Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. | Faidah Sejarah Islam

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(81) [LIVE] Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. | Faidah Sejarah Islam – YouTube

Transcript:
(00:00) warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdalillah hamdan fuhunaard asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah waadu anna muhammadan abduhuasul bau ikh islamakumullah sahabat raja di mana pun anda berada semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi dan mikan kita semua alhamdulillah di kesempatan pagi menjelang siang ini kita akan simak bersama kajian ilmiah yang disampaikan secara langsung dari pembahasan faedah-faedah sejarah Islam oleh Al Ustaz Dr. Ali Musri Semjanputra hafidahullahu taala. Alhamdulillah kami sudah terkoneksi dengan beliau. Semoga
(00:38) Allah menjaga al ustaz beserta keluarga, berkahi pertemuan kita di kesempatan hari ini dan juga memberkahi ilmu yang akan disampaikan. Pembahasan kali ini yaitu mengenai Allah subhanahu wa taala berbicara dengan suara yang terdengar. pembahasan yang sangat bermanfaat untuk kita simak bersama ini agar kita paham bagaimana salah satu sifat Allah ini.
(01:02) Kita akan simak bersama apa yang akan disampaikan beliau. Dan setelah materi kami akan ee buka sesi tanya jawab. Bagi Anda yang ingin bertanya bisa melayankan pertanyaan baik melalui layanan pesan WhatsApp ataupun bisa menghubungi kami secara langsung di layanan telepon. Baik, kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan.
(01:20) Kepada ustaz kami persilakan. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Inalhamdalillah nahmaduhuillahihaillahillallah wahdahuikalahu muhammadan abduhuahmallahu bidah yang sama kita syukuri ya Allah subhanahu wa taala yang sangat mulia telah selalu menyampaikan rahmat kurniaanya para pemirsa dan pendengar TV rodo yangakan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala Dengan rasa syukur selalu kita hadapkan
(02:28) kepada Allah Subhanahu wa taala atas segala kemudahan yang Allah berikan kepada kita dalam segala urusan kita keberkahan terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Allah subhanahu wa taala. Di hari yang penuh berkah ini kita juga dianjurkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk memperbanyak mengucapkan selawat dan salam untuk baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(02:54) Allahumma shalli wasallim ala nabiina Muhammadin waa alihi wasbihi ajmain dirahmati Allah subhanahu wa taala kita akan lanjutkan pembahasan-pembahasan kritisi ketisi dan tuduhan-tuduhan terhadap filmiyah yang ditudukkan oleh para ahli kalam dan juga para kelompok-kelompok mutasawifah atau kelompok Syiah ya ada Syiah dan juga ada beberapa kelompok-kelompok yang lainnya yang mereka menyebarkan isu-isu fitnah terhadap seuntamiah dalam menyatakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Di antara tentang sifat kalam, akidah
(03:40) ahlusunah wal jamaah bahwa Allah subhanahu wa taala memiliki sifatul kalam. Kalam dalam arti beb berbicara. Di mana Allah Subhanahu wa taala banyak sekali menyebutkan di dalam Al-Qur’an Karim tentang sifat ini. Di antaranya pemnya firman Allah Subhanahu wa taala itulah rasul-rasul mereka itu adalah rasulasul yang kami memberikan keutamaan pembagian mereka di atas sebagian yang lain.
(04:18) Jadi rasul itu memiliki tingkat-tingkat kemuliaan berbeda. Tapi semua rasul adalah mulia. Ya, bukan ke adanya tingkatan kemuliaan. Lalu yang dikatakan yang lainnya tidak mulia, tidak demikian. Semuanya mereka adalah mulia. Para anbiasuh mereka semuanya mulia. Tetapi Allah ada yang melebihkan sebagian mereka yang lainnya itu ada kemuliaan-kemuliaan yang lebih.
(04:47) Maka ee para ulama membedakan antara nabi dan rasul bahwa Rasul adalah lebih mulia dar para nabi. Kemudian dari kalangan rasul yang paling mulia itu adalah ulul azmi ya. Ada lima, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kemudian karang ulmi yang paling mulia adalah nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Di antara mereka ada yang Allah berbicara kepadanya. Allah bicara kepada rasul.
(05:19) Allah bicara kepada rasul didengar oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan juga di antara nabi-nabi yang bicara Allah kepadanya secara langsung. Ya, di mana Allah Subhanahu wa taala menyampaikan wahyu kepada para anbiya dengan beberapa cara ada dalam bentuk yang Allah Subhanahu wa taala berikan ilham ya.
(05:44) Ada yang bentuk Allah kirim malaikat Jibril, ada yang datang dalam bentuk mimpi ee wahi tersebut. Kemudian juga ada yang Allah berbicara secara langsung kepada para rasul dan nabi itu di antara Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam pada waktu Isra Mikraj dan juga pada Nabi Musa alaihi salam ketika belum di Bukit Fursina. Ya. Maka Allah katakan dalam firman yang lain, Musaqlim.
(06:09) Allah bicara kepada Musa ya dengan pembicaraan yang sempurna. Baik. Maka sifatul kalam diingkari ini adalah dasar fitnah terjadi satu peristiwa di masa pemerintahan Abbasiyah itu di masa Khalifah Makmur terjadi fitnah yang luar biasa terhadap ulama-ulama ahlusunah wal jamaah tentang masalah pembahasan kalam ini.
(06:39) Oleh sebab itu adalah dibagi oleh ulama pembahasan tafik biologi dalam makunya ada ahlul kalam, ada ahlusunah yang disebut ahlul kalam adalah yaitu yang mereka di antara disebut mereka ahlul kalam adalah karena persoalan yang pertama sekali yang menggemparkan di tengah umat ini adalah persoalan kalamullah juga mereka disebut ahli kalam para um adalah karena mereka hanya mengandalkan kalam kalamun basyar tidak punya hujah dari Al-Qur’an.
(07:09) sunah dalam penetapan ee keyakinan-keyakinan yang mereka ee yakini. Tib. Nah, maka terkenalah masalah kalam ini di masa Imam Ahmad di mana orang-orang Muktaila mempengaruhi penguasa yaitu makmum pada saat itu. Kemudian makmum terpengaruh dengan pemikiran Mila ini dan maksa semua ulama ahli sunah wal jamaah untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. bahwa Allah tidak bicara kepada makhluknya.
(07:36) Nah, ini pembahasan ini sebetulnya sangat panjang ya. Tapi awal perpersoalan persoalannya di sini. Lalu para ulama-ulama ahlusunah wal jamaah ada yang mengalami penindasan, pemiksaan, intimidasi dan juga sampai ada yang sampai terbunuh. Demi meningkatkan keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah.
(08:05) bahwa Allah bicara dengan Al-Qur’an sehari berbeda dengan ahli salam. Mereka pun sendiri tidak kompak dalam menjelaskan pandangan mereka di sini. Buktinya mereka ada memiliki beapa pandangan di sini. Kalau orang ya ee orang-orang Jahmiah mengatakan ya Allah tidak memiliki sifat bucara. Begitu pula orang Muktazilah ya.
(08:34) Kemudian orang-orang mukfil mengatakan kalamullah makhluk. Bahwa pembicara Allah itu adalah makhluk. Itu mereka mengatakan sehingga mereka mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk bukan kalam Allah. Para ulama yang begitu mengetahui maksud dan tujuan serta muara dari pandangan ini. Bilwan itu adalah makhluk bukan kalam Allah. Berarti tidak ada kemuliaan tidak ada keutamaan bagi Al-Qur’an baik untuk diimani dan untuk di pegang karena dia makhluk bisa dirubah dan sebagainya. Nah, ini sebetulnya kesimpulan yang akan lahir daripada pandangan itu.
(09:18) Walaupun pada saat itu belum lahir kesimpulan itu. Nah, mereka mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Kemudian datang kelompok berikutnya. Mereka bingung untuk menyikapi pendapat ini. Karena mereka terpengaruh dengan doktrinnya orang Jahmiah dan Muktazilah ini mengatakan kalau Allah berbicara berarti kita menyerupakan Allah dengan makhluk.
(09:50) Tetapi di sisi lain mereka mendapatkan bahwa Allah itu dalam Al-Qur’an berbicara kepada makhluk. Maka akhirnya mereka kata mereka menyangka ini jalan tengah saja. Kata mereka bahwa Allah berkata kalam nafsu. Nah, ini adalah pandangan orang-orang Asyairah Maturidiyah ya dan juga alamiyah. Setelah mereka mengatakan Allah kalamullah janza wahidun laajza wamuhu kalamun nafsi itu kata mereka.
(10:24) Ketika mereka ingin membantah pandangan Muktazilah ya supaya tidak dikatakan kalam Allah makhluk mereka mengatakan kalamullahfsi sehingga mereka mengingkari huruf dan Allah tidak bicara dengan huruf Allah tidak bicara dengan suara. Nah, inilah yang akan menjadi pembahasan hari ini, yaitu salah satu sifat kalam Allah itu adalah Allah bicara dengan huruf ditam dalam kitab beliau ee dalam judul kitab beliau tentang akidah itu bahwa Allah bicara dengan harfinus.
(10:58) Kemudian ya dalil Quran Karim ketika Allah bicara kepada Musa, jelas terdengar oleh Musa itu adalah suara Allah, bukan suara selain Allah. Maka di situlah ulama mengatakan bahwa Allah bicara dengan suara yang mendengar. Ketika Rasulull sahu alaihi wasallam mendengar pembicaraan Allah, ya Allah mendengar ee Rasulullah mendengar suara Allah ketika bicara kepada dia, bukan suara selain Allah.
(11:23) Nah, orang-orang alkalam di kalangan maturidiyah, dan juga asyairah mereka tidak mengatakan Al-Qur’an itu kalam Allah ya. Tapi mereka hanya mengatakan Al-Qur’an itu adalah ibarah katanya. Ibar kalamillah. Itu pendapat orang-orang ee apa namanya? Asyairah dan matidah. Kalau orang tuan mengatakan hikayah min kalamillah.
(11:47) Hikayat ini bukan kalam Allah tapi hikayat kalam Allah itu kata mereka pada kesimpulan mereka sebenarnya sepakat dan mutilah mengatakan bahwa apa namanya bahwa Al-Qur’an itu makhluk tapi beda pendapat orang Asyairah dengan maturiduyaah dan dengan ee Jahmiah dan Mjala mereka menakkan Allah itu berbicara tapi bicara Allah kata mereka adalah kalamun nafsi dalam dirinya Dan ini tentu dibantah para ulama kalau Allah bicara dalam diri mana siapa, mana makhluk mendengar di malaikat mendengar kalamullah. Kalau Allah mewahyukan sesuatu kepada Jibril, Jibril mendengar kalam Allah ya dengan suara yang
(12:27) didengar oleh Jibril. Demikian pula ketika Rasulullah sahu alaihi wasallam terrat Allah berbicara kepada Rasulullah sallahu alaihi wasallam didengar oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Demikian pula ketika Nabi Musa alaihi salam ya di Bukit Kursina Allah bicara dengannya bisa mendengarullah. Nah, ini ee pembahasan yang dibahas.
(12:55) Lalu ketika Syam membahas masalah ini dalam kitabnya, dituduh dia bahwa Ibnu Taimiyah itu mengatakan Allah itu menciptakan kalamnya dalam dirinya. Nah, ini yang akan ceritakan. Jadi secara umum jelas Allah Subhanahu wa taala dalilnya ada bahwa Allah itu bicara bentuk pembicaraan Allah bukan makhluk. Sifat kalam bagi Allah bukan sama dengan sifat makhluk.
(13:22) Betulkan Allah bicara orang-orang ahli kalam pujanya secara umum orang mudahnya umpamanya dan orang muktazilah mengatakan kalau bicara berarti kita menyerupakan Allah dan makhluk. Ini syubhat yang selalu di dipakai oleh seluruh ahlul kalam itu ketika mereka mencari sifat baik orang Asyairah Maturidiyah mereka hujah mereka adalah tasybih saja ya kalau kita katakan Allah bicara kita mengupakan Allah dan makhluk ya berarti Allah itu punya lisan setiap mereka begitu mereka gambarkan bahwa Allah itu bicara seperti makhluk sebetulnya yang mereka dalam ketika mendengar ayat-ayat
(13:54) hadis menjelaskan kalamullah sifat kalam bagi Allah yang terbayang olehi mereka adalah seperti Allah bicara sama. Jadi pada dasarnya mereka awalnya mereka sudah ada tasbih dalam pikiran mereka tentang sifat-sifat Allah sehingga mereka mengingkirkan sifat Allah kepada makhluk.
(14:11) Adapun ahlusunah wal jamaah tidak menyerupakan sifat Allah sifat makhluk. Allah membicara dengan ya kaifasya wasyaa wimyaa wabimansyaa ya kaifiah sifat Allah. Bagaimana Allah itu berbicara Allahuam biha Allah yang tahu bagaimana bentuk sifat Allah itu hakikatnya. Ya Allah bicara tidak mesti seperti makhluk yang harus ada lisan, yang harus ada tenggorokan, harus ada mulut dan sebagainya.
(14:34) Bahkan ada makhluk yang tidak punya mulut, yang tidak punya lisan, bisa berbicara. Dan Allah qadir alai, Allah maha kuasa segala hal. Contoh Rasulullah sahu alaih wasallam sebutkan batu yang memberi salam kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam Sahih Muslim. Ya, Rasulullah mengatakan sebelum beliau diutus menjadi nabi, aku tahu batu di Mekah memberi salam kepadaku kata Rasul wasam sebelum aku diangkat menjadi nabi.
(15:03) Apakah batu itu punya mulut, punya rongga, punya lisan dan sebagainya. Nah, ini kalau orang mengim sifat Allah dengan benar dia tidak akan mengingkari sifat-sifat Allah. Tapi bila sifat Allah tergambar oleh dia seperti sifat makhluk, dari sinilah dia berupaya mentakwil dan menakidah mengingkarian sifat Allah.
(15:20) Lalu mereka nanti akan membicarakan, mengkiaskan sifat Allah, sifat makhluk. Kalau Allah itu beristiwa, kalau Allah itu berkalam, lalu mereka yang mereka lazimkan sifat-sifat makhluk pada sifat Allah. Inilah adalah pembahan yang yang batil, yang keliru. Dijawab oleh para ulama jamaah ketika mereka mengatakan Allah itu bicara bias Allah itu punya mulut, punya ini, punya itu. Nah, itu kan datangnya dari pikiran mereka sebenarnya.
(15:46) Karena Allah Subhanahu wa taala menetakan supaya bicara bagi dirinya tidak menyebutkan alat-alat apa yang dif Allah kita bicarakan. Tidak. Adapun yang disebutkan punya mulut, rongga dan ee kerongkpongan dan mulut lidah dan sebagainya itu adalah makhluk yang bicara demikian. Bahkan makhluk pun tidak mesti memiliki lisan.
(16:05) dia bisa bicara juga di mana nanti salat di hari kiamat atau sebelum hari kiamat Rasulullah sallahu alaihi wasam juga sebutkan di antara tanda ciri hari kiamat itu adalah bahwa seseorang keluar dari rumah ya wasam bahwa nanti di sebelah sebelum terjadi hari kiamat sudah dekat hari kiamat itu banyak sekali hal perkara-perkara yang aneh di antara seorang keluar dari rumahnya itu bicara kepadanya pahanya apa sama ya apa yang dilakukan oleh keluarganya ya atau pangkatnya atau sandalnya itu tidak punya mulut punya orangga. Jadi jangan dikiaskan sifat Allah dengan sifat makhluk taklah mereka mau mengkiaskan
(16:42) sifat Allah sifat makhluk dari situlah mereka hadir dan pikir mereka penyerupaan Allah dengan makhluk baik. Dan juga dalil lain menunjukkan bahwa ee makhluk-makhluk bisa bicara tanpa lisan tanpa makhluk. Itu Allah sebutkan pada hari kiamat tangan kita tangan bicara, kaki bicara kulit bicara kelak di kiamat.
(17:10) Apakah itu mereka mulut atau tidak? Kita jangan pernah ketika mendengar sifat-sifat Allah dikiaskan dengan sifat makhluk. Maka ee tidak ada pembahasan pendapat yang sangat panjang lebar perselisihannya di dalam pembahasan sifat Allah seperti sifat kalam ini.
(17:31) Nah, oleh sebab itu sifat kalam ini dibahas kenapa? Karena menyangkut dengan kemuliaan Al-Qur’anul Karim, kesempurnaan Allah Subhanahu wa taala. Orang-orang ahli kalam yang mujahmiah dan Muktazilah mengingkari Allah itu tidak memiliki sifat kalam. Kalau Allah memiliki sifat kalam, berarti Allah itu menyai makhluk. Lalu mengatakan mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk bukan Allah bicara dengannya, tapi Allah ciptakan.
(17:56) Itu pemahaman orangzilah dan jarmiah. J mereka tidak percaya Allah bicara dengan Al-Qur’an karena mereka meyakini Allah itu tidak bicara. Kemudian orang Asyauridiah dan Sunabiyah mengatakan Allah berbicara. Nah, mereka percaya Allah memiliki sifat kalam. Tapi sifat kalam yang mereka hanya sifat nafsi. Wahid jaza satu terbagi-bagi kepada mereka.
(18:22) Karena kalau kita satu tahun Allah itu bicara nanti akan terbagi-bagi cara bicicaranya ada kalimat, ada huruf jumlah dan sebagainya. Nah itu syubhat itu hadir dalam pikiran mereka sehingga mereka mengingkari bahwa Allah itu berbicara tanpa suara, tanpa huruf dan sebagainya. Baik. Adapun sifat Allah, kalam bagi Allah, bahwa Allah bicara dengan suara terdengar, yaitu dalil yang kita sebutkan tadi ya.
(18:52) Ee bahwa ketika Nabi Musa berbicara dengan ee Allah Subhanahu wa taala, didengar oleh Nabi Musa kalamullah di oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maka dari itu menjelaskan bicara dengan Alquran dengan suaranya Allah bicara kepada Musa dengan suaranya ya yang mana suara Allah itu tidak menyerupai sedikit pun dari suara suara-suara makhluk tidak sama suara Allah suara makhluk cidamaan suara itu.
(19:33) itu adalah di antaranya sebagaimana yang Allah sebutkan e afwan sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya bagaimana Allah bicara kepada makhluk pada hari kiamat yaituah yahsyar yahullahu album bahwa Allah mengutuhkan semua manusia pada hari kiamat maka Allah memanggil mereka yaitu dengan suara yang didengar oleh orang ya sama kejelasannya didengar oleh orang yang jauh sebagaimana orang mendekat mendengarnya.
(20:07) Jadi sama jelasnya beda kalau suara manusia, suara makhluk ya orang yang jauh tidak jelas kedengaran tapi suara Allah kita bicara kepada makhluk hari kiamat disebutkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwa orang yang jauh mendengar seperti orang yang dekat dengan Allah Subhanahu wa taala dengan suara yang dekat maka ee apa namanya ini jelas bahwa Allah memiliki suara kenapa karena dalam hadis sebut binasmau man bau mana.
(20:39) Allah bicara dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh sebagaimana mendengarnya orang yang dekat. Analik kata Allah. Anadyan. Itulah kata Allah. Anal malik anjyan. Nah di sini di antara ketidak serupaan suara Allah dengan suara makhluk di sini adalah suara itu didengar oleh orang yang jauh. Sama seperti kejelasannya didengar oleh orang yang nah orang-orang Muktazilah, orang-orang Jahimiah atau orang-orang ahli kalam secara umum berupaya mengkari sifatnya.
(21:10) Ini yang didengar dan hadis ini tadi yang kita sahihkan oleh Imam Ahmad dan lainnya dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Asqalani dan Bukhari dalam khalil Ibad. Ya. Maka dalam hadis terfat dalil bahwa Allah Subhanahu wa taala atau suara Allah tidak tidak serupa dengan suara makhluk. Itu suara Allah itu terdengar oleh orang yang jauh jelasnya seperti didengar oleh orang yang dekat.
(21:51) Dan juga disebutkan dalam hadis bahwa bila Allah bicara dengan wahyu, malaikat yasik bahwa malaikat ketika mendengar suara Allah Subhanahu wa taala ya itu adalah mereka insanah maka tidak ada bagi sifat Allah ketandingan wun atau perumpamaan tidak ada sedikit pun dari sifat-sifat Allah yang terdapat pada makhluk. Begit itulah keyakinan ahlusunah bahwa tidak ada sedikit pun sifat-sifat Allah yang mirip dengan sifat makhluk atau tidak ada sedikit pun dari sifat-sifat Allah yang terdapat pada makhluk. Baik.
(22:34) Oleh sebab itu Imam Ahmad pernah ditanya anumin lammaamallahu Musa lam yatakamin bala. Ketika Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah Allah itu berbicara kepada Nabi Musa?” Didengar suaranya oleh Nabi Musa? Ya Allah Musa, apakah ketika Allah bicara tidak didengar suaranya oleh Nabi Musa? Kata Imam Ahmad didengar tapi didengar Allah yang mulia itu dengan suara yang didengar.
(23:13) Adapun orang-orang yang mengingkari bahwa Allah bicara tanpa suarain laisahum dalil, mereka tidak punya dalil. Ya. Dan dalil-dalil menetapkan tadi menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa taala memiliki suara dan memiliki ee memiliki kalam dan memiliki sifat suara bahwa kalamnya Allah memiliki suara. Kemudian ada ee tokoh ahlul kalam yang kontemporeran dengan Alkautsari.
(23:50) Ee ini diaupaya mempermainkan dalil-dalil tadi atau memasukkan penjelasan-penjelasan yang tidak dikatakan oleh para ulama. Ketika dia menilai hadis ini yang di sanad Bukhari, dia katakan Bukhari mengeluarkan hadis ini dalam sahih dalam keadaan takli. Ya. Ya. Alasannya begitu. Padahal Imam Bukhari menyebutkan hadis ini dalam sikap yang jazam dalam kitabnya Af’alul Ibad dari Abdullah bin Unais.
(24:19) Dia berkata, “Aku mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda lalu menyebutkan hadis tersebut.” Maka di sini orang-orang alkalam di antara metode-metode dalil yang tidak sesuai dengan pandangan dan pendapat mereka, mereka memiliki dua metode. Yang pertama adalah jika dalil itu adalah hadis, mereka akan mengatakan nanti hadis ahad atau hadisnya tidak sahih dan sebagainya.
(24:52) Jika hadis itu habis mutawatir atau sahih, maka akan takwil melencengkan pengertian dan maknanya. Baik. Kemudian juga ada tokoh Syiah namanya Habasy diban mengatakan juga ya menolak hadis yang sahih ini ketika mereka katakan menurut dia tidak ada peluang untuk mentakwil dia menolak hadis tersebut. Demikianlah para ahli bidah itu menjadikan hakim menjadi hakim menjadikan akal mereka sebagai hakim terhadap agama.
(25:28) Hadis yang kita sebutkan ini hadis yang sahih menurut sebagian besar ulama-ulama hadis. Oleh sebab itu ya hadis ini dipegang oleh Imam Bukhari ketika menyebutkan sifat sh bagi Allah Subhanahu wa taala. Baik. Lalu Imam Bukhari mengatakan menyatakan sifat bagi Allah bahwa Allah bicara dengan suara ini.
(26:01) Kautari seorang tokoh alu kalam suara mengatakan ya bahwa itu gatun maksuf langsung dia mengatakan bahwa pendapat Bukhari ini galatun artinya kesalahan maksyuf kesalahan yang fatal kesalahan yang terang menderang. Nah, demikian orang ah kalam itu. Jadi yang selama ini kata mereka, mereka adalah mengikuti para aimmah, menguti para ulama.
(26:24) Jadi bila pendapat-pendapat ulama ya yang tidak bisa mereka takwil, mereka sempangkan pengertiannya, mereka lencengkan pengertiannya, mereka justru kadang-kadang mentah-mentah mereka tolak atau mereka salahkan ulama itu. Sebagaimana ini Alkautsari membahas tentang hal ini. Lalu dia katakan pendapat Imam Bukhari halnya adalah maksir yang fatal gitu ya. Nah, beginilah setiap orang-orang yang mencuti hawa nafsunya dalam memegang sebuah pendapat sehingga me setiap pendapat yang tidak sesuai ya dengan mazhabnya dia dengan banyak mudah mereka meninggalkan pendapat para ulama.
(27:02) Maka oleh sebab itu manhaj ulama almuhaqin mereka adalah orang yang berpegang dengan musus bukan berpegang dengan hawa nafsu mereka. Bahkan Imam Ibnu Hajar Asqalani, Imam Ibnu Hajar Asqalani menurut mereka ini Imam Hajar kan mengikuti mazhab Abu Taala mereka.
(27:22) Padahal tidak betul Imam Ibnu Hajar dalam beberapa pembahasan ada yang ee sependapat dengan orang-orang kalam tapi bukan asas Imam Ibnu Hajar itu dasar pikiran dan manhaj beliau, metode beliau dalam menyatakan hukum tidak berjalan menghadapi kalab. Pertama, Ibnu Hajar adalah ulama yang luar biasa dan beliau mengamalkan hadis-hadis ahad di dalam akidah.
(27:47) Sedangkan ahlul kalam seluruhnya beristifakat bahwa tidak mau mengambil hadis ahad dalam pembahasan akidah. Baik. Kemudian Ibnu Hajar adalah orang seorang ulama yang betul-betul ketika berdalil berpegang kepada dalil bukan kepada akal mereka. Adapun ahl kalam mereka mendulukan akal mereka di atas dalil. Bila dalil tidak sesuai dengan akal mereka maka dalil itu diuang ya atau ditakwil.
(28:16) Imam Hajar menyebutkan apa kata Imam Ibnu Hajar? Apabila telah sabata, waabata telah ditetapkan ya penyetapan sifat menyebutkan sifat jadi suara bagi kalam Allah hadhihah dengan hadis-hadis yang sahih ini wajabal imanu bihi Pak Imam Ibnu Hajar wajib beriman dengan ini jelas Imam Ibnu Hajar di sini menyelisihi pendapat-pendapat orang ahlul kalabyairah dan Maturidiah.
(28:49) Beliau sebutkan ini dalam Fathul Bari jilid yang ke-13 halaman 466. Jadi mereka menyembuat ucapan-ucapan tidak pernah diucapkan oleh Imam Hajar telah ya sabat sudah pasti tetap ditetapkan apabila telah ee ditetapkan penyebutan suara berdasarkan hadis Hadis ini sifat suara bagi kalam Allah kata Ibnu Hajar adalah melalui hadis-hadis ini wajabal iman bihi kita wajib beriman dengan hal itu. Ketahu demikian pula almula Ali Thari.
(29:42) Mula Ali Thaukil perkataan-perkataan ulama tentang masalah kalamullah beliau berkata yang kesembilan adalah annahu lam yazal mutakalliman. Bahwa Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat kalam. Dan ia berbicara kapan ia kehendaki. Wasya apabila Allah kehendaki. Wasya dan kapan ia kehendaki. Bagaimana yang ia kehendaki. Wah mutakimun bihi.
(30:11) Dan Allah bicara dengan itu dengan Al-Qur’an atau dengan e ucapannya dengan kalam Allah bicara dengan kalam dengan kalamnya itu dengan suara yang didengar. Kata Imam Mula Ali Qari ya, salah seorang ulama yang bermazhab Hanafiyah ini maka wahua mutakallimun bihi bahwa Allah bicara dengannya dengan suara yang benar hadisah.
(30:46) Inilah yang diwarisi ya dari para ulama-ulama hadis dan sunah. Ini jelas keyakinan ulama ahlus ajzama apa? Ee ini di sini jelas pendapat ini tentu tidak akan apa namanya ee menyenangi menyenangkan bagi ulama-ulama alkalam yang terdepar seperti Alqusid danin orang tertinggi baik. Yang keempat adalah bicara dengan yaqul innallaha muhdatun fidatillah. in Quranah.
(31:29) Nah, ini yang lanjutannya pembahasan tadi adalah mereka mengatakan orang-orang alalam itu adalah Al-Qur’an itu adalah muhdasunillah. Ya, ee orang-orang alam menuduh maksudnya menuduh Islam Taimiyah mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk yang ada dalam zat Allah. Begitu. Karena istilah muhdas menurut orang-orang ee alkalam baik asyairahidah muahdas itu adalah makhluk mutlak makhlukmuk mereka ya.
(31:57) Nah, ini yang akan kita rinci di sini sehingga mereka menuduh bahwa Al-Qur’an itu adalah satu yang satu makhluk yang ada dalam zat Allah. Nah, itu kata mereka karena kita mengimani bahwa Al-Qur’an itu adalah kalamullah. Nah, sedangkan mereka mengatakan Al-Qur’an itu bukan kalam Allah, tapi ibarah.
(32:15) Ibarah ibarat dari kalam Allah bukan dia kalam Allah sendiri. Kenapa mereka mengatakanillah? Karena meyakini bahwa kalam Allah itu kalamun nafsi. Jadi mereka tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu adalah ee yang kalamullah dan mereka hanya menetapkan kalam Allah itu hanya kalam nah. Syekh Taimiyah menjelaskan tentang hal ini.
(32:40) Bahwa kalam Allah ghairu makhluk bahwa sifat berbicara bagi Allah itu bukanlah sama seperti makhluk atau makhluk. Karena kalam Allah Al-Qur’anul Karim adalah bukan makhluk. datang dari Allah dan kepadanyaah dikembalikan. Maksud dari badaa minhu ya Allah kalam itu datang dari Allah ya. Allah bicara hak secara hakiki dengan kalam itu walladzi anzalahu dan dialah menurunkan kalamnya kepada malaikat kepada para anbiya ilaihiudu bahwa di mana nanti Al-Qur’an karim ini kalam Allah ini dia akhir zaman di malam hari akan diangkat di akhir zaman dari semua mushaf dan juga dari dada orang-orang yang menghafalnya
(33:28) maka tidak ada lagi satu kalimat pun yang tersesar dalam hafalan orang-orang menghafal Al-Qur’an wahifi minhu harfun juga tidak ditemukan satu huruf lagi di dalam mushaf. Ini diangkat oleh Allah Subhanahu wa taala Al-Qur’annya sebelum hari kiamat. Baik. Kemudian ini adalah sepakatan ulama salaf ya dan hal ini juga disampaikan oleh Sy dalam sebuah perdebatannya bersama orang-orang membantah beliau. Baik.
(33:58) Lalu apa hujahnya di sini? Permasalahan yang dibahas ini adalah yaitu masalah kalam Allah Subhanahu wa taala yang menyebutkan di dalam firmannya muhdain. Nah, kata-kata muhdasin dalam ayat ini, maihimikrin. Apa yang datang kepada mereka dari zikir ya Alquran itu maksudnya muhin dari Tuhan mereka yang baru.
(34:30) Nah, kalau baru di sini menurut mereka orang alam adalah makhluk. Karena semua yang baru adalah makhluk. Kenapa mereka mengatakan demikian? Karena mereka tidak mengimani ada sifat fi’liah bagi Allah, ikhtiariah. Mereka tidak memahami bahwa Allah itu memiliki sifat ikhtiariah. Itu berbicara kapan ia kehendaki. Ya, dengan apa ia kehendaki, dengan siapa Allah membicara.
(34:54) Nah, jadi menurut mereka kalam Allah itu kalam qadim. Itu saja. Maka mereka menukkan Allah qadim. Kata mereka itu zat Allah kata mereka. Dia Allah di sini terbantahkanlah buktinya Allah bicara kepada Adam. Setelah itu Allah bicara kepada nabi nabi-nabi berikutnya. Bagaimana dikatakan kalam Allah itu kadim semua.
(35:21) Maka oleh sebab itu Allah ee para ulama menutkan secara jenisnya kalau Allah itu fadir secara noya Allah itu baru baru maksudnya apa ya? Allah baru bicara kepada Musa. Setelah Nabi Musa Allah bicara lagi kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Nah itu barunya masuk di sisi situnya waktu bicara Allah itu kepada para anbiya bukan dalam satu waktu semua Allah bicara kepada Nabi sekaligus. Enggak.
(35:40) Allah bicara kepada Nabi Adam kemudian bicara kepada Nabi berikut Nuh. bicara kepada Nabi Musa ya dan seterusnya lalu bicara kepada Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Nah, di sini waktu wul kalam itu wahid bukan satu waktu Allah bicara sekaligus kepada semua makhluknya tidak. Oleh sebab itu Allah katakan dalam firmannya yaumin dalam surah Arrahman Allah dalam setiap hari Allah punya urusan Allah wahyukan kepada malaikat di mana ketika Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam disakiti oleh orang-orang Thaaif Allah perintahkan malaikat Jibril membawa malaikat Jabal Allah bicara kepada
(36:26) malaikat Jibril jadi ini menunjukkan nah kata-kata modas itu. Nah, tapi mereka mengatakan setiap baru itu ad makhluk. Nah, ini kaidah yang mereka pakai. Jadi apa istilahnya rumus apa istilahnya kata mereka ya teori yang mereka pakai adalah kaidah teori yang mereka katakan adalah cetak yang baru adalah makhluk.
(36:45) Dari sinilah alasan mereka mengatakan Al-Qur’an itu adalah makhluk karena Al-Qur’an itu baru. Itu alasan mereka. Kemudian ya ee maksud di sini di sini disebutkan nanti dijelaskan eh juga Imam Bukhari hadis dari Imam Masud Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innallaha yuh amri ma yasya Allah memperbaharui dari segala urusannya apa yang ia kehendaki.
(37:27) Wimma ahdasa. Di antara hukum baru yang diturunkan Allah adalah all takallam fah itu bahwa kalian tidak boleh bicara dalam salat. Jadi Allah bicara dan hukum-hukum. Ini ini yang membuat berat orang-orang al kalam kadang-kadang ketika mereka buat kaidah, membuat sebuah teori kita yang baru adalah makhluk maka akhirnya mereka mengingkari sifat-sifat Allah fi’liah dan ikhtiariah.
(37:51) Maka sifatul kalam disebut oleh ulama ya adalah sifat zatiah dan juga sifat fi’liah. Zatiah adalah Allah memiliki dasar ya memiliki sifat itu mampu berbicara dan juga Allah berbicara kapan Allah kehendaki. Kepada siapa yang Allah kehendaki dengan apa yang Allah kehendaki. Nah ini namanya ikhtiariah. Karena Allah bicara kalau orang-orang alkalam mereka meyakini Allah itu bicara dengan Al-Qur’an filqadim.
(38:22) Allah itu sudah bicara azali kepada mereka. Nah itu pemahaman mereka. Baik. Kemudian hadis ini menunjukkan ini dalil-dalil yang memberikan bahwa Allah itu mdat itu baru bukan berarti di sini makhluk tapi sifat Allah itu adalah Allah faal maurid berbuat apa yang ia tiendakan.
(38:58) Maka dibedakan di sini antara muhdas dalam artian makhluk dengan muhdas artiannya baru. Nah, muhdas dalam artian baru makhluk ya. Muhdas dalam artian sifat Allah yang berhubungan dengan sifat ikhtiar Allah Subhanahu wa taala. Maka Allah melakukan kapan dan bagaimana dan dengan siapa ya kapan Allah kehendaki. Tidak berarti Allah kalau begitu contoh penciptaan langit dan bumi setelah itu Allah baru Allah ciptakan Adam penciptaan surga lebih dahulu daripada cipta Adam.
(39:28) Maka pencipta Adam adalah baru setelah surga. Demikian pula dan begitu selanjutnya makhluk-makhluk ya Allah ciptakan. Tapi bukan sifat Allah itu baru. Tidak. Yang baru adalah makhluk. Nah, maka kalau Allah menurunkan Al-Qur’an bukan berarti Al-Qur’an itu makhluk karena dia baru. Nah, bukan begitu.
(39:54) Karena beda antara kata-kata muhdas dengan arti baru dengan kata-kata muhdas dalam arti makhluk. sebagaimana yang dinukilkan dari Imam albukhari hasil faqala maka Imam Bukhari mengatakan eh apa namanya menjelaskan di sini inamullahi bil Quran sesungguhnya ketika Allah bicara dengan Al-Qur’an dan lainnya Taurat Injil Zaburusa atau bicaranya Allah kepada Nabi Musa adalah ingin para nabiatihi dan itu hanya ada dengan qudratihi ya dengan kudratnya Allah dan masti dan kehendaknya Allah uk ya atau dengan perbuatan yang lain uk dan perbuatan yang lain diri dengan zatnya Allah itu bukanlah makhluk karena itu sifat
(40:58) Nah, bagaimana jawaban ini kan Al-Qur’an ini kalamullah muhdas baru gitu. yang Allah berbicara dalam ya dengan secara langsung dengan Alquran itu ya baru ini adalah masuk akal tidak hal yang ada hal yang ganjil sebana kita katakan Allah bicara dengan Al-Qur’an itu dan ketika Allah minta itu id ya faisaqin walaupun itu melakukan sebuah sesuatu sifat Allah yang Allah lakukan bukan berarti sifat tadi menjadi makhluk.
(41:42) Kemudian oleh sebab itu mazhab salaf dalam firman dalam mengimani kalamullah adalah Allah berbicara dengan kehendaknya dan kekudrat bahwa sifat kalam itu berdiri dengan berada pada zat Allah. Bahwa sifat zat dan sifat zat sifatul fi’il dan juga sifat perbuatan Allah. Jadi ada sifat zat, ada sifat fi’il. Sebab fiil adalah yang berhubungan dengan masyaatillah.
(42:13) Kapan Allah kehendaki Allah lakukan sifat itu. Contoh Allah mematikan dan menghidupkan manusia. Manusia tidak sekali hidup, manusia tidak sekali mati. Maka bukan berarti ketika Allah menciptakan manusia dengan berpase-pase pokoknya atau makhluk ini berpase-pase ya. Bukan sifat Allah menciptakan sifat makhluk gak. Tapi yang diciptakan makhluk. Betul. J sifat Allah itu yang maha sempurna.
(42:39) J fi’il huna laisa. Tapi perbuatan Allah itu tidak disebut makhluk. Demikian ketika Allah bicara dengan Quran Karim sifat Allah itu dengan makhluk. Di mana berkata Imam Ahmad kan penciptaan itu berarti ada alj’alu ja’lani. Tata kafal ja’alah menjadikan itu dalam bahasa Arab memiliki dua penggunaan ya.
(43:02) Ada dua penggunaan kata-kata ja’al dalam Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab. Jaala bisa berarti menciptakan ya. Jaalaisa dan jaala bukan berarti menciptakan tetapi adalah artinya Allah melakukan sesuatu sifat. Itu yang dimaksud ketika Allah melakukan satu sifat bukan dikatakan sifatnya itu makhluk. Karena ini adalah tuntutan yang di mana Allah melakukan sifat-sifatnya ya yang terdapat pada zatnya bahwa sifat itu terbagi pada dua afalad kalqi ada perbuatan Allah yang mutaaddi seperti menciptakan adanya makhluk seperti melihat ada yang dilihat mendengar ada yang dilengar ya tapi ada
(43:55) sifat Allah yang lazim seperti nuzul umpamanya al arsy ya. Demikian pula takallub w nuzul takal Allah bicara ada berbicara kepada makhluk para ulama salaf menentukan kedua jenis sifat tadi. Ada sifat zatiah, ada sifat fi f fiiah. Contoh dalam Al-Qur’annya alj’alu menjadikan dalam bahasa kitanya alj’alu itu adalah yang artinya menciptakan seperti firman Allah.
(44:33) Alladzi jaumama binaah. Allahlah dialah yang telah menciptakan bagi kalian bumi sebagai tempat tinggal dalam langitlit sebagai nawungan. Nah ini jaala di sini berarti khalaqo Allah telah menciptakan bagi kalian bumi sebagai tempat tinggal dan langit sebagai nawungan. Ini kata jaala di sini.
(44:54) Jadi ini pembahasan bahasa yang ee juga mempengaruh kepadahan ee al-akidah, pembahasan akidah. Jadi, oleh sebab itu sebetulnya banyak sekali sebetulnya ee bagi mahasiswa atau dari judul-judul observasi ataupun tesis banyak sebenarnya di sini. Di antara fiknya adalah pembahasan ini gitu ya.
(45:20) bahwa di mana ada ee kesalahan dalam memahami bahasa bisa berefek dalam kesalahan dalam memahami nas Al-Qur’an atau berefek kepada ee pemahaman akidah. Dan bahkan banyak asal-asal perselisihan dalam memahami sebuah nas berasal dari pemaham bahasa itu. Maka oleh sebut itu kita ada kaitan yang tidak bisa dipisahkan.
(45:44) memahami bahasa Arab itu ada sebuah kunci untuk memahami ee nas-nas syari. Gak mungkin kita memahami dalil-dalil Al-Qur’an, sunah tanpa mengetahui faedah-kafaidah bahasa Arab. Nah, oleh sebab itu disont di sini jaala dalam bahasa Arab bukan setiap kata kata jaala itu artinya menciptakan. Nah, betul. Di antara makna adalah menciptakan seperti tadi dia yang telah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal dan lain sebagai naungan.
(46:13) Tapi ada kata-kata ee yang lain nanti akan kita contohkan. Jaala tidak berarti menciptakan atau kata-kata menciptakan, kata-kata jaala menjadikan di sini juga artinya menciptakan. Contoh wallahuallahu Allah telah menjadikan bagi kalian dari diri istri-istri ja dan lain ayatinapi itu ada kata-kata jaalah dalam bahasa Arab menjadikan tetapi tidak berarti menjadikan di sini berarti menciptakan contoh inna jaahu quranan arabian sungguh kami menjadikan Al-Qur’an itu dalam bahasa bahasa Arab. Nah, kata-kata jaal ini bukan berarti kami menciptakan Al-Qur’an dalam bahasa
(47:00) Arab. Nah, orang-orang al kalam berhujah. Kata-kata jaalah kan artinya menciptakan. Lalu mereka mengatakan di sini bahwa ayat ini adalah inna ja’alnahu Quran arabian. Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab. Sebetulnya sini adalah sayyarnahu kami menjadikan. Maka artinya juga harus.
(47:25) Maka kita kalau mau mengartikan Al-Qur’an, mengertikan hadis-hadis juga kita harus paham akidah, harus paham bahasa dan akidah. Kenapa? Kalau tidak salah, salah menterjemahkan sini ya. Jangan sampai diterjemahkan kami menciptakan Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab tapi bisa diartikan kami sungguh kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab dalam arti kami menjadikan artinya turunkan Al-Qur’an itu dalam berbahasa Arab.
(47:53) di sini tapi adalah Allah menjadikan Alquran dalam bahasa Arab bukan berarti Alquran itu adalah kata-kata Allah berarti Allah menciptakan ini yang ingin dijelaskan artinya apa maksud dari ayat tadi jaan adalah kami berbicara menurunkan atau menjadikan alan dalam bahasa Arab maksudnya Allah Ya, Imam Bukhari berbicara dalam sahihnya ini yang tadi di antara dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu bicara ee dengan suut dan bahwa kalam Allah itu bukan makhluk. Ya.
(48:30) Kemudian bahwa Al-Qur’an disebutkan ee muhdas bukan berarti Al-Quran itu makhluk. Ya. Maka Imam menjelaskan di sini di antara sifat Allah yang tadi kita sebutkan ada pembagian sifat dan fliiah. Contoh fi’iah adalah yauminya yauminya. Itu kan baru semua berarti penguatan Allah. Setiap hari Allah memiliki urusan yang baru. Yaiki urusan baru.
(48:58) Mematikan ini, menghidupkan ini dan rezeki ini, mengampuni ini, itu tempat tempatan Allah. Tapi bukan makhluk. Nah, itulah sebetulnya apa yang dijelaskan para ulama masuk akal sekali dan mudah sekali dipahami sebenarnya selama orang tersebut belum keracunan yaitu ee syubhatnya orang-orang ahlul kalam.
(49:23) Lalu di antara Imam Bukhari juga menyebutkan sini ya ini dalam kitab tauhid ya. Apa kata Imam Bukhari menyebutkan dalam sahihnya menjelaskan tentang masalah sifat bagi Allah. Berhuj dengan firman Rasul apa yangangkan kepada mereka dari zikir dari Alquran dari Rab mereka yang baru baru arti bicara Allah tadi kita sebutkan di sini baru bukan berarti sesuatu itu yang baru itu makhluk tapi Allah baru membicaranya Al-Qur’an ya Allah belum bicara Al-Qur’an berarti ketika Nabi Musa ketika Adam Allah baru bicara menurunkan Al-Qur’an itu setelah Nabi Muhammad diutus itu kan baru berarti wain hadas
(50:13) bahwa barunya Al-Qur’an bukan berarti menyerupai barunya makhluk itu makhluk. Kenapa? Karena sifat Allah itu wah tidak ada yang menyerupai Allah sesuatu itu Allah maha mendengar lagi. Lalu Imam Ibnu Bathal menafsirkan, menjelaskan perkataan Imam Bukhari yang lalu itu adalah garadul Bukhari kata Imam Ibnu Batthal adalah tujuannya adalah alfarq bain wasfil kalam taala makl wasfu md ini membedakan antara menyifatkan mengatakan bahwa kalam Allah itu makhluk dan antara menyifatkan bahwa kalam Allah itu baru
(50:58) makau Maka Imam Bukhari memustahikan mensifatkan kalau waktu sebagai makhluk hadas. Tapi boleh dikatakan kalam Allah itu hadas baru bukan makhluk alal ayah sesuai yang disebutkan dalam ayat ini. Imam Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari juga mengomentari hal yang sama ya tentang pembahasan ini perkataan Imam Bukhari iniir.
(51:34) Pembicaraan Imam Bukhari dalam bab ini, dalam pembahasan ini sangat jelas. Kata Imam Ibnu Hajar, analir makhluk. Bahwa muhdas itu bukan makhluk satu yang baru itu bukanlah makhluk. Artinya tidak setiap baru disebut kata makhluk. Betul ya ghair makhluk. Bahkan Imam Ibnu Hajar menukil dari seorang ulama namanyaudi.
(52:01) Quran zikir yang disebutkan dalam ini adalah Alquran. Kata Imam Ibnu Hajar yangil dari Imam Daudi yaitu apa yang datang kepada mereka dari Al-Qur’an dari Tuhan mereka ya dalam keadaan bahu muhdas baru Al-Qur’an itu diturunkan baikru ayah wal Quran kata Imam Daudi Imam Ibnu Had bahwa zikir yang disebut dalam ini adalah Alquran wahdatana dia baru sampai di sisi kita ya baru sampai dan baru Allah bicara kepada Al-Qur’an itu kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Makanya Al-Qur’an itu tidak turun sekaligus. Kalau seandainya Allah sudah bicara dengan qadim, tentu bisa diturunkan
(52:41) Al-Qur’an sekaligus. Ya ke Allah bicara ee Al-Qur’an pertama turun adalah surah lima ayat dari ee surah al-alaq lima ayat pertama. Kemudian Allah bicara dengan awal surah almudattir dan seterusnya. Jadi ee Al-Qur’an itu hurumnya secara beransur-ansur bukan sekaligus. Karena Allah berbicara dengan Al-Qur’an itu secara ya secara berasut-asut juga bukan bicara satu hari langsung tamat dan begitu.
(53:22) Al-Qur’an turun selama berapa? Selama 13 tahun ya ee selama 20 23 tahun 13 tahun Nabi sallallahu alaihi wasallam di Mekah 10 tahun di Madinah. Nata Al-Qur’an turun kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam masa 23 tahun. Baik. Maka pendapat-pendapat ahlusunah dalam hal ini sebenar yang dinukilkan bukanlah pendapat yang mengada-ngada atau bermain-main dengan dalil dengan agama.
(53:48) Dia adalah pendapat yang berlandaskan pada Al-Qur’an, sunah dan pendapat para ulama-ulama umat ini. Baik. Kemudian ya juga sudah saya saksikan bagaimana Imam Bukhari menyatakan bahwa kalam Allah itu muhdas bukan makhluk. Muhdas bukan makhluk. Baik. Itu di antara ee apa namanya? Pembahasan yang kita bahas di sini. Masih banyak dalil-dalil semuanya di antara nafsuhu subhana.
(54:41) Maksudnya ada ulama juga menunjukkan ketika Allah berbicara itu ya Allah bicara dengan zatnya yaquran kalamullah kalam Allah secara hakiki dan Allah menisbahkan kepada dirinya ada salah seorang dari orang musyrikin yang meminta perlindungan kepadamu berilah perlindungan sampai dia mendengar kalam Allah. Maka Allah Subhanahu wa taala menamakan Al-Qur’an di sini yang didengar oleh musyrikin itu siapa? Kalam Allah ya yang disampaikan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maka yang dibaca oleh Nabi Muhammad kepada orang musyrikin apa? Ya Al-Qur’an. Maka Allah
(55:24) ee per bicara dengan kalam hakiki yang bisa didengar ee oleh malaikat Jibril. Kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kemudian Al-Qur’an yang dibacakan itu disebut kalam Allah. Kemudian juga Allah sebutkan bahwa Allah kitab-kitab suci yang turunkan itu adalah kalam Allah. ini tentang orang Yahudi. Temu ada sebagian mereka ketika mendengar kalam Allah yuhfunahu.
(55:56) Kemudian mereka palingkan pengertian kalam Allah itu. Inilah hal-hal yang ee untuk kita jelaskan tentang akidah ahlusun wal jamaah tentang sifat kalam bagi Allah subhanahu wa taala. Bab ini tentu berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan seperti ee ibarah an kalamillah atau ricaya an kalamillah. Tidak ada satupun dalil menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah hikayah atau ee ibarah apa namanyaillah.
(56:43) Waqila Quran kalamullah. Nah, ini mencoba mendiskusikan ada orang bertanya di kalam Allah itu secara hakiki Al-Qur’an itu adalah kalam Allah secara hakiki. Sedangkan Al-Qur’an itu adalah tersusun dari huruf-huruf. Huruf-huruf ini juga apa? Digunakan oleh makhluk itu orang Arab dalam pembicaraan mereka. Nah, apakah kalam Allah itu seperti kalam kita? Tentu tidak.
(57:08) Allah bicara dengan sifat yang tidak kalam, tidak yang tidak makhluk. Ya, sedangkan sifat makhluk adalah ee makhluk. Imam mula alqari menyebutkanah bahwa Allah senantiasa bicara apabila Allah berkehendak untuk berbicara. Wasya kafan ia inginkan berbicara dan bagaimana ia kehendaki. Wahuaimun bihi.
(57:34) Allah bicara dengan kalamnya itu dengan suara yang didengar bahwa bentuk kalam itu ya dasar sifat kalam itu qadim ya Allah besar bicara bicara sejak qadim azali tetapi tetapi pembicaraan Allah secara satu persatu tidaklah qadim tidaklah azali karena Allah bicara kepada Jibril kepada Nabi Musa, kepada Nabi Isa, kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam makfur Quran nikmatil hadis ini yang dipegang kata Imam Mula al-Qari yang diriwayatkan dari ulama-ulama hadis dan umumnya.
(58:14) Maka dari itu ketika Allah bicara kepada Nabi Musa adalah hakiki. Allah mampu bicara dengan hamba siapa yang Allah kehendaki. Yaamu maklukin. Kalam Allah tidak sama dengan kalam makhluk. Di mana tidak ada satupun sifat Allah yang merujuk dengan sifat-sifat makhluk. Dan juga Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam sabdanya hadis muttafaq alaihatkan Imam Bukhari Muslimum ya tidak ada seorang pun di antara kalian kelak di hari kiamat ketika Allah akan berbicara kepadanya dan juga Aisyah anha menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah ketika hadis
(59:02) haditatul yaitu tentang kisah Aisyah di tuduh dengan perbuatan keji oleh Orang munafik. Aisyah mengatakan ya ketika turunnya ayat tentang pembersihan dirinya dari tujuan begina. Apa kata Aisyah? Nafsi ah. Urusanku dalam tentang diriku adalah sangat hina daripada Allah berbicara tentang ya ayat yang dibaca.
(59:33) Ini menunjukkan bahwa mereka menyatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah dan Allah bicara dengan ketika Allah menurunkan pembian Aisyah di dalam surah Annur. Baik, demikian pembahasan yang dapat kita bahas yang bermanfaat. Wallahuam bawab barakallah fikum. Kepada kita dari Baik.
(1:00:06) Alhamdulillah barakallah jazak khair untuk al ustaz atas materi yang telah disampaikan di kesempatan pagi hari ini dari pembahasan mengenai Allah subhanahu wa taala berbicara dengan suara yang terdengar yang mudah-mudahan dapat dipahami apa yang disampaikan oleh Ustaz. Baik, untuk selanjutnya nam ajukan pertanyaan yang di sampaikan melalui layanan pesan WhatsApp. Ustaz, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:00:36) Nam ya Ustaz, apakah ketika Allah berbicara dengan Nabi Musa dan juga dengan Nabi Muhammad di Sidratul Muntaha dengan suara yang memang itu ee suara dari Allah Subhanahu wa taala yang ee terdengar, Ustaz? Mohon jawaban dan penjelasannya. Baik. T sudah kita jelaskan betul bahwa yang diar oleh Nabi Musa dan juga oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan Allah dan juga kelak di akhirat yang tadi hadis kita sebutkan bahwa Allah akan bicara ya juga para hambanya akan mendengar Allah berbicara. Bahkan kejelasannya bagi orang yang jauh sama seperti orang
(1:01:23) yang dekat. tidak ada ya ee gema-gema apa istilahnya agak kalau kita dari sumber suara bila jauh kita dari sumber suara biasanya kita kan kurang jelas adapun suara Allah subhahu wa taala tidak demikian disebutkan dalam hadis tadi Allah didengar oleh orang yang seperti jelasnya oleh orang yang dekat Ustaz.
(1:01:52) Wallahuam bawab. Nah, baik. Terima kasih banyak Ustaz. Jazak khair atas jawaban Ustaz. Demikian dan selanjutnya kami ajukan pertanyaan di layanan pesan WhatsApp kembali. Nah, ada pertanyaan ya Ustaz. Begitu jelas dalil mengatakan di Al-Qur’an dan juga di hadis bahwa Allah berada di atas atau berada di atas arsy atau berada di langit.
(1:02:20) Namun sering juga kita mendengar para tokoh-tokoh agama yang ditokohkan ee mengatakan bahwa Allah berada di mana-mana dan ini menular ke masyarakat yang lainnya. yang ditanyakan apakah boleh kita ee mendengar kajian ee yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana dan juga jika si imam di kampung kami mengatakan hal tersebut, apakah boleh kita bermakmum di belakangnya? Ustaz mohon jawaban dan penjelasannya. Baik.
(1:02:58) pertama adalah masalahullah alat semua makhluk itu dalilnya bukan hanya Quran bahkan fitrah manusia sekalipun fitrah dan akal itu menunjukkan jadi ulama di sini menunjukkan bahwa hatta akal fitrah manusia meyakini Allah itu maha tinggi dari semua makhluk dan bahkan Imam Ibnu dalam kitabnya IT islamilah membahas di situ sekitar 2000 dalil lebih kata beliau Jalan baitnya beliau menyebutkan dalam kasid dan juga menyebutkan itu beliau ambil dan mulai dari Al-Qur’an. Inilah perkataan sahabat, perkataan tabiin, seorang ulama masa ke masa bahkan sampai
(1:03:34) syawahid, bukti-bukti dari binatang pun ketika mereka memohon ee rahmat kepada Allah di antaranya disebutkan oleh dia adalah pisah semut yang ketika ee terjek kering di masa nafa Nabi Sulaiman dan seterusnya. Bahkan beliau mencontohkan ketika ee musim kering pati atau kerbau kadang-kadang sering menoleh ke langit dan kadang-kadang mereka meminta air kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:04:00) Banyak sekali ya. Bagi yang ee mau silakan baca kitab beliau itu Ijtima jurus islaminya al ghazil mufi itu berkumpulnya ee tentara-tempara Islam dalam menggempur pendapat orang-orang muailah, orang-orang yang mengingkari pendapat ee bahwa Allah itu ee berada di atas semua makhluk. TB.
(1:04:27) Kemudian juga telah disebutkan dalil akam seperti dalil yang disebutkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau yaitu Arad Aljahmiah. Beliau menyebutkan bagaimana ee beliau meningatkan logika ketika Allah menciptakan makhluk ini, Bapak Allah ciptakan dalam zatnya atau di luar zatnya. Tapi di luar zat yang gak mungkin Allah menciptakan makhluk dalam zatnya.
(1:04:50) Kalau begitu makhluk bertempat dalam zat Allah. Ketika Allah telah menciptakan makhluk di luar zat, apakah makhluk itu Allah itu masuk ke dalam makhluk atau tetap makhluk pada ee posisinya dan Allah pada posisinya sendiri. Dan itu tidak mungkin Allah masuk ke dalam makhluk begitu. Berarti makhluk besar daripada Allah. Lalu kalau demikian ketika Allah menciptakan makhluk itu di luar zatnya, apakah Allah ciptakan di atas zatnya atau di bawahnya? Yang jelas adalah di bawah zat mungkin makhluk lebih tinggi daripada Allah.
(1:05:19) itu banyak sekali ayat menyuruh kita untuk Allah yang mahabikalam subhana rabbiyal aa yang kita baca dalam tubi rab yang maha tinggi. Demikian pula semua permohonan, semua anbiya mengajar umatnya untuk dimahamkan Allah yang dilanjut.
(1:05:42) Justru yang mencir tidak mencurigai dan meragukan Allah di langit itu adalah pendapat Firaun yang menyuruh Aman untuk membangun tangga ya untuk apa namanya ingin karena tidak percaya dengan ee Nabi Musa yang mengatakan baru maha tinggi di langit. in dia bahwa Musa itu adalah bohong kata Firaun. Baik. Adapun masalah beriman dengan ee hal orang yang mengatakan demikian walaupun banyak pengendapat ulama dibedakan antara menghukum secara fatal dengan hukum mutlak itu harus dibedakan.
(1:06:20) Yaitu memang ulama mengatakan seperti Imam Abu Hanifah, orang yang tidak tidak tahu asakah Rilani atau di bumi dia mengatakan supaya tidak tahu aras atau di bumi. Imam Abu Hanif itu mengatakan dia telah keluar dari Islam ya. Tetapi itu perkataan mutlak hukum umum bukan hukum pik personal ya. Maka oleh sebut tidak seorang pun ulama yang mengkafirkan ulama-ulama yang mengatakan ee secara personal pokoknya Imam Aljiwain Imam Haramain yang mengatakan sependapat dengan orang Asyairah mengatakan Allah itu tidak di mana-mana, tidak di atas, tidak bawah, tidak belakang, tidak datang gitu ya. Nah, ada lagi mengatakan Allah di mana-mana tadi
(1:06:59) jelas itu pemahaman tentang menkan firman Allah Subhanahu wa taala wah Allah di mana-mana dalam artian zatnya ini yang keliru. Tapi kalau yang dimaksud adalah Allah berada di mana-mana dengan ilmunya Allah mengetahui seluruh makhluk ini tidak secukup untuk ilmu ini.
(1:07:22) Allah melihat, Allah mendengar, Allah menguasai, Allah mengakui Allah mengawasi maka itu tidak sama. Tapi kalau diyakini zat Allah ada di tempat-tempat makhluk Allah dalam bumi ini zatnya ini dias pemahaman yang basil Allah tidak berada bumi ini banyak sekali tempat yang kotor banyak sekali makhluk-makhluk yang jelek yang buruk dan hina tidak Allah maha suci di segala tempat-tempat yang dari segala hal yang segala hal yang buruk hal yang kurang Allah terbebas zatnya maha suci dari segala hal yang kurang kemudian apa hukum salat di belakang orang berakidah seperti itu para ulama menasaf salat di belakang orang yang
(1:07:55) berak tidak demikian. Karena tadi kita bedakan hukum personal dengan hukum mutlak. Jadi tidak ada ulama mentafirkan secara personal orang-orang yang mengatakan itu ya karena mereka ada manik taksir di situ. Itu di antara mawani taksir adalah attwil takwil mayas. Dan di sana ada syubhah bagi mereka.
(1:08:20) Maka oleh sebab itu ulama ya berimam dengan Imam Aljuwaimi. Ulama ada yang Imam Jwaim. Beliau adalah apa ee apa namanya ee imam Masjidil Haram dan Masjid Nabaw. Imam Haramid. Demikian pula ketika masa Imam Ahmad beliau salat di belakang makmum. Beliau di situlah ulama mengatakan bahwa Imam Ahmad tidak mengkaskan makmum.
(1:08:45) eh makmum putrinya Imam Ahmad bermakmum atau berimam salat di belakang makmum tersebut. Wallahuam. Nah, baik terima kasih banyak Ustaz. Syukran jazak khair atas jawaban dan penjelasannya. Mudah-mudahan dapat diambil faedah untuk kita semua.
(1:09:08) Dan satu pertanyaan terakhir mungkin kami berikan kesempatan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung silakan bisa menghubungi kami di layanan telepon. di 0218236543 untuk bertanya kepada alustaz di kesempatan hari ini. Nam silakan jika ada yang terhubung nam. Iya belum ada interkoneksi ustaz dan mungkin dan waktu juga sudah menunjukkan pukul .30 kurang 2 menit ustaz mungkin dapat disampaikan eh kesimpulan atau iktitam untuk sahabat sekalian.
(1:09:41) Silakan Ustazungum terima kasih atas kebersamaannya kekurangan semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa membin memahaminya mengamalkannya serta juga mengajarkannya kepada yang semoga Allah selalu memberikan kepada sik amal saleh dan juga yang menjah dan segar fitnah dan syarihat memberikan keistian terima kasih para teman dari dua studio video di video insya dan juga studio eh di mana Allah selalu menjaga antum dalam kebaikan dan memberkahi waktu dan keluarga antum barakallahu fikallahuab subhanaka Allahu anta astagfiram
(1:10:31) waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh terima kasih banyak sekali lagi untuk ustaz jazakullah khair barakallahu fik semoga Allah menjaga beserta keluarga berkah ilmu yang telah disampaikan dan juga memberkaya pertemuan kita di kesempatan hari ini pembahasan mengenai faedah-faedah sejarah Islam sejarah Islam yaitu mengenai Allah subhanahu wa taala berbicara dengan suara yang terdengar mudah-mudahan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan kita memahami apa yang telah disampaikan demikian ikhwatul islamakumullah sahabat taadi manapun Anda berada kajian ilmiah yang kami adikan secara langsung ini.
(1:11:01) Insyaallah di kesempatan yang akan datang kita dapat bersuka kembali untuk melanjutkan faedah-faedah seim ini dengan Al Ustaz Dr. Al Muslim Samjan Fitah ee Samjan Putra hafidahullahu taala. Kami undur diri. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio R Majalengka.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *