- Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh inalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruh wa naudubillahi Min syururi anfusina Wamin m wudlil Fala hadialah wa Ashadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah wa Ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa Wa Antum muslimun ya
- ayuhanqubakumadziqum Min Nafsi Wahidah wqaha wuma rijalan wattaqulahziasalun bihi Wal Arham innallahaana ahahuqan kitabahud Huda Muhammadin Shallallahu Alaihi Alhamdulillah bapak-bapak ibu-ibu ikhwan
- dan akhwat fiddin rahimakumullah Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala yang senantiasa melimpahkan berbagai macam nikmat yang memudahkan Taufik kebaikan bagi kita termasuk Alhamdulillah yang dimudahkannya bagi kita di malam hari ini untuk kita kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid Nurul Iman yang Mubarak ini di lanjutan kajian membahas kitab yang sangat bermanfaat kitab al-qidatul wasitiyah buah karya dari syekhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala Barakallah fikum Kitab alqidatul
- wasitiyah Kitab yang menjelaskan prinsip-prinsip dasar akidah ahlusunah Wal Jamaah dimulai dengan pembahasan di awal-awal pembahasan yaitu menyebutkan ayat-ayat al-qur’an yang menetapkan tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah sifat-sifat yang dengan kita mengenalnya kita akan menetapkan Allah subhanahu wa taala Maha Indah nama-namanya Maha Tinggi dan Maha Sempurna sifat-sifatnya yang ini tentu akan menjadi sebab kita akan mencintai Allah kita akan selalu memuji dan menyanjungnya kita akan selalu mengagungkan Allah subhanahu wa taala
- dengan sebenar-benar pengagungan makanya pembahasan tentang masalah ini adalah pembahasan yang paling penting dalam urusan agama kita karena inilah yang akan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah subhanahu wa taala menumbuhkan rasa takut pengharapan kepada Allah yang tiga perkara ini merupakan tiang utama penopang Iman tib Barakallah fikum jemaah sekalian rahimakumullah kita akan melanjutkan kembali pembahasan di kitab ini tentang ayat-ayat al-qur’an yang menetapkan sifat-sifat Allah saat ini kita akan membahas tentang sifat
- al-inani Allah subhanahu wa taala memiliki dua mata yang maha mulia dan Maha Tinggi tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk sifat Allah subhanahu wa taala ini ditetapkan di dalam banyak ayat al-qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ya oleh syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam kitab alqidatul wasitiyah disebutkan tiga ayat untuk menetapkan sifat Ini pertama firman Allah di surah attur ayat 4 Del Allah subhanahu wa taala berfirman kepada nabi Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam wasbir auzubillahim minasyaitanirrajim wasbir lihukmi rbika fainnaka bi’yunina dan Bersabarlah engkau wahai Rasulullah wahai Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dalam dalam menjalankan hukum-hukum rabbmu dalam menjalankan hukum Allah maka sesungguhnya engkau selalu dalam pengawasan mata kami surah at-ur ayat 48 ayat yang kedua di surah al-qamar 13 sampai 14 tentang Nabi Musa Alaihi shalatu Wasalam tentang Nabi Nuh alaihialatu wasalam ya yang ketiga Allah ketika
- Allah subhanahu wa taala menjadikan banjir besar melanda Dunia ini maka Allah selamatkan Nabi Nuh alaihialatu wasalam beserta pengikutnya yang menumpang di kapal yang beliau buat wamalahuati alwiajun jafir dan kami membawanya ketika terjadi banjir di atas bahterah yang memiliki alwah memiliki papan-papan dan dusur pengikatnya atau pakunya memiliki papan dan paku yang bahtera ini berlayar dengan pengawasan mata kami sebagai balasan atas perbuatan orang-orang yang kafir kepada nabi yang mulia ini Nabi
- Nuh alaihialatu wasalam di sini Allah subhanahu wa taala menjelaskan atau menyebutkan sifatnya Bahwasanya Allah subh taala senantiasa mengawasi hambanya yang mulia ini dengan pandangan matanya yang Maha Tinggi dan maha Mulia kemudian di Surah Thaha ayat 39 Allah subhanahu wa taala berfirman tentang Nabi Musa alaihiu wasam dan aku berikan kepadamu wahai Musa kecintaan dariku sehingga orang-orang yang melihat nabi Musa langsung mencintainya ketika dia masih kecil dan supaya kamu
- diperlakukan dengan pengawasan pandang dengan mataku ini tiga ayat yang dibawakan oleh syaikhul Islam Ibnu taimiyyah rahimahullahu taala dalam Kitab al-aqidatul wasitiyah yang menjelaskan dan menetapkan sifat Allah subhanahu wa taala memiliki al-ainani dua mata yang maha indah dan Maha Tinggi yang seperti kaidah yang sudah kita Jelaskan di pertemuan-pertemuan yang lalu kita wajib menetapkan sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya di dalam ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah Sallallahu Alaihi
- Wasallam dan selalu kita ingat kita menafikan atau meniadakan empat perkara bila tamsil tanpa menyerupakan sifat Allah ini dengan sifat makhluk karena sifat Allah sesuai dengan kemahatinggian dan kemaha agungannya sifat makhluk sesuai dengan kelemahan dan kekurangannya sebagai makhluk Allah subhanahu wa taala berfirman laaisa kamitlihi saaiun wahua samiul bir tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan Allah subhanahu wa taala dan dia maha mendengar lagi maha melihat falaribu lillahil Amsal janganlah kamu membuat
- permisalan-permisalan dengan makhluk bagi Allah subhanahu wa taala dan ayat-ayat lain yang menunjukkan tidak boleh kita menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya yang kedua wala takyif tidak boleh kita membagaimanakan sifat-sifat Allah karena Allah mengabarkan tentang sifat-sifatnya dan tidak pernah mengabarkan tentang kaifiahnya kita yakin ada kaifiah sifat Allah Bagaimana keadaan yang sebenarnya sifat Allah itu ada tapi Allah yang Maha mengetahuinya dan juga karena para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain
- tidak pernah menanyakan kaifiah ini yang ketiga wala tatil tidak boleh kita menolak sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya Karena Allah yang lebih tahu tentang sifat-sifat kemuliaan yang pantas bagi kemahaagungan dan kemahab besarannya tidak boleh kita menolak hanya sekedar menurut kita tidak masuk akal ya padahal akal itu bukanlah ukuran karena akal satu orang mengatakan tidak masuk akal yang lain mengatakan masuk akal yang jelas kita Yakin pastinya Allah subhanahu wa taala ketika menurunkan di dalam ayat-ayat al-qur’an
- apalagi ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat kesempurnaannya yang dengan itu Allah memperkenalkan diri kepada hamba-hambanya maka pasti ini merupakan penjelasan yang wajib untuk kita benarkan dan kita imani tidak boleh kita mengingkari atau menolaknya dan yang keempat wala tahrif tidak boleh kita menyelewengkan maknanya tidak boleh kita memalingkannya kepada pengertian selain dari yang ditunjukkan dalam bahasa Arab kecuali kalau ada dalil ya inilah empat perkara yang wajib untuk kita tetapkan di dalam hal ini tib
- di ayat yang pertama Allah subhanahu wa taala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam wasbir Li hukmibika Bersabarlah kamu ketika menghadapi atau menjalankan hukum-hukum rabmu hukum-hukum Allah Ya baik yang bersifat hukum kauni maupun syari yakni hukum ketentuan Allah yang namanya kauni itu yakni ketentuan Allah yang Allah berlakukan bagi semua makhlukNya dalam hal yakni menakdirkan segala sesuatu kita harus Sabar menghadapinya ketika dapatkan musibah dapatkan hal-hal yang tidak kita inginkan tetap kita bersabar bersangka
- baik kepada Allah dan tentu keutamaan orang yang bersabar kita telah tahu disebutkan di dalam dalil-dalil yang sahih di antaranya Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam asabru diyaun kesabaran itu adalah cahaya di hadis yang lain Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda w ahadun w ahadunaniron wausaa minri tidaklah seorang pun diberikan satu pemberian yang lebih luas manfaatnya dan lebih baik dibandingkan pemberian berupa sifat sabar juga termasuk menjalankan hukum Allah Syari hukum-hukum dalam agamanya
- dalam syariatnya jadi kita bersabar ketika menjalankan perintah Allah kita bersabar ketika menjauhi larangannya menundukkan hawa nafsu di jalan Allah di sini Allah subhanahu wa taala memerintahkan kepada rasulnya Sallallahu Alaihi Wasallam Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi was wasallam untuk bersabar menjalankan hukum Allah ini kemudian Allah subhanahu wa taala menyebutkan fainnaka bi’yunina Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah dalam pengawasan mata kami ya maka Allah subhanahu wa taala menetapkan bagi dirinya di ayat
- ini bahwa dia memiliki al-in mata yang sesuai dengan kemahaagungan dan kemahab besarannya yang dengan inilah Allah subhanahu wa taala melihat makhlukNya dengan penglihatan yang tentu sempurna tidak ada satupun yang luput dari penglihatannya ya maka ini wajib kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah sebagaimana sifat-sifat Allah yang lainka Allah subhanahu wa taala menyebutkanq wajhubika Dul Jalali Wal ikr dan kekallah wajah rabmu wajah Allah subhanahu wa taala yang memiliki keagungan dan kemuliaan Allah memiliki
- sifat wajah kemudian alyadani sudah kita bahas memiliki dua tangan yang maha Mulia bahutani k Yasya bahkan kedua tangan Allah itu terbentang dia berinfak mengeluarkan memberikan infak kepada makhlukNya sesuai dengan kehendaknya sebagaimana yang dia kehendaki atau dia inginkan sifat-sifat seperti ini diistilahkan oleh para ulama dengan asifatu azzatiyatu alkabariah sifat yang ada pada zat Allah yang kita ketahui dari berita yang Allah Allah turunkan dalam al-qur’an ataupun dalam hadis-hadis yang sahih ya tidak boleh kita menetapkan
- lebih daripada apa yang Allah tetapkan bagi dirinya misalnya kalau sifat seperti ini di kalangan makhluk berarti termasuk bagian tubuhnya tapi tidak boleh kita mengatakan Allah itu memiliki abad bagian-bagian tubuh tidak boleh karena ini melampaui apa yang Allah tetapkan bagi dirinya kita hanya menetapkan sesuai dengan Allah apa yang Allah tetapkan bagi dirinya tidak boleh kita menyerupakannya dengan makhluk tidak boleh kita menyebutkan yang lebih daripada itu karena untuk penetapan sifat-sifat Allah hanya terbatas kepada dalil saja tidak
- boleh kita menggunakan akal pikiran semata-mata dalam masalah ini karena tidak ada yang tahu tentang sifat-sifat yang pantas bagi keagungan dan kemahatinggian Allah kecuali Allah subhanahu wa taala sendiri kemudian nabinya yang mulia Nabi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa alihi wasallam tib jemaah sekalian rahimakumullah di dalam ayat ini disebutkan sifat al-in mata ini dalam bentuk jamak bi’yunina ya dalam bentuk jamak diterangkan oleh para ulama Bahwasanya Allah subhanahu wa taala berdasarkan dalil-dalil yang
- sahih itu memiliki al ainani dua mata yang Maha Agung dan Maha Tinggi tidak lebih daripada itu apa buktinya buktinya ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan tentang Dajal di dalam hadis riwayat Imam albukhari dan muslim dari sahabat yang mulia Abdullah Ibnu Umar radhiallahu taala anhum ketika itu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mensifati Dajal karena Dajal ini mengaku sebagai Tuhan Rasulullah sahu Wasallam bersabda innahu Awar wa inakumisawar sesungguhnya Dajal itu buta sebelah matanya dan Sesungguhnya rabmu Allah
- subhanahu wa taala tidak buta sebelah matanya dalam lafaz lain dikatakan kaahuabatuniah sesungguhnya Dajal itu buta sebelah mata kanannya matanya itu seolah-olah seperti inabatun thofiah seperti anggur yang menonjol maka jelas dia bukan Allah karena buta sebelah matanya sementara Allah subhanahu wa taala Laisa biwar tidak buta sebelah matanya ini menunjukkan Allah subhanahu wa taala memiliki dua mata yang maha indah dan Maha Tinggi dan ini ditetapkan oleh para ulama ahlusunah Wal Jamaah bahkan sebagian dari para ulama
- menukil ijma kesepakatan para ulama Salaf yang menetapkan dua mata yang Maha Tinggi dan maha indah bagi Allah subhanahu wa taala seperti Imam Abul Hasan al-asy’ari juga dinukil dan dibenarkan oleh Imam Ibnu qayyim sekhul Islam Ibnu Taimiyah di majmu fatawa kemudian juga yang menetapkan dua mata bagi Allah ini adalah Imam Utsman Ibnu Said ad-darimi Imam Ibnu khuzaimah dalam kitabut tauhidnya dan para ulama yang lainnya sehingga ketika disebutkan di ayat ini dalam bentuk jamak ini menunjukkan arti pengagungan ya menunjukkan arti
- pengagungan dan memang Biasanya kalau kata dalam bahasa Arab itu digandengkan dengan kata ganti yang menunjukkan arti jamak contoh seperti di sini na berarti nahnu kami gitu ya atau kita itu disebutkan dalam bentuk jamak sudah pernah kita Contohkan di sini waktu kita membahas tentang sifat dua tangan yang Maha Tinggi dan maha mulia bagi Allah yaitu ketika Allah subhanahu wa taala menyebutkan di surah attah Harim tentang dua istri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam Aisyah dan Hafsah radhiallahu taala anhuma Allah berfirman di situ in tatuba
- ilallahi faqad shagat qulubukuma jika kalian berdua ini jelas dua orang yang dimaksud dari awal ayat ini menunjukkan dua orang jika kalian berdua bertobat kepada Allah maka berarti hati kalian berdua telah cenderung kepada kebenaran ini kan dua orang berarti dua hatinya tapi disebutkan di ayat ini dalam bentuk jamak Qulub ya bahasa Arab kalau hati satu kanbun kalau duabani ataubaini kalau jamaklubun Nah di sini disebut buku Sungguh hati kalian berdua telah cenderung kepada kebenaran Kenapa disebut dengan jamak padahal ini dua
- orang maksudnya karena kesesuaian ketika digandingkan dengan kata ganti tadi maka disebutlah dalam bentuk jamak Al kulihal ya Yang jelas Allah subhanahu wa taala memiliki dua mata yang maha indah yang Maha Tinggi yang sesuai dengan kemaha tinggian kemaha agungan dan kemaha sempurnaan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk tib kemudian ayat yang kedua yang dibawakan di dalam kitab al-aqidatul wasitiyah ini yaitu firman Allah di surah al-qamar ayat 14 13 sampai 14 Yang tadi kita sebut tentang Nabi Nuh
- alaihiatu wasalam wamalahuti alwahi wur tajri biayunina jazaimanana kufir dan kami membawanya membawa Nabi Nuh alaihiatu wasalam di atas bahterah yang terbuat dari alwah lembaran-lembaran kayu atau papan dan dusur paku atau pengikat ya di sini Allah subhanahu wa taala menyebutkan tentang bahterra Nabi Nuh Alaihi salatu Wasalam bahwa bahtera ini terbuat dari papan dan pengikat atau paku yang menyatukannya ya untuk menjelaskan kepada hamba-hambanya beginilah cara membuat bahtera tersebut
- nah tajri biayunina yang kemudian bahtera ini berlayar di lautan dengan pandangan pengawasan pandangan mata kami jaza Al liiman kanana kufir sebagai balasan dari orang ya seorang rasul yang diingkari oleh kaumnya Nah maka di sini juga Allah subhanahu wa taala menetapkan sifat ini ya sebagian orang-orang yang berpemahaman dalam masalah akidah menyimpang dari akidah ahlusunah Wal Jamaah mengingkari sifat ini dengan alasan tadi tidak mungkin Allah subhanahu wa taala memiliki mata tidak mungkin Allah subhanahu wa taala
- memiliki wajah tidak mungkin Allah subhanahu wa taala memiliki dua tangan padahal al-qur’an menetapkan Jadi bagaimana caranya mereka mengatakan ini tidak benar kita harus takwilkan ini artinya adalah sekedar pandangan saja kita katakan Allah subhanahu wa taala memang memiliki sifat albashar melihat atau memandang menyaksikan tapi juga Allah menetapkan bahwa Dia memiliki mata sesuai dengan keagungan dan kebesarannya sebagaimana kita mengatakan pandangan atau pendengaran allaham tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk karena pasti makhluk
- terbatas pendengarannya terbatas penglihatannya Ya sementara Allah subhanahu wa taala Maha Sempurna penglihatan dan pendengarannya sampai kita Contohkan waktu kita membahas sifat dua sifat pendengaran dan penglihatan kita masih ingat tentang sebab turunnya firman Allah subhanahu wa taala di surah almujadilah atau almujadalah ayat pertama qu ahiallahuahawakuma inallaha Samiun bir sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengadukan kepadamu tentang keadaan suaminya dan Allah mendengarkan pembicaraan kalian berdua
- Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala maha mendengar lagi maha melihat Aisyah radhiallahu taala anha dalam hadis sahih riwayat Imam muslim menceritakan tentang kedatangan perempuan ini Dan Dia berbicara dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan Aisyah ada di pojok kamar itu tapi kata Aisyah sebagian dari ucapannya tidak jelas Saya dengar tapi Allah subhanahu wa taala karena Maha Sempurna pendengarannya dari atas langit ketujuh Allah mendengarkan semua dengan jelas maka jelas berbeda pendengaran makhluk dengan pendengaran
- Allah subhanahu wa taala yang Maha Sempurna demikian pula penglihatan pengawasan Allah maka sama dengan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya pada zatnya seperti memiliki wajah yang maha Mulia dua tangan yang maha Mulia dua mata ya sama dengan sifat-sifat yang lain misalnya Allah berfirman dalam dalam alquranah Allah subhanahu wa taala memperingatkan kalian Dari Dirinya annafs sifat terjemahan dalam bahasa kita dirinya Allah memiliki annafs karena Allah tetapkan bagi dirinya tapi ini tidak sama dengan apa yang ada pada
- makhluk karena sifat-sifat Allah semua Maha Tinggi dan maha Maha Agung Maha Sempurna sedangkan sifat-sifat makhluk selalu penuh dengan kekurangan dan kelemahan Kenapa kita men apkan karena Allah menetapkan bagi dirinya dan kita Yakin Allah lebih tahu tentang sifat-sifat kesempurnaan yang pantas bagi bagi dirinya makanya termasuk sifat ini kita tetapkan bagi Allah subhanahu wa taala dan selalu kita katakan sifat-sifat ini sesuai dengan keagungan dan kemahab besaran Allah tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk
- tib kemudian ayat yang ketiga firman Allah di Surah Thaha ayat ke-39 Allah subhanahu wa taala berfirman wa alqaitu Alaika mahabbatan minni walitusnaa ala Aini dan aku berikan kepadamu wahai Musa kecintaan dariku yakni ada yang mengatakan artinya allah mencintainya ada juga sebagian ahli tafsir mengatakan maksudnya manusia mencintainya sehingga siapapun yang melihat Nabi Musa Alaihi salatu Wasalam pasti dia akan mencintainya ya Sehingga Ketika istrinya
- Firaun melihat Nabi Musa yang dihanyutkan oleh ibunya dengan menggunakan peti itu langsung dia mencintai Nabi Musa alaihiatu wasalam dan mengasuhnya namib walusnaini dan agar kamu diperlakukan dengan pengawasan pandangan Mataku Ini juga Allah subhanahu wa taala menetapkan sifat Alin yang tentu disebutkan di sini dalam bentuk Tunggal ya Mufrad satu untuk meliputi kedua-duanya jadi Allah subhanahu wa taala berdasarkan ayat-ayat ini berarti Allah subhanahu wa taala menetapkan bagi dirinya dua mata yang maha mulia dan
- Maha Tinggi yang wajib untuk kita tetapkan berdasarkan pemahaman akidah ahlusunah Wal Jamaah tib inilah keyakinan akidah ahlusunah Wal Jamaah ayat-ayat al-qur’an kemudian hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam setelah itu ijmak kesepakatan para ulama ahlusunah yang tadi kita nukilkan dari Imam Utsman Ibnu Said addarimi Kemudian dari Imam Ibnu khuzaimah dalam Kitab Tauhid Imam Abul Hasan al-as’ari Kemudian dinukil oleh Imam Ibnu qayim syhul Islam ibnuimiah maka ini jelas ya yang wajib kita tetapkan dan ini adalah akidah yang
- selamat akidah yang sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain dan para ulama Islam yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan tentu saja ada orang-orang yang menyelisihi akidah ahlusunah Wal Jamaah dalam hal ini sebagaimana pembahasan-pembahasan kita yang lalu orang-orang yang menyelewengkan makna ayat-ayat al-qur’an atau menolak sifat-sifat Allah mereka mengartikan Alin di sini sekedar melihat tapi Allah tidak memiliki mata kata mereka ya Ini namanya tatil menolak sifat yang Allah tetapkan
- bagi dirinya tanpa dalil tentu saja atau menyelewengkan makna tahrif menyelewengkan makna dari sifat yang Allah tetap bagi dirinya tanpa dalil ya mereka mengatakan ya makna dari ayat tadi bunina dengan pandangan mata kami sekedar dengan pandangan saja tapi Allah tidak memiliki mata ya maka jelas ini merupakan ya sikap lancang Allah dan rasulnya menetapkan Kenapa kita berani menafikan alasan mereka ini tidak pantas ini tidak masuk akal dan seterusnya kita katakan sifat-sifat Allah itu sama dengan pembahasan satu sama dengan pembahasan
- yang lain kalau sekedar kita mengatakan kalau kita menetapkan mata berarti sama dengan menetapkannya dengan seperti yang ada pada makhluk kita katakan tidak mesti Demikian Ya karena sudah pernah kita Contohkan sifat-sifat itu kita Artikan sesuai dengan kepada pada siapa kita menetapkan sifat tersebut Contoh saja di kalangan makhluk sifat mereka tidak sama kalau kita mengatakan misalnya ya manusia punya kekuatan sifat gajah punya kekuatan Apakah kekuatannya Sama Tidak sama itu sifat maknawi sekarang sifat yang Zahir ya
- manusia punya wajah kambing punya wajah gajah juga punya wajah kerbau punya wajah Apakah sama wajahnya tidak sama jangankan binatang manusia saja punya wajah berbeda-beda jadi tidak bisa kita katakan kita menetapkan berarti menyerupakan karena sifat itu sesuai dengan kepada siapa kita menetapkan sifat tersebut coba misalnya Antum mengatakan orang ini orang ini halus ya orang ini halus orangnya lembut dengan Antum mengatakan karpet ini halus atau karpet ini lembut kain ini lembut kain ini halus Apakah sama makna lembut
- atau halus di sini beda karena diartikan sesuai dengan kepada siapa kita menisbatkannya kalau ini berlaku pada makhluk apalagi Allah subhanahu wa taala yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna yang jelas kita menetapkan karena Allah menetapkan bagi dirinya dan kita yakin dengan dengan firman Allah subhanahu wa taala aantum a’lamu amillah Apakah kamu lebih tahu dibandingkan dibandingkan Allah subhanahu wa taala tib Oleh karena itu ya ketika mereka menafikan sifat ini dari Allah subhanahu wa taala kita katakan pertama Ini menyelisihi Zahir
- lafaz al-qur’an Bahkan bukan cuma satu ayat al-qur’an ada tiga ayat yang kedua ini menyelisihi kesepakatan para ulama Salaf ya kemudian tidak ada Dalil yang menunjukkan bahwasanya ketika Allah menyebutkan Alin yaitu mata sekedar menunjukkan pandangan saja tanpa ada mata tidak ada dalilnya hal yang seperti ini justru para ulama Salaf menetapkan sifat yang Mulia ini bagi Allah subhanahu wa taala ya maka apa yang ditetapkan oleh mereka-mereka yang menafikan sifat Allah subhanahu wa taala tanpa dalil ini adalah jelas-jelas menyimpang dari
- menyimpang dari akidah ahlusunah Wal Jamaah nah kemudian Tentu juga mereka memiliki syubhat di sini seperti ayat-ayat tadi kan disebutkan tajri bi’yunina bahtera Nabi Nuh itu berlayar dengan pengawasan pandangan mata kami mereka mengartikan ya kalau begitu berarti bahtera tersebut berlayar di dalam mata Allah mereka mengartikan demikian katanya secara bahasa Arab jelas ini batil tidak ada seorang pun ahli bahasa Arab yang memahami demikian karena kalimat ba dalam bahasa Arab seperti di ayat ini itu itu artinya musahabah ba Lil
- musahabah disertai artinya bahtera Nabi Nuh alaihialatu wasalam berlayar disertai pengawasan pandangan mata Allah subhanahu wa taala yang Maha Tinggi Maha mulia dan Maha Sempurna nah Oleh karena itu ini seolah-olah Ini masalah yang sepele saja mungkin kita dengarkan tapi tap kita harus ingat ya yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah tidak boleh kita sekedar menafikan atau menetapkan hanya dengan pertimbangan akal kita sudah pernah Sebutkan kemarin firman Allah subhanahu wa taala di dalam al-qur’an di surah ala’raf
- tentang orang-orang yang membicarakan tentang Allah tanpa dalil ini perbuatan yang sangat buruk bahkan disebutkan di ayat ini tingkatannya melebihi keburukannya perbuatan Syirik menyekutukan Allah bayangkan dosa Syirik yang demikian besar Ternyata ada yang lebih buruk seperti yang disebutkan di ayat ini ya Allah subhanahu wa taala berfirman Qul Inama harbial fawahisya ma minha w bathon Barakallah fikum Insyaallah kita Jelaskan tentang ayat ini dengan sedikit tambahan untuk kajian kita nanti setelah selesai kita melaksanakan salat Isya
- karena sudah waktu azan dikumandangkan Barakallah fikum Shallallahu wasallam wabak ala Nabina Muhammad wa alihibi AJ walhamdulillahibil alamin wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Alhamdulillah Alhamdulillahi ala ihsanih wasukrahu Al taufikihi wtin wa asadu Alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman l wa asadu Anna muhammadan abduhuuidahu Alaihi Wa alihi Wai wa Ikh Alhamdulillah ullah kita teruskan sedikit tadi kita Sedang membahas firman Allah subhanahu wa taala di surah ala’raf tentang keburukan Orang yang membicarakan
- tentang Allah tentang nama-nama dan sifatnya orang-orang yang seenaknya menafikan atau menetapkan tanpa ada dalil hanya berdasarkan pertimbangan akal itu pun menurut pengakuan atau klaim diri mere m sendiri Allah subhanahu wa taala berfirman azubillahiminasyaitanirrajim Qul innama harombial fawahisya maaro minha W bathon walma Wal bagiya bhairil haqqi wa tusyriku Billahi Ma lam yunazzil bihi Sultana waquulu alallahi Ma tlamun Katakanlah hanyalah rabku Allah subhanahu wa taala mengharamkan perbuatan yang keji yang nampak ataupun yang
- tersembunyi dalam hati Wal Isma kemudian perbuatan dosa lainnya Wal bag biril haqqi selanjutnya melakukan penganiayaan tanpa alasan yang benar Wa an tusyriku Billahi Ma lam yunazzil bihi Sultana dan melakukan perbuatan Syirik menyekutukan Allah yang Allah tidak turunkan keterangan tentangnya dan di atasnya lagi wau alallahi Ma talamun dan ketika kamu berbicara tentang Allah dengan sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya di ayat ini Imam Ibnul qayyim rahimahullah taala menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa taala menyebutkan
- dosa dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi ternyata setelah melakukan perbuatan zalim tanpa alasan yang benar di atasnya lagi adalah perbuatan Syirik menyekutukan Allah subhanahu wa taala dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan dalil tentangnya dan lebih tinggi lagi dibandingkan itu adalah berkata tentang Allah membahas tentang Allah tentang nama-nama dan sifat-sifatnya dengan sesuatu yang seseorang tidak memiliki ilmu tentangnya maka ini perbuatan dosa yang sangat buruk melebihi keburukan perbuatan
- Syirik bahkan karena dengan sifat seperti inilah atau dengan perbuatan dosa inilah orang-orang lancang menetapkan sifat yang tidak pantas bagi Allah atau ada orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk termasuk yang tadi dengan seenaknya sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya atau mentakwilkannya mentahrifkan mentahrif menyelewengkan maknanya ini perbuatan yang menjadi sebab kekufuran kesyirikan dan berbagai macam keburukan-keburukan yang lainnya oleh karena itu sekali lagi kita katakan akidah ahlusunah wal
- jamaah yang kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala memudahkan kita petunjuknya untuk mengenal akidah yang lurus Ini benar-benar adalah akidah yang sesuai dengan fitrah sesuai dengan dalil akidah yang paling selamat makanya ini merupakan nikmat Allah subhanahu wa taala yang kita syukuri apalagi di akhir zaman ya akidah ahlusunah Wal Jamaah Aslam a’lam wa Ahkam paling selamat karena kita menetapkan sesuai dengan apa adanya sesuai yang dijelaskan di dalam ayat-ayat al-qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah Sallallahu Alaihi
- Wasallam kita akan bisa pertanggungjawabkan di hadapan Allah kenapa kita menetapkan sifat ini kita katakan Ya Allah karena Engkau menetapkannya di dalam ayat-ayat al-qur’an dan ditetapkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam karena engkau yang berfirman Inna ja’alnahu quranan Arabian laallakum taqilun Sesungguhnya kami turunkan kami jadikan al-qur’an itu berbahasa Arab Agar kalian bisa memahaminya ini dalil kita kemudian a’lam lebih ilmiah karena dalilnya jelas kita tidak menyelewengkan dalil tidak menolak dalil kita menerima dan
- menetapkannya bahkan dikuatkan dengan hadis-hadis yang sahih kemudian kesepakatan para ulama Salaf sebagaimana yang kita nukilkan kemudian dia lebih Ahkam lebih bijaksana ya artinya sesuai dengan fitrah manusia sesuai dengan akal manusia karena kita menetapkannya sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi dirinya dan juga yang ditetapkan di dalam hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan ini tidak bertentangan dengan sifat-sifat kesempurnaan Allah kalau kita sebutkan dengan kaidah tadi tidak mesti yang kita tetapkan bagi
- Allah subhanahu wa taala serupa dengan apa yang ditetapkan pada makhluk meskipun secara lafaz sama tapi hakikatnya berbeda karena sifat-sifat Allah sesuai dengan kemahatinggian kemahabesaran dan kemaha agungannya Adapun sifat-sifat makhluk sesuai dengan kekurangan kelemahan dan keterbatasan yang ada pada makhluk makanya sering kita Sebutkan kaidah ahlusunah Wal Jamaah dalam menetapkan sifat-sifat allahbatun bilailinanun bilatil tapkan tanpa menyerupakan dengan makhluk dan mensucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan tanpa menolak
- sifat-sifatnya inilah akidah yang selamat dan inilah pemahaman ahlusunah wal jamaah yang selalu kita mohon kepada Allah subhanahu wa taala agar kita diwafatkan di atas pemahaman yang benar ini kita dimudahkan untuk istikqamah di atasnya sampai kita menghadap Allah subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti dan sini kita ketahui jemah sekalian rahimakumullah kata para ulama kita ayat-ayat al-qur’an dan hadis-hadis yang sahih yang menjelaskan sifatsifat Allah kan banyak bahkan sudah pernah kita Terangkan ini mayoritas isi
- al-qur’an tidak pernah kita dapati satuun keterangan dari para sahabat yang misalnya menanyakan bagaimana hakikat sifat ini kaifiahnya bagaimana atau mereka mentakwilkan Oh ini bukan seperti ini maknanya tidak ada satuun riwayat seandainya ada pasti ada nukilannya sampai kepada kita menunjukkan bahwasanya mereka menetapkannya apa adanya seperti kata para ulama Salaf amirruha Kama jaat tetapkanlah Pahamilah dalil-dalil tentang sifat-sifat Allah ini sesuai dengan apa adanya dalil tersebut jangan diselewengkan maknanya apalagi jangan
- ditolak karena ini merupakan sifat atau sikap yang sangat lancang terhadap Allah subhanahu wa taala padahal ini menyangkut sifat-sifat kesempurnaannya kemahatinggiannya yang dengan itu Allah subhanahu wa taala memperkenalkan dirinya kepada hamba-hamb-anya yang dengan sebab itu hamba angan mencintai Allah mengagungkan Allah selalu takut dan berharap kepada Allah dan sifat-sifat kebaikan lainnya yang merupakan sifat-sifat yang utama yang berhubungan dengan keimanan di dalam hati seorang hamba tiik Barakallah fikum
- Cukup sampai di sini Insyaallah kajian kita di malam hari ini membahas tentang penetapan sifat Allah subhanahu wa taala alainini alinii dua mata yang maha Mulia Maha Tinggi Maha Agung bagi Allah subhanahu wa taala Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat untuk menambah ilmu kita semakin menguatkan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala semakin menjadikan kita yakin akan kemaha tinggian dan kemahasempurnaan sifat-sifatnya Sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan silakan Barakallah ikum ya Iya amin
- I Barakallah fikum kita menetapkan atau menyebutkan tentang hal ini karena ini masalah gaib sesuai dengan berita yang ada ya ketika yang diterangkan oleh para ulama di situ kita melihat wajah Allah subhanahu wa taala disebutkan dalam sebagian lafaz contoh dalam sahih muslimakai Az maka ketika itu Allah menyingkap hijab yang menutupi dirinya Yang Maha Mulia maka penghuni surga tidak merasakan satu pemberian yang lebih tinggi yang lebih mereka cintai dibandingkan ketika mereka memandang Allah subhanahu wa taala ya Allah subhanahu wa taala kita
- ketahui menjadikan ini sebagai kenikmatan tertinggi di surga dan ini keyakinan akidah ahlusunah Wal Jamaah maka berarti apa yang Allah subhanahu wa taala izinkan kita untuk melihatnya di situ Di surga nanti itulah yang terbaik ya perkara yang ada dalilnya seperti memandang wajah Allah atau memandang Allah secara umum disebutkan di ayat ini tidak disebutkan di hadis ini tidak disebutkan rinciannya satu persatu tapi kita yakini apa yang Allah subhanahu wa taala jadikan kenikmatan tertinggi ini itu sudah cukup tidak
- perlu lagi kita inginkan Yang lain Jadi kita hanya menetapkan sesuai dengan dalil saja ya bahwa berarti kenikmatan tinggi adalah cukup dengan Kita memandang wajah Allah subhanahu wa taala yang maha indah dan itulah kenikmatan yang menjadikan penghuni surga lupa dengan kenikmatan surga lainnya saking nikmatnya kenikmatan yang agung tersebut Semoga Allah subhanahu wa taala menetapkan kita termasuk orang-orang yang masuk ke dalam surga dan mendapatkan kenikmatan tinggi tersebut dengan rahmat dan karunianya Amin ya ada yang lain
- silakan Ya silakan Pak Iya memang syubhat mesti banyak tersebar di akhir zaman ya contoh yang paling sederhana saja masalah menetapkan sifat ulullah kemahatinggian Allah di atas semua makhlukNya nama Allah subhanahu wa taala saja yang menyebutkan tentang sifat ini sudah ada paling tidak tiga alu Maha Tinggi Al almali yang Maha Tinggi kemudian yang lain yang diterangkan di dalam dalil-dalil Alquran dan Sunah bahkan kata Syekh ABD lebih dari 1000 dalil yang menetapkan sifat Maha tingginya Allah samaan dengan itu masih banyak
- orang yang menolaknya ya jadi Subhanallah ini Hidayah bersyukur seorang hamba yang dia itu Ya mungkin ibadahnya biasa-biasa saja tapi alhamdulillah keyakinannya benar dia menerima apa yang disebutkan dalam dalil dia mengikuti petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain apalagi di akhir zaman yang penuh dengan fitnah Ya gampang sekali tersebar berita-berita seperti hal-hal yang menyimpangkan dari akidah yang benar maka yang bisa kita lakukan kita berdoa semoga Allah subhanahu wa taala memberikan Hidayah kepada orang-orang
- yang tersesat agar kembali ke jalan Allah yang benar kalau kita berdiskusi kita sampaikan saja dalil menyebutkan seperti ini ya bahwasanya misalnya Hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam Inna lillahi tiatanina Isman miatan illa wahidan Man ahsohaakalal Jannah hadis riwayat Bukhari Muslim Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala memiliki 99 nama 100- 1 Barang siapa yang menghitungnya yakni menghitung memahami dan mengamalkan kandungannya dia akan masuk surga 99 nama saja sudah mengandung 99 sifat paling tidak karena setiap nama
- mengandung sifat Ya Sekarang begini saja sederhananya terjemahannya alalimu yang maha mengetahui apakah masuk akal kita katakan ini nama cuma menunjukkan Allah itu maha mengetahui tapi dia tidak punya pengetahuan kan aneh Allah Maha Mengetahui tapi tidak punya pengetahuan menetapkan nama saja tapi tidak ada sifatnya Allah Maha menyayangii tidak punya kasih sayang Maha merahmati tidak punya Rahmat ya alqwiu Maha Kuat tapi tidak punya kekuatan ini kan semua pentakwilan yang sangat jauh jadi 99 sifat saja sudah menunjukkan
- 99 99 nama Allah yang disebutkan di hadis tadi hadis Bukhari Muslim tadi sudah menunjukkan yang tidak 99 sifat padahal hadis ini pun juga bukan merupakan pembatasan karena ada sifat-sifat yang Allah sembunyikan pada ilmu gaib yang ada di sisinya sebagaimana yang disebutkan di dalam doa di dalam riwayat yang sahih dalam musnad Imam Ahmad Rasulullah sahu Al wasallam berdoa asaluka baka bihi nafsaka anzalahuiit Ya Allah aku meminta kepadaMu dengan semua nama-nama yang maha indah yang engkau miliki yang engkau namakan dirimu
- dengannya atau yang engkau turunkan di dalam kitabmu dalam kitab Alqur’an atau yang kamu ajarkan kepada salah seorang dari hambaMu atau yang kamu khususkan sembunyikan pada ilmu gaib yang ada di sisimu ini kan tidak ada cara mengetahuinya ini menunjukkan tidak tidak menjadi pembatasan 99 pun juga bukan merupakan pembatasan nama Allah subhanahu wa taala kesempurnaannya tidak ada yang bisa membatasi karena Allah subhanahu wa taala Maha Tinggi Maha Agung dan Maha Mulia n Barakallah fikib Kalau tidak ada pertanyaan lain
- kita cukupkan sampai di sini kajian kita mohon maaf atas segala yang salah dan kurang Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kita untuk selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat yang mewariskan amalan Saleh yang menjadi sebab Allah subhanahu wa taala jadikan kita istiamah di atas Islam yang benar sesuai dengan Alquran dan Sunah Dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum AJM kita istiamah di atasnya sampai kita menghadap Allah subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti demikian Barakallah fikum Shallallahu wasallam wabak Al
- Nabina Muhammad alibihiinhamdulillahbilaminhanakallaham asuaha anagfir wasalamikum warahmatullah wabarakatuh
#15 Al-A’inaani (Dua Mata Yang Maha Mulia) #Lanjutan – Ustadz Abdullah Taslim, Lc., MA
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply