{"id":3373,"date":"2025-10-17T10:43:47","date_gmt":"2025-10-17T03:43:47","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3373"},"modified":"2025-10-19T10:49:58","modified_gmt":"2025-10-19T03:49:58","slug":"3373","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/","title":{"rendered":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube"},"content":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/hJGLwP0MMkY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) GM menebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasohbihi waman walah w ba&#8217;ad. Para padagun pemirsa Raja di mana pun Anda berada. Di kesempatan malam hari ini, alhamdulillahi taala kita akan ikuti dan simak kembali program kajian syarah akidah thawiyah, pembahasan kajian ilmiah dengan tema-tema akidah disampaikan oleh Ustaz Ahmas Faiz hafidahullahu taala yang telah terbung di kesempatan malam hari ini dari kota Solo. Tentunya Anda para perenggar<br \/>\n(00:55) maupun pemirsa dalam sesi tanya jawab kajian dapat menghubungi melalui layanan lain telepon atau pesan singkat dengan pertanyaan-pertanyaan Anda. Masyarakat Anda dapat menghubungi melalui layanan layan telepon ke nomor 0218236543. 0218236543. Adapun pertanyaan berupa pesan singkat WhatsApp dapat Anda kirimkan pula ke nomor yang sama.<br \/>\n(01:21) Baiklah para pendengar maupun pemirsa di mana pun Anda berada, kita akan simak pemaparan materi dari pembahasan kitab syarah akidah thahawiyah bersama pemateri kita Ustaz Ahmad Faiz hafidahullahu taala. Dan kepada al ustaz yang telah terbung kami persilakan. Falyatafadol masykuran makjur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah.<br \/>\n(01:53) Nahmaduhu wa&#8217;inuhu wafiruh wa naud nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati amalina may yahdihillahu fala mudillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli wasallim wabarik ala abdika wa rasulika Muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain.<br \/>\n(02:27) Amma ba&#8217;d para pemirsa dan pendengar TV dan Radio Raja yang dirahmati Allah di mana pun berada. Alhamdulillah pada kesempatan malam hari ini kita harus bersyukur bahwa kita masih diberi nikmat. Nikmat sehat, nikmat afiat, nikmat Islam, dan nikmat semangat untuk mempelajari prinsip-prinsip akidah ahlusunah wal jamaah. Kita akan membahas perkataan al Imam at-Thawi rahimahullah.<br \/>\n(03:16) Pada pembahasan berikutnya beliau rahimahullah mengatakan, &#8220;Qayyumun la yanaam.&#8221; Allah Maha Qayyum tidak tidur. Ini sesuai dengan firman Allah Taala dalam surah Albaqarah ayat kursi. Allahu la ilaha illa hua alhayyul qayyum. Allah tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Alhyyu yang maha yang hidup, maha hidup dan maha qayyum.<br \/>\n(03:52) Syekh Saleh Alfauzan hafidahullah dalam atliqat almukhtasarah alamat matni al-aqidah at thaahawiyah mengatakan arti alqayyum hua alqoim binafsihi wal muqim lighhairihi. Al-Qayyum itu artinya adalah alqaim yang berdiri yang tegak binafsihi dengan dirinya. Wal muqim lighhairihi dan menegakkan yang lainnya.<br \/>\n(04:41) Artinya Allah Subhanahu wa taala tidak membutuhkan kepada yang lain. Dia tegak dengan dirinya sementara yang lain butuh untuk dijadikan tegak oleh Allah Subhanahu wa taala. Butuh dijadikan berdiri oleh Allah Subhanahu wa taala dan butuh dijadikan eksis oleh Allah Subhanahu wa taala. Alqoim binafsihi fala yahtaju ila saai. Alqoim binafsihi tegak dengan dirinya.<br \/>\n(05:13) Artinya dia tidak membutuhkan kepada yang lain, tidak butuh kepada sesuatu apapun. Waniyun an kullai. Maha kaya dari segala sesuatu. Almuqim lighhairihi. yang maha menegakkan yang lainnya. Artinya yang lain itu butuh untuk dijadikan tegak, untuk dijadikan hidup, untuk dijadikan survive, butuh kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(05:58) Kullu sa&#8217;in faqirun ilaihi yahtaju ila iqomatihi lahu subhanahu wa taala. Segala sesuatu fakir butuh kepada Allah. Butuh untuk Allah menjadikannya tegak. Falaula iqomatullah lil samawat wal ard wal makhluqat latadammarat wafaniat. Kalau sekiranya Allah tidak menegakkan langit-langit dan bumi dan tidak menegakkan makhluk-makhluk, sekiranya Allah tidak menjadikan mereka tegak berdiri dan hidup, niscaya langit-langit, bumi, dan makhluk-makhluk itu binasa dan hancur.<br \/>\n(06:53) Akinallaha yuqimuha waahfaduha waumidduha bima yuslihu akan tetapi Allah menegakkannya, menjaganya dan membantunya dengan sesuatu yang menjadikan maslahat bagi semuanya itu. Fajamiul khalqi fi hajatin ilaih. Maka semua makhluk itu butuh kepada Allah. Allah sebutkan dalam surah Fatir ayat 41. Innallaha yumsikus samawati wal ardho an tazula.<br \/>\n(07:31) Sesungguhnya Allah menahan, memegang, mengendalikan langit-langit dan bumi sehingga tidak bergerak, sehingga tidak runtuh. Kalau keduanya sampai bergerak, kalau langit-langit dan bumi itu lenyap dan runtuh dan bergerak, maka tidak ada yang bisa menahannya siapapun sesudah Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(08:09) Ini menjelaskan tentang kekuasaan Allah Subhanahu wa taala. Bahwa Allah itu maha qayyum. Alqoim binafsihi almqim lighhairihi. Jadi nama Allah alqayyum mengandung dua sifat utama. Sifat tegak dengan dirinya dan menegakkan yang lainnya. Jadi dalam satu nama qayyum dalam ayat kursi alhayyu alqayyum, alqayyum itu memiliki dua sifat.<br \/>\n(08:49) Tegak dengan dirinya, tidak butuh kepada yang lain dan dia menegakkan yang lainnya dengan memahami nama Allah qayyum dan sifat qayyumiyah Allah Subhanahu wa taala. Maka kita menjadi merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa taala. Orang yang tidak kenal nama Allah Al-Qayyum, maka dia tidak akan menjadi orang yang bisa merendahkan dirinya di hadapan Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(09:23) Dia akan menjadi orang yang sombong. Selanjutnya Imam at Thaahawi rahimahullah mengatakan, &#8220;Kaliquun bila hajah.&#8221; Allah menciptakan bukan karena butuh untuk menciptakan, bukan karena butuh kepada makhluk yang ia ciptakan. Roziqun bila muknah. Allah memberi rezeki tanpa beban. Tidak ada beban ketika Allah memberikan rezeki.<br \/>\n(10:02) Ini juga satu penjelasan yang lainnya tentang akidah Imam Thahawi. Mengakui Allah itu sebagai khaliq bukan karena butuh untuk menciptakan. Riq tanpa beban. Hualladzi khalaqal khalqo. Kata Syekh Salh Alfaan hafidahullah. Hualladzi khalaqal khalqo wahua laisa bihajatin ilaihim. Dia Allah yang telah menciptakan makhluk. Wahua laisa bihajatin ilaihim. Sedangkan Allah tidak butuh kepada makhluk.<br \/>\n(10:40) Tapi kenapa Allah menciptakan makhluk? Innama khalaqahumatih. Tidak lain Allah menciptakan makhluk khususnya jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepadanya saja. Ini sebagaimana disebutkan dalam surah azzariyat ayat 56. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya&#8217;budun.<br \/>\n(11:10) Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah hanya kepadaku. Jadi supaya makhluk beribadah hanya kepada Allah saja tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah. la lihatin ilaihim biansurin subhanahu yamh innama khalaqahum liibadati. Jadi Allah menciptakan makhluk, menciptakan manusia dan jin bukan karena Allah butuh kepada manusia, bukan karena Allah butuh kepada jin.<br \/>\n(11:55) Bian yansuruh butuh untuk membela Allah. Allah tidak butuh kepada makhluk untuk membela Allah. Auinuh atau Allah tidak butuh kepada makhluk untuk menolongnya. Ausaiduh subhanahu wa taala. Atau Allah juga tidak butuh kepada makhluk untuk membantunya au yamhuh atau untuk menjaganya. Semuanya Allah tidak butuh itu.<br \/>\n(12:30) Innama khalaqoahum liibadatih. Tetapi Allah menciptakan mereka supaya mereka beribadah kepada Allah. Sehingga kita dari sini menyadari Allah menciptakan kita supaya kita beribadah kepada Allah. Nah, apakah Allah butuh untuk kita ibadahi? Tidak. Allah tidak membutuhkan supaya kita beribadah kepada Allah. Tapi Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada Allah untuk kepentingan kita sendiri. Wahum al muhtajuna lil ibadah.<br \/>\n(13:11) Merekalah yang butuh untuk beribadah kepada Allah. Bukan Allah butuh diibadahi, tapi kita manusia makhluk yang butuh untuk beribadah kepada Allah. Sehingga jangan kita diciptakan Allah untuk beribadah karena Allah butuh kepada ibadah. Bukan. Tapi kitalah yang butuh untuk beribadah kepada Allah.<br \/>\n(13:38) Dan itu adalah hikmah yang Allah miliki. Litasilahum billah watarbitahumbihim. Jadi ibadah itu fungsinya adalah untuk menghubungkan makhluk dengan Allah. Ibadah itu menjadi penghubung antara makhluk dengan Allah. Watarbitum watarbitahum birabbihim. Dan ibadah itu untuk mengikat makhluk dengan Rabbnya. Fal ibadatu silah bainal abdi warbihi.<br \/>\n(14:17) Maka ibadah itu adalah penghubung antara hamba dengan rabbnya subhanahu wa taala. Fatuqorbuhu minallah. Sehingga ibadah itu akan menjadikan hamba dekat dengan Allah. Wahsulu biha minallah alwabi wal jaza. Dan dengan ibadah itu hamba akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah. Itulah di antara hikmah besar Allah.<br \/>\n(14:50) Mengapa Allah menciptakan manusia dan jin? Bukan karena Allah butuh untuk diibadahi. Bukan karena Allah butuh kepada mereka untuk membela Allah. Bukan. Tapi itu adalah kasih sayang Allah kepada manusia dan jin supaya mereka beribadah kepada Allah. Dengan ibadah kepada Allah mereka menjadi dekat kepada Allah dan mereka akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(15:24) Sehingga fal ibadatu hajatun lil khalq waisat bihajatin lillahi azza waalla. Jadi ibadah itu merupakan kebutuhan bagi makhluk dan Allah tidak butuh kepada ibadah itu. Allah tidak membutuhkan hambanya untuk beribadah kepada Allah. Hambya yang butuh untuk beribadah kepada Allah karena dia butuh kasih sayang Allah, butuh untuk selamat hidupnya di dunia maupun di akhirat.<br \/>\n(15:51) Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Ibrahim ayat 8. In takfur in takfuru antum w ardhi jamian fainnallahaniyun hamid. Jika kalian semuanya dan semua apa yang ada di muka bumi itu kafir kepada Allah, maka sesungguhnya Allah maha kaya dan maha terpuji. Tidak butuh kepada mereka. In takfuru fainnallaha ghaniyun ankum. Dalam surah azzumar ayat 7.<br \/>\n(16:32) In takfuru jika kalian kafir fainnallaha ghaniyun ankum. Maka sesungguhnya Allah maha kaya dari kalian. Maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian semuanya. Ini Allah Subhanahu wa taala yang bernama Alkaliq dan memiliki sifat menciptakan. Dan ketika Allah menciptakan itu bukan karena butuh untuk diibadahi, bukan karena butuh untuk disembah, bukan karena butuh untuk dibela, tapi karena Allah kasih sayang kepada manusia, kepada makhluknya sehingga memberikan kesempatan kepada makhluk untuk beribadah kepada Allah.<br \/>\n(17:17) Dengan ibadah itu maka makhluk akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah. Waqul roquun bila mnah. Allah memberikan rezeki tanpa butuh. A hua alqoim biarzaqi ibadihi wquika mimmaahu. Artinya Allahlah yang memberikan rezeki kepada para hambanya. Dan itu tidak mengurangi segala apa yang ada di sisi Allah.<br \/>\n(17:57) Jadi Allah memberikan rezeki tanpa beban. Saya ulangi, Allah memberikan rezeki tanpa terbebani. Karena Allahlah yang memberikan rezeki p kepada para hambanya. Dan rezeki yang dibagikan kepada hamba-Nya itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa taala. Itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang lainnya kepada manusia.<br \/>\n(18:27) Maka kita minta rezeki kepada Allah sebanyak-banyaknya rezeki yang bermanfaat. Dan itu Allah akan berikan apa yang kita minta sesuai dengan maslahat yang Allah tahu untuk kita semuanya. Maka kita tidak boleh bosan dan tidak boleh jemu untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita butuh beribadah kepada Allah. Maka kita hendaknya bersemangat dalam beribadah kepada Allah.<br \/>\n(19:02) Berikutnya al Imam at Thaahawi rahimahullah mengatakan mumitun bila makhafah. Allah mematikan. Tidak dengan merasa takut. Allah mematikan bukan karena Allah merasa takut. A yumitul ahya idza kamulat ajaluhum. Artinya Allah mematikan orang-orang yang hidup atau makhluk-makhluk yang hidup kalau ajal mereka itu sudah sempurna. La liannahu khfun minhum.<br \/>\n(19:47) Bukan karena Allah takut kepada mereka. Kalau makhluk membunuh lawannya karena takut lawannya lebih dahulu membunuhnya. Tapi kalau Allah mematikan makhluknya itu bukan karena takut kepada makhluknya. Walakin dalikaikmatihi subhanahu wa taala. Akan tetapi yang demikian itu karena hikmah Allah Subhanahu wa taala. Liannal hayata fid dunya laha nihayah.<br \/>\n(20:29) Karena kehidupan di dunia punya akhirnya, punya penghabisannya. Dunia segala hidupnya itu punya ujungnya, punya penghabisannya. Maka kalau ajal sudah tiba, Allah akan mematikan orang yang ajalnya sudah tiba. Bukan karena Allah merasa takut kepada mereka, kepada orang-orang yang Allah matikan. Tapi karena ajalnya sudah tiba. Wa ammal akhirah falaisa lil hayati fiha nihayah.<br \/>\n(21:05) Adapun akhirat, maka kehidupan di akhirat itu tidak ada penghabisannya. kekal selama-lamanya. Ini apa yang disebutkan oleh Syekh Saleh Alfaan hafidahullah. Ini berdasarkan salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam albukhari rahimahullah dari Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu. Beliau mengatakan, &#8220;Qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(21:44) &#8221; Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Ya bil mauti kahaiati kabsyin amlah. Nanti pada hari akhirat kematian itu akan didatangkan. Bentuknya seperti domba yang berwarna abu-abu antara putih dan hitam. Fayunadi munadin. Maka ada yang memanggil, &#8220;Ya ahlal jannah, wahai penghuni surga. Fayasrobbun wayangun.&#8221; Lalu mereka mendongakkan kepalanya dan melihat. Ada sebagian riwayat yang menyebutkan bahwa kematian yang bentuknya domba berwarna ee hitam keputih-putihan atau putih kehitam-hitaman itu dibawa di atas sirat.<br \/>\n(22:54) Dibawa di atas sirat. Ada riwayat lain yang mengatakan bainal jannah wanar. dibawa antara surga dan neraka. Kemudian dalam riwayat yang lain, ketika ahlul jannah dipanggil maka mereka mendoakan kepalanya, merasa takut jika mereka dikeluarkan dari surga. Fayakul, maka Allah yang memanggil itu berfirman, &#8220;Halfuna hadza?&#8221; Tahukah kalian apa ini? Fquuluna naam h al maut.<br \/>\n(23:34) Mereka menjawab, &#8220;Ya, itu adalah ini adalah kematian.&#8221; Kematian yang dalam bentuk seekor domba yang berwarna antara putih kehitam-hitaman atau hitam keputih-putihan. Jadi mati itu nanti akan diwujudkan oleh Allah Subhanahu wa taala dalam bentuk seekor domba yang warnanya disebutkan tadi. Dan kita harus mengimani ini.<br \/>\n(24:09) Mengimani karena ini adalah berita yang datang dari Nabi sallallahu alaihi wa alihi wasallam. Wuhum qah. Semua penghuni surga benar-benar melihat kematian itu dalam bentuk seekor domba. Tma yunadi. Kemudian Allah memanggil kepada ahlunar. Ya ahlanar, wahai penghuni neraka. Fasribunzurun. Lalu mereka mendongakkan kepalanya dan mereka melihat.<br \/>\n(24:47) Dalam riwayat disebutkan pada saat itu mereka merasa gembira barangkali akan dikeluarkan dari neraka. Fakul. Lalu Allah berfirman, &#8220;Halfuna hadza?&#8221; Apakah kalian tahu ini? Fayquuluna naam. Mereka menjawab, &#8220;Ya, had maut.&#8221; Ini adalah kematian. Wumuhum qodraah. Semuanya benar-benar melihat kematian tersebut. Faybahu.<br \/>\n(25:19) Kemudian kematian yang dalam bentuk seekor domba itu disembelih. Tumma yaakl. Kemudian Allah berfirman, &#8220;Ya ahlal jannah, ya ahlal jannah khulud fala maut. Wa ahlanar khulud fala maut.&#8221; Wahai penghuni surga kekal di dalam surga maka tidak ada kematian sesudah itu.<br \/>\n(25:49) Dan diserukan kepada ahl neraka, wahai ahli neraka, khulud kekal dari bagi penghuni neraka yang kekal di dalamnya, kekal selama-lamanya fala maut, maka tidak akan ada kematian lagi sesudahnya. Q kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah taala dalam surah Maryam ayat 39. Wairum yaumal hasrati amru wahum fi wahum wahum fi goflatin wahum la yukminun.<br \/>\n(26:20) Dan berilah mereka peringatan wahai Muhammad tentang hari penyesalan. Yaitu ketika segala perkara telah diputus. Wahum fi goflah. Sedangkan mereka ahli dunia itu dalam keadaan lalai. Wahum la yukminun. Dan mereka tidak beriman. Jadi nanti di akhirat selamanya hidup dan tidak ada penghabisannya. Faimatatuhum laisa khaufan minhum a liyastariha minhum.<br \/>\n(27:00) Maka ketika Allah mematikan para makhluknya itu bukan karena Allah takut kepada mereka atau Allah ingin istirahat dari polah mereka. Kalau manusia supaya istirahat dari tingkah pola orang yang menyebalkan mungkin akan bertindak ganas supaya pencoleng itu tidak meraja lela, maka ditegakkan hukum pidana misalnya dengan dihukum mati.<br \/>\n(27:46) itu karena manusia supaya istirahat dari tingkah pola mereka yang jahat. Tapi Allah mematikan mereka bukan karena takut kepada mereka dan bukan ingin istirahat dari tingkah pola mereka. Walau yakfuruna bihi fnahu laatorufrihim. Kalau sekiranya mereka semua itu kafir kepada Allah maka kekafiran mereka tidak berbahaya bagi Allah. tidak akan membahayakan Allah. Wa innama yaduruna anfusahum.<br \/>\n(28:19) Tetapi mereka membahayakan diri mereka sendiri. Membuat mereka sendiri mendapatkan bahaya. Lakinnahu hua yafrahu bitubatihim. Tetapi Allah bergembira ketika mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wa taala. Jadi Allah Subhanahu wa taala disebutkan oleh Syekh Salh Al Fauzan di sini memiliki sifat gembira. Ini seperti disebutkan dalam banyak riwayat hadis.<br \/>\n(28:59) Di antaranya diliwatkan oleh Al Imam Albukhari dan oleh Imam at-Tirmidzi juga oleh perawi yang lain, oleh muhaddis yang lain. Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud radhiallahu anhu. Demikian juga Imam Tirmidzi. Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah.<br \/>\n(29:30) Kata kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, beliau menyebutkan lallahu afrahu bitaubati abdihi min rajulin nazala manzilan. Jadi apa yang disebutkan oleh Syekh Salh Al Fauzan ini didasarkan kepada di antaranya hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam riwayat Imam Bukhari dan juga Imam Tirmidzi dari Ibnu Mas&#8217;ud dan juga oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah.<br \/>\n(30:04) Kata Rasulullah, &#8220;Lallahu afrahu bitaubati abdihi min rajulin nazala manzilan wabihi mahlakah wahu rahilatuhu alaiha thaamuhu fawadaahuama naumatan fastaq waqhabatilatuhu hatta alaihil har wal masyaallah fazailatuhuahu. Sungguh Allah itu lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan dengan seseorang yang singgah di suatu tempat.<br \/>\n(31:06) yang pada tempat itu adalah tempat yang sangat ganas, sangat menghancurkan, tempat yang membinasakan. Dia melewati tempat itu, singgah di tempat itu dengan untanya. Pada unta itu ada makanan dan minumannya, ada perbekalan untuk di perjalanan. Lalu karena lelah dia meletakkan kepalanya tertidur. Ketika bangun untanya sudah lenyap. Padahal pada unta itu ada perbekalan untuk perjalanan.<br \/>\n(31:42) Dia cari ke mana-mana tidak ditemukan untanya. Hatta idad alaihil har wal ats akhirnya panas. sangat terik dan dia dilanda oleh kehausan yang sangat luar biasa. Oh, masyaallah. Atau seperti apa yang Allah kehendaki. Putus asa. Dalam riwayat lain disebutkan putus asa. Qala arji ila makani. Dia mengatakan saya akan kembali ke tempatku untuk beristirahat.<br \/>\n(32:18) Faraja&#8217;a fanaama naumatan. Lalu dia kembali ke tempat semula di mana dia tertidur di awalnya. Lalu dia tertidur kembali menunggu sesuatu yang tidak pasti menunggu kematian. Tummaofaahu kemudian dia terbangun mengangkat kepalanya. Faid rahilatuhuahu. Tiba-tiba seketika ternyata untanya itu ada di hadapannya.<br \/>\n(32:51) Maka pada saat itu orang itu sangat bergembira. Gembiranya luar biasa. Sampai dalam riwayat disebutkan Allahumma inni rab ee Allahumma inni eh Allahumma anta abdi wa ana rbuk. Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah ee hambaku dan aku adalah Tuhanmu. Saking gembiranya dia sampai salah dalam mengucapkan kata-kata yang itu sesungguhnya merupakan kata-kata kufur tapi termaafkan karena saking gembiranya sehingga tidak menyadari bahwa dia telah ee melakukan kekeliruan dalam berkata.<br \/>\n(33:40) Para pendengar dan pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Tapi Allah lebih bergembira dibandingkan orang ini ketika ada seorang hamba yang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa taala. Allah ketika mematikan makhluk itu tanpa rasa takut sedikit pun kepada mereka. Tapi Allah sangat bergembira apabila ada orang yang bertaubat kepada Allah.<br \/>\n(34:13) Lebih bergembira daripada seseorang yang kehilangan barang pentingnya di tengah padang sahara yang sangat membinasakan. Ternyata ditemukan kembali barangnya tanpa usaha yang berlebihan. Dia sangat gembira mendapatkan barangnya kembali. Tapi Allah lebih bergembira ketika ada seorang hamba yang bertaubat.<br \/>\n(34:40) Untuk itu maka marilah kita bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala dari segala kesalahan yang pernah kita lakukan. Karena setiap bani Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat kepada Allah. Mungkin kita salah dalam berakidah.<br \/>\n(35:07) Mungkin kita salah dalam beribadah, mungkin kita salah dalam berakhlak, mungkin kita salah dalam bermuamalah, dalam bergaul dengan orang tua, dengan anak, dengan sesama, dengan lingkungan, sebagai rakyat, sebagai pemimpin. Kita banyak kesalahannya. Sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang bertaubat. Dan Allah cinta, cinta dan suka. sangat menginginkan hambanya mendapatkan kebaikan.<br \/>\n(35:38) Kata Syekh Salh Al Fauzan, &#8220;Liaannahu yuhib waidu lahum alhair.&#8221; Karena Allah menyukai, Allah mencintai, dan menginginkan kebaikan untuk para hamba. Maka kita gunakan kesempatan ini untuk benar-benar menjadi orang-orang yang baik, menjadi orang-orang yang senantiasa bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(36:02) Karena kita paham bahwa Allah bergembira ketika kita bertaubat. Fahua yafrahu bitaubatihim wahua laisa fi hajatin ilaihim. Maka Allah bergembira dengan taubat para hamba. Dan Allah tidak butuh kepada para hamba. Bahkan kepada taubatnya para hamba Allah pun tidak butuh. Tapi Allah bergembira. Gembiranya karena senang mereka akan mendapatkan nikmat dari Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(36:35) Mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Innama dalalika min lutfihi wa ihsanihi. tidak lain itu kecuali karena ee kelembutan Allah Subhanahu wa taala dan ihsan Allah kepada para hamba. Para pemirsa dan pendengar TV dan Radio Raja yang dihormat dirahmati Allah subhanahu wa taala. Berikutnya al Imam at- Thaahawi rahimahullah mengatakan baitun bila masyaqqah.<br \/>\n(37:11) Setelah setelah membahas tentang mumitun bila makhafah, mematikan tanpa ada rasa takut, maka Allah maka kemudian Imam Thahawi melengkapi perkataannya dengan perkataan beliau, baitun bila masyaqqoh. Beliau membangkitkan kembali orang yang telah mati tanpa kesulitan. Kata Syekh Salh Al Fauzan hafidahullah, &#8220;Hjaibi qudratihi.<br \/>\n(37:41) &#8221; Ini termasuk keajaiban qudrah Allah Subhanahu wa taala. Annahu yumitul khq wufnihim hatta yatalasu waasiru turabanfata. yaitu bahwa Allah mematikan makhluk, membinasakan mereka, menjadikan mereka hancur, kemudian mereka lenyap dan mereka menjadi debu dan benda-benda yang hancur lebur. Hatta yaakulal jahil.<br \/>\n(38:14) Sampai seorang yang jahil, orang yang bodoh mengatakan, &#8220;La yumkin yaudu.&#8221; Tidak mungkin mereka yang sudah binasa menjadi usang, menjadi debu, tidak mungkin mereka akan kembali, tidak mungkin mereka akan hidup lagi. Walakinnallaha azza waalla yabatuhum min jadidu khqahum min jadid. Akan tetapi Allah Subhanahu wa taala membangkitkan mereka dari baru lagi.<br \/>\n(38:47) Mengulang penciptaan mereka dari baru lagi. Waalaisa alaihi fialika masyaqqoh. Dan itu tidak sulit bagi Allah subhanahu wa taala. Sebagaimana Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam surah Luqman ayat 28. Ma khalquum wala ba&#8217;ukum illa ka nafsin wahidah. Tidaklah menciptakan kamu dan tidak pula membangkitkan kamu itu sebagaimana menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja.<br \/>\n(39:26) Menciptakan kamu sekalian, kita sekalian, seru sekalian alam. Dan demikian juga membangkitkan kembali kita semuanya sekalian alam sesudah mati itu tidak sulit bagi Allah. Itu laksana membangkitkan laksana menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja. Dalam ayat yang lain, surah Ar-Rum ayat 27, Syekh Salh Al Fauzan eh membawakan ayat ini.<br \/>\n(40:03) Wahualladzi yabdaul khqo tumma yuiduhu wahua ahwanu alaih. Dan dia Allah yang memulai penciptaannya kemudian dia mengulanginya lagi. Dan mengulangi itu lebih mudah bagi Allah Subhanahu wa taala. Walahul matsalul a fis samawati wal ard. Hanya kepunyaan Allah sifat yang maha tinggi di langit maupun di bumi. Wahual azizul hakim. Dan Allah maha perkasa dan maha bijaksana.<br \/>\n(40:31) Fal musyrikun ankarul ba&#8217; istib&#8217;adan minhum. Orang-orang musyrik mengingkari dibangkitkannya kembali manusia setelah kematian. Mereka menganggap itu terlalu jauh. Tidak mungkin itu akan terjadi. Kamakarallahu dalalika anhum. Sebagaimana Allah telah menyebutkan tentang keyakinan mereka. Q man yuhyil wahim.<br \/>\n(41:07) Orang kafir itu mengatakan, &#8220;Siapakah gerangan yang akan menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur lebur?&#8221; Dalam surat Yasin ayat 78, qala subhanahu wa taala, Allah berfirman, &#8220;Qul, katakanlah hai Muhammad, yuhyihalladzi ansyaaha awala marrh.&#8221; Ini ayat berikutnya, Yasin ayat 79. Katakanlah hai Muhammad yang menghidupkannya lagi adalah yang menciptakannya pertama kalinya. Awala marrah.<br \/>\n(41:47) Allah menciptakan manusia makhluk pertama kali. Laaisa laha wujud asla. Yang makhluk itu yang tulang-berulang itu makhluk itu tidak punya wujud sama sekali. Dulunya manusia tidak ada. Dulunya makhluk tidak ada. Allah ciptakan sejak pertama kalinya. Faujadaha minal adam subhanahu wa taala. Maka Allah menjadikan makhluk menjadi ada dari sebelumnya tidak ada.<br \/>\n(42:23) Falladzi khalaqaha minal adam alaisa biqodirin ala iadatiha min babi aula. Maka Allah yang menciptakan makhluk dari tidak ada. Bukankah lebih mudah bagi Allah untuk mengulanginya lagi? Jadi untuk mengulangi penciptaan ee yang kemudian dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa taala menciptakannya kembali itu lebih mudah daripada menciptakan sejak pertama kalinya. H fiil uqul ini menurut akal.<br \/>\n(43:00) Menurut akal mengulangi penciptaan dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada lebih mudah daripada menciptakan pertama kalinya. Lepas daripada itu, fainnallaha la yuqasu bikalqihi. Namun terlepas daripada itu, sesungguhnya Allah tidak boleh dikiaskan dengan makhluknya, tidak boleh diukur dengan makhluknya. Innamaika matal.<br \/>\n(43:29) Tapi ini hanya untuk membuat perumpamaan saja. Walahul matsalul a&#8217;la. Dan hanya kepunyaan Allah sifat yang maha tinggi. Jadi ee secara akal mengulang penciptaan itu lebih mudah daripada menciptakan pertama kali. Ini sebagai permanfaan saja. Tapi Allah tidak boleh dikiaskan, tidak boleh dianalogikan dengan makhluknya. Fahadza radun alal jahid.<br \/>\n(44:00) Maka ini merupakan bantahan kepada orang yang juhud, orang yang ingkar. Qala taala wasia khalqah. Orang itu lupa akan penciptaannya. Nasi annahu fil awal la wujud lahu. Orang itu lupa pada pertama kalinya dia bukan apa-apa, tidak ada wujudnya. Seperti dalam firman Allah surat Al-Insan ayat yang pertama.<br \/>\n(44:34) Hal ata alal insani hinu minadahri. Saya ulangi. Hal ata alal insani hinum minadahri. Lam yakun saaian madkuro. Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu daripada masa yang lam yakun saaian mazkuro yang manusia itu pada waktu itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut. Artinya tidak ada sesuatu yang bisa disebut. Dulunya tidak ada manusia.<br \/>\n(45:16) Lalu manusia lupa bahwa Allah telah menjadikannya ada dari yang sebelumnya tidak ada. Maka hendaknya ayat-ayat Al-Qur&#8217;an ini mengingatkan kita bahwa kita dulunya tidak ada. Kemudian ada, kemudian nanti dia ditiadakan lagi oleh Allah. Dan Allah akan membangkitkan kembali hidup sesudah kematian kita untuk mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah kita lakukan.<br \/>\n(45:45) Fahua yajmau hadihil idam almutfarriqoh waluhum almazzaqoh wat turab alladzi tahallal wadur almutabarah yuiduha kamaat. Maka Allah menghimpun tulang-tulang yang berserakan ini, daging-daging yang sudah tercabik-cabik dan debu-debu yang sudah terurai, sudah menjadi debu yang busuk. Wah syuur.<br \/>\n(46:22) Demikian juga ee rambut-rambut yang tercerai Allah ulangi dijadikan sebagai makhluk sebagaimana sediakala. Wamin ayatihi dalam surat Arrum ayat 25 Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wamin ayatihiqual ardu biamrihi. Di antara tanda-tanda kebesaran Allah adalah tegaknya langit dan bumi berdasarkan amr ketetapan dari Allah.<br \/>\n(47:04) Tumma id daakum dawatan minal ardhi idza antum takrujun. Kemudian jika Allah memanggilmu dengan satu panggilan dari bumi, seketika kamu keluar dari dalam kubur. Wfur fasqo man fisamawati w fil ardhi illa manyaallah tumma nufik fihi ukhro faidza hum qiamunzurun. Ditiupkanlah sangkakala lalu matilah segala makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi kecuali orang yang Allah kehendaki.<br \/>\n(47:48) Kemudian ditiupkanlah sangakala sekali lagi. Lalu seketika mereka bangun dari kubur mereka menunggu putusan dari Allah Subhanahu wa taala. Falula. Maka tiupan yang pertama adalah nafkatus wal maut. Tiupan untuk kematian. Nafatul baad. Sedangkan tiupan yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan mereka dari kubur-kubur mereka. Wfur faidza hum minal ajdib ilbihim yangilun. Ditiupkanlah sangkakala.<br \/>\n(48:32) Maka seketika mereka bangkit dari kubur-kubur mereka, mereka menuju kepada Rabbnya dengan segera. Q ya wailana man baana mim marqadina hza ma waadarahmanu wasqal mursalun. Mereka berkata, &#8220;Betapa celaka kami. Siapakah gerangan yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?&#8221; Maksudnya, siapa gerangan yang membangkitkan kami dari kubur-kubur kami? Inilah dia apa yang Allah yang Maha Rahman janjikan.<br \/>\n(49:13) Dan benarlah para utusan Allah. Wallahu qadirun ala kullai. Maka Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Wun alal kuffar alladina ihyail mautau. Ini merupakan bantahan kepada orang-orang kafir yang menantang Allah untuk menghidupkan orang yang mati dan untuk mengambil mengembalikan mereka sebagaimana ee penciptaan seperti setia.<br \/>\n(49:45) Jadi ini bantahan kepada orang-orang kafir. Taala insanya dalam surat alqiyamah ayat 3 dan 4 Allah berfirman, insan. Apa manusia menyangka bahwa kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulang tulang-tulangnya? Bala qodirin ala anusawiya bananah. Bahkan Allah itu maha kuasa untuk menjadikan jari jemari mereka tersusun kembali secara sempurna.<br \/>\n(50:33) Bahkan kami berkuasa untuk menyusun kembali jari jeremari mereka secara sempurna. Yaum yakrujuna minal ajra kaahum nusubiidun. Surat Almaarij ayat 43. Yaitu pada hari ketika mereka keluar dari kubur-kubur mereka dengan cepat. Kaannahum ila nusubi yufidun. seakan-akan mereka pergi dengan segara dengan segera kepada berhala-berhala mereka.<br \/>\n(51:21) Jadi mereka bangkit dari kubur mereka dengan cepat seperti ketika mereka di dunia bangkit bersegera menuju kepada berhala-berhala mereka. Hadi qudratullah wa irodatuh waatuhu la yujizuhu saai. Inilah kekuasaan Allah. Inilah iradah dan kehendak Allah. Tidak ada sesuatu yang bisa melemahkan kekuasaan Allah. Lakin ba&#8217;dul makhluqin yaqisullahqihi.<br \/>\n(51:54) Akan tapi sebagian makhluk, sebagian orang yaitu orang-orang kafir mengkiaskan Allah itu dengan makhluknya. Fayastabit al baat. Sehingga orang ini menganggap jauh untuk manusia bisa dibangkitkan kembali setelah kematiannya. Liannahu fi nadarihi mustahil. Karena menurut pandangannya itu adalah sesuatu yang mustahil. Wala yangu ila qudratillah.<br \/>\n(52:25) Orang ini tidak melihat pada kekuasaan Allah. Walam yaqdurillaha haqq. Dia tidak menghormati Allah dengan sebenar-benarnya. W minal jahli billahi azza wa jalla. Dan ini termasuk kebodohan terhadap Allah azza wa jalla. Ini beberapa ee pernyataan al Imam at Thaahawi tentang Allah Subhanahu wa taala memiliki kekuasaan luar biasa.<br \/>\n(52:55) Allah akan membangkitkan segenap makhluknya setelah kematiannya tanpa mengalami kesulitan apapun. Ketika Allah mematikan makhluk, maka bukan karena takut kepada makhluk. Dan Allah menciptakan manusia menciptakan makhluknya bukan karena butuh dan memberikan rezeki juga tanpa beban bagi Allah Subhanahu wa taala. Ee ini yang bisa kita sampaikan pada kesempatan malam hari ini.<br \/>\n(53:27) Mudah-mudahan bermanfaat dan mendorong semangat kita untuk semakin meningkat dalam beribadah kepada Allah, dalam bertakwa kepada Allah, dan dalam bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala dan istiqamah sehingga kita tidak mati kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Wallahuam bisawab.<br \/>\n(53:56) Wasallallahu ala nabina Muhammad. waa alihi wasbihi ajmain. Baik, alhamdulillah kami ucapkan terima kasih. Jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum atas materi bahasan kajian ilmiah yang bermanfaat di kesempatan malam hari ini, Ustaz, dari pembahasan syarah akidah thahawiyah. Berikutnya para pendengar maupun pemirsa Raja, kita masuk ke sesi tanya jawab.<br \/>\n(54:21) Silakan bagi Anda yang ingin bertanya seputar pembahasan kajian di malam hari ini dapat menghubungi melalui layanan lain telepon 0218236543 atau pertanyaan berupa pesan singkat WhatsApp dapat dikirimkan pula ke nomor yang sama 0218236543. Baiklah kita coba sapa di layanan telepon bagi para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung di kesempatan ini. Namam silakan.<br \/>\n(54:50) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Dar dari mana, Pak? Dengan Rudi di Tangerang. I, Pak Rudi ya. Silakan, Pak. Iya. Asalamualaikum, Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullah. Silakan langsung ke pertanyaan. Ya, ini Pak Ustaz yang ditanyakan begini, Pak Ustaz.<br \/>\n(55:10) Dan roh manusia itu sudah diciptakan Allah sampai ee hari kiamat, Pak Ustaz. Nah, kemudian artinya kan kalau manusia yang lahir itu pasti sudah ditukan oleh Allah, Pak Ustaz ya. Berarti jodoh itu kan juga sudah diterapkan Pak Ustaz ya. Tapi kenapa kok kita masih disuruh ikhtiar untuk mencari jodoh yang ter Pak Ustaz? Itu kan harusnya kalau meskipun kita enggak mencari kan jodoh itu datang Pak Ustaz karena roh dari anak cucu kita sudah ditetapkan oleh Allah Pak Ustaz itu bagaimana pemahamannya Pak Ustaz? Mohon masukannya, Pak Ustaz. Ada jawabannya saya ucapkan. Jazakum barakallahu fik. Asalamualaikum<br \/>\n(55:45) warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih pertanyaannya Pak Rudi di Tangerang. Silakan Ustaz terjemahkan pertanya. Iya. Ee kami ulangi pertanyaan yang telah disampaikan. Ee bukankah roh itu takdirnya itu sudah diciptakan dan ditakdirkan oleh Allah hingga hari kiamat? Lalu bagaimana korelasinya dengan ee perintah kita untuk mencari jodoh yang baik.<br \/>\n(56:19) Bukankah jodoh juga termasuk hal yang sudah ditetapkan ee terhadap manusia? Jodoh. Iya, jodoh. Betul, Ustaz. Roh sudah diciptakan sampai hari kiamat. Terus suruh mencari jodoh. Itu maksudnya gitu. Ee nam berikut juga ee termasuk jodoh manusia pun sudah ditetapkan bagi manusia.<br \/>\n(56:43) Namun kenapa ee ada perintah untuk mencari jodoh yang baik? Nah, bukankah jika diam saja pun juga akan datang sendirinya begitu, Ustaz? Intinya maksudnya jodoh itu kan telah ditetapkan takdir ya, tapi mengapa masih disuruh mencarinya? Begitu. Nah, maksudnya begitu ya pertanyaannya. Nah, betul, Ustaz. ee kita kan tidak tahu takdir kita, jodoh kita kita tidak tahu.<br \/>\n(57:17) Seperti halnya ee kita menjadi ahli surga atau neraka semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Tapi kan kita disuruh berbuat. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi, &#8220;Afala nattaqil ala kitabina? Wadaul amal. Ya Rasulullah, apa kita tidak serahkan saja kepada takdir yang telah ditetapkan kepada kita dan kita tidak usah melakukan usaha apa-apa, tidak beramal.<br \/>\n(57:52) Kata Nabi, eeu faull muyar. Fakullun muyassar lima khuliqalah. Kata Rasulullah, tetaplah bekerja, tetaplah beramal. masing-masing akan dimundrahkan menuju takdirnya. Jadi takdir, jadi jodoh itu kita tidak tahu jodoh kita. Kita tidak tahu jodoh kita, maka kita diperintahkan untuk mencari jodoh kita.<br \/>\n(58:23) Dan kita diperintahkan ini kalau takdir itu adalah iradah kauniah, kehendak Allah yang bersifat mutlak. Sedangkan mencari adalah ee perintah dari Allah supaya kita menjalankan apa yang diperintahkan yaitu berusaha ikhtiar. Dan disyariatkan kita untuk mencari jodoh yang saleh atau salihah. Kalau kita laki-laki, kita disuruh mencari jodoh yang salihah. Kalau kita perempuan disuruh untuk mencari jodoh yang saleh.<br \/>\n(58:59) Jadi kita menjalankan perintah, kita melakukan sebab dan sama itu halnya dengan ketika kita sakut kan sudah ditentukan sakit, sudah ada takdirnya bahwa seseorang sakit. pada hari ini jam sekian akan sakit. Tapi kita kan kita diperintahkan untuk berikhtiar melakukan upaya supaya kita bisa menyingkirkan sakit kita.<br \/>\n(59:29) Karena kita tidak tahu ee apakah kita ditakdirkan mati atau kita ditakdirkan untuk sembuh. Maka kita berusaha untuk mencari takdir yang baik dan menghindari takdir yang buruk. Mudah-mudahan jawaban saya ini bisa dipahami ya. Terima kasih, Ustaz. Nam jazakumullahu khairan atas jawaban dan juga penjelasan yang telah disampaikan.<br \/>\n(59:53) Semoga bermanfaat untuk ee pendengar yang berasal dari Tangerang tadi dan juga pendengar maupun pemirsa yang lainnya. Silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung masih di layanan telepon 0218236543. Sebelum kami beralih ke pesan singkat, silakan. Halo. Baik, kita sapa kembali bagi para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung. 0218236543.<br \/>\n(1:00:17) NAM, silakan. Halo. Baik, terputus. Pertanyaan dari pesan singkat, Ustaz. Dari penjelasan yang telah disampaikan berkaitan dengan hayyun la yamut. Apakah di sini berarti bahwa makhluk lain berupa malaikat dan jin dan lain-lainnya itu ee bisa mati, Ustaz? Jika iya, mengapa? Mohon penjelasannya. Demikian, Ustaz.<br \/>\n(1:00:45) Iya. Jadi, makhluk-makhluk itu dimatikan oleh Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat. Dan kalau manusia dan jin itu dimatikan pada saat ajalnya habis. Pada saat ajalnya habis, tidak menunggu hari kiamat besar. Jadi ee itu adalah hikmah dari Allah Subhanahu wa taala. Tapi ada makhluk-makhluk yang dikehendaki tidak tidak dimatikan oleh Allah Subhanahu wa taala, yaitu makhluk-makhluk yang dikehendaki untuk tetap hidup.<br \/>\n(1:01:34) Ee tentang malaikat. Tentang malaikat. Ya, tentang malaikat. Ada malaikat yang tugasnya untuk menjaga surga dan untuk menjaga neraka. Wallahuam. Mereka mungkin termasuk yang tidak dimatikan oleh Allah Subhanahu wa taala. atau ada ee malaikat penjaga neraka, malaikat penjaga surga. Ee nanti kita ee jawab insyaallah pada kesempatan yang akan datang.<br \/>\n(1:02:29) Tapi yang namanya makhluk, manusia dan jin itu dimatikan oleh Allah apabila ajal mereka sudah tiba tanpa menunggu hari kiamat kecuali iblis laknatullah alaih, maka iblis itu tidak akan dimatikan sampai hari kiamat. Wallahuamab. Tentang malaikat kita tunda jawabannya. Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Barakallah fikum.<br \/>\n(1:02:52) Selanjutnya dari pertanyaan-pesan singkat yang lainnya. Ustaz, asalamualaikum. Mohon penjelasan bahwa atau tentang pembagian sifat wajib bagi Allah yang 10 dan sifat mustahilnya. Apakah sifat Allah hanya 10 ini saja atau mungkin sifat-sifat Allah yang lain sudah tercakup dalam kandungan 10 sifat ini? Mohon penjelasannya. Demikian, Ustaz.<br \/>\n(1:03:18) Sifat Allah tidak mungkin bisa di bisa dibatasi jumlahnya. Ee setiap nama Allah itu mengandung sifat. Setiap nama Allah bahkan ada yang mengandung lebih dari satu sifat seperti nama Allah qayyum. Dia alqoim binafsihi almuqim lighhairihi. dia tegak dengan dirinya dan dia menegakkan yang lain. Ini sudah mengandung dua sifat.<br \/>\n(1:03:53) Maka sifat Allah itu sangat banyak. Baik itu sifat zat maupun sifat fi&#8217;il. Sifat yang tidak lepas dari zatnya maupun sifat perbuatan. Sifat perbuatan itu yang terkait dengan kehendak Allah Subhanahu wa taala. Jadi perbuatan Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita mengenal nama Allah ada 99 yang wajib kita pahami untuk kita gunakan meminta kepada Allah dan berdoa kepada Allah yang apabila menyebutkan 99 nama ini maka kita dijamin masuk surga.<br \/>\n(1:04:42) Menjaga 99 nama ini kita dijamin masuk surga. Sedangkan setiap sifat Allah itu mengandung minimal satu sifat atau bahkan lebih dari satu sifat, maka sifat Allah itu jauh lebih banyak daripada nama-namanya. Sedangkan nama Allah itu ada nama-nama yang di luar 99 nama yang kita tidak tahu, hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:05:10) Maka dari sini bisa kita simpulkan sesungguhnya sifat Allah itu tidak bisa dijabat, tidak bisa dibatasi jumlahnya. Nama Allah 99 nama itu nama yang wajib untuk kita ketahui, nama yang kita perlukan untuk kita gunakan memohon kepada Allah. Di luar itu ada nama-nama yang dirahasiakan oleh Allah yang tidak kita ketahui.<br \/>\n(1:05:37) Maka sifat Allah jauh lebih banyak dari sifatnya. Eh sifat Allah jauh lebih banyak daripada nama-namanya. Karena ada sifat-sifat yang bukan dari nama Allah Subhanahu wa taala. Seperti sifat iradah. Sifat iradah itu bukan dari nama Allah. Nama Allah bukan murid. Tapi iradah adalah sifat di antara sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Ya, wallahuam.<br \/>\n(1:06:08) Baik, Ustaz. Terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan dan juga penjelasan semoga bermanfaat untuk para pemirsa di kesempatan malam hari ini. Silakan Anda para pendengar maupun pemirsa bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung di sesi tanya jawab malam hari ini dalam pembahasan kajian akidah At Thaahawiyah bersama Ustaz Ahmad Faiz hafidahullahu taala.<br \/>\n(1:06:32) Kita angkat kembali di layanan-layan telepon silakan 0218236543 bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung. Namam. Halo, silakan. Baik, terputus. Beberapa pertanyaan pesan singkat cukup banyak yang masuk. Di antaranya ee seorang minta nasihat, &#8220;Ustaz, Ustaz ee mohon penjelasan atau arahan tentang doa apa yang saya bisa amalkan. Saya merasa dosa saya sangat banyak. Doa yang bisa mengampuni banyaknya dosa saya.<br \/>\n(1:07:05) Mohon ee bimbingannya, Ustaz. Barakallahu fikum. Istigfar. Istigfar. Astagfirullahalazim. Astagfirullahalazim. Atau dalam sehari kita membaca doa astagfirullah wa atubu ilaih. Astagfirullah wa atubu ilaih. 100 kali tiap hari. Atau doa-doa istigfar yang lainnya. Dalam salat kita juga beristigfar.<br \/>\n(1:07:34) Subhanakallahumma rabbana wabihamdika allahumfirli. itu kita perbanyak dan menjelang wafatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam memperbanyak doa ini. Subhanakallahumma rabbana wabihamdika allahumagfirli. Kemudian bertobat kepada Allah. Senantiasa bertobat kepada Allah. Banyak istigfar. Disadari dengan hati yang hadir ketika mohon ampun kepada Allah Subhanahu wa taala ee dengan kesungguhan hati, dengan ikhlas. Karena doa itu juga perlu ikhlas.<br \/>\n(1:08:10) Ketika ikhlas, maka kita diampuni dosanya oleh Allah. Dan kita tahu melalui ee yang kita sampaikan tadi hadis bahwa Allah akan sangat bergembira dan bahkan lebih bergembira ketika ada seseorang bertaubat di antara hambanya daripada seseorang yang kehilangan ee perbekalannya di tengah padang sahara yang membinasakan. Dia sudah putus asa kemudian menemukan barangnya itu kembali. ee dan dia sangat bergembira.<br \/>\n(1:08:44) Tapi Allah lebih bergembira ketika ada hamba yang bertaubat. Bertobat saja. Astagfirullahalazim. Astagfirullahalazim. Setelah selesai salat kita baca astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah. Dan banyak ya banyak ee ee doa-doa yang seperti itu supaya kita beristigfar kepada Allah Subhanahu wa taala. Istagfiruakum tumma tubu ilaih.<br \/>\n(1:09:13) Beristigfarlah kepada rabmu kemudian bertobatlah kepadanya. Istigfar. Astagfirullahalazim. Astagfirullah wa atubu ilaih. Baik, terima kasih Ustaz atas jawaban yang telah disampaikan berkaitan dengan ee pembahasan yang telah disampaikan seorang penanya dari Kebumin, Hamid dari Kebumin ingin bertanya, &#8220;Ustaz, bahwa Allah mencabut nyawa seseorang bukan karena takut.<br \/>\n(1:09:44) &#8221; Yang ingin saya tanyakan, di sebagian masyarakat ada keyakinan bahwa jika seseorang memakai susuk di tubuhnya maka akan lama matinya. Misalkan ada seorang pencuri ee yang tertangkap kemudian mohon maaf ee dipukuli kemudian ee terluka parah e kemudian dia tetap bisa berdiri dan tidak meninggal.<br \/>\n(1:10:13) Eh, maka orang-orang menganggapnya dia memakai susuk tersebut. Apakah ada kaitannya antara susuk dengan lama matinya seseorang yang sudah sakit parah atau terluka parah bahwa hal itu bisa jadi azab yang disegerakan? Demikian, Ustaz. Mohon jawabannya. Iya. Pertama, Allah tidak akan takut untuk mencabut nyawa seseorang. Tapi ee ketika seseorang ee menggunakan alat-alat atau menggunakan sarana-sarana syirik seperti itu sehingga lama matinya, itu adalah ujian dari Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:10:51) Allah menguji pada agamanya bukan pada kehidupan dunianya, tapi diuji agamanya sehingga terjerumuslah dia dalam kemusyrikan. Jadi orang yang seperti ini kita bantu supaya bertobat kepada Allah. Kita beri pengertian dia untuk bertobat kepada Allah. Kemudian banyak berdoa kepada Allah untuk Allah memberikan tobat kepadanya.<br \/>\n(1:11:18) Dan kemudian segera kalau memang kematian itu lebih baik bagi dia, maka segera dimatikan oleh Allah. Kalau memang kehidupan itu lebih baik bagi dia, maka Allah mohon kepada Allah agar dia diberi kehidupan. Tapi ajak dia untuk bertaubat kepada Allah. Karena ini adalah perbuatan yang syirik.<br \/>\n(1:11:41) Karena di ini adalah kerja sama dengan ee apa namanya setan atau jin di balik apa istilah susuk yang dia pergunakan. Wallahuam bisawab. Baik, terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Dan berikutnya di layanan-layan telepon kembali kami berikan kesempatan bagi para pendengar maupun pemirsa yang ingin bertanya secara langsung di malam hari ini. Na silakan di 0218236543.<br \/>\n(1:12:07) Baik, silakan. Halo. Enam. Baik, kembali terputus beberapa pertanyaan pesan singkat yang kami coba pilihkan. Baik. Ee Ustaz ee izin bertanya, apa seperti demikian ini termasuk takyif? membagaimanakan sifat Allah? Misalkan seseorang mengatakan bahwa orang yang berada di lantai 10 itu lebih dekat fisiknya dengan Allah dibandingkan orang yang berada di lantai 1. Demikian, Ustaz. Silakan.<br \/>\n(1:12:43) Enggak benar itu. Tidak benar. Oh, untuk dekat kepada Allah itu bukan bukan naik ke lantai 50 walaupun dia di ee di dasar lantai kalau dia senantiasa bertakwa kepada Allah menggunakan cara-cara yang benar untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak berzikir dengan mendahulukan yang fardu daripada yang sunah.<br \/>\n(1:13:13) Setelah fardu dilaksanakan, kemudian yang sunah dilaksanakan, maka itu adalah langkah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seperti dalam hadis disebutkan yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa taala dengan perkara-perkara yang wajib, setelah itu dengan perkara-perkara yang sunah.<br \/>\n(1:13:36) Bukan naik ke gedung setinggi-tingginya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Nah, kalau dulu Firaun memang gitu. Firaun itu meminta kepada Haman untuk dibangunkan sebuah gedung yang tinggi untuk naik supaya melihat ee Allah Subhanahu wa taala. Tapi ini kan karena inat ya, karena kesombongan yang dimiliki oleh Firaun.<br \/>\n(1:14:03) Jadi bukan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa taala. Wallahuam bab naam. Terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan. Barakallahu fikum. Berikutnya pertanyaan pesan singkat di kesempatan malam hari ini. Nam. Asalamualaikum Ustaz. Ee Abu Abdillah izin bertanya. Jika pergi ke dukun itu ee disebutkan dalam hadis tidak diterima salatnya 40 hari, apakah berarti boleh meninggalkan salat di waktu tersebut? Barakallahu fikum.<br \/>\n(1:14:40) Itu bagi penjelasan para ulama tentang man ata kahinan lam lam tuqbal shatan arbaina lailah kamaqala rasul sahu al wasallam barang siapa yang datang kepada dukun maka tidak diterima salatnya selama 40 hari dalam riwayat yang mempercayai dukun itu maka Muhammad. Maka sungguh telah kafir kepada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(1:15:16) Jadi para ulama menjelaskan kalau sampai percaya mempercayai apa yang dikatakan oleh dukun maka bisa kufur kufur kepada kufur dan keluar dari Islam kalau meyakini kebenaran dukun itu. Kalau tidak sampai percaya ya salatnya tidak diterima selama 40 hari. Tapi bukan berarti ini menjadi pembenar orang untuk meninggalkan salat.<br \/>\n(1:15:42) Dia tetap berkewajiban untuk salat, tapi tidak diterima salatnya. Tapi kewajiban salatnya gugur. Kewajiban salatnya gugur. Artinya dia sudah menjalankan kewajiban. Dan tidak boleh salat itu untuk ditinggalkan. Tapi sebagai balasan atas kedatangannya dia ke dukun meskipun tidak percaya lalu tanya-tanya maka akibatnya konsekuensi hukumnya itu diancam untuk tidak diterima pahala salatnya selama 40 hari.<br \/>\n(1:16:13) Pahala salatnya bukan kemudian orang boleh meninggalkan salat 40 hari dengan alasan untuk apa enggak diterima saja salatnya. Maksudnya pahalanya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa taala, tapi dia tetap harus salat. Allahaam. Baik. Ee terima kasih atas jawaban yang telah disampaikan.<br \/>\n(1:16:40) Kemudian berikutnya seorang bertanya dari hamba Allah di Tangerang ee seorang akhwat. Izin bertanya, Ustaz. Ee kami ee sudah menikah selama 24 tahun dan dikaruniai anak tiga yang sudah ee besar di antaranya. Pertanyaan saya, apakah ketika pasangan kita yang berulang kali berselingkuh ee selalu saya maafkan. Apakah itu salah satu jodoh, Ustaz? Terima kasih. Barakallah fikum.<br \/>\n(1:17:10) perselingkuhan. Jelas perselingkuhannya itu ya. Ee kalau sudah berselingkuh artinya dengan sudah berzina dengan orang lain ya lebih baik untuk kemudian pisah karena itu tidak baik bagi pendidikan anak-anak. Kalau memang benar-benar terbukti seseorang berselingkuh dalam arti berzina dengan orang lain, yang lebih baik untuk diputuskan. Wallahualam.<br \/>\n(1:17:43) Ini pendapat saya. Kecuali belum sampai kepada perzinaan. Tapi itu harus diperingatkan dengan keras karena itu adalah ee pengkhianatan terhadap kesucian rumah tangga. Wallahualam. Sebab kalau kembali bertobat menjadi baik, alhamdulillah.<br \/>\n(1:18:12) Kalau tidak ya ee tidak baik kalau diteruskan bagi rumah tangga dan bagi pendidikan anak-anak. Iya. Wallahuam. Jika yang dimaksud ee apakah ini bisa dikaitkan dengan ee jodoh yang sudah ditakdirkan sehingga ee senantiasa dimaafkan? Demikian, Ustaz. Bagaimana? Iya. Jika dikaitkan dengan ee ketika dimaafkan ee apakah ada hubungannya dengan beriman dengan takdir terkait dengan jodoh yang sudah ditetapkan oleh Allah? Semuanya ada ketetapan takdirnya.<br \/>\n(1:18:50) Maksudnya ketika seseorang kemudian tidak mau lepas dan sampai akhir hayatnya itu tetap bersama. Ya itu memang ketetapan takdir dari Allah Subhanahu wa taala. Tapi kan kita diperintahkan untuk berikhtiar. Berikhtiar memperbaiki keadaan. Berikhtiar memperbaiki kehidupan kita. Cari. Kalau yang bertanya itu laki-laki, cari wanita yang salihah. Kalau yang bertanya perempuan, cari laki-laki yang saleh.<br \/>\n(1:19:23) Karena kalau yang bertanya perempuan, dia butuh kepada pemimpin. Pemimpin yang bertanggung jawab, yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala. Kalau di yang bertanya laki-laki, dia butuh kepada pasangan yang shah untuk mendidik anak-anak, untuk beribadah kepada Allah, supaya rumah tangganya itu tentram. Supaya rumah tangganya tentram dan kemudian ee kondusif untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:19:55) Ya, semuanya tentu dengan takdir Allah Subhanahu wa taala. Tapi sebelum kita mengetahui bahwa ini adalah takdir terakhir, kita masih berusaha untuk melakukan upaya-upaya yang terbaik itu bagaimana. Iya, terima kasih Ustaz ee atas jawabannya. Jazakumullahu khairan wabarakallah fikum. Berikutnya ee data pertanyaan dari pesan singkat, Ustaz. Eh, asalamualaikum.<br \/>\n(1:20:27) Eh, bahwa iblis dan setan diciptakan dari api. Apakah dia akan merasakan panasnya api neraka sedangkan dia adalah ahli neraka? Demikian, Ustaz. Iya, ya. Jawabannya juga jawaban yang ini juga ya. Kalau manusia kan diciptakan dari tanah, coba dipukul dengan tanah, sakit apa enggak itu. Iya. Wallahualam. Nam begitu jawabannya tibad.<br \/>\n(1:21:08) Barakallahu fikum wa jazakumullahu khairan atas jawaban yang telah disampaikan. Ee beberapa pertanyaan yang lainnya yang berkaitan dengan materi kita kami pilihkan. Ee berikut. Asalamualaikum ustaz. ayah ee bahwa ayah sudah meninggal tahun 2002 sebelum meninggal beliau pernah berbuat syirik dengan memotong ayam dengan niat menghalangi atau ee menghilangkan bala kepada dukun atau orang pintar.<br \/>\n(1:21:38) Tapi beliau tidak tahu kalau itu adalah perbuatan syirik. Apakah beliau masih dikategorikan terjerumus ke dalam kesyirikan? Apakah ee ada doa yang bisa saya ee panjatkan sebagai anaknya yang ee saat ini? Barakallahu fikum, Ustaz. Ee menurut saya husnudan saja.<br \/>\n(1:22:05) Mudah-mudahan ayah dahulu benar-benar tidak tahu dan ketika meninggal dalam keadaan bertobat kepada Allah maka kita doakan saja. Kalau memang dia beriman, doa kita akan sampai. Kalau dia tidak beriman, ya doa kita tidak akan sampai. Tetapi kita sebagai anak husnudan saja mudah-mudahan karena benar-benar tidak tahu dan ee ee punya komitmen untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah.<br \/>\n(1:22:29) Nam wallahuam nam. Alhamdulillah, terima kasih Ustaz atas jawaban dan juga nasihat yang telah disampaikan dan nampaknya tidak terasa waktu pula yang membatasi kita di kesempatan malam hari ini. Kami ucapkan terima kasih dan mohon disampaikan sebagai ikhtitam sebagai penutup kajian kita di malam hari ini. Ustaz Fadol Ustaz.<br \/>\n(1:22:47) Iya. Para pemirsa dan pendengar TV dan Radio Rajak di mana saja berada. Ee marilah kita senantiasa mempertajam pemahaman kita tentang akidah sebagaimana yang dipahami oleh para salafun saleh radhiallahu anhum yang itu merupakan akidah ahlusunah wal jamaah. Dan melalui penjelasan Al Imam At Thaahawi tentang akidah ini.<br \/>\n(1:23:18) Di samping kita jadi mengerti bahwa Imam Thahawi akidahnya adalah akidah ahlusunah wal jamaah. Kita juga belajar bagaimana caranya memiliki akidah ahlusunah wal jamaah. Dan ini sangat penting karena masalah akidah merupakan asas dalam beragama. Jadi kita jangan bosan untuk mengaji tentang prinsip-prinsip akidah ahlusunah wal jamaah di mana saja kita berada ee dan kepada siapapun asal itu dari sumber yang jelas dari yang akidahnya adalah akidah ahlusunah wal jamaah. Ini saja yang bisa saya sampaikan. Wasallallahu ala nabina Muhammad waa alihi wasbihi<br \/>\n(1:24:01) ajmain. Baik ustaz. Alhamdulillah kami juga ucapkan terima kasih. Jazakumullahu khairan wabarakallahu fikum atas kajian ilmiah bermanfaat di malam hari ini. Semoga Allah subhanahu wa taala senantiasa menjaga lusa beserta keluarga dan senantiasa diberikan kesehatan dan dapat kembali menyampaikan faedah-faedah kajian di kesempatan yang akan datang.<br \/>\n(1:24:25) Berikut pula kami ucapkan terima kasih kepada para ikhwah yang turut membantu terselenggaranya kajian di kesempatan malam hari ini di Kota Solo. Maka demikianlah para pergar maupun pemirsa Roja pembahasan kajian kitab atriqatul mukhtasarah alamatil akidati Thahawiyah di malam hari ini. Semoga apa yang telah disampaikan memberikan manfaat dan tambahan ilmu untuk kita semua yang dapat kita amalkan dalam kehidupan kita.<br \/>\n(1:24:48) Barakallahu fikum wazakumullahiran atas kebersamaan Anda. Simak kembali pembahasan ini di kajian atau di kesempatan hari Jumat yang akan datang. Kami mohon undur diri. Jazakumullahu khairan subhanakallahummahamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka waubu ilik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:25:16) Simak radio Robogor 100.1 FM.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube Transcript: (00:00) GM menebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasohbihi waman walah w ba&#8217;ad. Para padagun pemirsa Raja di mana pun Anda berada. Di kesempatan malam hari ini, alhamdulillahi taala kita akan ikuti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3373","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube Transcript: (00:00) GM menebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasohbihi waman walah w ba&#8217;ad. Para padagun pemirsa Raja di mana pun Anda berada. Di kesempatan malam hari ini, alhamdulillahi taala kita akan ikuti [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-17T03:43:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-19T03:49:58+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"34 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/\",\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-17T03:43:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-19T03:49:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip","og_description":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube Transcript: (00:00) GM menebar cahaya sunah. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasohbihi waman walah w ba&#8217;ad. Para padagun pemirsa Raja di mana pun Anda berada. Di kesempatan malam hari ini, alhamdulillahi taala kita akan ikuti [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-10-17T03:43:47+00:00","article_modified_time":"2025-10-19T03:49:58+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"34 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/","name":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah - YouTube - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-10-17T03:43:47+00:00","dateModified":"2025-10-19T03:49:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/17\/3373\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"(21) [LIVE] Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, M.A. | Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah &#8211; YouTube"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3373"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3373"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3373\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3381,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3373\/revisions\/3381"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}