- Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa’inuhu wafiruh wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina. May yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadialah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.
- Ya ayyuhanqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaq minha zaujaha w minhuma wattaqulahalladziasaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba yauhalladina amanqulaha Allahumma sh wasallim wik nabina Muhammadin waa alihi wa ashabihi waman tabiahum bisihsanin yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, maasyiral muslimin, Ikhwan dan Akhwat fiddin hafidakumullah.
- Alhamdulillah kita kembali dan selalu senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa taala, memuji dan menyanjungnya atas semua limpahan nikmat, karunia, taufik, kebaikan yang selalu diberikannya kepada kita. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala di malam hari ini kita dimudahkan kembali untuk berkumpul di dalam majelis ilmu yang mulia untuk melanjutkan kajian rutin kita membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Aqidatul Wasitiyah karya dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala
- yang memuat pembahasan yang sangat penting dalam agama. sama kita yaitu pembahasan tentang tauhid. Bagaimana menyempurnakan tauhid ibadah dan penghambaan diri kita kepada Allah. utamanya tauhid yang berkenaan dengan ya memahami nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi.
- Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang beliau nukilkan di awal-awal pembahasan kitab ini. [berdehem] Bab. Kemudian sebelum kita memulai pembahasan kitab yang sangat bermanfaat ini atau melanjutkan kembali pembahasannya, kita ingin ingatkan bahwa ya di malam hari ini kajian kita juga istimewa karena bertepatan dengan pelaksanaannya di 10 hari awal bulan Zulhijah.
- Yang ini merupakan hari-hari atau musim kebaikan yang istimewa, salah satu musim kebaikan yang paling utama atau bahkan yang paling utama dalam Islam. Amal-amal saleh ketika ini paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala. [berdehem] Kita ingat kembali hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam sahih Imam Bukhari dari sahabat Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Ma min ayyamin alamalus shihu fiha ahabbu ilallahi min hadil ayyam. yakni ayyamal asr.
- [mendengus] Tidak ada hari-hari yang ketika itu amalan saleh paling dicintai oleh Allah subhanahu wa taala, yakni paling besar mendapatkan keutamaan balasan pahala di sisi Allah melebihi amalan saleh di hari-hari ini, yakni 10 hari awal bulan Zulhijah. [mendengus] Bayangkan saja sampai para ulama membandingkannya dengan ya mana yang lebih utama antara 10 hari awal Zulhijah dengan 10 malam terakhir di bulan Ramadan yang di situ ada malam Lailatul Qadar.
- Karena disebutkan di dalam hadis ini bahwa amal di hari-hari ini paling dicintai oleh Allah ya semua amal-amal saleh kebaikan secara umum. Baik itu salat setelah salat yang wajib, salat yang sunah, baik itu puasa. Kita tahu ya membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, termasuk tentu saja amal di tanggal 10 Zulhijah ini menyembelih-sembelihan, berkorban karena Allah, amal-amal kebaikan.
- Sebagaimana di 10 hari terakhir Ramadan juga banyak kebaikan-kebaikan termasuk adanya malam Lailatul Qadar. Ya. Dan sebagaimana 10 hari awal Zulhijah setelah itu rangkaiannya ditutup dengan salat Id dan salat Idul Qurban. Demikian pula 10 hari terakhir Ramadan. Ya, setelah itu langsung digandengkan atau dirangkaikan dengan pelaksanaan salat Idul Fitri.
- [berdehem] Ya, maka hari-hari ini sangat terbatas dan sangat besar keistimewaannya. Kita hendaknya memperbanyak amal-amal kebaikan kayak seperti puasa secara umum kan kita tahu dianjurkan. Yang paling utama adalah puasa di hari Arafah, di hari Selasa nanti insyaallah. Yang keutamaannya kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim, yukiratal madi wal baqiah.
- Menggugurkan dosa-dosa di tahan di tahun yang lalu dan tahun berikutnya. 2 tahun digugurkan dosa-dosa dengan puasa ini. Masyaallah. Ini keutamaan yang sangat besar. Kemudian berzikir, membesarkan nama Allah, mentauhidkan Allah, memuji Allah, mensucikan Allah. Sangat dianjurkan di hari-hari ini. Allah sebutkan secara khusus di dalam Al-Qur’an di surah Al-Haj.
- Liyashhadu manafiahum wausmallahi fi ayyami maklumat. agar mereka menyaksikan manfaat untuk mereka dan agar mereka berzikir, menyebut nama Allah, membesarkan nama Allah di hari-hari yang telah dimaklumi. Ada asar yang sahih dari Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma yang mengatakan bahwa 10 ee hari-hari yang dimaklumi ini adalah 10 hari awal bulan Zulhijah.
- Dan ini adalah penafsiran dari jumhur ulama tentang makna ayat ini juga secara khusus. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan di dalam hadis sahih yang lainnya tentang hari-hari ini. Faaksiru fihinna minat tahlili takbiri wat tahmid. Maka perbanyaklah di hari-hari ini mengucapkan tahlil lailahaillallah. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah.
- Mengucapkan takbir Allahu Akbar Allah Maha Besar. Dan tahmid mengucapkan alhamdulillah segala puji bagi Allah. Jadi ini sunah yang kita hidupkan karena ada dalilnya Al-Qur’an, ada sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam, kemudian praktik para sahabat. Kita sudah dengarkan mungkin asar dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu taala anhuma.
- Dua sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam di 10 hari awal Zulhijah mereka masuk pasar kemudian bertakbir di pasar. keliling pasar bertakbir sehingga orang-orang di pasar bertakbir dengan takbir mereka. Bahkan Ibnu Umar mempraktikkan takbir ini di semua tempat kecuali tempat-tempat yang dilarang berzikir ya, di rumah, di jalan, di kendaraan, dan di tempat-tempat lainnya.
- Yakni kita harus hidupkan ini agar masyarakat mengetahui bahwa takbir di bulan Zulhijah bukan hanya di waktu salat Id saja. Iya. Takbir yang diajarkan di dalam arar Ibnu Mas’ud. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallahu. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Walillahilhamd. Ini bukan hanya di waktu id saja.
- Dari sekarang kita kumandangkan. Ini takbir yang dikatakan oleh para ulama takbir mutlak yang tidak terikat dengan waktu. Ya. Kita kumandangkan di semua tempat-tempat. Kemudian ada juga yang diistilahkan para ulama attakbirul muqayyad. Takbir yang terikat dengan waktu yakni setelah selesai salat lima waktu itu dimulai ya [berdehem] menurut beberapa riwayat.
- Ada riwayat yang dilemahkan oleh sebagian dari para ulama dari Nabi sallallahu alaihi wasallam atau sejumlah sahabat. Ya, sebagian ulama mengisyaratkan kelemahan riwayat ini. Yaitu dimulai dari tanggal 9 Zulhijah yaitu hari Arafah setelah salat subuh. Kita bertakbir setelah setelah selesai salat.
- Kemudian lanjut sampai tanggal 10, 11, 12 sampai tanggal 13. Sampai tanggal 13 terakhir setelah selesai salat asar. Ini yang namanya muqayyad terikat dengan waktu. Setelah selesai salat lima waktu. Ya. Sehingga takbir ini di lima hari tersebut bertemu takbir yang muqayyad dan mutlak yang terikat dengan waktu setelah selesai salat dan takbir yang tidak terbatas waktunya.
- Karena di hari-hari tasyrik sendiri kan juga hari-hari banyak berzikir kepada Allah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Ayyamut tasyriq ayyamu aqlin waurbin wikrillah.” Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan, minum, dan banyak berzikir kepada Allah. Jadi, masyaallah ini keutamaan bertakbir, berzikir ini membesarkan nama Allah ini amalan yang dianjurkan secara khusus, diperintahkan, dianjurkan dalam Al-Qur’an dan sunah, diamalkan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
- Ya, apalagi kita yang sudah mempelajari kitab al-Aqidatul Wasitiyah kan kita sudah bahas bagaimana kesempurnaan sifat-sifat Allah, kemahadahan nama-namanya. Di saat-saat inilah kita wujudkan dalam bentuk zikir kita memuji Allah, membesarkan Allah, mentauhidkan Allah, mensucikannya dengan zikir-zikir yang kita baca ya.
- Yang ini tentu pahalanya paling besar di sisi Allah Subhanahu wa taala dan tentu pengaruhnya ya yang paling penting juga ini tidak kalah pentingnya pengaruhnya dalam menguatkan keimanan, menumbuhkan di hati kita pengagungan kepada Allah, ketundukan kepada Allah, tauhid hanya menyembah kepada Allah semata-mata dan tidak menyekutukannya.
- kita akan dapatkan faedah yang sangat besar ketika mengamalkan amal-amal kebaikan ini di 10 hari awal bulan Zulhijah yang saat ini kita masih berada di dalamnya. Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah, ingat kita menuntut ilmu termasuk amal saleh juga. Makanya istimewa kajian kita di hari-hari ini. Tapi kita juga ingat ada saat-saat kita dituntut beramal.
- Iya kan? Ilmu akan bermanfaat. Kalau kita amalkanal ilmu bil amali wain ajaba waahal ilmu berbisik memanggil amal kalau amal itu menjawabnya maka ilmu akan menetap kalau tidak ilmu akan pergi. Ini tuntutan kita beramal setiap hari tetapi tentu lebih istimewa di hari-hari ini. sama dengan di bulan Ramadan kita sambut dengan mempersiapkan diri bersemangat berlomba-lomba dalam kebaikan ya apalagi di hari-hari ini banyak amal-amal kebaikan besar termasuk berkorban bagi yang mampu yang ini merupakan simbol ketakwaan di dalam hati kita masyaallah kalau kita ingin bahas
- keutamaan dan amal-amal saleh di bulan di hari-hari ini sangat luar biasa amal-amal ibadah yang besar yang agung yang kita sangat dianjurkan untuk bersemangat mengerjakannya, memperbanyaknya di hari-hari ini. Dan ini merupakan ya di antara bukti kita mengimani janji Allah Subhanahu wa taala, janji keutamaan yang Allah Subhanahu wa taala sediakan di sisinya bagi hamba-hamba yang menekuni amal ibadah dan ketaatan kepadanya.
- Barakallahu fikum. Ya, oleh karena itu sekali lagi karena ini waktu yang singkat ya, waktu yang sangat terbatas, kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebagian ulama mengatakan ini adalah hari-hari terbaik dari hari-hari yang ada di dunia ini. Masyaallah. Kita bersyukur kepada Allah ini termasuk wujud limpahan rahmat-Nya.
- Kita bertemu dengan hari yang istimewa ini. Kita pahami dalilnya, kita memahami fikihnya. Kita juga berusaha mengagungkan nama Allah dengan memahami kaidah ahlusunah wal jamaah dalam menetapkan sifat-sifat kesempurnaan Allah. Bukankah ini menunjukkan ibadah ini akan bernilai sangat utama dan sangat tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa taala insyaallah. Barakallahu fikum.
- Bab jemaah sekalian hafidakumullah, kita akan lanjutkan kembali insyaallah pembahasan [berdehem] dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dinukilkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah. Sekarang kita akan melanjutkan di pembahasan ayat-ayat berikutnya yang menetapkan tentang sifat Allah yang maha agung yaitu sifat kalam.
- Allah itu berfirman, berbicara, berkata-kata. Ya, yang tentu saja firman Allah sebagaimana sifat-sifat yang lain, ya. Tentu laisa kamlihiun wahu samiul bir. [mendengus] Tidak ada satuun yang sama yang serupa dengan Allah Subhanahu wa taala dan dia maha mendengar lagi maha lagi maha melihat. Sebagaimana juga akan dibahas di sini tentang Al-Qur’an adalah kalamullah yang itu dinyatakan dengan tegas di dalam beberapa ayat Al-Qur’an.
- Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Ya, minhu bada wa ilaihi yaud yang bermula permulaannya dari Allah Subhanahu wa taala yang berfirman dengannya dan akan kembali di akhir zaman nanti kepada Allah subhanahu wa taala. [mendengus] Ini salah satu di antara akidah ahlusunah wal jamaah ya yang menetapkan Allah subhanahu wa taala berfirman sesuai dengan kehendaknya ketika dia berfirman dengan Al-Qur’an sebelumnya dia berfirman dengan kitab-kitab lain yang Allah turunkan sebagaimana juga Allah subhanahu wa taala berfirman langsung
- dengan Nabi Musa alaihialatu wasalamallahu Musa taklima dan Allah Subhanahu wa taala Taala berbicara langsung dengan Musa dengan pembicaraan yang sebenarnya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa taala juga berbicara dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika di malam Mikraj ketika Allah subhanahu wa taala mewajibkan salat lima waktu.
- Kita ketahui juga disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih ini. Firman Allah ya. [mendengus] Kenapa ini perlu dibahas? Karena seperti biasa orang-orang yang menyimpang dari jalan ahlusunah wal jamaah ya salah dalam memahami beberapa perkara yang berhubungan dengan firman Allah ini karena menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah ya.
- Ahlusunah wal jamaah menetapkan firman Allah ya atau sifat kalam bagi Allah yang jika ditinjau dari segi jenis sifatnya maka ini adalah sifat zatiah yang selalu ada pada zat Allah Subhanahu wa taala. yakni Allah Maha Kuasa untuk berfirman kapan saja sesuai dengan kehendaknya jika Dia menghendakinya. Dan kaifasya sesuai dengan ya bentuk yang Allah inginkan dan bimasya dan dengan firman apa saja ya yang disebutkan pembahasannya dalam firman Allah tersebut sesuai dengan kehendaknya.
- [berdehem] Adapun dari segi satuan-satuan kalamullah, maka itu adalah sifat fi’liah. Yakni Allah lakukan sesuai dengan kehendaknya. Ya Allah Subhanahu wa taala tidak terus-menerus berfirman. Ketika Allah kehendaki, Allah berfirman. Ketika tidak, maka Allah tidak melakukannya. Karena Allah Subhanahu wa taala adalah fa’alul lima yurid, maha berbuat apa saja yang dikehendakinya.
- Yang jelas ini akan disebutkan beberapa ayat Al-Qur’an. oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala yang menyebutkan tentang firman Allah ini. Bahkan firman Allah ini didengar berarti ada suara, ada huruf-hurufnya yang tentu semua tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Karena sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala semuanya maha tinggi lagi maha sempurna.
- Adapun sifat-sifat makhluk tentu penuh dengan kekurangan dan kelemahan sebagaimana keadaannya sebagai makhluk. kita akan baca penjelasan beliau ayat yang dibawakan pertama firman Allah Subhanahu wa taala di surah An-Nisa ayat 87. Auzubillahiminasyaitanirrajim. di bagian akhir ayat itu, waman asdaqu minallahi hadita.
- Dan siapakah yang lebih benar, lebih jujur ucapannya, firmannya, perkataannya dibandingkan Allah Subhanahu wa taala? Tentu tidak ada. Masyaallah. Ini menunjukkan firman Allah adalah ucapan yang paling benar, yang paling jujur. Oleh karena itu, ketika seseorang ingin mendapatkan petunjuk, bahkan sebaik-baik petunjuk, sebaik-baik pembimbing ketika dia membaca sesuatu, maka yang paling utama adalah ketika dia membaca firman Allah Subhanahu wa taala.
- Ingat kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih yang kita kenal, fainna asdaqal hadisi kitabullah wahairol hadi hadyu Muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam. Sesungguhnya sebenar-benar ucapan [berdehem] adalah kitabullah Al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
- Kemudian juga di surat An-Nisa ayat 122 semakna dengan ayat ini. Waman asdaqu minallahi qila. Siapakah yang lebih benar, lebih jujur kila? Yakni ulan, ucapannya dibandingkan Allah subhanahu wa taala. Jadi hadis hadisan atau kilan ini maknanya kurang lebih berdekatan maknanya kalam atau ulan, ucapan, perkataan.
- Nah, jadi di sini kita menetapkan Allah subhanahu wa taala berbicara sesuai dengan kehendaknya, memiliki sifat al-kalam. Nanti ayat-ayat yang berikutnya akan lebih memperjelas lagi ya. Apalagi dikatakan di sini dengan sifat assiduqu jujur. Yang namanya kejujuran itu kan sifat bagi pembicaraan perkataan. Ya.
- Maka sebagaimana kaidah yang selalu kita jelaskan beberapa kali dari di pertemuan-pertemuan yang lalu, para ulama ahlusunah wal jamaah menetapkan sifat Allah Subhanahu wa taala ini karena disebutkan di dalam banyak ayat Al-Qur’an juga dari hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, kita menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa taala berbicara dengan kalam yang hakiki, pembicaraan yang sebenarnya, yakni bukan kiasan.
- Kemudian pembicaraan ini didengar karena nanti kita akan sebutkan Allah berfirman kepada Nabi Isa, Allah berfirman kepada Nabi Musa alaihialatu wasalam, mereka mendengar, makanya mereka menjawab, “Berti ada suara, ada huruf-hurufnya. ada lafaz dari pembicaraannya yang itu tentu sesuai dengan kemahaungan dan kemaha besaran Allah tidak tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk.
- Jadi kita menetapkan sifat ini ya dengan sekali lagi menafikan empat perkara yang selalu kita sebutkan yaitu bila tamsil tanpa menyerupakannya dengan sifat yang ada pada makhluk. Ya, makanya firman Allah maha sempurna kebenarannya, kejujurannya, maha sempurna keadilan dalam masalah penetapan hukum-hukumnya. Jelas tidak seperti apa yang ada pada ucapan makhluk.
- Kemudian yang kedua, bila takyif tidak boleh kita membagaimanakannya. Kita yakin Allah Subhanahu wa taala setiap sifatnya ada kaifiah, tapi cuma Allah Subhanahu wa taala yang mengetahuinya. Kemudian bila taatil tidak boleh kita menolak sifat-sifat Allah ini hanya berdasarkan pertimbangan akal atau yang lainnya. Dan ini pun bukan akal sehat. Kita pastikan.
- Karena justru akal sehat menunjukkan bahwa ketika Allah Subhanahu wa taala maha kuasa berfirman sesuai dengan kehendaknya menunjukkan dia maha sempurna. Ya, karena dia maha kuasa melakukan apa yang dikehendakinya. Dan tentu kita tahu firman Allah Subhanahu wa taala ketika menurunkan perintah dan larangan, menurunkan wahyu yang kemudian dibawa oleh malaikat Jibril kepada para nabi dan para rasul apalagi menurunkan kitab-kitab suci dari sisinya.
- Manfaatnya untuk kemaslahatan manusia sangat besar. [mendengus] Ya, bahkan ini adalah kebaikan yang paling besar. Sebab kebaikan yang paling besar bagi manusia ketika membaca firman-firman Allah kemudian merenungkan isinya. Bagaimana membersihkan kotoran penyakit hati, menumbuhkan keimanan, menyempurnakan ikhlas, kecintaan, rasa takut, pengharapan kepada Allah, menyempurnakan khusyuk. Subhanallah.
- Ini manfaatnya. Allah Subhanahu wa taala berfirman dengan firmannya yang sempurna dalam keadilan, dalam kejujurannya, sangat terasa dan benar-benar sangat dibutuhkan manusia. Kemudian bila tahrif tidak boleh kita menyelewengkan maknanya, ya. Tidak boleh kita menyelewengkan maknanya. kita harus menetapkannya sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wa taala tetapkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan di dalam hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
- Kemudian ayat yang ketiga yang dibawakan oleh beliau surat Al-Maidah ayat 116. Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Isa alaihiatu wasalam. Waidqallahu ya Isa bna Maryam. Dan ingatlah ketika Allah berfirman kepada Nabi Isa, wahai Isa Ibnu Maryam. Ya Allah memanggil Nabi Isa dan Nabi Isa mendengar karena nanti dia akan menjawabnya.
- Bahkan nanti akan disebutkan ya bentuk-bentuk firman Allah itu ada yang disebutkan dengan munadat Allah menyeru yakni panggilan untuk orang yang jauh. Ada juga munajahat panggilan untuk yang dekat. Jadi ini semua bagian dari firman Allah Subhanahu wa taala. Nanti kita akan sebutkan ayat Al-Qur’an menyebutkannya.
- Demikian pula hadis-hadis dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Jadi Allah Subhanahu wa taala mengatakan di sini, “Dan ingatlah ketika Allah berkata, “Wahai Nabi Isa,” Allah memanggil Nabi Isa alai Ibnu Maryam alaihialatu wasalam. Maka ini menggambarkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala berarti memiliki sifat alqul, berkata, berfirman alkalam yang sesuai dengan kemahaungan dan kemahaan Allah Subhanahu wa taala.
- Tib. Nah, kemudian di ayat berikutnya di ayat yang keempat firman Allah di surah Al-An’am ayat 115 disebutkan di sini dalam bentuk kalimat. Jadi firman Allah itu ada kalimat-kalimatnya, ada hurufnya, ada lafaznya ya. Yang semua tentu sesuai dengan kemahaagungan dan kemahaan Allah. Tidak seperti apa yang ada pada makhluk.
- Ini kaidah yang selalu kita tetapkan. Isbatun bila tamsilin wa tanzihun bila taatil. Itu kaidah umumnya. menetapkan tanpa menyerupakan dengan makhluk dan mensucikan Allah dari kekurangan tanpa menolak sifat-sifatnya. Masyaallah, ini kaidah yang sangat agung yang disebutkan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Al-An’am ayat 115 ayat yang keempat.
- Allah Subhanahu wa taala berfirman, [berdehem] “Watammat kalimatu rabbika sidqo wa adla. Dan sempurnalah kalimat Rabbmu, yakni kalimat dalam firman Allah dalam Al-Qur’an.” Maksudnya, sempurnalah kalimat Rabbmu, kalimat Allah Subhanahu wa taala dalam kebenarannya dan keadilannya. Kata para ulama, sidqon fil akhbar wa adlan fil ahkam.
- Itu maknanya sempurna kebenaran. Nah, ya dalam berita-berita yang Allah sampaikan. Kalau kita ingin mempelajari dan mengambil manfaat dari kisah keteladanan, maka Al-Qur’an adalah sebaik-baik sumber untuk membaca kisah-kisah yang jujur, kisah-kisah yang benar dari kisah para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam atau kisah orang-orang yang saleh untuk menjadi pelajaran.
- Kemudian adlan fil ahkam. Kalimat-kalimat Allah itu paling adil dalam masalah penetapan hukumnya. Hukum-hukum yang Allah syariatkan dalam Islam itu sempurna keadilannya. Makanya dengan menetapkan hukum Allah Subhanahu wa taala berarti kita menegakkan keadilan. Ya. Dan ini menjadi sebab kebaikan untuk hamba yang mempraktikkan hukum-hukum ini dengan benar.
- ya ketika mempraktikkannya kemudian nanti akibat atau kesudahannya juga akan mendatangkan kebaikan. Maka jelas sekali disebut di sini kalimat ya yang menunjukkan Allah subhanahu wa taala berfirman dengan kalimat-kalimat yang kemudian dibaca dan dipahami oleh manusia sebagaimana yang Allah Subhanahu wa taala turunkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca.
- Baik. Kemudian ayat yang kelima surat An-Nisa juga ayat 164 ini jelas sekali menetapkan kalamullah yang hakiki. Wakallamallahu Musa taklima. Dan Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Musa, ditegaskan lagi taklima dengan firman yang sebenarnya. Ini kalimat seperti ini kalau ada yang disebutkan masdar muakkid ya [mendengus] kalimat dalam bahasa Arab yakni masdar yang menguatkan karena kalama taklima itu menafikan kemungkinan ini menggunakan kata kiasan berarti ini
- menunjukkan makna hakiki ya sehingga sebagian dari orang-orang ahlul kalam orang-orang yang menggunakan akalnya ketika ingin menolak ya mereka mengingkari sifat kalamullah yang hakiki ini. Mereka berusaha untuk merubah ayat ini dengan menjadikan lafaz Allah di sini ya di fathah bukan dommah. Supaya Nabi Musa yang berfirman kepada Allah.
- Nabi Musa yang berkata-kata kepada Allah Subhanahu wa taala maksudnya. Jadi mereka menyelewengkan bahkan berani merubah ya naudubillah minzalik. Jelas ini kalau pengingkaran seperti ini bisa mencapai yakni hukum kufur bagi orang yang melakukannya. Karena jelas-jelas merubah harakat dari firman Allah Subhanahu wa taala ini hanya untuk mendukung keyakinannya yang rusak.
- Tapi nanti ya ketika mereka melakukan hal ini pada ayat ini, ada nanti ayat berikutnya yang mereka sama sekali tidak bisa merubahnya. Karena secara bahasa Arab itu akan menjadikan rusak maknanya. Al kulihal ayat ini ketika ada ada penguatan masdar muakkid ya menunjukkan bahwasanya tidak ada kemungkinan untuk diartikan ayat ini menunjukkan makna kiasan yakni bukan makna yang hakiki.
- Jadi Allah Subhanahu wa taala berfirman kepada Nabi Musa dengan firman yang sebenarnya. Kemudian ayat yang keenam ya di surat Albaqarah ayat 253 [mendengus] ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan para rasul itu Allah lebihkan sebagian di atas yang lain. Tilkar rusulu fadolna ba’dhum ala ba’d minhum man kallamallahu warofaa ba’dhum darajat.
- Para rasul itu fadolna kami utamakan sebagian di atas yang lain. Di antara mereka ada yang Allah subhanahu wa taala berbicara langsung, berfirman langsung dengannya seperti Nabi Musa alaihi salatu wasalam. Kemudian tentu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan sebagian Allah Subhanahu wa taala tinggikan derajatnya di atas yang lain.
- Ya, makanya kelebihan di nabi-nabi atau rasul-rasul yang terdahulu ada pada diri Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kalau Nabi Musa disebut kalimullah, hamba yang Allah berfirman dengannya, maka Allah juga berfirman langsung kepada Nabi Musa, kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Nabi Ibrahim Khalilullah, kekasih terdekat Allah.
- Maka Allah subhanahu wa taala juga menjadikan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai kekasih terdekatnya. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim. Innallaha qodakani khilan kama takza Ibrahima khilan. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala menjadikan aku sebagai khalil kekasih terdekatnya sebagaimana Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kekasih terdekatnya.
- Ini derajat hanya di yang hanya dimiliki oleh dua nabi saja, yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim alaihialatu wasalam. [berdehem] Jadi ayat ini yang menjadi poinnya adalah Allah berfirman, “Minhum man kamallah.” Di antara para rasul itu ada yang Allah subhanahu wa taala berfirman langsung dengannya. Ya, menunjukkan ini juga penetapan sifat kalam.
- ditunjukkan di dalam ayat ini dengan dengan makna yang sangat jelas. Kemudian ayat yang tadi kita sebutkan tentang Nabi Musa alaihialatu wasalam ayat yang keet7 di surah Al-A’raf ayat 143 ya. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Walamma jaa Musa limiqatinau.” Ini ayat yang tidak bisa dirubah harakatnya. Jelas-jelas sekali menegaskan tentang Allah Subhanahu wa taala berfirman berkata-kata kepada Nabi Musa alaihi salalatu wasalam.
- Dan ketika Nabi Musa alaihi salatu wasalam datang limiqatina di tempat atau waktu yang kami tentukan. Ya. Dan kemudian Allah Subhanahu wa taala berfirman kepadanya. Ini yang tadi kita sebutkan kalamullah itu Allah lakukan sesuai dengan keinginannya, kehendaknya. Ya, di ayat ini disebutkan di waktu itu menunjukkan ini sesuai dengan kehendak Allah.
- Ketika Allah belum menghendaki, Allah tidak berfirman. Ketika Allah menghendakinya, maka Allah berfirman kepada Nabi Musa alaihi salalatu wasalam. Makanya tadi kita katakan kata para ulama, kalamullah itu ditinjau dari segi asal sifatnya. Dia adalah sifat zatiah. Zatiah itu artinya sifat yang terus-menerus ada pada Allah.
- tidak tergantung dengan kehendaknya, tetapi ditinjau dari segi satuan-satuan sifatnya. Yakni Allah berfirman kepada Nabi Musa, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, Allah berfirman dengan Al-Qur’an, dengan Taurat dan yang lainnya. Ini adalah sifat fi’liah. Allah lakukan sesuai dengan kehendaknya.
- Ketika Allah kehendaki, Allah berfirman, “Ketika Allah tidak kehendaki, maka Allah tidak melakukannya.” Itu semua sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Jelasan, ya. Oke, sat menit lagi. Barakallahu fikum. Jadi, ayat ini di antara yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala ketika berfirman sesuai dengan kehendaknya.
- Karena ketika Nabi Musa alaihialatu wasalam datang di waktu itu yang Allah tentukan barulah ketika itu Allah Subhanahu wa taala berfirman dan ingat Nabi Musa mendengarkan firman Allah tersebut. Berarti ada suara, ada huruf ya, yang itu semua sesuai dengan kemahaan dan keagungan Allah Subhanahu wa taala. Tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk.
- Kemudian ayat yang ke-8 [berdehem] ya ini juga tentang Nabi Musa alaihi salalatu wasalam di surat Maryam ayat 52. Waadainahu min jiburil aimani waqnahu najia. Ya. Dan kami memanggil Nabi Musa alaihiatu wasalam dari sisi kanan bukit tersebut, bukit turut tersebut ya. Dan kami mendekat kepadanya dengan bermunajat. [berdehem] Bermunajat ya.
- melakukan ya ini panggilan dari dekat kepada Nabi Musa alaihiatu wasalam tib. Barakallahu fikum. Insyaallah kita akan teruskan pembahasannya nanti setelah selesai salat Isya karena sudah masuk waktu azan. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin. Walhamdulillahi rabbil alamin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillahi ala ihsanih wasyukrullahu ala taufikihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah lisanih wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu ila ridwani shallallahu alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani amma ba’du.
- Alhamdulillah maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. Kita lanjutkan sedikit lagi pembahasan yang berhubungan dengan ayat-ayat yang dinukilkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala di kitab al-Aqidatul Wasitiyah. Ayat-ayat yang menetapkan sifat kalamullah berfirman bagi Allah subhanahu wa taala.
- Sifat alkalam bagi Allah ya sampai 10 ayat ya. Tadi ayat yang ke-8 kita telah baca firman Allah di surat Maryam ayat ke-52. min jiburil aimani waqnahu najia. Allah berfirman, “Dan kami menyeru memanggil Nabi Musa alaihiatu wasalam dari sisi gunung gunung tur sebelah bukit Tur sebelah kanan dan kami mendekat kepadanya dengan memanggilnya.
- ” Ini juga menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa taala berfirman sesuai dengan bentuk firman yang diinginkannya, yang dikehendakinya. Ya, di sini ada munadat di panggilan jauh. Maksudnya ada munajahat, panggilan dekat. Maka [berdehem] ini kita tetapkan bagi Allah subhanahu wa taala. Allah Subhanahu wa taala maha kuasa melakukan sesuai melakukan semua itu sesuai dengan kehendaknya.
- Maka Allah Subhanahu wa taala berfirman ya dengan firman yang hakiki. Bahkan disebutkan dalam ayat ini Allah Subhanahu wa taala juga ya memiliki sifat munat memanggil dari jauh kemudian munajat memanggil dari dekat yang semua dengan suara yang didengar oleh Nabi Musa alaihi salalatu wasalam yang tentu ini menunjukkan ya sifat Allah Subhanahu wa taala sifat kalamnya itu ada suara, ada huruf, ada kalimat yang didengarkan yang tentu semua sesuai dengan kemaha besaran dan kemahaungan.
- Allah tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Kemudian ayat ayat yang ke9 juga tentang Nabi Musa alaihialatu wasalam di surah Asyuara ayat ke-10. Waid nadaabbuka Musa antitilmadzimin. Dan ketika Rabbmu memanggil Nabi Musa alaihi salatu wasalam, Allah mengatakan berfirman kepadanya, “Datangilah kamu. Datanglah kepada kaum yang zalim itu.
- ” Yakni kaumnya Nabi, kaumnya Firaun. Firaun dan kaumnya yang mereka berbuat zalim, menolak seruan untuk mengikuti agama Allah Subhanahu wa taala. Jelas sekali ayat ini juga menyebutkan munadat. Ya, ingatlah ketika Allah Subhanahu wa taala Rabbmu memanggil Nabi Musa alaihi salalatu wasalam dengan memerintahkannya, ya datanglah kamu kepada kaum yang zalim itu untuk mengajak mereka kepada kebenaran, memperlihatkan bukti-bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa taala.
- Baik. Kemudian ayat yang berikutnya, ayat yang ke-10 ya sampai 11 ayat ternyata ini ya lagi dua ayat. Ayat yang ke-10. Firman Allah di surah Al-A’raf ayat ke-22. Ketika Allah memanggil Nabi Adam dan Hawa ya ketika mereka melakukan larangan larangan Allah di dalam surga. [mendengus] Waadahuma rbuhuma alam anhakuma tilkum syajarah.
- Dan Rabb mereka, yakni Allah Subhanahu wa taala memanggil keduanya, Adam dan Hawa. Allah berfirman, “Alam anhakuma, bukankah aku telah melarang kalian berdua dari memakan buah di pohon itu? Pohon yang terlarang itu yang ini yang dinamakan oleh iblis sebagai pohon khuldi, pohon kekekalan.” Ini bukan penamaan dari dari Al-Qur’an, tapi ini adalah penamaan dari iblis untuk mempengaruhi dan bisa memperdaya Nabi Adam dan Hawa.
- Yang jelas di sini juga Allah menyebutkan munadat. Allah memanggil. Berarti Allah berfirman sesuai dengan kehendaknya dalam bentuk yang di yang dikehendakinya. Dia berfirman kepada dua hambanya yaitu Nabi Adam dan Hawa. Nabi Adam alaihissalam dan Hawa. Kemudian ayat yang ke-11 di surat Al-Qasas ayat ke-65 Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Waum yunadiihim fayquulu maza ajabtumul mursalin.
- ” Ingatlah ketika Allah di hari Allah Subhanahu wa taala memanggil [mendengus] kepada manusia dan Allah berfirman kepada mereka, “Madza ajabtumul mursalin?” Bagaimana kalian menjawab seruan para rasul alaihialatu wasalam? Ini pertanyaan yang Allah akan sampaikan kepada semua umat manusia. Ya, kata sebagian ulama salaf, kalimatani yusal anhumal awaluna wal akhirun.
- Ada dua kalimat yang akan ditanyakan kepada yang Allah akan tanyakan, mintai pertanggungjawaban kepada manusia dari yang paling awal sampai akhir. Dua kalimat. Pertama, amma kanu ya’budun. Apa yang mereka sembah di dunia? Ini masalah tauhid ya. Siapa yang mereka sembah di dunia? Siapa yang mereka jadikan? Satu-satunya sembahan, satu-satunya yang ditujukan dalam segala bentuk ibadah di dunia ini.
- Dan yang kedua ini bim bim ajabtumul mursalin. Bagaimana kalian menjawab seruan para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam? Bagaimana kalian menjawab seruan atau dakwah para rasul alaihialatu wasalam? Dua kalimat yang ditanyakan oleh Allah kembali kepada makna dua kalimat syahadat kita. Tauhid beribadah kepada Allah semata-mata tidak melakukan, tidak menyembah kepada selainnya.
- Dan yang kedua menjawab dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ya, kalau umat-umat yang terdahulu adalah sesuai dengan rasul yang diutus kepada mereka. Wah, yang jelas di ayat ini juga ada penetapan sifat munada. munadat Allah memanggil kemudian Allah ul berkata kepada mereka kepada umat manusia seperti yang disebutkan di dalam ayat ini.
- Makanya ayat-ayat ini secara keseluruhan menunjukkan Allah subhanahu wa taala [berdehem] benar-benar berfirman secara hakiki dengan firman yang sesuai dengan kemahaagungan dan kemahagian Allah. Tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Allah berfirman, mata syaa kapan saja Allah kehendaki. Wabima sya ya dengan apa saja isi pembicaraan yang Allah kehendaki.
- Waifasya dan dengan bentuk yang Allah inginkan, yang Allah kehendaki. Tadi kadang-kadang munat panggilan dari jauh, munajat panggilan dari dekat sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. yang firman Allah ini tentu tadi dengan suara, dengan huruf dan kalimat yang didengar oleh hamba-hamba yang diseru oleh Allah Subhanahu wa taala.
- Yang ini semua tentu saja tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Yang ini merupakan akidah salafiah, akidah ahlusunah wal jamaah. Barakallahu fikum. Tib. Ya, selesai sampai di sini pembahasan tentang penetapan sifat kalamullah, sifat kalam bagi Allah subhanahu wa taala. Insyaallah yang berhubungan dengan kelanjutannya menetapkan sifat Al-Qur’an sebagai kalamullah.
- Kita akan bahas di kesempatan berikutnya. Semoga kajian kita di kesempatan malam hari ini memberikan manfaat untuk menambah ilmu, semakin meyakin menguatkan keyakinan kita tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa taala dan semakin menguatkan kita berpegang teguh dengan akidah ahlusunah wal jamaah. Sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan, ana persilakan.
- Barakallahu fikum. HB silakan kan.
- Iya. Iya. Barakallahu fikum. menit doa misalnya doa di hari Arafah karena tentu saja keutamaan doa di hari itu sangat besar dan waktu yang dijanjikan pengabulan doa dari Allah Subhanahu wa taala. Ya boleh-boleh saja doa untuk istiqamah di atas agama Allah
- Subhanahu wa taala. Ya, doa-doa seperti ini kita yang kita utamakan tentu saja doa agar bisa mengusahakan sebab-sebab yang menguatkan keimanan kita. Tentu juga doa dimudahkan ya untuk menunaikan ibadah haji, untuk mengunjungi dua tanah haram, berumrah misalnya dan seterusnya. Doa-doa kebaikan seperti ini bisa kita titip kepada orang-orang yang berdoa di sana.
- Meskipun juga tetap doa kita lakukan dengan sendiri juga kita diutamakan untuk selalu berdoa dengan diri kita sendiri. Yang jelas di dalam hadis yang sahih ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam atau dipraktikkan oleh sahabat seperti Umar ibnu Khattab radhiallahu taala anhu meminta didoakan pengampunan oleh seorang tabiin Uwais al-Qarani.
- Karena ketika disebutkan di dalam hadis Nabi sallallahu bahwa dia adalah seorang yang saleh, maka diperbolehkan kita menitip doa ya untuk didoakan oleh ee teman kita atau orang yang berada di tempat-tempat yang di situ dijanjikan pengabulan doa. Maka itu diperbolehkan. Nah, barakallah fikum ya. Ya, kalau kitab tersebut ana belum pernah baca, ana juga tidak tahu bagaimana isinya.
- I kalau pertanyaan yang pertama, sifat-sifat Allah pertama tidak terbatas karena cuma Allah yang maha mengetahuinya. Ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan nama-nama Allah subhanahu wa taala tidak terbatas. Ada yang Allah beritakan dan ada yang Allah tidak beritakan kepada kita. Ya, di dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah berdoa seperti ini.
- Wa asaluka bikin huaaka samma bihi nafsaka anzalahtahu fi kitabika ahadan minqika bihi ilmilai. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-namau, nama-nama yang Engkau miliki yang Maha Indah, yang Engkau turunkan di dalam kitabmu Al-Qur’an atau yang engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, yakni kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam atau yang engkau khususkan pada ilmu gaib yang ada di sisimu.
- Ini kan tidak ada cara untuk mengetahuinya. Cuma Allah yang mengetahuinya. Makanya kata para ulama, dengan dalil ini menunjukkan nama-nama Allah tidak terbatas dan setiap nama pasti mengandung sifat. Berarti sifat-sifat Allah tidak terbatas. Makanya di hadis yang lain, Nabi sallallahu alaihi wasallam juga pernah di dalam Sahih Muslim pernah berdoa, “Ya Allahumma inni audzu biridoka min sakatika wabuaatika min uqubatika wazubika minka lasianaan alaika anta kamaita ala nafsik.
- ” Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari siksaan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu darimu ya Allah. Aku tidak mampu membatasi ya pujian dan sanjungan bagimu. Engkau adalah seperti pujian yang engkau peruntukkan bagi dirimu sendiri.
- Kalau Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan tidak bisa membatasi pujian dan sanjungan bagi Allah, berarti sifat-sifat kesempurnaan Allah tidak terbatas. Hanya Allah Subhanahu wa taala yang maha mengetahui semuanya. Ada yang Allah kabarkan kepada kita ya. Yang ini kita tetapkan di dalam ayat Al-Qur’an atau hadis-hadis yang sahih.
- Ada juga yang Allah tidak beritakan kepada kita. Nah, barakallahu fikum. Cukup sampai di sini insyaallah kajian kita. Semoga bermanfaat. Mohon maaf sekali lagi jika ada yang salah atau kurang berkenan. shallallahu wasallam wabarak ala nabina muhammadin waa alihi wa asabihi waman tabiahum bisanin yaumiddin waakirwanaillahbilamin subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh tuh
#24 Menetapkan SIfat Allah Al Kalam – Ustadz Abdullah Taslim, Lc., M.A.
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply