Kitab Riyaadhus Shaalihin – Ust. Abdullah Taslim Lc. MA

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • alladzi hum fihi mukhtalifun kalla say’lamun tumma kalla say’lamun alam naj’alil ardha mihada wal jibala autada suratul hajah dan itu sering kita dengarkan di pembukaan khotbah. Fainna asdaqal hadisi kitabullah wahairol hadi hadyu Muhammadin sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan, sejujur-jujur perkataan adalah kitabullah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
  • Maka tentu sebaik-baik cara untuk kita bisa mengambil kebaikan besar ini dengan tentu dengan mempelajarinya membaca ayat-ayat Al-Qur’an kemudian menjelaskan kandungan maknanya sebagaimana yang ditafsirkan. oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Demikian pula mengkaji hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan menjelaskan kandungan maknanya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah.
  • Ingat kembali makna firman Allah Subhanahu wa taala di dalam Al-Qur’an di surah Al-Anfal. Ya ayyuhalladzina amanuta lillahi walirasuli idza daakum lima yuhyikum. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan panggilan Rasul-Nya yang mengajakmu untuk memberikan kebaikan dalam hidupmu.” Ayat ini diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Al-Fawaid bahwa kebaikan hidup yang benar-benar akan menjadikan bermanfaat, menjadikan lurus, menjadikan nikmat dan bahagia hidupnya seorang muslim itu ada
  • pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. yang berarti semakin banyak kita pahami dan kita amalkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam hidup kita, semakin besar bagian kebaikan yang akan kita rasakan. Ini kita harus yakini. Jadi masalah apapun yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia, masalah apapun yang kita hadapi dalam hidup di dunia ini, bahkan termasuk hidup di akhirat, dalam perjalanan kita di akhirat, sumber utamanya adalah karena kita jauh dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
  • Maka ini kesempatan bagi kita ya di saat-saat kita dibukakan hati untuk mengenal manhaj salaf, memahami Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Di saat-saat kita dimudahkan taufik untuk bisa mengkaji kitab-kitab para ulama. Bahkan kitab-kitab mereka sudah banyak yang diterjemahkan.
  • Subhanallah. lebih daripada itu, kita dimudahkan untuk menjalankan menuntut ilmu, mengambil kebaikan ini di tempat-tempat yang saat ini dimudahkan dengan berbagai macam fasilitas. Kita ada di masjid yang beralas karpet, yang ada AC-nya, kemudian ada teman-teman yang juga datang dengan penampilan yang sama-sama serius dan sungguh-sungguh insyaallah seperti kita.
  • Ini kan motivasi tersendiri dalam kebaikan yang kalau kita bandingkan di zaman para ulama salaf dulu mereka harus berlari ke sana kemari dalam situasi yang terik. Kadang-kadang tempatnya juga tentu tidak seperti tempat yang ada saat ini misalnya. Ini nikmat dari Allah Subhanahu wa taala yang kita akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat nanti kalau tidak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
  • Bagaimana keutamaan orang yang mengadakan pengajian di masjid dari masjid-masjid Allah? Kita semua tahu dalam hadis riwayat Imam Muslim ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Majtamaa kaumun fi baitin min buyutillah yaqraunal quranaahu bainahum illaumahmatu nazalat alaihimakinahmatuahuah tidaklah satu kaum, sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah di masjid ya yang tujuannya untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajari kandungan maknanya termasuk sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Karena sunah adalah yang menjelaskan makna Al-Qur’an kecuali akan mereka akan turun kepada mereka ketenangan dari sisi Allah. Mereka akan diliputi dengan rahmat-Nya. Kemudian mereka akan dilingkupi oleh para malaikat karena kecintaan para malaikat terhadap orang-orang yang selalu menuntut ilmu agama.
  • Dan mereka akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa taala di hadapan makhluk-makhluk yang mulia di sisinya. Jemaah sekalian hafidakumullah, menuntut ilmu ini adalah sunah terbesar, termasuk sunah terbesar yang ditinggalkan oleh para ulama salaf. Kan sudah sering kita jelaskan ya, manhaj ahlusunah wal jamaah sangat berbeda dengan metode pemahaman atau manhaj yang menyimpang dari sunah.
  • Di antara sebab terbesarnya setelah taufik dari Allah, karena mereka tidak memotivasi diri untuk rajin menuntut ilmu. Bahkan banyak di antara mereka yang mengatakan kalau kita mempelajari perkara-perkara yang berhubungan dengan misalnya ya di dalam kitab Riyadus Shihin ada kitabul fadil, penjelasan tentang keutamaan-keutamaan amal.
  • Sebagian dari orang-orang yang menyimpang, tidak menghargai ilmu mengatakan itu pelajaran cuma kulit-kulitnya saja. Kita mau intinya. Masyaallah. Agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala dibawa oleh malaikat yang mulia, malaikat Jibril disampaikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Terus dikatakan ini hanya kulit bukan inti agama. Bukankah justru orang ini dengan pernyataan tadi berarti merusak inti agama dalam dirinya yaitu menghargai agama Allah Subhanahu wa taala. Bukti ketakwaan itu adalah dengan menghargai agama, memuliakan agama, memuliakan perintah dan larangan Allah.
  • Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an dzalika wam yuadzim syaairallahi fainnaha min taqwal quluba. Di surat Alhaj. Demikianlah. Dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, mengagungkan syariat, mengagungkan perintah dan larangan Allah, maka itu adalah timbulnya dari ketakwaan yang terdapat di dalam hati manusia.
  • Para ulama salaf, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dimuliakan oleh Allah karena mereka ketika mengamalkan agama ini bukan mempertimbangkan, “Oh, ini wajib, ini tidak wajib. Jadi kita semangat yang wajib saja. Yang tidak wajib kan boleh ditinggalkan. Meskipun memang itu betul. Yang tidak wajib ya tidak berdosa kalau kita tidak lakukan.
  • Tetapi ketika ada penghargaan di hati terhadap agama Allah, perkara yang tidak wajib pun ketika kita tahu itu dicintai oleh Allah, dianjurkan. Artinya Allah mencintainya, ini akan mereka berlomba-lomba lakukan sebagaimana mereka semangat melaksanakan yang wajib. dalam artian semangatnya. Ya, itu yang diterangkan oleh para ulama salaf.
  • Ada penjelasan dari Imam Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari ketika mensyarah menjelaskan makna hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Man ragiba an sunnati falaisa minni.” Siapa yang tidak suka dengan sunahku, maka dia bukan termasuk golonganku, bukan termasuk umatku.
  • Sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam kan bukan cuma yang wajib, ada juga yang bersifat anjuran. Ya, bahkan ada yang mubah perbuatan yang dikerjakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kata para ulama, kalau kita laksanakan dalam rangka cinta kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam itu bernilai pahala dan ibadah.
  • Yang seperti ini yang mereka anggap sebagai kulit, bukan inti agama. Ini justru menunjukkan kejahilan terhadap ya petunjuk para salaf bagaimana mereka mengagungkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang tidak suka dengan sunahku, dia bukan termasuk golonganku.
  • Kata para ulama, orang yang meninggalkan sunah ya hanya sekedar tidak mau mengamalkannya. Ini menunjukkan kanaalika naqson fi dini. Menunjukkan kekurangan dalam agamanya. Tetapi kalau dia meninggalkannya dalam rangka meremehkan atau melecehkan sunah maka itu justru menunjukkan fisik kerusakan dalam agamanya. Jadi maksudnya di sini jemaah sekalian hafidakumullah, salah satu di antara yang menjadi sebab seseorang itu ya berpaling dari Islam adalah karena meremehkan agama, tidak perhatian sama agama.
  • Sunah terbesar yang kalau kita baca biografi para ulama salaf. Coba antum perhatikan setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam wafat, bukankah para sahabat mengetahui keutamaan tinggal di Madinah? Yang kalau orang wafat di Madinah itu dijamin mendapatkan syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi apakah para sahabat semua menetap di Madinah? Jawabannya tidak.
  • Mereka berpencar ke negeri-negeri kaum muslimin karena mereka sudah mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari Nabi sallallahu alaihi wasallam yang merupakan sebaik-baik pembimbing, sebaik-baik penasehat, sebaik-baik guru yang mengajarkan ilmu kepada para muridnya. Yang Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda di hadapan para sahabat, “Ana lakum bimanzilatil walidi uallimukum.
  • ” Aku ini adalah kedudukanku seperti orang tua yang mengajarkan ilmu kebaikan kepada kalian. Setelah mereka mengambil ini semua, setelah wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam keadaan mereka tahu keutamaan tinggal di Madinah, tapi mereka berpencar bukan karena benci kepada Madinah, bukan karena seperti yang akan terjadi di akhir zaman orang-orang yang meninggalkan kota yang mulia ini.
  • Yang ketika itu Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wal Madinatuir lahum lau ylamun.” Dan kota Madinah itu lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahuinya. Bukan karena ini. Mereka meninggalkannya karena mengetahui ada yang lebih utama yaitu menyebarkan sunah di muka bumi. Menyebarkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Ini adalah keutamaan yang paling besar. Lihatlah seperti sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu, Abdullah bin Mas’ud, Abu Mus al-Asy’ari yang kemudian tinggal di Kufah. untuk menyebarkan ilmu. Di sana ada sahabat yang ke tempat lain tentu ada yang ke Makkah, ada yang ke Basrah, ada yang ke Mesir dan yang lainnya untuk menyebarkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Ini biografi para sahabat. Kemudian berdatangan para tabiin, sahabat-sahabat yang mulia, Pak apa ini? yang mengambil ilmu dari para sahabat yang mulia radhiallahu taala anhum ajmain. Ya, setelah di Madinah ada Imam Said Ibnu Musayyab, Sulaiman Ibnu Yasar, Urwah Ibnu Zubair ya Abu Salamah Ibnu Abdurrahman ibnu Auf, Al-Qasim Ibnu Muhammad Ibnu Abu Bakar Assiddiq dan para ulama yang lainnya yang belajar di Madinah.
  • Kemudian ada ya di Makkah. Kemudian di kota-kota yang lainnya ada ulama-ulama besar di zamannya seperti Al Imam Al-Han Albashri. Kemudian ada Imam Muhammad Ibnu Sirin, Atha Ibnu Abi Rabah, Tsabit Ibnu Aslam Albunani dan yang lainnya. Setelah itu muncul para tabiu tabiin di antaranya Imam Malik, Sufyan, Asauri, Sufyan Ibnu Uyainah, Abdullah Ibnu Mubarak, Fudhail Ibnu Iyad rahimahumullahu taala.
  • Kemudian muncul generasi seterusnya, generasi berikutnya sampai kemudian lahirlah para penulis hadis, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Annasai, Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah. Kemudian lanjut setelah mereka ada Imam Addara Qutni, Imam Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan seterusnya.
  • Baca biografi mereka apa yang mereka lakukan sehari-hari. Yang sudah pernah kita jelaskan inilah memperjuangkan Islam yang sesungguhnya. Mereka bukan orang yang sibuk bicara masalah politik, apalagi sibuk membicarakan tentang kejelekan pemerintah. Mereka bukanlah orang yang membikin fitnah di sana sini, tapi mereka adalah orang yang mengetahui sumber kebaikan itu adalah dengan menyebarkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Sumber kebaikan itu adalah dengan menyambung mata rantai penyebaran kebaikan. Setelah malaikat Jibril alaihialatu wasalam Allah muliakan sebagai malaikat yang paling mulia. Karena tugasnya adalah tugas yang paling mulia menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan para rasul. Kemudian para nabi para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam menjadi manusia yang paling mulia.
  • Karena tugas mereka adalah menyampaikan wahyu Allah kepada semua manusia. Setelah itu di kalangan manusia Allah memilih orang-orang yang menyebarkan, belajar agama dan menyebarkan agama sebagai hamba-hamba yang paling mulia. Dan sunah yang paling utama yang mereka sebarkan tentu adalah sunah tentang tauhid. Mengenal kalimat lailahaillallah, mengesakan Allah subhanahu wa taala dalam beribadah semata-mata dan tidak menyekutukannya.
  • Coba lihat firman Allah Subhanahu wa taala ketika memuji makhluk-makhluk ini. Syahidallahu annahu la ilaha illa hua wal malaikatu wa ulul ilmi qoiman bilqist. Allah bersaksi, Allah mempersaksikan bahwasanya tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia. Dan para malaikat juga mempersaksikan ini.
  • Kemudian orang-orang yang berilmu dan Allah persaksikan ini dengan menegakkan keadilan. Di kalangan manusia hanya disebutkan orang-orang yang berilmu yang diterima persaksiannya untuk menyaksikan kalimat yang paling besar, kalimat lailahaillallah. Karena kalimat ini tidak akan bisa dipersaksikan dengan benar, dipahami dan diamalkan dengan benar kecuali dengan menuntut ilmu.
  • Makanya orang-orang yang berilmu yang yang diambil persaksiannya setelah persaksian para malaikat dan persaksian mereka digandingkan dengan persaksian Allah. Ya, makanya orang-orang yang berilmu di kalangan manusia kedudukannya paling tinggi. Sudah pernah kita sebutkan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Miftahu dari Saadah pernah mengatakan, “Man thaabal ilma liyuhyi bihil Islam fahua minasiddiqinauhu ba’da daratin nubuwah.
  • ” Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menegakkan Islam, mengamalkan Islam dengan benar, maka dia termasuk golongan orang-orang siddiq. Antum tahu siddiq kan? Kedudukan setelah para nabi dan para rasul. Penuntut ilmu yang jujur dalam niatnya. Kata beliau, “Fahua minasiddiqinojatuhu ba’da darajatin nubuwah.” Ya, maka dia termasuk orang-orang yang siddiq yang derajatnya, tingkatannya adalah setelah tingkatan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam.
  • Kita pernah jelaskan mungkin kalau saya tidak salah ingat ya, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala ketika menjelaskan kedudukan-kedudukan mulia dalam agama itu selalu beliau kaitkan dengan menuntut ilmu. Selalu dengan menuntut ilmu. Contohnya ketika beliau menafsirkan wali Allah di hadis yang terkenal hadis wali ya manali walian faqod aantuhu bil harb.
  • Barang siapa yang mengusuhi waliku maka aku telah mengumumkan menyatakan peperangan kepadanya. Kata beliau, waratul anbiyai hum sadatu auliyaillahi azza waalla. Pewaris para nabi. Siapa mereka? Yang belajar ilmu yang diwariskan oleh para nabi, belajar sunah. Mereka ini adalah pimpinan para wali-wali Allah subhanahu wa taala.
  • Ya. Jadi wali yang paling tinggi pimpinan para wali itu adalah orang-orang yang belajar sunah. Karena merekalah yang disebut sebagai waratul anbiya. Ingatkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam Sunan Tirmidzi yang derajatnya dinyatakan hasan oleh Syekh Albani rahimahullah taala.
  • Innal anbiyaam yuwar dinaron w dirhaman wa inama warul ilmaan akahu akadin wafir. Sesungguhnya para nabi adalah para nabi orang-orang yang berilmu adalah pewaris para nabi, ahli waris para nabi. Karena para nabi tidak mewariskan uang emas juga tidak uang perak. Tapi yang mereka wariskan adalah pemahaman ilmu agama yang benar. Maka barang siapa yang mengambil warisan ini, berarti dia telah mengambil bagian yang sempurna, bagian yang banyak dari kebaikan.
  • Nah, karena ini diketahui oleh para ulama salaf, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain, para ulama ahlusunah wal jamaah yang mengikuti mereka dengan baik, makanya mereka tidak memilih jalan lain selain jalan ini. Baca biografi Imam As-Syafi’i. Sebelumnya Imam Malik guru beliau. Baca biografi Imam Abu Hanifah.
  • Sebelumnya para ulama dari kalangan tabiin ataupun tabiu tabiin Sufyan Asauri, Sufyan Ibnu Uyainah, Imam Malik bin Anas. Baca biografi para tabiin yang tadi kita sebutkan. Alhan Albashri, Muhammad Ibnu Sirin ya, Arrabi Ibnu Khutim, Al Masruk Ibnu Ajda. Baca biografi mereka. Apa yang mereka lakukan sehari-hari? menuntut ilmu, belajar hadis dari para sahabat.
  • Para tabiin mempelajari dari para sahabat. Kemudian para tabiut tabiin mempelajari dari para tabiin. Terus sampai di akhir zaman, sampai sekarang orang-orang yang sering kita sebut namanya dalam masalah menjelaskan agama apa yang mereka lakukan. Syekh Abdul Aziz bin Bas rahimahullahu taala, Syekh Albani rahimahullahu taala, Syekh Muhammad bin Shh Al Utsaimin.
  • Sampai sekarang yang mengikuti jalan mereka, Syekh Sh Fauzan Alfauzan, Syekh Abdul Muhsin Al Abbad dan para ulama yang lain. Masyaallah hafidahumullahu taala yang masih hidup di antara mereka. Apa yang mereka lakukan? Belajar agama, mengkaji hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, antum mungkin ketahui, silakan kalau ada yang pergi umrah berkesempatan untuk duduk di mendengarkan suara-suara yang disebutkan ada pengajian di Masjidil Haram, Masjid Nabawi.
  • Apa yang mereka baca? Hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam atau kumpulan-kumpulan hadis. Sampai saat ini Syekh yang paling senior di Madinah masih mengulang-ulang membaca Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan An-Nasai, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah. Selesai. Dimulai lagi dari awal. Ya, daurah-daurah masih tetap membahas ushul salatah, kitabut tauhid, kasyful syubhat, al-aqidatul wasitiah, akidah thahawiyah.
  • Ini yang dibahas kitab-kitab akidah para ulama. Karena inilah warisan yang paling besar dari ulama salaf. Dan inilah cara kita tadi menyempurnakan kebaikan petunjuk dalam diri kita. Ya, ingat ketika Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda dalam hadis yang kita sudah sebutkan sebagai hadis yang mutawatir yang sangat banyak jalur periwayatannya.
  • Diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Nadallahu sami maqati fawaaha wafidaha waaha kama samiaha.” Semoga Allah menjadikan indah ya, menjadikan apa ini? putih berseri elok wajah orang yang mendengarkan ucapanku kemudian memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya kepada yang lain.
  • Didoakan kebaikan seperti ini. Kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, kebaikan ini adalah pancaran ee gambaran yang terlihat pada fisik orang yang selalu belajar hadis yang itu bersumber dari kebaikan dalam imannya, kebaikan dalam batinnya. Masyaallah. Ini doa dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Dan para ulama menyebutkan doa ini menjadi kenyataan. Ya, kita ingat waktu kita bahas kitab Fadlul Islam ya, kitab Fadlul Islam. Kenapa para ulama ketika menafsirkan atau bahkan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma menafsirkan makna ayat Al-Qur’an di surat Ali Imran. Yaad wujuhuaswadu wujuh.
  • Pada hari kiamat nanti ada wajah yang putih berseri-seri, ada wajah-wajah yang hitam legam. Apa kata Ibnu Abbas radhiallahu taala anhu ketika menafsirkan ayat ini? Dinukil dalam kitab itu juga ada dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullahu taala. Beliau mengatakan wujuh ahli sunati wal jamaah wataswadu wujuhu ahlil bid wal furqah. Yang akan putih berseri-seri adalah wajah ahlusunah wal jamaah.
  • Dan yang hitam legam adalah wajahnya ahlul bidah dan orang-orang yang suka memecah belah agama yang tidak mau mengikuti jemaah para sahabat, jemaah kaum muslimin, ya para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Karena memang didoakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam wajah mereka cerah disebabkan mempelajari sunah.
  • Maka di akhirat mereka mendapatkan balasan yang sama dijadikan putih berseri wajah-wajah mereka. Ini semua dengan taufik dari Allah kita dapatkan. Dengan menghidupkan sunah selalu membaca, mengkaji hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Makanya ya termasuk juga yang ditafsirkan oleh para ulama tentang makna hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Hadis yang juga menyebutkan keutamaan orang yang menuntut ilmu dalam faedah yang didapatkan oleh semua manusia jin, bahkan semua makhluk. Hadis ini juga dinyatakan hasan atau sahih oleh para ulama. Yaitu ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wa inalimafiru lahu man fisamawati w fil ardhi hattaanul bahri wta namlatu fi juhriha.
  • ” Dalam riwayat lain, “Sungguh orang yang berilmu yang menyebarkan ilmu agama akan selalu didoakan kebaikan dimintakan ampun oleh semua makhluk yang ada di langit yakni para malaikat dan ada di bumi. Jin dan manusia mendoakan kebaikan. Ah, orang-orang yang baik akan mendoakan kebaikan untuk mereka sampaiun semut-semut di dalam lubangnya sampai ikan di lautan.
  • Kenapa? Tersebarnya sunah itu adalah jadi sebab terbukanya pintu-pintu rahmat Allah, pintu-pintu keberkahan di muka bumi ini. Dan siapa yang mengusahakan ini? Penuntut ilmu. Siapa yang akan selalu menyebarkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, menyebarkan tauhid, mengajak manusia kembali kepada kebaikan, menyebarkan ceramah-ceramah yang bermanfaat, penuntut ilmu.
  • Karena dalam rangka bersyukur kepada Allah, makhluk-makhluk ini sampaiun semut, sampaiun ikan di lautan dalam rangka mereka bersyukur kepada Allah, mereka ingin ingin mewujudkan terima kasih kepada orang-orang yang menjadi sebab tersebarnya petunjuk Allah di muka bumi ini sehingga turun keberkahan, bencana menjadi berkurang, hujan ketika turun juga hujan yang bermanfaat.
  • Dalam rangka mengungkapkan syukur ini, mereka mendoakan kebaikan dan memohonkan pengampunan kepada Allah bagi mereka-mereka yang menyebarkan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam ya dengan cara menyebarkan ilmu agama ini. Makanya ini adalah sekali lagi kita katakan merupakan sunah yang paling besar. Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah ya, kita belajar hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Kita mengkaji kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, atau kita baca kumpulan-kumpulan hadis seperti kitab Riyadus Shihin ya. Yang kitab Riyadus Shihin ini adalah termasuk tulisan Imam an-Nawawi yang sangat terkenal di hampir setiap masjid. ada pembahasan atau paling tidak kitab ini ataupun terjemahannya kumpulan hadis-hadis yang sahih atau kitab misalnya kitab dalam fikih Bulughul Maram, Umdatul Ahkam dan yang lainnya ini masyaallah perbendaraan yang sangat berharga yang ada di akhir zaman.
  • Wallahi yang akan menetapkan langkah kita dengan taufik dari Allah untuk bersabar meniti jalan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain adalah kalau kita bersabar mengkaji kitab-kitab seperti ini, memahami dan berusaha mengamalkannya. Dan kita harus ingat jemaah sekalian hafidakumullah sudah pernah kita sebutkan juga belajar sunah, belajar hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam di situ terkandung dua faedah.
  • menguatkan ilmu kita sehingga kita punya argumentasi yang kuat di hadapan Allah Subhanahu wa taala sekaligus membimbing kita dalam beramal. Sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam dikatakan sebaik-baik petunjuk. Bukan hanya sekedar meninggikan ilmu, menguatkan wawasan. Lebih daripada itu kita akan terbimbing semangat menjalankan agama.
  • Kan sudah pernah kita sebutkan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam itu dipuji dalam Al-Qur’an karena terkandung dua bimbingan di dalamnya. Bimbingan dalam ilmu, bimbingan dalam amal. Dengan dalil firman Allah di surat Annajm ayat yang kedua. Maolla shahibukum w gwa. Sahabat kalian yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
  • Beliau tidak tersesat dan tidak menyimpang. Ya, kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, dinafikannya algwayah, algwayah atau alghayyu. Karena alghayi ini adalah lawan daripada arrusydu. Berarti pada diri Nabi sallallahu alaihi wasallam ada arrusd, bimbingan dalam mengamalkan ilmu. Orang yang belajar sunah pasti semangat mengamalkan agama kalau dia ikhlas dalam mempelajarinya.
  • Kalau dia benar dalam cara mempelajarinya. Kemudian maolla tidak tersesat. Dolla ini adalah sesat dalam ilmu lawannya adalah al-huda. Berarti orang yang belajar sunah ilmunya akan lurus. Tidak ada syubhat, kerancuan padanya. Ilmunya akan kokoh. Dan terbukti siapa yang pertama kali mempelajari sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan ikhlas, dengan metode yang benar? Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Mengambil sebaik-baik petunjuk dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadilah mereka generasi yang paling kuat ilmunya, paling sempurna dalam beramal. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain ya Allah subhanahu wa taala menyebutkan mereka kita sudah tahu banyak ayat Al-Qur’an memuji keimanan mereka.
  • Lihat generasi yang datang setelah para sahabat. Lihat mereka dalam beramal. Lihat mereka dalam semangat kuatnya hafalan dalam menyampaikan ilmu. Dalam mengamalkan agama dalam mengamalkan agama. Lihat tokoh-tokoh para sahabat yang utama. Imam Muhammad Ibnu Sirin yang sudah pernah kita sebutkan dalam biografinya dipuji.
  • Dia pedagang di pasar ya. Kata salah seorang muridnya, “Ma roahu ahadun illaakarallah azza waalla.” Tidak ada seorang pun yang melihat Muhammad Ibnu Sirin kecuali orang itu pasti akan ingat Allah Subhanahu wa taala. Ini ciri-ciri wali Allah. Berdagang di pasar tapi tidak lalai. Orang melihatnya akan ingat Allah.
  • Ini luar biasa ya. Sebagian dari murid Ibnu Mas’ud yang bernama Arrabi Ibnu Khutim dipuji oleh gurunya sendiri dengan mengatakan, “Lau roaka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam la ahabbaka.” Seandainya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melihatmu, pasti dia akan mencintaimu. Yakni seorang yang taat beribadah, hafalan hadisnya kuat selalu nomor satu dalam periwayatan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
  • Ternyata dalam masalah amal juga mereka luar biasa. Ya, ini semua sifat-sifat para ulama tersebut ya. Imam Alhan Albashri disebutkan dalam biografinya dalam sebuah pujian yang panjang salah seorang mengatakan fihim. Tidak mungkin satu kaum akan tersesat kalau orang seperti beliau tinggal di kalangan mereka.
  • Ini karena apa? Karena ilmu dan amal setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Maksudnya yang seperti ini kita baca dalam biografi ulama salaf mereka dapatkan dari mana? Setelah taufik dari Allah. Karena keberkahan belajar sunah. karena keberkahan belajar agama. Jadi benar-benar sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Man yuridillahu bihi khairon yufaqqihu fiddin.
  • ” Inilah buktinya. Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, Allah jadikan dia paham dalam agama. Ini sudah jalannya. Tinggal kita berusaha memperbaiki niat kita, memperbaiki cara belajar kita sungguh-sungguh berdoa kepada Allah agar dianugerahkan ilmu yang bermanfaat. Ya, kalau tidak salah ingat saya pernah nukilkan pernyataan dari Imam Al-Han Albashri ketika mensifati belajarnya para ulama dulu ketika mereka belajar dari para sahabat beliau berkata, “Kana rulun minna taallam hadit falam yalburika fiuihi wasamtihiani
  • dulu ada salah seorang di antara kita dulu salah Salah seorang di antara kami kalau dia mulai belajar sunah, belajar hadis, maka ditunggu tidak lama lagi perubahannya akan terlihat meningkatkan khusyuknya dalam ibadah, merubah tingkah lakunya menjadi lebih baik, merubah pandangan matanya menjadi lurus, pendengarannya dan ee lisannya, ucapan lisannya menjadi mengucapkan hal-hal yang baik dan perbuatan tangannya.
  • ini perbuatan semua anggota badannya. Ini mereka belajar seperti itu dulunya karena yang mereka pelajari kebaikan dan pembimbing mereka adalah orang-orang yang terbaik. Maka jadilah generasi yang terbaik juga yang lahir dari tangan mereka-mereka ini tentu semua dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala. Yang jelas yang kita ingin sebutkan sebabnya adalah karena mereka belajar sunah.
  • Sebab itu sekarang masih kita miliki dan akan terus terjaga. sampai di akhir zaman. Kenapa sunah Al-Qur’an dan sunah selalu dijaga sampai di akhir zaman? Karena Allah Subhanahu wa taala ingin menjadikan ini sebagai argumentasi supaya tidak ada alasan bagi manusia. Karena Allah Subhanahu wa taala senantiasa menjadikan ya dari setiap generasi itu orang-orang yang terbaik yang akan membela agama, yang akan selalu menegakkan agama sampai di akhir zaman.
  • Kan sudah pernah kita bahas atifatul mansurah. Golongan yang selalu ditolong oleh Allah akan selalu ada dan mereka adalah orang-orang yang selalu belajar Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman yang benar. Jadi jemaah sekalian hafidakumullah hafidakumullah kalau kita ingin menjadikan dirinya termasuk golongan mereka maka ikuti petunjuk mereka.
  • Ini sunah yang terbesar yang masih ada di akhir zaman ini. Kita harus sabar ya. Kita harus bertekad kuat. meminta kepada Allah Subhanahu wa taala untuk mengusahakan diri kita termasuk golongan orang-orang yang mencari sebab-sebab rahmat Allah ini. Sebab-sebab yang menjadikan wajah kita cerah supaya nanti termasuk golongan orang-orang yang diputihkan, dijadikan putih berseri wajah-wajahnya pada hari kiamat dengan selalu mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan mengikuti pemahaman aljamaah yaitu para sahabat radhiallahu taala anhum
  • ajmain. Maka ini yang ya kita ingin ingatkan bahwa para ulama salaf sekali lagi adalah orang-orang yang paling semangat mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan paling menghargainya. Ada kisah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala yang ketika dia mendengarkan sebuah hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang kemudian ternyata hadis ini luput.
  • Beliau belum pernah dengarkan. Padahal hadis ini terkenal dan hadis yang sahih. Beliau mengatakan innillahi wa inna ilaihi rojiun sunatun min sunani rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Lam tablni ya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Musibah besar. Ada sunah dari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang belum sampai kepadaku.
  • Mereka menganggap ini kerugian besar. Ini adalah malapetaka besar. Kalau satu sunah sampai mereka tidak pernah dengarkan. Ya, kita bayangkan dengan diri kita berapa banyak kajian yang kita lewati, berapa banyak pembahasan masalah agama yang tidak kita begitu perhatikan. Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala masih ada kesempatan belajar, masih bisa mengkaji agama, masih bisa membaca Al-Qur’an, membaca hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Sebagian dari para ulama terdahulu Sufyan Asauri rahimahullah taala pernah mengatakan, “Idza balagaiun minal khairi fa’mal bihi walau marrotan takun min ahlik, takun min ahli.” Kalau sampai kepadamu satu kebaikan dari sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam, berusahalah untuk amalkan meskipun satu kali supaya kamu termasuk ahlinya, golongan orang-orang yang mengamalkannya, mendapatkan pahala karena menghidupkannya.
  • Ini semua kita dapatkan dengan belajar sunah. Meskipun satu kali kita amalkan. Karena satu kali ini akan menjadi sebab terbukanya hidayah untuk kebaikan-kebaikan berikutnya. Sampai juga Imam Ahmad bin Hambbal rahimahullah taala ketika dia mendengar diriwayatkan kepada beliau, Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah berbekam.
  • Dibekam oleh salah seorang sahabat. Kemudian beliau memberikan upah kepada tukang bekam 1 dirham. 1 dirham uang perak. Ketika mendengarkan ini, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah taala setelah mendengarkan hadis ini langsung memanggil tukang bekam membekam dirinya memberikan upah 1 dirham. Padahal ini tidak wajib.
  • Tapi karena dalam rangka mengamalkan sunah ya dalam rangka mengamalkan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam karena mereka sangat mengagungkan kebaikan seperti ini dan dengan sebab itu Allah subhanahu wa taala mengagungkan dan memuliakan mereka. Sebagian ulama salaf bahkan ada yang berkata inat allauqaka illa bilari faf’al.
  • Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan mengikuti sunah, maka lakukanlah. Yakni menggaru kepala. Refleks orang lakukan. Iya kan? Masa kita menggaru kepala kita tunggu apa sunahnya menggaru kepala. Ya kan tidak. Tapi ini gambaran tentang mubalagah. Bagaimana kesungguhan mereka kalau seandainya kamu bisa menggaruk yang gatal di kepalamu dengan mengikuti sunah lakukan.
  • Saking bagaimana mereka memuliakan dan mengagungkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan tidak meremehkannya. Makanya di kalangan mereka majelis ilmu itu hidup belajar agama itu benar-benar mereka berikan perhatian besar ya. Mereka jadikan sebagai waktu yang utama. Kan sudah pernah kita sebutkan di dalam kitab Maalimu Fi Thqi Thabil Ilmi.
  • Sebagian dari para ulama salaf dulu karena dia sudah mengkhususkan waktunya untuk menghadiri majelis ilmu, maka sampaiun ketika misalnya gurunya berhalangan, tidak ada pengajian, libur waktu itu. Bukan seperti kita sekarang kalau libur, wah berarti bebas kita ngopi, kita pergi ke sana kemari cari makan dan seterusnya. Tidak. dia tetap datang di majelis itu, duduk, dia baca Al-Qur’an atau dia berzikir.
  • Ditanya, “Kenapa?” “Karena saya sudah ah yakni menjadikan waktuku untuk menuntut ilmu hari ini, maka saya tidak akan gunakan untuk nah untuk yang lain.” Yakni saking menjaganya supaya tidak digunakan untuk yang lain, maka dia gunakan untuk kebaikan. Tetap hadir di majelis tersebut dia duduk, ya. Maka dia membaca Al-Qur’an atau berzikir sampai habis waktunya baru kemudian dia pulang.
  • Mereka sangat menghargai agama sehingga Allah subhanahu wa taala berikan balasan bagi mereka sesuai dengan perbuatan mereka. Al jazau min jinsil amal. Ya. Hal jazaul ihsani illal ihsan. Bukankah balasan kebaikan itu tidak lain adalah kebaikan itu juga. Itu yang balasan yang Allah berikan kepada mereka.
  • Sebagaimana mereka memuliakan agama Allah Subhanahu wa taala. Maka sebesar itulah kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada mereka. Tib jemaah sekalian rahimakumullah. Di dalam pembahasan kitab Riyadus Shihin, kelanjutan dari apa yang sudah kita bahas di pertemuan yang lalu, kita masih di kitabul Fadil, kitab tentang keutamaan ya. Supaya kita ee baca sedikit ya.
  • Kita masih di pembahasan lanjutan yaitu fadlu shatil jamaah. Keutamaan salat berjamaah. Di sini juga kita baca, kita akan pelajari bagaimana sikap para sahabat dalam menyikapi amalan-amalan yang utama dalam agama ini. Kita lihat penjelasan lanjutan ya dari kitab Riyadus Shihin. Sekarang kita sampai di hadis nomor 1069.
  • Jadi masih di bab keutamaan salat berjamaah. Imam an-Nawawi rahimahullahu taala berkata, “Wa anan ibni Mas’udin radhiallahu anhu qal.” Dari sahabat yang mulia, sahabat yang senior Abdullah bin Mas’ud al-Hudali radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, “Man sarrahu an yalqlaha taala gadan musliman falyuhaf ala haula shawat haitsu yunada bihinna.
  • Barang siapa yang menginginkan untuk berjumpa Allah Subhanahu wa taala besok pada hari kiamat sebagai seorang muslim, maka hendaknya dia menjaga salat lima waktu. Haitsitu yunada bihinna. Ketika dikumandangkan azan, yakni salat berjamaah. Tentu ini termasuk bagi perempuan salat di awal waktu ya. Melaksanakan salat di awal waktu adalah bukti kita bersegera dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
  • Kan salat sudah pernah kita sebutkan amal itu syaratnya diterima dua, ikhlas dan ittiba. Tapi ada syarat kesempurnaan amal juga dua. Alakhdu bil quwwah dan almusaraah ilaihi. Mengamalkannya dengan kuat, dengan semangat, tidak malas-malasan. Dan yang kedua bersegera menunaikannya. Ya, kalau laki-laki karena diwajibkan mereka berjamaah menurut pendapat yang terkuat.
  • Kata Ibnu Mas’ud di sini, siapa yang ingin bertemu Allah besok dalam keadaan sebagai seorang muslim, yakni orang yang diridai oleh Allah, maka hendaknya dia menjaga salat lima waktu ketika azan dikumandangkan, yakni salat berjamaah. Ya, apapun kesibukan kita, kita sedang berkendaraan, azan dikumandangkan berhenti. Orang berpikir nanti saja.
  • Sekarang kalau kita berpikir logika, antum kerjakan nanti sama sekarang kan sama. Waktunya juga tetap kita akan belikan waktu, luangkan waktu. Tapi kalau kita laksanakan sekarang, kita dapatkan keutamaan. Apalagi ini wajib, apalagi tidak ada kebutuhan mendesak, berhenti laksanakan salat. Dan itu adalah untuk kemaslahatan dan kebaikan kita. urusan yang akan kita lakukan.
  • Kita butuh taufik dari Allah. Kalau kita mulai dengan salat, kita laksanakan terlebih dahulu, Allah akan mudahkan taufiknya bagi kita untuk melaksanakan urusan tersebut dalam keadaan kita diberkahinya. Fainnallaha syariabikum shallallahu alaihi wasallam sunanal huda. Karena ya ini alasan yang beliau sebutkan.
  • Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala mensyariatkan bagi nabi kalian, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sunah-sunah petunjuk. Wa innahunna min sunanin huda. Dan sungguh salat lima waktu yang dilaksanakan berjamaah ketika azan dikumandangkan ini adalah termasuk sunah-sunah petunjuk. Walau annakumitum fi buyutikum yusal mutakif.
  • baitihium sun nabiyikum. Seandainya kalian lebih memilih salat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang ketinggalan berjamaah ini melaksanakan salat di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunah nabimu. Ini jelas mempertegas tentang wajibnya salat berjamaah. Meskipun melaksanakan salat di rumah sah salatnya tapi berdosa.
  • Itu menurut pendapat yang terkuat. Karena jemaah bukan syarat sahnya salat, tapi kalian telah melakukan ya tadi berdosa juga meninggalkan sunah. Ya, ini menunjukkan tidak boleh meremehkan salat berjamaah. Maka sungguh berarti kalian telah meninggalkan sunah nabimu. Walau taroktum sunata nabiyikum ladalum. Dan kalau kalian meninggalkan sunah nabiimu sallallahu alaihi wasallam, maka pasti kalian akan tersesat.
  • Pasti kalian akan tersesat. Jadi kesesatan karena apa? Tidak mau mengikuti sunah, tidak mau belajar sunah, tidak mau menegakkan sunah, tidak bersabar di atas sunah. Ini salat berjamaah belum sunah-sunah yang lain. Kalau kalian meninggalkan sunah Nabimu, sungguh kalian akan tersesat. Ya walaq roituna wako yatakfu anha illa munafikun maklumun nifaq.
  • Sungguh aku telah melihat keadaan kami di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tidak ada seorang pun yang ya tertinggal melaksanakan salat berjamaah. Tidak ada seorang pun yang memang tidak mau melaksanakan salat berjamaah kecuali orang munafik yang telah dimaklumi kemunafikannya. Kecuali orang munafik yang telah jelas diketahui kemunafikannya.
  • Ini yang meninggalkan salat berjamaah di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Walaqad kan rajulu y bihi waunada bainarjulaini hatta yuqoma fffi rawahu Muslim. Sungguh ada seseorang ketika salat berjamaah yabihi ya dibawa dituntun atau dipapah yuha dipapah oleh oleh orang lain didatangkan ke dalam saf untuk salat berjamaah.
  • yuh baulaini ya yang di papah oleh dua orang di antara dua orang kemudian ditegakkan di dalam saf untuk bisa melaksanakan salat berjamaah. Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Di dua hadis yang sebelumnya kita pernah baca berapa hadis sebelumnya ketika yang satu orang yang buta yang beralasan tidak ada yang menuntun dia ke masjid.
  • Apalagi di Madinah banyak binatang buas, banyak serangga-serangga yang berbisa. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Apakah kamu mendengarkan azan?” Kalau begitu jawab datang. Wajib. Ya. Yang satu lagi takut namanya dia buta, takut tersesat diperintahkan juga ah untuk tetap datang. Nah, apalagi orang yang normal seperti kita tidak ada halangan.
  • Maka hadis ini atau ucapan Ibnu Mas’ud ini dan ingat kalau ucapan seperti ini ada kata-kata munafik atau kata meninggalkan sunah ini tidak mungkin diucapkan dari pikiran semata-mata. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain bukanlah orang yang sembarang asal bicara. Yang seperti ini ada hukumnya marfu sampai kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Dia akan mengucapkan ini pasti setelah mendengar dari hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Nah, waafi riwayatin qala. Dalam riwayat lain Ibnu Mas’ud mengatakan, “Inna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam allamana sunanal huda.” Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kami sunah-sunah petunjuk.
  • Wa inna min sunanil huda asatu fil masjidilladzi yuadzanu fihi. Dan termasuk sunah-sunah petunjuk adalah melaksanakan salat di masjid yang dikumandangkan azan padanya. yakni salat salat berjamaah. Nah, ini hadis ya sekali lagi adalah hadis yang sahih. Kita perhatikan faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini.
  • Yang pertama almuhfad almuhfadatu al shawati fi wqtiha hiya sunatun nabi shallallallahu alaihi wasallam. Kita ambil dari kitab bahajatun nadirin ya. Syarah Riyadus Shihin. Penjelasan dari Syekh Salim Alhilali hafidahullahu taala. Menjaga salat lima waktu pada waktunya, yakni dilaksanakan di awal waktu bersama jemaah. Ini adalah termasuk sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
  • Wahuduruha jamaatan tanzilatu manzilatal wajib alalqir liluril jamaah. Dan menghadirinya, melaksanakannya secara berjamaah, kedudukannya adalah wajib bagi orang yang mampu menghadirinya. Bagi orang yang tidak punya alasan, tidak sakit, kemudian tidak dalam keadaan ada uzur yang menghalanginya. Ini bagi laki-laki tentu saja kita tahu ya.
  • Karena bagi perempuan mereka tidak wajib diwajibkan salat berjamaah. Bahkan lebih bagus salat di rumahnya. Yang kedua, lalawatil mafrudoti auqatun maumatun. Allahu taala inat alal mminina kitaban maut. Salat lima waktu yang wajib itu memiliki waktu-waktu yang telah dimaklumi. Sebagaimana makna firman Allah di surat An-Nisa ayat 103. Inn shaat alal mukminina kitab maukuta.
  • Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban bagi orang-orang yang beriman yang Allah tentukan waktunya, tetapkan waktunya. Kemudian yang ketiga, asalatu fil baiti ma qudrjuli hudural jamaati mukhalifun lunnati rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Ini juga jelas ya, melaksanakan salat di rumah padahal orang itu mampu, laki-laki itu mampu untuk salat berjamaah, menghadiri jemah di masjid.
  • Ini menyelisihi sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Karena pernyataan Ibnu Mas’ud di sini tidak ada sahabat lain yang menyelisihinya. Bahkan dia menceritakan tentang keadaan para sahabat di waktu itu. Ya, menunjukkan ini orang yang melaksanakannya di rumah tanpa ada uzur tadi menyelisihi sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
  • Yang keempat, attahawunu fi sunatin nabiu alaihi wasallam wadi waaril muhim ahammiha walubil muhammadi Walika annaallahi kullun la yatajazza. Meremehkan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam dan petunjuknya atau menganggap kita lakukan yang paling penting dulu. Ya, menurut persangkaan orang yang mengatakan ini, itulah kesesatan pada zatnya.
  • Ada sebagian orang yang mengatakan, “Kita jangan dulu perhatian masalah jemaah. Yang paling penting kita lakukan dulu adalah ini dan itu.” Bagaimana mungkin kita akan dibantu menegakkan sesuatu yang kata mereka itu inti kalau perkara-perkara yang seperti ini kita tidak tegakkan? Padahal ini semua merupakan sebab pertolongan dari Allah dan meninggalkan meninggalkannya adalah kesesatan.
  • Bagaimana Allah menolong kita kalau sendiri kalau kita sendiri tidak menolong tidak menolong agamanya? Padahal Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Ya ayyuhalladina amanu inansurullahaukumitqamakum.” Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu. Yakni kamu menegakkan agama, di situlah sebab turunnya pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala.
  • Tib. Dan ini merupakan sikap ya berpaling dari petunjuk sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang demikian itu karena agama ini adalah agama yang bersifat keseluruhan. Tidak bisa dibagi-bagi dengan apa? Ini inti, ini cuma kulit, ini yang harus kita fokuskan ini ditinggalkan sementara. Tidak. Agama ini tetap kita pelajari.
  • Yang paling penting misalnya tauhid, tapi yang lain tetap kita bahas, tetap kita kaji, tetap kita laksanakan dengan benar. Bukan berarti kalau sekarang kita menegakkan tauhid berarti salat kita laksanakan serampangan, zikir kita laksanakan tanpa ada petunjuk, tidak. Tetap kita dahulukan belajar akidah, belajar tauhid, tapi pengamalan yang lain tetap kita amalkan dengan sesuai dengan petunjuk yang benar ya yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Kemudian yang keempat atau yang kelima, alkamisah faedah yang kelima. La yatakallafu an shatil jamaati illa munafi maklumun nifaq. Tidaklah meninggalkan salat berjamaah ya di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kecuali orang munafik yang telah dimaklumi kemunafikannya. Ya maksudnya sekarang kalau kita ingin praktikkan ini tidak bisa kita tuduh karena belum tentu orang awam itu paham hukumnya.
  • Kita perlu jelaskan kepada mereka bahwa ini di zaman para sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam hanya orang-orang munafik yang jelas-jelas kemunafikannya yang meninggalkan salat berjamaah. Maksudnya di zaman sekarang ya harusnya kalau kita benar-benar peduli peduli sama iman kita pasti kita akan memperhatikan salat berjamaah.
  • Asadisah yang keenam. Ashabatu radhiallahu anhum kanaumul hirsusadidu alal iltizami bihadiin nubuwah wa adamu tadyyi ajri wal jamaat. Para sahabat radhiallahu anhum, mereka memiliki semangat yang kuat untuk berpegang teguh dengan petunjuk sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam dan tidak menyia-nyiakan keutamaan pahala ya berjamaah, salat berjamaah.
  • Mereka tidak meremehkan pahala salat berjamaah. Mereka bersungguh-sungguh untuk berpegang teguh dengannya. Sampai tadi orang yang sakit saja dipapah kemudian ditegakkan di dalam saf. Asabiatu yang ketujuh, taawunu ahlil Islam fima bainahum ala thaatillahi taala. Orang-orang muslim selalu bertaawun, tolong-menolong di antara mereka dalam mengamalkan ketaatan kepada Allah.
  • Jadi ada orang yang pergi ke masjid kita lihat ternyata dia cacat atau mungkin bahkan dia buta. Kita berlomba untuk menolong dia, menuntun dia agar dia bisa datang ke masjid salat berjamaah. Kita ikut dapat pahala. Dan pahalanya besar karena menolong dia dalam menegakkan kebaikan.
  • Apalagi sampai perkara yang merupakan wajib. Ya, ini selalu dihidupkan di kalangan kaum muslimin. Kemudian yang kedelapan an naabiyu sallallahu alaihi wasallam ma tufiya illa waqod atamma lahum bayana sunanil huda allati yataqoruna biha ilallahi taala wauqorbuhum ilaiha. Nabi sallallahu alaihi wasallam tidaklah beliau wafat dipanggil menghadap Allah kecuali beliau telah menyempurnakan penjelasan tentang sunah-sunah petunjuk kepada kaum muslimin, kepada para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain untuk mendekatkan diri dan mendekatkan untuk beribadah dan mendekatkan diri
  • kepada Allah subhanahu wa taala. Ya, makanya ini pelajaran yang sangat berharga dari ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu taala anhu bahwa sunah seperti ini tidak boleh kita remehkan karena menyebabkan kerusakan, menyebabkan kesesatan ya salat berjamaah maupun sunah-sunah yang lain. Bab.
  • Kemudian hadis berikutnya, satu hadis lagi kita selesai ini kita ambil hadis nomor 1070. Waan Abi Darda radhiallahu anhu qala samu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaakul dari Abu Darda sahabat yang mulia nama lengkapnya adalah Uwaimir radhiallahu taala anhu. Beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, maa minatin fi qoratin wala badwin la tuqomu fihimusatu illa qistahw alaihim faikum bil jamaati yailq abu daudnadin hasan dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada tiga orang pun,
  • tiga orang yang tinggal di sebuah perkampungan atau di sebuah badu, yakni lebih kampung lagi apa?” dusun ya. Di sebuah perkampungan, sebuah desa atau sebuah dusun yang tidak ditegakkan di kalangan mereka salat berjamaah kecuali setan akan menguasai, mengendalikan mereka. Maka hendaknya kalian selalu berjamaah, termasuk salat berjamaah maksudnya.
  • Dan hanyalah serigala itu akan memakan dari kawanan kambing yang seekor kambing yang menyendiri karena dia menjauh dari jemaah. Hadis riwayat Abu Daud dengan sanad yang hasan. Ya, hadis ini ya memang rawi-rawinya semua terpercaya kecuali Asaib Ibnu Hubaisy yang kata Imam Azzahabi dalam kitab Alkasyif, dia ini Shaduk, yakni orang yang jujur, derajat hadisnya hasan.
  • Ini semakna dengan ada hadis riwayat at-Tirmidzi yang diriwayatkan oleh Umar ibn Khattab dan dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Alaikum bil jamaati waakum wal furqata. Ya, fainna fainnama. Eh kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Hendaknya kalian berpegang dengan jemaah dan hati-hati kalian dari yang namanya perpecahan.
  • Fainna maal wahid wahua minalnaini abad.” Karena setan itu selalu bersama orang yang sendirian dan dia lebih jauh dari orang yang berdua. Jadi semakin banyak maka itu semakin baik, semakin menjauhkan kita dari setan. Itu hadisnya hadis juga yang sahih. Tib faedah yang bisa kita ambil dari hadis ini, wujubul azani wal iqomati lhatil jamaah.
  • Wajibnya azan dan iqamah untuk salat berjamaah. Sampai di masjid tidak ada orang misalnya yang datang di satu kampung, kita azan. Sampai pun kita hanya berdua misalnya yang salat tiga orang tetap kita kumandangkan azan kalau kita lihat di masjid. Bahkan sudah kita ketahui ini juga berlaku kalau kita salat di rumah ya ada perintah untuk mengumandangkan azan dan iqamah.
  • Ataniyatu yang kedua asyaitanu yastahwu alal gofilinaati wal ibadah. Setan itu akan menguasai orang-orang yang lalai dalam melaksanakan ketaatan dan ibadah. Maka kalau antum dengar ada perkampungan yang angkar, tempat yang akar, yakin di situ pasti tidak dikumandangkan azan, tidak orang laksanakan ibadah.
  • Jarang orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah. Karena kalau tempat yang sering dikumandangkan azan, dikumandangkan kajian-kajian, diperdengarkan hal-hal yang baik, itu akan dijauhi oleh setan. setan yang jahat ya Tib atitatu yang ketiga. Faedah yang ketiga, alhaddu ala shatil jamaah liannal jamaati tuinu alat thaat.
  • Anjuran atau motivasi untuk selalu salat berjamaah. Karena yang namanya bersama-sama itu akan membantu kita untuk mengamalkan ketaatan. Ya, dengan kebersamaan itu akan memotivasi kita semangat melakukan ketaatan. Kemudian yang terakhir, asyau laqdir alal jamaah fama yahlukasu binadihi wa inama yuhlikas binadihi bihimalihi ikhwanihim.
  • Setan tidak mampu untuk menguasai orang yang berjamaah ya. Tetapi hanyalah dia bisa membinasakan manusia ketika orang ini menyendiri. Menyendiri tidak bersama jemaah yang lain atau terpisah dari teman-temannya. Wa inama ya minalami alqiah. Ya, serigala itu hanya bisa memangsa kambing yang menyendiri, tidak mau berkelompok dengan kambing yang lain.
  • Demikian pula mangsa-mangsa yang lain ketika dia menyendiri itu yang akan mudah di akan mudah dikuasai oleh serigala atau hewan yang memangsa. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Barakallahu fikum. Jadi ini merupakan perumpamaan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk menyebutkan keutamaan orang yang selalu berjamaah sehingga jauh dari ee kekuasaan setan untuk bisa memangsanya.
  • Bab. Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini kajian kita dan selesai pembahasan keutamaan salat berjamaah. Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari kajian yang kita adakan di kesempatan kali ini di masjid ee yang mubarak ini. Barakallahu fikum. Sebelum kita akhiri mungkin ada satu atau dua pertanyaan saya persilakan.
  • Ustaz ini ada beberapa pertanyaan dari akhwat juga ustaz. Iya silakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Eh, pertama, apa pengaruh rutinitas salat berjamaah terhadap pembentukan karakter disiplin, tepat waktu, dan tanggung jawab seorang suami atau ayah dalam mengatur waktu keluarga. Dan yang kedua, Ustaz, bagaimana keutamaan pahala 27 derajat dalam salat berjamaah bisa mendorong seorang laki-laki untuk lebih memilih ke masjid dibandingkan tidur siang atau kegiatan santai lainnya di selah-selah
  • pekerjaan, Ustaz? Iya. Barakallahu fikum. Tentu saja salat berjamaah memberikan faedah dunia dan akhirat. termasuk yang disebutkan tadi kedisiplinan, kemudian tanggung jawab ya. Karena ketika seorang bisa menunaikan ee ibadah tepat pada waktu menghadap Allah Subhanahu wa taala, maka Allah akan memudahkan baginya taufik, memudahkan baginya bimbingan kebaikan.
  • Sudah kita tahu kaidahnya dalam Islam. Alhasanat yadu ba’duha ba’d. Kebaikan itu akan mengajak satu sama lainnya. Orang yang terbiasa salat berjamaah, maka dengan sebab itu Allah akan mudahkan dia untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lainnya, termasuk menunaikan tanggung jawab dengan baik, disiplin dan seterusnya apalagi terhadap anggota keluarganya.
  • Ya. Kemudian tadi yang kedua masalah keutamaan salat berjamaah. Shatul jamaati afdolu min shatil fad wa darah. Ya, hadis yang sahih riwayat Bukhari Muslim. Salat berjamaah itu lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan 27 derajat. Ya, tentu keutamaan seperti ini akan berlomba dikejar oleh orang-orang yang beriman.
  • Apalagi menurut pendapat yang terkuat ini wajib hukumnya. Ya, kalau orang yang buta saja tidak diberi uzur oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam, apalagi orang yang mampu, kalau ada kegiatan-kegiatan tinggalkan sebentar. Laksanakan salat berjamaah. ya daripada kita memilih melaksanakan urusan-urusan dunia kita yang karena kita jauh dari petunjuk Allah karena meninggalkan salat berjamaah, akhirnya urusan-urusan kita pun tidak akan membawa kepada keberkahan dan kebaikan.
  • Nam. Barakallahu fik. Ustaz ini ada pertanyaan berikutnya. Iya. E bismillah. Izin bertanya, Ustaz. Ustaz, saat azan berkumandang kami melaksanakan salat berjamaah di musala kantor, Ustaz. Apakah sudah termasuk atau sama keutamaannya dengan menegakkan salat di masjid, Ustaz? Iya, barakallahu fikum.
  • Kalau itu musala memang disiapkan untuk tempat salat, maka boleh. Kalau cuma salat lima waktu boleh. Kalau salat berjamaah harus ke masjid. Tapi kalau itu sekedar salat lima waktu yang misalnya salat zuhur, salat asar atau magrib, maka boleh kita laksanakan di musalla. Ya, saya ingat seperti di Madinah misalnya di tempat kami kuliah di di kampus ee Universitas Islam Madinah itu juga ada musala di masing-masing kuliah itu kita laksanakan salat di situ juga ada masjid masjid milik kampus keseluruhan.
  • Tentu lebih utama kita laksanakan di masjid besar karena jemahnya lebih banyak. Tetapi kalau tidak pun tidak bisa maka boleh kita laksanakan di musala. Musala yang ada ya. Sebagaimana di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam setiap kabilah itu punya masjid tersendiri. di kampung mereka. Tapi nanti ketika salat Jumat mereka datang ke masjid ke Masjid Nabawi untuk salat berjamaah bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam salat Jumat.
  • Ya, jadi tetap kalau masalah keutamaan lebih utama masjid yang besar tapi tetap keberadaan musala tersebut diperbolehkan kita laksanakan berjamaah di situ. Barakallahu fikum. Nah, kita bacakan satu pertanyaan lagi, Ustaz. Ada pertanyaan, Ustaz? Apakah apakah apabila kita terlambat pelaksanaan salat qabliah subuh kan sunahnya bisa kita kerjakan setelah salat subuh.
  • Pelaksanaan ini apakah berlaku hanya untuk orang yang selalu rutin mengerjakan qabliah subuh saja atau tidak mesti, Ustaz? Iya. untuk orang yang rutin, untuk orang yang rutin melaksanakan qabliah subuh atau salat-salat rawatib yang lain, boleh dia qada. Kalau ada uzur atau terlambat atau sesuatu yang ee menghalanginya sehingga tidak melaksanakannya, dia bisa laksanakan setelah salat subuh langsung atau bisa juga setelah matahari terbit.
  • Dia laksanakan dengan niat untuk mengganti kebiasaan yang dia laksanakan. Salat salat apa ini? Sunah rawatib sebelum subuh ataupun salat sunah rawatib di waktu-waktu yang lain. Nah, barakallah fik. Bab. Kalau sudah selesai kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala memudahkan bagi kita fauqakum sabidada waja’alna sirajan

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *