Transcript:
(00:23) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wain’uhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a’malina. May yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
(01:06) Allahumma sholli wasallim wabarik wa anim ala nabina Muhammadin waa alihi wa asabihi [berdehem] waman tabiahum bisanin yaumiddin amma ba alhamdulillah bapak-bapak ibu-ibu, ikhwan dan akhwat fiddin aakumullah alhamdulillah kita selalu dan senantiasa memuji Allah subhanahu wa taala mensyukuri limpahan nikmat dan karunia Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang selalu menetapkan kebaikan Islam pada diri kita.
(01:48) Memuliakan kita dengan keimanan, dengan mengikuti petunjuknya dan petunjuk Rasulnya sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala yang memudahkan karunianya kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama yang merupakan sebaik-baik sebab. untuk istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wa taala sampai kita menghadapnya pada hari kiamat nanti. Barakallahu fikum.
(02:15) Bapak, Ibu, dan jemaah sekalian hafidakumullah. Di kajian kita di kesempatan pagi menjelang siang hari ini di Masjid Nurul Amal yang mubarak ini, yang penuh berkah ini, kita akan membahas tema tentang meraih syafaat. [berdehem] Tema ini merupakan salah satu tema yang sangat penting untuk dibahas ya di kajian-kajian kita.
(02:45) Karena ini berkenaan dengan masalah iman sekaligus masalah yang berhubungan dengan bukti luasnya rahmat Allah Subhanahu wa taala serta pemuliaan [berdehem] ya pengagungan yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepada hamba-hamb-Nya ahli tauhid. Orang-orang yang selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala dan tidak menyekutukannya.
(03:16) Orang-orang yang selalu setia mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam dan tidak mengambil petunjuk selain dari petunjuknya. [berdehem] Ya, masalah syafaat ini adalah salah satu yang berkenaan dengan masalah iman kepada hari akhir, yakni berhubungan dengan syafaat di akhirat nanti ya.
(03:41) [mendengus] Karena syafaat itu kan ada dalam urusan-urusan dunia diperbolehkan selama tidak melanggar syariat. Tapi yang paling penting nanti syafaat di akhirat. Yang ini ditetapkan di dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an. Sekaligus juga ada syafaat yang akan ditolak bagi orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkannya di akhirat nanti. Naudubillahimiz minzalik.
(04:07) Ya, cuma jemaah sekalian hafidakumullah, kita tahu hal-hal yang berhubungan dengan kemuliaan seperti ini kaidah dasarnya kita harus mengimani dan menetapkannya. Karena dengan sebab itu insyaallah peluang untuk mendapatkan kemuliaan dan keagungan tersebut lebih besar. Ya, kalau kita menetapkan, kita mengimaninya, pasti kita akan mengusahakan sebab-sebab untuk mendapatkannya, kan? Beda dengan orang yang mengingkarinya. Naudubillahzalik.
(04:42) Kita tahu orang-orang yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah. Ada yang mengingkari kemuliaan-kemuliaan seperti ini. Mengingkari keberadaan telaga kemuliaan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat. mengingkari nikmat kubur atau azab kubur ini mereka orang-orang yang sangat terancam untuk ya dihalangi dari kebaikan-kebaikan tersebut.
(05:05) Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala menukil pernyataan salah seorang ulama salaf yang mengatakan bikarin lamal yaamal [berdehem] barang siapa yang mengingkari satu kemuliaan yang Allah janjikan di akhirat nanti, maka dia tidak akan meraih kenikmat apa ini dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut. Coba kita perhatikan jemaah sekalian hafidakumullah.
(05:40) Bukankah syafaat ini ya dengan pertolongan dari Allah Subhanahu wa taala sangat kita butuhkan ya. Syafaat untuk menyelamatkan dari azab neraka. Syafaat untuk bagi orang-orang yang sudah masuk neraka kemudian dikeluarkan dari neraka. [berdehem] Syafaat untuk meninggikan derajat di surga. Ya, ini syafaat yang tentu saja dibutuhkan oleh manusia.
(06:12) Makanya syafaat ini Allah Subhanahu wa taala Allah berlakukan dengan tujuan untuk memuliakan hamba-hamba yang berpegang teguh dengan agamanya, utamanya yang berpegang teguh dengan tauhid. Di sinilah kata sebagian dari para ulama ketika menjelaskan hakikat syafaat, kata mereka, wikatif allahuika [berdehem] Dan hakikat dari syafaat adalah bahwasanya Allah Subhanahu wa taala memberikan karunia kepada orang-orang yang mengikhlaskan agamanya, memurnikan tauhidnya, hanya beribadah kepada Allah semata-mata dan tidak menyekutukannya.
(07:17) dengan Allah mengampuni dosa-dosa mereka dengan perantaraan doa pemberi syafaat yang Allah izinkan untuk memberi syafaat untuk memuliakannya. Makanya yang seperti ini berlomba-lomba diminta oleh orang-orang yang beriman apalagi yang mengetahui diri kita ya diri kita penuh dengan kekurangan. Amal-amal kita tidak jamin sempurna dalam ikhlasnya.
(07:46) Bahkan kita menyadari banyak kekurangan dalam ikhlasnya. Bagaimana mungkin kita kemudian ya melalaikan atau mengenyampingkan keutamaan-keutamaan yang besar seperti ini yang memang Allah Subhanahu wa taala jadikan sebagai wujud luasnya rahmat dan karunianya. Apalagi kepada hamba-hamba yang beriman yang senantiasa menegakkan petunjuk dalam agamanya.
(08:11) Bab. Oleh karena itu, antum perhatikan di kitab-kitab akidah ahlusunah wal jamaah senantiasa disebutkan pembahasan mengenai masalah syafaat. Ini ada syafaat yang khusus untuk Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ada syafaat yang Allah izinkan untuk para nabi yang lainnya juga. Bahkan para malaikat, orang-orang yang beriman.
(08:39) Bahkan anak-anak kaum muslimin yang disebutkan di dalam hadis yang sahih ya. Kita pernah dengar anak-anak yang meninggal dunia sebelum balig dua orang dan lebih bisa memberi syafaat kepada orang tuanya jika memenuhi syarat. Ya, anak ini diberikan izin. Yang penting orang tuanya memenuhi syarat untuk mendapatkan syafaat.
(09:00) Seperti yang nanti kita jelaskan insyaallah. Ini adalah perkara yang benar-benar Allah Subhanahu wa taala jadikan kabar gembira bagi setiap orang-orang yang beriman yang menginginkan keselamatan dirinya. [berdehem] Babakallahu fikum jemaah sekalian hafidakumullah. Syafaat dalam bahasa Arab itu sesuai dengan namanya ada makna atau penunjukan terhadap makna asyaf’ yaitu genap.
(09:36) Wasyafi’i wal watr. Demi yang genap dan yang ganjil. Asyaf itu artinya genap. Ya. Sehingga secara bahasa kata-kata syafaah itu artinya ja’alusai syaf’an. Menjadikan sesuatu genap. Ya, makanya syafaat itu [berdehem] sesuai dengan makna asal ini adalah seseorang yang bergabung dengan orang lain untuk mengusahakan kebaikan atau menolak keburukan.
(10:17) [berdehem] Ya, menurut definisi dalam syariat, syafaat itu diartikan oleh para ulama attawut lilhairi lijal manfaatin masruin lahu attawas menjadi penengah untuk membantu orang lain. ini dalam upaya [berdehem] ya mengambil kebaikan yang disyariatkan baginya atau menolak keburukan darinya itu syafaat.
(11:00) Jadi dia sendiri mungkin kurang kuat dalam apa yang dia inginkan maka datang yang lain bergabung. Ya, sehingga syafaat ini berlaku dalam urusan dunia. Kita kenal hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang terkenal riwayat Bukhari dan Muslim. Isfahu tujaru. Berilah syafaat kamu akan dapat pahala. Bahkan disebutkan di dalam Al-Qur’an ya azubillah minasyaitanirjim.
(11:27) Mayasfa syafaatan hasanatan yakahu nasibum minha wfa syafaat yakahu kiflum minha. Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik untuk orang lain, maka dia akan dapatkan bagian pahala darinya. Tapi barang siapa yang memberikan syafaat yang buruk bagi orang lain, maka dia akan mendapatkan bagian dari dosanya. [berdehem] yakni syafaat itu misalnya contoh sederhananya ada seseorang yang punya kebutuhan ya ingin diajukan kepada seorang lain yang mungkin bisa membantunya tapi karena dia kurang kenal datanglah dia kepada orang lain yang
(12:21) bisa menjadi penengah untuk menyampaikan kebutuhannya kepada pihak yang bisa membantunya maka orang lain ini kemudian membantunya menyampaikan hajat nya tersebut. Ini boleh dalam urusan-urusan dunia selama apa tidak ada kezaliman padanya, tidak mengambil hak orang lain. Iya kan? Kemudian tidak tidak boleh syafaat itu dalam membatalkan ketetapan dari satu hukum Allah yang telah ditetapkan untuk orang ini.
(12:54) Misalnya orang ini telah mendapatkan hukuman ketetapan sesuai dengan syariat. ditegakkan padanya misalnya hukum cambuk, tidak boleh. Ada yang memberi syafaat kemudian dibatalkan hukum ini. Tidak boleh. Karena kalau sudah batasan-batasan hukum Allah harus ditegakkan. Tidak boleh ada syafaat dalam masalah seperti ini.
(13:12) [berdehem][batuk] Yang jelas ini syafaat kebaikan seperti ini itu selalu dilakukan oleh para ulama ahlusunah wal jamaah. Ya, ketika datang orang-orang yang punya hajat dulu para ulama kan diagungkan dan dihormati oleh para penguasa mereka. Sehingga ketika mereka mengajukan syafaat untuk menolong orang-orang yang butuh ini, maka itu akan diperhatikan oleh pihak penguasa untuk kemudian ditunaikan atau diberikan pertolongan itu kepada orang-orang yang membutuhkannya.
(13:44) Inilah yang dimaksud dengan syafaat dan ini syafaat dalam urusan dunia. Tib. Sekarang syafaat yang berkaitan dengan akhirat nanti. [berdehem] Ini keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah menetapkan adanya syafaat. Karena ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih bahkan mutawatir. Yakni hadis-hadis yang sangat banyak sahabat yang meriwayatkannya [berdehem] yang menyebutkan tentang keberadaan syafaat.
(14:18) Dan bahkan sebagian dari para ulama menulis kitab, di antaranya kitab yang tebal yang menyebutkan hadis-hadis tentang syafaat karena banyak sekali jalur periwayatannya [berdehem] tidak mungkin diingkari. Ya, ada sebagian dari pemahaman yang sesat termasuk pemahaman khawarij yang mengingkari keberadaan syafaat ya khususnya syafaat yang berhubungan dengan pelaku dosa besar karena bagi mereka pelaku dosa besar itu kekal di dalam neraka.
(14:46) Ini jelas keyakinan yang rusak. ya, yang tentu bertentangan dengan luasnya rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa taala bagi hamba-hamba yang beriman. Tib [berdehem] syafaat kita ketahui di dalam ayat Al-Qur’an banyak disebutkan dalil-dalilnya. Contoh yang paling mudah adalah firman Allah Subhanahu wa taala di surah atau di ayat kursi Albaqarah ayat 255.
(15:19) Manzalladzi yasfau indahu illa biidni. Siapakah yang bisa memberi syafaat di sisi Allah Subhanahu wa taala? kecuali dengan izinnya. Yakni tidak ada yang bisa memberi syafaat di sisi Allah Subhanahu wa taala selain dengan izinnya. Berarti syafaat ada yang diizinkan, ada yang tidak diizinkan. Di ayat yang lain di surah Thaha Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Yaumaidinyafaatu illa maninahahmanu lahu pada hari kiamat nanti pada hari itu, pada hari kiamat nanti tidak bermanfaat syafaat kecuali Ali
(16:24) bagi orang-orang yang Allah yang maha pemurah izinkan yang diizinkan oleh Allah arrahman yang maha pemurah dan bagi orang-orang yang Allah ridai ucapannya. Ini jelas sekali penetapan syafaat. Dan ayat-ayat seperti ini banyak [mendengus] ya. Di surat Annajm Allah Subhanahu wa taala berfirman, ba’diallahuasya. Dan berapa banyak para malaikat yang ada di langit [mendengus] [berdehem] malakni tidak bermanfaat syafaat mereka sedikit pun kecuali setelah Allah Subhanahu wa taala berikan izin ya untuk orang-orang yang Allah
(17:25) kehendaki dan orang-orang yang Allah ridai. [berdehem] Jadi ini juga menyebutkan syafaat para malaikat harus dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Kemudian ada ayat-ayat juga yang menyebutkan tentang dinafikannya syafaat. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa taala di surah almuddattir. Fama tanfauhum syafaatus syafi’i.
(17:57) Tidak bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat. Meskipun banyak yang memberikan syafaat, mereka ini tidak diridai oleh Allah. Makanya tidak bermanfaat syafaat untuk mereka. Ya, oleh karena itu waktu kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an ya yang menyebutkan tidak adanya syafaat itu maksudnya adalah syafaat yang ini yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa taala atau diistilahkan oleh para ulama asyafaatul batilah, syafaat yang batil atau asyafaatul manfiah, syafaat yang dinafikan. Kenapa?
(18:37) Karena jelas-jelas melanggar ketentuan Allah yang paling besar yaitu tauhid. Inilah syafaat yang dilakukan oleh pelaku-pelaku syirik. Ya, karena kita tahu alasan pelaku-pelaku syirik di antara alasan terbesar mereka melakukan apa? Perbuatan syirik. Menyembah berhala, menganggap berhala-berhala itu bisa memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah.
(19:04) Padahal ini jelas membatalkan syarat syafaat yang paling penting yaitu tauhid. Mengikhlaskan agama untuk Allah Subhanahu wa taala semata-mata. Jadi antum perhatikan di sini bagaimana Allah memuliakan ahlut tauhid dunia dan akhirat dengan syafaat yang agung ini. Kemudian Allah subhanahu wa taala ya hancurkan harapan pelaku syirik mereka yang disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa taala.
(19:47) Mereka menyembah kepada selain Allah ya berhala yang tidak bisa memberikan manfaat untuk mereka dan tidak bisa mendatangkan keburukan untuk mereka. Kemudian mereka mengatakan, “Berhala-berhala ini yang menjadi pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah Subhanahu wa taala.” Ini kesyirikan ya.
(20:10) Makanya di sini jemaah sekalian hafidakumullah, kita tahu syafaat ini hanya milik Allah semata-mata. Nanti Allah akan berikan izin kepada hamba-hamba yang dipilihnya sehingga meminta syafaat tidak boleh kepada makhluk, syafaat akhirat. Ya, kalau urusan dunia tadi kan sesuai dengan kesanggupan makhluk tersebut ya. [berdehem] Seperti dalam urusan-urusan dunia misalnya kan kita tahu diperbolehkan bahkan termasuk tawasul yang disyariatkan.
(20:44) Kita minta kepada seseorang yang kita anggap saleh ya. Kita datang ke hadapannya minta kepada dia mendoakan kepada Allah kebutuhan kita kemudian kita aminkan. itu diperbolehkan kan para sahabat mendatangi Nabi sallallahu alaihi wasallam selama beliau hidup ya tapi ketika beliau telah wafat tidak ada yang melakukannya karena syaratnya orang yang kita anggap saleh yang masih hidup ada di hadapan kita dia berdoa kita mengaminkan ini namanya syafaat karena kita jadinya berdua berdoa tersebut iya kan yang tadinya sendiri akhirnya kita
(21:15) berdua dengan dia. Ya, ini dilakukan oleh para sahabat termasuk sahabat yang datang sedang khotbah Jumat. Nabi sallallahu alaihi wasallam sedang berkhotbah. Dia minta agar ditur berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. Itu juga bentuk ya syafaat yang seperti ini diperbolehkan. [berdehem][batuk] Jadi ini yang di syariatkan di dalam Islam ya, yaitu termasuk tawasul yang disyariatkan tadi yaitu ketika seseorang datang kepada seseorang yang saleh untuk memohon kepada Allah subhanahu wa taala dalam urusan-urusannya
(21:57) biasanya hajat [berdehem] yang mendesak. Kemudian dia berdoa kepada Allah subhanahu wa taala dan diaminkan oleh orang ini yang kemudian Allah subhanahu wa taala dengan izinnya memudahkan pengabulan pengabulan doa tersebut. Ini perkara yang diperbolehkan di dalam urusan-urusan dunia. Nah, sekarang yang bermasalah tadi adalah syafaat yang dilakukan oleh pelaku syirik dengan cara menjadikan perantara dalam beribadah kepada Allah.
(22:29) Kemudian alasannya perantara ini nanti yang akan memintakan syafaat, yang akan memberikan syafaat bagi mereka di sisi Allah. Nah, ini jelas merupakan kesyirikan. Tidak mungkin diizinkan oleh Allah. Nanti kita akan sebutkan syarat utamanya syafaat itu adalah tauhid. Karena dengan sebab inilah Allah Subhanahu wa taala meridai hamba-hamb-Nya.
(22:58) Ya, makanya kita katakan tadi kalau kita ingin meminta syafaat itu minta kepada Allah. Karena Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’an lillahi syafaatu jamian. Katakanlah hanya milik Allahlah semua syafaat. Katakanlah hanya milik Allah syafaat itu seluruhnya. Berarti tidak boleh kita minta syafaat kepada makhluk dalam urusan yang berhubungan dengan akhirat tadi.
(23:30) Kalau kita ingin meminta misalnya diizinkan mendapat syafaat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sebutkan, “Ya Allah, mudahkanlah aku mendapatkan syafaat dari Nabi sallallahu alaihi wasallam atau syafaat dari para malaikat, syafaat dari orang-orang yang beriman ya.” Atau mudahkanlah saya mendapatkan syafaat.
(23:53) Misalnya seorang yang pernah ada yang apa ini wafat anaknya dua orang atau lebih yang belum balik berdoa kepada Allah, “Ya Allah mudahkanlah janganlah Engkau halangi aku dari mendapatkan syafaat dari kedua anakku yang meninggal sebelum balig.” Ini cara kita meminta. Jadi, mintanya kepada Allah karena Allah Subhanahu wa taala yang memiliki syafaat semuanya.
(24:16) Nah, maka dari inilah jemaah sekalian hafidakumullah para ulama menyebutkan ya asyafaatus shahah atau almutbatah syafaat yang benar yang ditetapkan berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an itu ada syarat-syaratnya. Ada yang mengatakan dua syaratnya atau tiga syaratnya ya tidak tidak ada masalah sekedar penambahan saja ya.
(24:43) Ada tiga syaratnya. Pertama, idullahi fis syafaah. Izin Allah Subhanahu wa taala dalam pemberian syafaat. Jadi syafaat tidak bisa dilakukan oleh siapapun kalau Allah tidak mengizinkan. [berdehem] Ya, antum kan pernah dengar hadis yang menyebutkan tentang asyafaatul uthma, syafaat yang paling besar. Yang ini merupakan penafsiran dari ee almaqamul mahmud yang kita minta waktu azan agar diberikan kedudukan ini kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(25:20) Inilah yang disebut dengan syafaat paling besar. Ketika manusia sedang di padang mahsyar menunggu keputusan Allah Subhanahu wa taala yang keadaannya saat itu sangat panas, sangat sulit. Sampai sebagian orang ditenggelamkan dengan keringatnya. Ingat, kita akan mengalami semua peristiwa ini.
(25:41) Semoga Allah Subhanahu wa taala menyelamatkan kita dengan penjagaannya di dunia dan di akhirat. Ah, ketika itu manusia datang kepada nabi-nabi yang mulia. Pertama, Nabi Adam sebagai bapak semua manusia. Nabi Adam mengajukan uzur. Kemudian Nabi yang ulul azmi, Nabi Nuh alaihi salalatu wasalam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, tidak ada yang bisa.
(26:03) Sampai kemudian mereka mendatangi Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau sujud di hadapan Allah subhanahu wa taala ya memuji Allah dengan pujian-pujian yang agung yang tinggi. Baru kemudian Allah berikan izin bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian berlakulah syafaat tersebut. Yakni harus ada izin dari Allah Subhanahu wa taala.
(26:28) Para nabi dan para rasul ketika itu mengajukan wudu mereka semua tidak mampu melakukannya. Jadi jangankan hamba yang biasa ini para nabi dan bahkan ulul azmi nabi-nabi yang paling mulia tidak ada yang mampu melakukannya selain Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang diizinkan oleh Allah subhanahu wa taala. Ya, sama juga nanti dengan hadis dalam riwayat Imam Muslim.
(26:52) Ketika penghuni surga akan masuk ke dalam surga, mereka datang kepada Nabi Adam tidak bisa dibuka pintu surga. Setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam yang kemudian diizinkan oleh Allah memberikan syafaat untuk dibuka pintu surga bagi penghuni surga ya. Karena nanti yang pertama kali masuk surga itu adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(27:12) Seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Ini juga syafaat yang menunjukkan kalau Allah tidak mengizinkan tidak akan terjadi syafaat tersebut. Tiib. [berdehem] Jadi syarat yang pertama adalah idullahi fis syafaah. Izin dari Allah Subhanahu wa taala dalam pemberian syafaat. Di antara dalilnya ayat yang tadi di ayat kursi.
(27:37) Manalladzi yasfauahu illa biidnih. Tidak ada yang bisa memberikan syafaat di sisi Allah subhanahu wa taala kecuali dengan kecuali dengan izinnya. Syarat yang kedua, [berdehem] [mendengus] syarat yang kedua, [berdehem] ridallah anis Syafi’i. keridaan Allah terhadap [berdehem] pihak yang akan memberikan syafaat atau orang yang akan memberikan syafaat ini karena bukan cuma orang ya malaikat juga bisa kepada pihak yang akan memberikan syafaat.
(28:30) [berdehem] Dari sini kan terlihat antum perhatikan hikmah syafaat itu sangat agung ya tadi. Karena Allah Subhanahu wa taala ingin menunjukkan karunianya kepada orang-orang yang beriman. [berdehem][batuk] Melimpahkan rahmatnya yang luas kepada hamba-hamba yang senantiasa menegakkan tauhid dan mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
(28:53) Kemudian orang-orang yang saleh ini yang diridai oleh Allah, tentu dengan ini semakin nampak keagungan dan kemuliaan mereka di hadapan semua makhluk. Contoh tadi seperti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Allah izinkan dia, Allah ridai dia untuk memberikan syafaat. Ya, sehingga semua makhluk memujinya. Makanya yang kita minta dalam azan ya wabu maq mahmudanzi waadta bangkitkanlah beliau Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam pada kedudukan apa? Terpuji.
(29:27) Kenapa dikatakan syafaat yang paling besar tadi? Sebagai kedudukan yang terpuji. Karena dengan ini beliau dipuji oleh semua manusia. Semua manusia butuh saat itu untuk segera dilepaskan dari kesusahan yang mereka alami di padang mahsyar. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika diizinkan oleh Allah kemudian Allah meridainya, maka semua makhluk memujinya dari yang awal sampai yang terakhir.
(29:53) Makanya dikatakan dengan maqaman mahmuda atau maqamun mahmud ya, kedudukan yang terpuji karena dipuji oleh semua makhluk. Ini salah satu di antara syafaat yang khusus Allah berikan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Jadi rida Allah kepada yang akan memberi syafaat. Dan Allah Subhanahu wa taala telah menyebutkan makhluk yang diridai untuk mendapatkan syafaat.
(30:23) Tadi jelas ada syafaat yang khusus bagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Kemudian nabi-nabi yang lain, para malaikat, orang-orang yang beriman. Ya, ini di antara manfaatnya kita selalu bergaul dekat dengan orang-orang yang saleh. Karena kalau kita berteman dekat dengannya, kemudian nanti pada hari kiamat dia mendapati [berdehem] temannya ini mengalami kesulitan atau mengalami ancaman azab, pasti teman yang dekatnya ini akan berusaha untuk menolongnya dan meminta kepada Allah subhanahu wa taala agar diizinkan memberi syafaat kepada teman dekatnya
(31:02) ini. ya, termasuk keluarga kita misalnya, bahkan anak-anak kita. Di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam pernah bersabda, “Syafaatil malaikatu.” Ya, syafaatil malaikatu. Y ini adalah firman Allah azza waalla hadis qudsi Allah subhanahu wa taala berfirmanya malaikatu wasyafaun wasyafaal mukminun falamq illa arhamahimin minar ya para malaikat memberi syafaat Allah izinkan memberi syafaat para nabi alaihiatu wasalam Allah izinkan memberi syafaat
(31:57) Orang-orang yang beriman, Allah azza wa jalla izinkan untuk memberi syafaat. Maka tidak tersisa setelah itu. Setelah semuanya sudah dikeluarkan syafaat yang Allah izinkan tidak tersisa kecuali Allah Subhanahu wa taala yang maha pemurah. Masih ada hamba-hamba yang ditempatkan di dalam neraka.
(32:20) Maka Allah Subhanahu wa taala yang kemudian mengambil satu genggaman dan mengeluarkan mereka-mereka yang masih punya keimanan di dalam hatinya dari neraka untuk dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat dan karunia-Nya. Bayangkan ini kemuliaan bagi ahli tauhid. Sampai pun yang punya dosa-dosa besar tetap dia tidak akan kekal di dalam neraka.
(32:43) Ya, apalagi orang-orang yang ya bisa mendapatkan syafaat dengan keridaan Allah Subhanahu wa taala. Tentu ini menunjukkan keutamaan dan keberuntungan besar bagi mereka. Ya, termasuk yang diridai oleh Allah subhanahu wa taala memberi syafaat seperti yang disebutkan di dalam hadis yang sahih adalah tadi anak kecil yang meninggal dunia sebelum balig bisa memberi syafaat kepada orang tuanya.
(33:11) Cuma kan yang disebutkan di dalam hadis itu kan ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan tiga orang anak. Kemudian para sahabat bertanya, “Ya, ya Rasulullah walnan, bagaimana kalau dua orang?” Maka beliau termasuk dua. Kata para sahabat, “Walam nasaluil wahid.” “Kami tidak menanyakan kalau satu orang bagaimana.” Jadi sebagian daripada para ulama mengatakan berarti minimal dua orang yang meninggal dunia sebelum balig ini ketika orang tuanya ya diridai oleh Allah subhanahu wa taala dan diizinkan untuk syafaat tersebut maka berlakulah
(33:43) syafaat itu. [berdehem] Ya, bahkan secara umum hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang di antara dalil yang menunjukkan keutamaan memiliki anak yang saleh. [berdehem] Ya, hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Inulafaahu daratuhu fil jannati fakulqfika.
(34:21) ” Sesungguhnya seseorang itu pada hari kiamat nanti diangkat derajatnya di surga. ya, masuk surga dan ditinggikan derajatnya. Maka dia berkata, “Bagaimana saya bisa mendapatkan semua ini?” Maka dikatakan, dijawab kepadanya, “Itu karena banyaknya permintaan, permohonan ampun yang diucapkan oleh anakku untukmu.
(34:45) ” Memohon ampun kepada Allah supaya diampuni orang tuanya. Ya, termasuk kata para ulama maknanya adalah anak itu ketika dia mendapati dirinya, menempati surga yang lebih tinggi dibandingkan orang tuanya, maka dia akan mohon kepada Allah [berdehem] ya agar kedudukan orang tuanya diangkat agar bisa bersamanya di dalam surga. Masyaallah.
(35:08) yang seperti ini sekali lagi yang mendapatkannya adalah orang yang memenuhi syarat sehingga benar-benar merugi orang-orang yang tidak berusaha mempelajari mempraktikkan ya kalimat tauhid dengan benar. Tentu dua kalimat syahadat ya dengan benar sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa taala dan Rasul-Nya. Nah, [berdehem] jadi itu syarat yang kedua.
(35:34) Ridallah an syafi keridaan Allah bagi yang akan memberikan syafaat. Kemudian yang ketiga, ridallahiil masfiahu. Keridaan Allah bagi orang yang akan diberi syafaat baginya. [berdehem] Nah, ini syarat yang penting. Meskipun banyak yang bisa memberikan syafaat, tapi orang yang dituju tidak masuk kriteria orang yang diridai oleh Allah, maka tertolak syafaat tersebut.
(36:12) Famafauhum syafaatus syafi’in. Tidak bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat. Nauzubillah minzalik. Bagaimana Allah Subhanahu wa taala meridai seorang hamba. Tentu yang paling utama adalah tadi dengan menegakkan landasan utama iman yaitu tauhid menjauhi perbuatan syirik. Coba kita perhatikan dakwah ahlusunah wal jamaah yang sangat mengutamakan tauhid.
(36:45) Selalu mengajarkan kitab-kitab yang membahas masalah tauhid. Selalu memperingatkan dari perbuatan syirik. Ini benar-benar dakwah yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Bukan hanya kebaikan dunia, tapi kebaikan akhirat yang paling utama. Karena itulah kehidupan yang kekal abadi. Sesungguhnya.
(37:09) Allahumma la aisya illa aisyul akhirah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya Allah, tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan di akhirat nanti. Dari sini kita baca hadis-hadis yang sahih, jemaah sekalian hafidakumullah. Kita dapati banyak Nabi sallallahu alaihi wasallam menegakkan atau menegaskan syarat mendapatkan syafaat itu adalah harus bertauhid dan menjauhi perbuatan syirik.
(37:37) Contoh hadis yang diriwayatkan oleh Imam albukhari dan Muslim juga dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Likulli nabiyin dakwatun mustajabatun fataajala kullu nabiyin dwatahu wa inni wa inwati yaumalqi wah nailatun insyaallahu umti la yusriku bihian. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setiap nabi itu memiliki doa yang mesti terkabulkan.
(38:41) Allah berikan kepada mereka satu doa yang pasti terkabulkan. Ya tentu doa-doa yang lain juga [berdehem] dikabulkan oleh Allah. Tapi ini pasti yang lain kan ada yang Allah kabulkan, ada yang tidak. Begitu ya. [berdehem] Maka masing-masing nabi itu menyegerakan doa mereka di dunia. Doa yang pasti terkabul ini. Tapi sesungguhnya aku menyimpan doaku ini sebagai syafaat bagi umatku di hari kiamat nanti. Masyaallah.
(39:17) Bagaimana agungnya kasih sayang dan perhatian Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada umatnya pada hari kiamat. [berdehem] sampai doa ini beliau simpan untuk syafaat bagi umatnya pada hari kiamat. Kata beliau, insyaallah yang itu akan didapatkan oleh umatku insyaallah dengan izin Allah ya didapatkan oleh seorang dari umatku ya yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
(40:01) [berdehem] Syafaat ini, doaku ini yang menjadi syafaat nanti dengan izin Allah akan didapatkan oleh siapa saja yang wafat di antara umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Perhatikan. Jadi rida Allah tidak mungkin diberikan kecuali kepada orang yang menegakkan tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.
(40:26) Ada hadis riwayat Imam Bukhari yang lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu taala anhu juga. Abu Hurairah radhiallahu taala anhu pernah bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Ya Rasulullah, man asalunasi bisyafaatika yaumalqiamah? Wahai Rasulullah sallallahu alaihi wa ali wasallam, siapakah orang yang paling beruntung, berbahagia mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat nanti?” Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menjawab kepada Abu Hurairah radhiallahu taala anhu, [berdehem] “Manqala la ilahaillallah
(41:06) khon minqbihi min nafsih.” Orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan kalimat lailahaillallah ikhlas dari dalam hatinya atau dari dalam jiwanya. Jadi, antum semua paham kenapa pembahasan tauhid itu harus kita ulang-ulang? Bukan cuma sekali atau dua kali dikaji.
(41:35) Karena kita ingin memurnikannya dari dalam hati kita. Kenapa pembahasan tentang iman, tentang ikhlas harus sering kita ingatkan? Hal-hal yang bisa menyebabkan apa ini? Rusaknya niat, ternodainya keikhlasan. Apalagi tauhid. supaya kita dapatkan manfaat kebaikan dunia dan akhirat ini. Karena seperti itu dalil-dalil yang menyebutkan tentang orang yang paling beruntung, paling berbahagia mendapatkan ya contoh seperti syafaat dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan izin Allah subhanahu wa taala.
(42:16) [berdehem] Ya. Kemudian para ulama juga menjelaskan seperti ada penjelasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Orang yang tentu semangat mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dunia. Pasti Nabi sallallahu alaihi wasallam akan membelanya pada hari kiamat nanti di hadapan Allah Subhanahu wa taala.
(42:40) Ya, sampai-sampai ada sebagian ulama salaf di dalam tafsir Ibnu Katsir dinukil. [berdehem] Ada sebagian ulama atau bahkan Imam Ibnu Kathir yang menjelaskan tentang firman Allah Subhanahu wa taala. Ya unasin biimamihim. Pada hari kiamat nanti kami akan memanggil setiap manusia dengan imam yang akan membela mereka di hadapan Allah.
(43:10) [berdehem] Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullah taala ketika menafsirkan ayat ini, hadil ayat akbarofinhabil hadis fainna imamahumun nabiu shallallahu alaihi wasallam. Ayat yang mulia ini menunjukkan sebesar-besarnya kemuliaan, sebesar-besarnya keagungan bagi orang yang suka mempelajari hadis, belajar sunah. yang suka mengikuti sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(43:42) Karena imam yang akan membela mereka ketika menghadap Allah adalah siapa? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Jadi di sini kita tahu kemuliaan belajar sunah. Dan inilah di antara hikmah syafaat Allah Subhanahu wa taala perlihatkan kepada semua manusia. Inilah hamba-hamba yang dimuliakannya. [berdehem] Ya, karena syafaat ini kan berlaku di di hadapan semua makhluk, semua manusia pada hari kiamat nanti.
(44:14) Bahkan semua jin dan manusia pada hari kiamat nanti. Allah perlihatkan kemuliaan mereka yang selalu menegakkan tauhid dan menegakkan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dunia. Di dalam kitab Miftahu Daris Saadah, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah taala menukil ada seorang ulama ahlul hadis ya yang dia selalu belajar sunah ke sana ke mari.
(44:38) setiap hari kegiatannya seperti itu. Ditanyakan kepada beliau, ma asad alal hadis, alangkah besarnya semangatmu belajar sunah, belajar hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Apa sebabnya? Maka ulama ini mengatakan, “Afala uhibbu an akuna fiit Ali Muhammadin sallallahu alaihi wasallam yaumalqiamah. Apakah aku tidak ingin nanti pada hari kiamat nanti dimasukkan ke dalam iring-iringan rombongan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam ketika menghadap Allah Subhanahu wa taala.
(45:20) Jadi ini manfaat ya yang tiada taranya karena kebaikannya sampai di dunia dan di akhirat. Sebab keselamatan kita yang tentu sudah kita katakan dari tadi ya, dari awal tadi kita menyadari banyak kekurangan dan kelemahan diri kita. Kita mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa taala adanya syafaat yang kita pelajari, kita imani dengan benar.
(45:52) Kemudian kita berusaha untuk mengikuti syarat-syarat untuk mendapatkannya. Yang tentu kita berharap kepada Allah Subhanahu wa taala agar memudahkan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pengampunan dosa-dosa, dimudahkan untuk keselamatan ya dari ancaman azab neraka dengan syafaat dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam maupun dari syafaat dari [berdehem] pihak-pihak yang Allah Subhanahu wa taala ridai untuk memberikan syafaat.
(46:25) Ini salah satu di antara manfaatnya kita belajar agama di dunia ini ya. Manfaatnya bukan cuma sekedar jadi pengetahuan, tapi menjadi motivasi kita untuk mewujudkannya dalam amal yang nyata agar kita mendapatkan balasan kebaikannya di dunia dan di akhirat. Maka inilah jemaah sekalian hafizakumullah penjelasan tentang syarat-syarat mendapatkan syafaat.
(46:52) Kemudian selanjutnya syafaat atau macam-macam syafaat yang disebutkan di dalam dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi w wasallam dengan penjelasan yang lebih rinci ya. Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah taala dalam kitab al-Akqidatul Wasitiyah menyebutkan ya syafaat ini ada yang khusus untuk Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam dan ada juga yang berlaku untuk nabi-nabi yang lainnya para malaikat dan orang-orang yang beriman seperti yang tadi kita sebutkan dalilnya [berdehem] ada dua syafaat yang
(47:34) dikatakan khusus untuk Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sebagian ulama lain ada yang bahkan mengatakan tiga ya. Ketiga, nanti ini diperselisihkan apakah dia termasuk syafaat atau bukan syafaat. Karena ada yang tidak ee memenuhi syarat padanya. Artinya tidak sesuai dengan syarat yang kita sebutkan tadi.
(47:55) Tapi Allah berlakukan karena merupakan kekhususan bagi Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Syafaat yang khusus bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam yang pertama tadi yang diistilahkan dengan asyafaatul uzma. Syafaat yang paling agung, yang paling besar, [berdehem] yaitu syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang diizinkan oleh Allah yang untuk semua umat manusia di padang mahsyar ketika mereka semua mengalami kesulitan dan memohon agar Allah Subhanahu wa taala segera menyelesaikan ya perhitungan mereka dari padang mahsyar.
(48:40) Ini syafaat ini sebenarnya juga [berdehem] ya khusus bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam. Karena yang berkumpul di Padang Mahsyar kan tidak tidak hanya orang yang beriman, semua manusia iya kan orang kafir juga yakni orang yang tidak diridai oleh Allah pun juga dapatkan bagian dari syafaat ini. Ya, makanya ini benar-benar pengkhususan dan kemuliaan Nabi sallallahu alaihi wasallam.
(49:08) Dan terbukti makna sabda beliau ketika beliau bersabda, “Ana sayidu wadi adam yaumalqiamati wala fahr.” Aku adalah pimpinan semua umat manusia pada hari kiamat nanti dan ini bukan untuk kesombongan. Nah, ini disebutkan di dalam hadis yang sangat panjang sekali ya tentang penetapan syafaat yang disebut dengan assyafaatulma.
(49:32) Ini syafaat yang paling agung. Dan menurut pendapat yang terkuat, inilah tafsiran dari apa yang kita sebutkan tadi. [berdehem] Almaqul mahmud ya, kedudukan yang terpuji di sisi Allah Subhanahu wa taala karena dipuji oleh semua manusia pada saat itu. [berdehem] Baik. Yang kedua, syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam bagi penghuni surga untuk masuk surga.
(49:58) Semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita termasuk ke dalam golongan penghuni surga dengan rahmat dan karunia-Nya. [berdehem] Ya. Ketika penghuni surga ee apa ini? Orang-orang yang beriman melintasi jembatan yang ditentangkan di permukaan neraka jahanam yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa taala.
(50:25) Wa minkum illa wariduha maq. Tidak ada seorang pun di antara kamu kecuali dia akan mendatangi neraka jahanam. Bukan berarti semua masuk, tidak. Tapi melewati di di permukaannya. Ya, setelah orang-orang yang beriman dengan pertolongan Allah yang ketika itu para nabi semua berdoa Allahumma shallim sallim ya Allah selamatkanlah selamatkanlah.
(50:52) Setelah mereka melewati jembatan ini nanti di ujung ada yang disebut dengan qontarah. semacam jembatan kecil yang akan mereka lewati lagi. Di sini nanti ada qisos yang khusus, penunaian ya hak-hak yang belum ditunaikan. Kemudian ada pembersihan dada manusia dari kedengkian, dari sifat-sifat yang buruk.
(51:23) Karena nanti masuk ke dalam surga harus dalam keadaan sudah bersih semua. Nah, ketika mereka melewati jembatan kecil ini kemudian datang ke surga, ternyata pintu surga masih ditutup. Manusia pun kemudian datang kepada Nabi Adam. [berdehem] Ya, mereka mengatakan, “Ya abana penghuni surga ini ya karena sudah penghuni surga semua.
(51:52) ” Ya abana istafih lanaal jannah. Wahai ayah kami, mintalah agar dibukakan pintu surga.” Ternyata Nabi Adam tidak bisa. Para nabi yang lain juga tidak bisa. Kemudian penghuni surga datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam berdiri kemudian diizinkan oleh Allah subhanahu wa taala. Bahkan ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam datang ke ee pintu surga, malaikat yang menjaganya mengatakan, “Man anta?” Siapa kamu? Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam menjawab, “Muhammad sallallahu alaihi wasallam, saya adalah Nabi Muhammad
(52:24) sallallahu alaihi wasallam. Penjaga pintu surga mengatakan, umirin dengan kamu aku diperintahkan untuk tidak membuka pintu surga ini sebelum kamu yang pertama kali memasukinya.” Di sinilah berlaku syafaat yang khusus bagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam bagi penghuni surga untuk masuk ke dalam surga.
(52:51) [berdehem] Yang ketiga tadi yang diperselisihkan oleh para ulama apakah ini terbawa syafaat atau tidak ya, yaitu syafaat khusus dari Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada pamannya Abu Thalib. ini pun bukan menyelamatkan dari neraka, tapi menempatkannya yang harusnya di dasar neraka ditempatkan di tempat yang lebih ringan azabnya.
(53:22) Dan namanya azab tidak ada yang ringan kalau neraka ya orang yang paling ringan pun azabnya merasa dia yang paling berat ya. Dia ditempatkan di neraka yang dangkal. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Kalau bukan karena aku, yakni karena [berdehem] syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam, permohonan beliau kepada Allah Subhanahu wa taala, maka pamanku ini akan ditempatkan di dasar neraka yang paling bau yang azabnya paling berat.
(53:57) [berdehem] Ya, ditempatkan di neraka yang dangkal yang azabnya itu diletakkan di kakinya bara api kemudian menjadikan otatnya mendidih. Makanya penghuni neraka ini pun merasa dialah yang paling berat azabnya. Cuma yang jelas ini adalah kekhususan bagi Nabi sallallahu alaihi wasallam dan juga kekhususan bagi pamannya Abu Thalib.
(54:20) Bahkan keluarga Nabi sallallahu alaihi wasallam yang lain tidak mendapatkan syafaat seperti ini karena tidak ada dalil yang menyebutkannya seperti bapaknya atau ibunya misalnya sallallahu alaihi wasallam ya. Kedua orang tua Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sudah kita tahu berdasarkan hadis-hadis yang sahih keduanya ditempatkan di dalam neraka karena tidak beriman dengan benar.
(54:43) Ini yang ketiga ya. Sebagian dari para ulama mengatakan ini termasuk syafaat tapi [berdehem] hanya khusus bagi Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. [berdehem] Tayib. Kemudian [berdehem] syafaat yang bersifat umum [berdehem] bukan hanya Allah khususkan bagi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam ya, tapi juga berlaku untuk nabi-nabi yang lain alaihialatu wasalam, para malaikat dan orang-orang yang beriman seperti yang tadi kita sebutkan.
(55:37) [batuk] [berdehem] yaitu pertama [berdehem] yang pertama syafaat untuk orang-orang yang beriman dalam keadaan masih ee dalam artian masih ada iman di hatinya yang mereka itu secara perhitungan amal berhak masuk neraka. [berdehem] Secara perhitungan amal berhak masuk neraka. Tapi dengan syafaat ini kemudian mereka tidak atau diselamatkan dari neraka.
(56:26) Mereka tidak jadi masuk neraka. Diselamatkan dari azab neraka dengan karunia Allah Subhanahu wa taala. [berdehem] Kemudian yang kedua [berdehem] syafaat bagi [berdehem] orang-orang yang masuk neraka. Ya, nauzubillah minzalik. Kita berlindung kepada Allah azza waalla dari azab neraka. Mereka ini masuk neraka kemudian mendapatkan syafaat dengan izin Allah untuk dikeluarkan dari neraka.
(57:19) [berdehem] Ya. Dan ini berbeda dengan apa yang disebutkan di akhir hadis tadi. Yang tidak tersisa kecuali Allah yang maha pemurah. Karena setelah ini masih ada lagi tetap masih ada orang-orang yang menghuni neraka. dari kalangan orang-orang yang masih punya keimanan di hatinya. Kemudian Allah Subhanahu wa taala yang menyelamatkan mereka [berdehem] dengan Allah Subhanahu wa taala yang menggenggam satu genggaman dan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang [berdehem] masih punya keimanan di hatinya meskipun sangat kecil untuk
(57:53) mereka diselamatkan dari azab neraka dan dimasukkan ke dalam surga. [berdehem] Itu yang kedua. Sebagian ulama menambahkan ada lagi syafaat ya yang tadi sudah kita isyaratkan dalam penjelasan di tengah-tengah [berdehem] kajian kita yaitu syafaat bagi orang yang masuk surga untuk dijadikan derajatnya lebih tinggi di surga.
(58:23) [mendengus] Ingat surga itu kan apa? Darajat bertingkat-tingkat ke atas. Kalau neraka istilahnya darakat, bertingkat-tingkat ke bawah. [batuk] [berdehem] Kalau neraka semakin ke bawah semakin dahsyat azabnya. Naudubillah minzalik. Kalau surga semakin tinggi semakin tinggi kenikmatannya. Ya, makanya kita diperintahkan meminta surga Firdaus surga yang paling tinggi.
(58:51) Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Kalau kalian minta kepada Allah surga, maka mohonlah surga firdaus. Karena itu surga yang paling tinggi dan paling di tengah-tengah yang di at yang di atasnya yang menjadi atapnya langsung adalah arsnya Allah Subhanahu wa taala yang maha pemurah.
(59:23) Ini surga yang paling tinggi di paling di atas paling dekat dengan Allah Subhanahu wa taala karena Allah maha tinggi di atas arsynya. Sehingga penghuni surga ini lebih sering bisa mendapatkan kenikmatan tertinggi yaitu bertemu dan memandang wajah Allah Subhanahu wa taala yang maha indah yang maha agung. Yang jelas kedudukan yang tinggi seperti ini itu juga Allah Subhanahu wa taala ya jadikan bisa didapatkan dengan izinnya oleh orang-orang yang bertauhid dengan benar.
(59:55) orang-orang yang selalu setia mengikuti sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di surga nanti. Ya. Maka jemaah sekalian hafidakumullah ini pembahasan yang tadi kita katakan bukan sekedar untuk belajar akidah dalam artian menambah wawasan kita, tapi ini berhubungan dengan amal, berhubungan dengan motivasi bagi kita untuk semangat.
(1:00:22) dalam mengamalkan kebaikan-kebaikan yang Allah Subhanahu wa taala turunkan dalam agama ini benar-benar bermanfaat untuk keselamatan, kemuliaan, dan kedudukan yang tinggi yang Allah Subhanahu wa taala mudahkan bagi orang-orang yang beriman di dunia dan di akhirat nanti. Oleh karena itu, sekali lagi ini menjadikan kita bersabar dalam kehidupan di dunia ya.
(1:00:47) [berdehem] bersabar ketika mengusahakan keimanan, ketika belajar agama, [berdehem] ketika menjaga [tertawa] keteguhan iman kita di atas agama Allah Subhanahu wa taala. Karena janji dan keutamaan yang demikian besar yang Allah Subhanahu wa taala peruntukkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan di dunia sampai di akhirat nanti.
(1:01:15) Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Al-Qur’anitullahina amanu bilquyat dunya wafil akhirah. Allah akan meneguhkan keimanan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, yakni dua kalimat syahadat yang dipahami dan diamalkan dengan benar. Allah akan meneguhkan keimanan orang-orang yang beriman ini dengan ucapan yang teguh tadi dalam kehidupan di dunia dan di akhirat nanti.
(1:01:46) Barakallahu fikum. Nah, demikianlah pembahasan tentang masalah meraih syafaat yang bisa kami bawakan di kesempatan kajian kita di pagi menjelang siang hari ini. Semoga apa yang kita bahas dan kita kaji bermanfaat, memotivasi kita untuk semakin semangat [berdehem] mempelajari agama ini. Utamanya mempelajari tauhid dan menjauh menjauhkan segala sesuatu, segala bentuk kesyirikan.
(1:02:15) Juga semangat mempelajari sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dan menjauhkan kita dari segala sesuatu yang menyimpang dari petunjuk beliau. Kemudian semakin kita mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa taala mengenal manhaj salaf, manhaj para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Karena inilah yang akan menyelamatkan akidah kita, keyakinan kita dengan izin Allah Subhanahu wa taala.
(1:02:39) Sehingga dengan sebab itu kita tidak terhalangi untuk meraih keutamaan-keutamaan dan kemuliaan-kemuliaan yang Allah Subhanahu wa taala janjikan bagi orang-orang yang beriman di dunia terlebih-lebih di akhirat nanti. Barakallahu fikum. Baik jemaah sekalian. [berdehem] Baik jemaah sekalian hafidakumullah. Sebelum kita akhiri kajian, kalau ada pertanyaan yang ingin disampaikan maka saya persilakan.
(1:03:14) Barakallahu fikum. sallallahu alaihi wasallam wabarak ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasbihi ajma walhamdulillahi rabbil alamin. Silakan kalau ada pertanyaan. [berdehem] [berdehem] Bagaimana dengan hadis yang mengatakan akan keadaan kita di akhirat itu nafsi-nafsi [berdehem] bagaimana orang saleh bisa memberi syafaat.
(1:04:09) Apakah setelah [berdehem] mereka orang saleh itu selesai dengan urusannya? Iya. ayat Al-Qur’an ataupun hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam [berdehem] yang menyebutkan makna ini nafsi-nafsi ya seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an misalnya yauma tamliku nafsun linafsin wal amru yaumaidin lillah [tertawa] pada hari kiamat nanti yang ketiga itu tidak ada seorang pun yang punya kekuasaan untuk orang lain dan urusan semua itu adalah kembali kepada Allah.
(1:05:01) Ya, ayat ini sudah menyebutkan urusan kembali kepada Allah ketika Allah izinkan. Maka Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Maksudnya di akhirat nanti tidak ada orang yang bisa diselamatkan dari orang lain sesuai dengan keinginannya tapi semua dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Ya, seseorang tidak bisa menyelamatkan dirinya kecuali dengan sebab amal yang dilakukannya.
(1:05:26) Ketika dia ingin selamatkan dirinya sesuai keinginannya, padahal dia tidak beramal di dunia, dia tidak akan mendapatkan seperti apa yang diinginkannya itu. Karena pada hari kiamat nanti Allah Subhanahu wa taala yang menentukan segalanya. Jelas ayat-ayat atau hadis seperti ini tidak bertentangan dengan syafaat. Karena syafaat hadisnya juga banyak [berdehem] ya.
(1:05:46) Jadi ini tidak ada pertentangan karena maksud dari keadaan kita di akhirat nanti nafs nafsi itu artinya kita tidak bisa menyelamatkan orang lain karena dia teman kita, karena dia saudara kita, karena dia misalnya orang yang terdekat dengan kita. Makanya Allah azza waalla berfirman tentang hari kiamat nanti bagaimana? Ya, [berdehem] pada hari kiamat nanti seseorang akan lari dari saudaranya, dari bapak dan ibunya, dari istri dan anaknya.
(1:06:34) Karena masing-masing mereka memiliki urusan yang menyibukkan dirinya sendiri. Nah, adapun orang-orang yang beriman karena Allah Subhanahu wa taala selamatkan mereka dari perhitungan azab pada waktu itu, ya. Kemudian setelah itu mereka akan memberi syafaat dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Nah, I silakan. Iya, Pak. Silakan.
(1:07:05) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee Ustaz amalan-amalan apa yang orang tua itu tinggal tinggal mati kecil anaknya kira-kira [berdehem] nanti kita sama anak doakan [berdehem] ya anak tersebut gak perlu didoakan Pak karena otomatis sunah. Jadi anak yang meninggal sebelum balik, jangankan anak orang beriman, anaknya orang kafir saja masuk surga.
(1:07:40) Itu mendapat menurut pendapat yang terkuat. Y di dalam hadis Isra Mikraj, hadis sahih Bukhari dan Muslim ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam bertemu dengan malaikat ee dengan Nabi Ibrahim melihatnya di surga, ya maka Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada malaikat Jibril karena ketika itu Nabi Ibrahim banyak anak-anak di sekitarnya yang bermain-main.
(1:08:05) Kata ee waktu Nabi sallallahu alaihi wasallam tanyakan kepada malaikat Jibril tentang anak-anak itu, maka malaikat Jibril mengatakan, “Hum kullu mauludin mata alal fitr.” [berdehem] Mereka itu semua anak-anak kecil yang wafat di atas fitrah. Yakni yang belum baligh, belum kena beban syariat. Mati di atas fitrah. Dan ada hadis yang lain seperti ada hadis riwayat Imam Albazar juga dinyatakan sahih oleh Syekh Albani rahimahullahu taala.
(1:08:32) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, [berdehem] “Aku mohon kepada Allah tentang anak-anak kecil yang masih bermain-main agar Allah tidak mengazab mereka, maka Allah berikan itu kepadaku.” Jadi anak-anak kecil, orang kafir saja masuk surga. Apalagi ada yang orang yang beriman yang tentu mereka mengikuti orang tuanya dalam keimanan.
(1:08:58) Jadi mereka tidak perlu kita doakan. [berdehem] Yang perlu adalah doa untuk kita agar mereka bisa memberi syafaat kepada orang tuanya. Minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan yang kita lakukan di dunia adalah ya tadi berusaha supaya memenuhi syarat menjadi orang yang diridai oleh Allah agar bisa mendapatkan syafaat tadi.
(1:09:21) Yaitu apa? Bertauhid dengan benar. Belajar tentang lailahaillallah apa maknanya. Kemudian amalkan. Syahadat Muhammad Rasulullah. Apa maknanya? Praktikkan. Itu yang kita usahakan agar kita menjadi orang yang memenuhi syarat agar mendapatkan syafaat di sisi Allah Subhanahu wa taala. Nah, [berdehem] silakan yang lain masih ada pertanyaan.
(1:09:45) Iya. Waalaikumsalam. ee di luar teknik berkaitan dengan orang yang tidak [tertawa] hari Ustaz yang tidak yang tidak tidak beriman. Apakah itu menjadi salah satu pembatal keislaman? Karena banyak di ee kalangan orang yang saat ini ee beragama Islam tapi tidak mempercaya hari akhirat? [berdehem] Ya jelas sudah pasti itu membatalkan keislaman.
(1:10:17) [berdehem] Orang yang mengingkari hari kebangkitan. [berdehem] Jelas Al-Qur’an mengatakan zaadina kafaru allau. Orang-orang kafir mereka mengatakan mereka tidak ada dibangkitkan pada hari kiamat. Ini kufur kekufuran yang sangat nyata. [berdehem] Ya, jangankan mengingkari semua, mengingkari satu saja perkara yang disebutkan di akhirat kufur ya bisa menjadi sebab pekafiran yang jelas-jelas disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih ya.
(1:10:50) [berdehem] Jadi apalagi mengingkari secara keseluruhan ini jelas merupakan pembatal keislaman. Karena iman kepada hari akhir ini justru merupakan salah satu ya penebang keimanan yang sangat besar. Karena keimanan kepada hari akhir itu kan maksudnya mengimani peristiwa-peristiwa yang Allah Subhanahu wa taala sebutkan di hari akhirat.
(1:11:11) Di hari akhir nanti berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Seperti tadi mengimani masalah syafaat, mengimani apa ini yang ee orang-orang yang akan melintasi sirat, jembatan di permukaan neraka jahanam. Mengimani adanya perhitungan amal, timbangan amal, ada hisab ini kan semua.
(1:11:32) hal-hal yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir. Mengingkari salah satunya saja bisa menjadikan batal keislaman, apalagi mengingkari keseluruhannya. Nauzubillah minzalik. Nah, apa ini? Ada anak yang belum balig pertanyaan tentang anak yang belum balig [berdehem][batuk] bisa memberikan syafaat. Apakah [berdehem] apakah termasuk bayi yang belum lahir keguguran? Iya kan begini.
(1:12:24) Bayi yang belum yang keguguran itu kan ada dua. Ada yang meninggal sebelum ditiupkan roh padanya, ada yang meninggal setelah ditiupkan roh padanya. Kalau sudah ditiupkan roh padanya, maka dia berlaku seperti manusia yang sudah hidup. Ya, [berdehem][batuk] seperti yang disebutkan di dalam hadis riwayat Ibnu Mas’ud dalam Sahih Bukhari dan Muslim kan ditiupkan roh pada bayi itu setelah berusia 4 bulan ke atas.
(1:12:52) Iya kan? Kata Nabi [berdehem] sallallahu alaihi wasallam di situ alaihiq. Setelah itu Allah mengutus kepadanya malaikat di dalam kandungan ibunya kemudian ditiupkan roh padanya. Jadi setelah bersih 4 bulan ke atas. [berdehem] Makanya kata para ulama, kalau terjadi keguguran setelah usia ini, maka dia diperlakukan seperti manusia yang sudah lahir.
(1:13:18) Yakni dimandikan, dikafani, bahkan diberi nama. Kemudian disyariatkan untuk diakai, dilakukan nasikah, sembelih sembelihan untuk Allah untuk [berdehem] anak ini ya dalam rangka kelahiran anak ini. Karena dia sudah di yakni sudah ditiupkan roh padanya. Ya. [berdehem] Maka ketika dia sudah ditiupkan roh padanya, kan dia sudah menjadi manusia. Begitu.
(1:13:45) Jadi berbeda dengan keguguran yang sebelum itu yang berlaku yang belum berlaku belum ada rohnya sehingga belum berlaku hukum-hukum yang berlaku untuk manusia yang sudah hidup. Maka termasuk anak yang misalnya lahir kemudian ya wafat misalnya atau kek kuburan misalnya seperti itu juga kalau sudah usia-usia yang lebih besar lagi ya tentu termasuk dalam hal ini ya yang meninggal dunia sebelum sebelum balik.
(1:14:19) Nah, Pak Ustaz Asalamualaikum [berdehem] warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Kalau timbangan dari apa ditimbang tadi kebaluan baiknya dari orang tua misalnya dan ternyata memang ada sfat dari anak yang masih belum balik tapi misalnya ternyata tidak nyampai kuotanya misalnya enggak bisa masuk surga itu kira-kira gimana? Syafaat itu insyaallah yang menyalakan dia.
(1:14:47) Oh yang syafaat. Iya syafaat. [berdehem][batuk] Syafaat justru gunanya untuk itu Pak. Jadi secara timbangan amal dia lebih banyak keburukannya masuk neraka kan. Maka dengan sebab syafaat ketika Allah menerima syafaatnya maka itu akan menyelamatkan dia. Justru syafaat itu yang bermanfaat dalam hal-hal yang seperti itu.
(1:15:09) Nah, [berdehem] masih ada pertanyaan lagi satu lagi boleh. Iya boleh, Pak. Silakan. ee di surat Alsi salah ayat 78 sampai 15 orang-orang yang diberikan di sebelah kanan nanti pasti masuk surga dan orang-orang yang dibeli berapa dia? Nah, sekarang pertanyaan saya kalau bagaimana kalauang [berdehem] kurang jelas saya pertanyaannya Pak Mohon diulangi pertanyaannya kurang jelas apa gimana? di surat Alj sudah jelas e tinggal pertanyaannya yang terakhir Pak pertanyaan iya pertanyaannya orang-orang yang diberikan rukun catatan
(1:15:58) sebelah kanan dia masih bergembira kepada orang iya masuk surga ya orang yang diberikan seberapa dan dia akan beraka masuk sekarang orang-orang yang sama-sama barik ada [berdehem] orang-orang yang sama timbangan amal kebaikan dan keburukannya. [berdehem] Iya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti misalnya kisah Ashabul A’raf yang berada di tengah-tengah antara surga dan neraka.
(1:16:40) Ya, ini adalah orang-orang yang seperti itu keadaannya. Dia tidak dimasukkan ke dalam surga awalnya juga tidak dalam neraka. [berdehem] Yang kemudian setelah itu Allah Subhanahu wa taala muliakan mereka dengan karunianya untuk dimasukkan ke dalam surga. Al kulihal ya orang-orang seperti ini ada.
(1:17:01) Tapi Allah Subhanahu wa taala tentu saja ya ketika orang-orang seperti ini kan berarti dia masih punya keimanan di hatinya. Kenapa diperhitungkan amalnya? masih ada amal-amal kebaikannya meskipun seimbang dengan keburukan, berarti dia masih ada imannya. Kan? Semua orang yang beriman kan ujung-ujungnya masuk surga. Ada yang masuk dari awal, ada yang kemudian diazab dulu, kemudian dibersihkan.
(1:17:24) Tapi ujung-ujungnya setiap orang yang beriman pasti dimasukkan ke dalam surga. Salah seperti yang kisah yang disebutkan tadi tentang Ashabul A’raf yang disebutkan di dalam Al-Qur’an di surat Ala’raf itu [tertawa] bab. Cukup sampai di sini kajian kita. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang. Shallallahu wasallam wabarak ala nabina Muhammadin waa alihibihi waman yaumiddin. Walhamdulillahiabbil alamin.
(1:17:54) Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz Abdullah Taslim, Lc MA – Meraih Syafaat – YouTube
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply