Ustadz Maududi Abdullah, Lc. | Jangan Sombong

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Maududi Abdullah, Lc. | Jangan Sombong – YouTube

Transcript:
(00:01) Amma ba’du fainna asdaqal hadisi kitabullah wal muslimat. Saudaraku saudariku alhadirin wal hadirat wal musyahidin wal musyahidat di mana pun Anda sekarang berada. Rahimani warahimakumullah. Mari kita bersyukur kepada Allah tabaraka wa taala rabbul izzati wal jalalah yang telah memberikan kepada kita kesempatan untuk terus menghambakan diri kita kepadanya. Karena untuk itulah kita diciptakan.
(00:41) Allah tidak menciptakan kita kecuali untuk agar kita mengisi waktu. usia, umur, kesempatan yang Allah tabaraka wa taala berikan kepada kita hidup di permukaan bumi agar kita isi dengan aneka ragam penghambaan diri kita kepada Allah. Allah berfirman, “Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.
(01:11) Tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka itu menghambakan dirinya kepadaku beribadah. Dan ibadah itu adalah engkau mendekat kepada Allah tabaraka wa taala sebagai seorang hamba dengan melakukan ketaatan yang ia syariatkan penuh cinta, penuh rasa takut, dan penuh rasa harap dan menghinakan diri kepada Allah dengan ibadah itu.
(01:49) Karena posisi hamba apabila berhadapan dengan posisi pencipta. Posisi hamba apabila berhadapan dengan posisi pencipta itu adalah posisi yang paling rendah di hadapan posisi yang paling tinggi. Ketahuilah kita adalah makhluk yang sangat hina apabila kita sedang berhadapan dengan Rabb. yang maha tinggi, yang maha kuasa, yang maha perkasa, yang maha segala-galanya.
(02:25) Maka ibadah di dalamnya adalah datang dengan penuh cinta dan datang dengan penuh penghambaan diri dengan menghinakan diri kita kepada Allah. Apabila kita melihat syariat Islam, kita memperhatikan syariat Allah dalam hal-hal yang dengannya risalah Allah datang yang harus kita laksanakan, terlihat nyata dalam penghambaan diri itu di dalamnya ada menghinakan diri kepada Allah, merendahkan diri kepada Allah.
(03:15) Ibadah salat adalah ibadah anggota badan yang paling tinggi. Di mana ibadah fisik itu yang terbaik adalah salat. Sementara ibadah hati yang terbaik adalah tauhid. Asyhadu alla ilahaillallah dan menegakkannya di dalam hati. Itu adalah amalan hati yang paling tinggi. Adapun amalan anggota badan yang paling tinggi adalah salat.
(03:50) Yang paling afdal adalah salat. Dan gerakan salat yang paling afdal, gerakan salat yang paling afdal adalah sujud. Dan lihatlah bagaimana kita disuruh oleh Allah menghinakan diri kita kepada Allah di dalam sujud. Sungguh di dalam sujud itu terhadap terdapat apa? Hal yang jelas kita sedang merendah serendah-rendahnya kepada Allah.
(04:21) Wajah kita yang kita muliakan ini kita letakkan lebih rendah daripada telapak kaki dan tempat yang diinjak-injak oleh telapak kaki manusia. Di situlah kita meletakkan wajah kita yang mulia ini. Tidakkah di dalamnya terdapat penghinaan yang luar biasa terhadap diri kita? Dan itu harus kita lakukan apabila sedang berhadapan dengan Allah yang maha kuasa.
(04:56) Dan itu tidak boleh dilakukan kepada selain Allah. Dan posisi tubuh kata para ulama yang paling hina adalah sujud itu. Apabila seorang menghinakan dirinya kepada seseorang maka yang harus dia lakukan adalah dia bersujud kepada orang itu. Oleh karena itu, tidak boleh sujud itu kepada selain Allah.
(05:27) Karena itu posisi yang paling hina dalam gerakan tubuh. untuk Allah ya. Karena memang Dialah Rabb yang maha segala-galanya, tempat kita bergantung yang memberikan kita segala-galanya. Wajar kalau kemudian kita menghinakan diri kita kepada Allah. Namun untuk selain Allah itu tidak akan kita lakukan. Oleh karena itu di dalam syariat yang mulia Nabi kita tercinta sallallahu alaihi wasallam, sujud kepada selain Allah adalah syirik.
(06:00) Sujud kepada selain Allah adalah syirik. Enggak boleh. Namun, ana hanya ingin mengatakan bahwa di dalam ibadah dan ketaatan terdapat penghinaan diri. Zakat, zakat juga di dalamnya terdapat penghinaan diri. di mana kita harus melawan sifat kita suka punya harta untuk kita keluarkan harta itu kita berikan kepada orang lain yang mungkin orang tersebut tidak ada hubungannya dengan kita padahal kita sangat menginginkan pegang harta sifat manusia itu ingin apa namanya ya ingin memiliki harta itu. Allah suruh hinakan kita dengan
(06:46) mengeluarkan harta itu. Lawan sifat kita itu dengan mengeluarkan harta. Di dalam puasa disuruh lapar, disuruh haus posisi orang miskin. Walau kita memiliki hal yang sangat banyak untuk kita bisa makan.
(07:17) Walau kita bisa memiliki aneka ragam minuman dengan aneka ragam jenisnya yang lezat, namun Allah suruh kita menghinakan diri kita dengan berlapar dan berhaus. Demikian juga dengan haji penuh dengan hal-hal yang menghinakan diri. berkumpul di sebuah padang pasir tidur di atas pasir. Masih adakah Ustaz? Masih sampai sekarang masih ada.
(07:51) Bagi kaum muslimin yang pergi haji lalu kemudian mabit di Muzdalifah, Muzdalifah tidak ada tempat tenda yang disiapkan, tidak ada karpet yang disiapkan. Yang ada adalah Anda harus tidur, bawa alas sendiri di atas pasir. Udah alas yang dibawa itu kembangkan di atas pasir, tidur di atas alas yang Anda bawa. Kalau tak mungkin kita membawa karpet-karpet yang berat-berat itu, pasti kita membawa alas yang ala kadarnya yang sangat ringan untuk bisa kita mobile ke sana dan ke sini.
(08:19) Dan itu zaman sekarang loh, bayangkan zaman dahulu. Bagaimana mereka harus mengangkut makanan dari Mina ke Arafah. dari Arafah ke Muzdalifah, dari Muzdalifah ke Mina tanpa tenda kecuali tenda yang sangat manual yang mereka bawa sendiri dengan kain-kain. Terlihat penghinaan diri yang luar biasa.
(08:47) Sehingga kalau berhaji itu sering kita bercampur dengan pasir, bercampur dengan debu. Apalagi kalau ada badai angin. Ana pernah menyaksikan sendiri dan merasakan sendiri bagaimana mabit di Muzdalifah. dalam kondisi angin yang sangat kencang. Benar-benar paginya kita itu berdebu. Dan Allah tabaraka wa taala berfirman dalam hadis qudsi, “Unzuru ila ibadi.” Lihatlah wahai malaikat-malaikat kepada hambaku, hamba-hambaku yang sedang berhaji. Atauuni suyuan gubro.
(09:16) Mereka datang kepadaku dalam kondisi kusut masai, tidak necis, gubro, penuh debu. Badan mereka berdebu, pakaian mereka berdebu, di dalamnya terdapat penghinaan diri. Karena itulah posisi yang sebenarnya kita antara kita dan Rabb kita. Andai kita memahami bahwa Allah tabaraka wa taala menyuruh kita dengan aneka ragam ibadah, kita menghambakan diri kita kepada Allah.
(09:52) Dan kalimat ibadah itu sendiri secara bahasa Arab, kalimat ibadah itu sendiri secara bahasa Arab di dalamnya ada makna penghinaan diri. Karena kalimat abada ya’budu di dalamnya terdapat sesuatu yang rendah, makna rendah. Oleh karena itu, jalan aspal yang kita tempuh ini orang Arab menyebutnya thriqun muabbad.
(10:19) Jalan yang sudah sering dipijak oleh orang. sering dilalui oleh kenderaan itu disebut dengan jalan muabbad. Kalimat ibadah ada di dalam di dalamnya terdapat kandungan menghinakan diri. Oleh karena itu, sifat hamba adalah tawadu, sifat rendah hati, sifat hamba jangan meninggi. Allah tidak suka. Apabila sifat kita itu bukan sifat merendah.
(10:53) Oleh karena itu, sifat yang pertama yang Allah tabaraka wa taala sebutkan dari sifat hamba-hamba Allah di dalam Al-Qur’an surah Al-Furqan, sifat yang pertama yang Allah sebut adalah sifat itu sifat rendah hati. Hidup di dunia dengan hati yang tidak menyombong. Lihat Al-Qur’an surah Al-Furqan yang sangat masyur. Sifat hamba-hamba Allah.
