Itu balasan kontan kepada orang yang berbuat baik. Ya. Jadi lihat Allah memberikan hidayah atau mencabut hidayah dari seorang sebagai balasan atas perbuatan dia. Yang baik dibalas kebaikan, diberi hidayah. yang buruk dibalas keburukan dengan dicabutnya hidayah itu.
(1:26:51) Itu yang kemudian berujung ke surga atau ke nerakanya. Semua tidak bisa lepas dari keadilan Allah dalam setiap takdirnya. Ya, cukup sampai di sini saja. Insyaallah nanti kita akan bahas lagi dalam perkara takdir tentang masal ini lebih detail dan lebih mendalam. Wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wasallam. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:27:17) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallahu khairan wabarakallahu fikum kepada Ustaz Abu Haidar Assunawi hafidahullahu taala yang telah berkenan untuk menyampaikan pembahasan yang bermanfaat di kesempatan sore hari ini. Semoga menjadi tambahan ilmu untuk kita semuanya dan Allah berkahi ilmu tersebut menjadi wasilah untuk meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah subhanahu wa taala. Jazakumullahu khairan atas kebersamaan antum semuanya.
(1:27:43) Sahabat Raja di mana pun Anda berada. Kami yang bertugas mohon pamit unyur diri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *