(4) [Live]: Ustadz Ahmad Zainudin, Lc | Kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid – YouTube
Transcript:
(00:00) Jadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(00:59) Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhwat al islamakumullah. Sahabat raja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan hari ini di hari Rabu kita akan simak bersama kembali kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pembahasan rutin pembahasan kitab Fathul Majid syarah kitabut tauhid disampaikan oleh Al Ustaz Ahmad Zainuddin Albanjari hafidahullahu taala. Alhamdulillah kami sudah terkoneksi dengan beliau yang berada di
(01:30) ee Banjarmasin dan mudah-mudahan konekmasi kami lancar hingga akhir nanti. Dan seperti biasa setelah materi kami akan sediakan sesi tanya jawab. Bagi Anda yang ingin bertanya, silakan bisa mengirimkan pertanyaan baik melalui layanan pesan WhatsApp ataupun Anda bisa menghubungi kami secara langsung di nomor 0218236543.
(01:51) Baik, kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada al ustaz kami persilakan. F tafadol masykur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wasiati a’alina fala mudillalah waman yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilaha wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ya ayyuhalladzina amanut Quah haqq tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun.
(02:46) Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha wsa minhuma rijalan katsir waisaa. Wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham. Innallahaana alaikum raqiba. Ya ayyuhalladzina amanutaqulah waquulu quadida yuslah lakum aalakumagfir lakum dzunubakum willahaasulahu faqad faza fauzanima.
(03:27) kitabullah waanal had muhammadin shallallahu alaihi waa alihi wasallamar umuri muhdatuha waulla muhdatin bidah waulla bidatin dolalah wa kulla dolalatin finar. Alhamdulillah kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa taala pada hari ini hari Rabu pagi 29 Rabiul Akhir 1447 Hijriah bertepatan dengan 22 Oktober 2025.
(04:08) kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk duduk bersama mengkaji kembali kitab Fathul Majid syarhu kitab tauhid yang ditulis oleh Fadilat Syekh al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alus Syikh rahimahullah. Selawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa ala alihi wasallam pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.
(04:52) Dengan nama-nama Allah yang husna dan sifat-sifat yang ulia, kita berdoa, Allahumma inna nas’aluka ilman nafi’an wazqan thayiban wa amalan mutaqabbala. Allahumma amin. Ahibati fillah afanillah waakum kaum muslimin yang saya cintai karena Allah. Semoga Allah subhanahu wa taala selalu memberikan kepada kita di dunia dan di akhirat. Para pemirsa Rajah TV, para pendengar Radio Rajah danur kaum muslimin.
(05:23) Pada kesempatan kali ini kita membaca bab yang ke-56. Penulis berkata, “Babun nahi an sabbirrih.” Bab larangan mencela angin. Larangan mencela angin. Dan yang dimaksud dengan bab ini adalah bahwa di dalam bab ini ada penjelasan tentang larangan mencela angin.
(06:01) Dan larangan ini adalah hukumnya haram karena di dalamnya terdapat perendahan terhadap hak Allah Subhanahu wa taala dan tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena angin ee mengalir atau berhembus itu dengan perintah Allah Subhanahu wa taala. Ketika seseorang mencela angin, berarti dia mencela yang menghembuskan angin tersebut.
(06:31) Nah, kita baca apa yang disebutkan oleh penulis. Quuhu babun nahi an sabir babangan tentang mencela angin. An Ubay Ka’abin radhiallahu anhu anna Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam qal dari Ubay bin Ka’ab radhiallahu anhu bahwa Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, “La tasubbur janganlah kalian mencela angin. Faidza roaitum maa takrahun faquulu Allahumma inna nas’aluka min khairi hadzihi rih wahairi ma fiha whairi ma umirat bihi wudubika min syarri hadziir rih wasyarri ma fiha wasyarri ma umirat bihi shahah timmidzi.
(07:19) Janganlah kalian mencela angin apabila kalian melihat sesuatu yang kalian tidak sukai, maka ucapkanlah, “Sesungguhnya kami memohon kepada Engkau dari kebaikan angin ini dan kebaikan apa yang ada di dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan untuknya. Dan kami berlindung dengan Engkau dari keburukan angin ini dan keburukan apa yang ada di dalamnya dan keburukan apa yang diperintahkan untuknya. Hadis riwayat Imam at-Tirmidzi.
(08:06) Ini adalah dalil yang pertama yang dibawakan oleh penulis TB kita baca. liannaha airih innama tahabu ijadillahi taala wa khalqihi laha wa amarahu karena ee angin dia berhembus mengalir itu adalah buatan Allah subhanahu wa taala dan ciptaan Allah dan perintah Allah subhanahu wa taala liannahu hualladzi ajada Karena dialah Allah yang mengadakannya dan memerintahkannya. Fbatuha masabbatun lil fa’il.
(08:53) Maka mencela angin berarti mencela yang memerintahkannya. Wahuallahu subhana. Yaitu Allah subhanahu wa taala. Nah, kama taqadama finahi sabir anabidahr. Sebagaimana telah berlalu ya tentang larangan mencela masa. Wahad yusbihuhu. Dan ini sama dengan hal tersebut. Mencela angin sama dengan mencela masa.
(09:29) Karena yang mengatur masa Allah, yang mengatur angin Allah. Maka mencela angin berarti mencela Allah Subhanahu wa taala yang mengatur masa dan mengatur angin. Wala yaf’aluhu illa ahlul jahli billah winihi wabima syarahu liibadi. Dan tidak ada yang mencela masa, mencela angin kecuali orang-orang yang bodoh terhadap Allah. Orang-orang yang bodoh terhadap agama Allah dan dengan apa yang disyariatkan.
(10:00) oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya. Nah, ini adalah hal yang ee menunjukkan bahwa orang kalau kenal Allah, makrifat kepada Allah dan juga makrifat tentang agama Allah, niscaya dia tidak akan mencela angin tersebut. Baik. Kemudian fanaha shallallahu alaihi wasallam ahl iman amma yaquluhu ahlul jahal wal jafa.
(10:28) Maka Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam melarang ahlal iman, orang-orang yang beriman. Apa yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan orang-orang yang meremehkan? Wa arsyadahum ma yajibu yuqub hububir riah. Dan Rasul sallallahu alaihi wasallam memberi petunjuk kepada orang-orang beriman. Apa yang wajib diucapkan ketika angin berhembus? Faqala iditu ma takrahun.
(11:00) Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian melihat apa yang kalian benci, yaitu dikhawatirkan nanti dengan angin tersebut akan hancur porak-poranda, ee apa rumah dan yang semisalnya, maka ucapkanlah Allahumma inna nas’aluka min khairi hadhi rih.” Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Engkau kebaikan dari angin ini wahairi ma fiha dan kebaikan dari apa yang ada di dalamnya.
(11:37) Whairi ma umirat bihi dan kebaikan apa yang diperintahkan untuknya. Ini adalah salah satu doa yang diajarkan oleh Rasul S. sallahu alaihi wasallam ketika ada angin untuk meminta kebaikan yakni roitum takhun min habbat maksud dari doa ini adalah jika kalian melihat apa yang kalian tidak sukai apabila angin tersebut dalam keadaan ee sedang ber sedang ber ee mengalir farjiu ilbikum bit tauhid maka kembalilah kepada rab kalian dengan mentauhidkan Allah subhanahu wa taala yaitu berdoa hanya kepada Allahu dan ucapkanlah dengan doa tadi
(12:30) ya Allah inna nasaluka minhairi hadir ri fiha wiri ma umirat bihi wubika minar hadir ma fiha ma umir bihiatunillahul Boleh wasidunuri bihi. Maka ini adalah peribadatan kepada Allah, ketaatan untuk Allah dan rasul-Nya dan meminta agar dijauhkan dari keburukan. E wa taarudun lifadlihi watihi. Dan ini adalah penyebutan tentang karunia dan nikmat Allah subhanahu wa taala. Wadi halu ahli atauhid wal iman.
(13:16) Dan beginilah keadaan orang yang bertauhid dan beriman khilaf lihali ahlil fusuq wal isyan. Berbeda dengan keadaan orang-orang fasik dan orang-orang yang berbuat maksiat. Alladzina himu dqo tauhid alladzi hua haki iman. yang mana mereka di haramkan merasakan manisnya tauhid yang mana tauhid tersebut adalah hakikat keimanan.
(13:59) Maksud dari perkataan ini adalah bahwa ee dengan kita berdoa saat melihat angin, maka ini berarti kita sedang beribadah kepada Allah, kita sedang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kita sedang memohon ee perlindungan atas keburukan dari Allah Subhanahu wa taala. Dan ini juga kebiasaan orang-orang yang bertauhid kepada Allah, yaitu apabila ada sesuatu pasti dia bersandar hanya kepada Allah Subhanahu wa taala.
(14:32) Berbeda dengan orang-orang yang ahli maksiat, orang-orang yang ee mereka tidak merasakan ee rasa tauhid tersebut. Tib. Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini adalah bab yang ke-56. Sekarang kita membaca bab yang ke-57. Ya, bab yang ke-57. Meskipun bab ini agak panjang tapi kita mulai saja. Ee atau mau ee pertanyaan juga diperbolehkan.
(15:26) Jadi intinya tadi bab yang ke-56 adalah larangan untuk mencela angin karena hukumnya diharamkan. ee karena di dalamnya merendahkan Allah Subhanahu wa taala dan tidak mengagungkan Allah disebabkan karena angin adalah perintah dari Allah Subhanahu wa taala. Maka jika mencela angin maka berarti dia mencela yang memerintahkannya.
(15:56) Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala, kita lanjutkan kepada bab yang ke-57. Nah, saya bacakan sekarang bab yang ke-57. Penulis berkata, “Babu qulillahi taala yadunnuna billahi ghairil haqnal jahiliyah.” Yaquuluna hallana minal amri minai. Qul innal amro kullahu lillah. yang artinya bab yang ke-57 Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Mereka mengira kepada Allah dengan selain kebenaran.
(16:49) ” Seperti perkiraan kaum jahiliyah, mereka mengucapkan, “Apakah kita memiliki sesuatu dari perkara?” Maka ucapkanlah sesungguhnya perkara seluruhnya adalah milik Allah Subhanahu wa taala. Surah Ali Imran ayat 154. Ee para ikhwan yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Bab ini memberikan ee pelajaran kepada kita bahwa ee sikap yang buruk adalah mengira kebatilan. E mengira selain kebenaran kepada Allah adalah sebuah kebatilan.
(17:40) Sikap yang buruk adalah mengira ee dengan perakiraan selain kebenaran adalah sebuah perakiraan yang batil. Dan ini adalah kebiasaan kaum jahiliyah. Ini adalah kebiasaan kaum jahiliah yang mana orang-orang kaum jahiliyah menganggap Allah subhanahu wa taala dengan anggapan yang tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wa taala.
(18:16) Kaum jahiliyah menganggap ee dengan anggapan sesuatu yang tidak pantas untuk Allah Subhanahu wa taala. Seperti misalkan Allah memiliki anak laki-laki menurut kaum jahiliah. Ya, menurut kaum jahiliyah. Dan ini adalah sebuah kekufuran akbar. Mereka juga mengira bahwa Allah subhanahu wa taala akan mengakhirkan pertolongan kepada para rasul-Nya. mengakhirkan pertolongan kepada para rasulnya.
(18:53) Padahal para rasul tersebut berhak untuk mendapatkan pertolongan. Dan ini adalah kekufuran asghar. Dan inilah kebiasaan kaum jahiliyah. Mereka senantiasa mengira terhadap Allah dengan perakiraan yang buruk. Baik itu di dalam perkara pokok keimanan ataupun di dalam perkara kesempurnaan keimanan.
(19:17) Mereka menganggap menging bahwa Allah Subhanahu wa taala memiliki anak dan ini adalah kekufuran besar. Atau mereka di dalam kesempurnaan keimanan mereka menganggap bahwa ee Allah Subhanahu wa taala ee mengakhirkan atau tidak akan menolong orang-orang yang beriman para rasul.
(19:43) Padahal orang-orang yang beriman dan para rasul tersebut ee berhak untuk mendapatkan hal demikian. berhak untuk mendapatkan hal demikian. Ini para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Tayib. Para ikhwan yang dirahmati oleh Allah. Kita baca apa yang disebutkan oleh penulis ee quluhu babu qulillahi taala yadunnuna billahi ghairal haqqi jahiliyah yaquuluna hallana minal amri minai.
(20:29) ee bab firman Allah Subhanahu wa taala, mereka mengira Allah dengan perakiraan yang tidak benar, perakiraan kaum jahiliah. Mereka menganggap, mereka berkata, “Apakah kami memiliki perkara sesuatu?” Alayah. Hadil ayah zakarahallahu taala fi siqi quhi taala fiikri waqa’ati Uhud. Ayat ini disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala di dalam redaksi firmannya tentang kejadian perang Uhud yang berbunyi tumma anzala alaikum mim ba’dil gammi amanah nuasan yangifat minkum.
(21:27) Kemudian kami turunkan atas kalian setelah rasa gelisah, yaitu ee rasa kantuk yang menimpa sebagian dari kalian, yakni ahlal iman wasabat wat tawakul wasadiq, yaitu orang-orang yang beriman, orang-orang yang tetap dan bertawakal yang benar. Wahum jazimun wahumul jazimun biallaha taala yansuru rasulah. Dan mereka meyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah Subhanahu wa taala akan menolong para rasulnya alaihialatu wasalam.
(22:00) Waunjizu lahu makmula dan men menyelesaikan untuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam apa yang diinginkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Walihadzaq qal. Oleh sebab itulah ee Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Watifatun qad ahammathum anfusuhum.” Dan sekelompok ee dari mereka diri mereka telah ee merasakan kegelisahan. Diri mereka telah merasakan kegelisahan.
(22:41) Yakni la yagsyahumun nuas minal jaza wal qala’ wal khauf. Mereka tidak terkena ngantuk karena rasa gelisah, rasa resah, dan rasa takut. Yadunnun billahi ghairil haqqi dhanal jahiliyah. Mereka mengira kepada Allah Subhanahu wa taala selain kebenaran sebagaimana perkiraan kaum jahiliyah. Kama qala taala seperti firman Allah Subhanahu wa taala. Balonantum allayqalibar rasul.
(23:19) yang artinya bahkan kalian mengira yang allanqalibar rasul bahwa Rasul sallallahu alaihi wasallam tidak akan e kembali wal mukminun dan juga orang yang beriman ila ahlihim kepada keluarga mereka abadan sama sekalium dan diindahkan hal tersebut di hati-hati kalian dan kalian mengira dengan perkiraan yang buruk Dan kalian menganggap ucapan-ucapan yang ee dan kalian adalah kaum yang berkhianat.
(24:12) Kalian adalah kaum yang binasa. Kalian adalah kaum yang binasa. Wahakad haula yqadu anal musyrikin lammaharu tilk saahu annaha alfisalah. Dan demikianlah mereka meyakini bahwa orang-orang musyrik ketika nampak pada waktu ituu anhal fisalah. Mereka mengira bahwa itu adalah pbeda. Faal islam qad bada wa ahluhu.
(24:48) Dan bahwa Islam telah nampak dan juga pengikutnya. W s ahl asyak hasala amrun minal umur syariah. Dan inilah keadaan orang-orang yang ragu ketika telah nampak perkara dari perkara-perkara yang buruk. an ibni juris q abdillah ibn qutila banul khajraj q waana min am diriwayatkan dari ibnu juraij beliau berkata dikatakan kepada abdullah binay telah dibunuh keturunan alkhazraj kemudian Abdullah bin Ubay berkata, “Apakah kita memiliki kekuasaan atas hal itu? Apakah kita memiliki kekuasaan akan hal tersebut? Jadi, para ikhwan yang dirahmati oleh
(25:39) Allah, maksud dari ayat ini adalah ee yang pertama bahwa ee prasangka selain kebenaran itu adalah prasangka yang batil terhadap Allah Subhanahu wa taala. Kemudian juga ee prasangkaan kaum jahiliah. Begitulah prasangkaan kaum jahiliyah dan ini adalah keharaman. Kemudian juga bahwa inilah prasangka orang-orang munafik.
(26:15) Orang-orang munafik. Nah. Nah, ini para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala. Nah. Ah. Kemudian penulis membawakan perkataan dari Imam Ibnu Qayyim Aljauziyah rahimahullahu taala. Qalal Alamatu Ibnu Qayyim rahimahullahu taala fil kalami ala maamatu waqatu uhud. Alamah Ibnu Qayyim rahimahullah ee berkata tentang apa yang terjadi pada peperangan Uhud.
(27:03) Dikandung apa peperangan Uhud tersebut? Waqad fusir had alladzi la yaliqu billahi subhanah biahu la yansuru rasulah rasula. Dan telah ditafsiri ee prasangka ini yang tidak cocok disangkakan kepada Allah bahwa Allah Subhanahu wa taala tidak akan menolong rasul-Nya. Wa anna amrahu sayad mahil. dan bahwa ee perkara Rasulullah sallallahu alaihi wasallam akan habis.
(27:43) Wa annahu yuslimuhu lilqatl. Dan bahwa Allah Subhanahu wa taala menyerahkan rasulnya untuk dibunuh. Wa fusir bidunnihim bidonhim anama asahum lam yakun biqada waqad. Kemudian ditafsirkan dengan prasangka mereka bahwa apa yang menimpa mereka pada peperangan Uhud itu bukan dengan takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa taala. Wala hikmata lahu fih.
(28:14) Dan tidak ada hikmah di dalamnya untuknya. Fa fusira biaril hikmah. Maka ditafsirkan dengan mengingkari hikmah atas perbuatan Allah Subhanahu wa taala. Wa inkaril qadar. Dan juga pengingkaran terhadap takdir. Wa inkar anutim amro rasulillahulu amro rasulihi sallallahu alaihi wasallam.
(28:47) dan mengingkari dan pengingkaran terhadap penyempurnaan perkara Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya artinya menolong Rasul sallallahu alaihi wasallam, membela Rasul sallallahu alaihi wasallam. Wa yudhirahu aladini kullih. Dan agar menampakkan Rasul sallallahu alaihi wasallam di atas seluruh agama. W huwus alladziahul munafiquun wal musyrikuna fi suratil fath.
(29:10) Inilah prasangka buruk yang disangkakan oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik pada surah alfathu. yang mana Allah subhanahu wa taala berfirman, wuadzibal munafiina wal munafiqat wal musyrikina wal musyrikatina billahi yaitu ee Allah menyiksa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang buruk alaihim dairatus mereka akan mendapatkan siksa yang burukballah Allah memurkai mereka dan melaknat mereka. Waahum jahanam wasat masir. Dan
(30:00) Allah menyediakan bagi mereka neraka jahanam. Dan neraka jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Surah al-fath ayat 6. Fa innamaana hus wul jahiliyah wah mansub ahlah. Wadonu giril haq liannahu donu ghairi ma yaliqu biasmaihil husna wasifatih uliya. Ee dan ini dianggap sebagai prasangka yang buruk, dianggap sebagai prasangka kaum jahiliah yang dinisbatkan kepada orang-orang bodoh dan dianggap sebagai prasangka yang tidak benar karena sudah menyangka selain yang cocok dengan nama-nama Allah yang husna dan
(30:49) sifat-sifatnya yang mulia. mubarah minibin juga tidak cocok dengan zat Allah yang terlepas dari setiap aib dan keburukan. Wilaf ma yaliqu bihikmatihi wamdihi wa tafarudi rububiyati wal ilahiyah. Dan berbeda dengan apa yang cocok dengan hikmah Allah, ujian terhadap Allah dan keesaan Allah di dalam kekuasaan dan peribadatan.
(31:22) w yaliquadzi la yaklifuti wulumia humulun. Dan apa yang cocok dengan janji Allah yang jujur yang Allah tidak akan mengingkarinya. Yaitu dan juga dengan kalimat-kalimat Allah yang telah disampaikan kepada para rasul-Nya bahwa Allah akan menolong mereka. Allah tidak akan menghinakan mereka. dan juga kepada para ee tentara-tentaranya bahwa merekalah yang akan menang.
(31:57) Nah, ini sebenarnya yang harus ada di dalam diri seorang muslim. Nah, ini sama kalau kita di zaman sekarang ini yaitu em ee yaitu apabila seorang taat kepada Allah maka dia mengira Allah tidak akan menolongnya. Apabila seorang menjauhi maksiat, maka Allah tidak akan memperhatikan dirinya dan seterusnya. Nah, ini adalah sangka-prasangka yang tidak benar. Ini adalah prasangka-prasangka yang tidak benar.
(32:39) bihi annahu la rasulah wt wtimu amrah widuhuidahuimirumahu wa kitabah waahu yudilir al tauhid wal ba alal haqq idatan mustaqiratan yadmahillu maahat tauhid wal haqq e idmhlan Maka barang siapa yang mengira bahwa Allah tidak akan menolong rasul-Nya, Allah tidak akan menyempurnakan perkaranya, Allah tidak akan memberikan kekuatan kepadanya, Allah tidak akan menolong pasukannya, Allah tidak akan meninggikan derajatnya, Allah tidak akan memberikan kemenangan terhadap musuh-musuhnya.
(33:29) ee dan Allah tidak akan menolong agamanya, tidak akan menolong ee Al-Qur’an dan Allah akan membiarkan kesyirikan, menang di atas tauhid, kebatilan, menang di atas kebenaran ya dengan seterusnya yang mana dengan pembiaran tersebut akhirnya hancur tauhid dan kebenaran dengan hancur yang tidak akan ada penggantinya setelahnya selamanya.
(34:00) Maka yang yang mengira seperti ini berarti dia telah mengira Allah dengan perakiraan dan prasangkaan yang buruk.fi ma yaliqu bijalalih wa kamalihi wasifatihi wutih. Dan dia menisbatkan kepada kebalikan apa yang cocok untuk Allah, kesempurnaannya, sifat-sifatnya dan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala.
(34:25) Fa inna hamdahu wazzatahu wa hikmatahu wa ilahiyatahu takbaalik. Karena sesungguhnya pujian terhadap Allah, kekuasaan Allah, hikmah dalam penciptaan Allah, kemudian ee apa namanya? Ketuhanan Allah ini menolak prasangka-prasangka itu semua. Watbaan yudilla hizbah wa jundah. Dan ini menolak eh Allah Subhanahu wa taala akan menghinakan pasukannya dan juga tentaranya.
(35:01) musrikinil. Dan ini juga menolak bahwa ee kemenangan yang tetap dan juga kejayaan yang selalu ada untuk orang untuk musuh-musuhnya yang musyrik yang menyimpang darinya. Ini semua adalah ee menyelisihi hikmah Allah, menyelisihi ee dari kekuasaan Allah Subhanahu wa taala. bihi famaahu asmaahu w sifatihi waali wa kamalah.
(35:38) Maka barang siapa yang menyangka demikian yang persangkaan-prasangkaan yang sudah disebutkan tadi, maka berarti dia tidak mengetahui Allah, tidak mengetahui nama-nama Allah, tidak mengetahui sifat-sifat Allah dan kesempurnaan Allah Subhanahu wa taala. Wakalika man anara yakunalika biq waqari. Mak dan demikian pula siapa yang mengingkari ee tentang ee mengingkari itu ya mengingkari bahwa hal itu terjadi dengan ee takdir dan ketetapan Allah.
(36:12) Fama arafahu orang ini juga tidak mengenal Allah w rububiyatahu wa mulkahu waat dan tidak mengenal kekuasaan Allah, kerajaan Allah dan keagungan Allah. mahdu alaiha. Dan demikian pula siapa yang mengingkari bahwa apa yang telah Allah tetapkan dari hal tersebut yaitu kekalahan di di peperangan Uhud ya. dan selainnya ee ini dia berarti telah mengingkari hikmah yang dalam yang ee yang yang tinggi ya yang mana ee itu semua pantas untuk kita puji atas perbuatan Allah Subhanahu wa taala.
(37:09) inah mujarah masiah mujaradah dan bahwa hal itu eh nampak hanya berdasarkan eh kehendaknya saja matah ahabuai fawatiha dan eh puncak tujuan lebih dicintainya dari kehilangannya asbab almakruhah lahuaiharu Dan bahwa sebab-sebab yang dibenci itu yang menyebabkan kepadanya tidak keluar dari takdirnya atas hikmahnya untuk ee menjalankan kepada yang dicintainya meskipun kadang-kadang tidak disukai.
(37:57) Fama qaddaraha sudan wala syaaha abatan wala khalaqaha batilan. Maka apa saja yang Allah Subhanahu wa taala takdirkan termasuk dalamnya apa yang terjadi pada perang Uhud yaitu berupa kekalahan dan terbunuhnya para sahabat maka itu tidak sia-sia. Kemudian Allah juga ee menghendakinya tidak asal-asalan dan Allah Subhanahu wa taala juga tidak menciptakannya dengan ee kebatilan. Ya, itu harus diingat semua.
(38:26) Dalam surat Sad ayat 27 disebutkan, “Wzalikaulladzina kafaru fawailulladzina kafaru minanar.” Itulah prasangka orang-orang yang kafir. Maka neraka wail bagi orang-orang yang kafir mendapatkan nerakanya Allah subhanahu wa taala. Nah, itu intinya para ikhwan yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala bahwa ee termasuk daripada donul jahiliyah, prasangka orang-orang jahiliah adalah prasangka orang-orang yang ee tidak percaya kekuasaan Allah, tidak percaya kekuatan Allah.
(38:58) Ee kemudian meyakini bahwa Allah tidak akan menolong hamb-Nya, Allah tidak akan menolong rasulnya, kemudian Allah tidak akan menegakkan tauhidnya, agamanya. Nah, ini adalah prasangka-prasangka yang buruk dan itu semua adalah merusak keyakinan. Nah, itu kira-kira yang bisa disampaikan dan kepada pihak raja mohon maaf saya tidak bisa menerima pertanyaan kita cukupkan.
(39:24) Wasallallahu ala nabina Muhammad walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak untuk Al Ustaz yang sudah meluangkan waktunya untuk kami semua dari pertemuan di kesempatan hari ini pembahasan kitab Fathul Majid syarah kitab tauhid dan ee mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan kami mohon maaf sekali lagi untuk Anda sahabat Raja sekalian.
(39:51) Seperti yang telah dikatakan oleh Ustaz ee untuk hari ini tidak bisa menerima ee pertanyaan dan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya ya. Insyaallah mudah-mudahan di kesempatan pekan yang akan datang kita bisa memiliki waktu yang lebih banyak untuk bersoal jawab. Demikian kami undur diri. Semoga Allah e menjaga usaha beserta keluarga, memberkahi ilmu yang disampaikan dan juga memberkahi pertemuan kita di kesempatan hari ini.
(40:15) Subhanakallahum wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rogja
Leave a Reply