Ustadz Abdullah Taslim, Lc, M.A – PENGARUH NAMA NAMA ALLAH DALAM PERIBADAHAN

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

wudlil fala hadialah wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ya ayyuhalladzina amanut itaqulaha haqqo tuqatih yaquakumadziqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumib Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha wauluan sadida yuslih lakum aalakumagfir lakum dunubakum wam yutiillaha waasulahu faq faza fauzan adzima.

Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita selalu memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya.

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala yang memudahkan kembali bagi kita taufik dalam kebaikan menuntut ilmu, mengadakan majelis ilmu yang mulia di sore hari ini di Masjid Al-Akhdar yang mubarak ini. Diil lanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Fiqhul Asmail Husna.

fikih memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah. Buah karya dari guru kita As Syekh Alallamah Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Albadr hafidahumullahu taala. Barakallahu fikum. Kita kembali mengkaji ilmu yang paling mulia dan paling agung di dalam Islam secara mutlak. ilmu yang sangat kita butuhkan dalam rangka menyempurnakan, menguatkan keimanan dan penghambaan diri kita kepada Allah Subhanahu wa taala dalam rangka menyempurnakan keikhlasan kita dalam ucapan dan perbuatan khusus kita dalam beribadah kepada Allah

dalam rangka menyempurnakan cinta, takut dan pengharapan kita kepadanya. Yang ini tentu kita ketahui bersama merupakan ibadah-ibadah hati yang merupakan penopang utama iman. Ya, maka semua ini hanya akan dimudahkan untuk tumbuh di dalam hati kita setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala dengan kita semakin mengenal kandungan kemaha, kemahaungan.

dari nama-nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha sempurna. Itulah makna firman Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur’an di surah Fatir. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Innama yaksyallaha min ibadihil ulama. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambnya dengan takut yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berilmu. Yaitu yang berilmu mengenal Allah Subhanahu wa taala.

Mengenal nama-nama dan sifat-sifatnya yang maha tinggi. Bab. Barakallahu fikum. Jemaah sekalian hafidakumullah. Kita akan melanjutkan pembahasan di kitab yang sangat bermanfaat ini di pembahasan yang baru, pembahasan yang keenam. Iktidu asmaillahi lariha minal ubudiyah. Ini salah satu di antara manfaat terbesar kita mengkaji ilmu yang mulia ini adalah seperti yang di sebutkan dalam pembahasan ini.

Iqtidu asmaillahi ya. konsekuensi dari memahami nama-nama Allah dalam pengaruhnya terhadap al-ubudiyah, menyempurnakan penghambaan diri kita kepada Allah. Di sini sifat-sifat terpuji yang merupakan penguat iman. Ya, ternyata nanti kita akan bahas masing-masing dari sifat tersebut hanya akan tumbuh dengan benar dan sempurna seiring dengan semakin kita mengenal Allah Subhanahu wa taala.

Sudah kita sebutkan berkali-kali bahwa manusia punya hati yang masih tetap di atas fitrah ya. Setiap orang yang beriman pasti hatinya masih ada fitrah kebaikan padanya. Sebagaimana fitrah ini dalam kehidupan kita sehari-hari bisa kita lihat ya ketika timbul di dalam hati kita rasa cinta kepada sesuatu, takut kepada sesuatu atau tunduk kepada sesuatu mesti ada sebabnya.

Sebagaimana cinta misalnya tumbuh karena kesempurnaan atau keindahan sesuatu itu atau kebaikan-kebaikan yang diberikan pihak lain kepada kita. Demikian pula rasa takut karena kita tahu misalnya sesuatu atau makhluk tertentu bisa menimbulkan gangguan atau bisa mencelakakan kita ya. maka menjadikan kita takut kepadanya.

Meskipun tentu saja ketika kita berpikir dengan benar, makhluk yang kita takuti, kita bisa menghindar darinya, kita bisa lari darinya, atau bahkan mungkin kalau kita nekat bisa melawan. Maka semua ini kalau kita hadapkan pada sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala tentu akan menimbulkan membentuk sifat-sifat ini lebih sempurna pada diri kita.

Kecintaan kepada Allah pastinya sifat-sifat kebaikan, limpahan nikmat dan karunia Allah tidak mungkin ada yang menyamainya di kalangan makhluk. Kemahadahan Allah, kemahaurnaannya tidak mungkin ada makhluk yang menyerupainya. Laisa kamitlihiu wahu samiul bir tidak ada satuun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Maka pasti dengan ini akan menumbuhkan kecintaan di hati kita kepada Allah.

yang melebihi kecintaan kepada makhluk apapun. Demikian pula Allah Subhanahu wa taala yang maha kuasa, maha kuat lagi maha perkasa. Dia bisa menimpakan apa saja kepada hamb-Nya ketika dia menghendakinya. Dia bisa mendatangkan kecelakaan. Bahkan dia bisa memberikan berbagai macam keburukan kepada hamba ketika dia menghendakinya.

Maka berarti hamba akan menjadikan semakin dia mengenal Allah, dia akan semakin takut kepada Allah, semakin tunduk kepada Allah dan selalu semakin berlindung kepadanya. Karena kalau makhluk tadi kita masih bisa berpikir untuk lari darinya, untuk menghindar atau untuk bahkan melawan. Tapi Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin kita bisa melakukan semua itu. Karena ke mana pun kita pergi, Dia selalu maha kuasa, maha mengetahui, dan maha mampu untuk menimpakan apa saja yang dikehendakinya kepada hamba yang diinginkannya.

Maka semua seperti ini ya, cinta, takut, berharap, tawakal, dan apapun. Semakin kita merenungkan konsekuensi dari sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala, nama-namanya yang maha indah, maka sifat-sifat ini akan semakin tumbuh dengan sempurna pada diri seorang hamba.

Makanya semakin mengenal Allah kita akan semakin takut kepadanya, semakin berharap kepadanya, semakin sungguh-sungguh dalam bersandar kepadanya, semakin selalu meminta kepadanya. Maka inilah yang akan menyempurnakan al-ubudiyah, penghambaan diri kita lahir dan batin kepada Allah subhanahu wa taala. Seperti yang akan dibahas di bab ini insyaallah. Jadi ini kita katakan tadi termasuk faedah yang paling besar.

Tidak ada satuun dari pembahasan agama ini yang pengaruhnya dalam menyempurnakan keimanan seperti pengaruh memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala dalam menumbuhkan dan menguatkan keimanan. Makanya berkali-kali kita ulangi ini adalah ilmu yang paling agung, yang paling penting, dan paling kita butuhkan dalam agama ini secara mutlak. Ilmu yang paling mulia kedudukannya secara mutlak. Barakallahu fikum.

Kita akan baca keterangan dari Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala. Beliau berkata, “Inna asmaallahil husna wasifatihil ulya muqtadiatun lariha minal ubudiyati wal amri iqtidaha liahariha minal khalqi watqw.” Sesungguhnya nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi muqtadatun ya mengandung konsekuensi terhadap asar dampaknya pengaruhnya dalam hal al-ubudiyah menyempurnakan penghambaan diri kita wal amr dalam hal menjadikan kita semakin berpegang teguh dengan perintah Allah dalam agamanya.

Sebagaimana ini yang sudah kita bahas di pertemuan yang lalu mengandung konsekuensi dalam pengaruhnya terhadap perenungan kita terhadap makhluk di alam semesta. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah kan kita tahu Allah Subhanahu wa taala menurunkan agama ini dengan petunjuk yang sempurna. Iya kan? Ini kita sepakati semua ya.

Petunjuk Allah ini sempurna dari segi petunjuknya lengkap ya. Petunjuk ini indah. Petunjuk ini membawa kepada kebahagiaan lahir dan batin. Menjadikan hidup kita indah. Menjadikan kita merasakan nikmatnya iman, nikmatnya beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Akan tetapi tentu saja ada godaan setan yang berusaha menghalangi kita dari keindahan ini. Ada hawa nafsu yang harus kita tundukkan.

Maka Allah Subhanahu wa taala menjadikan dalam agama ini ya juga bukti yang menunjukkan sempurnanya keindahan agama ini. Allah Subhanahu wa taala menjadikan di dalam agama ini ada motivasi yang sangat besar. agar kita mencintai dan berpegang teguh dengan agama. Nah, di antara motivasi tersebut yang paling besar adalah motivasi mengenal Allah.

Bagaimana caranya agar kita semangat mengamalkan agamanya? Bagaimana caranya agar kita bisa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allah? ini juga sudah sering kita jelaskan adalah kita mengenal bahwa yang mensyariatkan agama ini dia maha indah, sifat-sifatnya maha tinggi lagi maha sempurna.

Dia memiliki nikmat dan karunia yang sangat luas dan agung yang itu akan selalu diberikan kepada hamba-hambanya yang beriman. Maka dengan ini kita akan mencintai Allah, kita akan memuji Allah. Dengan ini kita akan mensyukuri nikmat bahkan sebesar-besar nikmat yang diberikan kepada kita yaitu mengenal Islam, mengenal tauhid yang benar, mengenal sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, menjauhi syirik, menjauhi perbuatan bidah dan maksiat-maksiat yang lain.

Dengan semakin kita mengenal kesempurnaan sifat-sifat Allah, berarti kan kita mengambil dalil. Berarti agama yang Allah turunkan karena agama ini disyariatkan oleh Allah yang maha sempurna ilmunya, sempurna hikmahnya, sempurna kemahanya, sempurna limpahan nikmat dan karunianya. Berarti apalagi kurangnya agama ini dalam keindahannya, kesesuaiannya dengan kebutuhan manusia ya dalam kebaikan-kebaikan yang menjadikan kita semakin dekat dengannya, semakin sempurna kebaikan kita yang kita miliki, maka dengan ini

pasti kita akan semakin mencintai agama ini. Kita akan semakin berpegang teguh dengannya. Kita sudah pernah jelaskan kan sesuatu kalau kita sudah laksanakan dengan cinta, dengan rasa butuh pasti akan semangat kita lakukan, akan berlomba-lomba kita mengerjakannya ya. Apalagi hakikat keindahan agama ini adalah hakikat yang pasti dan nyata.

Dan itu sudah kita pernah buktikan, telah dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa sebelum kita, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan para ulama salaf. Sebagaimana yang sudah sering kita nukilkan pernyataan mereka ya. Seperti salah seorang di antara mereka yang mengatakan tentang kenikmatan tertinggi yang ada di dunia adalah makrifatullahi wa mahabbatuhu wal unsu biqurbihi wasuqu ila liqih.

Kenikmatan tertinggi yang ada di dunia adalah mengenal Allah, mencintainya, dan merasakan nikmat ketika dekat dengannya serta selalu merasakan rindu untuk bertemu untuk dekat dengannya. Maka inilah hakikat keindahan Islam dan inilah yang menjadikan orang-orang yang saleh sebelum kita, para ulama ahlusunah wal jamaah yang mengenal agama ini dengan benar sebelum kita.

begitu semangat dalam ya mempelajari agama ini, begitu semangat dalam mengamalkan agama ini dan mendakwahkan agama ini karena mereka mengetahui persis keindahannya, keagungannya. Barakallahu fikum. Tiib. Waqtil had waqal hadituqhariha minal khqi wqwin. Telah berlalu pembahasan di bab yang lalu ya, pembahasan tentang konsekuensi dari mengenal nama-nama Allah dalam pengaruhnya terhadap perenungan tentang makhluk di alam semesta ini.

Wal hadisu huna fiqtiha lariha minal ubudiyati. Adapun pembahasan kita saat ini kata Syekh rahimahullah hafidahullahu taala, pembahasan kita saat ini adalah tentang iqtida, konsekuensi mengenal nama-nama Allah yang maha indah dalam pengaruhnya terhadap kesempurnaan ubudiyah. menyempurnakan penghambaan diri kita kepada Allah.

Seperti apa? Kal khudu. Seperti ketundukan kepadanya. Wadzul, selalu merendahkan diri. Khusyuk. Al ininabah selalu kembali kepada Allah. Khasyiah rasa takut warahbah pengharapan. Wal mahabbah kecintaan. Wat tawakul selalu bertawakal, bersandar hati kepada Allah. Wirizalika min anwail ibadathirati wal batinah.

Dan yang selain itu dari berbagai macam jenis ibadah yang lahir maupun batin. Yakni dalam beribadah kepada Allah tentu kita mengenal kayak khusyuk misalnya kan dia ibaratnya rohnya ibadah itu sendiri. Apakah kita akan membiarkan ibadah kita seperti apa ini tubuh, jasad tanpa nyawa. Ini nasibnya ibadah yang tidak ada khusyuk padanya. Apalagi ibadah yang tak tidak ada ikhlasnya, tidak ada cintanya, tidak ada takut, tidak ada pengharapan.

Ini ibadah yang sangat kering, tidak punya nilai. Apa yang akan menumbuhkan nilai ibadah yang akan meningkatkan kualitasnya? Tentu ketika kita beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala pada lahir dan batin kita. Misalnya lisan kita berzikir memuji Allah, hati kita merenungkan makna pujian bagi Allah karena telah kita mengenal sifat-sifat kesempurnaannya.

Ya, kita beribadah melaksanakan salat misalnya dengan ya berdiri, bersedekah, kemudian rukuk, sujud, dan seterusnya disertai dengan hati kita merasakan gembira dan senang karena kita mencintai zat yang sedang kita beribadah di hadapannya. Ibadah seperti ini tentu akan menjadikan ibadah yang khusyuk, ibadah yang dilakukan oleh hamba ini dengan betah berlama-lama.

Sebagaimana dalam kehidupan kita, kita betah berlama-lama misalnya berdekatan dengan orang yang kita cintai, orang yang kita sayangi. Padahal cinta manusia dengan manusia pasti terbatas. Apalagi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa taala yang merupakan kecintaan yang paling tinggi, dambaan hati yang paling besar.

Ini semua lahirnya dari mana? Setelah taufik dari Allah adalah dengan sebab kita semakin mengenal kemaha, kemaha tinggian, nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Tiib. Fa inna min asmaillahi wa kulla sifatin min sifatihi lahu ubudiyatun khasatun hiya min muktadatiha. Karena sesungguhnya masing-masing dari nama dari nama-nama Allah yang maha indah dan masing-masing dari sifat-sifat kesempurnaannya itu memiliki kandungan penghambaan diri yang khusus.

Yang ini merupakan konsekuensinya. Yakni maksudnya kalau kita pelajari, kita dalami maknanya, kita akan rasakan pengaruhnya. dalam memperbaiki hal-hal yang berhubungan dengan keimanan kita. Ya, nanti akan dicontohkan di sini. Wamin mujibatil ilmi biha. Dan ini termasuk hal yang mesti kita dapatkan setelah kita mengenal ilmu ini.

Watahquqi bimfatiha dan semakin kita menyempurnakan pengetahuan kita tentangnya. Ya, kalau dikatakan ilmu ini ilmu yang paling mulia sudah kita bahas kan. Kenapa Al-Qur’an mayoritas isinya memperkenalkan tentang nama-nama Allah yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi? Kenapa ayat-ayat yang menyebutkan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah selalu kedudukannya paling tinggi seperti ayat kursi, surah al-Ikhlas, maupun surah Al-Fatihah yang di awalnya dimulai dengan penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kenapa seperti ini kedudukannya? Karena pastinya

pengaruhnya terhadap iman juga paling paling besar. pengaruhnya adalah menguatkan khusyuk, ikhlas, kecintaan, rasa takut, dan pengharapan kepada Allah juga paling paling besar. Ya, ini selalu kita katakan bahwa permasalahan kita semua dengan izin Allah Subhanahu wa taala dalam urusan agama ini ya.

Misalnya beramal kurang semangat, kecintaan kepada dunia yang berlebihan, tidak khusyuk apalagi tidak ikhlas dalam beramal. Karena kelemahan di hati kita, kelemahan di hati kita dalam hal mengenal Allah menjadikan tempat di hati kita ini justru banyak didominasi dengan kecintaan kepada makhluk. Ya sudah dengan itu akhirnya lemah keikhlasan di hati kita dalam beragama. Ya, banyak urusan-urusan dalam agama kita.

Kita jadikan tujuannya untuk mendapatkan dunia dan ini menimpa kebanyakan manusia kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah subhanahu wa taala. Agama ini telah menurunkan sebaik-baik solusi untuk masalah ini. Yaitu menjadikan hati kita menemukan perhiasannya yang sesungguhnya. Yaitu mengenal Allah Subhanahu wa taala yang maha indah. Mengenal sifat-sifat nama-namanya yang maha tinggi lagi maha agung. Tib akan dicontohkan di sini kata Syekh rahim hafidahullahu taala waza mutidun fi jamii anwail ubudiyah.

Dan ini berlaku mutarid itu artinya berlaku secara tepat secara pasti pada semua jenis ibadah. allati alalqbi wal jawari. Baik ibadah yang berhubungan dengan ibadah hati maupun anggota badan. Jadi maksudnya mengenal Allah ini adalah perbaikan semua ibadah kita. Dan ingat perbaikan ibadah ini bukan hanya sekedar dalam artian menjadikan kita nanti banyak beribadah. Jelas itu sudah sudah merupakan konsekuensinya.

Tapi lebih daripada itu ya kan yang kita yang kita inginkan sebagaimana yang kita baca dari biografinya orang-orang yang saleh apalagi para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mereka banyak beribadah tapi merasakan nikmat dengan banyaknya ibadah itu. Maksudnya ibadah bukan karena terpaksa, bukan ibadah yang dilakukan dengan yni setengah hati dengan merasa berat.

Tidak demikian ya. Karena sudah pernah kita bahaskan, rasa cinta yang benar akan menimbulkan rasa nikmat ketika mendekatkan diri kepada zat yang kita cintai. Rasa takut kepada Allah beda dengan takut kepada makhluk. Kita takut kepada makhluk karena kita khawatir mencelakakan kita, menimpakan keburukan kepada kita.

Kalau kita takut kepada Allah, tidak perlu kita takut yang seperti itu. Tidak akan membawa kita kepada perasaan tadi. Kenapa kita takut kepada Allah? Karena Allah maha keras siksaannya. Bisa menimpakan apa saja yang kita takutkan. Tapi bersamaan dengan itu kita ingat sifatnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha sempurna limpahan nikmat dan karunia-Nya. Maka dengan ini semakin kita takut kepada Allah, semakin kita bersandar kepadanya, semakin kita ingin dekat dengannya.

Jadi ini yang yang kemudian melahirkan ibadah-ibadah yang demikian rajin dikerjakan oleh orang-orang yang beriman tersebut disertai dengan perasaan gembira. Bahkan mereka merasakan tidak ada kegembiraan, tidak ada ketenangan hati kalau jauh dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala.

Ini yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman sebelum kita. Dan inilah rahasianya kenapa ya mereka begitu semangat mendalami Islam utamanya yang berhubungan dengan ilmu. Mengenal Allah Subhanahu wa taala, mengenal nama-namanya yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi lagi maha agung. Tiib wabayanu dalalika. mulai beliau sini menyebutkan contoh satu contoh secara umum ya nanti kita akan waktu membahas nama-nama Allah satu persatu kita akan sebutkan akan Syekh terangkan di sini setiap nama Allah itu ini mengandung ya konsekuensi ubudiah seperti apa?

Kadang-kadang di satu nama Allah Subhanahu wa taala bahkan mengandung semua ya. Sehingga semakin banyak kita mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifatnya berarti semakin menguatkan, menyempurnakan penghambaan diri dalam diri kita. penjelasan tentang hal ini kata Syekh hafidahullah taala analima taala wali walqiq wal ihya wal imatati fainnaalika ymmiru lahu ubudiyat tawakuli Jadi penjelasannya seperti ini kata beliau, seorang hamba ketika dia mengetahui, mengenal, mengenal dengan yakin Allah itu Maha Esa. satu-satunya yang bisa mendatangkan keburukan bagi kita,

mendatangkan manfaat, satu-satunya yang memberikan kepada kita, yang bisa mencegah dari kita, menjauhkan kita dari sesuatu, satu-satunya yang maha menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan dan mematikan. Ini kan tidak ada yang bisa melakukannya selain Allah. Maka hal ini yang akan membuahkan menumbuhkan di hati hamba ini ubudiah yang berupa tawakal, bersandar diri kepada Allah dalam batinnya dan melaksanakan konsekuensi tawakal pada zahirnya, pada lahirnya.

sudah kita sudah sebutkan tadi kan ya kepada makhluk. Kalau kita merasa ada seorang makhluk misalnya manusia dia punya kekuatan dia bisa menjaga kita ya atau dia punya senjata, intinya dia punya ya kecukupan dalam hal menjadikan dia bisa menjaga kita. Contoh sederhana, satpam atau mungkin polisi pengaman.

Kita tinggal di kompleks tertentu, kita rasa ada satpam, ada penjaga yang mereka sudah berkomitmen untuk menjaga misalnya 24 jam bergantian. Ini saja sudah menumbuhkan dalam diri kita rasa nyaman. Tinggal di tempat tersebut. Kita akan merasa tidur kita lebih nyenyak. Kita pun juga hilang dari diri kita was-was.

Ya, kemungkinan kita diganggu, dicuri, atau dirampok dan seterusnya. Padahal kan kita tahu sekuat apapun penjagaan manusia, berapa orang pun yang menjaga tetap saja akan bisa ditembus. Misalnya pencurinya bukan manusia. Misalnya jin yang datang. Apakah mereka bisa menahan jin yang datang sementara jin tidak kelihatan? Set yang datang misalnya.

Apalagi setan malah berkeliaran di mana-mana. tidak akan mungkin bisa ditangkap oleh manusia-manusia penjaga ini. Iya kan? Atau taruhlah manusia yang datang, ada kemungkinan dia akan bersekongkol dengan penjaga ini atau mungkin penjaganya sendiri yang berkhianat. Banyak kemungkinan. Atau taruhlah mereka benar-benar amanah menjaga, tapi ternyata yang datang lebih kuat. Kan tetap manusia yang kuat ada lagi yang lebih kuat di atasnya.

Tetap kemungkinan untuk luputnya penjagaan tersebut ada. Tapi kalau Allah Subhanahu wa taala yang menjaga kita, ya dialah satu-satunya yang maha kuat, maha perkasa, maha mampu memberikan kebaikan, mencegah keburukan, maha memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan. Kalau kita yakini ini dan betul-betul ini ada pada Allah, maka pasti hati kita akan semakin kuat bersandar kepadanya.

Makanya tawakal semakin sempurna dengan semakin kita mengenal sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang berhubungan dengan masalah ini. Ya. Jadi coba saja kita kita buktikan dalam kehidupan kita, kita akan semakin merasa aman ketika yang menjaga kita adalah orang-orang yang kita percaya seperti ini.

Padahal tentu masih ada kemungkinan dan banyak kemungkinan penjagaannya akan dikalahkan ya dengan sesuatu yang bisa mendatangkan keburukan kepada kita yang kemungkinan ini tidak ada pada Allah Subhanahu wa taala karena dia penjagaannya maha sempurna. Dia adalah alhafid yang maha menjaga. Ya, dia yang maha kuat lagi maha perkasa. Coba kita bayangkan.

Jadi ibadah atau ubudiyah tawakal semakin sempurna tertanam dalam diri kita, semakin terpurnaah terwujud dalam hati kita dengan semakin kita mengenal Allah. Dan kita sudah tahu kan tawakal ini adalah inti daripada tauhid ya. Karena dengan tawakal berarti kita bersungguh-sungguh dalam selalu menyandarkan diri kita, selalu bergantung kepada Allah dalam semua keadaan kita dan selalu hanya ya meminta kepadanya dalam segala hajat dan kebutuhan kita. Ini baru satu unsur ubudiyah.

Baru tawakal, belum lagi ibadah yang lain yang kita dapatkan dengan apa? mengenal sifat-sifat kesempurnaan Allah seperti yang disebutkan tadi. Barakallahu fikum. Sekarang lihat dalilnya yang menyebutkan hal ini. Qallahu taala, Allah Subhanahu wa taala berfirman pertama di surah Al-Furqan ayat 58. Azubillahiminasyaitanirrajim. Watwakal alal hayyilladzi la yamut.

Wasabbih bihamdih wa kafa bihi bidzunubi ibadihi khabir. Bertawakallah kamu kepada Allah yang maha hidup dan tidak akan mati. Dan bertasbihlah dengan memujinya dan cukuplah dengan Allah yang maha mengetahui dosa-dosa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. bertawakal kepada Allah, dia tidak akan mati. Dia maha hidup dan tidak akan mati.

Adapun makhluk sekuat apapun dia, dia akan mati. Dia akan berakhir. Paling tidak dia akan lemah, dia akan merasakan sakit ataupun sekuat apapun tetap ada yang bisa mengalahkannya. Berarti bertawakal atau bersandar kepada makhluk tidak ada gunanya. Karena kita bersandar ingin dapatkan keamanan yang sempurna, ternyata dia tidak akan bisa memberikan hal tersebut.

Dia sendiri juga butuh untuk dijaga. Ya, butuh untuk dijaga dan diberikan penjagaan oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka ayat ini menegaskan kepada kita yang pantas untuk kita jadikan tempat bertawakal hanya Allah Subhanahu wa taala. Karena Dia yang maha hidup lagi tidak pernah mati. Nah, waqala taala di ayat yang lain surat Asyuara ayat ke-217.

Wat tawakkal alal azizir rahim. Dan bertawakallah kamu kepada Allah zat yang maha perkasa lagi maha penyayang. Menyandarkan hati kepadanya menjadikan kita pasti akan terpenuhi kebutuhan kita, pasti akan tercukupi. Karena Dia Maha Perkasa, Maha Kuat, tidak ada yang bisa mengalahkannya. ketika dia menjaga, tidak ada satupun makhluk yang bisa mencelakakan kita. Ini tawakal yang benar.

Dan dengan mengenal sifat Allah ini, hamba akan semakin menyempurnakan penyandaran dirinya kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian surat almuzammil ayat ke-9. Tiib almuzammil ayat ke-9. Rabbul masyriqi wal maghribi la ilaha illa hua fattakhidzhu wakila. Allah dialah Rabb yang menguasai timur dan barat. Yakni maksudnya menguasai semua yang ada di alam semesta ini.

Tidak ada sembahan yang benar selain dia. Fattakhidhu waqila. Maka jadikanlah dia sebagai tempat bersandarmu. Keyakinan ini menjadikan kita yakin dalam bersandar kepada Allah. Karena kita mengetahui apa? Semua di alam semesta ini adalah kekuasaannya. semua tunduk kepadanya. Sehingga tidak ada yang bisa mengganggu hamba ini kalau dia benar-benar bersandar kepada Allah.

Dan kan sudah pernah kita jelaskan penyandaran hati kepada Allah selalu bergantung kepada Allah. Ini kan inti dari tauhid yang sesungguhnya ya. Pernah kita jelaskan tentang apa ini landasan perbuatan syirik seperti yang diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin ya. Wabil jumlah faasut tauhidi faasluir waqidatahti bun alaihairillah.

Maka kesimpulannya kata beliau landasan kesyirikan pokok dan landasan utama kesyirikan yang semua syirik dibangun di atasnya adalah ketergantungan kepada selain Allah. Selalu bersandar kepada selain Allah. Lihat, ternyata dengan menyempurnakan tawakal ini benar-benar mengkikis segala bentuk kesyirikan dari akar-akarnya dari hati kita.

Dengan kita mengenal Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu. Dan untuk tawakal ini saja sudah kita ketahui ya, penyebab utama kecukupan kita dalam segala urusan kita. Iya kan? Janji Allah azza wa jalla dalam ayat yang kita kenal. Wam yatawakal alallahi fahua hasbuh. Barang siapa yang bertawakal, yakni bertawakal dengan benar kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.

Sekarang masalahnya kita kurang yakin karena pengenalan kita tentang Allah juga lemah. Saat ini banyak orang lebih mungkin lebih kuat dia bersandar kepada makhluk. Karena ketika dia meyak yakin ada ya kayak tadi penjaga yang kuat ketika dia lebih yakin dengan mungkin rumahnya telah diberikan pengamanan yang canggih ketika dia yakin dengan sesuatu yang ada fasilitas di dalam rumahnya. Padahal tentu saja semua ini bisa rusak, bisa dijebol juga dengan yakni keburukan yang lebih canggih lagi.

Sehingga dengan kelemahan kita bersandar kepada Allah, akhirnya menjadikan penyandaran hati kita banyak kepada makhluk. Ya, pastinya dengan sebab ini kecukupan dari Allah juga akan kurang. Karena tawakal tadi adalah sebab kecukupan. Lemahnya tawakal berarti juga jauh dari kecukupan Allah Subhanahu wa taala untuk kita.

Jadi ini berhubungan dengan bukan cuma masalah perbaikan ibadah saja, tapi ketenangan hati kita yang sesungguhnya. Penjagaan pada diri kita yang sesungguhnya. Namam. Barakallahu fikum. Tiib. Kemudian surat Annisa ayat 81. Watwakal alallahi wa kafa billahi wakila. Dan bertawakallah kamu kepada Allah dan cukuplah dengan Allah Subhanahu wa taala sebagai pelindungmu.

Yang sudah kita contohkan kemarin ya. Ketika kalimat tawakal diucapkan oleh Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam ini contoh tentu contoh yang tinggi i pastinya dengan waktu dia akan dilemparkan ke dalam api dia mengatakan hasbiallahu wanikmal wakil.

Seperti pernyataan Ibnu Abbas kan ucapan Nabi Ibrahim ketika akan dilemparkan ke dalam api apa? Hasbiallahu wikmal wakil. Cukuplah Allah sebagai pelindungku, tempatku bersandar dan dia adalah sebaik-baik penjaga. Api yang tabiatnya membakar, hilang tabiatnya tersebut. Kenapa? Karena meskipun dia tabiatnya yakni kebiasaannya selalu membakar, tapi ketika berhadapan dengan penciptanya, ya hilang kebiasaannya tersebut.

Karena yang menjadikan dia bisa membakar adalah Allah subhanahu wa taala. Ketika Allah menghendaki dia tidak membakar, maka tidak jadi bakar. Ya naru kununi bardan wasalaman ala Ibrahim. Wahai api, jadilah kamu dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam. Sebagaimana para sahabat mengucapkan kalimat ini.

Iya kan? Waktu ditakut-takuti oleh orang-orang munafik bahwa orang-orang kafir Quraisy akan menyerang mereka dalam jumlah besar. Seandainya ini ditakut-takuti kepada orang yang lemah imannya, dia sudah akan lari. Ya, padahal lari pun tidak akan menyelamatkan dia. Tapi karena mereka punya keyakinan yang kuat, mereka mengatakan, “Hasbunallahu wanikmal wakil.

Cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan dialah sebaik-baik penjaga.” Mereka ucapan itu justru zadathum iman. Menambah keimanan mereka. Dan dengan sebab ini Allah Subhanahu wa taala menyelamatkan mereka. Justru orang-orang kafir Quraisy yang ingin menyerang. Akhirnya Allah Subhanahu wa taala jadikan mereka yang ketakutan, jadikan mereka yang kemudian mengalami kegagalan, yakni kecukupan dari Allah Subhanahu wa taala.

benar-benar Allah berikan bagi orang yang menyempurnakan penghambaan diri kepahu wa taala. Nah, itu contoh masalah tawakal. Contoh berikutnya kata Syekh hafidahullahu taala, waid alimal abdu bianallaha samiun basirun alimun la yakfa alaihiqratin fisamawati wal ard waahu ylamusro wa akfa yalamuatal aun w tfur wa annahu tabaraka wa taala ah wainadaanima btilaahi alaihi wahi bihi falika ymiruahu hifisani jawaribi Contoh berikutnya.

Jika seorang hamba benar-benar mengetahui, meyakini bahwa Allah itu maha mendengar, maha melihat, tidak ada satuun yang luput dari ilmunya, penglihatannya, pendengarannya. Meskipun sebesar biji debu di langit-langit dan di bumi, Dia maha mengetahui perkara yang rahasia dan tersembunyi. Mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam hati.

Dan Allah Subhanahu wa taala meliputi segala sesuatu dengan ilmunya, menghitung segala sesuatu jumlahnya. Maka barang siapa yang mengetahui ya pengawasan Allah yang sempurna kepada dirinya, penglihatannya dan Allah meliputinya dengan ilmunya, pengetahuannya, ini akan membuahkan pada diri seorang hamba selalu menjaga lisannya, menjaga anggota badannya, bahkan menjaga bisikan-bisikan di hatinya untuk menjauhi segala sesuatu yang tidak mendatangkan keridaan Allah Subhan subhanahu wa taala menjadikan keterkaitan anggota badannya ini selalu terhadap hal-hal yang dicintai dan diridai oleh Allah.

Yakni orang yang meyakini sempurnanya penghawasan Allah, penglihatan Allah, pengetahuannya ini akan menumbuhkan sifat apa? Muraqabatullah dalam dirinya. Yang kita tahu muraqabatullah adalah tingkatan ihsan, yakni tingkatan iman yang paling tinggi. Hanya dengan mengenal apa? Mengenal Allah maha sempurna penglihatannya, pendengarannya, pengetahuannya. Allah Subhanahu wa taala mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati, mengetahui apa yang dirahasiakan.

Dan semua ini akan menumbuhkan ubudiyah, yaitu sifat muraqabatullah. Selalu merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi, ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah kan termasuk kendala kita yang terbesar masalah ini. Ketika di hadapan orang, kenapa kita kelihatan ya menampakkan diri sebagai orang yang baik-baik, orang yang taat, orang yang jauh dari maksiat, tapi kendalanya waktu sendiri atau merasa sendiri. Eh, padahal tidak mungkin kita sendiri karena Allah maha melihat, mengawasi.

Waktu itu kita lancang melakukan perbuatan buruk. Naudubillah minzalik. Ya, berarti permasalahannya karena kita lemah dalam meyakini sempurnanya pengawasan Allah Subhanahu wa taala. Atau kita lebih mengagungkan makhluk takut celaannya, takut dicaci atau takut dijelek-jelekan. Sementara pandangan Allah Subhanahu wa taala.

Dan bagaimana kalau Allah murka kemudian menimpakan keburukan yang besar kepada hamba ini? Ini yang kurang diperhitungkan. Karena dia kurang mengenal Allah. Itu kendalanya. Ya. Jadi inilah solusinya dan jawabannya adalah semakin kita mendalami sifat-sifat Allah yang akan menumbuhkan ubudiyah ini dalam diri kita. Semakin kita mendalami agar kita semakin meyakininya. Semakin kuat keimanan kita kepada Allah dalam sifat-sifatnya. Ini coba lihat dalilnya.

Qallahu taala, Allah berfirman di surah al-alaq ayat ke-14. Alam ya’lam biannallaha yaro. Apakah dia tidak mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa taala maha melihatnya? Wattaqulaha innallaha samiun samiun alim. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. Alhujurat ayat yang pertama. Kemudian fussilat ayat ke-40.

Amu maum innahu bima tamaluna bir. Berbuatlah apa yang kamu inginkan. Sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kamu lakukan. Ya. Kemudian surat Albaqarah ayat 235. Wamu annallaha yalamu ma fi anfusikum fahdzaru. Ketahuilah sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala maha mengetahui apa yang terdapat di dalam dirimu.

Maka hati-hati kamu karena Allah maha mengetahui semua itu. ilma yuritu fil abdi khasyatallahi wa muraqobatahu wal iqbala ala thaatihi wal manahihi maka tidak ragu lagi. Pasti pengetahuan tentang hal ini akan mewariskan pada diri seorang hamba rasa takut kepada Allah, muraqabah, selalu merasakan pengawasannya, selalu menghadapkan diri, mentaatinya dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarangnya.

Ini kan jelas merupakan bagian dari takwa. Dan ini kelemahan yang nyata yang ada pada banyak orang. Ternyata solusinya sudah ada dalam Al-Qur’an. Cuman kita perlu menguatkan keyakinan kita, perlu memahami dan mendalaminya agar semakin kuat kita mengenal hal ini, semakin kuat keyakinan kita terhadap keimanan tentang hal-hal ini.

Syekh di sini membawakan sebuah contoh, sebuah kisah ya. Kata beliau hafidahullahu taala, qala Ibnu Rajabin. Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullahu taala menukil sebuah kisah dalam kitabnya Syarah Kalimatul Ikhlas. Ya, Imam Ibnu Rajab berkata, “Rowada rajulun imroatan fi falatin lailan faabad.” Satu hari ada seorang laki-laki yang apa ini? Membuj merayu.

Merayu seorang perempuan di tengah padang pasir yang sunyi di satu malam. Ya, tentu merayunya dalam mengajak perbuatan buruk. Tentu saja mengajak perbuatan zina. Waliyadubillah. Tapi perempuan tersebut enggan. Ya, dia orang yang beriman. Dia orang yang takut kepada Allah. faqala laha.

Maka laki-laki ini berkata kepadanya dalam rayuannya tadi dia berkata, “Ma yarona illal kawakib.” Ya, tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang di langit. Faqalat, maka perempuan ini berkata, “Faina mukaukibuha.” Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang di langit. Perempuan ini menjawab, “Kalau begitu, di mana pencipta bintang-bintang tersebut? Bukankah dia maha melihat?” Jadi, dia berdalil dengan sempurnanya penglihatan Allah untuk menolak perbuatan buruk tersebut.

Ini bukti bahwa keimanannya semakin kuat dengan dia meyakini sempurnanya penglihatan dan pengawasan Allah. Ya. A kata Imam Ibnu e kata Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala. Ai arti dari kisah ini ainallaha? Ainallahu ala yarona? Di manakah Allah? Bukankah dia melihat kita? halal ilmu hadbi wal wuku fi hadilah.

Maka ilmu ini yang mencegah perempuan ini untuk melakukan perbuatan dosa ini menjauhkannya dari terjerumus dalam kesalahan ini. Ya. Jadi, ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Kenapa selalu kita saya katakan tadi karena iman kita lemah, keyakinan kita lemah? Karena yang seperti ini kan memang Allah janjikan di dalam Al-Qur’an.

Memang ini adalah buah yang paling indah dari mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala. Kan kita semua pastinya yakin Al-Qur’an sebaik-baik petunjuk. Janji Allah tidak mungkin diingkarinya. Al-Qur’an ketika menurunkan ayat-ayat yang mayoritas isinya adalah tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, pasti tujuan utamanya adalah untuk perbaikan bagian yang paling besar, yang paling bermanfaat dalam iman kita dalam hal-hal yang seperti ini.

Berarti kalau kita misalnya mengaku sudah mengimani hal ini atau sudah mempelajarinya, tidak mungkin Al-Qur’annya yang salah. Iya kan? Pasti yang salah adalah ilmu kita yang mungkin lemah, keyakinan kita yang kurang. Mendalami tentang mengenal Allah juga belum kita sempurnakan pada diri kita.

Sehingga terbukti dengan lemahnya buah-buah yang tumbuh dari pohon iman tadi yang tumbuhnya pun pertumbuhannya tidak sempurna pada diri kita. Ya. Jadi ini menunjukkan tentang hal tersebut karena tidak mungkin kita akan menyalahkan petunjuk petunjuk Al-Qur’an yang pasti kebenarannya. Tib. Itu contoh yang kedua. Kemudian contoh sifat Allah yang lain kata Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala, waidza alimal abdu biannallaha ghaniyun karim barrur rahim wasi’ul ihsani Jika seorang hamba mengetahui dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa taala maha ghani, maha kaya, karim, maha pemurah,

barrur rahim, maha berbuat baik, maha penyayang, maha luas karunia kebaikannya, yakni sifat-sifat kebaikan Allah yang untuk nama-nama Allah yang menunjukkan sifat-sifat baiknya demikian. banyak dan bermacam-macam. Waahu tabaraka wa taala maaginahu an ibadihi fahua muhsinun ilaihim rahimun bihim yuridu bihimulir waaksifu anhumudur.

Dan bahwasanya Allah tabaraka wa taala itu padahal dia tidak butuh kepada hamb-Nya. Ini Allah azza waalla tidak butuh karena dia maha mulia tidak butuh tambahan kemuliaan. Dia tidak butuh untuk diibadahi. Kita yang butuh kepada ibadah. Jadi bersamaan dengan ketidakbutuhannya kepada hamba-hambnya, tapi dia tetap berbuat baik kepada mereka, menyayangi mereka, menginginkan kebaikan bagi mereka, menjauhkan mereka dari segala keburukan.

Laalbi manfaatin ilaihi minal abdi. Bukan karena Allah butuh untuk hamba berikan kemanfaatan baginya. Wtin juga Allah tidak butuh untuk hamba menjauhkan darinya madarat. Karena hamba tidak akan bisa melakukan itu. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri dia tidak bisa mencegah, apalagi untuk orang lain atau pihak yang lain.

Bal rahmatan minhu wa ihsanan. Bahkan semua ini Allah lakukan semata-mata karena rahmat dan kebaikan-kebaikannya. Fahua subhanahu lam yakluq khalqahu liatakaro bihim min qillatin. Ya, maka dia Allah subhanahu wa taala tidaklah menciptakan makhluk, tidaklah menciptakan manusia karena ingin memperbanyak pendukung yang tadinya sedikit.

W liyazza bih minadillah dan juga bukan untuk memuliakan dirinya yang tadinya rendah. Wala liyarzuquuhu wala liyanfauhu wala liyadfau anhu juga bukan supaya Allah mendapatkan rezeki dari manusia bahkan dialah yang memberikan rezeki kepada manusia bukan untuk mendapatkan manfaat dari mereka juga bukan untuk agar mereka membelanya karena Allah tidak butuhkan semua itu.

Dia maha kuat lagi maha perkasa. Dia yang menjaga dan tidak perlu dijaga. Ya kama qala taala sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala. Contoh di surat azzariyat ayat 56 sampai 58. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Maa uridu minhum mir rizqin widu ayutimun. Innallaha huwar rzaqu dul quwwatil matin.

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku semata-mata. Allah tegaskan, “Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka dan aku tidak menginginkan mereka memberi aku makan.” Allah maha kaya, maha tidak butuh kepada hal-hal itu. Makhluk yang miskin yang butuh makanan, yang butuh rezeki. Adapun Allah Subhanahu wa taala maha kaya pada zatnya, tidak butuh kepada apapun.

Ya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala dialah maha pemberi rezeki yang maha memiliki kekuatan almatin lagi maha kokoh. Ini sifat Allah Subhanahu wa taala. Kemudian di ayat lain surat Al-Isra ayat 111 dalilnya walilhamdulillahilladzi lam yattakid walada walam yakun lahu syarik walam yakun lahu syarikun fil mulki walam yakun lahu waliyum minadzulli waabbirhu takbiro dan ucapkanlah alhamdulillah segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak dan tidak ada baginya sekutu dalam kekuasaannya.

Dan tidak ada baginya wali penolong untuk menghilangkan kehinaan. Allah tidak butuh semua itu. Dan agungkanlah, besarkanlah nama Allah Subhanahu wa taala dengan sebesar-besarnya. Lihat Allah Maha Kaya tidak butuh. Dia berbuat baik semata-mata karena rahmat dan kasih sayangnya. dalam keadaan dia tidak butuh kepada ibadah manusia.

Orang bersyukur bukan karena Allah butuh terima kasih, tapi syukur itu untuk pahala bagi manusia sendiri. Waman syakaro fainnama yaskuru linafsih. Barang siapa yang bersyukur maka itu dia melakukan itu semata-mata untuk kebaikan dirinya. Syukur itu untuk kebaikan dirinya. Kemudian waqala taala f Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis qudsi Allah subhanahu wa taala berfirman, “Ya ibadi innakum lan tabl nafuni walan tablri fataduruni rawahu muslim.

” Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian tidak akan bisa mencapai kemanfaatan untuk memberi manfaat kepadaku dan kalian tidak akan bisa mencapai kemadaratan untuk memberikan madarat kepadaku. Jadi maksudnya Allah tidak butuh balasan dari manusia. Ini murni kasih sayang dan rahmatnya. Yakni masyaallah Allah Subhanahu wa taala sebaik ini, sesempurna itu kebaikan-kebaikannya.

Ya, kalau kita renungkan pasti akan menjadikan kita semakin berharap kepada Allah, semakin cinta kepada Allah, semakin selalu memujinya dan menjadikan kita ya semakin meyakini bahwa kasih sayang Allah Subhanahu wa taala benar-benar sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, arhamu biadihi sungguh Sungguh-sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hambanya dibandingkan sayangnya seorang perempuan, yakni seorang ibu kepada anak bayinya.

Kata beliau, “Faid alimal abduika fi quat quat billah.” Kalau seorang hamba meyakini hal ini, itu akan membuahkan dalam hatinya apa? Pengharapan yang kuat kepada Allah. Rajak yang kuat kepada Allah. Bahkan dia tidak akan berharap kepada makhluk. Sekarang kalau kita pertimbangkan makhluk dia berbuat apapun kepada kita pasti karena ada kebutuhannya.

Ya. Cuma kalau orang-orang yang ikhlas kan kebutuhannya adalah untuk urusan agama. Ada orang yang mendakwahi kita dengan semangat. Dia tidak butuh urusan dunia mungkin balasan dunia dari kita. Tapi kan dia butuh pahala. Iya kan? Butuh balasan di sisi Allah. Tetap makhluk itu ada kebutuhannya. Karena makhluk tidak mah tidak maha kaya, tidak maha cukup pada dirinya.

Yang memiliki sifat itu cuma Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Jadi menjadikan kita ini menjadikan kita hanya berharap kepada Allah dan berputus asa ketika berharap kepada makhluk. Nam watahu f indahu. Menjadikan makhluk ini semakin bersemangat mengejar karunia di sisi Allah. Wa inzala jami hawaijihi bihi dan menempatkan menghadapkan segala hajat dan kebutuhannya hanya kepada Allah subhanahu wa taala semata-mata.

Wahaihi ilaihi wahtiajihi ilaih. Serta menampakkan rasa butuhnya, miskinnya, kekurangannya dan rasa butuhnya hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan kita tahu ini ya, sifat seperti ini sendiri sudah merupakan sebab yang menyempurnakan penghambaan diri kita kepada Allah. Kan sudah kita jelaskan apa maknanya ibadah.

sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan ketika kemanisan dan kenikmatan iman itu telah merasuk dan menyatu di dalam hati manusia. Ini perbaikan inti kebaikan ini yang menjadikan istiqamah. Namib. Ya ayyuhannasu antumul fuqaru ilallahi wallahu huwal ghaniyul hamid. Ini makna firman Allah di surat Fatir ayat ke-15.

Wahai sekalian manusia, kamu adalah hamba-hamba yang miskin, fakir, butuh kepada Allah. Sedangkan Allah dia maha kaya, maha tidak butuh kepada siapapun lagi maha terpuji. War ymiru anwaal ubudiyati wal batinati bihasabi makrifatil abdi wa ilm. sementara Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

singkat aja i ini ee saya baru mencoba untuk belajar Pak Ustaz ee untuk mendekat lebih ee kepada Allah Subhanahu wa taala ee di mana saya sering di apa namanya salah satu pertanyaan sekarang yang masih ada di kepala saya adalah bagaimana caranya memahami ee surah Azzariyat itu ya ee Ustaz ee 58 59 bahwa ee tidaklah kuciptakan manusia kecuali hanya beribadah kepadaku.

dengan kehidupan saya sekarang ini. Saya masih apa namanya ee dibebani oleh ee beberapa urusan dunia yang mungkin harus saya kejar sementara S3 juga ee ee apa namanya ee mendekatkan diri kepada Allah untuk beribadah supaya lebih tenang aja, Pak Ustaz. Jazakallah Ustaz Makasih. Tib. Barakallahu fik. Pertanyaan yang sangat baik dan sangat bermanfaat sekali dari beliau yang bertanya ya.

melimpahkan taufik, kebaikan, dan keberkahan bagi beliau yang bertanya dan bagi kita semua. Tentu saja ee makna dari firman Allah Subhanahu wa taala yang tadi juga kita bacakan di surat Azzariyat. W khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Tidaklah Allah, tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku semata-mata.

penciptaan manusia, jin dan manusia adalah agar mereka mewujudkan penghambaan diri, yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan ini bukan sekedar hanya tujuan, tapi sekaligus juga ini sebab mereka akan merasakan kebahagiaan di dunia ini. Kita tadi sudah bahas Allah Subhanahu wa taala sifat-sifat kebaikannya demikian banyak.

almuhsin maha berbuat baik. Albar maha baik. Kemudian belum lagi aljawad maha dermawan, alkarim maha pemurah. Alwahab maha pemberi karunia. Almanan maha pemberi anugerah. Masyaallah. Banyak yang berhubungan dengan makna kebaikan. Belum lagi yang yang rinci orang yang berbuat dosa Allah subhanahu wa taala tidak jauhkan dia, tapi Allah beri kesempatan dia untuk bertobat. Allah memiliki nama-nama yang berhubungan dengan tobat.

maha penerima tobat. Ini semua adalah menunjukkan sempurnanya kebaikan dan kasih sayang Allah Subhanahu wa taala. Maka zat yang seperti ini kebaikannya kan tidak mungkin. Dia mensyariatkan dalam agama sesuatu yang mempersulit hamba-hambanya. Justru kita akan sulit dalam kehidupan kita ketika jauh dari agama. Sekarang dunia ini siapa yang miliki? Allah.

Kebaikan itu di tangan siapa? Di tangan Allah. Maka semua kebaikan dan Allah maha mengetahui kebutuhan manusia terhadap kebaikan tersebut Allah turunkan dalam agamanya. Makanya segala bentuk kebaikan, ketenangan, hidup, kebahagiaan hanya ada pada agama ini. Semakin hamba dekat dengan agama, semakin dia mempelajari agama, semakin sempurna dia memahami agama, maka semakin sempurna terkumpul kebaikan pada dirinya. Itulah makna firman Allah Subhanahu wa taala di surat Al-Anfal ayat ke-24.

Ya ayyuhalladzina amanustajibu lillahi walirasuli idza daakum lima yuhyikum. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan panggilan Rasul-Nya yang mengajak kamu untuk memberikan menyempurnakan kebaikan dalam hidupmu. Ya, makanya urusan-urusan dunia kita yang kita kejar pertama kalau betul kita kejar ya dengan kita berambisi mengajarnya tidak akan bertambah karena semua ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Bukan berarti kita bermalas-malasan, tidak.

harus yakini ini. Ambisi bertambah bukan berarti bertambah bagiannya. Tidak. Karena tidak akan bertambah ketentuan yang telah Allah takdirkan bagi manusia. Tetapi urusan dunia kalau kita lakukan sesuai dengan kebutuhan, tidak melalaikan agama, tetap kita bertawakal kepada Allah, kemudian melakukan usaha tentu usaha yang halal, usaha yang dibolehkan dalam agama. Ini justru yang akan menjadikan hasil yang kita dapatkan sudah baik.

Kemudian dijauhkan dari kelalaian, diberkahi oleh Allah subhanahu wa taala, dihindarkan dari fitnahnya. Ini justru yang akan mendatangkan kebaikan. Ya, makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim bersabda,” aflaha aslama waruziq kafan waqahu sungguh beruntung, sungguh sukses dalam artian yang sesungguhnya orang yang masuk Islam diberikan rezeki yang secukupnya dan Allah jadikan dia qanaah menerima apa yang Allah Subhanahu wa taala berikan untuknya.

tetap saja kita lakukan usaha kita dalam urusan dunia, tapi jangan menjadikan porsi agama kita berkurang. Jangan menjadikan kita lalai dari mengingat Allah. Jangan kita anggap ya ambisi kita dalam mengejar sesuatu dari urusan dunia ini akan menjadikan kita yakni kaya. Jawabannya ini sama sekali tidak. Bahkan orang yang kelihatan punya harta yang berlimpah pun kalau tidak tenang hidupnya maka dia tidak akan bisa merasakan kekayaan dalam artian yang sesungguhnya karena hidupnya selalu merasa kurang, merasa tidak cukup, tidak berkah hartanya. Justru ini yang merupakan penderitaan yang sesungguhnya

bagi hamba tersebut. Ada hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Laisal ginailard wa inamal gina ginan nafs.” Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya harta benda, tapi kekayaan itu adalah diukur dengan kecukupan di dalam hati kita, merasa cukup yang ada di dalam di dalam jiwa kita. Nah, barakallahu fik.

Bab. Kalau sudah cukup pertanyaannya, maka kajian kita di kesempatan sore hari ini kita cukupkan. Semoga bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam. Amdulillahbilamin. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik.

Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. B


Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *