Ustadz Abdullah Taslim, M.A. | Minhajul Firqatin Naajiyah

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(4) [LIVE] Ustadz Abdullah Taslim, M.A. | Minhajul Firqatin Naajiyah – YouTube

Transcript:
(00:00) Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhwat Islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Kadi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya. Dan kami mengucapkan selamat menyimak, semoga bermanfaat.
(00:32) Roja TV bagi Anda para pemirsa R TV. Bismillah
(01:51) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah.
(02:28) Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah waqo minha zaujaha. Walaq minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaanaana alaikumqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu qulan sadida yuslih lakum aalakumagfir lakum dunubakum amma ba’du fain asdaqal hadis kitabullah wahairal hadi hadyu muhammadin
(03:46) shallallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri Alhamdulillah. Maasyiral muslimin, maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Kaum muslimin, para pemerhati Raja TV dan Radio Rajak di mana pun antum berada. Serta ikhwah dan akhwat yang hadir di Masjid Albarkah yang mubarak.
(04:21) Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya kita memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan kebaikan bagi kita dalam urusan dunia apalagi urusan agama kita yang senantiasa memudahkan bagi kita untuk terus menuntut ilmu, mengkaji manhaj ahlusunah wal jamaah, mengkaji prinsip-prinsip dasar para salaf dalam beragama.
(04:53) Alhamdulillah di malam hari ini kita dipertemukan kembali dalam majelis ilmu yang mulia di masjid yang mubarak ini. Di lanjutan kajian kita membahas kitab kecil yang sangat bermanfaat, Minhajul Firqatin Najiyati wat Thaifatil Mansurah. Metode beragama.
(05:15) Metode beragama golongan yang selamat dan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala. tulisan dari As Syekh Muhammad Mil Jamil, Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Ya, di pembahasan kitab ini kita akan dan telah sering mendapatkan pembahasan tentang masalah tauhid, mengulang-ulangi pembahasan masalah tauhid, masalah keharusan untuk mengingkari perbuatan syirik sampai termasuk yang sedang kita bahas saat ini adalah maukif maukiful ulama minat tauhid.
(05:54) sikap dari orang-orang yang berilmu ya, baik itu ahlusunah maupun selain mereka dalam masalah dakwah tauhid ini menunjukkan kepada kita bahwa memang pembahasan tauhid adalah pembahasan yang paling penting dalam urusan agama kita. pembahasan yang membedakan dakwah ahlusunah wal jamaah dengan dakwah yang menyimpang dari manhaj yang hak ini.
(06:24) Namib saat ini kita akan melanjutkan pembahasan yang disebutkan oleh Syekh di sini maukiful Ulama minat tauhid. Sikap para ulama, prinsip para ulama terhadap dakwah tauhid. Sudah dua golongan ulama atau orang yang berilmu yang kita bahas. Pertama, mereka-mereka yang mengenal tauhid, memahaminya, mempelajari tauhid, kemudian mempelajari lawannya yaitu kesyirikan.
(06:53) Kemudian mereka menegakkan kewajiban mereka dalam dakwah ini. Tentu ini merupakan sikap yang benar. Inilah sikap yang meniru para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Merekalah yang paling tepat untuk dikatakan sebagai waratul anbiya, pewaris para nabi alaihimusatu wasalam. Innal ulamaa waratul anbiya wa inal anbiya lam yuwar dinaron wala dirhaman wa innama warul ilmaan akahu ak biin wafir kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sesungguhnya orang-orang yang berilmu para ulama adalah pewaris para nabi.
(07:33) Karena para nabi, para nabi tidak mewariskan uang emas, tidak juga uang perak, tapi yang mereka wariskan adalah ilmu, ilmu agama yang benar. Maka barang siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bagian yang banyak, bagian yang sempurna. Mereka mewarisi bukan cuma hanya ilmu saja, tapi mereka juga mewarisi tugas dakwah para nabi alaihiusalatu wasalam.
(08:00) Inilah sebaik-baik manusia. Inilah orang-orang yang disebut sebagai kekasih Allah, sebagai wali Allah yang sesungguhnya. Inilah orang-orang yang dipuji dalam Al-Qur’an. Waman ahsanu qulam mimman da’a ilallahi wa amila shiha waqala innani minal muslimin.
(08:29) Siapakah yang lebih baik ucapannya? Tidak ada yang lebih baik ucapannya dibandingkan orang-orang yang mengajak manusia kepada Allah. yni kepada tauhid, kepada ikhlas, mengikhlaskan agama untuk Allah semata-mata. Dan dia melakukan amalan saleh serta dia mengatakan, “Innani minal muslimin.” Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri, tunduk kepada Allah Subhanahu wa taala dengan mentauhidkannya.
(08:53) Kemudian golongan yang kedua, orang-orang yang memulai dakwah bukan dengan menekankan masalah tauhid, mengingkari perbuatan syirik. Mereka justru memulai dakwah dengan perkara-perkara yang lain yang meskipun dalam Islam juga benar, tetapi tanpa memperbaiki landasan tauhid, maka amal-amal dalam Islam kita ketahui akan tertolak, tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa taala.
(09:23) Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walau asraku lahabithum mau yaalun.” Kalau mereka melakukan perbuatan syirik, maka sungguh akan binasa, gugur amal-amal yang dulunya mereka lakukan. Inilah dua golongan manusia yang telah kita bahas. Sekarang asal golongan yang ketiga. Alqismut thas ya. Golongan yang ketiga. Minal ulamai wadduati.
(10:01) dari kalangan orang-orang yang dianggap berilmu atau para dai, orang-orang yang memposisikan dirinya sebagai pengajak manusia. Tarqu dwati il tauhid wa muharati syirki khaufan minhajamatinasi lahum. Mereka ini meninggalkan seruan dakwah kepada tauhid. Mereka tidak mau mengingkari atau memerangi perbuatan syirik. Ya, karena takut orang-orang akan menyerang atau memusuhi mereka.
(10:43) Ini alasan dari sebagian orang meninggalkan dakwah tauhid padahal dia sudah tahu itu sangat penting. Itulah inti dakwah para nabi dan para rasul. Tujuannya adalah mengumpulkan masa. Padahal kita tahu manusia tidak akan bisa dikumpulkan atau disatukan hanya semata-mata dengan mengikuti keinginan mereka. Yang maha kuasa untuk menyatukan hati manusia adalah Allah Subhanahu wa taala.
(11:09) Ya. Lau anfakta ma fil ardhi jami ma alafta baina qulubihim wakinnallaha alafa bainahum. Wahai Rasulullah, seandainya kamu menginfakkan semua perbendaraan harta yang ada di muka bumi ini untuk menyatukan hati manusia, kamu tidak akan bisa menyatukan hati mereka. Tetapi Allah, Allah dialah yang menyatukan hati manusia.
(11:35) ” Yakni mereka menyangka dengan mengikuti keinginan orang, orang akan bisa bersatu untuk mengikuti mereka. bisa mengagungkan mereka-mereka ini. Padahal kenyataannya hati manusia tidak bisa disatukan ya hanya dengan perkara-perkara seperti ini.
(12:01) Karena yang maha kuasa menguasai hati manusia, membolak-balikkan hati manusia adalah Allah Subhanahu wa taala. Dialah almqalb muqallibal qulub yang maha membolak-balikkan hati. Nam. Jadi karena takut muhajamatinas, takut manusia menyerang atau memusuhi mereka. A khaufan ala wadifihim wa marakizihim. Atau takut ya kehilangan jabatan, kehilangan pekerjaan, takut markas-markas mereka nanti akan ditutup.
(12:38) takut pondok-pondok mereka atau tempat-tempat kegiatan dakwah mereka kemudian diserang atau ditutup. Ini ketakutan yang tentu saja termasuk tipu daya setan. Di antara tipu dayanya kita tahu menakut-nakuti manusia untuk takut terhadap wali-wali mereka. Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an di surah Ali Imran.
(13:09) Innamaikumusit yukhawifu auliyaahu fala takofuhum wakofuni inuntum mukminin. Itu adalah perbuatan setan yang menakut-nakuti kalian dengan wali-walinya. yakni setan membuat orang-orang yang berpegang teguh dengan tauhid, orang-orang yang selalu mendakwahkan kebenaran ditakut takuti dengan wali-wali setan dari kalangan jin dan manusia supaya mereka mundur dari dakwah, supaya mereka takut menegakkan kebenaran. Maka Allah berfirman, “Fala takofuhum wakofuni intuntum mukminin.
(13:51) ” Janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepadaku semata-mata jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Ya, ini yang menjadikan kebanyakan mereka meninggalkan dakwah ini. Tiib. Faqatamul ilmadzi amarahumullahu bitabligihi linas. Maka dengan itu mereka menyembunyikan ilmu bahkan ilmu yang paling besar yaitu ilmu tauhid. Ilmu yang merupakan warisan utama para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.
(14:31) Maka mereka pun menyembunyikan ilmu yang Allah perintahkan untuk disampaikan kepada manusia. Jelas mereka-mereka ini adalah orang-orang yang sangat buruk di sisi Allah Subhanahu wa taala. Padahal kita tahu mencari keridaan manusia tidak akan mungkin kita bisa dapatkan.
(14:56) Satu orang, dua orang kita bikin suka, maka puluhan orang yang akan membenci kita. Apa kata para ulama? Ya ridanas gayatun la tudrak waridallah. Keridaan manusia itu adalah tujuan yang tidak akan mungkin bisa dicapai karena masing-masing punya keinginan sendiri-sendiri. Sedangkan keridaan Allah Subhanahu wa taala adalah tujuan yang jangan sampai ditinggalkan.
(15:28) Kita masih ingat hadis yang diriwayatkan, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam Jami atau dinyatakan hasan atau sahih oleh Syal Albani rahimahullahu taala dari Aisyah radhiallahu taala anha, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Maniltamasa ridallah btinas radhiallahu anhu Barang siapa yang mencari keridaan Allah meskipun manusia murka kepadanya maka Allah akan rida kepadanya dan akan menjadikan manusia rida kepadanya.
(16:09) Tapi barang siapa yang mencari keridaan manusia meskipun Allah murka kepadanya, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya. Ya, pasti semua akan mengikuti apa yang dikehendaki dan diatur oleh Allah Subhanahu wa taala. Termasuk masalah membolak-balikkan hati manusia untuk senang atau rida. Ya.
(16:34) Jadi di sini kesalahpahaman dari mereka-mereka yang ingin mencari keridaan manusia dengan resiko meninggalkan dakwah yang benar. Apalagi dakwah yang paling ya dicintai oleh Allah subhanahu wa taala yaitu menegakkan tauhid dan memerangi perbuatan syirik. Nah, kata beliau, wahaqo alaihim quluhu taala.
(17:06) Maka benarlah tertuju pada mereka makna firman Allah Subhanahu wa taala di surah Albaqarah ya. Azubillahiminasyaitanirrajim. Innalladzina yaktumuna ma anzalna minal bayyinati wal huda m ba’di ma bayanahu linasi fil kitabi ulaik ulaika yalanuhumullahu waalanuhumul lainun. Naudubillah minzalik. Ya, ini jelas-jelas ancaman dosa yang sangat besar.
(17:39) Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan menutup-nutupi apa yang kami turunkan berupa bukti-bukti kebenaran dan petunjuk setelah kami jelaskan kepada manusia di dalam Al-Qur’an. Mereka inilah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh makhluknya, oleh makhluk atau orang-orang yang melaknat mereka.
(18:10) Ini laknat dari Allah azza wa jalla bagi mereka. Ini menunjukkan dosa yang sangat besar karena mereka mengetahui kemudian menyembunyikannya. Ya. Dan di antara orang-orang yang mengenal agama tentu mengenal permasalahan ini. Bagaimana mungkin tauhid adalah mayoritas yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Kesyirikan adalah penyimpangan yang paling banyak dibantah di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
(18:34) Kalau mereka belajar Al-Qur’an saja paham isinya, maka pasti akan paham masalah ini. Belum lagi dalam hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Jadi memang ilmu itu adalah sebab untuk kebaikan, sebab untuk terbukanya hati manusia menerima hidayah Allah.
(18:59) Tapi tidak semua orang yang belajar agama kemudian mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk mengikuti petunjuk ilmu yang benar. Ya, makanya dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah pernah kita jelaskan ya diungkapkan dengan alfiqhu fiddin memahami agama bukan cuma sekedar punya wawasan pengetahuan tentang agama tapi diungkapkan dengan fikhu fiddin.
(19:25) Man yuridillahu bihi khairon yufaqqihu fiddin. Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah jadikan dia paham dalam agama. Di sini berarti ilmu yang bermanfaat kemudian tunduk mengikuti perintah ilmu, mengamalkan ilmu tersebut. Tidak semua orang yang punya ilmu dalam artian punya pengetahuan agama mau benar-benar bersabar dalam mengikuti petunjuk ilmu agama, mau benar-benar mengamalkannya dan bersabar menghadapi segala risikonya sebagaimana yang dialami oleh para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Kemudian orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan baik. asyaddunasi balaan
(20:10) al anbiyaal amsalu fal amsal kata rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam orang yang paling besar cobaannya di jalan Allah adalah para nabi kemudian orang-orang yang setelah mereka yang mengikuti petunjuk mereka kemudian orang-orang yang setelah mereka nah inilah kenapa mereka disebut sebagai waratul anbiya pewaris para nabi alaihiusalatu wasalam kenapa mereka menempati kedudukan yang paling tinggi tinggi setelah kedudukan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.
(20:41) Karena mereka memang bersabar, benar-benar bersabar mengikuti jalan ilmu, bersabar menghadapi ujian-ujian sebagaimana yang Allah timpakan kepada para nabi dan para rasulnya. Tapi yakin mereka punya keyakinan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa taala dekat dengan hamba-hamba yang menegakkan agamanya. Inna nasrallahi qoribun minal mukminin. Ya ala inna nasrallahi qorib.
(21:11) Ketahuilah bahwasanya pertolongan Allah subhanahu wa taala itu sangat sangat dekat. Tib. Kemudian waqala taala fi haqqid duat. Di ayat yang lain di surah Al-Ahzab, Allah Subhanahu wa taala berfirman menggambarkan keadaan orang-orang yang berdakwah di jalan Allah dengan benar. Ya, alladzina yuballighuna risalatillahi waaksyaunahu wala yaksyauna ahadan illallah.
(21:52) Mereka adalah orang-orang yang menyampaikan risalah Allah. menyampaikan petunjuk-petunjuk Allah dan mereka hanya takut kepada Allah ya. Serta mereka tidak takut kepada seorang pun kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Tauhid itu sekali lagi butuh untuk diamalkan.
(22:21) Itulah sebabnya kita belajar agama dan selalu minta kepada Allah agar dianugerahkan ilmu yang bermanfaat. yakni ilmu yang kita amalkan, yang kita praktikkan, apalagi ilmu tauhid. Kita tahu inilah sebab Allah Subhanahu wa taala menjaga kita. Inilah sebab Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita istikamah di atas kebenaran. Makanya kita praktikkan, kita amalkan ya.
(22:48) Dan tentu saja yang berhubungan dengan rasa takut tadi ini menunjukkan tauhid yang ada di hati hamba atau di hati orang-orang yang pemikirannya seperti ini adalah tauhid yang lemah. Bagaimana mungkin dia belajar tauhid yang dia tahu di antara makna tauhid yang paling agung adalah bersandar kepada Allah semata-mata. Tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata.
(23:16) Apalagi ketika menegakkan hak Allah yang paling agung yaitu tauhid. Ya, yang sudah pernah kita sebutkan sekelas Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam ketika dilemparkan ke dalam api. Yang jelas-jelas api ini secara tabiat membakar manusia. Tapi karena tauhidnya kuat, Allah Subhanahu wa taala yang menciptakan sebab dan menentukan akibat menjadikan dalam hal ini tidak berlaku hal tersebut. Ketika dia mengucapkan apa? Hasbiallahu wanikmal wakil.
(23:47) Ya. Kata Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma dalam Sahih Bukhari, “Hasbiallahu waal wakil kalimatun qalaha Ibrahim alaih salam hina ulqiya finar.” Ucapan hasbiallahu wikmal wakil. Cukuplah Allah bagiku dan dialah sebaik-baik pelindung. Inilah yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam ketika dilemparkan ke dalam api.
(24:13) Yni orang yang bertauhid seperti ini keadaannya. Bukan sengaja dia mencari musuh atau menentang, tapi karena dia menegakkan kewajiban yang tentu itu ada resikonya. Maka ketika menghadapi resiko tersebut, dia benar-benar bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala menunjukkan tauhid yang diyakininya benar-benar tauhid yang tertanam di dalam hatinya kemudian dipraktikkan dan dihadapi segala risikonya.
(24:46) Ya, sama dengan kalimat ini yang diucapkan oleh siapa? Para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Hasbunallahu wanikmal wakil. Ketika mereka ditakuti oleh orang-orang munafik bahwa orang-orang kafir dari Makkah akan menyerang mereka dalam jumlah yang besar. Ya, tapi apa kata mereka? Hasbunallahu wanikmal wakil.
(25:11) Cukuplah Allah Subhanahu wa taala bagi kami dan dialah sebaik-baik pelindung. Maka ini menjadikan Allah Subhanahu wa taala menolong mereka, menjadikan mereka justru yang ditakuti, justru musuh-musuh yang takut kepada mereka. Dan ini sudah kita ketahui adalah balasan dari orang yang menegakkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa taala.
(25:38) Orang yang takut kepada makhluk justru Allah jadikan makhluk itu menguasai dan menundukkan dirinya. Tapi orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa taala semata-mata justru Allah subhanahu wa taala jadikan dia aman dan makhluk yang takut kepadanya. Ya. Waman khofa ghairallahi sallatahu alaih. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, “Barang siapa yang takut kepada selain Allah Subhanahu wa taala maka justru Allah jadikan sesuatu itu akan menguasai dan menundukkan dirinya.” Naudubillah minzalik. Tib waqala sallallahu alaihi wasallam.
(26:11) Kemudian di dalam hadis yang sahih, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Man katama ilman aljamahullahu bilijamim minanar.” Barang siapa yang menyembunyikan ilmu, maka Allah Subhanahu wa taala akan memberikan tali kekang dari api neraka untuknya pada hari kiamat nanti. Yakni menyembunyikan ilmu tanpa uzur, tanpa alasan.
(26:43) Ya, keharusan dia menegakkan dakwah tauhid tapi disembunyikan karena alasan-alasan ketakutan-ketakutan dalam urusan dunia seperti tadi. Ini ancamannya termasuk ciri-ciri dosa besar ya. Yaitu diancam dengan azab neraka. Apalagi di jadikan seperti ini ancamannya akan dipakaikan padanya tali kekang dari api neraka pada hari kiamat nanti. Naudubillah minzalik.
(27:11) Hadis sahih riwayat Imam Ahmad. Jadi kita perhatikan ini kenyataan yang terjadi di kalangan manusia. Orang-orang yang mengenal tauhid dan menegakkannya dengan benar hanya sedikit dan selalu seperti itu. Kebenaran akan sedikit orang-orang yang berpegang teguh dengannya.
(27:35) Sudah pernah kita jelaskan kan makna guroba orang-orang yang asing di kalangan kaum mukminin sampai di kalangan orang yang berilmu pun sedikit terbukti yang berpegang teguh dengan dakwah tauhid sedikit. Semua orang tidak sabar, semua orang ingin dapatkan banyak pengikut. Ya, ini tabiat nafsu manusia. Padahal yang seperti ini bisa membinasakan manusia.
(28:02) Ya, orang-orang yang berpegang teguh dan bersabar menegakkan dakwah ini sedikit jumlahnya sampaiun di kalangan orang-orang yang berilmu sebagai bukti bahwa ilmu yang bermanfaat di kalangan manusia di akhir zaman semakin semakin kurang dan semakin sedikit orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Yakni orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa taala.
(28:25) Tib. Itulah golongan manusia yang ketiga, golongan orang yang berilmu yang ketiga. Alqismur rabi sekarang golongan yang keempat. Minal ulamai. Alhamdulillah. minal ulamai wal masik man yuaridw tauhidi fi duaihi wahdahu wa adami duai waami duai girillahi minal anbiya wal auliyaai wal amwati. Golongan yang keempat dari kalangan orang yang berilmu atau para syekh, para guru, yaitu orang-orang yang sengaja menentang dakwah tauhid. Ini lebih parah lagi.
(29:29) Bukannya hanya berpaling, tidak menegakkan ilmu yang benar, ya, tidak menyampaikan seruan dakwah sebagaimana yang disampaikan oleh para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Justru mereka ini dengan ilmu yang mereka miliki justru menentang dakwah ini, justru menjadi penentang dakwah kepada tauhid. Dan ya mereka ini menentang dakwah kepada dakwah ke jalan tauhid, mentauhidkan Allah subhanahu wa taala yaitu berdoa kepada Allah semata-mata dan tidak berdoa kepada selain Allah baik itu dari kalangan para nabi atau orang-orang yang dianggap wali.
(30:14) atau orang-orang yang sudah mati. Ada orang-orang yang justru mencela dakwah tauhid dan justru mendukung perbuatan-perbuatan syirik seperti ini. Padahal mereka dianggap sebagai orang-orang yang berilmu. Mereka tahu hukumnya. Ya, inilah keadaan yang sangat parah. Naudubillah minzalik. Tiib. Liannahum yujizuna dzalik.
(30:42) Karena mereka justru membolehkan perbuatan seperti ini. Ya, mereka ini yang justru menjadi tokoh-tokoh yang memimpin perbuatan-perbuatan seperti ini atau paling tidak membolehkannya dan sengaja menjelek-jelekkan dakwah tauhid yang mengingkari perbuatan-perbuatan syirik seperti ini. ayati alwidati wausrifunal ayatil waridata fit tahdiri min duai ghairillahi fi haqqil musyrikin.
(31:25) Dan ini parahnya orang-orang yang berilmu seperti ini yuharrifunal kalima am mawadiihi berani untuk menyelewengkan kalimat-kalimat Allah dari tempat-tempatnya. Dan masalahnya orang-orang percaya karena mereka dianggap sebagai orang yang berilmu. Ini yang menjadikan keburukan orang-orang seperti ini lebih besar lagi. Karena keburukannya diikuti oleh orang lain. Nauzubillah minzalik.
(31:49) Ya, mereka memalingkan makna ayat-ayat yang menjelaskan tentang peringatan untuk menjauhi berdoa kepada selain Allah. Mereka artikan itu hanya terjadi pada orang-orang musyrik saja, tidak mungkin terjadi di kalangan orang-orang muslim. Itu kata mereka. Ya.
(32:19) Padahal ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis yang sahih memperingatkan bahwa keadaan umat ini akan banyak yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Kemudian godaan perbuatan syirik dari berhala-berhala yang disembah selain Allah. Rbi innahunna adlalna katsir minanas. Doanya Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam. Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala ini menyesatkan banyak manusia.
(32:45) Siapa yang menjamin? Hanya pelaku-pelaku syirik saja yang aslinya musyrik yang terjerumus ke dalam perbuatan tersebut. Sementara orang-orang yang sudah masuk Islam aman dari kemungkinan itu. Dari mana jaminan seperti ini? Nam. Jadi mereka mengartikan peringatan dari Allah Subhanahu wa taala tentang perbuatan-perbuatan syirik tersebut hanya terjadi pada kaum musyrikin saja.
(33:10) Wa alla yujadu wa yujada ahadun minal muslimina dakhilun fi syirki. Bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan orang muslim yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Kalau begitu Al-Qur’an diturunkan peringatannya kepada kita. Apa manfaatnya kalau hanya terjadi pada orang-orang kafir saja? Kalau itu hanya terjadi kepada orang-orang yang di luar Islam saja, Al-Qur’an kan peringatan untuk kita semua ya.
(33:41) Apalagi perbuatan-perbuatan syirik yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an sudah pernah kita sebutkan di surat Yusuf alaihialatu wasalam. Wama yukminu aksaruhum billahi illa wahum musyrikun. Dan kebanyakan mereka tidaklah beriman kepada Allah kecuali mereka masih dalam keadaan melakukan perbuatan syirik.
(34:04) Ini keadaan mayoritas manusia kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa taala. Namib. Jadi kata mereka, tidak ada seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang terjerumus ke dalam perbuatan syirik ini. Waannahum lam yasmau quahu taala. Seolah-olah mereka belum pernah membaca atau mendengarkan firman Allah Subhanahu wa taala di dalam surah Al-An’am ya. Ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Alladzina amanu walam yalbisu imanahum bidulmin ulaika lahumul amnu wahum muhtadun.
(34:46) ” Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan iman mereka dengan kezaliman, yakni kesyirikan. Berarti orang yang beriman yang mencampurkan dengan kesyirikan ada berdasarkan ayat ini. Karena Allah sebutkan di sini orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kesyirikan.
(35:06) Berarti ada orang yang beriman yang masih mencampurkan dengan kesyirikan. yang tidak mencampuradukan keimanan mereka dengan kesyirikan ini. Merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan selalu mendapatkan hidayah, selalu mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa taala. Wadzulmu makna maknahu hun syirku bidalili quulihi taala. Inn syirka ladmun adzim.
(35:37) Kita sudah tahu kezaliman yang dimaksudkan di ayat ini maknanya adalah syirik. Dengan dalil firman Allah Subhanahu wa taala di dalam surah Luqman ya. Inn syirka ladulmun adzim. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang paling besar. Ya, ini salah satu di antara ayat Al-Qur’an dan masih banyak ayat-ayat yang lain yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun, bahkan yang sudah beriman pun masih bisa terjangkiti penyakit syirik. Apalagi sudah pernah kita sebutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan kesyirikan di umat ini akfa
(36:20) min daabibin namal lebih samar dibandingkan mereapnya seekor semut. Yakni peringatan-peringatan seperti ini bagaimana mungkin diabaikan oleh mereka-mereka yang kemudian menafikan terjadinya perbuatan syirik di kalangan kaum muslimin. Apalagi ini berdasarkan dalil. Apalagi lihat kenyataan kuburan-kuburan yang dikeramatkan bahkan yang dijadikan tempat meminta-minta sujud.
(36:47) Bukankah ini sangat banyak kenyataannya? Yang semua orang mengetahui hal ini. Ya, jadi tidak sesuai dengan dalil dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ini jelas-jelas orang-orang yang benar-benar menyembunyikan kebenaran, orang-orang yang lebih parah keburukannya dibandingkan orang-orang yang sekedar berpaling dari mendakwahkan tauhid ini. Namib.
(37:15) Kata beliau, fasyirku hasabal ayati yaq fil muslimu wal mukminu kama hua waqiun alana fiir minal biladil islamiyati. Maka perbuatan syirik sesuai dengan apa yang disebutkan di ayat ini ya sungguh terkadang seorang muslim atau orang yang beriman jatuh kepadanya, terjerumus ke dalamnya. Ya.
(37:56) Kenapa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mensyariatkan kita berdoa untuk berlindung kepada Allah dari perbuatan syirik yang kita ketahui maupun tidak kita ketahui? Memohon ampun dari kesyirikan yang tidak kita ketahui. Berarti ini mungkin terjadi. Tib. Sebagaimana kenyataan yang terjadi saat ini di kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin ya. Yang ini merupakan fenomena yang nyata. Tib ya.
(38:28) Cuma karena mereka-mereka ini punya kepentingan mencari pengikut, maka mereka membolehkan hal-hal yang seperti ini ya akibat dari memperturutkan hawa nafsu dan tidak mau menegakkan dakwah tauhid yang merupakan amanah Allah Subhanahu wa taala bagi orang-orang yang mempelajari agamanya untuk menyampaikan dakwah ini kepada manusia. Ya naudubillah minzalik dari perbuatan mereka itu. [Tepuk tangan] minal bidati qasul shallallahu alaihi wasallam minhum faqala inama aku umati alimmatal mudillin rawahu Tirmidzi. Maka mereka-mereka yang membolehkan bagi manusia berdoa kepada selain Allah.
(39:30) Ini jelas perbuatan syirik. atau menguburkan orang-orang yang dianggap wali atau orang-orang yang dianggap saleh menguburkan mereka di masjid masjid kaum muslimin atau tawaf di sekitar mengelilingi kuburan atau bernazar untuk orang-orang yang dianggap wali dan selainnya dari perbuatan-perbuatan bidah yang sangat mungkar bahkan terjerumus ke dalam syirik.
(39:59) Ya, sungguh mereka ini telah diperingatkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis sahih riwayat Imam at-Tirmidzi dan yang lainnya ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innama akho ala ummati al aimmatal mudillin.” Sesungguhnya yang aku khawatirkan bagi umatku yang akan bisa menyesatkan umatku adalah alaimmatal mudillin.
(40:27) para imam-imam atau para tokoh-tokoh yang menyesatkan manusia. Di dalam Al-Qur’an disebutkan ada aimmah, para imam-imam yang mengambil petunjuk dari perintah Allah Subhanahu wa taala. Imam-imam yang mengajak manusia kepada jalan yang lurus. Tapi ada juga aimmatan yaduna ilanar.
(40:54) Para pemimpin yang mengajak manusia kepada kepada neraka. Bahkan disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, hadis riwayat sahabat Hudzaifah Ibnu Yaman radhiallahu taala anhum tentang fitnah di akhir zaman. Ya, adanya duatun ala abwabi jahanam. Man ajabahum ilaiha qodfuhu fiha.
(41:22) Ada dai-dai, penyeru-penyeru yang berdiri di atas pintu neraka jahanam yang ada di hadapan pintu neraka jahanam. Barang siapa yang menyer mengikuti ajakan dakwah mereka, maka akan dilemparkan ke dalam neraka jahanam. Ini hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Dan ini akan ada di akhir zaman. Makanya tidak benar kalau orang-orang yang mengatakan bahwa ya semua orang itu mendakwah mengajak kepada kebaikan. Tidak benar. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan ada duatun ala abwabi jahanam.
(41:49) Dai-dai yang berdiri di atas pintu-pintu neraka jahanam. Tentu kita tidak menuduh semua orang tapi akan ada ciri-cirinya. Seperti yang disebutkan oleh Syekh di sini, jelas-jelas perbuatan syirik, perbuatan mungkar ya yang bisa menjerumuskan ke dalam hal-hal yang bertentangan dengan iman.
(42:08) Bahkan bisa membatalkan iman tapi mereka malah membolehkannya, malah mendukung perbuatan tersebut. Sementara justru dakwah yang mengajak kepada tauhid mengingkari mengingkari perbuatan syirik justru mereka musuhi, justru mereka jelek-jelekan. Ini jelas ciri-ciri yang nyata. Nauzubillah minzalik. Ya. Enam. Tib sudah azan. Iya. Silakan azan dulu. Barakallahu fikum.
(42:49) Ikhwatan Islam. Untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahuakbar. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar rasulullah. [Musik] Ashhadu anna Muhammadar rasulullah.
(43:56) Hayya al shah. Hayya alas shah. [Musik] Hayya alal falah. Hayya alal falah. [Musik] Allahuakbar. Allahuakbar. Lailahaillallah. [Musik] Muhammad
(45:29) in Muhammad Bab. Barakallah fikum. Jadi itu ya peringatan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis-hadis yang sahih tentang apa yang beliau sebutkan dengan al-aimmatul mudhillin. Alimmatal mudhillin. Para tokoh-tokoh yang menyesatkan manusia karena mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya.
(46:06) Tib kata Syekh selanjutnya wa ajaba ahadul masikil azarin ala sualin haula jawazati ilaqrin faqal. Ya, adalah salah seorang dari syekh-syekh yang ada di Al-Azhar yang lalu menjawab pertanyaan sekitar permasalahan bolehnya salat menghadap kuburan. Ini orang yang dianggap sebagai tokoh ya. Maka dia menjawab, “Limadza la tajuzusatual khabri.
(46:45) ” Kenapa tidak boleh salat menghadap kubur? Padahal jelas-jelas Nabi sallallahu alaihi wasallam melarangnya dalam hadis yang sahih ya. Wa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam fil masjid wasu yusuna ila qobrih. Inilah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ada di masjid di dalam masjid nabawi dan manusia salat menghadapnya. Padahal kita tahu Nabi sallallahu alaihi wasallam asalnya tidak dikuburkan di dalam masjid tapi di rumah Aisyah radhiallahu taala anha.
(47:16) Bainar rasul shallallahu alaihi wasallam lam yudfan fi masjidihi bal dufina fi baiti aisyata radhiallahu taala anha. Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam asalnya tidak dikuburkan di dalam masjid, tapi dikuburkan di rumah Aisyah radhiallahu taala anha. Waqod naha anisati ilal kuburi wamin duair rasuli shallallallahu alaihi wasallam.
(47:43) Allahumma inni azubika min ilmin la yanfa. Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sendiri telah melarang dalam hadis yang sahih untuk salat menghadap kuburan, yakni menyengaja menghadap kuburan. Dan termasuk doa yang diucapkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim adalah ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Seperti ini keadaannya ya.
(48:10) Sesuatu yang tegas ada larangannya. Mereka melanggarnya. Ya, mereka malah membolehkannya dengan alasan-alasan seperti tadi. Naudubillah minzalik. Arti dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah a la uallimuhu la uallimuhu walu bihi w yubadilu min aki. Yaitu ilmu yang aku tidak ajarkan kepada orang lain. Ilmu yang aku tidak amalkan dan tidak merubah akhlakku.
(48:41) Naudubillah minzalik. Ini yang ditafsirkan oleh Imam almunawi dalam kitab Faidul Qadir. Ya. Jadi inilah golongan yang keempat. dari orang-orang yang dinisbatkan kepadanya dianggap berilmu, tapi tidak menegakkan dakwah tauhid dengan sesungguhnya bahkan menentangnya. Ya. Dan justru mendukung mendukung perbuatan-perbuatan syirik yang terang-terangan tadi. Naudubillah minzalik.
(49:10) Golongan yang terakhir, Alkhamis yang kelima ini bukanlah orang-orang yang dikatakan sebagai berilmu atau tokoh-tokoh, tapi kata beliau di sini ada yang kelima, annasululladzina akhdu bikalami masyaikhihim wa atuhum fi maksiatillahi. Orang-orang yang mengambil ucapan dari para syekh-syekh tersebut, mentaati mereka dalam perbuatan maksiat kepada Allah.
(49:46) Khalafu qua rasulihim shallallahu alaihi wasallam. Mereka jelas-jelas menyelisihi sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih. La thaata limakluqin fi maksiatil khaliq. Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa taala. Hadis sahih riwayat Imam Ahmad sudah pernah kita sebutkan juga di dalam ayat Al-Qur’an disebutkan kalau sampai mereka ya dalam rangka mentaati tokoh-tokoh mereka itu padahal jelas-jelas menghalalkan yang diharamkan oleh Allah dan sebaliknya mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah itu bisa masuk
(50:23) dalam syirik ketaatan. yang sudah pernah kita sebutkan hadis yang sahih dari sahabat yang mulia Ali bin Hatim radhiallahu taala anhu ketika menanyakan hal ini kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Wasuam yaumalqiamatifumadamualair thqhim yaqabu wujuhum yaquitana inana faunilaana atihimini minalabi wanum kabir ya sungguh mereka nanti akan menyesali pada hari kiamat tentang ketaatan mereka
(51:30) kepada pemimpin-pemimpin tersebut dalam maksiat kepada Allah di mana hari itu tidak bermanfaat lagi penyesalan. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa taala sebutkan dalam Al-Qur’an ketika menjelaskan tentang azab yang menimpa orang-orang kafir dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka di surat Al-Ahzab. Ya. Yauma tuqabu wujuhum.
(51:58) Pada hari kiamat nanti ketika wajah mereka ditelungkupkan, dibolak-balikkan dalam neraka. Mereka berkata, “Ya, naudubillah minzalik. Ya laitana, duhai kiranya dulu kami mau mentaati Allah dan mentaati rasul-Nya. Dan mereka berkata, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pimpinan-pemimpin kami, pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami yang kemudian mereka menyesatkan kami dari jalanMu yang lurus.
(52:28) Wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka dua kali lipat dari azabmu dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” Ini akibat dari mentaati mereka dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa taala. Qala Ibnu Katsir fi tafsiril ayah. Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata, itabal umar walar minal masik walafn rasula shallallahu alaihi wasallam waqadna annaahumaian waahum alain faid hum laisu ala artinya kami mengikuti pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami dari kalangan para guru-guru tersebut ya. Dan kami sengaja menyelisihi petunjuk Rasul
(53:21) sallallahu alaihi wasallam. Kami meyakini para guru-guru ini punya sesuatu yang bisa dipegang dan mereka berada di atas satu pegangan yang kuat. Tapi ternyata semuanya terlihat pada hari kiamat bahwa mereka sama sekali tidak punya pegangan, tidak punya sandaran. Nauzubillah minzalik. Yni inilah golongan manusia.
(53:47) Dalam menghadapi dakwah tauhid yang tentu kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa taala dari golongan-golongan yang menyimpang. Dan antum perhatikan hanya satu golongan saja yang benar-benar berpegang teguh dengan kewajiban menegakkan dakwah tauhid, menegakkan dakwah para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Tib. Selesai sampai di sini pembahasan tentang masalah ini.
(54:07) Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan taufiknya bagi kita untuk selalu berpegang teguh dengan dakwah tauhid. mengingkari dan menjauhi perbuatan syirik dalam segala bentuknya. Semoga Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita selalu istiqamah di atas dakwah yang benar ini sampai di akhir hayat kita. Barakallahu fikum.
(54:35) Tib sebelum kita akhiri, kita jawab pertanyaan yang sampai dengan memohon taufik kepada Allah subhanahu wa taala. Ada pertanyaan? Jika di kalangan orang berilmu jumlahnya sedikit, bagaimana di kalangan penuntut ilmu apakah jumlahnya lebih sedikit lagi? Ya tentu saja. Yang jelas di kalangan semua manusia sudah pernah kita terangkan makna hadis guraba yang dijelaskan oleh Imam al-Ajurri dalam kitab atau risalah beliau algurabau minal mukminin.
(55:07) Beliau terangkan di setiap kalangan manusia mereka ini jumlahnya asing sedikit ya. di kalangan orang-orang yang berilmu, di kalangan penuntut ilmu, di kalangan penghafal Quran misalnya yang benar-benar menegakkan sunah sedikit di kalangan orang-orang yang misalnya ya rajin belajar agama, di kalangan orang-orang yang berdakwah, di kalangan orang-orang yang semangat untuk berinfak di jalan Allah, tetap mereka sedikit jumlahnya karena mereka benar-benar guroba di semua kalangan di semua kalangan manusia. Nah,
(55:55) tay. Bagaimana sikap ana ke pedagang samping ana? Beliau suka mengolok-olok ajaran Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan suka mencela agama tauhid dan ana mau membela. Apa ini? Membelanya atau membalasnya mungkin. Dan ana lihat dia bawa bawa golok. Katanya kalau ada yang macam-macam saya bunuh.
(56:30) Bagaimana sikap saya terhadap orang itu? Ya gak perlu takut ya. Bisa jadi dia yang akan terbunuh dengan ucapannya sendiri. Naudubillah minzalik. Intinya kita doakan semoga dia mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa taala. Perbuatan sampai mengolok-ngolok. Kalau betul mengolok-olok ya, cuma kita harus pastikan lagi ini perbuatan yang sungguh ya bisa menjadi sebab orang itu kufur.
(56:52) Jelas-jelas Allah Subhanahu wa taala berfirman di surat at-Taubah. Qul abillahi wa ayatihi wa rasulihi kuntum tastahziun la ta’tadiru qod kafartum ba’da imanikum. Katakanlah apakah terhadap Allah, terhadap ayat-ayatnya dan terhadap rasul-Nya kalian berani memperolok-olok? Janganlah kalian minta maaf. Sungguh kalian telah kufur setelah setelah beriman. Naudubillah minzalik. Ya.
(57:17) Jadi ini perbuatan yang sangat buruk. Kita nasihati dia dengan cara yang baik. Ya. Katakan kalau mungkin ada orang yang dia tidak suka pribadi orang jangan agama yang dicela. Karena agama ini adalah karunia Allah Subhanahu wa taala yang paling besar. Ya, rahmat Allah Subhanahu wa taala dalam agama ini demikian luas.
(57:38) Kalau orang mencela agama, berarti dia mencela sesuatu yang ya bisa jadi akibat buruknya nanti akan kembali kepada dirinya. Naudubillahi minzalik. Maka tidak perlu kita takuti orang seperti ini. Kita berdoa kepada Allah kemudian kita nasihati dia dengan cara yang baik. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa taala membukakan hatinya.
(58:02) Mohon nasihat atau faedah tentang mengeraskan tilawah Al-Qur’an di dalam masjid. Saya mendengar setiap pagi di masjid ini ada sekitar tiga orang ikhwah yang suka mengeraskan bacaan Quran setiap haji habis kajian subuh padahal di sekitarnya masih banyak jemaah lain juga.
(58:28) Saya sendiri berjarak 5 m lebih merasa terganggu karena sedang berzikir juga. Ya, intinya saya tidak baca semua di sini ya. Orang yang ingin membaca Al-Qur’an ketika dia ingin mengeraskan tidak perlu dia mengganggu orang lain. Apalagi ketika ada yang sedang salat, sedang berzikir. Dan itu kan ada hadisnya dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya.
(58:55) Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda eh q ahadukum ilati fainnahu eh laajhar ba’dukum ala ba’in bil quran. Janganlah sebagian kalian mengeraskan suara dengan membaca Al-Qur’an kepada yang lain. Ya, ketika orang yang ada yang sedang melaksanakan salat, ada yang sedang berzikir, kemudian ada orang yang mungkin sedang membaca buku pelajaran, ketika kita ingin baca Al-Qur’an cukup kita perdengarkan diri kita sendiri supaya dia tidak mengganggu orang tersebut.
(59:24) Ya memang Al-Qur’an aslinya tidak akan mengganggu orang. Tapi kan tidak boleh juga Al-Qur’an dibaca kemudian kita sibukkan diri kita dengan perkara yang lain. Makanya para ulama misalnya melarang kita mengalaskan suara murattal sementara orang sedang punya kegiatan. Karena Al-Qur’an tidak pantas diperdengarkan kepada orang-orang yang tidak mendengarkannya.
(59:44) Kemudian dia punya kesibukan tersendiri misalnya sedang berzikir. Kan ada larangannya di hadis tadi. Laaj ba’dukum bain bil Quran. Janganlah sebagian kalian mengeraskan suara kepada sebagian yang lain dalam membaca Al-Qur’an. Dipelankan saja, cukup diperdengarkan untuk dirinya sendiri agar tidak mengganggu orang lain.
(1:00:03) Itu adab yang benar dalam membaca Al-Qur’an. Barakallahu fikum TB. Cukup sampai di sini insyaallah semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan untuk dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.
(1:00:22) shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum bianin yaumiddin wa akiru dawanahamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Roja TV. Demikianlah ikhwat Islam. Para pemira dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Yeah.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *