(81) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. – Fiqih Do’a dan Dzikir – YouTube
Transcript:
(00:00) Waman walah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba’du. Ikhwat Islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya. Dan kami mengucapkan selamat menyimak, semoga bermanfaat.
(00:33) Roja TV Anda para pemirsa TV. Ah. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabiina Muhammadin wa ala alihi wasahbih waman walah wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah Wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’. Kita lanjutkan saudarakuiman kita masuk ke bab yang ke-18
(01:44) fadlu thabil ilm. Keutamaan menuntut ilmu. Syekh Abdur Razak berkata, “Ma min syakin fi annal istihala balabil ilmi wat tahsilihi wa makrifatil halali wal harami wa mudarasatil quranil karimi wa tadabburihi wa makrifati sunati rasulih sallallahu alaihi wasallamatihi wa akhbarihi wahairudikri wa afdoluhu majalis.
(02:32) Tidak ragu lagi kata beliau bahwa sibuk dengan menuntut ilmu dan menghasilkannya dan mengenal yang halal dan yang haram dan mempelajari Al-Qur’an mentadaburinya mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan sirahnya dan khabarnya adalah zikir yang paling utama. Dan yang paling baik. Yang dimaksud dengan ilmu di sini, akhi, kata para ulama bahwa ilmu kalau dimutlakkan maksudnya ilmu agama. Iya.
(03:14) Karena ilmu agama itu ilmu yang paling utama secara mutlak. Sudah. Kenapa? Karena ilmu agama itu ya yang dipelajari siapa? Allah Subhanahu wa taala yang dipelajari tentang syariat Allah, tentang ya hukum-hukum Allah, tentang adab-adab terhadap Allah dan Rasul-Nya itu ilmu agama, din.
(03:48) Maka jangan kita menganggap bahwa mempelajari ilmu agama itu, Saudaraku seiman, sesuatu yang remeh dibandingkan dengan ilmu dunia. Karena banyak orang ya kalau anaknya belajar di Amerika, di mana? Di Australia, di Inggris, bangga dia, Pak. Tapi kalau anaknya di pesantren kayak kayak hina gitu, Pak. T katakan subhanallah.
(04:23) Belajar ilmu dunia itu yang dipelajari tentang makhluk. Dan belajar ilmu agama itu yang dipelajari tentang pencipta makhluk. Maka keutamaan ilmu itu disesuaikan dengan apa yang dipelajari. Semakin yang dipelajari itu utama, semakin agung itu luim. Sekarang mana yang lebih utama? Tentu ya pencipta makhluk atau makhluk itu sendiri? Tentu pencipta makhluk.
(04:56) Berarti ilmu tentang pencipta makhluk, tentang Allah dan syariatnya adalah ilmu yang paling utama, yang paling agung, paling mulia, saudaraku seiman. Maka itu zikir yang paling utama sudah. Dan majelis ilmu seperti ini sebaik-baiknya majelis. Wahi afdol min majalis zikrillah bitasbih wat tahmid wat takbir. Bahkan majelis ilmu lebih utama daripada majelis sebatas berzikir.
(05:27) Subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar. Kenapa? Karena majelis tasbih subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar itu ibadah yang manfaatnya terbatas buat dirinya sendiri, Pak. Sedangkan ilmu manfaatnya buat diri sendiri dan buat orang lain. Untuk para ulama mengatakan ibadah yang manfaatnya menular lebih utama dibandingkan ibadah yang manfaatnya buat diri sendiri.
(06:06) Lianna dairatun baina fard ainin au fard kifayah. Karena ilmu itu ada yang fardu ain dan ada yang fardu kifayah. Apa itu ilmu yang fardu ain, Pak? Sebagian ulama seperti Ibnu Abdul Bar mengatakan ilmu yang fardu ain itu adalah yang tidak mungkin sempurna keimanan kecuali dengan mempelajari ilmu tersebut. Iya.
(06:39) Sebagian lagi mengatakan ilmu yang fardu ain itu adalah ilmu tentang kewajiban-kewajiban yang setiap harinya ya harus kita lakukan. Tentang salat, tentang wudu, tentang cara berpakaian yang sesuai dengan syariat, tentang makan, tentang minum yang itu setiap harinya kita lakukan, saudaraku seiman, tentang keimanan yang tentunya itu merupakan pondasi ibadah.
(07:08) Tauhid itu tentu yang paling agung. Wikrul mujarad tatawun mahdun. Beda dengan zikir. Subhanallah, alhamdulillah, lailah, Allahu Akbar. Itu hukumnya sunah saja. Sedangkan ilmu itu ada yang fardu ain dan ada yang fardu kifayah. Yang fardu kifayah seperti apa? belajar bahasa Arab, belajar ilmu ushul fikih, kaidah fikih, belajar ilmu hadis itu fardu kifayah ya. Apabila tidak ada yang mempelajarinya semuanya dosa.
(07:50) Tapi kalau ada yang mempelajarinya yang lain gugur kewajiban. Beda dengan fardu ain. Kalau fardu ain siapa yang tidak mempelajarinya dosa dia, Pak. siapapun dia. Walihadza faqad tsabbata anin Nabi sallallahu alaihi wasallam fi tafdil ilm wa taqdimi alal ibadah. Oleh karena itu telah sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ya di mana Nabi sallallahu alaihi wasallam lebih mengutamakan ilmu dibandingkan ibadah.
(08:25) Watqdimul alim alal abid ya. alim al abid dan lebih mengutamakan orang yang berilmu dibandingkan ahli ibadah. Dalam hadis yang diikut Imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya dari hadis Abu Darda bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Fadlul alim alal abid kafadlil qamar lailatal badr ala syairil kawakib.
(09:02) Keutamaan ulama dibandingkan ahli ibadah itu bagaikan bulan di malam purnama dibandingkan dengan bintang. Ikhwat Islam saudaraku seiman. Kenapa ya apa bedanya bulan dengan bintang, Pak? Kata beliau, waqamana haditu matsalan badian yadi minilali farqi bainalim wal abid. Dalam hadis ini terdapat perumpamaan yang indah tentang perbedaan antara seorang ulama dengan ahli ibadah.
(09:47) Haitsu syabbaha sallallahu alaihi wasallam al al alima bilqamari lailatal badr. Di mana Nabi sallallahu alaihi wasallam mengumpamakan ulama itu alim itu seperti bulan di malam purnama biasanya di malam 15 ya. Wasyabbahul abid bil kawakib. Sedangkan ahli ibadah bagaikan bintang.
(10:19) Berkata Ibnu Rajab, “Wasiru fidzalika wallahuam.” Rahasianya wallahuam analukabuhu la ya’du nafsahu. Bahwa bintang itu cahayanya hanya untuk dirinya. Dia tidak menerangi yang lain. Waalqar lailatul badr fna nurahu yusri alril ardi jamian fumuhum nuruhu. Sedangkan bulan purnama cahayanya itu Pak ya menerangi orang yang berjalan di malam hari.
(11:02) Ketika malam hari yang gelap kemudian muncul bulan purnama, kita bisa melihat jalan ya sehingga pada waktu itu kita bisa mengambil manfaat dari cahaya bulan tersebut. Saudaraku seiman, ikhwat Islam, saudaraku seiman ala sairil kawaqib. Perhatikan sabda Nabi di situ. Di bagaikan bulan dibandingkan dengan kawakib. Rasulullah tidak mengatakan nujum.
(11:38) Ya, nujum itu bintang. Kalau kawakib itu jamak kaukab artinya planet. Lianal kawakib hati tasir wala yuhtada biha. Apa bedanya, Pak, dalam bahasa Arab kawakib dengan nujum? Kalau nujum, bintang masih bisa digunakan untuk penunjuk jalan. Ya, sebagaimana Allah mengatakan, wahualladzi ja’ala lakumun nujuma litahtadu biha fi dulumatil barri wal bahr.
(12:13) Dialah Allah yang telah menciptakan nujum agar kalian bisa mendapatkan petunjuk. di kegelapan malam eh di kegelapan daratan dan lautan. Sedangkan kawakib, kawakib itu tidak bisa dijadikan alat penuntut untuk penunjuk, Pak. Ya. Nah, ini dia bedanya nujum dengan kawakib. Kalau nujum masih bisa dipakai untuk penunjuk jalan. Kalau kawakib enggak.
(12:51) Ya, makanya di situ Nabi menyebutnya dengan apa? Alairil kawakib. Fadlul alim alal abid kafadlil qamar lailat badr ala syairil kawakib. Nabi tidak mengatakan ala syairin nujum. Nah, di situ rahasianya kenapa menyebut Nabi dengan kata-kata kawakib bukan nujum. Ah, demikian pula ahli ibadah. Ahli ibadah seperti kawakib. Kenapa? Karena manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri.
(13:27) Sedangkan ulama manfaatnya buat siapa? Buat dirinya dan buat umat. Dengan ilmu itu dia bimbing manusia, dia jelaskan tentang syariat, dia pahamkan tentang Al-Qur’an dan sunah. Dia pahamkan manusia tentang jalan menuju surga dan jalan menuju neraka, tentang halal dan haram, tentang hak dan batil.
(13:54) Sehingga akhirnya banyak orang tertunjuki, Pak dan bisa melihat jalan. Ya, ikhwat Islam saudaraku sean. Fadal haditu ala tafdil ilm alal ibadah tafdilan bayyina. Sehingga hadis ini menunjukkan bahwa ilmu lebih utama, Pak, dibandingkan apa? Ibadah. Mungkin ada orang berkata begini, “Lah, terus jadi kalau begitu kita ee ahli apa sebatas punya ilmu enggak ibadah dong.
(14:27) ” Bukan itu maksudnya, akhi ya. Maksudnya justru dengan ilmu ibadah itu jadi lurus. Ahli ibadah itu butuh ulama. Sedangkan ulama tidak butuh ahli ibadah. Ahli ibadah butuh ulama untuk mengenal apakah ibadah yang dia lakukan ini sesuai enggak dengan petunjuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(14:59) Bagaimana cara ibadah? Bagaimana syarat-syaratnya? Apa pembatal-pembatalnya? Bagaimana batasan-batasannya? Kan tuh butuh ilmu ya. Tidak. Yang paham itu siapa? Ulama. Bahkan seorang ulama dengan sedikit ilmu bisa mengalah dengan sedikit amal bisa mengalahkan al-ibadah yang banyak amal. Apa? Dalam kitab Miftah dari Saadah, al Imam Ibnu Qayyim memberikan sebuah contoh.
(15:33) Kata beliau, orang yang bekerja dengan sebatas tenaga berbeda hasilnya dengan orang yang bekerja dengan ilmu. Contoh misalnya kata beliau orang yang kuli bangunan. kuli bangunan tuh ya dia bekerja dari pagi sampai sore mengangkat pasir, mengangkat batu bata dan yang lainnya. Dia bekerja capek dia, Pak.
(16:10) Sementara kontraktor dia cuma nyurik ini, nyurik ini, gambar ini, gambar itu, kerjain dah. Tapi hasil fulusnya gedean mana, Pak? kontraktor. Kenapa kontraktor bekerja dengan ilmu, sedangkan kuli bangunan bekerja dengan tenaga? Demikian pula beramal saleh pun sama. Ada orang yang beramal saleh hanya mengandalkan tenaga saja. Ya.
(16:46) Sementara orang saleh ber apa? beribadah dengan ilmu. Dia tahu kapan suatu amal itu menjadi besar pahalanya di sisi Allah, kapan menjadi kecil. Ya, dengan keilmuan. Saudaraku iman rahimani warahimakumullah jamian. Nabi sallallahu alaihi wasallam fi mustadrin mustadrqil hakim wiri min hadisi saad bin Abi Waqqas radhiallahu anhu annahu q fadlul ilmi ahabbu ilaiya min fadlil ibadah waha wiru dinikum alwari.
(17:24) Dan telah sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang di dalam hadis yang dikeluai Imam al-Hakim dalam mustadraknya dari hadis Saad bin Abi Waqqas semoga Allah meridainya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah dan sebaik-baik agama kalian itu adalah wara.
(17:55) ” Apa itu wara, Pak? Wara itu kata Ibnu Ibnu Taimiyah, tarqu ma yuksyauhu fil akhirah. Itu war itu meninggalkan sesuatu yang bisa membahayakan akhirat kita, Pak. Segala sesuatu yang dikhawatirkan bisa merusak akhirat kita, tinggalkan. Berarti wara tuh namanya, Pak. Contoh war apa? Contoh contohnya misalnya kita meninggalkan sesuatu yang sifatnya syubhat masih samar hukumnya halal apa haram.
(18:34) Ketika antum masih samar nih halal apa haram ya antum tinggalkan karena takut berarti antum punya sifat waro. Iya. Nah di sini na Nabi mengatakan apa, Pak? Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan apa? Ibadah. Jelas ya akhal Islam karena sudah kita sebutkan tadi ya.
(19:06) Ilmu itu sangat kita butuhkan akhir dalam kehidupan. wimma yadlu ala il jami nawafil wal mustahabbat bima fzikr analjilal almutfarqah dan di antara yang menunjukkan kata beliau keutamaan ilmu dibandingkan seluruh ibadah-ibadah yang sunah termasuk zikir bahwa ilmu itu mengumpulkan seluruh keutamaan amal ya kemariah fil arar sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah asar i namun arar ini sanad-sanadnya tidak ada yang sahih akan tetapi dibawakan di sini karena memang maknanya benar taalamul ilm dan asar ini diriwayatkan bahwa ini ucap Ucapan ee Muad bin Jabal
(20:11) ya. Ini ucapan siapa? Muad bin Jabal. Taalamul ilm. Pelajarilah ilmu. Fainna ta’allumahu khasyah wa tholabahu ibadah. Karena mempelajari ilmu itu akan menimbulkan khasiah, rasa takut kepada Allah. Dan mencari ilmu itu ibadah. Waudzaqaratu tasbih dan bermuzakarah. Muzakarah itu apa? Mengulang-ulang ilmu.
(20:57) Mengulang-ulang apa? Ilmu itu termasuk tasbih wal bahtu anhu jihad. Dan membahas ilmu itu jihad. Sebagaimana juga kata Abu Darda ya, manna tholabal laisa bijihad fattahin fi aqlih. Siapa yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu bukan jihad, maka tuduh akalnya itu. Jangan-jangan akalnya ada sesuatunya itu, Pak. Iya. Watlimahu liman la ya’lumuhu shodqah.
(21:36) Dan mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak tahu itu sedekah. Wabaduhu li ahli qurbah. Dan memberikan ilmu kepada ahli ilmu itu termasuk qurbah taqarub kepada Allah. Liannahu ma’alimul halali wal haram. Karena ilmu itu apa? Rambu-rambu halal dan haram. Artinya apa? Dengan ilmu kita tahu ini halal, ini haram.
(22:11) Wamanaru sabili ahlil jannah. Dan ilmu itu manar ya sabili ahlil jannah. Menaranya jalan penduduk surga atau ya sebagai cahaya yang membimbing menuju surga Pak. Wahual unsu fil wahsyah. Dan ilmu itu teman saat sendirian. Wasohib fil gurbah. Dan teman saat keterasingan. Kalau antum lagi sendirian di rumah terus antum baca kitab para ulama, oh masyaallah teman antum banyak itu, Pak.
(23:01) Makanya kata para ulama apa? Khairu jalisin fizamani kitabu. Sebaik-baik teman duduk untuk mengisi waktu itu adalah buku. Ya, buku. Antum yang jualan buku harusnya antum yang paling paham tentang buku itu. Cuma jualan doang tapi enggak paham. Sayang banget, Mas. Ya, saudaraku seiman rahimani rahimakumullah jamian. wal muhaddit fil khalwah dan yang mengajakmu bicara saat sendiri.
(23:39) Seakan-akan ilmu itu ngajakin bicara kita ya. Waddalil alas sarra wadarro dan sebagai penunjuk ketika kita senang maupun ketika kita susah. Ketika kita senang dengan ilmu, kita jadi bersyukur. Ketika kita susah dengan ilmu, kita jadi bersabar. Wasilah alal a’da. Dan sebagai senjata untuk musuh-musuh sunah.
(24:13) Ya, karena musuh-musuh agama ini, Pak, berusaha untuk apa Pak? merusak agama dengan memberikan syubhat, pemikiran-pemikiran yang menyesatkan. Nah, kalau kita punya senjatanya untuk membantah, selamat kita, Pak. Banyak orang yang terkena syubhat itu karena enggak punya senjata ilmu, Pak. Wazin akhilla dan hiasan ya kepada apa teman-teman akrab kita.
(24:51) Yarfaullahu bi aqwaman faj’aluhum filhairi qatan wa aimmatan wqtada b’alihim. Allah mengangkat dengan ilmu ya beberapa kaum sehingga Allah jadikan mereka sebagai apa, Pak? Qadah ya. Pemimpin dalam agama, imam yang diikuti jejak kaki mereka dan dijadikan sore tauladan dalam perbuatan mereka. Wayuntah ila rihim.
(25:34) Dan dimintai pendapat mereka karena ilmu. Kalau antum ada suatu permasalahan, antum butuh pendapat ahli ilmu. Enggak mungkin antum datang ke preman, Pak. Kalau kita musyawarah dalam suatu permasalahan, musyawarah harus dengan ahli ilmu. Jangan musyawarah sama bukan orang yang punya ilmu. Yang enggak punya ilmu. Saudarakus iman.
(26:05) Targhabul malaikatu fi khallatihim wabiajnihatiha tamsahuhum. Para malaikat ya merasa senang untuk menemani para ahli ilmu dan sayap-sayap mereka rendahkan untuk para pencari ilmu. Sebagaimana dalam hadis, innal malaikata latu ajnihataha tholibil ilm. Sesungguhnya malaikat itu merendahkan sayap-sayapnya untuk siapa? penuntut ilmu. Masyaallah, Pak.
(26:45) Saking apa? Ridon bima yatlub. Karena malaikat rid terhadap apa yang ia cari. Iya. ygfirullahumin waabis waitanul bahr wa hawamuhu wasibaul bar waamuh ahli ilmu itu dimohonkan ampunan oleh semua makhluk sampai-sampai ikan yang ada di lautan bahkan sampai-sampai semut yang ada di sarangnya Sebagian disebutkan dalam hadis begitu.
(27:25) Wa inal alim lastgagfiru lahu man fis samawati waman fil ard. Hattal haitan fi mail bahr wattan namlah fi juhriha. Sesungguhnya orang yang alim berilmu dimohonkan ampunan oleh semua yang ada di langit dan di bumi. Sampai-sampai ikan di lautan. sampai-sampai apa? Semut ya di lubangnya. Subhanallah.
(27:59) Kenapa, Pak? Semua yang ada di langit dan di bumi memohonkan ampunan untuk ahli ilmu, Pak. Karena ilmu itu bermanfaat buat mereka juga. Mereka pun merasakan manfaat ilmu tersebut. Karena ilmu itu menimbulkan amal saleh. Dan amal saleh manfaat maksiat. Ya. Merusak bumi tidak, Pak? Ya, kekufuran merusak bumi tidak, Pak? Ya, makanya Allah berfirman, doaral fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aidinas.
(28:40) Tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan-perbuatan manusia. Kata Ibnu Abbas, artinya disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Makanya apa? Kalau orang kafir itu mati, kata Rasulullah apa? Istaroha minhul ibad wal bilad wadwab wasyajar. Kalau orang kafir mati kata Rasul sallallahu alaihi wasallam beristirahat beristirahat darinya negeri-negeri para hamba, bebatuan, pepohonan.
(29:13) Kenapa? Karena kekafiran mereka menyakiti, merusak alam. Sedangkan ilmu ya menyebabkan seseorang beramal ibadah, memperbaiki, menjadikan orang beriman kepada Allah, beramal saleh ya dan itu sangat manfaat untuk alam semesta ini. Saudaraku seiman rahimani rahimakumullah jamian.
(29:45) Makanya disebutkan dalam surah Addukhan ya Allah berfirman, “Fama bakat alaihimus sama wal ard.” Langit dan bumi tidak meneng tidak menangisi kematian orang kafir itu. Lalu kemudian ada seseorang datang kepada Ibnu Abbas bertanya, “Apakah berarti langit dan bumi menangisi kematian seorang mukmin?” Kata Ibnu Abbas, “Iya, karena sesungguhnya setiap mukmin itu memiliki pintu amal.
(30:21) Ketika dia beramal saleh, naiklah ke langit melalui pintu itu.” Ketika si mukmin meninggal, tertutuplah satu pintu kebaikan. Dan si mukmin punya tempat dia untuk beribadah. Ketika dia sudah meninggal, hilanglah salah satu tempat ibadah. Menangislah langit dan bumi. Iya. Ikhwat Islam, saudaraku seiman rahimani rahimakumullah jamiah. Baik.
(30:51) Dari mana itu, Pak? Bisa dengan ilmu. Semua dengan ilmu saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Kita lanjutkan. Liannal ilma hayatul qulub minal jahal. Karena ilmu itu kehidupan hati ya dari kebodohan. Orang bodoh itu apa? Hatinya gelap. Tidak bisa melihat mana hak mana batil. Dengan ilmu hatinya terang.
(31:28) Dia bisa melihat mana yang hak dengan mana yang batil. Iya. Makanya orang yang enggak punya ilmu biasanya bingung, Pak. Ketika terjadi perselisihan, perpecahan, bingung yang yang benar yang mana ini. Yang ini merasa benar, ini merasa benar. Sudahahlah jangan merasa paling benar. Kenapa dia mengatakan begitu? Karena lagi bingung, enggak tahu mana yang benar.
(31:58) Ya, kebingungan itu, Pak, sesuatu yang musibah buat seorang hamba. Kayak antum mau berjalan ke suatu tempat kemudian ada persimpangan jalan. Enggak tahu mau ke ke depan, ke kanan, ke kiri, bingung. Nanya kedua orang jawabannya beda-beda. Bingung enggak tuh, Pak? Kenapa bingung? karena enggak punya ilmu. Tapi kalau kita punya ilmu enggak bingung, Pak. Tenang kita.
(32:33) Ikhwat Islam, saudaraku seiman, wasabihul absar minadulm. Ilmu itu adalah bagaikan lampu untuk mata saat gelap. I yablugul abdu bil ilmi manajilal akyar darajatil ula fid dunya wal akhirah. Seorang hamba dengan ilmu bisa sampai kepada derajat yang tinggi ya di dunia dan akhirat. Wat tafakur fihi ya’dilus siam.
(33:09) Memikirkan ilmu itu sama dengan ya Pak apa namanya? sebanding dengan puasa. Bahkan ya ikhwat Islam, saudaraku seiman, orang yang menuntut ilmu, memikirkan ilmu lebih utama daripada orang yang berpuasa sunah. Waudarasatuhu takdilul qiyam. Dan mempelajari ilmu itu sebanding dengan salat malam. Ya.
(33:48) Namun yang benar mempelajari ilmu itu lebih utama daripada salat malam. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Assyafi’i. Demikian oleh Imam Ahmad. Iya. Di mana Imam Ahmad berkata, “Kitabatul ilm ahabbu ilaiya min shatil lail.” Menulis ilmu lebih aku sukai daripada salat malam. Karena salat malam manfaatnya buat kamu sendiri, sedangkan menuntut ilmu manfaatnya buat kamu dan buat manusia.
(34:24) Jadi ucapan ini ya bisa dikatakan kurang tepat kalau dikatakan mempelajari ilmu itu sebanding dengan salat malam kita katakan enggak sebanding. Justru menuntut ilmu lebih utama daripada salat malam. Wabihitalul arham. Dengan ilmu disambunglah silaturahim. Wabihful halal minal haram. Dengan ilmu diketahui mana yang halal, mana yang haram. Wahua imamul amal. Dan ilmu itu adalah imamnya amal.
(35:01) Artinya amal tidak akan lurus kecuali dengan apa? ilmu wal amal tabiu. Sedangkan amal itu ngikutin ilmu. Yulhimuhus suada wuh wuhramul asqiya yulhamuhus suada. Ya, hanya orang-orang yang bahagia yang akan diberikan oleh Allah ilmu. Dan yang terhalang dari ilmu adalah orang-orang yang apa? Celaka. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Man yuridillahu bihi khairon yufaqqihu fiddin.
(35:44) ” Siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, maka Allah jadikan fakih dalam apa? Dalam agama. Siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah jadikan dia fakih dalam agama. Kalau kita ambil mafhum mukhalafahnya gimana, Pak? Mafhum mukhalafah itu artinya pemahaman kebalikan. Berarti apa? Siapa yang Allah tidak inginkan kebaikan, maka Allah tidak jadikan dia fakih dalam agama. Enggak mau tafakuh.
(36:18) Maka kalau antum ternyata diberi oleh Allah semangat untuk tafakuh dalam agama, Pak, semangat duduk duduk di majelis taklim, wallahi antum gembira. Bapak, bersyukur antum. Kenapa? Karena antum termasuk orang yang Allah inginkan kebaikan. Tapi ketika antum enggak mau duduk di majelis taklim, duduk di majelis taklim enggak mau menuntut ilmu, enggak mau.
(36:48) Tapi kalau ngomong agama sok tahu mulai musibah. Karena berarti orang seperti ini Allah tidak menginginkan kebaikan pada dia. Saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Q ja salafi fdilar. Dan ucapan-ucapan para ulama salaf tentang keutamaan ilmu banyak sekali. Berkata Sufyan Auauri. Sufyan atauri namanya Sufyan bin Said bin Masruk ya Asauri yang wafat pada tahun 160 Hijriah.
(37:32) Ma yuradullahu bisyaaiin afdol min thaolabil ilm. Tidaklah diinginkan Allah sesuatu yang lebih utama dari menuntut ilmu. W thibal ilmu fi zamanin afdol minhul yaum. Dan tidaklah ilmu dituntut atau dicari di zaman yang lebih utama dari hari ini. Itu di zaman Sufyan Asauri saja beliau mengatakan bahwa amal yang paling utama untuk di zaman ini menuntut ilmu.
(38:16) Gimana zaman kita, Pak? Di zaman kita ini kebodohan meraja lela ya. Banyak orang enggak peduli dengan din. Maka kita menuntut ilmu di zaman ini, Pak. Wallahi akhi ini jihad yang paling agung. Makanya Syekh Albani rahimahullah mengatakan bahwa jihad yang paling utama di zaman ini adalah menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. I bagaimana tidak? Ya, akhi menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa jihad dengan ilmu itu adalah jihad yang besar.
(38:52) itu dalam surat apa itu? Al-Furqan ayat yang ke-27 kalau enggak salah atau bukan saya lupa. Allah berfirman, “Fala tuiil kafirina wajahidhum bihi jihadan kabiro.” Jangan kamu menaati orang kafir dan jihai mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar. Ayat ini, Pak, termasuk ayat Makkiah.
(39:27) Tahu enggak ayat Makiyah? Yaitu ayat yang turun sebelum hijrah. Nah, saat itu belum disyariatkan jihad dengan apa? Senjata. Belum. Semua ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan jihad dalam ayat ini adalah jihad dengan ilmu. Jihad dengan apa? ilmu. Dan Allah menamai jihad dengan ilmu sebagai apa? Jihaan kabira. Lihat jihad yang besar. Allahu Akbar.
(40:04) Makanya jihad dengan ilmu itu besar ya akhal Islam. Apalagi di zaman sekarang yang fitnah meraja lela ya akhi. Makanya kalau antum mendapati diri antum kok malas nuntut ilmu, antum langsung ucapkan innillah wa inna ilaihi rojiun. Musibah besar dalam hidup antum ya ketika kita malas-malasan menuntut ilmu, lebih senang main game, lebih senang Facebookan, sosial mediaan.
(40:36) Wallahi, akhi kalau kita dapatkan kita seperti itu, musibah besar dalam hidup kita. I waqala Maimun bin Mahron. Inna matalalim fil balad kamali aininbah fil balad. Sesungguhnya perumpamaan seorang alim di suatu negeri bagaikan mata air yang bening di negeri tersebut. Artinya orang butuh mata air, Pak, untuk minum. Maka seorang alim yang ada di suatu tempat dia itu bagaikan mata air, Pak, yang kita butuh ya kepada dia tentang ilmunya.
(41:23) Ikhwatlah Islam, saudaraku seiman. Waqal Hasan Albashri. Berkata Alhan Albashri, alalim kirum minzahid fid dunya almujtahid fil ibadah. Yansyuru hikmatallah fain qilat hamidallah wain ruddat hamidallah. Seorang ulama itu lebih baik daripada orang yang zuhud dalam kehidupan dunia. Lebih baik daripada orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.
(41:55) Kenapa? Karena dia menyebarkan ilmu Allah. Kalau diterima dia memuji Allah. Kalau ditolak dia pun memuji Allah. Subhanallah. Rafatlah Islam sodqus iman. Makanya apa ya? Pengaruh orang alim untuk manusia itu luar biasa. Tapi sikap manusia terhadap ulama jelek banget, Pak. Ya, ulama berusaha membimbing kepada kebaikan, tapi manusia malah apa? Menjelek-jelekkan ulama.
(42:35) Iya. Seperti yang kita lihat di zaman sekarang akhal Islam dari orang-orang yang para pecinta dunia yang tertipu dengan apa? Dunia dan syubuhat. Berkata Imam Asyafi’i. Imam Syafi’i namanya siapa? Muhammad bin Idris. Thaabul ilm afdal min shatin nafilah. Menuntut ilmu lebih utama daripada salat sunah. Menuntut ilmu lebih utama daripada salat sunah.
(43:14) Wasul Imam Ahmad. Imam Ahmad ditanya ahabu ilaika usi bailian ajakul ilm? Mana yang lebih kamu sukai? Aku salat malam atau aku duduk mencatat ilmu? Q idza kunta tansak fa’lam bihi amrinik fahu ahabu ilai. Kata Imam Ahmad, “Kalau kamu mencatat ilmu, maka dengan cara itu kamu bisa tahu tentang urusan agama kamu.
(43:49) Itu lebih aku sukai.” Lalu Imam Ahmad berkata, “Al ilmu la ya’diluai.” Ilmu tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Iya. Nah, ini saudara kosok iman. Waana ahlul ilmiah wajib alwahum yahfahum qhum lahum makanatahumunzilahum manazilahum. Coba lihat, Pak. Kata beliau, betapa tingginya kedudukan seorang ahli ilmu.
(44:32) Betapa pentingnya keberadaan mereka untuk manusia, Pak. Maka kalau kita tahu berarti kewajiban kita jaga mereka, Pak. Ya, kenali kedudukan mereka. Sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Laisa minna manam yarham shogirona wauwaqir kabir liimina haqqoh.” Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua dan tidak mengetahui hak ulama. Apa hak ulama, Pak? Untuk dimuliakan.
(45:17) Tapi tidak boleh gulu, Pak. Memuliakan ulama itu bukan dengan cara ngesot, Pak. Ngesot jalan di atas itu kayak enggak. Rasulullah tidak pernah melakukan itu kepada para sahabat tidak pernah melakukan itu kepada Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Dan Rasul pun enggak pernah menyuruh para sahabat seperti itu.
(45:42) Apa pernah antum mendengar hadis Rasulullah menyuruh seorang sahabat suruh supaya ngesot kepada beliau? Enggak ada. Padahal mana yang lebih mana yang lebih apa namanya berhak untuk kita ngesot, Pak? Kepada Rasul atau kepada kiai? Kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam. Manusia terbaik saja para sahabat tidak seperti itu. Dan Rasul pun tidak pernah menyuruh.
(46:13) W. Kenapa di zaman sekarang kiai menyuruh muridnya suruh ngesot? Ya la haula wala quwwata illa billah. Kalau enggak ngesot dianggap kurang qolil adab dan yang lainnya. Ya, akhi. Oleh musibah kubra ya akhi. Menghormati ulama itu bukan dengan gul bukan. Bukan dengan berlebih-lebihan. Ikhwat Islam saudaraku seiman h wa inna min adamiri ahlil wifatihim ulama ummah wauqaha umah sudah masuk sudahud Tibadal ikhwatal Islam untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat
(47:22) Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Ashadu alla ilahaillallah [Tepuk tangan]
Leave a Reply