{"id":3441,"date":"2025-10-23T10:40:02","date_gmt":"2025-10-23T03:40:02","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3441"},"modified":"2025-10-26T10:40:21","modified_gmt":"2025-10-26T03:40:21","slug":"ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/","title":{"rendered":"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi"},"content":{"rendered":"<p>(4) [LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/BpLyuYcqgV8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Wahai gulam, wahai anak muda, sungguh aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah agama Allah. Jagalah Allah, pasti Allah akan menjaga dirimu. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(00:53) Inalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruh wa naud nauzubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a&#8217;malina yadihillah fala mudillalah w yudlil fala hadiyaalah ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ya ayyuhalladina amqulahq Wahidah waqo minha zaujaha w minhuma rijalan waisa watqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham innallahaana alaikumqibah ya ayyuhalladina amqulah waulu qulan sadida had kitabullah had muhammadin shallallahu alaihi wasallam<br \/>\n(02:07) umuri muhdatuha waulla muhdatin bidah wa dolalah wa dolatin finar Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, kita lanjutkan kembali materi hadis dari Alarba Nawiyah buah karya Al Imam Nawawi rahimahullahu taala. Sekarang kita sampai kepada hadis yang ke-27.<br \/>\n(02:39) Hadis yang ke-27 ini berkaitan dengan kebaikan dan keburukan. Dibawakan oleh Imam Nawawi hadis yang ke-27 ini dari dua riwayat. Dua sahabat yang mulia, sahabat An-Nawas bin Sam&#8217;an dan sahabat Wabitah bin Ma&#8217;bad. Kita baca terlebih dahulu hadis yang mulia ini dan kita akan dengarkan keterangan dari para ulama yang di antaranya saya bawakan dari kitab Al-Qawaid wal Fawaid Minal Arbain nawiyah buah karya Syekh Nadim Muhammad Sultan.<br \/>\n(03:20) Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Hadis tersebut al hadis asabi wal isrun anin nawasw ibni saman radhiallahu taala anhu anin nabi shallallallahu alaihi wasallam q albirru husnul khuluqi wal itmu ma haaka fi nafsik waarihta ayat alaihinas waan wabah bin Ma&#8217;bad radhiallahu taala anhu qal ataitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam faqal ji tas&#8217;aluil bir j tas&#8217;aluil bir qulu naam qala istafti qbak albirru matmaat ilaihin nafsuaibu waakas wauk<br \/>\n(04:32) artinya hadis yang ke-27 riwayat pertama dari sahabat An-Nawwas bin Sam&#8217;an semoga Allah meridainya dari Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau bersabda, Kebaikan adalah akhlak yang baik. Sedangkan keburukan adalah apa yang membuat jiwamu tidak tenang dan engkau tidak suka orang melihatnya atau orang mengetahuinya.<br \/>\n(05:14) Kemudian riwayat yang kedua dari sahabat Wabisah bin Ma&#8217;bad semoga Allah meridainya. Ia berkata, &#8220;Aku datang kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lalu beliau bersabda, &#8220;Engkau datang ingin bertanya tentang albir, tentang kebaikan.&#8221; Aku pun menjawab, &#8220;Benar wahai Nabi.&#8221; Maka Nabi bersabda, &#8220;Tanyakanlah kepada hatimu, tanyakanlah kepada kalbumu.<br \/>\n(05:51) Kebaikan itu adalah yang membuat jiwa tenang dan yang membuat kalbu atau hati juga tenang.&#8221; Kemudian kebalikannya, keburukan adalah yang membuat jiwa ini bergejolak dan dada tidak tentram dibuatnya. Walaupun manusia berfatwa begini dan begitu kepadamu. Para jemaah yang yang diriwayatkan ya, para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(06:22) Riwayat yang pertama atau riwayat Annawas bin Sam&#8217;an ini diriwayatkan oleh Al Imam Muslim. Adapun riwayat yang kedua yaitu dari sahabat Wabitah bin Ma&#8217;bad dikatakan oleh Imam Nawawi, hadis yang hasan dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad bin Hambal, Al Imam Add-Darimi dengan sanad yang hasan. Dan juga hadis ini diasankan oleh Syekh Albani rahimahullahu taala.<br \/>\n(06:53) Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Setelah kita mendengarkan matan dari hadis yang mulia ini, maka kita dengarkan sekarang keterangan dari Syekh Nadim Muhammad Sultan dalam kitabnya. Ini berkaitan dengan pertama Manzilatul Hadis. Hadis yang ke-27 ini yang berasal dari sahabat Nawwas bin Sam&#8217;an dan juga Wabisah bin Ma&#8217;bad mendapatkan kedudukan di hati para ulama.<br \/>\n(07:25) Hadis ini sangat dimuliakan oleh para ahli ilmu, diagungkan oleh para ulama. Karena hadis ini secara umum menjelaskan kepada kita tentang albirru kebaikan dan lawannya adalah almu keburukan. Kita akan lihat nanti penjelasan dari para ahli ilmu dan juga tentunya penjelasan dari Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam dalam dua dalam dua riwayat hadis ini berkaitan dengan albirru dan al-itmu yang mana kedua riwayat tersebut saling melengkapi.<br \/>\n(08:06) Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, kita lihat atau kita dengarkan terlebih dahulu keterangan dari Al Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah. Beliau mengatakan tentang hadis yang mulia ini. Hadal hadu min jawami&#8217;i kalimih sallallahu alaihi wasallam. Hadis ini tergolong dari jawamiul kalim nabi yakni hadis yang singkat padat banyak memiliki pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.<br \/>\n(08:37) Bal min aujaziha id albir kalimatun jamiatunami af&#8217;alilir waalil mar&#8217;ruf. Bahkan hadis ini merupakan seringkas-ringkas perkataan Nabi di mana beliau menjelaskan bahwa albir ya albir adalah suatu kata yang mencakup seluruh perbuatan baik dan seluruh hal-hal yang makruf dalam agama ini.<br \/>\n(09:14) Sedangkan al-itm yakni keburukan, yakni kebalikannya dari albir adalah kalimatun jamiatun lami af&#8217;al syarri wal qabaih kabiruha waagiruha. Sedangkan al-isim yaitu keburukan adalah suatu kata yang mencakup seluruh perbuatan-perbuatan buruk baik yang besar maupun yang kecil. Wali sabab qala Nabi wasam bainahuma wa&#8217;alahuma diddaini. Oleh sebab itu Nabi sallallahu alaihi wasallam menghadapkan keduanya yakni albir dan al-itm yang jelas masing-masing adalah lawan yakni katanya. Albir adalah kebaikan. Lawannya adalah al-itm yakni keburukan.<br \/>\n(10:03) Inilah keterangan dari Al Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkaitan dengan hadis yang mulia ini. Yang jelas bahwa hadis yang mulia ini sangatlah penting sekali kita ketahui di mana Nabi sendiri yang menjelaskan menerangkan makna albir dan juga al-itm yakni makna albir kebaikan dan al-itm keburukan. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(10:35) ee terlebih kita akan melihat yakni definisi-definisi yang diberikan oleh para ulama kita mengenai dua lafaz ini. Yang pertama albir dan yang kedua al-itm. Albir yakni kebaikan. Ya, ada yang mengatakan bahwa albir adalah athaatu wasidqu, ketaatan dan kejujuran. Ada juga di antara ulama yang menjelaskan tentang makna albir dengan makna asilah, yakni menyambung tali silaturahim.<br \/>\n(11:14) Kemudian ada juga yang mengartikan albir adalah alutfu wal mubarrah, yakni kelemahlembutan. Ada juga yang mengartikan husnus suhbati wal isyrah, yakni pergaulan yang baik, pertemanan yang baik. Ada pula yang mengartikan at&#8217;ah, yakni ketaatan secara umum. Maka inilah berkaitan dengan keterangan dari para para ahli ilmu tentang lafaz albir. Dan tentunya albir Nabi sampaikan tadi dalam hadis yang mulia hadis An-Nwas bin Sam&#8217;an.<br \/>\n(11:54) Nabi nyatakan bahwa albir itu adalah husnul khuluq, yakni akhlak yang terpuji, akhlak yang baik. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, kembali tadi kepada perkataan Alhafiz Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullahu taala. Beliau mengatakan kembali, albirru kalimatun jamiatun lijamii af&#8217;alil khairi wa khisalil ma&#8217;rufi. Albir adalah suatu kata yang mencakup seluruh perbuatan-perbuatan baik dan hal-hal yang bersifat makruf.<br \/>\n(12:30) Dan ini jelas merupakan definisi yang mencakup seluruh albir yang tadi dijelaskan oleh para ulama kita. Sedangkan dalam hadis Annawas bin Sam&#8217;an di mana Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam menegaskan ya bahwa albir kata Nabi adalah husnul khuluq. Albir itu adalah akhlak yang baik. Kemudian dalam hadis Wabisah bin Ma&#8217;bad di mana Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam memberikan definisi albir kebaikan adalah kata beliau matmaannat ilaihin nafsu watmaanna ilaihil qolbu.<br \/>\n(13:07) Apa yang membuat jiwa dan hati menjadi tentram dibuatnya. Yakni segala sesuatu yang jiwa dan hati itu tentram dibuatnya. Nah, inilah berkaitan dengan makna albir menurut Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan ini adalah sebaik-baik definisi yang langsung kita terima dari Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(13:36) Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Kemudian kita dengarkan kembali di sini keterangan dari Syekh Nadim Muhammad Sultan dalam kitabnya ini. Fal birru yutlui bihi muamalatul ibad bil ihsani ilaihim. Yang dimaksud dengan albir adalah yakni muamalah seorang dengan orang lain dengan ihsan. Yak<br \/>\n(14:08) ni dengan baik ya. Ya. Jadi ihsan yakni yang bermakna isalun naf&#8217;i lil ghairi memberikan kebaikan kepada orang lain. Mlul ihsan lil walidaini whairihim. Seperti berbuat ihsan kepada kedua orang tua ataupun kepada selain mereka. Ya, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama ayat yang menjelaskan tentang hal ini. Wabil walidaini ihsanah.<br \/>\n(14:39) Dan berbuat ihsanlah kepada kedua orang tua, kata Allah subhanahu wa taala. Jadi ini makna ihsan yang bermakna isolun naf&#8217;i lil ghairi. memberikan kebaikan kepada orang lain. Kemudian juga albalika bihi jamatirah wal batinah. Dan juga albir dapat diarahkan kepada seluruh perbuatan ketaatan baik yang nampak atau yang tidak nampak yang kelihatan atau yang tidak kelihatan.<br \/>\n(15:17) Ya, sebagaimana Allah Subhanahu wa taala berfirman, dibawakan sini firman Allah Subhanahu wa taala dalam surah Albaqarah ayat 177. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Walakinal birro man amana billahi wal yaumil akir wal malaikati wal kitabiin waal hubihilba wal masakin wil wasilinaq waq waakal mufuna bihaduir Artinya, adapun albir kata Allah adalah orang yang beriman kepada Allah, kepada hari akhirat, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab, kepada para nabi dan memberikan harta dari apa yang dicintainya kepada karib kerabat. kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada musafir, dan<br \/>\n(16:30) kepada orang-orang yang meminta serta orang-orang yang membebaskan budak. Kemudian mendirikan salat, menunaikan zakat, dan memenuhi janji mereka apabila mereka berjanji dan bersabar dalam penderitaan, kesengsaraan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa. Kata Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(17:05) Inilah berkaitan dengan makna albir yang Allah Subhanahu wa taala jelaskan dalam ayat yang mulia ini. Nah, berarti bisa kita lihat berkaitan dengan albir di sini adalah seluruh ketaatan yakni keyakinan kepada perkara-perkara gaib dan juga menjalankan ibadah-ibadah, ketaatan-ketaatan sebagaimana yang telah dinyatakan dalam ayat yang mulia tadi.<br \/>\n(17:31) Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Timbul pertanyaan sekarang, bagaimana kalau albir itu digabungkan ya dengan takwa? Digabungkan dengan takwa. Maka bisa kita lihat ee pertama tentang dalilnya terlebih dahulu di mana Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2. Watawanu alal birri wat taqwa.<br \/>\n(18:02) Dan tolongmenolonglah kalian dalam perbuatan albir, yakni kebaikan dan ketakwaan. Ah, di sini ada beberapa pandangan dari para ulama. Pandangan yang pertama ya sekali lagi bahwa kata atau lafaz albir jika digabungkan dengan lafaz takwa. Maka pandangan yang pertama mengatakan bahwa albir bermakna muamalatul ibadi bil husna, yaitu muamalah para hamba dengan muamalah yang baik antar sesama.<br \/>\n(18:38) Ah, ini makna albir. Muamalah kepada sesama manusia. Ini makna albir. Sedangkan makna takwa adalah fti naha. Yakni mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan Rabbul alamin. Nah, ini makna takwa. Nah, ini makna dari takwa. Jadi, sekali lagi pandangan yang pertama, albir identik dengan muamalah antar ya manusia.<br \/>\n(19:13) Sedangkan takwa adalah ketaatan hamba kepada Rabbul Alamin. Ketaatan para hamba kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian pandangan yang kedua, ada yang mengatakan bahwa albir adalah fi&#8217;l wajibat, mengerjakan kewajiban-kewajiban agama. Sedangkan takwa adalah alibtiad anil manhiyat, menjauhi larangan-larangan agama. Ya, sekali lagi pandangan kedua mengatakan bahwa albir adalah mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, sedangkan attakwa adalah menjauhi larangan-larangan agama. Inilah berkaitan dengan lafaz albirru.<br \/>\n(19:57) Ya, sekali lagi kalau kita melihat kepada hadis Nabi tadi ya tentang ee Albir pada riwayat pertama yni riwayat sahabat Nawwas bin Sam&#8217;an, Nabi mengatakan bahwa albir adalah husnul khuluq, yakni akhlak yang baik. Dan dalam hadis Wabah bin Ma&#8217;bad, albir adalah matmaannat ilaihin nafsu watma&#8217;anna ilaihil qolbu.<br \/>\n(20:31) yakni apa saja yang membuat jiwa dan hati menjadi tentram dibuatnya. Nah, ini makna dari albir menurut Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Ee kita lihat ada tambahan di sini dari riwayat Wabisah bin Ma&#8217;bad ketika beliau datang kepada Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(21:07) Dan sebelum sahabat ini bertanya tentang bertanya kepada Nabi apa yang akan ditanyakannya, maka Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam tentu mengetahui keadaan para sahabatnya. Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baik guru bagi para sahabat, sebaik-baik teman bagi para sahabatnya. Sehingga Nabi yang mulia mengetahui keadaan para sahabatnya.<br \/>\n(21:31) Belum lagi sahabat Wabisah bin Ma&#8217;bad bertanya kepada Nabi. Nabi terlebih dahulu menyatakan kepada sahabatnya atau bertanya kepada sahabatnya ini jasaluil birri? Engkau datang untuk bertanya tentang kebaikanah. Artinya bahwa inilah yang Nabi kenal dari sahabat Wabisah bin Ma&#8217;bad. Dan ini keumuman para sahabat Nabi radhiallahu taala anhum ajmain.<br \/>\n(22:03) Di mana hati mereka adalah hati yang bersih, hati yang bagus. Sehingga hati yang bersih dan bagus itu selalu menginginkan kebaikan-kebaikan. Ya, sebagaimana yang ee dinyatakan di sini atau ditanyakan oleh sahabat Wabah bin Ma&#8217;bad. Nah, kemudian setelah Nabi bertanya seperti itu kepada Wabisah bin Ma&#8217;bad, maka Wabisah tidak dapat mengelak.<br \/>\n(22:29) Dia mengatakan kepada Nabi, &#8220;Naam.&#8221; &#8220;Benar wahai Rasul.&#8221; Yakni saya datang kepada engkau untuk bertanya tentang albir, tentang kebaikan. Nah, kemudian Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam memulai dengan sabdanya atau memberikan jawaban dari sabdanya ini, istaftiqbak. Tanyakan kepada hatimu. Nah, tanyakan kepada hatimu. Tanyakan kepada kalbumu.<br \/>\n(23:05) Ya, tanyakan kepada hatimu. Ya, hati nuranimu tentang albir. Tentang albir. Nah, kemudian nanti kita akan lihat tentu setelah Nabi yang mulia. Wasallam menjelaskan tentang makna albir kepada sahabat wabah. Nabi juga menjelaskan lawannya. Lawan dari albir yaitu al-itm. Ah ini sebagai pelengkap dari jawaban Nabi yang pertama.<br \/>\n(23:34) Dilengkapi dengan jawaban yang kedua sebagai penyempurna dari jawaban sebelumnya. Ah, inilah berkaitan dengan kebaikan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam selalu memberikan yang terbaik kepada para sahabatnya, kepada umat ini. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Dikatakan tadi oleh Nabi, &#8220;Istafti qolbak.<br \/>\n(23:59) &#8221; Tanyakan kepada kalbumu, tanyakan kepada hatimu, yakni hati nuranimu. Dikarenakan kalbu adalah raja bagi tubuh manusia. Ya, dia kecil bentuknya. Hanya kurang lebih satu genggaman kita saja ini. Itulah kalbu kita yang ada di dalam dada kita ini. Namun dia sebagai raja bagi tubuh kita. Dialah yang menguasai tubuh kita. Dialah pemimpin bagi tubuh kita.<br \/>\n(24:29) Karena Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam hadis yang sahih, ala wa inna fil jasadi mudhah. Shahat shal jasadu kulluh. Waidza fasadat fasadal jasad kulluh ala wahyalqbu. Artinya ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Ini qbu. Kalau dalam bahasa Nabi persis seperti bahasa medis, yakni jantung. Ya, maknanya adalah jantung.<br \/>\n(25:05) Kemudian dalam bahasa dakwah diartikan hati atau hati nurani. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala kembali kepada hadis Nabi tadi. Ala wa inna fil jasadi mudg. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, maka baiklah seluruh anggota tubuhnya.<br \/>\n(25:30) Dan jika segumbal daging itu buruk, buruklah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut dinamakan dengan kalbu, yakni jantung sebenarnya menurut bahasa Nabi dan juga bahasa medis. Baik para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Inilah berkaitan dengan ee raja manusia ya, yakni pemimpin bagi tubuh manusia.<br \/>\n(26:01) Dan dalam hal ini sahabat yang mulia Abu Hurairah, sahabat yang mulia Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr Add-Dausi radhiallahu taala anh mengomentari hadis Nabi tadi. Apa kata beliau tentang kalbu tadi? Beliau mengatakan radhiallahu taala anqalbu malikun wal junud thaba aliku thatil junud wa khut alik khutatil junudbu manusia laksana raja sedangkan anggota tubuh lainnya adalah prajuritnya apabila sang raja baik baik pulalah prajuritnya nya.<br \/>\n(26:47) Dan jika sang raja sudah buruk, buruk pulalah prajuritnya kata sahabat yang mulia ini. Radhiallahu taala anh semoga Allah meridainya. Inilah berkaitan dengan kalbu kita. Dan ketika Nabi mengatakan kepada sahabat, wabisah istaftiqbak. Tanyakan kepada qolbumu, yakni yang berkaitan dengan albir. Berkaitan dengan albir itu sendiri.<br \/>\n(27:19) Nah, ini akan ada kaitannya di akhir hadis wabah ini ketika ya Nabi menjelaskan wain aftakanas wa afuk. Walaupun manusia berfatwa begini dan begitu kepada dirimu, artinya bahwa hatimu itu adalah sebagai penentu jika fatwa yang sampai kepada dirimu adalah fatwa yang bukan berasal dari ilmu. Ya, ingat bukan berasal dari dari ilmu.<br \/>\n(27:54) Namun kebalikan, jika fatwa tersebut memang berasal dari ilmu, yakni dari Al-Qur&#8217;an dan dari hadis Nabi yang sahih, maka kalbu kita haruslah mentaati qalallah waqala rasul. Apa yang Allah firmankan, apa yang nabi sabdakan. Baik, para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(28:20) Kembali di sini setelah kita menjelaskan makna albir dari penjelasan dari para ahli ilmu, kita melanjut kepada makna alitm yakni dosa atau keburukan. Almu azzanbu waqila hua ayala ma la yahillah. Makna isim adalah azzam, yakni dosa. Ada pula yang mengatakan yakni melakukan amalan atau perbuatan yang tidak dibolehkan atau yang tidak dihalalkan oleh agama ini.<br \/>\n(28:52) Kemudian dibawakan di sini keterangan dari Al Imam Alqurtubi. Waqal Qurtubi almu alfi&#8217;adzi yastahiqu alaihibhudzam. Yang namanya al-sim atau dosa atau keburukan adalah yang pelakunya berhak mendapatkan celaan. Ya, berhak mendapatkan celaan. Azzam inilah berkaitan dengan makna al-isim menurut Imam al-Qurtubi.<br \/>\n(29:27) Kemudian dibawakan lagi di sini keterangan dari Al-Hafid Ibnu Hajar al-Haitami ya. Ya, dikatakan oleh beliau rahimahullah, wal ismu kalimatun jamiatun lijamii af&#8217;alisarri wal qabaih kabiruha wasagiruha. Bahwa isim adalah suatu kata yang mencakup seluruh perbuatan buruk baik yang besar ataupun yang kecil. Nah, ini keterangan dari Al-Hafid Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullahu taala.<br \/>\n(29:58) Kemudian dijelaskan pula oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tentang al-itm ya tentang al-itm ee yakni dari hadis wabisah terlebih ya terlebih dari hadis wabah dan juga hadis annawas bin Sam&#8217;an. Yang pertama adalah faktor internal ya yang terdapat pada diri manusia itu sendiri jika ia berbuat alim, berbuat dosa atau kesalahan.<br \/>\n(30:36) yaitu suurul mari biq biqalaqin wattirabin fi nafsihi wa nufur w lahu. Yaitu perasaan seorang yang perasaannya ini tidak menentu yang membuat hatinya ini berguncang jiwanya tidak tenang dan tidak ia sukai. Artinya bahwa inilah sebenarnya yakni alitim, inilah sebenarnya dosa, inilah sebenarnya kesalahan.<br \/>\n(31:07) Qala sallallahu alaihi wasallam, Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadis yang mulia tadi, alim ma haka fi nafsika. Itim, dosa atau kesalahan itu adalah apa yang membuat diri kita ini tidak tentram, yakni bergejolak. ee yakni tidak menentu dibuatnya. Intinya tidak bahagia ya, tidak bahagia dibuatnya. Wnaalika dan makna yang tersebut adalah taradada fin nafsi ittiran waqalaqon wa nufuran falam yansarihu lahusr walam yatmain ilaihil qalbu.<br \/>\n(31:52) yakni ya di mana jiwa itu tidak tenang dibuatnya, berguncang dibuatnya, dan tidak suka dengan keburukan atau dosa yang dikerjakan. Begitu pula dengan dada, yakni tidak menjadi lapang dada seorang yang melakukan keburukan atau dosa. Dan tentunya hatinya pun atau kalbunya tidak tentram atau tidak bahagia. Wafi riwayati Wabisah bin Ma&#8217;bad. Qala sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(32:24) Dalam riwayat Wabisah bin Ma&#8217;bad, Nabi yang mulia menegaskan, nah ini saling menyempurnakan tentunya saling menyempurnakan satu riwayat dengan riwayat yang lain. Kata Nabi yang mulia, maaf fin nafsi wataraddada fiodri. Yang membuat bahwa isim dosa atau keburukan itu adalah yang membuat jiwa itu tidak tentram.<br \/>\n(32:51) dan dada ini ya berguncang atau tidaklah bahagia begitu. Wanaalik dan maknanya adalah itir minhu alqalb walam yaskun ilaih. Bahwa hati atau kalbu menjadi ya ee terguncang dibuatnya dan tidaklah tentram dia, tidaklah ya tenang dia. Ini yang pertama yang berkaitan dengan faktor internal. yakni jiwa hati dibuatnya tidak bahagia, tidak tentram, bergejolak ya, yakni terus seperti itu dan dada pun tidaklah bahagia dibuatnya, tidak lapang dibuatnya, justru menjadi sempit dibuatnya.<br \/>\n(33:37) Intinya tidak ada ketentraman, tidak ada kebahagiaan yang ada pada diri seorang hamba. Nah, ini faktor internal. Sedangkan faktor ya luarnya adalah wak alaias dan engkau tidak suka orang-orang mengetahuinya. Engkau tidak suka jika orang-orang mengetahuinya, melihatnya. Ya, ini berkaitan dengan faktor luar. Jika orang-orang ya melihatnya, orang-orang mengetahuinya, kita pun dibuatnya tidak suka.<br \/>\n(34:12) yang seperti iniatu ahlil fadulmi. Yaitu ketidaksukaan orang-orang yang memiliki keutamaan. Orang-orang yang berilmu atau para tokoh jika melihat suatu itu tidak disenangi oleh mereka maka ini tanda perbuatan tersebut adalah perbuatan dosa. Perbuatan yang keliru, yang salah menurut kacamata agama. Bis ayakuna dafi karahiyatih dini lahiyah adiah.<br \/>\n(34:48) Dengan syarat bahwa yang mendorong itu adalah faktor ya agama dan bukan faktor ya budaya atau yang semisalnya ya. Artinya boleh jadi kalau orang-orang yang ee memiliki keimanan, orang-orang saleh, orang-orang yang bertakwa memandang suatu perbuatan itu adalah dosa misalnya. Ah, belum tentu ini dosa pada pandangan orang-orang yang jauh dari agama, orang-orang yang jauh dari bimbingan agama.<br \/>\n(35:27) ini orang-orang yang dikatakan awam, mereka lebih paham tentang adatnya atau budayanya atau yang semisalnya ketimbang ya memahami agama yang mulia ini. Nah, jadi bisa prokontra itu bisa terjadi prokondra yang jelas menurut kacamata orang-orang saleh, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang ya taat dalam beragama. Baik para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(35:56) Kemudian kita lihat di sini keterangan lagi. Ya, maknanya adalah apabila dua yakni keburukan tadi berkumpul ya. Dua hal tadi berkumpul yang pertama bahwa hati dan jiwa tidak tentram dibuatnya. Dan yang kedua bahwa seorang pun tidak suka jika orang-orang baik-baik itu mengetahui ya perbuatan dosa tadi.<br \/>\n(36:43) Maka jelas ini merupakan sejelas-jelas keterangan tentang al-itm ya, tentang dosa atau keburukan ya. dan lebih khusus berkaitan jika ya berkaitan dengan masalah syubhat ya ini tentu sudah tidak diragukan lagi. Jika hati seorang tidak tentram dibuatnya, tidak bahagia dibuatnya, ya terus yakni jiwanya ee terguncang atau tidak tentram, ya lebih-lebih juga ditambah dengan dia tidak suka kalau orang-orang baik, orang-orang ya beragama itu atau orang-orang yang saleh itu mengetahui perbuatan buruknya. Maka ini sudah dipastikan bahwa ini merupakan perbuatan<br \/>\n(37:29) keburukan atau al-itm atau dosa namanya tadi. Kemudian para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, kita lanjut kembali berkaitan dengan keterangan Nabi yang mulia dari riwayat yang kedua ya. dikatakan waalun maknawahiril umuri bawatha wal insan aam bibini min ghairihi.<br \/>\n(38:18) Makna dari hadis ini adalah apabila hati dibuat tidak tentram ya dari fatwa tersebut maka ini tergolong dari alim tergolong dari kesalahan atau dosa. Wain aftahu. Walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadanya bahwasanya perbuatan tersebut bukanlah perbuatan dosa ya atau kesalahan begitu ya.<br \/>\n(38:51) Dikarenakan mereka hanya memandang sesuatu itu dengan pandangan lahiriah saja. Sedangkan batinnya mereka tidak mengetahui. Justru batinnya andalah yang mengetahuinya. maka Anda tentu lebih tahu, lebih mengetahui tentang perbuatan tersebut ya secara batinnya atau dari hal yang tidak nampak.<br \/>\n(39:20) Ah, artinya bahwa manusia-manusia itu kebanyakan orang memang berkata atau berpendapat dengan hal-hal yang nampak saja pada diri mereka. pada hal-hal yang nampak saja sehingga mereka berfatwa A B C D dan seterusnya sesuai dengan apa yang mereka ketahui tentunya. Ee adapun perkara dalamnya, perkara batinnya hanya kita yang mengetahui, maka tentunya kita lebih tahu tentang hal ini. Maka kita lebih tahu tentang hal ini.<br \/>\n(39:46) Nah, ini lebih lanjut lagi kita akan lihat keterangan dari Syekh Nadim Muhammad Sultan. naallahuahuurilan w alaihi nafsi. Nah, orang yang seperti ini, yakni yang lebih mengetahui perkara dalamnya atau batinnya adalah hamba yang diberi cahaya oleh Allah Subhanahu wa taala, diberi cahaya iman hatinya itu oleh Allah Subhanahu wa taala dan memiliki kebersihan jiwa.<br \/>\n(40:18) Memiliki kebersihan jiwa. Jadi apabila seorang hatinya itu bersih, jiwanya baik, maka dia lebih tahu tentang perkara yang dihadapinya daripada orang-orang di luar sana. Kemudian watakunu fatwal mufti lahu bimujar a mail hawa min ghairi dalilin syari. Dan fatwa orang tersebut ya yakni hanya di atas prasangka atau terbawa dengan hawa nafsu tanpa dalil yang menyertainya. Mlu maqalan Nawawi.<br \/>\n(40:59) Seperti yang diberikan contoh oleh Imam Nawawi. Kita dengarkan apa contoh dari Imam Nawawi di sini. Alhadiyatu idza jaatka min syaksin galib malihi. Hartialwa. Imam Nawawi rahimahullah memberikan e contoh di sini kepada kita semua. Yakni kata beliau seperti sebuah hadiah yang diberikan oleh seorang yang kita tahu bahwa mayoritas hartanya itu adalah harta yang haram. Ya.<br \/>\n(41:48) Jadi, ada seorang yang banyak memiliki harta haram, lalu orang tersebut memberikan hadiah kepada kita ya, memberikan hadiah kepada kita. Dan sudah pasti jiwa kita menolaknya, jiwa dan hati kita tidak tentram dibuatnya. Ya, walaupun ada orang-orang di luar sana berfatwa tentang bolehnya menerima hadiah tersebut, maka jelas di sini bahwa fatwa seperti ini tidak dapat menghilangkan syubhat.<br \/>\n(42:29) Ini kalau dipandang ini minimal syubhat, maka fatwa orang-orang di luar sana tidak dapat diterima. Karena kitalah yang lebih tahu tentang si fulan itu. Karena tentunya harta si fulan itu adalah hartanya yang haram ya. Atau mayoritas hartanya berasal dari yang haram. Begitu ya.<br \/>\n(42:54) Lalu si fulan tadi memberikan hadiah kepada diri kita, maka jelas hati kita tidak tentram dibuatnya. Hati kita tidak tenang dibuatnya. Karena kita lebih tahu tentang si fulan ya, dalamnya si fulan atau kehidupan si fulan dan hartanya tersebut daripada fatwa orang-orang di luar sana. Baik. Kemudian kita ambil contoh lagi di sini. Kita lihat di sini keterangan yang kedua. Wakadalika dari Imam Nawawi rahimahullah juga ini.<br \/>\n(43:29) idza akhbarathu imroatun biannahu ir ma fulani fainnal mufti id aftahu bijawazi nikahiha liadami istikmalin nisab la takunul fatwa muzila lyubhah bal yambagi alwara wain aftaahunas contoh Yang kedua apabila ada seorang ibu ya yang mengabarkan, nah ini mengabarkan bahwa ibu ini telah menyusui.<br \/>\n(44:13) Nah, ini telah menyusui si fulan ketika masih bayi ya. ketika masih baik. Lalu ada orang yang berfatwa di sana tentangnya menikahi orang tersebut yang tentunya orang tadi telah diklaim oleh ibu ya tersebut bahwa orang ini dahulunya disusui oleh si ibu itu ya oleh si ibu tersebut ya. Demikian juga dengan ada anak perempuan yang juga disusui oleh si ibu tersebut.<br \/>\n(44:51) Nah, begitu ya keduanya telah dewasa dan keduanya ingin menikah begitu. Maka datanglah si ibu ini yang menjelaskan bahwa ya Anda dahulu telah saya susui bersama si Fulanah ini ya. bersama si Fulanah ini. Ah, kemudian ya laki-laki tersebut minta fatwa kepada orang begitu lalu orang tersebut ee mengeluarkan fatwanya tentang bolehnya orang tersebut menikah dengan si Fulanah, maka hendaknya ya bersikap warlah dalam hal ini.<br \/>\n(45:31) Bersikap hati-hatilah dalam hal ini. Ya, yakni lebih baik tidak jadi menikah daripada mengikuti fatwa orang di luar sana yang tidak jelas juntrungnya atau kejelasannya. Adapun pendapat dari si ibu tadi ini lebih didahului ya lebih di didahului karena ibu tersebut mengklaim telah menyusui ya si fulan dan si fulanah ketika keduanya masih bayi sehingga tidak boleh ya terjadi pernikahan ya di antara keduanya karena sama-sama sebagai saudara sepersusuan.<br \/>\n(46:18) Nah, inilah berkaitan dengan apa yang difatwakan oleh orang-orang di luar sana ya. Mereka mungkin hanya melihat dari yang zahirnya saja, tidak mengetahui ya isi dalamnya dan seterusnya dan seterusnya. Begitu. Baik. Kemudian dikatakan kembali sini oleh Syekh Nadim, amma idat fatwal mufti tastanidu ila dalilin syari. Namun jika fatwa berasal dari dalil syari, nah ini ee masalahnya jika fatwa itu berasal dari dalil yang syari, fayjibu alal mari ayataqad biha waam yatmain qbuh.<br \/>\n(47:00) hendaknya seorang hatinya itu terpaut kepada dalil yang disebutkan oleh si mufti walaupun mungkin ya hatinya masih bertanya-tanya ya masih bertanya-tanya atau tidak ee atau belum ee yakni tentram dibuatnya ya diberikan contoh di sini tentang keringanan dispensasi ya, untuk tidak berpuasa bagi musafir dan juga orang yang sedang sakit pada bulan Ramadan, ya. Pada bulan Ramadan begitu.<br \/>\n(47:40) Kemudian juga untuk dapat mengqasar salat ya ee ketika dalam keadaan safar ya. Walaupun mungkin di antara hati seorang itu kok belum tentram dibuatnya untuk melakukan atau untuk mengambil dispensasi dari agama ini. Nah, dikatakan di sini mitalik aruksah bil fitri fis safari wal marqati wahwiik mimma lahu lahusr tabata an nabi shallallahu alaihi wasallam amar ashabahu bifasil haji umratin walam tansarihuuruhumika ba&#8217;duhumika kadalika Nah, di sini bisa kita lihat ya ee contoh lainnya adalah yang diberikan yakni bahwa telah tetap dari Nabi sallallahu alaihi wasallam di mana Nabi<br \/>\n(48:47) telah memerintahkan para sahabat pada saat umrah Hudaibiyah tahun ke-6 Hijriah agar mereka merubah niat haji mereka menjadi umrah. Ya, walaupun ada di antara hati para sahabat ketika itu belumlah lapang menerimanya. Dan juga Nabi perintahkan kepada mereka untuk menyembelih hadyu mereka bertahalul dari umrah Hudaibiyah.<br \/>\n(49:17) Walaupun memang kenyataannya sekilas bahwa di antara para sahabat belumlah dapat menerima keterangan dari Nabi yang mulia ini. Nah, ini yang terjadi ya. Ini yang terjadi ketika itu bahwa Nabi perintahkan kepada para sahabat untuk menyembelih had, mencukur rambut mereka. Di sini tentunya bukan berarti para sahabat ini ee mengingkari Nabi, tidak atau menolak ee perintah Nabi. Tidak.<br \/>\n(49:47) Karena mereka pertama boleh jadi ee sangat kaget dengan peristiwa seperti ini di mana asalnya mereka sudah sangat gembira sekali untuk dapat masuk ke tanah suci negeri Makkah untuk beribadah ya di antaranya tawaf di Ka&#8217;bah dan seterusnya dan seterusnya. Kemudian yang kedua, mereka masih berharap, masih berharap kalau-kalau ada wahyu yang meralat ya pendapat atau keterangan Nabi tadi.<br \/>\n(50:14) Nah, inilah diharapkan oleh para sahabat radhiallahu taala anhum ajmain. Kemudian singkatnya Nabi masuk ke dalam kemah menemui e salah seorang istri beliau yaitu Ummu Salamah. Dan Ummu Salamah memberikan ee arahan masukan kepada Nabi agar Nabi tidak berbicara lagi kepada para sahabat.<br \/>\n(50:38) Hendaknya Nabi langsung mencukur rambut kepala beliau dan menyembelih hewan hadyu beliau. Nah, dan ini jelas keterangan dari Ummu Salamah langsung diterapkan oleh Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam. Nabi panggil tukang cukurnya. Kemudian setelah itu beliau sembelih hadiunya. Dan langsunglah para sahabat melakukan apa yang Nabi lakukan. Sam&#8217;an wa ta&#8217;ah.<br \/>\n(51:00) Mereka mendengar dan taat dari apa yang ya mereka dengar sebelumnya dan mereka lihat dari perbuatan Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam. Kemudian para jemaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala dikatakan di sini oleh Syekh Syekh Nadim walasatu kesimpulannya adalah syari yaqahu bihi amla.<br \/>\n(51:38) Kesimpulannya adalah jika telah ada dalil syari maka wajib bagi kita untuk mentaatinya. Walaupun ya jiwa dan hati ini belum tentram dibuatnya ya. Belum tentram dibuatnya. Qala taala. Allah taala berfirman. Nah, ini lebih menguatkan lagi dalil yang mulia ini yang terdapat dari surah An-Nisa ayat 65. yunta yuhajarahum tumma yajidu fi anfusihim harjam mimma qita wausallimu taslima.<br \/>\n(52:15) Maka tidak demikian, demi Rabbmu, tidaklah beriman mereka sampai mereka menjadikan dirimu sebagai hakim atas apa yang mereka perselisihkan di antara mereka dan tidak ada mereka mendapatkan pada diri mereka yakni hal yang menghalangi ya untuk menerimanya atas apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan ya penyerahan diri.<br \/>\n(52:47) Artinya betul-betul ya mereka menerima apa yang engkau putuskan, apa yang nabi putuskan, apa yang nabi yakni ya putuskan dalam perkara-perkara mereka itu. Dan tidak ada ganjalan dalam hati mereka, dalam diri mereka, mereka sepenuhnya menerima apa yang Nabi putuskan bagi mereka. Baik, para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, kita lihat tentang manzilatul akhlak, yakni kedudukan akhlak dalam agama yang mulia ini.<br \/>\n(53:21) Di mana Nabi yang mulia menjelaskan bahwa albir, kebaikan itu adalah husnul khuluq, akhlak yang baik, akhlak yang terpuji, yaitu ya akhlak yang mulia. Sebagaimana Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam menjelaskan dalam riwayat yang lain tentang amalan haji yang paling utama yaitu yakni wukuf di Padang Arafah. Dan Nabi mengatakan alhajju arafah.<br \/>\n(53:53) Syekh Nad mengatakan kepada kita di sini quluhu sallallahu alaihi wasallam albirru husnul khuluq bimakna husnul khuluqam khil bir ya ketika Nabi mengatakan bahwa albir kebaikan itu adalah akhlak yang terpuji maka ini merupakan semulia-mulia ya yakni kedudukan dari sisi akhlak atau dari sisi kebaikan itu sendiri.<br \/>\n(54:20) Karena Nabi mengatakan kebaikan itu adalah husnul khuluk, akhlak yang baik. Sebagaimana Nabi mengatakan, &#8220;Alhaju arafah.&#8221; Haji itu adalah Arafah. Karena jelas Arafah adalah semulia-mulia rukun ibadah haji. Ya, semulia-mulia rukun ibadah haji. Yakni tidaklah sah haji seorang ya tanpa adanya wukuf di Padang Arafah.<br \/>\n(54:46) Kemudian para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, di sini diberikan keterangan dari Aisyah, istri Nabi yang mulia. Ketika Aisyah ditanya tentang bagaimanakah akhlak Rasulullah sallahu alaihi wasallam itu, maka Aisyah menjawab dengan singkat padat. Beliau mengatakan, &#8220;Kana khuluquuh sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(55:13) &#8221; Al-Qur&#8217;an adalah akhlak Nabi sallallahu alaihi wasallam. Al-Qur&#8217;an. Jadi singkat padat Aisyah mengatakan bahwa akhlak Nabi itu adalah Al-Qur&#8217;an. Yakni maknanya adalah seluruh kebaikan-kebaikan yang tertera dalam Al-Qur&#8217;an Alkarim. Maka Nabi telah mempraktikkannya. Nabi yang mulia sallallahu alaihi wasallam telah mempraktikkannya.<br \/>\n(55:39) Dan kebalikannya seluruh larangan-larangan yang terdapat dalam Al-Qur&#8217;anul Karim maka Nabi telah menjauhinya. Maka inilah berkaitan dengan keterangan ee Rabbul Alamin Rab Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam ayat yang mulia dari surah al-qalam. Wa innaka laala khuluqin adzim.<br \/>\n(56:06) Dan sesungguhnya engkau Muhammad berada pada akhlak yang agung, akhlak yang besar. Kata Allah Subhanahu wa taala. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala. Dan terakhir di sini dibawakan ayat dari surah almumtahanah ayat 6. Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Laq lakum fi rasulillahi uswatun hasanah.&#8221; Telah terdapat pada diri rasulqakum fi rasulillahi uswatun hasanah. Telah terdapat pada diri rasul untuk diri kalian suri tauladan.<br \/>\n(56:34) Ini contoh yang terbaik. Nah, inilah berkaitan dengan keterangan Rabbul Alamin. Bagaimanakah akhlak nabinya itu, akhlak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Yakni bagaimana akhlak Nabi kepada Rabbul Alamin. Bagaimana akhlak Nabi kepada dirinya, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, bahkan akhlak Nabi kepada nonmuslim sekalipun.<br \/>\n(57:03) Maka Allah subhanahu wa taala menjadi saksi atas akhlak terpuji Nabi yang mulia. Wa innaka laa khuluqin adim. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad berada pada akhlak yang agung yang mulia. Kata Allah Subhanahu wa taala. Para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(57:24) Akhir dari kajian kita pada sore hari ini, kita bacakan beberapa pelajaran berharga, pelajaran-pelajaran berharga dari hadis yang mulia ini. Yang pertama, fil hadisi isyaratun ila manzilatilqbi wastiftauh. Pada hadis ini ada isyarat tentang kedudukan kalbu ini kedudukan hati nurani atau kalbu dan meminta fatwa kepada hati kepada kalbu itu sendiri. Wastaftibak istafti qbak kata Nabi. Tanyakan kepada qbumu.<br \/>\n(57:57) Tanyakan kepada hati nuranimu. Kata Nabi. Kemudian yang kedua, adddafi&#8217; litasriat asama adddafi&#8217; addakhili w bikhilafil qawanin alwadiyah fainnal wazi fiha khoriji. Jadi yang mendorong dalam ya pembuatan syariat ya samawi ini adalah dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri. Yakni jiwa manusia, hati manusia yang berkaitan dengan kebaikan dan keburukan.<br \/>\n(58:34) Ya. Jadi ini berlawanan dengan undang-undang manusia yang dibuat ya atas pertimbangan ya eksternal, pertimbangan luar sana ya. Apakah pertimbangan akal manusia, perasaan manusia atau yang semisalnya maka jadilah undang-undang tanpa dilibatkan yang namanya kalbu tentunya. orang-orang yang beriman bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(59:09) Kemudian yang ketiga, fil had isyarahbiq hukmui maqtabah sahihna lahu bir wahair wahu w karihahu. Jadi dalam hadis ini menunjukkan tentang isyarat tentang agungnya kedudukan kalbu. Apabila kalbu tersebut baik dan istiqamah ya berada pada akidah yang benar, maka akan jelaslah kedudukan kalbu tersebut terkait dengan perkara-perkara syubhat.<br \/>\n(59:58) Ya, perkara-perkara syubhat atau apalagi perkara-perkara yang haram. Artinya bahwa hati atau jiwa akan menjadi tenang dibuatnya dan kebaikannya. Bahwa jika melakukan perbuatan buruk maka hati atau jiwa menjadi ee berguncang dibuatnya. Kemudian yang keempat, yang terakhir pada perjumpaan kita di sore hari ini. Fil hadisi dalil alal insan bail umur asubirihaji arqamin.<br \/>\n(1:00:33) Hadis ini menunjukkan apabila manusia dalam sebahagian urusan ya urusannya seperti ya menghadapi perkara-perkara syubhat atau yang semisalnya dikembalikan kepada hatinya. Dikembalikan kepada hatinya. Apabila dia ingin melangkah kepada suatu maka ditanyakan kepada hatinya. Nah, ini tentunya sekali lagi berkaitan dengan hati dari hamba yang saleh, hati dari hamba yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala akan dapat menilai perbuatan atau langkah-langkah tersebut apakah ya berbau syubhat ataukah tidak. Jika hati tentram dibuatnya, ya tentram<br \/>\n(1:01:22) pada langkah-langkah tersebut, pada perbuatan-perbuatan yang akan dilakukan itu, maka itu adalah albir, kebaikan dan kebalikannya. Jika hati dan jiwa tidak tentram dibuatnya, berguncang dibuatnya, tidak bahagia dan dada tidak lapang dibuatnya, maka itu tanda al-sim, tanda keburukan atau dosa. Baik, para jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:01:51) Inilah perjumpaan kita pada sore hari ini berkaitan dengan hadis yang ke-27 dari penjelasan albir kebaikan dan al-itm dosa atau keburukan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya. Semoga kita semua dapat melakukan albir dalam kehidupan kita dan dapat menjauhi al-isitm dalam kehidupan kita.<br \/>\n(1:02:19) Semoga kita selalu mendapat hidayah taufik dari Allah Subhanahu wa taala untuk selalu berada di atas tauhid, di atas sunah Nabi yang mulia dan di atas manhaj para sahabat. Dan semoga kita mendapatkan husnul khatimah. Amin ya rabbal alamin. Kita akhiri dengan doa pertum majelis.<br \/>\n(1:02:39) Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla ilaha illa ant astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(4) [LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Wahai gulam, wahai anak muda, sungguh aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah agama Allah. Jagalah Allah, pasti Allah akan menjaga dirimu. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3441","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(4) [LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Wahai gulam, wahai anak muda, sungguh aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah agama Allah. Jagalah Allah, pasti Allah akan menjaga dirimu. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-23T03:40:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-26T03:40:21+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"26 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/\",\"name\":\"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-23T03:40:02+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-26T03:40:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip","og_description":"(4) [LIVE] Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Wahai gulam, wahai anak muda, sungguh aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah agama Allah. Jagalah Allah, pasti Allah akan menjaga dirimu. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-10-23T03:40:02+00:00","article_modified_time":"2025-10-26T03:40:21+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"26 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/","name":"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-10-23T03:40:02+00:00","dateModified":"2025-10-26T03:40:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/10\/23\/ustadz-ustadz-arman-amri-lc-syarah-hadist-arbain-an-nawawi-14\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Ustadz Arman Amri, Lc. | Syarah Hadist Arbain An-Nawawi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3441"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3441"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3441\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3442,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3441\/revisions\/3442"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3441"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3441"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3441"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}