Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, M.A. – Tarbiyah Jinsiyyah Pendidikan Seksual

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

(3) [LIVE] Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany, M.A. – Tarbiyah Jinsiyyah Pendidikan Seksual – YouTube

Transcript:
(00:00) Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Ikhwat Islamakumullah sahabat Raja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah jumpa kembali bersama kami dalam satu kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pertemuan rutin yang membahas buku pendidikan seksual untuk remaja dalam Islam.
(00:32) Dan ini merupakan pembahasan yang sangat penting sekali untuk kita pelajari bersama, khususnya kita sebagai orang tua yang memiliki putra-putri yang ee khusus lagi yang mereka ee remaja atau beranjak remaja. Alhamdulillah eh telah hadir narasumber kita di kesempatan pagi hari ini, Al Ustaz Husan Almidani hafidahullah sebagai penulis buku tersebut yang langsung akan memberikan pembahasan yang sangat bermanfaat ini.
(00:59) Dan pembahasan yang akan dibahas pada kali ini yaitu mengenai kesalihan orang tua adalah modal utama. Bagi Anda yang ingin bertanya perihal pembahasan ini, silakan Anda bisa mengirimkan pertanyaannya melalui layanan pesan WhatsApp di nomor 0218236543. Langsung kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada al ustaz kami persilakan.
(01:26) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhuastainuhuastagfiruh. Wa nazubillahi min sururi anfusina wasiati a’malina. May yahdihillah fala mudillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(01:56) Ya ayyuhalladzina amanu ittaqulah haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma ba’du. Para pemirsa, sahabat raja, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah. Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita semua. Selawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, keluarga beliau, sahabat beliau, umat beliau sampai hari kemudian.
(02:30) Ee sahabat Rajak, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa yang dimuliakan Allah. Pagi ini kita kembali melanjutkan pembahasan yang kita angkat dari buku Tarbiah Jinsiah. Sebelumnya pada bab pertama dari buku ini kita sudah membahas yaitu urgensi materi ini ya ee bagi ee para pendidik terutama dan bagi anak dan remaja ya.
(02:58) ada tujuh poin yang sudah kita bahas di bab pertama tersebut ya, bahwa urgensinya sangat besar, sangat penting ya. Ee dan tentunya diharapkan ya anak-anak, remaja maupun para pendidik mengerti ya ee kedudukan masalah ini di dalam syariat ya. bahwa banyak ee hukum-hukum syariat itu berkaitan dengan bab ini ataupun masalah ini seperti ee gaddul bashar, menutup aurat ya, batasan-batasan mahram ya, kemudian pernikahan dan lain sebagainya, adab-adab istizan ya, semua itu berkaitan dengan ee materi ini yaitu tarbiah jinsiah.
(03:45) Nah, kita akan lanjut ya eh poin berikutnya yaitu kesalehan orang tua adalah modal yang paling penting di sini ya di dalam tarbiah jinsiah ini kesalehan orang tua. Karena yang namanya pendidikan itu adalah keteladanan ya apa yang kita ee contohkan, apa yang kita tampilkan kepada anak-anak didik kita ataupun ee anak-anak kita ya.
(04:17) Apalagi di dalam bab ini yang mana tarbiyah jinsiah ini adalah ilmu yang praktikal, bukan bukan ee ilmu teori ya. Ya, adalah dia adalah ilmu terapan ya. Jadi ya di sini sangat penting adanya keteladanan contoh ya. Nah, jadi tentunya ya orang tua di sini kita bicara pendidik di rumah ya itu orang tua ya sama juga guru di sekolah ya lingkungan pendidikan yang kedua ya itu adalah hal yang sangat fundamental sangat mendasar bahkan dikatakan modal yang utama ya nah ya kita sebagai pendidik ya ya orang tua maupun guru punya keinginan yang sama harapan yang sama terhadap anak-anak kita, anak didik kita. Kita ingin mereka tumbuh menjadi
(05:09) generasi yang saleh dan salehah ya, yang bisa ee berguna ya bagi dirinya dan bagi manusia-manusia yang ada di sekitarnya ya. Nah, berjalan di atas hidayah dan selamat dari berbagai macam kerusakan-kerusakan dan fitnah. Dan kita ingin juga mereka tumbuh menjadi pribadi yang menjaga kesucian dan kehormatan diri ya, terbimbing ya di atas ya nilai-nilai agama syariat Islam yang hanif yang akan membawa mereka kepada fitrah ya.
(05:50) selamat dari ee gangguan setan yang senantiasa dan selalu ingin merusak manusia dan mengeluarkan kita dari fitrah kita sampai akhirnya mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan yang penuh berkah ya untuk melaksanakan salah satu tugas yaitu ya melahirkan keturunan, berkembang biak ya.
(06:21) Nah, melahirkan ya generasi-generasi penerus yang terbimbing di atas agama, di atas Islam. Ya. Nah, demikian. Maka sadarilah, ya. Kita harus sadar dan mengerti di sini ya, bahwa kesalehan dan ketakwaan orang tua adalah modal yang sangat penting untuk mewujudkan semua itu ya. Jadi ya lucu ya, ironi ya, kita berharap anak menjadi anak yang saleh, bertakwa ya, anak yang ya kita katakan baik ya, ya bisa diandalkan ya ee bermanfaat bagi orang lain.
(06:57) Kita berharap banyak, berekspektasi yang tinggi tetapi kita sendiri jauh dari itu semua ya. Orang tua misalnya berkubang dalam maksiat ya. Sementara kita berharap anak ya menjadi saleh. Nah, ya kita berharap anak bisa lepas dari nafsu, dari syahwat. Sementara ya pendidiknya, orang tua tidak menjaga dirinya dari semua itu. Ya, ini ee agak ironi ya.
(07:31) Nah, karena ee otak anak itu memang ee didesain sangat sederhana, tidak seperti otak orang dewasa. Otak anak memang diprogram untuk meniru. Dia akan lebih cepat belajar dengan meniru daripada menalar ya. Ee karena kemampuan nalarnya masih rendah ya. Tapi dia punya kemampuan yang lebih dalam hal meniru ya. Nah, sangat cepat dan enggak perlu disuruh anak itu meniru ya.
(08:02) Apalagi disuruh ya enggak disuruh aja dia akan meniru ya. Nah, dia meniru dalam diam ya. Kadang-kadang banyak para pendidik, orang tua maupun guru ter ee apa namanya? Tertipu dengan diamnya anak ya. Tapi sebenarnya dia bukan sekedar diam. mungkin dia ingin komentar melihat tingkah pendidiknya ataupun orang tuanya, dia enggak mau ya. Dia mungkin takut juga.
(08:31) Tapi semua itu akan terekam dalam ingatannya ya, di benaknya ya. ee satu asumsi yang ada di kepalanya adalah nah berarti kalau sudah gede, sudah besar seperti manusia raksasa ini ya boleh seperti ini, boleh seperti itu, ya. Nah, misalnya ee kita membohongi anak, kita bohongi mereka mentah-mentah. Mungkin si anak diam saja ya dibohongi.
(09:00) Ada sebagian anak yang diam aja, sebagian anak protes ya dibohongi sama orang tuanya ya. Ee misalnya janji enggak ditepati ya misalnya ya. Ya, ada yang frontal ada yang diam ya. Nah, tapi jangan tertipu dengan diamnya anak. Dia mengamati ya, dia dalam benaknya adalah oh kalau sudah jadi raksasa seperti ayah saya, ibu saya, boleh bohong ya. Itu adalah suatu hal yang tindakan yang legal ya.
(09:34) Nah, demikian, ya. Nah, jadi ini adalah perkara yang sangat penting yaitu memberikan keteladanan ya bahwa kesalehan dan ketakwaan kita itu modal utama untuk mewujudkannya ya. Jadi tidak mungkin ya seperti yang dikatakan dalam ee pepatah atau peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
(10:00) Ibnul Qayyim mengatakan anak akan tumbuh besar dari apa yang dibiasakan oleh orang tuanya. ya dicontohkan ya diperagakan ya apalagi itu diperagakan secara masif yaitu terus-menerus ya ya hari-hari bohongi anak ya susahlah anak ini lepas dari bohong kalau seperti itu ya nah hari-hari diajak dipertontonkan kekerasan ya kalau bicara teriak-teriak bengak-bengok kan begitu ya nah memang orang tua enggak nyuruh anak anak untuk meniru ya.
(10:35) Tapi itu hari-hari yang dia lihat di rumahnya itu yang dia saksikan setiap hari di rumahnya ya. Ya, agak sulit ya dia ee terbebas dari hal yang sama ya. Nah, demikian ya. Nah, jadi itu sangat berpengaruh ya pada jiwa anak ya. Nah, maka dari itu ya ee apa namanya? kita harus menjaga diri juga ya ketika tampil di hadapan mereka ya istilah hari ini jaim ya jaga image ya sebagai orang tua ya.
(11:10) Nah, demikian ya karena ee hal pelajaran yang akan kita tanamkan kepada mereka ini adalah ya kita katakan pelajaran yang bersifat terapan ya praktikal. Nah, ini sangat cepat menularnya sampainya kepada anak dengan ya keteladanan. Contoh ya. Kalau contohnya enggak baik, output-nya juga sama, output-nya juga enggak baik kan begitu ya.
(11:41) Nah, maka ini ya menjadi PR ya bagi orang tua ya, Ustaz. Saya kalau berusaha untuk jaga image di depan anak nanti saya enggak ikhlas ya. Ya, bukan seperti itu ya. Kita punya tanggung jawab ya. Kita tahu ya kita mungkin tidak sebaik yang kita tampilkan di depan anak tapi kita lakukan itu dengan dasar atau alasan pendidikan mendidik ya. Nah, untuk mendidik mereka ya.
(12:16) Walaupun ya kita tahulah ya bahwa kita juga enggak sebagus yang di kita tampilkan di depan anak ya. Nah, demikian. Tapi ini ee untuk ya apa namanya kita demi pendidikan atau mendidik anak itu ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab ya. Nah, jadi ee kita lakukan itu untuk mereka bukan hanya untuk kita saja ya. Syukur-syukur ya itu jadi pelajaran bagi kita juga ya sehingga kita belajar dari apa yang kitaelajar dari pelajaran yang kita sampaikan kepada anak.
(12:54) Manusia kan harus terus belajar sepanjang hidupnya ya. Nah, jadi kita ya juga harus menjaga itu ya. Nah, jadi karena ee kita katakan perilaku pendidik itu memiliki andil besar dalam membentuk anak, kepribadian anak. Anak lihat juga hal-hal yang buruk di luar. Ya, dia lihat. Tapi berbeda kan. Dia enggak tahu siapa orang itu. Orang itu melakukan hal-hal yang buruk ya. Anak itu tidak langsung meniru ya.
(13:23) Dia akan lihat dulu pendidiknya. Nah. Nah, ketika pendidik yang melakukan itu, ini berbeda efeknya ee terhadap anak. Maka ada peribahasa guru kencing berdiri, murid murid kencing berlari. Artinya ya apa yang diperagakan oleh pendidik di depan anak itu adalah pelajaran. Beda dengan orang-orang di luar ya.
(13:53) Apa yang mereka lakukan itu tidak dipandang sebagai suatu pelajaran ya bagi anak ya. Tapi ee pendidik ya, orang tua ya, guru itu mereka ee kita katakan ee pandang itu sebagai satu materi pelajaran ya. Nah, oh begini mereka belajar dari situ. Nah, itu kita katakan ya salah satu ee kita katakan apa ya ee beban kita atau tanggung jawab kita ya. ya sebagai pendidik ya. Nah, demikian wallahuam bissawab.
(14:36) Nah, maka ya ini harus di apa namanya? Di pahami oleh para pendidik ya. Nah, demikian dan ini bisa kita katakan memudahkan anak untuk memahami pelajaran-pelajaran verbal yang kita sampaikan kepada mereka. Karena pelajaran yang bersifat lisan ataupun verbal dengan lisanul maqal kadang-kadang perlu diback up dengan pelajaran-pelajaran yang bersifat lisanul hal yaitu dengan contoh dan keteladanan.
(15:17) Seperti kita belajar matematika ya. Kalau kita hanya me menulis rumus, menghafal rumus, ya banyak rumus-rumus ya, kita juga enggak mengerti ini rumus untuk apa ya, apa fungsinya, apa gunanya ya. Nah, demikian. Sehingga ada orang yang datang memberikan contoh bagaimana penerapan rumus itu. Rumus itu digunakan untuk apa? Dalam masalah apa? Oh, baru mengerti.
(15:56) Ah, rumus ini adalah untuk ini. Ya. Nah, demikian ya. Seperti itulah dia pelajaran ee yang bersifat ee terapan ya seperti Tarbiyah jinsiah ini ini harus di-backup dengan ee kita katakan ee lisanul hal ya, pelajaran-pelajaran yang ya didapat anak dari keteladanan ya. Contoh. Nah, ee tentunya kita ingat kisah ee Nabi Musa dan Khidir ya.
(16:31) ee bagaimana kesalehan orang tua itu memberikan pengaruh hingga orang tuanya sudah wafat ya. Legasi yang ditinggalkan orang tua itu punya pengaruh terhadap ee perkembangan anak walaupun orang tuanya sudah meninggal ya. Nah, nah karena manusia kan meninggalkan legasi ya. Kata apa peribahasa kita? Ee gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, ya.
(17:01) Manusia mati meninggalkan nama, yaitu legasi yang dia ee wariskan kepada anak cucunya atau generasi-generasi yang datang sesudahnya, ya. Nah, itu bisa kita ambil satu pelajaran yang disebutkan dalam surah Al-Kahfi, yaitu kisah Nabi Musa dan Khidir Alaihissalam. Ya, ketika mereka mendatangi satu perkampungan, lalu keduanya meminta supaya penduduknya menjamu mereka, tapi penduduknya menolak.
(17:34) Kemudian Nabi Musa dan Khidir melihat ada bangunan yang hampir roboh. Lalu tiba-tiba Nabi Khidir memperbaiki bangunan tersebut sehingga bangunan itu tegak kembali. Ya. Lalu Musa berkata, Nabi Musa berkata, “Jika engkau mau, engkau bisa mengambil upah atasnya. Kita enggak ada bekal, kita minta dijamu, mereka enggak kasih. Lalu kamu memperbaiki satu bangunan yang roboh di kampung itu.
(18:08) Kenapa enggak minta upah?” Ya. Nah, maka Nabi Khidir mengatakan menjelaskan ya kenapa beliau melakukan itu ya memperbaiki bangunan yang hampir roboh itu bukan karena mencari upah atau ingin mendapatkan upah dari perbuatan itu. Beliau mengatakan, “Wa ammal jidar fakanaulamaini yatimaini fil madinah wana tahtahu kanzahuma wana abuhuma shiha.
(18:36) ” Ya faarbuka ayabl asuddahuma kanzahuma rahmatanik. Allah mengatakan, Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Adapun dinding rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua orang anak yatim di kota itu, di kampung itu. Dan di bawah bangunan yang hampir roboh itu ada harta yang disimpan oleh kedua orang tua mereka untuk mereka berdua.
(19:10) harta benda simpanan bagi mereka berdua kedua anak yatim ini. Sedangkan ayahnya dulu adalah orang yang saleh. Ya, jadi ayahnya ini adalah seorang yang saleh. Jadi kesalehan orang tua itu berpengaruh terhadap perkembangan anak ya. Nah, maka Allah menghendaki agar mereka sampai kepada usia dewasa dan mengeluarkan simpanan itu untuk mereka sebagai rahmat. ya, dari Allah Subhanahu wa taala ya.
(19:43) Dengan kesalehan orang tua, Allah menjaga anak-anaknya sampai usia baligh. Kemudian Allah Subhanahu wa taala menjaga harta mereka ya sehingga tidak jatuh ke tangan orang lain, kepada orang yang salah, ke tangan orang yang salah. Ya, ini semua salah satu sebabnya apa? kesalehan orang tuanya yang disebutkan oleh Nabi Khidir di situ.
(20:13) Wakana abuhuma shiha dan e ayah mereka dulu adalah orang saleh. Dan ini kan bukan sekedar informasi ya dari Nabi Khidir kepada e Musa Alaih Salam ya ee dalam kisah yang Allah Subhanahu wa taala sebutkan di surat Al-Kahfi ini. Tapi ini mengandung arti dan makna yaitu apa? kesalehan orang tua memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak ya.
(20:36) Nah, maka ya di ee contohkanlah hal-hal yang baik kepada anak ya. Wariskanlah ya hal-hal yang baik kepada anak. Tinggalkanlah legasi yang baik untuk anak ya untuk ee kita katakan generasi-generasi penerus ya. Karena ee apa yang dilakukan oleh orang tua itu ya akan menjadi catatan.
(21:00) Kalau itu catatan baik, ya akan menjadi sebutan yang baik sesudahnya. Tapi kalau itu adalah ee catatan yang buruk, maka akan jadi sebutan yang buruk ya yang akan di ee dipikul oleh anak sampai ya dia mati ya. Nah, demikian. Maka kalau kita sayang anak ya, maka jagalah perilaku kita ya.
(21:29) Nah, demikian jangan tinggalkan ya warisan yang buruk untuk mereka ya. Karena mereka yang akan lebih lama menanggungnya daripada orang tuanya. Ya, kita lihat sebagian orang tua enggak menjaga kesalehannya. Kerjanya tipu sana, tipu sini, tipsani sehingga dikenal di kalangan manusia sebagai seorang penipu. Ya, yang nipu ini kan ayahnya. Anaknya bagaimana? Anaknya kan tidak mewarisi dua orang dua orang tua ya. Iya.
(21:55) Anak memang tidak mewarisi dosa orang tua, tapi anak akan kecipratan ya ee perilaku buruk orang tuanya. Dia akan menanggung itu ya. Dan itu adalah suatu tanggungan yang berat ya. Nah, sebagai contoh ya, ada seorang yang enggak menjaga perilakunya, perbuatannya ya buruk ya. Ya, sebagai contoh ya kita ambil contoh satu contoh aja lah ya.
(22:29) Orang orang ini kerjanya nipu sana, nipu sini. Sudah banyak orang yang ketipu sama dia ya. Baik itu urusan-urusan muamalah atau yang lainnya. Biasanya urusan uang ya. Nah, urusan duit. Dia sudah banyak menggelapkan duit orang, menipu orang. Sudah banyak orang-orang yang ditipunya ya. Nah, demikian. Itulah legasi warisan yang ditinggalkan untuk anaknya.
(22:57) Ya, untuk anaknya. Karena siapa yang akan menanggung sebutan buruk ini lebih lama? Ya, anaknya daripada dia sendiri ya. Dia mungkin berapalah umurnya, berapa berapa lama dia bertahan? Ya, karena ajal umat Muhammad ini kan sudah ditentukan 60 sampai 70-an tahun. ya. Nah, mungkin tinggal beberapa tahun lagi ke depan selesai urusannya dengan dunia ya, dia pun pergi enggak akan meninggalkan, enggak akan mendengar lagi cibiran orang.
(23:34) Ya, mungkin orang juga sudah malas menyebutnya sebagai penipu ya karena ya ee enggak bisa di diharapkan perubahannya. Baik. Tapi ya anak itu akan menanggung derita lebih lama daripada dirinya. Ya, dia akan menyandang ya sebutan yang buruk gitu ya, anak penipu gitu ya. Nah, padahal si anak ini ya mungkin dia ya kalaulah beruntung ya di pendidikan yang tepat, dia selamat dari ee perilaku buruk orang tuanya ya.
(24:14) Kalau tidak dapat itu mungkin ya akan mewarisi semuanya. Mewarisi sebutan yang jelek itu dan juga mewarisi sifat-sifat yang jelek itu juga jadi penipu juga ujung-ujungnya. Karena begitulah ya ee yang di ee lihat dia lihat dari pendidiknya, dari ayahnya, dari ibunya ataupun dari e dari pendidiknya. Maka berlakulah peribahasa itu. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Nah, kalau dia berada di tangan yang tepat ya.
(24:41) Nah, itu bukan karya orang tuanya. ya, dia tumbuh menjadi anak yang jujur, enggak seperti orang tuanya, ya. Nah, demikian ya. Ya, mau suka enggak suka dia tetap menyandang sebutan itu. Anak si penipu. Bahkan mungkin dia bisa dilabrak sama orang lain karena ya menganggap dia adalah sebagai ahli warisnya ya.
(25:08) Nah, karena urusan apa namanya? Urusan muamalahnya mungkin belum selesai. Yang dikejar-kejar kan ahli waris. Jadi ee yang ditinggalkan orang tua ini adalah derita ya bagi ee anak cucunya sebutan yang buruk ya cemohan orang ya enggak sedikit ya anak-anak itu korban dari ee kita katakan ee kefasikan ataupun kemaksiatan orang tuanya. Misalnya anak-anak yang orang tuanya terkenal ya, dikenal ee suka nipu misalnya ya, banyak masalah.
(25:45) Nah, ini akan mempengaruhi mental si anak ya. Nah, dia merasa malu ya. Berapa banyak anak-anak yang tumbuh seperti ini. Akhirnya ya hilanglah semua potensi-potensi yang terpendam pada anak ini ya. Karena ya kadang-kadang lingkungan menghakiminya ya. Nah, manusia menghakiminya karena perbuatan bukan perbuatan dia tapi perbuatan orang tuanya.
(26:18) Maka kalau betul-betul sayang anak, jagalah tindak tanduk dan perilaku kita. Ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab. Nah, itu pelajaran yang bisa kita petik dari ee kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa tadi ya. Wallahuam bisawab. Karena kesalehan ee kita katakan orang tua itu akan mendatangkan rahmat ya bagi anak keturunannya ya, bagi anak-anaknya bahkan cucu-cucunya ya. Ya, mereka akan menyandang sebutan yang baik gitu ya.
(26:48) Nah, orang-orang juga akan mendoakan yang baik untuk dirinya dan untuk orang tuanya kan begitu ya. Belum lagi mungkin teman-teman orang tuanya yang ingin menyambung tetap menyambung ya kita katakan hubungan kebaikan ya dengan ya mungkin akan ya dekat dengan anaknya kan begitu ya. Karena itu perintah Nabi ya.
(27:10) Kalau kita ingin berbakti kepada orang tua kita setelah meninggal maka berbuat baiklah kepada ya ahli warisnya ya. Nah demikian. Itulah cara ee ahli waris, ahli waris, teman teman ee kita katakan orang tua kita ya untuk menyambung ya silaturahim dengan mereka ya. Nah, demikian mendoakan mereka.
(27:37) Nah, demikian karena apa? Karena mereka adalah teman ya orang tua kita ya. Nah, demikian. Wallahuam bisawab ya. Jadi ee sangat berpengaruh ee ya kesalihan orang tua itu terhadap ya kebaikan bagi anak. Maka Allah perintahkan kepada segenap orang tua untuk mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya.
(28:03) Ya, kalau kita khawatir masa depan anak kita, maka tinggalkanlah legasi yang baik, sebutan yang baik ya ee bagi mereka. eh khadam sidq apa namanya ee kita katakan ee warisan yang mulia dan harum bagi mereka. Ya. Nah, demikian Allah mengatakan dalam surah ee An-Nisa ayat 9 ya. Walyaksadina laqu min khalfihimatanfa alaihim. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan setelah mereka generasi-generasi yang lemah, anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap masa depannya ya, bagaimana mereka ya berjalan ataupun menjalani ujian-ujian kehidupan sepeninggal kita.
(29:01) Mungkin ketika kita masih hidup, kita masih bisa me-back up-nya. Tapi ketika kita sudah wafat, tidak lagi bersama mereka, ya. Maka ya di situlah diuji ya, apakah mereka mampu survive, yaitu bertahan dengan ujian itu atau tidak ya. ketika kita tidak ada lagi di sampingnya, maka memang perlu ya mereka itu di ee kita katakan di ee persiapkan ya masa depannya ya sehingga ya kita ee meninggalkan mereka dalam keadaan mereka sudah siap punya bekal untuk menghadapi tantangan-tantangan yang mungkin lebih berat lagi ya
(29:42) daripada kita. Wallahuam bisab. Rasanya bersalah kita ya. Iya. Aniaya juga kita kalau kita tinggalkan mereka dalam keadaan mengkhawatirkan. Enggak tahu apakah mereka bisa bertahan, bisa menghadapi tantangan-tantangan yang lebih berat lagi ke depannya. Ya, wallahuam bissawab. Memang kalau kita bicara pendidikan anak ya, itu membuat kita enggak bisa tidur nyenyak ya.
(30:11) karena memikirkan ya generasi-generasi penerus ini ya ee tentunya tidak mudah ya. Nah, ee apalagi ya tantangannya makin lama makin banyak ya. Salah satunya adalah mungkin masalah yang paling banyak di dibicarakan ataupun di e angkat oleh para pendidik, orang tua maupun guru adalah masalah gadget mungkin ya.
(30:40) Nah, demikian yang menjadi momok dan hal yang menakutkan, horor bagi para pendidik hari ini ya, karena enggak bisa lepas darinya, susah untuk ya kita katakan melepaskan diri darinya ya. Maka khawatirlah terhadap generasi-generasi penerus kita. Dan memang betul-betul mengkhawatirkan ya kalau kita lihat hari ini ya anak-anak yang labil, anak-anak yang kerangka berpikirnya itu berantakan karena pengaruh gadget ya.
(31:14) Anak-anak yang ya kita katakan tidak bisa berkomunikasi dengan baik karena cenderung pasif. Dia berkomunikasi, dia berinteraksi hanya dengan benda mati. Ya, sebenarnya kan itu benda mati walaupun ya di dalamnya banyak konten-konten atau isi-isi yang macam-macam ya. Nah, demikian yang mana tidak semua anak siap untuk menghadapi ee cobaan ini, cobaan gadget ini dan kebanyakannya enggak siap ya yang tergilas ya bukan memanfaatkan ya teknologi itu ya kemajuan ee teknologi itu, tapi justru menjadi korban ya tergilas ya dengan ganasnya ya kita
(31:55) katakan ee gadget ya ataupun ee ee ee dunia maya hari ini ya. Wallahuam bawab. Jadi memang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya ya. Nah, maka Allah katakan wal yaksyalladina laqu dan hendaklah takut orang-orang itu meninggalkan generasi-generasi yang lemah. Ya.
(32:20) Nah, terutama di dalam bab ini juga yaitu bab ee tarbiah jinsiah ya. mengkhawatirkan kalau kita meninggalkan anak tidak tahu buta tentang hal ini. Enggak tahu ee apa itu menutup aurat, enggak tahu apa itu istizan, enggak tahu apa itu mahram, enggak tahu apa. Bahkan ada yang enggak kepikiran nikah, ya. Enggak kepikiran nikah. bahkan diajak ngomong tentang nikah, padahal ini sudah ee mungkin usianya sudah akhir remaja ya, pradewasa kayaknya enggak respon begitu ya. Mungkin enggak enggak ada dalam pikirannya juga begitu ya.
(32:57) Enggak ada dalam pikirannya ya. Macam-macam penyebabnya ya. Para pemirsa, sahabat raja, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah. Memang memang harus dipersiapkan ya sedemikian rupa supaya mereka siap. untuk menghadapi ee perkembangan yang ee kita katakan ya orang dewasa aja bisa tergilas ya jadi korban apalagi anak-anak dan remaja ya. Nah, itu surat An-Nisa ayat 9.
(33:30) Oleh karena itu, para salaf dahulu ya mereka sungguh-sungguh memperbaiki diri, menjaga kesalehan diri, menjaga image mereka. Ya, misalnya mereka beribadah dengan sungguh-sungguh berharap kebaikan dengan itu berharap kebaikan bagi anak cucunya. ya. Nah, saat ee suatu saat ya ee Said Ibnu Musayyib ee berkata ya Said Ibnu Musayyib pernah berkata, “Sesungguhnya ketika aku salat, ketika dia sedang mengerjakan salat, aku teringat anakku.” Ya, di dalam salat teringat anak.
(34:13) Ya memang anak itu selalu jadi pikiran ya. Sampai-sampai waktu salat juga jadi kepikiran juga kan begitu ya. Nah, demikian aku teringat anakku maka aku menambah rakaat salatku. Ya, aku menambah salatku. Artinya ya kalau tadi salat duhanya rencananya cuma dua rakaat ya di rakaat ya mungkin kedua teringat anaknya.
(34:37) Begitu salam lanjut lagi. Padahal ya mungkin dua rakaat juga bisa ya tapi ya tambah lagi. Demikian juga misalnya malam hari ya ee dia sudah mengerjakan beberapa rakaat misalnya lalu teringat anaknya, “Wah saya tambahlah untuk ya mungkin mudah-mudahan ya kesalehan amal saleh orang tua itu bisa menular kepada anak ya. Nah, demikian itu yang dilakukan oleh Said Ibnul Musayyib ya.
(35:09) Nah, jadi kesalehan dan ketakwaan orang tua itu menjadi sangat penting di sini karena mempengaruhi ya. Ini perkara yang mungkin enggak enggak masuk logika ya. Bagaimana ee kesalehan ibadah, ketaatan orang tua itu bisa berpengaruh pada anak. Kan enggak ada di mana nyambungnya itu.
(35:29) Anak juga enggak tahu kadang-kadang kita mengerjakan ibadah lalu gimana hubungannya. sehingga itu bisa berpengaruh kepada anak. Ya, maka kita jawab ini masalah hati yang membuka hati manusia itu Allah. Ketika Allah meridai seorang hamba, Allah tidak hanya memberikan kebaikan bagi hamba itu, mungkin juga kebaikan bagi orang-orang yang ya ee ada di sekitarnya ya, termasuk anak dan istrinya.
(35:56) Makanya dulu ada perkataan seorang salaf, “Aku tahu ya ya perubahan perilaku pada hewan tungganganku, anak istriku karena maksiat dosa yang aku lakukan.” Ya, artinya ketika dia melakukan dosa dan maksiat itu nampak perubahan perilaku pada anak, istri atau bahkan pada hewan tunggangannya mungkin menjadi lebih liar ya. Nah, itu pengaruh dosa namanya.
(36:23) ya, pengaruh dosa itu nyata dan ee kadang-kadang instan ya, langsung kadang-kadang enggak langsung ya. Nah, di akhir nanti baru kita rasakan. Sehingga ada dulu seorang ulama salaf berkata, “Aku tahu musibah yang menimpaku sekarang itu adalah akibat dosa yang aku lakukan beberapa tahun yang lalu atau bahkan belasan tahun yang lalu.” Ia teringat dosanya.
(36:48) Nah, demikian para pemirsa, sahabat raja, kaum muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah ya. ee maka ee orang tua yang senantiasa menaati Allah memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anak mereka yang menjaga kesalehannya ya memberikan rezeki dengan yang halal ya memberikan pengajaran yang baik, teladan yang baik ya diharapkan anak itu tumbuh seperti yang diharapkan oleh kedua orang tuanya ya.
(37:21) Nah, di sini perlulah saling bahu-membahu ya antara ee ayah bunda, suami istri supaya saling mengingatkan ya. Kadang-kadang manusia silap ya memberikan contoh yang enggak baik kepada anaknya ya. Mungkin di sini ada suami istri bisa saling m-back up ya. Misalnya ayah kedapatan bohong ini. Jangan di-highlight oleh istrinya lalu mengatakan, “Ah, itu tuh ayahmu tuh tukang bohong.” Bohong dia kan.
(37:45) Nah, gitu. Jadi, seolah-olah ya ee si istri ini ataupun si bunda ini mungkin ingin apa ya mencari ee eksistensi ya di dalam keluarga bahwa ini saya ini yang satu rumah ini yang yang jujur, yang lainnya ee coba ayahmu itu bohong gitu ya. Itu kan menjatuhkan pasangan sendiri di depan anak lagi ya. Di depan anak lagi.
(38:10) Anak gimana? Apa yang ada di benaknya? Waduh, ayah, ibuku jujur, ayahku bohong. Tapi mungkin dalam praktik hariannya gitu ya, si ibu ini menjengkelkan juga, mengesalkan ya kan. Nah, jadi jujurnya dia enggak ditiru sama anak tapi mungkin dia nyaman sama ayahnya yang bohong tadi kan gitu ya. Nah, akhirnya ya nular ke anak itu bohongnya orang tua bukan kejujuran si ibu gitu ya.
(38:36) Karena si ibunya ini menjengkelkan, ngeselin kadang-kadang kan gitu ya. Nah, tapi dia jujur gitu ya. Nah, nah itulah kita harus menjaga ya ee orang tua itu kan harus saling menutupi ya jangan konflik ya itu membuat ketidakharmonisan di dalam pendidikan itu itu adalah cacat. Sehingga di sini anak akan bingung ya. Ya. Ee manusia bukan hanya sekedar harus tahu nilai yang baik dan yang buruk, tapi dorongan untuk melakukan yang baik itu kadang-kadang enggak muncul. yang muncul dorongan melakukan hal yang buruk ya.
(39:14) Nah, enggak cukup hanya dengan apa namanya kita katakan anak itu tahu ini jujur itu baik, bohong itu enggak baik tapi dorongan ke situ ya. Dorongan ke situ. Adakah dorongan dia untuk jujur atau bahkan mungkin dorongan untuk bohong lebih lebih besar ya.
(39:40) Nah, masalahnya ketika seorang istri ya menjelek-jelekkan suaminya di depan anak, bahkan mengekspose kebohongan suaminya di depan anak, ini justru blunder ya. Ya, kalaulah itu terjadi ya si ayah ini betul-betul bohong itu ya diselesaikan ajalah di balik kelambu ya. Jangan di depan anak. Lalu kita kita itu ya kita tonjolkan, nampakkan itu. Kadang-kadang ini dilakukan oleh istri untuk mencari eksistensi di dalam rumah tangga bahwa saya yang baik, yang itu enggak baik kan begitu ya.
(40:11) Nah, itu kan enggak enggak baik ya. Nah, kan ya suami istri kan seperti pakaian untuk saling menutupilah ya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab. Nah, jadi ya perlu diperhatikan di sini ya. bahwa orang tua di situ adalah ayah bunda. Dua orang di situ ya, ayah dan ibu ya. Harus betul-betul bahu-membahu menjaga image mereka di depan anak ya.
(40:40) Sehingga anak melihat hal yang positif dari kedua orang tua mereka. Karena anak ini akan menirunya ya. Akan menirunya. Dia akan bangga dengan kebaikan orang tuanya dan dia akan mengikuti ya ee warisan kebaikan itu, legasi kebaikan itu ya. Wallahuam bisawab. Jangan, jadi jangan konflik itu ya. Jangan konflik antara sama pendidik gitu ya, antara ayah dan ibu. Demikian juga ya.
(41:04) Nah, ini yang lebih scop yang lebih luas lagi. Antara pendidikan rumah dalam hal ini adalah orang tua yaitu ayah dan bunda dengan sekolah selaku ya mungkin lingkungan pendidikan kedua ya. di situ penanggung jawabnya adalah guru. Ya, yang terjadi di lapangan dan menjadi berita yang viral beberapa waktu yang lalu ya, anak dan itu sering terjadi ya akhir-akhir ini ya.
(41:37) Ya, itu hal pemandangan yang mungkin dulu ya dulu tahun 0-an, -an bukan enggak ada mungkin ya, tapi jarang terjadi. Tapi sekarang ini sedikit-sedikit orang tua datang ke sekolah melabrak sekolah kan begitu ya. melabrak guru ini agak aneh sebenarnya karena mereka membawa anak mereka ke sekolah itu ee ee itu adalah suatu amanah yang mereka serahkan kepada sekolah guru di sini ya.
(42:08) Seharusnya ini seharusnya ya ada koordinasi yang baik antara ee pendidik di rumah yaitu orang tua dengan guru di sekolah. bukan berbenturan di tengah begitu ya, seperti adu banteng begitu. Ee berkonfrontasilah antara wali dengan guru ee di tengah begitu ya. Nah, guru apa namanya? Murid afwan ee orang tua melabrak sekolah kan enggak terima perlakuan guru kan begitu ya. Nah, kadang-kadang guru juga membela sama guru kan begitu ya.
(42:41) Nah, ya lebih buruk lagi ee murid-murid saling membela satu sama lainnya. Itu kan gambaran wajah pendidikan yang kacau ya. Sebenarnya harusnya kan enggak seperti itu ya. Harus ada koordinasi yang rapi juga antara pendidikan rumah dan sekolah itu harus nyambung, terkoordinasi, bukan saling tabrakan ya.
(43:04) Nah, itu apa di benak anak ketika melihat ee mereka menonton pertunjukan itu gitu ya, orang tua berkonfrontasi dengan guru di sekolah. Nah, lalu anak melihat pendidikan apa yang dia bisa dia dapat dari situ. Lalu siapa lagi yang dia percaya dan siapa yang dia tiru. Ya, kalaupun dia meniru apa yang dia tiru itu ya dari orang tua yang seperti itu mungkin anaknya salah, orang tuanya melabra seolah-olah wah saya ini benar dibela sama orang tua. Kan begitu ya.
(43:37) Nah, dan apa yang dilakukan oleh guru? Mungkin guru maksudnya bagus, cuma mungkin caranya dia salah. Namanya juga manusia, ya. Nah, ketika anak melihat itu mungkin dalam hatinya, “Wah, ini enggak benar juga nih para guru ini.” Ya, jadi runtuhlah semuanya itu karena tidak ada koordinasi yang rapi antara lingkungan pendidikan di rumah dan di sekolah. Ya, jadi antara ayah bunda itu harus rapi koordinasinya.
(44:04) Demikian juga antara rumah dan sekolah juga harus rapi koordinasinya sehingga anak itu bisa melihat gambaran yang baik dan positif baik itu di rumah maupun di sekolah ya. Nah, itu yang harus dijaga sebenarnya. Wallahuam bissawab ya. Nah, demikian nanti akan kita lanjutkan dengan subjudul ya di dalam bab ini yaitu ayah bunda adalah lingkungan pertama maka dia adalah yang terdepan dalam segala hal yang berkaitan dengan pendidikan ya.
(44:40) Semua yang berkaitan dengan pendidikan ya ee wajah halaman pertamanya ya adalah orang tua ya. wajah yang nampak adalah orang tua. Yang lain sebenarnya m-backup guru dan yang lain-lain lah ya. Selain orang tua itu cuma m-backup-nya. Nanti akan kita bahas ya pada pertemuan yang akan datang insyaallah. Nah, demikian saja materinya mudah-mudahan bermanfaat.
(45:03) Aulu quuli hadza astagfirullaha wakum waliril muslimin innahu halal gfururahim. Nam. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ustaz e jazakallah khair atas materi yang telah disampaikan di kesempatan hari ini dari pembahasan tarbiah jinsiah pendidikan seksual untuk anak dan remaja.
(45:24) Sub pembahasan mengenai kesalihan orang tua adalah modal utama yang mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua, motivasi bagi kita bagaimana kita ee berusaha ya untuk mensalehkan anak-anak kita dengan e usaha mensalehkan ee kitanya terlebih dahulu situ sebagai orang tua. Baik, untuk selanjutnya kami buka sesi interaktif, sesi tanya jawab dan alhamdulillah sudah ada beberapa pertanyaan yang masuk.
(45:49) Silakan bagi Anda yang lainnya yang ingin bertanya perihal pembahasan ini, Anda bisa mengirimkannya melalui layanan pesan WhatsApp di nomor 0218236543. Nah, Ustaz, ada pertanyaan yang pertama dari hamba Allah yang berada di Tangerang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Ustaz. Ee saya sebagai anak ee menjadi dilema yang dan kadang bingung.
(46:14) Ee saya ingin mencontoh kebaikan dari orang tua, namun ee bingung apa yang akan dicontoh dengan ee dari orang tua tersebut, Ustaz. Ini ee cukup panjang pertanyaan kami singkat juga karena perilaku orang tua kami nilai itu belum bisa dicontoh untuk ee menjadikan kita saleh, Ustaz. Nah, bagaimana sikap seorang anak jika menemukan orang tua seperti ini, Ustaz? Iya.
(46:41) Ee ini ya kita bagi anak ini jadi dua ya. Anak yang sudah bisa menalar biasanya sudah remaja atau akhir remaja ya sudah menjelang dewasa atau pradewasa yang sudah bisa menilai baik buruk. Ya, seperti ini pertanyaan ini mungkin dari anak yang memang sudah mengerti ya. Heeh. sehingga dia lihat waduh konflik ini antara apa yang mau dia ee lakukan dan apa yang dia lihat dari orang tua.
(47:09) Memang ini akan menimbulkan konflik ya di dalam diri anak gitu ya melihat hal semacam ini. Nah, ini yang menjadi pertanyaan jadinya ya kan. Nah, dari pertanyaan ini ya jadi pertanyaan oleh anak ya ketika melihat satu hal yang kontradiktif ya ee antara suatu yang ingin dia lakukan ya karena fitrah manusia itu ya terarah kepada kebaikan ee pada dasarnya ya dengan apa yang dia saksikan dari orang tuanya kan begitu ya. Nah, timbullah konflik seperti ini.
(47:38) Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti ini ya dari ee anak ya. Nah, ini anak yang sudah menalar ya. mungkin ee sudah remaja, tengah remaja dan ke atas. Ya, yang jadi masalah besar kalau seperti ini ya kondisinya adalah ketika anak itu belum menalar, hanya dia belum mengerti ya, belum punya apa namanya ee kita katakan kemampuan kritis apa kritik seperti ini ya.
(48:12) berpikir kritis seperti ini misalnya bocil ya anak istilahnya basuta bawah 10 tahun ya apa yang lihat dia lihat di orang tuanya ya itu tanpa kita katakan tanpa harus diproses oleh akalnya ataupun oleh ya kemampuannya berpikir ya ya dia lihat orang tuanya ya dia tiru kan begitu ya yang semuanya positif negatif kan begitu ya. Nah, demikian mungkin sampai nanti dia ee sudah remaja atau ya usia-usia ee usia tengah remaja dan akhir remaja atau pradewasa.
(48:43) Nah, muncullah konflik ini nanti ya. Dia bingung dia lihat seperti ini ya. Sementara ya ee apa yang dia ketahui mungkin enggak seperti itu ya. Nah, demikian. Nah, maka itulah mungkin asal-usul latar belakang sebab musabab munculnya pertanyaan dari seperti ini dari seorang anak ya. Nah, bocil enggak akan mungkin bertanya seperti ini ya.
(49:07) Anak-anak kecil bawah 10 tahun enggak akan bertanya seperti ini. Iya kan? Iya betul ustaz. Nah, begitu ya. Wallahuam bawab. Iya. Nah, baik. Namun ini juga mungkin penilaian anak, Ustaz ya. Iya. Penilaian anak. Tapi penilaian orang tua mungkin di Ustaz. Iya. Iya. Ini anak yang sudah bisa menalar ya. mungkin ada konflik walaupun dia pada akhirnya akan kalau beruntung dia ya dapat pendidik yang baik di luar orang tuanya. Kalau beruntung dia mungkin bisa memilah-milik.Aya ini enggak bisa ditiru ini kan gitu ya.
(49:34) Tapi kalau dia kurang beruntung ya ee tidak dapat pendidik yang baik ya di luar orang tuanya ya terjadilah apa yang disebutkan di dalam peribahasa itu buah jatuh tidak jauh dari pohon pohonnya. Ya, apa yang dilihat anak itu yang akan diulanginya lagi ya, akan dilakukannya lagi karena itu masuk di otak bawah sadarnya.
(50:06) Apa yang dia lihat itu apa yang kita lihat ini masuk dalam otak bawah sadar kita yang sewaktu-waktu bisa muncul dan itu mengganggu. Iya. Makanya misalnya contohnya orang yang kecanduan pornografi mungkin ee kita katakan sekilas ya, dia bisa melupakan itu sekilas ya. Tapi sejurus kemudian gambaran itu akan muncul lagi ya. Ibnu Taimiyah itu mengulasnya.
(50:34) Demikian juga Ibnu Qayyim ketika membicarakan penyakit isyk yaitu ee ee orientasi seksual, fantasi seksual yang menyimpang. Ya, itu akibat apa yang dilihat pandangan mata bahwa itu semua enggak hilang walaupun sekilas bisa dilupakan ya, enggak akan muncul terus di dalam kepala enggak. Tetapi ee setan bisa memunculkannya kapan saja. Itu yang berbahaya ya. Demikian juga contoh-contoh yang buruk ini.
(51:00) Mungkin sekilas bisa dilupakan si anak, tapi akan terus ya muncul di dalam kepalanya sewaktu-waktu. Ya. Ya. Siapa yang munculkannya? Setan ya. Tergambarlah bohongnya orang tua kan. itu khianatnya orang tua, mangkirnya orang tua, kasarnya orang tua, marahnya orang tua, ya kan muncul di kepalanya itu dan reflek ya spontan kadang-kadang itulah yang muncul darinya gitu ya.
(51:34) E kadang-kadang enggak sadar ya, anak itu kasar mengikuti kekasaran orang tua bahkan kata-katanya. Betul. Heeh. Ya, kata-katanya, perilakunya, bahkan tindak tanduknya. Iya kan? E begitu dia itu tersembunyi terselip di bawah alam sadarnya. He itulah pengaruh visual ya. Nah pada anak itu. Misalnya anak itu biasa menonton kekerasan dari orang tuanya ya.
(52:01) Ya. Itu yang ditampilkan oleh ayah bundanya. Mungkin antara mereka atau kepada dirinya ya. Ya, mungkin dia kekerasan itu tidak bukan ditujukan kepada dirinya, tapi antara ayah bundanya mungkin ya, mungkin pernah pukul-pukulan atau teriak-teriakan gitu ya. Itu yang dilihat anak begitu ya. I ini gambaran yang enggak mudah hilang kayak gini nih ya.
(52:29) Akan bisa muncul bisa ya. Nah, demikian maka ya ee tanpa sadar dia kadang-kadang mengikuti marahnya orang tua ya. Nah, kita juga kadang reflek ya. Kita marah marah misalnya kita kan silap lah harusnya enggak marah kita marah. Kita marah itu kadang-kadang mengikuti meniru ya ee persis seperti marah orang tua dulu kepada kita tanpa kita sadari itu kita ulangi karena itu yang tersimpan dalam memori maka tampilkanlah hal-hal yang baik di depan anak ya. Nah, demikian jaga itu ya.
(53:04) Tampillah tetap harmonis walaupun sedang kesal-kesalan ini antara suami istri ya. Tapi ya di depan keduanya tetap tersenyum kan begitu ya. Sama keduanya menampakkan keharmonisan begitu ya. Nah, kalau cemberut-cemburutan ya anak juga belajar cemberut dari orang tuanya ya. Cemberut juga dia ya sama orang lain ya gitu. Wallahuam bisab atau mungkin sama pasangannya.
(53:28) Dia pun akhirnya melakukan KDRT kepada pasangannya karena itu yang dia lihat dulu dari orang tuanya ya. Nah, demikian. Wallahuam bisa. Iya. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Ustaz. Ee syukr apalagi ini ya anak itu biasanya melihat kekerasan dan tidak pernah melihat keharmonisan. Lalu, bagaimana dia bisa mengeksekusi yang namanya harmonis? Keharmonisan itu enggak ada memorinya ya dalam dirinya.
(53:57) mungkin secara di atas kertas tulisannya mungkin e suami istri harus harus menjaga keharmonisan. Kata harmonis itu ya dia enggak ngerti gitu ya wujudnya gitu ya, bukan tulisannya. Tulisannya dia mungkin tahu secara tulisan, tapi di dalam praktiknya dia enggak paham itu. Kenapa? Karena itu terlupi dengan hal yang sebaliknya, kekerasan, kekasaran.
(54:23) Ya, wallahuam bawab. Nah, iya. Baik. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Ustaz. Jazakullah khair atas ee jawaban dan penjelasannya. Demikian ya untuk yang bertanya. Dan selanjutnya ada pertanyaan kembali ya. Nam ee ya Ustaz, bagaimana pola pendidikan terhadap anak kecil yang orang tuanya bercerai? Ya, ini mungkin ee korban perceraian, Ustaz. Oh, iya.
(54:55) He ya. Memang ee salah satu ya kita katakan mediasi yang sering dilakukan oleh hakim ya ketika kedua apa namanya sepasang suami istri ya suami istri itu berselisi bertengkar adalah ya ingat kalau punya anak ingat anak kan begitu ya ee hendaknya berdamai demi anak anak ya nah hendaknya keduanya menurunkan ego masing-masing bentuk kemaslahatan anak kan begitu ya.
(55:31) Itu biasanya kata-kata yang sering disampaikan ke dalam mediasi ya ee oleh hakim biasanya seperti itu ya. Itu mengingatkan keduanya bahwasanya ada konsekuensi dari perceraian itu ya terhadap perkembangan anak-anak mereka. Nah, itu yang harus dipikirkan matang-matang oleh mereka berdua ya sebelum melangkah lebih jauh ya.
(55:57) Tapi karena ya karena perceraian tubuhnya dalam Islam ya bisa jadi bisa terjadi bisa saja terjadi ya. Nah, kalau itu terjadi maka ya ya hubungan suami istri boleh berakhir ya tapi hubungan orang tua dan anak enggak bisa berakhir ya. Baik itu si ayah maupun si ibu. Keduanya harus tetap memberikan kasih sayang ya walaupun mereka berdua sudah bercerai kan begitu ya. Nah, seperti itu. Maka bercerai dalam Islam itu harus baik-baik ya. Ya. Faimsakun bim’ruf au tasrih biihsan.
(56:30) Kalaulah memilih tasrih yaitu bercerai haruslah dengan biihsan dengan cara yang baik ya supaya tidak terganggu tugas mereka sebagai orang tua walaupun tugas mereka sebagai suami istri sudah berakhir ya sudah berakhir dengan perceraian ya. Itu itu anjuran Al-Qur’an ya. bahwa perceraian itu ada dalam Islam dibolehkan.
(56:54) Ah, ya bukan hal yang dilarang cerai itu. Kalau ada alasan yang kuat kan begitu ya. Nah, demikian ya. Tapi ya untuk untuk tidak mengganggu tugas mereka sebagai orang tua bagi anak-anak yang sudah lahir dari mereka berdua ya, maka berpisahlah, bercerailah dengan cara yang baik ya.
(57:17) Nah, tugas sebagai suami dan istri mungkin sudah berakhir, tapi tugas sebagai ayah dan bunda itu tidak ada akhirnya. Nah, demikian. Wallahuam bissawab. Ya. Nah, kemudian pasca pasca perceraian kan begitu. Setelah perceraian anak ini kan butuh sosok pendidik ya di rumahnya. Sementara sekarang mungkin ayah dan bundanya atau salah satunya ya tidak ada lagi ya. Maka saya tidak katakan kalau single parent itu pasti gagal. Enggak. Ya.
(57:43) Ya, karena ada contoh-contohnya juga seperti Imam Syafi’i kan ibunya ee ya dididik ya oleh ibunya saja single parent tapi ya berhasil juga. Tapi itu berat ya, enggak mudah ya. Jadi ya mungkin carilah sosok-sosok yang bisa menggantikan yang baik kan begitu ya. Nah, bagi ee si anak ini wallahuam bisawab.
(58:04) Mungkin itu yang bisa kita sarankan kepada ya orang-orang yang punya masalah seperti ini ya. Wallahuam. Nah, mungkin sampai di sini dulu pertemuan kita ya. Ee mudah-mudahan di lain waktu bisa kita lanjutkan lagi. Subhanakallah wabihamdik ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(58:27) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, kami ucapkan terima kasih banyak Ustaz. Syukran jazak khair sekali lagi atas waktu yang telah diluangkannya dan ilmu yang telah disampaikan juga dan juga jawaban dari beberapa pertanyaan di layanan pesan WhatsApp.
(58:46) Mudah-mudahan mewakili dari sebagian besar sahabat raja sekalian yang menyimak kami acara di kesempatan hari ini. Dan tentunya pembahasan ini masih ee sangat panjang ya, karena kita baru beberapa kali pertemuan untuk pembahasan buku ini dan mungkin ee simak terus kelanjutannya di setiap Selasa pagi pukul .00 bersama Al Ustaz Abu Hisan Almedani hafidahullah hanya di Roja TV.
(59:10) Dan bukunya saya juga silakan. Anda bisa mendapatkannya di toko-toko buku Islam terdekat dengan judul yaitu ee pendidikan seksual untuk anak dan remaja. Demikian ya kami undur diri mohon maaf apabila ada kesalahan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.
(59:52) 1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. menyebar cahaya sunah inalhamdulillah nahmadu


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *