(4) [LIVE] Ustaz Abu Haidar As-Sundawy | Al-Qaulul Farid Fawaid ‘ala Kitabit Tauhid – YouTube
Transcript:
(00:08) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasohbihi wa mawala. Saudaraku seiman dan seakidah sahabat Raja di mana pun Anda berada. Masih bersama dengan kami di saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam.
(00:33) Dan di kesempatan sore hari ini kembali kita akan simak kajian ilmiah yang kami pancarluaskan dari Kota Bandung, Jawa Barat bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala dengan pembahasan kitab Alquul Farid Fawaid Ala Kitabi Tauhid. Dan insyaallah di kesempatan sore ini kita akan membahas tema yang sangat penting syarat-syarat lailahaillallah. Saudaraku seiman dan seakidah, kami ajak Anda untuk menyimak kajian ini dan juga berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.
(01:01) Anda dapat mengirimkan pertanyaan atau menelepon kami di nomor 0218236543. Baiklah, untuk selanjutnya kita akan simak nasihat dari Al Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala. Kepada Ustaz Falyatafadol Maskur. Ustaz Fatafadol maskur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
(01:36) Asalamualaikum warahmatullamdulillah wabarakat wasalamu ala alhamdulillah rasulillahi wain jahid agung alukhuwah Bandung. Hadirin jemaah radio. Nafi artinya menidakkan. Dan ini terungkap dari kalimat lailaha. Tidak ada ilah, tidak ada sesembahan. Ini namanya nafi. Kedua, isbat artinya menetapkan
(02:45) satu-satunya sesembahan yang hak. illallah. Itulah dua rukun lailahaillallah. Selain ada rukun juga ada syarat. Adapun syarat lailahaillallah sebagian ulama menyatakan tujuh. Ada lagi yang menyatakan delapan terungkap dalam satu kalimat ilmun yaakinun wa ikhlasun wasidquuka maa mahabbatin waqiadin wal qabuli laha.
(03:35) Pertama, syarat lailahaillallah itu adalah ilmu. Kedua, yakin. Ketiga, siddiq, jujur, benar, bukan pura-pura. Ee ketiganya ikhlas, keempatnya siddiq, kelimanya mahabbah atau cinta. Keenamnya inqiad, tunduk, patuh, taat. Dan keenamnya kabul, menerima. Sebagian ulama lain ada menambahkan satu lagi yang kedelapan, yaitu alkufru bima yukhalifuha.
(04:28) kufur kepada sesembahan-sesembahan lain selain Allah. Kufur kepada semua yang menyimpang dari kalimatut tauhid lailahaillallah. Dan syarat kelapan ini didasarkan kepada hadis sahih riwayat Imam Muslim. Manola la ilahaillallah wa kafaro bima yub’badu min dunillah haruma mauhu w dammuhu w hisabuhu alallah.
(05:08) Siapa orang yang mengatakan lailahaillallah dan dia kufur kepada sembahan lain selain Allah, maka haramlah hartanya, haramlah darahnya. Hartanya tidak boleh diambil, dirampas, ditipu, dicuri. Haram. Demikian juga darahnya. Tidak boleh dialirkan, tidak boleh dibunuh, dipenggal, tidak boleh dilukai. Wahisabuhu alallah. Dan hisabnya tanggungan Allah.
(05:49) Hadis ini riwayat Imam Muslim. Itu syarat kedelapan. Tambahan dari tujuh syarat. Adapun penjelasan dan dalil-dalil tujuh syarat lailahaillallah. Syarat ini bagian dari masrut, bagian dari ee bukan bagian dari masyrut, tapi wajib terpenuhi. Seperti salat. Ada syarat sahnya salat, ada rukun salat.
(06:33) Kalau rukun salat bagian dari salat, tapi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja. Seperti takbiratul ihram hanya pada waktu takbir awal seperti baca fatihah. Hanya ketika berdiri bagian dari salat. Ketika ruku sujud enggak boleh baca Fatihah seperti ruku. Ruku hanya dilakukan sekali dalam satu rakaat. Sujud dua kali dalam satu rakaat.
(07:11) Itu rukun bagian dari salat dan hanya dipenuhi di waktu-waktu tertentu saja. Kalau syarat sahnya salat bukan bagian dari salat, tapi harus dipenuhi dari awal sampai akhir. Seperti umpamanya suci, salah satu syarat sahnya salat suci dari hadas ataupun dari najis. Suci ini bukan bagian dari salat, tapi harus terpenuhi selama salat.
(07:54) Kalau di tengah-tengah salat tiba-tiba batal, batal salat seperti umpama menutup aurat. Menutup aurat bukan bagian dari salat, tapi harus terpenuhi dari awal sampai akhir. Seperti menghadap kiblat. Menghadap kiblat bukan bagian dari salat, tapi dari awal sampai akhir harus menghadap kiblat. di saat dia mampuh dan seterusnya.
(08:29) Ya, jadi syarat bukan bagian dari masrut, bukan bagian dari amalan tersebut, tapi harus terpenuhi. Kalau rukun bagian dari sebuah amalan. Nah, lailahaillallah ada rukun yaitu dua yang sudah dibahas kemarin. Ada syarat. Syarat lailahaillallah wajib dipenuhi kalau ingin berfungsi. Lailahaillallah. Fungsinya kunci surga. Miftahul jannah. Lailahaillallah. Kunci surga itu lailahaillallah.
(09:11) Ketika ada orang bertanya, “Bukankah kunci surga lailahaillallah?” Iya. Bukankah orang cukup dengan mengatakan secara lisan lailahaillallah harusnya dia bisa buka pintu surga? Dijawab, “Bala.” Walakin likulli miftahin asnan. Tapi bukankah setiap anak kunci itu punya gigi-gigi? Kalau kunci ee gigi dari kunci itu utuh, dia bisa berfungsi.
(09:51) Salah satu saja gigi kunci itu patah enggak bisa buka pintu. Enggak ada kunci yang polos gitu ya tanpa gigi. Enggak. Semua kunci ada gigi-gigi. Jangankan giginya patah, giginya utuh tapi beda dengan lubangnya. Enggak bisa bika enggak bisa buka kunci. Mungkin masuk, mungkin, tapi membuka enggak bisa. Apalagi kalau patah. Nah, lailahaillallah itu kunci surga.
(10:31) Tapi wajib dipenuhi gigi-giginya. Giginya ini ada tujuh. Tujuh gigi kunci surga disebut surut lailahaillallah. Syarat-syarat lailahaillallah. Adapun syarat pertama ilmu artinya mengetahui makna yang terkandung dalam lailahaillallah. Tahu rukun lailahaillallah itu adalah nafi dan isbat. Menolak semua sesembahan dan menetapkan hanya satu-satunya sembahan yaitu Allah.
(11:16) Harus tahu konsekuensi dari lailahaillallah. Kalau orang sudah mengatakan lailahaillallah, dia hanya boleh menyembah Allah, tak boleh menyembah kepada selain Allah. Apa yang menjadi dalil? Al-Qur’an Allah menyatakan dalam surah Muhammad 19. Fa’lam annahu lailahaillallah. Ketahuilah, ilmuilah, pahamilah bahwa lailahaillallah. Harus diketahui makna dari lailahaillallah.
(11:51) Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis Bukhari dan Muslim menyatakan kata beliau, “Man mata wahua ya’lamu annahu la ilahaillallah dakhalal jannah.” Siapa orang yang mati dan dia berilmu mengetahui tentang lailahaillallah maknanya konsekuensinya lalu diaplikasikan dia akan masuk surga. Inilah syarat pertama.
(12:25) Karena itu wajib bagi setiap kita mengetahui makna yang terkandung dalam lailahaillallah serta konsekuensi yang harus dilakukan setelah mengatakan lailahaillallah. Ini yang menyebabkan orang Arab zaman baheula menolak mengatakan lailahaillallah. Karena tahu konsekuensinya kalau sudah mengatakan lailahaillallah, mereka harus meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka.
(13:02) Makanya mereka menyatakan ketika disuruh mengatakan lailahaillallah, apa kata mereka? Apakah kita a inna latariku alihatina lisyaairi majnun? Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita demi mengikuti seorang tukang syair yang gila ini? Nabi sallallahu alaihi wasallam disebut tukang syair yang gila oleh mereka. Nah, ketika dikatakan waqilahum la ilahaill ketika dikatakan kepada mereka, katakan oleh kalian lailahaillallah, mereka takabur lalu berkata inna latariku alhatina lyairin majnun. Apa kita harus meninggalkan
(13:54) sesembahan-sesembahan kita demi tukang syair yang gila ini? Enggak mau. Mereka bukan tidak mau mengakui Allah sebagai sesembahan. Bukan. Mereka menyembah Allah. Tapi selain menyembah Allah juga menyembah selain Allah. Kalau mengatakan lailahaillallah, mereka harus meninggalkan sembahan lain. Makanya mereka tidak mau.
(14:28) Orang Islam zaman sekarang tak keberatan mengatakan lailahaillallah. Tapi selain menyembah Allah juga menyembah selain Allah. Selain sujud kepada Allah, sujud kepada selain Allah. Ada lailahaillallahnya ribuan kali dikatakan. Kenapa? Karena enggak paham makna dan konsekuensi dari lailahaillallah. Inilah syarat pertama, ilmu. Syarat kedua alyakin.
(15:03) Yakin terhadap isi kandungan lailahaillallah. Sudah satu-satunya sesembahannya kayak Allah yakin enggak ada yang lain. Lawan dari yakin adalah syak. Syak itu ragu. Sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Rasul sallallahu alaihi wasallam,”Aqal yashadu alla ilahaillallah mustaqinan biha qbuh fabasyirhu bil jannah.
(15:38) ” Waktu itu Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh Abu Hurairah masuk ke sebuah areal perkebunan kurma. Lalu kata Nabi alaihialatu wasalam, “Siapa saja yang engkau temui di dalam kebun kurma ini dan dia bersaksi lailahaillallah mustaqinan biha qbuhu dengan keyakinan sepenuh hatinya mengatakan lailahaillallah yakin terhadap isi kandungan lailahaillallah fabasyirhu bil jannah beritahukan kabar gembira kepada dia dengan surga.
(16:29) Ini syarat kedua, yaitu yakin terhadap kebenaran dari isi lailahaillallah. Kalimat ini kalimat terbenar, sebenar-benar kebenaran adalah lailahaillallah. Satu-satunya sembahan yang berhak diibadati hanyalah Allah. Inilah tauhid. Dan untuk tauhid inilah Allah menciptakan jin dan manusia. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.
(17:05) Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Kata Ibnu Abbas, a liuwahidun fil ibadah. untuk mentauhidkan aku dalam ibadah, mengesakan aku dalam ibadah. Maksudnya ibadah hanya kepadaku, kepada Allah dan tidak kepada yang lainnya. Inilah syarat kedua, alyaakin. Syarat ketiga, ikhlas. Lawannya munafik. Karena orang munafik mengatakan lailahaillallah.
(17:44) Tapi bukan murni ingin memperoleh apa yang ada di sisi Allah, tapi ingin memperoleh keuntungan dunia. Ketika di Madinah, Nabi sallallahu alaihi wasallam dominan mengatur kehidupan sosial, politik, ekonomi kaum muslimin di Madinah. Semua orang taat. Nasrani, Yahudi, apalagi kaum muslimin. Sampai kalau ada permasalahan dengan orang muslim juga orang Yahudi Nasr itu ngadunya kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Karena mereka yakin Nabi adil.
(18:27) Nah, orang-orang munafik tidak yakin terhadap kebenaran Islam. Kalau mereka kekeh dalam kekafiran, enggak bisa berperan. Baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, akan dianggap. Maka mereka pura-pura menyatakan keislamannya, bersyahadat lailahaillallah muhammad rasulullah. Tapi niatnya tidak ikhlas.
(19:00) Bukan lillahi taala, bukan untuk akhirat, tapi untuk kepentingan dunia. Maka kemunafikan lawan dari keikhlasan. Wajib kita mengungkapkan lailahaillallah secara ikhlas. Murni bukan untuk kepentingan dunia, tapi untuk kepentingan akhirat. bukan untuk meraih balasan dari manusia, baik pengakuannya atau umpamanya pujiannya, sanjungannya, komennya, apresiasinya, penilaiannya, bukan.
(19:50) Tapi ingin dinilai oleh Allah, dibalas oleh Allah, diberikan pahala dari Allahu azza wa jalla. Itu ikhlas. Ikhlas itu meniatkan amalan untuk meraih apa yang ada di sisi Allah. Pahalanya, keridaannya, ampunannya, rahmatnya, kecintaannya, surganya, perlindungannya dari api neraka. Itu yang ada di sisi Allah. Bukan yang ada di sisi manusia pujiannya, sanjungannya, komentarnya, uangnya. Bukan.
(20:22) Orang munafik masuk Islamnya itu demi dunia. Tidak ikhlas, tidak yakin terhadap kebenaran lailahaillallah. Makanya munafik ini pada hakikatnya kafir karena hatinya tidak meyakini kebenaran Islam. Keislaman mereka, kepura-puraan, pretending, sandiwara demi keuntungan dunia. Dan ini lebih lebih berbahaya daripada orang kafir yang terang-terangan dengan kekafiran.
(20:58) Karena itulah azab untuk orang munafik lebih dahsyat. Innal munafiqina fid dark daril asfali minanar. Orang munafik, orang yang akan berada di tempat tingkat neraka yang paling rendah. Artinya paling dahsyat azabnya. Ini munafik besar. Adapun orang muslim yang yakin Islam ini benar, tapi terkontaminasi oleh karakter khas munafik. Tiga.
(21:40) Dalam riwayatin empat ayatul munafik salat. Tanda munafik tiga. Idza kadzaba, eh idza haddasa kadzaba. Waidza waada akhlafa waidza tumina kona. Kalau bicara dusta, kalau janji ingkar, kalau diamanati khianat. Dalam riwayat lain, waid khasama fajaro. Kalau bertengkar curang.
(22:21) Ada enggak orang Islam dia yakin tentang Islam tapi punya tiga atau empat karakter tadi? Ada. Orang Islam tapi suka berdusta? Ada. Suka ingkar janji? Ada. Suka khianat terhadap amanat. Ada para pejabat itu dapat amanat tapi sering khianat. Enggak semua mereka yang Islam. Islam yakin terhadap keislamannya. Yakin. Is mereka yakin bahwa Islam ini benar.
(22:54) Makanya salat, makanya haji, tapi ada karakter munafik. Nah, ini disebut nifak kecil. Nifak kecil pelakunya tetap muslim, tapi muslim yang berdosa besar. Kalau nifak besar tadi tidak meyakini kebenaran Islam, tapi pura-pura masuk Islam demi keuntungan dunia. Ini munafik besar pada hakikatnya kafir. Bukan seorang muslim. Tapi niatnya, kondisi hatinya hanya Allah yang tahu. Kita tidak tahu.
(23:25) Kita hanya menghukumi mereka berdasarkan aspek zahirnya. Zahirnya syahadat, zahirnya salat, zahirnya ee mereka saum Ramadan. Ya sudah hukum muslim. Fahkum bidwahirikum wala tahkum bisirikum. Hukumi orang berdasarkan zahirnya. Jangan menghukumi berdasarkan sarair hatinya. Jangan. Urusan hati urusan dia dengan Allah. Kita menghukumi berdasarkan aspek zahir.
(24:00) Nah, jadi orang munafik itu tidak ikhlas di dalam keislamannya, tidak ikhlas di dalam mengucapkan kalimatut tauhid. Makanya syarat yang ketiga yang harus dipenuhi dari kalimat lailahaillallah adalah ikhlas. Berkata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dalam kitab sahihnya, asadunas bisyafaati manqala la ilahaillallah mukhlison min qolbihi.
(24:37) Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengatakan lailahaillallah secara ikhlas dari lubuk hatinya. Inilah syarat yang ketiga. Syarat yang keempat adalah asidqu. Lawannya alkadzib. jujur omongannya, benar, bukan pura-pura, bukan sandiwara seperti orang munafik. Dalilnya ada banyak.
(25:21) Di antaranya hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim berkata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ma min ahadin yashadu alla ilahaillallah wa anna muhammadar rasulullah sidqan min qalbihi illa haramahullahu alanar.” Tak ada seorang pun manusia yang bersaksi lailahaillallah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sidqon min qalbihi.
(25:55) Secara jujur dari lubuk hatinya. Benar. Sekali lagi bukan pura-pura, bukan bersandiwara, bukan acting. Siapa yang bersyahadat lailahaillallah dan Muhammad Rasulullah secara jujur dari hatinya, haramahullahu alanar. Allah mengharamkan dia masuk neraka alias dia tidak akan dikenerakakan dengan syarat mengatakan lailahaillallah itu benar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sudah didasarkan pada ilmu.
(26:37) Terus yakin ikhlas hanya ingin memperoleh apa yang di sisi Allah. Terus benar mengatakan lailahaillallah. Bukan pura-pura, bukan akting, bukan sandiwara. Itu yang keempat. Kelima, mahabbah cinta kepada lailahaillallah beserta makna dan aplikasinya. Tuh. Kenapa? Karena memang hakikat kebenaran terkandung pada lailahaillallah.
(27:24) Tanpa ada keyakinan Allah satu-satunya yang disembah, kehidupan ini tak ada manfaatnya, hambar, tak ada nilainya. Mau menyembah siapa dia dalam hidup? Secara naluriah semua manusia membutuhkan sandaran, membutuhkan sesembahan. Dan sembahan yang hak hanya satu, yaitu Allahu azza wa jalla. Makanya sesuai dengan insting naluri manusia pasti semua orang mencintai hakikat dari lailahaillallah.
(28:08) lawannya albugdu kesal mangkel benci gitu kan ada orang yang nurut kepada orang lain tapi sambil bersungut-sungut sambil menggerutu sambil kesel mangkel para mahasiswa nurut ke dosen bikin paper bikin penelitian bikin tugas nurut apa tidak nurut tapi sambil Gerutu. Aduh, dosen killer. Enggak tahu kita butuh istirahat, butuh heing. Hayo dikasih tugas.
(28:43) Nurut tapi menggerutuh, mangkel kesal. Ada yang seperti ke orang biasa begitu. Ini seorang mukmin hakiki kepada Allah. Cinta kepada apa yang terkandung dalam lailahaillallah. Cinta kepada Allah. Cinta kepada rasul-Nya, cinta kepada konsekuensi mencintai Allah dan Rasul-Nya. Orang ini kalau didasarkan pada cinta, apapun yang diamalkan demi yang dicintainya dia enjoy, dia menikmati.
(29:22) Kita umpamanya punya anak balita, sayang, cinta. Kita ngasuh dia ngajak main walaupun capek, lelah, kita ingin beristirahat, kita ingin healing, kita ingin jalan-jalan sendiri. Tapi semua itu dijauhi demi mengasuh orang yang kita cintai. Walaupun capek, senang aja, gembira melihat kebahagiaan anak-anak kita. Kan gitu ya. tidak menggerutu.
(29:55) Ini baru kepada sesama manusia. Apalagi kepada Allah. Berkata Rasul sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Salatun man kunna fihi wajada bihinna halawatal iman. Ada tiga perkara. Siapa orang yang memiliki ketiga perkara ini dalam dirinya, dia akan merasakan manisnya iman.
(30:30) Makna manisnya iman kelezatan di dalam ketaatan, kelezatan rohaniah, ketenangan, kenyamanan. Ada kenikmatan spiritual ketika melaksanakan perintah Allah atau menjauhi semua larangannya. Itulah yang dimaksud dengan halawatul iman. Kata Imam Annawawi, “Wahalawatul iman tasymulu al khusyu fisah.” Manisnya iman itu mencakup khusyuk di dalam salat.
(31:04) Siapa yang khusyuk, dia merasakan kelezatan rohaniah, maka dia betah berlama-lama dalam salat. Tak heran kalau Utsman itu salat tahajud hanya satu rakaat loh. Bada isya satu rakaat dan membaca seusai fatihah seluruh ayat Al-Qur’an dari Albaqarah, Ali Imran, Annisa, Almaidah terus sampai annasakaat semalaman capek enggak? Pastilah capek. manusiawi cangkel, pegal gitu ya.
(31:44) Tapi rasa pegal, capek, cangkel tuh enggak ada apa-apanya dibanding kelezatan rohaniah yang dia rasakan selama salat. Atuh. Jangankan gitu, orang untuk urusan dunia bisa begadang semalaman, ditahan rasa ngantuk, ditahan rasa capek, lelah, demi kesenangan dengan begadang. Ada yang begadang semalaman main game.
(32:20) Ada yang begadang semalaman nonton drakor, ada yang begandang semalaman dengan nongkrong-nongkrong dengan teman-teman. Ada yang main kartu itu kan rasa ngantuk, rasa lelah, rasa capek diabaikan demi kesenangan. Kesenangan dunia ini. Seorang mukmin sejati merasakan kebahagiaan, kesenangan, kepuasan dengan ibadah. Melebihi kesenangan dengan dunia. Maka pantas mereka itu semalaman tahan untuk beribadah kepada Allah.
(33:02) Karena apa? Karena rasa cinta kepada lailahaillallah kepada Allah dan Rasul. Kata Rasul sallallahu alaihi wasallam, “Ada tiga perkara. Siapa orang yang memiliki ketiga perkara ini dalam dirinya, dia akan merasakan manisnya iman, kelezatan rohania dalam melakukan ketaatan. Asal tiga ini dimiliki.
(33:32) Siapa yang belum memiliki tiga hal ini jangan berharap bisa khusyuk salatnya, bisa betah dia dalam ibadah salat, bahasa Quran, zikir, doa, kajian. Jangan berharap dia akan tersiksa dengan salatnya. Uh, lama amat. Dia tidak akan betah dengan ibadahnya kalau salah satu di tiga ini belum dimiliki atau tiga-tiganya belum dimiliki.
(34:05) Apa sajakah itu? Pertama, ayyakunallahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwahuma. Kalau Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang lain-lainnya. Kita bukan terlarang mencintai selain Allah dan Rasulnya. Diperintahkan kita wajib mencintai sesama mukmin. Wajib mencintai orang tua, anak, pasangan, adik, kakak, sahabat wajib mencintai.
(34:42) Tapi kadar kecintaannya harus di bawah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi kalau Allah dan Rasulnya lebih dia cintai, kalau lebih berarti ada selain Allah dan Rasul yang dicintai, tapi kadarnya di bawah itu. Siapa yang mencintai yang lain melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, Allah azab.
(35:12) Lihat umpama Al-Qur’an surah at-Taubah ayat yang ke-24.l in abaukum abnaukum ikhwanukum asiratukum terus disebut amwunakha ahabbaikum minallahiulihi wa jihadin filih fatarabbasu hatta yatiallahu biamri katakan olehmu hai Muhammad apabila Bila bapak-bapak kamu, anak-anakmu, saudara-saudara kamu, keluarga kamu, harta-harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, tempat-tempat tinggal yang kalian sukai, kalau semua itu lebih kalian cintai daripada Allah, Rasulnya dan jihad di jalannya, tunggu sampai Allah mendatang. angkan urusannya. Fatarabbasu hatta yatiallahu biamrih
(36:19) makna biamrih bian Imam Ibnu Jar at Thaabari dan Imam Ibnu Katsir. Fatarabbasu hatta yatiallahu biqobih. Tunggu sampai Allah mendatangkan azabnya. Akan diazab di dunia apalagi di akhirat. Kalau mencintai yang lain melebihi cinta kepada Allah. dan Rasul. Kalau lebih cinta kepada orang tua, nanti orang tua nyuruh semaksiat diikuti walaupun Allah dan rasulnya murka.
(37:01) Waain jahadaaka ala an tusrikabi ma laisa laka bi ilmun fala tuuma wasohibhuma fid dunya marrufah. Kalau kedua orang tuamu memaksamu untuk menyekutukan aku dengan suatu yang kamu tidak tahu ilmunya, jangan diikuti, jangan ditaati, tapi pergauli kedua orang tu secara baik di dunia. La thaata limakhluqin fi maksiatil khaliq.
(37:27) Tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khaliq. Ini konsekuensi kadar cinta. Kalau kadar cinta kepada orang tua, kepada manusia lebih besar, bisa-bisa berani melanggar aturan Allah demi keridaan sesama manusia. Ini yang terlarang. Jadi yang pertama, cintai Allah dan Rasul melebihi kecintaan di atas keduanya.
(38:00) konsekuensinya lebih mentaati, lebih memprioritaskan Allah dan Rasul-Nya daripada kepentingan-kepentingan makhluk manapun. Ya ayyuhalladzina amanu la tuqaddimu baina yadaillahi wa rasulihi wattaqulah. Hai orang-orang beriman, jangan mendahului Allah dan rasul-Nya. Makna mendahului itu mendahulukan selain Allah dan Rasulnya daripada Al-Qur’an dan Asunah.
(38:30) Ya ayyuhalladzina amanu la tarfau aswatakum fauqotin nabi wala tajharu lahu bilqul kajahri ba’dikum’din anahb a’malukum wa antum la tasurun. Hai orang-orang beriman, jangan kamu meninggikan suaramu melebihi dari suara Nabi dalam berbicara. Di akhir ayat, batal amal-amal kamu. Bagaimana pengamalan ayat ini di zaman kita? Kita enggak sezaman dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(39:07) Makna jangan meninggikan suara di atas suara Nabi. Jangan mendahulukan akal, pikiran, pendapat sampai mengabaikan ucapan Nabi, Quran dan sunah. Mendahulukan pendapat orang daripada Quran sunah. Nanti batal amal-amalmu. Gitu. Ini konsekuensi dari kadar cinta. Kadangala kalau kadar cinta kita kepada Allah dan Rasul lebih besar, maka Allah Rasulnya lebih ditaati, lebih dinomor satukan, lebih diprioritaskan, dan seterusnya.
(39:44) Inilah syarat yang ke empat apa lima. Satu ilmu, dua yakin, tiga, ikhlas, empat siddiq, lima mahabbah. Jangan terpaksa. melakukan apa yang Allah perintahkan, apa yang Rasul sallallahu alaihi wasallam perintahkan. Kalau dasarnya cinta pasti bakal dilakukan dengan senang hati. Syarat keenam, al-inqiyad. Inqiad itu patuh, tunduk, taat, melaksanakan perintahnya, menjauhi semua larangannya. Lawannya. Rad itu berpaling.
(40:31) Dan ini konsekuensi logis dari ungkapan lailahaillallah. Syaratnya lailahaillallah ini dianggap benar kalau kita taat kepada aturan Allah dan rasulnya. Iniad namanya. Kalau lailahaillallah lailahaillallah ribuan perintahnya diabaikan, larangannya dilanggar. hilang bohong nih ungkapan lailaha seandainya mereka melakukan apa yang diajarkan, apa yang diperintahkan, dilaksanakan, apa yang dilarang dijauhi.
(41:33) Lakana khair lahum pasti itu lebih baik bagi mereka wa asyad tbita dan lebih ee menambah kemantapan bagi mereka. Taat, tunduk, dan patuh termasuk salah satu di antara syarat yang wajib dipenuhi dalam lailahaillallah. Maka orang mengatakan lailahaillallah wajib diikuti dengan ketaatan, ketundukan, kepatuhan. Perintahnya laksanakan, larangannya dijauhi.
(42:04) Itu termasuk syarat dari lailahaillallah. Itu yang keenam. Ketujuh, dan ini poin yang terakhir dari syarat lailahaillallah adalah alqabul didduhu arad. Kabul itu menerima. Jadi setelah enam poin tadi kita pahami, pertama berilmu, paham isi kandungan lailah beserta konsekuensinya. Terus yang kedua, setelah berilmu juga yakin ini kebenaran isi kandungan lailahaillallah. Ketiga, ikhlas.
(42:41) Yang keempatnya sidq, benar, jujur, bukan pura-pura. Kelimanya cinta kepada isinya. Kemudian yang keenamnya tunduk dan patuh. Nah, ketujuhnya menerima semuanya itu. Lawannya menolak. Allah berfirman dalam An-Nisa 65. Kata Allah, “Fala warabbik la yukminuna hatta yuhajar bainahum tumma laajidu fi anfusim mimmaaslim.
(43:27) ” Maka demi Rabbmu, demi Allah, mereka tidak dikatakan beriman sampai mereka menjadikan engkau, hai Muhammad sebagai hakim untuk memutuskan perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasakan keberatan sedikit pun tentang apa yang kamu tetapkan. Dan mereka pasrah taslim. menerima dengan sepenuh hati mereka.
(44:01) Ini tujuh syarat lailahaillallah ditambah yang tadi yaitu kufur kepada semua sesembahan selain Allah. Jadi delapan syarat lailahaillallah. Pertama ilmu. Makanya pelajaran. Kedua, yakin tentang isik. Jangan ragu-ragu. Ketiganya ikhlas, keempatnya sidq. Benar, jujur, bukan pura-pura. Semua keenam poin yang sebelumnya.
(44:55) Dan siapa orang yang memenuhi tujuh persyaratan dalam lailahaillallah, ibarat dia punya kunci dengan gigi-gigi kunci yang lengkap, maka dia akan bisa membuka pintu surga. Miftahul jannati lailahaillallah. Kunci surga itu lailahaillallah. bisa masuk surga dengan memenuhi ketujuh syarat lailahaillallah tadi.
(45:24) Ya, inilah pembahasan kita di sore hari ini. Cukup sampai di sini dan kita lanjut dengan cukup sampai di sini biasa untuk hari Jumat dan kita lanjut dengan tanya jawab. Seperti biasa untuk hari Jumat tanya jawab diperuntukkan bagi pendengar dan pemirsa Radio Rajab akan dipandu oleh Alakhi Abu Lukman di studio radio Raj Cilengsi.
(45:52) Shallallahu ala nabina Muhammadin waa alihi wa asabi wasallam. Silakan Abu Lukman. Jazakallahu khairan ustaz atas bimbingannya dalam kajian kita di kesempatan sore hari ini langsung dari Masjid Agung Al-Ukhwah Kota Bandung, Jawa Barat. Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda sahabat RJA di mana pun Anda berada.
(46:19) Dan untuk selanjutnya kita akan angkat pertanyaan melalui pesan WhatsApp maupun lonya di nomor 0218236543. Baik, Ustaz. Pertanyaan pertama dari Abu Umar. Ustaz, izin bertanya terkait hadis riwayat Bukhari Muslim, Ustaz, tentang seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara diri dan surga, dirinya dan surga tinggal sehasta. Namun tertulis takdirnya ia beramal dengan amalan ahli neraka hingga masuk neraka.
(46:53) Pertanyaannya, Ustaz, bagaimana maksud ini, Ustaz? Apakah di akhir hayat tergelincir dalam dosa besar atau kesesatan sampai masuk neraka? Mohon pencerah pencerahannya, Ustaz. Tafadol Ustaz Tib atau kesempatan sampai masuk neraka. Mohon penceras annawawiyah. Hadis yang membuat kita wajib waspada. Jangan overconfidence dengan apa yang kita lakukan hari ini berupa ibadah, amal saleh, dan kebaikan.
(47:40) Karena ala’mal bikhawatimi amal itu tergantung dari amal terakhir. Adakalanya orang dari anak-anak, remaja, pemuda sampai dewasa, ahli ibadah sampai tua. Tapi beberapa hari menjelang kematiannya berhenti ibadah. belot melakukan amal dosa dan maksiat eh mati dalam keadaan demikian. Contohnya hadis tadi. Innar rajula laymalu biamali ahlil jannah.
(48:22) Hatta la yakuna bainahu wa bainaha illasbiqu alaiil kitabalu ahlinar. Ada orang yang melakukan amalan-amalan ahli surga dia. Ada orang yang melakukan melakukan kebaikan menjauhi dosa dan maksiat sampai tak ada jarak antara dia dengan surga kecuali sehasta. Selangkah lagi dia ke surga. Tapi ketetapan Allah mendahului.
(48:57) Dia beramal dengan amalan ahli neraka di akhir hayat. mati dalam keadaan demikian menjadi dosa dan maksiat sampai tak ada jarak antara dia dengan surga kecuali sehasta selangkah lagi dia ke surga di akhir kehidupan. Tapi ketetapan Allah mendahulu Fatimah banyak dia beramal dengan amalan ahli neraka di akhir hayat mati dalam keadaan demikianahi alai dulu ahli ibadah contoh yang inihaka karena apa karena ketak tapi kemudian durhaka karena apa karena ketak menjelaskan Alquran menjelaskan inalamin faqana aqibatuhuma annahuma finari kholidaini fiha walika jazaimin
(50:02) ini surah-surah al-hasyr ayat 16 ayat 17 kata Kata Allah seperti setan. Ketika setan berkata kepada orang, “Kufur kamu.” Orang ini nurut kufur. Tapi kekufuran itu di akhir hayatnya. Ketika orang ini kufur, setan berkata, “Aku berlepas diri dari kamu. Aku pun takut kepada Allah Rabbul Alamin.” Siapa orang ini yang disuruh kufur oleh setan? Dia tadinya ahli ibadah, seorang rahib.
(50:44) Di akhir hayatnya dia itu di dari muda digoda untuk berhenti dari ibadah enggak berhenti. Tapi setan memiliki berjuta cara untuk menyesatkan. Di akhir hayatnya digoda dengan perempuan. Akhirnya terjerumus dalam perzinaan. digoda membunuh, akhirnya membunuh perempuan yang dizinahinya karena punya anak. Takut terbongkar oleh ayahnya yang seorang raja. Kebongkar juga ditangkap mau dihukum mati.
(51:15) Datang setan kamu mau selamat saya selamatkan. Datang setan kamu mau selamat saya selamatkan. Asal karena kepet mau mati mau ada yang nurut karena kepepet mau mati mau ada yang menawarkan diselamatkan aku berpud setan tertawa aku berlepas diri dari dilaksanakan ketika sujud hukuman mati apa dilaksanakan suul khatim tadinya ahli ibadah tahu enggak yang melat latar belakangi atau asbabul wurud hadis.
(51:57) Innallaha layuayyidu hadaddina birrajulil fajir. Allah akan menguatkan agama ini dengan seorang laki-laki durhaka fajir. Ini dikatakan ketika ada seseorang mujahid ikut perang hebat membunuh banyak orang. Sampai para sahabat menyatakan ini ahli surga. Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Enggak. Ini orang ahli neraka. Padahal jihadnya hebat.
(52:33) Banyak musuh terbunuh. Dia manfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Orang-orang penasaran orang sehebat ini kok ahli neraka. Diikut terus perang usai dia tidak mati. Terluka parah menderita akhirnya dia bunuh diri mati. Lalu Nabi menyatakan Allah akan menguatkan agama ini dengan orang durhaka. Tuh lihat dia suul khatimah.
(53:05) Inilah yang kata Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, kita diharuskan banyak-banyak berdoa. La Rabbana la tuziq qulubana ba’daid hadaitana wahablana min ladunka rahmah. Innaka antal wahab. Allahumma ya muqallibal qulbit qbi ala dinik. Allahumma ya musifalb sf qbi ala thaatik.
(53:39) Lalu timbul pertanyaan, kenapa orang tadi suul khatimah? Kenapa Allah enggak jaga dia? Kan tadinya ahli ibadah. Selangkah lagi masuk surga tuh. Kenapa enggak dijaga oleh Allah? Hadis ini dianalisa oleh para ulama. Lihat syarah hadis ini. Hadis ini kan riwayat Bukhari Muslim. Lihat Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari. Lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Sahih Muslim.
(54:12) Lihat penjelasan Imam Ibnu Rajab Al-Hambali ketika menjelaskan hadis ini dalam kitab Jamiul Ulum Wal Hikam. Ini kitab syarah arbain an-Nawawiyah ditambah 10 hadis. Kata Imam Ibnu Rajab, orang tadi ahli ibadah tapi di akhir hayat berhenti ibadah. belot menjadi ahli maksiat menunjukkan hidayah ibadahnya itu dicabut karena orang bisa beribadah karena apa? Hidayah Allah.
(54:50) Kalau hidayah dicabut berhenti ibadah dia. Dicampakkan keinginan untuk berbuat dosa dan maksiat. Timbul pertanyaan, kenapa Allah mencabut hidayahnya? Pal Allah itu adil, tidak pernah zalim kepada hambanya. Allah itu laisa bidallam lil abid. Allah enggak pernah zalim kepada hamba-hambanya.
(55:19) Pasti Allah ada alasan kenapa orang itu dicabut hidayahnya. Kata Imam Ibnu Rajab, dicabutnya hidayah dari diri orang itu sehingga berhenti ibadah menunjukkan Allah enggak suka kepada ibadahnya. ibadahnya selama ini ditolak. Loh, kenapa enggak suka? Kenapa ditolak? Karena tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya ibadah. Syarat diterimanya ibadah pokoknya dua.
(55:51) Kalau secara mau lengkap lagi, empat. Satu di antara empatnya tidak terpenuhi ditolak. Yang pertama adalah ikhlas karena Allah. Karena orang beribadah tapi tidak ikhlas sehebat apapun ditolak kan. Fawailul lil musin. Ini salat celaka tuh enggak diterima. Salah satunya alladzina hum yuroun riya salatnya.
(56:26) anir amalan asir aku zat yang paling tidak membutuhkan sekutu saingan, tandingan. Siapa orang yang melakukan satu amal ibadah tapi dia menyekutukan aku dalam hal niat riah, aku tolak dia, aku tinggalkan dia, aku tinggalkan perbuatan syirik. Walaupun syirik kecil, jangan tertipu dengan istilah kecil. Syirik kecil tapi dosanya sangat besar.
(56:58) Jadi, pertama mungkin ibadah yang hebatnya itu tidak ikhlas sehingga tertolak atau yang kedua tidak mutabaah. Cara melaksanakan ibadahnya itu tidak mengikuti contoh dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tertolak. Man amila amalan laisa alaihi amruna fahua raddun. Siapa yang mengamalkan satu amalan tapi enggak nyontoh kepadaku ditolak.
(57:27) Ketiga, ketiga, keempat ini disebut syartho kamalil amal. Dua syarat penyempurna amalan tapi harus dipenuhi kalau enggak ditolak juga. Yang ketiganya adalah almusaraah atau almusabaqah. Bersegera. Allah menyatakan wasariu ila magfiratibikum dalam surah alhadid wasabiqu ila magfiratikum bersegera berlomba menuju ampunan Allah dan menuju surga maksudnya bersegera dalam melakukan ibadah jangan taswif ditunda-tunda.
(58:06) Coba salat ikhlas mutabaah tapi salat subuh jam .00 Salat zuhur .30, salat asar. Ditunda-tunda lalai dia termasuk sahun. Fawailulil musallin alladina hum an shatihim sahun. Bersegera. Dan yang keempat terakhir al-akhdzu bil quwwah. Melaksanakan dengan sepenuh kesungguh-sungguhan. Jangan asal-asalan, jangan ala kadarnya.
(58:46) Salat ya ikhlas, ya mutabaah, ya bersegera, tapi asal-asalan. Jangankan Allah yang maha sempurna, maha baik. Innallaha thyibun la yaqbalu illa thayyiba. Allah tuh maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik. Kita aja nyuruh orang kerja, dia asal-asalan walaupun benar. Tapi asal-asalan kesal kitanya juga yang lelet lambat gitu dipecat oleh kita, diganti dengan orang lain yang lebih gercep gitu.
(59:26) Jadi empat diterimanya amalan. Pertama ikhlas, kedua mutabaah, ketiga musaraah dan musabaqah, keempat alakdu bil quwah. Nah, orang tadi melakukan ibadah tapi oleh Allah dicabut hidayahnya. Menunjukkan Allah enggak suka kepada ibadah orang itu. Karena apa? Mungkin tidak ikhlas, mungkin tidak mutabaah dan seterusnya.
(59:57) Akhirnya dicabut kemudian dicampakkan keinginan untuk bermaksiat. Dia berhenti ibadah, belot menjadi ahli maksiat, mati dalam keadaan demikian. Lalu suul khatimah. Karena itulah salah satu penyebab orang mati dalam keadaan suul khatimah mungkin tidak ikhlas dalam beramal atau mungkin saja orang itu ikhlas tapi tidak mutabaah. Amalannya penuh bidah.
(1:00:29) amalannya penuh dengan rekayasa tambahan, pengurangan atau perubahan sehingga berbeda dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya. Jadi itulah penjelasan Imam Ibnu Rajab. Orang tadi berhenti dari itulah penjelasan Imam Ibnu Rajab. Orang tadi berhenti dari ibadah karena dicabut hidayah. Disebabkan orang tadi ibadahnya tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya.
(1:00:57) Silakan. Allahuamab. Jazakallahu khairan ustaz atas penjelasan dan pemaparannya. Untuk berikutnya pertanyaan terakhir ustaz di kesempatan kita masih kita angkat melalui pesan WhatsApp. Pertanyaan dari yang di Sumatera Selatan terkait dengan syarat lailahaillallah ustaz. Kalau kita baru tahu sekarang, Ustaz, bagaimana kedudukan lailahaillallah kita sebelumnya, Ustaz.
(1:01:31) Mohon nasihatnya, Ustaz. Kita sebelum Barakallahu fik. Kita baru tahu tujuh syarat lailahaillallah sekarang. Kemarin-kemarin belum tahu. Terus gimana kedudukannya? Tib. Barakallahu fik. Alhamdulillah kita sekarang sudah paham tinggal menerapkan yang sudah berlalu biarlah berlalu kesalahannya kekeliuan kita tobati-banyak istigfar kita perbaiki untuk sekarang dan yang akan datang.
(1:02:12) Seluruh ibadah yang dilakukan secara salah karena kebodohan, karena ketidaktahuan. Baik kebodohan secara syar’i atau secara hisi, ibadahnya sah dan diterima oleh Allah. Dimaklumi karena kebodohan. Banyak contoh dalam masalahnya. Contohnya umpamanya ada seorang sahabat mualaf namanya Muawiyah bin al-Hukm. Dia masuk Islam. Suatu saat dia salat berjamaah.
(1:03:03) Ketika salat ada yang bersin haji dia sudah tahu adab-adab. Kalau mendengar bersin dia doakan yarhamukallah. Padahal lagi salat. Para sahabat melotot ke dia. Dia enggak suka dipelototin. Lalu ngomong, “Ma sya’nukum tanzuruna ilaiya.” Ngapain kamu melihat-lihat ke saya? Padahal lagi salat, lagi salat ngomong batal enggak? Batal.
(1:03:32) Tapi karena dia enggak tahu terus, akhirnya para sahabat berisyarat dengan menepuk-nepuk paha mereka, aku pun diam. Beres salat. Demi Allah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih beradab, lebih lembut di dalam memberi nasihat. Beliau tidak memarahi aku, tidak memaki aku. Beliau hanya berbicara secara umum di hadapan orang.
(1:04:02) Inna hadah la yasluhu fiha min kalaminas. Sesungguhnya salat ini tidaklah layak di dalamnya ada ucapan orang. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak menyuruh aku untuk mengulang kembali salatnya. Menunjukkan salatnya dianggap apa? Sah. Adapun ngomong yang sebenarnya membatalkan dimaafkan karena tidak tahu karena kebodohan. Ini contoh pertama.
(1:04:36) Kedua, Umar dan Ammar dua-duanya diperintah oleh Nabi Safar. Pada waktu subuh dua-duanya junub, enggak ada air. Adapun Umar tidak salat karena harus mandi, enggak ada air. Salat juga percuma kalau junub. Adapun Ammar bin Yasir, dia mandi dengan tanah, guling-guling di tanah, lalu salat. Siapa yang benar? Nabi ee Umar apa Amar? Dua-duanya salah.
(1:05:10) Lalu setelah pulang ke Madinah diceritakan apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kafa anquula biadaika hak. Cukuplah bagi kamu untuk melakukan dengan kedua tanganmu seperti ini. Lalu diajari tayamum. Tapi Nabi tidak menyuruh Umar ataupun Amar untuk salat subuh yang waktu itu kelewat. Umar enggak salat dibiarkan. amar salat tapi salah dibiarkan. Ini menunjukkan ijtihad mereka saat itu karena ketidaktahuan melahirkan ijtihad yang berbeda dianggap sah. Sudah.
(1:05:51) Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam sendiri pernah karena ketidaktahuan beliau melakukan sebuah kesalahan tapi dianggap sah. Beliau salat bersama para sahabat memakai sendal. Di tengah salatnya beliau membuka sendal dan menyimpannya di sebelah kiri di tengah-tengah salat. Melihat itu para sahabat juga membuka salat eh membuka sendal dan disimpan. Mereka enggak tahu alasannya apa.
(1:06:16) Pokoknya Nabi begitu diikuti begitu karena sempurnanya sikap ittiba para sahabat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Seusai salat, Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian menegur, “Kenapa kalian buka sendal-sendal kalian?” Mereka bilang, “Kami lihat engkau mau buka, kami juga buka.
(1:06:42) ” Lalu beliau membuka rahsia, “Tadi datang Jibril berbisik kepadaku, di senku ada najis, makanya aku buka.” Jadi separuh salat Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau salat dengan ada najis di senalnya tapi tidak tahu. Ini bodoh secara hissi tidak tahu terhadap realita adanya najis di sendalnya. Jadi separuh salat Nabi beliau memakai senal bernajis. Tapi beliau tidak membatalkan salatnya.
(1:07:19) mengulang dari awal enggak melanjutkan menunjukkan salat beliau yang separuh dengan najis itu dianggap sah. Kenapa? Karena ketidaktahuan. Jadi banyak hadis yang menyatakan kalau seorang melakukan ibadah lalu salah karena ketidaktahuan dan ketidaktahuan dimaklumi karena memang belum datang penjelasan kepada dia, maka dimaafkan dan ibadah yang dilakukannya itu dianggap sah dan tidak perlu untuk diulang.
(1:07:58) Ya, wallahuam bisab. Jadi demikian juga semoga kesalahan-kesalahanam. Jadi demikian juga semoga kesalahan-kesalahan kita karena amal-amal yang kita lakukan di masa lalu karena kekurangan kita banyak salah banyak keliru. Semoga diampuni oleh Allah dimaafkan dan untuk selanjutnya semoga Allah membimbing kita sampai akhir hayat kita dan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Allahumma ajirna minanar.
(1:08:32) Allahumma ajirna minanar. Allahumma ajirna minanar. Allahumarzuqna husnal khatimah waj’alna birahmatika min ahlil jannah. Allahumarzuqna husna khatimah waj’alna birahmatika min ahlil jannah. Allahumarzuqna husnul khatimah waj’alna birahmatika min ahl jannah. Ya, semoga Allah menyelamatkan kita semua dari api neraka.
(1:09:03) Baik yang hadir, para pemirsa, para penonton, para pendengar di mana pun berada, para netizen. Dan semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah dan menjadikan kita karena rahmat-Nya sebagai salah satu penghuni surga tertinggi di Alfirdaus A’la. Ya, ini hari Jumat sore saat diijabahnya doa semoga Allah mendengar dan mengabulkan doa kita.
(1:09:34) Wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wasallam. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan jazakallahu khairan kepada Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian sore hari ini langsung dari Masjid Agung Al-Ukhuwah Kota Bandung, Jawa Barat.
(1:09:59) Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda sahabat Raja di mana pun Anda berada. Semoga kebersamaan kita mendatangkan ilmu yang bermanfaat dan amal-amal yang saleh. Mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga Allah pertemukan kita kembali di lain kesempatan khususnya bersama Ustaz Abu Haidar Asundawi hafidahullahu taala di setiap hari Jumat sore pukul 16.00 waktu Indonesia bagian barat sampai dengan selesai. Kami undur diri.
(1:10:24) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply