Ustadz Abdullah Zaen, M.A. – Serial Fiqih Pendidikan Anak No : 220

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. – Serial Fiqih Pendidikan Anak No : 220 – YouTube

Transcript:
(00:00) Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. menebar. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nastainu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala.
(00:50) Pada kesempatan pagi menjelang siang yang berbahagia kali ini hari Senin tanggal 19 Jumadal Ula 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 10 November 2025. kita kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin Senin pagi di Masjid Manarul Ilmi di komplek Pondok Pesantren Tunas Ilmu di Desa Kedung Buluh, Purbalingga.
(01:42) ini kita berharap semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala. Allahum amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga hari akhir nanti.
(02:28) Bapak-bapak, Ibu-ibu, para hadirin, para hadirat, dan juga segenap pendengar serta pemirsa rahimani warahimakumullah. Alhamdulillah kembali kita mengkaji tema fikih pendidikan anak dan kali ini kita memasuki serial nomor 220 mengangkat tema mendidik anak memanfaatkan waktu luang. Kenapa tema ini kita angkat? Karena waktu luang adalah sebuah karunia, sebuah nikmat yang sangat besar yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia.
(03:25) Tapi sayangnya nikmat yang besar itu sering di si-siakan. Sehingga wajar seandainya Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim secara gamblang beliau bersabda, “Nikmatani magbunun fihima katsirun minanas.” Ada dua nikmat kebanyakan orang tertipu. Berapa nikmat, Bu? Ada dua.
(04:16) Apa dua nikmat itu? Assihat wal farag. Assihat itu artinya kesehatan. Yang kedua, alfarag. Alfaragh itu artinya waktu luang. Nopo waktu luang yang tertipu dengan kesehatan dan waktu luang itu anak-anak atau orang tua yang sering menyia-nyiakan waktu luang itu? Orang-orang tua atau anak-anak kecil? Hah? Pada baik kok. Pada baik ya itu realitanya.
(05:11) Dan itu adalah realita yang pahit. Realita yang pahit. Sepahit kopi tanpa gula. Kenapa kok itu realita pahit? Karena orang yang sudah berusia tua harusnya tidak seperti Bu. Orang yang sudah berusia tua harusnya tidak seperti anak-anak. kena ngapo? Karena akalnya sudah sempurna. Akalnya siapa? Orang yang sudah tua.
(06:04) Orang yang sudah tua niku sinten? Kulo, kali jenengan kowe wis tua. Masa ora ngerti? Nek wis tua ap sing ngerasa enom. Ya, akal orang yang sudah tua, Bapak, Ibu itu sudah lebih matang. Kalau anak kecil berarti akalnya masih mentah. Kalau ada anak kecil, bocah cilik, dolanan terus. Yaman memper ana mbah-mbah dolanan bae si kepriwe ya bukan berarti panjenengan itu enggak boleh bermain tapi yo apa enggane dolanan terus itu kan ndak nopo ndak cocok ndak matching Bapak Ibu Ya.
(07:12) Jadi kalau seandainya itu terjadi di antara orang yang sudah dewasa itu juga terjadi di antara anak-anak dan subhanallah sedih nggih kalau anak-anak itu pulang sekolah siang-siang ya pulang sekolah biasanya ngapain main sampai kapan? Nanti wengi main apa? HP. Ada berapa jam waktu luang yang terbuang sia-sia? Kira-kira sekian jam dia bermain HP itu dapat pahala berapa? Berapa kayak tah? Udu pahala ustaz malah olihe
(08:23) dosa. Udah gini aja. Masa sih ustaz dosa? Udah gini aja deh. Putrane jenengan, putrine jenengan yang megang HP itu yang ditonton di YouTube itu pengajian no mboten? Nah, ku contohne niken tau tumun putrane jenengan nyekel HP ngeluakan pengajian Senin pagi. Tumon apa mboten? mboten minimal game minimal niku nggih.
(09:07) Oh, yang lebih parah naudubillah minzalik nonton konten-konten pornografi yang bukan hanya merusak dunia mereka tapi juga merusak akhirat mereka. Dan itu adalah kenyataan yang kita saksikan di masyarakat kita. Maka orang tua yang bijaksana, orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik putra-putrinya untuk memanfaatkan waktu luang.
(09:55) Caranya, Ustaz, bagaimana? Di hadapan kita sudah tertulis berapa langkah, Bu? Tiga langkah. Yang pertama langkahnya adalah memberikan teladan. Sinten? orang tua, Bapak dan Ibu. Kenapa ustaz kok memberikan teladan? Karena mengajak dengan contoh biasanya lebih mengena dibandingkan mengajak hanya dengan omongan. Apalagi kalau omongannya itu omdo.
(10:51) Nopo omdo? Omong doang. Ayo, Le. Mbok waktunya itu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Itu omongannya bapak dan ibunya. Setelah bapak ibunya ngomong seperti itu, terus bapak ibunya ngapain? Nonton TV, dolanan HP do. Saya tanya, ada enggak orang yang menghabiskan waktu ngobrol dengan tetangga ngalor ngidul wonten banyak niku. Pinten menit niku, Bu? Oh, pertanyaane keliru.
(11:48) Bukan, Bu, bukan pinten menit tapi pinten jam? Coba jenengan bayangkan ada ibu-ibu ngendong nggone tanggane mangkate esok baline sore. K mbok kebangeten banget. Ngapa sinau ngaji? Masyaallah. Ne kay gu ku bukan ngobrol ngalor ngitu. Ada yang enggak seperti itu. Duduk di mana? Di teras. Enggak ada temannya. Duduk di teras. Ngapain? Kelepas kelepus.
(12:42) Apa? Kelepas kelepus. Kudud bengong ngalamun ngitungi motor sing liwat. Subhanallah. Saya tanya sama jenengan itu kira-kira nanti di akhirat ditanya enggak berapa motor yang lewat di depan rumah gitu? Ada pertanyaan seperti itu gak? ada motor ngapa sih diitung dan ini real sesuatu yang nyata yang ada di kanan dan kiri kita bahkan mungkin ada di antara kita yang melakukannya.
(13:35) Kira-kira Bapak Ibu kalau setiap hari anak kita itu nonton kita seperti itu, apakah kira-kira anak akan menghargai waktu? Mboten. Kenapa? Karena orang tuanya enggak nyontohin menghargai waktu. Lah menghargai waktu itu bagaimana, Ustaz? menghargai waktu itu adalah panjenengan memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang baik. Kalaupun suatu saat kita harus rehat sejenak, duduk di teras, sekedar untuk mencari nopo bu? Udara segar mencari angin leyeh-leyeh sebentar tetap di samping kanannya ada radio insani malah promosi.
(14:38) Jadi tidak kosong. Apanya yang kosong? Pikirannya. Jadi anak itu menyaksikan, “Oh, ibuku itu, bapakku itu kalau lagi duduk itu walaupun sendirian dia punya kegiatan positif. Jadi kalaupun dia ngelihat bapaknya ngobrol sama tetangganya, maka dia bisa mendengar obrolannya itu adalah obrolan yang bermanfaat.
(15:17) itu sungai atau saluran air yang ada di perumahan kita itu gimana ya caranya supaya lebih bermanfaat, tidak menjadi tempat nopo sampah. Jadi dia itu mendengar bapaknya itu ketika berbicara, ketika berinteraksi dengan tetangganya, obrolannya itu obrolan yang berkualitas, yang bermanfaat.
(15:51) Begitu pula ketika dia mendengar ibunya ngobrol. Ibunya ngobrol sama tetangganya. Isi obrolannya apa, Bu? Anu kek nganti seprene urung gelem salat. Ibu anu itu sampai sekarang belum mau salat. Gimana ya caranya supaya bisa ngajak dia salat tanpa membuat dia tersinggung? Itu isi obrolannya dan itu adalah obrolan yang berkualitas. Sehingga anak setiap hari itu melihat contoh nyata dari orang tuanya yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ya, subhanallah.
(16:37) Saya itu punya teman seorang sama-sama ustaz, cuman beliau berdakwah di daerah Sulawesi. Beliau bercerita, beliau bercerita punya jemaah pengajian di luar pulau. Jadi kalau enggak salah di Sumatera kalau enggak salah. Jadi jemahnya di mana? Sumatera. Beliaunya tinggalnya di mana? Di Sulawesi. Jadi jemaah beliau yang di Sumatera itu cerita, “Ustaz, sekarang saya dan suami saya itu setiap hari kegiatannya setelah sarapan adalah menyimak siaran televisi yang isinya adalah pengajian.
(17:40) Terus jadi suami istri bawa buku, bawa nopo pulpen, kemudian nyimak itu televisi, kemudian ada pengajian apa ditulis. Kami serasa kayak kuliah kembali. Indah, Bapak, Ibu. Ngaji serius dan sarannya ada. Masalahnya banyak di antara kita. Tidak menghargai sarana yang sudah Allah berikan kepada kita.
(18:16) Coba saya tanya sama jenengan, Bapak, Ibu yang kami hormati. Untuk bisa ngaji hari ini sama 50 tahun yang lalu lebih gampang mana? hari ini atau 50 tahun yang lalu. Hari ini ketika jenengan berhalangan hadir pengajian Senin pagi karena ada satu dan lain hal sakit atau nungguin orang sakit atau ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Saya tanya, apakah jenengan di rumah bisa menyimak pengajian ini? Bisa atau tidak? Bisa.
(19:09) Pakai apa? Ada yang pakai radio, ada yang pakai HP, ada yang pakai TV. Coba ada berapa sarana coba? Radio tinggal nyetel radio insan tersedia di situ aplikasi radio insan TV banyak yang nyiarin ada RJA ada yang lainnya YouTube bisa disiarin di YouTube. Facebook disiarin di Facebook. Kurang apa? Jajal kurang nopo? kurang kemauan. Sing kurang niku kemauane.
(19:56) Saya tanya 50 tahun yang lalu ketika jenengan tidak bisa hadir pengajian di masjid, pripun? Ya wis enggak bisa nopo mengikuti pengajian? Oh, enggak ada kok sarananya gak ada ya. Ini adalah langkah yang pertama memberikan nopo? Teladan. Langkah yang kedua menjelaskan urgensi waktu. Urgensi siapa, Bu? Urgensi si apa? Pentingnya waktu. Apa? Menjelaskan pentingnya waktu.
(20:41) Kalau langkah yang pertama itu adalah praktik, maka langkah yang kedua adalah teori teori ya. Jadi kita harus menggabungkan antara teori dengan apao praktik. Maka tugas kita, Bapak Ibu adalah memberikan pengarahan kepada anak-anak kita. memberikan penjelasan, “Le, Nduk, Nak, waktu itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
(21:22) ” Mungkin anak akan bertanya, “Emang berharganya apa waktu dibandingkan uang berharga mana? Kok sepi? Waktu dibandingkan uang lebih berharga mana? Waktu jenengan kalau disuruh milih dikasih uang atau waktu milih mana? Katanya lebih berharga waktu disuruh milih-milihe duit. Waktu lebih berharga daripada uang.
(22:04) Kenapa? Karena dengan waktu kita bisa mencari uang dan dengan uang kita tidak bisa membeli waktu. Coba saya tanya sama jenengan, ada enggak toko jualan waktu? Jam lah. Iya. Jam itu beda sama waktu. Ada enggak toko jualan waktu? Gak ada, Bapak, Ibu. Waktu kalau sudah lewat enggak mungkin kembali.
(22:51) Sebaliknya, uang kalau sudah lewat masih bisa dicari lagi. Waktu itu lebih mahal dibandingkan uang sekalipun. Jangankan 10 tahun yang lalu, semenit yang lalu kita berusaha untuk mengembalikan lagi, enggak akan bisa. Ya. Dan yang lebih mengerikan, Bapak Ibu yang kami hormati, setiap menit bahkan setiap detik waktu yang terlewat itu ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa taala.
(23:35) Itu menyeramkan. Kenapa? Karena nanti kita akan ditanya di hadapan Allah Subhanahu wa taala tentang waktu tersebut digunakan untuk apa? Kata Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan beliau mengatakan hadis ini hasan sahih. La tazulu qadama abdin yaumalqiamah.
(24:11) Kedua kaki kita tidak akan bisa bergeser alias ma ma tidak bisa bergeser alias ma macet. Lailahaillallah. Ora bisa melakukan macet. Berarti kedua kaki manusia tidak akan bisa bergeser di hari kiamat kecuali setelah dia menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Satu. Hatta yus’ala an umurihi fima abna. Yang pertama akan ditanya tentang umurnya untuk apa? Tentang no Bu? Umur. Berarti umur itu semakin panjang semakin
(25:27) semakin repot. Apanya? Pertanyaannya. Berarti jenengan pengin umur panjang apa umur pendek? Hah? Panjang apa pendek? Terserah Allah. Terserah Allah. Jadi jangan dipikir umur itu Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma. Enggak. Jenengan 60 tahun umurnya akan ditanya sama Allah, 60 tahun salatnya gimana, ngajinya gimana, mendidik anaknya gimana, birrul walidainnya gimana, ibu-ibu melayani suaminya bagaimana, bapak-bapak mendidik istrinya bagaimana. Itu semuanya akan ditanya oleh Allah azza wa jalla.
(26:23) menit per menit bahkan detik per detik. Nauzubillahi min dalalik. Yang kedua, wa ilmihi fi ma fa’al. Dan ilmunya sudah diamalkan atau belum? K si paling repot sapa? Ustate sing paling repot sinten? Ustazate kena ng apa? Ya, semakin bertambah ilmunya berarti semakin banyak tuntutannya. Tuntutan untuk apa? Mengamalkan ilmu.
(27:12) Berarti kalau orang ilmunya satu disuruh mengamalkan amalan satu. Kalau ilmunya 1.000 berarti disuruh mengamalkan 1.000. Berarti jenengan mendingan ilmunya sedikit apa banyak? Mendingan mana? Sedikit aja. Baik. Mendingan bodoh apa pintar? Mendingan pintar dan mengamalkan ilmunya. Jadi Bapak Ibu ngaji k aja kur nggo ditulis.
(27:49) Ajagur nggo dicatat, ajagur nggo diemut-emut. Ngaji itu enggak cuma untuk ditulis, enggak cuma untuk diingat, enggak cuma untuk dipahami, tapi ngaji itu untuk diamalkan. Tiga. Waan maalihi min ainaasabahu wa f anfaqah. Yang ketiga adalah tentang hartanya. Dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan. Berarti pertanyaannya do doel. Masuknya dari mana? Kemudian digunakan untuk apa? Jenengan itu punya duit 1 M dengan punya duit Rp100.000.
(28:53) Pertanyaannya lebih panjang mana? 1 M. Berarti jenengan mendingan milih 1 M. Masyaallah. Berarti wis siap iki 1 M itu banyak apa sedikit? Banyak. Dari mana dapatnya dan untuk apa? Itu per rupiah akan ditanya. Ya, jadi jangan bangga dulu punya duit banyak dari mana dapatnya? Wong korupsi wis duite korupsi. nggo judul lailahaillallah duit setan dipangan belis sudah duitnya masuknya hasil korupsi digunakan untuk jud kan lailahaillallah naudubillahi min dalalik berat banget itu nanti pertanggungjawabannya di hadapan Allah yang keempat yang terakhir wa jismihi
(30:03) Ablah tubuhnya digunakan untuk apa? Mata nopo malih telinga apalagi mulut terus tangan terus kaki itu semuanya akan ditanya semua ya sikil bar nggo ngaji apa bar nggo nonton baik ya tangan itu habis dipakai buat mijeti istri atau buat ngeplaki istri itu akan ditanya itu mulut ini habis dipakai buat baca Quran atau buat menggunjing tetangga akan ditanya itu ya.
(31:01) Maka berhati-hatilah. Langkah yang terakhir yang ketiga apa itu? Memberikan alternatif kegiatan positif. Kepada siapa, Bapak, Ibu? Kepada anak-anak. Kenapa kok orang tua perlu menyediakan kegiatan positif buat anaknya? Kenapa? Karena anak-anak kita itu pengetahuannya masih terbatas, pengalamannya juga terbatas.
(31:50) Sehingga wajar anak yang pengetahuannya terbatas, pengalamannya minim, itu sering bingung. Bingung apa? Mau ngapain? Kenapa kok sampai nanya mau ngapain? Karena pengalamannya masih sedikit. Dia enggak tahu waktu ini buat apa. Maka orang tua yang pengalamannya lebih banyak, pengetahuannya lebih banyak, tugasnya adalah memberikan arahan.
(32:24) Le, ini loh contohnya kegiatan yang positif. Satu, ibadah. Jadi kalau anak nanya, “Aku sih mau ngapain ya? Bingung. Ayo Nak, sini baca baca Quran. Aku besok hari Ahad mau ngapain ya? Mau ikut apa? Ayo kita silaturahim. Silaturahim keluarga. Ibadah atau bukan ibadah? Aku lu bingung kemarin sudah silaturahim, besok mau ke mana?” Ya ayo kita pergi ke panti asuhan.
(33:03) kita bawa makanan ibadah. Oke. Selain ibadah apa aktivitas positif buat anak-anak kita? Olah raga. Jadi kalau anak kita bingung pagi-pagi mau ngapain, kita ajak anak kita ke mana? Jalan-jalan. Keliling sepedaan ya. Atau mungkin jalan ke mana? Ke lapangan bawa bola ya main bareng di sana. Aktivitas fi fisik ya. Kenapa aktivitas fisik? Karena menyehatkan.
(33:41) Coba menurut jenengan lebih bagus anak dekem. Dekem siapa? Dekem sih apa bahasa Indonesianya? Mager anak mager megang HP berjam-jam apa anak main bola pulang-pulang gobos? Lebih bagus mana? Main bola gobos. Main bola loh. Udu nonton bola. Nah lebih sehat mana? Main bola apa nonton bola? Main bola.
(34:19) Ana wong nonton bola tahu bal-balan sing nggo ngapo? main bola sekalian biar tubuhnya no sehat. Ya, saya malah suka ngelihat anak-anak yang aktif naik sepeda, jalan-jalan, main pola, main basket, renang ya yang menggerakkan fisiknya sehingga tubuhnya sehat kuat dengan izin Allah subhanahu wa taala. aktivitas fisik apalagi selain itu aktivitas yang sifatnya mengembangkan kemampuan dan pengetahuan.
(34:57) Apa baca? Baca nopo Bu? WA bukan baca bu buku. Sediakan di rumah perpustakaan keluarga. sudah punya atau belum perpustakaan keluarga? Belum. Ya, bikin perpustakaan keluarga ya. Sediakan satu rap, beli buku yang menarik buat anak-anak kita, sediakan di rumah kita. Dia suruh baca.
(35:33) Yang suruh baca anaknya atau orang tuanya? Lah wong anake kon maca, wong tuane dolanan HP bae. Orang tuanya juga ngasih contoh, baca buku. Subhanallah, Bapak, Ibu. Ada sebagian orang itu, “Ustaz, anakku gelem maca. Anak saya enggak mau baca, Ustaz. Sudah saya sediakan buku enggak pernah dia mau baca.” Pertanyaannya, jenengan baca enggak? Kita orang tua baca enggak? Kalau kita orang tua baca dan itu rutin, insyaallah anak kita akan ikut baca.
(36:14) sudah sering saya sampaikan anak itu peniru ulung baca itu untuk mengembangkan apa ee kecerdasan. Apalagi, Ustaz, kegiatannya kegiatan yang menghasilkan duit ya. Kreatif, produktif, menghasilkan duit. Jadi, anak kita itu salah satu kekurangan anak kita hari ini itu enggak dilatih untuk punya keterampilan mencari uang.
(36:46) Bahkan ada sebagian orang tua ketika anaknya itu ngomong sama orang tuanya, “Pak, Bu, saya pengin jualan.” Apa kata bapak ibunya? Ojak ngisin-ngisinaken kaya ora di openi salah Bu. Pola pikir seperti itu salah ya. Tapi kan mengganggu belajar. Masa sih wong cuma jualan kayak gitu aja mengganggu belajar. Emang dia jualan 24 jam? Enggak.
(37:22) Dia cuma bawa sesuatu dari rumah, dibawa ke sekolah terus dijual sama siapa? sama teman-temannya ganggunya di mana? Justru kalau anak jenengan itu punya kemampuan seperti itu, berarti dia itu punya bis punya benih-benih punya bibit-bibit, pintar bisnis bagus itu, Bapak Ibu. Anak dibawa ke sawah, anak dibawa ke ladang. Latihan opo? Latihan macul.
(37:56) Nah, sehingga anak itu tidak asing dengan pertanian ya, punya perikanan, punya kolam di rumah, anak kasih kesempatan untuk kasih makanan kepada ikan, punya ayam, dikasih kesempatan tugas untuk ngasih makan ayam. sehingga nanti anak itu ketika sudah besar dia enggak bingung nyari duit. Maka berikan alternatif kegiatan positif dan saya anjurkan usahakan kegiatan itu yang bermacam-macam supaya apa? Supaya ndak bosan.
(38:48) Kalau cuma satu macam terus nanti lama-lama bosan. Kalau sudah bosan nanti pengine HP maning, HP maning. Makanya dibikin macam-macam kegiatannya ya. Kita bikin list Bapak Ibu ngumpul berdua. Yuk kita ngapain nih anak kita nih? biar nanti pulang sekolah dia enggak tergoda untuk main HP lagi. Main HP lagi. Ini yang bisa kita bahas. Masih ada sisa waktu sedikit. Silakan kalau ada pertanyaan. Baik, Ustaz.
(39:19) Jazakumullah atas materi yang disampaikan. Kami bacaan kami bacakan pertanyakan yang sudah masuk. Ee asalamualaikum ustaz. Waalaikumsalam war. Ustaz, bagaimana kalau kita istri cara mendidik anaknya berbeda dengan cara mendidik ee dengan cara mendidik ayahnya, Ustaz? Misalkan, saya ingin anak belajar Islam lebih banyak dan salat wajib di masjid setiap hari, tapi ayahnya enggak mau pergi ke masjid dan nonton TV melulu.
(39:52) Ustaz, silakan, Ustaz. Bagaimana seandainya pola didik orang tua, suami istri itu beda? Ibunya pengin anaknya berangkat ke masjid, ibunya pengin anaknya berangkat ke masjid, tapi bapaknya malah waktunya salat nonton TV di rumah. Itu bagaimana? Yang pertama, ajak pasangan untuk ngobrol. Ajak pasangan untuk ngobrol.
(40:35) Kalau kasusnya itu adalah pada diri suami, maka istri mengajak suaminya untuk ngobrol. Ngobrol apa? ngobrol tentang mau ke mana rumah tangga ini. Anak-anak kita ini mau digimanakan, pelan-pelan diajak ngobrol. Mungkin bisa kita sampaikan indah sekali ya. Setelah nanti kita tua, anak-anak kita mau untuk merawat kita. sabar untuk mengantar kita ke rumah sakit.
(41:18) Kalau kita sakit, mau untuk mendengarkan kita bercerita. Enak sekali ya kalau anak-anak kita nanti kayak gitu. Enak banget ya kalau misalnya kita sudah meninggal dunia, anak kita tetap nopo? mau mendoakan Allahummagfirli waliwalidaiya warhamhuma kama rbayani setelah itu kita sampaikan kepada pasangan kita, kemudian pelan-pelan kita masukkan impian indah itu perlu ada perlu ada usaha usaha yang dilakukan.
(42:12) Jadi enggak cuma berangan-angan. Kalau cuma berangan-angan tanpa usaha, itu namanya mimpi di siang bolong. Usahanya adalah ayo kita didik anak kita untuk salat berjamaah. Dan tentunya salat berjamaah anak akan semangat kalau dicontoni sama bapaknya. pelan-pelan sampaikan kayak gitu, “Ustaz, Bapak suami saya itu kalau mulai saya ngomong menjurus itu ngegas e wis rasa kake ngomong ya.
(43:00) ” Yang kedua setelah ngobrol yang kedua adalah doakan. Siapa yang didoakan? Yo kita dan pasangan kita. Makanya doanya adalah rabbana hablana min azwajina. Baru wurriyatina qurata a’yun. Yang kita minta untuk jadi qurata aun itu anak atau pasangan? Nah, qurat a’yun itu yang kita mintakan buat anak atau buat pasangan kita. dua-duanya min azwajina terus noporiyatina azwaj itu pasangan zurriiah itu keturunan berarti kita pengin suami istri dan anak-anak itu sama-sama jadi qurat a’yun doa sama Allah karena Allah yang bisa memberikan hidayah.
(44:03) Yang ketiga, sampaikan kepada anak kita ketika dia menyaksikan adanya kontradiksi, adanya pertentangan, ibunya nyuruh anak salat, anak ngelihat bapaknya enggak salat. Itu kan kontradiksi toh. Sampaikan kepada anak, Nak yang sabar ya. Jangan malah kita jelek-jelekan. Yang yang sabar ya, Nak.
(44:33) Doakan ayah ya, doakan abimu ya, supaya senantiasa mendapatkan petunjuk, bimbingan dari Allah. Kamu juga harus tetap menghormati bapakmu. Bagaimanapun bapakmu ini punya jasa yang besar. Jadi jangan malah dikompori. Jangan. Kalau ngompori niku pripun? Aja kaya-kaya [Musik] itu namanya ngompori ya. Dan itu enggak baik. Tidak.
(45:01) Baik, karena tidak menyelesaikan masalah. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon atas segala kurangnya. Kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.
(45:26) 1 1 FM Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *