KITAB POKOK POHON IMAN (Lanjutan) | USTADZ ABDULLAH TASLIM, M.A ‎حفظه الله

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

Asalamualaikum warahmatullahi

wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waasta’inuhu wa nastagfiruh wa naudubillahi min syururi anfusina [berdehem] wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah. Wam yudlil fala hadiyaalah. [berdehem] Wa asyhadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.

Ya ayyuhalladzina amanutqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waquulu qulan sadida Tidak.

Yuslih lakum a’alakumagfirlakum dunubakum. Wam yutiillaha wa rasulahu faqad faza fauzan adzima. Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabi [berdehem] waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah Bapak-bapak, Ibu-ibu, Ikhwan dan Akhwat fiddin aazakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala.

[berdehem] Kita memuji Allah subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah di pagi hari ini setelah melaksanakan salat subuh berjamaah kita dimudahkan dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia [berdehem] dilanjutan pembahasan kitab yang sangat bermanfaat kitab Attaudihu Wal Bayan Lisyajaril Iman.

Penjelasan tentang pohon iman karya dari As Syekh al-Allamah almufassir As Syekh Abdurrahman bin Nasir Ass’di rahimahullahu taala. [berdehem] Sebaik-baik yang berusaha untuk kita pahami kemudian kita amalkan dalam urusan agama kita [berdehem] adalah tentu saja yang berhubungan dengan dasar atau landasan utama agama kita yaitu tentang keimanan kepada Allah Subhanahu wa taala.

Bagaimana membenarkan iman kita kepada Allah. Bagaimana menguatkan [berdehem] keimanan, menyempurnakannya yang tentu saja ini akan [berdehem][batuk] ini merupakan sebab untuk menyempurnakan ketakwaan, keikhlasan, dan kebaikan-kebaikan lain dalam urusan agama kita. Ini yang sudah pernah kita baca juga. keutamaannya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang sahih dalam Sahih Bukhari dan Muslim ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan tentang [berdehem] keutamaan seseorang yang membenarkan keimanannya terhadap Allah Subhanahu wa taala dan

Rasul-Nya. Yakni ketika Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, [berdehem] “Inna ahlal jannati layatarouna ahlal gurofi min fauqihim litafaduli ma bainahum.” Sesungguhnya penghuni surga nanti akan memandang dengan kagum terhadap penghuni surga lainnya yang menempati kamar-kamar yang indah dan tinggi di atas mereka.

Ya, karena perbedaan tingkatan yang ada pada mereka. Ketika itu sebagian dari para sahabat radhiallahu taala anhum ada yang mengatakan, “Ya Rasulullah, tilka manazilul anbiya lam la yabluguha ghairuhum.” Ya Rasulullah, itu adalah tingkatan yang akan ditempati oleh para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Tidak mungkin dicapai oleh orang-orang selain mereka.

Kita tahu ketika itu Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, menjawab, “Bala rijalun amanu billahi wasoddaqul mursalin.” [berdehem] Ya, tidak demikian. Yang akan menempati tempat atau kedudukan-kedudukan yang tinggi tersebut adalah rijalun, orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul alaihiusalatu wasalam.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa perbaikan iman, membenarkan keimanan kita kepada Allah dan ittiba kita kepada sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ini yang akan menempatkan seorang hamba pada kedudukan yang mulia bahkan kedudukan yang sangat tinggi di akhirat nanti, di surga nanti di sisi Allah Subhanahu wa taala.

Makanya selalu kita ingatkan ya, kita motivasi diri kita tentu setelah berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala bahwa pelajaran kajian yang berhubungan dengan iman hendaknya terus kita bahas, terus kita murajaah, kita ulangi, kita pelajari kembali dan jangan lupa praktikkan karena kita semua yakin Janji Allah itu pasti benar.

Jalan kebaikan kalau kita tempuh sebab sebab untuk peningkatan iman kalau kita selalu latih diri kita mengusahakannya maka Allah Subhanahu wa taala akan menyempurnakan kebaikan itu pada diri kita. Ingat kembali sabda Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Waman yataharral khair yh waman yattaqyarro yuwaqoh.

Barang siapa yang selalu mengusahakan selalu memilih kebaikan, mengutamakan kebaikan, maka dia akan diberikan. Allah akan berikan padanya kebaikan itu. Sebagaimana barang siapa yang selalu menjaga dirinya berusaha menjauhi keburukan, maka Allah Subhanahu wa taala akan jauhkan darinya keburukan tersebut. Jadi harus ada usaha dan kesungguhan.

Selalu percaya dan bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa taala. Selalu memohon pertolongannya. Ingat Allah Subhanahu wa taala. Zat yang selalu kita harapkan karunianya, satu-satunya tempat kita meminta segala kebaikan. Dia adalah zat yang jawadun karim, maha dermawan, maha pemurah. Ya, dia adalah albarrur rahim, maha berbuat kebaikan, maha pengasih kepada hamba-hambnya.

Dia adalah almuhsin, almanan, alwahab. Maha berbuat kebaikan, maha pemberi karunia, maha melimpahkan anugerah kepada hamba-hambnya. Ya, kalau bukan kepada orang-orang yang beriman yang bersungguh-sungguh mengusahakan kebaikan, Allah berikan karunianya yang agung. Karunianya yang paling indah berupa kebaikan iman, kesempurnaan takwa.

Maka tidak mungkin kalau bukan kepada mereka tidak mungkin ditujukan atau Allah berikan kepada orang-orang yang durhaka, orang-orang yang berpaling dari petunjuknya, orang-orang yang tidak sungguh-sungguh mencari keutamaan dan karunia di sisinya. [berdehem] Oleh karena itu, kita ingin ingatkan selalu pelajaran dari kitab yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Ass’di ini.

Ini pelajaran yang sangat bermanfaat dan mungkin sebagiannya sudah kita dengarkan di kajian-kajian yang lain ya. Cuman kadang-kadang kita memang tidak begitu semangat mempraktikkannya atau mungkin motivasi kita ada sebelumnya, tapi karena kita tidak segera ya [berdehem] menyambut atau mempraktikkan kebaikan-kebaikan tersebut, akhirnya motivasinya semakin lama semakin turun, semakin lemah.

Ya, ini hidayah dari Allah Subhanahu wa taala. Ketika ada panggilan kebaikan harusnya kita segera. Karena ini merupakan wujud syukur kita atas nikmat bahkan sebesar-besar nikmat. Nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada kita. Ya ayyuhalladzina amanuibu lillahi walir rrasuli idza daakum lima yuhyikum.

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu untuk memberikan kebaikan bagimu. [berdehem] Di sini ada ajakan yang jelas-jelas untuk kebaikan dan keselamatan kita dunia dan akhirat. Ya, bagaimana mungkin orang yang beriman tidak termotivasi dan harusnya bersegera? menyambut panggilan Allah Subhanahu wa taala untuk kebaikan ini.

Jadi wujud syukur kita kepada Allah Subhanahu wa taala adalah memujinya, selalu menisbatkan nikmat kepadanya kemudian bersegera menyambut kebaikan tersebut. Karena semua yang ditawarkan, yang diajak oleh Allah Subhanahu wa taala dalam agamanya kan semua kebaikan. Dan kebaikan itu adalah murni untuk kita semua.

Karena Allah Subhanahu wa taala tidak butuh. Dia adalah ghaniyun anil alamin. Ya, maha kaya dan tidak butuh kepada semua makhluk di alam semesta. Kitalah yang butuh dan selalu bergantung kepada rahmat dan karunia-Nya. Oleh karena itu, permasalahan yang berhubungan dengan sebab-sebab yang menguatkan keimanan ya karena kita tahu ini adalah kebutuhan kita yang paling besar, hajat kita yang paling utama.

Makanya seharusnya kita bersungguh-sungguh selalu mengusahakan hal ini, [berdehem] selalu bersungguh-sungguh mengulang-ulangi pelajaran tentang hal ini, dan juga paling penting adalah selalu bersungguh-sungguh berusaha mempraktikkannya dalam kehidupan kita. Barakallahu fikum. Namasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah.

Kita masih melanjutkan pembahasan tentang perkara-perkara yang merupakan sebab yang menambah dan menguatkan iman kepada Allah Subhanahu wa taala. Yang ini merupakan ya inti pembahasan dari kitab ini. Jadi fiikril umurillati yustamadu minhal iman. pembahasan tentang perkara-perkara yang merupakan sebab untuk menambah keimanan.

Ya, yang terakhir kemarin adalah mengenal akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Mengenal budi pekerti beliau yang agung. Karena orang yang mengenal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan jujur dalam dirinya ya keinginan untuk mengikuti kebenaran, maka begitu bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam pasti dia langsung meyakini kebenaran petunjuk yang beliau sampaikan.

Kita lanjut membaca penjelasan yang disebutkan oleh As Syekh Ass’adi rahimahullahu taala. Beliau berkata, “Walihadza kanjulu almunsifuladzi laisa lahu irodat illa tiba alqi mujarod ma yarohu waasma kalamahu yubadiru ilal imani wala yartabu fi risalatih.” Oleh karena itu, seseorang yang munsif, seseorang yang benar-benar adil dan jujur dalam mencari kebenaran yang tidak ada keinginan pada dirinya kecuali mengikuti kebenaran.

Kalau ada orang yang benar-benar jujur dalam niatnya, yakni artinya dia mencari kebenaran bukan untuk sekedar ya mengikuti keinginan nafsunya atau mencari-cari kesalahan. Orang yang seperti ini hanya dengan dia melihat Nabi sallallahu alaihi wasallam mendengar ucapan beliau, maka dia akan segera langsung mengimaninya [berdehem] dan tidak akan ragu tentang kebenaran petunjuk risalah yang beliau bawa.

Bal katirum minhum mujarod ma yaro wajhahul karima yifu annahu laisa biwajhi kadzab. Bahkan kebanyakan di antara mereka dengan hanya sekedar melihat wajah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mulia, dia mengetahui bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta.

Ini sudah kita ketahui kan terjadi seperti yang disebutkan dalam riwayat yang sahih pada sahabat yang mulia Abdullah Ibnu Salam radhiallahu taala anhu yang dulunya adalah seorang pendeta Yahudi ya. Tapi karena dia memang mencari kebenaran, ketika dia mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam berhijrah ke Madinah, kemudian [berdehem] dia datang dan menyaksikan sebelum mendengarkan ucapannya baru melihat wajahnya, dia mengatakan, [berdehem] “Aruftu anna wajahu laisa biwa wajhi kadzab.

” Aku mengetahui bahwasanya wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Ya, karena sudah kita bahas apa yang ada dalam hati manusia itu ya Allah Subhanahu wa taala bisa perlihatkan terlihat pada raut wajahnya, pada ekspresi wajahnya ya. Apalagi orang yang semulia Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang jelas terlihat dari wajah beliau.

Kemudian ketika beliau menyampaikan petunjuk hadis-hadis ya yang merupakan wahyu dari Allah Subhanahu wa taala yang sangat sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia. Ya. Oleh karena itu, Jemaah sekalian hafidakumullah, kalau kita baca kisah seperti ini kan kita merenung. Kita mungkin tidak membutuhkan lagi pengenalan seperti mereka yang baru masuk Islam.

[berdehem] Ya, yang tentu sebelumnya belum membenarkan, sebelumnya [berdehem] mereka tidak membenarkan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam. Allah berikan hidayah ketika bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam atau mendengarkan ucapannya. Ya, ada juga yang mendengarkan tentu saja bacaan Al-Qur’an kemudian beriman.

Alhamdulillah kita sudah melalui tahapan tersebut. Iya kan? Kita sudah beriman saat ini. Bahkan kita mengimani manhaj salaf. Kita yakin bahwa kebenaran itu ada pada pemahaman dan pengamalan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Bahkan itulah satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat yang harusnya dengan kebaikan besar seperti ini yang Allah berikan kepada kita, berarti persiapan hati kita untuk menerima kebenaran, untuk mengikutinya, untuk memperbaiki keimanan kan lebih besar karena hati kita sudah terbuka.

Ini yang saya katakan tadi harusnya ini kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kalau orang-orang ya yang tentu mereka dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala pasti karena mereka adalah hamba Allah yang terpilih. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain ya kan mereka mengalami prosesnya dari awal bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian mendengarkan ucapan beliau beriman.

Setelah itu mereka belajar, tapi karena hati mereka yang terbuka tulus dalam mencari kebenaran, maka Allah Subhanahu wa taala mudahkan petunjuknya. Yang kita tahu ini tidak Allah khususkan untuk mereka saja. Allah berikan karunianya kepada hamba-hamba yang dipilihnya selama mereka mengikuti jejak kebaikan dari generasi yang mulia tersebut.

Yakni artinya saat ini kita telah membaca kitab-kitab para ulama yang menjelaskan Al-Qur’an, menjelaskan hadis-hadis yang sahih. Artinya sebab kebaikan yang mendukung mereka masih ada pada diri kita saat ini. Ya, pastinya banyak ujian dan cobaan hal-hal yang malingkan kita dari keimanan.

Tapi kan kita semua yakin dan percaya dengan janji Allah Subhanahu wa taala bahwa kalau kita sungguh-sungguh memperbaiki tekad kita, membenarkan jalan kita dalam menuntut ilmu, dalam mengamalkannya, maka niscaya kita akan sampai kepada tujuan yang mulia tersebut. Karena Allah Subhanahu wa taala tidak akan menghalang-halangi atau menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukan kebaikan yang dilakukan oleh hambanya.

Ya wallahu liudia imanakum. Dan Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin akan menyia-nyiakan menyia-nyiakan keimananmu. Nam. Jadi inilah gambaran yang dirasakan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Berarti sekali lagi ini membuktikan bahwa orang yang selalu mempelajari petunjuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam membaca tentang akhlak beliau ya sikap-sikap beliau ketika mendidik para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.

Semakin banyak ini kita baca, itu akan semakin menarik hati kita untuk ya menguatkan iman, menyempurnakan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Tib waqila liba’dihim lima badarta ilal imani Muhammadin shallallahu alaihi wasallam qobla anfa risalatahu sampai dikatakan kepada sebagian mereka yang beriman kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam ini kata sebagian Para ulama, kisah ini terjadi pada sebagian orang-orang Arab dusun di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Ketika ditanyakan kepada mereka ini atau sebagian dari mereka, “Kenapa kamu bersegera mengimani? Kenapa kamu langsung beriman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam sebelum kamu mengenal risalah petunjuk yang beliau yang dibawanya? faqala, yakni sebelum dia mendalami mempelajarinya, kenapa langsung beriman langsung menerima faqala? Maka orang ini menjawab, “Ma amaro bisaiin faqal aqlu laitahu naha anhu wala naha syaaiin faqalal aqlu laitahu amaro bihi.

” Karena tidaklah beliau memerintahkan tentang satu perkara, memerintahkan kepada satu perkara, lalu kemudian akal mengatakan ini akal sehat manusia mengatakan duhai kiranya dia melarangnya. Sebaliknya tidaklah beliau melarang dari satu perkara kemudian akal berkata duhai kiranya beliau memerintahkannya. Yakni tidak ada satupun perintah dan larangan beliau yang bertentangan dengan akal sehat.

Ini mereka rasakan baru dengarkan sedikit penjelasan. Iya kan? Bagaimana orang yang mempelajari dengan mendalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. hadis-hadis beliau, kemuliaan akhlak beliau, sifat-sifat terpuji yang ada pada diri beliau. Jadi ketika beliau memerintahkan kepada satu masalah, akal langsung setuju.

Ini memang pantas diperintahkan. Akal tidak akan menentangnya dengan mengatakan, “Kenapa tidak dilarang saja hal ini?” Sebaliknya ketika beliau melarang akal langsung setuju. Ini memang pantas dilarang. Berarti [berdehem] semakin banyak kita mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan perintah Nabi sallallahu alaihi wasallam, larangan-larangannya yang mesti melarang kepada keburukan.

Wuhillu lakumut thyibati wau alaikumul khabait. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, beliau itu menghalalkan kepada kalian perkara-perkara yang baik dan melarang dari perkara-perkara yang buruk, mengharamkan hal-hal yang buruk. Itu sudah pasti. Semua yang beliau halalkan pasti baik, yang beliau haramkan pasti buruk.

Ya. Dan ini langsung disetujui oleh akal sehat manusia. Tib. Kata beliau, “Fastadalla hadal aqilul muwafa bihusni syariatihi shallallahu alaihi wasallam. Bihusni syariatihi shallallahu alaihi wasallam. Wa muwafaqatiha lilqui ala risalatih fabadar ilal iman.” Maka orang yang berakal sehat dan mendapatkan taufik ini mengambil dalil ya menjadikan argumentasi dengan apa? Keindahan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Kesesuaiannya dengan akal sehat, kesesuaiannya dengan tuntutan akal pikiran yang sehat. tentang benarnya petunjuk yang beliau bawa, maka dia pun segera untuk mengimaninya. Iya, tentu ini semua ya taufik dari Allah Subhanahu wa taala ya. Karena sudah pernah kita ingatkan juga kenapa banyak orang-orang kafir Quraisy yang justru lebih dekat hubungan nasabnya kepada Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam justru mendustakannya.

Meskipun [berdehem] kita yakin mereka yang mendustakan itu ya pasti bukan bersumber dari penolakan di hatinya. Cuma karena keras kepala dan kesombongan. Wahadu biha wastaiqonatha anfusuhum dululman wa ulu. Mereka menolak kebenaran itu padahal jiwa-jiwa mereka telah meyakini kebenarannya karena kezaliman dan kesombongan.

Ya, sementara orang-orang Anshar yang jauh hubungan kekerabatannya dengan beliau dibandingkan orang-orang Quraisy tentu saja justru mereka yang dibukakan hatinya untuk menerima kebenaran. Ya memang ada kejadian keadaan seperti ini, tapi kita katakan tadi ketika Allah Subhanahu wa taala telah memilih seorang hamba dan ini adalah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya.

Maka ini merupakan sebab atau jalan yang terbuka lebar bagi hamba ini untuk ya tadi menyempurnakan kebaikan itu pada dirinya dengan segera. Ini kesempatan yang Allah Subhanahu wa taala bukakan bagi seorang yang telah mengenal kebenaran. Tentu sangat menginginkan kebaikan iman. sangat merindukan bisa mengikuti keadaan para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.

Semangat mereka dalam berlomba-lomba dalam kebaikan ketika mereka membela Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan kecintaan yang sangat kepada beliau ya yang tentu sangat merindukan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa taala. Yakni sekarang orang yang telah mendapatkan hidayah kebaikan seperti ini apalagi yang ditunggu, apalagi yang dinantikannya untuk segera ya meraih kebaikan-kebaikan tersebut.

Barakallahu fikum. Nam. Lalu kata beliau selanjutnya, walihad stadalla malikir rumi hirakel lamma wusifa lahu ma jaa bihir rasul shallallahu alaihi wasallam wana yamuru bihi wama yanha anhu istadalla bidzalika ala annahu min a’domir rusuli waarofa bidzalikaofan jaliya Iya. [mendengus] Oleh karena itu, Raja Romawi Heraklius ya yang kita sangat mungkin sangat kita kenal kisahnya disebutkan dalam hadis-hadis yang sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

Ketika diterangkan kepada beliau sifat ketika dijelaskan kepada beliau apa yang dibawa, petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. apa yang beliau perintahkan dan apa yang beliau larang. Orang ini berdalil bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah termasuk rasul yang paling agung dan mengakui hal tersebut dengan pengakuan yang terang-terangan.

Kita tahu dalam kisah ketika dialog antara Herakrius dengan utusan orang-orang kafir Quraisy termasuk Abu Sufyan yang ada pada saat itu dalam perjalanan ketika mereka melakukan perjalanan dagang ya perjalanan niaga di wilayah Syam ya tempat raja Romawi ini berada ketika itu. Dipanggillah mereka kemudian terjadi dialog.

Setelah beberapa kali dijawab, maka [mendengus] beliau ee maka orang ini langsung menyimpulkan bahwa Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah alhamdulillah. Alhamdulillah. [mendengus] Jadi, Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah rasul yang paling mulia. [berdehem] yang meskipun kemudian ya meskipun yakni dia kemudian mengatakan kalau seandainya ada jalan untuk bisa sampai kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam maka dia akan membawakan sendalnya, mencuci kakinya dan memuliakannya.

Tapi kemudian dia tidak mengimani karena ya mempertimbangkan kerajaannya, takutnya hilang kekuasaannya. Al kulihal yakni Allah Subhanahu wa taala tidak memudahkan masuknya hidayah ke dalam dirinya. Padahal pengakuannya sudah seperti itu jelasnya. Ya, maka ada yang seperti ini. Orang-orang yang tidak dipilih oleh Allah Subhanahu wa taala memang ada.

[mendengus] Ya, sekali lagi kita selalu katakan Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Dalika fadlullahi yutihi yasya wallahu dulul fadlilim.” Itu adalah karunia Allah memang yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah Subhanahu wa taala maha memiliki karunia yang agung. Jadi hendaknya kita selalu bandingkan diri kita saat ini dengan segala kekurangan yang ada pada diri kita dengan orang-orang yang tidak mengenal agama yang benar, tidak mengenal manhaj salaf.

Bahkan orang yang sudah seperti Herakleus ini mengakui dan menyatakan pujian terang-terangan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak dibuka hatinya untuk bisa menerima hidayah. Jadi maksudnya dalam kehidupan kita di dunia yang sementara ini jangan kita terlalu selalu fokus memikirkan kenapa saya urusan dunia? Kenapa rezeki sempit? Kenapa ini susah? Itu susah. Masyaallah.

Ini kan keluhan dari orang-orang awam yang tidak mengenal agama. Antum sudah mendapatkan nikmat yang demikian besar. Coba bandingkan dengan orang-orang di sekitar kita yang tauhid saja mungkin mereka tidak paham. sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sebab-sebab yang menumbuhkan keimanan ya.

Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain mereka tidak mengeluhkan masalah-masalah seperti ini. Padahal mayoritas mereka adalah orang-orang yang kekurangan miskin dalam hidupnya. Mereka tidak mengeluhkan masalah ini. Selalu yang mereka kelukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan keimanan. Bagaimana meningkatkan iman? Bagaimana ketika mereka tidak mendapatkan bimbingan kebaikan-kebaikan, mereka merasakan iman mereka berkurang ketika wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang mereka tidak mengelukan hal-hal yang seperti ini ketika berhubungan dengan

urusan-urusan dunia. Barakallahu fikum. Tib [mendengus] wakin manaasatu zawali mulki mintib tapi kemudian dia terhalangi ya dengan arrias kekuasaan dan kekhawatiran hilangnya kerajaannya sehingga dia tidak mengikuti Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Meskipun kita tahu Herakleus ini kan sangat memuliakan, sangat menghormati ketika datangnya surat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada beliau, kepada orang ini ya untuk mengajak kepada Islam.

Dia tidak menerima tapi dia sangat memuliakan surat tersebut, memuliakan utusan yang diutus dan seterusnya. Sehingga Allah subhanahu wa taala ya kata para ulama memberikan balasan dalam urusan dunia dengan dijaga kerajaannya. Tidak seperti Persia yang merobek-robek surat Rasulullah sallallahu alaihi wa wasallam yang kemudian Allah subhanahu wa taala juga menghancurkan kerajaan mereka.

Nah, kama manaat kirsiron mimmanha mimmanha lahum annahu rasulullahi haqqan shallallahu [berdehem] alaihi wasallam. Sebagaimana hal ini yang menghalangi kebanyakan dari orang-orang yang telah jelas di hadapannya bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah rasul yang sebenarnya. Yakni perkara seperti ini banyak menghalangi manusia.

[berdehem] Kekuasaan, kelebihan dalam urusan dunia itu banyak menghalangi manusia dari mengikuti kebenaran. Ini selalu kita ingatkan agar kita mensyukuri keadaan kita yang Allah berikan saat ini. Banyak orang-orang yang disibukkan dengan kekuasaan bahkan ketika dia sudah mengenal kebenaran.

Ya, ini mungkin kita saksikan di antaranya ya, ada orang yang lebih dahulu mendapatkan hidayah, dia sudah mengenal sunah, mengenal petunjuk para sahabat, mengenal manhaj salaf. Tapi sampai saat ini mereka kesempatan untuk ngajinya susah karena kesibukan. Ada juga mungkin mempertimbangkan kekuasaannya dan yang lainnya. Tapi alhamdulillah orang-orang yang tidak banyak disibukkan dengan hal-hal yang seperti ini justru mereka yang bisa banyak menghadiri majelis ilmu, tidak ada penghalang untuk menerima kebenaran.

Yang ini jelas karunia terbesar yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada orang-orang seperti ini dibandingkan dengan urusan-urusan dunia yang kita tahu itu Allah berikan kepada semua manusia yang bertakwa maupun yang tidak bertakwa mendapatkannya. Bahkan yang beriman maupun yang kafir juga mendapatkannya.

Maka kenapa ini selalu menjadi fokus utama dalam pemikiran sebagian kita? Padahal kita tahu ini bukanlah keutamaan yang sesungguhnya. Barakallahu fikum. [mendengus] Wah min akbari mawaniil imani fi haqqi amsali haula. Maka ini termasuk sebesar-besar penghalang iman ya pada orang-orang seperti mereka. Ini [berdehem] sudah pernah kita sebutkan kan.

Di antara yang disebutkan dalam dialognya raja Romawi ini dengan Abu Sufyan sebelum masuk Islam ketika itu radhiallahu taala anhu ketika keadaan pengikut para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Ayat bauhu duafauhum am agniyauhum. Apakah yang menjadi pengikut nabi ini orang-orang yang lemah di kalangan kaumnya atau orang-orang yang kaya? Ya. Asrofuhum.

orang-orang yang punya kedudukan mulia, tokoh-tokoh di masyarakatnya. Kata Abu Sufyan, “Bal dufauhum.” Bahkan yang menjadi pengikutnya adalah orang-orang yang lemah di antara kaumnya. Kata Heraklius, “Hum atbaur rasul.” Memang mereka itu yang selalu menjadi pengikut para rasul alaihiusalatu wasalam. [berdehem] Mayoritas pengikut para nabi dan para rasul alaihiusalatu wasalam adalah orang-orang yang tidak punya kedudukan, lemah dari segi ekonominya di kalangan umatnya.

Meskipun tentu saja bukan berarti orang-orang kaya itu semua tercela. Tidak, ya. Orang yang miskin tidak dipuji secara zatnya, orang kaya juga tidak. Yang terpuji kalau dia kaya bersyukur, yang miskin bersabar. Cuman hadis ini menjelaskan keadaan dan itu didukung di dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an ya.

Waqal duafailladinastakbaru orang-orang yang miskin berkata kepada orang-orang yang menyombongkan dirinya. [berdehem] Di dalam Al-Qur’an disebut penentang-penentang para rasul itu begini begitu sifatnya. Orang-orang yang punya kekuasaan sehingga bisa menyombongkan dirinya. Mereka yang menghina pengikut para rasul alaihialatu wasalam. Yaarabaina [berdehem] humil.

[berdehem] Ya, kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu kecuali orang-orang yang hina di antara kami. Orang-orang yang rendah pemikirannya. Itu ucapan dari orang-orang yang menyombongkan dirinya. Jadi maksudnya keadaan yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada seorang hamba ketika dia dimuliakan dengan iman, dimuliakan dengan mengenal mengenal kebaikan-kebaikan agama, kemudian dalam urusan dunia ternyata Allah Subhanahu wa taala tidak berikan kelebihan, maka jawabannya itu adalah memang keadaan yang sudah berlangsung sejak dulu.

dari keadaan atau mayoritas keadaan pengikut para nabi dan para rasul alaihialatu wasalam. Sehingga hal-hal yang seperti ini bukan dikeluhkan, bahkan justru kita ya mensyukuri nikmat yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada kita dengan Allah menjauhkan kita dari sebab-sebab ujian yang bisa menjadi fitnah dan terbukti menghalangi banyak manusia dari mengikuti kebenaran yang Allah Subhanahu wa taala turunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Nah, Tib kata beliau, wa amma ahlul bai walqu ahlul bashari wal uquihati fainnahum yaruna hadil mawania warriasati wasyubhati wasyahwati tadmahil. Adapun orang-orang yang memiliki albashair basirah, mata hati, [mendengus] mata hati yang lurus dan akal yang sehat. [berdehem] Ya, mereka ini akan memandang mereka ini memandang [berdehem] penghalang-penghalang seperti ini.

Arriasat, kedudukan atau kekuasaan duniawi, [mendengus] fitnah syubhat dan syahwat. Semua [berdehem] itu akan hilang. Semua yang ada di permukaan bumi ini fana. Berarti yang diniatkan untuk dunia juga akan hancur seiring dengan hancurnya dunia. Kullu man alaiha fan wabqo wajhuika dul jalali wal ikram.

Semua yang ada di permukaan bumi ini akan hancur dan yang kekal adalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Semua yang ditujukan untuk mengharapkan wajah Allah itu akan jadi kekal dengan Allah Subhanahu wa taala yang menjadikannya kekal. Ya, makanya keimanan yang benar ini manfaatnya akan kekal dunia akhirat. Balasannya juga balasan yang kekal abadi, yaitu surga dengan kenikmatan yang ada di dalamnya.

[berdehem] Wala yarauna laha qimatan. Mereka tidak menganggap hal-hal ini punya nilai yang diperhitungkan. Hatta yuar bihal haqqu asahihun nafi almutmiru lisadati ajilan wa ajila. Mereka tidak memandang hal-hal ini punya nilai yang tinggi sehingga bisa menghalangi kebenaran ya kebenaran yang terang dan jelas-jelas bermanfaat yang akan mewariskan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Yakni mereka mengetahui nilai dari [mendengus] [berdehem] urusan dunia ini terlalu kecil sehingga dibandingkan dengan [mendengus] akhirat yang demikian mulia dan demikian tinggi. Atastailunalladzi hua adna billadzi hua khair. Apakah kalian ingin menggantikan sesuatu yang baik dan mulia dengan sesuatu yang hina dan rendah? Ya, ini urusan dunia sudah kita ketahui dunia disebut dengan dunia dari kata-kata danaah.

Dana yadni danaatan rendah dan hina. Sela. Sedangkan balasan di sisi Allah Subhanahu wa taala adalah balasan yang kekal abadi yang tinggi. Fi jannatin aliah di surga yang tempatnya sangat tinggi. [berdehem] Ya, ini tentu saja orang-orang yang punya akal sehat tidak akan mungkin mengorbankan kedudukan dan kemuliaan yang tinggi yang berusaha dikejarnya dengan urusan-urusan dunia yang demikian rendah dan tidak bernilai tersebut.

[mendengus] Wali sababul aom kanal manuna bil qurani hifd wafatan wal mtanuna bil ahadihati imanan wa yakinan min ghairihim wa ahsana amalan fil golb. Oleh karena itulah dengan sebab yang paling besar ini kita dapati orang-orang yang memberikan perhatian untuk mempelajari Al-Qur’an, menghafalnya, memahaminya, merenungkan kandungan maknanya ketika membaca.

Demikian pula orang-orang yang memberikan perhatian terhadap hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mereka ini ya secara umum tentu saja ya adalah orang-orang yang paling agung dalam keimanan, paling kuat dalam keimanan dan keyakinnya terhadap kebenaran agama ini dibandingkan selain mereka.

Ini tentu secara sekali lagi secara umum [mendengus] ya. Dan merekalah yang paling baik dalam beramal fil ghalib dominannya. Kenapa? Orang yang mengenal keindahan agama ini akan semakin berpegang teguh dengan agama. Orang yang semakin mengenal kemuliaan akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Terbukti para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain menjadi generasi yang terbaik umat ini.

Kemudian terbukti para tabiin karena berguru dari generasi yang terbaik menjadi yang terbaik setelahnya. Selanjutnya para tabiut tabiin dan seterusnya karena mereka lebih banyak dekat dengan orang-orang yang baik. Para sahabat lebih sering bertemu dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan mereka langsung mendengarkan ketika ayat-ayat Al-Qur’an turun dan dijelaskan oleh Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam.

Ya, oleh karena itu sebab yang mulia seperti ini yang mereka miliki menjadi motivasi utama untuk menjadikan mereka lebih kuat keyakinannya, lebih benar keimanannya, dan lebih semangat dalam mengamalkan amal kebaikan. [berdehem] Ya, ini yang tadi kita katakan beberapa kali bahwa jalan ini sudah terbuka bagi kita. ilmu yang kita pelajari juga alhamdulillah yang kita hadiri di majelis ilmu yang di secara online bisa kita dengarkan rekaman-rekaman juga dari para ustaz-ustaz sunah jazakumullahu khairan.

Begitu mudah kita dapatkan pembahasan yang memotivasi tentang keimanan. Cuma kita katakan tadi selalu belajar ya yang sesuai dengan bagaimana metode menuntut ilmu di kalangan salaf. Belajar itu adalah dengan dalil mendengarkan penjelasan Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.

Nukilan dari pernyataan para sahabat atau para ulama salaf radhiallahu taala anhum ajmain. Ini kalau kita sungguh-sungguh lakukan maka kita akan dapati diri kita ya insyaallah dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala akan lebih mudah dibimbing dalam keimanan, lebih dimudahkan untuk menguatkan keyakinan kita.

Setelah itu memudahkan kita untuk lebih bersemangat, berlomba-lomba dalam mengamalkan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena ya ini inilah sebab yang dimiliki dulu oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain yang juga kita miliki saat ini. Ya, cuma tentu saja mereka didukung dengan kebaikan-kebaikan yang Allah mudahkan.

Yang itu pun sekali lagi Allah Subhanahu wa taala tidak menghalangi kita darinya. Ya, bahkan Allah subhanahu wa taala akan memudahkan jika kita sungguh-sungguh untuk mengusahakan hal-hal tersebut. Barakallahu fikum. Tib. Selesai pembahasan dari sebab yang keempat. Dan cukup sampai di sini insyaallah kajian kita di kesempatan pagi hari ini.

Kita akan lanjutkan kembali di pertemuan berikutnya di sebab yang kelima. Insyaallah mudah-mudahan apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan semakin memotivasi kita untuk mengusahakan sebab-sebab yang menguatkan keimanan kita, menyempurnakan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya dan mengimani agamanya.

Ya, ingat inilah jalan kebaikan yang akan menyelamatkan kita sewaktu menghadap Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti. Inilah yang harus kita usahakan dengan sungguh-sungguh karena inilah yang akan bermanfaat untuk menolong kita sewaktu kita mempertanggungjawabkan amal-amal kita di hadapan Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat nanti. Barakallahu fikum.

Bab sebelum kita akhiri kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan ana persilakan. Oh ya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullah. Ustaz, bagaimana cara agar hidayah dan cahaya iman tetap terjaga di tengah keadaan fitnah di negeri kita ini? Iya, fitnah bukan hanya ada di negeri kita di mana-mana ada.

Dan bukan hanya ada di zaman sekarang, tetapi kita ingat Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya kan menjamin selalu ada orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran. Berarti Allah Subhanahu wa taala tentu dia maha tahu. Akan terjadi fitnah di negeri kita, di negeri yang lain. Akan banyak godaan-godaan di akhir zaman. Ya, bersamaan dengan itu Allah menurunkan agama yang sempurna.

Berarti agama yang sempurna ini Allah Subhanahu wa taala jadikan sebagai sebab untuk menangkal fitnah tersebut. Bagaimanapun macamnya fitnah itu dan bagaimanapun dahsyatnya. Jadi berpegang teguh dengan agama, tetap menuntut ilmu tentu dengan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan yang tadi kita sebutkan kita kuatkan pondasi keimanan kita.

Dengan sebab itu Allah Subhanahu wa taala akan menolong kita untuk menghadapi berbagai macam godaan dan fitnah tersebut. Nah, itu jawaban secara umum dan tentu saja rincian pembahasan masalah ini juga sudah kita terangkan di pertemuan-pertemuan yang lalu dan ini termasuk masalah yang berhubungan yang erat kaitannya dengan pembahasan kitab yang sedang kita kaji ini.

Nah, barakallahu fikum. Bagaimana cara menggapai hidayah Allah dan kasih sayangnya sedangkan iman kita naik turun? [berdehem] Iya. Iman kita naik turun itu bukan maksudnya iman itu ya tidak bisa dipertahankan. Ini salah. Maksudnya iman itu bisa naik dan bisa turun. Naiknya karena kita selalu taat kepada Allah.

turunnya karena naudubillah minzalik mau berbuat maksiat. Jadi bukan kita katakan iman itu naik turun berarti ya sudah wajar iman itu naik turun tidak perlu kita pertahankan. Ini salah. Iman itu bisa naik dan bisa turun. Tapi kalau kita selalu berusaha menjaganya, selalu minta pertolongan kepada Allah, selalu mengusahakan kebaikan-kebaikan, ya iman kita akan dijaga.

Kalaupun terjadi orang itu lalai, jangan sampai turunnya parah. Ya. Jadi bukan kita rida dengan keadaan iman kita turun kadang naik. Ya jelas jangan kita rida karena iman turun kita sudah tahu sebabnya. Oleh karena itu ya selalu berdoa kepada Allah, selalu memperbanyak kebaikan-kebaikan ini yang akan bisa menjaga keadaan iman kita untuk selalu istikamah di atas agama Allah Subhanahu wa taala pun kalaupun terjadi kelalaian maka karena seseorang sudah dekat dengan Allah maka Allah tentu akan memudahkan baginya peringatan untuk segera kembali kepada

yang benar. Sebagaimana sebagaimana makna sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih. Taarof ilallahi firharifkaidah. Kenalilah Allah. Dekatkan dirimu kepada Allah dalam keadaan kamu lapang, dalam keadaan belum mendapatkan banyak ujian. Supaya Allah akan menolongmu, mengingatmu, memberikan pertolongan kepadamu ketika kamu dalam keadaan susah, dalam keadaan berat.

Nah, baik. Kemudian tadi ada pertanyaan yang kedua, bagaimana cara bersyukur dengan nikmat Allah? Ya, kalau syukur dalam urusan agama ya tadi kita jadikan ini sebagai sesuatu yang sangat kita pentingkan dalam kehidupan kita, kita utamakan. Karena syukur itu kan kata para ulama seperti penjelasan Imam Ibnu Qayyim, rukunnya ada tiga ya.

Pertama kita mengakui alirofu biha batinan. Mengakui nikmat itu dalam hati kita dan menisbatkannya kepada Allah subhanahu wa taala. Kita akui dan kita nisbatkan nikmat itu kepada Allah subhanahu wa taala di hati kita. Kemudian yang kedua, lisan kita memuji Allah dan mensyukurinya. Memuji Allah subhanahu wa taala atas limpahan nikmat tersebut. menyanjungnya.

Kemudian anggota badan kita ya memanfaatkan atau menggunakan nikmat tersebut di jalan-jalan yang diridai oleh Allah Subhanahu wa taala. Itu cara mensyukuri nikmat dengan tiga rukunnya. Jadi hati kita mengakuinya menisbatkan nikmat kepada Allah. Kemudian lisan kita memuji Allah, menyanjungnya atas limpahan nikmat tersebut dan anggota badan kita selanjutnya memanfaatkan nikmat tersebut di jalan-jalan yang diridai oleh Allah Subhanahu wa taala.

Now h seperti ini ada pertanyaan di luar Lima tentang halal dan haram. Seorang adik mempunyai bisnis seperti apa ini? Vaksin untuk umrah dan haji. Lalu dia kekurangan modal. Lalu kakak iparnya diminta untuk diminta mau enggak simpan modal nanti kalau ada keuntungan KKARnya mendapatkan misal 30%. Setelah berjalannya usaha kurang lagi modalnya lalu Kakak ipar disuruh mencari siapa lagi yang mau simpan modal.

Nanti Kakak iper diberikan [berdehem] misal 30% dan orang yang dicari Kakak ipar itu diberikan 10% dan si kakak ipar tanpa tahu bahwa simpanan modal dapat 30% dari si yang punya usaha di atas. Iya. Diperjelas saja perjanjiannya. Kalau ada orang yang baru seperti ini ya dibuat lagi perjanjian baru ya.

ada kejelasan dari pertama kakak iparnya, kemudian orang yang dipanggil juga diperjelas bagaimana nanti keuntungan ya setelah [berdehem] artinya keuntungan bersihnya di dibagi antara mereka dengan perjanjian yang jelas, maka insyaallah itu tidak mengapa. Selama perjanjiannya jelas dan kemudian semuanya sepakat kemudian tidak ada praktik hal-hal yang diharamkan di dalamnya, insyaallah itu diperbolehkan ya bisnis yang seperti itu.

Nah, barakallahu fikum. [mendengus] Bab. Ada pertanyaan lain? Silakan dari Ikhwan. Iya. Kalau tidak ada pertanyaan lagi kita cukupkan sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin.

Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *