(3) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah – YouTube
Transcript:
(00:03) Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi wa kafa wasalatu wasalamu ala nabinal mustofa wa ala alihi wasohabatihi wamaniktafa amma baad.
(00:46) Kaum muslimin, para pendegar maupun pemirsa Raja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah di kesempatan malam yang berbahagia ini kita akan kembali simak dan juga ikuti program kajian ilmiah yang disiarkan secara langsung yang dapat kita simak di kesempatan malam hari ini dari pembahasan kitab syarah akidah thahawiyah bersama pemateri kita Al Ustaz Ahmas Faiz Asifuddin hafidahullahu taala di mana alhamdulillah telah terhubung bersama kami dan beliau akan menyampaikan kajian dari kota Solo tentunya Anda para pagar maupun pemirsa RJA di manapun Anda menyimak siaran kami di malam hari ini dapat bertanya di sesi
(01:25) tanya jawab kajian dengan menghubungi melalui layanan line telepon ke nomor 0218236543. Anda pula dapat bertanya melalui pesan singkat yang dapat Anda kirimkan ke layanan WhatsApp ke nomor yang sama yaitu nomor 0218236543. Baiklah para pendengar maupun pemirsa di mana pun Anda berada.
(01:53) Alhamdulillah kami pun sudah terhubung bersama Ustaz Ahmad Faiz hafidahullah di kesempatan malam hari ini. Dan kepada beliau kami persilakan. Falatafadol masykuran. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin. Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna nabiana Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim wabarik ala abdika wa rasulika Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain.
(02:25) Amma ba’d. Para pemirsa dan pendengar TV dan radio Roja di mana saja berada. Alhamdulillah pada kesempatan malam hari ini kita bisa lanjut membahas tentang prinsip-prinsip akidah ahlusunah wal jamaah yang disampaikan oleh al Imam at- Thaahawi rahimahullah dalam syarah al-Aqidah At-Tahawiyah. syarah yang disampaikan oleh As Syekh Saleh Ibnu Fauzan Alfa Fauan hafidahullah taala.
(03:15) Dan dan kita berhenti pada perkataan al Imam At Thaahawi ee pada pembahasan yang ke-41 pada penomoran yang ada di dalam kitab saya yaitu kata beliau rahimahullah wa anna muhammadan abduhu al mustofa wa nabiyuhul mustaba wa rasuluhul murtad Sesungguhnya Muhammad adalah hamba pilihan Allah, nabi pilihan Allah, dan rasul yang diridai Allah. Kita berhenti pada pembahasan abduhu.
(03:59) Pembahasan tentang perkataan al Imam At Thaahawi bahwa Nabi Muhammad adalah abduhu. Jadi pada pekan yang lalu kita jelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah. Maka beliau tidak memiliki sedikit pun hak untuk disembah, hak untuk diibadahi, dan tidak punya sedikit pun hak mengatur alam semesta. Tetapi beliau adalah hamba dan utusan Allah.
(04:41) Beliau melaksanakan perintahnya dan berhenti dari larangan-larangannya. Beliau adalah penyampai risalah dari Allah. Dan ini sekaligus sebagai bantahan terhadap adanya sikat gulu, adanya sikap berlebihan terhadap Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Karena ada orang-orang yang bersikap ghulu, berlebih-lebihan terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(05:16) Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dianggap memiliki sesuatu dari rububiyah, memiliki kemampuan untuk mengatur alam semesta atau memiliki hak untuk diibadahi. Sehingga mereka juga meminta-minta kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam di samping meminta kepada Allah. Kata Syekh Salfaan hafidahullah, wah guluwun wal iyadzubillah kama golat annasar fil masih Isa Maryam. Ini adalah sikap ghulu.
(06:02) Ketika Nabi dianggap mempunyai kemampuan untuk mengetahui perkara gaib, untuk mengatur alam semesta, untuk mengatur peristiwa-peristiwa dan mempunyai hak untuk diibadahi. Kemudian sebagian orang minta-minta kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, maka ini adalah sikap ghulu. Sebagaimana orang-orang Nasra gulu terhadap almasih Isa ibn Maryam, Nabiullah dan utusan Allah Subhanahu wa taala. Waqolu innahu ibnullah Allah a.
(06:54) Mereka mengatakan Isa itu adalah ibnullah atau bahkan Allah itu sendiri atau yang ketiga dari yang tiga. Maka dalam perkataan al Imam at Thaahawi, abduhu al mustofa anna muhammadan abduhul mustofa. Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba Allah yang dipilih. Fihi raddun lil ghulu.
(07:31) Maka pada perkataan beliau itu terdapat bantahan terhadap sikap ghulu. Fahua abdun. Maka beliau adalah seorang hamba. Waullu man fil ardhi wasamawat abidun lillahi azza waalla. Semua yang ada di bumi, semua yang ada di langit adalah hamba-hamba Allah azza wa jalla. Disebutkan Syekh Salh Al Fauzan membawakan firman Allah Taala beberapa ayat.
(08:04) Di antaranya dalam surah Maryam ayat 93. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “In kullu man fis samawati wal ardhi illa air rahmani abda.” Semua yang ada di langit, semua penduduk bumi itu hanya akan datang kepada Arrahman abda sebagai hamba. Jadi semuanya penduduk langit, penduduk bumi termasuk para malaikat itu adalah hamba bagi ar-Rahman.
(08:37) Fal malaikatu abid. Maka para malaikat adalah hamba. Allah sebutkan dalam surah al-Anbiya ayat 26 27. Bal ibadum mukramun. Bahkan para malaikat itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah. Para malaikat adalah para hamba. La yasbiquunahu bilqul wahum biamrihi y’malun.
(09:12) Mereka tidak pernah mendahului perkataan Allah dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah. Wal anbiya warusul abid. Para nabi dan para rasul Allah itu semuanya adalah hamba Allah. Kama qala subhanahu fi Nuhin alaihissalam. Sebagaimana Allah Taala berfirman tentang Nuh alaihialatu wasalam dalam surah Al-Isra ayat 3. Kana abdan syakuro. Adalah Nuh seorang hamba yang bersyukur.
(09:48) Nuh adalah abdan, seorang hamba yang bersyukur. Begitu juga dalam firmannya yang lain surah Alqamar Alqamar ayat 9. Fakadzabu abdana. Maka mereka orang-orang kafir mendustakan hamba kami. Yang dimaksudkan adalah mereka mendustakan Nuh alaihialatu wasalam. Mau ee mengingkari dan tidak mau percaya kepada Nuh alaihialatu wasalam sebagai hamba Allah.
(10:18) Waqala fi Daud. Allah juga berfirman tentang Daud. Wadkur abdana dawudal aid innahu awwab. Dalam surah Shad ayat 17. Dan ingatlah tentang abdana hamba kami. Ingatlah kepada hamba kami yaitu Daud yang punya kekuatan. Innahu awwab. Sesungguhnya Daud itu betul-betul sangat taat kepada Allah. Waqala fi Sulaiman.
(10:56) Begitu juga Allah berfirman tentang Sulaiman dalam surah Sad ayat 30. Nmal abdu innahu awab. Sesungguhnya Sulaiman itu adalah sebaik-baik hamba. Innahu awab. Sesungguhnya dia sangat taat kepada Allah. Demikian juga berfirman Allah di dalam surah Sad ayat 41 tentang Ayub. Wazkur abdan abdana Ayub. Wazkur abdana Ayub. Ingatlah akan hamba kami yaitu Ayub.
(11:36) Waqala fi Isa. Allah berfirman tentang Isa alaihialatu wasalam dalam surah Azzukhruf ayat 59. In hua illa abdun an’amna alaihi wa ja’alnahu matsalan libani israil. Tidak lain Isa itu adalah seorang hamba yang telah kami anugerahkan nikmat kepadanya dan kami jadikan dia sebagai contoh teladan, contoh pelajaran bagi Bani Israil.
(12:13) Jadi semuanya ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat adalah hamba-hamba Allah. Para rasul, para nabi adalah hamba-hamba Allah. Faidza kanal anbiyau warusulu wal malaikatu abidun lillah. Kalau para nabi, para rasul, dan para malaikat semuanya adalah hamba bagi Allah. Wahum asroful khalq. Sedangkan mereka adalah makhluk Allah yang paling mulia.
(12:44) minal auliyain min babi aamaka lebih layak lagi para wali dan orang-orang saleh. Jadi mereka tidak mungkin keluar dari kedudukannya sebagai hamba. Para malaikat hamba, para nabi hamba, apalagi para wali dan orang-orang saleh. Maka mereka adalah para hamba Allah Subhanahu wa taala dan tidak memiliki hak untuk diibadahi. Tidak memiliki hak mengatur alam semesta.
(13:19) tidak memiliki wewenang untuk mengatur peristiwa di muka bumi. Wa afdoluhum Muhammadun sallallahu alaihi wasallam wahua akhirul anbiya. Dan yang paling utama, yang paling afdal adalah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan beliau adalah akhirul anbiya, nabi yang terakhir. Allah juga menyebut beliau sebagai abdun. Wasamallah wasammahullahu abdan.
(13:54) Wasammahullahu abdan. Allah menyebutnya sebagai hamba. Di antaranya di dalam firman Allah Taala surah Albaqarah ayat 23. Waum fiibin mimma nazalna ala abdina. Dan kalau kalian ragu tentang wahyu yang kami turunkan kepada hamba kami. Jadi Allah menyebut Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai hamba, yakni Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang dimaksudkan ala abdina.
(14:27) Maksudnya adalah Rasul Allah sallallahu alaihi wasallam. Nabi Muhammad alaihialatu wasalam. Waqala taala pada ayat yang lain Allah berfirman, “Tabarokalladzi nazzal furqana ala abdihi.” Maha barokah Allah yang telah menurunkan alfurqan, yakni Al-Qur’an kepada abtihi, kepada hambanya, yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(14:57) Pada surah Al-Isra ayat yang pertama Allah berfirman, “Subhanalladzi asro biabdihi lailan bil akhiril ayah.” Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ilal Masjidil Aqsa. Dari Masjid Alhamsa. Kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, waqomul ubudiyah hua aal maqamat. Kedudukan sebagai hamba merupakan kedudukan yang paling tinggi.
(15:40) Ketika Allah menyebutkan Nabi Muhammad, rasul-rasul Allah dan nabi-nabi Allah yang lain, para malaikat sebagai hamba, maka ini menjelaskan tentang kedudukan para nabi dan para rasul. Dan kedudukan sebagai hamba Allah disebut sebagai hamba Allah. Kedudukan hamba ini adalah kedudukan yang paling tinggi.
(16:12) Kenapa? Karena ketika seorang hamba disebutkan secara khusus oleh Allah sebagai hamba-Nya, maka ini adalah penghormatan dari Allah kepada hamba yang disebutkan secara khusus tersebut. Wai asrof minal ubudiyah lillah azza wa jalla. Tidak ada sesuatu yang lebih terhormat daripada kedudukan sebagai hamba Allah Subhanahu wa taala. Makanya yang disebutkan secara khusus adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah para nabi, adalah para malaikat.
(16:52) Sedangkan kaum mukminin disebutkan secara umum oleh Allah Subhanahu wa taala. Tidak disebutkan satu persatu bahwa fulan adalah hamba Allah. Tidak disebutkan demikian, tapi disebutkan secara umum. Wa ibadur rahman dan hamba-hamba arrahman. Siapa saja yang beriman, siapa saja yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah dalam ayat ini dan ayat-ayat berikutnya.
(17:25) wa ibadur rahman alladzina yamsyuna alal ardhi haunan dan seterusnya. Hamba-hamba arrahman tidak disebutkan secara khusus nama-nama fulan per fulan, tetapi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam disebut khusus. Para nabi disebut khusus, Nabi Muhammad disebut khusus. Subhanalladzi asro biabdihi. Maksudnya adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tabarakalladzi nazzalal furqan ala abdihi.
(17:53) Maksudnya adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maha barokah Allah yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Begitu juga Isa. In hua illa abdun. Tidak lain Isa itu adalah hamba. Wadkur abdana Ayyub. sebutkan, “Ingatlah akan hamba kami disebutkan secara khusus bahwa Ayub adalah hamba, bahwa Isa adalah hamba, bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah hamba.
(18:30) Sedangkan kaum mukminin disebutkan secara umum. Sehingga dari sini kita jelas mengetahui bahwa Nabi Muhammad tidak memiliki kedudukan sebagai Rabb. Nabi Muhammad tidak memiliki kewenangan untuk diibadahi. Qala alaihialatu wasalam dalam hadis yang sahih diriwayatkan oleh al Imam albukhari, Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “La tutruni kamain nas Isa Maryam. Innama ana abduh faqu abdullahi waasuluh.
(19:08) ” Jangan kamu berlebih-lebihan terhadapku. Jangan kamu memuji-mujiku secara berlebihan. Sebagaimana orang-orang Nasra memuji secara berlebihan kepada Isa ibnu Maryam. Menyikapi secara berlebihan kepada Isa Ibnu Maryam. Innama ana abduh. Tidak lain aku adalah hamba Allah. Oleh karena itu katakanlah abdullah wa rasuluh hamba Allah dan utusan Allah.
(19:41) Jadi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu hamba, tapi beliau adalah seorang rasul yang diutus oleh oleh Allah Subhanahu wa taala untuk menyampaikan risalahnya. Maka segala apa yang dikatakan oleh Nabi, segala apa yang dilakukan oleh Nabi adalah kebenaran mutlak terkait dengan masalah dinul Islam ini.
(20:04) Tapi beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh dianggap sebagai Tuhan. Tidak boleh orang minta-minta kepada Nabi. Tidak boleh orang minta-minta rezeki kepada Nabi, apalagi kepada kuburan beliau sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(20:27) Demikian juga tidak boleh minta-minta kepada para malaikat, tidak boleh minta-minta kepada para nabi yang telah meninggal dunia. Karena mereka adalah hamba Allah, bukan Tuhan, bukan yang memberi, tapi yang memberi adalah Allah Subhanahu wa taala. Anna Muhammadan abduhu al mustofa. Bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu adalah hamba Allah al mustofa. Maknal mustofa almukhtar. Almofa maknanya adalah pilihan Allah dari asal kata alistif wahual ikhtiar.
(21:03) Dari asal kata alistifa maknanya adalah pilihan. Jadi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah hamba Allah yang dipilih oleh Allah yang merupakan pilihan dari Allah. Qala taala. Allah taala berfirman, “Wadzkur ibadana Ibrahima wa Ishaq wa yaquba ulil aidi wal absar.
(21:36) Innahu inna aklasnahum btinikr wa innahumanaal mustofainal akyar. Ini sedang menerangkan tentang makna almoustofa pilihan Allah. Allah berfirman dalam surah Sad ayat 4547. Wadkur ibadana. Ingatlah akan hamba-hamba kami. Siapa? yaitu Ibrahim, Ishak, dan Yaakub. Orang-orang yang punya kekuatan yang besar.
(22:12) Wal absar dan orang yang punya hujah yang tinggi, punya ilmu dan hujah yang tinggi. Inna akhlasnaahum. Sesungguhnya kami menyucikan mereka bikolisatin dengan menganugerahkan kepada mereka akhlak yang tinggi. Apa itu bentuknya? Zikraddar. Yaitu selalu ingat akan negeri akhirat. Wa innahumana laminal mustofainal akhyar.
(22:48) Dan sesungguhnya mereka di sisi kami sungguh-sungguh merupakan hamba-hamba pilihan. Almustofain jamak mustofa. Kata firman Allah almoustofain adalah jamak mustofa, yaitu pilihan. Artinya Allah adalah ee Ibrahim, Ishak, Yaakub adalah hamba-hamba pilihan Allah Subhanahu wa taala. Fal mustofa hual mukhtar. Maka almustofa adalah pilihan yang dipilih oleh Allah.
(23:28) Dan Nabi kita Muhammad adalah hamba pilihan Allah. Kenapa? Liannallaha subhanah ikhtaro Muhammadan alaihiatu wasalam lirisalah min bainihi. Karena Allah telah memilih Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk mengemban risalah. Risalah Allah adalah risalah yang suci. Isinya adalah tentang bagaimana mengimani Allah, bagaimana mengimani perkara-perkara gaib, bagaimana menjalankan perintah-perintah, bagaimana tata cara beribadah kepada Allah.
(24:14) Maka Allah pilih Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam untuk mengemban risalah di antara kaumnya. Wallahu alamu haitsu yaj’alu risalatah. Dan Allah maha mengetahui di mana Allah menempatkan tugas kerasulannya. Dan Allah maha mengetahui kapan dan di mana. Siapa yang berhak untuk mengemban tugas sebagai rasul Allah. Fala yaktar. Maka Allah tidak mungkin akan memilih illa man ya’lam kecuali yang Allah ketahui annahu yastahiqul ikhtiar.
(24:52) Bahwa dia berhak untuk dipilih. Allah tidak mungkin memilih kecuali orang yang Allah tahu bahwa dia memang berhak untuk dipilih. Waahu yaquumu bil muhimmah. Dan Allah tidak mungkin akan memilih kecuali orang yang Allah tahu bahwa dia akan melaksanakan tugas sebagai rasul. Lianna hadil muhimmah sh’bah wazimah.
(25:20) Karena tugas sebagai rasul adalah tugas yang sulit dan berat. Maka Allah tidak mungkin akan memilih kecuali yang memang ahlinya. Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam surah Al-An’am ayat 124. Allahu a’lamu haitu yaj’alu risalatah. Allah maha mengetahui di mana dia menempatkan tugas kerasulannya. Siapa, kapan, dan ee bagaimana dia menempatkan tugas kerasulannya. Allah lebih mengetahui tentang itu.
(25:59) Kata al Imam at-Thawi berikutnya, wauhul mujtaba. Dan Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah nabi Allah yang mujtaba. Mustaba artinya adalah mustofa, sama pengertiannya nabi Allah yang dipilih oleh Allah. Jadi Allah telah mempercayakan risalahnya dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(26:27) Dan Rasulullah, Nabi kita Muhammad adalah orang kepercayaan Allah di akhir zaman untuk mengembah untuk mengemban risalahnya yang terakhir kepada seluruh umat manusia dari mulai beliau diutus sampai akhir zaman. Ini pilihan Allah bukan sembarangan. dipilih dari tengah-tengah bangsa yang mulia dan beliau adalah paling mulia di antara sekian ee kaumnya yang mulia.
(27:01) Jadi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah pilihan Allah Subhanahu wa taala. Kalau Allah saja mengamanahkan risalah kepada Muhammad sallallahu alaihi wasallam, nabi kita Allah percaya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, bagaimana kita tidak percaya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(27:26) Jadi seluruh risalahnya adalah kebenaran mutlak yang harus kita ikuti. W nabi man uh uhiya ilaihillah manallahu ilaihi bisyar’in walam yukmar bitablighi. Dan Nabi adalah orang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan satu syariat, tetapi tidak diperintahkan untuk mentablighkannya. Itu Nabi. Kata Syekh Salh Al Fauzan, “War rasul man uh ilaihi bisyarin wa umiro bitablighi.
(28:06) ” Sedangkan Rasul adalah orang yang diberi wahyu untuk mengemban syariat. ee dengan satu syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Jadi ini perbedaan antara nabi dan rasul menurut Syekh Saleh Al Fauzan. Ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang nabi dan rasul. Tapi kata beliau, “Wah hadza asharu ma qila fil farq bainan nabi war rasul.
(28:39) ” Dan ini adalah yang paling masyhur, pendapat yang paling masyhur tentang perbedaan antara nabi dan rasul. Nabi adalah yang Allah beri wahyu dengan satu syariat, tapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Sedangkan Rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syariat dan dia diperintahkan untuk menyampaikannya. Lalu beliau menjelaskan, wna umir bablighi. Makna diperintah untuk mentablighkannya.
(29:11) Artinya umir biilzaminas wa yuqatilahum ala ma jaa bihi. Artinya diperintahkan untuk mengilzam manusia, untuk mengharuskan kepada manusia untuk mengikuti risalah. risalah Allah Subhanahu wa taala. Jadi, Nabi diperintahkan untuk mengilzam, untuk mengharuskan kepada manusia mengikuti risalah ini dan untuk memerangi mereka atas apa yang dibawa oleh rasul tersebut.
(29:55) Artinya kalau orang tidak mau mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul, perintah Allah adalah supaya orang itu diperangi. Wakadzalikan Nabi kata beliau hafidahullah, demikian juga nabi yuha ilaihi. Nabi itu diberi wahyu oleh Allah dengan satu syariat wad’u ilallahi azza waalla. Dan mengajak orang lain menuju kepada Allah. mendakwahi orang lain untuk kembali kepada Allah itu juga nabi.
(30:27) Wakin yattabiu manqoblahu minal anbiya. Akan tapi nabi itu mengikuti nabi-nabi yang sebelumnya. Waamsyi thqi manqoblahu dan berjalan mengikuti jalan nabi sebelumnya. Jadi itu bedanya kalau Nabi tetap menjalankan dakwah, mengajak orang lain menuju kepada Allah, tapi tidak dengan wahyu yang baru, tetapi menjalankan ee syariat yang telah dijalankan oleh rasul-rasul sebelumnya.
(31:07) Wala yanfaridu bisyariatin khash. Dia tidak membawa syariat khusus, tetapi membawa syariat dari Nabi sebelumnya. Contohnya adalah anbiyau bani Israil, para nabi Bani Israil. Mereka semuanya jau bit taurah. Mereka datang dengan membawa kitab Taurat. Artinya kitab Taurat itu adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa alaihialatu wasalam.
(31:41) Diteruskan apa yang disampaikan oleh Nabi Musa oleh para nabi berikutnya menyampaikan kitab Taurat. Wadaau ilat ilat taurati allati anzalah ala Musa alaihiatu wasalam. Dan mereka mengajak manusia untuk kembali kepada Taurat yang Taurat itu Allah turunkan kepada Nabi Musa alaihialatu wassalam. Jadi itu adalah para nabi, para rasul Allah.
(32:18) Ada perbedaan pendapat tentang nabi dan rasul. Tadi kita mendengar penjelasan dari Syekh Saleh Alfauzan hafidahullah. Kemudian perkataan al Imam at Thaahawi berikutnya, warasuluhul murtad. Dan Nabi Muhammad adalah rasul Allah yang murtad. Almurtadha bimaknaal mustaba wal mustofa. Artinya hampir sama. almurtad yang dipilih artinya yang diridai oleh Allah.
(32:54) dipilih diridai oleh Allah subhanahu wa taala sebagai utusan Allah untuk membawa risalah Allah dan menyampaikannya kepada umat di akhir zaman semenjak nabi diutus hingga manusia terakhir dan umum meliputi seluruh makhluk seluruh manusia dan bahkan meliputi jin dan manusia itu yang dikatakan kan oleh al Imam at Thaahawi rahimahullah mengenai Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(33:31) Dan berikutnya beliau masih menjelaskan tentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Beliau berkata rahimahullah, wa annahu khatamul anbiya wa imamul atqiya wa sayyidul mursalin wa habibu rabbil alamin. Beliau adalah penutup para nabi, imamnya orang-orang yang bertakwa, sayidnya para utusan Allah dan habibnya Rabbul Alamin. oranginasih dari Rabbul alamin.
(34:09) Ini yang dikatakan oleh Al Imam At Thahawi. Untuk kalimat yang terakhir nanti ada kritik dari Syekh Salh Fauzan, Habibu Rabbil alamin. Tapi kita akan jelaskan dari awal terlebih dahulu. Kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, hadzihi min sifatihi alaihialatu wasalam. Ini di antara sifat-sifat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(34:36) Pertama, khatamul anbiya. Beliau adalah penutup para nabi. Makna khatam alladzi la y ya ba’dahu nabi. Yaitu orang terakhir yang tidak ada nabi lagi sesudah beliau. Witamus hua alladzi yujal alaihi hatta la yuzad alaihi wala yunqos minhu. Khatamusai artinya adalah sesuatu yang dibuat berhenti padanya.
(35:11) Penutup sesuatu adalah sesuatu yang dibuat berhenti padanya. Artinya tidak ada tambahan lagi dan tidak ada pengurangan. Fallahu khatamar risalat. Maka Allah menutup risalahnya dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Maka tidak ada risalah lagi sesudah disampaikannya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai penutup para nabi.
(35:40) Sempurna risalah Allah. Tidak ada penambahan dan tidak ada pengurangan. Tidak boleh ada penambahan dan tidak boleh ada pengurangan sepeninggal Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Qala jalla fiulah. Allah berfirman, “Ma kanana Muhammadun aba ahadim mir rijalikum wakin rasulallah wa khataman nabiyin.” Muhammad itu bukan ayah dari seorang pun di antara laki-laki kalian.
(36:12) Akan tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Fala hajata li maajii nabiyin ba’dah. Maka tidak butuh lagi untuk datangnya nabi yang lain sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tidak ada kebutuhan untuk datangnya nabi lain selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Liannal Qur’ana maujud.
(36:39) Karena Al-Qur’an sudah ada. Wasunah an naabawiyah maujud dan sunah nabawiyah ada. Wal ulamaur rabbaniyun maujudun. Dan para ulama yang rabbani itu ada. Yaduna ilallah wubsirunanas. Mereka berdakwah mengajak orang lain menuju kepada Allah dan mereka menjadikan orang-orang melihat. Fadinu Muhammadin baqin ila qiam sa’ah la yubdal wala yunsak wala yugayyar.
(37:16) Maka agamanya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu tetap kekal abadi hingga hari kiamat. Tidak diganti, tidak di tidak dihapus dan tidak diubah. Tidak diganti, tidak dihapus dan tidak diubah. Tidak ada yang menghapusnya dan tidak boleh ada yang menghapusnya.
(37:44) Liannallaha subhanahu wa taala ja’alahu shihan likulli zamanin walulli makan. Karena Allah telah menjadikan agama Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu baik. Baik untuk setiap zaman dan baik untuk setiap tempat. Cocok untuk setiap zaman dan cocok untuk setiap tempat. dari semenjak diutusnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam hingga akhir zaman.
(38:06) Cocok di semua tempat itu, cocok di semua zaman itu. Tidak di Arab saja. Cocok di suatu tempat, cocok di semua zaman. Amma syaraiul anbiya asabiqin fatakunu muaqatatan liumamihim fi fatratin minal fatarat. Adapun syariat-syariat para nabi yang lain yang terdahulu, maka itu terbatas waktunya pada waktu tertentu saja hanya untuk umat mereka saja pada suatu zaman dari zaman tertentu.
(38:46) Tumma yansakullahu tilkari byatin ukhro tatanasab maal maal umatil ukhro. Kemudian Allah menghapuskan syariat tersebut dengan syariat yang lain yang cocok dengan umat yang lain. Likullin ja’alna minkum siratan wamin haja. Masing-masing kami buatkan dari kalian syariatnya dan jalannya. Kama qala taala likulli ajalin kitab.
(39:22) Tiap-tiap ajal ada catatannya. Artinya tiap catatan ada ajalnya. Fadinul Islam kamilun la yahtaju ba’da Muhammadin sallallahu alaihi wasallam ila rasul. Maka dinul Islam sempurna. Dinul Islam. Dinul Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sempurna. La yahtaju ba’da Muhammadin ila rasul.
(39:50) Tidak butuh lagi sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada adanya rasul yang lain. Wal ulama waratul anbiya. Dan para ulama adalah para pewaris adalah para pewaris adalah pewaris para nabi. Para ulama adalah pewaris para nabi. Enggak ada lagi nabi, tidak ada lagi rasul.
(40:21) yang ada adalah para ulama, pewaris para nabi, pewaris ilmunya Nabi, pewaris ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang menyampaikan ajaran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada manusia. Famantaqad annahu yati ba’da Muhammad wasallam nabiyun fahua kafirun billahi kharijun minal millah. Barang siapa yang meyakini, saya ulang, barang siapa yang meyakini bahwasanya sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bisa datang nabi yang lain, maka dia kafir keluar dari agama.
(40:59) Siapa yang meyakini bahwa ada nabi yang lain selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Barang siapa yang berkeyakinan bahwa ada nabi yang lain sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam maka dia kafir keluar dari agama.
(41:16) Waqad akhbar Nabi sallallahu alaihi wasallam annahu yati kadabatun yadda nubuah min ba’dihi. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam dahulu pernah memberitakan bahwasanya akan datang para pendusta yang mengaku nabi sesudah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Qala alaihiatu wasalam. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, sayati ba’di kadzabun.
(41:41) Dalam riwayat disebutkan, “La taquumus sa’ah hatta yub’at dajjaluna kadzabuna qoriban minin.” Di sini disebutkan akan datang sudahku para pendusta jumlahnya jumlahnya 30. y annahu nabi. Semuanya mengaku dia itu nabi. Wa khamul anbiya la nabiya ba’di. Dan aku adalah penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku.
(42:17) Jadi yang dalam riwayat disebutkan itu adalah riwayat Imam Bukhari dan Muslim. La taquumus sa’ah. Tidak akan terjadi hari kiamat. Hatta yub’ata sampai diutus dibangkitkan. Dajjalun para dajal kadzabun yang dusta. Qoriban minsalin dekat jumlahnya dari 30. Kulluhum yaz’um annahu rasulullah. Semuanya mengaku dia itu adalah utusan Allah dan itu adalah dusta.
(42:49) Karena sesudah Nabi Muhammad tidak ada nabi dan tidak ada rasul yang lainnya. nubuwah. Maka barang siapa yang mengaku nabiat lah nubuwah atau dianggap dia itu nabi wamanahum dan juga orang yang mengikuti mereka fauhum kafaratun maka semuanya adalah orang-orang kafir. Waqalahumul muslimun wafaruhum. Dan kaum muslimin zaman dahulu telah memerangi orang-orang yang mengaku nabi ini dan para pengikutnya dan mereka mengkafirkannya. Wa akhiru maniddaan nubuwah fil waqtil hadir.
(43:35) Dan orang terakhir yang mengaku sebagai nabi di zaman kini adalah al-Qadiani. Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi. Alladzi idtaan nubuwah yang mengaku dia sebagai nabi. dan pengikut-pengikutnya disebut sebagai qadaniah. Ahmadiyah qodyaniyah. Wausammuna bil ahmadiyah nisbat ila ismihi. Mereka disebut sebagai ahmadiyah.
(44:10) Maksudnya ahmadiyah qadianiyah. Dinisbatkan kepada nama pembawanya. Karena namanya adalah Ahmad Alqadiani. Waqad kafarahul ulama watuh minal bilad islamiyah. Para ulama telah mengkafirkannya dan mereka telah mengusirnya dari negeri Islam. Wafaru atbaahu dan mengkafirkan pengikut Ahmad alqadiani.
(44:40) Lianna h takibun lillah waliasulihi. Karena ini adalah pendustaan, pengingkaran kepada Allah dan pengingkaran kepada rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam. Watfiruhum bijijmail muslimin la yukhalif fi hadza ahad. Dan pengkafiran terhadap Ahmadiyah qadi ini berdasarkan ijmnya kaum muslimin. Tidak ada seorang pun yang menyelisihi ijma ini.
(45:06) Falabudda lil muslim an yaqid. annahu alaihialatu wasalam khatamul anbiya wal mursalin. Maka seorang muslim harus berkeyakinan, harus berakidah bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan penutup para utusan Allah. Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah penutup para nabi dan penutup para utusan Allah. Wa imamul atqiya.
(45:39) Dan beliau Nabi Muhammad adalah imamnya orang-orang yang bertakwa. Yakni alqudwah al-wahid lil atqya alladzina yattaqquunallaha azza wa jalla. Artinya panutan satu-satunya. Orang yang diikuti satu-satunya oleh orang-orang yang bertakwa yang bertakwa kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab.
(46:08) Ayat 21. Laqad lakum fi rasulillahi uswatun hasanatun limanana yardjullaha walumal akhir. Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah uswah hasanah suri toladan yang baik. Bagi siapa? Bagi orang yang berharap berjumpa dengan Allah dan berharap hari akhir. Itu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, nabi yang terakhir.
(46:46) Dan itu kita harus ikuti beliau karena beliau adalah ikutan satu-satunya yang kita ikuti satu-satunya dalam hal kita beragama. Amma girun nabi fayuqt bihi inqtadi bin Nabi sallallahu alaihi wasallam. Adapun yang bukan nabi selain nabi maka orang itu bisa diikuti jika dia mengikuti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(47:13) Seseorang bisa diikuti apabila dia mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Amma manfaas alaihiatu wasalam fala yauzult bihi. Adapun orang yang menyelisihi rasul yang berbeda dengan rasul dalam hal beragama, maka tidak boleh dia diikuti. Siapapun betapun tinggi kedudukannya, betapaapun tinggi ilmunya, kalau apa yang dilakukannya itu berbeda berselisihan dalam hal agama dengan apa yang dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, maka dia tidak boleh diikuti.
(47:52) Seseorang boleh diikuti selama dia mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Baik dalam pemahaman, dalam pengamalan, ataupun dalam prinsip. Hanya orang yang mengikuti Nabi yang boleh diikuti. Kalau bertentangan maka tidak boleh diikuti. Allah berfirman, “Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabiuni yuhibkumullah wagfirlakum dunubakum.” Katakanlah hai Muhammad inumhibbunallah.
(48:24) Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah, fattabiuni. Maka ikuti aku. Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad supaya berkata kepada orang-orang yang mengaku cinta kepada Allah. Jika memang benar-benar cinta kepada Allah maka harus ikut kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Yuhbibkumullah. Niscaya Allah akan mencintaimu.
(48:49) Wagfir lakum dunubakum dan akan mengampuni dosamu. Fala tariqo ilallah illa bittibair rasul alaihiatu wasalam waliqtida bihi. Maka tidak ada jalan, tidak ada tareqah, tidak ada jalan menuju kepada Allah, tidak ada jalan untuk sampai kepada Allah kecuali dengan mengikuti Rasulullah.
(49:21) sallallahu alaihi wasallam dan ee iqtida bihi dan beriqtida mengambil suri toladan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Enggak bisa ketika orang ingin menyucikan dirinya tapi dia menyucikan diri dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Enggak bisa. Kalau ingin menyucikan diri harus dengan cara-cara yang di contohkan oleh Nabi.
(49:46) Bagaimana dengan bertauhid? disucikan dirinya dari noda-noda syirik, dari pemahaman-pemahaman yang kotor, dari keyakinan-keyakinan yang tidak benar, dari amalan-amalan yang tidak benar, dengan beriman kepada Allah, dengan tauhid, dengan menjalankan amalan-amalan yang dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam yang itu ada di dalam Al-Qur’an dan sunah.
(50:18) Jadi tidak akan tidak ada tareqat menuju Allah kecuali dengan mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan beriktid dengan mengambil qudwah kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Wa sayyidul mursalin. Dan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah sayidnya para utusan Allah. Hua alaihi shalatu wasalam sayyidu waladi Adam.
(50:44) Dan dia, beliau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah sayid seluruh anak Adam. Kama qala alaihi shalatu wasalam, ana sayyidu waladi Adam wala fakhr. Saya adalah sayidnya seluruh anak Adam. Wala fakhr. Dan ini bukan masalah bangga-banggaan. akfaral ummata bidzalika min babi syukri lillahi azza wa jalla. Allah ee Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam memberitakan hal ini kepada umat itu babnya adalah bab syukur kepada Allah.
(51:27) Makanya beliau mengatakan wala fakhr bukan untuk bangga-banggaan tapi ini sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Walitaskur al ummatu rabbaha. Wal tasykur al ummatu rabbaha. Dan hendaknya umat Islam ini bersyukur kepada Allah azza wa jalla ala had nikmah. Atas nikmat yang besar ini. Yaitu apa? An ja’ala rasulaha sayyidur rasul. Yaitu ketika Allah menjadikan rasul-Nya.
(51:59) Rasul yang diutus Allah untuk umat ini adalah sayyidur rasul. Maka kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah sayyidu almursalin. Was sayyid maknahu almuqaddam wal imam. Sayid itu yang sayid itu maknanya adalah yang ada di depan merupakan imam.
(52:32) Fahua afdolur rasul alaihialatu wasalam wa imamuhum wa muqaddamuhum. Maka beliau adalah rasul Allah yang paling afdal, imam mereka dan pemuka mereka. Berikutnya terakhir yang disebutkan oleh Al Imam Thahawi, wa habibil alamin. Wa habibu Nabi Muhammad adalah habibnya Rabbul Alamin. Kata Syekh Salh Fauzan, hadil ibarah fiha muakhadah.
(53:09) Ungkapan habibu rabbil alamin ini adalah ungkapan yang di dalamnya perlu dikritik. Ada kritik di dalamnya. Kenapa? Liannahu la yakfi quluhu habib. Karena enggak cukup kalau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam disebut sebagai habibullah, habiburrahman atau habibu rabbil alamin. Bal hua kholilu rabbil alamin. Bahkan beliau itu kholil rabbil alamin. Enggak cukup disebut sebagai habibul rabbil alamin.
(53:40) Habiburrahman, habibullah enggak cukup. Tapi yang benar adalah beliau kholil rabbil alamin. Khalil kholilullah kholil rabbil alamin. Kholilur rahman. Wal khullah afdol min mutlaqil mahabbah. Dan khulla dari asal kata khalil atau asal kata khalil asalnya dari khullah itu lebih baik, lebih utama, lebih dalam pengertiannya dari sekedar mahabbah, dari keumuman kata mahabbah. Karena mahabbah itu ada derajatnya, ada tingkatan-tingkatannya.
(54:24) Mahabbah yang paling tinggi, mahabbah yang paling tinggi adalah alkullah. Karena alkullah itu sudah paling tinggi kholil, kekasih Allah, hamba kinasih Allah. Wahya khalisul mahabbah. Yaitu kecintaan yang bersih, yang murni yang tidak tercampuri dengan yang yang lain-lainnya. Walam tahsul hadil martabah illa litnaini minal khalqi Ibrahim alaihiatu wasalam.
(55:01) wa nabina alaihialatu wasalam. Dan derajat sebagai khalil Allah itu tidak diperoleh oleh siapapun kecuali oleh dua orang saja yaitu Nabiullah Ibrahim alaihialatu wasalam. Allah berfirman, wattakallahu Ibrahima khila. Allah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil wa Nabiina Muhammad alaihialatu wasalam. Dan yang menyandang sebutan sebagai Khalil adalah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam di samping Ibrahim. Faqad akhbar bidzalik faqala.
(55:44) Maka Nabi telah memberitakan itu. Maka beliau bersabda, “Innallahakani khilan kama itak Ibrahima khila.” Dalam hadis yang sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil, bukan sekedar habib. Habib itu derajatnya lebih ringan daripada khalil. Yang paling dalam adalah Khalil.
(56:11) Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.” Fala yuqal habibullah. Maka tidak dikatakan habibullah. Lianna hadza yasluh likulli mukmin. Karena habibullah boleh ditujukan kepada setiap muslim. Habibullah itu boleh ditujukan kepada setiap mukmin. Setiap mukmin itu habibullah. Orang yang dicintai oleh Allah.
(56:38) Fala yakunul nabi fi hadzihi mizah. Fi hadza mizza. Mizah. Maka kalau Nabi juga dikatakan sebagai habibullah, habiburrahman, enggak ada bedanya jadinya antara Nabi dengan umatnya. Ammal khullah fala ahad yalhaquuh fiha. Adapun khullah, maka tidak ada seorang pun yang mendapatkannya kecuali Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim alaihialatu alaihialatu wassalam.
(57:08) Jadi ini yang bisa kita kaji pada kesempatan ee petang atau malam hari ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah semangat kita dalam mempelajari ee apa yang Allah tetapkan untuk kita sehingga kita akan menjadi hamba-Nya yang benar-benar diakui oleh Allah Subhanahu wa taala dan bersih dari pemahaman-pemahaman yang salah dan cara-cara yang kita tempuh juga bersih dari cara-cara yang tidak diridai oleh Allah, yang tidak dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(57:53) Demikian wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Nam. Alhamdulillah kami ucapkan terima kasih ustaz. Jazakumullahu khair wabarakallahu fikum atas materi bahasan yang telah disampaikan di kesempatan malam hari ini. Dan berikutnya para parengar maupun pemirsa kita masuk ke sesi tanya jawab.
(58:18) Silakan bagi Anda para pendengar maupun pemirsa yang menyimak di kesempatan ini dapat bertanya seputar pembahasan kajian kita dengan menghubungi melalui layanan-layan telepon di 0218236543 atau pertanyaan-pesan singkat yang dapat pula Anda kirimkan ke nomor 0218236543. Baiklah, kita akan coba untuk ee mengawali pertanyaan ini atau sesi tanya jawab ini dari layanan-layan telepon bagi para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung dipersilakan. 0218236543 6 kita angkat.
(58:54) Halo, silakan ya terputus. Kita akan ee bacakan dari pertanyaan-pertanyaan singkat. Ustaz ingin ee bertanya. Ini ada sebuah anggapan bahwa belajar agama tidak perlu dalam-dalam, apalagi belajar akidah atau tauhid. Kalau tidak kuat bisa menjadi ee mohon maaf menjadi gila ya. Dan banyak contohnya yang terjadi ya.
(59:28) Pertanyaannya adalah ustaz, mungkinkah orang bisa menjadi ee gila sebagaimana yang disampaikan tadi? Karena belajar agama. Jika ada mengapa demikian? Silakan Ustaz. Ya. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba’d. Ee tidak ada ceritanya orang yang belajar agama dengan benar ya dengan benar itu akan menjadi gila karena agama itu mudah. Inna haddin yusrun.
(1:00:03) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya agama ini mudah, jadi tidak ada yang sulit. Ee dan yang kita pelajari mudah. Kalau kita tidak mampu menghafal, mengerti saja. mengerti dari Al-Qur’an. Maksudnya seperti ini lah yang dimaksudkan ee tentang yang dipertanyakan itu menjadi gila itu karena dia mendalam-dalamkan sesuatu yang tidak boleh didalam-dalamkan.
(1:00:34) Maksudnya dia tanat tanat taamuk atau gulu di dalam belajar agama. Maksudnya dengan menggunakan akal, dengan menggunakan perasaan akhirnya bingung, mumet. pusing karena semuanya itu dipadukan dengan apa namanya di ingin ditemukan berdasarkan akal. Lama-lama pusing kalau ber akal. Coba kalau orang ngikuti saja apa yang dalam Al-Qur’an dan sunah tidak tidak akan ada yang sulit. Ya, sulitnya itu menghafal.
(1:01:08) Kalau tidak kuat menghafal, ya enggak usah menghafal. Mengingat saja bahwa ada dalilnya. Kan tidak semua orang itu punya peringkat kecerdasan yang sama. Jadi ada yang menjadi ulama besar, ada yang tidak menjadi ulama, tapi dia berjalannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur’an dan sunah.
(1:01:34) Jadi tidak ada ceritanya orang belajar agama lalu menjadi gila kecuali memang dia mendalam-dalamkan masalah tanulu mubalagah ya sampai melakukan hal-hal yang tidak perlu umpamanya. Jadi ee apa namanya menggunakan akal, menggunakan filsafat, menggunakan ilmu kalam bingung. Ya, benar. Kalau sudah seperti itu, kemudian semua kata orang didengarkan, kata ini begini, kata itu begini, lama-lama bingung kan enggak ada Al-Qur’an, ada sunah.
(1:02:08) Belajar pada ulama ahlinya, jangan belajar yang tidak-tidak. Ya wallahuam b terima kasih atas jawaban serta nasihat yang telah disampaikan. Semoga bermanfaat untuk yang bertanya melalui pesan singkat dan juga faedahnya dapat diterima dan juga ee diambil oleh para pendengar yang lainnya.
(1:02:32) Berikutnya pertanyaan-pesan singkat ee kita akan bacakan dari beberapa pertanyaan yang telah masuk. Nah, Ustaz ee mohon izin bertanya di luar tema. Ee saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya apabila setelah salat saya membaca istigfar lalu bertawasul kepada baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan empat malaikat kemudian baru berzikir, berselawat, dan berdoa. Mohon penjelasannya, Ustaz. Terima kasih.
(1:02:58) ee misalnya gimana ya ee tidak menyebutkan secara spesifik ee bacaan atau ee apa yang dibaca Ustaz bertawasul kepada Rasulullah atau kepada para malaikat. Ee jadi bertawasul itu dengan menggunakan nama-nama Allah, menggunakan amal-amal saleh dan menggunakan cara-cara yang benar. Itu tawasul ya.
(1:03:38) Kalau bertawasul kepada nabi, nabi sudah meninggal dunia. Bagaimana kita bertawasul kepada nabi? Nabi sudah meninggal dunia. Enggak mungkin. Dan kepada para malaikat, malaikat itu di alam gaib. Kalau misalnya bertawasul dengan cara meminta kepada para malaikat, ya malah mintanya kepada para malaikat.
(1:03:59) Kalau misalnya berdoanya, “Ya Allah, dengan bertawasul kepada malaikatmu, aku mohon kepadamu.” Ini tidak dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam terkait dengan masalah ini. Makanya saya ulang apa yang pernah saya sampaikan di pekan yang lalu kalau enggak salah ee ketika Allah berfirman kepada Nabi, “Idza sa’alaka ibadi anni fainni qorib.
(1:04:26) Kalau hambamu kalau hambaku bertanya kepadamu tentang aku, sesungguhnya aku dekat. Ya. Jadi Allah perintahkan kepada nabinya, “Kalau ada hambaku bertanya kepadamu tentang aku, sesungguhnya aku ini dekat.” Allah tidak mengatakan qul, katakanlah aku dekat. Karena doa itu langsung kepada Allah Subhanahu wa taala. Doa itu langsung kepada Allah.
(1:04:56) Subhanahu wa taala. Tidak perlu pakai perantaraan orang-orang yang telah meninggal dunia atau makhluk gaib atau makhluk halus. Siapapun yang halus itu tapi langsung kepada Allah. Karena hamba itu punya hubungan atau bisa berhubungan langsung dengan Allah dengan berdoa. Beda ketika itu urusannya terkait dengan manusia.
(1:05:24) ee yang menjawab itu harus manusia bukan Allah langsung. Misalnya dalam surat Albaqarah yasalunakail ahillah qul hiya mawaqitu linas. Mereka bertanya kepadamu, “Hai Muhammad, tentang hilal.” Maka Allah berfirman, “Qul, katakanlah hai Muhammad, hiya mawaqitu linas.” Itu adalah tentang ketetapan-ketetapan waktu bagi manusia tentang haji, tentang ini dan lain sebagainya.
(1:06:00) Karena yang memberikan jawaban adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi doa langsung kepada Allah. Tidak ada qul terlebih dahulu, tapi fainni qorib. Ini satu. Yang kedua, kalau dalam salat itu kan sudah ada tuntunan yang jelas. Tuntunannya sudah jelas. Setelah istigfar, astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah tabarokta yaal jalil ikram.
(1:06:20) Kemudian kita membaca wirid-wirid yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Cukup itu. Kita tidak perlu mengadakan hal-hal yang mungkin justru dengan itu kita malah keliru dan malah tidak dikabulkan doanya oleh Allah Subhanahu wa taala. Kita pilih mana? Seperti yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud apa namanya? iqtisodun fi sunatin kirun minabtidain kirun mintihadin fi bidatin ee pas iisad sederhana tapi dalam sunah itu lebih baik daripada berbuat banyak tetapi ternyata di dalam kebidahan tidak sesuai dengan sunah Jadi pas
(1:07:15) ngepas apa adanya lebih baik. Tapi itu sesuai dengan sunah daripada banyak kita merekayasa sesuatu tapi ternyata itu bertentangan dengan sunah. Wallahuam. Ustaz terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Berikutnya, Anda para pagar maupun pemirsa dapat ee bertanya melalui pesan singkat WhatsApp yang dapat Anda kirimkan ke nomor 0218236543.
(1:07:46) Sebagaimana yang akan kami bacakan berikutnya di pertanyaan besat, “Ustaz ingin bertanya, apakah seorang habib benar merupakan keturunan atau cucu Nabi?” Ustaz, barakallahu fikum. tentang yang ada sekarang enggak tahu. Tapi ya ada memang ada yang benar-benar keturunan Nabi sallallahu alaihi wasallam memang ada tapi yang sekarang enggak tahu saya itu tidak tahu tentang silsilah mereka dari mana terus hubungannya ke mana.
(1:08:32) Tapi yang jelas bahwa yang menyebabkan orang selamat itu bukan keturunan siapa. Ya, bukan keturunan siapa, tapi adalah amalnya. Apakah amalnya sesuai dengan tuntunan Nabi sallallahu alaihi wasallam, sikap-sikapnya, prinsip-prinsipnya sesuai dengan sikap-sikap dan prinsip Nabi sallallahu alaihi wasallam atau tidak itu yang akan menyelamatkan seseorang.
(1:08:56) Pada kesempatan yang telah lalu kita pernah menceritakan tentang anaknya Nabi Nuh. Anaknya bukan keturunan udah mata rantai kesekian puluh, kes seekian ratus. Langsung putranya Nabi Nuh alaihi salatu wasalam enggak selamat karena tidak mengikuti Nabi Nuh alaihi salalatu wasalam. Tidak beriman kepada Nabi Nuh.
(1:09:19) Tidak mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Nuh alaihialatu wasalam. Jadi yang menjadikan orang itu selamat itu bukan ee keturunan. Ya, keturunan kalau dia ngikuti sunah maka kita harus mencintai setiap keturunan Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mengikuti sunah Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kewajiban kita adalah untuk mencintainya. Nam.
(1:09:48) Wallahuam. Ustaz. Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban serta nasihat yang telah disampaikan. Berikutnya kita akan coba beralih di pertanyaan yang disampaikan secara langsung untuk ee di kesempatan malam hari ini.
(1:10:06) Dan kami pun juga mengajak Anda para perengkar maupun pemirsa yang ingin bertanya melalui layaran lain telepon dapat menghubungi ke nomor 0218236543. Kita coba sapa. Halo, silakan. Namam sudah terhubung. Halo ya. Halo. Asalamualaikum. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Dengan siapa, Pak? Dari mana? Saya dari Mardi di Jakarta Timur. Jakarta Timur, ya. Silakan, Pak. Waalaikumsalam. Silakan langsung ke pertanyaannya. Saya ingin bertanya, Ustaz.
(1:10:45) Saya kan salat qobliah, saya kan salat qobiah asar di di rumah. Iya. Sementara di musalah sedang azan. He. Iya. Sebelumnya mohon maaf dikecilkan terlebih dahulu volume radio atau televisinya, Pak. Iya. Sehingga bisa fokus untuk menyampaikan pertanyaannya. Baik. Nam. Silakan.
(1:11:18) Setelah salat qobiah, setelah salat qobiah saya baru ke musala. Apakah itu dibenarkan, Ustaz? Iya. Ya, bisa diulang dengan ee ringkas, Pak. Saya kan salat qbliah di rumah. Salat qobliah di rumah. Nam. Iya. Sementara di musala sedang azan. Azan. Iya. Kemudian kemudian saya baru ke musala setelah salat qiah di rumah. Apakah boleh? Iya. Demikian, Ustaz. Apakah dapat disimak dengan baik? Silakan Ustaz. Asalamualaikum.
(1:11:56) Ketika ada azan ya sebaiknya didengarkan dulu azannya baru kemudian salat kemudian berangkat ke musalla boleh kayak seperti itu. Wallahualam. Sab. Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Semoga dapat dipahami oleh ee Bapak yang berada di Jakarta Timur tadi ya. Dan berikutnya masih di layanan-layan telepon.
(1:12:22) Bagi Anda para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya seputar pembahasan kita di malam hari ini dipersilakan di 0218236543. Kita angkat kembali. Halo. Enam ya terputus. Ee berikut pertanyaan dari pesan singkat. Barangkali kita akan bacakan kembali. Di antara beberapa pertanyaan yang masuk ee bertanya, “Ustaz, apakah terlarang seseorang memberi nama anaknya dengan Khalilullah atau Khalilurrahman?” Demikian, Ustaz.
(1:12:56) Ee wallahuam bawah. Belum bisa jawab. Iya. Baik, jazakumullah kham wabarakallahu fikum. Kita kembali ke pertanyaan pesan singkat yang lainnya, Ustaz, ya. Ee di sini namam ee sebuah perkataan yang disampaikan oleh Imam Ahmad disebutkan bahwa apapun yang terlintas di benakmu tentang Allah maka Allah tidak seperti yang dibayangkan itu.
(1:13:42) Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami perkataan ini? Bagaimana kita memahami sifat-sifat Allah jika ternyata apa yang kita pahami pasti salahnya Allah tidak seperti itu. Mohon nasihatnya, Ustaz. Oh, iya. Itu maksudnya adalah ketika seseorang membayang-bayangkan tentang Allah Subhanahu wa taala. Bayangan-bayangan orang tentang Allah itu kan pasti enggak benar.
(1:14:09) Tapi kita yakin kalau Allah punya tangan misalnya ya, kita yakin punya tangan. Kemudian ketika terbayang kita buang bayangan-bayangan itu. Enggak seperti tangan yang kita bayangkan pada ee kehidupan kita seperti tangan manusia misalnya. Enggak. Tapi kita yakin Allah punya tangan. Allah maha tinggi di atas arsy. Udah jangan dibayang-bayangkan.
(1:14:35) kita memahami, kita meyakini, dan kita paham Allah ada di atas itu sudah kadang-kadang kan timbul bayangan-bayangan lah. Bayangan-bayangan itu yang tidak boleh dikembangkan karena Allah jauh lebih besar dari apa yang terbayang di dalam benak seseorang. Itu yang enggak boleh. Jadi kita berangkatnya dari mengimani Allah bukan dari membayangkan.
(1:14:59) Kalau kita berangkat dari membayangkan nanti tidak akan selesai itu. Akan timbul lagi bayangan-bayangan. Meskipun itu nanti terbayang, putuskan bayangan itu. Jangan diterus-teruskan. Pokoknya kita beriman Allah itu punya tangan. Beriman, Allah istiwa di atas arsy. Allah ee beriman Allah itu nuzul turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir. Enggak usah dibayangkan seperti apa turunnya. Udah itu yang tidak boleh.
(1:15:32) Itu yang dimaksudkan. Wallahuam. Bisa dipahami ya. Insyaallah. Terima kasih Ustaz atas jawaban yang telah disampaikan. Barakallah fikum. Semoga bermanfaat bagi para pedagang maupun pemirsa di kesempatan malam hari ini. Kita masuk ke pertanyaan pesan singkat yang berikutnya. Ustaz seorang bertanya kami akan bacakan di antaranya.
(1:15:55) Nah, ee Ustaz, ada yang mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah berakidah bahwa Allah tidak bertempat. Barang siapa yang mengatakan Allah bertempat, maka dia kafir. Nah, ee pertanyaannya adalah Ustaz, apakah ini benar kalimatnya? Mohon penjelasannya. Barakallahu fikum. Ee saya tidak tahu kalau Imam Abu Hanifah mengatakan demikian. Perlu dibuktikan itu.
(1:16:25) Perlu dibuktikan terlebih dahulu tentang perkataan Ibu Abu Hanifah yang seperti itu di mana ee dan seperti apa perkataannya. Nih ee terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Barakallahu fikum. Silakan bagi Anda para peregar maupun pemirsa ROJA di mana pun Anda berada, Anda dapat bertanya melalui layanan-layan telepon untuk di kesempatan malam hari ini di sesi tanya jawab kajian bersama Ustaz Ahmad Faiz hafidahullahu taala dari pembahasan kitab akidah At Thaahawiyah di 0218236543.
(1:17:05) Kita coba angkat ke bayai. Halo, silakan. Enam. Iya, sudah terhubung. Silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kecil sekali suaranya. Agak diangkat, Bu. Dengan siapa? Dari mana? [Musik] Besar ya, Ustaz? Iya. Iya. Sudah cukup, alhamdulillah. Silakan, Bu.
(1:17:31) I. Ee Ibu Asmiah dari Riau, Ustaz. Dari Riau, ya. Naam. Pertanyaannya. Iya, maaf, Ustaz. Ini, Ustaz, ya. Ini Ibu baru buka TV, Ustaz. Jadi ibu tidak tahu apa judulnya ustaz. Silakan. Gini ustaz. H ini masalah apa tuh utang tinjam dari riba riba tu ustaz mungkin minjam utang utang berbunga tu riba ya hukumnya meminjam dari ee minjam minjam minjam uang berbunga tu riba berbunga. Iya cukup pertanyaannya kayak gini ustaz.
(1:18:13) Jadi, jadi ini kan di daerah ibu ini ada seorang meminjam uang masalah uang berbunga. Jadi, gini dia minjam uang berbunga tapi dia mau ke usaha ustaz. Dia mau ke usaha, Ustaz. Jadi, jadi anu apa tuh misalnya kayak ibu nih ikut kerja sama dia, Ustaz? Kerja sama dia itu boleh ya, Ustaz? Kalau kita ngikut ikut kerja sama dia dia usaha tu dia usang pinjam berbunga.
(1:18:43) Tapi pertanyaannya bolehkah bekerja? Nah bolehkah kita bolehkah ibu bekerja sama dia Ustaz? Iya. Heeh. Apa hukumnya? Hukumnya sybahat ustaz. Baik. Itu ya Ustaz itu pernyataannya di Ustaz ya. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(1:19:00) Bagaimana Ustaz? Dapat diterima dengan jelas. Silakan. ee yang belum jelas tentang bentuk kerja samamanya seperti apa. Iya. Ee pada intinya bekerja sebagai karyawannya begitu, Ustaz. Oh, bekerja ee kalau yang saya dengar tadi kerja sama itu mungkin kerja sama bisnis atau kerja sama apa. Bekerja sebagai karyawannya. Iya.
(1:19:30) Kalau dia menjadi karyawan dan tukang catat utang-utang berbunga seperti itu ya enggak boleh. Iya. Enggak boleh seperti itu kalau kalau dia menjadi tukang catatnya. Nah, baik. ee mohon ee kami coba untuk ee mengulang dari pertanyaan yang telah disampaikan. Pada dasarnya ee Ibu memahami bahwa ee berhutang yang menimbulkan bunga adalah riba.
(1:20:09) Jika ada orang yang berbuat demikian, artinya ee meminjam untuk sebuah usaha, kemudian ada seseorang yang ingin menjadi karyawannya atau bekerja dengan dia. Nah, ee apa hukum bekerja di tempat yang demikian, Ustaz, yang ee usahanya itu diambil dari ee peminjaman yang riba? Ee dia bekerja kepada orang yang berhutang. Iya, iya, betul, Ustaz.
(1:20:43) Ee wallahuam bawab tanya ke Ustaz Irwandi itu kalau begitu itu. Baik Ustaz jazakumullahu khair wabarakallahu fikum atas arahan yang telah disampaikan. Mungkin Ibu dapat bertanya kembali pada bab atau kajian-kajian muamalah ee khususnya bersama kajian Ustaz Dr. Erwandi Tarmidzi. Kemudian ee pertanyaan-pertanyaan singkat kami izin bacakan yang lainnya, Ustaz.
(1:21:10) Ee dari Jakarta izin bertanya. Ee ana pernah dengar bahwasanya Imam Bukhari pernah mentakwilkan sifat Allah. Apakah hal ini benar? Demikian, Ustaz, silakan. ee yang saya tahu enggak ada itu enggak enggak enggak seperti itu. Imam Bukhari itu mentakwilkan sifat Allah Subhanahu wa taala.
(1:21:42) Jadi perlu dijelaskan dari penanya mungkin dia pernah mendengar bahwa Imam Bukhari itu mentakwilkan sifat Allah di mana dan seperti apa. Nah, baik Ustaz. Jazakumullahu khairan. Ee berikutnya pertanyaan dari pesan singkat yang masuk kami bacakan. Nah, Ustaz eh jenggot dan juga ee tidak isbel seringki menjadi barometer seseorang bermanhaj salaf atau tidaknya.
(1:22:15) Sementara sebagian orang hanya menganggap itu sebagai perbedaan pandangan fikih yang seseorang ee bebas memilih sesuai dengan keyakinannya. Mau diluruskan penjelasannya, Ustaz? Ya, jadi ukuran seseorang bermanhaj salaf itu bukan dilihat dari jenggot saja, bukan dilihat dari ee tidak isbal saja, tapi jenggot dan tidak isbal itu adalah indikasi seseorang yang punya ee perhatian terhadap masalah sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(1:22:59) Ee jadi ukuran masalah manhaj itu adalah tentang dia memahami Islam itu berdasarkan pemahaman para salafus saleh radhiallahu anhum ajmain. Ee makanya Imam Ahmad mengatakan bahwa ushulus sunah indana ee attamassuk bimaana alaihi ashabun Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ee prinsip-prinsip sunah menurut kami, menurut Imam Ahmad dan para ahlusunah adalah berpegang teguh pada apa yang ee dipahami oleh bimakana alaihi ashabun.
(1:23:45) Apa yang ada padanya para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam. berpegang teguh pada apa yang padanya para sahabat Nabi. Ee secara prinsip seseorang mungkin memahami bahwa akidah salaf atau manhaj salaf itu harus begini, tapi mungkin dia karena satu dan lain hal tidak bisa melaksanakannya. Misalnya tentang jenggot, tentang isbal.
(1:24:13) karena satu dan lain hal dia tidak bisa melaksanakannya, maka dia tidak disebut sebagai orang yang melanggar manhaj salaf, tapi dia telah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa taala. Ee jadi ukurannya manhaj salaf itu adalah bahwa pemahaman yang dia miliki berpegang pada pemahaman ee apa yang ditempuh oleh pemahaman para salafus saleh, para sahabat, para tabiin dan tabiut tabiin.
(1:24:43) Ee sedangkan amaliah kadang-kadang orangorang mempunyai keterbatasan-keterbatasan karena orang itu kadang ee mengikuti hawa nafsunya, mengikuti syahwatnya sehingga dia ee cenderung untuk melakukan pelanggaran. Dan ketika seseorang melakukan pelanggaran itu tidak langsung dihukumi sebagai orang yang keluar dari manhaj salaf.
(1:25:13) Karena di kalangan orang-orang ahlusunah wal jamaah itu juga berbeda-beda tingkat ketakwaannya. Maka itu bukan barometer utama ya. Bahwa seseorang yang berjenggot mesti bermanhaj salaf, yang tidak mesti tidak bermanhaj salaf. Itu tidak harus seperti itu. Tapi memang itu adalah salah satu indikasi ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:25:40) Banyak orang yang berjenggot ternyata ee dia adalah orang yang tidak mengikuti sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam, tidak mengikuti manhaj salaf. Banyak. Jadi orang tidak isbal tapi dia menyimpang dalam masalah akidah. Bisa terjadi seperti itu. Jadi ee itu bukan ukuran manhaj salaf, tapi itu adalah indikasi orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala. Wallahuam.
(1:26:06) Baik, terima kasih jawaban yang telah disampaikan. Semoga bermanfaat untuk kaum muslimin yang menyimak di malam hari ini. Berikutnya silakan Anda para pedagang maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung kami persilakan dan buka kembali di layar-layan telepon 0218236543. Nam. Halo. Silakan. Baik, sudah masuk. Halo.
(1:26:30) I terputus. Silakan bagi Anda yang ingin berusaha masuk. dapat menghubungi kembali di layan-layan telepon kami 0218236543. [Musik] Kita coba angkat kembali. Silakan. Halo. Nah, terputus. Baik. Ee berikut ada pertanyaan yang mungkin menyambung dari apa yang disampaikan sebelumnya.
(1:26:58) ee seorang ibu bertanya, “Ustaz, izin bertanya, apakah jika usia 50 tahun masih harus memakai cadar, Ustaz?” demikian. Ee kalau sudah tidak haid lagi, maka dibolehkan orang untuk tidak ee memakai cadar. Sedangkan sadar itu sendiri masih diperselisihkan. Maksudnya dipersedia tentang wajibnya, bukan dipersilahkan tentang boleh tidaknya, tapi tentang ee wajibnya.
(1:27:42) Ee kalau seseorang sudah tidak haid lagi, sudah anut, jadi dia boleh tidak menutup mukanya, tapi dia tetap terikat untuk tidak mempergunakan perhiasan yang norak. tetap tidak diperbolehkan untuk tabarruj itu seperti itu. Ee tidak ada lagi kewajiban untuk misalnya ee seperti yang ketika masih belum haid eh ketika masih belum apa namanya berhenti haidnya, maka ee yang belum berhenti itu tetap menggunakan pedoman-pedoman syari yang sudah tidak haid lagi, sudah berhenti haidnya.
(1:28:24) Maka boleh untuk tidak menggunakan seperti yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sedang masih dalam keadaan belum berhenti haidnya. Tetapi tidak boleh tabarruj, tidak boleh untuk berdandan dan bersalek seperti anak muda. Allah alam. Baik, Ustaz. Terima kasih atas nasihat yang telah disampaikan.
(1:28:50) Pertanyaan berikutnya ee berkaitan dengan malaikat. Ee di dalam sebuah hadis disebutkan di pertanyaan ini ee disebutkan bahwa malaikat paling besar adalah malaikat Jibril dan di hadis yang lain disebutkan adalah malaikat penjaga neraka. Pertanyaannya, Ustaz, apakah atau e siapakah malaikat yang paling besar tersebut, Ustaz? Barakallahu fikum.
(1:29:18) Nah, ee sebenarnya ketika misalnya Allah atau Nabi menyebutkan tentang sifat-sifat malaikat itu ee misalnya tentang fisik ya, tentang itu pertama kita harus perhatikan tentang kesahihan hadis tersebut. Yang kedua, ketika tahu bahwa itu adalah hadis yang sahih, maka kita tinggal mengimani saja.
(1:29:56) Artinya di dalam mengimani malaikat itu ada mengimani malaikat secara detail. Kalau itu ada riwayat dan ada nas yang mengatakan bahwa malaikat tertentu tugasnya ini, terus sayapnya sekian, besarnya sekian, ya kita imani sesuai dengan berita yang ada di dalam hadis yang sahih atau di dalam nas yang sahih. Kalau tidak ada berita tentang itu, maka kita imani secara garis besar saja bahwa seluruh malaikat itu adalah makhluk yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:30:34) Dan kalau ada hal-hal yang dibandingkan seperti itu, kita tidak usah membanding-bandingkan. Kalau misalnya ada riwayat malaikat tertentu yang ini yang lebih besar, terus ada riwayat yang lain, ternyata malaikat yang lain yang lebih besar. Sudah kita imani saja. Adapun mana yang lebih besar sudah serahkan kepada Allah. Ee kita tinggal mengimani saja. Ee yang penting kita tidak memperdalam masalah itu yang tidak ada kepentingannya dengan masalah ee ibadah kita kepada Allah Subhanahu wa taala.
(1:31:09) Jadi kita imani saja itu sudah cukup. Tidak tidak perlu untuk taammuk di dalam masalah-masalah yang demikian. Sementara kita juga masih perlu memperjelas tentang kesahihan riwayat-riwayat tersebut ya. Wallahuam bawab. Baik, Ustaz, terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan dan juga nasihatnya. Dan nampaknya waktu pulalah yang membatasi kita di kesempatan malam hari ini.
(1:31:38) Dan sebagai penutup di penghujung kajian kita dapat disampaikan sebagai istifadah ee menutup kajian kita di kesempatan ini, Ustaz. tafadal ya. Para jemaah yang dirahmati Allah, para pendengar, para pemirsa di mana saja berada di dalam memahami nas-nas Al-Qur’an ataupun hadis tentang akidah. Ee pertama kita harus memahami betul tentang kesahihan riwayat-riwayat tersebut atau nas-nas tersebut.
(1:32:10) Yang kedua, ketika kita sudah tahu, sudah kita jadikan pedoman untuk kita imani ee sampai ada yang sarih misalnya tentang ee tentang yang lebih besar mana antara satu malaikat dengan malaikat yang lain itu ee kita ketika memahami dan kita tahu dan itu berdasarkan nas, kita imani itu sudah benar.
(1:32:42) Tapi kita tidak perlu untuk ee apa namanya? Taammuk, memperdalam masalah. Ya, tidak perlu untuk memperdalam masalah hal yang tidak perlu untuk kita ketahui. Artinya tidak mempengaruhi amalan-amalan kita dan mudah-mudahan juga tidak mempengaruhi akidah kita. Jadi, itu saja yang bisa saya sampaikan.
(1:33:06) Mari kita bersungguh-sungguh bersemangat ee mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk tetap istikamah dalam manhaj yang hak ini. Dan ini adalah modal besar bagi kita sekalian untuk kita menghadap kepada Allah nanti di hari akhirat. Wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain.
(1:33:28) Nam ustaz kami juga ucapkan terima kasih. Jazakumullahu khairan wabarakallah fikum atas ilmu yang bermanfaat yang disampaikan di kesempatan malam hari ini. Semoga ustaz senantiasa dalam lindungan Allah subhanahu wa taala dan dapat berjumpa kembali dalam kajian-kajian yang penuh manfaat di waktu dan kesempatan berikutnya.
(1:33:47) Berikut pula kami juga ucapkan ee terima kasih kepada para ikhwah yang turut membantu terselenggarnya program kajian ilmiah di kesempatan malam hari ini. Maka demikianlah para peregar maupun pemirsa Roja di mana pun Anda berada. Kajian kitab akidah thahawiyah dari penjelasan Syekh Dr. Shh Fauzan bin Abdullah Alfaan.
(1:34:05) Semoga apa yang kita simak dari pembahasan ini memberikan manfaat dan tambahan ilmu untuk kita semua. Kami pun undur diri. Jazakumullahu khairan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Leave a Reply