(81) [LIVE] Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, M.A. – Ada Apa Dengan Remaja – YouTube
Transcript:
(00:00) Mudahkan, jangan dibuat sulit. Apalagi berhadapan dengan remaja yang mungkin logikanya masih simpel dan sederhana ya. Jangan dibuat rumit. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka. 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.
(00:39) 3 FM. Menebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi wanalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhwat Islamakumullah. Sahabat Raja di mana pun Anda berada.
(01:13) Alhamdulillah di kesempatan pagi hari ini kita dapat bersua kembali dan seperti biasa kita akan simak bersama kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pembahasan rutin pagi ini. Pembahasan mengenai remaja. parenting mengenai remaja ini disampaikan oleh Alwustaz Abu Hisan Almedani hafidahullah di sampaikan mengenai judul yang judul buku yang beliau susun sendiri yaitu dengan ee judul Ada apa Dengan Remaja dan tentunya ini pertemuan yang sangat bermanfaat sekali untuk kita pelajari bersama dan masih melanjutkan ya bagaimana atau
(01:52) kapan remaja membutuhkan bantuan yang akan disampaikan oleh beliau beliau. Dan seperti biasa setelah materi yang akan disampaikan, bagi Anda yang ingin bertanya silakan bisa mengirimkan pertanyaannya melalui layanan pesan WhatsApp di nomor 0218236543. Baik, kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada Al Ustaz kami persilakan.
(02:18) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah nahmaduhu wa’inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wasaiati a’malina may yahdihillah fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(02:55) Ya ayyuhalladzina amanu ittaqulah haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun amma ba’ fainna ahsanal kalami kalamullah wahairal huda huda rasulillah sallallahu alaihi wasallamar umur muhdasatuha waulla muhdasatin bidah waulla bidatin dolalah wa dolatin finar Maasyiral Muslimin, para pendengar, pemirsa, sahabat raja rahimani warahimakumullah.
(03:35) Pertama-tama kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat yang Allah limpahkan kepada kita semua. Selawat beriring salam atas Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, keluarga beliau, sahabat beliau, umat beliau sampai hari kemudian. Para pemirsa, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah. Pada kesempatan pagi ini kita kembali bertemu untuk melanjutkan pembahasan dari buku Ada apa Dengan Remaja.
(04:10) Kita sampai pada bab terakhir di dalam buku ini yaitu satu ayat yang luar biasa. Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa taala menjelaskan pedoman-pedoman yang mesti dipegang oleh setiap pendidik. Dan Nabi berpegang pada pedoman ini yaitu surah Ali Imran ayat 159. Allah berfirman, “Fabima rahmatim minallahi lintalahum. Walau kunta fadan galidalqbi lam faddu min haulik fafuhum wastagfirlahum wasyawirhum fil amri faidza azzamta fatawakal alallah innallaha yuhibbul mutawakilin yang artinya sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar niscaya mereka akan menjauhkan diri darimu. Karena itu maafkanlah mereka,
(05:22) mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan tersebut. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah subhanahu wa taala. Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya. Di dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa taala menjelaskan kunci sukses dakwah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(06:00) Dan ini juga merupakan perkara yang insyaallah akan membantu kita dalam membina, membangun hubungan yang baik dengan anak-anak kita, melembutkan hati mereka hingga dapat menerima setiap pelajaran yang kita berikan kepada mereka. Ini semacam pedoman di dalam dakwah. Dari ayat ini juga para ulama mengambil satu kaidah dalam dakwah yaitu al-aslu fid dawati allin.
(06:38) Pokok dasar dalam dakwah adalah kelemahlembutan. Ya, dari firman Allah Subhanahu wa taala, “Fabima rahmatim minallahi lintalahum.” Ya, ada beberapa hal di sini yang bisa kita ambil sebagai pelajaran baik kita sebagai orang tua, guru, pendidik atau apapun itu. Yang pertama adalah kelembutan sikap, tutur kata, dan perasaan yang kita ambil dari firman Allah, fabima rahmatim minallahi lintalahum.
(07:16) Dan dengan rahmat Allah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Walau kunta fadon golidal qolbi lam fad min haulik. Sebaliknya lawan dari yaitu kasar ya keras akan menghasilkan sesuatu yang buruk kontraproduktif yaitu lam fadu min haulik. Kalau kamu kasar dan keras, mereka akan lari dari sisimu. Artinya mereka tidak akan mendengarkan kata-katamu.
(07:56) Mereka akan berpaling darimu. Hati akan menjauh dan tidak bisa menyerap pelajaran-pelajaran yang disampaikan kepadanya. Ya. Maka pertama yang perlu kita miliki adalah kelembutan dalam bersikap, dalam bertutur kata, dan dalam mm berperilaku. Ya, di sini berkaitan dengan perasaan ya. Seorang pendidik harus punya perasaan, rasa kasih sayang.
(08:45) ya rasa cinta ya dan ee mengayomi karena tujuannya adalah mengajarkan, mengarahkan, bukan menghukumi, menghakimi. Karena itu bukan tujuan, ya. Maka dahulukan kelemahlembutan. Maka jauhilah sikap dan kata-kata yang kasar. Demikian pula hati yang keras dan tidak atau kurang memiliki empati. Ya, karena semua itu akan menjadikan pelajaran-pelajaran yang disampaikan akan menjadi mentah ya, hambar. anak merasa tidak nyaman dan memilih untuk menjauh.
(09:36) Bukan secara fisik mungkin ya. Secara fisik mungkin dia tidak bisa menjauhkan diri dari orang tua, tapi hatinya menjauh. Ya, maka suguhkanlah sikap yang membuat hati mereka lapang. Perdengarkan kata-kata yang membuat hati mereka bahagia dan gembira. Berikan perhatian yang tulus.
(10:08) Hangatkanlah dia dengan rasa cinta dan kasih sayang. Ya. Nah, bila ya seorang pendidik mampu mewujudkan itu semua, maka Allah mengatakan itu adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Ya Allah subhanahu wa taala merahmati pendidik itu. Dan itu yang dilakukan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi selalu mengedepankan kelemahlembutan. Maka Nabi berkata, “Ma kan rifquaiin illa zanah wama nuzi anyaaiin illa sanah.” tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya.
(10:58) Maksudnya menghiasinya di sini adalah membuatnya menjadi indah dan tidaklah tercabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya bertambah buruk ya bertambah jelek. Maka ee arifqu khairu kulluhu kelembutan itu baik seluruhnya ya. Maka dahulukanlah kelembutan. Ya, dahulukanlah kelemahlembutan. Memang kita diuji ya dengan anak-anak kita yang kadang-kadang memancing emosi, memancing ee reaksi yang berlebihan ya.
(11:46) Bahkan memancing kita untuk bersikap keras dan kasar. seolah-olah kesabaran kita sedang diuji ya, kesabaran kita seperti diobok-obok gitu ya. Tapi ya di situlah ujiannya. Apabila seorang pendidik mampu mengendalikan itu, dia akan bisa merubah energi-energi yang negatif itu menjadi sesuatu yang positif. Ya, dia tidak akan kehilangan kesaktian dari kata-katanya karena dia tidak keluar dari hikmah. Beda.
(12:31) Kalau dia kehilangan kendali, kehilangan kesabaran, maka dia akan kehilangan hikmah, baik itu kata-katanya maupun perbuatannya. Dan ini kontraproduktif dan akan meninggalkan sesuatu yang buruk. ya. Nah, memang ujian karena memang mereka di ee kirim kepada kita ya sebagai ujian. Allah mengatakan seperti itu dalam surah at-Tagabun ayat 15.
(13:16) Innama amwalukum wa auladukum fitnah. Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah fitnah, ujian. Nabi juga mengatakan, “Fitatud rajuli fi ahlihi waalihi wa waladihi.” Fitnah ujian yang Allah timpakan kepada seseorang melalui keluarganya, yaitu istrinya, hartanya, anaknya, tetangganya, dan salah satunya adalah anak. Ya.
(13:53) Ya. Pasti tidak mulus ya. Karena mereka adalah makhluk yang perlu bimbingan dan kita ditugaskan diamanahkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk membimbingnya dan itu pasti tidak mulus. Ya. E ujian manusia macam-macam. Ujian yang Allah berikan kepada kita berbeda-beda satu dengan yang lain.
(14:23) Maka ee tidak usah mengeluh ya, tidak usah dikeluhkan juga. Banyak orang tua mengeluh, “Anak saya nakal sekali, anak saya bandel sekali.” Ya, seolah-olah hanya anaknya yang seperti itu. Enggak. Semua kita diuji dengan anak. macam-macam ujiannya ya. Nah, demikian ya. Maka ya laksanakan dan lakukan saja tugas kita itu mendidik dengan kesabaran, dengan kelemahlembutan.
(14:59) Hasil bukan di tangan kita, di tangan Allah Subhanahu wa taala. Kemampuan kita untuk bersikap lemah lembut ya, mendahulukan kelemah-lembutan itu adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala. Artinya tidak semua orang ya dirahmati Allah seperti ini ya. Tidak semua dirahmati Allah punya kemampuan seperti ini ya. Dan ini pesan juga yang Allah sampaikan kepada Nabi Musa dan Harun ketika ee diperintahkan untuk menghadapi Firaun. Faquula lahu qulan layina.
(15:38) Dan katakanlah, bicaralah kepada Firaun itu dengan layina, kata-kata yang luna, lembut ya. Nah, itu menghadapi Firaun ya. Kita tahu bagaimana Firaun enggak mudah menghadapi Firaun ya. Ee tentunya tidak serumit kita menghadapi anak-anak kita ya. Yang diperlukan dari kita hanyalah ee kesabaran ya.
(16:19) Kesabaran ya dan tidak ee kehilangan ya hikmah dan kebijaksanaan dan itu semua. bisa kita lakukan kalau kita berhasil meredam amarah kita, emosi kita. Karena kalau sudah emosi sepertinya susah untuk berlaku lembut ya, karena hati akan mengeras dan kasar ya. kita akan jauh dari kelemahlembutan itu. Jadi yang pertama adalah ya dahulukan kelemahlembutan karena yang ingin kita taklukkan adalah hati seseorang.
(17:02) Hati manusia yang itu enggak mudah untuk melunakkan hati manusia, mengambil hati manusia. Hatta itu adalah anak kita sendiri. Ya. Ya. Walaupun itu adalah anak kita sendiri ya. Enggak semudah itu juga kita bisa menaklukkan hatinya. Berapa banyak orang tua-orang tua yang gagal mengambil hati anaknya sendiri? ya mungkin ee karena kekurang sabaran ya atau kekeliruan di dalam ee bersikap ya kekeliruan di dalam ee melakukan ee pendidikan kepada anak tersebut ya sehingga ya hati menjadi berjauhan.
(17:51) Nah, hati itu kalau sudah berjauhan itu susah ya. Enggak akan bisa saling mengerti ya, enggak akan bisa saling memahami. Maka kalau sudah seperti itu, apapun yang keluar dari lisan kita tidak berarti. Baginya seperti ya radio rusak. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. tidak nyantol ke dalam hatinya.
(18:23) Karena mungkin sudah ada perasaan benci, enggak suka ya, menjauh ya. Seperti kita mendengar kata perkataan ucapan seseorang yang tidak kita sukai, kita benci, ya, atau hati kita berjauhan dengannya atau bahkan hati kita memusuhinya, membencinya. maka ucapannya itu tidak akan nyantol di kepala kita, enggak akan masuk ke dalam hati kita.
(19:01) Buru-buru kita tepis, kita tangkis, ya. Buru-buru kita tolak. Kenapa? Karena ini adalah suara yang tidak disukai. Ya, karena hati sudah berjauhan ya. Maka ya memang tugas seorang pendidik, pendakwah itu memang berat, enggak mudah seperti yang diemban oleh para nabi dan rasul ya. Nabi kita sendiri Muhammad sallallahu alaihi wasallam ya.
(19:34) Bagaimana menghadapi ya kebencian, permusuhan dari kaumnya. Padahal Nabi sudah selembut itu ya. Nah, demikian. Jadi, enggak mudah untuk mengambil hati manusia itu. Apalagi cara kita memang ee kasar ya, itu akan semakin membuat hatinya menjauh ya. Maka ee bagaimanapun kebenaran keluar dari lisan kita, dia tidak akan mau menerimanya.
(20:11) Maka ada satu perkataan ulama yang baik untuk kita sampaikan di sini ya, bahwa kebenaran itu adalah berat. Alhaqquil. Kebenaran itu berat maka jangan diperberat lagi dengan cara kita yang kasar. Sudahlah kebenaran itu berat, kita perberat lagi dengan cara kita yang salah, cara kita yang kasar misalnya. Ya, tambah berat orang menerimanya.
(20:45) Ya, dengan cara yang lembut saja belum tentu mereka bisa memikulnya, belum tentu mereka mau mendengarnya, apalagi dengan cara yang kasar, ya. Nah, hati akan langsung menolaknya, ya. Nah, itu yang pertama. Yang kedua yang bisa kita petik pelajaran dari ayat ayat tadi adalah fa’fu anhum wastagfirlahum. Yaitu sifat mudah memaafkan. Maka maafkan segala ucapan, sikap, perbuatan salah anak-anak kita yang kadang-kadang membuat hati kita sedih bahkan teriris.
(21:28) Jangan kita membenci apalagi menyimpan dendam kepadanya. Jangan larut dalam kemarahan dan kekecewaan. Ya, ini memang perkara berat berikutnya ya. Setelah bersikap lembut adalah memaafkan. Iya. Memang hanya hati yang lembut yang bisa memaafkan. Ya, kalau hati kita kasar dan keras kayaknya susah untuk memberi maaf, memaafkan, apalagi memintakan ampunan ya untuk orang yang mungkin buat kita jengkel, marah, salah sama kita itu jauh panggang dari api biasanya.
(22:18) Oleh karena itu, setelah kelembutan ya perkara berat berikutnya yang memang harus kita lakukan adalah sifat mudah memaafkan. Ya, anak-anak kita mungkin mungkin berkali-kali ya, berulang kali berbuat salah kadang-kadang membuat hati kita sedih. Sakit hati juga kadang-kadang membuat hati kita teriris ya. Namun maafkanlah. Khudil afwa. Maafkanlah. Kasih maaf.
(23:00) Fasfahofhal jamil. Ya. Kasihlah maaf dengan cara yang baik ya. Maafkan walaupun mereka buat salah. Ya, karena dengan kemaafan ini hubungan bisa diperbaiki. Tapi kalau kita jauh dari kata maaf, masalah akan berlanjut, urusan enggak akan selesai. Setan terus menghembuskan api amarah dan dendam dalam hati kita.
(23:45) hati kita tanpa kita sadari menyimpan dendam, sakit hati sama anak ini ya dan ada perasaan ingin membalas ya, padahal anak kita sendiri juga ya. Nah, ee itu kalau kita jauh dari kata maaf ya. Tapi kalau kita mau memaafkan, kita punya sifat mudah memaafkan, maka beban hati akan lepas, akan hilang. Kita akan dapat atau bisa membuka hubungan yang lebih baik, memperbaiki hubungan dengan anak.
(24:35) itu salah satu ee perkara yang harus kita usahakan dalam mendidik anak, yaitu memperbaiki hubungan dengan apa? Yaitu sifat mudah memaafkan. Maka maafkanlah. Mungkin ada ucapannya yang menyakiti hati, maafkan ya. atau perbuatannya yang kadang-kadang menyinggung perasaan ya maafkan ya. Nah, itu lebih baik bagi kita dan bagi anak itu sendiri ya.
(25:13) Ee apa kita punya niatan mendoakan hal-hal yang buruk atas anak kita sendiri? Apa kita tega? Mungkin karena kemarahan kita melakukannya. Kita mendoakan hal-hal yang buruk atas anak kita sendiri. Tapi percayalah kita akan menyesali itu. Ya, kita akan menyesalinya. Maka seorang pendidik harus mendahulukan maaf ya terhadap anak didiknya. Dan memaafkan itu adalah kekuatan bukan kelemahan.
(25:52) Ya, itu diasumsikan setan bahwa orang yang memaafkan itu adalah orang yang enggak mampu membalas atau tidak mampu berbuat. Lemah. Ada kesan yang dimunculkan setan di pikiran kita memaafkan itu adalah cara orang yang lemah. Tapi itu salah. Justru memaafkan itu adalah kekuatan. Hanya orang yang kuat yang mampu memberi maaf.
(26:24) Ya. Nah, seperti kata Nabi, “Lais syadidu bisuruah walakin syadid may yamliku nafsahu indal gadab.” Orang kuat itu bukan orang kuat bergulat, tapi orang kuat itu adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah. Ya. Nah, ia mampu memberi maaf ya. Nah, demikian.
(26:53) Jangan membenci apalagi menyimpan dendam ya. larut dalam kekecewaan ya, selalu mengungkapkan perasaan kecewa kepada anak itu akan membuat anak berkecil hati. Ya, kalau ee bicara kepada ana selalu ya hal-hal yang ee kita katakan pelampiasan kekecewa isinya adalah pelampiasan kekecewaan. Ya mungkin kita kecewa ya, tapi ya sudahlah ya lupakan itu. Maafkan ya kasih kesempatan, kasih peluang.
(27:35) Ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab. Dan lebih dari itu, mintakan ampunan untuknya. Doakan doa-doa yang baik, yaitu doa ampunan, bukan kutukan, amukan, sumpah serapah atau kata-kata yang buruk, ya. Nah, jadi ee ucapkanlah kata-kata yang baik, yaitu kata-kata yang baik itu adalah ampunan.
(28:07) minta ampunan untuknya kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Nah, demikian. Selama itu tidak dilarang ya. Ini orang tua kita muslim dan muslimah apa halangan kita untuk mendoakannya? Ya, demikian juga anak-anak kita kan muslim dan muslimah. Apa halangan kita untuk mendoakan ampunan untuknya? Enggak ada halangan di situ, ya. Nah, demikian.
(28:36) Maka ee mudah-mudahan ya Allah Subhanahu wa taala dengan itu akan melembutkan hatinya, yaitu Allah mengampuninya dan melembutkan hatinya. Ya. Nah, demikian. Hingga dengan kelembutan hati itu pada pada akhirnya dia akan merasa malu, sadar sendiri ya dan dia merubah ya dirinya sendiri ya. Dia mungkin tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari ya.
(29:11) Muncul atas kesadarannya sendiri. Nah, itu kekuatan memberi maaf dan doa ampunan ya untuk orang lain ya. Wallahuam bissawab. Maka khudil afwa, kasih maaf. Jadilah manusia yang pemaaf. Apalagi mereka masih kecil, kesalahannya masih dalam batas yang bisa ditolerir. Artinya bisa dimaklumi. Anak muda remaja buat salah ya. Ya, akalnya masih kurang, masih perlu banyak bimbingan, tuntunan ya.
(29:51) Nah, demikian ya. Wallahuam bissawab. Itu yang kedua. Yang ketiga, perkara penting yang perlu kita lakukan adalah bermusyawarah dalam berbagai urusan. Artinya bermusyawarah di sini adalah komunikasi yang lancar dengan anak. Jangan sepihak apalagi menghakimi, menghukumi ya.
(30:22) Nah, ajak dia bermusyawarah, ngobrol, berkomunikasi supaya cair. Kata orang di luar sana, segala sesuatu bisa diselesaikan kalau masih bisa dibicarakan, gitu ya. Itu kata-kata orang di luar sana. Selama masih bisa dibicarakan, masih bisa diselesaikan. Tapi kalau enggak bisa dibicarakan lagi, gimana mau selesainya itu? Ya, masalah kita dengan anak-anak kita juga sama.
(30:51) perlu dibicarakan, perlu keterbukaan, dialog, komunikasi dua arah. Ya, itu yang dimaksud dengan musyawarah di sini ya. Bermusyawarahlah dalam berbagai urusan ya. Kita membangun komunikasi dua arah yang hangat, menyenangkan, berdiskusi, ya. sehingga dia merasa terlibat bahwa ee pilihan ada di tangannya, bahwa kita menghargainya sebagai manusia, apalagi remaja yang sudah punya akal walaupun masih kurang akalnya, dia merasa diajak untuk terlibat ya tidak disikapi secara sepihak, tidak dihukumi, dihakimi secara sepihak.
(31:41) Nah, kadang-kadang ini yang susah dan berat malas kita lakukan, yaitu berdialog. Karena orang tua PR terberatnya, terbesarnya adalah mau mendengar anak itu ya. Itu berat memang mendengarkan argumentasi mereka, mendengarkan alasan mereka ya.
(32:13) Nah, itu ee perlu keterampilan juga ya, kemampuan untuk mendengar yang baik gitu ya. Jadi ya berdialog, berdiskusi ya secara terbuka dengan mereka ya. ya enggak perlu di ee di hadapan banyak orang mungkin diskusi empat mata ya sehingga ada apa yang menjadi masalah itu bisa diselesaikan ya sehingga kesalahan itu bisa diluruskan dan mereka juga merasa dihormati ya merasa dihargai dipandang sebagai manusia.
(32:47) Bayangkan kalau kita disikapi secara sepihak langsung dihukumi, dihakimi gitu, divonis ya enggak enak juga ya. Kita juga enggak akan terima karena kita merasa saya belum menyampaikan argumentasi, alasan dan lain sebagainya. Maka Allah saja memberikan hak kepada manusia itu untuk ee menyampaikan argumentasi mereka, ya.
(33:19) Nah, demikian walaupun ya mereka tidak akan mampu untuk mendustai diri mereka sendiri. Balil insanu ala nafsihi bir walau alqadir. Bahkan manusia itu lebih tahu tentang dirinya sendiri walaupun mereka berusaha untuk menutupinya dengan berbagai macam argumentasi. Ya. Nah, demikian. Jadi yang ketiga ini adalah berusahalah untuk melibatkan dia ya di dalam memecahkan masalah-masalahnya sendiri ya, yaitu bermusyawarah, ajak dia berbicara, ajak dia berkomunikasi ya bertukar pikiran, terlibat di dalam masalahnya sendiri ya. N. Jadi hindari sikap mengambil ee ee kita katakan ee ee
(34:12) keputusan sendiri sepihak ya, lalu menghukumi menghakiminya sehingga seakan-akan dia tidak punya hak untuk membela diri ya. Nah, ee sebanyak juga orang tua yang seperti itu ya. Dia mengambil keputusan sepihak lalu menjatuhkan hukuman menghakimi anaknya, menghukumi anaknya. Kalau benar cara itu pun enggak enggak enggak kurang tepat ya kalau benar hukumnya ya.
(34:57) Kalau benar penghakimannya itu, kalau benar ya itu cara yang enggak tepat. Lebih buruk lagi kalau ternyata hukumnya salah ya. Apa yang diputuskannya itu keliru, salah ya. Apa yang dilakukannya itu keliru, penghakimannya itu salah gitu ya. Artinya apa? Anak itu dihukumi dengan sesuatu yang bukan kesalahannya atau tidak setimpal dengan kesalahannya. Hukuman itu dijatuhkan tidak setimpal dengan kesalahannya.
(35:27) Artinya tidak ada ketidakadilan di situ. Artinya ada kezaliman di situ. Nah, ini akan semakin memperberat masalah sebenarnya. Maka jangan buru-buru menghakimi, menghukumi, menjatuhkan hukuman. Iya. Kalau tepat hukumannya, kalau enggak. Yang lebih konyol lagi ya kalau ternyata terbukti anak itu enggak bersalah, kita sudah menghukumnya.
(35:57) Ini akan menjadi catatan hitam di di benaknya, dalam hatinya, ya. Nah, demikian. Yang lebih buruk lagi. Banyak juga orang tua sudah salah menghakimi, menghukumi, salah menjatuhkan hukuman. Ya, setelah itu dia tidak minta maaf, diam-diam aja. Malah lebih buruk lagi dia menyalahkan anak itu atas kesalahan hukuman yang dia berikan.
(36:29) Ini sangat-sangat tidak mendidik ya. Ini pendidikan yang hancur lebur ini ya. Ya. Tapi ada juga orang tua seperti itu. Dia sudah salah menghukumi anaknya, menilai sepihak salah pula. Lalu setelah itu dia membela diri, tidak minta maaf malah membela diri. Ya. Nah, demikian ya. Nah, maka ya bermusyawarahlah ya. Kita perlu juga dengar dari mereka ya. Nah, demikian itu yang ketiga.
(37:00) Yang keempat, faidza a’zamta fatawakal alallah. Kalau kita sudah mengambil keputusan yang dipandang baik, maka bismillah tawakal alallah. Eksekusi. Harus ada aksi, harus ada eksekusinya. Artinya bukan omon-omon doang ya harus kita lakukan, harus kita laksanakan ya dengan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa taala.
(37:32) Setelah proses itu ya, setelah langkah 1 2 3 kita lakukan, maka keempat ya laksanakan apa yang sudah menjadi keputusan ketetapan itu yang sudah dipandang baik apalagi oleh kedua belah pihak, oleh kita dan anak kita sama-sama menyepakati satu solusi misalnya eksekusi dan kita harus konsisten istikamah ya. Jangan kita pula yang melanggar aturannya ya.
(38:07) Nah, bertawakallah kepada Allah ya. Lakukan. Karena pendidikan itu menuntut aksi. Bukan omon-omon doang ya. Bukan hanya perkataan di udara yang melayang-layang di udara atau tulisan yang ada di atas kertas. Enggak. Tapi kita laksanakan itu di lapangan ya dengan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa taala. Nah, itulah dia ayat yang luar biasa.
(38:37) Satu ayat yang luar biasa surat Ali Imran ayat 159 yang bisa kita jadikan, kita angkat sebagai pedoman ya di dalam ya melaksanakan tugas kita sebagai seorang pendidik. Ya, demikianlah ya. Nah, kemudian ya pada akhirnya jangan lupa kita ya berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala bahwa segigih apapun kita belajar, sekuat apapun tekad kita untuk memperbaiki diri, sehebat apapun usaha kita untuk menjadi orang tua, sekaligus guru yang terbaik untuk anak-anak kita, sebesar apapun harapan kita untuk mendapatkan anak-anak yang
(39:21) saleh dan salehah, usaha apapun yang sudah kita lakukan, ikhtiar apapun yang sudah kita lakukan untuk menggapainya. Namun kita harus sadar bahwa tidak ada yang dapat memberikan itu semua kecuali Allah subhanahu wa taala. Maka jangan putus dan lupa berdoa kepada Allah dan jangan kecewa berdoa kepada Allah subhanahu wa taala.
(39:47) Waqal rbukumuni astajib lakum. Dan Rabb kamu berkata, “Berdoalah kepadaku, niscaya aku akan kabulkan untukmu.” Ya. Nah, demikian. Ya, itulah sebagai penutupnya. Mudah-mudahan ya ee apa yang sudah kita sampaikan dari pelajaran-pelajaran berkaitan dengan ee buku, ada apa dengan remaja, bagaimana membangun interaksi positif dengan remaja ini ee betul-betul bisa kita ambil faedah dan kita bisa laksanakan di dalam ya melaksanakan tugas mengemban tugas kita sebagai seorang pendidik.
(40:28) [Musik] muslimin inahu gururahim. Nam alhamdulillah baik terima kasih banyak ustaz syukran jazak khair atas materi yang telah disampaikan di pagi hari ini dari pembahasan mengenai buka baga remaja yaitu mengenai pedoman yang harus dipegang oleh para pendidik yang mudah-mudahan ini menjadi ee faedah tambahan bagi kita semua ilmu yang bermanfaat.
(40:54) Dan selanjutnya kami buka sesi interaktif, sesi tanya jawab. Silakan bagi Anda sekalian yang ingin bertanya di kesempatan pagi hari ini, Anda bisa mengirimkannya melalui layanan pesan WhatsApp di nomor 0218236543. Nah, Ustaz yang pertama ee kami ada pertanyaan ada pertanyaan di layanan besar WhatsApp. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(41:20) Ya, Ustaz, bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta untuk ee rasa cinta kepada remaja untuk bisa duduk di majelis ilmu? Anak saya umur 19 tahun laki-laki. Walau dia mau disuruh ketika untuk ikut kajian, tapi ee saya lihat hampir tidak pernah fokus untuk menyimaknya. Bahkan ketika terluput dari pentawan, saya pun sering tertidur di bagian belakang ketika kajian. Ustaz mohon coba menjelaskan. Iya. Iya.
(41:46) ini satu ee kita katakan ee masalah kita ya. Nah, kita perlu bicara tentang segmentasi dakwah kita juga begitu ya. Ee anak kecil di bawa kajian dewasa. Kajian itu bukan ditujukan untuknya. Iya. Apa yang dia lakukan di situ? Ya, dia merasa itu bukan kebutuhannya. He ya.
(42:19) Maka dia wajar kalau enggak fokusnya pilih main-main apa segala. Sama juga remaja di bawa kajian orang tua ya yang bukan ditujukan untuk mereka ya. Sama saja kita balik keimana coba. Kita orang tua dibawa ke kajian anak-anak. Apa yang kita lakukan di situ? Coba lihat orang tua yang itu kajian anak-anak gimana. fokus juga dia enggak juga kan begitu ya. Mungkin dia sibuk main HP mungkin ya.
(42:48) Ya begitulah masalahnya mereka dibawa kepada kajian yang bukan merupakan kebutuhan mereka ya. Nah, jadi kita di sini harus bicara tentang segmentasi dakwah. Maka perlu ya namanya ee kajian anak-anak ya memang untuk mereka bukan anak-anak dibawa ngaji beda itu ya.
(43:16) lain itu anak-anak dibawa ngaji ya kajiannya tentang orang tua kadang-kadang kajiannya ya hal-hal yang khusus dewasa ya enggak nyambung ya enggak nyambung ya anak kecil dibawa kajian tentang rumah tangga begitu ya enggak nyambung dia atau tentang apalah begitu ya yang si ustaz juga menyampaikan dengan bahasa untuk orang dewasa ya enggak ditujukan untuk si anak ini ya.
(43:47) Anak ini juga bagaimanapun dia berusaha untuk memahaminya ya dia enggak nyambung aja. I. Nah, maka perlu kita galakkan sekarang kajian-kajian anak ya. Kajian-kajian anak ya. Mereka juga perlu ngaji yang memang khusus untuk mereka. He ya. Ada materinya kemudian cara penyampaiannya ya. Juga memang untuk mereka.
(44:14) ya bahasanya kan beda itu ya untuk anak. Tapi ini yang masih kurang hari ini. Kita lebih cenderung ngumpulin orang-orang sebanyak-banyaknya untuk kajian orang dewasa. Ya kadang-kadang orang dewasa itu kayak gitu juga enggak ada enggak ada isinya juga. Artinya kosong juga begitu hanya untuk kumpul-kumpul aja apalagi ada makannya. Ramai itu.
(44:39) Ramai itu. I kan tapi kajian anak-anak seperti ini kurang. Merasa enggak enggak perlu apa perlu. Anak-anak kita juga perlu dibiasakan dengan majelis ilmu. Bagaimana mereka betah? Ya memang kajian itu untuk mereka bukan kajian orang tua mereka dibawa begitu. Beda itu ya. Nah demikian juga ini segmen anak-anak ya.
(45:03) remaja juga sama kalau ada ee misalnya materi yang memang untuk ya kita katakan remaja ya untuk ee mereka ya materinya kemudian juga penyampaiannya bahasanya memang untuk mereka ya mungkin mereka betah ya mungkin mereka nyambung gitu ya mungkin mereka akan bisa mengikutinya tertarik untuk mengikutinya ya karena memang ditujukan untuk mereka bukan anak remaja aja dibawa ngaji orang dewasa ngajinya tentang uang lagi kan gitu ya.
(45:39) Mereka juga enggak paham ngapai juga dia ya bengong aja dia di situ. Dia pikir ini kajir kan untuk bapakku katanya gitu ya bukan untuk aku katanya. Makanya kalau dia malas-malasan nyender di belakang bengong ya mau mau mau mau di mau diapakan lagi gitu ya. Itu bukan ditujukan untuk mereka. Maka ini juga sangat kurang kajian-kajian remaja ya.
(46:11) Kajian-kajian remaja yang ya memang materinya ya cocok dan memang ya di diproyeksikan untuk mereka gitu caranya kemudian bahasanya juga kan beda kan begitu ya. Nah demikian. Wallahuam bissawab ya. Jadi segmentasi dakwah itu yang harus kita perhatikan di sini ya. Nah, tapi itu yang kurang hari ini. Kajian anak-anak memang sudah banyak sekarang ini ya. Ya.
(46:36) Dan ada ya orang-orang yang memang berkompeten untuk ee mengisinya kan begitu ya. Caranya, bahasanya juga kan beda ya kan. Nah, kemudian ini majelis ilmu ya bukan sekolah bukan beda. Heeh. Majelis ilmu bukan sekolah. Oh, anak-anak kan sudah sekolah. Beda itu sekolah dengan majelis ilmu ya. yang sifatnya lebih umum lagi ya. Nah, kalau sekolah ya sekolah ya. Nah, beda itu dengan majelis ilmu ya. Nah, demikian.
(47:04) Remaja ini juga sangat kurang ya. Ya, kajian-kajian memang khusus re remaja remaja ya. ya mungkin ya pematerinya juga orang yang mengerti ya dunia remaja ya bahasanya kemudian materinya kemudian bagaimana ee melakukan pendekatan kepada remaja ya yang ya mana di situ mereka lebih nyambung gitu ya. Nah. Ee demikian. Wallahuam bawab. Baik.
(47:35) Ya, kita bicara hari ini ya, enggak bisa kita samakan di zaman Nabi. Woh, kayak gini ya. Beda ya, beda zamannya beda ya dengan hari ini ya. Yang kita tahu ee masalah hidup hari ini kan lebih kompleks ya. Nah, demikian ee mungkin itu ya. Jadi enggak bisa disalahkan anaknya diajak ke kajian dewasa kok bengong aja dia enggak semangat ya.
(48:04) dia mungkin juga bingung dia ini yang dia dengar ini apa kan gitu ya ee enggak ada gambaran mungkin di kepalanya ya jadi enggak bisa dipaksakan juga kalau seperti itu ya wallahuam ba ya banyak orang tua yang semangat bawa anaknya ke kajian cuma kajiannya bukan untuk si anak untuk bapaknya gimana ya maka perbanyaklah kajian-kajian anak kajian-kajian remajing kajian kajian-kajian orang orang tua kan ada segmentasi di sana ada kajian muslimah ya muslimah juga ada muslimah remaja ya ada untuk ibu-ibu ya ada untuk lansia beda lagi itu segmen yang berbeda pula ya lansia h orang-orang yang sudah mungkin sepuh ya mungkin ya
(48:56) kebutuhan mereka juga berbeda gitu Ya, wallahuam bawab. Baik, alhamdulillah. Terima kasih banyak, Ustaz ee atas jawaban dan nasihatnya. Demikian untuk yang bertanya. Dan selanjutnya yang kedua ada pertanyaan, “Ustaz, anak saya ee saat ini sedang kuliah semester awal, tapi yang ada di benaknya dia selalu ingin memiliki penghasilan.
(49:21) ” Artinya dia ingin bekerja atau berusaha ee jadi pengusaha atau ingin berdagang kecil-kecilan. Saya sering katakan, “Kamu fokus saja ke kuliah.” Ee lalu yang jadi pertanyaan, apakah kita biarkan saja dia untuk mencari penghasilan? Ee dan saya sebagai orang tuanya khawatir akan terganggu kuliahnya, Ustaz? Iya.
(49:42) Ini masalah anak-anak kita hari ini ya, masalah remaja, ketahanan belajar mereka ya. Di samping godaan-godaan ya, anak-anak muda hari ini kan enggak bisa lepas dari medsos. apa yang dia di metsos semuanya serba instan. Betul ya? Dan itu membuat mereka berpikir instan juga. Ekspektasi. Iya. itu masalahnya mereka hari ini. Ee kalau kalau kita perhatikan anak-anak remaja yang seperti ini atau ee orang-orang anak-anak muda seperti ini ya, itu enggak bisa lepas dari masalah ketahanan belajar mereka yang memang sudah payah tidak terbentuk ya ee ketahanan
(50:24) belajarnya sehingga dia enggak ada semangat untuk belajar menyambung studi atau terus apa namanya belajar karena memang tidak punya ketahanan belajar. Dia ingin cepat menyudahi itu semua begitu ya. Sudah rest gimana dipaksakan begitu ya.
(50:54) Nah, jadi yang ada di kepalanya adalah sesuatu yang ee kita katakan ya instan bisa dia raih ya. Kalau dia yang dia dia bisa bicara gini misalnya ya, kalau tujuan belajar untuk cari uang ya langsung aja cari uang kan begitu ya. Nah, begitulah ya cara berpikir instan manusia hari ini ya. Nah, demikian. Tapi itu enggak lepas dari masalah ketahanan belajar mereka.
(51:21) Maka yang perlu dikoreksi di sini adalah bagaimana kita ya membangun mengasas ketahanan belajar anak-anak. Ini masalah anak-anak hari ini ya, ketahanan belajar mereka yang harus jadi perhatian para orang tua. Tidak terbangun dari kecil ya. Tidak terbangun dari kecil ya. Ee apa yang kita maksud dengan ketahanan belajar di sini? yaitu kemampuan mereka untuk menuntut ilmu dalam waktu durabil ee ee durabilitas yang panjang ya.
(51:59) Nah, dan itu kan perlu ketahanan ya. Enggak tahan belajar ya sudah patah di tengah jalan selesai ya. Nah, cepat-cepat dia ee letakkan tugas itu gitu ya. dan selesai saya saya sudah bosan sekolah itu kata-kata yang sering terlontar begitu ya. Nah, karena dia enggak ngerti lagi dia mau buat apa. Nah, apa yang dimaksud dengan ketahanan belajar di sini? Apa yang mendasari yang menjadi barometer ketahanan belajar seseorang? Nah, sederhana sebenarnya, yaitu ketahanan membaca.
(52:31) Masyaallah. Orang kalau sudah enggak punya ketahanan membaca, ketahanan belajarnya pasti bermasalah. payah ya. Karena belajar itu sama dengan membaca ya membaca dan kalau itu tidak dias tidak dibangun dari kecil itu enggak bisa muncul setelah dia dewasa.
(53:03) Banyak orang yang memang enggak enggak bukan itu masalah bukan masalah hobi enggak hobi enggak punya ketahanan membaca dan memang enggak suka membaca ya enggak suka membaca bisa ditebak orang seperti ini atau bisa kita ee katakan orang seperti ini ya tidak akan punya ketahanan belajar ee dan ya yang enggak punya ketahanan belajar selesai belajar belajarnya ya singkat umur menuntut ilmunya selesai ya.
(53:37) Ya mungkin hanya berbatas dengan ijazah selembar kertas ya sudah tercapai itu selesai begitu ya. Nah demikian ya. Ee jadi ya enggak bisa ee kita paksakan sedemikian rupa hingga dia punya apa namanya kita katakan punya ketahanan belajar yang baik sampai mungkin tingkatan yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi yang enggak mungkin itu kalau dia tidak punya dasar ya, tidak punya modal dasar ya.
(54:12) Dan modal dasar itu adalah ketahanan membacanya ya. Nah, minat baca ya, kemauannya untuk belajar, berpikir, kemampuan analisnya dan lain sebagainya yang kalau itu ada dibentuk dari kecil. Ya, saya kira anak-anak seperti itu enggak disuruh belajar pun belajar sendiri dia. Ya. Ya, sudah ngerti dia setelah ini dia mau ini, mau ini, mau ini. Ya, itu yang ada di kepalanya.
(54:46) Tapi kalau itu enggak ada di kepalanya sama sekali. Ini terlepas dari pengaruh sosial media ya. Ya, terhadap anak-anak remaja hari ini yang disuguhkan hal-hal yang serba instan. Ya, wallahuam ba itu ya semacam akumulasi yang memperparah ketahanan belajarnya ya. Akhirnya dia ya memang ada yang terpaksa, ada yang memang ya enggak ada minat untuk belajar kan begitu ya. Nah, dan enggak ngerti juga dia belajar untuk apa ya.
(55:20) Nah, wallahuam bissawab. Ya, itu masalahnya ya. Jadi enggak bisa kita lihat dari satu sisi aja begitu atau kita banding-bandingkan dengan anak yang lain gitu ya. Nah, setiap anak punya namanya riwayat pendidikan ya.
(55:40) Riwayat pendidikannya harus ditelusuri juga itu gimana yang jadi pertanyaan anak seperti ini punya minat baca yang tinggi atau tidak. Iya. Ee yang yang ditanyakan di dalam pertanyaan ini, anak ini punya minat baca yang tinggi atau tidak? Saya kira enggak. Kalau pertanyaan itu harus lebih detail lagi, Ustaz, ya supaya kita lebih terarah dalam menjawab. Baik, masih ya ada Nan. Ini ada beberapa pertanyaan yang ee senada ustaz ya mengenai ee anak yang lulus SMP yang ingin melanjutkan ke tingkat SMA di mana orang tuanya itu ingin sekali anaknya mondok tapi ternyata minat anaknya ini tidak mau ustaz penginnya ke umum katanya ini. Nah, bagaimana Ustaz menyikapinya?
(56:22) Iya. Ee berulang kali kita sampaikan ya, pendidikan itu bukan berkaitan dengan ee formatnya ya yang menjadikan dia islami enggak islami. Ya. Heeh. Ya, enggak seperti itu ya. Format pendidikan boleh berbeda-beda ya. Cuma masalahnya adalah bagaimana ee eksekusinya di lapangan ya. Apakah anak harus mondok? Enggak harus juga ya.
(56:58) Oh, format pendidikan yang lain salah enggak ya? Nah, ya ini bergantung kepada kesiapan anak itu sendiri ya. Nah, ada yang dipaksakan hasilnya juga enggak baik ya. mungkin anak ini cocok dengan format pendidikan yang lain ya. Maka tugas orang tua adalah mencari format pendidikan yang tepat dan baik, selamat, aman, kan begitu ya.
(57:32) Nah, baik itu ee pondok kah, ee sekolah yang full day kah, half day atau mungkin ee ee homeschooling ya. Nah, ya itu yang ee menjadi opsi para orang tua ya untuk memberikan ya format pendidikan yang cocok untuk anak mereka. Maka di sini jelas orang tua enggak bisa lepas tangan mau enaknya aja.
(57:59) Kadang-kadang mau dipondokkan karena mungkin itulah yang paling nyaman untuk orang tua ya. Paling nyaman untuk orang tua dipondokkan selesai. Dia enggak mikir. Iya kan? lepas tangan sudah ee dan dia klaim itu yang cocok untuk anaknya. Belum tentu cocok untuk anaknya, tapi cocok untuk dia. Ya, ini sejujurnya ya, banyak orang tua seperti itu. Memandang pondok itu seperti itu ya.
(58:23) Cocok untuk dia bukan untuk anaknya gitu ya. Karena dia merasa tak terbebani lagi. Ini kan pemikiran yang salah ya. Nah, demikian ya. Ya. Ya. Jadi ya enggak sepenuhnya jujur juga orang tua yang memaksakan anaknya untuk mondok itu untuk kemaslahatan si anak. Enggak. Kadang-kadang itu untuk kepentingan orang tuanya ya.
(58:47) Karena kita enggak bicara tentang format pendidikan di sini ya. Sehingga di diasumsikan kalau pondok itu islami. Kalau enggak pondok enggak islami gitu ya. Enggak juga kan ya. Di sana banyak former-form pendidikan yang bagus juga, enggak pondok ya, yang full day, half day kan begitu ya. Nah, bahkan banyak juga orang tua yang menempuh ya format pendidikan homeschooling kan begitu ya.
(59:11) Nah, itu juga enggak salah asalkan bagaimana eksekusinya di lapangan kan begitu ya. Nah, bagaimana formatnya, bagaimana ee isinya, kontennya, apakah aman enggak atau enggak aman, baik atau enggak baik ya. Nah, demikian ya. Ya, jadi seperti itu ya. Ini juga berkaitan dengan lingkungan pendidikan tersebut ya.
(59:38) Format pendidikan boleh berbeda-beda tapi lingkungan pendidikan ini harga mati. Artinya ya itu harus kita carikan lingkungan pendidikan yang baik ya. Ya, pondok pun kalau lingkungan pendidikan yang enggak baik itu enggak jadi pilihan juga kan begitu ya. Nah, demikian. Wallahuam bisawab. Nah, ini mengedukasi para orang tua harus jujur di sini.
(1:00:02) Itu untuk kemaslahatan anak atau untuk kepentingan dia ya atau ya karena dia merasa ini paling enak untuk dia bukan untuk si anak. Ya, wallahuam bissawab. Ya. Nah, demikian. Iya. Ya, mungkin sampai di sini dulu pertemuan kita pada kesempatan pagi ini. Mudah-mudahan bermanfaat lebih dan kurang saya mohon maaf. astagfirullahiramualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(1:00:37) Kami ucapkan sekali lagi untuk ustaz jazakullah khair barakallahu fik atas waktu yang telah diluangkannya untuk kita semua dan juga ilmu yang telah disampaikan dari pembahasan yang sangat menarik ini dari buku adaban dengan remaja dan juga tadi beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk di layanan pesan WhatsApp yang mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh ustaz menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan Anda yang sedang menghalami menghadapi ee problematika dalam pendidikan atau dalam mendidik anak-anak remaja. Semoga Allah mudahkan dan menjadi anaknya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Demikian kami
(1:01:14) undur diri mohon maaf apabila ada kesalahan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roog
Leave a Reply