#21 Menetapkan Sifat Istawa’ Allah Diatas Arsy-nya – Ustadz Abdullah Taslim.Lc., MA

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

  • Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
  • Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaanaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu qulan sadida waasulahu faq faza fauzanima.
  • Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan banyak kebaikan dalam hidup kita.
  • termasuk kebaikan besar yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan bagi kita di malam hari ini untuk bisa mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid Nurul Iman yang mubarak yang penuh berkah ini. Di lanjutan kajian kita membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Akqidatul Wasitiyah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala.
  • Barakallahu fikum. Kitab yang memuat prinsip-prinsip dasar akidah seperti kitab al-Akqidatul Wasitiyah ini kitab yang sangat berharga. Di sinilah kita belajar tentang prinsip-prinsip dasar iman yang benar. Di sinilah kita meluruskan kejahilan yang paling besar dalam diri kita, yaitu tentang masalah yang berhubungan dengan keimanan, mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala, memperbaiki ibadah kita, memperbaiki akidah kita.
  • Apalagi di awal pembahasan kitab ini, kita sudah tahu dan sudah kita lewati beberapa pembahasannya adalah membuat tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi, yang maha agung, maha sempurna. Inilah keindahan yang ketika kita mengenalnya maka berarti hati kita telah mengenal keindahan yang paling tinggi.
  • Dan hanya dengan inilah hati manusia akan bisa menjadi tenang, bisa menjadi tentram. Azubillahiminasyaitanirrajim. Alladzina amanu watathmainnu qulubuhum bidikrillah ala bidikrillahi tatmainnul qulub. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang ketika berzikir, ketika mengingat Allah.
  • Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati manusia akan menjadi tenang. Benarlah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan dalam doa beliau ketika meminta iman yang sempurna. Iman yang benar. Allahumma zayyinna bizinatil iman waja’alna hudatan muhtadin. Ya Allah hiasilah kami dengan perhiasan iman.
  • Hiasilah hati kami dengan perhiasan iman dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu mengikuti dan mendapatkan petunjukmu. Jemaah sekalian rahimakumullah. Saat ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sifat-sifat kemahagian dan kemahaurnaan Allah. Dan ini sudah kita ketahui adalah mayoritas isi dan kandungan Al-Qur’an.
  • Yakni ketika orang salah memahami pembahasan yang penting ini, maka berarti dia salah dalam memahami mayoritas isi dan petunjuk Al-Qur’an. Kalau ya dalam penjelasan yang lalu sudah kita sampaikan beberapa kali seorang sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang disebutkan di dalam sahih Imam Bukhari karena dia mencintai surah Al-Ikhlas sehingga dia baca setiap rakaat dalam salatnya.
  • Ketika ditanyakan apa alasannya ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyuruh para sahabat tanyakan kepada dia apa alasannya. Saluhu liyain yasnaalik. Tanyakan kepadanya apa sebabnya dia melakukan itu. Maka sahabat yang mulia ini radhiallahu taala anhu berkata, “Lianaha sifat rahmani wa ana uhibbu an aqra biha.
  • ” Ini lafaznya dalam Sahih Bukhari. Karena surah Al-Ikhlas ini menjelaskan tentang sifat-sifat Allah yang maha pemurah dan aku suka, aku mencintai membaca ayat-ayat yang mengandung sifat-sifat Allah. Ketika disampaikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam alasan ini, maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akhbiruhu annallaha yuhibbuh.
  • ” Sampaikan kepadanya bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mencintainya. Mencintai nama-nama dan sifat-sifat Allah selalu merenungkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini adalah sebab seorang hamba meraih kedudukan yang paling tinggi yaitu Allah subhanahu wa taala mencintainya. Siapakah yang tidak menginginkan kedudukan yang mulia ini? Ya, yang merupakan sebab utama seorang hamba akan meraih kebahagiaan dan kedudukan mulia di dunia dan di akhirat hanya karena mencintai dan selalu membaca dan merenungkan surah Al-Ikhlas.
  • Padahal kita tahu mayoritas isi Al-Qur’an adalah tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Ini berarti pembahasan tentang ayat-ayat seperti ini benar-benar kita harus pahami dengan benar dan sebaik-baiknya. Allah Subhanahu wa taala memperkenalkan dirinya kepada kita dengan apa? dengan nama-namanya yang maha indah, sifat-sifatnya yang maha tinggi, perbuatan-perbuatannya yang maha terpuji.
  • Bagaimana kita akan bisa mencintai Allah, bisa mengagungkannya, bisa selalu tunduk, takut, dan berharap kepadanya. Yang ini semua merupakan inti tiang-tiang utama penopang iman. Bagaimana ini akan tumbuh kalau kita tidak membaca dan merenungkan ayat-ayat seperti ini atau salah dalam memahaminya? Ya, maka ini berhubungan dengan sebab yang membenarkan iman dari dasarnya.
  • Makanya tadi kita sebutkan ayat-ayat seperti ini mayoritas isi Al-Qur’an sekaligus ayat-ayat yang paling tinggi kedudukannya di dalam Al-Qur’an dibandingkan ayat-ayat lain. Ya kan sudah pernah kita jelaskan dan ini seperti penjelasan Syekh Muhammad bin Shh Al-Utsimin rahimahullahu taala. Firman Allah secara keseluruhan kan dia adalah kalamullah, ucapan Allah Subhanahu wa taala. Secara kedudukan ya semua sama.
  • Tentu firman Allah Subhanahu wa taala, sifat Allah yakni ada pada zat Allah, bukan makhluk. Ya, dari ditinjau dari semuanya firman Allah ya kedudukannya sama, tapi ditinjau dari segi isinya atau kandungan maknanya. Tentu saja ayat-ayat yang memberitakan tentang Allah, tentang kemuliaan, kemahagian, kemahaungan sifat-sifatnya tidak mungkin disamakan dengan ayat-ayat yang mengabarkan tentang orang-orang kafir, tentang penghuni neraka, tentang Abu Lahab misalnya.
  • ya, di surat Al-Lahab tentang orang-orang munafik dan ternyata ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah kedudukannya paling tinggi di dalam Al-Qur’an, paling banyak disebutkan dan paling tinggi kedudukannya. Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala di kitab Majmu Fatawa ya mengatakan, “Alquranu fihi min dzikril asmaai wasifati aktarsaru mimma fihi min dikril aqli wasurbi w nikahi fil jannah.
  • ” Wal ayatul mutadominatu lidikril asmaai wasifati a’domu qadr min ayatil maad. Di dalam Al-Qur’an penyebutan tentang ayat-ayat yang menyebutkan tentang nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi itu lebih banyak dibandingkan ayat-ayat yang menyebutkan kenikmatan surga, makanan, minuman, pernikahan di surga.
  • Ya, lebih banyak ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Padahal kita tahu waktu kita membaca ayat-ayat tentang kenikmatan surga, indahnya surga, kenikmatan yang kekal abadi, benar-benar kita termotivasi dalam kebaikan. Tapi ternyata motivasi kebaikan dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah lebih besar lagi.
  • Makanya ini disebutkan dalam mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an. Sudah paling banyak disebutkan kata Ibnu Taimiyah selanjutnya rahimahullah taala ya. Wal ayatul mutadaminatu lidikril asmaai wasifati a’domu qadron min ayatil ma’ad. Sudah paling banyak jumlahnya ya. Setiap hampir setiap ayat ada penyebutan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah.
  • Ditambah lagi ayat-ayat yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allah lebih tinggi kedudukannya. Artinya lebih besar pahala dan keutamaan ketika kita membaca dan merenungkannya. Lebih kuat pengaruhnya dalam menumbuhkan, menguatkan iman di hati kita. Kata beliau, lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ayat-ayat yang menjelaskan tentang al-ma’ad.
  • yakni tentang hari akhir, tentang surga dan neraka. Maka ini menggambarkan kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa taala memang ketika memperkenalkan diri kepada hamba-hambanya dengan menyebutkan nama-nama dan sifat-sifatnya, ya tujuannya agar di hati kita tumbuh kecintaan kepada Allah, pengagungan, ketundukan, rasa takut dan berharap.
  • Dan ini sifat yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah Subhanahu wa taala yang sempurna imannya. Orang yang mencintai Allah otomatis dia akan beribadah kepada Allah dengan semangat. Karena dengan cinta dia akan merasakan ibadah itu nikmat. Tidak lagi dipaksa, tidak lagi malas-malasan seperti orang-orang munafik. Naudubillah minzalik.
  • Kenapa orang-orang yang bertakwa disebutkan dalam Al-Qur’an ulaika yusariuna filhairati wahum laha sabiquun. Ya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan kebaikan-kebaikan, melakukan amal saleh dan berlomba-lomba mengerjakannya. Kenapa? Karena orang yang beribadah dengan cinta, dia akan merasakan lezat dan nikmat.
  • sesuatu yang lezat dan nikmat pasti kita berlomba-lomba bersegera untuk mengerjakannya. Ya, makanya pasti ketika ada orang yang beribadah malas-malasan, kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa taala dipertanyakan, keimanannya diragukan ya. Karena sesuatu yang dilakukan dengan cinta itu akan terasa nikmat. Ini juga saya pernah terangkan kaidah yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Alfaid.
  • Alladzatu tabiatun lil mahabbah. Kelezatan itu mengikuti rasa cinta. Kalau kita mencintai sesuatu pasti kita senang dekat dengannya. Orang yang mencintai Allah pasti merasa nikmat beribadah kepadanya. Sejuk hatinya ketika mendekatkan diri kepadanya. Ya, berulang kali kita nukilkan hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika beliau menyebutkan tentang salat.
  • Apa? Wilat quatu aini fah. Dijadikan kesejukan hatiku di dalam salat. Hiburan bagi jiwaku ketika aku menunaikan salat. Nah, inilah ya tujuan utama kita belajar agama. Inilah buah yang paling manis dari keimanan yang kita pelajari dari kitab-kitab para ulama ahlusunah wal jamaah yang menjelaskan prinsip-prinsip dasar akidah seperti ini.
  • Tujuannya agar kita bisa beribadah dengan benar, beribadah dengan khusyuk. Keimanan itu kan ibaratnya pohon. Diperumpamakan dalam Al-Qur’an seperti pohon. Tidak bisa orang mengharapkan buah yang baik, buah yang manis kalau tidak mengusahakan penanaman dan menumbuhkan pohon dengan baik. Coba perhatikan ketika Allah Subhanahu wa taala berfirman di dalam Al-Qur’an di surah Ibrahim tentang perumpamaan iman, perumpamaan kalimat ikhlas, perumpamaan tauhid yang sangat indah.
  • Alam taro kaifaallahu matsalan kalimatan thyibatan kasyajaratin thyibah. Asluha tsabitu wa’uha fisama titi ukulaha kullainin biidnibbiha. Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik? Yakni kata para ulama artinya kalimat ikhlas, kalimat iman, kalimat takwa, kalimat tauhid, kalimat lailahaillallah.
  • Ya, dua kalimat syahadat lailahaillallah muhammadar rasulullah perumpamaannya seperti apa? Seperti pohon yang baik. Yang ciri-cirinya pohon yang baik itu asluha tsabit. Akarnya menancap kuat ke dalam tanah. Kemudian cabang-cabangnya, batang dan rantingnya menjulang ke langit. Pohon ini akan mengeluarkan buah-buah yang indah dan manis.
  • setiap saat dengan izin Allah. Jadi, ada proses menanam pohon dengan baik, berusaha untuk memberi pupuk, menyiraminya, menjaga dari apa ini? Tumbuhan-tumbuhan pengganggu. Ini semua memilih tanah dalam hal ini hati kita tempat menanam pohon tersebut baru kemudian akan keluar ukulaha buah-buahnya yang indah yang manis dengan izin Allah subhanahu wa taala.
  • Apa itu buah-buahnya? Salat yang khusyuk, ikhlas dalam beramal, berlomba-lomba dalam kebaikan, segera kembali dan bertobat kepada Allah ketika lalai. Masyaallah. Ini kan sifat-sifat dari orang-orang yang bertakwa. Kita selalu dapatkan di dalam Al-Qur’an. Kita baca sejarah para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Apalagi sejarah para nabi alaihiusalatu wasalam. Sejarah orang-orang yang bertakwa. Kenapa mereka berlomba-lomba dalam kebaikan? Kenapa mereka ketika melaksanakan salat betah berdiri berlama-lama? Kenapa mereka ketika berzikir membaca Al-Qur’an tidak mau berhenti? Ya, ini kan buah semua. Buah ini ada prosesnya dari penanaman pohonnya.
  • Jadi kadang-kadang orang salah paham ya ketika dia bertanya atau punya keinginan. Keinginannya baik. Saya ingin ikhlas dalam beramal, saya ingin khusyuk dalam ibadah. Tapi dia tidak memahami bahwa ini ada prosesnya. Di proses inilah kita belajar. Kita harus belajar Al-Qur’an dan merenungkan isinya. Kita harus memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
  • Yang paling penting kita selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala karena semua kebaikan ada di tangannya. Ini adalah sebab yang bisa dilakukan oleh seorang hamba. Tapi kita semua yakin semua sebab ini kalau kita minta dengan sungguh-sungguh, kita lakukan dengan ikhlas, menginginkan kebaikan, maka Allah Subhanahu wa taala berjanji kebaikan-kebaikan itu akan dimudahkannya.
  • Walaqod yasarnal qurana lidzikri fahal mim muddakir. Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an itu sebagai pelajaran. Apakah ada orang yang mau mengambil peringatan darinya? Yakni kalau kita sungguh-sungguh ingin belajar, Allah akan mudahkan. Yuriu bikumul yusro w yuridu bikum alur. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan dia tidak menghendaki kesulitan.
  • Yang penting kita mau sungguh-sungguh kita mau berusaha ya. kita benar-benar meniatkan kebaikan, maka taufik dari Allah Subhanahu wa taala Allah akan mudahkan bagi seorang hamba sesuai dengan keinginan baik, sesuai dengan tekad yang sungguh-sungguh, sesuai dengan kemauan hamba itu untuk mengusahakan perbaikan bagi dirinya.
  • Allah Subhanahu wa taala berfirman, fiil qulubikumir ytikumir. Jika Allah Subhanahu wa taala mengetahui dalam hatimu ada kebaikan, maka Allah Subhanahu wa taala akan memudahkan kebaikan bagimu. Ayat ini ditafsirkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala. Beliau berkata, “Alaqadri niyatil abdi wa muradihi wa ragbatihi fil khair yakunut taufiqu minallahi waanatihi ala abdih.
  • ” Sesuai dengan niat baik seorang hamba keinginannya untuk memperbaiki diri, tekadnya untuk meraih kebaikan. Sesuai dengan itulah taufik yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepadanya dan pertolongan yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan untuknya. Jadi agama ini membawa kebaikan dan kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua kebaikan yang dimudahkannya.
  • Dialah yang ya maha pengasih lagi maha penyayang. Dialah yang aljawad, maha dermawan, almuhsin maha berbuat kebaikan. Nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang menunjukkan kebaikannya, limpahan karunianya, rahmatnya sangat banyak di antara al-Asmaul Husna. Maka dengan ini kita optimis dalam agama ini. Kalau kita sungguh-sungguh mempelajarinya, sungguh-sungguh kita membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, maka Allah Subhanahu wa taala maha pengasih lagi maha penyayang.
  • Ya Allah subhanahu wa taala kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih riwayat Imam Muslim. Lallahu arhamu biibadihi min hadhi biwaladiha. Sungguh Allah Subhanahu wa taala lebih penyayang kepada hamba-hambanya dibandingkan sayangnya seorang ibu kepada anak bayinya. Maka alhamdulillah. Jadi kita mulai upaya perbaikan kita, perbaikan iman kita dari mempelajari kandungan Al-Qur’an yang paling banyak disebutkan yaitu memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Tayib.
  • Barakallahu fikum jemaah sekalian rahimakumullah. Di pembahasan kitab al-Aqidatul Wasitiyah. Selanjutnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala membawakan tentang ayat-ayat yang menjelaskan tentang sifat istiwa Allah Subhanahu wa taala di atas arsy. Sifat maha tingginya Allah Subhanahu wa taala di atas arsynya.
  • Allah Subhanahu wa taala maha tinggi. Dan sifat maha tinggi itu adalah sifat zat yang terus-menerus ada pada Allah. Karena Allah Subhanahu wa taala dialah alaliiyu almutaali wahuwal aliyul adzim. Dan dia maha tinggi lagi maha agung. Almuta’ali artinya juga maha tinggi. Al’la sabbihismaabbikal a’la. Sucikanlah nama Rabbmu yang maha tinggi.
  • Sifat ulu maha tingginya Allah itu mencakup semua makna kemahagian yang tentu ini pantas bagi kemahaungan dan kemahaan Allah yaitu ulu dzat. Allah maha tinggi zatnya. Dia di atas semua makhluknya. Arsy adalah makhluk Allah Subhanahu wa taala yang paling tinggi dan paling besar.
  • Dan Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atas arsynya, di atas semua makhluknya. Ya, dengan kemaha tinggian yang sesuai dengan kebesaran dan kemahaungannya. Yang kedua, uluus sifah atau ulu makanah. Allah maha tinggi kedudukannya, maha tinggi sifat-sifatnya. Yakni maksudnya semua sifat-sifat Allah itu sifat kesempurnaan. La naqso fiha biwajhin minal wujuh.
  • Tidak ada kekurangan, tidak ada cacat dan celaan sedikit pun dari semua segi, dari semua sudut pandang, semua sifat-sifat kesempurnaan. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walillahil matsalul a’la.” Dan Allah Subhanahu wa taala memiliki penyifatan yang maha tinggi, sifat-sifat yang maha tinggi. Jadi ketika ada sifat yang misalnya sudah pernah kita contohkan sebagian dari pembahasan kita yang lalu menunjukkan satu makna dari satu segi itu menunjukkan makna yang indah.
  • Dari segi lain menunjukkan makna yang tidak indah atau ada kekurangan padanya, maka kita hanya menetapkan dari segi yang menunjukkan kemahadahan saja. Ya, ini sudah pernah kita contohkan seperti sifat makr, kemudian sifat al-khida dan seterusnya. Dan nanti juga akan ada beberapa pembahasan yang berhubungan dengan masalah itu insyaallah dari penjelasan ee Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala selanjutnya.
  • Jadi yang kedua tadi makna ulu sifat ya. Sifat Allah itu maha tinggi, kedudukannya maha tinggi. Yang ketiga, uluwul qahr. Allah maha tinggi dalam keperkasaannya. Ya, artinya Allah Subhanahu wa taala ketika menetapkan sesuatu, memberlakukan ketentuan bagi semua makhluknya, tidak ada yang bisa menceganya, tidak ada yang bisa melawannya, tidak ada yang bisa melepaskan diri darinya.
  • Ah, karena kemahak wa taala maha tinggi mengalahkan semua makhluknya. Jadi semua makna kemahagian ini kita wajib tetapkan bagi Allah Subhanahu wa taala ya sesuai dengan makna nama-namanya yang maha indah tadi. Alaliyu ala’la almutaali. Allah Subhanahu wa taala maha tinggi. Tib. Sekarang di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan dan mempertegas makna kemahagian Allah di atas semua makhluknya adalah ayat-ayat yang menyebutkan istiwanya Allah di atas arsynya.
  • Yakni Allah maha tinggi di atas arsynya. Itu disebutkan di dalam Al-Qur’an di tujuh ayat. Di tujuh ayat. Ya, belum lagi di dalam hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, makanya ini termasuk perkara yang disepakati oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Kemudian para ulama ahlusunah wal jamaah, tabiin, atbaut tabiin, dan para ulama ahlusunah wal jamaah yang mengikuti mereka, mengikuti pemahaman mereka dengan kebaikan. Tib ayat yang pertama yaitu di surah Al-A’raf ayat 54. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Inna rabbakumullahulladzi khalaqos samaawati wal ard fi sittati ayyam. fi sittati ayyamin tummawa alal arsy.
  • Sesungguhnya Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa taala yang menciptakan langit, tujuh lapis langit dan bumi di dalam 6 hari. Kemudian Allah Subhanahu wa taala beristiwa di atas arsynya. Ya, para ulama salaf termasuk yang dinukil dalam sahih Imam Bukhari menafsirkan istiwa di sini artinya ala wartafa.
  • Allah maha tinggi di atas di atas arsynya. Tib itu ayat yang pertama. Kemudian ayat yang kedua di surat Yunus ayat yang ketigan, “Inna rabbakumullah khalaqos samawati wal ard fi sittati ayyamin nya tummawa tummawa alal arsy. Sesungguhnya Rabbmu adalah Allah Subhanahu wa taala yang menciptakan langit dan bumi di dalam enam hari kemudian Allah subhanahu wa taala beristiwa di atas arsynya.
  • Ayat yang ketiga di surah Ar-Ra’du ayat kedua. Allah rofaas samawati bighhairi amadin tarunaha tummastawa alal arsy. Allah subhanahu wa taala dialah yang menegakkan langit ya menegakkan tujuh lapis langit tanpa tiang ya tanpa tiang yang kamu saksikan. Kemudian Allah Subhanahu wa taala beristiwa di atas arsynya.
  • Ayat yang keempat di surah Thaha ayat yang kelima. Arrahmanu alal arsyistawa. Allah yang maha pemurah beristiwa di atas arsynya. Ayat yang kelima ya di surah Al-Furqan ayat ke-59. Tummastawa alal arsy. Tummastawa alal arsy arrahman. Kemudian Allah subhanahu wa taala beristiwa di atas arsynya. Kemudian ayat yang keenam di surah As-Sajadah.
  • Allah khalaqas samawati wal ardha w bainahuma fi sittati ayyamin tummawa alal arsy. Allah subhanahu wa taala dialah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yakni termasuk matahari, bulan, bintang, dan dan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Di dalam 6 hari kemudian Allah beristiwa di atas arsynya.
  • Yang terakhir di ayat yang keet7 yaitu di surat Al-Hadid ayat yang keempat. Hualladzi khalaqos samawati wal ard fi sittati ayyamin tummawa alal ars. Dialah yang menciptakan langit dan bumi di dalam 6 hari kemudian Allah Subhanahu wa taala beristiwa di atas arsynya. Tib. Sebagaimana di pembahasan kita yang lalu, kita telah menjelaskan tentang akidah dan kaidah para ulama ahlusunah wal jamaah, para sahabat dan para ulama ahlusunah wal jamaah yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan.
  • ya, bahwa ketika kita mendapati ayat Al-Qur’an atau hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menetapkan tentang sifat-sifat Allah, maka kita wajib menetapkannya apa adanya. Karena Allah lebih tahu tentang kemahagungan, kemahanaan yang sesuai dengan kemaha besarannya. Ya, apalagi para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
  • Tidak pernah dinukilkan satuun keterangan dari mereka yang mereka mengingkari apa yang disebutkan di dalam ayat-ayat seperti ini. Ini sama seperti yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab Majmu Fatawa. Jadi kita wajib menetapkan sifat istiwa bagi Allah Subhanahu wa taala yang tadi sudah kita sebutkan artinya adalah alulu wal irtifa maha tinggi maha di atas arsynya ya kita wajib menetapkan sifat ini sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi dirinya dan kita harus ingat ada empat perkara yang harus kita nafikan.
  • Kita harus tiadakan dalam menetapkan sifat-sifat Allah. Apa yang pertama? Bila tamsil. Tidak boleh kita menyerupakan dengan sifat yang ada pada makhluk. Kenapa? Karena sifat-sifat Allah sesuai dengan kemahaungan dan kemahanya. Adapun sifat makhluk sesuai dengan kekurangan dan kelemahannya sebagai makhluk. Allah Subhanahu wa taala alalim maha mengetahui, maha memiliki ilmu yang sempurna.
  • Makhluk juga ada orang yang dikatakan alim, dia berilmu. Tapi apakah sama ilmu Allah dengan ilmu makhluk? Jelas tidak sama. Makhluk pada ilmu mereka pasti ada ketidaktahuannya, ada kejahilannya, ada yang dia lupakan, ada yang dia lalaikan. Adapun Allah Subhanahu wa taala, dia mengetahui segala sesuatu. Tidak ada kelalaian, tidak ada kelupaan, tidak ada kejahilan pada ilmunya.
  • Karena ilmu Allah Subhanahu wa taala maha sempurna. Sama dengan istiwa ya. Kita wajib menetapkan pertama tadi bila tamsil tidak boleh kita menyerupakan dengan sifat makhluk. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Laisa kamitlihi saaiun wahu samiul bashir.” Dan tidak ada satu makhluk pun yang sama dengan Allah, yang serupa dengan Allah dan dia maha mendengar lagi maha melihat.
  • Allah maha mendengar, makhluk juga bisa mendengar. Tapi pendengaran makhluk terbatas. Allah Subhanahu wa taala dari atas langit ketujuh bisa mendengarkan semua percakapan, permohonan, dan pembicaraan makhluknya. Adapun makhluk terbatas pendengarannya, demikian pula penglihatan makhluk terbatas. Allah Subhanahu wa taala penglihatannya sempurna.
  • Tidak ada yang luput dari penglihatan dan pengawasan terhadap semua makhluknya. Ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Fala tadribu lillahil amsal.” Janganlah kalian membuat penyerupaan atau persamaan Allah Subhanahu wa taala dengan makhluknya. Yang kedua, wala takyif. Tidak boleh kita menanyakan bagaimananya. Kaifiah sifat Allah ada, tapi cuma Allah Subhanahu wa taala yang maha mengetahuinya.
  • Kita hanya menetapkan asal maknanya, tapi keadaannya yang sebenarnya tidak perlu kita tanyakan karena tidak dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa taala dan rasul-Nya. Tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Itu yang kedua. Yang ketiga, wala’til kita menolak sifat-sifat itu. Nanti kita akan bahas.
  • Ada orang-orang yang menolak mengatakan, “Ah, ini tidak sesuai, tidak pantas. Bagaimana mungkin tidak pantas tujuh ayat menyebutkannya? Kalau seandainya tidak pantas, berarti Allah salah menyebutkan ayat-ayat ini. Dan siapa yang lebih tahu tentang sifat kesempurnaan yang pantas bagi Allah? Apakah manusia atau Allah? Jelas Allah.
  • Aantum a’lamu amillah. Apakah kalian lebih tahu dibandingkan Allah subhanahu wa taala? Ya, jadi tidak boleh kita menolaknya. Kaidah ahlusunah wal jamaah. Kita mensucikan Allah tapi tanpa menolak sifat-sifatnya. Kita menetapkan sifat-sifatnya tapi tanpa menyerupakan dengan makhluk. Ini selalu kaidah yang kita ulang-ulang dalam pembahasan kita yang lalu.
  • Isbatun bila tamsilin wa tanzihun bila taatil. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk. Yang kedua, mensucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan tanpa menolak sifat-sifatnya. Kan sudah pernah kita terangkan beberapa kali kaidah ya. Sifat itu ketika kita tetapkan tidak mesti kita serupakan ya.
  • Di kalangan makhluk saja bisa berbeda-beda. Kita mengatakan manusia punya kekuatan. Apakah kekuatan orang ini sama dengan orang yang kedua? Anak kecil sama kekuatannya dengan orang besar, orang yang terlatih angkat besi misalnya sama dengan orang biasa. Beda. Padahal sama-sama kekuatan ya. Jadi tidak boleh kita menolong sifat-sifat Allah.
  • Dan yang keempat wala tahrif. Tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya mentakwilkannya dengan makna yang tidak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah. Dan nanti insyaallah kita akan bahas lebih lanjut tentang masalah ini setelah kita laksanakan salat Isya berjamaah. Barakallahu fikum. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
  • Warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahi ihsani wasukahu wa asadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalahiman lisanih wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwan shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih amma ba’du. Alhamdulillah. Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah.
  • Alhamdulillah kita teruskan kembali kajian yang tadi telah kita jelaskan tentang tujuh ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan penetapan sifat istiwa Allah Subhanahu wa taala di atas arsynya yang sudah kita nukilkan tadi penjelasan dari para ulama salaf seperti yang juga dinukil oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya bahwa istiwa itu maknanya maknanya adalah ala wartefa ya ulu wal irtifa Allah subhanahu wa taala Allah Maha Tinggi di atas arsynya.
  • Tib. Arsy Allah Subhanahu wa taala adalah makhluk Allah Subhanahu wa taala yang paling besar. Arsy itu bahkan ada di atas surga firdaus. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah menyebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Saaltumullah jann fasaluhul firdaus fainnaha aal jannati waatuha wasfuha wa fauqoha arsy rahman.
  • Jika kalian meminta kepada Allah surga maka mintalah surga firdaus. Karena surga firdaus itu adalah surga yang paling tinggi dan paling di tengah. Yang di atasnya adalah arsnya Allah Subhanahu wa taala yang maha pemurah. Nam. Jadi arsy secara bahasa artinya adalah asariru alladzi yaktasu lil malik. Alladzi yaktasu bihil malik.
  • Ya, semacam singgahsana kita artikan begitu ya. Berarti jelas ini merupakan ya makhluk Allah Subhanahu wa taala yang sangat paling besar, paling tinggi dan tentu indah. Allah Subhanahu wa taala maha tinggi di atasnya dan Allah tidak butuh kepada makhluknya. Jadi di sini makna istiwa Allah maha tinggi di atas arsy bukan berarti Allah butuh kepada arsy.
  • Sebaliknya arsy dan semua makhluk yang butuh kepada Allah subhanahu wa taala kan tadi sudah kita sebutkan kita menetapkan sifat-sifat Allah tidak kita samakan dengan apa yang ada pada makhluk. Kalau makhluk ya ada konsekuensi yang menunjukkan kekurangan yang terjadi pada makhluk dari sifat-sifat mereka tidak boleh kita lazimkan itu untuk sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang telah menyatakan tentang dirinya.
  • Laaisa kamlihi saaiun wahua samiul bashir. Tidak ada satuun yang serupa dengannya yang sama dengan Allah dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Tib ahlusunah wal jamaah menetapkan bahwasanya Allah subhanahu wa taala istiwa maha tinggi di atas arsynya yang tentu sesuai dengan kemahaagungan dan kemaha besarannya ya. Makna istiwa sudah diterangkan tadi dari nukilan para ulama salaf ya.
  • Allah maha tinggi di atas di atas arsynya. Kemudian seperti biasa ya, mereka orang-orang yang mentakwilkan sifat-sifat Allah atau menolak sifat-sifat Allah seperti ini akan melakukan takwil, memalingkan makna ini dari makna yang ditunjukkan dalam bahasa Arab dan menyelisihi apa yang ditetapkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah.
  • Seperti yang tadi kita nukilkan dalam Sahih Imam Bukhari. Mereka mengartikan istiwa di sini dengan istaulah. Allah menguasai arsy. Ya, pengertian seperti ini tidak pernah dinukil dari para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Seandainya ada nukilannya mesti akan sampai kepada kita. tidak pernah dinukil dari para ulama ahlusunah wal jamaah setelah para sahabat, para tabiin, attabiut tabiin, bahkan dari para imam mazhab yang empat tidak ada yang dinukil, Pak dari mereka tentang makna ini. Imam Malik rahimahullah taala
  • ketika ditanya tentang makna istiwa, beliau mengatakan apa? Al isiwau maklum wal kaifu majhul wal imanu bihi wajibun wasualu anhu bidah. Ya, istiwa itu adalah sesuatu yang dimaklumi dalam bahasa Arab. Artinya maha tinggi di atas arsy. Kalau dikatakan istawa ala itu artinya maha tinggi di atasnya sifat Allah Subhanahu wa taala.
  • Ya, adapun kaifiahnya itu yang tidak kita ketahui. Cuma Allah yang maha mengetahuinya dan mengimaninya adalah kewajiban. Itu yang pertama. Yang kedua, kalau diartikan istawa itu adalah istaula menguasai, ini akan mengandung konsekuensi yang sangat buruk. Coba kita bacakan ayat tadi secara lengkap. Allah khalaqos samawati wal ardho wama bainahuma fi sittati ayyamin tummawa alal ars Allah dialah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya kemudian Allah beristiwa di atas arsy seandainya kita artikan kemudian Allah
  • menguasai arsy seperti yang mereka inginkan berarti sebelum itu siapa yang menguasainya nya. Apakah ada yang menguasai selain Allah? Tidak ada. Ya, Allah menciptakan langit dan bumi. Kemudian Allah beristiwa di atas arsy. Kemudian Allah menguasai arsy. Berarti sebelumnya ada yang menguasainya sebelum Allah.
  • Karena kata-kata kemudian berarti sebelumnya Allah tidak lakukan itu. Kan ini batil. Tetap Allah itu Allah maha menguasai semua makhluknya termasuk arsy, langit, dan bumi dan semua. Ya. Jadi pengertian ini batil. Kemudian menurut penjelasan dari para ulama ya, ahli bahasa Arab, istaula atau menguasai itu seringnya ya makna daripada kalimat ini seringnya itu menunjukkan makna sebelumnya ada mughalabah.
  • Mughalabah itu artinya ada pertempuran dulu baru dia bisa menguasainya. Jadi istaula itu berarti sebelumnya ada peperangan, ada pertempuran, ada perkelahian begitu. Apakah mungkin ada yang bertempur dengan Allah Subhanahu wa taala kemudian Allah menguasai arsy? Ini kan makna yang batil ya. Tidak benar semua ini.
  • Jadi ini menunjukkan kepada kita bahwa takwil yang mereka sebutkan ini batil. Ada bait syair yang mereka sebutkan dalam hal ini ya. Tapi para ulama, bahkan para ulama ahli bahasa Arab mengatakan ini adalah bait syair yang palsu yang diada-adakan. Tidak dibenarkan penisbatan bait syair ini kepada ya orang yang dikatakan orang Arab asli yang mungkin diambil darinya bahasa.
  • Ala kulihal apa yang mereka sebutkan tentang makna pentakwilan dari makna istiwa dengan makna istaula tadi ya jelas sekali bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan sunah dengan pemahaman para sahabat secara bahasa juga tidak menunjukkan makna seperti itu ya. Mereka membuat kelaziman-kelaziman. Kalau seandainya Allah subhanahu wa taala di atas arsy, berarti Allah itu punya tempat, berarti Allah punya arah, berarti Allah itu memiliki tubuh dan seterusnya.
  • Kita katakan siapa yang mengatakan seperti itu? Kita sudah terangkan kalau itu misalnya ada pada makhluk kan sifat Allah tidak sama dengan makhluk ya. Laaisa kamitlihiun. Allah tidak serupa dengan makhluknya. Tidak ada satuun yang serupa dengannya. Dan kenapa kita tetapkan? Karena Allah menetapkan bagi dirinya di tujuh ayat dan para sahabat tidak pernah mentakwilkannya dengan pentakwilan seperti ini.
  • Dari para ulama ahlusunah, Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik, Imam Abu Hanifah tidak pernah ya di kitab-kitab akidah yang menjelaskan akidah ahlusunah wal jamaah kita baca Imam Syafi’i arrisalah atau syarhusunah yang ditulis oleh murid beliau Imam Almuzani. Kemudian dalam akidah Imam Abu Hanifah ya akidah thahawiyah, mereka semua menetapkan makna istiwa sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah sebelum mereka dan dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan. Ya, oleh
  • karena itu di sini pengertian istaula menguasai arsy ini bertentangan secara dalil maupun secara bahasa Arab. Dalam bahasa Arab kalau dikata-katakan istawa ala itu mengandung makna tadi maha tinggi di atas arsynya. Dan kita tahu Allah Subhanahu wa taala memang memiliki sifat maha tinggi di atas semua makhluknya.
  • Tadi kita sudah sebutkan Allah Subhanahu wa taala di antara nama-namanya yang maha indah adalah aliyu al aa’la. Sabbihismaikal a’la wahuwal aliyul adzim almutaali. semua artinya maha tinggi. Ya. Dan tadi di awal sudah kita terangkan bahwa semua makna kemahagian itu ada pada sifat Allah Subhanahu wa taala. Oleh karena itu, ini termasuk hal yang kita wajib untuk imani ya.
  • Bahwasanya Allah subhanahu wa taala memberitakan tentang dirinya memiliki sifat al-istiwa, maka kita harus tetapkan. Tidak boleh kita menolaknya agar kita tidak termasuk orang-orang yang ya menyelewengkan kalimat Allah dari tempatnya. Sebagaimana perbuatan orang-orang Yahudi yuharfunal kalima amwadiihi. Mereka menyelewengkan kalimat-kalimat Allah dari tempatnya.
  • Kita menetapkan sifat ini. Alhamdulillah sifat maha tinggi ini ya justru ada pada fitrah setiap makhluk. Maha tingginya Allah Subhanahu wa taala. Coba kita lihat orang kalau berdoa atau meminta kepada Allah ada kecenderungan di hatinya untuk menghadapkan diri ke atas. Ya, sampai disebutkan dalam kisah ya dinukil oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullahu taala, salah seorang ee tokoh yang mengingkari sifat istiwa Allah Subhanahu wa taala di atas arsynya.
  • ketika dia sedang menjelaskan masalah ini dengan menggunakan dalil akal, tentu mereka tidak punya dalil dari Al-Qur’an dan sunah bahwasanya Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin memiliki istiwa di atas arsynya. Ada salah seorang muridnya yang mendengarkannya yang bernama Abul Ala Al-Hamadani bertanya kepadanya, “Wahai Imam, sudah tidak usah kita membahas tentang masalah ini, masalah sifat ini berdasarkan dalil.
  • Coba sekarang terangkan kepada kami bagaimana adanya kecenderungan di hati manusia ketika dia meminta kepada Allah Subhanahu wa taala, hatinya menghadap ke atas. Bahkan kita mengangkat tangan ke atas ketika berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Bagaimana bisa ada kecenderungan seperti ini dalam hati kita sesuai dengan fitrah manusia? Maka mendengarkan ucapan ini ya tokoh yang mengingkari sifat istiwa ini mengatakan apa? Hayyaratni hayyaroni alhamadani hayyaril hamadani.
  • Hayyaronil hamadani. Alhamadani ini atau orang dari hamadani ini telah membuat aku bingung. Dia telah membuat aku bingung. Dia telah membuat aku bingung. Karena apa? Menyelisihi fitrah orang yang mengingkari sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi. Ya, maha tinggi di atas semua makhluknya yang beristiwa di atas arsynya.
  • Oleh karena itu, sekali lagi ini salah satu di antara akidah ahlusunah wal jamaah. yang harus kita tetapkan ya. Dan tentu saja orang-orang yang mengingkari sifat-sifat yang disebutkan di dalam ayat ayat Al-Qur’an dengan tegas seperti ini, kalau dia mentakwilkannya dengan menolaknya terang-terangan bisa menyebabkan kekufuran.
  • Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama termasuk Imam Abu Hanifah dan para ulama yang lainnya rahimahumullahu taala. Tayib. Alhamdulillah telah selesai kita bahas ya tentang makna istiwa yang disebutkan di dalam tujuh ayat Al-Qur’an dan tentu saja ini juga berkaitan nanti dengan penjelasan makna sifat quluwullah, sifat maha tingginya Allah Subhanahu wa taala di atas semua makhluknya.
  • Yang jelas kalau kita ingin baca penjelasan tentang ee nukilan dari para ulama salaf tentang sifat Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi di atas semua makhluknya, bahwa ini disepakati oleh para ulama salaf dari kalangan para sahabat, tabiin, tabiut tabiin itu seperti yang dinukil oleh Imam Azzahabi rahimahullahu taala dalam kitab beliau, Alulu lil aliyil guffar, sifat maha tinggi untuk Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi lagi maha lagi maha pengampun.
  • Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kita untuk bisa memahami ya petunjuk dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang berhubungan dengan pembahasan nama-nama dan sifat-sifatnya. Semoga kajian kita di kesempatan malam hari ini bermanfaat dan menjadi sebab untuk semakin menambah keimanan dan keyakinan kita.
  • menjadikan kita semakin tunduk dan semakin mengagungkan dan memuliakan Allah Subhanahu wa taala sesuai dengan sifat-sifat kemahagian dan kemahaungannya. Demikianlah kajian kita di malam hari ini. Sebelum kita akhiri mungkin kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan oleh jemaah maka saya persilakan. Barakallahu fikum. Nah, baik dari Allah turun dari arsnya dari sepertiga malam.
  • Iya. Tidak ada kata-kata turun dari arsnya. Yang ada itu lafaznya di dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Yanziluna ila samaid dunya lailatin yabqil akir fayqu yaduni faastajibahu waman yasaluni faiahu waman yastagfiruni faagfir lahu.
  • ” Rabb kita Allah subhanahu wa taala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Kemudian Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepadaku, aku akan kabulkan doanya. Meminta, aku akan berikan permintaannya. Siapa yang mohon ampun, aku akan mengampuni dosa-dosanya.” Ya Allah subhanahu wa taala turun ke langit dunia sesuai dengan keagungan dan kebesarannya.
  • Tidak sama seperti yang ada pada makhluk. Ya. Dan sifat turunnya Allah ini kan sifat yang Allah lakukan sesuai dengan kehendaknya. Kita menetapkan karena ada hadis sahih yang menyebutkannya. Dan ini tidak bertentangan dengan sifat Allah maha tinggi. Ya, jangan kita bayangkan seperti makhluk berarti kalau dia turun dia ada di bawah makhluk ya. Tidak.
  • Allah Subhanahu wa taala tetap maha tinggi di atas semua makhluknya ya. Dan kita harus ya mengartikannya sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa taala beritakan dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di atas di dalam hadis-hadis yang sahih. Kita ingat kembali tanpa kita menyerupakan dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk.
  • Nah, barakallahu fik tayib. Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita silakan. Iya di Al-Qur’an ya. Iya. Disukkan dalam Al-Qur’an. Wahmilu arsyaika fauqahum yaumaidin tsamanih. Yang memikul arsy Rabbmu pada hari itu ya adalah delapan malaikat. disebutkan oleh para ulama tentang para malaikat tersebut. Seperti misalnya penjelasan dari ee Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah taala misalnya malaikat yang ee meniup sangkakala ya pada hari kiamat nanti malaikat Israfil dia adalah juga termasuk salah satu yang memikul arsy tersebut ya.
  • Jadi dia termasuk salah satu yang memikul arsy tersebut. Jadi disebutkan tentu ini harus semua berdasarkan dalil ya. Kalau ada dalil yang sahih kita menetapkan. Yang jelas Allah Subhanahu wa taala menyebutkan di ayat tersebut bahwasanya malaikat itu ee arsy itu dipikul dipikul oleh delapan malaikat. Ini arsy sangat besar.
  • Dan para malaikat tentu makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa taala yang sangat yang sangat besar. Ini tentu semua dengan perintah Allah Subhanahu wa taala. Karena para malaikat adalah makhluk-makhluk yang selalu taat dan tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa taala. Nah, I silakan Pak. Ee tadi dijelaskan bahwa kita minta yang baik-baik gitu.
  • Nah, saya tadi sudah sebutkan instala surga surga down paling tinggi kan. Kita sebagai makhluk di sana merasa ee kayaknya aku belum ke atas penting masuk surga. Tapi kalau masanya gimana ya? bahwa memang kita harus sudah kita merasa kita belum belum maksimal gitu. Iya. Barakallah fik. Pertanyaan yang sangat baik sekali.
  • Jadi maknanya hadis tadi kita disuruh optimis ketika meminta karunia Allah. Karena karunia Allah itu maha luas. Kita tidak pantas. Kita banyak kekurangan dan dosa, tapi kita berhadapan dengan Allah Subhanahu wa taala yang maha luas karunianya, yang maha besar limpahan anugerah-Nya bagi hamba-hambnya. Ya, maksudnya kita minta kepada Allah Subhanahu wa taala menunjukkan bahwa kita benar-benar mengharapkan, kita yakin dengan kebaikan-kebaikan dan sifat kedermawanan Allah Subhanahu wa taala itu maksudnya.
  • Jadi di sini kita selalu disuruh optimis dalam kebaikan ya. Kalau kita merasa diri kita penuh dengan kekurangan, ya sudah kita perbaiki diri kita, kita tingkatkan keimanan kita, ya. Jadi dalam dalam hal-hal yang berhubungan dengan kebaikan, kita diperintahkan untuk yakni punya selera tinggi. Punya selera tinggi, ya. Makanya tadi hadisnya menyeruh kita untuk meminta kepada Allah subhanahu wa taala surga surga firdaus.
  • Karena Allah subhanahu wa taala tidak [tertawa] menghalangi karunia yang agung kepada hamba-hamba yang sungguh-sungguh. dan berusaha untuk bisa mendapatkan karunia dan kemuliaan tersebut. Nah, barakallah fik ya. Silakan seperti apa, Ustaz? Tafid. Tafwid. Barakallahu fik. Jadi, ada pemahaman yang menyebutkan yang diistilahkan oleh para ulama dengan tafwid, ahlut tafwid atau almufawidah, ya.
  • yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala mengatakan tentang mereka ini. Mereka adalah ee min syarri maqalati ahli takwil, ahli taatil. Seburuk-buruk ucapannya orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah. Sebenarnya mereka ini tujuannya menolak tapi dibuat atau dikemas dalam bentuk yang halus. Jadi sekarang begini, ada sifat-sifat Allah yang diterangkan di dalam tadi kita katakan mayoritas isi ayat-ayat Al-Qur’an.
  • Nah, Al-Qur’an ini kan diturunkan dalam bilisanin arabiyin mubin dengan bahasa Arab yang jelas. Al-Qur’an diturunkan untuk memberikan penjelasan bukan untuk mengaburkan. Berarti makna Al-Qur’an kita paham bahkan jelas maknanya. Apalagi bagi orang-orang yang berilmu. Nah, ahlut tafwid ini mereka mengatakan ayat-ayat yang menjelaskan tentang nama-nama atau sifat-sifat Allah itu ayat-ayat yang mutasyabihat, tidak jelas maknanya.
  • Makanya kita kembalikan saja kepada Allah Subhanahu wa taala. Sekarang apakah mungkin Al-Qur’an itu dikatakan sebagai kitab yang memberikan penjelasan sementara sebagian maknanya tidak dipahami? Al-Qur’an ini diturunkan untuk menjelaskan atau membingungkan? kan untuk menjelaskan lah kenapa ayat-ayatnya mayoritas tidak dipahami seperti yang mereka katakan.
  • Jadi ahlusunah wal jamaah itu yang mereka pasrahkan tauhid artinya dipasrahkan ya diserahkan kepada Allah. Yang mereka pasrahkan kepada Allah itu adalah kaifiah bukan makna. Kalau makna mereka tetapkan secara asal bahasanya maknanya seperti ini. Cuma tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk.
  • Tadi kan sudah kita sebutkan contoh sifat itu di kalangan makhluk saja bisa berbeda. Meskipun sama secara asal makna. Tadi kita katakan kalau kita mengatakan orang ini kuat apakah kekuatannya sama dengan kekuatan orang lain? Kekuatan anak kecil. Ada lagi makhluk lain misalnya gajah kuat. Apakah sama dengan kekuatan manusia? Padahal sama-sama kuat kan? Tapi kekuatan ini berbeda sama yang ini.
  • Ini di kalangan makhluk. Apalagi Allah Subhanahu wa taala yang maha tinggi. Jadi maksudnya ahlusunah itu kaifiah. Kaifiah itu adalah bentuk yang sebenarnya dari sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala itu ada tapi cuma Allah yang tahu. Itu yang kita serahkan kepada Allah. Adapun maknanya kita tetapkan. Karena masalah akidah ini penting untuk kita pahami.
  • Bagaimana kita akan bisa memahami masalah akidah supaya kita beriman kepada Allah dengan benar, supaya kita bisa menyembahnya dengan benar, mentauhidkannya. Kalau masalah ini kita tidak pahami, berarti Al-Qur’an bukan menjelaskan, membingungkan atau mengaburkan karena tidak jelas masalah-masalah akidah. Jelas ini merupakan pengertian yang tidak benar.
  • Jadi kita yakini ayat-ayat Al-Qur’an menjelaskan akidah dengan penjelasan yang sangat gamblang, sangat terang. Demikian pula hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang bahkan beliau pernah mengatakan, “Laq tarokum alil baid lailuha kahariha la yazigu anha ba’di illaik.” Ini hadis sahih riwayat Imam Ahmad.
  • “Sungguh telah aku tinggalkan kalian wahai umatku di atas petunjuk yang putih bersih terang benerang malamnya seperti siangnya. tidaklah menyimpang dari petunjukku kecuali orang yang akan binasa. Jadi ini menunjukkan kepada kita ya tentang batilnya pemahaman orang-orang yang mengatakan tafwid tadi. Karena mereka menyerahkan maknanya kepada Allah seolah-olah Al-Qur’an tidak kita ketahui maknanya.
  • Ayat-ayat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Padahal ahlusunah wal jamaah tidak mengatakan demikian. Barakallah fik. Bab kita cukupkan sampai di sini. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum bisanin yaumiddin waakirwanaillahbilamin subhanakallahum wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Yeah.

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *