{"id":3499,"date":"2025-11-24T21:19:54","date_gmt":"2025-11-24T14:19:54","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3499"},"modified":"2025-11-24T21:19:55","modified_gmt":"2025-11-24T14:19:55","slug":"ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/GtOXU8K6Xjg?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) nabina Muhammadin waa alihi wahi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba&#8217;du ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar anda dan kelar kaca anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Kadi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat. Roja TV<br \/>\n(00:43) Anda para pemirsa Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alih Wa asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Q Allahu taala fi kitabihin karim. Ya ayyuhalladzina amanut itaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma ba&#8217;d.<br \/>\n(01:44) Kita lanjutkan saudaraku seiman bab fadli sodqatis sahih syahih. Bab keutamaan sedekah orang yang sehat lagi pelit. An Abi Hurairah radhiallahu anhu qal ada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam rajul wa faqala ya Rasulullah ayyusodqoti a&#8217;dom wa faqala antodq wa anta shohihun syahih taksyal faqr watul gina wumhil hatta balagtil hulqum [Musik] ulan wali fulan kad ala waq fulan dari Abu Hurairah semoga Allah meridainya bahwa ada orang datang kepada Rasulullahi<br \/>\n(02:51) sallallahu alaihi wasallam dan berkata, &#8220;Hai Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?&#8221; Kata Rasulullah, yaitu kamu bersedekah dalam keadaan kamu sehat, pelit, takut kefakiran, dan berangan-angan kaya. Jangan kamu, jangan kamu tunda-tunda sedekah sampai apabila nyawa telah sampai ke kerongkongan. Baru kamu berkata, &#8220;Seandainya buat si fulan segini, buat si fulan segini, ya.<br \/>\n(03:34) Seandainya si fulan mendapatkan segini.&#8221; Hadis ini menunjukkan ya akhal Islam yaitu fikih dalam beramal. Bita dalam beramal, Pak hendaknya mencari yang paling besar pahalanya. Mau sedekah ya cari yang paling besar pahalanya. Salat. Demikian pula semua amal saleh berusaha untuk kita cari yang paling afdal, paling baik, paling besar.<br \/>\n(04:13) Karena orang ini datang kepada Rasulullah dan bertanya, &#8220;Sedekah apa yang paling besar, yang paling agung Rasulullah?&#8221; ini menunjukkan kepada apa? Fikih di dalam beramal saleh. Jadi kita beramal tuh jangan ngasal, Pak. Yang penting saya sedekah, yang penting saya salat, yang penting saya ya puasa. Jangan.<br \/>\n(04:40) Tapi kita berusaha bagaimana supaya salat saya mendapatkan pahala paling besar. Bagaimana puasa saya mendapatkan pahala paling besar? Itu yang harus kita pikirkan. Itu menunjukkan akan kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Ini yang disebut dengan ihsan. Ya, ihsan di dalam beramal saleh.<br \/>\n(05:08) Faedah selanjutnya hadis ini menunjukkan Pak bahwa sedekah yang paling utama yaitu ketika kita pelit. takut miskin. Kenapa demikian? Karena biasanya saat itu berat, Pak. Sedangkan semakin berat semakin besar pahalanya. Makanya kata para ulama, al-ajru biqadril masyaqqah. Pahala itu disesuaikan dengan masyaqqah.<br \/>\n(05:48) berat atau tidaknya suatu amal semakin berat di hati kita, semakin besar pahalanya, semakin membutuhkan perjuangan, semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana dalam hadis yang pernah saya sampaikan ya, kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dirham sabaqo miat alf dirham satu sedekah 1 dirham bisa mengalahkan sedekah 100.000 dirham.<br \/>\n(06:20) Apa kata para sahabat? Kaifa dalalika ya Rasulullah? Bagaimana bisa ya Rasulullah? Kata Rasulullah, &#8220;Rajrun indahu malun katir.&#8221; Ada orang yang hartanya banyak lalu diambil 100.000 dirham. Sementara yang satu lagi indahu dirhaman. Hartanya cuman 2 dirham. Kalau diambil 1 dirham disedekahkan. Iya.<br \/>\n(06:53) Artinya apa? Orang yang punya harta banyak mungkin misalnya hartanya sampai ribuan dirham atau bahkan ratusan ribu dirham. Bagi dia untuk mengambil 100.000 dirham kecil ya. Tapi ketika antum hartanya cuman 2 dirham, mikir di situlah kita sedang pelit-pelitnya biasanya, Pak. Makanya disebutkan dalam riwayat yang lain, afdalus shodqah al jahdul muqil.<br \/>\n(07:28) Sedekah yang paling utama adalah saat susah dan sedikit harta. Saat situlah kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sedekah menjadi paling utama. Kenapa? Ya itu tadi, Pak berat, Pak. Iya. Hadis ini kita ambil faedah selanjutnya, saudaraku seiman. itu wajibnya mujahad mujahadatun nafs berjihad melawan diri sendiri melawan hawa nafsu dan berusaha untuk memaksa diri kita untuk beramal saleh karena memang ibadah itu berat Pak saat terjadi berat itu lalu kita paksakan dan butuh perjuangan, di situlah pahalanya besar di sisi Allah Subhanahu<br \/>\n(08:29) wa taala. Allah tidak melihat kepada kuantitas, tapi Allah melihat kepada kualitas. I hadis ini menunjukkan kita ambil faedah itu larangan menunda amal saleh. Karena Nabi bersabda, &#8220;Wala tumhil.&#8221; Jangan kamu tunda-tunda sedekah. Hatta balagil hulquum. Sehingga apabila roh kamu, nyawa kamu sudah sampai tenggorokan, baru kamu berkata, &#8220;Andaikan buat si fulan sekian sekian sekian baru pengin sedekah.&#8221; Iya.<br \/>\n(09:13) Nah, ini akhal Islam. Maka dari itulah kewajiban kita, Pak, jangan menunda-nunda kebaikan. Kata Ibnu, kata Ibnu Qudamah dalam kitab Mukhtasar Minhajil Qasidin ya la yatimul amal illa bitat ya khis. Amal itu tidak akan sempurna kecuali dengan tiga perangai. Apa itu? Yang pertama takjiluhu. Segerakan jangan ditunda tunda.<br \/>\n(09:51) Sebab kalau ditunda-tunda biasanya apa? Kata Ibnu Qayyim, orang yang menunda kebaikan itu biasanya Allah berikan sanksi jadi berat, jadi malas. Iya. Yang kedua, hitmanuhu. Sembunyikan. Jangan perlihatkan. Yang ketiga, istisgaruhu yaitu menganggapnya sedikit enggak banyak. Ikhwat Islam saudarakus iman rahimani warahimakumullah jamian.<br \/>\n(10:31) Ini ya akhi kalau ada kesempatan kita beramal saleh segera lakukan. Kata Alhan Albasri, &#8220;Iyak wataswifaka fi yaumik wasta fiik.&#8221; Jauhi oleh kamu taswif. Taswif itu artinya apa? Menunda-nunda. Nanti aja, nanti aja. Karena kamu sedang berada di hari ini, bukan hari esok. Kalau hari besok enggak ada, kamu tidak akan menyesal.<br \/>\n(11:04) Dan kalau hari esok masih ada, kamu bisa melakukan seperti hari ini, bahkan lebih. Nah, ini, Akhi. Jadi larangan menunda-nunda apa? Amal. Kata Ibnu Umar, &#8220;Sbahta fala tantiril masa waid amita falir wtika qlaik ya waliyatika qobla mautik.&#8221; Apabila kamu berada di waktu pagi, jangan tunggu waktu sore. Apabila kamu di waktu sore, jangan tunggu waktu pagi.<br \/>\n(11:43) Ambil kesempatan sehatmu sebelum kamu sakit dan ambil kesempatan hidupmu sebelum kamu mati. Makanya musuh ya setiap penuntut ilmu bahkan musuh setiap orang yang ingin surga itu tadi Pak taswif menunda-nunda amal Pak. Iya itu karena apa-apa Pak Setan tidak ingin kita beramal saleh dijadikan kita, &#8220;Ah, besok juga ada waktulah saya bisa baca Quran. Besok besok entah kapan akhirnya mati duluan.<br \/>\n(12:23) Babuli shodqah alil kasb thayib watarbiyatiha. Bab diterimanya sedekah dari usaha yang halal dan dikembang biakkan. an Abi Hurairah anna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam q la yatasdaqu ahadun bitamrotin min kasbin thyib illa akhallahu biyamini furabbiha kama yurabbi ahadukum faluwahu qalusahu hatta takuna mlal jabalil aom jabal aom Dari Abu Hurairah semoga Allah meridainya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Tidaklah seseorang sedekah dengan sebutir kurma dari usaha yang halal kecuali Allah ambil dengan tangan<br \/>\n(13:30) kanannya lalu Allah ya yurabbiha mengembang biakkannya. Sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara faluwahu atau qalusahu itu anak anak kuda sehingga yang dikembang biakkan sampai seperti gunung bahkan lebih besar dari gunung. Subhanallah. Hadis ini menunjukkan, Pak, faedah yang pertama yaitu fadlusqah.<br \/>\n(14:06) Keutamaan apa? Sodqah. Dan bahwasanya sodqah itu pahalanya besar di sisi Allah. Makanya Allah berfirman, mataluladina yunfiquuna amwalahum fiabilillah kamali habbatin ambat sababila fi kulli sumbulatin miatu habbah. Wallahu yudifu liman yasya. Perumpamaan orang yang berinfak di jalan Allah itu seperti orang yang menanam satu biji gandum.<br \/>\n(14:40) Lalu tumbuhlah ya tanaman gandum yang mempunyai tujuh tangkai. Setiap tangkainya 100 gandum. Dan Allah melipat gandakan lebih dari itu bagi siapa yang Allah kehendaki. Nah, di sini lebih nih, Pak. Satu. Butir kurma disedekahkan dari usaha halal. Allah kembang biakkan terus sampai menjadi sebesar apa? Gunung. Allahu Akbar.<br \/>\n(15:12) Maka dari itu ya akhi berusaha kita untuk bisa mendapatkan keutamaan ini. Akhi. Hadis ini kita ambil faedah yang kedua, Akhi. bahwa sedekah itu harus dari usaha yang halal. Adapun kalau sedekah dari usaha yang haram itu tidak akan diterima oleh Allah. Antum nabung di bank ribawi misalnya, terus dapat bunga, terus bunganya antum sedekahkan, dapat pahala enggak, Pak? Ya enggaklah.<br \/>\n(15:53) Atau antum korupsi terus duit korupsi buat bangun masjid dapat sedekah peat pahala enggak sama sekali. Uang haram itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Kaidah selanjutnya isbatu alyamin lillah. Penetapan bahwa Allah punya tangan kanan. penetapan bahwa Allah punya tangan kanan. Karena Allah punya dua tangan.<br \/>\n(16:31) Allah berfirman, &#8220;Bal yadahu mabsutatan.&#8221; Justru dua tangan Allah terbuka. Dan dalam hadis disebutkan, waqilta yadaihi yamin. Dan dua tangan Allah itu kanan. Kenapa? Karena Allah tidak boleh disifati dengan tangan kiri, Pak. Karena kiri itu identik dengan yang jelek-jelek. Sedangkan yang kanan itu identik dengan yang baik-baik.<br \/>\n(17:05) Ya, faedah selanjutnya akhal Islam yaitu tadif al-Ajr. Yaitu pelipatatan ee apa namanya? Allah melipat gandakan pahala yang disebutkan dalam hadis bah setiap amal Allah berikan pahala 10 sampai 700 kali lipat bahkan lebih dari itu. Ada dua orang yang sedekah sama-sama bersedekah Rp100.000 bisa enggak pahalanya beda, Pak? bisa banget.<br \/>\n(17:50) Walaupun nilainya sama, sama-sama Rp100.000, tapi pahalanya di sisi Allah bisa berbeda. Apa yang menyebabkan perbedaan itu, Pak? Pertama, keikhlasannya. Yang satu ikhlasnya 100%. Lillahi taala sudah. Yang satu ikhlasnya cuma 50%. 50-50. Karena mengharapkan dunianya juga 50%. Akhirnya apa? Bisa dia enggak dia enggak dapat pahala.<br \/>\n(18:21) Ikhwatlah Islam, saudara-saudarak se iman. Demikian pula yang mempengaruhi besar kecilnya pahala. Apalagi, Pak? Iya. Tempatnya yang satu bersedekah di Makkah, yang satu bersedekahnya di Cilengsi. Ya beda. Kalau di Makkah sedekahnya lebih besar di sisi Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(18:48) Amal saleh di sana dilipat gandakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Iya. Demikian pula manfaatnya Rp100.000 sama-sama Rp100.000 Bu, tapi dia yang satu sedekahkan di tempat yang manfaatnya besar sekali sehingga banyak manfaatnya ketika dia sedekahkan di situ. Sementara yang satu dia sedekah tempat yang manfaatnya sedikit, maka bisa jadi yang manfaatnya besarnya jauh lebih besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(19:26) Maka di sinilah kita penting, akhi ya melihat bagaimana kita bersedekah supaya pahala kita lebih besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Hadis berikutnya. Wan Abi Hurairah radhiallahu anhu qal qala Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Ayyuhannas innallaha thyyibun la yaqbalu illa thyiban.<br \/>\n(19:59) Wa inallaha amaral mukminin bima amaro bihil mursalin. Faqala ya ayyuhar rasul kulu min thyibati wal shiha inni bima tamaluna alim. Waqala ya ayyuhalladzina amanu kulu min thyibati ma razzaqnakum tummaakar rajul ytilfar as akbar. ya harbu haram walbasu haram wud bil haram fa yustajabuik dari Abu Hurairah semoga Allah meridainya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Wahai manusia sesungguhnya Allah itu thayib.&#8221; Apa itu thayib? Itu munazzahun an naqais.<br \/>\n(20:55) ya disucikan dari kekurangan thayib itu artinya yang bersih dari berbagai macam aib dan kekurangan. Thayib namanya. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin sama dengan yang Allah perintahkan kepada para rasul. Artinya pada asalnya apa? yang Allah perintahkan kepada Rasul juga untuk kaum mukminin.<br \/>\n(21:25) Tidak boleh dikatakan itu khusus untuk rasul kecuali dengan da dalil. I berfirman, &#8220;Ya ayyuhar rasul, wahai para rasul, kulu minat thyibati waalu shiha. Makanlah dari yang halal dan beramal salehlah. Sesungguhnya aku mengetahui apa yang kalian lakukan. Allah juga berfirman, &#8220;Ya ayyuhalladzina amanu kulu min thyibati ma rozaqnakum.<br \/>\n(22:04) &#8221; Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang halal. Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang perjalanan safarnya jauh, rambutnya kusut berdebu. Dia menenggadahkan mengangkat dua tangannya ke langit serai berkata, &#8220;Ya Rabb, ya Rabb.&#8221; Tapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi gizi dari yang haram.<br \/>\n(22:34) Bagaimana akan diijabah doanya? Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dari hadis ini akhi kita ambil faedah di antara nama Allah sekaligus sifat Allah yaitu thayib bahwa Allah itu disifati dengan apa thayib. Apa itu thayib? Yaitu yang di yang disucikan dari berbagai macam kekurangan dan aib. Karena Allah tidak ada kekurangannya, tidak ada aibnya.<br \/>\n(23:10) Sifat Allah sempurna. Ya, ikhwatlah Islam, saudaraku sean. Faedah yang kedua, akhi, hadis ini menunjukkan Allah hanya menerima dari yang thayib. Kata para ulama, sesuatu yang thayib itu kalau berhubungan dengan amal ibadah, maka amal ibadah yang thayib artinya yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(23:48) Berarti itu amal yang thayib. Kalau amalnya enggak ikhlas, enggak thayib, Pak. Ikhlas tapi tidak sesuai dengan tuntunan Rasul juga enggak thayib. Disebut amal itu thayib. Kalau ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Rezeki yang thayib seperti apa? Rezeki yang halal. Iya, bukan cuma halal tapi juga bermanfaat.<br \/>\n(24:22) Kadang ada makanan halal sih ya, tapi kalau kita makan buat buat tubuh kita enggak ada manfaatnya. Apa manfaatnya? Ya, secara kesehatan juga enggak ada manfaatnya. Bahkan terkadang ada mudaratnya. Berarti yang seperti ini kurang thayib. Ya, ikhwat Islam, saudaraku seiman.<br \/>\n(24:47) Makanya biasakan makan tuh, Pak, jangan cuma enaknya doang Pak. Biasakan makan tuh sehat juga. Itu yang terpenting karena itu yang thayib gitu loh, Pak. Kalau kita kan maunya yang enak. Tiap hari gorengan. Apa? Makanya apa? Kolesterolah, asam uratlah, diabet lah. Jadinya enggak thayib ya. Ikhwat Islam secara kuasa seiman. Nah, di sini kita ambil faedah, Pak.<br \/>\n(25:21) bahwa dalam syariat tidak ada bedanya antara rasul dengan kaum mukminin. Mereka semua sama-sama diperintahkan untuk menjalankan syariat. Dan ini bantahan terhadap kaum tasawuf. [Musik] Kan orang tasawuf itu, Pak, membedakan orang yang sampai derajat makrifat dengan orang yang cuma syariat. Katanya ya mereka mengatakan tingkatan agama itu ada dua. Tingkatan syariat.<br \/>\n(25:53) Siapa itu? Itu yang wajib melaksanakan syariat. Salat, zakat, puasa. Nah, ini kata mereka tingkatan rendah. Ini ada lagi tingkatan makrifat. Kalau mereka sudah sampai derajat makrifat, enggak perlu syariat. Karena menurut orang sufi ya, orang yang sudah sampai derajat makrifat, hakikat itu wali itu dia tidak perlu lagi terikat oleh syariat para nabi.<br \/>\n(26:32) Karena makanya mereka punya keyakinan, Pak, wali itu lebih tinggi daripada nabi dan rasul. Ini musibah. Ikhwatlah Islam, saudaraku seiman. Kita katakan mana yang lebih tinggi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atau wali yang kamu anggap itu? Kalau dia berani mengatakan wali saya lebih tinggi dari Rasul bisa kafir Pak. Murtad dari agama Islam.<br \/>\n(27:05) Kenapa? Karena semua ulama sepakat ijma seluruhnya bahwa manusia terbaik adalah Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang lebih baik dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Siapa yang punya keyakinan bahwa ada seseorang yang lebih baik dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Seorang ada wali misalnya lebih baik dari rasul. Ini dia sudah menyelisihi ijma para ulama dan mengingkari dalil-dalil yang sangat jelas dan tegas.<br \/>\n(27:30) Ya, kita katakan rasul aja wajib menjalankan syariat. Rasul aja diperintahkan oleh Allah untuk makan yang halal, menjauhi maksiat. Sementara kalian mengklaim orang yang sudah sampai derajat makrifat enggak butuh syariat. Akhirnya apa? Zina boleh, makan arak boleh, enggak masalah. Sudah. Wal haula wala quwwata illa billah.<br \/>\n(28:01) Makanya kata para ulama, orang yang sudah sampai derajat hakikat hakikatnya hakikat kufur ya. Jadi zindik ikhwat Islam, saudaraku iman rahimani warahimakumullah jamian. Maka dari itu ya akhi, dalam ilmu ushul fikih disebutkan bahwa tidak boleh mengklaim sesuatu itu khusus untuk rasul kecuali dengan dalil.<br \/>\n(28:31) Karena pada asalnya syariat itu sama, wajib dilaksanakan oleh semuanya, baik rasul maupun kaum mukminin. Kecuali kalau ada dalil bahwa itu khusus untuk Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Seperti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dibolehkan menikah lebih dari empat. Itu khusus untuk rasul.<br \/>\n(28:59) Adapun kaum mukminin paling banyak berapa? Hanya empat. Enggak boleh lebih. Ikhwatlah Islam kasa iman. Hari sin kita ambil faedah, Pak, bahaya makanan yang haram. bahwa di antara sebab doa seseorang enggak diijabah, enggak didengar sama Allah akibat makanan yang haram. Saya pernah, Pak, ngisi kajian di sebuah masjid milik lembaga ribawi.<br \/>\n(29:45) Kadir Allah yang hadir pegawai-pegawainya. Ya udah saya bahas masalah haramnya riba. Terus pas acara sesi tanya jawab dia bilang, &#8220;Pak Ustaz tadi menyampaikan bahwa di antara sebab doa tidak diijabah adalah makanan yang haram.&#8221; Dan Pak Ustaz tadi mengatakan bahwa orang yang kerja di lembaga yang haram itu gajinya haram.<br \/>\n(30:21) Saya di sini sebagai manajer, Pak Ustaz. Katanya beberapa waktu lalu saya berdoa sama Allah, ternyata Allah ijabah, Pak Ustaz. Terus gimana itu? Sementara kata Pak Ustaz katanya, &#8220;Hah, di antara sebab tidak didengarnya doa makanan yang haram.&#8221; Terus dia bilang, &#8220;Beberapa waktu yang lalu saya berdoa, Allah masih ijabah doa saya.<br \/>\n(30:49) &#8221; Saya bilang, &#8220;Pak, tolong siap-siap dengarin jawabannya, ya, Pak.&#8221; Ya, itu istidraj dari Allah, Pak. Bilang tidak setiap yang diijabah doanya itu menunjukkan Allah senang sama dia. Buktinya dulu iblis juga berdoa diijabah. Ya, tidak. Iblis berdoa, ilumia yabun yubatun. Ya Allah panjangkan umurku sampai hari kiamat.<br \/>\n(31:26) Allah ijabah. Allah ijabah. Fa innaka minal munzorin. Engkau ya dipanjangkan umurmu sampai hari kiamat. Apakah berarti Allah cinta sama iblis? Tidak sama sekali. Saya bawakan hadis. Roaitallah a lil abdi ma ahabba minad dunya wahua muqimun ala maksiatih fainnama hua istidraj.<br \/>\n(32:00) Apabila Allah kalau kamu melihat Allah memberi kepada seorang hamba apa yang dia minta dari kehidupan dunia sementara ia terus berbuat maksiat itu istidraj. Iya. Apa yang terjadi? Diam aja dia saya jadi kasihan. Tapi gimana lagi harus disampaikan ikhwat Islam saka sean rahimani rahimakumullah jamian. Nah, di sini kita ambil faidah Pak ana min asbabi ijabat dua tulus safar.<br \/>\n(32:38) Di antara sebab ijabah apa doa diijabah yaitu panjangnya safar. Demikian pula haiat asy&#8217;ad akhbar. Karena di sini Rasulullah menyebutkan keadaannya tiga. Panjang safarnya, rambutnya kusut berdebu. Sudah begitu dia menengadahkan tangan ke langit. Ini tiga sebab doa itu diijabah. Biasanya kalau tiga ini terkumpul pasti dijabah sama Allah.<br \/>\n(33:13) Iya. Tapi masalahnya ada penghalangnya ini, Pak. Makanya kalau kita berdoa sama Allah terus kok kita belum melihat doa kita belum diijabah. Coba intropeksi diri. Ada enggak hal yang membuat doa kita terhalang? Karena sesuatu yang membuat doa kita tidak diijabah itu ada tiga atau empat.<br \/>\n(33:46) Yang pertama makanan atau minuman yang haram. Yang kedua, tergesa-gesa minta diijabah. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Yustajabu liahadikum malam ya&#8217;jal.&#8221; Ya, doa seseorang kalian tuh pasti diijabah selama dia tidak tergesa-gesa minta di kabulkan. I. Yang ketiga, orang yang hatinya lalai saat berdoa.<br \/>\n(34:21) Demikian dalam hadis bahwa Allah tidak akan mendengar doa orang yang saat berdoanya itu qolbuhu lahin. Hatinya itu lalai. Antum berdoa pikirannya ke pasar. Antum berdoa tapi mikirnya entah ke mana. Maka yang seperti ini enggak diterima sama Allah doanya. Yang keempat tidak lagi mau mengingkari kemungkaran. Ketika sudah tidak mengingkari kemungkaran, lalu datang azab Allah, saat itulah doa kita tidak akan didengar oleh Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(35:00) Kata rasul wasam, lurunna bil maruf wannail munkar. Yausallahumakum bil bala taduna fala yustajabu lakum. Hendaklah kalian beramar makruf nahi mungkar atau Allah akan ratakan azabnya kepada kalian semuanya. Kemudian kalian berdoa, Allah pun tidak lagi mengijabah doa kalian. Makanya kata sebagian ulama, doa saat datangnya azab telah datang tidak akan didengar oleh Allah.<br \/>\n(35:38) Ikhwatlah Islam saudarakus iman rahimani warahimakumullah jamian. Bab tarkqari qolilis shodqah. Bab jangan meremehkan sedekah yang sedikit. Al Abi Hurairah ana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kana yaakul ya nisaal muslimat la tahqirna jaratun lijaratiha walau firsinatin.<br \/>\n(36:14) Dari Abu Hurairah semoga Allah meridainya bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Wahai para wanita kaum muslimat, janganlah ya seorang tetangga menganggap remeh hadiah kepada tetangganya.&#8221; Walaupun itu hadiah itu berupa apa? Kaki kambing. Firsin itu kuku kambing tuh kan bagian kukunya itu walaupun cuma begitu. Subhanallah.<br \/>\n(36:45) Hadis ini, akhi menunjukkan yaitu larangan menganggap remeh sedekah sekecil apapun. Bahkan jangan menganggap remeh segala macam kebaikan sekecil apapun. Bukan hanya sebatas sedekah. Makanya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Ittaqunar walau bisqi tamr.&#8221; Takutlah kalian dari api neraka walaupun dengan sedekah setengahnya kurma.<br \/>\n(37:21) Siapa di antara antum yang pernah sedekah dengan setengah kurma? Enggak ada. Kalau ada orang minta-minta, antum kasih kurma. Iya. Masyaallah. Tapi subhanallah kata Rasul Sallahu Alaih Wasallam, &#8220;Jangan dianggap remeh itu. Walaupun kecil sedikit itu.&#8221; Kenapa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melarang kita untuk menganggap jangan menganggap remeh, Pak? Karena bisa jadi gara-gara amal yang remeh ini sebab kita masuk surga.<br \/>\n(38:01) Bisa jadi sebagaimana dalam hadis roaitu hina usri bi rajulan yataqabu fil jannah. Aku ketika Isra Mikraj melihat seorang laki-laki yang mondar-mandir di surga hanya karena gara-gara dia menyingkirkan ranting dari jalan. Hanya karena itu dia masuk surga. Subhanallah. Makanya, Akhi ya amalan kebaikan yang kecil jangan diremehkan.<br \/>\n(38:34) Bisa jadi gara-gara itu kita masuk surga. Sebagaimana halnya dosa yang sekecil apapun jangan diremehkan. Karena bisa jadi gara-gara dosa yang kecil itu kita masuk neraka. Kita tidak tahu. Makanya, Akhi, menganggap remeh kebaikan enggak boleh. menganggap remeh dosa pun enggak boleh. Dan menganggap remeh itu memang pintunya setan.<br \/>\n(39:09) Sebagaimana dalam hadis kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Inna setitan qod aisa an yubad biardikum walakin rod lakum mimma tahqiruna min a&#8217;malikum.&#8221; H kata Rasulullah sallallahu kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Setan itu sudah merasa putus asa untuk disembah di negeri kalian itu. Tapi setan rida terhadap apa yang kalian anggap remeh dari perbuatan kalian.<br \/>\n(39:36) &#8221; Orang yang menganggap remeh amal tandanya apa, Pak? Dia akan tinggalkan tuh amal. Ah, cuma sunah ini kok. Akhirnya apa? Dia enggak beramal. Orangnya mengeremeh dosa tandanya dia akan melakukannya tuh, Pak. Ah, cuma dosa kecil ini kok nanti gampang kan. Saya salat juga digugurin sama Allah. Iya, akhirnya menganggap remeh, Pak.<br \/>\n(40:02) Akhirnya dia jatuh kepada perbuatan itu. Nauzubillah nasalullahata wal afiah. Ikhwat Islam, saudaraku seiman. Hadis ini menunjukkan, Pak, bahwa tetangga itu hendaknya saling memberikan hadiah. Karena kata Rasulullah, &#8220;Wahai para wanita muslimat, janganlah tetangga meremehkan hadiah buat tetangganya.<br \/>\n(40:35) &#8221; Jadi kalau kita bertetangga, usahakan Pak kasih hadiah antum masak kuah, banyakin kuahnya. Kata Rasulullah, &#8220;Kasih tetangga. Jangan sampai tetangga cuma nyium baunya yang enak.&#8221; Uh, ya. Antum beli sesuatu bikin kue bolu misalnya, itu masyaallah apa namanya? Harumnya semerbak sampai ke tetangga.<br \/>\n(41:07) Kasih kasih hadiah tetangga juga kalau bisa bikin balunya dua biji, dua loyang, satu buat tetangga. Ikhwat Islam sodqim imanahimani warahimakum jamian bab fi taala yalmizunal mutawiin bab tentang firman Allah Taala yaitu orang-orang yang mengejek orang yang bersedekah an ibni Mas&#8217;udin radhiallahu anhu qal umirna bisodqah qala kunna nuhamil Abuil qun ak faq munafiquun inallahaniunq w faal ak illa ryaan fzalat alladina yalmizunal mutwiina minal mminina fodqat walladina la yajiduna illa juhdahum fasharuna minhum sakhirallah Dari Abu Mas&#8217;ud semoga Allah meridainya. Ia berkata, &#8220;Kami diperintahkan untuk bersedekah.<br \/>\n(42:24) Maka kami pun nuhamil.&#8221; Nuhamil itu artinya ee jadi kuli, Pak. Bawain barang orang tapi dengan cara dengan dibayar. itu namanya nu hamil yaitu jadi kuli. Artinya para sahabat, Pak saking penginnya sedekah, akhirnya mereka pergi ke pasar untuk jadi apa? Kuli. Setelah dikasih upah langsung disedekahkan. Masyaallah.<br \/>\n(42:57) Lalu Abu Aqil datang bersedekah dengan setengah sh setengah shua mut. Ya, satu sok empat mood. Satu mood-nya segini. Iya. Lalu datang orang lain membawa yang lebih banyak dari itu. Apa kata orang munafik ketika melihat Abu Amir sedekahnya cuman setengah so? Allah enggak butuh sama ini. Ketika melihat yang lebih banyak, apa kata orang munafik? Ah, ini riya ini.<br \/>\n(43:36) Iya. Maka Allah turunkan ayatnya tentang orang munafik itu. Alladzina yalmizunal mutawiina minal mukminina fodqat. Yaitu orang-orang yang mengejek, orang-orang yang berusaha untuk bersedekah sunah. Ya, walladzina la yajiduna illa juhdahum. dan mengejek orang-orang yang tidak mendapatkan kecuali kemampuan mereka saja. Faskharuna minhum.<br \/>\n(44:06) Lalu mereka mengejek ya memperolok sakirallahu minhum. Dan Allah pasti memperolok mereka dan bagi mereka azab yang pedih. Ikhwat Islam saudaraku seiman sudah masuk isya. Baik. Hadis ini insyaallah kita jelaskan pada pertemuan yang akan datang. Ikhwatal Islam, untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:01) nabina Muhammadin waa alihi wahi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba&#8217;du ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3499","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:01) nabina Muhammadin waa alihi wahi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba&#8217;du ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:19:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T14:19:55+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:19:54+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:19:55+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:01) nabina Muhammadin waa alihi wahi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh amma ba&#8217;du ikhul islamakumullah para pemisa dan pendengar raja di mana pun anda berada beberapa saat lagi kami akan hadirkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:19:54+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T14:19:55+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"17 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/","name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:19:54+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:19:55+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-44\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3499"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3499"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3499\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3500,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3499\/revisions\/3500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}