#7 Menetapkan Al Iraadah Dan Al Masyii’ah Bagi Allah – Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wa nastagfiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
  • Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaq minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu qulan sadida Tidak.
  • Yusli lakum aalakumagfirakumunubakum willah waasulahu faq faza fauzanima. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin waa alihi washbihi waman tabiahum bianin yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah jemaah sekalian. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limahan nikmat dan karunia-Nya.
  • Alhamdulillah kita memuji Allah subhanahu wa taala dan menyanjungnya atas limpahan taufik yang dimudahkannya bagi kita sehingga kita senantiasa bisa berpegang teguh dengan Islam. menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah syariatkan dalam Islam. Baik itu salat wajib secara berjamaah. Kemudian kemudahan-kemudahan dalam kebaikan seperti saat ini kita dimudahkan berada di 10 hari awal bulan Zulhijah yang merupakan musim kebaikan terbesar dalam Islam.
  • Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam albukhari, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ma min ayyamin al amalus shihu fiha ahabbu ilallahi min hadil ayyamil asr.” Tidak ada hari-hari atau musim kebaikan yang ketika itu amalan saleh paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala melebihi beramal saleh di 10 hari awal bulan Zulhijah.
  • Maka alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala dimudahkan untuk bertemu dengan musim kebaikan besar ini yang kemudian tentu kita berusaha mengisinya dengan amal-amal saleh baik dengan berpuasa sampai tanggal 9 Zulhijah tentu saja karena Idul Adha dan Idul Fitri ada larangan berpuasa padanya.
  • Kemudian banyak mengamalkan amal-amal saleh yang lainnya, termasuk salat yang wajib maupun salat yang sunah, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, banyak berzikir. Ya, di hari-hari ini juga kita diperintahkan untuk selalu mengumandangkan takbir kepada Allah subhanahu wa taala. Membesarkan namanya, memujinya, mentauhidkannya dengan mengucapkan lailahaillallah, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan amal-amal saleh yang lainnya.
  • Inilah waktu yang amalan saleh paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. Bahkan sebagian dari para ulama mengatakan 10 hari awal bulan Zulhijah itu lebih utama dibandingkan 10 hari terakhir bulan Ramadan. Tapi tentu saja pendapat yang terkuat dalam masalah ini adalah yang memerinci. Kalau berhubungan dengan siang harinya, maka yang paling utama adalah 10 hari awal bulan Zulhijah.
  • Tapi berhubungan dengan malam-malam harinya, maka yang paling utama adalah 10 hari terakhir di bulan Ramadan karena di situ ada malam lailatul qadar. Tib. Barakallahu fikum. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Kita akan lanjutkan kembali pembahasan kitab Al-Aqidatul Wasitiyah karya dari Syikhul Islam Abul Abbas Ahmad Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.
  • Kita masih dalam pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi, yang maha agung. Ini adalah pembahasan yang semakin kita mempelajarinya semakin jelas bagi kita kemahadahan Allah Subhanahu wa taala. Dialah yang maha indah, maha agung, dan maha mulia pada zat-Nya, pada nama-namanya, pada sifat-sifatnya dan semua perbuatan-perbuatannya.
  • Maka dengan sebab ini semakin kita mengkaji nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang disebutkan di dalam banyak bahkan mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an. Semakin kita mendalaminya maka pastinya kita akan semakin mencintai Allah Subhanahu wa taala, semakin mengagungkan dan memuliakannya, serta semakin selalu memujinya dan yang paling penting selalu mentauhidkannya, mengesakannya dalam beribadah semata-mata tidak ada sekutu baginya dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dalam segala bentuknya.
  • Babakallahu fikum. Saat ini kita akan lanjutkan pembahasan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab ini sekarang yang berhubungan dengan penetapan sifat Allah almasyiah wal iradah. Al isbatul masyiati wal irodati lillahi subhanahu wa taala fil quranil karim.
  • Ya. Menetapkan sifat masyiah berkeinginan wal iradah berkehendak pada diri Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an di sini. Ini kita akan menjelaskan akidah ahlusunah wal jamaah dalam menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha agung dan maha mulia ini. Dan kita mengetahui ketika seseorang salah dalam memahami hal ini akan menyebabkan kesesatan dan penyimpangan dalam masalah akidah dan keyakinan.
  • Contoh orang-orang atau kelompok yang bernama Qadariah, orang-orang yang mengingkari takdir Allah Subhanahu wa taala. yang mengingkari perbuatan makhluk atau perbuatan manusia itu selalu terikat dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Mereka mengingkarinya sehingga mereka menolak ketentuan takdir Allah Subhanahu wa taala atas semua kejadian yang ada di muka bumi ini termasuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
  • Di sisi lain, kesalahpahaman yang berseberangan dengan pemahaman Qadariah tadi, pemahaman orang-orang Jabriyah yang mereka menetapkan kehendak Allah secara ekstrem, berlebihan sampai mengatakan manusia tidak punya pilihan. Mereka hanya seperti robot yang digerakkan. tidak punya kehendak, tidak punya kemampuan untuk memilih.
  • Sehingga meskipun manusia melakukan perbuatan maksiat, mereka mengatakan ini adalah perbuatan Allah sehingga tidak dicela dan seterusnya. Ini jelas akan membatalkan syariat Islam, membatalkan perintah dan larangan Allah subhanahu wa taala yang diturunkan di dalam agama ini. Jadi ini contoh jemaah sekalian rahimakumullah.
  • Bagaimana akibat fatal ketika agama ini, apalagi masalah-masalah yang berhubungan dengan akidah dan keyakinan ketika tidak dipahami berdasarkan pemahaman atau manhaj metode beragama ahlusunah wal jamaah atau athaifatul mansurah, golongan yang selamat yang selalu mengembalikan pemahaman Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasul Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan para imam ahlusunah wal jamaah yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan rahimahumullahu taala. Oleh karena itu
  • selalu kita ingat dan sering kita sebutkan bahwa dalam semua permasalahan agama selalu ada dua godaan setan. Berlebih-lebihan atau kurang. Dan dua-duanya tercela. Wala tajal yadaka maglulatan ila unukika wala tabsutha kalti fquda maluman mahsur. Janganlah kamu menjadikan tanganmu maglulatan ila unukika terbelenggu kepada lehermu.
  • Dan jangan juga kamu membentangkannya dengan terlalu lebar, berlebihan, dan kurang selalu salah ya dalam menyikapi agama ini. Ini semuanya tercela. Salah seorang ulama salaf dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Arrisalatut Tabukiyah. Ulama salaf ini mengatakan, “Ma amarallahu taala biamrin illa walisyaitani fi nazghatan.
  • tidaklah Allah memerintahkan satu perintah dalam agama, mensyariatkan satu syariat dalam agama, kecuali setan memiliki dua godaan sesuai dengan karakter manusia. Ada yang terlalu semangat, ada yang terlalu malas. Maka dengan dua godaan ini, orang-orang yang tidak dijaga oleh Allah akan mengikuti salah satunya dan dua-duanya menyimpang.
  • Jadi setiap Allah atau tidaklah Allah memerintahkan mensyariatkan satu syariat dalam agama kecuali setan memiliki dua godaan untuk menyesatkan manusia darinya. Pertama, imma ila guluwin imma ila tafritin wa taqsir. Dia menggoda manusia untuk kurang dan malas melakukan perintah Allah tersebut. Yang kedua, wa imma ila guluwin wa mujawazah.
  • Atau dia menggoda manusia untuk bersikap berlebih-lebihan dan melampai batas. Wala yubali biayyihimafiro. Dan dia tidak peduli dengan mana saja yang berhasil untuk menjerumuskan manusia dari dua godaan tersebut. Jadi kita harus ingat orang yang salah itu bukan yang malas saja. Orang yang terlalu rajin tapi berlebihan melampaui batasan syari juga salah dan menyimpang dan terperangkap godaan setan. Nauzubillah minzalik.
  • Maka yang selamat adalah sikap pertengahan yang sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Inilah yang dipuji dalam Al-Qur’an sebagai sikap yang terbaik dalam firman Allah Subhanahu wa taala. Wakadalika ja’alnakum ummat wasat litaunu syuhada alanasi waakunar rasulu alaikum syahida. Demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat yang wasat, umat yang terbaik yang sikapnya selalu moderat, pertengahan agar kalian menjadi saksi bagi manusia dan supaya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menjadi saksi bagimu.
  • Contoh nanti kita akan bahas sewaktu kita menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dinukilkan di dalam kitab al-Aqidatul Wasitiyah ini oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala tentang menetapkan sifat iradah berkehendak bagi Allah Subhanahu wa taala. Kita tahu Allah Subhanahu wa taala memiliki kehendak dan dia berbuat sesuai dengan kehendaknya.
  • Di dalam Al-Qur’an di surah Alburuj, Allah Subhanahu wa taala mensifati dirinya sebagai fa’alul lima yurid. Fa’alun lima yurid. Maha berbuat apa yang dikehendakinya, apa yang diinginkannya. Tidak ada yang bisa mencegah. Ya. Maka akidah ahlusunah wal jamaah menetapkan Allah Subhanahu wa taala memiliki al-iradah kehendak juga al-masyiah keinginan ya.
  • Tetapi tentu saja ketika menetapkan sifat ini, kita selalu yakin bahwa sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Makhluk juga punya kehendak, tapi makhluk kehendaknya terbatas. Tidak semua yang dia inginkan, dia kehendaki bisa dia lakukan karena keterbatasannya. Ya.
  • Jadi kita menetapkan sifat al-iradah dan al-masyiah bagi Allah subhanahu wa taala seperti biasa kaidahnya yang pernah kita pelajari di pertemuan-pertemuan yang lalu dengan kita menafikan empat perkara. Meniadakan empat perkara. Yang pertama apa? Bila tamsil. Tanpa menyerupakan sifat yang ada pada Allah dengan sifat yang ada pada makhluk.
  • Karena sifat-sifat Allah maha tinggi, maha sempurna, maha mulia sesuai dengan kemaha tinggian dan kemahaagungan Allah. Adapun sifat makhluk penuh dengan kekurangan sesuai dengan kekurangan dan kelemahan makhluk. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Laisa kamitlihi saiun wahua assamiul bashir.” Tidak ada satuun yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala dan dia maha mendengar lagi maha melihat.
  • Walam yakun lahu kufuwan ahad. Dan tidak ada satuun yang setara atau serupa dengan Allah Subhanahu wa taala di kalangan makhluknya. Yang kedua, bila takyif tidak boleh kita membagaimanakan sifat Allah. Yakni tidak boleh kita berdalam-dalam dan ingin mengetahui hakikat yang sebenarnya. Karena Allah tidak beritakan kepada kita.
  • Cukup kita mengetahui sifatnya seperti yang Allah beritakan. Hakikatnya ada, tapi yang mengetahuinya cuma Allah Subhanahu wa taala. Maka berdalam-dalam menanyakan atau ingin mengetahui kaifiah keadaan yang sebenarnya dari sifat-sifat Allah ini melampai batas. Makanya Imam Mahalik mengatakan yang seperti ini. Wasu anha bidah.
  • Menanyakan tentangnya ini adalah perbuatan bidah yang tercela dalam Islam. Yang ketiga apa? menafikan attil menolak sifat Allah. Allah menetapkan bagi dirinya. Siapa yang lebih tahu tentang kesempurnaan yang pantas bagi Allah? Tentu Allah sendiri. Ya wallahu ya’lamu wa antum la’lamun. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahuinya.
  • Jadi kita menetapkan ya dengan kita menetapkan belum tentu kita menyerupakan. Ini sudah berkali-kali kita ulang. Karena penetapan lafaz belum tentu menyamakan kaifiahnya. Contoh yang tadi makhluk bisa berkehendak. Allah juga punya kehendak. Apakah sama kehendaknya? Jelas tidak. Allah maha sempurna kehendaknya.
  • Makanya kehendak Allah secara kauniah itu menembus segala sesuatu. Ketika Allah menakdirkan, tidak ada yang bisa mencegah berlakunya takdir tersebut pada dirinya. Allah alalim maha mengetahui. Berarti Allah memiliki ilmu. Manusia juga memiliki ilmu. Apakah sama ilmunya? Jawabannya tidak. Karena apa? Ilmu Allah itu sempurna.
  • Tidak ada kejahilan, tidak ada kelupaan, tidak ada ketidaktahuan. Allah mengetahui semua secara garis besar maupun secara terperinci. Makanya dia alalim alkhabir maha mengetahui. Alkabir ini mengetahui segala sesuatu dengan rinci, dengan detail. Manusia ilmunya terbatas ya. Jadi tidak boleh kita menolak sifat Allah Subhanahu wa taala.
  • Kita menetapkannya tapi kita katakan sesuai dengan keagungan dan kebesarannya. tidak sama dengan sifat yang ada pada makhluk. Kemudian yang keempat apa? Wala tahrif. Tidak boleh kita menyelewengkan maknanya. Kita harus menetapkannya sebagaimana diturunkan di dalam Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Inna anzalnahu quranan arabiyan la’allakum ta’qilun.
  • Sesungguhnya kami turunkan Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu bisa memahaminya. Jangan kita palingkan artinya. Karena ini berarti kita menuduh Al-Qur’an tidak fasih bahasanya. Kita menuduh Al-Qur’an itu penuh dengan keragu-raguan. Sehingga satu kalimat harus diungkapkan dengan kalimat yang lain. Contoh seperti orang yang mengartikan istiwanya Allah di atas arsy.
  • Artinya adalah istaula, menguasai. Dari mana? Ayat Al-Qur’an bahasa Arab istawa diartikan istaula. Istawa artinya ala wartafa. Maha tinggi di atas arsynya. Dan Allah subhanahu wa taala namanya adalah alaliyu almutaali. Maha tinggi. Semua makna kemahagian. Maha tinggi zatnya karena dia di atas semua makhluknya. Kemudian maha tinggi kekuasaannya.
  • Uluwul qohar maha tinggi kekuasaannya. Karena tidak ada yang bisa menahan atau mencegah ketika dia menetapkan ketentuannya. Kemudian maha tinggi kemuliaan sifat-sifatnya. Uluwul qadr. Ya, uluus sifat. Maha tinggi sifat-sifatnya. Jadi semua makna kemaha tinggian. Maka ketika ada yang mengartikan istiwanya Allah diartikan dengan istaula, menguasai.
  • Kalau kita praktikkan makna ini di ayat-ayat yang menyebutkan istiwa, seolah-olah arsy itu sebelumnya belum dikuasai oleh Allah, kemudian dikuasai oleh oleh Allah setelah itu. Jadi, siapa yang menguasainya sebelum dikuasai oleh Allah? Apakah ada pencipta selain Allah subhanahu wa taala? Jelas ini batil, ya. Dan ini kebiasaan orang-orang yang suka mentakwilkan sifat-sifat Allah.
  • Jadi ketika turun ayat Al-Qur’an, kalau orang yang beriman kan ayat Al-Qur’an ini petunjuk. Iya kan? Lafaznya, maknanya, kandungannya, konsekuensinya. Kalau kita yakin Al-Qur’an itu hak, iya kan semua orang sepakat Al-Qur’an itu pasti benar. La yatihil batilu min baini yadaihi wala min khalfihi. Tidak ada kemungkinan tidak ada datang kebatilan padanya dari depan maupun dari belakangnya.
  • Al-Qur’an lafaznya hak benar, maknanya juga pasti benar. Kandungan isinya pasti benar. Konsekuensinya juga pasti benar. Jadi tidak mungkin dikatakan ada ayat Al-Qur’an kalau kita menetapkan maknanya berarti kufur lah. Berarti Al-Qur’an tidak benar. Karena kandungan maknanya bisa membawa kepada kekufuran. Ini kan jelas penghinaan terhadap Al-Qur’an.
  • Sehingga mereka ini metodenya ketika ada ayat Al-Qur’an ya saya katakan tadi kalau orang beriman kan Al-Qur’an turun kita semangat membacanya, kita baca tafsirnya, kita imani artinya, kita renungkan di hati kita untuk menumbuhkan iman, membersihkan penyakit hati, menguatkan tauhid. Kalau mereka tidak dicurigai ini artinya kayaknya tidak pas.
  • Harus diartikan ke sini, harus dibawa ke sini. Kalau diartikan apa adanya ini membawa kepada kekufuran. Masyaallah. Al-Qur’an turun bukan untuk diimani dan diterima tunduk kepada petunjuknya yang indah, malah dicurigai, berusaha diselewengkan ke sana ke mari. Maknanya ini jelas merupakan penyimpangan dan kebodohan yang nyata. Nauzubillah minzalik.
  • Oleh karena itu, di sinilah selalu kita katakan memahami agama apalagi masalah-masalah akidah berdasarkan akidah ahlusunah wal jamaah ini benar-benar melegakkan hati kita sesuai dengan pikiran yang logis, sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada yang kita tolak, kita terima ya. Kita beriman. Amanna bihi kullum minibina.
  • Kami beriman kepada semua ayat-ayat Al-Qur’an karena semua adalah dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Ya, makanya di sini jelas sekali pembahasan masalah-masalah akidah kalau kita tidak merujuk kepada penjelasan dari para ulama ahlusunah wal jamaah akan menjadikan naudubillah minzalik seorang hamba tersesat dengan sejauh-jauhnya.
  • Dan kita harus ingat ya, pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ini menyangkut kemuliaan Allah yang maha tinggi. Terjadinya perbuatan syirik dan penyimpangan-penyimpangan dalam masalah akidah sebab terbesarnya adalah karena salah paham dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang musyrik, orang-orang kafir. Wama qodarullaha haqqo qadrih.
  • Mereka tidak memuliakan Allah dengan pemuliaan yang sebenarnya. Masih ingat kita pernah bahas dari firman Allah Subhanahu wa taala di surah Ala’raf, ada perbuatan dosa yang lebih buruk dibandingkan perbuatan syirik. Ini penafsiran dari Imam Ibnu Qayyim tentang ayat di surat Al-A’raf ini, yaitu perbuatan apa? Berkata tentang Allah tanpa ilmu.
  • Mensifati Allah hanya dengan sekedar pertimbangan pikiran tanpa dalil. Apa itu ayatnya? Allah Subhanahu wa taala berfirman, qul innama harbial fawahis mahar minha wma wal bighiril haqqi wau billahi maam yunazzil bihi wa taquulu alallahi ma la tamun. Katakanlah, “Hanyalah Rabbku Allah Subhanahu wa taala mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji, yang nampak maupun yang tersembunyi.
  • Hal-hal yang berhubungan dengan penyakit hati kayak dengki, hasad, ujub, kesombongan dan seterusnya ya. Wal it isma.” Kemudian perbuatan dosa lainnya. Di atas lagi walia bighiril haq. Menganiaya, menzalimi tanpa alasan yang benar. di atasnya lagiam melakukan perbuatan syirik yang Allah tidak turunkan keterangan tentangnya. Cukup sampai di sini ternyata ada yang lebih di atas lagi.
  • Waquallahi maamun. Perbuatan berkata tentang Allah, mensifati Allah, berbicara tentang Allah dengan sesuatu yang tidak dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Di sini kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala, ayat ini menjelaskan urutan-urutan dosa dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi ternyata masih ada di atas perbuatan syirik. Naudubillah minzalik.
  • Jadi akibatnya fatal kalau kita salah memahami pembahasan akidah yang penting seperti pemahaman terhadap kemaha nama-nama Allah dan kemaha tinggian sifat-sifatnya. Tib. Barakallahu fikum. Sekarang kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an yang menetapkan sifat al-iradah dan masyiah bagi Allah, berkehendak dan berkeinginan.
  • Pertama, firman Allah Subhanahu wa taala di surah Al-Kahf ayat ke-39. Ini berdasarkan yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di kitab al-Aqidatul wasitiyah ini ya. Surat Alkahfi ayat 39. Azubillahiminasyaitanirrajim. Walaula idakalta jannataka qulta masyaallahu la quwwata illa billah. Walaula artinya halla.
  • Kenapa tidak? Ketika kamu masuk ke dalam kebunmu kemudian melihat hasilnya yang berlimpah, kamu katakan masyaallah ini semua terjadi dengan kehendak Allah, dengan keinginan Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongannya. ini menetapkan Allah Subhanahu wa taala memiliki masyiah atau kehendak. Ya, ayat ini kita ketahui menjelaskan tentang dua orang yang berteman yang masing-masing memiliki dua kebun ya. Yang kemudian temannya menasihati.
  • Yang satunya ketika masuk ke dalam kebunnya kemudian dia melihat hasil yang berlimpah. harusnya dia mengatakan masyaallah la quwwata illa billah. Jadi dia mengembalikan ini semua terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongannya. Tib di sini ada penetapan sifat apa? Al-masyiah.
  • Ya. Al-masyiah. Al-iradah ini artinya berdekatan. Cuma di sini para ulama ahlusunah wal jamaah membagi sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentu saja nanti kita akan bacakan lagi beberapa ayat dalam hal ini membagi yang namanya iradah kehendak Allah itu ada dua macam. Yang pertama yang diistilahkan dengan al-iradatul kauniyah.
  • Kehendak yang bersifat kauni terjadi pada semua makhluk di alam semesta. Ini maknanya sama dengan al-masyiah, keinginan Allah. Apa yang Allah inginkan pasti terjadi dan apa yang Allah tidak inginkan tidak akan terjadi. Ini kaidahnya kata para ulama. Masyaallahuana wama lam yasya lam yakun. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.
  • Apa yang Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi. Makanya Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di dalam Al-Qur’an, liman syaa minkum ayastaqim wama tasyauna illa ay yasyaallahu rabbul alamin. Siapa saja di antara kamu yang menginginkan untuk istiqamah. Wama tasyauna. Dan tidaklah kamu menginginkan sesuatu kecuali itu sesuai dengan ke apa yang dikehendaki diinginkan oleh Allah Subhanahu wa taala Rabb semesta alam.
  • Jadi semua ketentuan takdir yang telah Allah berlakukan untuk semua makhluk di alam semesta ini. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim bersabda, “Kataballahu maqadiral khalaqi qobla an yakluqas samawati wal ard bamsina alfanah.” Allah telah menentukan, menuliskan ketentuan takdir semua makhluknya sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi selama 50.000 tahun.
  • Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Jadi tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali dengan kehendak Allah. Sampai pun kufurnya orang-orang yang kufur, kufurnya Firaun, kufurnya Abu Lahab, Abu Jahal, dan semua termasuk keimanan orang-orang yang beriman terjadi karena kehendak Allah Subhanahu wa taala.
  • Dan ingat sudah pernah kita sebutkan dalam pembahasan masalah takdir ya. Ketika kita menyikapi yang namanya berita, kita benarkan saja, kita imani bahwa ini benar. Nanti di sisi lain ada perintah Allah, larangan Allah baru kita ikuti perintah, laksanakan perintah dan jauhi larangan. Ya. Tib. Yang kedua, kehendak Allah yang kedua yang disebut oleh para ulama dengan istilah al-iradatus syariah addiniah.
  • Kehendak yang bersifat syariat. agama Allah menghendaki yang berhubungan dengan syariat agama ini artinya adalah hal-hal yang dicintai oleh Allah. Karena Allah tidak mencintai kekufuran, tidak mencintai kemunafikan, perbuatan maksiat, maka Allah tidak menghendakinya. Artinya Allah tidak mencintainya. harus dibedakan dua hal ini sehingga ya kalau untuk iradah kauniah itu pasti terjadinya apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.
  • Sedangkan iradah syariah belum tentu terjadi. Yakni Allah menginginkan atau mencintai orangnya orang untuk beriman. Apakah semua orang beriman? Jawabannya tidak. Iya kan? Allah Subhanahu wa taala mencintai orang-orang untuk bertauhid melaksanakan salat. Apakah semua orang melakukannya? Tidak. Itu perbedaan yang pertama.
  • Iradah kauniah pasti terjadi, iradah syariah belum tentu terjadi. Yang kedua, ya iradah kauniah itu berhubungan dengan hal-hal yang Allah cintai maupun yang tidak Allah cintai. Sedangkan iradah syariah hanya berhubungan dengan apa yang Allah Subhanahu wa taala cintai saja. Membagi dua iradah dengan cara seperti ini menjadikan kita selamat dari dua fitnah tadi.
  • Fitnah qadariah dan fitnah jabariyah. Selamat dari dua penyimpangan tadi. Tib. Sekarang kita lihat ayat yang kedua yang dibawakan di dalam pembahasan ini adalah firman Allah di surat Albaqarah ayat 253. Tib. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walauya Allahu maqtatalu wakinnallaha yaf’alu ma yurid.” Kalau seandainya Allah subhanahu wa taala menghendaki, mereka tidak akan saling berbunuh-bunuhan.
  • Tapi Allah Subhanahu wa taala melakukan apa yang dikehendakinya. Ya. Jadi ayat ini dengan tegas menyebutkan kehendak Allah itu berhubungan dengan perbuatan manusia. Terjadi karena Allah menghendaki. Makanya di sini ayat ini termasuk bantahan terhadap orang-orang yang qadariah tadi menghendak mengingkari takdir Allah.
  • Mereka mengatakan perbuatan manusia tidak berhubungan dengan kehendak Allah, keinginan Allah. Padahal Allah menegaskan walau allahahuqatalu. Seandainya Allah menghendaki mereka tidak akan berbunuh-bunuhan. Tapi karena Allah menghendakinya maka terjadilah perbuatan tersebut. Ya. Jadi ayat ini juga menetapkan yang namanya kehendak Allah Subhanahu wa taala iradah kauniah sebagaimana di ayat yang pertama tadi.
  • Tib. Kemudian ayat yang ketiga, ayat yang ketiga di surat Al-Maidah ayat yang pertama. Uhillat lakum bahimatul an’ami illa ma yutla alaikum giru muhillidi wa antum hurum. Innallaha yahkumu ma yurid. Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala menghukumi sesuai dengan apa yang dia kehendaki.
  • Ini jelas maksudnya adalah kehendak syari’i. Allah menghukumi dalam syariatnya apa? Hal-hal yang dicintainya. Ketentuan hukum. Ketika Allah menghalalkan ini, mengharamkan ini, berarti yang dihalalkan oleh Allah adalah hal-hal yang diridainya. Yang diperintahkan oleh Allah, disyariatkan adalah hal-hal yang dicintainya. Sedangkan yang dilarang adalah hal-hal yang tidak dicintainya.
  • Tib ayat ini, uhillat lakum bahimatul an’am. Dihalalkan bagi kalian untuk memakan bahimatul an’am, hewan-hewan ternak. la alaikum. Kecuali yang dibacakan kepadamu. Ada yang dikecualikan dalam ayat di surat Al-Maidah ya. seperti bangkai, darah ya tidak boleh dimakan. Kemudian yang disembelih bukan dengan nama Allah Subhanahu wa taala dan hal-hal yang mati tidak tidak dengan disembelih itu disebutkan di surat Almaidah.
  • Kita ketahui ini yang dikecualikan. Girir muhillidi wa antum hurum. tanpa melakukan atau dengan tidak membolehkan berburu hewan buruan darat yang halal dimakan tidak diperbolehkan ketika seseorang dalam keadaan berihram haji atau umrah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala menghukumi sesuai dengan kehendaknya. Ini yang namanya kehendak syariah.
  • Kehendak yang berhubungan dengan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka itulah yang ditetapkan di dalam syariatnya. Tib. Ini juga ayat yang menyebutkan adanya iradah Allah Subhanahu wa taala. Kalau yang dua ayat tadi adalah iradah kauniah, yang ini adalah iradah atau kehendak yang bersifat syar’i, yaitu apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala.
  • Kemudian yang keempat, firman Allah di surah Al-An’am ayat 125. Sesuai dengan urutan yang dibawakan dalam kitab ini ya. Kita sebutkan ini Al-An’am ayat 125. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Famay yuridillahu ay yahdiyahu yasrah shodrahu lil islam.” Barang siapa yang Allah kehendaki agar Allah berikan hidayah kepadanya.
  • hidayah taufik ini namanya. Maka Allah akan lapangkan dadanya menerima Islam. Jadi hamba ini menerima Islam dengan kehendak siapa? Kehendak Allah Subhanahu wa taala. Berarti Allah menghendaki ya hamba ini menerima Islam maka Allah jadikan lapang dadanya menerima Islam. Makanya ini menjadi bukti semakin kita mencintai Islam, semakin kita semangat mempelajari Islam, kita ingin mengetahui Islam untuk memperbaiki diri kita, ini ciri-ciri orang yang akan mendapatkan hidayah, akan dibukakan hatinya untuk menerima taufik dari Allah
  • Subhanahu wa taala. Ya, makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang terkenal riwayat Imam albukhari dan Muslim bersabda bagaimana? Man yuridillahu bihi khairon yufaqqihu fiddin. Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan ini Allah kehendaki. Allah kehendaki secara kauni dan ini pasti terjadi.
  • Maka Allah jadikan dia paham dalam urusan agamanya. Ya, ini adalah menunjukkan manusia melakukan kebaikan, menerima hidayah, bersemangat mengerjakan kebaikan. Ini semua terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Karena Allah Subhanahu wa taala menginginkan untuk memberikan hidayah kepada hambanya tersebut. Sebaliknya, wam yurid ayudillahu yaj’al shodrohuqon harojan.
  • Dan barang siapa yang Allah kehendaki untuk Allah menyesatkan dia, naudubillah minzalik. Ya Allah jadikan bagaimana dadanya atau hatinya diiqon sempit haraj berat menerima Islam. Kaanama yasadu fisama. Seolah-olah dia bersusah payah mendaki ke atas langit. Ini ciri-cirinya. Ini juga disebutkan Allah kehendaki sehingga dia tersesat dan ciri-cirinya dia akan tertutup hatinya susah menerima Islam.
  • Nauzubillah minzalik. Makanya ini yang selalu kita katakan ketika ada perintah dalam syariat, kita harus buka hati kita untuk menerimanya. sampai pun belum bisa kita amalkan misalnya berdoa kepada Allah agar dimudahkan kita mengamalkannya. Minta taufiknya agar dihilangkan sebab-sebab yang menjadikan kita menolak atau membenci syariat tersebut.
  • Misalnya yang jelas ayat ini pun juga menegaskan tentang adanya kehendak Allah Subhanahu wa taala sehingga manusia mendapatkan hidayah atau mendapatkan kesesatan. Naudubillah minzalik. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana mungkin Allah menghendaki sesuatu yang Allah tidak sukai? Bagaimana misalnya terjadi Allah menakdirkan seseorang itu kufur, contoh Firaun tapi Allah tidak mencintai kekufuran.
  • Apakah ini mungkin? Jawabannya mungkin. Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Dia adalah fa’alul lima yurid. Maha berbuat apa yang dikehendakinya. oleh Syekh Muhammad bin Shh Al-Utsimin rahimahullah taala. Dibuat contoh bisa terjadi pada diri manusia mereka melakukan sesuatu dengan keinginan, dengan sadar tapi mereka tidak menyukainya.
  • Tapi mereka tidak menyukainya. Ya, karena ada kemaslahatan. Contoh misalnya Allah Subhanahu wa taala menghendaki orang kafir tidak mendapatkan hidayah tetap terjerumus dalam kekufuran. Ini kan buruk dari satu sisi. Tapi ada kemaslahatan lain yaitu apa? Supaya menjadikan orang-orang yang beriman selalu berdoa kepada Allah minta istiqamah.
  • Supaya orang-orang yang beriman selalu mensyukuri nikmat hidayah dari Allah. Supaya orang-orang yang beriman mengetahui bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukannya kalau bukan karena taufik dari Allah, maka dia tidak akan bisa melakukannya. Ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Al-Fawaid. Mengimani takdir Allah itu mengimani apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi.
  • Ini ternyata kunci segala kebaikan. kunci segala kebaikan. Ya, maka ini masyaallah merupakan faedah yang sangat besar dengan kita mengimani takdir Allah Subhanahu wa taala. Menghendaki mengimani kehendak Allah yang menembus segala sesuatu. Insyaallah setelah selesai salat Isya nanti kita akan teruskan kembali karena sudah waktu.
  • Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. anna muhammadan abduhuasu shallallahu alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Jemaah sekalian rahimakumullah.
  • Kita lanjutkan sedikit pembahasan dari penetapan sifat iradah dan masyiah bagi Allah subhanahu wa taala berdasarkan ayat-ayat yang tadi sudah kita bacakan. Ee tadi yang terakhir saya ingin bahas adalah pembahasan mungkinkah Allah Subhanahu wa taala menginginkan terjadinya sesuatu yang dia tidak sukai, dia tidak cintai.
  • Menghendaki sesuatu yang dia tidak cintai. Sudah kita katakan Allah Subhanahu wa taala fa’alu lima yurid. Maha berbuat apa saja yang dikehendakinya. Dan kita harus mengimani, membenarkan apa yang Allah Subhanahu wa taala beritakan tentang sifat-sifat kesempurnaannya. Sementara hal ini juga mungkin terjadi. Ya, di sini ada penjelasan dari Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah taala dalam syarah kitab syarah al-Aqidatul Wasitiyah.
  • Beliau menyebutkan bahwa mungkin saja hal itu terjadi karena mempertimbangkan maslahat ya. Allah Subhanahu wa taala menghendaki terjadinya kekufuran, tapi Allah tidak mencintainya. Bagaimana itu bisa terjadi? Misalnya di kalangan manusia beliau contohkan ada orang tua ya seorang ayah misalnya anaknya sakit, ada penyakit di dalam tubuhnya yang mengharuskan anak ini dioperasi, dibedah untuk diambil penyakit tersebut.
  • Ya. Maka dia lakukan, dia lakukan dengan sadar, dengan kehendaknya. Tapi secara keinginannya apakah ada orang tua yang menginginkan anaknya dilukai? Jangka dilukai dengan dibedah perutnya misalnya disakiti saja, dicubit sampai berdarah dia akan marah. Pasti dia tidak suka. Tapi karena mempertimbangkan maslahat, maka dia bisa menghendaki sesuatu, melakukan sesuatu dengan sadar padahal dia tidak menyukai hal tersebut.
  • Ini sama juga dengan misalnya ibu-ibu ada anak kecil punya anak kecilnya yang nakal, maka dia akan memarahi anak tersebut sampai anaknya menangis. Mungkin bahkan ada yang dicubit. Tentu untuk pendidikan bagi anak tersebut. Dia aslinya dia tidak menyukai untuk menyakiti anaknya, tapi dia lakukan perbuatan ini dengan sadar karena mempertimbangkan ada maslahat ya, ada kebaikan untuk pendidikan bagi anak ini.
  • Kalau yang tadi dioperasi adalah untuk mengeluarkan penyakitnya, bahkan dia lakukan dengan sadar, bahkan dia membayar dengan biaya mahal untuk dokter tersebut, maka bisa terjadi pada diri manusia berkumpulnya antara sesuatu yang dikehendakinya padahal dia tidak menyukainya. Yang jelas ini kita tetapkan karena Allah Subhanahu wa taala yang menetapkan bagi dirinya sendiri di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan di dalam hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang adanya iradah kehendak Allah Subhanahu wa taala yang terbagi dua tadi.
  • Alirodatu alkauniyah al-qadariyah. Kehendak Allah yang bersifat kauni pasti terjadi tentang semua ketentuan yang berlaku pada makhluknya. Ini yang diartikan dengan al-masyiah ya, kehendak Allah yang bersifat umum. Dan ada yang namanya iradah syariah, yaitu kehendak Allah yang bersifat syar’i berkaitan dengan hal-hal yang dicintai oleh Allah subhanahu wa taala saja.
  • Ini kadang ada yang terjadi, kadang ada yang tidak tidak terjadi. Tayib. Pembahasan terakhir, apa faedah kita mengimani sifat Allah Subhanahu wa taala? Ini apa manfaatnya? Diterangkan oleh Syekh Ibnu Utsimin rahimahullahu taala, ada dua faedahnya. Pertama dengan kita mengimani iradah kauniah kata beliau anualqana wa khaufana wa jami ahwalina wa a’malina billah lianna kullaaiin biirodatihi wa hadza yuhaqiqu lana attawakul menjadikan kita selalu menggantungkan setiap harapan kita, ketakutan kita, dan semua keadaan kita, semua amal perbuatan
  • kita kepada Allah. Karena kita tahu tidak akan terjadi kebaikan apapun yang kita lakukan kalau Allah tidak menghendakinya. Ayat yang tadi kita bacakan, limansya minkum ay yastaqim wama tasyauna illa ay yasyaallahu alamin. Bagi siapa saja di antara kamu yang menghendaki, yang menginginkan untuk selalu istiqamah dan tidaklah kamu menghendaki sesuatu kecuali sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa taala kehendaki.
  • Jadi semua harus mengikuti kehendak dan keinginan Allah Subhanahu wa taala. Ini yang saya terangkan tadi. Keimanan tentang masalah-masalah seperti ini ternyata pengaruhnya dalam kebaikan hamba itu sangat besar. Tadi saya terangkan Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Alfaid mengatakan, “Aasu kulli khairin anlama anna masyaallahuana w lam yasya lam yakun.
  • ” Landasan utama segala kebaikan taufik dari Allah adalah kamu meyakini apa yang Allah kehendaki akan terjadi, apa yang Allah tidak kehendaki tidak terjadi. Bagaimana penjelasannya? Sebenarnya sederhana penjelasannya. Begini. Ketika seseorang melakukan kebaikan, berbuat baik, rajin beribadah, ya sebab yang menjadikan kebaikan ini selalu menetap pada dirinya.
  • Karena ingat, taufik dalam kebaikan kan bisa menetap, bisa juga Allah cabut. Apa sebabnya dia menetap dan apa sebabnya dicabut oleh Allah? Nauzubillah minzalik. Sebabnya dia menetap kalau setelah dia melakukan kebaikan dia mensyukuri itu sebagai nikmat Allah. Dia selalu menisbatkan itu adalah karunia Allah bukan karena kehebatan dirinya, bukan karena kemampuan dirinya.
  • Tapi dicabut hidayah seperti ini kalau hamba itu menjadi sombong, menganggap dirinya hebat, tidak menisbatkan nikmat tersebut kepada Allah. Ya, waktu dia melihat orang melakukan keburukan, apa yang dia lakukan? Dia segera berlindung kepada Allah dari sebab-sebab keburukan. Karena dia yakin orang ini bisa melakukan keburukan karena Allah berpaling darinya.
  • Allah tidak melindungi dia dari keburukan tersebut. Maka dia khawatir kalau dirinya juga diperlakukan yang sama, maka dia pun akan terjerumus ke dalam keburukan tersebut. Nah, ini kata beliau inti daripada makna taufik. Taufik dari Allah yang ini merupakan inti segala kebaikan. Kata beliau, disepakati oleh para ulama makna makna taufik dari Allah kata beliau adalah allilakallahu ila nafsika fi’il hasanati.
  • yaitu dengan Allah Subhanahu wa taala tidak menjadikan dirimu bersandar kepada dirimu sendiri dalam melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan. Masyaallah. Ternyata makna taufik adalah kalau kita selalu bersandar kepada Allah. Waktu kita berbuat baik, kita bersyukur dan kita yakin ini adalah karena pertolongan dari Allah.
  • Wama taufiki illa billah. tidaklah taufik yang ada padaku kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa taala. Waktu kita melihat orang melakukan keburukan, kita berlindung kepada Allah. Kita khawatir jangan sampai diri kita yang lemah bisa terjerumus kalau Allah Subhanahu wa taala tidak menolong kita. Ini makna doa atau salah satu zikir yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang kita baca di waktu pagi dan petang.
  • Allahumma aslihli s’ni kullahu wala takqilni ila nafsi thfata ainin. Ya Allah perbaikilah semua keadaanku dan janganlah engkau menjadikan aku bersandar kepada diriku sendiri. Janganlah engkau mewakilkan aku kepada diriku sendiri meskipun sekejap mata. Jadi subhanallah. Iman kepada kehendak Allah ternyata merupakan kunci landasan segala kebaikan.
  • Dan masalah-masalah keimanan memang kalau kita pahami dengan benar akan menjadi sumber kebaikan dan terbukanya pintu-pintu taufik dari Allah Subhanahu wa taala bagi hamba-Nya. Itu faedah yang pertama. Kemudian yang kedua, yang berhubungan dengan iradah syariah. Apa faedah kita mengimani kehendak Allah yang bersifat syariah ini? An naf’ala ma yuriduhullahu syaran.
  • Kita bersemangat melakukan mengerjakan apa yang dikehendaki oleh Allah secara syariat. Apa yang dicintai oleh Allah, apa yang diridainya kita semangat melakukan ya. Faidza alimna annahu murodullahi syaran mahbubun ilaihi. Fa innaalika yuqwi azmana ala fi’lihi. Kalau kita mengetahui sesuatu dikehendaki oleh Allah secara syariat, dicintai oleh Allah, diridainya, maka ini inilah yang akan menguatkan tekad kita untuk bisa mengamalkan hal-hal tersebut.
  • Jadi, ini jelas merupakan faedah dan kebaikan besar bagi seorang hamba ya yang kemudian setelah dia melakukan dia selalu menisbatkan nikmat tersebut kepada Allah Subhanahu wa taala. Inilah sebabnya kita selalu baca di ayat-ayat Al-Qur’an. Kenapa orang-orang saleh itu rajin berdoa? Kalau kita pikir kan kebaikannya banyak, untuk apa lagi dia berdoa? Dosanya sedikit, rajin mohon ampun kepada Allah.
  • Ya, karena ini menunjukkan sikap rendah diri mereka di hadapan Allah dan selalu menisbatkan kebaikan-kebaikan kepada Allah Subhanahu wa taala. Sedangkan orang-orang yang ujub terhadap diri sendiri, bangga terhadap diri sendiri, kita ketahui ini merupakan sifat yang tercela. Tidak akan beruntung orang yang mensucikan dirinya sendiri atau bangga terhadap dirinya sendiri.
  • Imam Azzahabi rahimahullah taala mengatakan, “La aflaha wallahi man zakka nafsahu a a’jabatuhu.” Tidak akan beruntung sungguh demi Allah orang yang menganggap dirinya suci atau kagum terhadap dirinya sendiri. Naubillahik. Barakallahu fikum. Inilah pembahasan yang bisa kita sampaikan di kesempatan malam hari ini tentang menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala aliradah dan almasyiah.
  • Semoga kita bisa mengambil faedah dan menjadikan keyakinan kita semakin kuat tentang kemaha nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. menjadikan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala semakin meningkat dengan semakin kita mengenal sisi kemahadahan nama-namanya, sifat-sifatnya dan perbuatan-perbuatannya yang maha tinggi dan maha mulia. Babakallahu fikum.
  • Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita. Silakan kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan sebelum kita akhiri kajian kita di malam hari ini. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Tib kalau ada pertanyaan boleh yang di sesuai materi atau di luar materi.
  • Ada pertanyaan di sini yang tertulis. Ustaz Afwan, mohon jawabannya. Kalau seorang istri mau berzikir dan salat subuh sampai suruk, sampai matahari terbit, belum boleh. Yang boleh sampai isyraq, matahari terbit meninggi sedikit sekitar 13 sampai 15 menit itu baru boleh. Jadi kalau kita lihat misalnya jadwal matahari terbit kita tambah sekitar 15 menit baru kita boleh salat dua rakaat.
  • Itulah yang disebut salat isyraq yang disebutkan di dalam hadis yang sahih atau yang dihasankan oleh Syekh Albani rahimahullah taala. Man shal gata fi jamaatin tumma qada yadkurullaha tumma sha rakataini kanat lahu ka ajri hajjatin wa umratin tamatan tamatan tamah. Barang siapa yang salat subuh secara berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit ya kemudian ditunggu 15 menit setelah itu dia salat dua rakaat maka itu bernilai pahala seperti haji dan umrah sempurna sempurna sempurna kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
  • Itulah yang dimaksud dengan salat ini. Tayib. Tapi qadarullah tidak bisa duduk di tempat salat karena harus masak untuk menyiapkan bekal suami. Jadi pertanyaannya, bolehkah berzikirnya sambil masak? Lantas jika sudah waktunya tiba salat, suruk langsung salat. Boleh tidak seperti itu, Ustaz? Apakah masih mendapat keutamaannya? Ya, salat syuruk itu waktunya sama dengan salat duhha.
  • Awal waktu salat duha. Maka kalaupun dia tidak memenuhi syaratnya, maka dia dapatkan keutamaan salat duha. Cuman salat duha itu kita tahu lebih utama kalau diakhirkan daripada dilaksanakan di awal salat duha itu kalau semakin panas ya misalnya sudah jam 09.00 apa jam 10.00, jam jam 11.00 itu lebih utama dilakukan. Karena ada hadis dalam Sahih Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Shatul awabina hina tarmadul fisal.
  • ” Salatnya orang-orang yang selalu ingat kepada Allah, selalu kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan. Dari sinilah seperti Syekh Ibnu Utsimin dan para ulama yang lain mengambil kesimpulan bahwa salat dhha utama adalah salat di waktu yang disebutkan di hadis ini ketika anak-anak unta mulai kepanasan.
  • dibandingkan di awalnya boleh, tapi yang paling utama adalah ketika di waktu-waktu seperti ini. Nah, sehubungan dengan pertanyaan ini, pertanyaan ini dibangun dengan pemahaman bahwa yang namanya salat isyraq tadi itu bisa dilakukan di rumah. Saya sendiri belum mengetahui pendapat siapa yang mengatakan seperti ini. Kalau lafaz hadis yang saya bacakan tadi itu adalah berlaku bagi orang yang salat berjamaah di masjid.
  • Kemudian dia duduk berzikir kepada Allah. Berzikir bisa baca zikir pagi dan petang. Bisa membaca Al-Qur’an atau mungkin ada majelis ilmu. Ya, termasuk berzikir kepada Allah ya. Yang jelas dia tidak ngobrol ya. Tapi dia berzikir kepada Allah dengan makna zikir yang tadi. Baru setelah matahari terbit, dia menunggu 15 menit melaksanakan salat dua rakaat.
  • Jadi kalau kondisinya dia di rumah, apalagi nanti dia sibuk dengan pekerjaan, ya jelas tidak mendapatkan keutamaan tersebut, tapi dia mendapatkan keutamaan lain. Iya kan? Perempuan punya keutamaan tersendiri ketika dia melayani suaminya. Masyaallah ini justru kewajiban dan kewajiban itu asalnya lebih besar pahalanya dibandingkan sunah. maka dia tidak perlu khawatir.
  • Dia akan dapatkan keutamaan yang lebih besar ketika dia mempersiapkan bekal untuk suaminya misalnya mengurusi anak-anaknya yang ee apa ini ingin pergi sekolah misalnya dan seterusnya dia akan dapatkan pahala dan keutamaan yang lebih besar insyaallah. Nah, silakan yang lain kalau masih ada pertanyaan. Tayib. Tidak ada lagi.
  • Kalau tidak ada kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin. Walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik.
  • Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *