[Musik] saluran dan kajian Islam Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para pemerhati Roja di manapun Anda berada Alhamdulillah pada kesempatan pagi hari ini kami berada di ruangan diadakannya yang kedua yang berada di Masjid Al Barkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cileungsi pada kesempatan siang kemarin dan hingga malam tadi Alhamdulillah telah dilaksanakan daurah di hari yang pertama dan insya Allah pada pagi ini akan disampaikan ringkasan dari pembahasan Daulah tersebut yang disampaikan oleh aluster akan disampaikan oleh Al Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan diisi oleh Syekh Profesor Doktor Ibrahim bin Amir ruhailillah yang insya Allah yang dikhususkan untuk para Dai dan kajian ini kami hadirkan secara langsung dan mohon maaf tidak ada soal jawab untuk kesempatan pagi ini baik kita akan simak bersama ringkasan yang akan disampaikan oleh Beliau yaitu kepada Ustad kami persilahkan Selecta fadho masyhurrohim alhamdulillahirobbilalamin ala umuriddunya cuma para pemerhati Rojak di manapun Anda berada Alhamdulillah senang sekali pagi hari ini dapat berjumpa kembali dalam ringkasan daripada kajian pada daurah yang diadakan di masjid al-barkah al-barkah Cileungsi dari Rodja dan insya Allah Pada kesempatan kali ini kita akan meringkas sesi kajian sejak siang hingga malam hari yang jadikan oleh Profesor Doktor Syaikhona Ibrahim bin Amir ar ruhaili dan kita masih mengacu kepada kitab ini bahas pada dauro ini itu kita pilih Al Hadits inilah keyakinan para ulama-ulama Al Hadits yang dia telah melupakan buah karya daripada salah seorang ulama Syafi’i yang yang terkemuka di zamannya yaitu Al Imam Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim Al Ismail kita akan lanjutkan pembahasan kita ini pada pembahasan tentang sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebelumnya para pemerhati rojaknya tidak ada ilmu yang lebih mahal daripada ilmu mengenal tentang Allah nama-namanya sifat-sifatnya perbuatannya berkata para ulama ilmu itu akan menjadi mulia sesuai dengan objek yang dibahas dan yang dibahas kali ini adalah yang berkaitan dengan Allah nama-namanya sifat-sifatnya tentulah Allah adalah zat yang paling Agung yang paling besar yang paling kuasa pemilik segala macam kesempurnaan maka tidak ada ilmu yang lebih utama daripada ilmu tentang Allah Al Asmaul tentang nama-namanya dan sifat-sifatnya wafalin dan perbuatan-perbuatannya karena ilmu dibagi dua yang pertama ada ilmu annilah ilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala yang berkaitan dengan pembahasan terhadap Allah tentang namanya sifatnya perbuatannya yang kedua adalah Al ilmuan syariatlah ilmu tentang syariat Allah berupa perintah-perintahnya larangan-larangannya Bagaimana menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Baiklah para pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berkata Al Imam Abu Bakar Al Ismail rahimahullah adalah dan mereka maksudnya adalah Al Hadits maksudnya adalah Ahlussunnah Wal Jamaah menetapkan Bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala itu memiliki wajah Allah memiliki wajah Allah memiliki pendengaran Allah memiliki penglihatan Allah memiliki ilmu Allah memiliki kekuasaan Allah memiliki kekuatan Allah memiliki keperkasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki perkataan bukan sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok yang menyimpang dari kelompok mu’tazilah dan semacamnya dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Bab Asmaul sifat kita ahlussunnah meyakini apa yang Allah tetapkan bagi dirinya berupa nama-namanya maupun sifat-sifatnya atau ditetapkan oleh nabinya yang mulia Shallallahu salam untuk Allah baik tentang nama-namanya maupun sifat-sifatnya maka kewajiban kita adalah mengikuti apa yang ditetapkan oleh Allah dan rasulnya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari nama-namanya maupun sifat-sifatnya dan kita menafikan dari Allah tabarakata ala apa-apa nafikan oleh Allah atas diri dan ditampilkan oleh rasulnya Mulia Shallallahu Alaihi Wasallam maka dalam pembahasan ini mau bakar Al Ismail ini menyebutkan beberapa sifat bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang wajib kita tetapkan dan dalam menetapkannya dalam menetapkan nama dan sifat Allah kita tidak bisa menetapkannya dengan logika kita ya tapi kita hanya Bersandar kepada nanas jika Allah tetapkan pada dirinya kita tetapkan dengan meyakini bahwasanya nama-nama tersebut dengan meyakini bahwa sifat-sifat tersebut sempurna tidak sebagaimana makhluk tidak sama dengan apa yang ada pada makhluk ya maka dalam pembahasan pagi hari ini dimulai oleh pengarang kitab-kitab Bahwasanya Allah memiliki wajah ya Dan Allah Jalla nanti akan disebutkan oleh Beliau dalil tentang perkara yang disampaikan ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki wajah kemudian memiliki pendengaran penglihatan ilmu kekuatan keperkasaan perkataan ya dengan sebenar-benarnya bukan sebagaimana yang diyakini oleh Ahlul mu’tazilah adalah kelompok yang menyimpang dalam bab nama-nama atau sifat-sifatnya dimana Mereka menolak Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat inilah perkataan mu’tazilah walaupun mereka menetapkan Allah punya nama kata mereka nama-nama Allah dalam merupakan nama yang tidak mengandung sifat ini keyakinan bahwa bagi mereka sama saja antara nama Allah Sami Basir yang dan semacamnya dengan nama-nama yang lain Qodir Alim kata mereka semua sama tak ada beda karena mereka meyakini nama Allah hanyalah merupakan nama yang tak mengandung padanya sifat Adapun ahlussunnah meyakini setiap daripada nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala padanya terkandung sifat nama Ar rahmanirrahim padanya tergantung sifat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala nama Al Alim ala menunjukkan Allah seperti memiliki sifat ilmu ya nama Allah Al Hayyu menunjukkan Allah punya sifat Al Hayat kehidupan dan semacamnya jadi dalam bab ini muktazilah Mereka menolak sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadi berkata Imam Ahmad Abu Bakar Al Ismail ini rahimahullah bukan sebagaimana keyakinan yang mereka merapikan sifat Allah orang muktazilah mengatakan Allah itu maha mendengar tanpa pendengaran itu ucapan Mereka melihat tanpa penglihatan dan semacamnya dan ini adalah merupakan bentuk penghinaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya bagaimana kau katakan tentang seorang raja-raja itu adalah raja yang kuat tanpa kekuatan itu tadi itu adalah raja yang berilmu tanpa ilmu begitulah konsep muktazilah dalam menetapkan bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala nama-nama tanpa sifat karena menurut mereka jika ditetapkan bagi Allah sifat-sifat maka sifat-sifat itu ada pada makhluk berarti kita telah menyerupakan Allah dengan makhluk kalau kita mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya wajah maka makhluk pun punya wajah dengan demikian Allah sama dengan makhluk oleh karena itulah mereka mengatakan Allah tidak memiliki wajah ini ungkapan mu’tazilah begitulah dengan sifat-sifat lain jika kita mengatakan Allah memiliki sifat mendengar makhluk pun mendengar maka mendengarnya Allah subhanahu wa ta’ala itu akan menyerupai pendengar makhluk Karena itulah kita harus menolak menurut ungkapan mereka Jadi kalau sudah menetapkan Allah punya wajah punya pendengaran punya penglihatan punya ilmu punya kekuatan punya keperkasaan dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala punya perkataan yang didengar dengan suara dan huruf tidak sebagaimana ditolak oleh orang-orang muktazilah dan orang-orang selain mereka daripada jahenya ya jamiah yang juga menolak bahkan Mereka menolak Allah memiliki nama dan memiliki sifat Subhanallah kata mereka Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dikatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat-sifat dan nama-nama karena nama-nama dan sifat-sifat adalah merupakan ya kekhususan yang dimiliki makhluk karena Allah tak boleh sama dengan makhluk pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala inilah beberapa dalil-dalil disebutkan oleh Al Imam Abu Bakar Ismail tentang sifat-sifat tersebut dan berkekalanlah wajah Tuhanmu ini menunjukkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat wajah wajah yang sempurna bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan pernah sama dengan wajahnya makhluk karena berbedanya manakala zat Allah subhanahu wa ta’ala itu berbeda dengan zat makhluk maka sifat apapun yang melekat pada Allah ya takkan pernah sama dengan segala macam sifat yang melekat pada makhluk dalam bahasa Arab Al wajhu yaitu adalah merupakan perkara Qadar mustarak yang ada pada setiap apa yang dibayangkan dalam pikiran tapi mana kalian disebutkan kepada sesuatu dia akan berpisah tatkala kita mengatakan wajah Si Fulan maka wajah sifatnya akan berbeda dengan wajah karena perbedaannya dan mereka demikian juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan maknanya Tuhanmu maksudnya wajah Tuhanmu di sini adalah berkekalan hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata yang mereka kekal adalah Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala disebutkan dengan kata-kata wajah karena wajah adalah perkara yang monuminasi dalam dalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana dalam ungkapan kita sehari-hari manakala kita berkata mana Si Fulan Sudah lama aku tak melihat wajah Si Fulan padahal yang kita maksudkan bukan wajahnya semua tetapi seluruh tubuhnya zatnya ya berarti demikian juga dengan firman Allah wajah Tuhanmu maka maksud mereka akan membaca Tuhanmu bahwasanya berkatkanlah zat Allah Subhanahu Wa Ta’ala semuanya akan hancur binasa kecuali dari Allah subhanahu wa ta’ala tatkala kita mengatakan Allah bukanlah kita mentakwilkan sebagaimana Ahlul takwil Ahlul tahrif wajah adalah merupakan bagian yang dianggap mendominasi pada sesuatu makhluk ya oleh karena itu kita katakan Sudah lama tak kulihat wajah Si Fulan padahal bukan kita masukkan wajahnya Semata pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Allah berfirman anzalahu Bi ilmihi ya dan dia Allah telah menurunkan Quran dengan ilmunya dan ini menetapkan bagi Allah punya sifat ilmu tentunya ilmu Allah tak sama dengan ilmu makluk ya ilmu makhluk dahulu daripada kejahilan dari jahil kemudian berilmu Adapun Allah Subhanahu ta’ala ilmunya tidak terdahului dengan kejahilan dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu Allah ilmunya meliputi segala sesuatu yang telah berlalu dan segala sesuatu yang akan terjadi ya Adapun ilmu makhluk terbatas dengan apa yang dia ketahui sebagian makhluk hidup sekarang tak mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu ya sebelum kita dilahirkan kita tak tahu apa terjadi 1000 tahun Allah mengetahui segala sesuatu ini menunjukkan perbedaan ilmu makhluk dan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan kita pun tak mengerti apa yang terjadi esok hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui walaupun orang-orang terdahulu pada zamannya mengetahui apa yang terjadi pada masa mereka bukanlah gaib bagi mereka tapi bagi kita yang orang sekarang yang tak mengetahui ilmu apa apa yang telah terjadi pada beberapa emas yang lalu Adapun Allah ilmunya meliputi segala sesuatu dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ilmunya meliputi segala sesuatu pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala Allah berfirmansyah dan mereka makhluk tidaklah dapat meliputi sesuatu pun daripada ilmu Allah subhanahu wa ta’ala kecuali apa Allah kehendaki ilmu Allah begitu luas makhluk tak akan pernah dapat meliputi ilmu Allah yang Maha luas karena ilmu Allah tanpa sama sekali Ada batasannya sebagaimana makhluk yang terbatas ya kemudian segala keperkasaan ini menunjukkan Allah memiliki sifat Ijah yang enggak nanya Perkasa tentunya Perkasa keperkasaan Allah mutlak sempurna dari segala macam Sisi tidak sebagaimana keperkasaan makhluk ya banyak orang-orang perkasa tapi terbatas kekuasaannya di masanya ya manakala kekuasaan Hilal ketika itu dia menjadi lemah Adapun Allah adalah keperkasaan yang Hakiki yang kekal selama-lamanya kemudian Allah berfirman Allah berfirman Dan langit telah kami bangun dia Bi aidin kekuatan aidin di sini bukanlah maknanya dengan tangan-tangan karena kata-kata aidin dari akar kata kerja Ayah dah dari kata kerja ada ada kekuatan maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam menunjukkan kepada kita bahwasanya Allah telah membangun langit yang begitu kokohnya tujuh lapis dengan kekuatan dan indukan Allah memiliki sifat kekuatan tentunya kekuatan Allah mutlak sempurna dari segala macam Sisi tak sama dengan kekuatan makhluk yang relatif yang lemah juga berfirman awalan tidak akan Mereka melihat Bahwasanya Allah yang telah menciptakan mereka itu lebih dahsyat kekuatannya daripada kekuatan mereka ini menunjukkan bahwasanya makhluk itu punya kekuatan tetapi kekuatan makhluk itu tak ada apa-apa dengan dibandingkan kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena kekuatan makhluk juga adalah merupakan pemberian Allah subhanahu wa ta’ala dan tentunya ini menunjukkan Allah memiliki kekuatan yang maha dahsyat tak sama dengan kekuatan makhluk Dan ini bantahan kepada al-muโatilah yang Mereka menolak Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki sifat kuah karena kata mereka kalau Allah memiliki sifat kekuatan makhluk pun memiliki sifat kuah kekuatan berarti itulah kita menyamakan antara Allah dan makhlukNya ahlussunnah mengatakan tidak Allah punya sifat kuat kekuatan makhluk pun demikian tapi antara keduanya terdapat perbedaan karena kaidahnya perbedaan zat akan membuat perbedaan sifat pokok [Musik] lainnya Sesungguhnya dialah Allah pemberi rezeki memiliki kekuatan yang maha dahsyat [Tepuk tangan] ilmu kekuatan pendengaran penglihatan perkataan sebagaimana Allah berfirman walitus Agar engkau wahai Musa dididik di atas penglihatan mataku disini menunjukkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki mata dan Allah memiliki sifat melihat ya dibesarkan diasuh di atas penglihatan mataku Maksudnya di bawah pengawasan ku dan ini menetapkan Allah memiliki sifat dua mata dua mata memang tak tersebut dalam Alquran sunnah dengan kata-kata dua mata langsung tapi daripada hadis Dajjal ketika nabi kita yang mulia mengatakan ketika Rasulullah menyebati Dajjal itu memiliki dua mata tapi yang satu picak hilang cahayanya tak dapat melihat dengannya Dajjal punya dua mata yang satu kabur tak bisa melihat maka ketika Dajjal mengaku dirinya sebagai Tuhan kata Nabi Sesungguhnya Tuhan kalian bukanlah Tuhan yang picak matanya sebelah kata halus sunnah ini menunjukkan Allah memiliki dua mata yang layak bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya walaupun dalam Quran terkadang disebutkan dengan kata-kata Mufrad Ain seperti wanita disebut dengan jamak contohnya Allah mengatakan tentang Bahtera Nuh washna maka Buatlah bahtera dengan penglihatan mata-mata kami dan dengan Wahyu kami maka kata-kata mata kami bukan menunjukkan Allah memiliki lebih daripada dua mata menyebutkan kata-kata mata-mata kami itu boleh kita katakan Ya dalam bentuk pengagungan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadi kadang disebutkan dengan Ifrad kadang disebutkan dengan jamak ya dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa-bahasa lain juga dapat kita katakan Ya ya mata-mata kami ada di mana-mana Ketika engkau katakan kepada murid-murid misalnya Pesantren hati-hati anak-anak mata-mata kami ada di mana-mana ini bukanlah menunjukkan bahwasanya saya yang berkata-kata memiliki mata-mata yang banyak Ya maksudnya bahwasanya kalian semua selalu kami pantau dalam bahasa diperbolehkan lah semacam ini maka bukan menunjukkan Allah memiliki mata-mata yang banyak yang tatkala kita katakan eh matamu bukan maknanya Kau hanya memiliki satu mata itu adalah ismul jeans kita Yakin manusia punya dua mata tatkala kita tolong matamu pakai bukan maknanya kita menganggap dia punya satu mata demikian dengan Allah subhanahu wa ta’ala Allah bukan punya satu mata tidak boleh memiliki lebih daripada dua mata Allah menurut ahlussunnah wal jamaah memiliki dua mata sebagaimana termuat dalam hadis Rasulullah tentang dajjal manakala Dajjal sifat dengan dua mata tapi satu matanya cacat cicak maka Tuhan kalian bukan seperti Dajjal yang awal yang bijak katanya tapi saya dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kemudian Allah berfirman Hatta Ya semua agama bila ada salah seorang musyrik yang memohon kepadamu perlindungan Pak Haji sampai dia mendengar perkataan Allah ini menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala berkata-kata dan ini menunjukkan bahwa Alquran adalah merupakan perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata-kata dengannya ya dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan kepada nabinya melindungi orang musik yang memang perlindungan sampai dia mendengarkan Quran karena Allah ta’ala berfirman wakala Muhammad dan Allah berkata-kata dengan Musa dan di sini Allah mendatangkan ya kata-kata takliman dalam bahasa Arab namanya maf’ul mutlak itu menunjukkan benar-benar Allah per kata-kata kepada Musa yang didengar Musa di Gunung terus ini adalah perkataan Allah subhanahu wa taala bukan sebagaimana diyakini oleh al-mu’atilah mereka mengatakan Allah tak berkata-kata apalagi dengan saudara Iya tentulah pertentangan dengan Akidah yang diyakini oleh Ahlussunnah ya karena saya dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berkata Al Imam Abu Bakar Ismail ini karena sesuatu dia hanya mengatakan jadi maka jadilah dia ini menunjukkan Allah memiliki perkataan dia hanya mengatakan Kun dua huruf jadi maka jadilah dia dan ayat yang lain menunjukkan Allah memiliki kehendak atau iradah dalam bahasa Arabnya dan ahlussunnah membagi roda menjadi dua bagian ada namanya Allah yang sifatnya umum general mencakup segala macam kehendak Ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala kehendaki baik itu dalam pandangan makhluk ya tak baik ataupun baik ya namanya diantara bentuk ibadah dengan kehendaknya ya Dan ini kehendak yang tidak diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan kedua adalah namanya Allah berkehendak hambanya beriman berimanlah sang hamba ini kehendak yang diridhoi allah subhanahu wa ta’ala namun bedanya kehendak Syariah ini apa yang Allah inginkan daripada hambanya dan tidak harus terjadi Ya Allah sebenarnya telah menetapkan tidak akan beriman seluruh hamba-hambanya pastilah akan beriman semua orang di bumi tapi Allah telah menetapkan Bahwasanya Allah tidak akan menjadikan semua orang beriman di muka bumi ini ya dan kata-kata masih dalam bahasa Arab sama dengan makna jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki kehendak bahasa Arabnya dan dia dibagi menjadi dua bagian segala sesuatu kehendak Allah mencakup apapun juga ya baik yang Allah ridhoi atau yang tidak Allah ridhoi disebut dengan sebagaimana Allah berkehendak menciptakan iblis menciptakan kekufuran itu dengan kehendak yang tidak diridhoi allah subhanahu wa ta’ala tapi Allah kehendaki karena dibaliknya ada berbagai macam bentuk hikmah-hikmah yang kedua namanya iradah Syariah kehendak yang diridhoi allah subhanahu wa ta’ala yang diperintahkan dalam syariat dan kehendak ini tidak harus terjadi Allah berkehendak dengan keridaannya agar manusia beriman tapi tidak Allah menghendaki semua manusia itu beriman kemudian saya dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kita lanjutkan namanya dan mereka ahlussunnah mengatakan apa yang dikatakan oleh seluruh kaum muslimin Masya Allah bukan apapun yang dikehendaki Allah itu kan terjadi maksudnya kehendak kau nih ya apa yang tidak Allah kehendaki kita akan terjadi kalian berkehendak sesuatu kecuali kehendak Allah yang terjadi para pemirsa dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam masalah kehendak Allah dan kehendak hamba maka terpecahlah kelompok-kelompok yang menyembah dalam Islam menjadi dua kelompok yang menyempang satu kelompok disebut dengan kelompok Jabariyah yang mereka menafikan kehendak makhluk mereka mengatakan apapun yang diperbuat makhluk semuanya kehendak Allah Jalla wa ala tak ada sama sekali karena makhluk-makhluk tak punya pilihan dalam hidupnya apapun yang dilakukan makhluk itu bukan kehendaknya tapi kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dan ini perkataannya batil efeknya dampaknya bahwasanya apapun perbuatan maksiatnya perbuatan Allah jangan salahkan hamba salahkan Allah karena Allah yang menghendakinya ini kesalahan kaum Jabariyah mereka menghilangkan unsur Kasat pada makhluk fiil mereka mengatakan makhluk tak punya kehendak tak punya perbuatan ataupun perbuatan makhluk itu perbuatan Allah atau para ya ini adalah perkataan tiap hari ya Adapun kebalikan daripada perkataan Indra perkataan kaum qadariyah sebaliknya mereka mengatakan Allah tak punya kehendak sama sekali kehendak makhluk itu adalah kehendak makhluk di luar kehendak Allah ya ini perkataan kaum kadariyah apapun yang perbuat makhluk yang dikehendaki makhluk tak ada campur tangan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala ya Ini adalah ucapan qadariyah bahkan yang bulat yang ekstrem dari mereka mengatakan bahwasanya Ya Allah tidak mengetahui apa yang dikehendaki makhluk sampai terjadi Alhamdulillah perkara itu baru diketahui setelah terjadi inilah dua kubu yang menyimpang dalam perkara kasab ya dalam perkara perbuatan makhluk ganda makhluk satu kelompok menghilangkan kehendak makhluk semua karena Allah subhanahu wa ta’ala sehingga tak ada hubungan antara kekufuran dengan Allah orang kafir tak ada padanya kehendak Allah sama sekali ya perbuatan covernya di luar kehendak Allah bahkan di Luhan daripada ilmu Allah subhanahu wa ta’ala Allah tak tahu sampai dia kafir ini keduanya adalah perkara yang menyimpang adapun yang benar adalah apa yang dipilih oleh ahlussunnah mereka menggabungkan semua dalil yang diambil oleh qodariyah maupun Jabariyah maka ahlussunnah meyakini Allah punya kehendak makhluk pun punya kehendak tapi kehendak makhluk tak akan pernah dapat keluar daripada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala ketika Allah mengatakan tidaklah kalian memiliki kehendak ini menunjukkan makhluk itu punya ganda tapi karena makhluk itu tak akan terwujud jika berbeda dengan kehendak Allah tidaklah karena apapun yang akan kehendaki akan terjadi bilamana Allah menghendakinya maka Allah sunah meyakini bahwasanya makhluk itu makhluk itulah yang berbuat makhluk itulah yang punya kehendak tapi perbuatan makhluk dan kehendak makhluk semuanya takkan pernah lepas daripada apa yang telah dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala jika perbuatan itu perbuatan keburukan kekufuran misalnya kemaksiatan itu makhluk yang memperbuat makhluk yang melakukan makhluk yang bermaksiat makhluk yang kufur Tapi semua perbuatan tersebut tak lepas daripada kehendak Allah yang tidak diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berkata Al Imam Abu Bakar Al Ismail dan mereka ahlussunnah mengatakan mungkin bagi seorang pun dapat keluar daripada ilmu Allah subhanahu wa ta’ala maksudnya Apapun yang terjadi di alam raya ini semuanya dengan ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak ada yang terjadi kecuali Allah telah mengetahuinya ahlussunnah meyakini Allah ilmunya meliputi segala sesuatu ya dalam merawat ibu dalam tingkatan takdir ahlussunnah meyakini Allah ilmunya meliputi segala sesuatu apa-apa yang telah terjadi yang sedang terjadi yang akan terjadi semua tadi ketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tak akan mungkin ada yang wujud di alam raya ini di semesta ini tanpa diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan pernah ada seorangpun memiliki Jalan kemampuan untuk dapat mendominasi mengalahkan perbuatannya kehendaknya dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala kita punya kehendak tapi kehendak akan kehendak kita itu semua terbatas dengan apa yang Allah kehendaki petani berkehendak agar dia mendapatkan panen yang besar ya dan dia telah melakukan segala macam upaya dia menyemai benih yang baik dia memilih waktu yang tepat Dia memberikan pupuk yang baik dia punya kehendak untuk panen raya tapi jika allah subhanahu wa ta’ala Jadi sebelum panen Allah kirimkan angin kencang Topan banjir habis semua panennya Inilah yang dikatakan tersebut tidak akan terjadi jika Allah tak tidak makan dagingnya bila kita kehendaki Allah terjadi sesuatu perbuatan ya dan kita tidak akan pernah dapat menolak ketentuan Allah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala engkau bergerak sehat tapi Allah tak berkehendak Allah ingin mendatangkan padamu penyakit maka kau akan sakit mereka ahlussunnah meyakini bahwasanya makhluk tidak akan pernah dapat merubah ilmu Allah Subhanallah sebagaimana kaum dalam bab ini mereka mengatakan Bahwasanya Allah memiliki sifat Al bada’ah artinya allah subhanahu wa ta’ala itu ingin merubah ilmunya ya atau Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tahu kemudian tahu ya ini adalah merupakan perkara yang batil bagi Allah ahlussunnah meyakini tidak ada yang tersembunyi bagi Allah ilmu Allah meliputi segala hal makhluk tidak akan pernah dapat merubah ketentuan Allah merubah ilmu Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan Yang Maha berilmu tidak dimiliki sifat kejahilan Allah yang maha perkasa yang tak akan dapat dikalahkan kekuasaannya ketentuannya dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berkata lima Abu Bakar dan mereka ahlussunnah mengatakan Alquran itu adalah perkataan Allah bukan makhluk diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala setelah kita sebutkan sejumlah dalil menunjukkan Quran adalah merupakan perkataan Allah diantaranya hates mereka mendengar perkataan Allah maka kalamullah merupakan perkara yang kita yakini Allah berkata-kata dengan saudara huruf dan perkataan Allah itu ghairu mahrub bukan makhluk ungkapan kata-kata ghairul makhluk itu dipahami daripada nanas ya Kenapa harus dengan kata-kata untuk membedakan antara kitab Ahlul bidah mengatakan kalamullah makhluk sebagaimana ungkapan mu’tazilah mereka mengatakan Quran itu adalah buatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sementara kita harus mengatakan Quran bukan buatan Allah tapi dia perkataan Allah tabarakataala Allah berkata-kata dengannya disampaikan kepada jibril-jibibil mendengar disampaikan kepada Muhammad Muhammad mendengar disampaikan kepada umat apa yang kita dengarkan daripada bacaan Allah kata yang kita baca dalam mushaf itu karena Allah bukan makhluk lain nama bagaimanapun juga ketika tarik membaca Alquran suara qori makhluk yang dilantunkan kalamullah berupa kertas-kertas makhluk cinta yang menulis tapi yang tertulis itu yang tersimpan dalam dada kaum muslimin itu kalamullah al-fatihah mana kalau kita baca itu karena Allah tatkala kita membaca suara kita makhluk ciptaan Allah tapi apa yang kita Suarakan adalah kalamullah yang dibaca dengan lisan-lisan manusia suara Makhluk Yang disuarakan Karena Allah ya tertulis di mushaf itu kalau Allah ya kertas ya makhluk tintanya makhluk mesin cetaknya makhluk tapi yang tercetak dalam Allah yang dibaca kalamullah Barang siapa yang dia mengatakan la fosku dengan Quran ini ya adalah makhluk Barang siapa yang mengatakan Alquran itu maksudnya Quran sendiri adalah merupakan makhluk bahwa Alquran dia telah mengatakan Quran itu makhluk para pemirsa dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala itu adalah makhluk demikian juga mengatasi sebagian orang-orang dahulu mengatakan orang-orang mengatakan kedua-duanya tak boleh karena kata-kata lafaz dalam bahasa Arab mengandung dua konotasi pertama dia adalah merupakan masdar jika dikasih maksudkan dengan lafaz adalah bacaan seseorang melepaskan Qur’an tentunya bacaan dia ini yang dia lafazkan makhluk lafaz bisa bermakna ucapan tentunya ucapan qariq adalah makhluk lafaz juga bisa berwarna Apa yang dibaca oleh karena itulah mereka tak menyukai perkataan-perkataan yang samar-samar seperti ini ya Oleh karena itu hendaklah dijauhi kata-kata love bil quran kata-kata lovely ini bisa mengandung dua makna ya jika maksudnya adalah apa yang dilepaskan makhluk tentu dia Quran bukan ya tentunya ada perkataan jamiyah tapi jika dimasukkan oleh suaranya tentu suara makhluk oleh karena itulah kita wajib menghindari apa-apa yang mendatangkan sebuah hati berkata lima Abu Bakar Ismail rahimahullah mereka ahlussunnah mengatakan meyakini tidaklah ada sebenarnya pencipta secara hakikat kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah lah yang menciptakan segala sesuatu Adapun makhluk tak pernah mencipta mencipta dalam bahasa Arab bisa bermakna Al Ibda Al ghairim mewujudkan sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya Itulah namanya menciptakan itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bisa juga sesuatu dari yang ada menjadi bentuk yang lain manusia tidak mencipta manusia hanya berubah dari pada satu wujud kepada wujud yang lain ya ahli mebel mewujudkan mebel tapi sebenarnya mencipta mebel mebel tersebut diciptakan daripada bahan-bahan yang dibuat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena itulah tidaklah ada makhluk yang menciptakan secara hakiki apapun ciptakan makhluk hakikatnya adalah merupakan ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka Allah lah Pencipta yang Hakiki pencipta segala sesuatu lain segala macam kasab ya apa yang diupayakan hamba Adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana kita bahas yang menciptakan keadaan apapun yang kalian lakukan apa yang kita perbuat ciptaan Allah apa yang kita upayakan semua ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena kita adalah merupakan ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan sebagaimana anggapan jabarian mengatakan semuanya ciptaan Allah Manusia tak punya berat ataupun Qadar yang mengatakan Allah tak punya peran semuanya adalah ciptaan makhluk ya Allah dialah memberi Hidayah Yang maksudnya Hidayah Taufik ya manusia kepada siapa yang dikehendaki dengan kasih sayangnya dengan rahmatnya menyesatkan Siapa yang dikehendaki dengan keadilannya Siapa yang Allah sesatkan dengan keadilan Allah tak pernah menzalimi hamba Mengapa Allah sesatkan dia karena Allah telah kirim kepadanya Rasul petunjuk Hidayah dia menolak petunjuk tersebut akhirnya balasannya Allah sesatkan dia falamazakumullah manakala mereka menimpa Allah buat hati mereka menjadi menyimpang ya jadi seseorang mendapat petunjuk karena rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena karunia Allah daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut dan orang itu tersesat mana Kalau Allah meninggalkan antara dirinya dan perbuatannya Kapan Allah meninggalkan hamba bilamana hamba meninggalkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala orang tersesat karena Allah meninggalkan dia orang mendapat petunjuk karena Allah bimbing dia Mengapa Allah meninggalkan hamba karena dia menentang Allah bermaksiat kepada Allah maka laut jataliman adalah Allahu Ta’ala tidak ada alasan nanti di hari kiamat bagi orang-orang Allah sesatkan Tidak ada unsur bagi mereka karena Allah telah menyampaikan risalah menegakkan hujan mengirim para nabi menurunkan kitab memberikan akal pikiran kepada manusia memberikan jalan untuk mereka pilih dua jalan maka orang yang tersesat tak akan memiliki hujjah telah di hari kiamat Mengapa aku tersesat tidak ada hujan karena Allah telah kirimkan hujjah tegakkan Quran Allah beriman perangkat berupa akal Fitrah yang lurus ya ini semua yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada manusia tatkala mereka mengabaikan semuanya maka Dia tersesat Tidak ada alasan baginya karena sebagaimana Allah berfirman seluruh hujah itu milik Allah semata tak bisa hamba mengklaim dia punya hujan dihadapan Allah Jika Allah berkehendak Allah beri karir semuanya Hidayah Taufik dan hidayah dibagi dua ada yang namanya hidayah itu Taufik ya ada namanya hidayah itu Taufik adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah hidayah yang Allah titipkan melalui para nabi para rasul kembali kepada perkataan Syekh Abu Bakar maka Allah mampu memberikan kepadaku semua Hidayah tapi Allah tak berkehendak semua akan mendapat sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memulai kalian ya dan kalian akan kembali kepada Allah sebagian kelompok mendapat petunjuk orang-orang beriman sebagian manusia wajib atas mereka kesesatan dengan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadi menunjukkan Hidayah di tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Allah beri petunjuk allah subhanahu wa ta’ala bukan dengan kezalimannama kami telah tenggelamkan dalam neraka jahanam kebanyakan daripada golongan jin dan manusia ini kan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwasanya orang-orang yang masuk ke dalam neraka dari golongan manusia maupun dari bangsa jin Semuanya masuk ke dalam neraka dengan ketentuan Allah dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala dengan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala tapi semuanya dengan keadilan bukan dengan kezaliman tidaklah ada yang menimpa seseorang berupa musibah di bumi ini tidak pernah dalam dirinya kecuali telah dicatatkan dalam catatan allah sebelum Allah menciptakannya ya Apapun yang terjadi pada kita Sebelum Allah Subhanahu ta’ala jadikan Allah telah menetapkannya telah menuliskannya telah mengetahuinya ya wabillah Jadi apapun musibah yang terjadi di bumi ini dan dalam diri kita semua sudah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Tuliskan dengan ilmunya yang sempurna dalam kitab Lauh Mahfudz sebelum terjadi sebelum Allah ciptakan ya Na dan Allah berfirman tentang Ahli Surga Alhamdulillah telah memberikan kami Hidayah sehingga kami bisa masuk ke surga hidayah itu tafsir Kami tidak akan pernah mendapat Hidayah kalau Allah tabrik kepada kami Hidayah jadi Al Hidayah daripada Allah alih tidak menurut Abdi hamba yang mencari jalan tapi Hidayah Allah yang memberikan kepadanya ya sebagaimana yang menyesatkan itu adalah merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah merupakan hamba sendiri ya kalau Allah berkehendak Allah mampu menunjuki semua manusia memberi semua manusia Hidayah tapi Allah tidak berkehendak bukalah jalan berkata Allah sekiranya Tuhanmu mau Allah akan mampu menjadikan seluruh manusia satu agama Lurus di atas satu agama Fitrah wala yazaluna muhtarifin namun mereka akan terus-menerus berselisih meyakini bahwasanya segala kebaikan keburukan segala yang manis segala yang pahit semuanya dan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketentuan Qada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ya semuanya telah Allah Tentukan otakdirkan mereka tidak sedikit mampu mendatangkan diri mereka sesungguhnya mereka begitu fakir butuh kepada Allah tetap selama-lamanya butuh Allah dalam segala keadaan berkataan muslim rahimahullah dan mereka Langsung meyakini Allah turun ke langit dunia sebagaimana terdapat padanya keterangan sebagaimana kata nabi setiap malam ketika bersisa sepertiga malam terakhir kita imani bagaimana turunnya Jangan tanyakan sebagaimana masaha Anda yang telah datang daripada Rasulullah jangan kau tanyakan Bagaimana tuh turun ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata al-musalib rahimahullah mereka meyakini bahwasanya mungkin makhluk melihat Allah makhluk yang beriman hamba-hamba Allah yang bertakwa mungkin mereka melihat Allah sementara nanti dia hari kiamat bahkan di dunia pun mungkin tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak berikan bagi mereka kemampuan dari hanya menunjukkan mereka akan melihat Allah nanti di hari kiamat tidak di dunia tapi mungkin di dunia [Musik] Allah Subhanahu Wa Ta’ala nanti menjanjikan wajibkan sebagai bentuk balasan di hari kiamat Allah akan memberikan kepada mereka nikmat berupa melihat wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana Allah berfirman wajah-wajah pada saat itu itu hari kiamat berseri-seri manakala Mereka melihat maksudnya sekali-kali tidak sesungguhnya mereka orang-orang kafir pada hari itu pada hari kiamat benar-benar terhijab daripada Tuhan mereka dan itulah imam Syafi’i mengatakan manakala Allah menghujat dirinya dari orang-orang kafir berarti Allah akan memberikan kehendaknya kenikmatannya dengan membukakan hijabnya kepada orang-orang beriman kalau enggak minum dikatakan orang-orang mukmin orang-orang kafir semuanya tamiyallah karena Allah menyebutkan Bahwasanya Allah hanya mengecap dirinya daripada orang-orang kafir berarti orang-orang Mukmin tak terhitung dari milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentunya dengan meyakini itu Semua tak sama dengan apa yang ada pada makhluk Yasin dengan meyakini bahwasanya apa yang kita sebutkan bahwasanya kita kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukanlah dalam pengertian bahwasanya kita akan melihat Allah bagaikan makhluk ya bukan pula kita melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala meliputi oleh makhlukNya lakinya tapi mereka akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala dengan mata-mata kepala mereka ya sebagaimana Allah kehendaki bila gaib Jangan tanyakan bagaimananya pemirsa yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala inilah kiranya ringkasan tentang apa yang telah dibahas oleh wabarakatuh Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh dari pagi hingga malam hari walaupun tersebut dilaksanakan atau disampaikan secara bahasa Arab full Namun kita tetap bisa mendapatkan faedahnya yang disampaikan oleh saat lidah kita yang pagi ini disampaikan Alhamdulillah beliau berkenan hanya menyampaikannya dan mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua demikian kami undur diri dan simak kembali ulasan selanjutnya Insyaallah di malam hari wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh [Musik]
Ringkasan Daurah Syar’iyyah Ke-2 (Sesi 3 dan Sesi 4)
Gunakan Ctrl + F untuk mencari kata Klik kata tersebut untuk menuju pada video YouTube
Tags:
Leave a Reply