Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah – YouTube

Transcript:
(00:00) RJ Bandung 104.3 mm menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah alhamdulillahiabbil alamin wasalatu wasalamu ala sayyidil mursalin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin amma ba’ad pemisa Raja TV dan pendengar radi Rja dirahmati Allah subhanahu wa taala di mana saja Anda berada alhamdulillah segala puji bagi Allah selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada kedua hasanah kita Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarga beliau dan segenap sahabatnya dan orang-orang yang meniti sunahnya
(00:50) walhamdulillah di kesempatan Malam ini kembali kita bertemu dalam kajian dan pembahasan ilmiah pembahasan dari syarah thahawiyah akidah ahlusunahti wal jamaah bersama Ustaz Ahmas Faiz Asifuddin hafidahullahu taala langsung dari ee stodium ini dari Maahad Imam Bukhari Solo dan alhamdulillah kita telah terkoneksi bersama beliau.
(01:12) Kita akan simak kurang lebih 1 jam ke depan pembahasan dari akidah thahawiyah ini. Dan kami memberikan kesempatan yang luas bagi ikhwah dan akhwat fillah yang ingin bertanya perihal pembahasan materi malam hari ini. Anda bisa menyampaikan di layan telepon 0218236543. Kami ulangi kembali di 021 8236543. Demikian juga nomor chat WhatsApp untuk pembahasan dan pertanyaan sesuai dengan tema malam ini.
(01:40) Dan langsung saja kita mulai kepada Ustaz kami persilakan. Falyatafadol masyura. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina. Yahdihillahu fala mudillalah wudlil fala hadiyaalah. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain.
(02:18) Amma ba’d. Para pemirsa dan pendengar TV dan radio Rajak di mana saja berada. Yang dirahmati Allah, kita insyaallah akan lanjut membahas apa yang dikatakan oleh Al Imam Abu Jafar at-Tahawi di dalam risalahnya al-Akqidah At Thaahawiyah yang disyarah secara ringkas oleh Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah dengan judul Atlim. Qat almukhtasarah ala matni al-aqidah ata thaahahawiyah.
(03:04) Bahasan berikutnya adalah perkataan al Imam Abu Jafar at-Thawi. Wahua muta’alin anil abdadi wal andad. Dan Allah maha tinggi anil abdad dari para penentang. dari para lawan wal andad dan maha tinggi dari para tandingan. Ini merupakan salah satu yang dikemuakan oleh al Imam at Thaahawi tentang akidah beliau yang merupakan akidah ahlusunah wal jamaah.
(03:47) bahwa Allah itu mutaalin maha tinggi. Dan yang dipergunakan oleh beliau adalah lafaz syar’i yang ada dalam kitabullah atau ada dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atau ada di dalam kitabullah dan sunah Rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Kayak lafaz muta’alin, lafaz fauqo di atas, lafaz istawa, itu semuanya adalah lafaz-lafaz, kalimat-kalimat yang syar’i.
(04:27) Jadi kalau berbicara tentang Allah Subhanahu wa taala memang kita seharusnya menggunakan kalimat-kalimat yang syar’i yang Allah sebutkan untuk dirinya baik sebagai nama, sebagai sifat atau pemberitaan. Beliau mengatakan wahua muta’alin. Allah maha tinggi. Anil abdad wal andad. Dijelaskan oleh Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah.
(05:00) Mutaalin a murtafi bidzatihi waqadrihi waqahrihiil abdadi wal andad. Allah maha tinggi zatnya, qadrnya dan qahrnya. Maha tinggi zatnya. Artinya Allah zat-Nya ada di atas segala sesuatu. ada di atas segenap makhluknya. Dia ada secara khusus di atas arsynya. Dan tidak ada yang ada di atas Allah. Tidak ada yang sejajar dengan Allah Subhanahu wa taala sesuatu.
(05:47) Dan itu dibuktikan dalam kitabullah. Sunah Rasulullah, ijma, akal dan fitrah. Semuanya mengakui bahwa Allah maha tinggi, ada di atas segenap makhluknya. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa sejajar dengan Allah Subhanahu wa taala. Itu ulu dzat, maha tinggi zatnya. Juga ulu qadr, maha tinggi qadrnya. Artinya maha tinggi kedudukan Allah Subhanahu wa taala, maha tinggi keluhuran Allah Subhanahu wa taala, maha tinggi kemuliaan Allah Subhanahu wa taala.
(06:35) Tidak ada satuun di antara makhluknya yang menyerupai kedudukan Allah Subhanahu wa taala. Dalam ayat disebutkan, walillahi almatsalul a’la. Hanya kepunyaan Allah saja sifat yang maha tinggi. Uluwul qahr. Yang ketiga adalah ulu qahr. Maha tinggi kekuasaannya. Jadi Allah menguasai segenap makhluknya. Tidak ada satuun di antara makhluk yang keluar dari kekuasaan Allah dan dari qaher Allah. Wahual qoahiru fauqo ibadi.
(07:27) Dia yang maha kuasa di atas segenap hamba-Nya. Jadi inilah yang dimaksudkan dengan Allah Maha Tinggi. Maha tinggi apanya? Zatnya maha tinggi karena dia ada di atas segenap makhluknya. Kedudukannya maha tinggi. Karena kemuliaan Allah sifat-sifatnya tidak ada yang bisa menyamainya. Juga kekuasaan Allah maha tinggi. Tidak ada yang serupa dengan Allah.
(07:58) Jadi Allah Maha Tinggi dari segenap lawan yang dijadikan oleh orang-orang musyrikin sebagai lawan Allah. Maka tidak ada lawan-lawan yang bisa menandingi Allah Subhanahu wa taala. Juga maha tinggi dari tandingan-tandingannya. Artinya tidak ada tandingan yang bisa menyerupai Allah Subhanahu wa taala. Fal andad.
(08:33) Andad disebutkan di sini anil abdad wal andad. Maha tinggi dari penentang-penentang dari dan dari tandingan-tandingannya. Andat itu adalah alamsal was wasyubaha w nudara. Andzat itu adalah yang semisal dengan Allah, yang serupa dan yang menyerupai Allah. Tidak ada satuun yang bisa semisal, serupa dan yang menyamai Allah subhanahu wa taala.
(09:13) Allah subhanahu wa taala laisa lahu nadzir. Tidak ada yang menandinginya. Waais lahuil wala syabih. Tidak ada yang menyamai dan tidak ada yang menyerupainya. Itu yang disebutkan oleh Syekh Salh Al Fauzan. Dan itu seperti yang sudah kita kemukakan di muka bahwa Allah sendiri mengatakan laisa kamitlihi saaiun.
(09:46) Tidak ada suatuun yang serupa dengan Allah juga. Dalam surah Al-Ikhlas Allah berfirman, “Walam yakul lahu kufuwan ahad.” Tidak ada seorang pun yang menyamai Allah subhanahu wa taala. Al Imam At Thahawi menyebutkan, “Muta’alin anil addad wal andad.” Dan kalimat muta’alin ini ada di dalam kitabullah atau di dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(10:18) Fala ahada yusyarikullah wala yusyabihuhu wala yusawihi jalla waala. Maka tidak ada seorang pun yang menjadi sekutu Allah yang menyamai Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa menyerupai Allah. Wahadza min uluwi qadrihi waqahrihi. Dan ini termasuk maha tingginya kedudukan dan maha kuasanya Allah Subhanahu wa taala. Wahual aliyu bidzatihi fauqo makhluqatihi.
(10:54) Dan Allah maha tinggi zatnya di atas semua makhluknya. Ini pengertian andad. Tandingan-tandingan yang dianggap serupa, yang dianggap sama, yang dianggap setanding oleh para musyrikin itu tidak akan ada yang bisa menyamai kedudukan Allah. Ammaldad. Adapun azdad yang disebutkan oleh Imam Athawi di sini bahwa Allah maha tinggi dari para penentang. fahum almuariduna lahu.
(11:32) Yang dimaksudkan dengan adad adalah orang-orang yang menentang Allah Subhanahu wa taala yang menjadi lawan Allah. Fallahu laisa lahu muarid. Allah tidak ada yang bisa menentangnya. Wala yudduhu ahadun min khalqihi. Tidak ada seorang pun di antara makhluknya yang bisa melawan Allah. Finnahu id ar amron. Fala yumkin liahadin yarid waamnaa amrahu subhanahu wa taala.
(12:06) Kalau Allah menghendaki suatu perkara terjadi, kalau Allah menghendaki suatu perkara terjadi maka tidak mungkin ada siapapun yang bisa menentang dan menghalangi perkara yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Wa ar fala ahada yamna. Kalau Allah ingin untuk memberi, maka tidak ada siapapun yang bisa menghalanginya. Waid ar manan lin fala ahada y.
(12:44) Kalau Allah menghendaki untuk menghalangi terjadinya sesuatu, kalau Allah menghalangi tidak mau memberikan sesuatu, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikannya. Seperti dalam hadis, la mani lima ait wala lima mana. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang engkau berikan ya Allah. Dan tidak ada yang bisa memberi apa yang engkau cegah ya Allah.
(13:21) Ini penggalan hadis yang diriwayatkan oleh Al Imam Albukhari dan Imam Muslim dari hadis ee yang diriwayatkan dari Warrad katib almughirah ibni Sy’bah Warrad ee tukang tulis Almughirah Ibnu Sy’bah. Beliau mengatakan, “Amla alaiya almughiratu ibnu subbata fi kitabin ila Muawiyah almughirah ibnu Sybah menyuruh aku menulis satu surat kepada Muawiyah yang isinya anan Nabi sallallahu alaihi wasallam yaakul fiuri kulli bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam pada setiap di belakang salat fardu itu mengatakan Nabi berdoa
(14:30) lailahaillallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahua ala kulliin qodir allahumma alad. Jadi tulisan ini disampaikan kepada Muawiyah menjelaskan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam pada setiap di belakang salat fardu berdoa mengajarkan kita berdoa dengan kalimat ini, doa ini lailahaillallah.
(15:14) yang artinya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah wahdahu. Hanya Dia saja la syarikalah tidak ada sekutu baginya. Lahul mulku walahul hamdu. Hanya kepunyaan Allah kekuasaan dan hanya kepunyaan Allah pujian. Wahua alain qir. Dan dia Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah la tidak ada yang bisa menghalangi apa yang engkau berikan w dan tidak ada yang bisa memberi apa yang engkau halangi, apa yang engkau cegah.
(15:55) Wfaal jadal jad. Dan kekayaan seseorang itu tidak akan bisa memberi manfaat kepada pemiliknya daripadamu ya Allah. Artinya manfaat kekayaan itu hanya datang dari Allah Subhanahu wa taala. Dan kekayaan seseorang itu tidak akan bisa memberi manfaat apa-apa kepada pemiliknya kecuali jika Allah memberi manfaat kepadanya.
(16:28) Jadi ee inilah yang dimaksudkan bahwa Allah tidak ada yang bisa menghalangi, tidak ada penentang, tidak ada yang bisa menentangnya, tidak ada yang bisa menjadi tandingan bagi Allah Subhanahu wa taala. Meskipun kaum musyrikin membuat tandingan-tandingan dan berusaha menantang serta melawan Allah Subhanahu wa taala.
(16:54) Karena Allah itu adalah mutaalin anil abdad wal andad. Allah maha tinggi dari para penentang dan dari para ee tandingan. Qa taala. Allah Subhanahu wa taala berfirman menegaskan apa yang dijelaskan di sini dibawakan oleh Syekh Sal Fauan ayat ini surah Fatir ayat 2. Ma yaftahillahu linasi mir rahmatin fala mumsikalaha wama yumsik fala mursila lahu min ba’dih wahual azizul hakim.
(17:34) anugerah rahmat apa saja yang datang ee anugerah rahmat dari Allah Subhanahu wa taala yang Allah berikan kepada manusia maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Jadi ketika Allah Subhanahu wa taala memberikan rahmat kepada manusia, maka tidak ada siapun yang bisa menghalangi atau menahan rahmat itu. Wama yumsik.
(18:10) Dan apa yang Allah tahan fala mursil lahu min ba’dih. Maka tidak ada yang bisa melepaskannya sesudahnya. Wahual azizul hakim. Dan Allah maha perkasa dan maha bijaksana. Allah maha perkasa tapi keperkasaannya itu adalah disertai dengan kebijaksanaan. Bijaksanaannya ee bijaksananya Allah Subhanahu wa taala bukan karena lemah, tapi karena Allah maha perkasa. Allah maha perkasa tapi Allah maha bijaksana.
(18:48) Fala nidillah. Maka tidak ada tandingan bagi Allah walaid lahu dan tidak ada lawan bagi Allah fima yuru bihi waanhahu terkait dengan apa yang Allah perintahkan dan terkait dengan apa yang Allah larang. Jadi tidak ada lawan, tidak ada tandingan ketika Allah memerintahkan, ketika Allah melarang.
(19:23) Tidak ada yang bisa menghalangi perintah Allah dan tidak ada yang bisa menghalangi larangan Allah. Khilafal makhluqin. Ini berbeda dengan para makhluk. siapapun makhluk itu. Fayujad man yunaziuhum wqifuidda tanfidzi awamirihim. Maka makhluk itu tetap ada saja. Ketika makhluk nyuruh, ketika makhluk melarang, tetap ada saja yang menentangnya. tetap ada saja yang berdiri untuk menghalangi pelaksanaan perintah dari makhluk. Pasti ada dan itu bisa.
(20:07) Fal makhluqat kulluha laha musyarik. Maka makhluk semuanya itu punya musyarik, punya yang membantunya, punya sekutu. Fal khalqu yatasyabahun. Maka makhluk semuanya itu mirip. meskipun tidak sama persis tapi mirip fil ilmi baik ilmunya wal ismi maupun namanya wafi kulliin dan dalam segala sesuatu fil asad dalam fisiknya wasifat dalam sifatnya semuanya mirip ilmunya kurang lebih sama maksudnya tetap punya kekurangan, tetap tidak sempurna Namanya juga seperti itu.
(20:56) Dalam segala hal makhluk itu mirip. Fisiknya juga kurang lebih sama. Meskipun mungkin beda bentuk antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain, tapi punya kemiripan dalam masalah kelemahan, dalam masalah ketidaksempurnaan. Was siifat. Demikian juga sifat-sifatnya. Waastarikuna fil af’al wal amlak.
(21:23) Mereka ee istiraq, punya kebersamaan dalam perbuatan-perbuatan, punya kebersamaan dalam kepemilikan kepemilikan. Sedangkan Allah Subhanahu wa taala la yusbihuhu ahadun wala yusyarikuhu ahadun. Allah subhanahu wa taala tidak ada siapapun yang serupa dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang bisa menjadi sekutu Allah.
(21:51) Subhanahu wa taala. Ini maksud dari perkataan al Imam Athawi wahua mutaalinil addad wal andad. Allah maha tinggi dari para penentang dan dari para tandingan. Sekali lagi kita mestinya kita itu selalu ingat untuk mempergunakan kalimat-kalimat syar’i. Apalagi berbicara tentang Allah subhanahu wa taala tidak menggunakan kalimat-kalimat yang tidak ada ketentuannya dalam Alkitab maupun sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. tidak isbat dan tidak nafi.
(22:35) Maksudnya baik penetapannya tidak ada dalam Al-Qur’an dan sunah juga penafiannya tidak ada di dalam Al-Qur’an Asunah. Kata-kata yang ee mengandung berbagai macam makna. Misalnya istilah arah, istilah jisim. itu adalah kalimat-kalimat yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah penetapannya maupun penafiannya. Nah, jadi kita terkait dengan nama atau sifat Allah atau perbuatan Allah atau yang terkait dengan berita-berita tentang Allah itu kita harusnya menggunakan kalimat-kalimat yang syar’i.
(23:23) Misalnya muta’alin, misalnya istiwa, misalnya fauqo itu semuanya ada di dalam nas, di dalam Al-Qur’an maupun sunah. Berikutnya, Al Imam Abu Jafar at-Tahawi rahimahullah mengatakan ini kembali lagi kepada masalah qada dan qadar untuk menegaskan karena masalah iman kepada qada dan qadar itu adalah masalah yang mutlak.
(24:02) La rqaihi wala muaqiba hukmihi wala golba liamrihi. Tidak ada yang bisa menolak ketetapan Allah. Tidak ada yang bisa menolak hukum Allah, hukum kauni Allah. W golbahi. Dan tidak ada yang bisa mengalahkan keputusan Allah. Fallahu kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah maka Allah idza qod amron fainnama yaquulu lahu kun fayakun.
(24:45) Sebagaimana disebutkan dalam surah Maryam ayat 35. Apabila Allah memutuskan suatu perkara, maka Allah hanya mengatakan kepadanya, “Kun, jadilah.” Fayakun, maka jadilah apa yang dikehendaki jadi oleh Allah. Allah tinggal mengatakan, memerintahkan dengan kalimatnya, “Kun, jadilah engkau sesuatu yang diinginkan terjadi oleh Allah.” Fayakun, maka jadilah sesuatu yang diinginkan oleh Allah.
(25:20) Dalam ayat lain surah Arra’ad ayat 41, Allah berfirman, “La muaqiba lihukmihi wahua sariul hisab.” Tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah. Kalau Allah sudah menetapkan hukumnya, maka tidak ada yang bisa menolak ketetapan hukum Allah. Wahua sariul hisab. Dan Allah maha cepat penghitungannya. Fallahu azza wa jalla idza qada amron.
(25:59) Maka Allah azza wa jalla jika memutuskan suatu perkara. Kalau Allah sudah mengambil keputusan terhadap suatu perkara fala yastu ahadunquahu. Maka tidak ada seorang pun yang bisa membatalkannya atau menolaknya. bikilafil makhluk ini berbeda dengan makhluk faqad yattolu tanfidu hukmi waq yunqad maka makhluk bisa saja keputusan hukumnya itu dibatalkan dan ditolak ini makhluk jadi makhluk bagaimanapun lemah sedangkan Allah Subhanahu wa taala maha sempurna Wamrii tidak ada yang bisa mengalahkan keputusan Allah Subhanahu wa taala. Waidza amaro bisai la ahada yaglibu
(27:00) awamirhu alkuniyata. Kalau Allah menetapkan suatu perkara, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan keputusan takdir Allah Subhanahu wa taala. Ketetapan yang bersifat kauni dari Allah Subhanahu wa taala. Jadi Allah kalau sudah memutuskan perkara takdir maka tidak bisa dibantah. Pasti terjadi. Tawuan a karha.
(27:36) Senang atau tidak senang pasti akan terjadi kalau itu sudah merupakan keputusan takdir Allah. Amma awam syarih. Adapun ketetapan-ketetapan syari dari Allah. faqad tuattol waq tukalaf maka mungkin ada orang yang berusaha untuk membatalkannya mungkin ada orang yang berusaha untuk menentangnya meskipun seharusnya meskipun sesungguhnya tidak ada yang bisa menentang keputusan Allah hatta keputusan syariat Allah enggak bisa ditentang tapi ini adalah untuk ujian bagi manusia Ya.
(28:20) Apakah orang menerima ketetapan syariat Allah atau menentang syariat Allah? Dia bisa melakukan penentangan terhadap syariat Allah, tapi tidak bisa membatalkan syariat Allah dan pasti akan mendapatkan hukuman dari Allah ketika berusaha untuk menentang ketetapan syariat Allah. Inilah ujian di dunia. Allah menguji kita sekalian.
(28:47) manusia ketika ada ketetapan syariat Allah, apakah kita taat sehingga kita akan mendapatkan pahala ataukah seseorang akan tidak taat maka dia akan mendapatkan iqab lah. Jadi ketetapan syariat Allah adalah ketetapan yang bisa dibantah oleh seseorang. Maksudnya dia bisa membantah meskipun dia akan mendapatkan hukuman dari Allah. Subhanahu wa taala.
(29:22) Berikutnya, al Imam at-Tahawi rahimahullah mengatakan, “Amanna bidzalika kullih wa aqonna anna kullan minih.” Kami beriman terhadap itu semua dan kami yakin semua itu dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Artinya kami beriman terhadap itu semua. Yang mana qul ma sabaqikruhu min awalil aqidah ila akhiriha.
(30:00) Artinya semua apa yang sudah disebutkan oleh al Imam Thaahawi ee dari apa yang beliau pertama kali katakan tentang akidah sampai akhirnya. Jadi semua masalah akidah dari pertama hingga akhir itu kata Imam Thahawi, “Kami mengimani semuanya. Nadinullah bihi nadinu lillahi bihi.” Kami beragama kepada Allah dengan ee akidah yang kami yakini ini. Laaisa mujarad kalam bialsinatina.
(30:37) Bukan sekedar omongan. Tapi itu berangkat dari hati kami. Jadi semua yang telah dikemukahkan oleh al Imam Thahawi rahimahullah dari awal hingga akhir itu semuanya kata beliau, “Kami beriman dan kami yakini.” bukan sekedar omong kosong, tapi itu berangkat dari kedalaman hati kami. Itulah pernyataan al Imam at Thaahawi rahimahullah subhanahu wa ta rahimahullah terkait dengan akidah beliau yang beliau katakan sebagai akidah ahlusunah wal jamaah.
