- Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wamay yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
- Ya ayyuhalladzina amanut ittaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanqubakumadziquum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaanaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu fa Allahumma shi wasallim wabarik ala nabina muhammadin waa alihi washbihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin amma ba’du.
- Alhamdulillah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita selalu senantiasa memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah sebesar-besar nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat dalam agama kita.
- Nikmat dalam kebaikan iman kita. Inilah makna rahmat Allah Subhanahu wa taala yang khusus. Makna rezeki Allah Subhanahu wa taala yang khusus yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman yang dipilihnya. Dalam sebuah asar yang sahih dari sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu taala anhu, beliau berkata, “Innallaha yutid dunya man yuhibbu wala yuhibb wala yutil imana illa man yuhib.
- ” Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala memberikan dunia kepada siapa saja. Orang yang dicintainya maupun tidak dicintainya. Orang yang kafir, beriman yang taat maupun durhaka. Tapi Allah tidak memberikan iman kecuali cuma kepada hamba yang dicintainya. Maka ketika kita mendapati diri kita ada semangat untuk belajar agama, semangat belajar Al-Qur’an, belajar sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk memperbaiki diri kita, apalagi belajar akidah yang benar, belajar tauhid, maka sungguh demi Allah ini merupakan pertanda Allah Subhanahu wa taala
- ingin mengistimewakan kita dengan iman karena dimudahkan kita untuk menempuh sebabnya. Ya, di antara nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah adalah al-wadud. Al-wadud wahuwal gfurul wadud. Dan dia adalah Allah yang maha pengampun lagi maha mencintai hamba-hamba yang beriman serta mereka mencintainya. Kata para ulama ahlusunah wal jamaah, di antara kandungan nama Allah yang maha indah ini, al-wadud yang maha mencintai hamba-hamba yang beriman dan mereka mencintainya.
- Di antara kandungan makna nama Allah yang maha indah ini, yaitu Allah memudahkan bagi hamba-hamba yang beriman sebab-sebab agar mereka bisa mencintai Allah. Allah akan mudahkan mereka semangat belajar agama, semangat membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, semangat mempelajari masalah akidah. Apalagi yang berhubungan dengan masalah ilmu yang paling agung di dalam Islam, yaitu ilmu tentang mengenal Allah, mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, yang maha agung lagi maha mulia. Bab. Barakallahu fikum jemaah
- sekalian rahimakumullah. Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala di malam hari ini kita dipertemukan kembali di Masjid Nurul Iman yang mubarak yang penuh berkah ini. Di lanjutan kajian rutin kita membahas kitab akidah yang sangat bermanfaat Al-Aqidatul Wasitiyah karya Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.
- Inilah kitab akidah yang membahas perkara yang paling penting dalam urusan agama kita. Perkara yang pembahasannya merupakan mayoritas isi Al-Qur’an yaitu mengenal Allah Subhanahu wa taala. mengenal nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi dengan metode yang benar, yaitu metode ahlusunah wal jamaah.
- Hanya kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang Allah tetapkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Karena tidak ada yang tahu nama dan sifat yang pantas bagi Allah yang maha agung, yang maha tinggi, maha mulia, kecuali Allah subhanahu wa taala sendiri.
- Tentu kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang mendapatkan wahyu darinya. Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengucapkan dalam doa beliau di dalam Sahih Muslim, la uksanaan alaika anta kamaita ala nafsik. Ya Allah, aku tidak mampu membatasi pujian dan sanjungan yang pantas bagimu. Engkau adalah seperti pujian yang engkau peruntukkan bagi dirimu sendiri.
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam saja tidak bisa membatasi, apalagi orang lain. Maka ini merupakan metode yang selamat. Makanya akidah ahlusunah wal jamaah adalah akidah yang aslam wa a’lam wa ahkam. yang paling selamat, yang paling sesuai dengan ilmu, yang paling ilmiah, dan yang paling sesuai dengan hikmah.
- Karena dalam permasalahan sepenting ini tidak mungkin Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam luput menjelaskannya. Ada pernyataan dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu taala yang terkenal. La yusofullahu illa bima wasofa bihi nafsahu wama wasofahu bihi rasuluhu shallallallahu alaihi wasallam la yutajawazul quranu wal hadis.
- Tidak boleh kita mensifati Allah kecuali dengan sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya. Yakni dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan yang ditetapkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis-hadis yang sahih. Tidak boleh kita melampaui Al-Qur’an dan hadis. Jemaah sekalian rahimakumullah, kita sudah bahas nama-nama dan sifat-sifat Allah itu bukan cuma indah, bukan cuma agung, bukan cuma baik, tapi dia Maha Indah, Maha Agung, dan Maha Baik.
- Kenapa nama-nama Allah disebut dengan alhusna? Walillahil asmaul husna faduhu biha. Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah, maka berdoalah kepada Allah dengan nama-namanya yang maha indah. Bibadahlah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-nama yang maha indah. Disebut dengan al-husna. Ya, al-husna ini sifat untuk al-asma, nama-nama Allah.
- Kalau satu nama berarti disebut dengan alismul ahsan. Ya, pakai af’alut tafdil untuk menunjukkan sesuatu yang paling alhusna itu kata Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah taala, maknanya adalah balighatun fil husni goyataha. Mencapai puncak dalam kemahanya. Yakni mencapai puncak maha indah. mencapai kesempurnaan dalam kemahadahannya.
- Jadi, belum tentu ada sesuatu yang kita pikirkan oh ini bagus. Oh, ini maknanya baik. Baik untuk manusia belum tentu. Pantas untuk Allah Subhanahu wa taala yang bukan cuma baik tapi maha baik dan maha indah. Ingat sifat-sifat Allah maha sempurna sebagaimana nama-namanya maha indah. Sifat-sifatnya disebutkan di dalam Al-Qur’an.
- Walillahil matsalul a’la. Dan Allah memiliki sifat yang maha tinggi. La naqso fiha biwajhin minal wujuh. Tidak ada kekurangan, tidak ada cacat dan celaan pada sifat-sifat Allah dari semua segi. Maka dari sinilah kenapa mempelajari ilmu ini merupakan gerbang utama untuk menyempurnakan iman kita, menyempurnakan kecintaan kita kepada Allah.
- menyempurnakan rasa takut kita, pengharapan kita, ketundukan kita, tawakal kita, rida kita dan semua. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata, “Akmalunasi ubudiyatan almutaabbidu lillahi bijamiil asmaai wasifatillati yatholiu alaihal basyar.” Orang yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah adalah yang beribadah kepada Allah dengan memahami kandungan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang bisa dijangkau dengan pengetahuan manusia.
- Kenapa? Seperti ini keadaan orang yang beribadah kepada Allah. Dia akan menyempurnakan ibadahnya karena mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah itu mengenal yang maha indah, maha tinggi, dan maha sempurna. Ada sifat yang mungkin kita anggap tadi baik untuk manusia, baik, tapi belum tentu untuk Allah sesuai.
- Dan kita yakin Allah lebih tahu tentang dirinya. A antum alamu amillah. Apakah kalian lebih tahu dibandingkan Allah? Jangankan tentang Allah, tentang diri kita sendiri saja Allah lebih tahu. Ya wallahu y’lamu wa antum laun. Allah maha mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. Wala yuhituna bihi ilma. Dan manusia tidak bisa meliputi Allah dengan pengetahuan mereka karena mereka terbatas.
- Maka untuk nama-nama dan sifat-sifat Allah tidak boleh kita menggunakan pikiran kita. Seperti saya pernah contohkan, ada orang mengatakan Allah itu maha jenius. Kenapa? Uh jenius ini kan pujian bagi manusia. Menunjukkan pintar sekali. Kita katakan cukup Allah menyebutkan tentang dirinya al-Alim maha mengetahui.
- Ini sudah menunjukkan makna yang maha sempurna. Allah lebih tahu tentang sifat yang pantas bagi dirinya. Dalam hal ini kita harus beradab ya. Tidak boleh menjadikan akal kita sebagai ukuran karena akal manusia terbatas. Allah Subhanahu wa taala memperkenalkan dirinya dengan nama-nama yang maha indah, sifat-sifat yang maha tinggi yang dengan kita mengenalnya kita akan semakin mencintainya.
- Karena fitrah manusia mencintai keindahan. Apalagi itu yang maha indah. Makanya ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman di surah Fatir, azubillahiminasyaitanirrajim. Innama yaksyallaha min ibadiihil ulama. Hanyalah yang memiliki rasa takut kepada Allah dengan sebenarnya. Di antara hamba-hambanya hanyalah orang-orang yang berilmu.
- Di dalam tafsir Ibnu Katsir diterangkan berilmu di sini maksudnya a al ulamaul arifuna bihi. Orang yang berilmu dan mengenal Allah. Jadi tidak mungkin tumbuh rasa takut di hati kita. Tidak mungkin sempurna ketakwaan dan tauhid kita, iman kita kalau kita tidak mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah. Berarti semakin kita mempelajari ilmu yang agung ini, ilmu yang mulia ini, rasa takut kita kepada Allah semakin kuat, ketakwaan kita semakin sempurna, ikhlas semakin kita murnikan, khusyuk dalam salat akan semakin kita sempurnakan. Kata Imam Ibnu Katsir
- rahimahullahu taala, liannahu kamaatil marifatu billahi atamma wal ilmu bihi akmalaatil kyatu lahu aoma wa aksar. Hal ini dikarenakan semakin pengetahuan seseorang tentang Allah, tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin besar dan ilmunya tentang hal ini semakin kuat. Maka otomatis rasa takutnya, ketakwaannya kepada Allah semakin kuat dan semakin sempurna pula.
- Makanya jemaah sekalian rahimakumullah, jangan sampai salah dalam memahami perkara yang besar ini. Jangan menggunakan akal untuk menolak sifat-sifat Allah. Kita sudah pernah terangkan kaidahnya. Masyaallah. Kaidah yang sangat ilmiah dan sangat logis. Kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah berdasarkan Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih.
- Karena tidak ada sumber yang dijamin kebenarannya. Apalagi dalam masalah yang sepenting ini selain Al-Qur’an dan sunah, hadis-hadis yang sahih. Kemudian kita selalu ingat ada empat poin yang perlu kita nafikan, yang perlu kita singkirkan. hilangkan dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Pertama apa? Bila tamsil tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Laisa kamitlihi saaiun wahu samiul bashir.” Allah Subhanahu wa taala tidak ada sesuatu yang serupa dengannya. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengannya. Dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Allah maha mendengar. tidak sama dengan pendengaran makhluk ya. Pendengaran Allah maha sempurna, tidak ada yang luput.
- Demikian pula penglihatannya, ilmu pengetahuannya, pengawasannya. Allah Subhanahu wa taala alhayyu maha hidup. Makhluk juga hidup. Tapi hidupnya makhluk penuh dengan kekurangan. Makhluk butuh untuk tidur bisa mengantuk. Sementara Allah subhanahu wa taala la takuduhu sinatun wala naum. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Jadi tidak serupa.
- Meskipun lafaznya sama hidup melihat mendengar tapi untuk Allah kita artikan maha melihat maha mendengar maha hidup maha mengetahui. Ya Allah subhanahu wa taala mencintai. Innallaha yuhibbut tawwabina wa yuhibbul mutathahirin. Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan dirinya tidak sama dengan kecintaan yang ada pada makhluk.
- Karena kecintaan pada makhluk mungkin disertai dengan kelemahan di hatinya. Allah subhanahu wa taala tidak ada sifat-sifat kekurangan seperti ini pada zatnya yang maha mulia. Jadi kita harus menafikan yang namanya at-tamsil. Ya, menyerupakannya dengan makhluk. Walam yakun lahu kufuwan ahad. Dan tidak ada satuun yang serupa atau setara dengan Allah Subhanahu wa taala.
- Sekarang apakah bisa sesuatu itu sama lafaznya tapi dibedakan hakikatnya? Jawabannya sangat bisa. Dalam sifat bisa ya. Kalau berbeda makhluknya maka berbeda maknanya. Sudah pernah kita terangkan di kajian kita yang sudah beberapa pertemuan yang lalu yang sudah lama. Kita contohkan saja. Kalau kita mengatakan sekarang sifat misalnya sifat maknawi, kata-kata lembut atau halus.
- Kita ditanya apa artinya lembut? Apa artinya halus? Kita artikan lembut ya, tidak kasar. Lembut itu kalau dipegang ya ah mulus ya. Lembut itu artinya dari bahan yang enak dipakai. Kita katakan itu kan kalau kain, karpet. Manusia disebut lembut, orangnya halus, orangnya lembut. Ya, artinya berbeda kan. Artinya apa? Kalau manusia lembut atau halus, sabar, tidak mudah marah.
- Iya kan? Kata-katanya santun, sopan. orangnya ramah dan seterusnya bisa berbeda. Padahal sama-sama katanya lembut atau halus. Ya, demikian pula besar misalnya kata-kata besar bisa berbeda tergantung kita mensifati untuk siapa. Kita mengatakan gajah yang besar dengan semut yang besar. Apakah sama besarnya? Ya, kita katakan semut besar itu kan sesuai dengan semut yang biasanya kecil.
- Maka kalau ada semut yang mohon maaf mungkin sebesar kecoa, kita katakan, “Wah, ini besar banget semutnya.” Iya kan? Padahal masih tetap kecil untuk binatang yang lain. Yakni tidak akan bisa kita mengartikan sesuatu kecuali setelah dinisbatkan kepada sesuatu itu. Contoh sekarang wajah. Manusia punya wajah, binatang punya wajah.
- Apakah sama wajahnya? Wajah manusia wajahnya mohon maaf kambing atau kerbau, sapi. Apakah sama? Jangankan binatang, manusia saja beda-beda wajahnya. Yni. Maka tidak tidak mesti ketika kita menetapkan satu sifat di kalangan makhluk berarti kita menyamakan. Sama sekali tidak. Makanya sudah pernah kita bahas Allah Subhanahu wa taala ketika berfirman, “Wabqo wajhuika dzul jalali wal ikram.
- ” Dan akan kekallah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Ada orang-orang yang dengan akalnya mengatakan, “Ah, tidak mungkin kita menetapkan wajah bagi Allah. Berarti menyerupakan dengan makhluk.” Jawabannya tidak benar. Kita mengatakan Allah memiliki wajah yang sesuai dengan kemahagiannya, kemahaungannya, kemaha besarannya.
- tidak sama dengan wajah yang ada pada makhluk. Dengan cara seperti itu kita menetapkan sesuai dengan dalil, tidak bertentangan juga dengan akal. Dan ini cara yang paling selamat karena Allah menetapkannya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menetapkan di dalam hadis-hadis yang sahih, maka kita wajib menetapkannya.
- Allah Subhanahu wa taala yang lebih tahu tentang sifat kemuliaan, kemahagian yang pantas bagi kemahaungan dan kemahaannya. Jadi yang pertama menafikan keserupaan, yang kedua wala takyif, tidak boleh membagaimanakan. Nama-nama Allah ada hakikatnya, sifat-sifat Allah ada hakikatnya. Tapi Allah yang maha mengetahui. Kita hanya meyakini dan menetapkan sesuai dengan makna yang disebutkan di dalam bahasa Arab.
- Tapi kita meyakini beda dengan apa yang ada pada makhluk. Takyif ini merupakan perantara untuk menyerupakan. Makanya dilarang. Ya. Dan ini sudah pernah kita sebutkan beberapa kali pernyataan yang terkenal dari Imam Malik yang melarang membagaimanakan sifat-sifat Allah. Ya, al imanu bihi wajib wasalu anhu bidah.
- Bidah mengimani sifat-sifat Allah wajib. Menanyakan tentang bagaimananya ini adalah perkara yang menyimpang dari agama. Yang ketiga, walail. Tidak boleh kita menolak sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya. Apalagi dengan alasan ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Allah menetapkan tidak masuk akal? Seolah-olah kita mencela firman Allah, berarti firman Allah ini tidak sempurna.
- Apakah mungkin Al-Qur’an tidak sempurna petunjuknya? Tidak mungkin ada petunjuk yang lebih sempurna dibandingkan Al-Qur’an. Waman asdaqu minallahi haditha. Siapakah yang lebih benar ucapannya dibandingkan Allah Subhanahu wa taala? Jadi kita harus menetapkan dalam perkara yang paling penting urusan tauhid, urusan akidah.
- Tidak mungkin Al-Qur’an diturunkan menjelaskan masalah ini dengan bahasa-bahasa yang susah dipahami, membingungkan. Al-Qur’an disifati oleh Allah sebagai nurun wa kitabum mubin. Cahaya dan kitab yang memberikan penjelasan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya wama ala rasulina illal balaghul mubin. Tidak lain kewajiban bagi rasul kami adalah kecuali menyampaikan dengan penjelasan yang jelas, penyampaian yang jelas. Apalagi untuk urusan akidah.
- Jadi tidak boleh kita menolaknya dan kita yakini kalau kita renungkan dan kita merujuk kepada penjelasan para ulama ahlusunah wal jamaah, kita yakini penetapan sifat-sifat Allah sangat sesuai dengan akal sehat manusia. Kecuali kalau orang yang akalnya tidak sehat. Makanya kata para ulama salaf, amirruha kama jaat.
- Pahamilah, artikanlah sifat-sifat Allah, ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan datangnya ayat tersebut. Yakni artikan apa adanya. Yang keempat, bila tahrif wala tahrif tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya. Kita boleh tidak boleh kita memalingkannya dari kandungan makna yang diturunkan dalam bahasa Arab.
- Ya, ini sudah kita sebutkan contoh-contohnya. Dan dengan cara inilah kita memahami perkara yang paling penting dalam agama ini dengan metode yang selamat menambah keimanan kita. Karena kita tidak menolak apa yang Allah tetapkan bagi dirinya. Tidak kita menyelewengkan maknanya. Tidak juga kita artikan dengan pengertian yang salah.
- Maka orang yang mengenal Allah, mempelajari hal ini, dia akan selalu mendengarkan penjelasan bahwa semua nama-nama dan sifat-sifat Allah maha indah. Sifat-sifat Allah semua maha sempurna, maha tinggi. Tidak ada kekurangan padanya. Pantas semakin dia mempelajarinya maka dia akan semakin mencintai Allah, semakin selalu mensyukuri nikmatnya.
- Ketika menghadapi takdir Allah yang tidak menyenangkan, tetap dia selalu bersangka baik kepada Allah. Dia selalu rida dengan segala ketentuan Allah. Ini akan semakin menyempurnakan keimanannya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala berkata, “Man arofallaha biasmaihi wasifatihi wa af’alihi ahabbahu la mahalata.
- ” Barang siapa yang mengenal Allah dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, dan perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji, pasti dia akan pasti dia akan mencintai Allah subhanahu wa taala. Jadi, inilah dasar ilmu yang kita pegang. Orang yang beriman meyakini Al-Qur’an adalah sebaik-baik petunjuk semuanya.
- lafaznya apalagi kandungan maknanya. ini dalam semua hal apalagi dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah paling penting dalam keimanan seperti ini. Jemaah sekalian, kita ingat hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam Sahih Bukhari dan Muslim yang pernah kita sampaikan tentang seorang sahabat yang selalu mengulangi setiap rakaat dalam salatnya setelah dia membaca Al-Fatihah dan surat selalu diiringi atau ditutup dengan membaca surah Al-Ikhlas.
- Yakni ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam mengutus syariah pasukan perang yang beliau tidak ikut ya yang diutus secara sembunyi-sembunyi. Seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin pasukan ini selalu ketika salat berjamaah dia selalu menutup bacaannya dengan al-Ikhlas. Akhirnya para sahabat lain melapor kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan beliau menyuruh mereka tanya saluhu liin yasnaalik.
- Tanyakan kepadanya kenapa dia melakukan seperti itu? Setelah baca ayat, setelah al-Fatihah ayat diakhiri dengan al-Ikhlas. Maka sahabat ini berkata, radhiallahu taala anhu, “Liannaha sifatur rahmani wa ana uhibbu an aqraa biha.” Karena surah Al-Ikhlas ini mengandung sifat-sifat Allah yang maha pemurah. Dan saya suka membaca surat yang seperti ini, suka membaca tentang sifat-sifat Allah.
- Saya mencintainya. Ketika alasan ini disampaikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Akhbiruhu annallaha yuhibbuh.” Sampaikan kepadanya Allah subhanahu wa taala mencintainya. Antum tahu ini adalah kedudukan paling tinggi dalam Islam dengan sebab dia mencintai surah Al-Ikhlas. Surat yang sangat ringkas.
- Iya kan? Kita semua hafal. Bahkan sejak kecil kita menghafalnya. Tapi karena begitu dia mengagungkan surat ini, mencintai kandungannya yang menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat Allah, Allah Subhanahu wa taala memuliakan hamba-hamba yang memuliakan nama-nama dan sifat-sifatnya. Allah Subhanahu wa taala mencintainya.
- Maka kita perhatikan di sini, keimanan kita akan benar-benar hidup dengan semakin kita mengenal Allah, semakin kita mencintainya, semakin kita takut, berharap dan tunduk kepadanya. Syekh Abdurrahman Ass’di rahimahullah taala berkata tentang kedudukan mencintai Allah. Kata beliau, “Mahabbatullahi hiya ruhul imani wa hakiut tauhidi wa ainut taabbudi wa asasut takarub.
- Mencintai Allah subhanahu wa taala ini adalah roh keimanan, nyawa iman. Hakikat daripada tauhid, inti penghambaan diri kepada Allah dan landasan utama untuk mendekatkan diri kepadanya. Ya, ini artinya bagaimana iman kita akan hidup kalau kita tidak mencintai Allah, kalau kita tidak mengenal Allah, kalau iman kita tidak hidup, bagaimana ibadah kita akan diterima? Bagaimana keislaman kita akan baik? Jadi, tidak ada cara seseorang itu untuk meraih dan memperbaiki keadaan dirinya, meraih keridaan Allah kecuali melalui jalur mempelajari nama-nama dan
- sifat-sifat Allah. Ingat salah seorang ulama salaf pernah kita nukilkan ucapannya yang dinukil oleh Imam Ibnu Qayyim juga dalam kitab Igothatul Lafan. Ulama ini berkata, “Masakinu ahl dunya khaju minha wqu atyaba ma fiha.” Alangkah miskin dan kasihan orang-orang yang mencintai dunia. Ketika mereka keluar dari dunia ini, mereka belum merasakan kenikmatan tertinggi di dunia.
- Murid-muridnya bertanya, “Apa itu kenikmatan tertinggi di dunia?” Ulama ini mengatakan, “Makrifatullah mengenal Allah wa mahabbatuhu, mencintainya. Wal unsu bidikrihi, merasakan nikmat ketika berzikir, mengingatnya. Wasyauqu ila liqaiihi.” dan merasa rindu untuk mendekatkan diri dan bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala.
- Makanya inilah kenikmatan tertinggi yang pernah kita gambarkan dalam pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai surga dunia yang sejati. yang barang siapa belum merasakan surga di dunia ini, maka dia tidak akan merasakan surga di akhirat nanti. Kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala, inna fid dunya jannatan man lam yadkhulha la yadkhulu jannatal akhirah.
- Sesungguhnya di dunia ini ada surga. Barang siapa yang tidak masuk belum masuk ke dalam surga di dunia ini, dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti. Apa surga di dunia ini? kenikmatan ketika beribadah kepada Allah. Merasakan manisnya iman, nikmatnya iman. Merasakan ibadah yang khusyuk yang menjadikan seorang hamba merasa tenang dalam ibadahnya, merasakan damai hatinya.
- Ala bidikrillahi tatmainnu alqulub. Ketahuilah dengan mengingat Allah, berzikir kepada Allah, hati manusia akan bisa merasakan ketentraman, kedamaian, dan ketenangan. Bab. Barakallahu fikum. Jadi kita ingatkan kembali kaidah-kaidah ini agar kita tidak lupa ya dan kita semakin semangat mempelajari ilmu yang agung ini. Tib. Barakallahu fikum.
- Jemaah sekalian rahimakumullah. Di dalam kelanjutan pembahasan kitab al-Akqidatul Wasitiyah karya dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ini kemudian beliau membawakan beberapa ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah yang ini juga perlu kita bahas dan kita kaji agar tidak salah paham.
- Tadi kaidah dasarnya sudah kita sebutkan. Semua sifat-sifat Allah itu adalah maha tinggi. Artinya, la naqso fiha biwajhin minal wujuh. Tidak ada kekurangan, tidak ada cacat, tidak ada celaan. Kalau ada hal-hal yang kita anggap kenapa seperti ini, kenapa seperti ini, kita harus yakin ini masalahnya ada pada akal kita, pemahaman kita yang kurang.
- bukan sifat-sifat Allah yang ada kesalahan atau cacat padanya. Contoh di sini ada beberapa hal atau beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan tentang sifat-sifat Allah, tapi mungkin menimbulkan pertanyaan, bagaimana kita memahaminya? Coba kita buka misalnya firman Allah di dalam surah An-Naml ayat ke-50. Wa makaru wa makarallah.
- Ya, firman Allah di surah An-Namal ayat 50. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Wakaru makrana makr wahum la yasyurun. Mereka melakukan tipu daya dan kami membalas tipu daya mereka dalam keadaan mereka tidak menyadarinya. Juga di surat Ali Imran ayat 54, sifat makar di sini namanya makar itu artinya dalam terjemahan bahasa kita memperdaya atau melakukan tipu daya. Ali Imran ayat 54.
- Wa makaru wa makarallah wallahu khairul makirin. Mereka melakukan tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka dan Allah adalah sebaik-baik yang melakukan membalas tipu daya mereka. Kita akan bertanya, kenapa ada sifat melakukan tipu daya? Y ya. Kenapa ada sifat melakukan tipu daya? Kan ini buruk.
- Allah sebutkan untuk dirinya. Nah, di sini kita memakai mengikuti kaidah yang dijelaskan oleh para ulama dalam sifat-sifat seperti ini. Jadi, al-makr ada juga al-kaid, alkhida. Ya, kita harus memahaminya dengan benar. Bahwa kita menetapkan sifat-sifat ini dalam makna yang menunjukkan kesempurnaan. bukan yang menunjukkan makna celaan atau cacat.
- Insyaallah akan ada penjelasannya nanti kelanjutannya setelah kita melaksanakan salat Isya. Barakallahu fikum ya. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Wabarakatuh. Alhamdulillah Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrulahu ala taufiihi wamtinan wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwan shallallahu alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwanih amma ba’akallahu fikum
- Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin rahimakumullah. Kita lanjutkan sedikit pembahasan yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah subhanahu wa taala yang harus kita pahami dengan benar ini. Jadi ada sifat maker yang berarti dalam terjemahan kita ya tipu daya. Allah sebutkan di dalam ayat-ayat yang tadi kita bacakan seperti dalam surah Ali Imran ayat 54.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim. Waru wa makarallah wallahu khairul makirin. Mereka melakukan tipu daya dan Allah subhanahu wa taala membalas tipu daya mereka dan Allah subhanahu wa taala adalah sebaik-baik yang membalas tipu daya. Kemudian ada juga sifat ya yang semakna dengan ini yaitu al-kaid. Ya, sifat al-kaid disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa taala di surah at-Thariq ayat 15 dan ke-16.
- Innahum yakiduna kaida wa akidu kaida. Sesungguhnya mereka melakukan tipu daya dan aku membalas tipu daya mereka. Sebagaimana juga Allah subhanahu wa taala ketika menjelaskan tentang orang-orang munafik di surah An-Nisa ada sifat al-mukhada’ah, memperdaya. Innal munafiqina yukadiunallaha wahua kh’uhum.
- Sesungguhnya orang-orang munafik ingin memperdaya Allah dan Allah subhanahu wa taala membalas memperdaya mereka. Sama dengan sifat al-istihza yang disebutkan di awal-awal surah Albaqarah juga Allah sebutkan tentang orang-orang munafik. Allahu yastahziu bihim waamudduhum fi thyanihim ymmahun. Allah subhanahu wa taala memperolok-olok mereka, membalas olok-olok mereka dan yamudduhum fi tuyanihim.
- Membiarkan mereka dalam kesesatan mereka, mereka terombang-ambing di dalamnya. Sifat-sifat seperti ini karena menunjukkan makna yang kesempurnaan dari satu sisi, tapi juga menunjukkan makna yang tidak baik dari sisi lain, ya. Maka kita menetapkannya bagi Allah secara tidak secara mutlak. Tidak bisa kita katakan Allah itu makir, selalu memperdaya, selalu melakukan tipu daya atau mukhade, selalu memperdaya.
- Tapi kita menetapkan dari sisi yang menunjukkan makna kesempurnaan saja, yaitu Allah melakukannya sebagai balasan dari perbuatan orang-orang kafir atau musuh-musuh para nabi dan para rasul, musuh-musuh orang yang beriman. Karena Allah Maha Kuasa menjaga hamba-hambnya dan membalas tipu daya musuh-musuhnya. Makanya kita perhatikan ayat-ayat ini ya seperti wakaru warallahu wallahu khairul makirin.
- Ini berhubungan dengan Nabi Isa alaihi salalatu wasalam. Ketika mereka seorang Yahudi yang ingin membunuh Nabi Isa alaihi salalatu wasalam. Allah Subhanahu wa taala memuliakan nabinya ini diangkat kemudian dijadikan orang ini justru yang diserupakan akhirnya dia yang di disalib. Allah membalas tipu dayanya. Kemudian tentang alkaid tadi innahum yakiduna kaida wa akidu kaida.
- Ini berhubungan dengan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika orang-orang kafir bersepakat untuk mendatangi dan membunuh Nabi sallallahu alaihi wasallam di waktu malam hari. dengan mengutus 10 orang pemuda. Ternyata Allah Subhanahu wa taala membalas tipu daya mereka. Allah Subhanahu wa taala menjadikan mereka tidak melihat ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam keluar yang kemudian itu menjadi sebab beliau berhijrah.
- Kemudian juga ayat yang sehubungan dengan ya ayat yang menyebutkan masalah makar ini yang terjadi pada Nabi Saleh alaihialatu wasalam. Ini semua menggambarkan tipu daya yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan Allah membalas tipu daya mereka. Jadi kita menetapkan sifat ini tidak secara mutlak tapi terkait ala wajhil muqabalah.
- Kita menetapkannya bagi Allah sebagai balasan. Karena Allah maha kuasa menjaga dan membalas tipu daya musuh-musuhnya. Makanya kita artikan dengan Allah membalas tipu daya. Waakaru. Mereka melakukan tipu daya. Waakarallah. Dan Allah membalas tipu daya mereka. Wallahu khairul makirin. Dan Allah adalah sebaik-baik yang membalas tipu daya mereka.
- Berarti orang-orang yang beriman yakin ketika dia bersandar kepada Allah, apapun yang ingin dilakukan oleh musuh-musuh Allah maka Allah maha kuasa menjaga hamba-hamba yang beriman. Jadi kita menetapkannya dari sisi yang menunjukkan makna kesempurnaan dan kita menafikan makna yang menunjukkan ke ketidaksempurnaan.
- Ini caranya kita memahami ayat-ayat seperti ini ya. Jadi ini juga termasuk ya hal yang sudah kita jelaskan tadi sesuai dengan kaidah yang ditetapkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Dalam masalah ini, di ayat ayat-ayat ini juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala membawakan firman Allah di surah Ar-Ra’du ayat ke-13.
- Wahua syadidul mihal. Dan Allah Subhanahu wa taala maha keras siksaannya. Mihal di sini ada dua penafsiran bisa diartikan sangat keras azabnya. Berarti ini biasa pemahaman yang biasa sebagaimana Allah Subhanahu wa taala kita tahu maha keras siksaannya, maha keras azabnya bagi orang-orang yang durhaka kepadanya.
- Bisa juga diartikan mihal di sini dari kata-kata hilah artinya juga kurang lebih sama dengan almar. Makanya Ibnu Taimiyah rahimahullah taala membawakan ayat ini yang jelas sudah kita sebutkan tadi kaidah dalam memahaminya kita tidak menetapkannya secara mutlak bagi Allah tapi kita menetapkan segi yang menunjukkan kesempurnaan saja yaitu Allah subhanahu wa taala membalas tipu daya musuh-musuhnya yang melakukan tipu daya untuk mencelakakan para nabi dan para rasul atau orang-orang yang beriman.
- Maka tentu saja memahami sifat-sifat seperti ini menjadikan kita semakin menyempurnakan tawakal dan penyandaran hati kita kepada Allah. Karena Dia yang maha kuasa atas segala sesuatu, maha kuat dan maha perkasa dan maha kuasa untuk melindungi orang-orang yang beriman dari tipu daya musuh-musuh Allah. Tib.
- Barakallahu fikum. Jadi itulah ya tambahan yang sehubungan dengan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang diterangkan di dalam ayat-ayat ini. Jadi kalau kita ditanya apakah Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat makar atau al-kaid atau al-mukhada’ah memperdaya? Maka jawabannya kita tidak menetapkannya secara mutlak, tapi kita menetapkan segi yang menunjukkan pujian saja.
- Karena sifat-sifat Allah semua adalah sifat-sifat yang maha tinggi. La naqso fiha biwajhin minal wuju. Tidak ada kekurangan atau celaan padanya dari semua semua segi dan sudut pandang. Barakallahu fikum. Maka cukup sampai di sini insyaallah penjelasan tentang sifat-sifat ini yang semoga kita bisa mengambil manfaatnya dan kita bisa menjadikan menjadikan kita semakin kuat berpegang teguh dengan akidah ahlusunah wal jamaah dan semakin menjadikan kita selalu memuji Allah subhanahu wa taala semakin mencintainya karena kesempurnaan kemaha
- tinggian sifat-sifatnya. Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini kajian kita di malam hari ini dan sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin antum sampaikan maka saya persilakan. Barakallahu fikum. Oke. Iya, Fadol kalau ada
- pertanyaan. Waalaikumsalam. Amin. Amin. Barakallah fik. Oh. Iya. kita ada yang belajar ee apa pada kelompok yang mengalarkan i itu apal ee memang ada beberapa yang memang ada di surat Alujudin tapi ada yang lainnya itu yang tidak disebutkan tidak iya barakallahu fikum pertanyaan yang sangat baik sekali jadi yang membatasi sifat-sifat Allah dengan jumlah tertentu ini jelas Tidak ada dalilnya yang mereka jadikan sebagai sandarannya yang ditetapkan itu yang sesuai dengan akal saja.
- Sekarang nama Allah Subhanahu wa taala yang disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim saja ada 99. Setiap nama paling tidak mengandung satu sifat. Ini saja sudah lebih daripada jumlah tersebut. Ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Inna lillahi tisatan isman miatan illa wahidan man ahsahaal jannah.
- ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala memiliki 99 nama ya 100- 1. Barang siapa yang menghitungnya ini menghafalnya, memahami kandungannya, maka dia akan masuk ke dalam surga. Ini saja bukan menunjukkan arti pembatasan. Karena 99 nama ini yang menunjukkan keutamaan yang disebutkan di hadis ini. Karena ada hadis dalam yang sahih dalam Musnad Imam Ahmad kan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan dalam doa beliau, “Allahumma inni asaluka wa asaluka bikulli ismin hua laka sammaita bihi nafsaka anzaltahu fi kitabika alamtahu ahadan min khalqika
- aarta bihi fi ilmil gaibi indak.” Aku memohon kepada-Mu ya Allah dengan semua nama-nama yang Engkau namakan dirimu dengannya atau yang engkau turunkan di dalam Al-Qur’an di dalam kitabmu atau yang engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhlukmu, yakni kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atau nama-nama yang engkau khususkan pada ilmu gaib yang ada di sisimu.
- Berarti ada yang Allah tidak beritahukan kepada kita. Ini pun menunjukkan nama-nama dan sifat-sifat Allah maha luas dan tidak terbatas. Ya, di dalam Sahih Muslim Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan dalam doa beliau juga la uhsiaan alaika anta kamaita ala nafsik. Ya Allah, aku tidak mampu membatasi pujian dan sanjungan bagimu.
- Engkau adalah sebagaimana pujian dan sanjungan yang engkau peruntukkan bagi dirimu yang maha mulia. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “Saya tidak bisa membatasi.” Bagaimana kemudian orang bisa membatasi katanya dengan akal? Ini semua menunjukkan bahwa pemahaman ini, pembatasan seperti ini tidak tidak benar.
- Ya, nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala banyak lebih daripada itu yang disebutkan bahkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan juga sebagaimana yang sudah kita bahas beberapa di antaranya. Barakallahu fikum. Nah, Tayib. Kalau sudah tidak ada pertanyaan, kita cukupkan sampai di sini kajian kita di malam hari ini.
- Semoga bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Kita akhiri. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammad wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bianin ila yaumiddin. Wa akhir dwanahamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
#18 Al-Makr Dan Al-Kaid (Membalas Tipu Daya – Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply