Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqiba Ya ayyuhalladzina amanuttaqulaha waquulu qlan sadida yuslih lakum a’malakum waaghfir lakum dunubakum wamay yuti’illaha wa rasulahu faqad faza fauzan adzima.
Allahumma sholli wasallim wabarik ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du. Alhamdulillah. Maasyiral ikhwa wal akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya. Kita memuji Allah Subhanahu wa taala yang senantiasa memudahkan taufiknya bagi kita semua untuk melakukan amal-amal kebaikan dalam Islam.
Untuk selalu menuntut ilmu agama, untuk kita dimudahkan mengenal keutamaan-keutamaan yang besar dalam Islam. yang dengan sebab itu kita bisa dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa taala untuk bisa mengamalkan dan meraih keutamaan tersebut sesuai dengan petunjuknya dan petunjuk Rasul-Nya sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
Barakallahu fikum. Di kesempatan kajian kita di pagi hari ini, kita ingin kembali mengingatkan tentang ya targib untuk menyambut bulan Ramadan. Motivasi untuk menyambut bulan Ramadan. Karena tentu saja setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, seseorang yang menginginkan kebaikan untuk dirinya, keselamatan untuk dunia dan akhiratnya, pasti merindukan bulan-bulan kebaikan seperti ini.
Karena inilah kesempatan dia mendapatkan limpahan rahmat Allah Subhanahu wa taala. mendapatkan pengampunan darinya, mendapatkan keberuntungan dan menghindarkan dirinya dari kerugian atau keburukan. Kita semua ingat hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam naik mimbar kemudian mengucapkan amin tiga kali.
Ya, hadis ini asalnya terdapat dalam Sahih Muslim. Ternyata Nabi sallallahu alaihi wasallam mengaminkan doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril alaihalam. Tiga doa yang di antaranya Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam menyebutkan ragima anfu abdin ragima anfu abdin adrokahu syahru ramadan adroka syahr ramadan tumman salak minhu walam yugfar lah celakalah seorang hamba yang berjumpa dengan bulan ramadan Kemudian setelah bulan Ramadan berlalu dalam keadaan belum diampuni dosa-dosanya, yakni sekedar pengampunan dosa dia tidak
dapatkan, berarti ini hamba yang benar-benar merugi, yang benar-benar celaka. Naudubillah minzalik. Ya, sampai kata Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala dalam kitab lahaiful Ma’arif, man lam yugfar lahu fi Ramadan falan yugfar lahu f siwahu. Barang siapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadan, maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan yang lain.
yakni karena ini musimnya pengampunan bahkan musim kebaikan-kebaikan besar yang lainnya selain magfirah, magfiratud dzunub, pengampunan dosa. Ketika seorang tidak mendapatkannya di bulan ini maka lebih susah lagi dia akan mendapatkan pengampunan itu di bulan-bulan lainnya. Nah, tentu di sini jemaah sekalian hafidakumullah, kita tidak ingin menjadi orang-orang yang merugi.
Kita ingin menjadi orang-orang yang beruntung dengan kedatangan bulan Ramadan. Inilah kesempatan kita mempraktikkan ilmu kita selama ini. Inilah waktu kita mempraktikkan pelajaran tentang iman. Kemudian pelajaran tentang fikih yang berhubungan dengan ibadah-ibadah di bulan Ramadan agar kita bisa meraih keutamaan yang sebesar-besarnya di sisi Allah Subhanahu wa taala.
Yang kita tahu musim kebaikan seperti ini hanya ya berlangsung. Mungkin kita alami tahun ini belum tentu kita akan berjumpa dengannya di tahun-tahun berikutnya. Dan kita juga tahu bahwa dulunya para ulama salaf, orang-orang yang saleh berdoa kepada Allah subhanahu wa taala jauh-jauh hari sebelum kedatangan bulan Ramadan agar Allah subhanahu wa taala mempertemukan mempertemukan mereka dengan bulan yang penuh dengan kemuliaan ini.
Jadi, ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah, siapapun yang menginginkan kebaikan, yang ingin mempraktikkan ilmunya, yang ingin melihat bukti benarnya imannya, yang ingin benar-benar melihat bahwa ilmu yang dipelajarinya selama ini adalah ilmu yang bermanfaat, maka bukti semua itu akan terlihat bagaimana kita menyambut bulan yang penuh dengan keberkahan.
ini bagaimana kita mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah di musim kebaikan yang paling besar dalam Islam ini. Jadi kita tahu bulan Ramadan ya adalah di antara makhluk Allah Subhanahu wa taala yang Allah lebihkan dibandingkan yang lain. Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an. Azubillahiminasyaitanirrajim.
Warabbuka yakluqu ma yasyau wa yakhtar maana lahumul khiarah. Dan Rabbmu Allah Subhanahu wa taala menciptakan apa saja yang dikehendakinya dan memilih yakni mengistimewakan di antara makhluknya. satu dibandingkan yang lain. Di antara manusia Allah memilih para nabi dan para rasul alaihiusalatu wasalam mengistimewakan mereka dibandingkan yang lain.
Kemudian bahkan di antara para nabi dan rasul alaihiusalatu wasalam Allah memilih para rasul yang disebut dengan ulul azmi minar rasul. Ya. Kemudian Allah memilih di antara ulul azmi dua nabi yang mulia yang mereka adalah Khalilullah. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Innallaha qadakani khilan kamakza Ibrahima khalilan.
” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala telah memilihku menjadi khalilnya, kekasih terdekatnya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa taala memilih Nabi Ibrahim sebagai khalilnya, kekasih terdekatnya. Kemudian di antara dua nabi ini Allah Subhanahu wa taala memilih nabi kita yang mulia Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai nabi yang terbaik.
Kemudian untuk tempat Allah Subhanahu wa taala memilih dua tanah suci haramain Makkah dan Madinah dengan keutamaannya, keistimewaannya dibanding tempat-tempat yang lain. Kemudian di antara waktu, di antara musim-musim kebaikan Allah subhanahu wa taala memilih bulan Ramadan apalagi 10 10 hari terakhir bulan Ramadan.
dibandingkan waktu-waktu yang lain lebih afdal dan lebih utama. Ya, memang ada perselisihan di kalangan para ulama antara 10 hari awal bulan Zulhijah. Karena ada dalil yang tegas menyebutkan keutamaan musim kebaikan ini. Mana yang lebih utama antara 10 hari awal bulan Zulhijah atau 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Itu yang dimaksud dengan sumpah Allah Subhanahu wa taala dalam firmannya di surat Alfajr. Wal fajri wayalin asr. Demi waktu fajar dan demi malam-malam yang 10. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam menegaskan di dalam hadis riwayat Imam Bukhari yang sahih. Ma min ayyamin al amalus shihu fiha ahabbu ilallahi min hadil ayyam. yakni alayyamul asr.
Alayyamal asr. Tidak ada hari-hari atau musim kebaikan yang ketika itu amal kebaikan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa taala melebihi 10 hari awal bulan Zulhijah. Ini yang menjadikan perselisihan di kalangan para ulama. Mana yang lebih utama antara dua musim kebaikan tadi. Cuman yang jelas ya di dalam dua musim kebaikan ini terdapat amal-amal ibadah yang agung.
Kita tahu 10 hari awal bulan Zulhijah di situ terdapat pengamalan ibadah haji yang merupakan salah satu rukun Islam. Kemudian ada salat Idul Adha di 10 di tanggal 10-nya ya. Sebelumnya ada amal-amal besar di situ. Demikian pula 10 hari terakhir bulan Ramadan. Setelah itu dirangkaikan dengan salat Idul Fitri.
Sebelumnya ada amal-amal yang besar di situ. Yang jelas di sini, ikhwan dan akhwat fiddin hafidakumullah, Allah Subhanahu wa taala menjadikan musim kebaikan ini dipilih dan diistimewa diistimewakannya dibandingkan musim-musim yang lain adalah sebagai wujud rahmat Allah bagi kita semua. Agar ketika kita berjumpa dengan musim ini, kita mendapatkan kesempatan untuk meraih semua karunia Allah Subhanahu wa taala yang diturunkan secara berlimpah di musim ini melebihi dari musim-musim yang lainnya.
Makanya pantas kalau kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Pantas kita tahu semua kenapa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada umatnya tentang kedatangan bulan Ramadan. Sebagaimana dalam hadis yang kita kenal riwayat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu yang dikeluarkan di dalam Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya dinyatakan sahih oleh Syekh Al Albani rahimahullahu taala.
Abu Hurairah radhiallahu taala anhu berkata, qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, “Yubasyiru ashabahu qod jaakum syahru ramadan wahua syahrun mubarok.” Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, yakni kepada umatnya.” Tentu saja maksudnya qod jaakum syahru Ramadan.
Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadan atau akan datang kepada kalian bulan Ramadan yang mana bulan ini penuh dengan keberkahan, penuh dengan kebaikan yang berlimpah. Apalagi yang dinantikan oleh seorang hamba dalam kehidupannya di dunia kalau bukan mencari sebab-sebab turunnya rahmat Allah, sebab-sebab al-ihsan, kebaikan dari Allah Subhanahu wa taala, pengampunannya.
Apalagi amal-amal yang dilipat gandakan keutamaannya dan taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk dimudahkan mendapatkan keridaannya, meraih surg-Nya dan penjagaan dari api neraka yang itu semua ada di dalam bulan Ramadan yang itu semua kebaikan-kebaikan yang Allah keberkahan-keberkahan yang Allah jadikan di bulan ini.
Jadi ini semua adalah wujud dari rahmat Allah Subhanahu wa taala yang Allah limpahkan kepada manusia. Ikhwan dan akhwat fiddin rahimakumullah. Kita tahu banyak di antara hamba-hamba Allah yang menginginkan kebaikan yang tentu merindukan menjadi orang yang saleh. Akan tetapi karena kelemahan imannya atau kurangnya ilmunya atau banyaknya fitnah yang dihadapinya sehingga mungkin pertumbuhan imannya lambat.
meskipun dia sudah berusaha, maka Allah subhanahu wa taala menjadikan musim-musim kebaikan yang terbaik seperti ini sebagai kesempatan untuk kita bisa meraih karunia yang kita dambakan tersebut atau yang didambahkan oleh setiap orang yang menginginkan kebaikan ini untuk ya mempercepat pertumbuhan imannya, menyempurnakan kekurangan-kekurangan dirinya.
Ini di antara maksud Allah Subhanahu wa taala mensyariatkan musim-musim kebaikan yang terbaik seperti ini. Oleh karena itu, mungkin juga sudah pernah antum dengarkan dan pernah juga kita nukilkan ya kabar gembira yang dimaksud oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini yang disebutkan oleh Abu Hurairah tadi kan kabar gembira bagi semua.
orang yang ada kebaikan pada dirinya. Bukan hanya kabar gembira bagi orang-orang yang imannya sudah sempurna, yang sudah semangat dan rajin berlomba-lomba dalam kebaikan. Ya, pastinya antum semua apalagi kita bahas kemarin pembahasan kajian kita kitab Taih wal Bayan Lisyajar Iman. penjelasan tentang pohon iman ya.
Tulisan As Syekh Abdurrahman Ass’di rahimahullahu taala kan kita bahas ciri-ciri iman yang benar ya. Termasuk di antaranya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, bersegera dalam melakukan amal ketaatan kepada Allah. Pasti kita berpikir bagaimana caranya kita meraih keutamaan ini. Bagaimana caranya agar bisa tumbuh semangat mengerjakan kebaikan dalam diri kita.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih tentang sifat-sifat hamba yang imannya benar ini ya yang tentu kita inginkan dalam hidup kita bisa mendapatkan keutamaan tersebut. Maka di antara hikmah Allah Subhanahu wa taala mensyariatkan musim kebaikan seperti bulan Ramadan adalah kesempatan kita untuk meminta kepada Allah, berdoa kepada Allah, kemudian mengamalkan ibadah-ibadah ketaatan yang benar sesuai dengan petunjuknya dan petunjuk Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam untuk bisa mendapatkan balasan
kemudahan meraih taufik dari Allah subhanahu wa taala untuk mencapai keutamaan tersebut. Ya. Sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah taala waktu menjelaskan makna kabar gembira ini. Beliau rahimahullah taala mengatakan, “Kaifa la yubasyarul mukmin bifathi abwabil jinan. Waaifa la yubasyarul mudnib biiglaqi abwabin abwabinir waaifa yubasyarul aqil bitasfidayatin? Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira mendengarkan kabar pintu-pintu surga yang dibuka? Apalagi yang dicari oleh orang yang
beriman dalam kehidupannya di dunia dalam upaya mereka meningkatkan iman. Berusaha untuk bersemangat mengamalkan amal-amal kebaikan. Kalau bukan mencari keridaan Allah yang dengan sebab itu dia meraih surga yang luasnya seperti langit dan bumi yang kenikmatannya kekal abadi. Jadi bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira mendengarkan berita ini karena kesempatan bagi dirinya untuk mencatatkan dirinya memohon taufik dari Allah Subhanahu wa taala memohon hidayahnya agar dimudahkan masuk ke dalam surganya.
Yang kedua, bagaimana mungkin orang yang berdosa tidak gembira? Orang yang banyak berbuat dosa, yang mengetahui dirinya banyak kekurangan dan kelemahan, ternyata dia juga tidak luput dari kegembiraan atau kabar gembira yang ada di bulan Ramadan. Karena mendengarkan berita di bulan ini pintu-pintu neraka ditutup.
berarti kesempatan bagi dirinya untuk meraih pengampunan Allah, mengambil sebab yang akan menghalangi dia dari azab neraka. Ingat hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sahih, salah satu keutamaan Ramadan. Walillahi utaq minanari walika fi kulli lailah. Dan Allah subhanahu wa taala akan mengambil orang-orang yang akan dimerdekakannya dari api neraka selama bulan Ramadan.
Dan itu berlaku di setiap malam bulan Ramadan. Pengampunan dosa ya, pembebasan dari api neraka. Bagaimana mungkin orang-orang yang tahu dirinya penuh dengan dosa, penuh dengan kelemahan, banyak kekurangan dalam ibadahnya, tidak gembira mendengarkan kabar gembira ini, menjadikan dia bersemangat, menjadikan sebab untuk membersihkan dirinya yang dengan sebab itu kemudian dia akan semakin bersungguh-sungguh dalam mengamalkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala.
Bahkan kata beliau terakhir, waaifa la yubasyarul aqil. Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira mendengarkan berita setan dibelenggu? ya yang selama ini setan dan hawa nafsunya yang merupakan sebab utama yang menjerumuskan manusia, menggoda manusia untuk lalai dari mengingat Allah subhanahu wa taala yang menjadikan manusia selalu terjerumus dalam perbuatan-perbuatan buruk.
Ternyata selama bulan Ramadan Allah Subhanahu wa taala jadikan tipu daya setan ini lemah. kesempatan bagi hamba untuk memperbaiki dirinya, untuk menguatkan keimanannya, membiasakan dirinya menghadapi tipu daya setan. Maka ini wujud kegembiraan yang menjadikan orang-orang yang beriman yang ingin selalu melatih dirinya menjadi hamba yang taat kepada Allah, hamba-hamba yang bertakwa.
Ya, sebab-sebab seperti ini yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan pada ibadah-ibadah yang Allah syariatkan di musim kebaikan yang paling utama ini. Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah, ya memang menyambut bulan Ramadan pasti akan selalu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala dan hari akhir.
Apalagi ketika mengingat keutamaan yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang berhubungan dengan bulan Ramadan. Ini [tertawa] hadis yang kita kenal yang selalu dibawakan di bulan Ramadan ya. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim juga dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu taala anhu ya bahwa Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam bersabda, “Kullu amal ibni adam lahu al hashanatu biasri amsaliha ila sab miatifin Qala azza waall illam fainnahu li wa ana ajzi bihi
yada thaamahu wa syahwatahu min ajli innahu taraka syahwatahu wa thaamahuahu min ajli. Ini hadis yang cukup terkenal, sering dibawakan ketika bulan Ramadan atau hal-hal yang berhubungan dengan targib Ramadan. Ya, dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Semua amal yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya.
Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kemudian menyebutkan Allah subhanahu wa taala berfirman, “Illam kecuali puasa. Ini menunjukkan ada keistimewaan puasa. Kenapa dikecualikan dibandingkan amal-amal yang lain? Padahal puasa kan juga termasuk amal.
I kecuali puasa karena puasa itu adalah milikku untukku kata Allah. Dan aku sendiri yang akan membalasnya. Hambaku ini meninggalkan syahwatnya, makannya, minum, minumnya karena aku. Antum perhatikan keistimewaan ini. Berarti Allah Subhanahu wa taala mengkhususkan puasa ini dengan keistimewaan yang tidak ada pada ibadah yang lainnya.
sampai sampai kata sebagian dari para ulama ya, ada ibadah-ibadah lain yang hamba itu meninggalkan beberapa hal yang tadinya Allah halalkan tapi tidak semua terkumpul seperti yang terkumpul pada puasa. Contoh seperti orang berihram, haji atau umrah kan dia tidak boleh ya berhubungan suami istri yang tadinya halal atau hal-hal yang membawa ke arah itu tidak boleh dia lakukan tapi tetap boleh makan dan minum.
Atau misalnya orang yang melaksanakan salat tidak boleh melakukan hal-hal itu tapi waktunya terbatas. Adapun puasa, masyaallah dari terbit fajar sampai terbenam matahari ini tidak didapatkan. Dan Allah sebutkan puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Kita perhatikan ada penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu taala dalam kitab Lathaiful Ma’arif.
Sehubungan dengan masalah pengecualian yang disebutkan di dalam hadis ini apa maknanya dan kembalinya kepada penjelasan yang mana dalam hadis ini. Karena dalam beberapa riwayat disebutkan dengan lafaz yang sedikit berbeda yang semuanya sahih. Misalnya ada riwayat yang menyebutkan seperti ini, kullu amal ibni adam lahu illam fainnahu li dengan lafaz yang lebih ringkas, semua amal yang dilakukan oleh manusia itu adalah untuknya kecuali puasa.
Puasa itu untukku. Jadi masalah melipat gandakan tadi tidak disebutkan dalam riwayat ini. Tib. Kemudian ada disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari, likulli amalin kafaratun wasumuli wa ana ajzi bihi. Setiap amalan itu ada kafarahnya dan puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Kita perhatikan di sini ada redaksi yang sedikit berbeda dari hadis-hadis ini yang dari sinilah para ulama menjelaskan tentang makna pengecualian yang dimaksudkan dalam hadis ini.
Kenapa puasa diistimewakan dibandingkan ibadah-ibadah yang lain? Kita lihat kata Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala faal riwayatil ula untuk riwayat yang pertama yang tadi kita bacakan pertama kali riwayat Bukhari dan Muslim tadi dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu. bias amalihainamuamaahu lahasiruifu fial adadal yudifullahuatan Untuk riwayat yang pertama bahwa puasa itu dikecualikan
dari amal-amal dari semua amal-amal yang lain yang dilipat gandakan. Ya, ini kan asalnya semua amal amalan saleh itu dilipat gandakan ya menjadi 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Kenapa dikecualikan puasa? Untuk riwayat yang pertama ini berarti puasa itu dikecualikan dari amalamal yang semuanya dilipat gandakan tadi.
Maka kalau semua amal-amal lain itu dilipat gandakan sampai 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat kecuali puasa dia dilipat gandakan tanpa ada batasan. Untuk perhatikan riwayat ini ya. Karena setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan alhasanatu biasri amalifin satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat.
Kemudian kecuali puasa. Berarti pengecualiannya berhubungan dengan apa? pelipatgandaan tadi. Kalau amal-amal lain dilipat gandakan sampai 700 kali lipat, puasa keistimewaannya lebih daripada itu. Masyaallah dilipat gandakan lebih dari 700 kali lipat. Dilipat gandakan dia tanpa ada batasan. Kenapa? Alasannya atau dalilnya? Kata Imam Ibnu Rajab, “Fainnasiama minasobri.
” Karena puasa itu merupakan bagian dari kesabaran. Ya, dalam sebagian riwayat itu bulan Ramadan dalam sebagian riwayat yang sahih disebutkan dengan istilah ayyamus shabr. Bulan Ramadan disebutkan dengan hari-hari kesabaran. Coba antum perhatikan sifat sabar kan disebutkan di dalam Al-Qur’an keutamaannya ya di surat Azzumar ayat ke-10.
Innama yuwaffasobiruna ajrahum bighiri hisab. Hanyalah orang-orang yang bersabar itu disempurnakan balasan pahala mereka tanpa batasan. Tanpa ada batasan. Dan puasa termasuk sabar. Kenapa? Di dalam puasa itu terkumpul semua jenis kesabaran yang diperintahkan dalam syariat. Bersabar menjalankan perintah Allah. Jelas kita diperintahkan berpuasa, kita diperintahkan tetap melaksanakan salat, melaksanakan ibadah yang lain.
Kemudian bersabar meninggalkan larangan-larangannya. Ini jelas. Bukan cuma yang dilarang saja asalnya. Iya kan? Bahkan sesuatu yang tadinya diperbolehkan halal, tapi karena dalam rangka taat kepada Allah kita tinggalkan. Seperti makan, minum, dan syahwat. Yakni hubungan intim suami istri yang tadinya halal terdapat dalam puasa secara sempurna.
Yang ketiga, bersabar dalam menghadapi ketentuan Allah yang tidak yang kita anggap ya musibah bagi kita, tidak menyenangkan bagi kita. Seperti kita menghadapi rasa lapar, kadang-kadang pusing, haus, kering, tenggorokan, dan seterusnya. Tapi kita berusaha bersabar menghadapinya. Maka dari sisi inilah yang menjadikan puasa itu terkumpul padanya semua jenis kesabaran yang disyariatkan dalam Islam.
Makanya Allah Subhanahu wa taala mengecualikan puasa dengan keistimewaan ini. Keistimewaan seperti yang Allah sebutkan di dalam ayat tadi tentang keutamaan sabar. Yaitu pahalanya disempurnakan tanpa batasan melebihi 700 kali lipat. Tentu ini juga ya nanti tergantung dari keimanan dan pengamalan puasa yang sesuai dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang dipraktikkan oleh seorang hamba.
Nah, jadi ini makna pengecualian dari riwayat yang pertama. pengecualiannya berhubungan dengan dilipat gandakan amal kebaikan dan keutamaan. Jadi antum perhatikan tentu ini motivasi motivasi besar bagi kita mendapatkan pahala dan keutamaan yang besar seperti ini. Masyaallah ya jarang-jarang kita lalui dalam hidup kita.
Itu sebabnya kita berusaha benar-benar mempraktikkan makna keimanan yang benar yang telah kita pelajari dalam kajian-kajian tauhid kita. Apalagi kajian kita yang berhubungan dengan masalah menumbuhkan pohon iman di hati kajian rutin kita. Kemudian kita mempraktikkan fikih Ramadan yang diajarkan oleh para ustaz-ustaz kita ya, jazahumullahu khairan.
Agar kita bisa meraih keutamaan yang disebutkan di dalam hadis ini berdasarkan penjelasan berhubungan dengan pengecualian yang disebutkan dalam riwayat ini. Tib. Kemudian yang kedua, istisna atau pengecualian untuk riwayat yang kedua kata Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala, wa amma al riwayataniyah. Adapun untuk riwayat yang kedua, fastisnausami min bainil a’mali yarjiu illa anna sairol a’mali lil ibadi wasiamu iktahullahu linafsihi min baini amali ibadihi waofahu ilai
Adapun makna yang kedua, maka dikecualikannya, dikecualikannya puasa dibandingkan amal-amal yang lain itu kembali kepada makna semua amal-amal itu. adalah untuk hamba. Adapun puasa Allah Subhanahu wa taala khususkan bagi dirinya di antara semua amal-amal yang dikerjakan oleh hamba dan Allah nisbatkan amal itu kepada dirinya.
Ya, seperti yang tadi kita sebutkan ketika disebutkan di dalam hadis yadau thaamahu yadau syahwatahu wa thaamahu waarobahu min ajli. Hamba ini meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya karena aku. Ini yang tadi kita jelaskan bahwa keistimewaan ini tidak terdapat di dalam ibadah-ibadah yang lain seperti yang terkumpul secara sempurna di dalam ibadah puasa.
Jadi, ini juga menunjukkan keutamaan amalan ini ya. Karena Allah Subhanahu wa taala khususkan dan nisbatkan kepada dirinya. Fainnahu li wa ana ajzi bihi. Amal ibadah puasa ini adalah untukku milikku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Tib. Kemudian riwayat yang ketiga yang berhubungan dengan istisna pengecualian dalam riwayat yang ketiga.
Kata Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala, amma alar riwayat thasah. Ini juga menunjukkan keutamaan yang besar puasa, ya. Adapun untuk riwayat yang ketiga karena tadi ada hubungannya dengan lafaznya menunjukkan kafarah. Ya, kita lihat disebutkan di sini riwayat yang ketiga dalam Sahih Bukhari tadi.
Likulli amalin kafaratun wasumuli wa ana ajzi bihi. Setiap amal itu bisa menjadi kafarah, tapi puasa itu adalah milikku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Ini berarti berhubungan dengan amal itu bisa menjadi kafarah, bisa menjadi gugur ketika seseorang ternyata ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala ada dosa kezaliman yang di lakukan semasa hidupnya.
Maka kita ingatkan hadis orang yang muflis, yang bangkrut ya, yang dia bagi-bagikan amalnya karena ada orang-orang yang dia pernah zalimi di dunia belum ditunaikannya sewaktu di dunia. Ini hubungannya sama masalah kafarah ini. Kata Imam Ibnu Rajab rahimahullahu taala untuk riwayat yang ketiga ini, falistisnau yaudu ila takfiri takfiri bilal.
Pengecualian di sini kembali kepada makna penebusan dosa dengan amal, yaitu ya kata beliau, wamin ahsani maqila fial fi makna dalalika maqahu Sufyan ibn Uyainah rahimahullahu taala. Dan termasuk yang paling baik yang menjelaskan tentang makna ini adalah pernyataan yang disebutkan oleh Imam Imam Ibnu Uyainah.
Ibnu Uyinah Almakki Al-Hilali seorang imam dari kalangan tabiut tabiin penduduk Makkah ya yang tentu sangat terpercaya dalam masalah riwayat hadis yang sangat kuat hafalannya dan seorang ulama yang selalu menjadi rujukan dalam ucapannya rahimahullahu taala. Beliau berkata, “Hadza min ajwadil ahadisi wa wa ajalliha.” Hadis ini adalah termasuk hadis yang paling baik dan paling agung.
yaumulqiamati yuhasibullahu ibadahu yuhasibullahu abdahu ma alaihi miniri amalihi hatta la yabq illa fayatahammalahu fayatahammalullahu maqi alaihi minal madalimi waudiluhuil jannata Kata beliau ya ketika menjelaskan maknanya ketika nanti pada hari kiamat Allah Subhanahu wa taala menghisab hamb-Nya, dihisab amal-amalnya.
Kemudian setelah itu Allah Subhanahu wa taala menunaikan menyelesaikan kezaliman-kezaliman yang pernah dilakukan oleh hamba ini. Ya kan? Kita ingat hadis riwayat Imam Muslim tadi tentang orang-orang yang muflis. Orang-orang yang bangkrut. Atadrunal muflis. Apakah kalian mengetahui siapakah orang yang bangkrut itu? Kata para sahabat, “Ya Rasulullah, almuflisu fina man la dirhama lahu w mata.
” Orang yang tidak punya harta, benda ya, tidak punya uang, yakni bangkrut. Dagangannya pun bangkrut. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, “Almuflisu min umati yaumalqiamati walahul hasanatu amsalul jibal.” Orang yang bangkrut di kalangan umatku itu adalah yang datang pada hari kiamat membawa kebaikan-kebaikan sebesar gunung. Sebesar gunung-gunung.
Dalam riwayat lain dia membawa pahala salat, pahala puasa, pahala dia membawa pahala salat dan amal-amal kebaikan yang lain. Tapi watati waqatama waq wa ak maza. Dia datang dalam keadaan pernah menzalimi orang lain, pernah menuduh orang ini, pernah memfitnah orang ini, pernah mengambil harta orang ini, belum diselesaikannya sewaktu di dunia.
Akhirnya apa? min hasanatihi w min hasanati. Dibagi-bagi kebaikan-kebaikannya. Iya kan? Kemudian setelah habis kebaikannya masih ada kezalimannya maka dosa orang tersebut yang pernah dizaliminnya dilemparkan kepada dirinya. Turiha alaihiri finar. Ya. Setelah itu dia dilemparkan ke dalam neraka. Naudubillah minzalik.
Kata beliau di sini ketika Allah Subhanahu wa taala menghisab hamb-Nya pada hari kiamat nanti kemudian menunaikan ya hak-hak atau hal-hal yang menjadi kezaliman yang dilakukannya sewaktu di dunia. Allah tunaikan itu dengan semua amal-amal yang lain selain puasa. Dengan amal-amal lain dibereskan semua itu kezalimannya dikembalikan semua kepada orang-orang yang pernah dizaliminya sehingga tidak tersisa lagi kecuali puasa.
Kecuali pahala puasa. Maka Allah Subhanahu wa taala kemudian akan menanggung semua ya yang tersisa dari kezaliman-kezaliman hamba tersebut. Jadi ketika tidak ada lagi amalnya tinggal puasa, Allah tidak menjadikan puasa sebagai penebus kezaliman itu. Tapi Allah Subhanahu wa taala yang akan menanggungnya sendiri, menyelesaikannya.
kezaliman-kezaliman yang tersisa itu setelah itu Allah akan masukkannya ke dalam surga dengan puasa dengan pahala puasa. Jadi maksudnya di sini beliau mengatakan pengecualian ini bahwa puasa itu amal kebaikan atau pahalanya tidak bisa dijadikan sebagai penebus dosa-dosa kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba di dunia.
Karena Allah Subhanahu wa taala sendiri yang akan membalas pahala puasa itu. Kemudian dengan sebab puasa ini Allah masukkan hamba ini ke dalam surga. Masyaallah. Ini keutamaan yang sangat luar biasa ya dari penjelasan yang disampaikan oleh Imam Sufyan Ibnu Uyainah rahimahullahu taala. Jadi ini semua menunjukkan kepada kita besarnya keutamaan ibadah puasa.
Ya, tentu ini berlaku ibadah-ibadah yang lain juga. Tapi keistimewaan ini sudah kita sebutkan tadi. Kenapa Allah Subhanahu wa taala mengistimewakan puasa? Ternyata ada tiga makna yang terkandung di dalamnya seperti penjelasan yang tadi kita sebutkan. Oleh karena itu, jemaah sekalian rahimakumullah, inilah ya keutamaan yang didambahkan oleh orang-orang yang beriman karena ini berhubungan dengan keselamatan di akhirat nanti.
Ya tentu juga ini bukan berarti kita meremehkan perbuatan zalim yang kita lakukan di dunia. Kita harus segera selesaikan. Tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin menjadi orang yang bangkrut pada hari kiamat pastinya. Ah, selesaikan semua. minta maaf, kembalikan barang yang pernah kita ambil tanpa hak, kemudian minta untuk dihalalkan dan seterusnya.
Karena tentu amal-amal tadi ya tidak ada seorang pun yang menginginkan amal-amal seperti gunung yang dibawanya kemudian habis semua hanya karena menyelesaikan masalah-masalah kezaliman yang pernah dilakukannya terhadap orang lain. Nauzubillah minzalik. Ya, kita tentu menginginkan amal-amal tadi menjadi sebab tingginya derajat kita di surga.
Karena amal-amal itu kan kalau orang sudah masuk surga pun dia akan menjadi sebab amal-amal itu untuk meninggikan derajatnya di surga. Dan ini pastinya di diharapkan oleh oleh setiap hamba yang beriman kepada Allah subhanahu wa taala dan hari akhir. Yang jelas puasa demikian besar keutamaannya ya.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam sebuah hadis yang sahih, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah. juga Imam Ibnu Hibban dinyatakan sahih oleh Imam Ibnu Hibban juga oleh Syekh Albani rahimahullahu taala kisah tentang dua orang yang dikatakan dari penduduk Yaman dalam sebagian riwayat datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam annarjulani annarjulaini qodima ilan Nabi sallallahu alaihi wasallam datang menemui Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk belajar Islam masuk Islam fakana Islam Kemudian keduanya masuk Islam ketika
itu. Ini hadis diriwayatkan oleh sahabat Thalhah Ibnu Ubaidillah radhiallahu taala anhu. Disebutkan dalam riwayat ini ya. Kemudian ternyata salah satu di antara keduanya aksaru ijtihadaan min shahibihi lebih rajin beribadah dibandingkan temannya. Sampai kemudian mereka berdua bagus keislamannya jelas sama-sama baik.
Cuma yang satu lebih rajin lagi, lebih semangat. Kemudian yang lebih semangat ini akhirnya ikut berjihad di jalan Allah dan gugur sebagai syahid. Sementara temannya yang satu masih diberi kesempatan oleh Allah hidup selama setahun. Setelah itu dia wafat. Kata Thalhah radhiallahu taala anhu, “Faroitu fil manami.” Faroitu fil manami.
Maka aku melihat dalam mimpiku fima yar naim. Ya, seperti yang dilihat oleh orang yang sedang bermimpi. Aku melihat dalam mimpiku, kata Thalha radhiallahu taala anhu, seolah-olah aku berada di depan pintu surga dan aku melihat dua orang ini, dua orang sahabat ini radhiallahu taala anhuma. Ya, ketika aku melihat keduanya, tiba-tiba ada yang keluar dari surga, dari pintu surga mempersilakan yang masuk duluan yang tadi meninggal terakhir, bukan yang lebih semangat beribadah dipersilakan masuk di luar.
Setelah itu orang tadi keluar dari pintu surga tadi mempersilakan yang mati syahid tadi untuk masuk surga. Lalu dia datang lagi kembali kepadaku dan mengatakan, “Kembalilah kamu, belum tiba waktunya kamu.” Sampai kemudian dia terbangun. Besoknya Thalha radhiallahu taala anhu, Thalhah Ibnu Ubaidillah radhiallahu taala anhu menceritakan kepada para sahabat, karena ini mimpi yang baik tentu saja menceritakan tentang keadaan tersebut dan semua mereka merasa heran.
Akhirnya sampai berita ini kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lalu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda di depan para sahabatnya, “Ya, dari sisi mana yang kalian merasakan heran?” Yakni mimpi thha ini bagian mana yang kalian merasakan heran padanya? Maka tentu mereka menceritakan, “Ya Rasulullah, h kan asyadtihadan minhibihi.
” Orang yang pertama ini yang mati syahid jelas lebih sungguh-sungguh dia beribadah. Bahkan dia berjihad dan terbunuh di jalan Allah. Tapi orang yang tadi kenapa dia justru pertama kali masuk surga? Lebih dahulu masuk surga dibandingkan temannya ini berdasarkan mimpi tadi kan yang pertama kali dipersilakan yang meninggal setahun kemudian.
Iya kan? Dibandingkan yang mati syahid. Kenapa bukan yang mati syahid duluan yang dipersilakan? Maka ketika itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Alaisa hadza qod asya ba’dahu bisana.” Bukankah orang ini, orang yang kedua tadi ini hidup setelah temannya yang terbunuh itu setahun lagi? Bala ya Rasulullah. Betul wahai Rasulullah.
Alaisa qod adrak syahro Ramadan wasomahu. Bukankah dia telah menjumpai bulan Ramadan dan berpuasa di dalamnya? telah melaksanakan amal-amal kebaikan berjumpa dengan bulan Ramadan. Kata para sahabat, “Bala ya Rasulullah.” Kemudian dia juga telah melaksanakan salat dalam setahun sekian rakaat, seekian rakaat.
Mereka menjawab, “Bala ya Rasulullah.” Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, fa ya ini kata beliau sallallahu alaihi wasallam, “Fama bainahuma falama bainahuma ab’adu mimma bainasamaai wal ard.” Sungguh tingkatan di antara keduanya di surga itu lebih jauh dibanding melebihi perbedaan antara langit dan bumi. Syahidnya dalam hadis ini apa? Seorang yang lebih semangat beribadah, berjihad di jalan Allah, tentu besar keutamaannya.
Tapi ketika temannya ini mendapatkan kesempatan setahun lagi bertemu dengan bulan Ramadan dan dia bisa melaksanakan salat dalam tahun itu, ternyata dengan keutamaan ini dia bisa meraih kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan temannya sampai disebutkan lebih tinggi dibandingkan perbedaan antara langit dan antara langit dan bumi.
Yah, ini menunjukkan ibadah puasa di bulan Ramadan dan ibadah-ibadah yang lain bisa meninggikan derajat seseorang bahkan melebihi sahabat yang disebutkan tadi lebih rajin kemudian ikut berjihad di jalan Allah dan mati syahid di jalan Allah subhanahu wa taala. Maka ini semua adalah gambaran tentang keutamaan ibadah puasa ya yang sebentar lagi kita akan bertemu dengannya insyaallah dan tentu kita berdoa kepada Allah subhanahu wa taala mengikuti kebiasaan orang-orang yang saleh agar diperjumpakan dengan bulan Ramadan dalam keadaan hati kita
dipenuhi dengan keimanan dan semangat untuk meraih keutamaan dan kemuliaan di bulan yang penuh dengan berkah ini dengan selalu memohon taufik dari Allah Subhanahu wa taala. agar dimudahkan untuk mempraktikkan ilmu yang kita pelajari selama ini. Mempraktikkan nilai-nilai keimanan dan ibadah yang benar sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan petunjuk rasulnya sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
Barakallahu fikum jemaah sekalian hafidakumullah. Ya, itulah nasihat yang bisa kami sampaikan di kesempatan pagi hari ini. Sehubungan dengan targib ya, motivasi untuk menyambut bulan Ramadan antara orang-orang yang beruntung dan orang-orang yang merugi. Semoga Allah subhanahu wa taala menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu mendapatkan keberuntungan dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa taala.
Meraih keberkahan dan karunianya utamanya di bulan Ramadan yang semoga Allah subhanahu wa taala mudahkan kita berjumpa dengannya dan setelah itu kita meraih keberuntungan dan terhindar dari segala bentuk kerugian. Barakallahu fikum. Semoga bermanfaat ya. Dan sebelum kita akhiri, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan ya, maka saya persilakan dari akhwat bisa ditulis dengan tulisan.
Adapun ikhwan bisa menyampaikan secara langsung. Barakallahu fikum. Shallallahu wasallam. Wabarak ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Cukup. Ustaz. Asalamualaikum. Waalaikumsalam. Ustaz, mohon penjelasan istilah dinaikkan derajatnya. Apakah derajat itu apakah derajat itu yang dimaksud derajat di dunia atau di akhirat? Mau disebutkan derajat di dunia atau di akhirat, maksudnya sama saja kalau itu adalah derajat di sisi Allah.
Ya, tentu maksudnya derajat di sini adalah derajat yang berhubungan dengan kedudukan di sisi Allah. Karena perkara-perkara yang berhubungan dengan urusan dunia yang berhubungan dengan kebaikan yang kita lakukan dalam urusan dunia kan seperti itulah nanti derajat yang diraih seorang hamba di akhirat.
Jadi tidak ada masalah. Yang penting kita artikan derajat di sini adalah kedudukan di sisi Allah. Ya, kita ingat hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan tentang seorang yang mendapatkan kedudukan, dinaikkan derajatnya di akhirat nanti di surga. Kan kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, pembaca untuk seorang yang membaca Al-Qur’an dan memahami isinya.
Iqra warattil. Ya, bacalah dan tartillah. Sesungguhnya kedudukanmu di surga, tingkatanmu sesuai dengan sampai di akhir bacaan yang kamu baca di dunia. Jadi sama saja mau diartikan derajat di dunia atau di akhirat yang penting maksudnya adalah kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala yang berhubungan dengan kedudukan agama tentu bukan yang berhubungan dengan kedudukan dalam urusan dunia.
Nah, izin bertanya, Ustaz. Bagaimana cara menjaga keikhlasan dalam beramal? saleh apa ini di dalam apa ini dan khusyuk dalam beribadah. Iya ini termasuk pembahasan yang sudah sering kita jelaskan di dalam kajian rutin kita bahwa ikhlas dan khusyuk itu kan buah dari iman. Sudah pernah kita bacakan dan jelaskan selalu iman itu diperumpamakan dalam Al-Qur’an di surat Ibrahim kan seperti pohon ya.
Di ayat ini ketika pohon tersebut akarnya menancap kuat ke dalam tanah kemudian cabang-cabangnya menjulang ke langit Allah berfirman, “Tuti ukulaha kullainin bidha.” Pohon itu akan mengeluarkan buah-buah yang indah dan manis setiap saat dengan izin Allah. Maka berbicara tentang ikhlas, tentang khusyuk, cinta kepada Allah, takut, berharap, berlomba-lomba dalam kebaikan, semua ini adalah membicarakan pohon iman.
Tidak mungkin buah itu akan keluar kalau pertumbuhan pohonnya tidak benar. Jadi, ini bukan perkara yang bisa diusahakan dengan apa itu instan. Langsung orang mengatakan, “Saya ingin ingin ikhlas.” Jadinya ikhlas. Tidak. Saya ingin khusyuk langsung jadinya khusyuk. Tidak. Itu khusyuk ars sudah kita bahas juga sumbernya dari dalam hati. Ini hubungannya dengan iman.
Jadi tidak akan tumbuh atau tidak akan mengeluarkan buah yang indah dan manis kalau pertumbuhan pohon tersebut tidak usahakan dengan sebaik-baiknya. Tentu dengan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa taala. akar pohonnya kita perbaiki, kemudian pertumbuhannya kita perhatikan, pengairannya. Makanya agama Islam ya wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam diperumpamakan di dalam hadis riwayat Bukhari Muslim kama gitin seperti hujan yang bermanfaat yang diturunkan di muka bumi. Jadi perlu pohon ini disiram
dengan hujan wahyu. Perlu belajar agama, membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya. Juga hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam supaya pohonnya tumbuh dengan benar. perlu untuk disingkirkan tumbuhan-tumbuhan pengganggu, rumput-rumput yang menghalangi pertumbuhan pohon ini dengan baik supaya nanti tumbuhnya baik.
Kalau tumbuhnya baik maka Allah akan mudahkan untuk ikhlas, untuk khusyuk. Jadi harus dengan proses seperti ini agar kita bisa meraihya dan kita bisa menjaganya. Nah, makanya ayat tadi kan menyebutkan pohon ini akan mengeluarkan buah-buahnya setiap saat dengan izin Allah. Bukan hanya sekali-sekali keluarnya, tapi setiap saat.
Sehingga khusyuk itu selalu menyertai hamba ini sepanjang salatnya, salat wajibnya, salat sunahnya, dan selalu ada pada dirinya. Kalaupun ada godaan dan gangguan setan, maka dia akan berhenti sejenak untuk melawan godaan tersebut. Kemudian lanjut lagi. Itulah pohon iman yang membuahkan buah yang benar setiap saat dengan izin Allah. Nam apabila kita salat tiba-tiba kita lupa misalnya apa ini misalnya harusnya duduk tahiyat awal tapi kita bangkit tapi belum sampai berdiri kita langsung duduk dan spontan ngomong astagfirullah.
Apakah ini membatalkan salat? Iya, kalau tidak sengaja. Lagi pula istigfar itu bukan pembicaraan dengan manusia. Ya, kita tahu di dalam hadis yang sahih itu disebutkan ketika ada sahabat yang bersin kemudian dia mengucapkan alhamdulillah itu tidak ditegur oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi ada sahabat lain yang mengatakan yarhamukallah itu yang disalahkan, itu yang ditegur.
Jadi boleh seorang itu berzikir kepada Allah dalam kondisi-kondisi seperti ini. Apalagi dia tidak sengaja tadi istigfar. Jadi tidak membatalkan salatnya. Cuman ya seperti tadi memang ketika dia belum sempurna berdiri hendaknya dia duduk lanjutkan tahiyatnya di akhirnya nanti dia sujud sahwi dua kali. Setelah dia bacakan tahiyat selesai dia salam dulu.
ucapkan salam baru sujud sahwi dua kali baru salam lagi. Itu caranya untuk ee menambal tambahan yang tadi dilakukannya tanpa sengaja. Karena kan tadi dia sudah hampir berdiri berarti ada tambahan gerakan. Iya kan? Tambahan istigfar juga. Maka dia cukup sujud sahwi dua kali setelah dia salam. Sujud sahwi kemudian salam lagi.
Itu yang dilakukannya. Apakah yang berazan itu harus membaca doa? Setelah azan tidak ada yang mengharuskan. Yang azan atau bukan azan pun tidak harus. Tapi apakah diutamakan, dianjurkan dia membaca doa Allahumma rabba hadi dan seterusnya? Ini ada perbedaan di kalangan para ulama ya. Menurut Sylal Albani rahimahullah taala, dia tidak perlu membaca azan karena itu hanya ditujukan untuk yang mendengarkan saja.
Nam ya. Kemudian bacaan setelah azan juga yang paling bagus kita menggabungkan dua bacaan yang disebutkan dalam masalah ini ya. Termasuk tadi Allahumma rabba had dwati tammah dan seterusnya. Ada juga bacaan yang pertama setelah selesai azan kita baca dulu. Roditu billahi rabban wabil islami din Muhammadin sallallahu alaihi wasallam rasula.
Ya, karena ini juga ada keutamaan besar. Jadi kita gabungkan dua bacaan tersebut setelah azan itu tentu lebih afdal dan lebih utama. Apa ini? Apakah tafsir surah almulk ayat ke-15 bisa diartikan anjuran untuk kita? Apa ini? ber apa ini konseling apa-apa ini ayat ke-15 apa itu walladzi jaala lakumul ard ya walladzi jaala lakumul ard dalul famsu fi manaibiha waulu mir rizqihi wa ilaihin nusyur dialah Allah yang menundukkan kamu semua yang ada di muka
bumi ini. Famsyu fi manaqibiha. Maka berjalanlah di permukaan bumi ini dan makanlah dari rezeki yang Allah berikan dan hanya kepadanya kalian semua dikembalikan. Ya, saya tidak mengerti pertanyaan ini maksudnya apa, dari mana hubungannya. Cuman kalau tafsiran dari ayat tadi itu adalah kebolehan kita melakukan perjalanan di muka bumi ke manaun kecuali tempat-tempat yang ada larangan untuk kita pergi padanya.
Jadi kita bisa berjalan atau ee berekreasi di muka bumi ini kecuali di tempat-tempat yang ada larangannya seperti tempat-tempat yang pernah diazab oleh Allah Subhanahu wa taala ya seperti kaum Tsamud mungkin yang ada di Arab Saudi. Tidak boleh kita mengunjungi tempat-tempat tersebut atau tempat-tempat ibadah orang-orang kafir.
Karena kalau azabnya turun kita juga yang berada di situ akan kena azab tersebut. Nauzubillah minzalik. atau tentu ke negeri-negeri orang kafir yang di situ kita tidak bisa menegakkan syiar-syiar Islam ya. Termasuk yang dilarang untuk kita mengunjungi tempat tersebut ya dikecualikan karena ada hadis-hadis yang sahih atau ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang mengunjungi tempat-tempat tersebut.
Nah, I silakan kalau masih ada pertanyaan lain. Iya. Barakallah fik barakallah. Silakan. Izin bertanya mengenai dua poin ini, Ustaz. Saya t [tertawa] apakah dua-dua poin ini membuat duan poin sebagai ribut? Karena setiap cintanya tidak pakai dua poin apa pertanya Pak? Apakah dua poin ini kita dalam bulan Ramadan bisa menemukan obat kita sebagai orang yangakallah.
Iya. Barakallahu fikum. Iya. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan lafaz ini atau kalimat la tahzan ini dari ucapan Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam Al-Qur’an ketika menghibur sahabat Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu ketika mereka berada di dalam gua di bukit Tsur itu ketika dikejar oleh orang-orang kafir maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaquulu lhihibihi ketika beliau berkata kepada temannya ini maksudnya Abu Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu.
La tahzan inallaha maana. Janganlah kamu bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita. Yakni Allah memiliki kebersamaan yang khusus. Mereka bukan hanya diawasi dan dilihat oleh Allah, tapi Allah akan mudahkan pertolongan dan penjagaan yang khusus bagi mereka berdua di dalam gua tersebut. Yang kedua, masalah la tagqob itu disebutkan dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika seorang sahabat meminta nasihat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Nasihat yang menghimpun semua kebaikan. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan, “La tagdab sampai diulang tiga kali ya oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam.” Dalam riwayat lain, “La tagdob walaka al jannah.” Jangan marah dan bagimu surga. Ah. Iya. Ah. yang berhubungan dengan penerapan dari dua lafaz ini tentu saja yang jelas-jelas keutamaannya kalau yang berhubungan dengan masalah la tahzan janganlah kamu sedih ini Allah Subhanahu wa taala telah menjamin dalam beberapa ayat Al-Qur’an orang-orang yang beriman, orang-orang
yang merupakan wali-wali Allah telah lepaskan mereka, amankan mereka dari semua bentuk ketakutan dan kesedihan. Fala khaufun alaihim wala hum yahzanun. Mereka tidak merasa takut, tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka juga tidak bersedih hati. Kata para ulama, khauf itu, rasa takut itu berhubungan dengan apa yang mereka hadapi di depan nanti.
Yakni mereka tidak takut lagi menghadapi setelah kematian nanti bagaimana pertanggungjawaban amal. Allah telah mengamankan mereka karena mereka sudah mempersiapkan kebaikan-kebaikan sebelumnya. Adapun sedih ini berhubungan dengan hal-hal yang lalu yang ditinggalkan ini juga Allah azza wa jalla telah hibur mereka.
Mereka tidak perlu khawatir lagi terhadap hal-hal yang mereka tinggalkan yang lalu-lalu yang mereka telah usahakan sewaktu di dunia. Nah, jadi seperti itu yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Jaminan bagi mereka, mereka-mereka yang telah melakukan amal amal kebaikan. Allah lindungi dari hal tersebut.
Kemudian yang berhubungan dengan la tagdab, jangan marah. Ya marah kita tahu keutamaannya menahan marah itu sangat besar ya. Dan ini termasuk di bulan puasa keutamaan tersebut jelas lebih besar lagi karena menahan kemarahan dalam waktu-waktu yang biasa saja itu diperintahkan dan keutamaannya besar apalagi di bulan di bulan Ramadan yang ketika itu amal-amal kebaikan dilipat gandakan.
Apalagi tadi yang telah kita bahas menahan marah kan juga merupakan bagian dari upaya untuk menguatkan kesabaran ya. Berusaha untuk menundukkan hawa nafsu kita di jalan Allah Subhanahu wa taala yang tentu keutamaannya di bulan Ramadan semakin semakin besar lagi kalau kita lakukan benar-benar karena Allah Subhanahu wa taala. Nam.
Barakallahu fik Tib Tib. Cukup sampai di sini kajian kita. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat dan menjadi sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat kita. Barakallahu fikum. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bisanin ila yaumiddin.
Wa akiru dawanahamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Yeah.
Leave a Reply