(31:24) Berikutnya beliau rahimahullah mengatakan, “Wa anna muhammadan abduhu al mustofa wa nabiyuhul muztaba wa rasuluh. Dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah al mustofa yang telah dipilihnya. Wa nabiyuhul muztaba dan nabinya yang telah dipilihnya. dan rasul-Nya. Jadi, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ini keyakinan yang disampaikan oleh Imam Thahawi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah, bahwa Nabi Muhammad adalah nabi Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
(32:13) Lamma bayana asyahu rahimahullah fi awali kalamihi ma yajib fi makifatillah waqad annah al mustahiq lilibati siw waahu mutasiun kamalil jalal allati hua mutasi biha Abada lamma bayana hza wahahu. Ketika al Imam at-Tahawi rahimahullah di awal perkataannya menjelaskan kewajiban memahami Allah Subhanahu wa taala, kewajiban beriktikad, kewajiban berakidah, berkeyakinan bahwa Allah adalah Rabb yang berhak untuk diibadahi.
(33:15) Tidak ada yang selain Allah berhak untuk diibadahi. Dan Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna, memiliki sifat-sifat yang luhur yang Allah memiliki sifat itu sejak dahulu dan selama-lamanya. Ketika beliau sudah menjelaskan ini tentang Allah Subhanahu wa taala, intaqala, beliau kemudian berpindah untuk menjelaskan ila ma yajibaduhu fir rasuli alaihiatu wasalam.
(33:51) Beliau berpindah menjelaskan apa yang wajib untuk diyakini terkait dengan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi pertama beliau berbicara tentang Allah, tentang akidah kita tentang Allah Subhanahu wa taala bahwa Allah adalah Rabb kulli. Allah adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Yang selainnya tidak berhak untuk diibadahi.
(34:24) Dan beliau memiliki sifat-sifat sempurna. Azalan wa abada. Berikutnya beliau menjelaskan tentang apa kewajiban kita terkait dengan ee keharusan meyakini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka selanjutnya beliau mengatakan wa inna Muhammadan abduhul mustofa dan seterusnya. H atfun ala awalil kalam. Ini adalah ataf.
(34:56) Dikaitkan dengan perkataan beliau di awal. yaitu ketika beliau mengatakan di awal perkataannya, naquulu fi tauhidillah. Mudah-mudahan kita masih ingat. Naquulu fi tauhidillahqidin bfiqillah innallaha wahidun la syarikalah dan seterusnya. Maka di sini beliau kemudian mengatakan wa inna muhammadan abduhul mustofa. Kami berkata terkait dengan tauhidullah dalam keadaan yakin dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala bahwa Allah itu esa dan seterusnya.
(35:41) Dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba-Nya yang merupakan pilihan Allah dan seterusnya. Jadi ini adalah kewajiban yang kedua setelah kewajiban yang pertama yaitu terkait dengan Allah Subhanahu wa taala. Falabudda mintiqadi hadza. Maka harus meyakini masalah ini.
(36:14) Kama nashadu lillahi bil uluhiyah kadalika nashadu lir rasul sallallahu alaihi wasallam bir risalah. Sebagaimana kita bersaksi hanya kepunyaan Allah saja sifat untuk disembah. Demikian juga kita bersaksi bahwa Rasulullah adalah yang diutus oleh Allah Subhanahu wa taala. Untuk apa Rasulullah diutus? Untuk menyampaikan risalah Allah Subhanahu wa taala.
(36:44) Walidzalika fasyahadatan daiman mutalazimatan. Maka dua kalimah syahadat yaitu ashadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah mutalazimatan itu selalu berkaitan satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Karena kalau kita yakin dan beriman kepada Allah, maka kita harus yakin dan beriman bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Hamba dan utusan Allah.
(37:22) Wa anna muhammadan kata beliau. Wa anna muhammadan dan sesungguhnya Muhammad hadza ismuhu alaihi shalatu wassalam almasyhur bihi. Nama Muhammad adalah nama beliau alaihi shalatu wasalam yang masyhur. Nama ini adalah nama yang masyhur dan disebutkan dalam Al-Qur’an. Di antaranya di dalam surah al-ahzab ayat 40.
(37:57) Maana Muhammadun aba ahadim mir rijalikum wakin rasulallah. Bukanlah Muhammad ayah dari seseorang di antara kalian. Yang menjadi syahid di sini adalah kata nama Muhammad. Bukanlah Muhammad ayah seseorang di antara kalian, akan tetapi dia adalah utusan Allah. Jadi karena Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dulu pernah mengangkat Zaid Ibnu Haritah sebagai anak angkat yang kemudian itu dinyatakan oleh Allah bukan tidak tidak boleh dibinkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam karena Zaid bukan putra Nabi Nabi Muhammad sallallahu alaihi
(38:59) wasallam. Maka dengan ayat ini tidak lagi disebut bahwa Zaid itu adalah Ibnu Muhammad. Dan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sendiri itu tidak ada seorang putra laki-laki pun yang hidup sampai dewasa. Beliau mempunyai anak putra laki-laki bernama Alqasim juga At Thayyib juga At Thahir dari Khadijah radhiallahu anha. Tapi semuanya wafat pada saat masih kecil.
(39:45) Kemudian lahir juga Ibrahim dari Mariah alqibtiyah itu juga beliau meninggal pada saat masih dalam susuan. Ini putra laki-laki Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam tidak ada yang hidup sampai dewasa. Adapun putri-putri Nabi sallallahu alaihi wasallam itu dari Khadijah ada empat putri. yaitu Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum serta Fatimah radhiallahu anhun ajmain.
(40:27) Tapi yang ketiga, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum wafat pada saat Nabi sallallahu alaihi wasallam masih hidup. Yang tertinggal, yang masih hidup berikutnya sesudah Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah Fatimah radhiallahu anha. Tapi beliau pun kemudian wafat. ee kurang lebih ee kurang lebih 6 bulan sesudah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam wafat.
(40:56) Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan dalam ayat ini, makana Muhammadun aba ahadim mirijalikum. Artinya ayat ini menunjukkan bahwa nama beliau adalah Muhammad. Begitu juga dalam ayat yang lain disebutkan nama beliau adalah Muhammad. Dalam surah Muhammad ayat 2.
(41:21) Walladzina amanu wailus shihat waamanu bima nuzzila ala Muhammadin wahual haqqubihim kafarumatihim wa aslahaum. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan beriman kepada yang diturunkan kepada Muhammad. Beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad. Di sini Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam disebut oleh Allah namanya Muhammad.
(41:49) Sedangkan yang diturunkan kepada Muhammad adalah al-Haq. Berasal dari Rabb-Nya. Orang-orang yang demikian itu dihapuskan keburukan-keburukannya, doa-doanya. Dan Allah memperbaiki mereka juga dalam firman Allah Taala yang lain misalnya surah Al-Fath ayat 29 Allah menyebutkan Muhammadun Rasulullah walladzina maah ila akhiril ayah.
(42:22) Muhammad itu adalah utusan Allah. Jadi nama beliau, utusan Allah Rasulullah, nabi kita namanya adalah Muhammad. itu nama yang masyhur. Begitu juga ada nama Ahmad di dalam Al-Qur’an. Salah satu nama beliau yang dikenal adalah Ahmad. Disebutkan dalam Al-Qur’an ketika Allah berfirman tentang Isa alaihiatu wasalam.
(42:53) Ya bani israil inni rasulullahi ilaikum musdiq lima baina yadya minat taurati wa mubasyir birasuli ba’di ismuhu ahmad surat saf ayat 6 wahai bani israil sesungguhnya aku adalah rasul Allah untuk kalian semua membenarkan apa yang ada di hadapanku yaitu Taurat jadi aku diutus oleh Allah membenarkan kitab Taurat yang kitab Taurat itu turun kepada Nabi Musa alaihialatu wasalam.
(43:31) Ini adalah perkataan Nabi Isa yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Dan aku utusan Allah untuk kalian yang memberikan kabar gembira akan datangnya seorang rasul yang datang sesudahku namanya Ahmad. Jadi salah satu nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. adalah Ahmad. Ada nama Muhammad, ada nama Ahmad. Dan nama-nama Nabi sallallahu alaihi wasallam itu banyak.
(44:03) Kata Syekh Saluzan, walahu asma jaat fis sunah. Beliau punya nama-nama telah disebutkan di dalam sunah. Zakaroha Ibnul Qayyim fi kitabihi jalaul afham. Al Imam Alb al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Jalaul Afham. Yang jelas ee nama-nama Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ada nama Muhammad itu yang masyhur dan paling masyhur.
(44:28) Kemudian juga ada nama Ahmad. Ada nama nabi yang lain misalnya adalah almahi alladzi yamhullahu bihi alkufra almahi. Dalam hadis disebutkan di antara hadis yang menyebutkan nama-nama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan juga Muslim an Zubair ibn Mut’im radhiallahu anhu qal qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dari Zubair Ibnu Mut’im radhiallahu anhu beliau mengatakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda li khamsa Satu asma.
(45:15) Saya punya lima nama. Ana Muhammad. Muhammad wa Ahmad wa anal mahi. Dan aku adalah almahi alladzi yamhullahu bihil kufro. Yangu Allah menghapuskan kekafiran terutama di Jasirah Arab. Wa anal hasir alladzi yuhsyarunas ala qodami wa analqib. Aku juga alhasir yang manusia nanti digiring sesudahku dikumpulkan dan digiring dibangkitkan kembali digiring dikumpulkan sesudahku.
(45:59) Wa anal aqib dan aku adalah al-aqib. itu di antara nama-nama Allah dan nama eh nama-nama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Saya ulangi itu di antara nama-nama Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tapi sesungguhnya nama Rasulullah itu tidak terbatas pada lima saja sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama.
(46:25) Karena ada hadis-hadis, riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa nama atau julukan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu lebih dari itu. Almahi Allah menghapuskan dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kekafiran. Alhasyir ee Allah menggirim mengumpulkan manusia sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(46:45) Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah al-aqib. Karena sesudahnya tidak ada nabi lagi. Karena nabi adalah nabi yang terakhir. Nah, kita perlu mengenal nama-nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bukan sebagai hafalan saja, tapi kita pahami Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan juga nama-nama ini penting untuk kita hafalkan. dan kita ingat-ingat serta kita pahami maknanya.
(47:22) Karena kalau Nabi namanya itu sesuai dengan sifatnya, sesuai dengan kedudukannya. Ada julukan kepada Nabi Muhammad juga disebut sebagai Nabiut Taubah. Karena beliau ee yang membuka pintu taubat bagi seluruh alam semesta dari dosa-dosa para hamba ketika mereka bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala. Juga disebutkan sebagai nabiyur rahmah.
(47:56) Karena nabi itu diutus sebagai rahmatan lil alamin. ee ketika kita paham nama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, kita akan semakin memuliakan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan akan semakin menghormati dan menjadikan beliau sallallahu alaihi wasallam sebagai panutan kita dalam kehidupan beragama kita dalam berakhlak, bersopan santun, bermuamalah, berakidah, beribadah, berdakwah, dan seterusnya.
(48:33) Kita ikuti jejak Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Wat taarufu alar rasuli min wajibatiddin wamin usulil Islam. memahami, mengenal dan memahami Rasulullah sallallahu alaihi wasallam termasuk kewajiban agama, termasuk pokok Islam. Bagaimana tidak pokok karena hal yang akan diujikan nanti setelah manusia meninggal dunia di alam kuburnya? Pertanyaan yang akan diujikan oleh Allah melalui dua orang malaikat.
(49:18) Pertama adalah tentang Allah, yang kedua tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Yang ketiga tentang dinul Islam. Jadi tiga pertanyaan pokok ini akan ditanyakan kepada setiap orang yang mati. Apakah dia akan bisa menjawab atau tidak menjawab tergantung apakah orang beriman kepada Allah.
(49:43) kepada Rasulullah dan kepada dinul Islam. Waqad qala asyikhu Muhammad ibn Abdul Wahab fiatil usul. Dan Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab rahimahullah di dalam kitabnya Salatatul Ushul beliau menyebutkan al-aslul awal makrifatullah. Pokok yang pertama adalah memahami Allah makrifat mengenal Allah. makrifatu nabiihi.
(50:15) Yang kedua makrifat mengenal nabinya sallallahu alaihi wasallam. Islam bil adillah. Dan yang ketiga memahami dan makrifat kepada dinul islam semuanya harus berdasarkan dalil, bukan hanya berdasarkan katanya. Mengenal Allah sampai pada meyakini berdasarkan dalil. bukan berdasarkan katanya dan katanya, tapi berdasarkan kata Allah dan Rasul-Nya.
(50:54) Memahami Nabi sallallahu alaihi wasallam juga berdasarkan dalil, berdasarkan apa yang dikatakan oleh Allah dan dikatakan oleh Rasulullah. Mengenal dinul Islam itu juga harus berdasarkan dalil apa yang ada dalam Al-Qur’an dan sunah. Kalau memahami Allah Subhanahu wa taala bisa menggunakan ayat kauniah. Mengenal Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam juga bisa menggunakan ayat kauniah.
(51:21) Artinya tentang alam semesta. Kehebatan alam semesta ini akan membawa kita semakin beriman kepada Allah, semakin bertakwa kepada Allah. juga ketika kita melihat fakta-fakta yang ada di lapangan itu akan menambah keyakinan kita akan kebenaran Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Tapi yang paling pokok dalil itu adalah dalil ayat-ayat Al-Qur’an dan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(51:57) Adapun memahami dinul Islam maka dalilnya adalah alkitab wasunah. Bukan berdasarkan akal. Akal itu mengikuti Al-Qur’an dan sunah. Kama yajibu alaika makrifatullah kadalika yajibu alika makrifatu nabiihi wafatu dinil islam bil adillah. Maka sebagaimana wajib bagi kita untuk memahami dan mengenal Allah, maka wajib bagi kita untuk mengenal dan memahami Nabinya Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(52:30) Dan wajib pula bagi kita untuk mengenal dan memahami dinul Islam berdasarkan dalil-dalilnya. Hadi usul salatun. Ini adalah tiga pokok. Wahti yusaluhal mayit idrihi. Tiga hal inilah yang nanti seorang mayit akan ditanya ketika dia diletakkan di kuburnya. Jadi jangan main-main dengan pertanyaan kubur ini. Ini masalah yang sangat pokok. Setiap orang pasti akan diuji.
(53:12) Istilah hadis akan difitnah, istilah syar’i akan difitnah. Maksudnya akan diuji dengan pertanyaan-pertanyaan oleh dua orang malaikat Allah yang diutus khusus untuk menanyakan hal ini kepada setiap yang mati setelah dia di alam kubur. Maka kita harus paham tentang Allah. Dan secara garis besar sudah dijelaskan oleh Al Imam At Thaahawi dan lebih detail dijelaskan oleh Syekh Salh Fauzan dan banyak para ulama yang telah menjelaskannya.
(53:49) Juga mengenal dan meyakini Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah. Ini yang sedang kita bahas bersama. Wa anna Muhammadan abduhu al mustofa. Dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah yang dipilih oleh Allah. Maka perkataan al Imam Thahawi berikutnya, abduhu, Nabi Muhammad itu adalah hamba Allah. Fahua Abdullahi azza waalla. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam itu adalah hamba Allah.
(54:24) Beliau adalah seorang hamba. Hamba Allah. Waaisau minal uluhiyah saaiun. Beliau tidak memiliki hak untuk disembah sama sekali. Nabi Muhammad tidak punya hak untuk diibadahi dan tidak punya hak untuk disembah sama sekali. Wala minar rububiyati saiun. Juga tidak punya hak rububiyah sama sekali. Hak mencipta tidak ada.
(54:55) Kalau beliau memerintah karena Allah memerintahkannya. tidak punya hak rububiyah, enggak bisa memberikan rezeki. Nabi Muhammad tidak bisa memberikan rezeki, tidak bisa ee menciptakan. Wa innama hua abdullah wa rasuluh. Tapi beliau adalah seorang hamba Allah dan sekaligus utusan Allah. Mtamirun biawamirihi wa muntahin an nawahihi. Beliau melaksanakan apa yang menjadi perintah-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah. Berhenti dari setiap apa yang dilarang oleh Allah.
(55:34) Muballighun anillah. Beliau menyampaikan dari Allah sebagai penyampai muballigh dari Allah. Wah fihi raddun alal gulu fihi alaihiatu wasalam. Di sini terdapat bantahan terhadap sikap ghulu, sikap berlebihan terhadap Nabi alaihialatu wasalam.
(56:03) Jadi dalam perkataan al Imam at Thaahawi, abduhu ini sebagai bantahan adanya sikap berlebihan, melebih-lebihkan kedudukan Nabi sebagai hamba. Jadi seakan-akan Nabi sejajar kedudukannya dianggap oleh sebagian orang sejajar kedudukannya seperti Allah. dibantah oleh al Imam Attahawi dengan pernyataan beliau, abduhu Nabi Muhammad adalah hamba Allah, bukan Tuhan dan tidak pernah punya hak untuk diibadahi dan tidak punya ee hak memiliki rububiyah sama sekali.
(56:44) Lianna hunaka man yaglun fir rasul alaihialatu wasalam. Karena di sana ada orang-orang yang hulu berlebihan sikapnya terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Waaj’aluna lahu syaian minar rububiyah ail uluhiyah. Mereka menjadikan Nabi Muhammad punya sesuatu dari rububiyah Allah.
(57:13) Dianggapnya ee mampu menjalankan alam semesta, bisa menghentikan peredaran alam semesta. atau bisa mendatangkan rezeki atau bisa menghidupkan orang mati awil uluhiyah atau mereka menjadikan Nabi Muhammad punya sesuatu daripada hak untuk diibadahi. Wad’unahu maallah. Dan banyak orang yang berdoa kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(57:47) Di samping berdoa kepada Allah, ada orang-orang yang menyembah Rasulullah bahkan kuburannya di samping menyembah Allah. Wahad guluwun. Ini adalah sikap ghulu, sikap berlebihan. Wali iyadzubillah. Tapi waktunya sudah habis. kita ee akhiri sampai sekian saja dulu. Ee setengah jalan nanti kita lanjut dengan mengulangi sedikit ee terkait dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai hamba.
(58:30) Ini saja yang bisa kita sampaikan pada malam hari ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Wasallallahu ala nabina Muhammad. wa ala alihi wasahbihi ajmain. Iya. Jazakallah khair kami sampaikan kepada Ustaz Ahmad Fais yang telah memberikan syarah dan penjelasan yang ee begitu sangat ee jelas dan kita berikan kesempatan bagi khotfillah di dalam pembahasan materi syarah kita thahawiyah ini di 021 8236543.
(59:19) Bagi Anda yang bertanya silakan berihat pembahasan di kesempatan malam ini dan kami akan angkat pertanyaan yang masuk via chat WhatsApp terlebih dahulu Ustaz. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee barakallah fik ya, Ustaz. Bagaimanakah pemahaman dari keberadaan Allah berada di mana-mana dan apakah ee ini merupakan pemahaman dari akidah Asy’ariyah? Mohon nasihatnya. Jazakallah khair.
(59:50) Ee kata di mana-mana atau dalam bahasa Arabnya fi kulli makan. fi kulli makan itu adalah bahasa yang tidak pernah ada penetapannya di dalam Al-Qur’an dan di dalam sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang ada dalam Al-Qur’an. Allah itu ada di atas arsy atau Allah fauqo ibadihi. Allah ada di atas arsy.
(1:00:25) Allah di atas hamba-hambanya. Wahual qohiru fauqo ibadi arrahmanu alal arsi istawa. Allah arrahman beristiwa di atas arsy. Berada di atas arsy. Dan Allah di atas seluruh makhluknya. Wahualuwal aliyul adzim wahual kabirul muta’al. Misalnya itu adalah kalimat-kalimat yang ada. Jadi istilah Allah ada di mana-mana itu adalah istilah yang baru yang tidak ada yang tidak ada di dalam Al-Qur’an maupun di dalam sunah.
(1:01:10) Mengapa kita tidak kembali kepada istilah yang syari’i saja dan tidak menggunakan istilah-istilah yang baru seperti itu? Ee kalau kalau Allah ada di mana-mana kemungkinannya kan jadi Allah jadi banyak ya. Allah banyak atau Allah terbagi menjadi banyak, terbagi menjadi beberapa bagian yang ada di mana-mana. Tidak bisa. Jadi itu mengandung ee kelemahan-kelemahan yang sangat fatal. Jadi sesungguhnya kita beriman saja bahwa Allah ada di atas.
(1:01:42) Dan dahulu ketika Muawiyah Ibnul Hakam menampar seorang budak wanitanya karena ketika menggembala kambing ada kambingnya yang hilang ditampar oleh Muawiyah. Tapi Muawiyah kemudian menyesal. Kenapa harus menampar? Akhirnya beliau ingin memerdekakan budak ini lalu menyampaikan hal itu kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(1:02:11) Maka Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada Muawiyah untuk mendatangkan budak itu. Lalu ditanya setelah datang, “Ainallah, di mana Allah?” Budak itu menjawab, “Fissama.” Allah ada di atas. Allah fisama. Allah ada di atas. Allah atau maksudnya Allah ada di atas langit. Di atasnya, bukan di langit.
(1:02:39) Di atas langit. Kemudian ditanya lagi, pertanyaan kedua, mana, siapa aku? Kata budak ini, anta Rasulullah. Maka Nabi dengan itu menyatakan bahwa budak ini mukmin dan oleh karena itu bisa dimerdekakan. Diperintahkan Muawiyah untuk memerdekakannya karena budak ini mukmin yang bisa dimerdekakan.
(1:03:09) Jadi, budak itu tidak menjawab Allah ada di mana-mana. Tapi Allah fisama, Allah ada di atas langit atau Allah ada di atas. Dan ini hadis yang sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dan banyak nas yang menjelaskan tentang itu. Wallahuam bawab. Nam ustaz jazakallah khair wabarakallahu fik atas penjelasan dan jawabannya.
(1:03:36) Baik, kami akan angka pertanyaan kembali masih via ee WhatsApp. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah khair wabarakallahuah fik. Ya, Ustaz ee bolehkah kita menyebut Allah dengan kata-kata seperti pangeran atau istilah Gusti Tuhan dan semisalnya? Ustaz, apakah ada pelarangan terkait dengan penamaan penamaan seperti ini atau panggilan-panggilan seperti ini? Nah, ee kalau yang dimaksudkan itu untuk menyatakan bahwa Allah itu maha besar, maha tinggi, dan tidak membuat nama.
(1:04:23) Yang dimaksudkan dengan sebutan itu bukan dianggap itu sebagai nama. Mudah-mudahan itu tidak mengapa. Misalnya ee Tuhan terjemahan daripada Rabb misalnya. Jadi karena sulit menyebutkan istilah Rabb dan susah dipahami oleh orang yang tidak mengerti, kita sebutkan Tuhan. Terjemahan daripada Rabb. Tapi Tuhan bukan nama dari Allah Subhanahu wa taala.
(1:04:57) Dalam keyakinan kita Tuhan bukan nama Allah, tapi itu adalah pengertian daripada Rabb. Misalnya tidak ada bahasa yang lain untuk menyebutkan kalimat yang singkat dari Rabb kecuali Tuhan. Jadi itu adalah untuk menerjemahkan saja sifatnya. Wallahualam. Kalau seperti itu mudah-mudahan tidak mengapa. Nah, Ustaz Jazakallah khair atas penjelasan dan jawabannya. Demikian pendengar atau pemain bertanya. Barakallahu fik.
(1:05:24) Kami angkat kembali pertanyaan selanjutnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee Ustaz bolehkah berdoa kepada Allah subhanahu wa taala dengan menyebut nama-nama Allah subhanahu wa taala secara makna bukan dengan bahasa Arab? Dan bagaimanakah kaidah di dalam ya membaca atau berdoa kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia.
(1:05:52) Nah, ee pertama kita memohon kepada Allah Subhanahu wa taala yang kita tuju adalah zatnya dengan menyebut nama-namanya atau menyebut sifat-sifatnya. Kalau kita tahu nama-namanya, kita sebut nama-namanya. Makanya kita perlu tahu nama-nama Allah Subhanahu wa taala. Mempelajari nama-nama Allah itu sangat penting.
(1:06:15) Dia Rabb kita, dia yang kita sembah, dia yang menciptakan kita. Maka sangat layak bagi kita untuk mengenal nama-nama Allah sehingga kita tidak kesulitan untuk menyebut nama-nama Allah. Kan Allah punya 99 nama 100 – 1 man ahsaakolal jannah. Siapa yang menghitungnya dia akan masuk surga. Maksudnya menghitungnya artinya man hafidaha menjaganya menjaga nama-nama Allah pasti dia akan masuk surga.
(1:06:51) Ee jadi kalau sekarang belum tahu kita perlu belajar untuk semakin tahu. Ketika kita belum tahu kita berdoa kepada Allah dengan menyebut sifat-sifatnya. Sifat-sifat Allah itu terjemahan dari sifat-sifat Allah itu kita ngerti bahasanya maha kuasa. Kadang-kadang kita nyebut nama Allah Alkarim, tapi kita maksudkan kita sedang menyebut sifat Allah yang karim.
(1:07:25) Karim itu nama Allah, tapi karim bisa dimaksudkan sebagai sifat Allah Subhanahu wa taala. Maka boleh. Jadi artinya kita berdoa kepada Allah ee kita yakin dalam hati kita Allah itu maha memberi, maha mengampuni, maha mengasihi. Kan itu terjemahan dari sifat-sifat Allah yang kita kenal. Kan terjemahannya seperti itu.
(1:07:52) Jadi artinya kita ee memahami makna dari sifat-sifat Allah itu supaya kita paham tentang Allah. Ketika kita paham tentang itu, kita berdoa kepada Allah, “Ya Allah yang maha mulia, yang maha rahman, yang maha kasih sayang, engkau mengabulkan doa, boleh berdoa seperti itu. Allah itu maha kasih sayang. Allah itu maha mendengar apa yang dikatakan oleh hambanya.
(1:08:13) Bahkan yang dikatakan oleh hatinya pun Allah maha mendengar.” Tapi kita perlu belajar ee untuk lebih mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya supaya kita semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa taala dan kita jadikan penyebutan nama-nama dan sifat Allah itu sebagai wasilah kita berdoa kepada Allah.
(1:08:41) Karena Allah memerintahkan ee walillahil asmaul husna fad’uhu biha. Dalam surat Ala’raf ayat 180, Allah memiliki nama-nama yang sangat-sangat indah. Allah mensifati nama-namanya sangat indah. Kemudian Allah perintahkan kita, “Udu’uhu biha.” Berdoalah kepada Allah dengan menggunakan nama-nama ini. Berdoa dalam arti kita minta atau berdoa dalam arti kita ibadah semuanya dengan menggunakan nama Allah Subhanahu wa taala. Nam. Alhamdulillah.
(1:09:19) Jazakallah khair ustaz atas penjelasan dan jawabannya. Kami angkat kembali pertanyaan selanjutnya via telepon di 021 8236543. Baik kita angkat kembali. Halo, silakan. Halo. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullah. Dengan siapa Bapak? Di mana? Saya Ustaz dari Mayaya Pamekasan, Madura. Ah, baik. Silakan Bapak pertanyaannya.
(1:09:43) Ini Ustaz yang saya dengar dari mereka-mereka ee Allah itu katanya tidak punya tempat katanya. Nah, hanya begitu. Bukan bukan mengatakan di mana-mana tapi Allah itu tidak punya tempat. Bagaimana Ustaz kalau begitu? Baik, Pak. Insyaallah. Barakallahu fikum. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah khair, Pak. Warakallah fik pemirsa dan pendengar dari Pamekasan. Silakan, Ustaz.
(1:10:16) Iya. Ee lebih baik kita kembali kepada apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah. Arrahmanu ala al arsyi istawa. Allah yang maha rahman istawa berada di atas arsy juga nas hadis yang menyatakan demikian. Jadi saya pikir itu sudah cukup. Jadi tidak punya tempat itu apa yang dimaksudkan dengan tidak punya tempat? Masih multi tafsir.
(1:10:52) Tidak punya tempat itu apa? Yang jelas itu apa namanya? Ee mulh tafsir tidak punya tempat dalam bahasa Arabnya mungkin laisalah makan, tidak punya tempat. Kalau tidak punya tempat itu maksudnya tidak di luar alam, tidak di dalam alam, tidak di atas, tidak di bawah, tidak di tengah, tidak di samping, tidak di depan, tidak di atau bagaimana kalau itu maksudnya maka itu batil.
(1:11:25) Jadi kembali saja kepada lafaz syari’i. Allah fisama. Allah ada di atas langit. Wahuwal aliyul adzim. Allah maha tinggi dan maha besar. Allah arrahman alal arsistawa. Itu adalah kalimat-kalimat yang sudah pasti di dalam Al-Qur’an dan sunah. Nam wallahuam. Nam ustaz. Jazakallah khair barakallahu fik. Demikian pemirsa dan pendengar di Pamekasan Bapak semoga menjadi pencerahan. Barakallahu fik.
(1:12:02) Kami angkat selanjutnya pertanyaan via chat WhatsApp. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Barakallah fik ya ustaz. Apakah ada perselisihan dan perbedaan pandangan dari aimatul mazahib al Imam Ahmad bin Hambal, al Imam Syafi’i, al Imam Malik, dan al Imam Abu Hanifah berkaitan dengan keberadaan Allah di atas langit.
(1:12:27) Karena keempat imam ini merupakan rujukan dari seluruh kaum muslimin di dunia. Mohon e penjera pencerahannya, Ustaz. Jazakallah khair. Tidak ada perbedaan di antara aimmatul mahad mazahib baik Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad tentang Allah ada di atas langit atau Allah ada di atas arsy. Semua bersepakat tentang itu.
(1:12:53) Jadi tidak ada perbedaan tentang hal ini. Jazakallah khair ustaz. Barakallah fik. Kami angkat kembali pertanyaan selanjutnya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, apakah dibenarkan ketika seseorang berdoa di depan kubur dengan mengucapkan ya Syekh Fulan atau ya Habib fulan? dengan makna bahwa yang dimaksud bukan kepada zat fulan atau wali fulan yang di dalam kubur.
(1:13:30) Akan tetapi yang dimaksud adalah atawasul bika ya Allah bijahi fulan. Akan tapi ini diringkas sehingga langsung disebutkan penamaan dan ini dalam sastra atau bahasa Arab diperbolehkan. Mohon pencerahannya, Ustaz. Apakah benar demikian ee adab dalam berdoa di depan kubur? Jazakallah khair. Kalau yang dipanggil ya syekh fulan, ya alim fulan, ya Rasulullah.
(1:14:02) Terus maksudnya berdoa kan itu bahasanya jelas bahwa itu adalah minta kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dan itu dan syirik yang seperti itu karena dia mintanya kepada selain Allah. Kalau tujuannya adalah ee meminta kepada Allah, tapi misalnya dengan menyebutkan, “Ya Allah, aku mohon kepadamu dengan keluhuran si fulan atau bijahin Nabi sallallahu alaihi wasallam,” maka ini tidak ada contohnya.
(1:14:48) Yang seperti ini tidak ada contohnya ketika orang-orang itu sudah meninggal dunia. Ketika orang-orang itu sudah meninggal dunia, maka tidak ada contohnya. Jadi, ini ee sesuatu yang baru di dalam Islam, di dalam agama. Jadi, mengapa tidak berdoa kepada Allah saja langsung? Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, waidza saalaka ibadi anni fainni qorib.
(1:15:22) Kalau ada hambaku bertanya kepadamu hai Muhammad tentang aku, inni qorib. Aku dekat. Aku dekat. Maksudnya kenapa? Ee Allah mengatakan fainni qorib. Tidak mengatakan jawab hai Muhammad bahwa aku dekat tapi langsung fainni qorib. Aku itu dekat. Karena berdoa itu langsung kepada Allah Subhanahu wa taala. Berdoa itu langsung kepada Allah Subhanahu wa ta wa taala.
(1:16:04) Jadi tidak perlu ada ee pakai perantara-perantara untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. inni qorib langsung tidak menggunakan ee jawablah aku itu dekat karena ee itu langsung sampai jawaban itu kepada yang bertanya, “Inni qorib, aku dekat.” Tapi ada beberapa ayat yang lain yang yang mengatakan ee nanti tidak tidak langsung ya, tapi ee misalnya tidak tidak hadir di dalam ee di dalam apa di dalam hafalan saya sekarang ini, tapi ada beberapa ayat yang menunjukkan ee jawaban itu tidak langsung karena itu
(1:16:59) terkait dengan manusia, terkait dengan kehidupan manusia. Jadi kalau kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala langsung bisa, kenapa harus melalui orang yang sudah meninggal dunia? Jadi itu adalah sesuatu yang menyelai ketentuan-ketentuan dari ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Wallahuamab. Nam ustaz. Jazakallah khair atas jawaban dan pencerahannya.
(1:17:32) Demikian pemirsa dan pendengar yang bertanya dan ini merupakan pertanyaan kami ustaz di kesempatan akhir malam ini. Dan sebagai kesimpulan serta ikhtitam kajian kita, kami persilakan Ustaz ya. Jadi marilah kita senantiasa untuk berusaha bersemangat, tetap bersemangat memahami ee hal-hal yang pokok untuk kita pahami.
(1:17:59) Karena nanti kita di alam kubur akan ditanya tentang itu semuanya, tentang Allah, tentang Rasul-Nya, dan tentang dinul Islam. Mari kita semangat untuk tetap mempelajari dinul Islam, tentang Allah, tentang nabinya, tentang Islam itu sendiri berdasarkan dalil-dalil dan tidak hanya berdasarkan apa kata orang tanpa dalil. Ee kita juga nanti pada saat dihisab oleh Allah Subhanahu wa taala akan ditanya tentang ilmu kita kita gunakan untuk apa. Jadi di alam kubur ditanya tentang ilmunya itu sendiri.
(1:18:37) Nanti di yaumul hisab kita tidak akan bergeser dari ee tempat di mana kita dihisab sebelum kita menjawab empat pertanyaan dari Allah. Salah satunya adalah tentang ilmu yang kita pahami, kita pergunakan untuk apa? Ikhlas atau tidak kita belajar itu. Mudah-mudahan bermanfaat. Nabi Muhammad wa alihibihi ajmain.
(1:19:08) Jazakumullah kir kami sampaikan kepada Ustaz Ahmad Faifudinqallahu taala atas syarah dan penjelasan waktu yang disampai yang diberikan berkaitan dengan pembahasan dari syarah akidah thahawiyah di kesempatan malam ini dan insyaallah kita akan sambung kembali di kesempatan pekan yang akan datang. Pemirsa dan pendengar radio.
(1:19:27) Demikian pembahasan dari syarah akidah tahawiyah bersama Ustaz Ahmad Faiz langsung dari studio Mini Rajaid di e Mahad Pesantren Imam Bukhari Solo. Dan semoga pembahasan ini memberikan kemanfaatan dan pencerahan bagi kita di dalam memahami poin-poin prinsip dari akidah ahlusunahti wal jamaah. Kami mohon maaf ada sejumlah pertanyaan tidak bisa kami hadirkan karena keterbatasan waktu yang ada dan semoga sedikit ini bermanfaat.
(1:19:51) Kita memohon kepada Allah taufik dan hidayahnya agar bisa memahami dan juga mengamalkan ilmu yang kita pelajari. Barakallah fikum. Kami undur di dan kami tutup dengan kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilaha illa antfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *