{"id":3359,"date":"2025-10-16T10:41:29","date_gmt":"2025-10-16T03:41:29","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3359"},"modified":"2025-10-19T10:50:48","modified_gmt":"2025-10-19T03:50:48","slug":"3359","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/","title":{"rendered":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube"},"content":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/QD1zMx02_WM?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Islam waasuluh. Amma ba&#8217;ad. Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita lanjutkan kitab Aljamiul Farid yaitu tanya jawab tentang kitabut tauhid. Kemudian beliau membawakan firman Allah dalam surah Al-Isra. Waqad rabbuka alla ta&#8217;budu illa iyah<br \/>\n(01:08) wabil walidaini ihsana. Dan Rabbmu telah memerintahkan agar tidak beribadah. kecuali kepada Allah saja dan agar berbuat ihsan kepada kedua orang tua. Apa makna ayat ini? Yakni akhbarallahu taala anhu qod ay amrin wa biibadatihi wahdah duna siwah. Wa amara wa aus bil ihsan ilal walidain. Artinya Allah subhanahu wa taala mengabarkan annahu qod a amaro artinya Allah telah memerintahkan dan mewasiatkan agar hanya beribadah kepada Allah saja.<br \/>\n(02:12) Ya. Dan agar berbakti kepada kedua orang tua. Apa itu ibadah? Ibadah secara bahasa artinya yaitu ya dari kata abada artinya dallala artinya tadzallul. wal khud artinya ee tunduk dan patuh. Dan Syaikhul Islam Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa ibadah itu harus ada dua. Yang pertama attadzalul khudu, ketundukan dan kepatuhan.<br \/>\n(03:06) Yang kedua mahabbah, cinta. Karena apa? Karena cinta tanpa ketuntukan dan kepatuhan bukan ibadah. Ketundukan dan kepatuhan tanpa ada cinta tapi yang ada adalah kebencian. Ya, bukan pula ibadah. Jadi harus terpenuhi dua tadi yaitu tadalul wal khudu dan maal mahabbah. Adapun secara istilah Syaikhul Islam Taimiyah rahimahullah mendefinisikan ibadah.<br \/>\n(03:51) Kata beliau, ismun jamiun likulli ma yuhibbuhullah waardoh. Minal aqwali wal af&#8217;aliati wal batinah. yaitu nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridai ya, berupa ucapan maupun perbuatan yang tampak maupun yang tersembunyi. Kata beliau, semua nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridai. Dari mana kita tahu itu dicintai oleh Allah dan diridai? Tentu dari wahyu.<br \/>\n(04:34) Sedangkan yang mendapatkan wahyu hanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Selain Rasulullah tidak mendapatkan wahyu. Ya, setelah Rasulullah wafat tidak ada lagi yang mendapatkan wahyu. Berarti ibadah itu ya harus berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan pendapat fulan atau pendapat ulama, pendapat kiai, bukan.<br \/>\n(05:00) Ya, ibadah itu harus berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa taala yang Allah wahyukan melalui Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka itu ya nama yang mencakup semua yang Allah cintai dan ridai berupa apa? Min aqwali wal af&#8217;al. Berupa ucapan ataupun perbuatan. Ucapan mencakup dua ya, ucapan hati dan ucapan lisan.<br \/>\n(05:41) Apa itu ucapan hati? Ucapan hati yaitu al-iqrar watasdiq. Mengakui dan membenarkan. Apa itu ucapan lisan? Yaitu syahadat lailahaillallah. Nah, berupa ucapan wal af&#8217;al, berupa perbuatan. Perbuatan ada tiga, ya. Perbuatan hati, perbuatan lisan, dan perbuatan anggota badan. Perbuatan hati contohnya apa? Tawakal, ikhlas, ya, berharap, takut, ya, cinta, dan yang lainnya.<br \/>\n(06:26) Apa itu perbuatan lisan? Zikir, menyuruh kepada kebaikan. Melarang dari kemungkaran. Iya, memberikan nasihat-nasihat yang baik. Apa itu perbuatan dengan badan? Banyak. Salat, puasa, haji, ya, umrah, dan yang lainnya. Nah, itu semua adalah ibadah. Kata beliau, &#8220;Minal aqwali wal af&#8217;al berupa ucapan maupun perbuatan.<br \/>\n(07:03) Azzahirati wal batinah yang tampak maupun yang tersembunyi. Yang tampak itu semua ibadah-ibadah yang terlihat seperti salat ya, zikir, baca Quran, dan yang tersembunyi. Yang tersembunyi yaitu yang tak tak terlihat berupa perbuatan-perbuatan hati. Nah, itulah ibadah, Ibu-ibu sekalian. Dan semua ibadah ini hanya untuk Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(07:30) Tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Ya, wabil walidaini ihsana. Dan agar berbuat ihsan kepada kedua orang tua. Wal ihsanu ilal walidain birruhuma watatuhuma wat tawadu lahuma. Dan ihsan kepada orang tua itu yang pertama berbakti ya, berbuat baik kepada orang tua ya.<br \/>\n(08:06) Yang kedua menaati orang tua selama bukan maksiat. Adapun kalau itu maksiat maka tidak boleh menaati orang tua. Sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;La thaata limakluqin fi maksiatil khaliq.&#8221; Tidak boleh menaati makhluk untuk memaksiati sang pencipta itu Allah subhanahu wa taala. Kemudian yang ketiga, attawadu lahuma.<br \/>\n(08:34) tawadu ya dengan tidak mengucapkan kata-kata yang apa namanya keras, tidak membentak, mengucapkan kata-kata yang lembut ya waqulahuma qulan karima. Ucapan kepada orang tuamu ucapan yang baik, yang sopan, yang santun, yang mulia. Nah, ini ibu-ibu sekalian. Waqaranahul ihsana ilaihima biibadati waakudi haqqihima waahu ajabul huquqi ba&#8217;da haqqillah.<br \/>\n(09:16) Di sini Allah menyebutkan berbakti kepada orang tua setelah ibadah kepada Allah untuk mengingatkan akan ya keutamaan berbakti kepada orang tua dan bahwasanya hak orang tua itu ya setelah hak Allah subhanahu wa taala. Nah, ini ibu-ibu sekalian. Kemudian ya membawa beliau membawakan firman Allah wa&#8217;budullaha wala tusriku bihi sai dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah saja dan jangan kamu sekutukan Allah dengan apapun.<br \/>\n(10:04) Artinya amrum minallah liibadih bian yufriduhu bil ibadah wala yusriku byaaian fi ibadati. Ini perintah dari Allah ya kepada hamba-hambnya agar mengesakan Allah dalam ibadah dan tidak mempersekutukan Allah di dalam ibadah. Ya, jangan sampai kita berdoa misalnya kepada kuburan karena doa itu ibadah. Sedangkan ibadah hanya kepada Allah saja.<br \/>\n(10:39) Atau kita misalnya tawakal kepada jimat, jelas itu kesyirikan. Karena tawakal itu ibadah. Sedangkan ibadah itu hanya untuk Allah saja. Di antara contoh ibadah apalagi ibu-ibu? Khusyuk. Khusyuk ibadah. Khusyuk kita itu hanya kepada Allah. Khusyuk itu apa sih? Khusyuk itu artinya diam. Badan kita diam ya, hati kita fokus. Nah, ketika kita salat kita khusyuk ya. Saat kita salat kita khusyuk.<br \/>\n(11:12) Khusyuknya untuk siapa? Untuk Allah Subhanahu wa taala. Adapun khusyuknya di depan kuburan, ada orang yang begitu khusyuk di kuburan ini berarti sudah memalingkan ibadah khusyuk kepada selain Allah Subhanahu wa taala. Ibu-ibu sekalian, jadi ibadah itu hanya untuk Allah.<br \/>\n(11:35) Murnikan hanya untuk Allah Subhanahu wa taala. Di antara ibadah contohnya apa, Bu? Menggantungkan pengharapan. Harapan kita hanya gantungkan kepada Allah. Jangan ber, jangan berharap menggantungkan pengharapan kepada makhluk. Makhluk tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa ya menolak mudarat, enggak bisa. Nah, ini ibu-ibu sekalian apa kesesuaian ayat ini dengan ya bab yang sedang kita bahas yaitu kitabut tauhid yaitu annaha tadulu biajmaiha ala wujubi ifradillahi wa taala bil subhanahu wa taala bil ibadah duna giri itu bahwa ayat-ayat tadi semuanya memerintahkan kita dan mewajibkan<br \/>\n(12:32) ya agar memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja dan itulah tauhid. Kalau ada orang yang beribadah kepada Allah tapi beribadah juga kepada selain Allah itu bukan tauhid. Tauhid itu artinya hanya beribadah kepada Allah. memurnikan hanya untuk Allah, tidak kepada yang lain. Ibu-ibu sekalian. Kemudian ya beliau membawakan firman Allah, qul taala atlu ma harom rbukum alla tusriku bihi sa wabil walidaini ihsana. Katakan taalau kemarilah.<br \/>\n(13:27) Aku akan bacakan apa yang diharamkan oleh Rabb kalian. Itu agar agar kalian tidak mempersekutukan Allah Subhanahu wa taala dengan apapun juga. Di sini Allah mengatakan qul taalau. Apa taalau? Artinya artinya halumu. Ayo kemari. Ya, atlu atlu artinya aku akan bacakan kepada kalian ma harama rbukum alaikum.<br \/>\n(14:01) Apa saja yang diharamkan oleh Rabb kalian tuh? Nah, di semua ini ada dalam ada tiga ayat, Ibu-ibu sekalian. Iya. Tiga ayat ini disebut sebagai wasiatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Berkata Ibnu Mas&#8217;ud, &#8220;Man arada anuro ila wasiyati Muhammadin sallallahu alaihi wasallam allati alaiha khamuhu falyaqro quahu taala qul taalu ma harukum alaikum all tusriku bisya ila quii waati mustaqiman fattabi siapa yang ingin melihat kepada wasiat nabi muhammad Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang masih ada stempelnya<br \/>\n(14:53) maka bacalah ayat ini. Itu surat Al-An&#8217;am ayat 151 sampai 153. Insyaallah kita akan bahas ini ya. Surah Al-An&#8217;am ayat 151 sampai 153. 151 Allah berfirman, &#8220;Qul taala atlu ma harbukum alaikum.&#8221; Katakan, &#8220;Hai Muhammad, kemarilah. Aku akan bacakan kepada kalian apa saja yang diharamkan oleh Rabb kalian atas kalian.<br \/>\n(15:36) Yang pertama, alla tusqu bihi sai jangan kamu mempersekutukan Allah.&#8221; Subhanallah. Ya, ternyata Allah memulai dari ini dulu yang paling besar nih, Bu. Syirik, Bu. Karena syirik ini larangan Allah yang paling besar. Ya, keharaman yang paling haram adalah syirik. Sebagaimana perintah Allah yang paling besar adalah tauhid. Iya. Alla tusyriu bya. Jangan kamu mempersekutukan Allah sedikitp.<br \/>\n(16:11) Apa itu syirik? Syirik itu artinya taswiyatu gharillahi billah. Yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah itu syirik. Selain Allah makhluk ya. Karena selain Allah itu yang yang menciptakannya adalah Allah Subhanahu wa taala. Nah, selain Allah disamakan dengan Allah ya dalam cinta, dalam berharap, dalam apa namanya ee tawakal, dalam takut.<br \/>\n(16:54) Seperti Allah mengatakan, waminanasi mayattakidu minunillahiada yuhibbunahum kahubbillah. Di antara manusia ada yang mengambil tandingan selain Allah. Mereka mencintai tandingan itu seperti mencintai Allah. Artinya menyamakan makhluk dengan Allah dalam cinta. Jelas ini syirik. Dan syiriknya syirik besar. Menyamakan makhluk dengan Allah dalam takut.<br \/>\n(17:21) Artinya kita takut kepada makhluk seperti kita takut kepada Allah. Syirik ya atau syirkun akbar. Kita tunduk dan patuh kepada makhluk seperti kita tunduk dan patuhnya kepada Allah. Itu ketundukan, ketaatan secara mutlak ya, hanya untuk Allah saja, tidak kepada yang lainnya. Wabil walidaini ihsana. Kemudian yang kedua, agar berbakti kepada orang tua.<br \/>\n(17:57) Larangan yang kedua yaitu kita dilarang untuk durhaka kepada orang tua kita, Ibu-ibu sekalian. Durhaka itu dengan apa? Dengan ucapan ya dan perbuatan. dengan ucapan kita menghardik misalnya mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati orang tua ya dengan perbuatan seperti kita cuek sama orang tua, enggak peduli sama orang tua.<br \/>\n(18:27) Ya. Kemudian larangan yang ketiga, wala taqtulu auladakum min imlaq. Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Nahnu narzuquukum wa iyahum. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan mereka. Tuh lihat Bu. Jangan pernah kita membunuh anak-anak. Iya.<br \/>\n(19:03) Kalau di masa jahiliah anaknya dikubur hidup-hidup ya. menggugurkan kandungan secara sengaja. Kata sebagan ulama itu termasuk membunuh anak. Iya, Ibu-ibu sekalian. Kemudian larangan berikutnya, walaqrabul fawahisya maharo minha wa bathon. Jangan kamu dekati perbuatan fahisyah yang tampak maupun yang tersembunyi. Apa itu perbuatan fahisyah, Ibu-ibu sekalian? Ya, perbuatan fahisyah ya seperti zina.<br \/>\n(19:46) Perbuatan fahisyah juga perbuatan-perbuatan dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Wala taqtulun nafsallati harramallahu illa bilhaqq. Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan. Siapa jiwa yang Allah haramkan? Yaitu setiap muslim yang bersyahadat lailahaillallah muhammadar rasulullah. Mendirikan salat, membayar zakat.<br \/>\n(20:16) itu jiwa jiwa yang diharamkan sebagaimana disbutkan dalam hadis umirtu an uqatilanas hatta yashadu alla ilahaillallah wa rasulullah wuqimusah wuzzakah ya aku diperintahkan oleh Allah untuk memerangi manusia manusia yang dimaksud di sini yaitu orang-orang kafir harbi yang memerangi kaum muslim ya sampai mereka bersyahadat lailahaillallah Muhammad Rasulullah mendirikan salat membayar zakat fain faalik asamu minahum wa amwalahum apabila mereka melakukan itu terpeliharalah dariku darah dan harta mereka illa bihaqqil Islam kecuali dengan hak Islam<br \/>\n(21:07) ya apa itu hak Islam dijelaskan dalam hadis yang lain Muslim tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan tiga. Yang pertamauzzani, orang yang sudah menikah berzina. Maka dalam Islam dirajam sampai mati. Ya. Yang kedua, annafsu bin nafsi yaitu membunuh jiwa ya yang diharamkan. Yang ketiga yaitu almufar lil jamaah. Orang yang murtad dari agama Islam.<br \/>\n(21:49) Ya, demikian pula orang yang memberontak kepada pemimpin yang sah. Kita lankan, &#8220;Dzalikum wasakum bihi la&#8217;allakum ta&#8217;qilun.&#8221; Itulah yang Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian berakal. Kemudian Allah menyebutkan berikutnya, walaqrabu maal yatimi illa billati hiya ahuddah.<br \/>\n(22:24) Jangan kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih ahsan, yang lebih baik sampai anak yatim itu telah dewasa baru dikasih hartanya kepada anak yatim. Jadi misalnya, &#8220;Bu, suami Ibu meninggal ya, anak-anaknya ibu berarti jadi anak yatim. Suami meninggalkan harta, berarti harta suami ibu jadi warisan buat ibu dan anak-anak ibu.<br \/>\n(23:04) &#8221; Nah, ibu diberikan amanah oleh Allah untuk memegang harta anak yatim. Karena pada harta suami ibu yang ditinggalkan oleh suami ibu itu ada padanya hak anak-anak, yaitu hak waris. Tapi misalnya anaknya masih pada kecil, kalau dikasihkan kepada mereka harta tersebut akan tersia-siakan, maka otomatis ibu yang megang.<br \/>\n(23:33) Nah, ketika ibu megang harta anak yatim ini enggak boleh makan. Karena memakan harta anak yatim dosa besar. Allah berfirman, &#8220;Innalladzina yaakuluna amwalal yatamaulman innama yaakuluna fi butunihim naroaslair.&#8221; Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sesungguhnya mereka telah memakan dalam perut mereka neraka jahanam dan kelak mereka akan dibakar ya dalam api yang sangat panas.<br \/>\n(24:07) Hati-hati tuh, Bu. Jangan sampai memakan harta anak yatim. Iya. Wafulul kaila wal mizana bilqist. Dan tegakkanlah timbangan dan takaran dengan adil. Artinya kalau kita nimbang jangan dikurang-kurangi. Kalau bisa lebihkan. Karena mengurang-ngurangi timbangan termasuk dosa besar. Bu Allah berfirman, &#8220;Wailul lil mutfifin.&#8221; Neraka wail untuk siapa? Mutofifin.<br \/>\n(24:47) Siapa itu mutafofifin? Tatfif itu artinya mengurang-ngurangi timbangan. Ya, di situ Allah mengancam ya orang yang mengurang-ngurangi timbangan tuh akan dimasukkan ke dalam neraka wae. Apa itu neraka wail? Kata Imam Qatadah, &#8220;Wadin fi jahanam. Itu sebuah lembah dalam neraka jahanam yang kalau gunung dimasukkan pasti bakalan hancur. Mengerikan sekali.<br \/>\n(25:17) Iya. La nukallifu nafsan illa wus&#8217;aha. Kami tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Artinya kita disuruh untuk menimbang dengan tepat. Kalau bisa lebihkan. Kalau sudah kita berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengurang-ngurangi timbangan dan takaran ya tapi qadarallah di luar kemampuan kita terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.<br \/>\n(25:50) Mungkin entah kekurangan sedikit maka Allah mengatakan kami tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Subhanallah. Ini keringan dari Allah. Yang penting kita sudah berusaha se kuat tenaga. Waidza qultum fa&#8217;dilu walau kanza qurba. Apabila kalian berbicara artinya menghakimi, hendaklah kalian bersikap adil walaupun itu kepada kerabat kalian sendiri.<br \/>\n(26:30) Allah menyuruh ibu-ibu kita bersikap adil walaupun kepada kerabat sendiri. Kalaupun misalnya kerabat kita yang salah, enggak boleh dibela. Ya, bahkan saat kita marah, kita benci sama orang pun tetap kita harus bersikap adil sama orang yang kita benci itu. Sebagaimana Allah berfirman, &#8220;Ya ayyuhalladzina amanu.&#8221; Ya Allah berfirman, &#8220;Wa yajrimannakuman allailuqwa.<br \/>\n(27:05) Jangan sampai kebencian kalian kepada suatu kaum membuat kalian tidak bisa bersikap adil. Bersikap adillah kalian. Itu lebih dekat kepada ketakwaan kata Allah. Iya. Karena terkadang Bu, Bapak kita itu saat cinta sama orang enggak bisa adil. Saat kita benci sama orang pun juga enggak bisa adil. Iya. Ketika kita senang sama orang, cinta sama orang, kita condong sama dia.<br \/>\n(27:46) Dan kita apa sih ya kepada orang yang kita tidak sukai pun juga seringnya enggak adil. Dalam Islam tidak boleh ya. Tetap kita harus bersikap adil walaupun kepada kerabat sendiri. Wabiahdillahi auffu. Dan dengan janji Allah ya laksanakanlah. Apa itu janji Allah ibu-ibu sekalian? Ya, itu janji-janji yang kita lakukan, Ibu-ibu sekalian.<br \/>\n(28:22) Sebagian ulama mengatakan janji kita kepada Allah yaitu untuk taat kepada Allah. Itu janji kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Dalikum wasakum bihi la&#8217;allakum tadakarun. Itulah yang Allah perintahkan, yang Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian mau ingat. Kemudian di ayat yang 153-nya ini wasiat Rasulullah yang ke-10 yang terakhir ini.<br \/>\n(28:54) Wa anna hadza sirati mustaqima fattabiu. Dan inilah jalanku yang lurus maka ikutilah. Wala tattabiusul. Dan jangan mengikuti jalan-jalan selain jalan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Fatafarqo bikum sabilih. Niscaya jalan-jalan yang lain ini akan mencerai-beraikan kalian dari jalannya Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(29:34) Lihat ibu wasiat Rasulullah yang terakhir yang Allah sebutkan dalam surah Al-An&#8217;am ayat 153 ini ya. Wa anna hti mustaqiman fattabiu. Imam alhakim dalam kitab almustadrak meriwayatkan dari hadis Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallahu anhu. Kata Abdullah bin Mas&#8217;ud, &#8220;Khatta Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam khatam biadi.&#8221; Iya. Suatu ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membuat garis lurus.<br \/>\n(30:08) khutamini waimali. Kemudian Rasulullah membuat garis-garis di sebelah kanan kirinya. Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membacakan ayat ini sambil menunjuk garis-garis yang lurus. Waati mustaqima fattabiu. Dan bahwasanya inilah jalanku yang lurus. Ikutilah. Ikuti jalan Rasulullah.<br \/>\n(30:40) Karena jalan Rasulullah itu pasti jalan yang lurus. Selain jalan Rasulullah tidak dijamin. Semua jalan yang menyimpang dari jalan Rasulullah itu jalan yang menyesatkan, bukan jalan yang lurus. Kemudian Allah mengatakan, &#8220;Wala tattabius subul.&#8221; Jangan kamu ikuti jalan-jalan selainnya yang ada kanan kiri ini. Iiscaya jalan-jalan yang selainnya ini akan menceraibaikan kalian dari jalan yang lurus ini.<br \/>\n(31:21) Lihat ibu-ibu sekalian dalam hadis yang lain Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Daraballahu sirat mustaqima.&#8221; Allah memancangkan jalan yang lurus. Wa wa wa ala jambatai sirat ya sur. Dan di di pinggir kanan kiri jalan itu ada pagar. Iya. Wafi kulli sur abwab ya abwabun mufattahah wa kulli bab satur murkhah. Dan sepanjang jalan ini apa pagar ini di di kiri kanannya ini ada pintu-pintu yang terbuka dan di setiap pintu itu ada penutup yang direndahkan wafuqos sirat.<br \/>\n(32:21) Ya. Kemudian ada wadain yadu il sirat. Lalu kemudian di depan sirat itu ada seorang penyeru dan berkata, &#8220;Ayyuhannas, wahai manusia masuklah ke jalan Allah seluruhnya. Wala tataawaawwaju. Jangan bengkok kanan kiri. Jangan.&#8221; Dan di atas sirat itu kata Rasulullah, ada seseorang yang mengingatkan. Setiap kali ada orang yang ingin masuk ke pintu langsung diingatkan, waihaq la taftahu fainnaka in taftahu thalijjhu. Celaka kamu.<br \/>\n(33:03) Jangan sekali-kali kamu membukanya. Kalau kamu sudah membukanya, kamu akan masuk ke situ. Kemudian Rasul pun menafsirkan, adapun sirat jalan itu adalah Islam yang dibawa oleh Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Adapun pagar yang ada di samping kanan kiri jalan itu kata Rasulullah hududullah, batasan-batasan Allah.<br \/>\n(33:36) Adapun pintu-pintu yang setiap pintunya itu ada penutupnya. Maharimullah, keharaman-keharaman Allah. Adapun yang berada di atas sirat itu waidullah fiqbi kulli mukmin. Yaitu yang memberikan peringatan kepada hati seorang mukmin yang berasal dari Allah. Setiap kali si mukmin mau masuk kepada maksiat, hatinya suka memperingatkan, &#8220;Celaka kamu. Jangan kamu buka itu. Jangan kamu sekali-kali buka.<br \/>\n(34:11) Sebab kalau kamu buka itu pintu maksiat, kamu akan masuk ke dalamnya.&#8221; Subhanallah, Ibu-ibu sekalian. Maka inilah jalan Rasulullah, Ibu. Kewajiban kita meniti jalan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ingat di kuburan kita akan ditanya tentang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kata Rasulullah, &#8220;Fabi tus&#8217;alun tentang aku.<br \/>\n(34:43) &#8221; Kalian akan ditanya oleh Allah. Kita tidak akan ditanya kenapa kamu menyelisihi kiai fulan, ustaz fulan? Tidak. Kita akan ditanya, &#8220;Kenapa kamu menyelisihi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?&#8221; Ya, kewajiban kita ittiba kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam. Makanya kita berusaha, Ibu dalam segala macam ibadah kita ikuti Rasul.<br \/>\n(35:13) Bagaimana Rasulullah salat ya lihat hadis-hadis dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, tata caranya bagaimana Rasulullah berwudu. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam puasa. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam rumah tangga, dalam kehidupan sehari-hari ikuti. Jangan mengikuti yang lain. Ini banyak orang Islam ngaku Islam tapi lebih senang mengikuti para filosof-filosuf Baratiku.<br \/>\n(35:43) Ya, begitu bangganya kalau dia bisa membawakan perkataan ahli filsafat. Berkata Aristoteles, berkata Arsimedes, berkata Plato, kata wah tapi merasa tidak senang kalau membawakan Al-Qur&#8217;an dan hadis. Ya, kalau kita melihat orang seperti ini, Bu, udah tinggalin aja. Ini orang berbahaya ini. Iya.<br \/>\n(36:15) yang kita inginkan adalah yang benar-benar jelas keterangannya dari Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah jalan yang lurus yang Allah pancangkan untuk hamba-hambnya, untuk seluruh makhluknya. Siapapun yang ingin masuk surga harus lewat jalan itu. Enggak ada jalan alternatif, enggak ada. Iya. Dalikum wasakum bihi la&#8217;allakum tattaquun.<br \/>\n(36:50) Itulah yang Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa, kata Allah Subhanahu wa taala. Iya, Ibu-ibu sekalian. Nah, ini dia 10 wasiat Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau membawakan hadis Muad bin Jabal. Wauan Muad bin Jabal radhiallahu anhu qal, kuntu radifan Nabi shallallahu alaihi wasallam ala himar. Faqala ya muad atadri ma haqqui alal ibad wama haqqul ibadi alallah.<br \/>\n(37:36) Qlu Allah waasuluhu a&#8217;lam qala haqqulah alal ibad an ya&#8217;budu wala yusriku bihi waqul ibadi alallah alla yuadzib man la yusriku bihi sa qulu ya rasulullah afala ubasyirunas q la la la tubasyirhum Dari Muad bin Jabal. Muad bin Jabal ini, Ibu-ibu, seorang sahabat yang sangat berilmu, ya. Sampai-sampai beliau diutus oleh Rasulullah sebagai dai, sebagai pendakwah ya ke Yaman ya.<br \/>\n(38:36) Muad bin Jabal ini kata Rasulullah, a&#8217;lamunas bilal wal haram. Manusia yang paling tahu tentang halal dan haram. Bahkan disebutkan dalam hadis ibu-ibu, muad baina yadail ulama yaumalqiamah biratwah. Pada hari kiamat nanti Muad bin Jabal akan berdiri di hadapan seluruh ulama sejauh mata memandang. Ratwa itu sejauh lemparan apa? Batu. Iya.<br \/>\n(39:11) Itu menunjukkan akan keutamaan Muad bin Jabal, seorang sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang sangat fakih. Ya, Muad bin Jabal berkata, &#8220;Aku pernah membonceng Nabi sallallahu alaihi wasallam di atas keledai.&#8221; Subhanallah, Ibu. Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ini tawadu banget, Bu. Sampai-sampai beliau ya memakai kendaraannya keledai ya.<br \/>\n(39:43) Kalau di zaman dulu kan enggak ada mobil ya, enggak ada Toyota, enggak ada Mitsubishi, enggak ada Nissan, enggak ada apa-apa, enggak ada mobil. Di zaman dulu ya kendaraan itu adanya kuda, unta, keledai. Ya, keledai itu ya bisa dikatakan kendaraan yang paling murah lah. Ya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya mengendarai keledai. Sudah gitu membonceng Muad di belakangnya. Kata para ulama ini boleh, ini menunjukkan boleh membonceng seseorang di atas keledai dengan syarat tapi ya tidak menyusahkan keledai.<br \/>\n(40:27) Kalau di zaman dulu kan para sahabat itu ramping-ramping tubuhnya, Bu. Iya, Ibu-ibu sekalian. Faqal, maka Rasulullah bersabda kepada Muad. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah manggil Muad dulu. Ya Muad. Maka Muad berkata, &#8220;Labbaik wasadaika ya Rasulullah.&#8221; Lalu Rasulullah berjalan lagi. Tak lama kemudian Rasulullah memanggil lagi, &#8220;Ya Muad, hai Muad.<br \/>\n(40:59) &#8221; Maka Muad berkata lagi, &#8220;Lebabaika wa sa&#8217;daika ya Rasulullah.&#8221; Berjalan lagi Rasulullah. Kemudian Rasulullah manggil lagi, &#8220;Ya Muad, hai Muad.&#8221; Maka Muad menjawab, &#8220;Lebabaika sa&#8217;aika ya Rasulullah. Baru kemudian Rasulullah bertanya. Rasulullah ingin mengajarkan ilmu tapi dengan cara bertanya. Nah, ini ya di antara tata cara mengajarkan ilmu itu dengan cara bertanya.<br \/>\n(41:32) Atadri ma haqqulah alal ibad waqul ibadi alallah. Tahukah kamu hai Muad apa hak Allah yang wajib dilaksanakan oleh hamba-hambnya dan apa hak hamba yang wajib dilaksanakan oleh ee yang akan dilaksanakan oleh Allah apabila dia melaksanakan haknya. Apa kata Muad? Allah wa rasuluhu a&#8217;lam. Allah dan Rasulnya lebih tahu. Masyaallah, Ibu. Begitu adabnya, Bu.<br \/>\n(42:12) Kalau kita enggak tahu ilmunya, jawab. Allahuam. Banyak ya ustaz-ustaz ketika ditanya sebetulnya enggak tahu jawabannya, maksa-maksain jawab ya. Hanya karena malu ya. Malu kalau kelihatan enggak tahu. Padahal yang bagus itu kalau kita enggak tahu ucapkan saja saya enggak tahu. Selesai. Allahu Allahuam. Itu yang diajarkan oleh para ulama kita juga. Ibu-ibu.<br \/>\n(42:49) Imam Malik pernah ditanya oleh orang Arab Badui tentang 10 pertanyaan. Ternyata sama Imam Malik dijawab 10-Sepnya apa? La adri enggak tahu saya. Subhanallah. Akhirnya orang Arab Badu ini berkata, &#8220;Wahai Imam, ini 10 tanya pertanyaan ini ya apa namanya? Pertanyaan orang semua. Terus saya pulang nanti bawa apa?&#8221; Kata Imam Malik, &#8220;Sampaikan saja ke mereka, Mbak.&#8221; Imam Malik enggak tahu. Subhanallah, Ibu.<br \/>\n(43:26) Makanya, Ibu, kalau Ibu menemukan seorang ustaz yang berani berkata, &#8220;Saya tidak tahu.&#8221; Wallahuam. Insyaallah ini ustaz amanah ini. Ini ustaz punya rasa takut kepada Allah. Takut dia berkata tanpa ilmu, Bu. Iya, Ibu-ibu sekalian. Nah, Muad ditanya oleh Rasulullah, &#8220;Tahukah kamu, hai Muad apa hak Allah atas hambanya dan hak hamba atas Allah?&#8221; Kata Muad, &#8220;Allah dan Rasulnya yang lebih tahu.<br \/>\n(44:05) &#8221; Kemudian Rasulullah baru menjawab, &#8220;Haquqahi alal ibad an ya&#8217;buduh wala yusriku bihi sa.&#8221; Hak Allah atas hamba-hambnya itu agar beribadah kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan Allah dalam ibadah. Dan hak hamba atas Allah yaitu Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan apapun. Subhanallah.<br \/>\n(44:43) Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan apapun, tidak berbuat syirik. Ini kan kabar gembira yang luar biasa sekali, Bu. Bahwa orang yang mati di atas tauhid, tidak berbuat syirik, tidak mempersekutukan Allah dengan apapun, dia tidak akan diazab oleh Allah subhanahu wa taala. Luar biasa mendengar itu.<br \/>\n(45:10) Apa kata Muad, Ibu-ibu? Ya Rasulullah, afala ubasyirunas, bolehkah aku memberikan kabar gembira ini kepada manusia? Apa kata Rasulullah? La tubasyirhum fayattaqilu. Jangan. Ya, khawatir mereka tidak mau beramal, hanya mengandalkan tauhid saja. Yang penting enggak berbuat syirik. Udah, W yang penting enggak berbuat syirik.<br \/>\n(45:43) akhirnya enggak mau beramal, disalah pahami. Sehingga kata para ulama, ibu-ibu, ini menunjukkan kalau ya hadis ini suatu hadis kalau kita sampaikan ke orang khawatir disalah pahami, lebih baik jangan disampaikan dulu. Ya, ini menunjukkan kata para ulama bolehnya tidak menyampaikan sebuah ilmu apabila dikhawatirkan akan timbul mudarat yang lebih besar saat kita menyampaikan ilmu tersebut. Tapi mudaratnya yaitu disalah pahami.<br \/>\n(46:23) Disalahpahami. Karena kan ketika mendengar hadis ini ya Allah tidak akan mengazab orang yang tidak berbuat syirik. Wah kadang ya pelaku maksiat ketika mendengar hadis ini, oh gitu ya. Yang penting mati di atas tauhid tidak berbuat syirik. Udah enggak bakal diazab.<br \/>\n(46:46) Ya udah akhirnya bukannya tobat malah tambah nemen maksiatnya. Akibat apa, Bu? Akibat salah paham. Padahal konsekuensi tauhid orang yang tidak mempersekutukan Allah konsekuensinya meninggalkan maksiat. Ya. Kenapa? Karena berbuat maksiat itu, Bu, ada padanya sebuah jenis dari syirik. Apa syiriknya itu, Bu? Lebih mengedepankan hawa nafsu daripada perintah Allah.<br \/>\n(47:18) Ya, orang yang tauhidnya bagus dan tidak berbuat syirik, dia akan tinggalkan maksiat. Pasti itu. Tapi ketika tauhidnya kurang, masih dia ngikutin hawa nafsu. Bahkan menjadikan hawa nafsu itu sebagai apa? Ya, sesembahan selain Allah. Sebagaimana Allah berfirman, ilahahu hawa waahullahu al wamaqbih waala ala bori giswah yahdihi min ba&#8217;dillah.<br \/>\n(47:58) Bagaimana pendapatmu tentang orang yang menjadikan hawa nafsu itu sebagai ilah, sebagai sesembahannya? Lalu Allah pun sesatkan ia di atas keilmuan. Artinya walaupun dia punya ilmu, tapi kalau dia menyembah hawa nafsunya sendiri, maka ilmunya enggak ada manfaatnya. Ya. Lalu Allah setempel mati hatinya dan pendengarannya.<br \/>\n(48:26) Dan Allah jadikan di matanya itu penglihatannya itu penutup sehingga enggak bisa melihat kebenaran lagi. Ibu-ibu, maka siapakah yang bisa memberi hidayah ya kecuali Allah saja? Mengerikan, Ibu. Orang yang suka ngikut berbuat maksiat itu hakikatnya ya itu dia sedang menjadikan hawa nafsunya itu sebagai apa? Sebagai Tuhannya ya. itu menunjukkan bahwa tauhidnya bermasalah.<br \/>\n(49:01) Makanya kata para ulama, almaasi dihlizul kufr, maksiat itu corong menuju kekafiran. Ya, mengerikan sekali ibu-ibu sekalian. Nah, ini Ibu-ibu sekalian di sini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyebutkan tentang hak Allah yang terbesar. Ya, hak Allah yang terbesar apa itu? Yaitu agar Allah diibadahi saja dan tidak disekutukan dengan apapun.<br \/>\n(49:41) Karena syirik ya hakikatnya penghinaan terbesar untuk Allah. Ibu-ibu. Syirik itu artinya menyamakan selain Allah dengan Allah. Kalau ibu, ibu-ibu kalau disamakan sama monyet mau enggak? Enggak mau. Kita saja enggak mau disamakan sama monyet. Enggak mau. Kita saja enggak mau disamakan sama anjing. Enggak mau.<br \/>\n(50:14) Kalau ada yang bilang ke ibu misalnya, &#8220;Monyet loh, mau enggak, Bu?&#8221; &#8220;Enggak mau.&#8221; Ibu marah. &#8220;Kurang ajar saya disebut monyet. Padahal kan sama-sama makhluk, Bu. Sama-sama makhluk, sama-sama hamba Allah. Tapi kenapa coba, Bu? Kita tidak mau disamakan dengan anjing, dengan monyet. Kenapa, Bu? Dengan keledai.<br \/>\n(50:37) Karena kita sebagai manusia lebih mulia daripada binatang. Kalau sesama makhluk saja, kita sebagai makhluk, monyet juga makhluk. Kita enggak mau disamakan. Bagaimana Allah disamakan dengan makhluknya? Ini penghinaan berat untuk Allah Subhanahu wa taala. Makanya Allah tidak akan pernah mengampuni dosa syirik, Bu.<br \/>\n(51:06) Orang yang mati di atas syirik tak akan pernah dimaafkan oleh Allah selama-lamanya. Abadan. Allah berfirman, &#8220;Innallaha la yakfiru ay yusyr bih waakfiru ma duna dzalika liman yasya.&#8221; Sesungguhnya Allah tidak akan pernah mengampuni perbuatan syirik dan masih mengampuni dosa yang lebih rendah dari kesyirikan. Kata Allah tuh lihat ibu-ibu sekalian.<br \/>\n(51:36) Bahkan Allah mengancam Bu orang yang mati di atas kesyirikan itu haram masuk surga Bu. Allah berfirman, &#8220;Innahu may yusyrik billah faqod harramallahu alaihil jannah. Wahunar. Sesungguhnya siapa yang berbuat syirik, mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan ia untuk masuk surga. Dan tempat tinggalnya kata Allah dalam api neraka. Nauzubillah minzalik. Iya.<br \/>\n(52:09) Nah, ini ibu-ibu sekalian. Jadi ini hak Allah yang paling agung. Hak Allah yang paling agung. yaitu agar Allah tidak disekutukan. Ya, dalam hadis yang dikur Imam Muslim dalam sahihnya, Ibu-ibu, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Yaquulullahu taala liahwani ahlinari adzaban yaumalqiamah.&#8221; Pada hari kiamat nanti Allah akan ya bertanya, berbicara kepada penduduk neraka yang paling apa? Paling ringan siksanya.<br \/>\n(52:50) Lalu akan berbicara kepada penduduk neraka yang paling ringan siksanya. Apa kata Allah? Ya abdi, hai hambaku. Aroita laat lakad dunya whaunta muadian biha. Bagaimana kalau kamu memiliki harta sepenuh bumi? Kira-kira kamu akan menebus dirimu dari api neraka? Kata si hamba, &#8220;Betul ya Allah. Aku akan tebus.<br \/>\n(53:28) &#8221; Apa kata Allah kepada penduduk neraka yang paling ringan ini, Bu? Tolabtu minka ahwan min. Waktu di dunia aku minta kepada kamu yang lebih ringan dari itu. Alla tusrik bi permintaanku satu. Jangan sekutukan aku. Jangan kamu berbuat syirik. Faabaita syirk. Tapi kamu malah enggan kecuali kamu mempersekutukan aku. Tuh lihat ibu-ibu sekalian.<br \/>\n(54:05) Makanya syirik itu Bu sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka hati-hati ya. Penting kita pahami apa itu syirik. Seperti apa syirik seperti apa warna-warni syirik. Karena kita hidup di negeri yang kesyirikan meraja lela, Ibu. ya orang yang menyembah kuburan ya pakai keris-keris, jimat-jimat, pakai apalagi ya ee ee apa rajah-rajah itu pakai sesuatu yang subhanallah mereka persekutukan Allah dalam ibadah.<br \/>\n(54:41) Yang harusnya istianah, minta tolong itu hanya kepada Allah. Yang harusnya tawakal itu hanya kepada Allah. Ternyata mereka palingkan ibadah ini kepada selain Allah Subhanahu wa taala. La haula wala quwwata illa billah. Nah, ini ibu-ibu sekalian ya. Baik, Ibu-ibu. Saya kira cukup dulu sampai di sini. Kita buka tanya jawab. Barangkali ada pertanyaan.<br \/>\n(55:22) Apakah seseorang bisa menjadi ahli tauhid tapi minus dalam akhlak? Ibu, orang yang akhlaknya minus itu menunjukkan tauhidnya kurang. Karena tauhid semakin bagus, berkonsekuensi kepada akhlak pun semakin bagus. Makanya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam apa? Afdarul mukminina imanan ahasinum khuluqo.<br \/>\n(55:57) Kaum mukminin yang paling utama imannya, lihat yang paling bagus imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Berarti keimanan semakin bagus, akhlak pun semakin bagus. Ya, kalau akhlaknya jelek itu memberikan sinyal bahwa keimanan dia juga kurang bagus. Jadi jangan jangan dianggap, &#8220;Ah, yang penting saya tauhid.<br \/>\n(56:30) Masalah saya mau akhlaknya jelek apa enggak.&#8221; Oh, enggak bisa begitu ya. Akhlak itu, Bu, sangat berpengaruh juga. Dilaporkan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Bu, dengarkan hadis ini, Bu. Hadis ini sahih, ya. Dilaporkan kepada Rasulullah, seorang wanita yang senang salat malam, senang sedekah, senang puasa sunah.<br \/>\n(56:57) Tapi sayang lisannya suka menyakiti tetangga. lisannya suka menyakiti tetangga. Apa kata Rasulullah, Bu, tentang wanita ini, Bu? Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Hiya min ahlinar.&#8221; Dia termasuk penduduk api neraka. Lisannya nyakiti tetangga berarti kan akhlaknya jelek sama tetangga, Ibu. Gara-gara lisannya suka menyakiti tetangga, ternyata Rasulullah tidak menganggap itu ya salat yang hebatnya, puasa sunahnya, sedekahnya yang banyak. Wala haula wala quwwata illa billah.<br \/>\n(57:41) Akhlak kita sama orang tua, kita enggak punya akhlak sama orang tua, apakah itu menunjukkan tauhid kita sudah bagus? Ya enggaklah. Ya. Jadi akhlak itu menunjukkan akan bagus atau tidaknya keimanan seseorang. Ustaz, jika Allah tidak butuh ibadah kita, kenapa tauhid tetap menjadi syarat utama diterimanya amal? Betul.<br \/>\n(58:18) Allah memang tidak butuh amal kita. Bahkan Allah pun tidak butuh tauhid kita. Ya. Tapi ingat Bu, bahwa Allah menciptakan hamba-hambnya tujuannya adalah agar semua hambanya, makhluknya beribadah kepada Allah saja, tidak kepada yang lain. Langit, bumi, matahari, bulan, bintang, semua sujud hanya kepada Allah. Allah pun wajibkan jin dan manusia agar beribadah kepada Allah.<br \/>\n(58:57) Allah berfirman, &#8220;Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya&#8217;budun.&#8221; &#8220;Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku saja.&#8221; I Allah menyuruh manusia bertauhid bukan karena Allah butuh tauhidnya hamba, tidak. Tapi untuk semua itu untuk keuntungan si hamba. Allah menyuruh si manusia seluruhnya beribadah kepada Allah. Bukan artinya Allah butuh kepada ibadah hamba. Tidak.<br \/>\n(59:31) Akan tetapi itu semua untuk kebaikan si hamba. Allah berfirman, &#8220;In ahsantum ahsantum lianfusikum wain wain asatum falaha.&#8221; Jika kalian berbuat baik, maka perbuatan baik itu untuk keuntungan kalian, kata Allah. Dan jika kalian berbuat buruk, maka kerugiannya juga buat kalian. Kata Allah, Allah tidak diuntungkan dengan ibadah kita.<br \/>\n(1:00:01) Allah pun juga tidak dirugikan dengan maksiat kita. Enggak. Karena Allah itu ghaniyun anil alamin. Allah enggak butuh siapa-siapa. Allah qayyum. Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan apapun. Iya. Nah, ini ibu-ibu sekalian. Tapi walaupun Allah tidak butuh kepada tauhid kita, tidak butuh kepada ibadah kita, kalau si hamba mentauhidkan Allah, Allah berikan pahala yang sangat besar.<br \/>\n(1:00:34) Kalau si hamba beribadah kepada Allah, Allah berikan pahala berkali-kali lipat. Padahal Allah tidak butuh. Berbeda dengan kita, Bu. Kalau manusia kan ngasih duit itu kalau ada orang yang apa? Kerja sama dia gitu kan. Allah enggak Allah enggak butuh sama siapapun. Ustaz, kalau ilmu sains menjelaskan sebab akibat, tapi Al-Qur&#8217;an bilang Allah yang mengatur segalanya.<br \/>\n(1:01:07) Bagaimana menyeimbangkan dua cara pandang dalam tauhid rububiyah? Ibu, jangan jadikan ilmu sains, hasil pemikiran manusia itu seimbang dengan Al-Qur&#8217;an. Salah besar. Ibu mengatakan bagaimana menyeimbangkan dua pandangan itu. Seakan-akan Ibu mengatakan bahwa ilmu sains yang merupakan hasil pemikiran manusia seimbang dengan Al-Qur&#8217;an yang itu merupakan wahyu dari Rabbul Alamin.<br \/>\n(1:01:43) Seakan-akan ilmu manusia seimbang dengan ilmu Allah. Ini ucapan yang batil, Bu. Sebatil-batilnya. Ya, ilmu sains apapun itu hasil penelitian manusia, hasil akal yang bisa jadi benar, bisa jadi salah. Ilmu apapun hasil penelitian manusia kalau bertabrakan dengan Al-Qur&#8217;an dan hadis, maka itu menunjukkan bahwa penelitiannya pasti salah, batil. sesat. Sedangkan Allah tidak mungkin salah, Bu.<br \/>\n(1:02:29) Ya Allah berfirman, &#8220;Dzalika biannallaha hual haq.&#8221; Yang demikian karena Allahlah yang hak, yang benar. Wa anna min dunihil batil. Adapun selain Allah itu batil. Lalu bagaimana akan diseimbangkan antara ya hasil penelitian manusia dengan wahyu di Rabbul Alamin pencipta langit dan bumi yang lebih tahu tentang ciptaannya.<br \/>\n(1:03:00) Yang menciptakan langit dan bumi ini Allah yang paling tahu tentang ciptaannya ya pasti Allah. Manusia hanya bisa meneliti sesuai dengan yang dia lihat dengan pandangan kasat matanya. Iya. Maka dari itulah salah sangat salah besar, Bu. Kalau dianggap bahwa hasil penelitian manusia itu seimbang dengan wahyu Rabbul Alamin. Apa hukumnya arisan emas? haram.<br \/>\n(1:03:38) Karena syarat jual beli emas itu dua. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ya. Azzahab bidzahab emas. Kalau jual beli emas itu bagaimana? Yaitu satu timb satu satu timbangan dan cash harus dibeli, dibayar saat itu juga. Maka membeli emas ya dengan uang harus cash, enggak boleh tempo. Sedangkan arisan arisan itu minjam ya. Arisan emas.<br \/>\n(1:04:27) Arisan emas. Kalau misalnya kecuali begini ya, misalnya kita arisan nih, dapat duit, kemudian duitnya langsung dibelikan emas, emasnya langsung diserahkan ke kita. Lalu kemudian pembayarannya ke dia cicil ya. Nah, kalau pembelian emasnya itu langsung di hari itu juga dengan harga di hari itu enggak apa-apa sah.<br \/>\n(1:05:00) Lalu emasnya diberikan diberikan kepada kita, lalu kita cicil kepada teman-teman kita dalam arisan seperti itu. Ya, kalau seperti itu enggak apa-apa. Tapi yang yang tidak boleh itu penyerahan emasnya misalnya besok hari atau seminggu lagi. Itu yang tidak boleh. Ibu Ana punya warisan rumah dan Ibu Ana berpesan agar rumah itu hanya boleh buat ana dan kakak ana yang kedua.<br \/>\n(1:05:37) Sedangkan ibu ana punya empat anak. Ibu Ana sampai bilang mengharamkan kedua kakak Ana menginjak rumah Ibu Ana karena kakak Ana yang pertama dan ketiga telah ambil warisan ayah Ana sama mereka dijual sedangkan Ana dan kakak Ana yang kedua tidak dikasih Ustaz. Bagaimana hukumnya? Syukran. Jelas perbuatan kakak-kakak ini zalim.<br \/>\n(1:06:09) Dia sudah memakan harta warisan orang dan kezaliman ini kelak pada hari kiamat akan dibayar dengan amal-amal salehnya. Mengerikan sekali. Namun kezaliman janganlah dibalas dengan kezaliman. Karena si ibu marah lalu dia berkata, &#8220;Rumah ibu ini hanya untuk kalian berdua. Yang dua lagi enggak boleh dapat.&#8221; Ini juga sama zalimnya kalau begitu ya. Jadi kezaliman jangan dibalas dengan kezaliman. Selesai.<br \/>\n(1:06:46) Artinya kalau ada mereka menzalimi kalian lalu kita balas dengan menzalimi mereka. Ya enggak boleh. Ustaz ana ingin menikah tapi ana bingung. Ana harus pilih ikhwan yang penampilannya biasa tapi akhlak baik. mempunyai hafalan agak lumayan daripada ikhwan yang pakaiannya rapi tapi suka julit ke orang dan suka manyun terus.<br \/>\n(1:07:15) Iya, Bu. Ya, akhwat tadi saya nasihatin kamu dahulukan agama dan akhlak. Kata Rasulullah, fuar biddin tibat yad. Pilih yang punya agama akhlak. Kalau sudah nikah nanti kecantikan tu nomor dua ya. Kegantengan tuh nomor dua. Yang terpenting tuh akhlak. Kalau sudah nikah itu, I penampilannya biasa saja, tapi akhlaknya baik, punya hafalan lumayan.<br \/>\n(1:07:56) Lebih mending itu daripada ya ikhwan yang necis, rapi, tapi mulutnya suka nyakitin orang, akhlaknya enggak bagus. Jangan ya. Nanti kamu setelah nikah, kamu bakalan digituin sama dia nanti. Disakitin dengan lisannya. Gimana? tersiksa kamu. Bagaimana tanggapan Ustaz tentang seseorang yang selalu mengatur masa depan orang lain? Padahal dari orang tua orang tersebut pun tidak pernah mengatur dan menuntut anaknya dalam urusan masa depannya.<br \/>\n(1:08:50) Maksudnya gimana ya? Mengatur masa depan tuh maksudnya gimana sih? Enggak dijelasin ya. Dan yang kedua, yang ngaturnya siapa? Tolong dong dijelasin sejelas-jelasnya ya. Kalau pertanyaan menggantung begini, saya juga bingung nih menjawabnya harus gimana. Sebab kalau saya jawab nanti malah zalim nanti. Iya.<br \/>\n(1:09:25) Bagaimana jika seseorang selalu menganggap orang lain memiliki penyakit hati? Padahal yang mengatakan tersebut selalu tidak pernah mau menerima masukan dari orang lain dan melele orang hanya dari satu pandangan saja tanpa tabayun dan selalu merasa benar. Ya, kalau kita mendapatkan orang seperti itu ya jangan kita terlalu habis memikirkan dia.<br \/>\n(1:09:56) Mikirin orang seperti itu hanya akan menimbulkan penyakit hati. Iya. Dikasih masukan enggak mau. Bisa nyanyi wudu tanpa tabayun. Maka orang seperti ini jangan dijadiin teman. Kalau sudah tahu akhlaknya seperti itu, enggak bagus, ya udahlah enggak usah dijadikan teman, Bu.<br \/>\n(1:10:23) Berteman sama orang yang lain saja yang lebih bagus, yang baik akhlaknya, yang kita cocok sama dia. Ya. Nah, kalau ibu mikirin dia terus nanti malah apa? Timbul penyakit hati. Akhirnya ibu gibahin dia. Akhirnya ibu juga dapat dosa sama ya. Hati-hati ibu-ibu sekalian. Kalau misal orang tua kita mengurus dan menjaga anak kita tiap hari, tapi orang tua kita rida.<br \/>\n(1:10:56) Apakah itu termasuk perbuatan durhaka kepada orang tua? Kalau kita bukan karena kita yang minta ya enggak masalah. Bukan karena kita yang minta loh ya. orang tuanya yang senang aja ngurus cucunya biar sini cucunya biar saya yang urus aja ya udah ya karena terkadang bisa jadi dia di rumahnya kesepian misalnya akhirnya sama cucunya terhibur kesepiannya tersebut ya enggak apa-apa, enggak masalah.<br \/>\n(1:11:31) Wanita sedang haid bolehkah membaca Al-Qur&#8217;an? Boleh kalau tidak ya boleh dengan syarat. Syarat yang pertama tidak memegang mushaf. Karena memegang mushaf tidak boleh bagi wanita haid atas pendapat yang rajih dan pendapat mazhab yang empat. Yang kedua, dibutuhkan untuk baca Quran. Ya, artinya untuk menjaga hafalannya misalnya.<br \/>\n(1:12:03) Takut hafalannya kalau enggak di murajaah hilang. Akhirnya dia murajaah hafalannya. Walaupun sedang haid boleh kata para ulama karena ada maslahat menjaga hafalan Al-Qur&#8217;an. Apa hukumnya ketika ada orang yang berpacaran tapi masih melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah.<br \/>\n(1:12:32) Emang pacaran diperintahkan sama Allah? dilarang itu ya. Dia salat, dia puasa, tapi dia masih pacaran. Anak pondok lagi. Anak pondok pacaran. La haula wala quwwata illa billah. Terus ngapain dia menuntut ilmu? Ilmu itu buat diamalin. Pacaran itu haram ya, akhi ya. pacaran tuh haram. Udah begitu belum tentu juga jadi jodoh. Dari mana kamu tahu kalau dia itu jodoh dia? Jodoh kamu? Dari mana kamu tahu bahwa dia dia yang terbaik buat diri kamu? Cuma masalahnya kalau lagi jatuh cinta, mata kita itu gelap.<br \/>\n(1:13:17) Gelap. Seakan-akan itu wanita atau laki-laki yang terbaik buat buat dirinya. Kata siapa? Sudah jelas haramnya, sudah jelas dosanya, belum tentu jodoh juga. Kalaupun menikah, dia khawatirkannya malah enggak barokah dalam hidupnya. Iya. Ya, kalau kamu kalau habis saya cinta sama dia, ya sudah langsung lamar aja nikah selesai.<br \/>\n(1:13:48) Iya. Adapun kamu kemudian melaks melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah, ingat loh maksiat itu kesialannya ngeri di dunia dan akhirat. Maksiat itu membuat pelakunya sial dicabut barokah hidupnya. Kalau kamu-kau pacaran coba akhirnya zikir kamu terganggu, ibadah kamu terganggu yang harusnya kamu banyak mengingat Allah, kamu malah sering mengingat si dia perempuan itu atau laki-laki itu. Yang seharusnya Allah mengatakan walaikrullahi akbar.<br \/>\n(1:14:28) Dan sesungguhnya mengingat Allah itu yang paling besar. Ini enggak mengingat si dia yang paling besar di hati. akhirnya tidak lagi mengagungkan Allah karena hatinya dipenuhi dengan mengingat si dia. Ini kan bahaya banget ya. Akhirnya enggak bisa ibadah. Baca Quran pun enggak bisa khusyuk. Terkadang muncul ria pengin dipuji sama si dia.<br \/>\n(1:14:54) Akhirnya jatuh kepada syirik. La haula wala quwwata illa billah. Banyak banget mudaratnya untuk agama kamu ya. Nah, ini ya. Baik, saya kira cukup sampai di sini. Semoga yang sampaikan bermanfaat. Subhanakallah wabihamdik. Ashadu alla ilaha illa anta astagfirubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:15:28) Radio RJ Bogor 100 poin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Islam waasuluh. Amma ba&#8217;ad. Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita lanjutkan kitab Aljamiul Farid yaitu tanya jawab tentang kitabut tauhid. Kemudian beliau membawakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3359","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Islam waasuluh. Amma ba&#8217;ad. Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita lanjutkan kitab Aljamiul Farid yaitu tanya jawab tentang kitabut tauhid. Kemudian beliau membawakan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-16T03:41:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-19T03:50:48+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"29 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/\",\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-16T03:41:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-19T03:50:48+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip","og_description":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Islam waasuluh. Amma ba&#8217;ad. Ibu-ibu sekalian, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Kita lanjutkan kitab Aljamiul Farid yaitu tanya jawab tentang kitabut tauhid. Kemudian beliau membawakan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-10-16T03:41:29+00:00","article_modified_time":"2025-10-19T03:50:48+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"29 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/","name":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid - YouTube - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-10-16T03:41:29+00:00","dateModified":"2025-10-19T03:50:48+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/16\/3359\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"(21) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Al Jamiul Farid Fi Syarhi Kitabit Tauhid &#8211; YouTube"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3359"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3359"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3359\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3387,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3359\/revisions\/3387"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}