Ustadz Abdullah Taslim, Lc MA – Menggapai Surga dengan Amalan Lisan – YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=AOBiepuDtAo
Transcript:
(00:15) [berdehem] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh wa naudubillahi minuri anfusina wamatialinaahdiillahu fala mudillalah wudlil fala hadalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(01:11) Ya ayyuhalladina amanutaqulaha haqq tuqqatih w tamutunna illa waum muslimun mins wahidah wq minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahziasal Allah wasallam Alhamdulillah,
(02:19) Ibu-ibu, Bapak-bapak, Ikhwan dan Akhwat fiddin aazakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa [berdehem] melimpahkan berbagai macam nikmat dan kebaikan dalam hidup kita. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang memuliakan kita dengan hidayah Islam, hidayah mengenal iman, hidayah mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
(02:54) yangini merupakan sebaik-baik, sebesar-besar nikmat, sebaik-baik karunia [berdehem] dan sebesar-besar kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala limpahkan kepada hamba-hamba yang dipilihnya yang semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa menjadikan kita istikamah di atas kebaikan ini sampai di akhir hayat kita. Barakallah fikum.
(03:25) Alhamdulillah kita memuji Allah subhanahu wa taala di pagi hari ini, di pagi menjelang siang hari ini. Karena kita dikumpulkan kembali dalam majelis ilmu yang mulia di Masjid Nurul Amal yang mubarak ini, yang penuh berkah ini. Yang di kesempatan kali ini insyaallah kita akan mengkaji tema menggapai surga dengan ibadah lisan.
(03:56) atau lebih tepatnya menggapai surga hati dengan ibadah alisan. Yakni surga hati maksudnya adalah merasakan kenikmatan ibadah kepada Allah subhanahu wa taala. merasakan manisnya iman yang itu merupakan gambaran surga di dunia sebelum seorang hamba yang beriman merasakan surga di akhirat nanti. Jadi ini ada kaitannya dengan apa yang mungkin saya pernah sampaikan di pertemuan-pertemuan kita yang lalu.
(04:31) Pernyataan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam kitab Alwabil Shaayyib yang dinukil oleh muridnya oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Alwabilusyib tadi Ibnu Taimiyah rahimahullah taala pernah mengatakan inna fid dunya jannatan man lam yadkhulha la yadkhulu jannatal akhirah.
(04:53) [berdehem] Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini, maka dia tidak akan bisa masuk ke dalam surga di akhirat nanti. [berdehem] Jadi, merasakan surga dunia yang sesungguhnya, merasakan surga di hati. Yang ini gambaran yang dirasakan oleh orang-orang saleh sebelum kita sehingga hidup mereka itu di mana pun mereka berada selalu dalam ketenangan, selalu dalam kedamaian, [berdehem] bahkan dalam penjara mereka yang sempit di zaman dahulu karena mereka membeda membela akidah ahlusunah wal jamaah.
(05:40) Mereka tetap merasakan ketenangan. Sehingga seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala di penjara, dia malah bisa menelurkan karya-karya, tulisan-tulisan yang bermanfaat karena hati dan pikiran mereka tenang. Ketika itu Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala pernah mendengar guru beliau ini berkata kepada beliau, [berdehem] kepada muridnya ini ya.
(06:08) Ibnuah rahimahullah taala pernah mengatakan [berdehem] fiqbiri intui. ketika beliau yakni berusaha tentu saja ya mereka-mereka yang menentang akidah ahlusunah wal jamaah berusaha memprovokasi penguasa pada saat itu untuk menangkap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Maka beliau mengomentari apa kata beliau? [berdehem] Maas apa yang ingin diperbuat oleh para musuh-musuh kepadaku? Ya, aku ini surgaku ada di hatiku.
(06:58) Taman-tamanku ada di dalam dadaku. Kalau saya pergi dibawa ke mana pun, maka surga ini akan selalu bersamaku, tidak pernah jauh terpisah dariku. Ini gambaran yang dirasakan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah yang tentu ya sebenarnya gambaran keindahan seperti ini adalah tujuan utama Allah mensyariatkan petunjuk dalam agamanya.
(07:36) Hikmah terbesar Allah Subhanahu wa taala mensyariatkan ibadah-ibadah yang agung di dalam agama ini berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, makanya Allah Subhanahu wa taala berfirman, kita tahu tentang Al-Qur’anu minal qurani mauahmatul mukminin.
(08:09) Dan kami turunkan di dalam Al-Qur’an ya, sesuatu yang merupakan obat penyakit hati dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jadi ikhwan akhwat fiddin hafidakumullah, menggapai surga hati, merasakan kenikmatan tertinggi di dalam hati kita ini adalah tujuan dari semua amal-amal ibadah yang Allah syariatkan bagi kita. Tidak ada satuun ibadah itu ditujukan untuk memberatkan kita.
(08:48) Ya, memang kalau kita rasakan pada awalnya misalnya satu ibadah kita kerjakan terasa berat, kita berpuasa juga masih di awal-awal bulan Ramadan biasanya agak berat ya. Kemudian misalnya orang melaksanakan salat tahajud juga mestinya di awal-awalnya berat. Berjihad di jalan Allah juga ada kesusahannya. ini terjadi tapi bukan merupakan tujuan asal ya [berdehem] dan ini merupakan bagian dari proses untuk ya yang selalu kita katakan proses untuk menggembleng dan menundukkan hawa nafsu kita di jalan Allah subhanahu wa
(09:32) taala. Para ulama memperumpamakan ini seperti proses penyembuhan sakit. Orang minum obat masih terasa pahit. Orang sakit disuruh makan makanan yang bergizi susah ya, lidahnya pahitlah, perutnya terasa kenyang dan seterusnya. Tapi ketika dia bersabar melakukan pengobatan tersebut, setelah itu dia akan sembuh.
(09:55) [berdehem] Dia akan rasakan makanan itu enak. Dia akan rasakan ya [berdehem] tentu saja kondisi kesehatan fisiknya lebih baik. Makanya kalau kita melihat ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menggambarkan tentang Islam, tentang ibadah, tentang hikmah diturunkannya Al-Qur’an, kemudian wahyu Allah dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam kan tidak ada kita dapati satuun kalimat yang menunjukkan agama ini mempersulit atau memperberat? Iya kan? Coba lihat. Bahkan dinafikan la
(10:40) yukallifulahu nafsan illa wusaha. Allah tidak membebani satu jiwa pun seseorang pun kecuali Allah jadikan sesuai kesanggupannya. Dalam Islam itu kalau ada sesuatu yang berat pasti Allah berikan keringanan. Orang tidak mampu salat berdiri maka salat duduk. Kalau tidak mau maka perbaring ya [berdehem] sampai dalam kaidah fikiah yang terkenal ada ada kaidah yang terkenal dalam qawaid fikhiyah yaitu almasyaqat tajri taisir sesuatu yang berat itu akan mendatangkan kemudahan [berdehem] akan mendatangkan kemudahan fainna maal usri yusr in maal usri yusr
(11:29) sesungguhnya bersama kesusahan ada kemudahan bersama kesusahan ada kemudahan. Bahkan di sini disebutkan kemudahan itu tanpa alif lam menunjukkan kemudahannya ada dua. Yang pertama sama yang kedua berbeda. Tapi kalau kesusahannya alyus ya alyusr disebutkan dengan ma al usri kesusahan disebutkan dengan alif lam diulang lagi berarti satu.
(11:58) Sedangkan kemudahan disebutkan tanpa alif lam berarti ada dua. Bayangkan ada satu kesusahan maka dihadapi dengan dua kemudahan yang Allah berikan bagi kita. Sama dengan makna firman Allah Subhanahu wa taala. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendaki kesusahan bagimu. Di ayat yang lain Allah Subhanahu wa taala berfirman, jaikum min dan Allah tidak menjadikan bagimu dalam agama ini sesuatu yang memberatkan.
(12:37) Coba bahasa-bahasa atau lafaz seperti ini kan menunjukkan keindahan agama ini. Tapi jangan kita jadikan ukuran apa yang dirasakan oleh banyak orang. Ini ini salah. Agama ini diturunkan untuk tujuan yang indah seperti ini ya. Ya ayyuhalladina amanuillahiul daakumikum. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan panggilan rasul-Nya.
(13:15) seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajakmu untuk memberikan kebaikan dalam hidupmu. Ya, ukurannya semakin banyak kita memahami dan mengamalkan agama dengan benar, semakin banyak kita akan rasakan keindahan ini. Berarti semakin banyak kesusahan, keberatan yang akan dihilangkan dari diri kita.
(13:44) Cuma syaratnya tadi kita benar-benar memahami dan mengamalkan agama ini dengan benar. Firman Allah Subhanahu wa taala di ayat lain di surat Annahl. Manila shihan minakarin unsa wahua mukminunyianum ajrahum. Barang siapa yang mengamalkan amalan saleh dari kalangan laki-laki maupun perempuan, maka sungguh-sungguh Kami akan jadikan hidupnya hidup yang indah, hidup yang penuh dengan kebahagiaan, ketenangan.
(14:26) Ya, dan sungguh-sungguh Kami akan berikan untuknya balasan di akhirat nanti yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan di dunia. [berdehem] Ini seperti diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala adalah hikmah dan tujuan terbesar Allah menurunkan syariatnya. Bukan untuk menjadi beban bagi hidup manusia, bukan untuk menyusahkan mereka.
(14:56) Justru kesusahan mereka itu adalah ketika mereka sibuk mengurus urusan dunianya. Karena akan menjadikan pikirannya tidak tenang, hatinya tidak tentram, tenaganya capek. Allah Subhanahu wa taala menjadikan orang-orang yang beriman ketika mereka merasakan hal yang ini, segera mereka akan mencari salat.
(15:24) Segera mereka akan mencari zikir kepada Allah. Segera mereka akan mendekatkan diri kepada Allah yang itu adalah sumber ketenangan hatinya. Makanya Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an. Alladzina amanuum bidikrillahi ala bidikrillahiulub. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang ketika berzikir kepada Allah.
(15:53) Ketika mengingat Allah, ketahuilah dengan berzikir kepada Allah, dengan mengingat Allah, hati manusia menjadi tenang. [berdehem] Inilah surga dunia yang sesungguhnya. Ya, [berdehem] hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sudah berapa kali saya sampaikan dalam kajian kita tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggambarkan salat sebagai quratul ain, penyejuk hati beliau.
(16:18) Ya, hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya. juga Imam Annasai dalam sunannya dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “jadikan aku cinta terhadap urusan-urusan dunia.” Boleh selama itu halal kan? Kita boleh mencintai urusan dunia kita.
(16:47) Yang penting tidak berlebihan, tidak menghalangi kita dalam ketaatan kepada Allah. Dijadikan aku cinta terhadap perkara-perkara dunia kepada perempuan, yakni kepada istri beliau yang halal. Kemudian kepada minyak wangi karena harum baunya, tetapi dijadikan kesejukan hatiku, kesenangan bagi jiwaku di dalam salatku. Nah, hadis ini diterangkan maknanya oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Ighasatul Lahfan.
(17:22) Di sini Nabi sallallahu alaihi wasallam mencontohkan salat tapi berlaku untuk semua ibadah. Tujuan ini berlaku untuk semua ibadah yang disyariatkan. Ya. Jadi kesejukan hati dengan ibadah ini dirasakan oleh orang yang imannya benar ketika melaksanakan salat, ketika berpuasa, ketika menunaikan ibadah haji umrah, ketika membayar zakat, ketika bersedekah, ketika melaksanakan salat yang wajib, salat yang sunah, ketika mereka membaca Al-Qur’an, berzikir kepada Allah ketika berdoa.
(18:00) Makanya orang-orang yang beriman selalu disifati di dalam Al-Qur’an. Mereka selalu berlomba-lomba dan bersegera melakukan kebaikan. Artinya apa? Mereka selalu mencari amal-amal saleh. Mereka selalu merindukan zikir kepada Allah. Mereka tidak pernah bosan membaca Al-Qur’an. Ya ulaika yusariuna filhairati wahum lahaibun.
(18:27) Mereka adalah orang-orang yang selalu yusari, bersegera melakukan kebaikan dan berlomba-lomba dalam mengerjakan amalan saleh. Coba antum perhatikan, mungkinkah orang akan berlomba melakukan sesuatu kalau tidak disenanginya? Kalau bukan merupakan hiburan terbesar bagi jiwanya? Kan tidak mungkin [berdehem] ya. Karena dia mencintai sesuatu itu, senang melakukan sesuatu itu, maka ketika melakukannya dia merasakan kenikmatan.
(19:04) Itulah gambaran manisnya iman, nikmatnya iman. Ya, ini juga yang sudah pernah kita jelaskan di dalam hadis-hadis yang sahih. Nabi sallallahu alaihi wasallam selalu menggambarkan iman itu sebagai sesuatu yang manis, sesuatu yang lezat. Kita ingat hadis yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan muslim dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu.
(19:31) Ada tiga sifat. Barang siapa yang memilikinya, dia akan merasakan manisnya iman. [berdehem] Ini manis yang dirasakan hakikatnya dirasakan nyata. Seperti penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab syarah Sahih Muslim. [berdehem] Ya. Kemudian di dalam hadis lain dalam Sahih Muslim juga hadis sahih juga dari Albbas bin Abdul Muthalib bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabdaan wabil islamian wabi Muhammadin sallallahu alaihi wasallam rasul akan merasakan kelezatan iman, kenikmatan iman.
(20:13) Orang yang rida kepada Allah sebagai Rabb-Nya, kepada Islam sebagai Rabbnya, yakni sebagai sembahan satu-satunya, tidak menyekutukan Allah dalam beribadah. Rida kepada Islam, gembira menerima Islam, lapang dengan Islam sebagai agama satu-satunya, tidak akan mencari agama yang lain.
(20:32) Dan rida kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Lapang dengan petunjuk beliau, rida kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam sebagai rasulnya. hanya menjadikan Nabi sallallahu alaihi wasallam sebagai panutannya, sebagai imam satu-satunya. Nah, sekarang jemaah sekalian hafidakumullah, ketika Allah menyuruh kita memerintahkan kepada kita kayak berlomba-lomba dalam kebaikan.
(20:55) Fastikul khairat, berlomba-lombalah dalam kebaikan, berpegang teguh dengan Islam, istikamah di atas agama. Ya kan ini menunjukkan Allah subhanahu wa taala menjadikan agama ini sesuatu yang paling menyenangkan hati manusia. Sesuatu yang paling didambahkan oleh jiwa manusia. Kebutuhan yang paling terbesar yang akan bisa memenuhi segala hajat dan kebutuhan manusia.
(21:30) Tidak ada yang melebihi agama. Iya kan? Nikmat terbesar adalah nikmat agama. Kenikmatan terbesar adalah kenikmatan agama. Nah, tidak mungkin kenikmatan terbesar kemudian kita tidak rasakan hakikat nikmatnya, malah urusan dunia yang kita anggap sebagai kenikmatan terbesar. Ini kan tidak sesuai. Nah, karena banyak manusia yang terhalangi hatinya dengan penyakit sehingga tidak merasakan hakikat agama ini sebagai surga dunia yang sesungguhnya.
(22:04) Sehingga yang kita katakan tadi, kebanyakan orang merasakan agama ini sebagai beban. Padahal tidak sesuai dengan tujuan Allah menurunkan agama ini. Seperti ayat-ayat yang tadi kita baca ya. Yuridullahuikumul widu bikumul. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan dia tidak menghendaki kesulitan bagimu. Jadi karena penyakit hati, karena jiwa yang tidak ditundukkan di jalan Allah, nafsu yang tidak berusaha dikendalikan, berarti orang yang seperti ini akan selalu membawa penyakit ini.
(22:43) Yang sudah kita katakan terhalanginya seseorang merasakan nikmatnya agama ini. Kata Ibnu Taimiyah, “La yadkulu jannatal akhir.” Menjadikan dia tidak akan masuk surga di akhirat nanti. Berarti [berdehem] ini kan penyakit yang sangat berbahaya kalau terus ada pada diri kita. Nah, di sinilah jemaah sekalian hafidakumullah ya kita lihat bagaimana mulianya agama ini.
(23:10) Tujuannya semulia itu. Dan ketika Allah mengetahui dan tentu Allah maha mengetahui pastinya. Iya kan? Kebanyakan manusia karena digerogoti penyakit hati, penyakit pada jiwanya yang menghalangi mereka merasakan hakikat keindahan agama ini, hakikat surga dunia dalam agama ini, dalam ibadah, dalam iman, dalam ketaatan kepada Allah.
(23:37) Allah Subhanahu wa taala menjadikan agama ini sekaligus sebagai obat penyakit hati yang terbaik. Masyaallah luar biasa agama ini. Jadi [berdehem] semua kebaikan kita ada pada agama ini. Al-Qur’an kan Allah turunkan sebagai syifa lima fisur. Sudah pernah kita jelaskan. Bahkan ini salah satu hikmah terbesar diturunkannya Al-Qur’an.
(24:01) Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Yaummin.” “Wahi orang-orang yang beriman, sungguh telah datang kepadamu nasihat dari Rabbmu.” Di mana nasihat ini? Dalam Al-Qur’an pastinya, dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. dan obat bagi penyakit hatimu serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(24:39) Ya, beberapa kali saya nukilkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang terkenal riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat siapa? Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu taala anhu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memperumpamakan petunjuk yang beliau bawa dari sisi Allah sebagai apa? Seperti hujan. in. Sesungguhnya permisalan atau perumpamaan dari ilmu dan petunjuk yang Allah turunkan kepadaku untuk disebarkan kepada manusia adalah seperti perumpamaan hujan yang baik, hujan yang bermanfaat yang diturunkan di muka bumi.
(25:22) Bayangkan ya. [berdehem] Ini perumpamaan yang sangat indah. menunjukkan hati kita supaya hidup dan merasakan surga dunia tadi, kita butuh untuk menyembuhkannya dengan belajar ilmu agama, dengan memperbaiki keimanan di hati kita, dengan menumbuhkan amalan-amalan saleh pada anggota badan kita, dengan lisan kita selalu berzikir kepada Allah.
(25:52) Jadi jemaah sekalian hafidakumullah dalam tinjauan ini, dalam sudut pandang inilah memang agama ini Allah turunkan supaya menjadi kebutuhan kita yang paling besar. Dalam artian bukan kebutuhan yang kita paksakan diri kita, tapi memang kita mengakui hal tersebut. Kita merasakan kalau kita lepas dari agama kita akan binasa.
(26:14) Karena dia adalah sumber kesembuhan penyakit kita yang paling besar, penyakit hati. Karena jauh dari agama adalah sebab kegundahan, sebab musibah, sebab malapetaka, sebab kesempitan hidup yang sesungguhnya. Dan segala permasalahan kita dalam urusan dunia hanya kita akan bisa selesaikan dengan kita dekat dengan Allah Subhanahu wa taala dengan dekat dengan petunjuk dalam agamanya.
(26:48) Dan barang siapa yang jauh dari peringatanku, berbalik dari peringatanku, apa yang dia rasakan, maka sungguh dia akan merasakan penghidupan yang sempit dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti dia akan lebih menderita lagi karena dikumpulkan dalam keadaan buta. Naudubillahzalik. Inilah keindahan agama Islam [berdehem] ya.
(27:14) Nah, di sini jemaah sekalian, ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah. Bapak, Ibu, dan jemaah sekalian hafidakumullah. [berdehem] Yang kita bahas dalam tema kita kali ini adalah contoh dalam ibadah lisan. Bagaimana ibadah lisan ini menjadikan kita bisa merasakan surga di hati kita. surga dunia yang sesungguhnya ini.
(27:44) Karena tentu ibadah banyak sekali ya. Kita contohkan ibadah lisan di sini supaya mudah kita pahami. [berdehem] Tentu ibadah lisan yang paling utama ya membaca Al-Qur’an, berzikir dengan memuji Allah subhanahu wa taala, mensucikannya, mengagungkannya, membesarkannya. Yang ketiga berdoa. [berdehem] Berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala.
(28:11) Ini tiga ibadah. Ibadah lisan yang agung ya. Ibadah lisan [berdehem] yang di dalam salat selalu menyertai setiap rukun-rukunnya. Di dalam ibadah-ibadah yang lain juga. Bagaimana ibadah lisan ini sampai ya tentu dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala bisa memperbaiki hati kita tadi yang berpenyakit menyembuhkan penyakitnya kemudian membentuk surga dunia yang dirasakan di dalam hati tersebut.
(28:49) Babakallahu [berdehem] fikum Bapak Ibu dan jemaah sekalian hafidakumullah. Saya ingatkan lagi dalam kajian kita yang lalu saya pernah menukilkan sebuah hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang dialog antara raja Romawi Herakel, Heraklius dengan Abu Sufyan yang ketika itu Abu Sufyan dan beberapa sahabat sedang berkunjung ke negeri Syam dalam perniagaan ya belanja kemudian di dijual di Makkah perniagaan [berdehem] apa ini barang-barang tersebut.
(29:29) Di situ tentu ada penguasa Romawi yang menguasai wilayah Syam dengan raja mereka ketika itu adalah Heraklius. Herakel yang ternyata dia adalah seorang yang ahli memahami kitab Injil yang asli yang ada pada mereka. Sehingga dia ingin menanyakan tentang ciri-ciri nabi yang muncul di tanah Arab. Ya, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam intinya setelah menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, dia kemudian yakin seyakin-yakinnya bahwa inilah nabi yang diutus di akhir zaman.
(30:02) Karena ciri-cirinya persis seperti yang diterangkan di dalam kitab Injil yang asli yang dipelajari. Ada satu poin yang berkaitan dengan pembahasan kita. Ini hadisnya disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim ya. Hadis sahih [berdehem] yang diceritakan oleh Abu Sufyan setelah dia masuk Islam radhiallahu taala anhu. [berdehem] Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada Abu ee Heraklius Raja Romawi ini bertanya kepada Abu Sufyan yang kemudian dijawab oleh Abu Sufyan dengan jujur ketika itu dan Heraklius membenarkannya.
(30:41) Setelah itu tentu dibenarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dia bertanya tentang gambaran keimanan para sahabat, keteguhan mereka di dalam Islam, semangat mereka beramal ibadah. Kata Raja Rawi ini kepada Abu Sufyan, dia bertanya, [berdehem] dia menanyakan tentang para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(31:17) Bagaimana keadaan mereka? Di antaranya dia bertanya, “Apakah ada salah seorang di antara pengikut Nabi ini yang setelah masuk Islam kemudian dia murtad meninggalkan agama ini karena benci terhadap Islam?” Ya, ini pertanyaan wajar kan? Karena cobaan di awal-awal Islam sangat keras. penyiksaan diboikot, diusir sampai mereka berhijrah.
(31:47) Sebelum hijrah ke Madinah kan ada hijrah ke Habasyah. Bagaimana penderitaan para sahabat radhiallahu taala anhum? Bahkan ada yang disiksa sampai mati. Ya kan kita tahu. Maka dia bertanya, “Apakah ada yang murtad meninggalkan agamanya di antara pengikut atau para sahabat Nabi ini sallallahu alaihi wasallam yang setelah masuk Islam dia murtad benci kepada agama ini sehingga dia meninggalkannya?” Kata Abu Sufyan lak tidak ada sama sekali.
(32:13) Tidak ada. Kemudian di akhir dijawab oleh raja rawi ini. Dia mengatakanikal imanuitu. Memang seperti itu gambaran keadaan iman. Memang seperti itu gambaran iman. Ketika kemanisannya, kenikmatannya telah merasuk dan bercampur di hati manusia. Coba lihat ini kan tujuan sesungguhnya Allah menjadikan agama ini. Dia menganugerahkan ke hati hamba-hamba yang dipilihnya kenikmatan tertinggi ini.
(33:01) Sehingga sesiapa yang merasakannya dia tidak akan meninggalkan agama ini dengan tawaran apapun. Karena tidak ada yang lebih indah dibandingkan beragama Islam. Tidak ada yang lebih nikmat dibandingkan nikmatnya iman. Jadi tidak ada yang murtad, tidak ada yang mau menggantikannya. Karena apa? Kenikmatan dan keagungan yang mereka rasakan di hati lebih besar dibandingkan apapun.
(33:28) Sehingga para sahabat tidak ada yang murtad meninggalkan agamanya. Jadi ini adalah rahasia istikamah yang sesungguhnya. Kita tahu sehingga kita tahu di sini kalau Islam ini benar-benar memerintahkan kita untuk istiqamah di atas agama ini, bahkan kita selalu berdoa ihdinatal mustaqim. Ya Allah tunjukkanlah aku jalan yang lurus yakni jalan selalu istiqamah.
(33:52) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang sahih qul amantu billahiastaqim. Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah. Ternyata ini daripada istiqamah. Istiqamah artinya kan lurus, tidak berbelok-belok ya. Sulusil mustaqim dunawijinu yamnatan. Meniti jalan Allah yang lurus tanpa berbela ke kiri dan ke kanan.
(34:20) Intinya adalah istikamah itu kita harus merasakan sesuatu itu paling nikmat di hati kita, paling kita cintai, paling kita muliakan, paling kita butuhkan sehingga sewaktu kita berjalan kita tidak akan menoleh kepada yang lain. Karena semuanya rendah, semuanya tidak ada nilainya dibandingkan apa yang di hati kita. Itu itu namanya istihadah.
(34:43) Dan ini Allah Subhanahu wa taala jadikan para sahabat telah merasakannya. Dan ini Allah jadikan bagi orang-orang yang benar-benar mempelajari agamanya, mengamalkannya lahir dan batin. Inilah ya basyaratul iman, kenikmatan iman, kemanisan iman yang ketika telah merasuk dan bercampur di dalam hati manusia, seseorang yang dimilikinya tidak akan meninggalkannya selama-lamanya.
(35:17) Ini surga hati namanya. [berdehem] Ya, yang kata Ibnu Taimiyah tadi, “Saya mau dipenjara ke mana pun, surgaku bersamaku.” Tidak pernah menderita. [berdehem] Makanya beliau juga pernah mengatakan seperti ini. Ibnu Taimiyah rahimahullah taala, “Albusu manisbuh walu man asiru hawahu.” Sebenarnya orang yang terpenjara itu adalah orang yang terhalang hatinya dari mengingat Allah.
(35:48) Dialah yang merasakan kesempitan hidup yang sesungguhnya. Orang yang terpenjara adalah orang yang terhalangi hatinya dari Allah. Dan orang yang tertawan itu adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya. Ini pernyataan dari mereka-mereka yang telah merasakan nikmatnya ibadah, manisnya iman, dan kemuliaan ya berpegang teguh dengan agama ini.
(36:15) Para Allah [berdehem] tib Bapak, Ibu, dan jemaah sekalian hafidakumullah. Sekarang kita lihat ibadah lisan [berdehem] ya. Ya, tentu pembahasan ini saya juga pernah menulis beberapa makalah yang tersebar di internet juga tentang masalah ini. Bahkan saya pernah menulis sebuah buku yang berjudul ini apa? Menggapai surga hati dengan ibadah lisan.
(36:41) [batuk][berdehem] Jadi pembahasannya ada di sini secara lengkap ya. Jadi ibadah lisan yang saya sebutkan tadi ada tiga, yaitu yang paling tinggi adalah membaca Al-Qur’an. Kenapa Al-Qur’an yang paling tinggi? Karena Al-Qur’an [tertawa] adalah kalamullah, firman Allah. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih mulia dibandingkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
(37:07) Tentu saja ya. Kemudian yang kedua adalah berzikir, memuji, dan mengagungkan Allah subhanahu wa taala. Yang ketiga, berdoa. Tadi sudah kita katakan ibadah salat hampir tidak pernah lepas setiap rukun-rukunnya dari tiga hal ini. Mulai kita mau berdiri membaca al-Fatihah dan surat. Ini bahkan rukun salat termasuk rukunnya yang sangat besar.
(37:39) Kemudian kita rukuk, I kan ada zikir, ada memuji Allah, mengagungkan Allah, iktidal, bahkan setiap gerakan ada takbir, Allahu Akbar. Iya kan? Dan seterusnya sampai selesai. Kita perhatikan tiga ibadah ini itu disebutkan keutamaannya sangat besar, Pak. Coba berzikir kepada Allah. [berdehem] Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi juga dalam Musnad Imam Ahmad.
(38:13) Hadis ini dinyatakan sahih oleh para ulama termasuk oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. [berdehem] Ya, dari sahabat yang mulia Abu Darda radhiallahu taala anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, [batuk][berdehem] “Ala unabbiukum bikhairium wahaikum Coba lihat ibadah yang seperti ini keutamaannya besar sekali ya.
(39:14) Apakah kalian mau aku beritakan tentang sebaik-baik amal yang kalian kerjakan? Yang paling mulia kedudukannya di sisi yang maha penguasa Allah Subhanahu wa taala dan yang paling besar dalam mengangkat derajat kedudukan yang mulia di sisinya. Ini sudah tiga keutamaannya. Tambah lagi amalan ini lebih baik. daripada kalian berinfak, bersedekah dengan emas dan perak.
(39:46) Yang kelima, bahkan amalan ini lebih baik daripada kalian bertemu dengan musuh, berjihad di jalan Allah, bertemu dengan musuh di medan perang. Kemudian kalian memukul atau memenggal leher mereka atau mereka memenggal lehermu, yakni mati di jalan Allah, terbunuh di jalan Allah. [berdehem] Qara sahabat menjawab, “Bala ya Rasulullah, tu mau wahai Rasulullah? Amalan apa itu? Bala ya Rasulullah.
(40:15) Tentu kami mau wahai Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Faqala sallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Zikrullahi azza waalla.” Berzikir kepada Allah subhanahu wa taala. Berzikir ya dalam pengertiannya secara umum bisa diartikan termasuk di dalamnya membaca Al-Qur’an termasuk berdoa, termasuk salat. Bahkan.
(40:42) Tapi kenapa keutamaannya sampai sebesar ini? Ternyata diterangkan para ulama, zikir ini adalah yang benar-benar mengandung makna zikir yang sesungguhnya. Kan dalam bahasa Arab berzikir itu bisa kita artikan menyebut Allah, memuji Allah, mengagungkannya. Makanya ucapan subhanallah, alhamdulillah, iya kan? Allahu Akbar.
(41:08) Lailahaillallah. La haula wala quwwata illa billah. Subhanallahi wabihamdih. Subhanallahilim. Ini semua zikir. Iya kan? Karena kita menyebut kita mensucikan Allah, memujinya, mengagungkannya. Dan zikir pun bisa diartikan mengingat. Berarti amalan hati. Inilah kenapa kata para ulama amal yang disebutkan di hadis ini sangat tinggi keutamaannya.
(41:36) Karena inilah maksudnya zikir yang diamalkan dengan benar, [berdehem] yaitu zikir yang diucapkan dengan lisan disertai dengan selalu mengingat Allah di dalam hatinya. Yakni ada perenungan terhadap makna zikir tersebut. Amal yang sederhana seperti zikir ini bisa menimbulkan keutamaan yang paling besar ketika diamalkan dengan benar.
(42:04) Seperti tadi lisannya memuji Allah, hatinya merenungkan makna pujian bagi Allah. Allah maha terpuji dalam semua sifat-sifatnya. Lisannya mensucikan Allah subhanallah, maha suci Allah. Hatinya merenungkan Allah maha suci. Berarti Allah subhanahu wa taala dijauhkan dari segala sifat-sifat kekurangan.
(42:25) Allah tidak ada sekutu baginya. Tidak ada yang pantas disembah selainnya. Tidak ada yang pantas dijadikan tandingan atau yang semisalnya. Dan semua makna mensucikan Allah. Demikian pula kita mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar dan semuanya zikir-zikir yang lain. Dari sinilah Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala pernah menjelaskan, beliau berkata, “Afdolikri wa anfauhu ma wafaqo fihil qolbul lisan minalkarin nabawiyatiu maqidahu wa maani wa maaniahu Zikir yang paling utama dan paling bermanfaat adalah yang bersesuaian antara apa yang
(43:24) diucapkan oleh lidah dan direnungkan dalam hati. Lalu zikir-zikir itu ya dan zikir-zikir itu diambil dari zikir-zikir yang bersumber dari hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam disertai dengan orang yang mengucapkannya selalu mempersaksikan makna dan kandungan zikir tersebut. Jadi maksudnya di sini penjelasan sederhananya zikir itu bukan banyaknya yang dinilai, bukan itu yang menentukan kualitasnya, tapi zikir yang benar-benar sesuai lisan dan hati kita.
(44:13) Namanya surga hati berarti kan di hati ditumbuhkan. Kalau kita ingin obati penyakit hati, berarti hati yang harus disentuh dengan ibadah tadi. Dan zikir ini adalah sebaik-baik obat yang mengobati misalnya kecintaan kita yang berlebihan kepada urusan dunia. Mengobati penyakit tidak ikhlas, tidak khusyuk dalam beribadah.
(44:40) Coba lihat dalam berzikir kita memuji Allah karena sifat-sifat kesempurnaannya. Ini kan akan menumbuhkan di hati kita kecintaan kepada Allah. Coba sesuatu yang sering kita puji, sesuatu yang sering kita sebutkan kebaikan-kebaikannya di kalangan manusia saja orang yang kita ingat kebaikannya, kita akan rindu dan suka orang tersebut.
(45:01) Padahal dia berbuat kebaikan satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali. Coba renungkan kebaikan yang Allah berikan kepada kita. Berapa kali diberikan? Setiap saat sebelum kita lahir di dunia, bahkan kedua orang tua kita sayang sama kita. Rasa yang di hati mereka siapa yang masukkan kalau bukan Allah Subhanahu wa taala.
(45:21) Sebelum lahir, setelah kita lahir, orang tua kita, ibu dan bapak kita yang sangat sayang kepada kita, sesayang-sayangnya dia tidak akan bisa memberikan kenikmatan terbesar, yaitu mengenal Islam, mendapatkan hidayah mengenal sunah, bisa belajar akidah yang benar. Ini kan tidak ada makhluk yang mampu melakukannya. Allah Subhanahu wa taala yang berikan hidayah ini.
(45:45) Jadi kebaikan dalam urusan dunia, kebaikan dalam urusan agama, sebelum kita lahir, setelah di waktu kita sudah lahir, sampai besar, itu kenikmatan semua Allah berikan kepada kita. Tidak pernah putus. Kalau kita renungkan hal ini, pasti kita akan mencintai Allah. Nah, perenungan seperti inilah yang menjadikan zikir itu benar-benar maknanya sesuai dengan lafaznya.
(46:09) mengingat Allah dan selalu menyebut Allah Subhanahu wa taala dengan mengagungkan, memuji, dan mensucikannya. Ini contoh dalam berzikir kepada Allah Subhanahu wa taala. Makanya [berdehem] ada sebuah hadis qudsi juga yang lain yang sahih. Allah Subhanahu wa taala pernah menyebutkan keutamaan orang yang berzikir kepada Allah dalam firmannya hadis qudsi ya.
(46:34) Ana ma abdi haituakaroni wataharfatahu. Aku selalu bersama hambaku ketika hambaku berzikir kepadaku, mengingatku, dan ketika lisannya taharakat. Dan ketika kedua bibirnya bergerak untuk menyebut atau memujiku. Kata para ulama di sini ada maiah kebersamaan Allah yang khusus. [berdehem] Ya, sama seperti kebersamaan yang Allah sebutkan misalnya tentang Nabi sallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar Assiddiq ketika berada dalam gua.
(47:16) La tahzan innallaha ma’ana. Janganlah kamu sedih karena sesungguhnya Allah bersama kita. Seperti yang Allah sebutkan kebersamaan ini dengan Nabi Musa dan Harun alaihiatu wasalam. Ya, inani maakuma asma. Sesungguhnya aku bersama kalian berdua, kata Allah. Aku mendengarkan dan melihat. Ini kebersamaan yang khusus yang berarti Allah selalu menjaga mereka, selalu memberikan taufik kepada mereka, selalu memberikan taufik kepadanya, selalu menghindarkannya dari segala keburukan, selalu menolongnya ketika dia membutuhkan pertolongan. Dan semua
(47:56) kebaikan-kebaikan yang Allah janjikan secara khusus bagi hamba-hamba yang seperti ini keadaannya. Masyaallah zikir seperti itu kok. Cuma kan permasalahan kita adalah apa? Kita memperbanyak zikir tapi kurang memperhatikan kualitasnya. Berapa banyak zikir yang kita baca dalam keseharian kita? Tikir setelah salat, zikir pagi petang, sebelum makan, sesudah makan masuk rumah, keluar rumah masuk masjid, bahkan masuk WC, keluar WC.
(48:30) Iya kan? Tapi pikir tidak membekas di hati. [berdehem] Ya sudah pernah kita jelaskan itu asal tabiat hati manusia. Asal tabiat hati manusia. Sesuatu yang baik, yang selalu berbuat baik, selalu kita puji, pasti akan menjadikan hati kita mencintainya. Ya, hati kita akan tabiat asal manusia. Coba lihat iklan.
(48:59) Iklan itu kenapa sangat besar pengaruhnya dalam apa ini menjadikan apa ini produk laris. Karena iklan kan menyebutkan kebaikan-kebaikan. Produk ini bisa begini, bisa begini, bisa begini. Kita dengar terus. Oh, ternyata begini ya. Oh, ternyata baiknya begini. Ini manfaatnya. Oh, ternyata ada fitur yang bagus.
(49:17) Oh, ternyata seperti ini. Tertarik hati kita. Akhirnya kita beli dari awali yang mungkin tidak kita butuh kita beli. Karena apa? Ada penyebutan kebaikan-kebaikan. Hati manusia akan tertarik. Padahal kita tahu iklan itu banyak bohong atau jujurnya. Banyak apanya? Banyak bohongnya. Nah, sekarang firman Allah yang menjelaskan tentang keindahan nama-nama Allah, kesempurnaan sifat-sifatnya.
(49:42) Mayoritas isi Al-Qur’an seperti itu. Kalau sering kita baca, kita renungkan, dan kita waktu berzikir merenungkan pujian dan kemahaan Allah, kemaha sucian Allah, pasti akan kita mencintai Allah. Mesti kita akan selalu memujinya. Itulah sebabnya kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang kebaikan ya.
(50:06) Ketika ada salah seorang sahabat yang bertanya tentang kebaikan yang dia ingin selalu pegang teguh, kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, senantiasa lisanmu basah dengan berzikir kepada Allah. Tidak bisa dibayangkan orang akan selalu menyebut sesuatu kalau tidak ada kecintaan di hatinya terhadap sesuatu itu. Apa yang dominan di hati kita itulah yang keluar dari lisan kita.
(50:31) Ya kata orang kan, bahkan kata para ulama, lisan itu adalah dutanya hati. Iya kan? Kalau dominan di hati kita kecintaan kepada Allah, otomatis lisan selalu memuji Allah, selalu mengingat Allah. Kata para ulama, man ahabaian aksar minikri. Barang siapa yang mencintai sesuatu, dia akan selalu banyak menyebutnya, selalu mengingatnya.
(50:57) Jadi ini permasalahan kita. Ketika kita mengamalkan amal-amal ibadah ini tidak menyentuh hakikatnya, tidak menyentuh sebab yang menghidupkan kebaikan di hati kita juga amalan anggota badan kita. Ingat, Islam ini juga bukan cuma di hati saja. Salah juga kalau orang mengatakan, “Saya cukup berzikir di hati saja.” Salah.
(51:26) disyariatkan dengan lisan ya. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mengenal bacaan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam salatnya dengan apa? Btibi lihtyatihi dengan gerakan janggut beliau. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam punya janggut dan menunjukkan apa? Berarti beliau ketika membaca bacaan Al-Qur’an, membaca zikir atau berdoa dalam salat itu dengan dilafazkan dengan gerakan kedua bibir, gerakan lidah.
(51:58) [berdehem] Ya, kalau tidak ada kondisi darurat orang yang misalnya berzikir karena bergerak mulutnya tidak sah salatnya. Orang yang salat tidak bergerak lisannya, hanya baca dalam hati, tidak sah salatnya. Jadi Islam ini lahir dan batin maksudnya. [berdehem] Maka di sini kita perhatikan jemaah sekalian hafidakumullah supaya zikir kita berkualitas memang kita harus latih supaya kompak lisan dan hati kita supaya dapatkan keutamaan seperti yang kita sebutkan di hadis tadi.
(52:30) [berdehem] Yang pertama kita pahami dulu makna zikir tersebut. Waktu kita mengucapkan subhanallah. apa maknanya? Artinya kita pahami kandungannya. Berarti kita harus mempelajari memang ya fikih asmaul husna penjelasan tentang makna nama-nama Allah yang maha indah. Baik itu dalam segi waktu kita memuji Allah, mengucapkan alhamdulillah, waktu kita mensucikan Allah dari sifat kekurangan, kita mengatakan subhanallah.
(53:01) Waktu kita membesarkan Allah, kita katakan Allahu Akbar. Atau apalagi bertauhid lailahaillallah. Kemudian la haula wala quwwata illa billah. [berdehem] Kita pahami dulu artinya. Kemudian maknanya. Kemudian waktu kita berzikir kita latih. [berdehem] Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala melatih diri kita untuk bisa berzikir seperti yang tadi kita sebutkan, zikir yang kompak antara lisan dengan hati [berdehem] itu bisa ada dua caranya.
(53:35) [menghela napas] Ada seseorang misalnya sebelum dia berzikir dia renungkan dulu tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah. Berarti memang kita harus belajar ya. Al-Qur’an pun mayoritas isinya adalah sudah pernah kita bahas berkali-kali adalah penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
(53:57) Sebelum kita berzikir kita merenungkan dulu ya. Kita merenungkan tentang keagungan Allah Subhanahu wa taala, kebesarannya supaya nanti waktu berzikir nyambung antara apa yang ada dalam pikiran kita, perenungan di hati kita dengan lisan kita. Ada yang kedua, orang dia berzikir dulu kemudian dia berusaha sambil dia berzikir lisannya dia hadirkan hatinya.
(54:25) Ya, memang ini akan sangat terbantu misalnya kalau kita paham bahasa Arab ya tentu setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Dan insyaallah kalau ini kita latih dan ingat ini adalah latihan untuk kebaikan, menyempurnakan kebaikan-kebaikan pada diri kita, menyempurnakan keimanan kita. Kalau kita terus latih diri kita, lama-kelamaan kita akan terbiasa.
(54:51) [berdehem] Ya, lama-kelamaan zikir itu menjadi sesuatu yang bahkan spontan kita ucapkan. [berdehem] Karena terbiasa kita mengucapkan kebaikan-kebaikan ini dan terbiasa hati kita merenungkannya. Ini contoh ya. Ibadah lisan bisa menjadi sebab kita merasakan surga di hati kita yaitu dengan berzikir kepada Allah subhanahu wa taala.
(55:19) Terlebih-lebih lagi, Al-Qur’an. Al-Qur’an urutannya paling tinggi. Mungkin saya pernah jelaskan atau tidak, saya lupa di sini. Kata Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Iqatul Lafan, ibadah lisan ini kan secara urutan asal. Ingat urutan asal artinya dalam kondisi-kondisi tertentu bisa berubah urutan ini. Yang paling tinggi adalah membaca Al-Qur’an karena firman Allah.
(55:46) Ini firman Allah adalah sifat Allah Subhanahu wa taala adalah kalam dan kalamullah itu adalah bukan makhluk. [berdehem] Dia adalah sifat Allah. Yang kedua tadi berzikir memuji Allah baik itu subhanallah, alhamdulillah dan seterusnya. Yang ketiga berdoa meminta kepada Allah subhanahu wa taala memohon [berdehem] ee kebaikan-kebaikan dari sisinya.
(56:10) Kalau seandainya kita dalam kondisi lowong, tidak ada pekerjaan, kita harus memilih mana yang saya pilih kira-kira antara membaca Al-Qur’an, berzikir, atau berdoa. Pilihan pertama kalau tidak ada pertimbangan lain adalah baca Al-Qur’an lebih bagus karena untuk utamanya lebih besar ya. [berdehem] atau berzikir kepada Allah yang kedua ketika berdoa.
(56:36) Tapi mungkin dalam kondisi tertentu atau ada dalil tertentu. Seorang habis selesai salat dia mengucapkan asalamualaikum warahmatullah. Assalamualaikum warahmatullah. Dia bertanya, “Ustaz, bolehkah saya habis salat salam langsung baca Al-Qur’an?” Kita katakan, “Boleh. Ingin berdoa?” “Silakan, boleh-boleh saja. Tapi lebih utama Anda berzikir.
(56:57) Karena apa? Ini waktunya, sunahnya. Ketika selesai mengucapkan salam, istigfar dulu. Astagfirullahalazim. Kemudian baca Allahumma antas salam sampai selesai baru membaca zikir-zikir yang disyariatkan setelah selesai salat. Iya kan? Ya. Jadi ini ada waktunya di sini lebih utama kita baca zikir ketika itu. Ada seorang dalam keadaan dia punya hajat yang dia butuh segera untuk minta kepada Allah.
(57:26) Maka kita katakan Anda leutama berdoa saat ini. Berdoa dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang ketika berada di waktu dikabulkannya doa ketika itu kita katakan lebih utama Anda berdoa karena ini waktu dikabulkannya doa. Maksudnya urutan tadi kadang-kadang bisa berubah ketika ada kondisi-kondisi seperti ini. Sekarang kita lihat membaca Al-Qur’an.
(57:44) Ini pun sudah beberapa kali saya singgung dalam kajian-kajian kita yang lalu. Membaca Al-Qur’an itu Al-Qur’an adalah sebaikbaik petunjuk. Kitab yang disebutkan sebagai mubarak penuh dengan keberkahan, penuh dengan kebaikan. Semua kebaikan ada dalam Al-Qur’an. Tapi siapa yang akan bisa meraih kebaikan itu? Orang yang membaca dan merenungkan isinya.
(58:11) Kenapa? Membaca itu menghiasi lisan kita. Merenungkan itu menghiasi hati kita. Jadi sekali lagi menjadikan lisan dan hati kompak. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Kitabun anzalnahu ilaika mubar liyadabbaru ayatihi waliatakar ulul albab.” Bab kitab Al-Qur’an yang kami turunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mubarakun penuh dengan keberkahan agar manusia bisa merenungkan isinya, mentadaburi maknanya dan agar orang-orang yang berakal bisa mengambil pelajaran darinya.
(59:00) Jadi sama dengan berzikir tadi, begitu pula membaca Al-Qur’an bukan yang dinilai sekedar banyaknya, tapi yang justru bernilai adalah membaca dan meninggalkan bekasnya di hati kita. Karena hati kita yang berpenyakit mau diobati dengan pengobatan Al-Qur’an, bagaimana akan bisa diobati kalau penyakitnya tidak tersentuh? Keimanan ditumbuhkan di hati.
(59:26) Bagaimana akan tumbuh kalau tidak pernah disirami dengan air hujan wahyu al-quran ya. Sebagian dari sahabat radhiallahu taala anhu ajmain mengatakan yakunu ahadikum akir surah. Janganlah yang menjadi target keinginan terbesar salah seorang di antara kamu membaca Al-Qur’an sekedar mengakhiri suratnya. buru-buru banyak memperbanyak bacaan tapi tidak tertinggal di hati. Jangan seperti itu.
(59:57) Ini dilarang [berdehem] ya. Sudah pernah kita ingatkan seperti orang-orang khawarij apa? Yaqraunal qurana lajwizu hanajirum. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melampaui tenggorokannya sehingga tidak menghilangkan penyimpangan di hati mereka orang-orang Khawarij meskipun mereka rajin baca Al-Qur’an.
(1:00:17) Intinya ini tercela. Ini bukan metode membaca Al-Qur’an yang dipuji dalam Islam. [berdehem] Ya. Sehingga kata Syekh kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala sewaktu menjelaskan makna ayat Al-Qur’an. Alladinaahumul kitablunahuqatihi. orang-orang yang kami berikan kepada mereka Alkitab Al-Qur’an yang kemudian mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan tilawah kita terjemahkan dengan bebas membaca.
(1:01:00) Sebenarnya tilawah itu diambil dari kata-kata tala yatlu mengikuti. Mentilawah itu bukan sekedar membaca. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, kata beliau, tilawatul quraniwalu tilawi wahu. Yang namanya mentilawah Al-Qur’an itu meliputi mengikuti lafaznya dan mengikuti maknanya. Watilawatul makna afdolu min mujarradi tilawatil lafzi.
(1:01:38) Sedangkan membaca dengan mengikuti maknanya lebih utama daripada sekedar membaca lafaznya. Wa ahluha hum ahlul Quran kata beliau. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan mengikuti maknanya, memahami maknanya, inilah ahli Al-Qur’an yang sesungguhnya. [berdehem] Kita tahu kan ahli Al-Qur’an yang disebutkan di dalam hadis yang sahih, ahlul Qur’an ahlullahi waatuhu.
(1:02:05) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, ahli Al-Qur’an itu adalah ahlullah, orang yang terdekat dengan Allah dan orang yang istimewa di sisinya. Jadi ahli Al-Qur’an itu bukan harus menghafalnya meskipun itu lebih utama. Tapi yang paling penting untuk dikatakan masuk kriteria ahli Al-Qur’an adalah seperti kata Ibnu Qayyim, membaca lafaznya disertai dengan pemahaman terhadap isinya supaya apa? Menyentuh hati, supaya membentuk surga di hati kita.
(1:02:34) Supaya dengan membaca Al-Qur’an mengobati penyakit hati kita dan menyempurnakan keimanan dalam hati kita. Jadi membaca Al-Qur’an sedikit dengan perenungan lebih baik dengan daripada membaca banyak tapi tanpa peranungan. Sama dengan zikir tadi. Berzikir kepada Allah dengan berusaha menghadirkan hati kita menjadikan pompak lisan dan hati kita sedikit lebih banyak lebih baik dibandingkan banyak tapi tanpa perenungan tersebut.
(1:03:06) Ya tentu kalau banyak dan bisa perenungan lebih baik lagi tentunya. Jadi kalau pilihannya cuma dua tadi ya. Jadi di sini maksudnya kita harus melatih diri kita untuk meningkatkan kualitas ibadah seperti ini kalau kita ingin disembuhkan dari penyakit hati. Kalau benar-benar kita ingin merasakan hikmah dan tujuan terbesar Allah Subhanahu wa taala menurunkan syariat serta ee yang di dalamnya terkandung ibadah-ibadah yang agung ini ya.
(1:03:39) Makanya kan di dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan Allah menurunkan Al-Qur’an ini ke dalam hati Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Alquran ini diturunkan dibawa oleh malaikat Jibril yang terpercaya ke dalam hatimu wahai Rasulullah agar kamu bisa memberikan peringatan kepada manusia. Di ayat lain ketika Allah memuji orang-orang yang berilmu ya Allah menyebutkan tentang Al-Qur’an apa? ayatina il.
(1:04:17) Bahkan Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas, ayat-ayat yang merupakan argumentasi yang jelas yang terdapat di dalam sudur, di dalam dada orang-orang yang beriman. Ini yang akan bermanfaat bacaan Al-Qur’an seperti ini ya. Kemudian yang terakhir yaitu berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Ini saya jelaskan dengan ringkas ya. Karena mengingat waktu berdoa kepada Allah.
(1:04:46) Sekarang berdoa kita lihat keutamaannya yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih. Padahal kita menganggap doa itu apa sih? Doa itu kan meminta hajat kita kepada Allah. Bagaimana mungkin meminta tapi keutamaannya besar. Padahal kita yang minta, kita yang butuh. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih riwayat at-Tirmidzi pernah mengatakan tentang doa.
(1:05:13) Ini hadis dinyatakan sahih oleh Imam Tirmidzi juga oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Adaau ibadah. Doa itu dialah ibadah. [berdehem] Kalau lafaz adua mukh mul ibadah doa itu adalah apa? Ini intinya ibadah ini lemah. Tapi yang lafaz yang pertama tadi yang sahih doa itu dialah ibadah. Lah ke mana ibadah yang lain? Kalau cuma doa dikatakan ibadah.
(1:05:37) Kata para ulama seperti ini maknanya adalah doa itu kedudukannya sangat tinggi dalam ibadah. Sama seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang haji bersabda, “Alhajju arafah.” Haji itu adalah wukuf di Arafah. Padahal haji kan ada yang lain. Bukan cuma wukuf di Arafah. Ada tawaf, ada sai, ada pelontar jumrah.
(1:05:59) Iya kan? Ada memakai pakaian ihram, berihram dan seterusnya ya. Jadi doa itu adalah ibadah menunjukkan agungnya kedudukan doa dalam ibadah. Ada hadis yang lainnya yang juga derajatnya dinyatakan hasad oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Laisaun akr alallahi minada.
(1:06:22) ” Tidak ada satu ibadah pun yang lebih mulia di sisi Allah melebihi doa. Kenapa doa sampai seperti ini kedudukannya? [berdehem] Karena doa itu hakikatnya adalah amalan hati yang sangat tinggi, yang sangat erat kaitannya dengan tauhid. Berarti waktu berdoa bukan cuma sekedar kita ucapkan dengan lisan. Apa artinya kita berdoa? Kita berdoa kita minta kepada Allah.
(1:06:51) Iya kan? Kita minta kepada Allah karena apa? Karena Allah memanglah memang satu-satunya tempat meminta segala hajat dan kebutuhan kita. Karena cuma Allah yang maha kaya, yang maha memiliki segala sesuatu. Karena hanya Dia yang maha kuat lagi maha perkasa. Makanya apapun yang kita ingin minta, minta perlindungan yang maha kuat dan maha perkasa.
(1:07:12) Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Kalau kita minta kepada makhluk, makhluk lemah. Makhluk sendiri butuh dilindungi. Kenapa kita minta kepada yang lemah? Kita ingin minta rezeki, Allah adalah arrazak. Ingin minta hidayah, Allah adalah alhadi maha pemberi hidayah. Alfattah maha pembuka kebaikan. Jadi semua kebaikan ada di tangannya.
(1:07:33) Semua hajat dan kebutuhan kita hanya dia yang mampu memberikannya. Maka wajar kita hanya minta kepada Allah. Ini kan perenungan yang merupakan sebab sempurnanya tauhid dalam diri kita. Karena inti daripada tauhid adalah memurnikan penyandaran hati kita, ketergantungan hati kita kepada Allah Subhanahu wa taala. [berdehem] Ya, seperti kata pernyataan Imam Ibnu Qayyim yang pernah kita mukilkan juga bahwa inti dari kesyirikan kata beliau ya asir waqidah inirah landasan utama kesyirikan dan dasarnya yang semua bangunan syirik dibangun di atasnya adalah
(1:08:20) ketergantungan kepada selain Allah. Jadi doa itu bukan hanya meminta, tapi di dalamnya terkandung pengakuan bahwa kita adalah hamba yang lemah, penuh dengan kekurangan. Dengan kita mengakui Allah Subhanahu wa taala satu-satunya, zat yang maha sempurna, pencipta satu-satunya pemberi rezeki satu-satunya, pelindung satu-satunya.
(1:08:43) Makanya kita hanya minta kepada Allah. Inilah hakikat tauhid yang sesungguhnya. Jadi berdoa itu menyempurnakan tauhid dalam diri kita. Kenapa? Doa itu dianjurkan untuk kita selalu perbanyak. Kenapa orang-orang yang beriman dalam Al-Qur’an selalu dipuji? Karena mereka selalu banyak berdoa kepada Allah. Karena ternyata makna ini yang mereka renungkan di hati.
(1:09:06) Sehingga semakin banyak berdoa, semakin menguatkan keimanan, semakin menyempurnakan tauhid di hati mereka kepada Allah Subhanahu wa taala. Bahkan kata para ulama di dalam doa itu terkandung semua jenis tauhid. Ya, tauhid rububiyah. Meyakini Allah pencipta satu-satunya, pelindung, pemberi rezeki. Jelas dalam doa kita minta karena ini.
(1:09:33) Kemudian [berdehem] tauhid uluhiyah jelas memurnikan ibadah. Doa adalah termasuk ibadah yang paling besar. Bahkan kita tahu kata para ulama di dalam Al-Qur’an itu kesyirikan yang paling banyak dibantah adalah kesyirikan dalam hal berdoa, meminta hajat kepada selain Allah. atau menjadikan perantara dalam beribadah kepada Allah menunjukkan memang banyak penyakit hati di hati manusia.
(1:09:59) Penyakit hati mereka yang paling besar adalah bergantung kepada selain Allah secara berlebihan. Tidak memurnikan penyedaran hatinya kepada Allah. Masalah tawakal. Makanya kenapa tawakal dijadikan keutamaannya sangat besar. Wam yatawakal alallahi fahua hasbuh. Barang siapa yang bersandar hatinya dengan benar kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya.
(1:10:23) Jadi tauhid ini kemudian tauhid asma wa sifat ya tentu dalam doa kita dianjurkan memuji Allah menyebutkan nama-namanya yang maha indah yang sesuai dengan permintaan kita. Berarti di dalam doa terkandung semua jenis tauhid. Kapan kita akan dapatkan faedah dan manfaat ini? Waktu kita berdoa disertai dengan perenungan. merenungkan makna kerendahan kita, kebutuhan kita kepada Allah.
(1:10:47) Kita merenungkan makna kemahagian dan kemaha besaran Allah. Mungkin saya pernah jelaskan sebagian dari para ulama ketika mengatakan di dalam salat itu rukunnya yang paling agung adalah sujud. Karena sujud itu terkandung di dalamnya sikap merendahkan diri yang sangat tinggi kepada Allah. Dan disyariatkan berdoa ketika itu.
(1:11:15) Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim, Seorang hamba keadaannya paling dekat dengan Allah adalah ketika dia sedang melakukan sujud. Maka perbanyaklah doa padanya. Coba lihat sujud ya. Bentuk sikap tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah adalah pada adalah ada pada sujud. Kita meletakkan anggota badan yang paling kita muliakan ya kan wajah kita di tanah sejajar dengan kaki kita.
(1:11:55) Sudah itu kita berdoa kepada Allah. Sebelumnya kita mengucapkan apa? Subhana rabbiyal a’la wabihamdih. Maha suci Engkau yang maha tinggi ya Allah. Maha suci Rabbku yang maha tinggi. Dan segala puji baginya. Kita sudah merendahkan diri, kita meninggikan Allah. Inilah bentuk penghambaan diri yang paling sempurna.
(1:12:14) Kemudian dianjurkan banyak berdoa. Sikap ini terdapat dalam doa. Kita sudah minta kepada Allah, kita mengangkat tangan, merendahkan diri kepada Allah. Kita menghadapkan [berdehem] hati kita kepadanya, kita memujinya. Kita mengakui bahwa kita makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dan cuma dia yang maha kaya, maha sempurna, maha tinggi, maha mulia, maka kita hanya minta kepadanya. Masyaallah.
(1:12:39) Doa seperti ini kalau kita renungkan bukan hanya sekedar memenuhi hajat, tapi menyempurnakan keimanan dan tauhid kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, ada pernyataan yang sangat terkenal dari Umar Ibnu Khattab radhiallahu taala anhu yang mengatakan tentang doa inni lahmilu hammal ijabati wakin ahmilu hammua.
(1:13:07) Saya tidak membawa semangat atau keinginan sekedar untuk dikabulkan. Tapi yang saya bawa adalah keinginan kuat untuk selalu berdoa kepada Allah. Jadi ingat kita berdoa itu bukan hanya karena oh saya lagi butuh baru saya berdoa. Kapan Anda tidak butuh kepada Allah? Ya, nikmat yang kita dapatkan dalam urusan dunia kita butuh supaya diberkahi, tidak melalaikan kita.
(1:13:29) Ini kebutuhan kita yang besar. Istiqamah kita butuhkan setiap saat karena orang bisa apa ini menyimpang setiap saat kalau tidak dijaga oleh Allah subhanahu wa taala. Jadi kata Umar ibn Khattab yang saya bawa itu bukan sekedar semangat untuk dikabulkan. Tapi yang saya bawa itu memang semangat untuk selalu berdoa.
(1:13:51) Karena hamba semakin banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala, kedudukannya semakin mulia dan semakin tinggi di sisi Allah Subhanahu wa taala. Karena dengan itu dia menyempurnakan penghambaan dirinya kepada Allah. Jadi ini tiga contoh dari ibadah lisan yang kalau kita amalkan dengan benar menjadi sebab kita akan meraih dan merasakan surga hati yang sesungguhnya.
(1:14:14) Yang ini merupakan tentu saja sebab seseorang akan dimudahkan untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu wa taala di akhirat nanti. Oleh karena itu, ibadah-ibadah lisan ini sekali [berdehem] lagi hendaknya kita latih dengan sebaik-baiknya. Tentu saja yang namanya perenungan seperti ini bukan cuma pada ibadah lisan tadi.
(1:14:35) Waktu kita salat harus ada perenungan tentang salat kita [berdehem] ya. bahwa kita sedang menghadap Allah Subhanahu wa taala. Waktu kita melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, ada perenungan seperti ini supaya ibadah-ibadah tersebut bukan hanya kita lakukan secara anggota badan kita, tapi selalu membekas di hati kita. Inilah yang menjadi sebab tumbuh suburnya keimanan di hati seorang hamba yang kemudian menjadikan dia merasakan buah manis dari keimanan yang itu merupakan surga hati bagi manusia para kaum.
(1:15:09) Tib jemaah sekalian hafidakumullah. [berdehem] Mungkin cukup seperti itu ya apa yang bisa kami sampaikan tentang tema kajian kita menggapai surga dengan ibadah lisan. Semoga Allah Subhanahu wa taala mudahkan kita untuk selalu mendapatkan [berdehem] taufik kebaikan, dijaga dalam kebaikan Islam dan dijadikan selalu semangat dalam mempelajari agama ini, memahami dan mengamalkannya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan dalam diri kita.
(1:15:38) Dan tentu semoga Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita istikamah dalam kebaikan Islam, kebaikan iman, kebaikan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sampai kita menghadapnya pada hari kiamat nanti. Barakallah fikum. Sebelum kita akhiri mungkin kita dengarkan pertanyaan. Kalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan saya persilakan kepada Allahu I.
(1:16:00) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. di surah Alqamar ayat 545 orang yang masuk surga ini orang yang masuk surga itu adalah orang nah bagaimana solusi kita hari ini selalu bertakwa saya kepada solusinya bertapa itu mengerjakan [berdehem] Iya. Barakallah fikum. Pertanyaan sangat baik sekali.
(1:16:37) Solusi agar kita selalu bertakwa kepada Allah. [berdehem] Kalau kita semua yakin kebaikan itu ada di tangan Allah, berarti selalu solusi yang pertama dalam segala kebaikan adalah meminta kepada Allah. Karena yang maha kuasa untuk selalu menjadikan kita istikamah dalam kebaikan adalah Allah Subhanahu wa taala. Jadi selalu berdoa minta agar kita dimudahkan bertakwa.
(1:17:01) meningkatkan kualitas iman, menyempurnakan ketakwaan dan selalu dijaga di atas ketakwaan tersebut. Kemudian tadi belajar agama. Kalau takwa itu adalah makna ringkasnya melaksanakan perintah menjauhi larangannya, berarti kita harus belajar perintah Allah itu apa. Bagaimana kita mengamalkannya dengan benar, kemudian larangan-larangannya agar kita jauhi.
(1:17:23) Apa dalil-dalilnya baru kita mengerjakan perita dan menjauhi larangan. Teruslah kita belajar agama. Karena belajar agama itu menjadikan kita selalu terbimbing di jalan Allah Subhanahu wa taala yang lurus. Maka dengan sebab ini insyaallah kita akan selalu dijaga dalam ketakwaan. Termasuk ketika orang tergelincir misalnya berbuat salah, ada solusi agar dia tidak lepas dari ketakwaan yaitu selalu beristigfar, memohon ampun kepada Allah subhanahu wa taala.
(1:17:49) Sampai disebutkan di dalam surat Ali Imran, orang yang bertakwa itu bahkan pernah berbuat salah sampai dosa besar. Allah menjelaskan sifat mereka. Mereka adalah orang-orang yang ketika melakukan perbuatan keji yaitu dosa besar bisa terjadi orang yang bertakwa berbuat dosa besar atau menzalimi diri mereka sendiri dosa kecil.
(1:18:17) Mereka segera ingat Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Jadi orang yang bertakwa bukan berarti orang yang tidak pernah berdosa. Karena tidak mungkin manusia tidak berbuat salah kecuali para nabi dan para rasul yang dijaga oleh Allah. Bani Adam khataun. Semua manusia banyak berbuat salah. Wirwabun. Dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah yang banyak bertobat kepada Allah subhanahu wa taala.
(1:18:43) Itulah solusi untuk menjaga ketakwaan kita dengan selalu menetapi kebaikan-kebaikan dalam agama ini. Nah, barakallah fik. Iya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. dalam melaksanakan salat malam berarti salat sunah ya malam kita dianjutkan untuk salat masalah-masalah dua-dua [berdehem][batuk] itu bagaimana kalau kita melakukannya tempat dekat tempat dekat itu nanti diakimi dengan satu satu rakaat atau ada juga dengan langsung ganjil katakan tujur ahad gitu ya apakah boleh dis [berdehem] satu salah Iya. Barakallah fik.
(1:19:36) Memang [berdehem] betul petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika melaksanakan salat sunah dalam hal ini ee apalagi salat malam ya itu [berdehem] beliau sallallahu alaihi wasallam selalu melakukannya 11 rakaat kalau salat malam. Seperti hadis Aisyah kan riwayat Bukhari Muslim.
(1:19:51) Tapi cara pelaksanaan 11 rakaat ini berbeda-beda. Kalau kita ingin tahu rinciannya, riwayat-riwayat yang menyebutkan masalah ini oleh Syekh Albani rahimahullah taala disebutkan di dalam kitab beliau salat tarawih atau qiyamullail ada risalah beliau beliau sebutkan ricaya dengan hadis-hadis yang sahih.
(1:20:08) Kadang-kadang beliau melaksanakan yang paling utama tadi jelas dua, dua, dua, satu terakhir ya sampai lima kali. Kemudian satu dimulai dua di awal dua rakaat yang ringan ini lebih sempurna lagi karena ini ada keutamaannya tersendiri dan dia tidak termasuk yang sebelah saja dua rakaat pembuka begitu. itu ada hadisnya juga dalam Sahih Muslim dan dipraktikkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam juga dalam hadis yang sahih.
(1:20:31) [berdehem] Boleh juga melaksanakannya 443 itu termasuknya Albadir rahimahullah taala mengatakan boleh karena ada dalil yang mendukungnya. Bahkan pernah juga Nabi sallallahu alaihi wasallam melakukannya dua-dua. Kemudian ada juga tiga rakaat witirnya, ada juga yang witir 5 rakaat. Itu juga hadisnya sahih. Bahkan pernah juga ada yang sampai tujuh rakaat sekali dengan sekali salam terakhir itu juga pernah beliau lakukan.
(1:20:58) [berdehem] Ya, ada yang menyebutkan berapa. Jadi kalau kita baca di keterangan cara Albani di sini kita dapatkan rincian dalam hadis-hadis yang sahih bagaimana cara Nabi sallallahu alaihi wasallam melaksanakan salat yang 11 rakaat itu. Tentu yang paling utama tadi adalah dua-dua karena ini yang paling banyak disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih.
(1:21:20) Nah, para Tiib kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. wasalhamdulillahilamin subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubuai wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhikumsalam
Leave a Reply