Penjelasan Pohon Keimanan (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A ‎حفظه الله

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

Asalamualaikum warahmatullahi. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wafiruh wa naudubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.

Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waulu qulan sadida waasulahu faq faza fauzanima amma ba’du fa asdaqal hadis kitabullah wirol huda huda muhammadin shallallahu alaihi wa alihi wasallam umuri muhdatuha wa muhda bidah waa bidatin dolah Alhamdulillah.

Maasir ikhwah wal akhwat fiddin rahimakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah kita memuji Allah subhanahu wa taala dan menyanjungnya atas taufik kebaikan yang dimudahkannya bagi kita di pagi hari ini setelah kita melaksanakan salat berjamaah subuh, kita dimudahkan untuk kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid Al-Ikhlas yang mubarak ini.

untuk melanjutan melanjutkan kajian kita membahas kitab kecil yang sangat bermanfaat. Attaudihu wal bayan attaudihu wal bayanu lisyajaratil iman. Penjelasan tentang pohon iman. Tulisan dari Asyekh Al-Allamah Abdurrahman bin Nasir Ass’adi rahimahullahu taala. Barakallahu fikum. Sebelum kita lanjutkan, mungkin ikhwah yang di depan bisa maju sedikit supaya memberi ruang bagi yang datang belakangan.

Iya. Barakallahu fikum. Jemaah sekalian rahimakumullah. Kita saat ini melanjutkan pembahasan di ee fasal atau bab al umurullati yustamaddu minhal iman. Perkara-perkara yang merupakan sebab yang menumbuhkan dan menguatkan iman. Kita tahu ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

mestinya menjelaskan permasalahan yang penting dalam agama ini dan dengan penjelasan ya yang sangat cukup dan memuaskan. Bahkan inti daripada ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa taala dan hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah untuk menjelaskan perkara-perkara yang menyangkut dasar utama kebaikan agama ini.

Jadi secara keseluruhan berusaha memahami, mempelajari, mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman yang benar. Itulah sebab utama yang akan yang akan menambah keimanan. Ya, bahkan kita tahu tidak ada satuun penjelasan yang lebih lengkap, lebih sempurna, lebih sangat mencukupi dibandingkan penjelasan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, sebab-sebab yang menguatkannya,

sebab-sebab yang menumbuhkannya. Kita tahu juga ini yang menjadikan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Di antara sebab utama yang menjadikan mereka sebagai generasi yang terbaik adalah karena mereka langsung menyaksikan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an yang langsung dijelaskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan sebaik-baik penjelasan.

Allah Subhanahu wa taala berfirman, azubillahiminasyaitanirrajim. Waaifa takfuruna wa antum tutla alaikum ayatullahi wafikum rasuluh. Bagaimana mungkin kalian akan menjadi kufur? Yakni kekufuran sangat jauh dari kalian para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Sedangkan di hadapan kalian dibacakan ayat-ayat Allah dan di kalangan kalian ada Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Makanya kita yakin ya petunjuk Allah Subhanahu wa taala yang lengkap dan sempurna. Sebaik-baik petunjuk yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada rasulnya sallallahu alaihi wa alihi wasallam, maka ini adalah sumber utama yang akan menumbuhkan dan menguatkan kebaikan iman dalam diri kita.

Maka semakin banyak kita mempelajarinya, memahaminya, kemudian mengamalkannya, maka pasti semakin banyak juga kebaikan iman yang akan kita sempurnakan di dalam hidup kita. Ya, barakallahu fikum. Di pertemuan kita yang lalu telah kita membahas dua sebab. Yang pertama tauhid. Utamanya tauhid. Mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa taala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang maha tinggi, maha sempurna, maha agung.

Kemudian membaca Al-Qur’an dan merenungkannya. Ya, mentadaburi Al-Qur’an ini adalah sumber kebaikan yang utama untuk menumbuhkan dan menguatkan keimanan. Sekarang kita melangkah di sebab yang ketiga, atal. Wakadzalika makrifatu ahaditin Nabi sallallahu alaihi wasallam. Demikian pula mengenal memahami hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.

Wama tad’u ilaihi min ulumil imani wa a’malihi. Dan wama tadu ilaihi. Hal-hal yang kita ambil manfaatnya dari mempelajari hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam berupa ilmu dan amal-amal yang menyangkut iman. Ya, kita tahu hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah bimbingan dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mengamalkan, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an yang sesungguhnya.

Ya, Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling sempurna dalam menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an dalam melaksanakan perintahnya, menjauhi larangan-larangannya. Tidak asing bagi kita tentang makna firman Allah Subhanahu wa taala di dalam surah Al-Qalam. Wa innaka laala khuluqin adzim.

Dan sesungguhnya engkau wahai Rasulullah benar-benar memiliki akhlak yang agung. Ketika Aisyah radhiallahu taala anha dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim ditanya tentang akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ya, hadis yang tidak asing bagi kita. Maka beliau radhiallahu taala anha menjawab, “Kana khuluquuhu al-Qur’an.” Akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah Al-Qur’an.

Yakni yang paling sempurna dalam menegakkan hukum-hukum Al-Qur’an adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam ucapan beliau, perbuatan beliau, dan penetapan beliau. Makanya orang yang mempelajari hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam memahami kandungannya, memahami penjelasan tentang ilmu yang berhubungan dengan iman, amal-amal yang berhubungan dengan iman, maka dialah orang yang paling sempurna mendapatkan sebab-sebab yang menguatkan dan menumbuhkan keimanannya kepada Allah Subhanahu wa taala.

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam petunjuk beliau adalah sebaik-baik petunjuk. Whairul hadi hadyu Muhammadin sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Sebaik-baik petunjuk tentu petunjuk untuk kebaikan lahir dan batin.

Yakni memperbaiki amal-amal anggota badan juga mempengaruhi memperbaiki meluruskan amal-amal yang berhubungan dengan keimanan di hati. Ini petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kita ingat kembali makna yang diterangkan oleh para ulama tentang hadis yang mutawatir dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.

Ya, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan yang lainnya. Nadarallahu sami maqalati fawaaha wafidaha waaha kama samiaha. Semoga Allah subhanahu wa taala mengindahkan, menjadikan indah rupa atau mencerahkan wajah seseorang yang mendengarkan ucapanku, memahaminya. kemudian menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain.

Ini seperti diterangkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Miftahu Daris Sa’adah ini doa kebaikan yang berkaitan dengan kebaikan iman di dalam hati yang kemudian kebaikan iman itu terpancar pada anggota badan manusia. Ya Allah subhanahu wa taala mendoakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendoakan semoga Allah mencerahkan wajah atau menjadikan indah rupa orang yang mendengarkan hadis beliau yakni mempelajarinya, memahaminya kemudian menyebarkannya, menyampaikannya kepada orang lain.

Ini adalah kebaikan pada fisik karena keindahan yang dirasakan dalam iman. Beliau menjadikan sebagai dalil hal ini adalah apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an tentang kenikmatan yang dirasakan oleh penghuni surga di akhirat nanti. Ya, semoga Allah Subhanahu wa taala menjadikan kita semua termasuk dalam golongan penghuni surga dengan rahmat dan karunia-Nya.

Allah Subhanahu wa taala berfirman, tifu fi wujuhihim nadratan naim. Kamu akan kenal di wajah-wajah mereka ini wajah penghuni surga. Nadrah ya kecerahan atau keelokan rupa dari nikmat yang mereka rasakan di hati. Maksudnya ayat ini apa? Seseorang itu kalau dia merasakan kebaikan di dalam hatinya, kegembiraan di dalam hatinya, kalau kegembiraan itu sangat kuat, maka akan terpancar pada wajahnya.

Ya, sama dengan apa yang disebutkan di hadis tadi, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendoakan orang yang mempelajari hadis-hadis beliau yang sahih, maka itu akan memperbaiki keimanan di hatinya, menyempurnakan kebaikan-kebaikan dalam batinnya, yang kemudian kebaikan-kebaikan itu akan terpancar pada wajahnya.

Ya, makanya ahlusunah wal jamaah, orang-orang yang selalu mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kan kita tahu mereka yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa taala di surat Ali Imran yang pada hari kiamat nanti putih berseri wajah-wajah mereka. Yauma tabyadu wujuhu wataswaddu wujuh. Ya, pada hari kiamat nanti ada wajah-wajah yang putih berseri-seri dan ada wajah-wajah yang hitam muram.

Ya, nauzubillah minzalik. Ada wajah-wajah yang putih berseri ya. Khidun. Adapun orang-orang yang hitam legam wajahnya, dikatakan kepada mereka, “Apakah kalian kufur setelah kalian beriman?” Maka rasakanlah azab Allah disebabkan kekufuran kalian. Adapun orang-orang yang putih berseri-seri wajahnya, mereka akan dimasukkan ke dalam rahmat Allah.

Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Kata Ibnu Abbas radhiallahu taala anhuma ketika menafsirkan ayat ini, tabyadu wujuhu ahli sunnati wal jamaah wataswaddu wujuhu ahlil bidah wal furqah. yang akan putih berseri-seri wajahnya adalah ahlusunah wal jamaah. Ya, adapun yang akan hitam wajahnya adalah orang-orang yang selalu melakukan bidah dan perpecahan, menyimpang dari manhaj salaf. Naudubillah minzalik.

Ya, dinukil dalam tafsir Ibnu Katsir oleh beliau dan juga didukul oleh Syekh Muad bin Abdul Wahab rahimahullah taala dalam kitab Fadlul Islam tentang arusah karena mereka selalu mempelajari hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka mereka mendapatkan karunia kebaikan iman di hati yang terpancar pada anggota tubuh mereka.

Dan ini di antara manfaat besar selalu belajar hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya, makanya selalu kita tekankan di sini orang yang belajar kitab-kitab para ulama yang langsung memuat hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kemudian dengan penjelasan dari para ulama yang lain ini termasuk metode pengajaran yang paling baik.

Ya, misalnya dalam pembahasan masalah fikih, kita langsung mengambil dari kitab-kitab yang memuat hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Meskipun tentu saja boleh kita mempelajari pembahasan-pembahasan fikih dari kitab-kitab ya, matan fikih yang ditulis oleh para ulama. Yang penting penjelasannya harus dengan dalil.

Tapi dibandingkan dengan misalnya kita langsung membaca hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang misalnya kitab-kitab yang memuat hadis-hadis tentang fikih ibadah. Contoh seperti kitab Bulughul Maram, tulisan Imam Ibnu Hajar dan yang lainnya. Atau kita langsung belajar Sahih Bukhari, Sahih Muslim misalnya rahimahumullahu taala.

Ini lebih baik karena membiasakan kita mendengarkan langsung sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lebih baik dibandingkan mendengarkan ucapan manusia biasa. Ini seperti dijelaskan oleh Syekh Albani rahimahullahu taala ya. Dan beliau mengatakan terbukti para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mereka menjadi generasi yang terbaik.

Ya, metode pendidikan yang mereka terima adalah langsung mendengarkan penjelasan dari Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Yang kita tahu petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kan petunjuk yang sempurna. Membimbing dalam ilmu kemudian juga membimbing dalam amal. Ya, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam petunjuk yang beliau sampaikan memperbaiki pemahaman juga membenarkan niat di hati untuk kita benar dalam beramal.

Ingat kembali firman Allah Subhanahu wa taala di surat Annajm ayat yang kedua. Maolla shahibukum w goa. Sahabat kalian yaitu Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Beliau tidak sesat dan tidak menyimpang. Ada dua penyimpangan yang Allah bersihkan dari diri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di ayat ini, yaitu addolal, penyimpangan dalam ilmu dalam memahami agama.

Dan yang kedua algwayah atau algayyu penyimpangan dalam mengamalkan agama. Ini seperti penjelasan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala dalam kitab Igotatul Lafan. Jadi petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah petunjuk yang sempurna. Makanya para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mengambil petunjuk yang sempurna ini.

Sampai kita tahu di dalam hadis yang terkenal hadis riwayat Irbad Ibnu Sariyah radhiallahu taala anhu ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan sunah beliau dan sunahnya khulafair rasyidin almahdiin alaikum bisunnati wasunnatil khulafair rasyidinal mahdiyin. Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunahnya khulafaur rasyidin almahdiin.

Khulafaur Rasyidin disifati dengan dua ini. Khalifah-khalifah ya yang menjadi pemimpin kaum muslimin setelah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dua sifatnya arrasyidin almahdiyin yang punya arrusydu bimbingan dalam mengamalkan agama dan punya al-huda bimbingan dalam memahami agama. Ini para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mengambil dengan sempurna petunjuk dari Nabi sallallahu alaihi wasallam ini.

Jadi di sini jemaah sekalian rahimakumullah intinya mengenal memahami hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. penjelasan-penjelasan tentang ilmu dan amal yang berkenaan dengan iman. Ini adalah sebaik-baik sebab ya yang kalau kita pelajari, kita pahami dengan benar, kita kemudian kita amalkan ini menjadi sebab termasuk yang paling kuat dalam menumbuhkan dan menguatkan keimanan di hati kita.

Tiib. Kulluha min muhasilatil imani wa muqawiyatihi. Semua ini termasuk sebab yang menambah dan menguatkan keimanan di hati kita. Ya, antum bisa buktikan orang yang terbiasa menghadiri pengajian setelah sekian lama dia menghadiri pengajian, dia akan merasakan dampak kebaikan yang semakin kuat pada dirinya. Ya, bandingkan ketika dia sudah lama tidak mengikuti pengajian atau dia di daerah yang jauh dari nasihat, apa yang terjadi? Dia akan rasakan imannya semakin turun, surut.

Dia akan merasakan futur. Naudubillah minzalik. Ya, pernah kita nukilkan pernyataan dari Imam Al-Han Albashri rahimahullahu taala tentang bagaimana dulu orang yang belajar sunah di zaman para tabiin ya beliau mengatakan kana rulun minna idza taalamal hadis falam yalb an yuroika fi takyuihi wasamtihi waisanihi wahihi wa yadi dulunya salah seorang di antara Kami jika dia mulai belajar hadis, yakni mulai mengikuti kajian sunah, maka lam yalbat ditunggu tidak lama akan terlihat dampaknya, dampak positifnya meningkatkan khusyuknya dalam ibadah. Jelas ini

termasuk puncak dari keimanan. khusyuk dalam ibadah, merubah tingkah lakunya menjadi baik, ucapan lisannya, pandangan matanya, dan perbuatan tangannya, yakni perbuatan semua anggota badannya. Ini keberkahan mempelajari hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. menjadikan mereka bisa berubah.

Mereka menjadikan menjadikan mereka bisa mengambil manfaat dalam perbaikan diri mereka lahir dan batin. Memperbaiki khusyuk, memperbaiki ucapan lisan, akhlak ya pandangan mata dan semua kebaikan-kebaikan yang ada pada diri seorang hamba. Ya, ini semua yang menjadikan kita yakin ya, bahwa petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya lebih dari cukup untuk memperbaiki keadaan seorang hamba kalau mereka benar-benar berpegang teguh dengan petunjuk tersebut dalam memahami dan mengamalkannya.

Nah, ini juga yang kita baca dari biografi para ulama ahlul hadis. Bagaimana mereka dalam menjalankan agama Allah Subhanahu wa taala. Bagaimana sifat zuhud mereka? Bagaimana ketekunan mereka dalam berzikir, membaca Al-Qur’an. Ya, sebagaimana bagaimana sebagaimana kuatnya mereka dalam menghafal hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam juga ketekunan mereka dalam mengamalkan petunjuk di dalam hadis-hadis tersebut.

Namakallahu fikum. Tib. Kata beliau, “Faakullamaadal abdu m’arifatan bikitabillahi wasunnati rasulihi sallallahu alaihi wasallam izdada imanuhu wa yaqinuhu.” Maka semakin seorang hamba itu menambah pengetahuannya, semakin bertambah bagi seorang hamba pengetahuannya tentang kitabullah Al-Qur’an. dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka otomatis akan semakin bertambah keimanannya, semakin kuat keyakinannya.

Waqod yasilu ila yasilu fi ilmihi wa imanihi ila martabatil yakin. Yang bahkan terkadang ilmu dan keimanannya itu akan sampai pada tingkat keyakinan. Kan sudah pernah kita sebutkan kalau seandainya orang belajar dengan benar tapi tidak sampai kepada hasil ini, berarti ada sesuatu yang menghalangi di hatinya.

Ini harus segera dibereskan. Asalnya hati itu mudah menerima ilmu yang bermanfaat, sangat cocok dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah. Karena hati memang dijadikan untuk menampung kebaikan. Ada orang yang bertanya, “Kenapa dia sudah lama belajar, dia sudah lama mengikuti kajian perbaikan-perbaikan pada dirinya, tidak memberikan hasil yang baik.

” Ya, berarti permasalahannya di sini setelah taufik dari Allah Subhanahu wa taala adalah apa? Kembali kepada metode di dalam belajar. Harus dia memperbaiki metodenya. Karena belajar agama harus sesuai dengan metode yang diajarkan dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian petunjuk para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.

Atau kemungkinan yang kedua ada masalah di hatinya. Niatnya tidak ikhlas atau kotoran penyakit hati yang harus dibersihkan terlebih dahulu agar iman, ilmu, keyakinan bisa masuk ke dalam hatinya. itu yang harus diperbaiki. Karena kalau dalam kondisi yang normal, kondisi yang benar, seperti yang disebutkan di sini, semakin bertambah bagi seorang hamba itu pengetahuannya tentang Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka semakin bertambah keimanan dan keyakinannya.

Ingat di dalam surat Ali Imran kan Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam bahwa ajakan beliau itu ajakan kepada iman. Ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan doa dari orang-orang yang beriman di akhir-akhir surat Al Imran, Rabbana innana samina munadi yunadi lil imani anaminu birbikum faamanna.

Ini doanya orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengarkan munadian seorang yang menyeru yang dia menyeru kepada keimanan. Dia mengatakan, “Berimanlah kalian kepada Rabbmu, maka kami pun beriman.” Ini ucapan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Dan yang mereka dengarkan seruannya tentu adalah seruan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, seruan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa ali wasallam.

Dan seruan beliau disebutkan di doa ini yunadi lil iman. Mengajak kepada keimanan. Jadi sebaik-baik sebab termasuk sebaik-sebaik sebab untuk menumbuhkan keimanan, menguatkan keimanan. adalah mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sunah beliau disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai uswatun hasanah.

Laqod kanana lakum fi rasulillahi uswatun hasanatun limanana yarjullaha wal yaumal akhir. Sungguh-sungguh telah ada bagimu wahai orang-orang yang beriman teladan yang baik. pada diri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan balasan kebaikan di hari akhir. Ya, kenapa dikatakan sebagai teladan yang baik dan digandingkan dengan orang yang mengharapkan rahmat Allah dan balasan kebaikan di hari akhir digandingkan dengan iman.

Maksudnya meneladani sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini kaitannya erat dengan iman. Ini yang akan menumbuhkan dan menguatkan iman. Ya, kalau tidak salah saya pernah nukilkan pernyataan dari penulis Syekh Abdurrahman As’di di tafsir beliau, tafsir Tisirul Karimi Rahman tentang ayat ini, tentang uswatun hasanah ini.

Apa kata beliau di ayat di tafsir tersebut? Kata beliau, “Hadil uswatul hasanatu innama yaslukuha wauwa laha manana yminu billahi wal yaumil akhir.” Contoh teladan, suri teladan kebaikan yang ada pada diri Rasulullah sallallahu alaihi wasallam hanya akan diberikan taufik untuk semangat mengikutinya dan akan semangat ditempuh oleh orang-orang yang punya keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Kenapa? Fa inama maahu minal imani billahi warwabihi wufi iqobihizi yadfau alasibin nabi shallallallahu alaihi wasallam. Karena keimanan yang ada di hati hamba ini, pengharapannya terhadap balasan pahala di sisi Allah, takutnya kepada azab Allah, inilah yang akan menjadi pemotivasi dirinya untuk semangat meneladani petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Jadi sangat beruntung seorang hamba yang berkesempatan dalam hidupnya untuk belajar hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Oleh karena itu selalu kita tekankan ya, belajar kitab Sahih Bukhari, belajar kitab Sahih Muslim, belajar kitab-kitab yang memuat hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini adalah sebaik-baik pelajaran untuk mengambil sebaik-baik warisan kebaikan dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Dan antum baca biografi para ulama salaf dalam perjalanan mereka menuntut ilmu. Tidak lain yang mereka pelajari adalah Al-Qur’an. Bagaimana penafsiran para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Kemudian mereka belajar hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Setelah itu asar-asar para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.

Oleh karena itu kajian ya harus di utamakan untuk membahas perkara-perkara yang paling penting dalam agama ya. Kajian tafsir Al-Qur’an kemudian kajian yang langsung membaca hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan menjelaskannya dengan penjelasan para ulama kita. Barakallahu fikum. Namb. Beliau berkata kemudian, “Faqad wasofallahur rosiina fil ilmi alladzina hasala lahum ilmut tamul qawiyu alladzi yadfaus syubhati warba alladzi yadfaubhati waraba wujibul yaakin Maka sungguh Allah Subhanahu wa taala telah mensifati dalam Al-Qur’an

orang-orang yang rasihina fil ilmi yang mendalam dalam ilmunya. Yakni ilmu mereka itu mencapai tingkat keyakinan ya. tidak tidak lagi ada keragu-raguan padanya yang mereka itu telah mendapatkan ilmu yang sempurna yang kuat yang dengan itu mereka bisa menolak kerancuan dan keragu-raguan dalam memahami agama segala bentuk pengkaburan, kerancuan ya kesalahan dalam memahami agama hilang dari diri mereka.

Kemudian keragu-raguan dalam hal iman, dalam hal tauhid hilang dari diri mereka. Dan ini melahirkan keyakinan yang sempurna dalam diri mereka. Walihadza kanu sadatal mukminina. Oleh karena itu mereka menjadi pemimpin dari kalangan kaum mukminin. Alladzinaastashhadallahu bihim wahtajja bihim ala girihim minal murtabina wal jahidin.

Yang mereka adalah orang-orang yang Allah jadikan sebagai hujah, argumentasi. Allah jadikan sebagai syahid ya, sebagai saksi. untuk membantah orang-orang yang ragu dan orang-orang yang menolak kebenaran. Membantah selain mereka dari kalangan orang-orang yang ragu dan orang-orang yang menolak kebenaran. Ya, ini yang seperti ini tentu didapatkan dengan semakin mempelajari dan mendalami makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Jadi, ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, kita memang harus berusaha banyak belajar ilmu ini dan mendalaminya. Kita harus memberikan waktu kita untuk misalnya di rumah kita membaca ya ayat-ayat yang sudah kita hafal, kita buka tafsirnya, kita miliki tafsir, kita beli tafsir atau paling tidak kita cari sumber-sumber yang kita bisa baca tafsir dari ayat-ayat ini.

Karena dengan cara seperti inilah kita bisa merenungkan Al-Qur’an dan meresapi kandungan maknanya yang indah ke dalam hati kita. Tidak ada ilmu yang paling bermanfaat melebihi dari pelajaran seperti ini. Kita kaji di dalam majelis ilmu, kemudian kita ulangi di rumah. Kita berikan kesempatan untuk membaca ayat-ayat ini dengan memahami tafsirnya.

Kemudian hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kan kita tahu semua ini adalah sumber kebaikan. Cuman kita butuhkan praktik yang sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan faedah tersebut. Ya, jadi mereka ini menjadi pemimpin kaum mukminin yang Allah jadikan sikap, pernyataan, dan perbuatan mereka sebagai syahid, sebagai bukti, sebagai argumentasi untuk membantah selain mereka dari kalangan orang-orang yang ragu dan orang-orang yang menolak kebenaran.

Kama qala taala sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam surah Ali Imran ayat ke-7 ya. Auzubillahiminasyaitanirjim. Hualladzi anzala alaikal kitaba minhu ayatum muhkamatun hunna ummul kitabi wa ukh mutasyabihat. Faammalladina fi qulubihim zaigun fattabiuna ma tasabaha minhuasabaha fitnati w yamuahuallahuna ilmi yaquuluna amanna bihium minina Coba perhatikan ayat ini ya.

Allah berfirman, “Dialah Allah yang menurunkan kepadamu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam alkitab Al-Qur’an ini yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang muhkamat yang jelas. Maknanya sangat jelas bagi orang yang paham bahasa Arab.” Paham agama ini akan mudah memahaminya. Ya, makanya dikatakan ayat-ayat yang muhkamat ini adalah ummul kitab, induk dari Alkitab, Al-Qur’an.

Semua isi Al-Qur’an kembali kepadanya. Kalau ada hal yang tidak kita pahami, kita kembalikan kepada ayat-ayat tersebut. Kemudian ada ayat-ayat lain yang mutasyabihat yang tidak jelas bagi orang-orang yang belum berilmu. Ya, artinya sebenarnya semua ayat-ayat Al-Qur’an jelas bagi orang yang berilmu. Tapi Allah Subhanahu wa taala tentu menguji hamba-hambanya.

Tidak semua orang dijadikan sama. Ada orang yang memahaminya, tentu dia butuh ilmu, dia butuh belajar agar bisa dibedakan mana orang-orang yang sungguh-sungguh dalam belajar dan yang tidak sungguh-sungguh. Maka ada ayat-ayat yang mutasyabihat, ayat-ayat yang masih samar bagi sebagian orang ini.

Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang ada penyimpangan di dalam hatinya, maka dia akan mengikuti ayat-ayat yang samar tadi. Tujuannya untuk mencari fitnah atau mencari takwilnya. Tentu agar mendukung fitnah atau penyimpangan yang ada di hati mereka.” Naudubillah minzalik. Ya, padahal tidak mengetahui pentakwilannya tentang makna yang sebenarnya dari ayat-ayat tersebut kecuali Allah ya dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang mereka berkata, “Kami beriman dengan ayat-ayat itu karena semua dari sisi sisi Allah dan tidaklah bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang

yang berakal.” Yakni Allah memuji sikap mereka. Mereka tetap dalam keimanan meskipun menghadapi ayat-ayat tersebut karena mereka punya ilmu, mereka dekat dengan petunjuk Allah sehingga mereka bisa mengembalikan ayat-ayat yang maknanya kurang jelas tadi kepada ayat-ayat yang muhkamat yang jelas. Ya, karena mereka memahami Al-Qur’an secara keseluruhan.

Mereka memahami penafsiran dari hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Mereka memahami penafsiran dari para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Karena ilmu mereka mendalam, mereka dipuji bahkan dijadikan sebagai argumentasi untuk membantah orang-orang yang menyimpang dalam memahami Al-Qur’an. Tib ini pujian yang Allah sebutkan di ayat ini.

Farosiuna zala anhumul jahlu warriabu waru wa anwausubhati waradul mutasyabiha minal ayati ilal muhkami minha. Maka orang-orang yang mendalam ilmunya ini Allah sebutkan tidak ada kejahilan ya, tidak ada kebodohan pada diri mereka dalam memahami Al-Qur’an. Tidak ada keragu-raguan, tidak ada berbagai macam syubhat, kerancuan.

Dan mereka selalu mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabih yang ada kesamaran pada maknanya kepada ayat-ayat yang jelas. Dan ini sikap yang benar. Berarti kita butuh ilmu, kita butuh memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. Makanya kita harus kembalikan kepada orang yang berilmu. Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ma alimtum minhu fa’malu bihi wama jahiltum minhu farudduhu ila alimi.

” Itu dalam hadis yang sahih. Apa yang kalian sudah ketahui dari Al-Qur’an maka amalkanlah. yang belum kalian ketahui kembalikan kepada orang yang berilmu. Itu sebabnya kita butuh petunjuk para ulama ahlut tafsir, petunjuk para ulama ahlul hadis. Karena mereka yang memahami agama ini secara keseluruhan. Ya.

Jadi mereka mengembalikan ayat-ayat yang masih samar tadi kepada ayat-ayat yang sudah jelas. Waqalu. Dan mereka berkata, “Amanna bil jami fakulluha minillah. Kami mengimani semua ayat-ayat itu karena semua berasal dari sisi Allah Subhanahu wa taala. Wama minhu wama takallama bihi wa hakama bihi kulluhu haqquun wasidukun. Dan semua yang bersumber dari sisi Allah apa yang Allah firmankan, apa yang Allah hukum yang Allah tetapkan semuanya pasti benar.

semuanya pasti maknanya mengandung kejujuran, kebenaran. Lihat kenapa mereka bisa bersikap benar? Karena mereka punya rusuh, ilmu yang mendalam. Berarti semakin dalam kita mempelajar mempelajari agama, tentu ilmu yang bermanfaat itu akan semakin membenarkan sikap kita, akan semakin menjadikan kita yakin terhadap kebenaran petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan petunjuk Rasul-Nya sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Kan sudah pernah kita terangkan keyakinan itu bertingkat-tingkat ya. Keyakinan dari para ulama yang mendalami ilmu agama itu sangat tinggi. Sehingga mereka seperti merasakan langsung, tidak ada lagi keraguan di hati mereka. Ini orang-orang yang Allah Subhanahu wa taala muliakan untuk memahami agama sehingga mereka bisa merasakan hakikat keindahan agama ini.

Ya, asar dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu taala anhu. sebuah asar yang sahih yang menyebutkan dalam sebuah arar yang sahih yang panjang sekali di situ Ali bin Abi Thalib ketika menjelaskan masalah keutamaan ilmu di antaranya beliau berkata, “Hajama bihimul ilmu ila haqqiqatil amri.” Ilmu agama itu membawa mereka membawa orang-orang yang semangat mempelajarinya untuk merasakan hakikat keindahan agama ini.

Tanpa mereka sadari dibawa digiring ke arah itu. Yakni kita belajar agama itu tanpa sadar kita terus terbawa kepada ya semakin memperbaiki diri, semakin semangat menjalankan agama, semakin berusaha memperbaiki ikhlas. Lama-kelamaan mereka akan merasakan hakikat keindahan agama ini. Waisu bimya minhul jahilun.

Maka setelah itu mereka akan merasakan nikmatnya agama ini yang itu dianggap susah oleh orang-orang yang melampai batas. Wa anisu bimauhasya minhul jahilun. Dan mereka kemudian menjadi tenang berpegang teguh dengan agama ini ya yang itu dianggap susah oleh orang-orang yang jahil. Jadi ada saatnya orang yang belajar dengan jujur, dengan ikhlas, dengan sungguh-sungguh dia akan merasakan keadaan ini sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf ketika mereka digiring untuk ya masuk pada tingkatan mereka merasakan nikmatnya agama ini yang itu tidak

terbayang bagi orang-orang yang jahil, orang-orang yang jauh dari agama. Semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan kita untuk bisa merasakan keadaan tersebut seiring dengan semakin baiknya keimanan kita, semakin kuatnya keikhlasan kita, dan semakin besarnya kesungguhan kita dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan agama Allah Subhanahu wa taala tentu dengan taufik dan petunjuknya.

Nah, inilah yang mereka rasakan ya. Waqala taala. Di ayat lain di surah An-Nisa ayat 162 Allah Subhanahu wa taala memuji mereka. Lakinir rasikuna fil ilmi minhum wal mukminuna yukminuna bimaa unzila ilaika w unzila min qoblik. Akan tetapi orang-orang yang mendalam dalam ilmunya di kalangan mereka dan orang-orang yang beriman mereka selalu beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu.

Ini juga pujian bagi orang-orang yang rasik yang mendalam dalam ilmunya. Waqala di ayat yang lain di surat Ali Imran ayat ke-18. Syahidallahu annahu la ilahailla hua wal malaikatu wa ulul ilmi qoiman bilqist. La ilahailla huwal azizul hakim. Allah bersaksi ya dan persaksian Allah pasti benar. Tidak ada sembahan yang yang berhak disembah.

Tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia. Dan para malaikat juga bersaksi. Persaksian malaikat juga benar karena mengikuti persaksian Allah. Dan waul ilmi, orang-orang yang berilmu. Diambil persaksian mereka di kalangan manusia. Ya, yang ini mengikuti persaksian Allah. Kemudian persaksian para malaikat alaihialatu wasalam. Qoiman bilqist.

yang Allah mempersaksikan ini dengan menegakkan keadilan. Ya, bahkan seadil-adilnya keadilan adalah kalimat tauhid lailahaillallah. Lailahaillallah huwal azizul hakim. Tidak ada sembahan yang benar selain Dia yang maha perkasa lagi maha sempurna hukum dan hikmahnya. Nah, jadi ini adalah pujian bagi orang yang berilmu yang menunjukkan dalam masalah tauhid juga mereka adalah yang paling kuat dan paling yakin.

Tiib. Wabiilmihim bil quranil tamm wa imanihimusahih istashada bihim fid dunya wal akhirah. Maka dengan ilmu mereka tentang Al-Qur’an, tentang sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaitu ilmu yang sempurna dengan keimanan yang benar yang mereka miliki, Allah jadikan mereka sebagai argumentasi, sebagai saksi di dunia dan di akhirat.

Ya Allah berfirman di surat Ar-Rum ayat ke-56. Waqalladzina utul ilma wal imana. Laqad labistum ya faqad laqad labistum. Laqad labum fi kitabillahi ila yaumil ba. Fahadza yaumul ba wakinnakum kuntum laun. Dan orang-orang yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada mereka ilmu dan iman berkata, “Sungguh kalian telah tinggal di dunia ini berdasarkan ketentuan Allah sampai hari kebangkitan dan inilah hari kebangkitan.

Akan tetapi kalian tidak mengetahuinya.” Artinya apa? Orang-orang yang berilmu dan beriman Allah jadikan sebagai saksi di dunia mempersaksikan kalimat tauhid. Di akhirat juga mereka menjadi saksi bagi orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan. Ini semua pujian bagi mereka. Kenapa mereka dijadikan sebagai saksi? untuk menunjukkan bahwa keyakinan dan keimanan mereka yang paling benar, yang paling yang paling kuat seiring dengan mereka selalu mempelajari ilmu yang bermanfaat dari petunjuk Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Tiib. Wa akhbaro taala fi idti ayatin anal qurana ayatun lil mukminina wal mukinina liannahu yahsul lahum bitilawatihi waadabburihi minal ilmi wal yaqini wal imani bihasabi ma fatahallahu alaihim minhu fala yazaluna yazdaduna ilman wa imana Sebagaimana Allah Subhanahu wa taala memberitakan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an itu adalah tanda-tanda ayat-ayat bagi orang-orang yang beriman, orang-orang yang yakin.

Banyak ayat-ayat yang menyebutkan seperti ini ya. Kenapa demikian? Karena dengan seorang hamba membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya itu menjadikan dia akan mendapatkan ilmu, keyakinan dan keimanan sesuai dengan petunjuk yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan baginya. Maka dengan itu mereka akan selalu bertambah ilmunya, bertambah keimanannya, bertambah keyakinannya.

Jemaah sekalian rahimakumullah, yang seperti ini itu perlu kita buktikan dan praktikkan. Kekurangan apapun yang ada pada diri kita kan sudah kita kaji berkali-kali tidak ada solusinya kecuali kembali kepada petunjuk Allah dan petunjuk rasulnya sallallahu alaihi wa ali wasallam. Tidak ada cara setelah minta pertolongan dan taufik dari Allah Subhanahu wa taala kecuali mulai mempraktikkan agama ini dengan benar.

belajar menuntut ilmu yang benar, membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya. Demikian pula hadis-hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian kita pahami, kita akan dapatkan motivasi yang besar untuk semangat dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Yang itu menjadi sebab semakin kuatnya ilmu kita, semakin bertambah keimanan kita dan semakin tinggi keyakinan kita.

sebagaimana yang Allah subhanahu wa taala janjikan di dalam ayat-ayat ini. Nam barakallahu fikum. Cukup sampai sini insyaallah ya penjelasan yang bisa kita sampaikan di kesempatan kajian kita di pagi hari ini. Semoga bermanfaat dan menjadi sebab yang semakin memotivasi kita untuk semakin mempelajari agamanya.

Yang jelas kita selalu harus yakin apapun kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan yang ada pada diri kita, sebabnya adalah karena taufik dari Allah Subhanahu wa taala yang tidak disempurnakan, belum sempurna kita miliki. Kemudian karena jauhnya kita dari memahami dan mengamalkan petunjuk Allah Subhanahu wa taala.

Oleh karena itu, bersemangat dan selalu sungguh-sungguh meminta taufiknya dalam semua kebaikan yang berhubungan dengan ilmu dan amal. Kemudian bersemangat untuk mempelajari agama ini, belajar Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan pemahaman para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Babakallahu fikum.

Kita teruskan di waktu yang masih ada untuk menjawab pertanyaan. Iya. Ada pertanyaan seperti ini. Di zaman yang penuh fitnah ini, bagaimana cara agar mendapatkan ilmu dan kokoh kekokohan iman seperti di zaman para sahabat radhiallahu taala anhum? Tib. Sudah kita pernah jelaskan ya, bahwa kita tahu karunia Allah Subhanahu wa taala itu maha luas.

Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih riwayat Imam Muslim pernah bersabda, “Lallahu arhamu biibadihi min hadhi biwaladiha.” Sungguh-sungguh Allah Subhanahu wa taala lebih sayang kepada hamba-hambnya dibandingkan sayangnya seorang ibu kepada anak bayinya. Karunia Allah Subhanahu wa taala maha luas.

Allah Subhanahu wa taala menyempurnakan karunia kepada hamba-hamba yang beriman, para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Tetapi juga dia tidak menutup karunianya untuk orang-orang yang datang setelah mereka. Kalau mereka mau mengikuti petunjuk mereka dalam kebaikan, dalam ilmu dan amal, maka yang kita harus lakukan untuk meraih tujuan seperti ini, pertama sungguh-sungguh selalu berdoa kepada Allah.

Kita ingat selalu bahwa doa itu adalah kunci pembuka segala kebaikan. Aduau miftahu kulli khairin. Kata Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala, doa itu adalah kunci pembuka segala kebaikan. Kemudian bersabar untuk meniti jalan mereka. belajar agama yang benar, baca Al-Qur’an dan renungkan isinya. Baca kitab tafsir para ulama. Semakin kita belajar, semakin kita mengoreksi ketidakpahaman diri kita, menghilangkan kerancuan pemahaman kita, semakin itu juga akan menambah keyakinan kita, menguatkan iman kita, baru kita akan dapatkan keutamaan-keutamaan dan

penjagaan dari Allah. Ya, nanti kita akan bahas juga di sini nanti buah-buah dari keimanan di antaranya adalah pembelaan dan penjagaan dari Allah. Innallaha yudafiu anilladzina amanu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala akan membela, akan menjaga orang-orang yang beriman dari penjagaan dari Allah sesuai dengan keimanan kita.

Maka yang berhubungan dengan kekokohan iman, kekuatan iman itu ya dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala tergantung dari dari sejauh mana kita berusaha. memperbaiki dan menguatkan keimanan itu. Makanya kita bersabar untuk belajar untuk mempraktikkan ilmu yang diterangkan oleh para ulama kepada kita ya. Kemudian mohon nasihat kepada para penuntut ilmu yang sedang futur.

Maka kita katakan sebelum terjadi kefuturan tersebut harusnya kita sudah berusaha mempersiapkan diri berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala agar selalu dijaga dalam kebaikan agamanya. Kemudian selalu berusaha untuk dekat dengan orang-orang yang saleh, orang-orang yang baik, orang-orang yang semangat dalam menuntut ilmu.

Supaya kita selalu berpesan kepada mereka, tolong ketika saya futur, saya dinasehhati, saya ditegur untuk kembali semangat ya. Jadi, selagi Allah Subhanahu wa taala masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa mempersiapkan diri, kita amalkan apa yang disebutkan dalam hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Taarof ilallahi firhariifkaiddah. Kenalilah Allah, dekatkan dirimu kepada Allah ketika kamu dalam keadaan lapang. Supaya Allah akan mengenalimu atau menolongmu ketika kamu dalam keadaan susah. waktu dalam keadaan futur, kita butuh untuk dinasehati. Makanya kalau sudah kita berpesan dengan teman-teman dekat kita dari kalangan orang-orang yang baik, insyaallah mereka akan mengingat kita.

Ya, oleh karena itu kalau kita merasakan ada yang futur dalam diri kita, ya hendaknya teman-teman yang lain segera datang menasihatinya karena dia sedang butuh untuk ditolong saat itu. Ya, sebagaimana kita juga butuh untuk ditolong dan diingatkan waktu kita futur, maka demikian pula keadaan saudara kita. Yang jelas ya, bagi mereka-mereka yang sedang futur sebabnya adalah karena mungkin mereka jauh dari kajian, jauh dari nasihat.

Kalau kita mampu segera minta nasihat kepada orang yang dekat dengan kita atau kalau kita mampu hadirilah majelis ilmu sekedar kita datang itu akan memberikan faedah kebaikan bagi bagi kita. Ingat kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang majelis ilmu dalam hadis riwayat Imam Muslim. Humulmu la yasqo bihim jalisuhum.

Mereka adalah orang-orang yang tidak akan celaka, tidak akan kecewa orang yang mau duduk bersama mereka. Itulah manfaat dan kemuliaan majelis ilmu. Nah, Ustaz, bagaimana caranya menghadapi orang hasad yang katanya sudah mengaji sunah, namun masih suka menggibah, namimah, menghasut orang lain? Bagaimana cara meninggalkan orang seperti ini, Ustaz? Saya khawatir terkena dampak ya watak jeleknya.

Iya. Yang kita bisa lakukan kalau kita tidak bisa menasihatinya ya membatasi pergaulan dengannya. Ya sebaik-baiknya mungkin kalau kita mengetahui ada orang yang seperti ini di kalangan teman kita, kita berusaha menasehatinya sendiri. Kalau tidak mampu kita ajak beberapa orang yang tahu tentang kondisi ini untuk menasihatnya secara bersama-sama.

Tentu dengan cara ya bukan terang-terangan. diajak bertemu kemudian diingatkan tentang perbuatannya dengan cara yang baik, maka semoga dia mau mendapatkan terbuka bisa meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Kalau tidak mampu, maka berusaha menghindarinya, berusaha untuk menjauhinya. Jangan duduk bersamanya supaya tidak terkena dampak dari wataknya yang buruk tersebut.

Nauzubillah minzalik. Itu yang bisa kita lakukan untuk orang-orang yang seperti ini. Tentu kita doakan agar Allah Subhanahu wa taala membuka hatinya untuk mau kembali kepada kebenaran dan meninggalkan keburukan tersebut. Jika dalam rumah tangga seorang suami belum mengenal sunah akan selalu berbeda pendapat dalam pemahaman dalam beribadah dan cara berpikir.

Gimana seorang istri menyikapi? Ya, dia harus berusaha dan bersabar menasihati suaminya. Berusaha untuk mengajaknya, menasihatinya atau diskusi dengan cara yang baik. Dan tentu suaminya juga harusnya orang yang lapang untuk berdiskusi dalam hal yang seperti ini ya. Kemudian nanti mereka akan melalui mungkin tahapan diskusi kemudian membicarakan tentang masalah ini.

Karena bagaimanapun ini adalah masalah yang paling penting ya. Kalau sampai pada tahapan suaminya itu misalnya tidak mengenal manhaj yang benar, tapi dia tidak menghalangi, tetap membiarkan istrinya untuk belajar sesuai dengan keyakinannya, ini masih perkara yang mending. Tapi kalau sampai pada tingkatan dia juga menentang tauhid, dia juga menolak tentang hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, apalagi dia juga misalnya menolak hal-hal yang berhubungan dengan ibadah, wah ini akan bermasalah besar nantinya, ya. Yang

jelas istri harus sungguh-sungguh berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala untuk kebaikan suaminya dan berusaha untuk sering mengajaknya dalam kebaikan. Bahkan dia harus mempersiapkan diri mungkin untuk berdiskusi dengan suaminya dalam masalah-masalah tentang pemahaman agama ini ya untuk bisa meluruskan kesalahpahaman dan syubhat yang ada dalam pikirannya. Nah, barakallahu fik.

Masih ada yang lain? Iya, barakallahu fikum. Kalau sudah habis pertanyaannya, kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Barakallahu fikum.

sallallahu wasam wina Muhammad waa alihi wasbihi waman tabiahum bisanin yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh tuh

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *