Ustadz Ali Nur – Menuju Negeri Abadi

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Ali Nur – Menuju Negeri Abadi – YouTube

Transcript:
(00:00) Majalengka 93.1 FM, Radio Rojalu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [Musik] Menyebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah hamdan kasir thiban mubarokan fama yuhibuna waardoh ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh la nabiya ba’da ma ba ikhwat Islam mazakumullah sahabat raja di manapun Anda bisa menyimak siaran kami.
(00:48) Alhamdulillah di kesempatan Senin pagi yang berbahagia ini kembali kita akan simak program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab Aljannatu wanar menuju negeri abadi disampaikan oleh Ustaz Ali Nur Hafidahullah dari Kota Medan, Sumatera Utara. Dan pembahasan di kesempatan ini dengan tema nikmat surga. Nah, ikhwat Islamakumullah. Setelah penyampaian materi silakan nantinya Anda dapat bergabung bersama kami untuk bertanya seputar pembahasan.
(01:14) Dilan telepon 0218236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543. Berikut kita akan simak penjelasan materi yang akan disampaikan. Selanjutnya kita persilakan kepada Al Ustaz Fatafadol Masykur Ustaz Nam. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(01:45) Innalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu wastagfiruh wa naud nazubillahi syururi anfusina amalina yahdihillah fah muhtad wam yudlil falan tajida lahu waliyan mursyida. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh alladzi la nabiya ba’dah.
(02:16) Waqal Allah subhanahu wa taala, “Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.” yaquakumadziqakum min nafs wahidah waq minha zaujaha w minhuma rijalanisa am kitabullahir had muhammad shallallahu alaihi wasallam umur muh wa muhin bidah wa bidatin wain kaum muslim kaum muslimat para pemerhati Raja TV dan pendengar radio Raja di mana pun Anda berada ada.
(03:19) Alhamdulillah kembali kita bertemu dalam pengajian menuju negeri abadi yang kita ambil dari kitab Aljannatar. Ikhwati wahan azallahu wyakum. Ee di kajian lalu kita sudah bahas karakteristik penduduk surga. Sekarang yang akan kita bahas adalah nikmat surga. Bagaimana sebenarnya nikmat surga itu? Walaupun seperti yang sudah sering kita ulang-ulang, apapun yang ada di surga, bahkan surga itu sendiri konsep dasarnya yaitu ma ainun roat wala uzun samiat wala.
(04:08) Surga itu surganya, nikmatnya penduduknya mala ainun roat tidak pernah terlihat oleh mata. Wala uzun samiat dan juga tidak pernah terdengar oleh telinga. Wala kh ala qolbil basyar. Dan juga tidak pernah terbetik dalam hati. itu konsep dasar terkait dengan masalah hakikatul jannah, hakikat surga.
(04:44) Kalau kita bicara tentang bidadari surga, maka terbayang kitalah tentang seorang bidadari yang cantik rupawan, yang mempesona. Ketahuilah apa yang terbetik dalam hati kita itu belum mencapai apa yang sebenarnya bidadari surga tersebut. Belum ya. Masih terlalu terlalu jauh. Tib sekarang ikhwah azallahu wyakum bagaimana tentang nikmat surga itu sendiri. Pembahasan pertama fadlun naimil jannati ala mata dunya.
(05:16) Kita akan bahas dahulu ya terkait dengan apa keutamaan nikmat surga ketimbang nikmat dunia. pertimbangan ee ee perbandingannya bagaimana, ikhwah rahimallahu wyakum. Ee seperti yang kita katakan tadi, berdasarkan hadis yang kita sebutkan tadi, tak terbayang oleh kita bagaimana itu surga. Tapi mudah-mudahan semoga dengan adanya perbandingan kita lebih bisa untuk menalarnya.
(05:56) Dengan adanya perbandingan kita lebih bisa untuk menalarnya. Bab kita lihat mata dunya waqiun masyhud. Nikmat dunia itu nyata dan bisa dilihat. Wa naimul jannati ghaibun ma’ud. Adapun nikmat surga masih ghaib mauud dan masih dijanjikan. Jadi di sini ikhwah nikmat nikmat dunia itu bisa kita saksikan. Kalaupun seorang tidak bisa melihatnya tapi bisa merasakannya.
(06:41) Seperti misalnya angin yang bertiup semilir lembut, kita akan rasakan bagaimana kelembutan angin tersebut. Padahal kita tidak bisa melihatnya. Kita bisa mendengar suara yang merdu padahal kita tidak bisa melihatnya. Bahkan ada sesuatu itu tidak bisa dilihat. dan tidak bisa didengar tapi bisa dirasakan seperti lezatnya se satu makanan.
(07:22) Kita lihat ini sepertinya makanan ini lezat. Apa yang kita lihat sering berbeda dengan apa yang kita rasa. Ternyata hanya dilihat saja dia menarik rasanya tak menarik rasanya tidak enak. tidak apa namanya bisa ee bisa terlihat seolah-olah dia itu enak. Tapi enak ini kan bukan bukan konsumsi mata. Enak lezat itu konsumsi lidah.
(07:54) Lidahlah yang tahu apakah makan enak, lezat ataukah tidak. Demikian ikhwah tidak bisa dicapai dengan mata, tapi bisa dicapai dengan lisah. Demikian ikhwah, itulah dunia dia jelas, nampak waqe masyhud, terlihat nyata depan kita. Bisa kita lihat, bisa kita rasa, bisa kita raba, bisa kita dengar. Itulah yang ada di dunia. Namun nikmat surga itu Allah Subhanahu wa taala menceritakan kepada kita.
(08:34) itu pun gak terbayangkan dan dia masih dijanjikan dijanjikan untuk orang-orang yang tertentu. Wasatu wasasu yataaruna bima yarauna wausyahidun. Manusia itu lebih cenderung kepada apa yang mereka lihat dan apa yang mereka saksikan. Demikian ikhwah. Artinya ya ini ada nikmat yang nikmat yang langsung mereka bisa saksikan. Kemudian ada nikmat yang lain tapi masih dijanjikan.
(09:13) Ya, secara logika saja manusia itu cenderungnya kepada yang sudah ada dong. Ya, misalnya nih ee depan saya ini ada sebuah makanan. Saya sudah cicipin nih makanan nih. Lezat. Masyaallah. datang seseorang, “Saya akan memberimu akan memberimu makanan yang jauh lebih lezat dibandingkan makanan yang ada di hadapanmu. Tapi syaratnya kamu jangan makan makanan yang ada di hadapanmu itu.
(09:42) Saya akan berikan penggantinya yang jauh lebih lezat.” Kira-kira bagaimana kaitannya dengan apa, Ikhwah? Kita mau menyingkirkan makanan yang ada di hadapan kita ini yang sudah kita rasakan lezat demi untuk mendapatkan janji tadi itu dengan makan yang lebih lezat.
(10:05) Kaitannya masalahnya kapan kita menyingkirkan bisa menyingkirkan makanan yang ada di di hadapan kita tergantung dengan apa, ikhwah? Dengan kepercayaan kita kepada orang yang menjanjikan tadi. Kalau kita enggak percaya dengan dia, “Hanah gak saya mau yang ini aja.” Demikian ini sudah jelas yang kamu janjikan ya kalau kamu jujur, kalau kamu bohong gimana? Ah demikian ikhwah.
(10:23) Jadi sebenarnya akhirat itu jauh lebih lezat dan semua kita tahu, semua kaum muslimin tahu. Sekecil setipis apapun keimanan dia tahu sekali bahwasanya surga itu lebih lebih indah, lebih lezat, lebih lebih dari apa yang ada di muka bumi ini dan apa yang ada di dunia ini dan seisinya lebih.
(10:46) Tapi permasalahannya pengaruh kita untuk menyingkirkan dunia demi mendapatkan akhirat itu bagaimana? Itulah ikhwah yang jadi dilema. Karena ini masalah terkait dengan ya terkait dengan masalah keimanan. Masalah ini terkait dengan masalah keimanan. Percaya enggak kita dengan apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa taala tersebut? Kalau enggak kita kita enggak percaya, ya kita akan singkirkan akhirat tersebut demi dengan demi hanya kenikmatan yang ada di hadapan kita.
(11:31) Dan hati mereka akan merasa berat untuk meninggalkan apa yang ada di hadapan mereka demi untuk mendapatkan apa yang nanti didapatkan. apa yang nanti untuk zaman yang akan datang. Fakaifa idza kanal mauudu yanalu ba’dal maut. Apalagi kalau yang dijanjikan itu ternyata yang didapati setelah meninggal. Demikian ikhwah.
(11:56) Dia rela meninggalkan apa yang ada di hadapannya yang sudah ada disaksikan. kenikmatan sudah disaksikan untuk sesuatu yang akan diberikan jauh lebih lebih tinggi derajatnya, lebih nikmat dan semua semuanya lebih. Tapi setelah meninggal, ikhwah, ini perlu keimanan yang mantap ya.
(12:24) Keimanan yang mantap tapi umumnya manusia itu lebih cenderung pada dunia yang mereka bisa saksikan sendiri yang ada di hadapan mereka. Makanya Allah Subhanahu wa taala mengatakan, “Balirunal hayat dunya.” Kalian lebih cenderung kepada kehidupan dunia. Wal akhiratu khairu wa abqo. Padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Allah Subhanahu wa taala dengan sangat tegas mengatakan seperti itu.
(12:56) Bagaimana keimanan kita dengan wahyu Allah Subhanahu wa taala? Allah sudah katakan balsirunal hayatad dunya. Kalian malah lebih cenderung untuk memilih dunia. Wal akhiratu khairu wa abqo. Padahal akhirat lebih kekal dan lebih baik.
(13:21) Percaya enggak kita dengan apa yang diinformasikan oleh Allah Subhanahu wa taala? Percaya enggak kita dengan Al-Qur’anul Karim? Percaya enggak kita dengan asab dan Nabi sallallahu alaihi wasallam? Tapi begitulah Allah tahu dengan manusia-manusia. Allah yang menciptakan manusia. Kalian lebih cenderung pada dunia. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Kalla balhibbunal ajilah akir kalian itu lebih suka untuk yang kalian dapati sekarang.
(13:51) Ajilah yang dapat sekarang akir kalian tinggalkan akhirat.” Itulah manusia ikhwah. Allah Subhanahu wa taala firman, mananaul. Barang siapa yang menginginkan ajilah yang sekarang ada kami berikan mereka yang ingin duit. Ajilah itu maksudnya yang sekarang yang ada di dunia. Mereka yang lebih melih dunia ajalna fiha manasya. Kami berikan apa yang mereka inginkan.
(14:30) Tapi ingat ya kelanjutannya semua eh ajal fihama jaalahu jahanam. Tapi ingat mereka yang lebih memilih dunia menyampingkan akhirat. Ajalna lahu fasya. Kami berikan apa yang dia inginkan. Tapi ingat kami letakkan dia nanti akhir di neraka jaang. Makanya kita lihat banyak orang-orang kafir yang banyak orang-orang kafir yang ekonominya masyaallah punya jabatan tinggi. Firaun misalnya ya, Firaun punya jabatan paling tinggi.
(15:08) Tidak ada jabatan yang lebih tinggi dipegang manusia pada waktu itu melebihi Firaun. Tapi dia kufur kepada Allah Subhanahu wa taala dan rasulnya. Siapa lagi orang yang paling kaya? Siapa? Qarun. Allah Subhanahu wa taala limpahkan pada dia hartanya. Bahkan mahabat bahkan kunci harta, kunci gudang hartanya saja.
(15:34) Kuncinya saja ya, bukan hartanya. Kunci gudang hartanya saja. Sakin banyaknya gudang hartanya tidak sanggup diangkat orang seorang yang paling kuat pada saat itu. Itu kunci gudang harta. Belum hartanya masih kuncinya saja. Ikhwah yang kita tahu bahwasanya kunci itu lebih kecil dibandingkan pintu. Pintu lebih kecil dibanding dengan gudang. Demikian ikhwah. Itulah dia Allah kasihkan. Allah berikan.
(16:00) Karena memang bagi Allah Subhanahu wa taala dunia ini enggak ada harganya bagi Allah subhanahu wa taala. Seandainya Allah berikan semua yang diminta oleh manusia enggak berkurang apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa taala. Enggak ada gunanya. Enggak ada, enggak enggak ada, gak ada harganya sama sekali di dunia ini bagi Allah Subhanahu wa taala.
(16:21) Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, seandainya dunia itu seharga sayap nyamuk, semua dunia ini seharga sayap nyamuk, Allah enggak akan berikan rezeki sedikit pun kepada orang-orang kafir. Itu menunjukkan gak ada harganya dunia ini, Ikhwah.
(16:41) Makanya dunia itu orang-orang Arab mengatakan dunia itu berasal dari dua. Pertama lidunuiuwihi dikarenakan dekatnya zamannya kepada kita dengan kita sekarang didunui yang kedua lidatihi dikarenakan hinanya ya dikarenakan hinanya ikhw rahimullah. Kemudian fakaifa al maudalu bail maut. Manusia itu cenderung kepada yang jelas nyata.
(17:10) lebih mengutamakan apa yang mereka lihat ketimbang yang masih dijanjikan. Apalagi yang dijanjikan itu setelah meninggal dunia. Aduh itu berat bagi mereka. Minzlizalika qoral haqqu tabaraka wa taala baina mataid dunya wa naimil jannah. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa taala mendampingkan penyebutan kesenangan dunia, nikmat dunia dengan nikmat surga. Allah sebutkan secara berbarengan.
(17:46) Wabayyana anna naimal jannati khairun minad dunya wa afdol. Dan Allah jelaskan dengan sangat jelas bahwasanya nikmat surga itu lebih baik ketimbang dunia wa afdol dan lebih utama lebih berharga. Wa fidamid dunya widam dunya wani fadil akhirah. Allah sebutkan secara panjang lebar tentang tercelanya dunia dan menjelaskan keutamaan-keutamaan akhirat.
(18:24) Walika illa liaajahidal ibadu akirili naimiha. Semua itu untuk apa, Ikhwah? Semua itu agar manusia, agar kaum muslimin, agar hamba-hamba Allah berusaha untuk mendapatkan akhirat dan berusaha untuk mendapatkan kenikmatan akhirat tersebut. Demikian ikhwah. Jadi supaya kita itu bersemangat untuk mendapatkannya. Disebutkan dalam Al-Qur’an, disebutkan dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Allah cela dunia ini.
(19:02) Mencela dunia itu, ikhwah bukan berarti tidak boleh kita mengambil dunia. Boleh, silakan. Tetapi kalau kita harus memilih antara dunia dan akhirat, kita wajib memilih akhirat ketimbang dunia. Kalau kita malah lebih memilih dunia, berarti kita telah memilih yang salah. Kita telah memilih sesuatu yang hina dan mengabaikan suatu yang sangat berharga. Tidak ada seorang yang waras pun akan melakukan ini.
(19:34) Orang yang cerdik, orang yang berakal, orang yang cerdas, pasti dia akan memilih emas ketimbang besi. Pasti itu memilih mutiara ketimbang batu bata pasti itu ikhwah. Tapi ya begitu kita lihat. Iya sih dapat mutiara tapi kan setelah meninggal katanya. Iya sih dapat emas tapi kan setelah meninggal.
(20:06) Ya mendingan batu bata walaupun harganya satu batu bata yang jumbo itu R7.000 sekarang ada harganya R7.000 mutiara tapi nanti setelah meninggal la haula wala quwwata illa billah. Makanya ikhwah sangat penting keimanan kepada Allah Subhanahu wa taala. Keimanan itu letaknya di hati. Kalau hatinya bersih, keimanannya mantap, Ikhwah, dia pasti akan bertindak cerdas.
(20:33) Dia tahu apa yang seharusnya dia pilih. Makanya semuanya kaitannya sangat kuat sekali dengan keimanan, dengan apa yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Banyak kaum muslimin meyakini apa yang dikatakan Allah Subhanahu wa taala. Mereka tidak mengingkarinya. Mereka yakin dengan Al-Qur’an, kebenaran Al-Qur’an. Mereka yakin dengan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(20:59) Tapi ketika mereka dihadapi dengan pilihan antara surga dengan antara dunia dengan akhirat, banyak yang jatuh berguguran dalam masalah ini. Banyak ikhwah. Allah sudah serukan apa namanya sebutkan kepada kita dunia itu fana, akhirat itu kekal. Wal akiratuhairaka minal ula wal akiratuir wa abq. Allah sebutkan berkali-kali dalam Al-Qur’an kita katakan iya.
(21:31) Apakah kamu beriman dengan ayat ini? Ih beriman ini kan wahyu Allah Subhanahu wa taala. Apakah Anda praktikkan? Nah ini ikhwah tergantung dengan bagaimana kekuatan iman seseorang. Makanya di sini Allah Subhanahu wa taala ceritakan kepada kita supaya apa? supaya keimanan kita itu dalam memilih akhirat itu lebih kuat, ikhwah. Penunjangnya lebih kuat, spiritnya lebih kuat.
(21:59) Watajidu dammad dunya. Watajiduamad dunya wada akir. Kita lihat bagaimana Allah mencela dunia dan memuji akhirat. nikmat akiratunjili. Dan Allah sebutkan dalam berbagai macam ayat, dan banyak ayat tentang keutamaan nikmat yang ada di sisi Allah ketimbang nikmat dunia yang dekat, yang yang cepat ya. yang dekat dan yang cepat.
(22:39) Sekarang ini disebutkan bagaimana keutamaan-keutamaan tentang akhirat tersebut. Kaquulihi Taala sebagaimana firman Allah Subhanahu wa taala. Lakinilladzinaqaum lahum jannatun tajri min tahtihal anhar kholidina fiha nuzulam minillah. Hanya saja orang-orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala, hanya saja orang-orang yang bertakwa kepada Allah, kepada Rabb mereka, lahum jannatun tajri min tahtial anhar.
(23:24) Untuk mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Kholidina fiha dan mereka kekal di jalan Allah. Kekal dalam surga tersebut. nuzulam minillah sebagai balasan, sebagai karunia dari Allah subhanahu wa taala. Wallahi khairul lil abrar. Sungguh nikmat yang ada di sisi Allah itu lebih baik untuk orang-orang yang berbuat baik. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan lebih baik, lebih baik, lebih baik.
(23:58) Akhirat lebih baik, surga lebih baik, semua lebih baik yang ada dalam di akhirat ketimbang di di dunia. Al Imran ayat 198. Allah Subhanahu wa taala juga berfirman, “Wala tamudanna ainaika ma bihi azwajan minhumahun.” Janganlah kamu hanya tertuju pandanganmu kepada ee apa yang telah kami berikan kepada mereka. Azwajan minhuma zahr dunia.
(24:37) Yaitu kenikmatan yang berbagai macam kenikmatan yang kami berikan kepada mereka. Jadi janganlah kamu hanya jangan kamu hanya memandangi kenikmatan berbagai macam jenis kenikmatan yang kami berikan kepada mereka. kenikmatan dunia yang kami berikan kepada mereka linaf sebenarnya kami sedang menguji mereka ya sebenarnya kami sedang menguji mereka dan sesungguhnya rezeki yang kami berikan kepada mereka rezeki yang Allah berikan kepada mereka khairu wa abq lebih baik dan lebih kekal jadi ikhwah ketika seorang itu diberi harta yang melimpah ruah oleh Allah subhanahu wa
(25:16) taala maka sesungguh nya dia sedang diuji oleh Allah Subhanahu wa taala. Demikian orang ini kira-kira lebih memilih dunianya apa akhiratnya? Ketika dia harus dihadapkan memilih, dihadapkan kepada dia memilih, dia akan pilih mana? Akhiratkah atau dunianya? Demikian ikhwah apa yang dia diberikan oleh Allah kepada dia.
(25:43) Sesungguhnya itu semua adalah ujian dari Allah Subhanahu wa taala. Apakah dia gunakan untuk di jalan Allah? Apakah malah dia gunakan untuk jalannya setan? Makanya Allah Subhanahu wa taala mengatakan, “Wabblukum bisyar wal khair fitnah.” Sungguh kami uji mereka dengan kebaikan dan dengan keburukan. Fitnah sebagai ujian.
(26:07) Jadi sesungguhnya ikhwah ya sesungguhnya baik kesehatan maupun berupa sakit kedua-dua ini merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa taala. Kemiskinan dan kemewahan. Kedua-duanya ini ujian dari Allah Subhanahu wa taala. Dunia ini kita hidup yaitu kampung yang diuji terus sampai meninggal dunia. Makanya Allah katakan laqnal insana fi kabad. Kami telah ciptakan manusia fi kabad dalam kesulitan.
(26:37) Walaupun kita lihat ada seorang yang hartanya melimpah ruah dia itu sedang kesulitan. Kesulitan dengan hartanya tersebut. Manusia ini kan ikhwah ketika dia ingin mendapatkan dunia, dunia ada di hadapannya, dia ingin mendapatkan dunia maka dia akan rela menderita untuk mendapatkan dunia. Tib setelah dia dapati dunia, selesai urusan mereka? Selesai urusan anak-anak manusia ini? Tidak, ikhwah.
(27:08) Dia akan menderita setelah mendapatkan dunia. Apa penderitaannya? Dia akan menderita dengan menjaga apa yang telah dia dapati. Kemudian dia juga akan menderita kalau apa yang telah dia dapati hilang dari dia. Sementara kita tahu dunia itu enggak ada yang kekal. Imma kita yang meninggalkan dia atau dia meninggalkan kita. Enggak akan pernah selamanya.
(27:34) Demikian ikhwah. Makanya Allah katakan wal akhirat khair wa abq kiraka minal ula. Akhirat itu lebih utama dan lebih kekal. Apa yang kita dapati itu akan terpisah dari kita. Suka atau tidak suka, cepat lambat akan terpisah. Iminggalkan kita, dunia itu meninggalkan kita, atau kita yang meninggalkan Dia.
(28:00) Makanya la haula wala quwwata illa billah. Kalau kita pikir-pikir, ikhwah, dunia ini semuanya penderitaan sebenarnya. Ketika kita bercita-cita untuk mendapatkan ingin ingin membeli mobil di saat mungkin musim hujan kita hanya punya sepeda motor. Ketika musim hujan kita kehujanan walaupun ada mantel. Tapi tetap saja lebih nyaman dengan sepeda dengan mobil.
(28:23) Kita inginlah mobil maka berusaha keraslah seseorang untuk mendapatkan mobil. Dia tabung, dia tabung, dia tabung. Dia tahan seleranya. Dia menahan penderitaan untuk mendapatkan mobil. Setelah dia dapat mobil, apakah sudah selesai urusan dia? Oh, tidak, Ikhwan. Dia juga akan mengalami penderitaan. Kapan itu? Perawatan mobil. Dia harus cuci, dia harus elap tuh mobil.
(28:50) Demikian, ikhwah. Bahkan uang untuk mencuci mobil lebih mahal ketimbang untuk mencuci sepeda motor. Dia harus mengeluarkan perawatan lebih. Ikhwah. Sepeda motor tergores enggak ada masalah. Mobil tergores berapa juta yang harus keluar. Sepeda motor hanya R30.000 sudah full tangkinya.
(29:15) Mobil kira-kira berapa ribu baru full tangkinya. Ada yang Rp500.000 ada yang sejuta baru full. Itulah ikhwah menderita. Setelah mendapatkannya dia mengali penderitaan untuk merawatnya, menjaganya. Kemudian ikhwah lebih menderita lagi ketika dia kehilangannya. Wala haula wala quwwata illa billah. Dari A sampai Z mengalami penderitaan.
(29:43) Menderita ketika ingin mendapatkannya dan menderita ketika sudah mendapatkannya dan lebih menderita lagi ketika kehilangannya. Itulah dunia. Itu dunia ikhwah sangat jauh dengan akhirat ya. Sangat jauh dengan akhirat. Makanya Allah Subhanahu wa taala katakan linaftinahum fih. Kalian jangan pandang hanya pada-pada kenikmatan dunia yang kami berikan kepada mereka. Kami itu sebenarnya sedang menguji mereka.
(30:10) Linafti Allah tutup ayat ini dengan warizbikair wa abq. Sungguh rezeki yang ada pada Allah maksudnya akhirat surga khairu wa abq lebih baik dan lebih kekal. Wafi waqin Allah juga berbicara berfirman pada ayat yang lain di tempat yang ketiga. [Musik] Walhail musawamati wal anami wal har. Allah katakan syahwat manusia itu dihiasi dengan kecintaannya terhadap syahwat. Syahwat apa ikhwah? Minanisa.
(31:14) Kesenangan kepada wanita. Wal banin kecintaan kepada anak-anak. Walqatiril muqantar minadahabi wal fidah. Dan harta benda yang melimpah ruah. Baik dari emas maupun perak. Apalagi walil musawamah dan kendara dan e kuda-kuda pilihan wal anam wal ternak dan perkebunan. Inilah yang sangat dicintai manusia di dunia ini. Pertama wanita. Hubus syahwati minanisa.
(31:51) Dia punya syahwat terhadap wanita. Islam, ikhwah, Islam itu tidak melarang seorang laki-laki mencintai wanita. Bahkan itu merupakan satu anugerah yang sudah Allah tanamkan nikmat tersebut pada seorang laki-laki. Seorang laki-laki cintanya jatuh kepada wanita. Wanita cintanya jatuh kepada laki-laki. Itu satu hal yang lumrah dan thbi’i, natural, nature.
(32:18) Dia jadi bagaimana? Hanya syariat itu mengatur. Benarkah kamu mencintai seorang wanita? Jika kamu mencintainya, maka ada jalur syari untuk mendapatkannya. Diatur oleh syariat. Manusia itu punya aturan bukan seperti kambing. Demikian ikhwah. Bukan seperti kambing. Ada aturan yang harus dia lakukan. Ada mekanisme syari yang harus dia jalankan.
(32:46) Sudah. Kemudian cinta dengan anak-anak. Cinta dengan anak-anak juga ada mekanismenya. Karena Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Al alwaladu mujbinun wa mubkilun.” Anak itu bisa membuat seorang itu menjadi mujbinun, yaitu menjadi pengecut. W mubkhilun, membuat seorang bisa menjadi bakhil.
(33:12) Makanya dalam syariat kita diatur bagaimana sih mencintai anak itu? Diatur, ikhwah. Kemudian dengan harta, eh Islam enggak enggak melarang Anda untuk mencintai harta. Tidak. Silakan Anda suka dengan harta, siapalah yang enggak suka dengan harta. Tapi ingat, ada mekanisme dalam mencintai harta itu.
(33:40) Jangan sampai harta ini menjerumuskan kalian pada pada neraka jahanam. Jangan sampai istri itu menjadi harta, menjadi musuh kalian yang akan menjerumuskan kalian dalam neraka jahanam. Demikian juga anak-anak. Demikian ikhwah. Kenapa Islam itu menyuruh kita untuk mencari wanita yang salehah? Tungkahun nisa liarbaatin wanita itu dinikahi dikarenakan empat hal.
(34:03) Lijamaliha dikarenakan kecantikannya. Waliha dikarenakan keturunannya. Walimaliha dikarenakan hartanya. Walidiniha dikarenakan agamanya. Kalian pilih yang agamanya bagus, Taribat yadak, kalian akan beruntung. Kenapa ikhwah? Agar kecintaan kita kepada wanita ini benar-benar akan membawa kita kepada akhirat yang abadi.
(34:32) Bareng kita dengan keluarga kita menuju surganya Allah Subhanahu wa taala. Bukan malah menyeret kita ke dalam neraka jahanam. Demikian ikhwah. Apalagi agar kita mendapatkan dari dari istri yang salehah ini kita berharap merupakan kita sudah memiliki SDM untuk rumah tangga kita untuk mendapatkan anak-anak yang saleh salehah.
(34:57) Sehingga walladina amanu watathumahum. Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan-keturunan mereka yang beriman. Alhaqhimatum. Kami kumpulkan mereka nanti di surga. Demikian ikhwah untuk mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih kekal, lebih baik ketimbang dunia ini. Jadi mereka akhirnya ngumpul di surga.
(35:23) Masyaallah luar biasa ik kenikmatnya sangat luar biasa. Seorang suami bertemu dengan istrinya di surga, bertemu dengan anak-anaknya, bertemu dengan cucu-cucunya, berkumpul seluruhnya di surga. Ini luar biasa kenikmatan sangat luar biasa. Pada waktu itu si kakek dengan si cucu sama tuh usianya.
(35:47) Kita enggak tahu nih apakah si cucu ini manggilnya kakek juga nanti nanti di surga. Udahlah enggak pentinglah kita bagaimana panggilannya. Yang penting masuk surga duluah. Yang penting demikan ikhwah itu dia. Kemudian apalagi ikhwah harta. Harta juga demikian ya. Harta juga demikian jangan sampai harta itu menjerumuskan kita kepada neraka jahanam.
(36:13) Kita berharap bahwasanya harta ini kita gunakan, kita gunakan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita lihat ketika para fuqara dari kalangan para sahabat melapor kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Apa kata mereka? Ya Rasulullah, zahaba ahlud dusur bil ujur. Ya Rasulullah, sungguh orang-orang kaya ini telah pergi membawa banyak pahala.
(36:38) Orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Kata Rasulullah, “Kenapa kok bisa seperti itu?” Kata mereka, “Yusuna kama nusolasumuna kamasum amwali.” Masalahnya Rasulullah, mereka salat seperti kami salat. Mereka berpuasa seperti kami puasa. Tapi ketika mereka bersedekah, kami enggak punya duit untuk bersedekah.
(37:04) Lantas Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Bukankah Allah telah berikan kepada kalian sesuatu yang bisa menyamai sedekah?” Lantas mereka pun diberi beberapa zikir oleh Rasul Sallahu Alaihi Wasallam untuk menyamai menyamai pahala orang-orang yang yang orang-orang kaya yang bersedekah. Tapi ternyata sabda Nabi ini didengar oleh orang-orang kaya dan mereka pun mengikuti apa yang disabdakan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi mereka juga melakukan zikir-zikir tersebut.
(37:37) Datang lagi orang miskin ini, orangor fakir kan para sahabat. Ya Rasulullah, ternyata orang-orang kaya itu mengikuti apa yang Anda katakan juga. Apa kata Rasulullah? Dalika fadlullah yasya. Mau gimana lagi? Itu merupakan karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Yang membuat para sahabat yang fuqara pada waktu itu bukan kayanya mereka. Bukan ikhwah, tapi apa yang mereka membuat mereka iri.
(38:01) Giibth namanya dalam bahasa Arab. Apa itu? Mereka bisa menggunakan kekayaan mereka untuk mendapatkan akhirat. Itu yang mereka enggak bisa. Bukan karena unta mereka mahal, bukan dikarenakan rumah mereka gedung. Bukan itu bagi mereka enggak masalah itu. Tapi ketika mereka gunakan harta ini untuk mendapatkan surga sementara mereka enggak bisa, itu yang mereka membuat gibtohnya.
(38:24) Demikian ik itu yang membuat mereka aduh kita enggak dapat yang seperti ini. Begitulah ikhwah rahimullah wyakum. Jadi bukan gak boleh Islam itu bukan berarti menyuruh kita harus miskin. Enggak. Kalaupun miskin enggak ada masalah juga, Ikhwan. Enggak ada masalah. Masalah hasil itu kan Allah di tangan Allah.
(38:44) Yang penting kita berusaha saja semaksimal mungkin. Hasilnya Allah Subhanahu wa taala yang menentuk menentukan. Demikian juga khail musawwamah, yaitu ee kendaraan ee unta yang musawamah, unta ee kuda pilihan ya. Wal khairil musawamah, kuda pilihan ya. Kalau sekarang kita ya apa? Mobil-mobil mewah. Jadi wajar memang manusia itu suka dengan kenderaan-kenderaan mewah itu suka.
(39:15) Tapi ingat kesukaan itu dibolehkan tidak ada masalah. Mubah saja hukumnya. Tapi ingat, jangan sampai membuat Anda menjadi kufur. Jangan sampai membuat Anda menjadi takabur. Dikarenakan memakai Pak memakai kendaraan mewah jadi takabur. Meremehkan orang, mengerendah orang itu enggak dibolehkan. Tapi kalau Anda suka kendaraan mewah, silakan.
(39:35) Kalau Anda memang punya duit, silakan beli mewah, beli. Misalnya dia beli kendaraan harga miliar, silakan. Enggak ada masalah. Mubah-mubah saja. Asalkan tidak sampai pada israf, tidak sampai pada isyraf yang berlebihan. Dia sendiri istrinya anaknya tiga misalnya. Ya, wajarnya kan dapat lima mobil misalnya. Ini karena hartanya melimpah nih lima mobil atau karena dia hidup di Jakarta ada ganjil genap.
(40:06) Okelah berarti satu orang dapat dua terus berarti 5 10 kendaraan. Kalau di rumahnya ada 30 kendaraan tuh selebihnya ngapain? Untuk apa selebihnya? Demikian ikhwan itu apa selebihnya? Itu sudah isyraf. Makanya isyraf itu sesuatu yang dibolehkan tapi sudah melebihi dari kebutuhan. Demikian ikhwah rahimallahum. Kalau antum Anda butuh silakan.
(40:31) Anda butuh helikopter misalnya untuk kendaraan karena butuh cepat karena macet silakan enggak ada masalah. Enggak dicela oleh syariat tapi memang dibutuhkan. Bukan hanya sekedar berlebihan. Enggak. Demikian ikhwah boleh. Silakan. waliril musawamah wal anami wal har demikian juga eh an’am yaitu binatang ternak ikhwah orang para peternak-perternak itu ikhwah surga mereka itu ya di situ di ternak itu mereka memperhatikan ee bagaimana ternak mereka melihat kalau dia ternak kambing dia bisa duduk di di kandang kambing itu memperhatikan tingkah laku kambingnya itu sebuah kenikmatan bagi dia. Apalagi ketika dia
(41:09) panen menjual kambingnya, lembunya, kerbau lembunya, sapinya ketika ketika Idul Adha, masyaallah itu sudah panen. Itu merupakan suatu hal yang sangat membuat sukacita. Wal hart. Demikian juga tumbuh-tumbuhan. Ada yang suka tumbuh-tumbuhan, buah-buahan.
(41:28) Ada yang suka sekedar tumbuhanlah pokoknya ada bunga-bungaan untuk memperindah lingkungan, untuk mempercantik halaman, enggak ada masalah. Dan itu memang disukai oleh manusia. Daningat ikhwah rahimunallahu wyakum dalam Islam gak ada masalah tapi ingat itu hanya dunia jangan sampai kesenangan dunia itu kalian pertaruhkan jangan sampai kalian lebih utamakan ketimbang akhirat dipertaruhkannya akhirat hanya untuk mendapatkan dunia kesenangan dunia ini yang enggak dibolehkan.
(42:04) Kemudian Allah menyebutkan apa yang kalian suka tadi itu wanita, anak-anak, harta benda, kendaraan, hewan ternak, perkebunan atau tanaman. Kemudian apa kata Allah? Dalika mataul hayatid dunya. Itulah kesenangan dunia, itulah perhiasan dunia. Silakan, enggak ada masalah. Tapi ingat, wallahuahu husnul ma. Dan di sisi Allah tempat kembali yang terbaik. Artinya yang kalian senangi itu semua.
(42:39) Enam perkara yang kalian senangi itu semua, ikhwah. Di sisi Allah itu ada yang jauh lebih baik ketimbang itu semua. Qul aunabbiikum bikhair minzalikum. Katakan ya Muhammad, maukah kalian aku beritahukan yang lebih baik daripada enam tadi? Maukah kalian aku tunjukkan, aku beritahukan yang jauh lebih baik dari enam hal tadi itu wanita, anak-anak, ee harta benda, kendaraan, kemudian hewan ternak dan ee perkebunan.
(43:12) Maukah aku tunjukkan kepada kalian yang jauh lebih bagus dibandingkan, lebih baik dibandingkan yang enam hal ini? Apa itu? Lilladzinattaqau rabbihim jannatun tajri min tahti anharu khidina fiha. Untuk orang-orang yang bertakwa di sisi Allah itu ada surga. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
(43:48) Kholidina fiha dan mereka kekal di dalamnya. dan istri-istri yang senantiasa suci. Suci tidak ada haidnya, senantiasa wangi, cantik jelita, mempesona. Semakin hari semakin cantik bertambah cantik. Semakin hari semakin mempesona, tidak ada kotoran. Beda kan dengan kita di dunia ini, Ikhwah. Seorang wanita cantik jelita dia kalau enggak mandi gimana? Akan bau amis.
(44:25) Kemudian di hidungnya ada kotoran, di mulutnya ada kotoran. Kalau enggak kalau enggak disikat giginya muncul aroma busuk. Di ketiaknya bau, badannya amis. Apalagi ikhwah di semua tempat matanya ada kotoran juga, telinganya ada kotoran. La haula wala quwwata illa billah. di pori-porinya harus dibersihkan.
(44:49) Kalau enggak nanti akan menimbulkan bau yang enggak sedap. Gak ada yang wangi, ikhwah kalau enggak diurus. Demikian enggak ada yang wangi kalau enggak diurus. Tapi di akhirat gak perlu diurus. Sudah wangi, sudah suci, masyaallah dan tidak ada buang air. Enggak ada, ikhwah ya yang menyebabkan bau-bau itu gak ada nanti di akhirat. Itulah dia. Wa azwajum mutaharatun.
(45:15) istri-istri yang suci. Kemudian waridwanu minallah. Ini yang enggak kalah pentingnya. Dan keridaan dari Allah Subhanahu wa taala. Wallahu basir bil ibad. Allah itu maha melihat hamba-hambnya. Al Imran ayat 14 dan 15. Kemudian wabnaujat. Seandainya ya seandainya kita bahas, kita mencari apa rahasia, apa rahasia sampai nikmat nikmat akhirat itu jauh lebih berharga ketimbang nikmat dunia. Laahu minujuhin mutaadidatin.
(46:17) Kita akan dapati dari beberapa sisi. Mengapa nikmat akhirat itu jauh lebih berharga, lebih nikmat, lebih kekal, lebih segalanya ketimbang nikmat nikmat dunia. Kita akan lihat dari beberapa sisi. Kita dapati ada beberapa sisi. Satu, awalan mata dunya qolilun. Pertama, kesenangan dunia itu terlalu sedikit. Terlalu sedikit.
(46:54) Ikhwah, mungkin kita pernahlah melihat seorang miliarder misalnya ya, miliarder seorang jutawan yang hartanya melimpah ruah. Kalau bahasa orang sekarang yang uangnya tak berseri demikian melimpah ruah harta bendanya seorang yang menjadi seorang tajir.
(47:22) Kalau orang sekarang tajir saking kayanya tajir melintir gituah kira-kira saking kayanya atau orang yang terkaya di dunia misalnya. Lantas emang kenapa yang terkait dunia ikhwah, sekaya-kaya orang di dunia itu masih terlalu sedikit ketimbang akhirat. Mata udunya qalil kenikmatan dunia itu sedikit. Allah Subhanahu wa taala mengatakan dalam surat nisa ayat 77. mata dunya wal akhiratuirqo.
(48:03) Katakan ya Muhammad kepada mereka, katakan bahwasanya kenikmatan dunia itu masih sedikit, terlalu sedikit dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Limanittaqo lebih baik bagi orang-orang yang yang bertakwa. Bagi orang bertakwa, ikhwah yang enggak bertakwa enggak paham dalam masalah ini. Ya, makanya Allah tutup dengan limanittaqo bagi orang-orang yang yang bertakwa. Kita lagi.
(48:30) Waqarana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dunya naimil akahu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggambarkan kepada kita tentang sedikitnya sedikitnya kenikmatan dunia itu jika dibandingkan kenikmatan akhirat dengan perbandingan yang beliau berikan. Contohnya faqala beliau katakan wallahuun fil akti illa mataluajalu ahadukumi.
(49:12) Demi Allah Rasulullah awali dengan sumpah kepada Allah. Karena kalau enggak sumpah ikhwah bukan berarti oh kenapa harus sumpah? Apakah para sahabat enggak apakah para sahabat itu enggak yakin kalau enggak sumpah? Enggak. Di sini Rasulullah ingin lebih menekankan lagi, demi Allah sungguh dunia itu jika dibandingkan akhirat itu perumpamaannya bagaikan seorang yang mencelupkan telunjuknya di lautan.
(49:44) Sudah dicelupnya telunjuknya diambil telunjuknya dicelupkan di lautan. Laut ya air laut ya bukan air sungai atau air air air bak bukan lautan. Celupkan kemudian diangkat. Falyanzur bima tarji. Coba dilihat berapa air yang dinempel di telunjuknya. Perbandingan dunia, dunia itu seperti air yang menempel. Sisanya air lautan itu adalah akhirat. Bayangkan ikhwah gimana cara perbandingannya. Enggak bisa membandingkan kita seperti itu.
(50:19) Itulah permisalan yang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bandingkan antara nikmat dunia dengan nikmat akhirat. Jadi kalau kita celup ee telunjuk kita di di air, kira-kira berapalah dapat airnya itu ya? Setetes kali ya. Kita anggaplah setetes atau dua tetes. Dua tetes dibandingkan samudra luas ini. Wah, bagaimana bandingkannya? Tak terbandingkan ikhwah.
(50:47) Itulah perbandingan antara dunia dengan akhirat. Demikian ikhwah itulah perbandingannya. Makanya terus kenapa? Mengapa kita terus tetap sering memilih dunia, ikhwah? Sudah sampai seperti itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membandingkannya. Makanya Allah Subhanahu wa taala mengatakan ee bahwasanya kenikmatan dunia annamal hayat dunya laib wahwu wainah wa tafakur bainakum amwal aulad Allah katakanamuamu ini kan artinya harus kita ilmui bukan hanya katanya katanya amu kalian pelajari Jadikan itu sebagai ilmu. Itu saja kita bahas dulu. Sesungguhnya
(51:39) kehidupan dunia itu laibu walahwun mainan dan senda gurau. Mainan dan senda gurau. Allah Subhanahu wa taala mengibaratkan dunia itu sebagai mainan dan kita sebagai bocahnya ya. Sebagai bocahnya ikhwah ya. Semua kita pernah jadi anak kecil lah ya. Pernah menjadi pernah menjadi anak kecil.
(52:05) Saya misalnya mainan saya apa dulu? Pistol. Udah pestol yang mungkin dahulu itu harganya paling waktu kecil harga-harga 1.000 perak 500 perak dulu pistol ya. Kemudian kalau seandainya ayah saya mengatakan, “Li, ini ada cek yang harganya 2 miliar satu lembal kertas, tapi ayah kasih ini ayah ambil pestol.” Pistolnya ayah ambil ya.
(52:44) Ayah tukar dengan yang selembar kertas yang nilainya 2 miliar. Kira-kira saya sebagai anak kecil pilihnya yang mana? Ini pilih pestol atau cari kertas yang harganya 2 miliar. Pestol hanya 500 perak harganya dulu. Gimana ikhwah? Pasti kita pilih apa? Pestol yang nampak apa ini kertas 2 miliar itu apa? Kita itu di dunia ini seperti anak-anak, ikhwah.
(53:11) Laib, seperti anak-anak yang sedang main. Seolah mainan itulah semuanya itulah harta yang berharga. Padahal di luar sana banyak lagi yang lebih berharga. Berapa banyak anak-anak itu ketika enggak nampak bonekanya, dia bisa nangis gulung-gulung, bisa muter-muter, makan, bisa guling-guling nangisnya. Kenapa? Bonekanya enggak nampak. Bonekanya harganya paling Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000.
(53:31) Demikian kita sebagai orang dewasa, “Ya Allah, Nak, kenapalah menangis hanya karena ini?” Karena kita tahu itu hanyalah boneka bukan yang lain-lain. Kenapa harus ditangisi seperti itu? Hebatnya demikian. Karena kita sudah melewati masa anak-anak.
(53:51) Ketika kita anak-anak, gimana? Itulah kita di dunia ini, Ikhwah. Itulah kita di dunia ini. Seolah dunia ini semuanya hebat semua. Padahal kalau kita sudah melewati dunia menuju akhir, barulah kita tahu hakikat dunia itu apa sebenarnya. Baru kita tahu ternyata enggak ada apa-apanya dunia ini. Makanya Rasulullah pernah singgah lewat lewat lewat dengan melewati melintasi sebuah kuburan. Apa kata Rasulullah? Kalau ini penghuni kubur ini diberi pilihan.
(54:20) diberi pilihan. Kalau dia diberi pilihan untuk hidup kembali, kemudian dia dipilih diberi pilihan mau salat dua rakaat atau akan diberikan sur ee diberikan dunia dan seisinya, maka dia akan milih salat dua rakaat. Kenapa demikian, ikhwah? Dia sudah melewati dunia dan sudah melihat akhirat bagaimana.
(54:44) Itulah dia sudah pengalaman dia, ikhwan. Sama seperti kita ketika kita sudah melewati masa bocah, melewati masa anak-anak, ya. Boneka-boneka yang kita anggap dahulu suatu hal yang sangat berharga, mainan-mainan yang sangat berharga, sudah enggak kita perhatikan lagi. Mungkin kita anggap sampah itu semua enggak ada harganya, kita kasih-kasihkan aja ke orang.
(55:04) Demikian ikhwan karena kita sudah mel melewati fase itu. Itulah kita sekarang terhadap dunia. Makanya Allah Subhanahu wa taala menegaskan, “Nah, ya kalau bahasa kita kepada anak-anak, nah itu boneka jangan nangis-nangis. Kalau hilang kita beli lebih banyak begitu kan kalau kita orang tua punya duit.
(55:24) Aduh nak hanya satu boneka hilang kita beli nanti Bapak beli 10 mau berapa penggantinya. Begitu ikhwah. Tapi itulah anak-anak kita berkata begitu kan karena kita sudah melewati masa anak-anak. Demikian ikhwah. Demikian juga orang yang sudah melewati masa dunia sudah sampai alam barzakh dia dia akan lihat ah lailahaillallah ternyata begini dunia itu.
(55:42) Begitulah ikhwah rahimallahu wyakum. mat dunya karena perhiasan kesenangan dunia itu sedikitqahun akir Allah cela orang-orang yang lebih cenderung lebih memilih nikmat nikmat dunia ketimbang nikmat akhirat apa kata Allah dalam surah taaubah ayat 38 ya ayadina amanuakumillahq wahai orang-orang yang beriman Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian ini apabila disuruh berperang di jalan Allah karena berat sekali mau melakukannya.
(56:24) Apakah kalian lebih rida terhadap kehidupan dunia ketimbang kehidupan akhirat? Akil. Ketahuilah bahwasanya perhiasan kesenangan dunia itu jika dibandingkan akhirat itu terlalu sedikit. Terlalu sedikit. terlalu kecil jika dibandingkan dengan akhirat.
(56:58) Demikian ikhwah rahimallahu wyakum waqadakarna fi kitabina hadususah ala katr naimil jannati waami nafadihi. Kita sudah sebutkan di kitab-kita ini nas-nas Quran dan sunah yang banyak Quran Quran-Quran dan sunah-sunah Rasul ee ayat-ayat dan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan bahwasanya nikmat surga itu ya tentang bagaimana nikmat surga itu dan tentang bahwa nikmat surga itu nikmat yang melimpah dan tak terputus. Beda dengan dengan dunia.
(57:37) Udahlah sedikit dan terputus dan akan berakhir. Apapun ceritanya akan berakhir seperti yang kita katakan tadi. Imma kita meninggalkan dia atau dia meninggalkan kita. Itu dari satu sisi, yaitu bahwasanya dunia itu nikmat yang sangat sedikit. Sisi yang lain bagaimana, Ikhwah? Ada sisi yang kedua, ada sisi yang ketiga, dan ada beberapa sisi yang lainnya yang insyaallah akan kita bahas pada kajian-kajian yang akan datang insyaallah. Demikian ikhwah rahimullah wyakum semoga apa yang kita bahas bermanfaat.
(58:18) Namul nam. Terima kasih. Jazakallahu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas penyampaian materi yang sangat bermanfaat di kesempatan ini berkaitan dengan tema nikmat surga. Nam ikhwati Islamakumullah. Silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung dian telepon 0218236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543.
(58:46) Baik, untuk pertanyaan pertama kita coba angkat dari pesan singkat di kesempatan ini dari Umahad di Jawa Barat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, di surga kelak para penghuni surga akan berkumpul kembali dengan keluarganya, baik pasangannya, anak, cucu, dan keturunan mereka.
(59:10) Pertanyaan, bagaimana seorang hamba yang tidak mempunyai keturunan, Ustaz? Dengan siapa dia akan berkumpul? Apa hanya dengan pasangannya saja? Jika berkumpul dengan keluarganya akan menambah sempurna nikmatnya di surga. Apa yang tidak punya keturunan tidak mengurangi nikmat surga tersebut. Ustaz mohon nasihatnya. Jazakallahu khairan. Am. Jazakumullah khairan. Ikhwah aallahu wyakum.
(59:36) Bagi mereka yang enggak punya keturunan itu bagaimana? Tentu kurang dong nikmat dia di surga. Ikhwah azallahu wyakum. Kita ketahui bahwasanya aljaza ma jinsil amal. Sesungguhnya ganjaran itu sesuai dengan amalannya. tentunya seorang yang punya anak beda tanggung jawabnya ketimbang orang yang tak punya anak.
(1:00:05) Perjuangannya lebih berat ketimbang rumah tangga yang enggak punya anak. Mereka yang punya anak dua tanggung jawabnya lebih berat ketimbang mereka yang punya anak satu. Demikian seterusnya anak tiga, anak empat dan seterusnya. Semakin banyak anaknya semakin baik. Tapi ikhwah perlu ketahui tanggung jawabnya juga semakin besar. Itu kalau dia punya satu istri. Kalau dia punya dua istri tanggung jawabnya semakin besar, bebannya semakin besar.
(1:00:35) Masuliatuhu tanggung jawabnya di hadapan Allah juga akan semakin berat. Harus banyak hal-hal yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa taala. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwasanya kirukum aksarukum nisaan. Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling banyak istrinya. Artinya orang yang punya istri empat lebih baik ketimbang istri tiga.
(1:00:58) Yang punya istri tiga lebih baik timbang istri dua. Yang istri dua lebih baik dibandingkan istri pertama, satu istri. Kenapa? Jika mereka ini bertanggung jawab mendidik, memperhatikan, memberikan tarbiahnya, memberikan himayahnya, memberikan ee apa namanya? ee masuliahnya. Demikian juga anak-anaknya semakin banyak berarti semakin berat tanggung jawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa taala.
(1:01:27) Bukan hanya sekedar ngasih-ngasih makan begitu saja, tapi bagaimana dia agar menjadi anak-anak yang saleh salehah. Makanya ikhwah tentu akan beda beda kenikmatannya ketika berkumpul dengan anak-anak dan istri-istrinya ketimbang mereka yang enggak punya anak. Demikian ikhwah karena memang perjuangan mereka lebih berat. Demikian ikhwah ya. Tapi apakah nanti akan ada merasa enak sekalilah dia ya dia punya anak? Enggak. Enggak akan ada seperti itu.
(1:01:58) Mereka yang masuk ke dalam surga tidak ada rasa cemburu, tidak ada rasa iri, tidak ada. Rasulullah katakan kaqbin rajulin wahid seperti hati satu orang. Kita nih punya hati kan satu nih, kita punya tangan dua. Enggak pernah tangan kiri iri dengan tangan kanan. Sehingga kalau tangan kanan itu ee apa namanya? Terluka, lantas ke tangan kiri enggak mau merawat. Kenapa? Biarkan ajalah dia. Enggak pernah.
(1:02:23) Enggak pernah. Kaki iri kepada kepala karena kaki selalu di bawah terus. Sekali-sekali kepengin di atas misalnya gak pernah ada. Karena hatinya satu. Demikian juga penduduk surga enggak akan ada di sana iri dengki segala macam. Tidak ada. Semua akan menikmati surganya masing-masing.
(1:02:40) Kalau ada yang mengatakan, “Apakah nanti kalau ada kalau dia bertemu dengan pasangannya yang enggak punya anak, apakah dia bisa punya anak? Minta saja nanti kepada Allah Subhanahu wa taala.” Allah mengatakan wakum walahum fihimahil anfus untuk mereka apa yang mereka inginkan. Silakan. Tapi itulah ikhwah gak usah mikir sampai jauh-jauh kalau enggak punya anak itu bisa enggak ya punya anak di surga? Gak usah itu dulu. Yang penting gimana masuk surga dulu.
(1:03:05) Itulah yang penting. Kalau sudah dalam surga, Anda minta apa saja, insyaallah Allah Subhanahu wa taala akan berikan. Tapi itulah dia bahwasanya mereka yang perjuangannya lebih berat dan berhasil masuk surga, tanggung jawabnya lebih besar, lebih berat berhasil masuk surga, mereka akan mendapatkan derjat yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Makanya surga itu darajat.
(1:03:31) Ya, surga itu darajat. Itulah makanya Rasulullah katakan bahwasanya inadasbiya sesungguhnya orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi. Demikian ikhwah. Allahuam bawab nam nam. Terima kasih jazakallahu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas jawaban yang disampaikan. Semoga bermanfaat untuk penanya dan kita semua yang menyimak.
(1:03:55) Pertanyaan terakhir dari Pak Abdullah di Bogor. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Apabila kita bertemu dengan keluarga yang sudah meninggal dan beliau meninggalkan pesan yang baik di dalam mimpi tersebut, apakah hal itu berarti saya sudah bertemu dengan roh keluarga saya atau hanya bunga tidur saja, Ustaz? Mohon nasihatnya. Syukran.
(1:04:18) Nah, ikhwah azinullahu wyakum. Allahuam bisawab. Kalau terkait dengan orang yang sudah meninggal, maka mereka akan disibukkan dengan alam barzakhnya. Mereka yang merupakan orang-orang saleh, mereka sibuk dengan disibukkan dengan nikmat kuburnya. Karena Allah Subhanahu wa taala akan bukakan pintu surganya di kuburan.
(1:04:50) Dia akan dia akan melihat dia akan melihat bagaimana nikmat surga yang Allah siapkan untuk dia. Makanya keinginan hanya satu, doanya hanya satu. Rabbi aqimisah. Ya Allah segerakan hari kiamat. Jadi tidak ada kesempatan untuk datang datang ke keluarga baik berupa roh maupun apalagi yang sesungguhnya. Karena di alam barzakh itu manusia itu ruh dan badan.
(1:05:22) Tapi badannya badan ee jasad barzakhiah, bukan jasad seperti yang kita sekarang. Jasad barzakhiah lah ya yang cocok untuk barzakh. Roh dan bar dan jasadnya. Demikian juga yang mereka tidak yang mereka mendapatkan azab kubur mereka lebih parah lagi ikhwah. Mereka disibukkan dengan azab kubur. Dibukakan untuk dia pintu neraka sehingga dia rasakan bagaimana panasnya neraka dan racun-racun neraka juga menerpa dirinya.
(1:05:48) sehingga dia mengatakan, “Rabbi la tuqimah.” Ya Allah, jangan terjadikan hari kiamat. Jadi, Allahuam bawab. Kalau kita melihat ibu kita, ayah kita atau siapapun yang dalam mimpi itu merupakan bunga-bunga tidur. Ya, bukan orang yang hakiki yang datang. Karena mereka sesungguhnya setelah mereka di alam barzakh tidak ada lagi berkunjung ke keluarganya dalam bentuk apapun.
(1:06:14) Demikian ikhwah rahimallahu waum. Wallahuam bawab. Itulah dia. Karena masing-masing sedang menyibukkan diri, sibuk dirinya dengan baik ee apa namanya? Baik dengan ee nikmat kuburnya maupun dengan azab kuburnya. Hanya saja Syekhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang apakah ruh orang-orang yang beriman nanti bisa bertemu? Kalau ini memungkinkan bertemu.
(1:06:38) Karena ruh orang-orang saleh itu nanti terkadang Allah Subhanahu wa taala tempatkan dia di burung. burung yang dia bertengger dalam di surga, di pohon-pohon surga. Adapun kalau roh orang-orang yang mati syahid, mereka ruh-ruh mereka akan di ditempatkan di burung yang berwarna hijau yang sarangnya itu berada di atas Arasy dan dia terbang ke mana-mana.
(1:07:07) Ya mungkin pada saat itu bertemu dengan roh-roh yang lain ya, dengan roh yang lain. Tapi kalau pulang ke rumah, Allahuam setahu saya tidak ada seperti itu ya. Demikian. Okah ikhwah azallahu wyakum semoga apa yang kita bahas bermanfaat lebih kurang mohon maaftagfirullah wakum muslimin inahual gurahualaikum warahmatullahi wabarakatuh waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh terima kasih jazakallahu khairan barakallahu fikum kepada guru kita ustaz ali nur hafidahullah atas ilmu yang sangat bermanfaat di kesempatan ini. Ikhwati Islam.
(1:07:40) Wazakumullah. Demikian program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab Aljannatu Wanar menuju negeri abadi dengan tema nikmat surga. Semoga apa yang telah kita simak dengarkan dapat menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat dan semoga semakin memotivasi kita semua untuk giat beramal saleh. Semoga Allah subhanahu wa taala selalu memberikan kemudahan bagi kita dalam meraih hidayah dan petunjuknya.
(1:08:08) Allahum amin. Kami yang bertugas pamit undur diri. Mohon maaf atas segala kekhilafan. Terima kasih. Jazakumullahu khairon wa barakallahu fikum atas kebersamaan Anda. Wabillahi taufik wal hidayah. Subhanaka Allahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:08:37) Roja TV [Musik]


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *