{"id":3350,"date":"2025-10-15T10:38:47","date_gmt":"2025-10-15T03:38:47","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3350"},"modified":"2025-10-19T10:50:32","modified_gmt":"2025-10-19T03:50:32","slug":"3350","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/","title":{"rendered":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube"},"content":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/L-7aYX8sn_8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:02) Menar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Jadi dikabulkannya doa kita dapatnya waktu mustajab itu tidak harus kita sengaja mengejar waktu itu untuk berdoa supaya dikabulkan Allah meskipun kebetulan. [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwatal Islam azaniallahu wyakum.<br \/>\n(01:01) Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan katsiran thiban mubar k yaard wasatu wasalamu asil mursalin wahabihi aj. Islam para pendengar dan sahabat Raja semuanya. Di kesempatan sore hari ini kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala kembali dipertemukan di kesempatan sore hari ini dan juga kita akan menyimak satu pembahasan kajian ilmiah dari pembahasan kitab Bulgul Maram buah karya buah karya dari Imam Ibnu Hajar Asqalani rahimahullahu taalazaniallahu ayakum pada kesempatan sore hari ini kembali kami hadirkan kajian ini di ruang dengar Anda. Dan insyaallah pada<br \/>\n(01:50) kesempatan sore hari ini sebagaimana biasanya akan disampaikan dan dipaparkan bersama guru kita Al Ustaz Alfadil Dr. Zainal Abidin bin Samsuddin, Lc. M.M. Hafidullahu taala. Dan insyaallah pada kesempatan sore hari ini beliau akan mengangkat tema dengan judul Adab Khatib Jumat menghadap jemaah saat khotbah.<br \/>\n(02:10) Ikhwat Islam azaniallahu wyakum. Setelah kajian disampaikan oleh beliau, kami membuka sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda semuanya ikhwat Islam yang ingin memperdalam materi yang telah disampaikan, Anda dapat bertanya secara langsung di 0218236543 ataupun Anda dapat kirimkan melalui chat WA di 0218236543. Nah, ikhwah Islam aani Allahu ayakum.<br \/>\n(02:33) Alhamdulillah kami telah terhubung dengan beliau yang saat ini berada di Masjid Islamic Center Imam Ibnu Hajar. Dan untuk selanjutnya kita akan simak bersama kepada Ustaz kami persilakan. Falyatafadal maskoran. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu waastainuhu waastagfiruhu waastahdih wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wasayiati a&#8217;alina may yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la syarikalah wa anna muhammadan abduhu wa rasuluh.<br \/>\n(03:37) Qalallahu azza waalla. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqokum min nafsin wahidah walaqo minha zaujaha w minhuma rijalan katir wa nisaa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallaha kaana alaikum raqiba Waqala tabaraka wa taala. Ya ayyuhalladzina amanutqula haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.<br \/>\n(04:28) Waqala subhanahu wa taala. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha [Musik] waquulu qulan sadida. Yusrih lakum a&#8217;malakum waagfir lakum dzunubakum wam yutiillaha waasulahu waqad faza fauzan adima. Fa inna khairul hadisi kitabullah wahairul hadi hadyu muhammadin sallallahu alaihi wasallam wasyaral umuri muhdasatuha waulla muhdasatin bidah waulla bidatin dolalah wa dolatin finas.<br \/>\n(05:18) Ikhwani wa akhwati fillah. Saudara-saudariku yang dirahmati Allah. wabil khusus karyawankaryawati IBS i pekerja untuk memajukan pendidikan. Jadi antum ini bekerja bukan sekedar kerja masuk kantor, tapi kerjaan yang paling mulia itu adalah pendidikan. Mendidik anak-anak kaum muslimin di atas alkitabu wasunah.<br \/>\n(06:10) Dan antum berperang karena Allah mengatakan waman ahsanu qulam mimman da&#8217;a ilallah. Enggak ada orang yang paling terbaik ucapannya dibanding orang yang menyampaikan Islam. Dan Rasul sallallahu alaihi wasallam juga mengatakan la ay yahdiallahu bika. Andaikan ada orang yang mendapatkan petunjuk lantaran kamu. Oh, lantaran. Jadi lantaran antum menjaga kebersihan pondok anak jadi tenang belajar lantaran antum disiplin, kerja keras dalam pengadaan.<br \/>\n(06:58) Jadi anak anteng nyaman di pondok lantaran antum begadang melek sekurity jaga supaya [Musik] maka anak jadi nyaman gitu. Jangan cuman senangnya kalau jaga di pondok perempuan. itu karena ada teman chatting malam-malam itu berarti ada udang di balik. Nah, itu ya di balik itu yang senyum merasa, yang ketawa berarti sudah melaksanakan.<br \/>\n(07:52) Oke, kita kali ini menarik adab yang sebetulnya bukan hanya ditekankan pada khatib, tapi juga pada jemaah, yaitu menghadap. Jadi imam menghadap jemaah, jemaah juga menghadap khatib ketika khotbah. Jangan ketika sudah mulai khotbah malah menjadi tempat persembunyian kayak udang tadi. Takut ditangkap penjala. Ada yang sembunyi di balik tembok, ada yang sembunyi di balik tiang, ada yang sembunyi di balik punggung temannya.<br \/>\n(08:45) Apalagi mentang-mentang temannya gede ya, cukup untuk bersembunyi. Nah, orang-orang yang sembunyi pada tempat pertemuan umum itu pasti kesannya negatif. Lihat aja, Pak. Hewan-hewan yang enggak mau ketemu manusia pasti hewan-hewan negatif, hewan buruk. Contoh tikus. Kalau ada orang gimana? Sembunyi. Dua kadal itu kalau ada orang itu berarti orang-orang yang tidak mau bertatapan dengan imam pasti ada masalah.<br \/>\n(09:29) satu supaya enggak ketahuan ngantuknya ya toh. Atau memang tidak atau takut disemprot sama khatib karena kelakuannya jelek lah. Wah ini nyinderku ini. L jelek. Jadi pasti ada kesan negatif gitu ya. Ini bukan manusia saja, ternyata hewan-hewan yang bermasalah itu pun menghindar dari manusia. Satu tikus, dua apa tadi? Kadal, tiga cicah.<br \/>\n(10:17) Apalagi semua dan hewan-hewan yang akrab dengan manusia, memberi manfaat manusia. Apa nampak lengket biasa lihat sapi biasa sama manusia kambing biasa. Karena apa? Karena ngasih manfaat. Kucing juga gitu. Walaupun kalau salah dia juga ngerti nyolong ikan gitu. Dia sudah ngerti dia kalau papasan ada malu ini udah salah kagak punya malu.<br \/>\n(10:51) Kalah tuh tikus, kalah tuh apa? Kucing gitu ya. Oke. Nah, saya akan sampaikan hadis dari Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud, seorang sahabat minasabiqinal awwalin. Orang-orang yang masuk Islam di awal bahkan menemukan hijrah ya awal ke Habasyah apalagi hijrah ke Madinah. Bahkan beliaulah yang menyerahkan kepalanya Abu Jahal kepada Rasulullah ketika dibunuh pada waktu perang Badar.<br \/>\n(11:32) Itu beliau yang membunuh Abu Jahal. Ya. Dan beliau termasuk ulama dari kalangan sahabat ridwanullahi alaihi minal mukirina fil hadis. Dan banyak meriwayatkan hadis dan ahlul Quran, hafid, bahkan Rasulullah sendiri sering murajaah kepada Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud. Makanya pernah Rasulullah murajaah surah An-Nisa itu yang membaca Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud. Masyaallah.<br \/>\n(12:16) Berarti bacaan Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud itu recommended mendapatkan rekomendasi sudah bagus sampai dijadikan rujukan Rasul. Enggak main-main itu. Makanya Rasulullah mengatakan, &#8220;Man ahabba ayqraal qurana gadon thiyan falyaqro qiroata ibni ummi ab.&#8221; Siapa yang ingin membaca Al-Qur&#8217;an dengan bacaan segar seperti masa turunnya, orisinil, bagus, gunakan qiraahnya Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud itu Ibnu Ummi Abduk recommended itu ya.<br \/>\n(13:06) Dan ketika Quran itu dibukukan, Pak, oleh tim pembuku Al-Qur&#8217;an pada zaman Abu Abu Bakar yang diselenggarakan oleh katib-katibnya ee Rasulullah dan juga Abu Bakar ketika itu. Di antaranya adalah Ubay bin Ka&#8217;ab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit. Mereka menemukan 70 surah Al-Qur&#8217;an di Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud. 70 surat di antara sekian berapa? 100.<br \/>\n(13:40) Ada berapa surat Al-Qur&#8217;an itu, Mas? Hah? Berapa? Benar nih. Meyakinkan loh. Hm. Pertokel tuh ya. 115 atau 116. 14 ada 20. 120. Benar. Yakin. Nah. Masyaallah. Ini berarti membaca Al-Qur&#8217;an semua khatam tiap bulan 30 juz ya atau juz 30 lumayan. Nah, jadi hadirin sekalian 114 ditemukan di Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud 70 signifikan lebih daripada separuh.<br \/>\n(14:34) Dan antum jangan bayangkan mereka dulu itu membaca dengan melalui mushaf tapi apa? Hafalan yang dia miliki secara sempurna. Tuh ya. Akhirnya beliau wafat tahun 32 Hijriah. Digelari oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam Abu Abdurrahman. Walaupun ketika itu belum punya anak. Makanya anak yang pertama dinamai Abdurrahman setelah muncul gelar kunyah. Makanya dari sini juga seorang dibolehkan memberi kuniah dirinya walaupun belum punya anak. Gitu.<br \/>\n(15:18) Contoh Aisyah tidak pernah punya anak tapi beliau menggelari dirinya dengan siapa? Ummu Abdullah. Gitu. Tib. an Abdillah ibni Mas&#8217;udin radhiallahu anhu qala kana Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam berarti menunjukkan selalu kana itu kalau di nisbatkan akan adanya suatu perbuatan menunjukkan istimrar kana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam idastawa ketika Duduk alal mimbari di atas mimbar istaqbalahu kita menghadap.<br \/>\n(16:05) Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika sudah duduk di mimbar itu sahabat menghadap biwujuhina dengan wajah kita. Tujuannya apa? Satu, orang yang menghadapkan wajahnya itu menunjukkan keseriusan. Dua, pastinya nanti ketika antum serius, konsentrasi, hati, pikiran juga fokus. Beda dengan orang yang berpaling.<br \/>\n(16:36) Contoh aja lihat orang yang antum bic ajak bicara menghadap dengan yang melengos sana, melengos sini, ngadap bahkan membelakangi. Mana yang lebih fokus? Yang menghadap. Dan imam juga khatib juga akan termotivasi. Woh, ini perhatian semua. Tapi kalau khatib melihat di sono udah mulai tumbang, di sono udah mulai teklak-tekluk, yang satunya udah mulai kesurupan, yang satunya udah masuk alam lain, enggak tahu jin apa yang menyurup, imam juga apa.<br \/>\n(17:15) Aduh, udah begitu khatibnya masyaallah khotbah bel tidur monoton bahasanya itu-itu aja sudah lengkap khatib wal jamaah ya setali tiga uang ya apa bikin masjid itu semuanya kesurupan masal ya w habis salat salaman sama khatib terima kasih Pak Imam Masyaallah khotbahnya bagus sekali. Wah, terima kasih ya apresiasinya.<br \/>\n(17:50) Karena sudah seminggu enggak bisa tidur, Pak Imam. Setelah dengar khotbah jadi pules. Aduh, ini khotbah apa ini? Makanya di sini, Pak. Kalau Jumat itu satu jangan dipersir, persiapan jauh waktu. Jangan dak ada pebersih. Kalau ngantuk-ngantuk dikit, tidur dulu jam-jam 11.00. I kenapa? Karena siapa aja yang sudah diporsir, diperas, kerja keras, kepanasan, langsung masuk masjid IHBS dijamin 100%.<br \/>\n(18:35) Aduh adem enak gitu pules gitu. Oleh karena itu ketika imam itu serius, makmum itu serius maka gemah khotbah itu akan tampak. Tapi kalau sekarang khatibnya sudah temanya usang, bahasa yang digunakan bahasa monoton, jemaahnya semuanya enggak fokus, enggak ngantuk, bahkan ada yang sembunyi di belakang tembok, di belakang tiang.<br \/>\n(19:14) Udah, maka kegiatan khotbah jumah itu hanya ritual belaka. Seremonial yang kosong dari kenyataan dan dari makna dan hikmah. yaitu apa? Mengetuk, memberi nasihat, memberikan bimbingan kepada umat. Kenapa? Karena peserta salat Jumah itu kebanyakan mereka jarang ngaji, rutin seperti ini.<br \/>\n(19:44) Maka kesempatan bagi khatib untuk memberikan materi-materi yang mengena tema-tema khotbah yang sekarang bagus, bimbingan Islam yang sekarang ini baik, sehingga orang itu akan muncul kesadaran di dalam beragama. Udah gitu datangnya juga mepet, imam sudah naik. Enggak boleh, Pak. Tolong ini ada kesalahan umum merata di kalangan kaum muslimin datangnya ke masjid ketika salat jumah itu disamakan dengan zuhur.<br \/>\n(20:15) Kalau antum zuhur pas imam itu apa muadzin qat masih ditolelir gitu artinya azan pun masih ditolelir ini cuma beda. Rasulullah makanya membagi ee waktunya jumat berapaib. Bahkan hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad Ibnul Fadl ibnu Atyah yang dikatakan oleh para ulama di antara at-Tirmidzi hadisnya sama sekali tidak bisa dijadikan hujah.<br \/>\n(20:54) Bahkan Imam Ahmad mengatakan dia itu lebih mirip Ahlul Kadib. Makanya hadis-hadis yang dia riwayatkan mendekati hadis-hadis apa? Palsu, dusta, dan bermasalah. Matruk gitu. Salh. Makanya Nabi Saleh menyarankan, makanya Nabi Saleh menyarankan, siapapun yang menemukan tanda tanda anak yang dilahirkan seperti ini, maka hendaknya dibunuh.<br \/>\n(21:29) Enggak mungkin seorang nabi menyarankan seperti itu. Makanya hadis riwayat tentang masalah naqah ee ini atau untanya Nabi Saleh seputar itu adalah tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lah walahu syahid. Namun kata Imam al-Hafid, meskipun hadis ini diifun jidda dan dikatakan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa dahibul hadis tapi ada syahid. Dan di dalam konteks ini walahu syahidun min hadisil barra inza ibni huzaimah.<br \/>\n(22:09) Syahid itu adalah yang terkait dengan matan. Kalau mutabaah kaitannya dengan sanad. Artinya meskipun sanadnya hadis ini diif secara makna bisa diterima, bisa dijadikan sebagai sebagai dalil. Apalagi masalah ini sejalan dengan tradisi yang berkembang di zaman dan juga kebiasaan salafus saleh di mana orang-orang yang khotbah imam selalu menghadap kepada jemaah dan jemaah fokus kepada imam.<br \/>\n(22:47) Itu sudah menjadi tradisi dan perkara yang baik. Oleh karena itu, hadis ini secara makna bisa dijadikan diangkat menjadi suatu tema. bahwa imam dianjurkan untuk menghadap jemaah. Makmum juga begitu lebih. Nah, bagaimana sekarang ini mas ini ee sebelum saya jelaskan itu, Pak, saking pentingnya di sini ada satu interaksi yang komunikatif antara khatib dengan jemaah.<br \/>\n(23:22) Aslinya orang itu kan dianjurkan untuk menghadap khid kiblat ini sampai Allah dan rasulnya mengizinkan khatib untuk membelakangi kiblat. Coba lihat aslinya keutamaan seorang itu menghadap kiblat. Makanya kalau antum cek semua penceramah memberi kajian yang ada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi itu ngadap kiblat. jemahnya yang tidak taas bin Nabi dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan alka&#8217;batu qiblatul ahyai wal amwat.<br \/>\n(23:57) Ka&#8217;bah itu kiblatnya orang yang hidup dan mati. Makanya mati pun kalau dikubur ngadap ke mana? Kiblat gitu. Tapi ini demi kepentingan interaktif dengan jemaah, demi kepentingan maslahat khotbah sampai imam diizinkan ditolelir membelakangi kiblat, tidak menghadap kiblat.<br \/>\n(24:26) Nah, makanya di sini antum yang fokus, antum yang serius. Tunjukkan semangat antum mendengarkan, keseriusan antum untuk memperhatikan, memahami apa yang disampaikan, mencermati dengan sesama isi-isi khotbah dengan cara apa? Menghadap itu tanda secara zahir.<br \/>\n(24:51) Kalau sudah antum menghadap fokus tembus insyaallah pikiran hati, akhirnya yang dinasihatkan itu kena. Karena syarat nasihat itu masuk. Inna fialika limanana lahu qolbun. Hati dulu dipasang. Alqama pendengaran kita juga kita fokuskan. Wahua syahid. Fokus dapat. Makanya hati kita kita betul-betul fokuskan. Telinga kita pasang di dalam perhatian konsentrasi. Insyaallah. Makanya di sini mendengarkan yang dituntut bukan mendengar.<br \/>\n(25:31) Kalau kita tanya si kambing kebu yang lewat depan masjid itu kalau sedang dikumandangkan azan kira-kira dengar gak itu sapi kebung? Dengar enggak azan? Dengar. Tapi kenapa sapi enggak ke masjid? Karena tidak mendengarkan. Itu menunjukkan beda mendengar dengan mendengarkan.<br \/>\n(25:58) Sehingga ketika kita ee di dalam proses dengar-mendengar Quran itu yang dituntut oleh Allah, waidza qurial Quranu fastamiu. Dengarkan. Mendengarkan khotbah, mendengarkan Al-Qur&#8217;an, mendengarkan nasihat, mendengarkan, cuman jangan sekedar mendengar. Sehingga ketika ditanya, &#8220;Dengar-dengar iya sih, Pak.&#8221; Lah dengar-dengar. Percuma biasanya orang yang bicara enggak serius kalau ditanya jawabannya ngambang bilangnya saya mendengarkan atau saya dengar. Dengar.<br \/>\n(26:30) Dengar-dengar sih kayaknya begitu, Pak. Itu saya lihat dia boncengan tuh sama canda kemarin itu. Tapi sen dikocek enggak? Wa fitnah itu paham apa yang gua omongin enggak nyambung semua? Aduh. Oke. Apa? Apa ngomong apa gimana? Siapa? Bang Joteng. Oh bahaya. Ah, jangan antum sudah pakai coba putih itu sebentar lagi haji ini. Masyaallah.<br \/>\n(27:14) Masyaallah. Nah, itu ya. Amin ya rabbal alamin. Masyaallah. Oke. Dari sinilah Imam albukhari membuat satu bab. Babun yastaqbil yastaqbilu al imamul. Bab dianjurkan imam itu menghadap kepada jemaah. Wasttiqbalunasi al imam. Manusia juga menghadap fokus kepada imam kalau memungkinkan a khatab ketika khotbah.<br \/>\n(27:52) Tapi kalau luas dan tempatnya di atas ya maksudnya di sini adalah fokus konsentrasi itu apalagi di sini menunjukkan ketidakeriusan apa? Tidur ngantuk ya. itu udah jelas enggak benar. Sehingga di sana ada satu hadis juga, innan nabiya sallallahu alaihi wasallam. Kata Abu Said Alkudri, &#8220;Sesungguh sesungguhnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam jalas yaumin alal mimbar.<br \/>\n(28:24) &#8221; Rasulullah sallallahu alaihi wasallam suatu ketika duduk di atas mimbar. Wajalasna haulahu duduk di sekitarnya. Itu kayak begini. Makanya disebut halaqah. Khalaqah itu lingkaran. Ngaji itu membentuk lingkaran. Jangan ada yang senderan, ada yang jauh, ada yang dimocok, ada yang lagi enggak? Enggak serius itu. Nah, dari sinilah kita bisa simpulkan habis ini kita buka tanya jawab.<br \/>\n(28:55) Waminhuna yatabayyan dari situ tampak jelas anama yafaluhu ba&#8217;dunas. Apa-apa yang dilakukan oleh sebagian manusia minal jidarin senderan di atas tembok amudin atau tiang mustadbirinalqiblah membelakangi kiblah atau nyerong wawajhal khatib dan juga tidak menghadap ke wajahnya khatib atau ee seorang yang sedang khotbah.<br \/>\n(29:33) H anna h khilaful aula ini menyelisihi keutamaan wur kaifain syar ini lihat perhatikan pak sampai syariat mengizinkan khatib membelakangi kiblat padahal aslinya seorang itu sunah menghadap kiblat sampai diizinkan membelakangi tujuan utama liuwajihu al hadirin agar terjadi komunikasi interaksi yang bagus antara imam dengan makmum, antara khatib dengan jemaah.<br \/>\n(30:08) Lah dari sini bagaimana dibalas oleh jemaah yansorb miring kanan miring kiri nengok kanan nengok kiri menghadap yang ke apa ke tembok ya ada yang ke tiang ada yang nungging-nungging ya ana kira serius ternyata berkali-kali berarti enggak serius orang itu kalau mantuk-mantuk serius itu rata-rata dua tiga kali ini sampai tujuh kali berarti.<br \/>\n(30:41) Nah, tidur gitu. Nah, gitu aja. Moh masyaallah bagus. Ini lucu. Oh, berarti enggak beres tuh. Wallahuam bisawab. Demikian kita buka tanya jawab dan insyaallah pertemuan yang akan datang terakhir ee hadis di dalam kitabul jumuah itu ya. Jadi kitab jumah sudah selesai. Nanti kita akan berpindah kepada kitab salatul khauf.<br \/>\n(31:15) Dari salat ketika saat perang itu kayak apa. Ya, harus wajib kita ketahui walaupun antum enggak pernah perang. Itu kan gitu. Cara salat ketika perang itu beda dengan dalam keadaan normal. Itu minim-minimnya. Nanti kalau ada lomba cerdas cermat pas Idul Fitri eh pas Ramadan antum bisa jawab kan gitu. Nanti cerdas cermat nanti kita akan adu per unit sopir lawan catering.<br \/>\n(31:45) Iya ee catering lawan security. Nanti pokoknya masing-masing memperkuat devisi. Yang kalah kita gojlok sampai nangis. Oh iya, pas rapat general ya itu. Jadi nanti per defisi kita akan adu cerdas cermat. Itu temanya isi kajian itu ya keluarin teh apa t ini timnya jadi cerdas cermat nanti ya kan.<br \/>\n(32:19) ini ada berapa defis? Ada lima apa tujuh? Lumayan itu nanti hadiahnya ee apa? Telur ayam gitu satu krat gitu kan gitu lumayan buat lempar-lemparan tuh itu. Itu insyaallah pokoknya menarik deh nanti ya lomba cerdas cermat antar junit. Jadi nanti sudah tidak tahfid lagi nanti jadi cerdas cermat tentang materi Islam insyaallah. E demikian silakan mungkin ada yang tanya tafadol. Masyaallah.<br \/>\n(33:02) Nam ustaz jazakumullah khairan barakallahu fikum atas materi yang telah sampaikan ustaz kesempatan sore hari ini tentang adab khatib Jumat menghadap ke jemaah saat khotbah. Islamuakum kami buka sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda yang bertanya secara langsung Anda dapat menghubung kami 0218236543 ataupun Anda dapat kirimkan pertanyaan Anda di chat WA di 02182365436.<br \/>\n(33:27) Kita angkat yang pertama ma telepon terlebih dahulu. Silakan bagi Anda yang sudah terhubung ya. Silakan. Asalamualaikum Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. dengan siapa Bapak dan berada di mana ini, Pak? Ee ee Iskandar, Pak. Pak Ustaz. Iya, silakan, Pak Iskandar. Ini, Pak anu melenceng dari tema, Pak. Gak apa-apa, Pak. Ini.<br \/>\n(33:50) Iya, silakan, Pak. Dari tema, Pak. Ini saya mau tanya, Pak. Kan kemarin saya ke PP, Pak. Saya mau beli barang ee minjam uang di bank. Apa itu, Bang? Pak, Pak Ustaz mau tanya apakah itu juga sama riba dengan uangnya orang kalau dipinjamkan sama orang, Pak? pinjam dengan bank gitu, Pak ya. Iya, Pak. Apakah itu termasuk riba juga Pak Ustaz? Karena aku gak tahu, Pak.<br \/>\n(34:15) Karena aku mau beli barang KPP mau tambah uangnya, Pak. Baik, terima kasih, Pak Iskandar, Pak. Ya. I. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih pertanyaan Pakandan dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan, Ustaz. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha wru ma baqiya minar riba in kuntum mukminin. Wahai orang yang beriman.<br \/>\n(34:52) Panggilan iman itu karena orang yang paling bisa mendengar, memahami, mengabulkan. Hanya hati yang iman. Orang yang ada pembangkangan, ngeyel, cuek itu pasti. Makanya yang dipanggil oleh Allah supaya tidak menyita energi dan juga efektif. Ya ayyuadzina amanu. Tinggalkan sisa-sisa. Berarti sedikit pun enggak boleh. Sisa-sisa.<br \/>\n(35:28) Dan di sini Allah memberikan syarat lagi terakhir kalau kamu beriman. Coba bayangkan dipanggil ya ayyuhalladzina amanu. Di sini diberikan satu catatan in kuntum syarat orang itu beriman ninggalin riba. Oh itu inuntum mukminin kok. Artinya apa? Syarat orang itu memiliki iman yang sempurna ninggalkan riba. Dan riba itu sudah dimaklumkan oleh Allah yamhullahur riba.<br \/>\n(36:01) Allah melumatkan ribaqah mengembang biakkan sedekah. Sehingga Rasulullah menegaskan di dalam hadisnya inbaqatahuirin. Riba itu meskipun awalnya melimpah nanti ujung-ujungnya itu sedikit enggak berkah. Makanya tinggalkan. Dan bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengatakan 1 dirham dimakan riba itu sama dengan menzinai ibu 33 kali.<br \/>\n(36:42) Loh, coba bayangin dosa zina dengan ibu sekali aja itu kayak apa? Inni anhakumina. Aku larang kalian berzina. biasatin ahwanallahi taala min anani biimraati jarik aku larang berzina tapi andaikan kamu berzina dengan 10 wanita lain itu lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangga karena khianat apalagi ibu apalagi riba tiga-tiga kali tahu enggak perbandingannya nih.<br \/>\n(37:25) Hah? Masuk enggak nih akal antum? Kok melototin saya antum ini? Jangan-jangan enggak beres nih. Semua orang tukang ngotel, tukang riba jangan. Apalagi sudah difasilitasi komi, masih juga ngeriba. Aduh sudah kiamat itu kiamat sugrah gitu loh, Mas ya. Insyaallah. Jadi, Pak, intinya riba itu enggak peduli bank swasta, bank pemerintah, dan sekarang bank besar atau bank titil atau bank percit, bank apaagi? Hah? Bank yang per hari datang ke rumah antum itu loh, bank apa namanya? Hah? Hah? Bang, iya.<br \/>\n(38:21) Peng pengkeliling itu apa namanya? Pangkel bangkai. Masyaallah namanya itu sudah seram itu. Itu kalau sudah seram-seram itu udah enggak jelas. Contoh aja bahannya rokok apa? Tembak kau loh. Kan ngeri itu loh. Tembak kau loh. Belum apa-apa udah tembak kau. Itu belum jadi Pak. Gimana kalau sudah jadi rokok itu mati kau gitu gitu.<br \/>\n(39:03) Bahannya aja sudah tembak kau itu jadi mati kau itu makanya matikan rokok sebelum rokok memati mematikanmu. Hidup kasih umur panjang malah dipendekin pakai rokok dihisep terus tiap hari itu umur lu. Sekarang gimana bisa panjang? Asap aja dibuat rebutan. Keluar masuk, keluar masuk. Mau efektif masukin tuh banyak asapnya. Kala masuk kresek kali dah itu kan enak tuh.<br \/>\n(39:31) Awet satu batang insyaallah sehari ya. Hisap banyak apalagi pakai elektrik yang banyak asapnya. Keluarin langsung masukin tuh ee apa plastik sampah tuh. itu enak kan muter aja gitu insyaallah berangkat ke dari rumah ke kantor itu kenyang tuh itu aneh kadang-kadang cuman asep aja dikeluarin dimasukin dikeluarin dimasukin sudah gitu kadang dibentuk bunder natap kepala orang lain ini orang perokok itu memang masyaallah memang perokok itu paling dablek dinasihatin paling susah Sah. Katanya antum kalau ngerokok itu miskin,<br \/>\n(40:18) mendingan enggak ngerokok. Ngeyel dia. Pak, saya ngerokok enggak ngerokok miskin gimana, Pak? Aduh, apaapa enggak ngerokok juga kagak bisa beli truk? Aduh, tangan, jantung, empotan macam-macam. Mati cepat. tetangga gue enggak ngerokok mati duluan, Pak. Ngeyel itu. Makanya ee perokok itu enaknya diapain gitu? Diapain ya? Dinasehhatin kan gitu.<br \/>\n(40:59) Itu makanya prinsipnya perokok itu kagak ada lo enggak ramai kan gitu ya. Nah, ada lu mati kan sepi itu. Oke. Dan yang sehat, yang sakit itu antum sendiri. Mana dulu seperti itu ideologi kita ciptakan, doktrin kita ciptakan sehingga ana berani berhenti, ana ngerokok.<br \/>\n(41:31) E orang pondok enggak ngerokok itu ibarat eek enggak cebok kan gitu prinsip. Makanya pasti orang ana orang pondok. Orang pondok pasti ngerokok. Orang pondok enggak ngerokok ibarat eek enggak cebok. Tapi ada prinsip, ada doktrin, ada ideologi yang saya tanamkan sendiri. Yaitu apa? Kesehatan itu di atas segala-galanya. Apalagi antum punya anak, punya istri, perokok. Coba bayangkan istri antum enggak kasihan dicium kayak ditampar aspak rokok.<br \/>\n(42:00) Plok plok begitu. Wah, bau rokok soalnya. Hm. Enaknya apa itu? Paham apanya yang paham? Paham-paham loh. Diulangi juga tuh. Dasar lu tengil. Oke, yang lainnya silakan tanya. N ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum berikan.<br \/>\n(42:28) Ustaz, jawaban dari Pak pertanyaan Pak Iskandar telah terjawab dan kita akan simak kembali pertanyaan berikutnya di 021 8236543. Kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung untuk bertanya ya. Silakan ya. Silakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Ya, saya dengan Arifin Almaliki di Banten.<br \/>\n(42:51) Ustaz silakan Pak Arifini. Iya. Eh, asalamualaikum ya, Ustaz. Laaka bikhair. Iya. Saya ingin bertanya. Jadi, kan kalau seseorang jadi imam gitu, Ustaz. Ee terus misalnya salat magrib ya ee setelah selesai salam itu kan menghadap ke apa ya? Ke kanan ya. Jadi kuping kanan di arahkan ke jemah, kuping kiri ke ee kiblatnya.<br \/>\n(43:30) Ya, itu itu maksudnya seperti apa gitu ya? Ee kenapa waktu zaman Rasul itu seperti itu, Ustaz? Yang ingin tahu penjelasannya gitu. Baik, terima kasih Pak Arifin. Cukupin ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaannya dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan, Ustaz.<br \/>\n(43:48) Tayib ikhwah sekalian, al-insiraf di dalam bahasa hadisnya itu insiraf adalah memalingkan muka ke arah imam. Karena di sini fana minas sunnati termasuk sunah salat. Ayuqbilal imamu alal makmum biwajihi menghadapkan imam ke makmum dengan wajahnya ama minas ketika sudah salam wa alla yastamir mustaqbilal kiblah dan tidak terus ngadap kiblat.<br \/>\n(44:38) Kenapa? Karena pada saat setelah salat imam itu memberi tanggung jawab. Makanya ada dalam hadis Rasul Sallahu Alaihi Wasallam, almuadzin muktamanun wal imamu domin. Muadzin itu pemegang amanah. Imam itu pemegang tanggung jawab. tanggung jawab sebagai imam pemimpin untuk memantau, untuk memastikan, untuk mengawasi rakyatnya yang sekarang ini di imam.<br \/>\n(45:17) Itu hikmahnya. Makanya di sini dikatakan oleh Imam albukhari, babul infital wal insirafil yamini wasyimal. Bab kita itu boleh berpaling dari kanan dari kiri. Jadi enggak ada ketentuan Pak dari kanan dari kiri terserah. Wafia shahi muslimudi qaltu anasan kaifa anifu sh eh shitu yamini an yasari. Bagaimana saya itu berpaling ya untuk dari kiblat menghadap jemaah? Apakah dari kanan apa dari kiri? Q amma ana faakaru maitu shallallahu alaihi wasallamu yamini. Adapun yang saya lihat kebanyakan yang dilakukan oleh Rasulullah dari arah kanan<br \/>\n(46:18) tapi bebas. Makanya dari sini Imam an-Nawawi menyetir hadis tersebut menegaskan, &#8220;La yaj&#8217;alanna ahadukum lyaitoni min nafsihi jusan illa la yaro illa anna haqqon alaihi alla yansorifa illa yamini.&#8221; Jadi berpaling dari arah kanannya. Akars maitu rasul wasamuimali. Di sini saya lihat kebanyakan Rasulullah berpaling dari arah kirinya.<br \/>\n(47:02) Jadi dari sini kita gabungkan kanan boleh, kiri juga boleh. Intinya hikmah utama seorang imam ketika habis salat, assalamualaikum langsung sambil membaca astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Kemudian ketika Allahumma antasalam itu sudah menghadap makmum. Allahumma antasalam waminkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikram. Ya, di sini ada beda kalau melihat Ka&#8217;bah ketika haji dan umrah.<br \/>\n(47:37) Allahumma antas salam wink salam fahayyina. Itu kalau salat Allahumma antas salam wamink salam tabarakta ya dal jalali wal ikram. Sudah. Setelah itu lanjut zikir sehingga ketahuan, &#8220;Oh, itu yang pergi itu nanti Jumat atau salat berikutnya pergi lagi. Ah, berarti jemaah ini sudah kebiasaan lamcing. Salam plencing itu kan gitu. Salam apa? Langsung pergi.<br \/>\n(48:12) Oh, ini kadang-kadang. Oh, ini masyaallah yang terdepan istiqamah sampai akhir sehingga ketahuan, oh kok enggak ada yang biasa salat ini ke mana? Oh, sakit, oh pindah, oh hijrah. Sehingga imam itu betul-betul bukan hanya imam di masjid, tetapi imam di seluruh keadaan ya. Di masjid, di luar masjid, di tengah masyarakat memperhatikan keadaan makmum.<br \/>\n(48:42) Makanya saking pentingnya memperhatikan keadaan makmum Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah ingin memanjangkan salat karena mendengarkan tangisan si bayi mempercepat salatnya, memperingan salatnya karena kasihan ibunya tuh penting. Rasulullah menegur Muad bin Jabal dengan teguran keras. Afatanun anta ya Muad.<br \/>\n(49:10) Apakah kamu menjadi sumber fitnah? Ingin menjadi sumber fitnah wahai Muad karena menjadi imam salat Isya dengan surat Albaqarah. Itu coba kalau Albaqarah nungging semua. Makanya kagak ada yang diselametan ila hadratin Nabil Mustofa Muhammadin sallallahu alaihi wasallam. Albaqarah enggak ada. Paling alfatihah. Karena kalau Albaqarah ubar tuh tahlilannya itu kan gitu.<br \/>\n(49:41) Albaqarah auliya tisah wali cuman fatihah tok. Wali sembilan ya harusnya semilan orang. Hebat albaqarah itu ini ya. Fadal ada lagi? Silakan ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jaban yang telah antum berikan, Ustaz. Jawaban untuk Pak Arifin Maliki.<br \/>\n(50:08) Mudah-mudahan dapat dipahami dengan baik dan benar atas jawaban yang telah diberikan oleh Ustaz Tib. Kita angkat pertanyaan berikutnya di 0218236543. Ya, kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan. Mohon maaf Ibu atau Bapak suaranya tidak terdengar dengan jelas. Terlalu kecil sekali. bisa lebih dikeraskan, lebih didekatkan suaranya dengan ee HP-nya ataupun teleponnya ya. Bisa diulang kembali dengan siapa dan dan dari mana? Asalamualaikum, Ustaz.<br \/>\n(50:44) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mohon maaf, Ibu suaranya masih kecil sekali. Ibu baik terputus. Kita tunggu kembali khot Islam azaniallahuakum. Bagi Anda yang ingin bertanya kami persilakan di 0218236543 dan mohon agar dikecilkan terlebih dahulu suara televisi ataupun radionya ketika Anda berbicara agar tidak feedback dan juga lebih didekatkan suaranya dengan alat komunikasinya agar kami bisa terdengar dengan baik, bisa mendengar dengan baik.<br \/>\n(51:23) Ya, silakan ya. Silakan. I silakan asalamualaikum. Iya. Silakan. I. Asalamualaikum. Halo. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Pak Rio di Bogor, Pak. Pak Rio di Bogor. Silakan Pak Rio. Ini mau tanya ini. Masalah itu salat. Heeh.<br \/>\n(51:56) Salat itu kalau salat zuhur sama asar digabung itu berapa rakaat? Rakaat dan untuk apa nih Bapak? Untuk untuk qasar, Pak. Salat safar. Dalam safar ya. Kalau misalnya kan dari rumah itu enggak ini enggak zuhur. Zuhur di perjalanan terus sampai rumah asar. Hm. H dijamak aja, Pak, ya? Dijamak saja, Pak, ya. Oh, jamak itu berapa? Iya. Baik, cukup, Pak, ya.<br \/>\n(52:29) Pertanyaan, Pak, ya. Ya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Ustaz. Pertanyaan di Pak Rio tentang berapakah lima rakaat ketika menjamak salat zuhur dengan asar, Ustaz? Silakan, Ustaz. Perlu dibedakan antara jamak dengan qasar. Qasar saja, jamak saja. Kalau kita jamak qasar berarti dua salat digabungkan itu namanya jamak.<br \/>\n(52:58) Diqasar salat yang empat dikurangi jadi dua. Kalau jamak qasar berarti di sini ada penggabungan waktu dan pengurangan salat. Tuh. Dan perlu diketahui kalau sudah qasar hanya kaitannya dengan safar. Enggak ada qasar kalau enggak ada safar. Tapi kalau jamak itu kaitannya dengan kesibukan. Kalau ada kesibukan yang tidak boleh tidak.<br \/>\n(53:29) Kalau kita tinggalkan maka hajat-hajat itu akan ee terlepas atau maslahatnya itu akan hilang. Maka dibolehkan contoh perempuan yang istihadah pendarahan. Kalau salat setiap waktu dia akan mengalami masyaqah, kesulitan. Maka boleh jamak zuhur, asar, magrib, isya. Zuhur berarti empat tetap asar empat digabung jadi satu.<br \/>\n(53:55) Kalau awalnya namanya takdim, kalau akhir namanya takhir tanpa pengurangan salat. Atau dokter yang sedang operasi, operasi besar itu membutuhkan 5 jam sampai 8 jam mulai jam 11.00. Dijamin zuhur lewat. sampai asar itu apa yang dilakukan dokter operasi ketika zuhur ditinggal itu habis dibelek salat dulu ya saya mati kan gitu sudah e perawat di situ ya sudah urusin ya saya salat dulu ya enggak mungkin diselesaikan nanti kalau selesai ada waktu salat kalau enggak jamak contoh aja security ini ee apa polis Polisi-polisi yang menjaga imam di<br \/>\n(54:45) Masjidil Haram, Masjid Nabawi itu ketika jumah malah enggak salat itu karena untuk menjaga ini. Bahkan ada orang yang sekarang ini mungkin penjaga bank, bank yang sedang kondisinya itu kontras, bahkan terjadi kerusuhan. Maka seorang sekurity karena diwajibkan untuk menjaga tidak boleh meleng bisa jamak gitu ya. Jadi jamak itu tergantung maslahatnya.<br \/>\n(55:23) Lalu kos safar ada safar ada qasar enggak ada safar enggak ada qasar. Kalau qasar yang berubah itu salatnya. Kalau jamak yang berubah waktunya. Tuh bedanya itu. Tapi kadang jamak qasar bisa bergabung karena safar berkaitan dengan apa? Maslahat. Contoh antum diutus perusahaan untuk pelatihan ke Jepang ya selama 2 bulan umpamanya.<br \/>\n(55:56) Sementara kalau kita itu salat di ee apa tepat waktu nanti bisa aja lewat karena mereka enggak ngerti tentang masalah salat bahkan tidak beragama. Yang ada cuman istirahat apa? Zuhur sama magrib. Zuhur saya manfaatkan jamak karena saya safar qasar sekalian. Nah, nanti ketika bablas sampai magrib aman.<br \/>\n(56:24) Salat sudah saya lakukan zuhur, asar dengan jamak dan qasar. Magrib juga begitu. Karena mau enggak mau magrib itu istirahat. Saya manfaatkan untuk makan salat magrib sama isya. Ya, dijamak qasar. Qasarnya magrib berapa? 1,5. Gimana? Salat 1 seteng itu menjelang rukuk selesai gitu. Nah, kalau tiga enggak bisa diqasar.<br \/>\n(56:55) Nah, kalau sekarang subuh kenapa subuh ini enggak bisa diqasar, enggak bisa dijamak? Alasannya karena magrib isya waktunya nyambung. Zuhur, asar waktunya nyambung. Makanya ketika waktu enggak nyambung, enggak boleh dijamak. Contoh asar sama magrib antum jamak. Enggak boleh karena pisah waktunya. Yang nyambung itu zuhur sama asar, magrib sama isya.<br \/>\n(57:21) Nah, subuh ini pisah dua-duanya. Dengan Isya juga pisah, dengan zuhur juga bisa. Apalagi ee dari subuh ke zuhur panjang. Makanya yang benar salat isya itu kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam waktu shatil isya ila nisfil lail. Waktu salat isya itu sampai pertengahan malam. Jadi setelahnya ke sana itu waktu bukan waktu ikhtiar, bukan waktu afdal, tetapi waktu darurat.<br \/>\n(57:57) Barangkali antum bangun-bangun ketiduran jam . salat. Belum salat Isya salat. Lupa. Masyaallah, ana belum salat tadi. Ingatnya jam .00 salat karena belum subuh. Itu waktu darurat maksudnya. Jadi kalau antum melambat dengan sengaja salat Isya diundur-undur sampai jam .00, jam . Enggak boleh. Itu karena menyelisihi ketetapan Rasulullah di mana Rasulullah mengatakan waktu shatil isya ila nisf lail. waktu salat isya sampai pertengahan malam.<br \/>\n(58:32) Wallahuam. Itu caranya ya jamak qasar dan juga tata cara menjamaknya mengqasarnya. Fadol. Silakan yang lain. Nah, Ustaz jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan ustaz. Dan ikhwat al islam azaniallahu wyakum. Kami berikan kesempatan kembali kepada Anda untuk bertanya di 0218236543.<br \/>\n(58:54) Dan kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung silakan. Ya, silakan ya silakan. Baik, terputus. Kami tunggu kembali kepada Anda ikhwat Islam azan allahuakum. Bagi Anda yang ingin bertanya kami persilakan. Nam kita angkat pertanyaan melalui pesan singkat yang masuk.<br \/>\n(59:25) Ustaz-ustaz mohon dijelaskan apakah benar bahwasanya syarat sah dari khotbah mendengarkan khotbah Jumat adalah jika Imam Afwan khatib membaca pujian selawat dan juga nasihat takwa. Lalu bagaimana kalau seandainya nasihat takwa yang disampaikan oleh khatib dalam bahasa Arab, apakah makmum mendapatkan gugurnya atau kewajiban dari ee mendengarkan khotbah Jumat, Ustaz? Silakan, Ustaz. Saya pernah bahas bahwa khotbah itu asalnya adalah bimbingan taujih, nasihat.<br \/>\n(1:00:02) Jadi tidak maslahat orang itu kalau sedang memberikan taujih, bimbingan, arahan, enggak ada saling paham bahasanya. Oleh karena itu, orang-orang yang sekarang ini khatib dianjurkan untuk menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah. Ya, bukan sekarang bahasa yang mereka itu enggak paham ya. sekarang kalau enggak paham ya untuk apa kan gitu ya.<br \/>\n(1:00:29) Wallahuam. Jadi seperti itu. Oleh karena itu orang yang mendengarkan khotbah sementara dia tidak paham ya hanya mendengarkan sebagai syarat untuk memenuhi salat jumah itu sempurna. Itu aja ya. Wallahuam. Nah, Ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawab yang telah antum berikan, Ustaz. Dan kita akan kembali angkat pertanyaan Mbepon di 0218236543.<br \/>\n(1:01:01) Kepada Anda yang telah terhubung, kami persilakan untuk bertanya ya. Silakan. Asalamualaikum ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? E Pak Buanudin di Solok, Sumat Barat. Pak Hasanudin di Solok. Silakan. Bustanudin. Pakustanudin. Silakan, Pakuddin. Menakan masalah air mustakmal, Ustaz. Heeh.<br \/>\n(1:01:29) Ee kami dulu belajar air mustamal ini ee tidak boleh dipakai. Nah, artinya air yang sudah terpektif bekas wuduk kita tertumpah kepada baskom atau ember yang yang ee yang e kita pakai. Maka itu termasuk gak bisa dipakai lagi untuk begitu pelajaran yang dulu. Ah sekarang ini telah mengenal sunah tak ada yang yang disebut dengan mustakmal itu karena Nabi pernah memakai bekas ee mandi ee istrinya kan yang saya tanyakan dari mana awalnya dapat air air musamal ini apakah benar pendapat ini? Nah kemudian kalau kita pergi ee safar memakai pempes gitu ustaz. Kadang pipis di perjalanan dari mobil<br \/>\n(1:02:14) atau yang naik pesawat. Ah, bagaimana istindaknya ustaz? Apakah bebas dari istindak? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Pak Bustanudin atas pertanyaannya dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan Ustaz. Saya coba tangkap yang saya jawab yang saya pahami ya.<br \/>\n(1:02:37) Tampaknya pertanyaannya beliau ini ada yang paham? Hm. Eh, gimana? Iya, air mustakmal aja. Selain mustakmal ada enggak? Cukup itu aja ya. Tayib. Gini, Pak. Air itu hanya ada dua. Suci. Suci itu ada dua. Suci tidak menyucikan. Suci menyucikan. Suci tidak bisa menyucikan. Contoh air kelapa suci. Tapi bisa enggak dipakai junub? Mandi junub pakai air kelapa.<br \/>\n(1:03:22) Woh, keren banget. Atau sprit suci enggak? Suci. Tapi bisa enggak wudu sprit? Wudu pakai apa itu? Ah, udah deh ana wudu pakai air kuah daripada mubazir. Itu lebih banyak enggak? Itu suci. Muktinya bisa dimakan tapi bisa enggak digunakan untuk menyucikan? Tidak. Nah, ada air yang suci menyucikan.<br \/>\n(1:03:57) Contoh air hujan, air sumur, air kali, air laut, air sumber mata air, air sumur ini semua suci menucikan. Nah, yang kedua air najis. Ada najis itu ada dua macam. Najis yang tidak merubah bau warna rasa. Maka itu boleh loh. Jangankan mustakmal air yang kena najis sementara tidak merubah bau, warna atau rasanya. Boleh kok. Yang tidak boleh air najis itu apa? Ketika berubah baunya atau warnanya atau rasanya.<br \/>\n(1:04:38) Wah, buntuuk kok bau kencing nih. Itu jangan. Tapi enggak bau enggak ada warna enggak ada rasa dijilatin juga normal. Silakan. Contoh gini, ana nanya sama antum. Antum ketika antrian di rest area atau di tempat WC umum, toilet umumlah ya, terminal atau ini dan toiletnya kecil-kecil pakai ember pendek-pendek begitu, antum jamin enggak air yang ada di ember-ember itu tidak cipratan kencing orang yang keluar masuk, keluar masuk.<br \/>\n(1:05:16) Yang enggak tahu adab, ada yang kencing berdiri ya toh. Ada yang kencing sembarangan. Potensi mercik ada enggak? Ada. Terus antum untuk mengetahui ini kena atau tidak, antum tanya satu-satu, &#8220;Pak, tadi merc enggak?&#8221; Ditempeling wong sampean ngapain ngecek-ngaj kancing saya? Itu begitu antum ngeceknya apa? Berubah enggak bau atau warna.<br \/>\n(1:05:47) atau rasanya kalau masih keaslian air itu masih ada pakai mosok mau wudu aja ngecek KTP gitu Pak. Tolong KT Pak muslim enggak ini jangan-jangan kencingnya sembarangan. Enggak bisa antum seperti itu. Makanya agama itu mudah dan mabni alat zahir kita tampak zahirnya. Yang penting enggak berubah apa baunya atau warnanya atau rasanya pakai loh gitu loh, Pak. L ya. Wallahuam bawab.<br \/>\n(1:06:27) Dengan demikian ee apa namanya ee ketika kita sekarang wudu yang penting tidak najis dan berubah bau warna rasanya. Pakai apalagi mustakmal. Ada orang yang mati gara-gara air mustakmal. Wudu pakai gayung, wah ketetesan enggak jadi lagi. Pakai padasan itu karena kepegang puncuknya enggak jadi lagi. Wudu di kran kepegang juga enggak jadi lagi.<br \/>\n(1:06:58) Akhirnya nyari sungai yang paling lebar ketetesan lagi. Akhirnya apa? Wudu di tengah laut kejebur mati. Nyusahin sendiri. Sementara dalil menunjukkan pernah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mendapati seorang yang sedang dalam keadaan masih kecil dipercikin bekas air wudunya Rasulullah enggak dicuci itu. Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika habis wudu airnya tidak ada satuun yang jatuh ke bumi.<br \/>\n(1:07:27) Tidada semua oleh sahabat. Kalau air mustakmal itu bermasalah maka enggak mungkin itu dilakukan oleh para sahabat Nabi ridwanullahi alaihim. Fahimtum Tib. Saya kira itu ee ni terakhir, Mas ya. Insyaallah mungkin ada satu lagi yang paling akhir. Silakan, Mas. Enam, Ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum atas jawaban yang telah diberikan, Ustaz.<br \/>\n(1:07:57) Dan kita akan angkat satu pertanyaan terakhir di kesempatan sore hari ini. Kepada Anda semuanya Islam yang telah terhubung, kami persilakan ya. Silakan yang sudah terhubung ya. Silakan. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Izin, Ustaz bertanya. Yanto di Jakarta, Ustaz. Iya, silakan Pak Yanto.<br \/>\n(1:08:22) Ee kalau kita mau belajar ee membaca Al-Qur&#8217;an atau tahsin itu apakah disyariatkan untuk membaca surat Alfatihah dulu, Ustaz? Demikian, Ustaz pertanyaannya Ustazah Ustaz. Wazakah Pak Yanto atas pertanyaannya. Terima kasih banyak dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan. Ustaz tolong diperhatikan.<br \/>\n(1:08:46) Surah Al-Fatihah itu dianjurkan dibaca hanya di empat tempat. Satu ketika salat, kedua ketika rukiah. Ketiga ketika baca Al-Qur&#8217;an secara normal. ya secara normal itu. Jadi kalau sekarang membaca Fatihah itu bagian daripada membaca Al-Qur&#8217;an silakan. Tapi kalau sudah khusus-khususan enggak ada. Dan yang keempat ketika kita salat jenazah walaupun masuk bagian dari salat secara khusus.<br \/>\n(1:09:22) Selain itu enggak ada Fatihah itu kalau tidak salat, kalau tidak salat jenazah, kalau kita tidak rukiah, kalau tidak bagian dari membaca bacaan Al-Qur&#8217;an, udah berarti di situlah menyelisihi apa yang telah digariskan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Makanya silakan kalau antum baca Al-Fatihah karena salat, baca Al-Fatihah karena jenazah, baca Al-Fatihah karena rukiah, karena Rasulullah lakukan itu dan para ulama juga melakukan atau karena kita apa tadi? Membaca bagian dari bacaan Al-Qur&#8217;an. Baca bismillahirrahman<br \/>\n(1:10:06) auzubillahiminasyaitanirrajim. Fatihah sampai Albaqarah kita baca satu juz selesai. Nanti berikutnya berikutnya silakan itu ya. Wallahuam. Saya kira itu cukup enam Ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum berikan Ustaz. Demikian ikhwat Islam aani Allahu ayakum telah kita simak bersama kajian ini.<br \/>\n(1:10:35) Dan sebelum kita akhiri perjumpaan kita yang penuh dengan faedah kami minta kepada ustaz untuk menyampaikan iktitam. Silakan ustaz. Alhamdulillah pada kesempatan ini kita menyampaikan adab di antara sekian adab seorang khatib dan jemaah ketika jumah fokus, konsentrasi dan saling ada interaktif yang komunikatif sehingga jemaah juga mendapatkan faedah imam akan lebih serius, fokus, antusias di dalam menyampaikan materi khotbah.<br \/>\n(1:11:07) Dan pada saat itu khotbah Jumah akan lebih banyak memberikan faedah. Demikian mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bisa menjadikan ilmu yang bermanfaat dan semoga Allah mengajarkan kepada kita ilmu-ilmu yang bermanfaat. Semoga pertemuan kita pertemuan yang dirahmati Allah dan perpisahan kita perpisahan yang dijauhkan dari keruh hati perpecahan.<br \/>\n(1:11:34) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilaik wasallallahu ala muhammadin wa ala ali muhammad walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih banyak kepada guru kita semua, Al Ustaz Alfadil Zainal Dr. Zainal Abidin bin Samsuddin, LC. M.<br \/>\n(1:11:59) M. hafidullahu taala yang telah memberikan waktunya di sore hari ini untuk menyampaikan kajian dalam pembahasan kitab Bulagul Maram dan juga telah memberikan jawaban-jawaban dan setiap pertanyaan yang telah diajukan. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa menjaga beliau di sana dan keluarga beliau dan juga semoga Allah memberikan keluasan ilmu sehingga semakin banyak faedah ilmu yang dapat kita ambil dari setiap perjumpaan bersama beliau insyaallah.<br \/>\n(1:12:18) Allahuma amin. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum. Dan juga kami ucapkan terima kasih banyak untuk rekan-rekan kami di ee Keroja Celengsi dan serta rekan-rekan kami yang berada di Masjid Islamic Center Imam Ibnu Hajar Cipayung yang telah bekerja sama menghadirkan acaran di tengah-tengah kalangan kaum muslimin.<br \/>\n(1:12:40) Kami ucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan, barakallah fikum atas kerja samamanya. Dan untuk Anda semuanya ikhwat al Islam azaniallahuakum atas kebersamaan Anda dari awal hingga akhir kami ucapkan terima kasih banyak atas kebersamaan Anda dan semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan bagi kita mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum.<br \/>\n(1:13:01) Nantikan kembali kajian beliau insyaallah pada hari Kamis pekan ganjil afwan hari Rabu pekan ganjil berikutnya untuk kita simak pembahasan kelanjutan pembahasan dari kitab Ulugul Maram. Akhir kalam kami mohon undur dia dan mohon maaf dalam kekurangan yang kami hadirkan. Billahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube Transcript: (00:02) Menar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Jadi dikabulkannya doa kita dapatnya waktu mustajab itu tidak harus kita sengaja mengejar waktu itu untuk berdoa supaya dikabulkan Allah meskipun kebetulan. [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3350","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube Transcript: (00:02) Menar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Jadi dikabulkannya doa kita dapatnya waktu mustajab itu tidak harus kita sengaja mengejar waktu itu untuk berdoa supaya dikabulkan Allah meskipun kebetulan. [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-15T03:38:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-19T03:50:32+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"31 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/\",\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-15T03:38:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-19T03:50:32+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip","og_description":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube Transcript: (00:02) Menar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Jadi dikabulkannya doa kita dapatnya waktu mustajab itu tidak harus kita sengaja mengejar waktu itu untuk berdoa supaya dikabulkan Allah meskipun kebetulan. [Musik] Saksikanlah kajian Islam ilmiah di [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-10-15T03:38:47+00:00","article_modified_time":"2025-10-19T03:50:32+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"31 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/","name":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram - YouTube - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-10-15T03:38:47+00:00","dateModified":"2025-10-19T03:50:32+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/15\/3350\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"(21) [LIVE] Ustadz Dr. Zaenal Abidin, Lc., M.M. | Bulughul Maram &#8211; YouTube"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3350"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3350"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3350\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3383,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3350\/revisions\/3383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3350"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3350"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3350"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}