Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati – YouTube

Transcript:
(00:08) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Qala taala wabasyiril mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. J kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.
(00:49) 1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [Musik] menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin wasalatu wasalamu ala asrofiliya wal mursalin waa alihi wa ashabihi waman tabia bihsanin yaumiddin. Ba ikhwat al islam rahimani warahimakumullah. Sahabat Rja.
(01:28) pemirsa serta pendengar radiun Anda bisa menyimak siaran kami. Kita memuji seraya bersyukur pada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah limpahkan pada kita semuanya sehingga di kesempatan pagi hari ini kembali kami dapat menyapa antum semuanya dengan bahagia akan menghadirkan kajian dan bimbingan ilmiah disampaikan oleh guru kita Ustaz Dr.
(01:52) Muhammad Nur Ihsan, MA. Hafidahullahu taala. yang kali ini beliau secara langsung berkesempatan untuk menyampaikan dari Stai Ali Surabaya. Selawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan serta tercurahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk keluarganya, untuk para sahabatnya dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman nanti.
(02:19) Insyaallah kita akan kembali melanjutkan dari pembahasan kitab Ak’malul Qulub. Dan menurut informasi yang telah kami peroleh, kita akan membahas mengenai adab kepada Allah dan Rasul-Nya. seperti apa dan bagaimana bahasannya. Mari kita simak bersama. Dan tak lupa kami ingatkan untuk ada yang bertanya seputar pembahasan ini nanti silakan di 0218236543.
(02:46) Langsung saja kita akan menyimak bimbingan dan pelajaran bersama beliau. Kepada ustaz kami persersilakan. Falatafadol maskur ya ustaz. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala asrofil ambiyaai wal mursalin nabiina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’d.
(03:19) Allahumma yanfaunafna bima ilma. Allahumma faqihna fiddin waimnil. Allahumma ati nufusana taqwaha wazakkiha anta khairu man zakkaha anta waliyuha wa maulaha. Ikhwatal iman kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa, para pendengar di mana saja antum berada. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah azza waalla dalam keadaan sehat walafiat mendapatkan berbagai kemudahan dan pertolongan di dalam berubiyah dan menjalani berbagai aktivitas dalam kehidupan dunia ini. Allahum amin.
(04:00) Alhamdulillah puji dan syukur hanya milik Allah azza waalla atas limpahan rahmat karunia nikmat yang tiada tara yang tidak terhitung banyaknya. dunia akhirat. Nikmat-nikmat yang senantiasa kita rasakan. Bahkan nikmat yang seringki kita tidak memohon kepada Allah. Tapi Allah azza waalla mengkaruniakannya kepada kita semua.
(04:31) Alhamdulillahi awalan wa akhira wahiran wa batina. Selawat dan salam untuk Nabi yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allahumma shi wasallim ala abdika wa rasulika Muhammad. Terkhusus di hari yang mulia ini, sayyidul ayyam yaumul jumah. Mari kita memperbanyak selawat untuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ikhwat al iman, para pemirsa, kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.
(04:58) Masih bersama Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Pembahasan kali ini kita akan membahas satu topik yang sungguh sangat penting sekali dan ini memiliki ya efek yang positif untuk kebaikan hati dan jiwa kita bahkan kehidupan kita secara keseluruhan. Beliau mengistilahkan manzilatul adab, kedudukan adab.
(05:33) Kita telah memaklumi istilah adab yang sering kita terjemahkan etika, perilaku ya budi bahasa, budi pekerti, sopan santun ya dan berbagai makna dan istilah yang berkaitan dengan adab ini. Suatu yang mulia, semua orang mencintainya. Semua orang memuji ya orang-orang yang memiliki adab. Semua orang berharap di dalam menjalani hidup ini dia memiliki adab yang mulia.
(06:24) kendati dalam perjalanan hidup disebabkan satu dan yang lainnya bahwa adab tersebut tidak maksimal ada pada dirinya. Dia menginginkan bagaimana keluarganya bisa beradab. Seorang istri menginginkan suaminya beradab dan suami menginginkan istrinya memiliki adab. Para guru menginginkan bagaimana anak didik mereka memiliki adab. Para dosen, bagaimana para mahasiswa dan mahasiswinya memiliki adab.
(07:01) Dan kita para dai, orang-orang yang berilmu yang menyampaikan ya dakwah islamiah pada masyarakat menginginkan bagaimana masyarakat kita masyarakat yang beradab. Ini sesuatu yang merupakan cita-cita mulia setiap orang yang masih memiliki akal yang sehat, jiwa yang mulia, dan fitrah yang masih lurus.
(07:37) Karena di situlah kemuliaan, di situlah keindahan hidup seseorang, di situlah derajat seseorang dan itu merupakan indikator kemuliaan jiwa, kebaikan jiwa, sucian hati. Ikhwat al iman para pemirsa rahimakumullah. Dan adab etika bukan hanya sebatas dalam berinteraksi dengan sesama, tapi ternyata adab tersebut mencakup ya dimensi yang luas.
(08:22) Mencakup bagaimana beradab kepada Allah, mencakup bagaimana beradab kepada Rasulullah. pada syariat agama Allah dan beradab kepada sesama. Sehingga dalam keilmuan, disiplin ilmu yang berkaitan dengan etika dan adab ada yang dinamakan dengan ilmu adab. Ya. Dan ini dipelajari yang berkaitan dengan akhlak.
(09:02) Etika yang diharapkan lahir dari mempelajari ilmu akhlak dan etika tersebut yaitu karakter yang mulia, jiwa yang baik, yang beradab, berberi kemanusiaan, beradab. Al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan ilmu yang berkaitan dengan perkara adab tersebut yaitu ilmul adab.
(09:35) Kata beliau adalah sebuah disiplin ilmu keilmuan yang berusaha untuk memperbaiki lisan tutur kata. Ya, bagaimana seorang berbicara agar bicara pembicaraannya agar perkataannya sesuai dan tepat ya sesuai dengan apa yang akan mendatangkan kemaslahatan dan tepat pada waktunya. dia berusaha untuk terus memperbaiki tutur katanya ya menjaga jangan sampai lisannya perkataannya ya mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan tata krama, dengan etika. Nam.
(10:32) Dan ini kata beliau merupakan bagian dari salah satu cabang dari cabang-cabang ya adab secara umum dalam kita beragama, dalam kita berinteraksi, dalam kita menjalani hidup ini. Ya, karena tutur kata seorang cerminan tentang kebaikan seseorang, cerminan tentang hati dan jiwanya, dancer cerminan tentang kepribadiannya. Dan ini perkara yang sangat penting sekali.
(11:07) Dan yang harus kita ketahui ya, bagaimana kita menjaga adab bukan hanya sekadar dalam berinteraksi dengan manusia, bukan hanya sekadar berinteraksi dengan sesama, masing-masing dalam posisinya. ya dan kedudukannya. Bagaimana seorang pemimpin dengan rakyatnya dan wakil-wakil rakyat dengan rakyatnya dan para pimpinan setiap lembaga, instansi, instansi ya.
(11:59) Bagaimana masyarakat dengan masyarakat, bagaimana seorang pemimpin dengan karyawannya? Bagaimana kita dalam menjalani hidup ini dengan sesama keluarga? Ya, ikhwat al iman para ustaz rahimakumullah. Al Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa adab tersebut terbagi tiga. Wal adabu salat anwa. Adab itu ada tiga macam. Adabun ma Allah. Ya. Adab bersama Allah. Adab kepada Allah azza waalla.
(12:38) Wa adabun maa rasulihi sallallahu alaihi wasallam syarih. Dan adab kepada rasul dan syariat Allah, agama Allah. Kemudian yang ketiga, adabun maa khalqihi. Adab bersama manusia. Jadi ada tiga tiga macam, tiga pembagian adab ya. Dan itu mencakup din secara keseluruhan. Itu mencakup agama secara keseluruhan.
(13:11) Dari sini kita memahami bahwa sering kita mendengar orang ini tidak beradab, tidak beretika. Dia memahami hanya adab itu sebatas berinteraksi dengan manusia. Ya. Dan ini tentu pemahaman yang sempit, pemahaman yang keliru tentang adab. Ya, adab bukan sekedar ya berinteraksi dengan manusia yang masuk ke dalam kategori akhlak yang mulia. Ya, bikqin hasan. Ternyata adab tersebut lebih luas cangkupannya ya.
(13:44) Lebih luas substansinya. Nah, dan harus kita pahami agar di dalam menjalani syariat ini, menjalani agama ini, bukan kita hanya berusaha untuk baik kepada sesama, tapi kepada yang menciptakan manusia, pada Allah. Dan kepada yang menggembleng manusia untuk menjalani hidupnya dengan syariat Allah itu Rasulullah, ternyata seorang tidak memiliki adab. Ya.
(14:16) Dan ini jelas satu kesalahan dan pemahaman yang sangat sempit. Pemahaman yang keliru dalam memahami ya etika atau adab. Namam. Kemudian Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bagaimana beradab kepada Allah. Ya, al-adab ma Allah kata beliau salat satu anwa ada tiga macam ya. Al-adab kepada Allah Subhanahu wa taala.
(14:44) Beradab kepada Allah ya. Yang pertama kata beliau sianatu muamalatihi yasyubaha binaqisah. yaitu menjaga menjaga bagaimana muamalah kepada Allah ya interaksi kepada Allah bermuamalah kepada Allah jangan sampai muamalah tersebut dinodai dengan sesuatu yang ya menguranginya suatu yang mengurangi muamalah tersebut dan menjadi pertanyaan Apa itu muamalah kepada Allah? Kita ini bermuamalah kepada Allah.
(15:30) Apa maksudnya? Yaitu beribadah dan taat kepada Allah. Maka jangan sampai ketaatan kita yang itu merupakan muamalah kita kepada Allah. Mengibadahi Allah Subhanahu wa taala. Jangan sampai ibadah ketaatan yang kita lakukan kepada Allah itu dinodai oleh sesuatu yang mengurangi nilai dari ibadah tersebut. Iya.
(16:00) Dan tidak diragukan hal yang menodai ibadah tersebut, muamalah kepada Allah yang muamalah tersebut dibangun di atas keikhlasan dan ketulusan. Maka tentu yang menodainya adalah kesyirikan besar dan kecilnya. Ri termasuk hal yang menodai muamalah kepada Allah. Sumah ingin didengar ya. Apalagi ya kesyirikan yang besar yang akan membatalkan tauhid, menghancurkan keimanan seseorang.
(16:34) Ya, maka seorang mukmin ya untuk menjaga adab kepada Allah dia harus waspada dari seluruh hal-hal yang akan mengurangi etika, adab, perilaku dia ya atau adab dia kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Maka hendaklah dia menjaga ibadah tersebut jangan sampai ternodai oleh kesyirikan besar dan kecilnya. Ya, ini poin yang pertama. Ya. Yang kedua, sianatuqbihi yaltafita ila girih.
(17:09) Menjaga hatinya jangan sampai ya melirik, jangan sampai berpaling kepada selain Allah. Dan kita mengetahui ya, bahwa hati hati kita, hati yang ada dalam diri kita itulah sumber ya kebaikan. Itulah ya bejana tempat ilmu, tempat cinta, pengagungan, takut, berharap ya itulah tempat amalul qulub. Dan hati tersebut hanya tergantung atau bergantung kepada yang maha kuasa yang menciptakannya yang di dalamnya hanya cinta kepada Allah.
(18:02) Tidak berpaling pada selain Allah. Ya, hanya tawakal kepada Allah, bergantung kepada Allah, berharap kepada Allah, takut kepada Allah. Namam. dan dia tidak menoleh ke kanan ke kiri. Yang diharapkan hanya Allah, cinta kepada Allah, pengagungan kepada Allah. Nah, itulah hati yang salim, hati yang suci, hati yang selamat, hati yang bersih.
(18:40) Dia hanya menghadap kepada Allah. hatinya terpatut kepada Allah. Khusyuk, konsentrasi hanya kepada Allah azza wa jalla. Iya. Ini yang kedua. Yang ketiga, sianatu iradatika anataq bima yamquuka alaihi. Menjaga keinginan kita, iradah kita. Semua kita memiliki keinginan hasrat.
(19:17) Nah, jangan sampai keinginan kita ya tataalq bima yam yamqukutuka alaihi yaitu terpaut atau menginginkan sesuatu yang mendatangkan murka Allah. Maka hendaklah di dalam hati atau selalu kita tanamkan dalam hati dan jiwa kita bahwa kita hanya menginginkan apa yang mendatangkan rida Allah. Ya, apa yang mendatangkan rida Allah? Jangan sampai ada hasrat keinginan di hati melakukan sesuatu yang akan mendatangkan murka Allah azza waalla.
(19:55) Ini untuk menjaga adab kita kepada Allah azza wa jalla. Seorang yang memiliki ketiga perkara tersebut ada dalam dirinya, dalam jiwanya, menjaga muamalah dia, ibadah dia, tidak ternoda oleh kesyirikan. besar dan kecilnya hatinya tidak berpaling pada selain Allah. Hanya terkonsentrasi kepada Allah azza waalla ya dan keinginannya keinginan terpaut ya dengan sesuatu yang diridai Allah tidak mendatangkan kemurkaan atau sesuatu yang dibenci oleh Allah azza waalla.
(20:33) Itulah seorang yang memiliki adab kepada Allah azza wa jalla. Nah, itulah seorang yang memiliki adab kepada Allah azza waalla. Adapun seseorang yang masyaallah tutur katanya baik, muamalah baik sesama manusia, tapi ternyata ketiga hal ini tidak ada di hatinya, maka dia orang yang tidak beradab kepada Allah azza waalla. Kendati dia memiliki ilmu yang banyak.
(21:04) Ya, karena sesungguhnya kebutuhan kita kepada sedikit dari adab ya lebih besar kepada banyaknya ilmu. Inilah maksud perkataan para ulama salaf. nahnu ila qilin minal adabi ahwaju ila kirin minal ilmi. Bagaimana kata Imam Abdullah Ibnu Mubarak, kebutuhan kita kepada sedikit ya adab ya lebih besar daripada kebutuhan kita kepada banyaknya ilmu. Banyak ilmu belajar. Belajar banyak ilmu tapi tidak memiliki adab.
(21:48) Tidak ada perubahan dalam sikap perilaku kepada Allah. Ya. Maka yang demikian itu tentu tidak banyak manfaatnya. Kemudian beliau memberikan ya contoh bagaimana para anbiya, para nabi, orang-orang yang memiliki adab kepada Allah azza waalla dalam berkomunikasi ya dalam bermuamalah kepada Allah, dalam memohon kepada Allah ya permohonan ucapan doa yang dihiasi dengan adab kepada Allah azza waalla ya.
(22:32) Seperti Nabi Isa alaih salam ya tatkala ditanya anta linasiuni wa umi minunillah wahai Isa, apakah engkau yang mengatakan pada bani Israil jadikanlah aku dan ya ibuku sebagai ilahaini min dunillah? Ilah tuhan dua Tuhan selain Allah. Nabi Isa menjawab, “Bagaimana jawabannya? Lihat adab Nabi Isa Alaihissalam. Ya, saya tidak pernah mengatakan hal itu.
(23:01) Yang aku perintahkan kepada mereka, ma qulu lahum illa ma amartani bih. Kemudian beliau melanjutkan, “Ya Allah, ya dia tidak menjawab ma akl.” Saya tidak mengatakan hal itu. Tapi bagaimana dengan ungkapan yang penuh dengan adab kepada Allah? Dia mengatakan, “In kuntu quluuhu waqad alimta.” Ya Allah, jika aku mengucapkan hal itu, mengatakan hal itu, tentu engkau telah mengetahuinya.
(23:43) Lihat bagaimana ungkapan yang lembut, ungkapan yang dihiasi dengan adab dan tutur kata menjawab pertanyaan Allah tadi. Inuntu qulu faqad alimta. Dia tidak mengatakan lamlu. Saya tidak mengatakannya. Tapi dia mengatakan, “Seandainya aku mengatakan hal itu, ya Allah, tentu Engkau yang telah mengetahuinya.” Nam. Kemudian beliau melanjutkan lagi, tau ma fi nafsih. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku.
(24:08) W alamu ma fi nafsi. Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri. Subhanallah. Begitulah para nabi ya. Lihat baga Nabi Ibrahim Alaih Salam dalam bertutur kata ya. Alladzi khalaqani fahua yahdin. Allah yang menciptakanku dan dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Walladzi yutimuni wasasin. Dialah yang yutimuni. Yang memberikan makanan berikan makan.
(24:45) dan minuman ya yasini wa maritu fahua yasfin apabila aku sakit maka dialah yang menyembuhkan dia tidak mengatakan waidza amradani apabila Allah memberikan sakit kepadaku ya tapi dia mengatakan faidza maritu apabila aku sakit dia tidak menisbatkan sakit itu kepada tapi kepada dirinya maritu sementara dalam memberikan makanan dan minuman, memberi menciptakan memberikan petunjuk langsung dinisbatkan kepada Allah. Khalaqani dialah yang menciptakanku.
(25:17) Fahua yahdini dialah yang memberikan petunjuk kepadaku. Yutimuni memberikan makan kepadaku, memberikan minuman. Tapi tatkala sakit dia menisbatkan kepada dirinya iya bahwa Allah yang mentakdirkan dia sakit. Tapi dalam rangka ya bagaimana beliau Khalilurrahman Nabi Ibrahim menjaga etika adab dalam bertutur kata kepada Allah. mengungkapkan sesuatu. Dia mengatakan, “Waidza maridu.
(25:46) ” Apabila aku sakit, ya sakit dengan izin Allah semuanya. Fahua yasyin, dialah yang menyembuhkan. Subhanallah. Begitu juga ya bagaimana ee kisah Khadir ya, orang yang saleh ya, seorang Khadir tatkala dia ya menghancurkan kapal yang dia tumpangi ya dia mengungkapkan faaradu anibahain menghancurkan ya kapal tersebut, menenggelamkan kapal tersebut.
(26:36) Dia tidak mengatakan, “Faarbuka anaibaha rabmu menginginkan saya untuk menenggelamkan.” Tapi begitu dia bercentang dua anak ghulamaini yatimaini, dua anak yang miskin yatim ya dia perbaiki rumah yang telah hampir roboh tersebut. Namam. Kenapa dia lakukan? Karena ternyata di bawah rumah tersebut ada ya kanzun. Nah, harta peninggalan orang tua dari kedua anak tersebut.
(27:13) Maka Allah ingin faarbuka yabl asuddahum. Rabbmu menginginkan agar kedua anak tersebut ya tumbuh sampai balik besar. ya. Jadi besar dan mereka balik sehingga nanti mengambil ya dari harta ya peninggalan tersebut. tatkala dia ya dalam konteks menenggelamkan ya safinah sampan atau perahu atau kapal tersebut dia katakan faaradtu saya menginginkan ya semuanya dengan izin Allah tapi tatkala ini berkaitan dengan kebaikan bagi dua anak yatim tadi dia mengatakan yaitu Khadir mengatakan faaradauka Rabmu menginginkan agar kedua anak
(28:13) tersebut ya tumbuh menjadi besar dan balig sehingga nanti mengambil harta simpanan tersebut. Subhanallah. Lihat bagaimana adab ya ee Khadir Alaih Salam. Kemudian begitu juga ya seperti Musa Alaih Salam. Gimana kisah Musa Alaih Salam yang beliau keluar dari Mesir menyelamatkan diri tidak tahu ke mana beliau akan pergi.
(28:45) Namam dalam kondisi dan keadaan yang fakir ya. Lalu dia berteduh ya dalam perjalanan berteduh di bawah sebatang pohon dan melihat bagaimana kelompok dari manusia mengambil air dari sumur untuk keperluan hewan ternak mereka. Dan ada ya dua orang wanita yang menunggu sampai mereka lelaki, para lelaki tersebut selesai ya mengambil air untuk hewan ternak mereka.
(29:14) Lalu setelah itu Musa ya membantu dan bertanya kepada kedua wanita tersebut, “Kenapa kalian tidak mengambil air?” Ya, dia mereka mengatakan sampai kaum lelaki tersebut selesai. Kemudian dia membantu mereka berdua untuk mengambilkan air. Ya, sebagaimana Allah kisahkan dalam Al-Qur’an.
(29:40) Kemudian dia kembali berteduh di bawah sebutang pohon tempat dia istirahat. Tatkala itu dia mengatakan bagaimana mengungkapkan isi hatinya. Dia mengadu kepada Allah tapi dengan ungkapan yang luar biasa, ungkapan yang lembut, santun, sopan, beretika, beradab. Ya, apa kata Musa? Rabbi inni lima anzalta ilaiya min khairin faqir. Rabbi ya rabku. Sesungguhnya ya tempat ya di mana engkau memposisikan aku sekarang ini ilaiya min khairin ya bagai kebaikan untuk kebaikan dari Allah. Fakir merupakan seorang yang fakir ya.
(30:31) tidak memiliki sesuatu apa-apa. Dia keluar dari Mesir menyelamatkan diri kemudian sampai ke Madian ya dia berteduh sebatang pohon. Tidak ada tempat dia ke mana mengadu, ke mana dia akan mampir ya. Dan dengan segala keterbatasan ya kebutuhan dalam perjalanan makan dan minum pasti dia membutuhkan makanan. Dia tidak langsung mengatakan, “Ya, ya Allah berikan makanan kepadaku.
(31:12) ” Atimni tidak langsung mengatakan seperti itu. Dia fakir, tidak memiliki sesuatu. Sementara posisinya berada di tempat dia bagaimana ya istirahat menyelamatkan diri. Maka tentu dalam kondisi yang seperti itu dia membutuhkan makanan minuman sebagai kebutuhan fisiknya. Dia tidak langsung mengatakan kepada Allahumma atimni tidak demikian.
(31:41) Tapi dengan ungkapan yang lembut mengadu kepada Allah bagaimana perihal dan ahwal ya kondisi dan keadaannya yang membutuhkan pertolongan makanan membutuhkan makanan dan minuman. Lihat bagaimana adab kepada Allah tutur kata kepada Allah azza waalla namam. Kemudian kata beliau, “Dan adab, sesungguhnya adab ini kata beliau huaddinu kulluh adalah agama Islam ini secara menyeluruh.
(32:11) ” Ya, beliau menyebutkan menutup aurat bagian dari adab, berwudu, ya, bersuci, mandi janabah, bersuci dari noda besar dan kecilnya. Ya, adalah bagian dari adab agar seorang bila ingin berdiri untuk melaksanakan ibadah menghadap Allah azza wa jalla dalam kondisi suci bersih, dalam kondisi yang terbaik.
(32:44) Maka dari sini sebagai bentuk dari kepedulian seseorang dalam beradab kepada Allah azza wa jalla, maka hendaklah di dalam melaksanakan ibadah terutama salat kewajiban yang paling utama, hendaklah seseorang memakai pakaian yang terbaik, yang bersih. Ya, pakaian yang bersih, pakaian yang rapi, bukan asal-asalan. Pergi menghadap pimpinan.
(33:11) pergi ke tempat kerja dengan pakaian masyaallah rapinya, wanginya ya, bersih, penampilan yang luar biasa. Tapi begitu menghadap Allah pakai pakaian tidur ya. ya, sarungan yang tidak rapi kemudian pakai baju dalam ya dan dengan kondisi yang seandainya dia ingin menghadap seseorang di dunia ini tidak mungkin dia menghadap atau pergi dalam kondisi yang seperti itu.
(33:47) Tapi kepada Allah dia tidak malu ya untuk menghadap dengan pakaian yang tidak rapi dan tidak sopan itu. Ini bentuk adab ya. adab dan etika kepada Allah yang harus diperhatikan. Memang kalau salat ya pakai hanya ya tidak rapi kepada Allah, apakah tidak terima salatnya? Salatnya diterima kalau dia memenuhi rukun dan wajib dan semua syarat-syarat sah salat tadi.
(34:13) Tapi tidak pantas kepantasan itu telah etika kepada Allah. Ya. Nah, ini tentunya sangat tergantung kepada ya adanya di dalam hati kecintaan, pengagungan ya kepada Allah Subhanahu wa taala. Kata beliau, maksud adab kepada Allah itu adalah alqiyam bidinih, melaksanakan agama Allah dan beradab kepada Allah, beriktika kepada Allah. Zahir dan batin. Ya, lahir dan batin. Zahiran wa batinan.
(34:45) Kemudian beliau menyebutkan, “Tidak akan mungkin seseorang ya mampu melaksanakan hal ini kepada Allah azza waj beradab kepada Allah dengan adab yang sesungguhnya kecuali bila ya dia melakukan tiga hal ya tiga hal dilakukannya. Yang pertama makrifatun bihi biasmai was sifatih mengenal Allah. Mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifatnya. Ya, keagungannya, kemuliaannya.
(35:14) keperkasaannya, kekuasaannya, dan segala sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi harus belajar bagaimana mau cinta kepada Allah kalau tidak kenal kepada Allah. Bagaimana mau mengagungkan Allah, tidak mengetahui keagungan dan kebesaran Allah.
(35:33) Dan semua hal itu hanya akan diketahui dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah azza waalla. Dan alhamdulillah dalam Al-Qur’an begitu banyak. Bahkan semuanya kita dapatkan dalam Al-Qur’an tentang keagungan, kebesaran, kemuliaan Allah azza wa jalla. Baca Al-Qur’an ya dan renungi setiap ayat-ayatnya menjelaskan tentang bagaimana sifat-sifat Allah azza waalla. Namam.
(36:00) Yang kedua, makrifatu lidinihi wasarih wama yajibu wa yakrah. Mengetahui, mempelajari agama Allah dan syariatnya. Apa yang dicintai Allah, apa dan yang benci oleh Allah. Berarti kita harus belajar bagaimana seorang akan beradab kepada Allah. Dia tidak mengetahui agama Allah ya.
(36:19) Dia berkorban tentang adab, beradab, beretika tapi ternyata kepada Allah tidak memiliki adab sama sekali. Kenapa? Jahil. Maka dengan kejahilan dia akan melanggar aturan Allah, akan meninggalkan kewajiban agama karena kejahilannya. Maka kita harus belajar ya mempelajari agama Allah, akidahnya, ibadahnya, muamalahnya, semua dipelajari ya. agama Allah.
(36:43) Sehingga kita mengetahui apa yang dicintai Allah kita lakukan, apa yang dibenci oleh Allah kita tinggalkan. Dan yang ketiga nafsun mustaiddah qabilah layinah mutahayiah liqabulil haqqi ilman wa amalan waan. jiwa yang siap untuk ya menerima kebenaran dari sisi ilmu, pengamalan, perihal dan kondisi seseorang maka dia akan ya memiliki adab dan etika kepada Allah. Jiwa yang siap untuk menerima kebenaran.
(37:23) Nah, bukan hanya mempertahankan tradisi budaya ya atau kebiasaan dia atau pendapat dia. Begitu datang kebenaran dia tolak. Kenapa? Enggak sesuai dengan Buddha saya, enggak sesuai dengan kebiasaan saya, enggak sesuai dengan warisan para leluhur saya, enggak sesuai dengan budaya saya, enggak sesuai dengan ya ee prinsip organisasi, lembaga atau dan seterusnya. Orang yang seperti tidak akan pernah beradab kepada Allah azza waalla.
(37:54) Jadi tiga hal yang dibutuhkan dalam ya mengimplementasikan adab kepada Allah. Untuk menyempurnakan adab kepada Allah. Pertama mengenal Allah azza wa jalla ya pelajari nama-nama dan sifat-sifatnya. Yang kedua mengenal agama Allah azza wa jalla. Syariatnya apa yang diperintahkan Allah. Apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa taala.
(38:18) Dan yang ketiga adalah harus kita mempersiapkan diri. Persiapkan diri dan jiwa kita untuk siap menerima kebenaran yang datang dari Allah tanpa ada keraguan sedikit pun. Ya, tanpa ada kebimbangan. Begitu datang kebenaran, baik dari sisi ilmu ilmu yang benar atau pengamalan atau perihal dan ahwal, etika, akhlak dan perilaku yang benar, maka kita menerima hal itu.
(38:52) Maka dengan demikian seorang akan ya bisa mengimplementasikan akhlak yang mulia atau etika yang baik kepada Allah Subhanahu wa taala. Yang kedua, adab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam. Bagaimana adab kepada Rasul? Beliau menyebutkan Imam Ibnu Qayyim bahwa hal ini ya penjelasan hal ini terdapat dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an penuh dengan penjelasan tentang adab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam.
(39:19) Dan landasan utama beradab kepada Rasul ya ini tingkatan yang tertinggi dan sekaligus merupakan ya pondasi dalam beradab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam. Kamalut taslim lahu walinqali amrih. Pasrah dan berserah diri kepada rasul. Apa maksudnya? Kepada syariatnya kepada agamanya kepada sunahnya. Alinq li amri tunduk kepada perintah beliau.
(39:52) bilqabul tasdiq menerima berita yang datang dari beliau, hadisnya, perkataannya ya membenarkan hal itu menerima tidak menolak ya duna yuhammilahu muatan khayalil batil tanpa menentang menghadapi ya dengan khayalan yang batil ya datang perintah Rasulullah datang hadisnya ya, perkataannya lalu ditolak dia berkhayal dengan khayalannya ya, rekayasanya yang mungkin sebagian menamakan ini adalah ya ee logika dia ya ini yang masuk akalamihi makulan atau menolaknya dengan alasan ada syubhat dengan syubuhat atau meragukan atau mengedepankan mengutamakan pendapat
(40:44) orang lain. pendapat seseorang atau hasil sampah pikiran dia. Namam. Maka dalam rangka beradab dengan Rasul, semua itu harus kita hindari. Orang yang tidak beradab kepada Rasul tatkala datang sunah Rasulullah alaihi wasallam, dia tolak dengan alasan apa? Syekh saya tidak mengatakan demikian, kiai saya tidak mengatakan demikian, ustaz saya tidak mengatakan demikian.
(41:13) ya organisasi saya tidak ya menjadikan itu sebagai prinsip utama dalam anggaran rumah tangganya dalam aturan berorganisasi budaya saya tidak seperti itu ya subhanallah atau pendapat si fulan, pendapat ulama ini tidak demikian dia tolak sunah rasul dengan sesuatu yang tidak ada nilainya Ya, apa apalagi kalau dia ya dengan akal semata, logika semata, hasil sampah pikiran dia ya.
(41:53) Datang hadis Nabi dia tolak, datang seruan kepada sunah dia tolak. Ya, orang yang seperti ini orang yang tidak beradab. Orang yang tidak beradab. Maka kesimpulannya, fayuahidu bit tahkim wataslim. Dia jadikan Rasul sallallahu alaihi wasallam tempat statusnya untuk berhakim ya mengadukan permasalahan yang ingin diselesaikan wataslin dan pas berserah di maksudnya ya sekarang karena Rasul telah meninggal sallallahu alaihi wasallam ya 14 abadabad yang silam maka ya masih tersisa warisan beliau apa itu ya sunahnya ajarannya apa yang kita
(42:32) perselisihkan atau terjadi hal yang ee kita berselisih dalam memahaminya atau mengamalkannya ke mana kita kembalikan Hal itu siapa yang menentukan kebenarannya? Ya, hadis Rasul, sunah Rasul, ajaran beliau kita kembalikan sebagaimana firman Allah yaumasul intuntum billahi walumil akhirikair ahsanwil. Bila kalian berselisi pendapat tentang suatu perkara, kembalikan kepada Allah dan rasulnya. Ya, itulah yang terbaik.
(43:09) Itulah akibat yang terbaik ya. Itulah hasil yang terbaik. Nah, jika kalian beriman kepada Allah dan yaumul akhir wataslim pasrah berserah diri. Tidak lagi merekayasa untuk menolak dengan berbagai alasan ya dengan segala kesombongan dia, dengan segala kejahilannya. Berarti mungkin ya berpura-pura, cerdas. Begitu datang kebenaran dia tolak.
(43:41) Ini sesungguhnya orang yang jahil. Allah mengatakan falaikum yuhaimuka yajidu fi anfusihim harjam mimma qitusallimu taslim. Demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman ya sampai mereka itu menjadikanmu ya hakimuka fiajar bainahum. Menjadikanmu Muhammad sebagai hakim ya yang memutuskan perkara yang mereka perselisihkan.
(44:23) Kemudian tidak terdapat dalam hati mereka rasa tidak senang terhadap keputusan. Wausallimu taslima. Dan mereka hanya pasrah berserah di kepada keputusan. Ya, tunduk dan patuh pada perintah Allah, pada perintah Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam. Itulah yang menjadi ya makna dari adab kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(44:54) Kemudian di antara adab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam tidak ya mendahului beliau dalam berkata dalam ee dalam ya memutuskan sesuatu. Alla yataqaddam baina yadai biamrin wa nahyin. Artinya tidak memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah beliau dan tidak melarang ya melakukan sebuah larangan atau menginstruksikan sebuah larangan bertentangan dengan larangan beliau.
(45:28) Nah, dan ini sebagaimana yang Allah perintahkan ya. Yadina amanu la tuqaddimu baina yadaillah wa rasulih. Wahai orang-orang yang beriman, jangan engkau mendahului Allah dan Rasulnya. Ya, dan ini kata beliau baqin ila qiyam saah ya berlaku sampai hari kiamat tidak pernah dihapus hukum tersebut. Jika di ee selama beliau hidup, semasa beliau hidup alaihialatu wasalam, para sahabat tidak seorang pun yang akan berani ya atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perkataan beliau, mendahului ya perintah atau larangan beliau. Maka sampai hari kiamat warisan beliau
(46:17) yang senantiasa terjaga sunahnya menjadi landasan kita, tempat kita kembali untuk menyelesaikan segala permasalahan. Jangan sampai kita mengedepankan pendapat siapapun ya doktrin siapapun, pemahaman siapapun dari sunah beliau ya.
(46:48) Jika dilarang selama atau semasa beliau hidup para sahabat untuk mengangkat suara di hadapan Rasul sallallahu alaihi wasallam. Lafwatum fauqtin Nabi. Karena beliau menyampaikan dalil, menyampaikan wahyu, menyampaikan sunahnya. Maka begitu juga tidak dibenarkan seseorang ya panjang hidup ini sampai yaumul qiamah untuk mengangkat ya perkataan siapapun, pendapat siapapun ya pendapat dia kah atau orang lain ya pendapat ulama siapapun pendapat kiai mana pun, guru manaun ya, dosen manaun, pakar manaun ya, maka tidak diperbolehkan untuk dia mengedepankan pendapat mereka itu di atas pendapat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melebihi sunahnya.
(47:47) Ini hukumnya berlaku sampai yaumul kiamah. Nam. Oleh karena itu yang demikian itu tidak ada perbedaan sama sekali. Selama atau semasa beliau hidup dilarang para sahabat lawatum nabi. Begitu atau setelah beliau meninggal sallallahu alaihi wasallam maka kita dilarang untuk mengangkat pendapat kita, pernyataan siapapun melebihi atau lebih tinggi dari perkataan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Namam.
(48:30) Karena siapapun yang mengatakan ya, maka semua pernyataan itu tidak akan mungkin melebihi perkataan Allah dan perkataan Rasul-Nya. Namam. Begitu juga beradab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam adalah ya tidak mempermasalahkan perkataan beliau ya dengan alasan mungkin pendapat seseorang tidak sesuai atau bertentangan dengan hal itu. Tidak mempertentangkan dengan analogi seseorang.
(49:04) Ya, bahkan kata Imam Ibnu Qayyim, semua bentuk pemikiran analogi seorang hendaklah ya tunduk kepada tekst-teks hadis, kepada perkataan Nabi sallallahu alaihi wasallam dan juga tidak menyelewengkan perkataan beliau sallallahu alaihi wasallam dari ya hakikatnya dengan berbagai khayalan, dengan berbagai pendapat, pemikiran, pemahaman yang mungkin sebagian ya mengatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang mungkin sesuai dengan logika dia. Logika dia. Nam.
(49:36) Kemudian ya adab kepada sesama tentunya adalah bagaimana bermuamalah yang baik. Namam masing-masing sesuai dengan posisi dan keadaan. Bagaimana adab kepada kedua orang tua? Bagaimana adab kepada orang yang berilmu? Bagaimana adab pada pemimpin? Bagaimana adab pada teman, pada tetangga, adab kepada tamu, ya, ada kepada keluarga.
(50:09) Itu semua adalah hal yang dituntut untuk kita lakukan. Dan beliau memberikan satu kesimpulan bahwa waabul mar unwu saadatihi wa falahihi waillatu adabihi unwanuqawatihi wawarihi bahwa adab seseorang dalam berinteraksi itu sebagai bukti landasan ya tanda kemuliaan dia dan keberuntungan kesuksesannya.
(50:44) Adapun orang yang tidak memiliki adab ya krisis dalam adab, maka itu sebagai pertanda kesengsaraan dan kerugiannya. Dunia wal akir bili adab. Ya, tidaklah diraih kebaikan dunia dan akhirat ya seperti dengan memiliki adab. Dan tidaklah seseorang ya terhalang mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat disebabkan oleh apa? Seperti ya krisis adab yang ada pada dirinya.
(51:20) Oleh karena itu, para pemirsa, para pendengar, kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, mari kita introspeksi diri. Mungkin selama ini kita alhamdulillah adab kepada sesama baik, tapi bagaimana adab kepada Allah? adab kepada Rasulullah, kepada syariat Allah. Sudahkah dalam hidup ini Rasul menjadi panutan kita? Sering kita mendengar ya sebagian mengkritisi orang-orang yang mengajak pada sunah, tapi kata mereka, mereka kurang etika dan adab. Ya subhanallah.
(52:02) Dia mengira bahwa adab itu hanya tutur kata. sopan santun, tata krama ya sesama manusia. Betul itu hal yang diperintahkan hablum minannas. Tapi yang terpenting dari itu semua dan itu merupakan landasan utama bagaimana beradab kepada Allah, adab kepada Rasul. Begitu diajak kepada sunah, dia menolak. diajak kepada tauhid, dia tidak menerima.
(52:41) Diajak untuk mengikuti sunah Nabi dalam beribadah, berakidah, dia menolak dengan alasan, tidak sesuai dengan budaya, bertentangan dengan tradisi, kearifan lokal, dan berbagai alasan. Bahkan dia mengatakan tak sesuai dengan pendapat kiai saya, pendapat ustaz saya, pendapat dosen saya, pakar ini, pakar itu, dan seterusnya. Ya, subhanallah. Ini yang berbicara tentang adab, tapi tidak memiliki adab. Namam.
(53:07) Jadi ada adab kepada Allah, ada adab kepada Rasul, pada agama dan adab kepada sesama. Mari kita perhatikan ketiga hal itu. Jangan sampai ada ketimpangan ya. Karena adab di dalam agama menuntut kita untuk mempelajari, mengimplementasikan ketiga perkara tersebut. Adab kepada Allah. Adab kepada rasul, adab kepada sesama. Mudah-mudahan bermanfaat. Demikian. Wallahuam.
(53:39) Tib ustaz. Barakallahu fikum wajakallahu khairan. Terima kasih atas bimbingan serta kesediaannya untuk menyampaikan pelajaran bermanfaat di kesempatan pagi hari ini. Semoga menjadi tambahan ilmu dan Allah berkahi serta berikan kemudahan untuk kita bisa memahami dan mengamalkannya. Selanjutnya kami berikan kesempatan bagi Anda yang bertanya seputar pembahasan ini nanti silakan di 0218236543 Anda bisa mengirimkan meli pesan singkat maupun secara langsung via telepon.
(54:15) Kami coba angkat melalui via telepon. Silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ibu dengan siapa? Di mana? Mohon maaf. dari Ibu Reni Pamulang 2 Tangsel. Silakan, Ibu pertanyaannya. Halo. Ya, silakan Ibu disampaikan.
(54:38) Pertanyaannya, bagaimana kita membalas salam nonmuslim kepada kita sebagai muslim? Baik. Memberi salam kepada kita. Tapi yang memberi salam itu non muslim, Ustaz. Iya. Mohonnya asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan, Ustaz. Ya, terima kasih kepada Ibu yang bertanya. Ee barakallahu fik.
(55:01) Bagaimana menjawab salam non muslim ya kepada kita? Yang pertama tentunya ya kita tidak memulai mengucapkan salam sama muslim ya kita harus mengucapkan salam. Baik kita ketahui ee siapa dia nam teman kitaakah atau yang tidak kita kenal maka kita mengucapkan salam sama muslim. ini hak yang harus kita tunaikan dan wajib menjawabnya. Adapun kepada nonmuslim tidak mengucapkan salam ya.
(55:30) Karena salam adalah keselamatan ya, memohon keselamatan dunia akhirat. Bagaimana dia seorang yang dalam kufur ya, tapi boleh kita mendoakan agar dia mendapatkan petunjuk. atau dengan mengkaitkan salamun ala mantabaal huda, keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk. Nah, adapun bila seorang ya nonmuslim mengucapkan salam kepada kita, kita hanya membalas wa alaik namam wa alaik seperti itu ya. Tidak lebih dari itu. Nah, demikian wallahuam.
(56:17) Baik Ustaz, terima kasih atas nasihat dan jawabannya. Berikut kami akan bacakan dari Abdullah di Jakarta yang bertanya. Dari Abu Abdullah di Jakarta ya. Afan Ustaz izin bertanya mana yang lebih didahulukan kita mempelajari adab dulu atau mempelajari ilmu syar’i? Silakan Ustaz. Ya. Terima kasih. Mana yang lebih dahulukan mempelajari adab atau ilmu agama? dari apa yang kita sampaikan tadi bahwa adab itu bukan hanya sebatas tutur kata dan lis ee dan dalam berinteraksi sama manusia, tapi adab kepada Allah, adab kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam pada agama. Maka dalam hal ini tahapan pertama dari tahapan-tahapan kan
(57:09) thalibul ilmi bagaimana mempelajari etika dan adab yang demikian itu ini hal yang harus menjadi perhatian ya terutama para ya ee pengelola dunia pendidikan karena tidak dipungkiri sekarang kita menghadapi krisis etika akhlak dan moral. Ya, bagaimana? Apalagi kepada Allah dan Rasul-Nya, pada sesama. Ya, oleh karena itu dahulunya para ulama salaf sangat memperhatikan hal ini.
(57:49) Mereka begitu mengutus anak-anaknya untuk belajar ya madrasah-madrasah yang dikatib, mempelajari ilmu. Maka pertama yang mereka wasiatkan kepada anaknya ya untuk mempelajari adab ya, etika, tutur kata. perilaku ya kepada dari guru-gurunya. Mereka mengatakan pada anak-anaknya, “Ta’allam minhu adab qobla tata minhul.
(58:21) ” Pelajari adabnya, tikanya, ya tutur katanya sebelum engkau mempelajari ilmunya. Sebagian mengatakan laalama baban minal adab ahabamaan minal ilm. Wahai anakku, jika engkau mempelajari satu bab dari bab adab, tentu lebih aku senangi daripada engkau mempelajari ya 70 bab dari bab-bab ilmu.
(58:57) Karena seorang bila cerdas, mempelajari ilmu, tidak memiliki adab dan etika kepada Allah, kepada Rasul, pada sesama, tidak ada arti dan nilai dari keilmuan yang dia miliki. Nam pada indikator bahwa ilmu mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat. Imam Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Nahnu ila qilin qalil adab ahwaju minal ilm.
(59:25) ” Kebutuhan kita kepada sedikit adab lebih besar daripada kebutuhan kepada banyaknya ilmu. Ini yang sangat penting sekali. Nah, kemudian bertahap. Karena untuk berilmu memiliki adab, belajar memiliki adab dan semua ilmu yang dipelajari memiliki adab. Ya, ilmu tentang akidah memiliki adab. Bagaimana kita adab kepada Allah. Ilmu tentang sunah-sunah itulah ilmu yang benar. Bagaimana kita beradab kepada Rasul, ilmu tentang berinteraksi, bermuamalah dengan sesama.
(59:59) Akhlak yang mulia memiliki adab. Jadi tidak diragukan. Ini adalah hal yang sangat penting sekali dalam proses pembelajaran dan ini harus ditanamkan ya ditanamkan dalam diri anak kita ya di awal perjalanan mereka dalam menuntut ilmu itu juga adab etika dengan sesama terutama orang tua ya sa keluarga kerabat tetangga dan dalam berbagai lini kehidupan Namam. Demikian. Wallahuam bab ustaz. Jazakallahu khairan.
(1:00:38) Terima kasih atas jawabannya. Kami akan bacakan dari pesan singkat yang telah masuk. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya penanya dari Sulawesi. Ustaz, bagaimana cara kita bersikap? Apakah tegas atau dengan adab? Menghadapi kejahilan cara beragama dari orang-orang yang lebih tua? singkatnya menyeimbangkan antara adab pada ilmu-ilmu sunah dengan adab ke orang tua. Ustaz Sukron mohon jawabannya. Silakan.
(1:01:13) Terima kasih. Tidak ada yang bertentangan dalam hal ini. Semua bisa dikolaborasikan ya disinergikan. Karena sesungguhnya apa yang muncul dari perilaku orang tua kita atau orang-orang yang tua yang ada lingkungan kita ya karena kejahilan mereka kan di situlah karena begitulah mereka belajar selama ini ya dan tentunya mereka merasa lebih tua lebih memiliki pengalaman kemudian datang kita membawa sesuatu yang bertentangan dengan tradisi dan budayanya.
(1:01:53) maka dia memiliki persepsi yang keliru, persepsi yang negatif ya tentang anaknya atau siapapun yang datang untuk mengajak merubah perilaku dan kebiasaan tadi. Tapi sebagai anak tentu adab yang terbaik kepada orang tua adalah mengajak dia kepada kebaikan dengan tutur kata yang lembut, yang santun. Inilah adab yang paling mulia ya. Bukan mengikuti kebiasaan dan tradisi dengan alasan gak ingin orang tua murka.
(1:02:22) Ya, apalagi kalau beralasan rida Allah tergantung kepada rida ya pada orang tua. Tidak demikian. Bahkan sebagaimana yang dicontohkan oleh ee Khalilurrahman Ibrahim Alaih Salam, bagaimana beliau mengajak ayahnya yang membuat patung berhala.
(1:02:48) Bagaimana beliau menggunakan ungkapan-ungkapan yang lembut, yang santun, ya. Dan kita mendapatkan hal itu dalam Al-Qur’an. Inilah etika bagaimana adab Ibrahim ya. Sebagaimana tadi kita jelaskan bagaimuturkan ya mengatakan ya kepada Allah azza wa jalla. Naam begitu juga dari sisi lain berinteraksi dengan sesama. Beliau mengatakan kepada ayahnya dia tidak mengatakan ya Abi tidak demikian wahai ayahku.
(1:03:17) Tapi ungkapan yang sangat lembut dan santun. Ya abati, wahai ayahanda, ya abati lima tab’bud ma yasma w yubsir wala yni. Ya abati, wahai ayahan, kenapa engkau mengibadati suatu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak bisa mendatangkan kebaikan baginya. Ya abati inni jaani minal ilmiamtikaabi. Wahai ayahanda, sayaah mendapatkan ilmu yang tidak engkau miliki. Ikuti saya.
(1:03:55) Tutur kata yang luar biasa. Ya, lihat bagaimana Allah ya memerintahkan kepada ee kepada Musa dan Harun untuk mengatakan kepada orang yang paling ya paling sesat dan paling sombong ya paling diktator di zamannya itu Firaun. Paling bengis ya. Allah mengatakan qul lauan layina katakan kepada perkataan yang lembut ya dan sama saya tidak bertentangan nam disampaikan kebenaran tapi dengan ungkapan yang baik begitu juga kepada orang tua dan juga termasuk adal etika dalam hal ini mendoakan mereka ya bukan mengikuti ya
(1:04:50) selera atau keinginannya nya. Sehingga kata Allah, tatkala orang tua mungkin mengajak untuk melakukan kemaksiatan dalam hal ini seperti yang mengajak untuk berbuat syirik atau hal-hal yang lain, maka kata Allah, fala tutiuma. Jangan taati mereka berdua. Nah, fala tutuma waqulahuma qulan karima. Jangan taati mereka berdua.
(1:05:21) Tapi ingat, karena ibadah ini adalah adab kepada Allah. Enggak boleh mempersekutukan. Karena barang siapa yang mempersekutukan dia tidak beradab kepada Allah. Maka adab kepada Allah di sini harus diutamakan. Jangan sampai kita mengikuti seruan untuk berbuat kesyirikan atau kemaksiatan. Karena bila itu terjadi, seorang tidak lagi beradab dengan Allah ya atau mengikuti hal-hal yang bidah, berarti dia tidak beradab kepada Rasulullah. Tapi di sisi lain tidak bertentangan.
(1:05:49) Allah perintahkan untuk senantiasa beritikad dan beradab kepada kedua orang tua. Waqula lahu lain ulan karima. Qlahuma lan karima. Katakan kepadanya perkataan yang karimah, yang mulia, yang baik. Subhanallah. Lihat. Jadi harus menj kita jaga keseimbangan itu ya. Keduanya memiliki hak dan etika yang harus kita gunakan, yang kita harus kita lakukan dalam berinteraksi. Namam.
(1:06:23) Dan perlu diketahui hidayah bukan di tangan kita. Hidayah di tangan Allah. Maka teruslah bertutur kata yang baik mendoakan ya kebaikan. Itu yang harus dilakukan dalam rangka mengimplementasikan adab dan etika yang baik dalam mengajak kepada kebenaran, terutama orang tua kita. Naam. Demikian. Wallahuam. Tib ustaz. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas jawaban dan nasihatnya.
(1:06:50) Berikut kami berikan kesempatan untuk Anda yang ingin bertanya langsung melalui via telepon silakan. Halo. Halo. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ibu dengan siapa? Di mana ini? Mohon maaf. Hamba Allah di Situbondo, Jawa Timur. Silakan, Ibu, pertanyaannya. Ee ini, Ustaz tentang doa.
(1:07:16) Kalau misalnya doa kan katanya kalau doa ee bersama kaum muslimin muslimat wal mukmin mukminat itu ada miliaran pahalanya. Itu semua kan mengaku seorang muslim baik tidak mengerjakan ibadah maupun mengerjakan amal saleh. Apakah itu ee tanpa terkecuali atau ada pengecualian? Ustaz mohon penjelasan syukron jasa qhair. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Silakan, Ustaz.
(1:07:42) Terima kasih kepada Ibu yang bertanya. Barakallahu fik. Pertama yang harus kita pahami dalam kita ya berinteraksi dan mengetahui dalam perjalanan hidup kita seorang muslim atau tidak muslim, kita hanya bisa ya menghukumi sesuai dengan zahirnya. Nah, dan dari perilaku kesehariannya. Kalau dia salat mak dia muslim ya.
(1:08:16) Karena itu bukti dari keislamannya. Dia tidak berbuat hal-hal yang kesyirikan. Nah, dan bila dia taat melaksanakan perintah mengikuti sunah ini, muslim yang baik. Nam. Jadi selama dia seorang yang muslim tidak melakukan amalan-amalan, perbuatan-perbuatan yang menghancurkan keislamannya, kesyirikan atau hal-hal yang murtad ya berolok-olok dengan agama, dia muslim.
(1:08:49) Maka doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk memohon keampunan ya mencakup mereka. Nah, adapun mereka yang mengaku muslim kemudian berbuat kesyirikan waliyazubillah, syirik yang besar. Menyembah selain Allah, bernazar kepada selain Allah, memohon kepada selain Allah, meminta keberkahan kepada selain Allah.
(1:09:16) Ini amalan-amalan yang syirik yang menghancurkan Islam seseorang atau yang meyakini bahwa ada di dunia ini, di alam semesta ini, sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan, menolak kemudaratan, marabahaya dan petaka selain Allah. Ini adalah keyakinan yang syirik. Maka kendati dia mengaku sebagai muslim tidak ada arti dari pengakuan itu. Naam. itu akan membatalkan persaksian syahadat allailahaillallahnya.
(1:09:43) Tapi selama tidak ada hal itu, dia melakukan hal yang mungkin kemaksiatan yang tidak sampai mengeluarkan dari Islam atau lalai dalam sebagian kewajiban. Maka ya kita berharap bahwa doa dipanjatkan tersebut itu mencakup mereka. Semoga Allah memaafkan kita dan mereka kaum muslimin yang mungkin masih ya dalam kelalaian dalam beribadah kepada Allah azza waalla.
(1:10:09) Dan rahmat Allah sangat luas, kasih sayangnya sangat luas, keampunannya sangat luas. Ya, bahkan nanti di akhirat Allah subhanahu wa taala ya akan ee memasukkan ke dalam surga ya seorang yang la ya’malu khairan qat illa hanya dia bertauhid ya. Dan kita meyakini bahwa di akhirat orang-orang yang bertauhid kendati diazab di dalam api neraka.
(1:10:41) Ya, azab yang pedih, yang berat dengan waktu yang lama tapi masih ada bertauhid di hatinya ada lailahaillallah maka tentu akan dikeluarkan kemudian dicelupkan ke dalam sungai kehidupan. Kemudian mereka tumbuh hidup bersih kembali baru masukkan ke dalam surga.
(1:11:07) Intinya bukan ini berarti kita ya menggambang-gambangkan masalah dosa, tapi menjadi pernyataan adalah bahwa seorang yang beriman dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur yang membatalkan keimanannya, maka doa kita keampunan kepada kaum muslimin dan muslimat itu mencakup mereka semua yang saleh dan juga yang ee mungkin ee berkurang tingkat kesalehannya. Naam. Demikian. Wallahuam. Baik Ustaz. Jazakallahu khairan. Terima kasih Ustaz atas jawaban dan nasihatnya.
(1:11:37) Berikut kami bacakan pertanyaan dan pesan singkat dari hamba Allah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustaz. Ustaz, kita saat ini hidup di berbagai lapisan kelompok dan komunitas masyarakat. di mana terkadang di komunitas tersebut atau di kerjaan kita ada peraturan-peraturan yang mengharuskan kita melakukan adab yang berlebihan khususnya mungkin dalam cara menghormati senior, menghormati guru-guru kita dan lain sebagainya.
(1:12:12) Bahkan di dunia bela diri pun kami bergelut. Kadang kita dalam memberikan salam sampai membungkuk atau ada yang sampai sujud. Ada juga di dunia kedinasan kita menghormat dan sampai membungkuk dan lain sebagainya. Bagaimana kita Ustaz menyampaikan hal ini agar tidak bergesekan dengan yang ada di dalam masyarakat dan memberikan informasi yang baik. Silakan.
(1:12:44) Ini hal yang fakta ya, realita kehidupan seperti itu kita dapatkan dan itu semua dibangun di atas kebiasaan tradisi atau mungkin budaya. Tapi ingat bahwa tadi Imam Ibnu Qayyim menjelaskan adab itu adalah addin kullu, melaksanakan syariat dalam berbagai lini kehidupan dan semua agama agama telah mengatur.
(1:13:12) Ya, maka jangan sampai dengan alasan kita ingin berada, beretika tapi menyelisihi aturan syariat. Ya, ini tentu salah kapur adalah memahami adab. Adab itu adalah taqayyud bidinillah. yaitu kita mengikuti agama Allah, perintah Allah, larangannya, namam melaksanakan syariat dan itu semua telah mengatur bagaimana kita beradab kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada syariatnya, kepada sesama.
(1:13:43) Karena membungkuk ya itu masuk bagian dalam rukuk atau sujud tapi tidak seperti ya sujud sempurna. Yang menundukkan diri dengan seperti itu hanya kepada Allah ya, kepada sesama dia manusia. Tidak boleh kita menunduk apalagi sampai sujud karena sujud ibadah. Naam. Rukuk hanya kepada Allah. Tidak boleh kecuali hanya kepada Allah.
(1:14:10) Adapun kalau hanya sebatas mungkin hormat tradisi ya dalam artian ya dengan mengangkat tangan hormat begini ya. Jika bukan tujuannya adalah pengkultusan, meyakini bahwa senior saya ini lebih tinggi dalam artian lebih baik, wajib dikultuskan, dimuliakan. Ya, kalau tidak saya akan celaka dan tidak sampai seperti itu.
(1:14:35) Hanya sebatas sebuah tradisi ya kita lihat dalam dunia kemiliteran seperti itu ya hormat. Maka kemudian tidak ada masalah kembali kepada niatnya sama juga. kita hormat misalnya kepada bendera misalnya merah putih. Apa iktikad kita? Apakah merah putih itu yang menyelamatkan negeri ini? Tidak. Yang menyelamatkan dengan izin Allah perjuangan para pahlawan ya. Berjuang ya karunia dari Allah. Tapi itu simbol.
(1:15:09) Kalau tidak disepakati simbolnya ya kita ya harus jaga. Tapi tidak boleh sampai mengkultuskan, meyakini kalau tidak ada merabuti kita celaka. Bukan merabuti sukar ada kain ya merah dan putih dijahit itu sebagai simbol negara gitu ya. Tapi bukan itu yang memerdekakan kita. Itu harus dipahami ya. Ini tidak bertanya. Itulah kenyataannya. Begitu juga dalam berinteraksi dengan sesama.
(1:15:45) Intinya jangan sampai bertentangan dengan syariat Allah. Bagus. Para junior menghormati para seniornya. Senioritas bagus. Tapi jangan sampai karena ingin menghormati kita sampai sujud membungkuk gitu ya menunduk. itu tidak dibenarkan syarat syariat ya. Apalagi mungkin karena hormat kepada para senior, para guru, sampai ya menunduk, sampai begitu mungkin ee ingin hormat menundukkan sampai sujud bersimpuh hadapannya mencium menundukkan ya sampai mencium lututnya atau mungkin kakinya.
(1:16:27) Ini semua bukan adab lagi. Tidak sesuai dengan syariat. Maka intinya dalam berada beretika harus sesuai dengan ya norma-norma agama. Itu yang harus diperhatikan norma-norma agama ya. Jadi tradisi dan budaya harus tunduk kepada norma agama.
(1:16:52) Tatkala tradisi dan budaya tidak tunduk pada norma agama ya tidak masuk ke dalam adab yang diperintahkan dalam syariat. Maka hendaklah ini dipahami, dipahami secara benar agar kita betul-betul ya memiliki adab yang baik dalam berinteraksi. Nam seperti itu. Nah, dan seorang bila menghadapi hal yang tidak sesuai dengan syariat maka dia berusaha untuk menasihati, mengingatkan.
(1:17:16) Karena karena ketidaktahuan seseorang tentang hal itu, maka dia membuat sebuah aturan yang itu bertentangan dengan syariat. Tapi bila diingatkan, insyaallah dia akan bisa menerima selagi dia itu dalam hatinya ada ya keislaman dan loyalitas kepada agamanya, kepada Islamnya. Namam demikian. Wallahuam. Ya, demikian yang bisa disampaikan dan dijawab pada kesempatan kali ini.
(1:17:42) Ee mudah-mudahan di lain waktu bisa kita lanjutkan. Mohon maaf atas segala kekhilapan dan kekurangannya. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah azza wa jalla. Insyaallah ketemu di pekan yang akan datang. Demikian wallahuam wasallallahu wasa nabina Muhammad wa alihi wasahbihi wasallim. Walhamdulillahi rabbil alamin.
(1:18:00) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan jazakallahu khairan. Wabarakallahu fikum. Terima kasih kepada Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA hafidahullahu taala yang pada kesempatan pagi hari ini di tengah-tengah kesibukan beliau di dalam mengajar serta berdakwah khususnya masih menyempatkan untuk menghadirkan kajian A’malul Qulub dari Sturum Mini sekolah ee Saya Ali di Surabaya.
(1:18:36) Dan semoga pertemuan kita ini mendapatkan kebaikan. keberkahan dan Allah mudahkan untuk mengambil banyak faedah dari pelajaran ini. Ikhwatil Islam rahimani warahimakumullah. Sahabat taujun Anda berada, kami yang bertugas mohon pamit undur diri. Mohon maaf apabila ada kekurangan dalam menghadirkan program acara ini.
(1:18:57) Kami akhiri subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. nahmaduhufakah


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *