Ringkasan Daurah Syar’iyyah Ke-2 (Sesi1 &2)

Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata
Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube

secara langsung Rodja TV saluran dan kajian Islam Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillah alhamdulillah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dimana saja anda berada Alhamdulillah di kesempatan siang ini berbahagia ini kita bisa mendapatkan kenikmatan dari yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala di majelis dan majelis ilmu di kesempatan Syiah ini yang Laksana di masjid al-barkah mempelai Radio Rodja dan raja TV dan di siang ini Insya Allah kita akan simak ringkasan dari daurah syariah yang kedua dalam permasalahan akidah gimana narasumber atau pembicara dari Dauroh ini fadhiyatul Ibrahim yang membahas salah satu risalah ilmiah kitab yang sangat bermanfaat terkait dengan Al Hadits yaitu aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah dari para imam Al Hadits yang ditulis oleh Imam Abu Bakar dan alhamdulillah Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh [Musik] dan taufiknya saya di sini akan membawakan ringkasan dari daurah di hari pertama yang disampaikan oleh guru kita Syekh kita Syekh Syaikhona Ibrahim bin Amir Allah ta’ala Profesor Doktor Ibrahim bin Amir yang beliau adalah merupakan guru besar di bidang akidah di Universitas Islam Madinah Kerajaan Arab Saudi di hari pertama ini ya kita akan menyampaikan ringkasan dari penjelasan kitab itiqal dua imatil hadits keyakinan atau aqidah dari para imam Ahlul hadits Ahlussunnah Wal Jamaah tulisan Al Imam Al Hafiz Abu Bakar Al Ismail rahimahullahu Ta’ala Barakallah di awal dari penyampaian beliau tentu saja menjelaskan tentang penulis yaitu Imam al-hafilm Abu Bakar Al Ismail rahimahullah yang nama lengkap beliau adalah Al Imam Abu Bakar Ahmad Ibnu Ibrahim Ibnu Ismail Ibnu Abbas Al jurjani Al Ismail Ahmad Ibnu Ibrahim Ibnu Ismail Ibnu Abbas Al jurjani Al Ismail rahimahullahu ta’ala beliau lahir tahun 277 Hijriyah dan meninggal tahun 371 Hijriyah ya secara ringkas saja para ulama telah memuji ya beliau sebagai ulama besar ulama yang sangat ahli dalam bidang hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sampai digelari sebagai Al Hafiz penghafal hadits syaikhul Islam Contohnya seperti pujian dari Imam Al Hakim rahimahullah ta’ala yang muji beliau Dengan mengatakan kanal Ismail Imam Abu Bakar Al Ismail adalah satu-satunya di zamannya dan merupakan guru para ulama Ahlul hadir dan para ahli fikih dan yang paling Agung kedudukannya di kalangan mereka dalam masalah kepemimpinan agama dalam masalah menjaga kewibawaan dan sifat dermawan beliau berikutnya imut sama Ani rahimahullah ta’ala memujinya dengan mengatakan Imam ahli jurjan al marju u ilaihi adalah Imam ya pemimpin dalam ilmu agama untuk penduduk jurjan yang selalu menjadikan dijadikan rujukan dalam ilmu hadits dan fiqih beliau adalah orang yang sangat dikenal ia sangat terkenal dan terlalu terkenal sehingga tidak perlu dijelaskan lagi keadaannya kemudian memuji ulama besar ini Dengan mengatakan Al Imam Hafidz Al faqihu syaikhul Islam beliau adalah seorang Imam Al Hafidz penghafal hadits yang kuat seorang yang sangat mendalam ilmu agamanya syaikhul Islam ya untuk kaum muslimin kita akan lihat isi daripada kitab ahli hadis ini etika keyakinan atau akidah dari para imam Ahlussunnah Wal Jamaah kita akan baca penjelasan yang disebutkan oleh Imam Abu Bakar Al Ismail rahimahullah Ta’ala dasar-dasar keyakinan atau dasar-dasar aqidah menurut para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah ya tentu maksudnya Ahlul hadits di sini orang yang sibuk mempelajari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sekaligus tentu Mereka berarti orang-orang yang ahli dalam bidang Alquran kemudian tentu hadits-hadit Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segi periwayatannya maupun memahami kandungan maknanya Sebagian ulama mengatakan Ahlul hadits ini adalah sama dengan makna ahlussunnah awal jamaah berarti di sini yang akan dijelaskan oleh Beliau adalah prinsip-prinsip dasar aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Abu Bakar Al Ismail rahimahullah Ta’ala berkatakum ketahuilah Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati kita dan Antum semua bahwa mazhab Ahlul Hadits ya mazhab disebutkan di sini ya kita kenal istilah mazhab adalah istilah yang berhubungan dengan pemahaman fiqih yang dianut oleh seorang imam yang kemudian dipopulerkan oleh murid-muridnya biasanya kalimat yang sering digunakan oleh para ulama untuk mengungkapkan metode beragama atau keyakinan para ulama Ahlul hadits itu diungkapkan dalam bentuk muktaqadah ya keyakinan mereka aqidah mereka ya Karena untuk dalam masalah Akidah itu hanya satu jalan para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah hanya satu metode mereka sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab-kitab yang memuat pembahasan prinsip-prinsip masalah aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah seperti yang akan juga diterangkan di dalam kitab-kitab beliau ini jadi keyakinan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Al Iqra menetapkan beriman kepada Allah kepada para malaikat-malaikat Allah kepada kitab-kitab Allah dan kepada rasul-rasul utusan Allah yang disebutkan di dalam rukun rukun iman yang enam cuma di sini beliau tidak menyebutkan atau tidak mencantumkan iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk Ya tentu Maksudnya di sini bukan berarti beliau sengaja menghapus hal tersebut tidak Tapi beliau di sini hanya sekedar meringkas saja ya karena pembahasan tentang masalah hal-hal tersebut nanti Beliau juga akan Jelaskan baik Kemudian beliau di sini mencantumkan dengan kata-kata ikrar mengikrarkan sebenarnya lafadz yang lebih tepat digunakan adalah beriman ya Al imanu Billahi beriman kepada Allah kepada malaikat-malaikatnya kepada kitab-kitabnya kepada rasul-rasulnya kepada hari akhir dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk jadi inilah keyakinan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah kemudian waqobulu mana Shallallahu Alaihi Wasallam juga kewajiban untuk menerima menerima penjelasan yang disebutkan di dalam kitabullah ayat-ayat Alquran dan dengan sepenuh hati tunduk kepada semua penjelasan yang disebutkan di dalam ayat-ayat Alquran dan hadits-hadit yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lama ya Tidak ada alasan untuk berpaling dari penjelasan yang disebutkan di dalam ayat-ayat Alquran dan hadits-hadit Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan tidak ada cara untuk menolaknya ini tidak boleh kita menolaknya karena kita semua kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Alquran dan Sunnah sekaligus kita dijamin ya mendapatkan jaminan untuk mendapatkan ya agar kita bisa mengikuti petunjuk yang terkandung terdapat di dalam Alquran dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ada persaksian dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi mereka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus sebagaimana yang disebutkan di dalam Alquran wa innaka latah di Ila siroti mustaqim dan Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang lurus ya atau muhasarina kita semua kaum muslimin diingatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kalau menyelisihi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam akan terjerumus ke dalam fitnah dan adab yang pedih sebagaimana yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam FirmanNya di surat an-nur maka hendaknya waspada orang-orang yang menyelisihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mereka akan ditimpa fitnah di dunia ini dan akan ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti ada ulama yang mengatakan fitnah di sini kemunafikan yang jelas kerusakan dalam agamanya ya penyelewengan dalam imannya kalau dia menyelisihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam itu adalah fitnah di dunia dan di akhirat nanti dia akan mendapatkan azab yang Pedih inilah sebagai pengantar yang beliau bawakan di sini tentang dasar-dasar aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah kemudian Imam Abu Bakar Al Ismail rahimahullah ta’ala mulai masuk pembahasan tentang masalah-masalah aqidah yang merupakan prinsip-prinsip dasar keimanan atau akidah Ahlussunnah Wal Jamaah Al qaulu Fil asma Iwa sifat penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Beliau berkata rahimahullah Ta’ala Ahlussunnah Wal Jamaah semua mereka meyakini kita perhatikan ini menunjukkan bahwa perkara-perkara ini ya adalah hal-hal yang disepakati dalam aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah yakni para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah sepakat dalam masalah-masalah yang akan dijelaskan oleh Syekh dalam pembahasan masalah akidah ini Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dialah yang dipanggil dengan nama-namanya yang maha indah disifati dengan sifat-sifatnya yang maha terpuji diingatkan di sini oleh Syekh Ibrahim Ar rohaili bahwa kalimat yang lebih tepat untuk kita sebutkan di sini ya kita katakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki nama-nama Yang Maha Indah atau menamakan dirinya dengan nama-nama yang maha indah dan mensifati dirinya dengan sifat-sifat yang Maha Tinggi dan maha terpuji ya jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamakan dirinya dengan nama-nama yang maha indah dan mensifati dirinya dengan sifat-sifat yang Maha Tinggi sebagaimana juga yang disifati oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menciptakan Nabi Adam dengan tangannya yang maha mulia yang disebutkan di dalam banyak ayat Alquran kedua tangan Allah terbentang Allah berinfak memberikan rezeki kepada makhlukNya sesuai atau sebagaimana yang dia kehendaki ini disebutkan di dalam ayat-ayat Alquran tentu saja Bahkan kedua tangan Allah itu terbentang Dia memberikan infak atau memberikan rezeki kepada makhlukNya sesuai dengan kehendaknya ini tentu merupakan bantahan dari Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Alquran ketika orang-orang Yahudi mengatakan Ia adalah mereka mengatakan tangan Allah kedua tangan Allah Terbelenggu maka Allah berfirman merekalah yang terbelenggu dan mereka dilaknat akibat ucapan mereka itu kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan ayat ini Balisa bahkan kedua tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terbentang Dia memberikan infaq atau menganugerahkan rezeki kepada makhlukNya sesuai dengan kehendaknya Ahlussunnah Wal Jamaah menetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat Alya dan kedua tangan yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk karena sifat-sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungannya maka tidak boleh kita menyerupakannya dengan makhluk tidak boleh kita membagaimanakannya menanyakan tentang bagaimananya karena Yang Maha mengetahuinya cuma Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian tidak boleh kita menolak sifat-sifatnya dan tidak boleh kita menyerewengkan kandungan maknanya bahkan disebutkan di dalam hadis shahih riwayat Imam muslim Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda wakil dan kedua tangan Allah subhanahu wa ta’ala yang maha mulia adalah adalah kanan yakni Keduanya Keduanya adalah sifat yang terpuji sifat yang mulia ya Sesuai dengan keagungan dan kematian Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya tanpa kita meyakini kaifiyahnya Bagaimana bentuk tangan Allah subhanahu wa ta’ala yang sebenarnya jelas ini ada tapi cuma Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahuinya kita tidak boleh menanyakannya karena tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan juga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak menjelaskannya jadi kita mengikuti para sahabat yang menerima berita-berita seperti ini membenarkannya mengimaninya kita meyakini atau Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala beristiwa di atas arsy-nya ya istiwa artinya Maha tinggi di atas arsy-nya Arsy Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Tinggi maha besar di atas Arsy dan di atas semua makhlukNya Nah kita harus meyakini ini ayat-ayat Alquran yang menyebutkan sangat banyak ya ar-rahman Allah yang maha pemurah beristiwa di atas harusnya ini juga wajib untuk kita imani sesuai dengan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah karena ayat-ayat Alquran menetapkannya dan juga hadits-hadit Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menetapkannya dan ini adalah perkara yang disepakati oleh para ulama ahlussunnah awal jamaah tidak boleh kita menyerupakannya dengan sifat makhluk tidak boleh kita membagaimanakannya tidak boleh kita menolak sifat-sifat Allah dan tidak boleh kita menyelewengkan kandungan maknanya bila kaifah tanpa menanyakan bagaimananya ya dalam hal inilah pasar yang terkenal dari Imam Penduduk Madinah yang terkenal imam Malik bin Anas rahimahullah Ta’ala beliau dari kalangan ketika ada yang bertanya tentang bagaimana istilahnya istilahnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala di atas Arsy maka Beliau mengatakan Al istiwau maklum Wal kaifu majuhul iman itu sudah diketahui maknanya yaitu Maha tinggi di atas Arsya menanyakan bagaimananya ini yang tidak diketahui cuma Allah yang mengetahuinya ya tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat nabi Shallallahu Alaihi Wasallam maka tidak perlu kita menanyakannya kita wajib mengimaninya wajib mengimaninya wajib menanyakannya adalah perbuatan Bid’ah maka tidak boleh kita menanyakan karena ini melampaui petunjuk para sahabat radhiyallahu Ta’ala anhum ajma’in nallah karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berhenti hanya menyampaikan tentang ini menyampaikan tentang sifat keagungannya yaitu bahwa dia beristiwa Maha tinggi di atas Arsy dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyebutkan tentang bagaimana hakikat istiwa di atasnya maka wajib kita menerima dan mengimaninya wajib untuk kita membenarkannya mengimaninya tanpa menanyakan bagaimana kaifiyahnya dan kita meyakini Allah Subhanahu Wa Ta’ala dialah yang Maha Mengetahui kaifiyah atau keadaan yang sebenarnya dari sifat-sifatnya kemudian pembahasan berikutnya adalah dzikrubububiyah penjelasan tentang beberapa hal-hal yang berhubungan dengan sifat-sifat rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala disebutkan di sini oleh Syekh al-imam Abu Bakar Al Ismail rahimahullah Ta’ala adalah pemilik semua makhlukNya dan dialah yang menciptakan mereka bukan karena Allah butuh ya kepada makhluk ciptaanNya ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Alquran [Musik] Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku Aku tidak menginginkan dari mereka Allah berfirman Aku tidak menginginkan dari mereka rezeki dan aku tidak menginginkan mereka memberiku makan Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dialah pemberi Maha Pemberi rezeki dzulquwah yang memahami kekuatan dan Al Matin Yang Maha kokoh jadi Allah menciptakan mereka Allah tidak butuh kepada mereka karena satu makna yang dia menyeru mereka untuk yang menjadikannya menciptakan mereka ya inilah terkesan seolah-olah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Menciptakan makhluk tanpa ada hikmah dan ini jelas keliru Allah Subhanahu Wa Ta’ala Menciptakan makhluk dengan hikmah yang tinggi tadi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan di ayat tadi bahwa dia menciptakan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepadanya manusia tidak diciptakan sia-sia Apa hasil Apakah kalian menyangka wahai manusia kami menciptakan kalian hanya sia-sia tanpa ada tujuan dan bahwasanya kalian tidak akan dikembalikan kepada kami jadi ucapan beliau ini maknanya adalah yang benar adalah dan bukan karena makna yang menjadikan Allah menciptakan mereka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman Dalam Hadis Qudsi yang shahih ya ibadah Sesungguhnya aku mengharamkan sifat zalim pada diriku kata Allah subhanahu wa ta’ala dan aku jadikan dzolim itu perbuatan zalim haram Di Antara Kalian maka janganlah kalian saling menzalimi jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuasa berbuat apa saja tapi dia mengharamkan dirinya dari sifat zalim Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ditanyakan tentang apa yang diperbuatnya tentang perbuatan-perbuatannya karena hikmahnya yang maha sempurna ya karena sifat-sifatnya yang Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman Allah tidak ditanyakan tentang apa yang diperbuatnya sedangkan manusia merekalah yang ditanyakan tentang perbuatan mereka karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Sempurna hikmahnya sedangkan makhluk semua ditanyakan tentang apa yang mereka lakukan apa yang mereka yang mereka perbuat maka ini merupakan ya keyakinan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah sehubungan dengan beberapa masalah-masalah yang berhubungan dengan sifat rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian pembahasan yang berikutnya ya adalah yang berhubungan dengan penetapan menetapkan nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala yang maha indah dan sifat-sifatnya yang Maha Tinggi kita tahu nama-nama Allah Maha indah ya diterangkan oleh para ulama maknanya adalah balighotun fil Husni Puncak dalam kemahandaannya ya kemudian sifat-sifat Allah Maha Tinggi artinya sifat-sifat allah subhanahu wa ta’ala Maha Sempurna Maha Agung tidak ada kekurangan dan cacat sedikitpun padanya dari semua segi dan sudut pandang baik kata Imam Abu Bakar Al Ismail rahimahullah Ta’ala [Musik] Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala yang dipanggil dengan nama-namanya sudah kita sebutkan tadi lebih pas untuk dikatakan Allah memiliki nama-nama Yang Maha indah dan disifati dengan sifat-sifat yang Allah sifatkan bagi dirinya dan juga disifati oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits-hadits yang shahih jadi ini yang kita diperintahkan di dalam Alquran untuk kita menyuruh Allah ya dengan nama-namanya yang maha indah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki yang Allah namakan dan sifatkan dirinya dengannya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman walillahil Asmaul Husna dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki nama-nama Yang Maha indah maka berdoalah kalian kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan nama-namanya yang maha indah tidak ada satu makhluk pun tidak ada satu makhluk pun tidak ada satu makhluk pun yang sanggup untuk melemahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di langit-langit maupun di bumi tidak ada satu makhluk makhluk pun yang sanggup melemahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di bumi maupun di langit Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hadis kursi yang shahih berfirman ya ibadah [Musik] sesungguhnya kalian tidak bisa mencapai keadaan untuk memberikan manfaat kepadaku kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana kalian tidak akan bisa mencapai keadaan untuk memberikan mudarat menimpakan keburukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Kuat dan maha perkasain dan dialah Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa disifati dengan kekurangan celaan atau aib ya atau cacat Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada pada sifat-sifatnya kekurangan celaan atau cacat karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Tinggi Maha Tinggi dari semua itu inilah ya orang penjelasan yang mungkin bisa kita jadikan sebagai ringkasan dari kajian yang disampaikan oleh Syekh kita Profesor Doktor Syekh Ibrahim bin Amir mudah-mudahan bisa kita ambil manfaatnya dan Insyaallah akan ada kelanjutan dari pembahasan ringkasan dari materi-materi atau sesi-sesi dauro yang diadakan oleh Syekh selanjutnya yang akan dibawakan oleh Ustadz yang lainnya semoga bermanfaat bagi kita semua Barakallah fiikum Shallallahu Alaihi Wasallam Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh memberikan ringkasan dan faedah yang bermanfaat dari materi daurah di hari yang pertama bersama Fadilah Ibrahim atau keyakinan aqidah dan Manhaj Ahlul hadits ahlussun jamaah yang ditulis oleh Islam Abu Bakar Al Ismail Salah satu tokoh dan ulama besar dari Mazhab Syafi’i ada beberapa poin terkait dengan usul atau Manhaj Wal Jamaah demikian juga akidah ahlussunnah dalam nama-nama dan sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga beberapa poin terkait dengan kekhususan hak sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala dan semoga sedikit ini bermanfaat kita akhiri untuk ringkasan yang pertama dengan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kajian

pada

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *