(3) [LIVE] Ustadz Abu Zaid Cecep Nurrohman, Lc., M.A. |Hadits-Hadits Perbaikan Hati – YouTube
Transcript:
(00:00) Radio Raja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wasayiati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhillalah.
(00:57) Wamay yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiya ba’dah. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha wabat minhuma rijalan katsir waisa.
(01:51) Wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham. Innallaha kaana alaikum raqibah. Ya ayyuhalladzina amanutaqulah waquulu qulan sadida. Yuslih lakum a’malakum waagfir lakum dzunubakum wam yutiillaha wa rasulahu faqad faza fauzan adima. Amma ba’du. Fa inna asdaqal hadisi kitabullah wahairal hadyi hadyu Muhammadin shallallahu alaihi wasallam wasyaral umuri muhdasatuha waulla muhdatin bidah wa kulla bidatin dolalah wa kulla dolalatin finar amma ba’du maasyiral muslimat Akhwati fillah
(03:00) rahimani warahimakunallahu ajmain. Para jemaah sekalian yang semakin dirahmati dan dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala. Kita mengawali majelis kita di kesempatan sore hari ini di penghujung hari yang ke-15 dari bulan Jumadil Awal. di tahun 1447 Hijriah. Dengan bersyukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala dengan limpahan taufik dan hidayah-Nya kita bisa bermajelis kembali di tempat yang mulia ini di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah Subhanahu wa taala dalam rangka bertaqarub kepadanya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu
(03:59) wa taala. yaitu bermajelis ilmu mempelajari tuntunan Allah dan Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala senantiasa memberikan kita taufik untuk bisa meluruskan niat-niat kita di dalam mendatangi majelis-majelis ilmu. Baik dalam rangka taalum ataupun dalam rangka taklimul ilmi, dalam rangka menuntut ilmu ataupun mengajarkan ilmu.
(04:45) Sehingga ilmu yang kita pelajari bersama Allah jadikan sebagai ilmu yang bermanfaat yang menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan bagi kita semua. Dan ilmu yang mengantarkan kita semua untuk masuk semoga senantiasa tercurahkan secara sempurna kepada qudwah hasanah orang-orang beriman. Nabi kita yang mulia Muhammad bin Abdillah shawatullahi wasalamuhu alaih.
(05:19) kepada keluarga beliau, kepada sahabat-sahabat beliau, dan kepada setiap umat Rasulillahi sallallahu alaihi wasallam yang senantiasa berupaya untuk istikamah meniti jalan yang telah digariskan dan dituntunkan oleh Nabi yang mulia alaihialatu wasalam.
(05:50) Para jemaah yang Allah muliakan, di kesempatan sore hari ini kita membahas satu pembahasan yang baru. Insyaallah mulai hari ini kita membahas risalah yang lain. Setelah kita menyelesaikan pembahasan karakteristik istri yang salihah, maka kita lanjutkan dengan pembahasan ahaditsitu islahil qulub. Hadis-hadis tentang perbaikan hati. Ditulis oleh Fadilatus Syekh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Alabbad.
(06:33) albadr hafidahumallahu tabaraka wa taala. Sebelum kita membaca satu persatu hadis yang penulis bawakan, terlebih dahulu kita membacakan mukadimah atau pendahuluan yang penulis bawakan di awal risalahnya. Berkata Fadilatus Syekh Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al Ababbad Albadr. Hafidahumullahu tabaraka wa taala. Bismillahirrahmanirrahim.
(07:17) Alhamdulillahi rabbil alamin. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh sallallahu wasallama alaihi wa ala alihi wasohbihi ajmain. Kata penulis, dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa taala yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala macam pujian yang sempurna hanyalah milik Allah Rabb semesta alam.
(08:01) Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang hak kecuali Allah semata dan tidak ada syarikat baginya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah seorang hamba dan utusannya. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada beliau, kepada keluarganya, dan seluruh sahabat-sahabatnya.
(08:37) Kata penulis, “Fainna aula ma surifat fihil himamu wal azaim islahul qulubi wa ilajha w hifzu sihatiha wa daf’u asqamiha wa himayatuha mimma yufsiduha.” Sesungguhnya di antara perkara yang paling utama seseorang mengerahkan segenap tenaganya, mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya adalah untuk memperbaiki hatinya, untuk mengobati hatinya.
(09:31) untuk menjaga kesehatan hatinya, menjaga hati dari berbagai macam penyakitnya, menjaga hati dari hal-hal yang bisa merusaknya. Ini perkara terbaik yang dengannya seorang muslim mencurahkan kekuatan terbaiknya. Hal yang paling utama yang hendaknya kita lakukan, yang hendaknya kita upayakan adalah memperbaiki kondisi hati kita, menjaga kesehatan hati kita dari hal-hal yang bisa merusak hati tersebut. Wahual maqsudu bilqasdil awal.
(10:13) Inilah perkara yang paling penting, tujuan yang paling utama yang hendaknya dilakukan oleh setiap hamba. Liidami khatariha wasiddatiriha alal abdani shahan fasadan. Karena hati adalah perkara yang sangat penting, perkara yang sangat berpengaruh terhadap kebaikan dan kerusakan badan seseorang. Ya, kebaikan hati akan membuahkan kebaikan jasmani, kebaikan badan, kebaikan jawarih.
(11:02) Sebagaimana rusaknya hati akan melahirkan rusaknya jawarih, rusaknya anggota badan. Kama qala sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana yang Nabi sallallahu alaihi wasallam sabdakan dalam hadis yang muttafaqun alaihi dalam hadis Bukhari dan Muslim. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ala wa inna fil jasadi mudgatan.” Idza shahat shahal jasadu kullu. Waidza fasadat fasadal jasadu kulluh.
(11:42) Ala wahiyalqbu. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut saleh, baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh anggota badannya. Ala wahiyalqbu.
(12:24) Ketahuilah segumpal daging yang menjadi parameter kebaikan dan kerusakan jasad seseorang itulah hatinya. Qal al Hasanul Bashriu rahimahullah lirajulin. Al Imam Hasan Albashri rahimahullahu taala pernah memberikan nasihat kepada seorang laki-laki tentang pentingnya menjaga hati, tentang pentingnya ya memperbaiki kondisi hati. Kata al Imam Hasan Albasri rahimahullahu taala, “Dawi qalbak, wahai fulan, obati hatimu, perbaiki hatimu, tingkatkan kualitas hatimu.
(13:15) Fainna hajatallahi ilal ibad shau qulubihim.” Karena sesungguhnya yang Allah ya inginkan dari hamba-hamba-Nya adalah kesalihan hati-hati mereka. Yang Allah lihat dari seorang hamba adalah kebaikan hatinya. Maka hendaknya fokus terbesar orang-orang beriman adalah bagaimana memperbaiki kondisi hatinya.
(13:49) Karena Allah melihat seorang hamba bukan pada fisiknya. Allah melihat seorang hamba bukan pada kuantitas hartanya. Allah melihat seorang hamba bukan pada ya pangkat dan jabatannya. Tapi yang Allah nilai dari seorang hamba adalah kebaikan hatinya. Maknanya kata Syekh Abdur Razzaq, makna perkataan Imam Alhan Albashri a anna murah minhum islahul qulub.
(14:20) bahwasanya yang Allah inginkan dari hamba-hambnya adalah kebaikan hati-hati mereka. Allah inginkan dari para hamba untuk senantiasa memperbaiki kondisi hati mereka. Allati bisolahiha yasluhul badanu wabifasadiha yafsudu. Di mana dengan ya kebaikan hati maka badan akan menjadi baik. Dan dengan rusaknya hati maka badan pun akan menjadi akan menjadi rusak.
(14:54) Kata Syekh Abdur Razzaq, wadzi silsilatun nafia’h. Inilah ya mata rantai hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sangat bermanfaat fi islah qulub. yang berkaitan dengan memperbaiki hati atau perbaikan hati. Qaddamtuha fi halaqatin yaumiyatin abraqati sunatin nabawiyah yang aku sampaikan ya di halaqah setiap hari yang disiarkan di dalam stasiun ya televisi sunah nabawiyah di Kota Madinah.
(15:47) Arjullaha an yudzima bihan naf’a wal barokah. Aku mohon kepada Allah Subhanahu wa taala mudah-mudahan risalah ini Allah berikan manfaat dan keberkahan yang besar. Waaj’alaha maunatan lana ajmain ala shahi qulubina. Dan mudah-mudahan risalah ini Allah jadikan sebagai sarana yang membantu kita semua untuk mendapatkan kebaikan hati-hati kita. Mudah-mudahan risalah yang singkat ini menjadi ya sarana bagi kita untuk memperbaiki kondisi hati-hati kita. Fahiyau tadbirihi subhanah.
(16:37) Karena kebaikan hati semata-mata di tangan Allah Subhanahu wa taala. Kebaikan hati seorang hamba di tangan Allah Subhanahu wa taala. Allah yang membolak-balikkan hati-hati hambnya. Wahua waliyuha wa maulaha. Allah Subhanahu wa taala. Dialah yang memiliki hati hamba-Nya, yang menguasai hati hamba-Nya, yang menjaga hati-hati hamba-Nya.
(17:09) La syarikalah, tidak ada syarikat bagi Allah Subhanahu wa taala. Wasallahu wasallama ala abdihi wa rasulihi nabiyina Muhammadin wa alihi wasohbihi ajmain. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya dan seluruh sahabat-sahabatnya.
(17:41) Ah, ini mukadimah yang penulis bawakan di awal risalah. Kita masuk hadis yang pertama yang penulis bawakan. Syekh Abdul Razq membawakan judul di hadis yang pertama ini, alqalbu hual aslu. Hati adalah pondasi, yakni hati adalah pondasi kebaikan atau keburukan seorang ya seorang anak manusia. Kata penulis an Nu’man ibni basyirin radhiallahu anhuma dari sahabat yang mulia An Nu’man bin Basyir radhiallahu taala anhuma qal.
(18:27) Beliau berkata, “Samiu Rasulullahi sallallahu alaihi wasallama yaakul.” Aku pernah mendengar secara langsung Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wa ahwan nuu biisbaaihi ila udunaihi.” Nu’man bin Basyir mengisyaratkan kepada kedua telinganya yang menunjukkan bahwasanya beliau benar-benar mendengar hadis yang beliau riwayatkan secara langsung.
(19:03) Beliau dengar langsung dengan telinganya dari lisan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Beliau tekankan ya dengan mengisyaratkan kepada kedua telinganya meskipun ya tanpa beliau berisyarat sudah dipahami. Karena ketika seorang rawi meriwayatkan hadis dengan mengatakan sami’u artinya beliau mendengar secara langsung apa yang beliau riwayatkan.
(19:32) Kemudian di sini Nu’man bin Basyir memberikan penekanan lagi ya dengan mengisyaratkan kepada kedua telinga beliau. bahwasanya apa yang akan beliau riwayatkan adalah sesuatu yang langsung beliau dengar dari lisan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Innal halala bayyinun wa innal harama bayyinun.
(20:03) ” Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan sesungguhnya perkara yang haram itu jelas. Kata Nabi, “Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Waainahuma mustabihatun la ya’lamunna katsirun minanas.” Dan di antara keduanya, di antara halal dan haram yang jelas ada perkara perkara yang samar, ada perkara-perkara yang sifatnya musytabihat, perkara-perkara yang samar.
(20:36) Apakah masuk ke dalam perkara yang haram atau masuk ke dalam perkara yang yang halal? La y’lamuhunna katirun minanas. Kebanyakan manusia kata Nabi tidak mengetahui perkara-perkara tersebut.Qubuhati istabroa lidinihi wahi. Maka barang siapa yang menjaga dirinya dari perkara-perkara yang syubhat yang belum jelas status hukumnya akan kehalalan dan keharamannya, siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara tersebut maka berarti dia telah menjaga keselamatan agama dan kehormatannya. Ya, siapa yang menjaga diri dari hal-hal
(21:25) yang syubhat, tidak melakukan hal-hal yang syubhat, maka dia telah menjaga keselamatan agama dan kehormatannya. Waman waqa’a fisubuhati waqa fil haram. Dan siapa yang bermudah-mudahan dalam perkara yang syubhat, maka hampir-hampir bisa dipastikan dia akan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan.
(21:57) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Karri yara haul hima.” Perumpamaannya seperti seorang penggembala yang menggembalakan ya gembalaannya di sekitar tanah larangan. Seorang penggembala kambing ya yang dia menggembalakan kambing-kambing tersebut di sekitar tanah larangan. yusiku anarta fih. Maka dikhawatirkan hampir-hampir ya kambing tersebut akan masuk ke dalam tanah larangan itu.
(22:34) Ala wa inna likulli malikin hima. Ketahuilah kata Nabi, bahwasanya setiap raja itu memiliki hima, memiliki tanah larangan yang khusus untuk dirinya ya, yang tidak boleh dimasuki oleh pihak lain. Ala wa inna himallahi maharimuhu. Maka tanah larangannya Allah, himanya Allah adalah hal-hal yang Allah yang Allah haramkan.
(23:09) Ya, tanah larangannya Allah, himanya Allah adalah apa yang Allah haramkan yang tidak boleh didekati oleh orang-orang beriman. Ala wa inna fil jasadi mudgah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Shata sh jasadu kullu.” Kalau seandainya segumpal daging tersebut saleh baik, maka baiklah seluruh jasadnya.
(23:44) Waidza fasadat fasadal jasadu kullum. Dan apabila segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh anggota badannya. Ala wahiyalqbu. Ketahuilah segumpal daging yang menjadi pondasi kebaikan dan keburukan jasad adalah hati yang dimiliki oleh seorang hamba.
(24:18) Kata Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala, yuaddu hadal haditu aslaniman fi babi islahil qulub. Hadis Nu’man bin Basyir di atas termasuk kaidah yang sangat agung di dalam bab perbaikan hati. Hadis Nu’man bin Basyir di atas adalah satu di antara kaidah yang sangat agung di dalam bab islah qulub, perbaikan hati. Wa shahal jawarihi bisahihi wa fasadaha bifasadihi.
(25:00) Hadis mengajarkan ya satu faedah kepada kita bahwasanya kebaikan jawarih, kebaikan anggota badan itu sangat bergantung dengan kebaikan hati seseorang. Sebagaimana rusaknya anggota badan, rusaknya jawarih disebabkan karena rusaknya hati yang kita miliki. Ah, ini kaidah ya yang menjadi pondasi, yang menjadi asas kebaikan jawarih kita.
(25:36) kebaikan lisan, kebaikan mata, kebaikan telinga, kebaikan tangan, kebaikan kaki. Asasnya adalah kebaikan hati. Ya. Maka ketika hati seseorang baik akan membuahkan kebaikan jawarih, lisan yang baik, ya, pandangan mata yang baik, telinga yang baik, tangan yang baik, langkah kaki yang baik. Sebagaimana ketika hati itu rusak, maka rusak anggota badan yang lainnya. Pandangan matanya rusak, ya.
(26:11) Melihat kepada hal-hal yang Allah haramkan, lisannya rusak, berucap perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Telinganya rusak, mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, tangannya, kakinya rusak. Ya. Maka yang menjadi asas dan pondasi kebaikan dan keburukan jawarih adalah hati-hati kita.
(26:43) Qala Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibn Taimiyah rahimahullah, kata Syikhul Islam, wafil jumlati alqalbu hual aslu.” Ya, kesimpulannya bahwasanya hati adalah pondasi. Kama qala Abu Hurairah radhiallahu taala anhu. Sebagaimana perkataan sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu taala anhu wa ard.
(27:19) Beliau berkata, “Alqalbu malikul a’d wal a’du junuduhu. Faidza th malik that junuduhu. Waidza khoba, khabutsat junuduhu.” Kata Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, “Hati adalah panglima atau raja bagi jawarih, bagi anggota tubuh seseorang.” Hati kita itu ibarat panglima bagi anggota tubuh yang lainnya.
(27:57) Sedangkan anggota tubuh kita adalah pasukan. Ya, panglimanya adalah hati. Anggota-anggota tubuh itu pasukan. Mata, telinga, ya lisan, tangan, kaki. Ini semua junud, pasukan. panglimanya adalah hati wa dan hal ini semakna sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nu’man bin Basyir yang muttafaqun alaih yang disepakati oleh al Imam albukhari dan muslim annan Nabi sallallahu alaihi wasallam qal bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda inna fil jasadi mudgatan jasad wa fasad fasadahairul jasadi ala wahialqbu kata nabi sallallahu alaihi wasallam sesungguhnya di dalam jasad seseorang
(29:00) terdapat segumpal daging apabila segumpal daging tersebut baik maka baiklah seluruh anggota jasadnya apabila Bila segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati yang dimiliki seorang hamba. Fasalahu wa fasaduhu yastalzimu shahal jasadi wa fasadahu.
(29:43) Kata Syikhul Islam Ibn Taimiyah, maka kebaikan dan kerusakan hati akan melazimkan baik dan rusaknya jasad. Ya, kualitas hati akan melazimkan kualitas jasad seseorang. Hati yang baik akan melazimkan jasad yang baik. Sedangkan hati yang rusak maka akan melazimkan ee jasad yang yang rusak. Ketika hati seseorang rusak maka rusak anggota badan yang lainnya.
(30:16) Fayakunu hadza mimma abdahu la mimma akhfahu. Maka kualitas hati itu akan tampak. Ya, kualitas hati itu akan tampak dari perbuatan seseorang. dari tindak tanduk seseorang, dari ucapan seseorang, ya, dari tingkah laku seseorang. Karena apa yang kita ucapkan ya adalah ungkapan dari isi hati kita. Apa yang kita lakukan adalah ungkapan dari isi isi hati kita.
(30:48) Wa ma ajabahullahu alal ibad laudda an yajib alalqbi fainnahul aslu wain wajaba ala giri tabaan fal abdul makmurul manhiu innama yulamu bil amri wa innama ya’lamu bil amri wahyi qolbuhu kata sikhul islam Islam Ibn Taimiyah, segala sesuatu yang Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya, maka yang paling utama menjadi kewajiban hatinya.
(31:34) Ya, apa yang Allah wajibkan atas kita untuk kita lakukan? Yang paling pertama adalah menjadi kewajiban bagi hati-hati kita. Fainnahul aslu. Karena hati inilah asal. Wain wajaba ala giri tabaan. meskipun diwajibkan atas jawarih, tapi sifatnya mengikuti hati. Ya, semua kewajiban yang Allah wajibkan atas hamba-Nya, maka menjadi kewajiban hati yang paling utama sebelum kewajiban jawarihnya, sebelum kewajiban anggota badannya.
(32:12) Karena seorang hamba itu ya diperintahkan dan dilarang ya tahu mana perintah dan tahu mana larangan dengan hatinya ya. Ketika dia mengerjakan perintah maka harus ada niat di dalam hatinya. Wa innama yaksidu bati walimtali alqalbu wal ilmu bil makmuri wal imtal yakunu qobla wujudil fi’lil makmuri bihi. Karena ya yang meniatkan seseorang dengan amal ketaatan adalah hati ya.
(32:57) Karena niat itu menjadi amalan hati. Ketika seseorang melakukan amal kebaikan ya, maka kebaikan yang dia lakukan tidak dinilai sebagai satu kebaikan di sisi Allah kecuali ketika diniatkan oleh hatinya. Hatinya meniatkan apa yang dilakukan karena Allah subhanahu wa taala. Kemudian kata Syikhul Islam ya, ilmu tentang apa yang diperintahkan ilmu ya untuk menjalankan apa yang Allah perintahkan ini harus ada sebelum perbuatan yang kita lakukan.
(33:47) Yakni niat didahulukan sebelum amal perbuatan. Contoh kata Syaikhul Islam, kasalati wazzakati wasiam. Seperti ya salat, zakat, dan puasa. Ini semua amalan ya termasuk amal-amal ketaatan, amal-amal kebajikan, salat ya, zakat, puasa. Waidzaal abdu qfatil amri waqasdil imtalana awalal maksiati minhu.
(34:32) Kalau seandainya seorang hamba berpaling dari mengilmui tentang perintah Allah Subhanahu wa taala, berpaling dari belajar tentang salat, berpaling dari belajar tentang zakat, berpaling dari belajar tentang puasa. Ya. Atau ketika seseorang berpaling dari meniatkan salatnya, zakatnya, puasanya karena Allah, maka ini adalah awal kemaksiatan yang dia lakukan.
(35:03) Sebelum dia meninggalkan salat, sebelum dia meninggalkan zakat, sebelum dia meninggalkan puasa dengan jawarihnya, ya terlebih dahulu dia maksiat dengan hatinya. ketika dia berpaling ya dari meniatkan salat karena Allah, meniatkan zakat karena Allah, meniatkan puasa karena Allah, maka ini adalah maksiat pertama yang dilakukan seorang hamba, yaitu maksiat hati sebelum maksiat anggota badannya.
(35:34) Ya, ketika seseorang berpaling ya dari salat, meninggalkan salat, tidak mau salat, maka yang pertama kali maksiat adalah hatinya ya sebelum dia tinggalkan dengan anggota badannya. Demikian pula zakat, demikian pula puasa dan amal-amal yang lainnya. Ya bal kana huwal asasi wa ghairuhu tabaun lahu fidalik.
(36:06) Bahkan kata syikhul Islam ya yang bermaksiat sesungguhnya adalah hatinya sedangkan jawarihnya hanya mengikuti perintah hati tersebut. Walihadza qala fi haqq syaqii. Oleh karenanya Allah subhanahu wa taala berfirman tentang orang-orang yang binasa, orang-orang yang celaka yang akan masuk ke dalam api neraka di hari kiamat. Kata Allah Subhanahu wa taala, “Fala shoddaq wala sha.
(36:45) ” Mereka tidak mau membenarkan dan mereka apa? Dia tidak mau membenarkan dan dia tidak mau salat. Fala shodqa wala sha tidak mau beriman, tidak mau membenarkan dengan hatinya. Wala salat dan tidak salat dengan ya dengan jawarihnya. Walakin kadzaba wa tawalla. Tapi dia mendustakan dan berpaling. Ya, berpaling dari hidayah Allah Subhanahu wa taala.
(37:19) berpaling dari peringatan para nabi dan rasul. Waqala fi haqqi suada. Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang orang-orang yang berbahagia yang akan mendapatkan nikmat surga di hari kiamat nanti. Allah sebutkan di antara karakter mereka innalladina amanu wailus shihat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang pertama beriman dengan hatinya kemudian beramal saleh dengan jawarihnya dengan anggota badannya ya maka harus sinkron, harus selaras antara kebaikan hati dengan kebaikan anggota badan. Ini karakter orang-orang beriman.
(38:09) Wal makmuru nauani. Kata Syekhul Islam, almakmur. Apa yang Allah perintahkan kepada hamba itu dua macam. Ya, perintah Allah atas kita ada dua macam. Nauun hua amalunirun alal jawarih. Waza la yakunu illa biilmil qalbi wa iradatihi.
(38:47) Macam yang pertama kata Syaikhul Islam adalah amalan yang sifatnya zahir, yang sifatnya tampak, yakni amalan anggota badan. Dan amalan anggota badan ini tidak akan bernilai kebaikan tanpa hati yang mengilmui, tanpa ya hati yang meniatkan. Meniatkan amal tersebut karena Allah. Karena amal kebaikan kalau seandainya tidak diniatkan karena Allah, maka tidak bernilai kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa taala. Seseorang salat tapi dia ri ya niatnya mencari pujian manusia.
(39:28) Meskipun orang enggak tahu kita niatnya ri tapi Allah maha tahu. Ya, meskipun secara zahir kita salat, kita melakukan kebaikan di mata manusia, tapi ketika kebaikan tersebut tidak dibangun di atas niat yang benar, tidak dibangun di atas ketulusan hati, niat karena Allah, maka tidak bernilai kebaikan sama sekali di sisi Allah Subhanahu wa taala. Maka amalan jawarih harus ditopang dengan niat yang benar.
(40:02) Amalan anggota bad harus dibangun ya di atas niat yang benar. Falqbu hual aslu fihi. Maka hati itulah asal dari setiap amalan jawarih seorang hamba. Kal wudu walhtisal. Ya, seperti halnya juga wudu, mandi janabah. Demikian pula gerakan-gerakan salat minalqami warukui wasjud seperti berdiri, ruku, sujud wa’alil haj dan juga amalan-amalan haji minal wukuqufi wat tawaf. Seperti wukuf ya di Arafah, tawaf di sekitar Ka’bah.
(40:48) Wain kanat aqwalan falqbu aksu biha. Ya, meskipun di sana ada amalan-amalan lisannya, ada bacaan-bacaannya. Salat ada bacaannya ya. Ada takbiratul ihram, ada doa iftitah, ada al-fatihah, ada surat, ada takbir intiqal ya, ada doa ruku dan seterusnya. Demikian pula haji ada amalan-amalan lisannya. Ada zikir-zikir yang disunahkan untuk kita baca.
(41:27) Namun yang lebih ya utama adalah amalan hati seseorang. Faludda an yalamalqbu wujuda ma yaquuluhu bima yaquulu waqsiduhu. Maka ya hati seseorang harus terlebih dahulu mengetahui ya apa yang akan dia ucapkan dan niat yang benar di dalam melakukan amalan tersebut. Ya, kita melakukan takbiratul ihram harus di atas ilmu.
(42:10) Ya, kita membaca iftitah sunah harus di atas ilmu dengan pengetahuan hati kita ya. Kita membaca al-Fatihah karena itu rukun salat dengan ilmu ya. Maka sebelum seseorang melafazkan amalan-amalan lisannya, hatinya harus terlebih dahulu mengetahui amalan-amalan tersebut. Fatabayana biadza analqba hual aslu fi jamiil’ali wal aqwal.
(42:42) Maka dari sini kata Syekh Abdul Razq, ya jelaslah bagi kita bahwasanya hati merupakan pondasi, merupakan asas dari setiap amalan dan ucapan yang kita yang kita lakukan. Ya, lisan kita berucap, jawarih kita beramal ya, tapi hati yang menggerakkan. Hati yang menggerakkan. Fama amarallahu bihi minal af’alhirah labudda fiha min makrifatil qalbi waqasdihi.
(43:23) Maka ya amalan-amalan yang zahir yang tampak di mata manusia yang Allah perintahkan kepada hamb-Nya harus dimulai dengan makrifatul qalbi. Ya, hati yang mengilmui. Karena ilmu itu qoblal quli wal amal. Ilmu harus didahulukan sebelum seseorang berucap dan beraman. Maka sebelum seseorang mengucapkan satu ya ucapan, sebelum seseorang melakukan satu amal perbuatan, harus didahului oleh ilmu di dalam hatinya dan niat di dalam di dalam hatinya agar apa yang dia lakukan bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu wa taala.
(44:12) Karena setiap amalan sebesar apapun kalau seandainya tidak dibangun di atas niat yang benar, maka tidak ada nilai kebaikannya di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Dan niat adalah amalan hati. Ya, niat adalah amalan amalan hati. Wadzalika ma amar bihi minal aqwal la budda fiha minifatil qbi waqasdihi. Demikian pula kata Syekh Abdul Razq, apa yang Allah perintahkan atas hambanya berupa akwal, berupa ucapan-ucapan lisan harus didahului oleh hati yang mengilmui dan hati yang meniatkan. Ya, hati harus mengilmui apa yang akan dia
(45:06) ucapkan tersebut. Hati harus meniatkan apa yang dia ucapkan lillah karena Allah subhanahu wa taala. Ya, saya takbiratul ihram lillah, membaca ya al-Fatihah lillah, membaca Al-Qur’an lillah. Harus harus lurus niat-niat kita ya semata-mata karena Allah subhanahu wa taala. Wabi aid yam analqba umir bil imani billah wubbihi waimihi wa khaufihi wat tawakul alaihi wa ikhlasidini lahu thaatil jawarihu wauhat.
(45:59) Dari sini juga kita mengetahui bahwasanya apabila hati seseorang makmur dipenuhi dengan keimanan kepada Allah dipenuhi dengan rasa cinta takzim takut berharap tawakal kepada Allah. Apabila hati seseorang dipenuhi dengan ya keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa taala, maka baiklah seluruh anggota badannya. Ya, di sini kita tahu bahwasanya ketika hati seseorang penuh dengan keimanan, ketika hati seseorang penuh dengan cinta, takzim, pengagungan, rasa takut kepada Allah, pengharapan kepada Allah, tawakal kepada Allah, lurusnya niat karena Allah, maka insyaallah biidnillah
(46:57) jawarihnya akan menjadi baik. Bal la yatimmu saaiun minal makmuri bihi illa biha. Bahkan ya tidak ada kesempurnaan di dalam menjalankan apa yang Allah perintahkan dari amalan-amalan yang zahir yang tampak tanpa kebaikan hati, tanpa hati yang ikhlas, tanpa hati yang beriman.
(47:33) Ya, tidak ada nilai kebaikan dari kebaikan yang seseorang lakukan ketika hatinya enggak punya keimanan, ketika hatinya enggak punya takzim kepada Allah, ketika hatinya enggak punya raja, pengharapan, khauf, takut kepada Allah, ketika hatinya enggak punya keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa taala. Wailla falau amila a’alaniratan biduni hadi kana munafiqan. Kata Syekh Abdul Razq, kalau seandainya ada orang yang beramal ya menampakkan amal-amal kebaikan, salat, zakat, puasa, haji, tapi hatinya kosong dari keimanan. Hatinya enggak beriman kepada Allah, hatinya enggak cinta kepada Allah, ya. Maka dia bukan seorang
(48:21) mukmin, tapi dia adalah seorang seorang munafik yang menampakkan kebaikan secara zahirnya, menampakkan keimanan secara lahiriahnya, tapi hatinya kufur kepada Allah Subhanahu wa taala. Tumma hiya fi anfusiha tujib lhibiha a’alaniratan tuwafiquha fizzakai wal istiqomah. Sebagaimana ya kebaikan-kebaikan hati akan melazimkan bagi pemiliknya amalan-amalan yang yang baik pula.
(49:07) Ya, akan melahirkan kebaikan amalannya dan keistiqamahan di dalam amalannya. Famrifatu ahkamil qulub ahammu min makrifati ahkamil jawarih. Dari sini kata Syekh Abdul Razak, belajar tentang ya ahkam, hukum-hukum seputar hati, ahkamul qulub. Ya, kita belajar tentang hukum-hukum seputar hati lebih penting ya daripada mempelajari hukum-hukum seputar jawarih. Idz hiya asluha.
(49:48) Karena ya ahkamul qulub inilah asal, inilah asas, inilah pondasi. Ya, hukum-hukum yang berkaitan dengan hati inilah asalnya, inilah asasnya, inilah pondasinya. Wa ahkamul jawarih mutafariatun alaiha. Sedangkan hukum-hukum seputar jawarih merupakan cabang ya dari pondasi tersebut. Dari sini kita tahu hikmah jemaah yang Allah muliakan.
(50:27) Kenapa di awal ya masa dakwah Nabi, Nabi sallallahu alaihi wasallam fokus kepada pembenahan masalah tauhid, pembenahan masalah akidah. Min bab islah qulub. Sebelum ada syariat salat, sebelum ada syariat zakat, sebelum ada syariat puasa, haji, dan yang lainnya. Yang menjadi fokus dakwah Nabi, bahkan dakwah para nabi dan rasul secara umum adalah memperbaiki kondisi hati manusia.
(50:58) Ya, di antaranya dengan memperbaiki tauhid-tauhid mereka. Karena inilah bejana, inilah asas. Ya, ketika seseorang hatinya baik, maka dengan sendirinya ya mudah untuk diperintahkan salat, mudah diperintahkan untuk zakat, mudah diperintahkan untuk puasa dan amal-amal yang lain. Ah, ini di antara hikmah ya. Kenapa ketika di Fatrah Makkiah 10 tahun lamanya kurang lebih fokus dakwah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam menanamkan akidah yang shah, menanamkan tauhid yang benar kepada kaum muslimin, kepada para sahabat.
(51:41) Ya, Minab membentuk asas, membentuk pondasi. Ya, ketika pondasi sudah kuat, hati sudah baik, maka mudah untuk menggerakkan jawarih di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Tapi kalau seandainya keimanannya lemah, hatinya ya kurang ya, maka sulit untuk menggerakkan jawarih di atas amal ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala.
(52:16) Oleh karenanya kata para ulama yang menjadi motor penggerak seorang hamba di atas amal ketaatan bukan kekuatan fisiknya. Ya, bukan semata-mata kekuatan fisik, bukan semata-mata kekuatan finansial. Tapi yang menjadi faktor utama yang menggerakkan seseorang di atas amal kebaikan adalah kekuatan hatinya. Banyak orang fisiknya sakit tapi semangat datang ke masjid untuk salat ya berjamaah untuk datang ke majelis-majelis ilmu.
(52:54) Di saat yang bersamaan banyak orang yang fisiknya sehat, fisiknya kuat tapi hatinya sakit. Sehingga untuk datang ke masjid berat ya, untuk datang salat berjamaah berat, untuk datang ke majelis ilmu berat bukan karena ya fisik yang yang tidak sehat, tapi karena sakitnya hati. Demikian pula ya banyak orang yang hartanya pas-pasan tapi semangat dalam kebaikan, semangat dalam berderma, semangat dalam bersedekah. yang menggerakkan adalah hatinya.
(53:27) Di saat yang bersamaan banyak orang yang dilapangkan rezekinya tapi bakhilnya. Nauzubillah ya karena hatinya enggak punya keimanan atau imannya sangat lemah sehingga kalah oleh syahwat dan hawa nafsunya, kalah oleh sifat bakhil dan ketamakannya. Ya, maka hati adalah asas dari kebaikan seorang hamba. Wahiya mautini nadarb.
(53:59) Dan hati kata Syekh Abdul Razzaq adalah fokus perhatian Allah atas hamba-Nya. Allah melihat seorang hamba berdasarkan kualitas hatinya, bukan kualitas fisiknya, bukan kualitas hartanya, bukan kualitas pangkat dan jabatan ya duniawiahnya. Kama rawa muslimun fi shahi an abi hurairat radhiallahu taala anhu.
(54:32) Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam sahihnya dari hadis Abu Hurairah radhiallahu taala anhu wa ardah. Beliau berkata, “Qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam, Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bersabda, innallaha laa yanzuru ila ajsadikum wala ila suarikum walakin yzuru ila qulubikum wa asyar biasabiihi ila shodri.
(55:10) ” Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad-jasad kalian. Allah tidak menilai kalian berdasarkan rupa fisik kalian.” Allah enggak menilai kemuliaan seorang hamba berdasarkan warna kulitnya, ya berdasarkan ketampanan wajahnya, ya kecantikan wajahnya. Tidak. Allah enggak melihat kita dari hal-hal semacam ini.
(55:38) Wakin yuru ila qulubikum. Akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan Nabi mengisyaratkan ya dengan jari jemarinya ke dada beliau. Allah melihat hati-hati kita. Yang menjadi standar kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah adalah kualitas hati, kualitas iman, kualitas takwa seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa taala.
(56:09) Bukan rupa fisiknya, bukan warna kulitnya ya. Tapi Allah melihat seorang hamba berdasarkan kualitas hati yang dia miliki. Warawa Muslimun wa Ahmad min hadisi Abi Hurairah radhiallahu anhu. Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam sahihnya. Demikian pula Imam Ahmad di dalam musnadnya dari hadis Abu Hurairah radhiallahu taala anhu wa ard anan Nabi sallallahu alaihi wasallam qal bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kata Nabi yang mulia atttaqwa hauna wa asyaro biyadihi ila shodrihi tata marat Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ketakwaan itu pangkalnya di sini.”
(57:06) Kata Abu Hurairah, Nabi mengisyaratkan dengan tangannya sebanyak tiga kali ke arah dadanya. Bahwasannya pangkal ketakwaan seorang hamba adalah pada hatinya. Attaqwa hahuna, attaqwa hahuna. Atttaqwa hauna. Kata Nabi, takwa itu tempatnya di sini. yni asasnya, pangkalnya ya.
(57:34) Pangkal ketakwaan seorang hamba adalah hatinya. Ketika hati seorang hamba bertakwa kepada Allah maka secara otomatis jawarihnya akan ikut bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala. Falqulubu hiyal asas. Kata Syekh Abdur Razq, maka hati adalah asas ketakwaan, asas keistiqamahan. Faidqamat ala taqwallahi jalla waala haqqidqtaqomatil jawarihu kulluha amalan billah wa tholaban linaili ridahu jalla fiula.
(58:18) Maka hati adalah asas. Hati adalah pondasi. Apabila hati itu baik, istiqamah di atas takwa kepada Allah dengan benar dan jujur, maka istiqamahlah seluruh anggota badan di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala dan istiqamah anggota badan di dalam mencari rida Allah Subhanahu wa taala.
(58:52) Maka kalau kita ingin istiqamah di atas kebaikan, istiqamahkan hati kita, perbaiki hati kita. Ya, karena kunci keistikamahan jawarih ada pada keistiqamahan hati. Wafil musnad anas ibn malikin radhiallahu anhu qal. Di dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau berkata, “Qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “La yastaqimu imanu abdin hatta yastaqima qolbuhu.
(59:40) ” tidak akan istiqamah iman seorang hamba sehingga istiqamah hatinya. Maka kunci keistiqamahan adalah keistikamahan hati-hati kita. Dari sini kita mengambil faedah yang sangat besar bahwasanya belajar tentang memperbaiki hati adalah perkara yang sangat penting bagi orang-orang beriman.
(1:00:14) belajar tentang ya keistikamahan hati adalah hal yang sangat utama bagi setiap mukmin dan mukminah. Karena kebaikan hati kita akan menjadi ya asas kebaikan bagi seluruh anggota badan yang kita miliki. Dari sini kita ya memilih kitab ahadis islahil Qlub, hadis-hadis perbaikan hati sebagai materi ya pembelajaran kita di kesempatan sore hari ini dan beberapa pertemuan ke depan. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semuanya.
(1:00:56) Insyaallah kita lanjutkan di pertemuan yang akan datang. Apa-apa yang hak semata-mata taufik dari Allah Subhanahu wa taala yang salah dan kurang karena kesalahan dan kekurangan ilmu yang saya miliki. Wasallallahu wasallam ala nabiyina Muhammadin wa alihi wasohbihi ajmain. Wa akhiru dakwana anilhamdulillahi rabbil alamin.
(1:01:27) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [Musik] Menyebar cahaya sunah. Inalhamdulillah nahmaduhuastainuhuastagfirakullah. Roja TV, saluran tilawah Al-Qur’an dan kajian Islam. Yeah.
Leave a Reply