(11:22) Di sana Allah menyebut beberapa sifat untuk hamba-hambanya yang akhirnya akan Allah masukkan ke dalam surga. Di akhir ayat surah Al-Furqan Allah katakan ulaika yudunal gurfah. Mereka adalah orang-orang yang Allah akan berikan ganjaran masuk surga yang di dalam surga itu ada gurfah, ada kamar-kamar tempat mereka diberikan ganjaran surga.
(11:47) Sifat-sifat hamba yang pertama disebut oleh Allah dalam surat Al-Furqan ayat yang ke63. Wa ibadur rahman alladzina yamsyuna alal ardhi hauna. Hamba-hamba Allah arrahman. Hamba-hamba Allah yang maha pengasih dan penyayang. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di permukaan bumi dengan hauna. Nah, hauna itu apa? Tidak sombong. Lawan daripada sombong. Hati yang merendah.
(12:27) Hati yang tidak ingin dibangga-banggakan. hati yang tidak ingin meninggi, hati yang tidak ingin yang secara bahasa Arab adalah tawadu dan sudah kita kenal dalam bahasa kita juga kalimat tawadu. hidup dengan merendah, hidup dengan hati yang tidak ingin bangga terhadap apa yang ada dan dia miliki. Inilah dia hamba Allah tabaraka wa taala.
(13:09) Sifat yang utama yang Allah sebut adalah wa ibadur rahmanilladzina yamsyuna alal ardhi hauna. Sebelum Allah menyebut sifat-sifat yang lain, sifat rajin salat, menjauhi maksiat, rajin rukuk dan sujud, rajin berdoa kepada Allah tabaraka wa taala, tobat apabila melakukan kesalahan. Allah sebut sifat-sifat yang lain setelahnya.
(13:28) Namun sifat yang pertama dari sifat hamba Allah yang Allah sebut adalah sifat tawadu, sifat tidak sombong. Sifat tidak sombong. Karena itulah sifat yang pantas untuk kita seorang hamba dalam menjalankan syariat Allah di permukaan bumi. Bahkan Allah tabaraka wa taala menyebutkan bahwa surga adalah untuk orang-orang yang tidak sombong. Surga adalah untuk orang-orang yang tidak sombong.
(14:03) Nas tegas Allah tabaraka wa taala berfirman di dalam Alquranul Karim, tilkadul akhirah najalu lilladina la yuriduna uluan fil ardhi wala fasada. Itulah kampung akhirat yang kami peruntukkan untuk orang-orang la yuriduna uluan fil ardhi wala fasada. Tidak ingin meninggi di permukaan bumi. Tidak ingin meninggi di sini adalah maknanya tidak sombong.
(14:32) tidak ingin meninggi, tidak ingin dielu-elukan, tidak ingin menjadi orang ter ter dan yang lainnya. Ini amalan hati ya. Soal kemudian dia tinggi di permukaan bumi seperti Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, maka itu adalah Allah yang menentukan. Namun hatinya rendah. Hatinya merendah. Hatinya tidak ingin. Bukan itu yang dia inginkan. Walaupun dia tinggi, dia tidak ingin meninggi.
(15:02) Tilkadarul akhirah. Itulah kampung akhirat. Najalu lilladina la yuriduna uluan fil ardhi wala fasada wal aqibatu lil muttaqin. Itulah kampung akhirat yang kami peruntukkan untuk orang-orang yang tidak ingin meninggi di permukaan bumi. Dan ketika Allah bicara Firaun dan pasukannya dan antek-antknya, Allah mengatakan sifat mereka itu sombong.
(15:30) Allah mengatakan sifat mereka sombong. Waahadu biha wastaiqatha anfusuhumulman wauluwazur kaifa aqibatul mufsidin. Mereka menolak menolak risalah yang sampai kepada mereka dari Rasul Allah yang Allah utus kepada mereka yaitu Musa dan nabi yang Allah kirim kepada mereka yaitu Harun alaihialam. Wajahadu biha.
(16:05) Mereka menolaknya mereka tidak mau menerimanya. Mereka membantahnya. Wastaq anfusuhum. Lalu Allah berbicara kepada kita apa sebenarnya isi hati mereka? Wastaqat anfusuhum. Sebenarnya hati mereka yakin akan kebenaran risalah itu. Sebenarnya hati mereka yakin akan kebenaran risalah itu. Lalu namun mereka menolaknya. Dan ini kesombongan yang paling sombong.
(16:37) Sampai kepada hati bahwa ini benar, yang kita lakukan salah, namun kita tetap pertahankan kesalahan kita. Lalu kita tolak kebenaran yang telah Allah datangkan kepada kita melalui siapapun. Ini dia sombong yang sebenarnya. Hadis sahih Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Alkiibru batharul haqqi wamtunas.
(17:05) ” Kesombongan yang sebenar-benar sombong adalah engkau menolak kebenaran dan engkau menghinakan manusia yang datang membawa kepadamu kebenaran itu. Allah katakan tentang Firaun dan kawannya dan antik-antknya dan pasukannya. Wajahadu mereka menolaknya. Mereka tidak menerima dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun.
(17:34) Namun hati mereka yakin bahwa itulah kebenaran. Salah seorang kawan Abu Jahal yang akhirnya masuk Islam. Setelah masuk Islam menyampaikan kepada kita, “Suatu saat saya pernah bersama Abu Jahal dan saya bertanya kepadanya, ini majelis khusus, majelis kecil bukan majelis besar.
(18:02) Bukan majelis yang di dalamnya Abu Jahal ada pengikut-pengikutnya, ada baninya, ada pasukannya, ada kaumnya, ada Bani Makhzumnya yang bersama dia dan dia dalam keadaan di tengah singgahsana kekuasaannya. Namun majelis khusus orang-orang spesial, orang-orang dekat. Lalu saya bertanya kepadanya, “Apakah benar Muhammad itu berdusta wahai Aba Abal Hakam?” Abu Jahal itu gelar Nabi kepada dia yang dipakai oleh kaum muslimin.
(18:31) Kalau dia di tengah kaum di tengah kaumnya disebut dengan Abul Hakam. Dia kuniahnya Abul Hakam bukan Abu Jahal. Abu Jahal itu Nabi yang memberikan gelar kepadanya dan dipakai oleh para sahabat sampai sekarang oleh kaum muslimin. Dikenal dengan Abu Jahal lebih daripada Abul Hakam. Namun dia di tengah kawan-kawannya dipanggil dengan Abul Hakam. Amar bin Hisyam alakhzumi.
(18:59) Apakah benar bahwa Muhammad itu berdusta? Dia katakan Muhammad tidak berdusta. Dan tak akan mungkin orang seperti Muhammad itu berdusta. Dia membawa kebenaran. Namun kalau di tengah Bani Hasyim ada nabi, tak mungkin kita Bani Makhzum juga punya nabi, maka kita kalah. Sementara kita dan Bani Hasyim sekarang ini di kota Makkah itu bagaikan dua kuda pacu yang sedang berpacu dan sedang sejajar.
(19:38) Kafar rihan nahnu bani makhum dan mereka bani hasyim. Itu sekarang ini kafarah saididihan bagaikan dua pacu, dua kuda pacu yang sedang berpacu yang sedang posisinya sama. Belum tentu siapa yang akan lebih dulu menang mencapai garis garis finish. Kita dan bani bani Hasyim. Bani Hasyim baninya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
(20:04) Ada Ali bin Abi Thalib, ada Abu Thalib, ada Abu Lahab. dan yang lainnya ada Hamzah, ada paman Nabi sallallahu alaihi wasallam, Abbas dan yang lainnya dari Bani Hasyim. Sementara Abu Jahal adalah Bani Bani Maksum. Adapun kita dan Bani Hasyim bagaikan dua kuda pacu yang sedang sejajar posisinya. Kalau kita mengakui bahwa mereka punya nabi, mana kemuliaan yang kita dapatkan? Maka kita tidak akan akui dia selama-lamanya.
(20:33) Artinya apa? Artinya Abu Jahal juga meyakini kebenaran Nabi. Semua orang Makkah tahu Nabi itu tidak berdusta. Semua orang Makkah tahu bahwa Nabi tidak bohong. Karena Nabi enggak pernah dusta. 40 tahun hidup di kota Makkah. Belum pernah orang Makkah menemukan Nabi itu berdusta satu kali.
(21:03) Dan orang yang tidak berdusta dalam pembicaraan bersama manusia, tentang manusia, khabar dari manusia, tidak pernah berdusta, tidak mungkin berdusta, khabar dari Allah, apalagi khabar dari Allah lebih dahsyat. Orang yang tidak pernah berdusta ketika menukilkan khabar dari manusia, tak mungkin berdusta ketika menukilkan khabar dari pencipta langit dan bumi. Enggak mungkin. Maka maasyaral muslimin, hati mereka meyakini kebenaran dan itulah kesombongan yang paling sombong.
(21:31) Kebenaran engkau tolak setelah Allah datangkan kebenaran itu kepadamu. Untuk apa mereka lakukan itu? Untuk apa Firaun melakukan itu? Dulman wauwan. Alasannya Allah sebutkan kenapa dia lakukan itu. Dia yakin bahwa Nabi Musa benar, dakwah Nabi Musa benar. Risalah Nabi Musa benar.
(21:59) Dia yakin secara hati bahwa Nabi Musa benar-benar utusan dari Allah tabaraka wa taala. Namun dia menolaknya. Dia mengatakan, “Nabi Nabi Nabi Musa berdusta. Engkau tidak benar. Engkau hanya ingin menguasai Mesir. Engkau hanya ingin menolak kami. Dan engkau menjadi ingin jadi penguasa di permukaan bumi ini.
(22:17) ” Turuningan-tudingan yang seperti itu diberikan kepada Nabi Musa dan kaumnya. Padahal sedikit pun tidak ada dakwah. Tujuannya untuk itu. Dakwah tidak pernah tujuannya untuk kekuasaan. Dakwah itu tujuannya untuk menebar hidayah kepada manusia. Namun itu tundingan-tudingan mereka kepada Nabi Musa. Wauluwan dan kesombongan dan ingin tinggi. Tetap ingin tinggi, tetap ingin menjadi penguasa, tetap menjadi ingin orang terhormat.
(22:48) tetap ingin menjadi orang yang dimuliakan di Mesir. Itu dia kesombongan. Maka agama Allah tabaraka wa taala membenci yang namanya sombong. Dan imamnya orang-orang sombong adalah iblis. Dia yang pertama kali melakukan kesombongan yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Di hadapan Allah dia sombong. Dan itu kesombongan yang paling dahsyat.
(23:28) Ketika Allah tabaraka wa taala menyebut iblis aba wastakbara. Di dalam awal Al-Qur’an surah Albaqarah di awal-awal surah Albaqarah ketika disuruh sujud iblis tidak mau sujud. Allah mengatakan, “Kenapa iblis tidak mau sujud?” Aba dia tidak mau sujud, enggan untuk sujud. Wastaakbar. Dan dia punya sifat sombong. Oleh karena itu, para ulama selalu menyebut sifat sombong itu sifat iblisiah.
(23:54) Sifatun iblisiyah. Sifat yang dia adalah sifat yang diwarisi dari iblis. Sunahnya iblis adalah sombong. Maka yang memiliki sifat sombong lebih dekat kepada ajakan iblis daripada ajakan Nabi kita tercinta Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Nabi Muhammad adalah manusia yang paling tawadu, paling rendah hati walaupun beliau adalah orang yang paling mulia.
(24:29) Wallahu taala alam. Wallahu taala alam. Ini perkataan ana dan ana belum menemukan seorang ulama mengatakannya. Namun pendapat ini bisa antum tolak, bisa antum terima. Karena itu pendapat seorang insan. Bukan dalil kenapa sampai akhir hayat Nabi sallallahu alaihi wasallam masjid Nabi tetap bawahnya adalah pasir dan pan Nabi sampai akhir hayatnya tetap sujud.
(25:09) sujud lantainya adalah pasir. Karena ini lebih mendekatkan kepada tawadu dan lebih menjauhkan daripada kesombongan. Wallahu taala alam. Apa hikmah Nabi kalau ingin? Nabi kalau ingin Nabi bisa menjadikan lantainya itu di semensen alanya rumah-rumah yang ada di Madinah ketika itu. Enggak mesti harus lantainya pasir. Namun sampai akhir hayat Nabi sallallahu alaihi wasallam tetap pasir.
(25:49) Sampai akhir hayatnya Abu Bakar tetap pasir. Sampai akhir hayatnya Umar tetap pasir. Sehingga Umar radhiallahu taala anhu ketika ditikam dan dia sedang berlumuran darah, anaknya Abdullah datang memangkunya meletakkan kepala Umar bin Khattab di di pangkuannya. Kata Umar radhiallahu taala anhu, alab, letakkan kepalaku di pasir.
(26:17) Kalau ini para ahli sejarah mengatakan, Umar melakukan itu tawaduan lillah. Tawadu kepada Allah. Di akhir-akhir hayatnya dia ingin menghinakan dirinya kepada Allah dengan ketika diangkat kepalanya oleh anaknya, Umar menyuruh, letakkan kepalanya di mana? Di pasir. Di pasir masjid Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(26:40) sampai akhir hayat Umar, masjid Nabi masih masih dalam kondisi lantainya pasir. Sehingga Nabi dan para sahabat sujud itu di pasir itu lebih dekat kepada menghinakan diri, lebih dekat kepada tawadu. Bukan berarti antum sombong ya dengan karpet antum ya. Ana tidak mengatakan itu. Jangan, jangan, jangan suudan. Karena soal fasilitas, fasilitas. Soal sombong dan tidak sombong letaknya di hati.
(27:12) Namun hati-hati kadang-kadang fasilitas membawa kepada kesombongan. Cuman itu saja, hati-hati. Sombong itu bukan letaknya di di benda. Sombong itu bukan letaknya di sarana. Namun hati-hati ketika ada sarana berlebih kita bisa sombong. Karena yang mengundang kesombongan itu adalah kelebihan itu sendiri. Lebih dalam harta bisa membawa orang bisa membawa orang sombong. Bukan semua orang kaya sombong gak.
(27:43) Wallahi para sahabat yang kaya raya tidak mereka tidak ada yang sombong. Bukan bukan bukan sarana. Sarana itu sesuatu yang bisa membawa hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika mengatakan sifat akhir zaman, manusia akhir zaman, salah satu ciri-ciri hari kiamat adalah mereka orang-orang yang berlomba-lomba menghiasi masjid.
(28:22) Lihat ada kesombongan dalam berpacu memegah-megahkan masjid jauh daripada yang namanya tawadu secara sarana lebih mendekatkan kepada kesombongan. Sifat yang tidak dicintai Allah tabaraka wa taala rabbul izzati wal jalalah. Ada orang yang lebih secara kekuasaan. Ada orang yang lebih secara kekuatan. Coba lihat di dalam Al-Qur’an, manusia yang lebih secara harta. Siapa yang Allah sebut? Siapa yang Allah sebut? Qarun.
(29:07) Allah sebut secara ini sombong karena hartanya berlebih. Akhirnya sombong. Wa inama fatihahu usbati ulil quwah. Kunci-kunci gudang kekayaan Qarun itu tak sanggup dibawa oleh beberapa orang yang punya tenaga lebih. Beberapa orang punya tenaga ekstra dikumpulkan untuk ngangkat kuncinya saja enggak kuat.
(29:35) Saking banyaknya kunci gudang dan dalam gudang itu tersimpan harta. Dan harta orang dahulu emas dan perak loh, Pak. Kalau kalau emas itu dikumpulkan tidak sanggup diangkat oleh seorang atlet angkat berat itu sudah berat itu berarti itu baru baru emasnya. Ini enggak kunci gudang emasnya. Dan benar-benar Qarun telah sampai kepada kekayaan yang luar biasa.
(30:14) Namun kelebihan itulah yang membuat dia sombong kemudian mengikuti Firaun dan antek-antknya yang lain menolak dakwah Nabi Nabi Musa Alaih Salam. Dan Firaun adalah yang dikenal dengan sombong karena kekuasaannya. Ingin menjadikan seluruh rakyat Mesir budak-budaknya, hamba-hambanya yang selalu patuh dan taat kepadanya. Bahkan lebih daripada itu mereka disuruh untuk mengakui dialah Tuhan.
(30:45) Dialah penguasa yang sebenarnya. Dialah yang penguasa yang tertinggi. Ana rbukumul a’la. Aku Rabb kalian yang paling tinggi. Aku penguasa kalian yang paling tinggi. Kepada kalian aku harus kepada aku kalian harus tunduk dan patuh. Kesombongan. Persis seperti yang Allah katakan tadi.
(31:08) Dan kaum yang terkuat sombong dengan kekuatannya adalah kaum Ad. Allah sebut di dalam Al-Qur’an tentang kaum Ad di dalam surah Fussilat ayat ke-15. Faamma adun fastakbaru fil ard. Adapun kaum Ad, pertanyaan kepada kaum Ad, nabi yang diutus siapa? Nabi siapa? Nabi siapa? Sudah benar, tapi karena kurang yakin enggak berani ngulang. Itu tanda ilmu enggak kokoh ya.
(32:06) Kita sudah nyebutnya sudah benar, tapi begitu digertak sedikit enggak berani nyebut lagi. Nabi yang diutus oleh Allah, rasul yang Allah utus kepada beliau adalah nabi nabi Hud. Adapun kepada kaum Tsamud nabi nabi Saleh. Faammaun fastakbaru fil ardhi. Adapun kaum Ad mereka sombong di permukaan bumi. Bighhairil haq. Tanpa hak. Hamba tak berhak untuk sombong. Tak ada hak seorang hamba untuk sombong sekuat apapun. Waqalu.
(32:45) Dan kaum Ad berkata, “Man asyaddu minna quwah.” Siapa lagi di permukaan bumi ini yang lebih kuat daripada kami? Siapa yang lebih kuat daripada kita? Ke mana pun mereka pergi, tentaranya tak pernah bisa dikalahkan. pasukan kuat dan mereka punya kostur tubuh yang sangat kuat, tinggi.
(33:12) Kaum Mat itu kaum manusia-manusia generasi awal yang usianya sampai 1000 tahun dan tingginya bisa sampai mencapai 25 sampai 28 m. Generasi umat umat manusia pertama usianya panjang-panjang dan badannya tinggi-tinggi dan kuat kuat sehingga tak ada yang bisa berhadapan dengan dia, dengan mereka. Pasukan selalu menang ke manaun dia pergi ke sebuah negeri pasti mereka menguasai lalu sombong karena itu.
(33:45) Fastakbaru fil ardhi waqalu man asyaddu minna quah. Mereka sombong di permukaan bumi dan mengatakan siapa lagi yang lebih kuat dar daripada kita. Lalu Allah tabaraka wa taala mengatakan, “Awalam yarau annallahalladzi khalaqahum hua asyaddu minhum quwwah.” “Tidaklah mereka, tidakkah mereka melihat, tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka?” Para ulama mengatakan, ahli tafsir mengatakan ketika Allah mengatakan kepada kaum Ad sebagai jawaban siapa yang lebih kuat daripada kami? Siapa
(34:27) yang lebih kuat daripada kita? Allah mengatakan, “Tidakkah Allah lebih kuat?” Ini menunjukkan ini menunjukkan bahwa kaum terkuat di permukaan bumi adalah kaum Ad. Karena Allah tabaraka wa taala tidak menyuruh untuk melihat kaum sebelumnya yang lebih kuat daripada mereka. Namun Allah tabaraka wa taala menyuruh lihat lihat Allah yang lebih kuat daripada kalian.
(34:55) Maksudnya gini, kalau ada seorang binaraga di kota Bekasi ini, siapa yang lebih kuat daripada saya? Ternyata ada binaraga di Afrika sana lebih kuat daripada dia. Tentu yang disebut binaraga itu kan. Betul enggak? Masih ada yang lebih kuat daripada dia. Ternyata Allah tidak menyebut ada kaum yang lain.
(35:21) Allah mengatakan ketika kaum Ad mengatakan siapa yang lebih kuat daripada kita? Allah mengatakan Allah lebih kuat daripada kalian. Ketika Allah mengatakan Allah lebih kuat daripada kalian, kata para ulama menunjukkan memang kaum yang paling kuat di permukaan bumi adalah kaum Ad. Karena Allah tidak tidak membawakan kaum yang lain.
(35:39) Namun Allah langsung mengatakan, “Saya lebih kuat daripada kalian.” Karena memang tidak ada kaum yang lebih kuat di permukaan bumi lebih daripada kaum kaum Ad. Namun sombong dengan kekuatannya, punya kekuatan ekstra sombong. Hati-hati dengan yang suka nge-jym ya. Ini zaman ngejym zaman zaman kuat kuatan ngangkat barbel.
(36:11) Zaman kuat-kuatan ngangkat ee apa namanya itu? Hah? Barbel juga namanya yang diangkat ke atas itu yang panjang pakai besi itu apa namanya? Barbel juga kah? Hah? Kalau yang ini, istilahnya aja ana enggak tahu. Berarti ana enggak pernah masuk gym. Istilahnya aja ana enggak tahu. Berarti enggak pernah masuk gym. Berarti ini barbel.
(36:46) Kalau yang tangan double dumble. Ya sudah terserah antumlah apa namanya. Karena orang sudah mulai anu sekarang soal kuat, soal otot, soal sudah mulai sombong dalam hal yang seperti itu. Cobalah orang-orang yang ngejim-ngejim itu coba lihat. Enggak mau pakai baju lapang-lapang kayak ana, Pak. Pasti bajunya ngepas, lengannya itu harus ketat di ngepres.
(37:25) Soal hati mereka Allah yang maha tahu. Tapi kita mengingatkan jangan sombong. Kita enggak nebak hati orang. Tapi agama ini memperingatkan jangan apa? Jangan sombong. Karena ini bisa membawa kepada kesombongan. Kami tidak menuding Anda sombong tapi ini bisa membawa kepada kesombongan.
(37:44) Dan boleh jadi Anda sombong gara-gara itu. Sangat mungkin terjadi kalau seseorang tidak kembali kepada agama Allah tabaraka wa taala yang sangat membenci yang namanya kesombongan. intinya adalah kalau ada kita memiliki hal yang lebih itu lebih itu lebih itu biasanya bisa membawa kesombongan itu tidak hanya sekedar lebih harta, lebih kekuasaan, lebih kuat. Tidak hanya itu.
(38:19) Kelebihan itu sendiri sebenarnya yang bisa dimanfaatkan oleh setan untuk membuat kita apa? Sombong. Apa saja? Paras lebih cantik misalnya, lebih ganteng misalnya, hidung lebih mancung misalnya, lebih tinggi, lebih apa lagi? Rumah kita lebih besar daripada orang itu.
(38:47) Kenderaan kita lebih bagus, bahkan mungkin sendal kita lebih mahal bisa sombong. Sendal hanya urusan sendal loh. Motor kita kita buat lebih tinggi dari motor orang lain. Nah, di jalan bisa sombong itu. Bisa sombong itu. Oh, kalian rendah-rendah saya saya tinggi sendiri gitu. Bisa sombong. Hanya lebih tinggi aja. Hati-hati karena Allah tidak suka sifat sombong. Bahkan para ulama mengatakan ilmu pun bisa membuat manusia sombong.
(39:22) Ilmu pun bisa membuat manusia sombong. Bisa, bisa, bisa. Iblis sangat mahir untuk membawa manusia kepada kesombongan dengan kelebihan yang dia punya. Dengan kelebihan yang dia punya, iblis bisa menarik manusia kepada kesombongan. termasuk ilmu. Berkata Imam Abdullah Ibnu Mubarak Almarwazi rahimahullah rahmatan wasiah, seorang ulama di zaman tabiin.
(39:55) Inna lil ilmi nafahun kanafahil maal. Sesungguhnya ilmu itu punya hembusan seperti hembusan harta. Ini perkataan seorang ulama salaf. Hati-hati tentang terjebak. sudah belajar ilmu, sudah mengetahui ilmu, sudah bisa baca kitab, sudah bisa bahasa Arab, sudah mengerti lebih daripada yang lain. Anda baru Arabiyah bainayadik jilid satu, saya sudah jilid 5.
(40:45) Ada yang jilid lima? Enggak. Enggak ada. Anda baru baru permulaan saya sudah jauh di depan. Anda cuman S1, saya sudah S7. Es krim dan es teler. Hati-hati. Itu semua bisa membawa apa? Membawa kepada kesombongan. Inna lil ililmi. Sesungguhnya ilmu memiliki nafahun, ada hembusan.
(41:28) Karena fahi almal bagaikan hembusan harta. Maksud Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ubar kata para ulama, kesombongan. Ilmu bisa membawa manusia sombong sebagaimana harta bisa membawa hembusan kesombongan. Terlihat dari apa yang kita bawakan tadi, agama Allah menyuruh kita untuk tidak sombong. Lawannya lawan sombong adalah tawadu.
(42:00) Dan terlihat bahwa Allah membenci orang-orang yang sombong dan membenci sifat sombong. Karenanya kita harus berusaha sekuat tenaga menghindar dari sifat sombong itu. Terutama di titik-titik kita lebih daripada orang lain. apapun itu, apapun itu, lebih berkuasa, lebih kaya, lebih besar rumahnya lebih terkenal, lebih ganteng, lebih apaagi? lebih udahlah sebutlah lebih bisa semua yang yang kita ada kelebihan kepada daripada itu, itu bisa membawa setan iblis bisa membawa kita ayo sombong seperti saya.
(42:57) Dan yang membuat iblis sombong dia merasa lebih daripada Nabi Adam. Dia mengatakan kepada Allah, “Engkau ciptakan aku dari api dan engkau ciptakan dia dari tanah. Aku lebih mulia daripada Adam. Ana khairum minhu.” Ana saya lebih baik daripada Adam. Dia merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam.
(43:20) Dan itu yang membawa membawa dia kepada kesombongan itu sehingga tidak mau kemudian sujud kepada Allah. Dan tidak ada yang lebih sombong daripada iblis laknatullahi alaih. Sesombong-sombong Firaun belum bertemu Allah saja sudah keok. Sesombong-sombongnya Firaun di permukaan bumi, manusia tersombong yang Allah sebut di dalam Al-Qur’an yang berani mengatakan ana rbukumul a’la.
(43:41) Enggak ada yang berani mengatakan itu dari penguasa-penguasa dunia yang Allah sebut di dalam Al-Qur’an kecuali Firaun. Namun ketemu malaikat bertemu kematian saja sudah sombongnya hilang. Ya, sombongnya hilang. Firaun pernah berkata, Firaun pernah berkata, “Air-air yang ada di Mesir ini di bawah kekuasaan saya. Sungai-sungai Mesir ini di bawah kekuasaan saya. Saya penguasanya.
(44:13) ” Dia dia mengira dia Rabbnya air-air Mesir. Air itu yang membunuhnya. Jadi Allah tunjukkan dia dia sempat pernah sombong dan sempat mengatakan bahwa sungai-sungai Mesir, air-air yang mengalir di Mesir ini di bawah kekuasaanku. Aku penguasanya. Allah buktikan.
(44:43) Engkau mengata engkau penguasa air, kok bisa air membunuh dirimu? Kaum Ad yang mengatakan, “Siapa yang lebih kuat daripada kita di permukaan bumi ini?” Siapa yang lebih kuat daripada kita? Enggak ada yang lebih kuat daripada kita. Allah tunjukkan, Allah musnahkan mereka hanya dengan sesuatu yang lembut bernama angin. Allah hancurkan kaum Nabi kaum Ad dengan apa? Dengan angin aja.
(45:07) Alqawiyu, almatinu, aljabbar subhanahu wa taala. Tak ada yang lebih kuat daripada Allah. Keyakinan yang tidak ada keraguan kita sedikit pun di dalamnya. Dunia dunia yang sangat besar ini, dunia yang sangat besar, yang sangat kokoh ini, Allah hancurkan pakai suara loh trompet malaikat.
(45:37) Begitu trompet malaikat itu dihembus, suara sangkakala menyebar, hancur bumi langit, gunung-gunung berhamburan dari tempatnya. hancur seluruh tatanan tata surya hanya dengan dengan suara dan Allah maha kuasa, maha perkasa atas segala-galanya. Ikhwani fiddin rahimani warahimakumullah, sebagaimana yang kita katakan tadi bahwa ayo kita jauhi sifat sombong.
(46:07) Ada beberapa cara yang bisa antum jadikan sebagai introspeksi diri, cara untuk melawan sombong. Di antaranya adalah sadari saudaraku bahwa semuanya milik Allah, semuanya milik milik Allah. Kalau kita menyadari bahwa semuanya milik Allah, maka tak ada yang milik kita. Bukankah di dalam Al-Qur’an berulang-ulang dalam ayat yang sangat banyak, di puluhan ayat Allah mendidik hati kita untuk meyakini lillahi maa fis samawati wa fil ard.
(47:14) Milik Allahlah seluruh yang ada di langit dan seluruh yang ada di bumi semuanya milik Allah. Dalam kalimat lain, redaksi lain Allah katakan lahu mulkus samawati wal ard. Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Di dalam surat dalam ayat kursi, lahu ma fis samawati wa ma fil ard. Dan itu berulang-ulang. Al-Qur’an dalam redaksi seperti ini berulang-ulang dalam puluhan ayat mendidik kita agar kita selalu merasa ini bukan punya saya.
(47:58) Ini punya Allah yang sedang Allah berikan kepada saya. Sehingga ini bisa menekan sifat sombong itu lahir. Kenapa? Ini milik Allah loh. Kalau ataupun kita punya harta yang banyak tambah bersyukur karena ini milik Allah yang sedang Allah amanahkan. Kalau kemudian Allah berikan kekuasaan, pangkat dan jabatan, kita katakan bahwa ini datangnya dari Allah. Allah yang memberikannya kepada saya.
(48:35) Kalau kita punya ilmu, kalau kita punya kekuatan, Allah yang memberikannya kepada saya. Allah saya saya enggak bisa apa-apa. Saya sebagai manusia tidak mampu apa-apa. Hanya Allah yang memberikan. Kalau kita sadari poin ini bahwa semua yang ada di langit dan di bumi ini milik Allah dan milik kita, lalu dari mana sombong itu akan datang? Enggak ada yang milik kita satu pun. Wallahi milik Allah semuanya.
(49:15) Coba antum sekarang semua kita yang hadir di majelis ini coba lihat tangan kita semua kita ngelihat tangan coba bolak-balik tangan itu. Ini milik kita ini enggak. Karena kita tidak pernah membentuknya. Kita tidak pernah menciptakan tulang belulangnya. Kita tidak pernah membungkus tulang- belulang itu dengan daging.
(49:40) Pernah tidak? Pernah tidak kita terima jadi kan kita hanya pakai kan Allah yang membuatnya. Ini milik Allah. Milik Allah yang sedang Allah amanahkan kepada kita untuk kita pakai dan ada aturan aturan mainnya. Aturan pakainya itu ada. Wallah ini yang terjadi. Ini tangan milik Allah. Allah yang punya bukan kita. Allah berikan kepada kita untuk kita pakai dan Allah atur begini cara pakainya.
(50:17) Ini yang boleh, ini yang tak boleh. Iya atau tidak? Ini pinjaman dari Allah doang loh, Pak. Bukan milik kita. Bukan milik kita. Maksudnya hak milik kita totalitas secara mutlak bahwa kita yang membuatnya kita yang penguasa utamanya gak. Oleh karena itu ketika dia sakit ya sakit. Kita enggak bisa mencegahnya. dan menjadikannya sehat.
(50:45) Kalau itu tangan perlakukan semuanya, mata, telinga, jantung, paru-paru, pankreas, darah, tulang yang ada di badan kita semuanya itu anugerah Allah yang Allah berikan kepada kita. Di dalam Al-Qur’an Allah katakan wama bikum min nikmatin faminallah. Nikmat apapun yang ada pada kalian semuanya datang dari Allah. Allah yang memberikannya kepada kalian. Enggak ada yang punya kalian satu pun.
(51:05) Semua itu adalah amanah untuk kalian gunakan. Dan ada cara menggunakannya yang Allah izinkan dan ada cara menggunakannya yang tidak Allah izinkan. Dan itu diberikan kepada kalian sebagai materi ujian. Akankah kalian gunakan untuk hal yang kalian diizinkan menggunakannya atau kemudian kalian gunakan untuk hal yang kalian tidak diizinkan untuk mengnya? itu materi ujian di permukaan bumi. Kita tidak sedang berbicara materi ujian itu.
(51:30) Namun ini sifat bisa menghadirkan tawadu, bisa menolak sombong. Ketika kita sadar semuanya milik Allah, semua kita Allah yang ngatur, semuanya Allah yang memberikan. Semuanya Allah yang yuizzu yasya waudillu yasya. memberikan kekuasaan kepada orang yang Allah inginkan, memuliakan orang yang Allah inginkan, menghinakan orang yang Allah inginkan. Ytil mulka yasyaziul mulka mimman yasya.
(52:03) Allah yang memberikan kekuasaan kepada orang yang Allah pilih dan Allah yang menghancurkan dan mengambil kembali kekuasaan itu. Mencopot dia dari jabatannya liman yasya untuk orang-orang yang Allah kehendaki. Semua itu Allah yang berbuat. Kita hanya orang yang diberi amanah untuk dimintai agar berjalan di atas jalur yang telah diajarkan dan diperintahkan dan dibolehkan dan nanti akan dimintai pertanggungjawabannya untuk mempertanggungjawabkan kenapa kita gunakan untuk hal yang tidak diridai.
(52:40) Jadi mengetahui bahwa semua milik Allah ini melahirkan sebuah sifat yaitu tak ada yang punya kita. Kalau kembali kepada kitanya murni kitanya Pak berarti kita miskin. Sekaya apapun kita miskin. Oleh karena itu Allah menyebut kita di dalam Al-Qur’an, kita ini orang fakir. Di dalam Al-Qur’an Allah menyebut manusia ini orang fakir.
(53:21) Dalam surat Fatir ayat 15, ya ayyuhannas antumul fuqaru. Hai manusia sekalian, manusia, hai manusia semuanya, sadarlah bahwa kalian adalah orang-orang yang fakir. Ilallah kalian fakir kepada Allah. Kalau kita sadar bahwa kita fakir, kita membutuhkan, sangat membutuhkan Allah, tidak bisa kita hidup, tidak kita bisa berbuat, tidak bisa kita apa-apa kalau bukan Allah tabaraka wa taala yang memudahkannya untuk kita.
(54:12) Inilah dia sifat yang akan mendatangkan tawadu yang diinginkan Allah dan sifat yang bisa menolak kesombongan itu datang. Di antara sifat yang bisa kita jadikan cara untuk melawan datangnya sombong adalah menyadari dari apa kita diciptakan. Dari apa kita diciptakan. Asal-usul penciptaan. Kita diciptakan dari tanah. Dan itu berulang-ulang di dalam Al-Qur’an Allah sebut dari dari apa kita diciptakan.
(55:04) Kenapa Allah mengulang-ulang di dalam Al-Qur’an? Dari apa engkau diciptakan wahai manusia? Apa asal bahan baku engkau itu apa wahai manusia? Bahan baku engkau adalah tanah tuh yang diinjak-injak manusia itu. Yang kalian injak. dengan kenderaan kalian, dengan kaki kalian, dengan kalau kalian kalau sempat pasir itu tanah itu masuk rumah, kalian anggap rumah kalian kotor, l kalian sapu kalian usir pasir itu dari rumah kalian, dari itu kalian diciptakan Allah.
(55:36) Ya kan? Kalian yang anggap bahwa pasir itu apabila sampai di rumah itu adalah kehinaan untuk pemilik rumah. Allah ingatkan kita dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, kita diciptakan dari tanah. Karena Nabi Adam Allah ciptakan dari dari tanah. Dan anak cucu Nabi Adam berasal dari asal usulnya yang pertama yaitu Nabi Adam. Yaitu dari tanah.
(56:05) Walaupun setelah itu dari air, namun asal yang pertama dari tanah. Alarnya sudah bunyi, kajian sudah selesai. katanya sudah sampai di situ kajian ustaz katanya di antaranya firman Allah di dalam Al-Qur’an surah Fatir ayat yang ke 11. Wallahu khalaqokum min turabin. Dan Allahlah yang telah menciptakan kalian dari tanah.
(56:36) Lihat ketika sujud tadi kita disuruh untuk merendah ke lantai. Lihat Nabi sallallahu alaihi wasallam sujudnya ke pasir. Lihat Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu menyuruh letakkan kepalanya di pasir. Menyadari bahwa inilah asal-usul penciptaan kita. sesuatu yang hina yang tak ada harganya. Kenapa bisa sombong? Bukankah asal usulmu adalah tanah? Tumma min nutfatin setelah dari pasir, dari tanah, lalu kemudian generasi berikutnya adalah dari air.
(57:26) Hanya air barang yang sangat keril, kecil, lemah. Itulah asal-usul penciptaan kita. Dan kenapa Allah ulang-ulang? Karena apa Allah ulang-ulang? Agar kita sadar bahwa tak perlu jasmani ini enggak perlu dielu-elukan kali. Enggak perlu harus dibangga-banggakan. Enggak perlu harus di diangkat-angkat orang.
(57:57) Dielu manuk elukan manusia di apa namanya itu? Di disanjung-sanjung, dimuliakan. Enggak perlu tanah kok. Tanah ini melawan sifat sombong. Kalau kita sadar melawan sifat sombong. Itu yang tadi ana katakan. Wallahuam. Antum boleh terima, boleh tolak. Karena itu pendapat ana yang sampai saat ini ana masih mencari, mencari dan mencari agar ada seorang ahli ilmu yang berbicara itu.
(58:29) Kenapa sampai akhir hayat Nabi sallallahu alaihi wasallam tetap membiarkan masjid beliau berlantaikan pasir? Pernah enggak mendengar hadis Nabi selesai salat subuh yang malamnya terjadi hujan? Ketika Nabi balik arah kepada para sahabat, di jidat Nabi terlihat ada lumpur pasir yang sudah bercampur dengan air.
(58:57) Pernah dengar hadisnya? Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Wailatal ardu masjidan waahur.” Seluruh permukaan bumi ini bisa tempat salat. Bisa kita sujud dan letakkan jidadun, lantai pasir manaun. Padahal lantai pasir itu atau tanah itu mungkin dilewati anjing, dilewati kambing, di di dieei oleh kerbau dan sapi, ya kan? Iya. Enggak.
(59:37) Tempat yang pada dasarnya hina kan? Tempat yang menurut kita kotorlah. Namun dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam spesial untuk umat Nabi Muhammad tidak ada pada umat-umat sebelumnya. Seluruh permukaan bumi bisa jadikan tempat salat. bisa kita salat di sana. Jidad kita letakkan di situ. Wajah kita bisa letakkan di situ.
(1:00:01) Walau sebelumnya anjing lewat, walau sebelumnya kucing lewat, walau sebelumnya sapi lewat, walau sebelumnya babi lewat. kehinaan kepada Allah saja, menghinakan diri kepada Allah saja, menghanguskan dan membakar sifat sombong yang akan dihembuskan oleh sesuatu yang membuat kita lebih berikutnya yang mudah-mudahan dengannya kita bisa melawan sifat Sombong. Sombong akan menyeret manusia ke neraka jahanam.
(1:00:41) Sombong bisa menyeret manusia kepada neraka jahanam. Dalam ayat yang sangat banyak di dalam Al-Qur’an. Di antaranya surah Az-Zumar ayat yang ke-72. Di antaranya qiladulu abwaba jahannama khidina fiha. Dikatakan kepada mereka, “Udkulu abwaba jahanam. Masuklah kalian ke dalam pintu-pintu neraka jahanam. Kholidina fiha.” Kalian kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
(1:01:24) Lalu Allah tutup dengan ayat fabwa almutakabbirin. Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat akhir, tempat menetap, tempat tinggalnya orang-orang sombong. Lihat, kalau kita sadar bahwa kesombongan itu akan mengarahkan kita ke neraka jahanam, kita pasti berusaha untuk menghindar dari sifat sombong.
(1:01:54) Sombong akan melahirkan sifat iblis dan sifat iblis akan melahirkan maksiat dan maksiat akan menjeret manusia kepada murka Allah dan murka Allah kalau tidak Allah ampuni akan membawa kepada neraka Allah. Dan kalau sampai kepada derjat yang sangat tinggi daripada keingkaran, maka di neraka untuk selama-lamanya. Itu dia bahaya sombong.
(1:02:20) Kita tutup dengan bahagian terakhir saja karena waktu sebelum kita bertanya jawab. Kita kita benci orang yang sombong. Maka kalau kita sombong, kita pasti dibenci orang. Kita enggak suka ngelihat orang sombong. Maka kalau kita sombong, kita akan dibenci oleh manusia. Karena kita enggak suka sifat kita enggak suka orang menyombongkan diri kepada kita.
(1:02:49) Manusia itu fitrahnya adalah tawadu dan dia akan mencintai orang yang tawadu. Suka kepada orang yang tawadu. Namun iblis yang menyeretnya untuk sombong. Sadari bahwa saya saya tidak suka orang sombong kepada saya. Sekaya apapun dia, setinggi apapun jabatannya, seganteng apapun dia, sehebat apapun dia, setinggi apapun ilmunya, kalau sudah sombong cara ngomongnya, saya pasti muak lihatnya.
(1:03:15) Kan bahasa kita itu dengar dia ngomong saya mau muntah gitu gitu kan bahasa kita. Kalau ngelihat orang sombong gitu kan, eh muak saya ngelihat dia ngomong itu rasa-rasa mau muntah a ya. Cuman karena saya karyawan, saya harus sabar-sabar saja nahan-nahan diri di depan misalnya gitu ya. Artinya apa? Tabiat manusia itu benci kepada kesombongan sebenarnya.
(1:03:40) Benci kepada kesombongan sehingga apabila ada orang sombong di hadapannya dia pasti menolak jiwanya berontak. enggak suka kesombongan itu. Kalau Anda sadar bahwa Anda ada orang berhadapan dengan Anda menyombongkan diri Anda, Anda benci kepadanya, maka sadari bahwa Anda juga akan dibenci oleh manusia dan dibenci oleh Allah lebih daripada dibenci oleh manusia kalau Anda punya sifat sombong ini. Maka kalau ingin-ingin hidup dibenci oleh manusia dan Allah, sombonglah.
(1:04:10) Pasti dibenci manusia, pasti dibenci oleh Allah. Tapi kalau ingin hidup dimuliakan oleh Allah dan kalau Allah kalau sudah memuliakan pasti manusia akan menyukainya adalah tawadu. Hadis sahih dari Imam Muslim. Man tawad’a lillahi rofa’ah. Barang siapa yang tawadu kepada Allah, tak tak menyombongkan diri, maka Allah pasti akan angkat dia. Nas hadisnya itu.
(1:04:44) Dan mafhumul mukhalafah. Pemahaman baliknya kalau Anda tidak tawadu, yaitu sombong, Allah akan hinakan Anda. Allah akan angkat orang yang tawadu. Mafhumul mukhalafah. pemahaman balig kalau tidak tawadu atau alias sombong maka Allah tidak akan angkat Allah akan hinakan. Anda ingin meninggi meninggi dengan harta lihat Qarun.
(1:05:08) Allah Anda ingin meninggi-meninggi dengan kekuasaan, lihat Firaun. Anda ingin meninggi-meninggi dengan kekuatan, lihat kaum Ad. Dan tidakkah sejarah-sejarah kaum yang Allah hancurkan karena mereka adalah orang-orang yang sombong sehingga menolak kebenaran, menghinakan para nabi dan para rasul, dan bangga dengan apa yang mereka miliki, padahal semua itu Allah yang telah memberikan kepadanya.
(1:05:42) Ini yang bisa kita bahas pada kesempatan yang berbahagia ini sebagai materi. MaaSyaral muslimin dan muslimat rahimani warahimakumullah. Semoga dengannya kita bisa menjaga hati kita, menjaga sifat dan akhlak kita yang disukai oleh Allah dan menjaganya agar terhindar dari sifat yang dibenci oleh Allah. Di antara yang sangat dibenci oleh Allah adalah sifat sombong.
(1:06:04) Maka janganlah hidup dengan kesombongan. Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika berhasil menaklukkan berhasil dengan izin Allah menaklukkan Makkah dan di Makkah itu orang yang telah menghina beliau puluhan tahun orang yang ingin membunuh beliau, orang yang telah membunuh keluarga beliau, orang yang telah membunuh sahabat-sahabatnya yang sangat beliau cintai, orang yang telah membuat beliau sengsara puluhan tahun Nabi masuk dalam keadaan merendahkan kepalanya serendah-rendahnya.
(1:06:42) Memang Nabi masuk di atas unta, namun ketika masuk itu Nabi tidak membusungkan dada. Namun Nabi justru nunduk sedalam-dalamnya masuk kota Makkah. Antum bisa bayangkan puluhan tahun dia menghina saya, mencaci saya, memaki saya, mengatakan saya bohong dan dusta, memfitnah saya.
(1:07:11) Dia telah membunuh keluarga saya, membunuh sahabat-sahabat saya. Sekarang saya masuk, saya mencengkeram mereka. Sebagian para ulama mengatakan begini, “Dengan satu kalimat dari Rasul saja, satu kalimat dari Rasul tercinta itu seluruh penduduk Makkah yang dewasa bisa dipenggal kepala.” Bisa. Tapi Rasul kita adalah manusia yang penuh kasih dan sayang.
(1:07:42) Manusia paling pemaaf, manusia yang paling menjunjung tinggi pri kemanusiaan. Manusia yang ingin kebaikan untuk manusia, untuk orang lain, beliau maafkan. Tak seorang pun yang beliau tak seorang pun yang beliau hukum. Ini dia. Dan waktu yang tersisa kita gunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan. Wasallallahu wasallam. Wabaraka wa anam ala abdihi wa rasulihi Muhammad.
(1:08:14) Iya. Jazakullah. ee tausiahnya. Untuk itu kita buka sesi pertanyaan barangkali dari Bapak-bapak sekalian. Barangk ada yang mau bertanya silakan dulu. Baik kalau tidak ada kita ke ibu-ibu penanya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
(1:08:40) Ustaz mohon penjelasannya tentang hubungan anak sambung ayah tiri dengan anak sambung. Apakah benar ayah sambung tidak ada kewajiban atas anak sambungnya karena tidak adanya hubungan di antara mereka? Kok tidak ada hubungan? Ayah sambung dengan anak sambung kok tidak ada hubungan? Bukankah mereka mahram? Mahram. Mahram. Berarti ada hubungan dong.
(1:09:05) Berarti ada hubungan dong. Kok tidak ada hubungan? Emang hubungan mau sama emaknya aja? Anaknya anaknya enggak gitu? Ada hubungan dong. Dia telah Allah jadikan orang yang sangat dekat dengan kita sehingga jadi mahram kita. Memang bukan anak kandung tapi anak sudah anak sambung. Dia memiliki kedekatan khusus dengan kita. Oleh karena itu, Allah izinkan sesuatu yang tidak Allah izinkan dengan wanita lain.
(1:09:37) Kan wanita yang ajaib. Berarti ada hubungan spesial. Walau tidak hubungan seperti hubungan anak kandung, tetapi dari sisi kemahraman sama persis dengan anak kandung. Bahkan tak mungkin Allah jadikan seseorang itu punya punya hal yang spesial dengan kita kalau bukan ada hubungan. Enggak mungkin.
(1:10:03) Maka orang semakin dekat hubungannya dengan kita, semakin Allah menyuruh kita memperhatikan mereka. Semakin harus lebih memperhatikan semakin Allah dekatkan seseorang kepada kita. Istri, kakak kandung lebih dekat istri kan kepada kita dibanding kakak kandung kan. Lihat Allah, lihat lihat lihat syariat Allah mana yang lebih dekat. Maka seorang suami salah apabila dia perhatikan kakak kandungnya lalu dia tidak abaikan istrinya.
(1:10:36) Kalau ada satu dirham tak ada yang lain, istri butuh, kakak kandung butuh, istri dulu berikan. Begitu dalam syariat Allah. Karena ada hubungan spesial yang sangat dekat. Anak saudara sama, anak punya kedekatan lebih daripada saudara. Kalau ada 1 dirham dua-duanya sama, butuh anak dulu baru hal yang salah. Kalau saudara dulu baru anak.
(1:11:03) Kalau sama-sama membutuhkan maksudnya. Maka semakin ada hubungan, maka akan semakin ada kelapangan peraturan dan itu menunjukkan curahan perhatian harus lebih. Wallahuam. Nam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Ustaz, saya pernah mendengar orang berkata, “Saya tidak akan pernah miskin karena suka memberi dan bersedekah.
(1:11:33) ” Dan apakah itu termasuk perkataan syirik atau sombong, Ustaz? Sampai sekarang orangnya masih kaya, rajin salat dan rajin puasa. T saya disuruh menebak apakah itu orang itu sombong. Ya, sombong amalan hati. Sombong itu amalan hati. Dan kita tidak boleh menebak isi hati orang. Tidak boleh menebak apa isi hati orang. Enggak boleh. Kalau toh pun terlihat gayanya menurut kita, menurut kita penampakan gayanya sombong, kalau ingin mengatakan sesuatu cukup katakan kok gayanya sombong ya. Jangan hatinya, kan kita yang lihat gayanya.
(1:12:36) Kalau ada kata-katanya yang kayak-kayak sombong, jangan tebak isi hatinya. Kata-katanya tercium aroma sombong dari kata-katanya enggak ada masalah. Karena memang kata-katanya terlihat sombong. Isi hati. Sombong itu amalan hati. Sombong itu amalan amalan hati. Kenapa kita berani mengatakan kaum Ad sombong? Nabi ee kaumnya Nabi Hud yaitu kaum Ad sombong, Firaun sombong.
(1:13:11) Ee karena Allah sudah mengatakan itu kepada kita. Allah sudah mengatakan itu kepada kita. Allah isi tahu isi hati manusia dan Allah memberitahu kepada kita. Namun kita tidak boleh menebak isi hati orang. Boleh jadi kalimat-kalimat yang dia keluarkan tadi boleh jadi sombong, boleh jadi tidak.
(1:13:30) Boleh jadi memotivasi orang lain untuk berinfak dan bersedekah. urus diri sendiri, jangan urus i hati orang. Nam. Terima kasih, Ustaz. Oh, iya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ee, Ustaz, bagaimana dengan seorang muslim yang sering update status di media sosialnya? Taz, apakah itu termasuk kesombongan? Mirip dengan yang tadilah, mirip dengan jawaban sebelum ini ya. Mirip dengan jawaban sebelum ini ya.
(1:14:10) Kalau antum merasa bahwa statusnya itu membawa kepada kesombongan, ya sudah statusnya saja komentari. Jangan komentari isi isi hati. Kita tidak tahu apa maksud orang, apa tujuan orang, apa isi hati orang ketika status apakah menunjukkan nikmat Allah yang Allah berikan kepadanya karena di depannya sedang ada kepala kambing? Ataukah memang ada sesuatu yang lain? Kadang-kadang status orang ketika lagi makan dia hanya ingin manas-manasi kawannya supaya hadir gitu kan.
(1:14:45) Kita yang kadlas menilai sombong. Maka hati-hati ya, jangan sampai kita menilai hati orang. Sombong itu amalan hati. Dan ketika antum update status, hati-hati dengan sombong. Karena bisa kelebihan itu bisa ya status sudah mendarat di Jeddah akan bisa membawa kesombongan itu. Iya kan? sedang berada di Zamzam Tower Makkah gitu. Itu kan kita sedang lebih dari yang lain. Kita dalam posisi sedang lebih daripada yang lain.
(1:15:30) Makanya saya ana katakan tadi, apapun yang sifatnya kita lebih daripada yang lain bisa membawa kepada bisa membawa kepada kesombongan. Ana tidak mengatakan Anda akan sombong dengan itu. Tidak. Karena sombong dan tidak sombongnya Anda tergantung diri Anda dan hati Anda dan muamalah Anda dengan Rabb Anda.
(1:15:54) Dan kalau Anda benar-benar kembali kepada agama Allah dan mengamalkannya, pasti Anda tak berani menyombongkan diri kepada manusia dan mengeluarkan kata-kata yang memang dari hati itu adalah kesombongan. Namun kalau ada sesuatu yang Anda lakukan, saya menilainya kayaknya yang seperti ini mengarah kepada kesombongan. Saya hanya akan komentar, enggak bagus status yang seperti ini bisa membawa kepada kesom kesombongan. Sudah nilai zahirnya ya, akhi. Istirahat kita.
(1:16:27) Kalau kita hanya menilai zahir manusia dan tidak menebak isi hati, aman hidup kita, nyaman hidup kita. Karena di antara hal yang membuat hidup kita susah sekarang ini karena nebak isi hati orang. Wallahuam. Nam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(1:16:49) Ustaz, bagaimana kalau mencaci maki orang yang berhutang karena sudah lama tidak bayar? Jadi saya emosi ini tadi. Ya sudah salah mencaci makinya dan emosinya itu salah. Mencaci maki dan emosinya itu salah. Apabila di hati antum tambah dengan kesombongan, salah tambah salah gitu loh. Orang ini pinjam janji 4 bulan, sekarang sudah 12 bulan enggak bayar-bayar. Lalu antum marah kepadanya. Soal marah saja masih boleh caci maki jadi haram.
(1:17:26) Marah saja masih boleh loh. Agama kita tidak melarang kita apa? Marah. Asal dalam marahnya tidak ada maksiat. Asal di dalam marahnya tidak maksiat. Salah satu sifat penduduk surga yang Allah cintai adalah waladiminal ghaid. Orang-orang yang meredam amarahnya ketika marah.
(1:17:54) Itu salah satu sifat yang ada dalam agama kita. Dipuji oleh Allah dan disebut oleh Allah sebagai penduduk sifat penduduk surga. Wal kadiminal ghaid. Mereka yang menahan amarah dan emosinya. Sudah emosi namun diredam, ditekan, tidak dilampiaskan dalam bentuk kalimat-kalimat caci maki dan tidak dilampiaskan dalam bentuk kata e perbuatan-perbuatan mencederai dan memukuli dan semacamnya. Menzalimi.
(1:18:26) Sekedar emosinya sedang marah lalu dia tekan. Artinya apa? Marahnya sudah ada. Kalau enggak, enggak ada makna kazmul ghaz. Sebuah sifat yang dalam agama kita dalam bahasa Arab disebut dengan kazmul ghaid yang ada dalam Al-Qur’an surah Ali Imran. Wal kadinal gid sifat kadmul ghaid. Menahan menekan marah, melawan marah. Apa? Meredam marah. Kita lagi marah lalu diredam. Itu dia kul ghaf.
(1:18:53) Marahnya sudah ada, marahnya sudah nongol, emosinya sudah datang. Ini menunjukkan bahwa emosi tidak tidak dosa. Emosi itu tidak dosa. Baru dia dosa kalau kalimatnya sudah kalimat caci maki. Dosanya di kalimat caci makinya penyebabnya emosi. Bisa dipahami? Ini jadi emosi saja enggak ada masalah. Anda marah kepada orang yang berhak dimarahi dengan kalimat-kalimat yang tidak ada tidak ada caci makian.
(1:19:25) Dengan kalimat-kalimat yang tidak ada maksiat. Enggak ada masalah. Seorang guru marah kepada murid, seorang ayah marah kepada anak, seorang atasan marah kepada bawahan. Namun kalimatnya kalimatnya tak ada yang kalimat dosa. Dia hanya menunjukkan bahwa dia enggak suka seperti itu. Boleh. Dalam agama kita boleh. Namun kalau sudah caci maki maka menjadi dosa. Kemudian diini dengan kesombongan.
(1:19:53) dihinakan dia yang rendah itu, yang minjam itu dengan kesombongan di dalam hati. Kita hinakan dia di dalam hati kita, maka itu adalah dosa di atas dosa. Kalau yang bertanya pernah melakukannya, maka minta maaf kepada orang yang sudah Anda caci maki. Minta maaf. Kita tidak pernah tahu siapa di antara kita yang lebih mulia.
(1:20:29) Apakah yang memaki lebih mulia daripada yang dimaki atau yang dimaki lebih mulia daripada yang memaki. Derjat manusia di sisi Allah rahasiakan kecuali hanya orang-orang tertentu yang Allah sebut, Allah cinta kepadanya. Namun mayoritas manusia Allah rahasiakan siapa yang lebih mulia di atas siapa agar kemudian kita tidak sombong dan merasa kita lebih baik daripada dia.
(1:20:55) Nam ya. Terima kasih, Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz bertanya apakah diperbolehkan berdoa bersujudnya lebih lama di akhir pada rakaat terakhir tadi lebih dilamakan dengan berdoa di luar doa-doa bacaan salat? Pada pada dasarnya memanjangkan sujud adalah sunah. Pada dasarnya memanjangkan sujud adalah sunah di antara sunah-sunah salat dan berdoa di dalamnya.
(1:21:31) Namun tak perlu dispesialkan sujud yang terakhir. Tak perlu dispesialkan sujud yang terakhir. Dia sunah pada setiap sujud. Dia sunah pada setiap sujud. Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika mengatakan, “Aqrabu ma yakunu bainal abdi wain rbihi wahua sajid.” Jarak yang sangat dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sujud. Nabi tidak mengatakan sujud akhir.
(1:21:56) Nabi hanya mengatakan ketika sujud. Faakfiru fihi minadua. Maka perbanyaklah di dalamnya doa. Faqamin an yustajaba lakum. Maka itu akan lebih dekat untuk diijabah untuk kalian. Nabi tidak mengatakan sujud akhir sujud maka bagus sudah. Namun tambahkan lagi tak mesti harus di sujud yang terakhir. Nam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, ana seorang penjid pakaian.
(1:22:29) Biasanya kain pertanyaan itu selalu ana kasihkan kepada yang punya baju. Terkadang ana lupa, Tad. Hukumnya bagaimana? Ulangi ana seorang penjahit biasanya itu kain percak kain bekas-bekasnya itu itu selalu diberikan ke yang menjahit yang punya baju tang-kadang ana lupa. Nah, itu hukumnya gimana tadi kalau lupa itu.
(1:22:54) Apakah sisanya itu punya harga, sesuatu yang berharga yang kalau orang itu orang yang punya baju itu ingat, oh belum diambil sisanya, dia pasti balik lagi ngambil karena ini barang berharga, punya harga gitu loh. Ataukah dia sesuatu yang apabila si yang punya baju tahu ada sisa, dia pasti enggak peduli dengan dengan barangnya itu yang tertinggal sama sama si penjahit.
(1:23:19) Kalau barang berharga harus kembalikan. Kalau barang yang memang tidak berharga bagi maka yang punya saja tidak mau ngambil lagi. Itu loh maksudnya yang punya saja tidak mau ngambil lagi maka itu benda yang berhak untuk dimiliki karena yang punya saja tidak peduli. Wallahuam. Satu lagi terakhir n. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz mohon nasihatnya.
(1:23:49) Anak saya sudah lulus mondok dan sekarang sudah bekerja, tetapi ee posisinya berbeda kota dengan dengan anak. Kalau anak itu tidak salat, apakah orang tuanya mendapatkan dosa dari anak tersebut? Apakah orang tuanya yang mendidiknya untuk tidak salat? Berarti tidak dong.
(1:24:12) Orang tuanya justru mendidiknya untuk salat, bahkan disekolahkan di pesantren. Justru untuk itu di antara targetnya dan tujuannya agar jadi anak saleh, berarti tidak ada dosa orang tua karena bukan hasil didik orang tua. Maka itu dosa tanggung masing-masing. Pertanyaan tadi, dosa tanggung apa? masing-masing dan kewajiban orang tua ingatkan juga terus walaupun anaknya lulus pesantren tetap saja harus diingatkan untuk jaga salat.
(1:24:44) Baik, sudah disampaikan tadi ini pertanyaan terakhir. Sampai di sini pertemuan kita pada kesempatan yang berbahagia ini. Semoga Allah tabaraka wa taala rabbul izzati wal jalalah menjadikan kita hamba-hambnya yang punya sifat seperti sifat yang pertama dari apa yang tadi Allah katakan di dalam Al-Qur’an surah Alfurqan.
(1:25:04) Wa ibadur rahman alladzina yamsyuna alal ardhi hauna. Mereka yang berjalan di permukaan bumi tidak menyombongkan diri. Humble, rendah hati, selalu merendah, tidak ingin meninggi, dan tidak ingin sombong menyombongkan diri kepada manusia. Wallahu taala alam. Wasallallahu wasallam. Wabaraka wa ala abdihi wa rasulihi Muhammad.
(1:25:32) Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilahailla antagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Yeah.


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *