min tasnim aina yasrabu bihal muqarrabun innalladina amanu [bernyanyi] yadhakun waidza [bernyanyi] marruu bihim yatagamzun waidzanqalabu ila ahlihimunqalabu fakihin waidza raahuhum [bernyanyi] qalu inna haulun wama ursilu alaihim hafidin fal yaumalladina [bernyanyi]
amamanu minal kuffari yadhakun arikurun haluwwibal kuffaru [bernyanyi] maa kaanu yaf’alun. Bismillahirrahmanirrahim. qat wainat lirabbiha wauqqat waidzal ardhu muddat wa alqat maa fiha wa takhallat waadinat lirabbiha wauqqat ya ayyuhal insanu Innaka kadhun ila rabbika kadhan
famulaqih. Faamma man utiya kitabahu biyaminih [bernyanyi] fasaufa yuhasabu hisaban yasira waanqaribu ila ahlihi masrura. Wa amma man utiya kitabahu [bernyanyi] warahrih fasaufa yad’u tsubura waasla sa’ira. Innahu kaana fi ahlihi masrura. Innahu allay yahur bala inna rabbahu kaana bihi basira. Fala
[berteriak] uqsimu bisyafaq wallaili wama wasaq walqamariasaqarkabunna tabaqan tabaq fama lahum laa yukminun waidza quri alaihimul quranu laa yasjudun. kafaru yukadzibun wallahu a’lamu bima yuun fabasyirhum biadzabin alihim illalladina [bernyanyi] amamanu wailus shhati lahum ajrun ghairu mamnun Bismillahirrahmanirrahim.
Wassama dzatil buruj walyaumil ma’uj. warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wa nastagfiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayyiati a’malina. May yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadialah. Wa ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.
Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi ya ayyuhanasqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahidah walaqo minha zaujaha wab minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahzi ya amanutaqulaha waan sad yuslih lakumalakumagfirakum dunubakum w yutiillaha waasulahu faqad faza fauzanima
amma ba’du fain asdaqal had kitabullah wiriral hadu muhammad bidatinalah waatin finar w alhamdulillah maasyiral ikhwah c sini masuk Tib. Barakallahu [berdehem] fikum. Maasyiral ikhwah wal akhwat fiddin hafidakumullah. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala. Kita memuji dan menyanjungnya atas semua
limpahan nikmat dan karunia-Nya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang mudahkan taufiknya bagi kita semua di malam hari ini untuk kita kembali mengadakan majelis ilmu yang mulia di Masjid As-sunah yang mubarak ini. di lanjutan kajian membahas kitab yang sangat bermanfaat, kitab Al-Aqidatut Thahawiyah karya dari Al Imam Abu Jafar at-Tahawi rahimahullahu taala dengan penjelasan dari Imam Ibnu Abil Is al-Hanafi rahimahullahu taala.
kita masih lanjutkan sedikit ya pembahasan yang lalu tentang ee Nabi sallallahu alaihi wasallam diutus sebagai nabi yang terakhir [berdehem] atau apa ini? Nabi sallallahu alaihi wasallam diutus untuk semua jin dan manusia. Di bagian ee pembahasan yang bagian akhir-akhir ada penjelasan dari Al Imam Ibnu Abil Iz Alhanafi rahimahullah taala. Kita baca.
Wa amma qulu ba’din nasoro innahu rasulun ilal arabi khasotan fadahirul butlan. Adapun ucapan sebagian orang-orang Nasrani yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah rasul yang diutus kepada orang Arab saja, orang Arab khusus saja. Maka ini jelas kebatilannya. Ya, ini ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis yang sahih menunjukkan bahwasanya beliau diutus kepada semua manusia.
[berdehem] Fa innahum lamma shoddaqu bir risalati lazimahum tasdiquu fi kulli ma yukhbiru bihi. Karena orang-orang Nasrani ini ketika mereka membenarkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul utusan Allah, maka harusnya mereka membenarkan dalam semua yang beliau beritakan dan termasuk yang beliau beritakan hadis yang kita baca kemarin, lima perkara yang diberikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam ya di bagian akhirnya yang kelima.
Wan nabi yubu wbi yubu khotan waman. Dulunya para nabi diutus kepada kaumnya khusus, sedangkan aku diutus kepada semua manusia. Jadi harusnya juga mereka benarkan berita yang disampaikan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam di hadis ini. [mendengus] Waq innahu rasulullahianasi amatan. Padahal Nabi sallallahu alaihi wasallam jelas-jelas telah bersabda bahwa beliau telah diutus oleh Allah Subhanahu wa taala kepada semua manusia.
Hadis sahih riwayat Imam Muslim. Ini juga sudah kita baca di pertemuan lalu. Arrasul la yakbu rasul shallallahu alaihi wasallam la yakibu falima tasdiquu hatman falaq arsala rasulahu wa baat kutubahu fi aqtoril ardhi ila kisro waqaisar w najasiyi wa muqauqis wasairi [berdehem] mulukil yadu ilal islam ya rasul sallallahu alaihi wasallam tidak mungkin mungkin tidak akan berdusta, maka wajib untuk membenarkan beliau secara pasti.
Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam juga telah [berdehem] mengutus utusan-utusan, mengirim tulisan-tulisan atau surat-surat ajakan masuk Islam kepada segenap penguasa atau raja di berbagai penjuru dunia ini. kepada Kisra raja Persia, Qaisar raja Romawi, kemudian Najasyi, Muqukis dan semua raja-raja yang ada di berbagai penjuru negeri untuk mengajak mereka kepada Islam.
Ini menunjukkan kalau seandainya Nabi sallallahu alaihi wasallam hanya Nabi untuk orang Arab khusus, maka tidak akan mungkin beliau mengirim surat mengutus utusan-utusan kepada penguasa-penguasa yang ada di berbagai belahan bumi tersebut. Ya, maka jelas sekali harusnya orang-orang yang membenarkan Nabi sallallahu alaihi wasallam sebagai rasul membenarkan berita yang beliau sampaikan dan kisah yang berhubungan dengan dakwah beliau kepada semua raja-raja tersebut.
Tiib. Kemudian waquluhu. Ucapan Imam Abu Jafar at Thaahawi. Selanjutnya waafatal warao. Ada pernyataan beliau. Beliau sallallahu alaihi wasallam ada pernyataan dari Imam Athawi bahwa beliau sallallahu alaihi wasallam mabut ila amatil jinni wafatil war diutus kepada semua jin dan seluruh manusia jadi kafatil wara seluruh manusia kafah di sini disebutkan majrur ya dan di sini nadar fihi nadar artinya nya ada masalah di sini sebagian ulama ahli bahasa Arab tidak membolehkannya.
Fainnahum qolu lam tustmal kafah fi kalamil arabi illa halan. Para ulama ahli bahasa Arab mengatakan kalimat kafah ya dalam ucapan orang Arab tidak digunakan kecuali sebagai hal. berarti dia harus mansub seperti wama arsalnaka ya illa kafatan linnas [berdehem] ya ini kan juga mansub ya ayyuhalladzina amanu dkulu fisilmi kaat wala tattabiu khutuati setitan semuanya pakai fathah karena dia dalam keadaan sebagai hal kedudukannya Tib waktalafu fiobiha fi quhi taala.
Dan mereka berselisih pendapat tentang masalah rabnya, tentang ini masalah yang berhubungan dengan nahwu ya. Dalam firman Allah di surat Saba ayat 28, wama arsalnaka illa kafatan linnas. Kami tidak mengutusmu wahai Rasulullah kecuali kafah untuk seluruh manusia. Ada tiga pendapat di sini ala kulihal [berdehem] ya.
Kita [mendengus] sebutkan dengan ringkas saja. Ada yang mengatakan ini hal dari kaf. Kami mengutusmu dalam keadaan kecuali dalam keadaan keseluruhan bagi manusia. Ya. Dan ini dikatakan dia kafa di sini sebagai isim fa’il. Jadi kafun asalnya atau kafan yang kemudian ditambahkan ta untuk mubalagah.
Ya, ini penjelasan dalam bahasa Arabnya seperti itu ya. Yang berarti artinya yang ini menunjukkan artinya adalah a illa kafan linasiil batil. Kami tidaklah mengutusmu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kecuali untuk kaf. Kamu mencegah manusia dari kebatilan, menjaga mereka dari kebatilan. Ya, karena kaf artinya mencegah atau menjaga begitu ya.
[tertawa] [mendengus] Tayib. [berdehem] Ada juga yang mengatakan dia masdar dari kafa yaakuff ya. [mendengus] Ya, kurang lebih tadi maknanya seperti yang pertama. Pendapat yang kedua hal penjelasan hal dari kata-kata annas ini juga ada sebagian yang memprotesnya. Kenapa ya halnya datang terlebih dahulu? Al kuli hal ini juga pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Malik rahimahullahu taala.
Berarti untuk makna yang kedua adalah w arsalnaka illa linasi kafatan. Begitu takdirnya. Kami tidaklah mengutus engkau wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kecuali untuk manusia seluruhnya. Untuk manusia seluruhnya. Yang ketiga, dia sebagai sifat dari sebuah masdar yang dihapuskan. Ini takdir dalam bahasa Arab yakni pelajaran nahwu ini ya.
[mendengus] Jadi takdirnya adalah risalatan kafatan. Membawa risalah yang menyeluruh bagi semua manusia. Ya. [berdehem] Jadi tiga kemungkinan inilah yang disebutkan secara nahwu dari kalimat ya wama arsalnaka illa kafatan linnas. Tidaklah kami mengutus engkau wahai Rasulullah kecuali keseluruhan untuk keseluruhan manusia.
Nah, [berdehem] waquluhu bilhaqqi wal huda wabinuri wadya. Beliau membawa kebenaran dan petunjuk serta cahaya dan penerangan. Ya, beliau sallallahu alaihi wasallam diutus kepada semua jin dan seluruh manusia. dengan membawa kebenaran dan petunjuk serta cahaya dan penerangan. Had aus ma jaa bihi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam minaddini wasyaril muayyadi bil barahin albahirati minal qurani wasairil adillah.
Ini adalah sifat sifat dari petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berupa agama yang jelas syariat yang didukung dengan dalil-dalil yang sangat terang dari Al-Qur’an dan semua dalil-dalil yang lainnya. Kita tahu Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang dinyatakan juga sahih oleh Syhlah Albani rahimahullahu taala.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Laq tarukum alil baid lailuhaha kanaha la yazigu anha ba’di illa halik. Sungguh aku telah tinggalkan kalian wahai umatku di atas petunjuk yang putih bersih terang benerang. Saking terangnya lailahariha malamnya saja seperti siangnya. Saking terangnya, jelasnya petunjuk Islam.
Tidaklah menyimpang dari petunjukku yang terang benenderang ini kecuali orang yang binasa. Naudubillah minzalik. Jadi jelas sekali ketika disebutkan dengan empat sifat ini maka sesuai dengan sifat yang ada pada petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Wadya akmalu minanur.
Dikatakan di sini cahaya anur wadya diya itu lebih sempurna daripada cahaya, lebih terang daripada cahaya. Makanya Allah berfirman di surat Yunus ayat keelualladzi ja’alasyamsa walar nuro. Dialah Allah yang menjadikan matahari itu di sangat terang. Sedangkan bulan cahaya. Yakni cahaya terang tapi lebih terang lagi addya.
Karena matahari tentu lebih terang dibandingkan rembulan. Nam itulah penjelasan yang berhubungan dengan diutusnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada semua jin dan seluruh manusia dengan membawa petunjuk yang sangat terang benderang sebagai penerang jalan manusia. Oleh karena itu kita ulang berkali-kali berpegang teguh dengan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan benar itu akan menjadi sebab penerangan bagi jalan kita akan menjadi sebab yang menjauhkan kita dari segala bentuk kegelapan, segala bentuk
hal-hal yang menyesatkan. Ya, oleh karena itu, iblis laknatullah alaihi akan berusaha memalingkan manusia dari menuntut ilmu sunah. Karena dengan sebab itu dia bisa menyesatkan manusia dalam kegelapan dan menjerumuskan mereka ke dalam kebinasaan sesuai dengan keinginannya ketika manusia hidup di dalam kegelapan. Ya, liannal ilma nurun.
Karena ilmu adalah cahaya. Tib. Kita masuk pembahasan berikutnya masih berkenaan dengan masalah akidah ahlusunah wal jamaah. [berdehem] Ya, [mendengus] diterangkan di sini kata Imam Abu Jafar at-Thawi rahimahullahu taala, wa innal qurana kalamullahi. Ini termasuk akidah ahlusunah wal jamaah.
Dan sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah. Ya, Al-Qur’an [berdehem] artinya Al-Qur’an itu adalah firman Allah Subhanahu wa taala yang ditulis di mushaf atau yang dihafal di dada para penghafal Al-Qur’an ataupun yang dibaca oleh imam ketika salat ataupun seorang qari yang membacanya. Ya. [berdehem] Jadi di sini kita harus ingat Al-Qur’an itu adalah yang dibaca atau yang tertulis di mushaf.
Itu adalah firman Allah. Dan firman Allah adalah sifat kesempurnaan Allah. Karena yang namanya ucapan itu dinisbatkan kepada yang pertama kali mengucapkannya. Jadi ketika diucapkan oleh manusia yang terlafaz itulah Al-Qur’an. Ya, tentu manusia mengucapkan dengan ucapannya sendiri, tapi yang diucapkan adalah Al-Qur’an. Saat ini misalnya saya mengatakan kepada antum, “Ya, innamal a’malu bin niyat.
” Sesungguhnya amal tergantung niatnya. Saya yang mengucapkan tapi antum pasti mengatakan itu adalah hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. [batuk][berdehem] Ya, jadi yang saya baca tadi itu adalah hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya ketika dikatakan Al-Qur’an adalah kalamullah, jangan lagi ada yang bertanya, “Loh, bagaimana mushafnya? Kan itu ada lembaran kertas.
” Ini pertanyaan yang bodoh. Kan yang dibilang bukan [berdehem] kertasnya, bukan mushafnya, tapi yang tertulis di situ. Itulah kalamullah ya. [berdehem] Yang ditulis di di mushaf Al-Qur’an yang dibaca yang antum dengarkan ketika dibaca oleh imam dan yang ada di dalam hati para penghafal Al-Qur’an.
Ayat-ayat yang dihafal itu itulah Al-Qur’an. Kalamullah, firman Allah ini termasuk sifat-sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa taala. minhu badaa bila kaifiyatin ula wa anzalahu ala rasulihi wahya wahyan dari Allah subhanahu wa taala pertama kali [berdehem] ya firman Allah ini tanpa ada kaifiah yakni tanpa kita perlu menanyakan kaifiahnya karena yang jelas berbeda dengan cara makhluk mengucapkan ucapan ya ini adalah firman Allah turunkan kepada rasulnya sallallahu alaihi wasallam sebagai wahyu darinya.
Wasoddaqahul mukminuna ala dalalika haqqo. Yang kemudian itu dibenarkan oleh orang-orang yang beriman atas hal itu dengan sebenarnya. Waqonu annahu kalamullahi taala bil haqqiqah. Dan mereka meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah firman Allah dengan sesungguhnya. Benar-benar Allah berfirman ya dengan kata-kata dan ucapan yang didengar, dengan suara yang didengar.
[berdehem] Ya, yang tentu kita selalu meyakini firman Allah itu sifat Allah berarti tidak mungkin sama dengan apa yang ada pada makhluk. Karena Allah Subhanahu wa taala berfirman, azubillahiminasyaitanirjim. Laaisa kamlihiun wahu samiul bir. Tidak ada sesuatu yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat.
Makanya antum lihat di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala menyebutkan qallah Allah berfirman, Allah berbicara. Kemudian [berdehem] ya Allah subhanahu wa taala nada memanggil [berdehem] memanggil Nabi Musa alaihi salalatu wasalam. Jadi, annida ini menunjukkan Allah berfirman. Cuman annida itu kan digunakan kalau dalam bahasa kita untuk memanggil orang yang jauh.
Ya. Kemudian Allah juga yunaji waqarabnahu najian. Allah Subhanahu wa taala bermunajat. Yakni naji itu artinya berbisik, memanggil orang yang dekat. Begitu [berdehem] ya. Jadi semua ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala berfirman dengan kata-kata yang didengar ya dengan lafaz dengan suara yang tentu semua ini adalah sifat-sifat kesempurnaan Allah yang tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk.
Enam. Laisa bimakhluqin kakamil bariah. Tentu tidak sama firman Allah atau Al-Qur’an itu bukanlah makhluk seperti ucapan manusia. Ya, di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa taala menamakan firman-Nya yang diturunkan disebut sebagai kalamullah. Yang diturunkan di dalam Al-Qur’an sebagai kalamullah. Wa ahadum minal musyrikinastajaroka faajirhu hatta yasmaa kalamallahi abighumanah.
Jika ada salah seorang di antara orang musyrik meminta perlindungan darimu wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam maka berikanlah perlindungan kepadanya supaya dia bisa mendengarkan firman Allah. Artinya apa? Firman Allah di sini Al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin, yang dibaca oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.
Jadi kalau ada orang musyrik meminta perlindungan, terima, terima permintaannya, tinggalkan dia di dekat masjid supaya nanti dia akan mendengarkan bacaan Al-Qur’an waktu kaum muslimin salat atau bacaan Al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin di masjid. Ini yang dimasukkan di ayat tadi. Hatta yasmaa kalamallah.
supaya dia bisa mendengarkan firman Allah yang dengan sebab itu dia dapatkan petunjuk masuk Islam. Jelas sekali Allah menamakan Al-Qur’an yang dibaca sebagai kalamullah, sebagai firman-Nya. Inilah keyakinan akidah ahlusunah wal jamaah. Nam. Diterangkan di sini [berdehem] oleh Imam Ibnu Abil Iz Al-Hanafi rahimahullahu taala. Wa quluhu wa innal qurana kalamullahi minhu bada kaifiyatin ya sampai terakhir tadi.
Faman samiahu fazza’ama annahu kalamul basyar faqad kafar. Iya, [berdehem] ini masih lanjutan ucapan tadi. Maka barang siapa yang mendengarkan Al-Qur’an dan mengata dan menyangka itu adalah ucapan manusia, maka sungguh dia telah kafir. Waqadamallahu waabahu wa aadahu baqar. Allah mencelah ya Allah [tertawa] menyebutkan kejelekan ini serta mengancam orang yang berkata seperti ini dengan neraka sakar.
Haitu qala taala. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa taala di surat almuddattir ya. Inza illa qulul basyar sauslihi saqor. Ya. [berdehem] Jadi Allah berfirman menyebutkan tentang orang kafir di dalam Al-Qur’an yang mengatakan tentang Al-Qur’an ini. Al-Qur’an ini tidak lain adalah ucapan manusia.
Ya faqala in hadza illa sihr yar in hadza illa qulul basyar sauslihi saqor orang kafir ini mengatakan tidak lain Al-Qur’an ini kecuali sihir dari zaman dahulu yang dipelajari dari zaman dahulu orang-orang zaman dahulu tidak lain Al-Qur’an ini kecuali ucapan manusia biasa langsung Allah berfirm sauslihi saqar kami akan masukkan orang yang berkata seperti ini di dalam neraka sakar yang menunjukkan ini kufur jelas-jelas menentang ayat Al-Qur’an.
Orang yang mengatakan seperti itu. Alimnaqahu khqil basar wal yusbihu basyar. Kita mengetahui dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah ucapan atau firman dari pencipta semua manusia yaitu Allah azza waalla dan tidaklah serupa dengan ucapan manusia. [berdehem] Ini juga satu kaidah atau satu akidah ahlusunah wal jamaah yang dalil-dalilnya sangat jelas, banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Bahkan tegas Allah sebutkan di ayat tadi tentang kufurnya orang yang mengatakan Al-Qur’an itu ucapan manusia. bersamaan dengan itu masih banyak kelompok-kelompok yang tersesat yang mengingkari keyakinan ini. Coba antum bayangkan ya, [berdehem] penyimpangan dalam hal ini bisa membawa kepada kekufuran dan dalil-dalil yang menjelaskannya sangat banyak dan sebenarnya mudah untuk kita pahami.
Kalau kita memegang prinsip atau kaidah apa yang Allah sebutkan kita tetapkan sesuai dengan apa yang Allah tetapkan bagi dirinya. Karena Allah, Allah lebih tahu tentang sifat kesempurnaan yang pantas bagi dirinya. Cuma kita nafikan dengan keserupaan dengan makhluk. Karena ayat yang tadi kita baca, laisa kamitlihi saiun wahuw samiul bashir.
Tidak ada satuun yang serupa dengannya dan dia maha mendengar lagi maha melihat. Selesai permasalahan, mudah kita pahami. Tidak [berdehem] perlu kita repot. Para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain ketika melewati ayat-ayat Al-Qur’an tentang sifat-sifat Allah, sifat kalam juga sangat banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Tidak ada seorang pun yang menanyakan ini maksudnya kalam? Apakah ini kalam? Benar-benar sifat Allah.
Ya, karena di sini Allah Subhanahu wa taala menisbatkannya, menggandengkannya dengan namanya sendiri. [berdehem] Dan kita tahu kalau makna yang digandingkan dengan nama Allah Subhanahu wa taala itu berarti adalah sifat Allah. Seperti inna rahmatallahi rahmat Allah berarti sifat Allah. Beda kalau benda atau makhluk yang digandingkan dengan Allah berarti itu penggandingan yang menunjukkan makna kemuliaan sebagai seperti baitullah atau untanya Nabi Saleh. Naqatullah.
Ini berarti sesuatu yang Allah muliakan dari makhluknya yang dinamakan dengan idofatut tasyrif. penggandengan yang menunjukkan makna pemuliaan. Begitu. Jadi, para sahabat tidak ada yang menanyakannya atau mengingkari hal seperti ini. Menunjukkan perkara seperti ini mereka pahami. Sebagaimana dalam yang kita pelajari dalam akidah ahlusunah wal jamaah, kita menetapkan sesuai dengan apa yang Allah tetapkan.
Dan tidak ada masalah sama sekali kalau kita mengatakan Allah Subhanahu wa taala memiliki sifat kalam. Ini menunjukkan sifat kesempurnaan. Dan Allah menegaskan dirinya qallah atau Allah mengatakan hatta yasmaa kalamallah sampai dia mendengarkan firman Allah. Ya. Jadi ini satu hal yang kita katakan selalu sungguh sangat beruntung dan bersyukur seorang yang mengenal akidah ahlusunah wal jamaah ya sampai di akhir zaman ini orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an sebagai kalamullah itu masih banyak yang menisbatkan dirinya kepada Islam. Ya, yang ini pernyataan sangat
berbahaya bisa membawa kepada kekufuran. Ya, kalau sampai [berdehem] menolak ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas menyebutkan tentang Al-Qur’an itu sebagai kalamullah yang berasal dari sisi Allah Subhanahu wa taala yang merupakan sifat-sifat kesempurnaannya. Nah, dijelaskan oleh Imam Ibnu Abil Izbnu Abil Iz Alhanafi rahimahullahu taala.
Hadzihi qidatun syarifah. Wa aslun kabirun min ushuliddin. Sesungguhnya ini adalah kaidah yang mulia dan merupakan satu landasan besar dari landasan atau prinsip-prinsip dasar agama ini. Dolla fiha thawaifu katsiratun minanasi. yang tersesat dalam hal ini kelompok-kelompok yang banyak dari kalangan manusia. Padahal Al-Qur’an diturunkan dengan jelas. Sudah kita katakan tadi mudah.
Allah mengatakan firmannya itu adalah kalamullah. Di ayat yang tadi kita baca kemudian di ayat lain apa? yuna kalamahi tumma yuharfunahu ba’di ma aqu wahum ylamun. Apakah kau masih menginginkan mereka akan beriman [berdehem] kepadamu? Padahal sebagian dari mereka sungguh telah mendengarkan kalamullah. Begitu lafaznya. Yasmauna kalamallah.
Kemudian mereka menyelewengkan maknanya setelah mereka memahami memahaminya dalam keadaan mereka mengetahuinya. Kan tidak mungkin mereka mendengarkan langsung dari Allah ya. [berdehem] Orang-orang musyrik ini mereka mendengarkan kalamullah dari siapa? Dari yang dibaca oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam atau yang dibaca oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain.
Itu dikatakan kalamullah. yang mereka baca adalah Al-Qur’an dan disebutkan di dua di ayat-ayat tadi ini sebagai kalamullah. Jadi, kenapa bisa terjadi? Banyak yang tersesat kata beliau di sini ya. Berarti seperti yang sudah kita sering sebutkan, mereka ketika membaca Al-Qur’an mereka tidak membacanya dengan ketundukan untuk mengimaninya, untuk menguatkan keyakinan.
Setiap membaca Al-Qur’an kalamullah. ini kalamullah. Bagaimana kalau kita menetapkan kalamullah berarti makhluk berarti begini berarti kita harus takwilkan dan seterusnya. Masyaallah. Padahal kalau mereka memahaminya dengan pemahaman para sahabat merujuk kepada pemahaman ahlusunah wal jamaah mereka sungguh akan selamat dari penyimpangan-penyimpangan seperti ini dengan taufik dari Allah Subhanahu wa taala.
Wahzi wadalladzi hakahu thahawiyu rahimahullah. Hual haqquadziat alaihil adillatu minal kitabi wasunati liman tadabbarahuma. Dan yang disebutkan oleh Imam Abu Jafar at-Thahawi di sini inilah kebenaran ya semoga Allah merahmatinya. Inilah kebenaran yang ditunjukkan di dalam banyak dalil dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bagi orang yang merenungkan Al-Qur’an dan sunah ini.
Ya. [berdehem] Jadi membaca Al-Qur’an merenungkan isinya, meyakini Al-Qur’an itu petunjuk, tidak membaca dengan mencurigai Al-Qur’an atau punya niat untuk mentakwilkan. Ya, sebagian dari mereka kan lebih lebih percaya kepada kaidah-kaidah sendiri yang mereka buat daripada ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca.
Itu pun kalau sempat mereka baca apalagi merenungkan isinya. Ya, ini yang menjadikan akhirnya tersesat. Padahal kalau orang membaca Al-Qur’an mencari petunjuk, mencari kebenaran, maka Allah akan tunjukkan baginya jalan kebenaran. Karena Al-Qur’an itu menunjukkan kepada jalan yang paling lurus. Inna hadal qurana yahdi lillati hiya aqwam.
Sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Ini bagi orang-orang yang niatnya benar ketika membaca kemudian merenungkan isinya. Tiib. Wasyahidat bihil fitratus salimatullati lam tugar bisubhati wasuki walil bailah. Dan ini dipersaksikan oleh fitrah manusia yang lurus, yang selamat, yang belum belum berubah dengan adanya syubhat, kerancuan-kerancuan atau syukuh keraguan, keragu-raguan, dan pemikiran-pemikiran yang batil.
Ya. Jadi seseorang dengan fitrahnya yang selamat akan meyakini kebenaran ini sesuai dengan penjelasan para ulama ahlusunah wal jamaah. Justru adanya syubhat-syubhat yang batil itu, pemikiran-pemikiran rusak itulah yang merusak keyakinan yang lurus dan benar. Ini [mendengus] Tib. [berdehem] Di sini beliau bawakan supaya kita lebih jelas bahwa banyak pemahaman-pemahaman bidah yang menyimpang dari akidah ahlusunah wal jamaah dalam memahami Al-Qur’an.
Kata Imam Ibnu Abil Iz Al-Hanafi rahimahullahu taala dan kita selalu ingat ya bahwa bahwa beliau ini ada di zaman orang-orang aaniyun ya ahli [berdehem] filsafat. Maka beliau selalu membantah mereka dalam menjelaskan masalah-masalah seperti ini. Apalagi yang berhubungan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala.
Tiib. Kata beliau di sini, waqadarqasu fi masalatil kalami ala tisati aqwal. Ya, manusia telah berpecah belah, berbeda pendapat, berselisih pendapat dengan sampai pada tingkatan perpecahan. Dalam masalah memahami Al-Qur’an sebagai kalamullah dalam sembilan pendapat, hanya satu pendapat ahlusunah, delapan semua menyimpang dari ahlusunah.
Coba antum perhatikan, yakni penyimpangan itu banyak ya. bersyukur seseorang yang dari awal ngaji langsung dia dengarkan Al-Qur’an adalah kama kalamullah minhu bada wa ilaihi yaud ya dari Allah berasal Al-Qur’an itu yakni firman Allah yang pertama kali mengucapkannya dan akan kembali kepada Allah di akhir zaman yakni kita langsung meyakini tapi orang-orang yang tidak dengarkan akidah seperti ini maka dia akan mengikuti pendapat-pendapat yang disebutkan di sini sampai sembilan pendapat hanya satu pendapat ahli ahlusunah wal jamaah. Yang
lain semua menyimpang. Coba antum bayangkan. Tib kita lihat yang ilan ini. Yang pertama anna kalamallahi hua ma yafidu alan nufusi min ma’ani imma minal aqlil fa’ali ba’dihim a min ghairihi w qulusi shobiati wa mutafalsifah yang pertama kalamullah itu adalah apa yang apa ini beredar di dalam diri kita, mengalir di dalam diri kita berupa maani makna-makna yang itu bisa jadi berasal dari alaqlu alaqlul fa’al, akal yang selalu berbuat.
Ini sebagian mereka mengistilahkan Allah dengan istilah seperti ini. Alaqlul fa’al kata sebagian mereka atau dari selainnya. Dan ini adalah ucapannya orang-orang shabiah dan ahli filsafat yakni tidak jelas. [berdehem] Dan buat apa kita mengambil pendapat mereka? Mereka juga asalnya bukan dari orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala dan hari akhir.
[mendengus] [berdehem] Ya. Dan terlalu repot kita memahami pemahaman seperti ini. Kita mengatakan Al-Qur’an kalamullah adalah sifat Allah dan sifat Allah adalah dari Allah Subhanahu wa taala. Jelas tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk. Dan semua sifat-sifatnya adalah sifat-sifat yang maha tinggi lagi maha sempurna.
Alhamdulillah. Mudah kita pahami tidak dengan perkataan-perkataan yang bikin kita pusing. Namaniha. Pendapat yang kedua annahu makhluk khalaqahullahu munfasilanu w qulul mtazilah. Al-Qur’an itu adalah makhluk Allah ciptakan terpisah dari dirinya. Dan ini adalah ucapan Muktazilah ya. [berdehem] Al-Qur’an adalah makhluk.
Jadi bedanya dengan tadi ayat yang tadi kita baca yang mengatakan in hadza illa qulul basyar. Al-Qur’an ini tidak lain adalah ucapan manusia. Kan sama makhluk yang Allah langsung sebutkan ancaman sauslihi sakar. Kami akan saya akan masukkan orang yang berkata seperti ini ke dalam neraka sakar. Ini yang mereka katakan. Naudubillah minzalik ya.
Waalituha yang ketiga annahu maknan wahidun qoimun bidzatillah wahual amru wahyu wal khabaru wal istikhbaru inubirahu bil arabiyati quranan wain ubirahu bil ibraniyati kana tauratan wahza qulu ibni kullab waman maahu kal asy’ari whairihi al-qur’an itu adalah makna yang ee atau kalamullah bukan Al-Qur’an ya.
Jadi kalamullah itu adalah makna makna yang satu yang ada pada zat Allah yaitu perintah larangan, berita ataupun istikbar, pengambilan berita, penyampaian berita. Kalau diungkapkan, kalau Allah mengungkapkannya dalam bahasa Arab, berarti dia jadi Al-Qur’an. Kalau di Allah mengungkapkannya dalam bahasa Ibranih, berarti jadi Taurat ini adalah pendap pendapatnya Ibnu Kulab dan [berdehem] yang sependapat dengannya seperti Al-Asy’ari dan yang selainnya [berdehem] ya.
Mereka mengatakan Al-Qur’an ini maknanya satu. Nanti kita akan sebutkan ya. Ini ahlusunah wal jamaah meyakini Al-Qur’an itu [berdehem] ya secara asalnya dia merupakan sifat Allah Subhanahu wa taala sifat zatiah. Artinya Allah Subhanahu wa taala maha kuasa untuk berbicara ya. [berdehem] Tapi kadang-kadang Allah Subhanahu wa taala menyampaikan ketika dia menghendaki maka dia berfirman kepada Nabi Musa alaihi salalatu wasalam seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika mikraj memerintahkan salat. Allah berfirman menurunkan wahyu dalam Al-Qur’an sebagaimana yang Allah turunkan kepada malaikat Jibril kemudian dibawa kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana Allah juga turunkan dalam kitab-kitab yang lain, kitab-kitab yang Allah berikan kepada para rasulnya alaihiusalatu wasalam.
Jadi ada naus sifat, ada afradus sifat. Ya. [berdehem] Adapun nau jenis sifat tersebut asalnya dia adalah qadim ya tidak berpermulaan. Yakni sifat yang ada pada zat Allah tapi ada satuan-satuannya. Ketika Allah berkehendak untuk berfirman, maka dia berfirman. Ketika tidak maka dia tidak berfirman sesuai dengan kehendaknya.
Enam. Rabiuha yang keempat annahu hurufun wa aswatun azaliyatun [berdehem] mujtamiatun fil azal. Wahadza qulu thifatun min ahlil kalami wain ahlil hadis. Kalamullah itu adalah huruf dan suara yang azali. Azali artinya kekal ke belakang ya. Mujtamiatun fil azal yang telah terkumpul di azal di [berdehem] dari zaman yang terdahulu yang tidak ada awalnya.
Ini adalah pendapat sekelompok dari ahlul kalam dan ahlul hadis. Yang kelima, khamisuha annahu hurufun wa aswatun. Lakin takallamallahu biha ba’da am yakun mutakalliman wul karyati wirihim. Kalamullah itu adalah huruf dan suara akan tetapi Allah berbicara dengannya setelah sebelumnya Allah tidak berbicara.
Ini bagaimana mungkin dikatakan Allah itu tadinya tidak berbicara kemudian berbicara berarti kalamnya makhluk. Berarti tadinya Allah disifati dengan sifat yang ter tercela, yakni bisu, tidak bisa berbicara. Nauzubillah minzalik. Ya, padahal kita tahu kalam adalah sifat kesempurnaan yang ada pada zat Allah Subhanahu wa taala ya [berdehem] kekal abadi sebagaimana sifat-sifatnya yang lain.
Ini ada ucapannya karramiah dan yang apa ini? Yang selain mereka. Sadisuha yang keenam. Annahu kalamuhu yarji anna kalamahu yarjiu ma yuhduhu ilmi qtihi wuhuibul mbaramilu ilaihi fi matolibil aliah. Bahwasanya firman Allah itu adalah kembali kepada apa yang Allah adakan. yang Allah adakan yakni yuhditsu yang ada Allah apa ini adakan baru dari ilmunya atau dari kehendaknya yang ada pada zatnya yakni mereka kalau membuat pengertian memang membikin kita pusing membacanya ya [berdehem] padahal tidak perlu seperti ini kalau
ingin memahami dengan mudah di dalam Al-Qur’an [mendengus] ini adalah pendapat dari penulis kitab almuktabar yang juga ini pendapat cenderung diikuti oleh Fahrur Rzi dalam kitab Mathalibul Aliah sabiuha yang ketujuh anna kalamahu yatadanu qoiman bidzatihi hua ma khalaqohu fi girihi w qulu Abi Mansur alma turidi.
Firman Allah itu adalah firman Allah itu mengandung makna yang berdiri pada zat Allah yang ada pada zat Allah. Dia kemudian menciptakan kalam itu pada selainnya. Jadi tetap dia mengatakan ini juga makhluk. Ya, ini adalah pendapat dari Abu Mansur Almaturidi. Ya, Maturidiyah. Yang ke-elapan annahu musarakun bainal maknal qadim alqoim bidzat waina ma yakluquu fi girihi minal aswad.
Wa qulu abil maali wamanahu. Kalamullah itu adalah musytarak. bergabung antara makna yang qadim yang terdahulu yang ada pada zat Allah dan antara apa yang Allah ciptakan pada selainnya berupa suara. Jadi mereka mengartikan ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa di sisi [berdehem] gunung itu, Allah menciptakan di sisi gunung tersebut suara yang kemudian berbicara kepada Musa. Ini batil pernyataan mereka.
Ya. Jadi Allah menciptakan pada selainnya suara yang kemudian didengar. Ini adalah pendapat Abul Ma’ali dan yang mengikutinya dan orang-orang yang sependapat dengannya atau mengikuti pendapatnya. Watasiuha yang kesembil annahu taala lam yazal mutakalliman id syaa wa syaa wa kaifa. Allah Subhanahu wa taala senantiasa ya mutakaliman bisa berbicara karena ini adalah sifat kesempurnaan.
Jika Allah menghendaki kapan Allah menghendaki bagaimana saja Allah menghendaki. Ya. [berdehem] Wahua yatakallamu bihi bisauutin yusma. Dan Allah berbicara dengan Al-Qur’an atau dengan kalamnya dengan suara yang didengar. Buktinya Nabi Musa mendengar suara Allah, mendengar firman Allah. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam mendengar firman Allah.
Ya, [berdehem] malaikat Jibril mendengar firman Allah azza waalla. Wa anna naual kalami qodimun. Dan bahwasanya nau jenisnya firman Allah itu qadim. Yakni tidak berpermulaan, senantiasa ada pada zat Allah. Waam yakunut ma [berdehem] asutul muayyanu qadiman. Meskipun suara tertentu yakni firman Allah yang tertentu misalnya yang didengar oleh Nabi Musa itu terjadinya pada waktu itu.
Karena Allah berfirman ketika itu. Wahadal maur min aimmati al hadis wasunah. Inilah yang disebutkan dari para imam ahlul hadis dan sunah. Jadi ada naul kalam, ada afradul kalam. Itu yang diistilahkan oleh para ulama. Jenis sifat kalam sendiri ini selalu ada pada zat Allah. Yakni Allah maha kuasa untuk berbicara kapan saja Allah kehendaki.
Kemudian dengan apa saja Allah kehendaki dan dengan cara bagaimana Allah menghendakinya. Ya. Kemudian ketika Allah berkehendak ini yang disebut dengan afradul kalam, satuan-satuan firman Allah ini yang baru yang ketika Allah berbicara dengan Nabi Musa alaihi salalatu wasalam, inilah firman Allah ketika itu.
Ketika Allah kehendaki lagi, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ketika Allah berfirman lagi kepada menurunkan Al-Qur’an kepada malaikat Jibril yang kemudian disampaikan kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ini semua adalah satuan-satuan kalamullah. Allah berfirman sesuai dengan kehendaknya ya, sesuai dengan keinginannya.
Tabaraka wa taala. Nam. Jadi inilah ya sembilan dari pernyataan atau pendapat di kalangan manusia dalam memahami kalamullah. Tentu yang terakhir inilah yang disebutkan dari para ulama ahlusunah wal jamaah. Barakallahu fikum. Ah. Cukup antum pahami yang terakhir saja karena ini lebih mudah dan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah.
Kita memahami kalamullah yakni berfirman berkata-kata ya manusia juga bisa berbicara tapi manusia jelas ucapan mereka tidak sempurna. Pembicaraan mereka pasti terbatas kebaikan-kebaikan yang ada padanya. Adapun firman Allah Subhanahu wa taala, sifat kesempurnaan Allah, makanya Al-Qur’an adalah sumber petunjuk dan sebaik-baik petunjuk penuh dengan keberkahan bagi orang yang membaca dan merenungkannya tentu tidak sama dengan ucapan yang ada pada manusia.
Barakallahu fikum. Tib. Cukup sampai sini insyaallah apa yang bisa kita baca di kesempatan kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita bisa mengambil faedah untuk pelajaran yang menambah keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Barakallahu fikum. Kita kumandangkan azan dulu. sudah waktu Allahu Akbar Allahu Akbar.
La ilahaillallah. Ashadu alla ilahaillallah. Ashadu anna muhammadar [musik] rasulullah. [musik] ashadu muhammah [musik] hayya alah Hayya
[musik] hayya alal falah. Hayya alal falah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Lailahaillallah. [musik] Oh
Iya. Barakallahu fikum. Kita jawab pertanyaan yang sampai di yang sampai ke Ana di sini. Ya, afan ustaz di luar tema, apakah boleh menjamak dan mengqasar salat dengan satu kali salam? Misalnya salat zuhur dan asar dijamak dan diqasar dengan salat empat rakaat sekaligus, yaitu dua kali tasyahud dan satu kali salam.
Karena umumnya yang kami ketahui adalah dengan salat dua rakaat untuk zuhur dan salat dua rakaat untuk asar dengan terpisah dua kali salam. Ya, itu yang benar. Yang terakhir ini. Kalau yang menggabungkan seperti ini, kita tidak tahu dari mana asalnya. Contoh yang disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih seperti salatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika beliau ee haji ya seperti jamak dan qasar sewaktu ee apa ini hari Arafah tanggal 9 Zulhijah.
Kemudian jamak takhir ketika mabit di Muzdalifah atau juga Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah mengqasar salat ketika di Mina tanpa dijamak ya. [berdehem] Dilaksanakan di salat zuhur dua rakaat salam. Kemudian nanti asar lagi dua rakaat. Kemudian ketika [berdehem] beliau jamak dilaksanakan dua rakaat.
Dua rakaat jamak takdim kemudian jamak takhir juga begitu. Yni azan dulu kemudian qat zuhur dua rakaat salam setelah itu qat lagi asar dua rakaat salam. Seperti itu yang kita ketahui. Adapun yang yang sekaligus seperti ini saya tidak mengetahui bagaimana mungkin salat digabungkan jadi dua. Dua salat digabungkan jadi satu dalam empat rakaat. Dua rakaat ini aneh.
Tidak pernah kita dengarkan yang seperti ini. Ya. Yang saya ketahui ini tidak ada dalilnya dan ini mengada-ngada [berdehem] ya. Kalau digabungkan zuhur dan asar dalam satu salat dua rakaat, dua rakaat jadi empat satu kali salam. Masyaallah. Ini satu yang sangat aneh sekali salat seperti ini. Barakallahu fikum.
Ini yang saya tidak ketahui apa yang menjadi landasan yang saya ketahui ini tidaklah dicontohkan di dalam sunah Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Mohon jelaskan dampak bagi orang-orang awam yang meyakini bahwa Al-Qur’an kalamullah dan bagaimana keyakinan ini menggiring mereka ke dalam kesesatan dan kekufuran.
Yakni meyakini Al-Qur’an kalamullah malah benar. Ini mungkin yang tidak meyakini begitu ya. Ya. Jadi meyakini Al-Qur’an kalamullah bagi orang awam mudah. Karena Al-Qur’an mengatakan demikian. Kalau mereka baca Al-Qur’an, wain ahadum minal musyrikinjar faajiru hatta yasma kalamallah. Jika ada salah seorang dari orang musyrik yang datang kepadamu ya Rasulullah, wahai Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya nanti dia bisa mendengarkan firman Allah.
Kan tidak mungkin orang musyrik ini langsung dengar dari Allah kan? Pasti dia mendengar dari mana? mendengar bacaan Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menjadi imam di masjid. Karena orang musyrik ketika dia minta perlindungan kan berarti dia tinggal di kalangan kaum muslimin. Dikasih tinggal dekat masjid, dibuatkan tempat tinggal dekat masjid maka dia akan sering mendengarkan imam membaca Al-Qur’an.
Begitu dikatakan dia supaya dia mendengarkan kalamullah yaitu Al-Qur’an yang dibaca. Berarti Al-Qur’an adalah kalamullah. Jadi mudah. Justru ini yang akan menyelamatkan. Kalau dia meyakini, [berdehem] jadi orang awam selama dia di atas fitrah ya, [berdehem] selama dia di atas fitrah maka dia akan waktu kita mendengarkan kita sampaikan kepadanya Al-Qur’an, kita katakan Al-Qur’an ini ucapannya siapa? Dia akan mengatakan ucapan Allah.
Ya. Sampai orang mengartikan misalnya apa ini? Sadaqallahul adzim. Maha benar Allah dengan segala firmannya. Berarti Al-Qur’an adalah firman Allah. Diyakini oleh orang-orang awam. Insyaallah selama fitrahnya masih benar, justru ini adalah keyakinan yang benar yang sesuai dengan fitrah manusia yang tetap ada pada orang-orang awam sebelum fitrahnya dirusak dengan berbagai kerancuan dan kesesatan.
Nah, adapun yang meyakini selain itu justru ini akan tersesat ya. Kalau meyakini Al-Qur’an itu adalah kalamullah ee adalah makhluk bukan kalamullah. Jadi ucapan makhluk ya sama dengan tadi yang disebutkan ancamannya akan dimasukkan ke dalam neraka sakar. Kemudian kalau begitu apa istimewanya Al-Qur’an kalau dia adalah ucapan biasa? Kenapa Al-Qur’an kita harus muliakan? Ya, kita harus dengarkan baik-baik waktu dibaca. Kita harus renungkan isinya.
Membaca satu huruf saja dapat pahala. Karena dia adalah kalamullah yang punya keistimewaan beda dengan ucapan yang lain. Ala kulihal ya Al-Qur’an kita tahu adalah mukjizat terbesar yang dimiliki oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang bukti-bukti, tantangan-tantangan yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an terhadap orang-orang Arab untuk mendatangkan yang seperti Al-Qur’an baik itu satu surat atau kurang dari itu, mereka tidak mampu.
Padahal mereka orang-orang yang bahasa Arabnya fasih. itu menunjukkan Al-Qur’an ini bukan dari manusia tapi firman Allah Subhanahu wa taala. Nam. Barakallahu fikum. Iya, silakan. Iya. Iya. [berdehem][batuk] Iya. Eh menurut penjelasan yang disebutkan oleh para ulama ketika ada jaminan pengampunan dosa ketika digandingkan dengan hadis-hadis yang lain itu
maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Karena untuk dosa-dosa besar itu harus dengan bertobat ya. Karena ada hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Asalawatul khamsu wal jumatu ilal jumati waramadanu ramadana kafaratun lima bainahunna majtunibatil kabair.” Salat lima waktu jumat ke jumat berikutnya, Ramadan ke Ramadan berikutnya itu menggugurkan dosa-dosa di antaranya selama dijauhi dosa-dosa besar.
Kalau salat lima waktu saja amal yang paling utama kemudian Jumat, Ramadan ini yang wajib rukun Islam semua ini diampuni. Diampuni dosa-dosa selama dijauhi dosa besar. Ini saja amal yang lebih besar hanya mengampunkan dosa kecil apalagi amal yang kurang dari itu keutamaannya. Makanya kata para ulama ini seperti penjelasan Imam annawawi dalam syarah-syarah Sahih Muslim ketika ada penyebutan seperti ini maksudnya adalah dosa-dosa kecil ya.
Karena dosa besar butuh mendapatkan pengampunan ee tobat yang sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu wa taala. Kecuali bagi orang yang mungkin dia dosa-dosa kecilnya sudah diampuni semua, kemudian ada lagi penghapus dosa kecil seperti yang disebutkan di hadis ini, maka ini bisa meringankan dosa besarnya. Menjadi sebab diringankan dosa besarnya.
Al kulihal maksudnya di sini adalah pengampunan. Pengampunan dosa-dosa kecil ya. Kecuali ketika dia disertai dengan bertobat dengan sungguh-sungguh, maka itu juga menggugurkan dosa-dosa besarnya kalau diterima oleh Allah Subhanahu wa taala tobatnya tersebut. Nah, [berdehem] iya.
Ee sebelum kita akhiri kajian ini diingatkan ya bahwa [berdehem] biasanya kalau kajian apalagi sudah waktu pertanyaan [berdehem] terjadi ee pasar dadakan di kalangan akhwat yakni ramai ribut kemudian ditambah lagi dengan anak-anak. Kita ingatkan bahwasanya ini tidak pantas dan tidak boleh kita lakukan. Kajian belum selesai. Kalau ada kebutuhan untuk berbicara maka berbicara di luar ya.
lebih baik keluar kemudian ngomong di luar atau setelah selesai pengajian. Ya, [berdehem] sudah sering diingatkan oleh panitia di sini bahwasanya terjadi keributan yang sangat sehingga kadang-kadang juga bahkan di tengah kajian ada yang berbicara, ada yang ngobrol sehingga mengganggu yang lainnya. Maka dimohon bagi yang memang ada kebutuhan lebih baik jangan masuk ke masjid dulu, ngobrol di luar dulu sampai selesai baru ngobrol supaya sudah tidak mengambil manfaat dengan ributnya kemudian mengganggu orang lain kan sudah sangat banyak keburukannya. Kalau
mungkin dia di luar saja berbicara dengan temannya kalau memang ada kebutuhan itu masih mending karena tidak perlu mengganggu yang lainnya. Jadi sekali lagi tolong ketika ada pengajian dijaga ketenangan. Mungkin kalau ada anak-anak ya anak-anaknya didiamkan juga diingatkan bagi yang bawa anak tolong ketika Anda nangis dia yang tahu diri anaknya dibawa keluar atau disingkirkan di pojok supaya tidak mengganggu yang lain.
Dan yang paling penting tadi adalah jangan ngobrol ketika sedang kajian, ketika sedang tanya jawab juga masih berlangsung majelis ilmu. Tolong dihormati dan dihargai karena ini untuk kebaikan-kebaikan kita sendiri. Kemudian diingatkan juga setiap kita kajian masih sering ya dilakukan oleh sebagian dari ikhwan dan akhwat kita ya mungkin paling sering terlihat pada umahat ya yaitu kotoran yang ditinggalkan entah bekas minuman atau bekas ee bungkusan apa ini makanan kecil untuk anak-anak mereka itu masih tertinggal.
Ini sangat-sangat kalau di masjid-masjid orang awam apalagi ini bisa menjadi sebab kajian kita nanti akan dihentikan atau ditegur ya kasihan karena satu orang dua orang akhirnya yang lain semua kena dampaknya. Maka tolong ini diperhatikan jangan tinggalkan jejak, jangan tinggalkan bekas ya.
Jadi ketika pulang kita ambil atau kita siapkan memang plastik atau siapkan tisu untuk kita simpan bekas-bekas dari yang dimakan oleh anak kita, bungkusannya kita buang. Karena kalau anak kita mungkin masih kecil tidak akan bisa kita suruh, maka tolong yang membawa seperti ini untuk diperhatikan setelah selesai kajian dibersihkan supaya nanti tidak menjadi sebab yakni orang-orang awam kemudian apalagi di masjid umum yang kita pakai menjadi sebab kemudian ada alasan bagi mereka untuk yakni e mengusiik kajian kita.
Barakallahu fikum. Cukup sampai di sini. Semoga bermanfaat apa yang kita bahas dan kita kaji. Mohon maaf jika ada yang salah dan kurang. shallallallahu wasallam wabarak ala nabina muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum bianin ila yaumiddin walhamdulillahiabbil alamin. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik.
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Leave a Reply