{"id":3502,"date":"2025-11-24T21:20:14","date_gmt":"2025-11-24T14:20:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3502"},"modified":"2025-11-24T21:20:15","modified_gmt":"2025-11-24T14:20:15","slug":"ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/","title":{"rendered":"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ynWC072TpMc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:04) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Takutlah kalian dengan api neraka yang membuat dia semakin nyala dan marah adalah manusia dan batu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka. 93.<br \/>\n(00:45) 1 FM, Radio Rojalu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menar cahaya sunah Raja TV Anda para pemirsa TV. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah hamdan kirsir thiban mubarok f kama yuhibbuna waardo ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikana wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh la nabiya baad ikhwat Islamakumullah sahabat raja di mana pun Anda bisa menyimak siaran kami.<br \/>\n(01:40) Alhamdulillah, senang sekali rasanya di kesempatan Senin pagi yang berbahagia ini kita kembali bisa bersua dalam program kajian ilmiah disampaikan oleh guru kita Ustaz Ali Nur Hafidahullah dari Kota Medan, Sumatera Utara. Pembahasan di kesempatan ini masih melanjutkan kitab Aljannatu Wanar menuju negeri abadi dengan tema karakteristik penduduk surga dan nikmatnya.<br \/>\n(02:05) Nah, ikhwat Islamakumullah setelah penyampaian materi silakan nantinya Anda dapat bergabung bersama kami untuk bertanya seputar pembahasan di L telepon 0218236543 atau Anda dapat mempersiapkan pertanyaan melalui pesan singkat di chat WhatsApp di nomor yang sama 0218236543. Berikut kita akan simak penjelasan materi yang akan disampaikan. Selanjutnya kita persilakan kepada al ustaz fal tafadol masyur ustaz nam.<br \/>\n(02:36) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu wasastagfiruh wa naudubillahur anfusinaatialina yahdihillah fah muhtad w yudlil falan tajida lahu wali mursyida. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh alladzi la nabiya ba&#8217;dah. Waqal Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(03:08) Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Waqala azamanq yaadina amanutqulah wauluan sadida yuslih lakumakumfirakumunubakumhaulahuq faza faanim yaquakumziquakum min nafs wahidah wq minha zaujaha walan Muhammadahu alaihi wasallam umur muh wa muhin bidah waatinalah. Kaum muslimin, kaum muslimat, para pemerhati Radio Raja, dan para pemerhati TV RJA dan pendengar Radio Roja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(04:16) Alhamdulillah kembali kita bertemu dalam pengajian ee menuju negeri abadi yang kita ambil dari kitab Aljannatu Wanar. Ee ikhwah, kita sudah bahas terkait dengan pertemuan yang lalu kita sudah bahas terkait dengan ee pembahasan bahwasanya surga itu bukan imbalan bagi amalan seseorang, tapi surga itu merupakan sebab seseorang masuk.<br \/>\n(04:49) Akan tetapi ee amalan itu merupakan sebab seseorang dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa taala ke dalam surga dengan rincian yang sudah kita bahas di kajian yang lalu. Ee kesempatan kali ini kita akan bahas sifatu ahlil jannati wa naimihim fiha. Karakteristik ee penduduk surga dan nikmat surga. yang Allah siapkan untuk si penghuninya.<br \/>\n(05:22) Ahlul jannatil jann akmalin almalin wa ajmaliha. Penduduk surga kelak akan masuk ke surga dalam bentuk fisik yang terindah dan yang paling sempurna dalam bentuk fisik yang paling indah dan yang paling sempurna. Ala surati abihim Adam Adama alaihissalam. yaitu sebagaimana bentuk fisik ee ayah mereka Nabi Adam alaihi salam.<br \/>\n(06:02) Fala akmala wama minka suratil khilqati allatiq khalaqallahu alaiha abal basyari adama. tentunya tidak ada yang lebih sempurna ya, tidak ada yang lebih indah dan yang lebih sempurna melebihi bentuk yang Allah Subhanahu wa taala ciptakan langsung. Dia adalah bentuk kesempurnaan, bentuk fisik ayahanda, ayah manusia yaitu Adam Alaih Salam.<br \/>\n(06:39) Maksud penulis di sini ya tentunya kalau dibanding-bandingkan dengan manusia-manusia yang lain maka maka tidak ada yang bisa menandingi bentuk dan ke indahnya bentuk Nabi Adam Alaihi Salam di mana dia yang langsung Allah Subhanahu wa taala ciptakan. Waqad khalaqahullahu taala biyadih.<br \/>\n(07:07) Sungguh Allah telah menciptakan Nabi Adam langsung dengan tangan Allah Subhanahu wa taala. Faatamma khalqah dan Allah sempurnakan ciptaannya. Wa wa ahsana tafsir taswirohu. Dan Allah perindah Allah perindah eh bentuknya. Wadkulul jannata ala surati adama. KHQ khilqatahu. Dan sesungguhnya seluruh manusia yang masuk ke dalam surga bentuknya, fisiknya persis seperti Nabi Adam Alaih Salam. Waq khalaqahullahu thawalanuk.<br \/>\n(07:57) Allah telah ciptakan Nabi Adam yang tingginya bagaikan pohon kurma. famaan yang tingginya setinggi 60 hastaahhi muslim an abi hurairah radhiallahu anh dalam kitab dalam hadis sahih dalam kitab sahih muslim dari Abi Hurairah radhiallahu anhu an rasulillahi sallallahu alaihi wasallam dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam qala beliau bersabda azza Allah menciptakan Nabi Adam alaihalam sesuai dengan bentuknya tulan, yaitu yang panjangnya sepanjang setinggi, yang tingginya setinggi 60 hasta. Jadi kalau 60 hasta ikhwah ini<br \/>\n(08:53) satu hasta nih dari siku ke ujung jari itu disebut satu hasta. Berarti kalau dia kita anggaplah ini 12 meter ya, 12 meter. Berarti kalau dia situna ziroan 60 hasta dan 1 hasta 1 m berarti lebih kurang 30 m tingginya. Demikian ikhwah lebih kurang lebih kurang 30 m tingginya ya. Kalau seandainya satu tingkat bangunan itu tingkat pertama 3 m, tingkat kedua 3 m, 3 m.<br \/>\n(09:33) ya berarti sekitar 10 ee kalau 30 m ya berarti sekitar 30 tingkat 10 tingkat. Nah, sekitar tinggi 10 tingkat rumah itu ikhwah. Kemudian jannah alati Adam. Semua yang masuk ke surga bentuknya seperti Nabi Adam alaihi salam. tingginya 60 hastaam yazalil khqu yangquusu ba&#8217;duhu ba&#8217;dahu dan makhluk Allah manusia ini terus berubah menjadi semakin kecil semakin kecil berkurang semakin pendek dan demikian seterusnya demikian ikhwah jadi ee dari hadis ini, dari hadis ini Rasulullah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan tegas menyebutkan bahwasanya Nabi Adam itu tingginya 60 hasta. Nah, di ujung hadis ini<br \/>\n(10:30) disebutkan bahwasanya namun kemudian manusia semakin rendah, semakin rendah, semakin rendah sampai sekarang semakin kecil, semakin rendah. Dan berarti kalau semakin rendah nanti ee semakin ke depannya manusia-manusia akan semakin akan semakin rendah dan semakin rendah. Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim.<br \/>\n(10:55) Waana khalquumhiriyu muttafaqun. Apabila bentuk lahiriah mereka itu mirip, fakadalika khquum fi batinihim wahidun. Demikian juga demikian juga bentuk batin mereka juga mirip juga sama. nufusuhumfiah. Jiwa mereka bersih. Wa arwah thhiratun zakiah. Roh mereka suci. Ya. Fafi sahihi muslim. Dalam kitab sahih muslim an Abi Hurairah radhiallahu anh.<br \/>\n(11:43) Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu fil hadisadzi yasifu fi Rasulullah. sallallahu alaihi wasallam duk ahlil jannati. Dan dalam sahih muslim diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiallahu anhu dalam sebuah hadis yang menyebutkan tentang yang di mana Rasulullah menyebutkan tentang ee orang-orang yang masuk ke dalam surga.<br \/>\n(12:09) Waminhum zumratu alladina yadkulunal jannah nuruhum kal badri. Di mana dalam hadis ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memberikan memberikan apa namanya menceritakan kepada kita bagaimana bentuk orang-orang yang masuk surga. Di antaranya itu rombongan yang masuk surga di mana mereka itu bercahaya bagaikan bulan purnama.<br \/>\n(12:34) Jadi rombongan sekian banyak orang masuk ke surga ya rombongan ini orang-orang itu bagaikan bulan purnama bercahaya. Q beliau katakan akhlaquum ala khqi ala khqin rulin wahidin. Akhlak orang yang masuk surga ini seperti akhlak satu orang. Artinya akhlak mereka sama mirip. Sama indahnya, sama baiknya, sama sempurnanya, sama ee mulianya.<br \/>\n(13:08) Ya ala surati abihim naziron fisama yaitu bentuknya seperti bentuk ayah mereka nabi adam yaitu yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit. Menjulang ke langit. Jadi di sini bentuk fisiknya sama, akhlaknya juga, moralnya, akhlaknya, adabnya juga sama, mirip, bentuk lahiriahnya sama, dan akhlak batinnya juga kesucian batinnya, kesucian hatinya, kebersihan rohnya itu juga sama.<br \/>\n(13:52) Demikian ikhwah. Jadi di sini dikatakan seperti satu orang akhlak al khqin wahid. Akhlak mereka itu seperti ee ciptaan satu orang. Begini ikhwan. Ee manusia itu punya satu badan ya, satu badan satu fisik. ada tangan kanan, tangan kiri, ada kepala, ada kaki yang masing-masing bertugas sesuai dengan porsinya masing-masing.<br \/>\n(14:26) Tib ini satu orang kita lihat ya. Kita lihat akhlak yang seperti akhlak satu orang itu bagaimana ikhwah kita lihat tangan kanan, tangan kiri. Tangan kanan ini kita gunakan untuk hal-hal yang sifatnya baik, yang bersih, dan tangan kiri kita gunakan untuk hal-hal yang sifatnya kurang, kurang kurang bersih ataupun kotor. Tapi karena hatinya satu ya, hatinya satu maka tidak pernah tangan kiri ini iri terhadap tangan kanan.<br \/>\n(15:04) Seandainya tangan kanan terluka, tangan kiri yang akan merawat tangan kanan tersebut. Demikian, ikhwah, kepala dengan kaki. Kepala selalu di atas, kaki selalu di bawah. Tak pernah kaki itu iri dengan posisi kepala. Dia tak pernah ada keinginan sekali-sekali, &#8220;Saya mau di atas, ah, kaki suruh di bawah roker mereka tukeran.&#8221; Enggak bisa. Bahkan ketika sakin tidak adanya konflik dalam satu tubuh ini, ketika ketika ee kepala misalnya luka, kakilah yang membawa dia berlari menuju hospital, menuju rumah sakit supaya tu kepala dirawat. Demikian ikhw rahimallahu wyakum. Ya,<br \/>\n(15:52) makanya Rasulullah pernah katakanalul mukminimum jasadil wahid. Permisalan orang mukmin dalam masalah kasih sayang, dalam masalah cinta dan kasih sayang mereka itu seperti satu tubuh. Apabila satu sakit, yang lain sibuk untuk mengurusinya. Demikian, ikhwah. Misalnya tangan kiri terluka parah, tangan kananlah yang menekannya.<br \/>\n(16:24) Sementara ke kepalanya berusaha gimana caranya agar dia tidak berbahaya, tidak membahayakan nyawanya. berpikirlah dia. Akhirnya dia perintahkan untuk kaki kaki berjalan cepat untuk menuju ke rumah sakit. Di rumah sakit ini pun dia akan demikian ikhwah ya. Itu semua bersatu padu, bergotong-royong, bekerja sama untuk kemaslahatan si tangan yang luka. Tidak ada satuun yang berhenti.<br \/>\n(16:50) Kaki enggak akan enggak akan pernah mengatakan, &#8220;Gak, saya enggak mau. Saya tak suka dengan si tangan kiri.&#8221; Enggak pernah, ikhwah. Ya, kepala pun enggak pernah dia bicara. Enggak, enggak, biarkan aja, biarkan dia luka. Demikian, ikhwah. Tidak pernah seperti itu. Itulah kalau satu tubuh. Demikian halnya penduduk surga.<br \/>\n(17:10) Makanya kalau penduduk surga yang paling bawah, dia melihat penduduk surga yang paling atas dia enggak ada ari-iri iri. Karena apa yang dia miliki, dia merasa itu sudah sangat puas. Demikian sudah sangat puas dengan apa yang dia miliki, dengan apa yang Allah Subhanahu wa taala berikan kepadanya. Demikian ikhwah dalam riwayat yang lain, kaqbin rajulin wahid seperti hati satu orang. Makanya tidak ada konflik dalam tubuh kita ini.<br \/>\n(17:40) Yang ada konflik di situ kan kalau ada tubuh yang lain yang punya hati yang lain. Itu baru ya. Itu baru ikhwah. Dia enggak punya konflik dengan yang lain kalau hati mereka sama. Ya, demikian. Makanya enggak ada konflik, saling mengalah. Makanya orang yang saling mencintai ikhwah, dia saling mengalah.<br \/>\n(18:05) Dia mencintai untuk dirinya, untuk temannya sebagaimana yang dia cintai untuk dirinya sendiri. tidak beriman salah seorang kalian hingga dia mencintai dirinya, mencintai untuk saudaranya sebagaimana apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Demikian, ikhwah. Makanya gak ada konflik ya. Kalau seandainya saudaranya itu bersalah, dia sabar dan dia maafkan. Hatinya dua tapi hatinya cocok.<br \/>\n(18:32) Demikian ikhwah ya. Makanya suami istri misalnya ketika cinta mereka bersemi tetap bertaut, mereka pupuk, mereka pelihara cinta mereka. Ya, ikhwah, hati mereka tetap satu. Si suami bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Si istri juga bekerja keras untuk menjaga rumah tangganya, mendidik anak-anaknya. Tidak ada satuun yang komplain.<br \/>\n(18:59) Si suami enggak akan mengatakan, &#8220;Udah, Dek, gantian kita. kamu yang kerja, saya ngurus rumah. Si istri juga enggak pernah mengatakan, &#8220;Sudahlah, abang-abang di rumah saya yang kerja.&#8221; Gak pernah mengatakan begitu. Demikian, ikhwah. Karena hati mereka sudah satu.<br \/>\n(19:15) Bahkan ketika mereka berkomunikasi tanpa kata-kata pun mereka bisa memahami karena hati mereka dekat. Tapi di saat hati mereka jauh, di saat hati mereka jauh apalagi berselisih hanya jarak 1 m, mereka bisa bicara berteriak-teriak. Kenapa? Hati mereka sedang jauh. Makanya suami istri yang sedang bertengkar itu kan teriak-teriak, ikhwah ya. Teriak-teriak.<br \/>\n(19:42) Padahal dia bicara biasa saja didengar oleh lawannya, suaminya. Kenapa dia harus wah wah wah kenapa? Hati mereka jauh sehingga tak tak terasa puas. Harus dia berteriak agar dia merasa puas. Kenapa ikhwah? Hati mereka tidak cocok pada saat itu dan jauh. Bayangkan ikhwah, secara otomatis keluar lisan yang menunjukkan itu merupakan satu hal yang sangat yang jauh sehingga lisan pun akan bereaksi dengan ucapan yang cukup kuat.<br \/>\n(20:16) Dan ikhwah bahkan pikiran akan mengontrol lisan supaya ucapkan kata si apa namanya? Kata si si kepala mengatakan, &#8220;Ucapkan kalimat yang tajam-tajam.&#8221; Ah, demikian ikhwah. Namanya orang yang bertengkar. Itulah dia ikhwah rahimallahu wyakum. Makanya ya kalau orang yang satu tidak pernah anggota badannya itu tidak pernah anggota badannya itu bertengkar karena hati mereka satu.<br \/>\n(20:49) Semakin banyak hati orang-orang, maka harus berusaha untuk bersatu di atas agama Allah Subhanahu wa taala. Ala manh manhaj manhaj wahid di atas manhaj yang satu, akidah yang satu. Ya, dengan demikian dia bisa lebih bisa untuk bersatu ketimbang ketimbang hati mereka berbeda apalagi akidah mereka berbeda. Itu enggak akan mungkin bersatu. Kalaupun kita lihat ikhwan, kita lihat ada orang-orang yang berkumpul sepertinya akrab.<br \/>\n(21:26) Kalau akidah mereka enggak sama, itu gak akan bisa bersatu. Enggak bisa. Karena pada dasarnya, pada dasarnya orang yang bisa bersatu itu adalah yang hatinya satu. Dasar dasar hati yang satu adalah akidah satu, akidahnya sama. Kalau mereka hanya sekedar ngumpul-ngumpul itu belum tentu bersatu.<br \/>\n(21:49) Sebagaimana sabda Nabi, firman Allah Subhanahu wa taala, &#8220;Tahsabuhum jamianum kamu.&#8221; Mereka kira mereka itu bersatu, hati mereka terpecah belah. Ikhwah, demikian hal dengan penduduk surga. Hati mereka satu semua tidak ada tidak ada masalah. Tidak pernah ada masalah. Hati mereka satu. Kemudian hati mereka juga hati yang bersih, suci. Itulah ikhwah rahimullahuikum.<br \/>\n(22:18) Itu tentang itu tentang batinnya. Lahirnya bagaimana, lahiriahnya bagaimana, fisiknya juga bagaimana. Fisiknya juga mirip sebagaimana Nabi Adam Alaih Salam yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit. Wamin ajm suratihim annahum yakununa jurdan murdan kaahum makhulun. Di antara keindahan bentuk fisik penduduk surga adalah annahum yakununa Jordan. Mereka itu di tubuhnya Jordan.<br \/>\n(22:53) Jordan itu la sya&#8217; fil jasad. Tidak ada bulunya. Ya, tidak ada bulunya. Di kaki tak berbulu. Pokoknya yang bulu-bulu gak ada ya. Kecuali rambutlah ikhwah ya. Kecuali rambut. Bukan berarti oh berarti penduduk surga itu botak ya. Kurang indah dia kalau botak ikhwah ya. Jadi bulu-bulunya tak ada. Jurdan murdan yaitu la sya&#8217;ro fil wajh.<br \/>\n(23:20) Di wajahnya itu tidak ada tidak ada tidak ada bulu-bulu yang tumbuh. Berarti ya bersih demikian ikhwan ya. Oh berarti ustaz alisnya juga enggak ada. Intinya ikhwah gimana bulu itu yang tumbuh yang kurang kurang paslah gitu. Demikian ikhwah. Jadi intinya adalah Jordan murdad tubuh mereka tidak ada ditumbuhin bulu-bulu.<br \/>\n(23:46) Kaannahum makhul. Kaannahum makhulun. Seolah mata mereka itu sedang seolah mereka itu sedang memakai celak mata. Jadi mata mereka itu lebat, bulu mata mereka lebat. Itu menunjukkan bahwasanya bukan bulu mata juga enggak ada ya. Bukan bulu mata enggak ada. Makanya sebagian ulama mengatakan yang dikatakan murdan itu jurdan adalah bulu-bulu tubuh. Murdan adalah jenggot.<br \/>\n(24:15) Demikian ikhwah. Tapi bulu-bulu yang membuat indah itu tidak itu tidak hilang seperti alis ya. Alis apalagi bulu mata. Makanya kaahum makhulun. Seolah mereka seperti memakai cela ikhwah. Cela-cela Makkah kalau bahasa orang Medannya celak Makkah yang biasa dipakai di mata ya. Dan seolah mereka bercelak ikhwah.<br \/>\n(24:44) Tentu kan bukan cela yang mereka pakai tapi seolah menunjukkan apa? Bulu mata mereka itu lebat. Demikian ikhwah ya. Makanya kenapa bidadari dikatakan hurun ain? Hurun ain itu kita selalu mengartikan bidadari. Kenapa? Karena ain itu kan yang mata hurun ain ya yang bermata jeli, matanya indah ya. Yang matanya indah. Demikian kita kalau bertemu dengan orang yang pertama kita lihat apa? Matanya, wajahnya yang kita lihat pertama ya. Ketemu dengan orang tentu kita lihat wajah.<br \/>\n(25:21) Dan dari wajah yang pertama kita lihat yang jadi fokus kita mata. Jadi ice contact mata ketemu mata. Demikian ikhwah ya. Kalau sudah kesan di mata itu indah makanya yang lain juga akan terkesan indah. Makanya kalau kita lihat emak-emak sekarang ya emak-emak sekarang itu urusan mata ini aja lailahaillallah itu banyak sekali biaya terkait dengan matanya saja.<br \/>\n(25:54) Matanalah yang dicelak lah, alisnyaalah yang dikeroklah, yang dibuat yang baru yang supaya lebih rapilah. Kemudian belum lagi eyesadow-nya lah, bulu matanya yang di dicekung-kungkanlah atau di diperlebat dengan cara extension-nya dan seterusnya. Belum lagi poles sana. Itu semua hanya sekitar mata. Karena memang kesan pertama itu di mata. Ikhwah rahimaniallahu wyakum. Ya.<br \/>\n(26:14) Jadi dalam masalah ini, Ikhwah rahimallahu wyakum ya, di antara kesempurnaan bentuk fisik penduduk surga yang masuk yang penduduk surga tersebut adalah mereka jurdan murdan kaahum makhulun. Yaitu mereka yang di tubuhnya tidak ada bulu dan di wajahnya juga tidak ada bulu dan mata mereka seperti bercela. abnain seluruh penduduk surga masuk dalam usia yang masih sangat kuat ya masih kuat dan masih muda, yaitu usia 33 tahun ini.<br \/>\n(27:13) Ini usia udah kalau di manusia usia 33 tahun ini usia yang yang kuat-kuatnya ya. Kalau matangnya asanya 40. Demikian ikhwah. Tapi secara fisik 33 itu sudah kuat-kuatnya ikhwah rahimallahu wakum. Wafi musnadi Ahmada. Dalam Musnad Imam Ahmad was Sunan Tirmidzi an Muad ibni Jabalin. Dari Muad bin Jabal an Rasulillahi sallallahu alaihi wasallam. Dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(27:48) Q beliau bersabda, &#8220;Yadulu ahlal jannati jurdan murdan kaahumasin.&#8221; Kata beliau yang masuk surga itu penduduk surga yang di surga itu jurdan-murdan yang tubuh tak berbulu ya dan wajah tak berambut, tak berbulu. Kaahum makhulun. Seolah mereka memakai cela di mata mereka dan usia mereka yaitu 33 tahun. Tib kita lanjutkan.<br \/>\n(28:25) Wa ahlul jannati kama jaa fi hadisi Abi Hurairat radhiallahu anhu fi shahihaini. Demikian juga penduduk surga sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. La yabsukun. di mana mereka tidak meludah. Ya, jadi enggak ada air ludah, air liur tidak ada di dalam tidak tidak ada pada penduduk surga.<br \/>\n(28:55) Jadi mereka enggak pernah meludah apalagi mengeluarkan daha. Tidak pernah ya. Kemudian wala yamtakitun tidak juga punya ingus. Jadi gak ada yang pilek nanti di sana. Gak ada yang ngingusnya keluar masuk lagi. Gak ada apalagi masuk lagi ikhwah. Tidak ada yang pilek ekstrem misalnya sampai meler sendiri. Tak ada. Intinya ludah, dahak, ingus tidak ada dalam surga. Ya.<br \/>\n(29:26) Kemudian apa? Wala yatagwatun. Dan mereka tidak bab, tidak buang air besar. Jadi yang makan makan tapi gak ada bab-nya. Yang makan tidak ada bab-nya. Dalam riwayat yang lain, hasil dari BAB itu ee makanan yang mereka makan gak ada ampasnya, semuanya energi dan di antaranya hasilnya adalah mengeluarkan aroma wangi pada tubuh mereka. Demikian ikhwah bisa begitu. Walika alallahiz.<br \/>\n(29:55) Yang demikian itu enggak susah bagi Allah. Allah bisa saja melakukannya. Demikian ikhwah. Jadi apa penduduk surga tuh enggak punya anus? mungkin ada yang mengatakan gitu ya. Allahuam bisawab. Yang penting Allah Rasulullah katakan dia tidak punya dia tidak bab. Sementara anus itu fungsinya untuk bab ya boleh jadi bisa jadi iya ya bisa jadi iya enggak punya anus bisa jadi punya tapi enggak berfungsi kita enggak tahulah atau ada fungsi lain Allahuam bissawab.<br \/>\n(30:28) Karena dalam masalah gaib seperti ini, Ikhwah, kita tidak bisa banyak berkomentar kecuali seperti yang di yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an dan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Adapun ilzam ya, adapun kalau seandainya enggak bab berarti dia enggak punya anus dong. Nah, demikian ikhwah ya. Allahuam bisawab.<br \/>\n(30:46) Kita tidak bisa menetapkan dan juga tidak bisa menafikan. Demikian ikhwah rahimallahu wyakum. Karena memang tidak ada beritanya ya. Kalau kalau nalar kita karena anus itu fungsinya itu memang untuk BAB. Kalau enggak ada bab ya berarti enggak ada anus, kan gitu. Itu ininya ee ilzamnya kan begitu ya. Ilzamnya begitu. Tapi ikhwah ya kita enggak bisa menetapkan seperti itu ya.<br \/>\n(31:14) Tidak bisa menetapkan seperti itu. Tib kita lanjutkan. Wa ahlul jannatiamun. Penduduk surga enggak tidur. Waq ja hadisi Jabir ibni Abdillahi. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Jabir bin Abdillah wa Abdillah ibni Abi Auffa. Demikian juga disebutkan dalam Abdillah hadis Abdillah bin Abi Auffa anna Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam. Bahwasanya Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Anumu akul maut.<br \/>\n(31:48) &#8221; Tidur itu saudaranya mati. W yanamu ahlil jannah. Dan penduduk surga tidak tidur. Jadi ikhwah rahimallahuakum anumu akhul maut. Tidur itu merupakan saudaranya mati ya. Bahkan bukan saudaranya mati ikhwah. Mati. Allah yang sebutkan mati. Rasulullah yang katakan mati.<br \/>\n(32:13) Dari mana kita tahu Rasulullah yang mengatakan mati? Apa yang kita baca ketika kita mau tidur? Bismikallahumma amutu wa ayah. Kan dengan nama Engkau ya Allah, aku mati dan aku hidup. Tuh mati disebutkan mati. Ketika kita bangun tidur apa yang kita sebutkan? Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Alhamdulilladzi ahyana ba&#8217;dama amatana dan seterusnya. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami. Jadi tidur itu ya mati.<br \/>\n(32:40) Tapi tentunya bukan mati yang hakiki. Karena mati yang hakiki dicabutnya nyawa. dan dia tak balik kembali. Demikian ikhwah, adapun tidur apakah ada pencabutan nyawa? Tak ada di sana pencabutan nyawa. Hanya hanya rohnya rohnya tidak berada di orang tersebut. Demikian kemudian kembali lagi, ya kembali lagi kalau dia sudah sampai ajalnya yang tadinya rohnya sudah keluar itu tidak itu tidak kembali lagi dipegang oleh Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(33:17) Q ilaihal maut. Ya, lebih kurang ayatnya begitu. Dan kami tahan roh yang sudah sampai waktunya ya waktunya meninggal dunia. Itulah ikhwah rahimaniallahu wyakum. Jadi intinya bahwasanya penduduk surga itu tidak ada tidur. Jadi gimana mereka hidup terus on terus masyaallah menyala terus tidak ada pernah padamnya. On terus tidak punya off-nya.<br \/>\n(33:47) Demikian ik terus semangat, energi bekerja apa? Bukan bekerja sih, menikmati, menikmati menikmati terus menikmati kenikmatan demi kenikmatan. Semakin hari semakin bertambah kenikmatannya, semakin hari semakin tambah ganteng orangnya. Semakin semakin semakin terus terus semakin. Demikian ikhwah.<br \/>\n(34:06) Makanya tidak ada yang pernah merasa bosan dengan nikmat surga tersebut. Bedakan dengan kita di dunia. Artinya ketika seorang itu mendapatkan nikmat dunia untuk pertama sekali dia akan merasakan wah ini ini suatu hal yang sangat luar biasa. Tapi lama-kelamaan ketika nikmat itu sudah ada di tangannya dan terus ada, lama-kelamaan dia akan merasakan nikmat tersebut ya biasa-biasa saja.<br \/>\n(34:31) Ada seorang teman ketika dia baru beli mobil ya dan mobilnya itu mobil pick up. Saking senangnya ikhwah pada malam hari dia tidur di mobil itu saking senangnya. Itulah sang senang sekali ikhwan ya. Apakah apa tus-tusan dia tidur dalam mobil? Ya tidak. Sekarang sudah biasa-biasa aja sudah ganti mobil dengan lebih baik lagi.<br \/>\n(34:56) Demikian ikhwah yang pickup tuh gimana? sudah enggak cinta lagi dia karena dia membutuhkannya lebih baik lagi. Itulah ikhwah manusia ya. Itulah manusia. Artinya sesuatu yang sangat berharga ya ketika dia sesuatu itu hari-hari dia dapati itu sudah biasa-biasa saja. Saya berikan contoh ikhwah rahimallahu wyakum seperti seorang apa ya misalnya ini aja deh kita dapat nikmat mudah kita buang air besar bab mudah.<br \/>\n(35:26) Bab ketika Allah tahan dikit saja bab itu, Allahu Akbar itu bisa masuk IGD. Baru barulah tahu betapa nikmatnya kalau buang air besar itu lancar. Tidur kita yang pantang tegeletak tidur. Kadang-kadang sakin mudahnya tidur lagi ngaji juga taklim juga tidur. Demikian ikhwah itu nikmat. Tapi ketika taklim enggak nikmat. Ya demikian ikhwah.<br \/>\n(35:52) Ketika kita tergeletak tidur berbaring langsung tidur tanpa ada kesulitan sedikit pun. Sementara nun di sana ada orang yang susah tidur 3 hari enggak tidur terlihat pucat macam seperti orang stres. Demikian dia merasa tidur itu suatu hal yang sangat berharga. Tidur suatu hal yang sangat berharga bagi mereka. Demikian ikhwah.<br \/>\n(36:16) Mungkin kita semua pernah mengalami, kita semua pernah mengalami yaitu tak bisa tidur di suatu malam. Ya, mungkin ada pernah mengalami itu. Kita biasa tidur jam 11.00, jam 10. Ini sudah jam 12.30 malam. Ya Allah, kok belum juga bisa tidur ya Allah. Terus jalan ber jarum berjalan sampai .30 jam, jam juga belum bisa tidur-tidur. Masyaallah.<br \/>\n(36:42) Itu tersiksa. Demikian ikhwah ya. Ternyata betapa nikmatnya tidur. Betapa nikmatnya tidur. Ternyata nikmat tidur tidak ada dikip, dibersihkan, tidak ada dalam surga. Tidak ada. Enggak. Karena orang yang sedang tidur tidak bisa menikmati. Walaupun tidur itu nikmat, tapi orang yang sedang tertidur tidak bisa menikmati sekitarnya.<br \/>\n(37:11) Maka tidur tidak ada. Demikian ikhwah, penduduk surga tidak ada kata tidur. Demikian ikhwah rahimallahu wyakum. Ya, jadi dalam perkara ini ee di apa namanya? Dalam pembahasan ini pertama ikhwah yaitu sifat ataupun karakteristik penduduk surga yaitu bentuk mereka seperti Nabi Adam Alaih Salam yang tingginya menjulang ke langit 60 hasta ya.<br \/>\n(37:43) 60 hasta dan bentuk fisiknya bentuk fisik yang paling sempurna ya. Bentuk fisik yang paling sempurna. Kemudian tubuh mereka tidak ada bulu. Jadi ketiak di kemaluan, di betis dia gak ada lagi bulu-bulunya. Putih bersih. Masyaallah. Kemudian murdan di wajah juga ya. Tidak ada jenggotnya ya. Bersih, putih. Ah demikian ikhwah.<br \/>\n(38:13) Kemudian apalagi yaitu dalam usia yang sangat kuat dia ada 33 33 tahun dan dia tidak meludah, tidak ada, tidak beringus dan tidak buang air besar ya. Dan tidak buang air besar dan satu lagi tidak tidur. Jadi mereka tetap energik sepanjang waktu. energik sepanjang waktu dia menikmati kenikmatan surga yang Allah anugerahkan kepada mereka.<br \/>\n(38:44) Tilkal jannatullati urumuha bima kuntum tamalun. Itulah surga yang kalian dapati dikarenakan sebab dari amalan saleh yang kalian lakukan. Di dalam surga tidak ada tidak ada lagi keletihan, tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi kekhawatiran. Dalam surga hanya ada nikmat, nikmat, nikmat. Setelah nikmat akan mendapat nikmat.<br \/>\n(39:11) Setelah nikmat akan mendapat nikmat setelah nikmat dapat lagi nikmat. Dan nikmat berikutnya yang di mana nikmat yang kedua itu lebih dibandingkan nikmat yang pertama, nikmat yang ketiga lebih dibandingkan nikmat yang kedua. Terus meningkat, meningkat, meningkat, meningkat dengan tanpa ada batas sedikit pun. Dan itu di bawah kuasa Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(39:33) Masyaallah muslimin azallahu wyakum tib. Ya, sekarang kita masuk pada pembahasan yaitu bagaimana dengan nikmat surga. Kalau tadi kan masih orangnya ya, tadi masih orangnya ya. Saya ulangi. Orangnya tingginya 60 hasta kemudian tidak ada bulunya. Bulu matanya lebat<br \/>\n(40:02) ya. Bulu matanya lebat. Kemudian ee tidak ada ee tidak ada meludah, tidak ada ludah, tidak ada ingus dan juga tidak bab kemudian mereka tidak tidur. Itu terkait pembahasan fisik penduduk surga yang masuk surga. Satu lagi usianya 33 tahun. Wahum abna wahum abna salasin. Mereka usianya usia 33 tahun. Tib itu orangnya. Sekarang bagaimana nikmat yang Allah siapkan untuk orang ini? Bagaimana pula nikmat yang Allah siapkan untuk para penduduk-penduduk surga ini? Almabhatul awal pembahasan pertama.<br \/>\n(40:44) Fadlu naimil jannati alidun. Keistimewaan nikmat surga jika dibandingkan dengan nikmat dunia. Aduh, kalau nikmat dunia ikhwah terlalu jauh jika dibanding-bandingkan dengan nikmat surga. Terlalu jauh. Tidak bisa dibandingkan. Ya, bisa dibanding-bandingkan. Istilah begini, Ikhwah.<br \/>\n(41:09) Kalau kita membanding-bandingkan, ya kita mending-bandingkan misalnya si fulan, Zaid dengan Ahmad misalnya. Ya, maka kita bisa katakan, &#8220;Wah, masyaallah, Zaid lebih tampan dibandingkan Ahmad atau Ahmad lebih tampan dibandingkan Zaid. Insyaallah akan bisa.&#8221; Atau Aisyah lebih lebih ee cantik, lebih menawan dibandingkan Fatimah misalnya atau Fatimah lebih menawan dibandingkan Aisyah.<br \/>\n(41:42) Itu tafdil artinya lebih karunia lebih dan itu suatu hal yang wajar. Tapi kalau saya katakan, &#8220;Masyaallah, antum Zaid, antum lebih ganteng dibandingkan monyet.&#8221; Itu gimana kira-kira? Apakah benar enggak bahwasanya si Zaid itu lebih ganteng dibandingkan monyet? Betul sekali, tapi pembandingnya ini jangan monyet. Dia menjadi terhina. Zaidnya menjadi terhina gara-gara pembandingan ini. Demikian, Ikhwah. Jadi itulah dia.<br \/>\n(42:11) Jadi sebenarnya membandingkan nikmat surga dengan nikmat dunia itu kalau bahasa sekarang tidak apple tole gituah kira-kira. Demikian ikhwah ya enggak enggak terlalu jauh pembandingannya. Tapi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, Allah Subhanahu wa taala juga demikian. Selalu menyebutkan nikmat nikmat dunia itu dan membarengkan menyebutkan setiap menyebutkan nikmat dunia disebutkan nikmat akhirat.<br \/>\n(42:38) supaya manusia itu gak lupa. Ya, kenapa demikian? Karena masalahnya nikmat surga itu nanti kita dapati, bukan sekarang. Itulah yang menjadi kendala. Maka sebagian orang ada yang enggak mempedulikan nikmat surga. Ini sudah berkali-kali Allah Subhanahu wa taala sebutkan dalam ayat ini dunia ini, ini akhirat begini, kalau akhirat begini. Ini dunia ini surga, surga tuh begini.<br \/>\n(43:06) sudah berkali-kali disebutkan baik dalam ayat maupun dalam banyak hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi permasalahannya adalah pembandingnya dia nanti. Ini dia ini yang menjadi kendala ya. Banyak sebagian sebagian orang demikian sudahlah yang ada sajalah begitu ikhwah ya. Yang ada sajalah. Makanya ini sangat kuat dengan keimanan sangat terkait kuat dengan keimanan.<br \/>\n(43:30) iman dia kuat maka dia dia akan tunggu itu yang nanti demikian ikhwah dia akan perjuangkan untuk mendapatkan yang nanti itu. Ya bahasa kita begini ikhwah kalau kalau kita katakan kita katakan kepada teman ini saya ada duit Rp100.000 ya ini duit Rp100.000 ini untukmu.<br \/>\n(43:57) Tapi kalau kamu mau menunggu, besok saya punya duit R1 juta untukmu. Tapi yang duit Rp100.000 Ibu tidak diambil. Itu kan tergantung dengan dia percaya dengan saya atau tidak. Kalau seandainya dia enggak percaya dengan saya, ah sejuta yang sekarang aja lah. Entah iya dak kamu jangan-jangan kamu bohong. Yang Rp100.000 sajalah yang saya ambil. Demikian ikhwah.<br \/>\n(44:15) Kenapa? Dia enggak beriman dengan saya. Dia enggak yakin dengan saya. Tapi kalau orangnya yakin dengan saya maka ya sudahah besok saja sejuta ketimbang Rp100.000. Karena sejuta itu jauh lebih 10 kali lipat bedanya. Kenapa dia mau menunggu besok? Karena dia percaya dengan saya, dia yakin dengan omongan saya. Makanya ikhwah rahimallahu wyakum, kuatnya orang untuk meraih surga itu sangat kuat sekali. Terkait dengan terkait kuat dengan keyakinan dia dengan Allah dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(44:46) Semakin kuat keimanannya terhadap Allah, semakin kuat keimanan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka harapan dia juga semakin kuat, keinginan dia, cita-citanya juga semakin kuat untuk mendapat surganya Allah Subhanahu wa taala. Tapi kalau seandainya keimanan dia kepada Allah lemah, ya. Keimanan kepada Rasulullah lemah.<br \/>\n(45:12) Allah sebutkan membandingkan antara surga dan surga dengan ee nikmat surga dengan nikmat dunia. Rasulullah juga sebutkan dalam hadis-hadisnya tentang perbandingan antara nikmat dunia dan nikmat surga. Maka bagi mereka karena imannya lemah sudahlah yang ada sajalah. Sehingga mereka memilih mata dunya, lebih memilih perhiasan dunia.<br \/>\n(45:34) Ikhwan rahimahullah, kita baca saja ya. Mata dunya waqiun mashudun. Ini dia perhiasan dunia itu jelas ada depan mata. Kira-kira perhiasan dunia jelas ada depan mata. Sementara nikmat surga itu di alam gaib masih di masih gaib enggak kelihatan. Wa mauud dan dijanjikan. Ya, nikmat dunia itu jelas nampak. Nikmat surga gaib nanti di masih dijanjikan.<br \/>\n(46:11) Fanasu yataaruna bima yarun yusahidun. Sesungguhnya manusia itu lebih terpengaruh dengan apa yang ada di hadapan mereka. Apa yang mereka saksikan dan apa yang mereka lihat. Dan berat hati mereka untuk meninggalkan apa yang mereka miliki, apa yang ada di hadapan mereka demi mendapatkan apa yang nanti.<br \/>\n(46:47) Masyaallah berat itu, Ikhwah ya. Seperti yang kita katakan tadi misalnya 100.000 sudah dapat nih, tinggal ambil. Sementara saya menjanjikan 1 juta atau 2 juta atau 3 juta bagi orang yang yakin dengan saya. Udah, Ustaz, besok saya ini sudah saya enggak ambil yang 100, saya mau ambil yang besok. Ini kan ikhwah ya. Tapi kan Allah Subhanahu wa taala innallah yliful miat. Allah itu tidak akan pernah mengingkari janjinya.<br \/>\n(47:18) Demikian ik. Makanya kuat sekali surga ini sangat kuat sekali kaitannya dengan keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Makanya berat bagi seseorang itu meninggalkan apa yang sudah ada di hadapannya untuk mendapatkan yang nanti. Untuk mendapatkan yang nanti. Waduh ini kalau enggak imannya kuat-kuat gak bisa ikhwah. Berat hati mereka.<br \/>\n(47:44) maidihim yanalamil. Sungguh berat hati mereka untuk meninggalkan apa yang di hadapan mereka, meninggalkan apa yang ada di hadapan mereka demi untuk mendapatkan apa yang nanti yang mereka dapati di zaman yang akan datang. Faqaifa kanal maudalu bail maut. Apalagi kalau janjinya itu harus mati dulu. Allahu Akbar.<br \/>\n(48:11) Kamu dapat surga tapi mati dulu. Lailahaillallah. Ini lebih berat lagi, ikhwah. Ya, mungkin para ikhwah masih ingat ketika kita bicara tentang ee kajian kajian kita ee perjalanan setelah kematian ya, perjalanan setelah kematian. Di mana dalam masalah ini, Ikhwah rahimani Allah wayakum ee apa namanya ya? Allahu Akbar.<br \/>\n(48:45) Tib kita kembali saja ya di sinifa ini ingat lagi yaitu ketika kita bicara masalah peran setelah kematian itu ada sebuah hadis di mana Rasulullah mengatakan man ahabba liqa Allah ahabballah liqaah waman kari liqa Allah kari Allah liqaah barang siapa yang suka bertemu dengan Allah maka Allah pun suka bertemu dengan dia.<br \/>\n(49:11) dia. Dan barang siapa yang tak suka bertemu dengan Allah, Allah pun benci bertemu dengan dia. Lantas Aisyah radhiallahu an mengatakan, &#8220;Hal minna laakrahul maut?&#8221; Apakah ada di antara kita yang tidak membenci kematian? Itu Aisyah loh yang bilang radhiallahu anha. Jadi, ikhwah di sini, Aisyah itu paham.<br \/>\n(49:40) Paham kenapa? Karena barang siapa yang ingin bertemu dengan Allah, Allah suka bertemu dengan dia, berarti dia harus meninggal dulu baru bertemu dengan Allah. Kalau dia ingin bertemu dengan Allah, dia harus meninggal. Berarti bukan hanya dia ingin bertemu dengan Allah, dia berarti juga ingin harus ingin mati. Karena melalui kematianlah baru dia bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala. Enggak bisa dia bertemu dengan Allah dalam keadaan hidup.<br \/>\n(50:04) Makanya Aisyah langsung responnya, &#8220;Siapa di antara kita yang suka dengan kematian ya Rasulullah?&#8221; Demikian kata Rasulullah, &#8220;Laisa kalalik.&#8221; Enggak begitu maksudnya ya. Apabila seorang itu berada di ambang kematian, maka datanglah malaikal maut mengatakan bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mencintai dia dan memberi keridaan pada dia setelah kematian ini, setelah meninggal.<br \/>\n(50:32) Maka tidak ada fama ahabba ilaihi amamahu minal maut. Eh tidak ada satupun perkara yang paling dia sukai selain kematian. Kenapa? Karena dia tahu setelah mati dapat rida, setelah mati dia dapat keampunan. Demikian kita pun ikhwah kalau ada yang menjamin setelah kalau kita meninggal dapat surga, ngapain kita hidup sekarang, meninggal sekarang itu enggak ada masalah.<br \/>\n(50:57) Kenapa kita enggak berani meninggal sekarang, mati sekarang? Karena kita merasa belum siap untuk menghadapi seberang kematian itu. Kita belum siap. Kita belum punya banyak bekal untuk berada di alam barzakh. Kita khawatir, kita sanggup enggak menjawab tiga pertanyaan yang di yang diberikan oleh malaikat nungkar dan nangkir itu? Demikian ikhwah.<br \/>\n(51:16) Tapi kalau ada yang jamin masuk surga, saya kira semua kaum muslimin kalau dijamin mati masuk surga, semua juga mau mati. Sekarang pun mau dan berikan ikhwah ya. Khawatir kalau kalau enggak ada jaminan khawatir dan demikian ikhwah ya. Rahimallahu waakum. Jadi kata Rasulullah orang itu orang yang sudah diberi berita bahwasanya diberi busyra, diberi kabar gembira. Kalau dia meninggal dia akan masuk surga.<br \/>\n(51:40) Maka tidak ada satu perkara pun yang lebih disukai selain selain meninggal karena dia akan bertemu dengan Allah juga. Adapun orang-orang kafir, orang mujrim, para pelaku dosa apabila dia mau meninggal akan datang kepadanya memberitahu bahwasanya kamu akan mendapatkan kebencian dan kemurkaan Allah, maka tidak ada satuun yang paling dia benci selain kematian.<br \/>\n(52:06) Maka Allah pun tak suka bertemu dengan dia. Itulah makna daripada man ahabba liqa Allah, ahabballah liqaah. Waman kari liqa Allah, karallah liqaah. Barang siapa yang suka bertemu dengan Allah, Allah pun suka bertemu dengan dia. Dan barang siapa yang tak suka bertemu dengan Allah, benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun benci bertemu dengan Dia. Demikian, ikhwah.<br \/>\n(52:29) Jadi, di sini masalahnya artinya kita membahas terkait dengan kebencian tak suka terhadap kematian. Bukan tak sebenarnya bukan tak suka bertemu dengan Allah, tapi harus mati dulu ini masalahnya ya. Nah, kemudian di sini pembanding antara antara dunia dan dan surga yang sangat luar biasa. Tapi sangat luar biasa itu kan masih enggak nampak.<br \/>\n(52:52) Sementara harta dunia nampak di hadapan kita. Demikian, Ikhwan. Oleh karena itu yang nampak itu lebih banyak berpengaruh terhadap seseorang ketimbang yang enggak nampak. Apalagi untuk janji yang enggak nampak ini mati dulu. Ikhwah semakin orang tak terpengaruh. Maka tadi sebanyak kita katakan sudah beberapa kali kita katakan bahwasanya keyakinan seorang untuk ke surga, kuatnya seorang ke surga itu terkait dengan sejauh mana keimanan dia kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(53:20) Ikhwah, sepertinya waktu kita sudah sangat terbatas. Ee insyaallah nanti kita bahas lagi, kita sambung lagi pembahasan tentang fadlu naimil jannah ala mata dunya. Keistimewaan, keutamaan, kelebihan. Nikmat surga dibandingkan dengan nikmat dunia. Demikian semoga apa yang kita bahas bermanfaat wastagfirullah wakum muslimin innahu gfurahim nam nam.<br \/>\n(53:49) Terima kasih jazakallahu khairan barakallahu fikum ustaz atas penyampaian materi yang sangat bermanfaat di kesempatan ini dengan tema karakteristik penduduk surga dan nikmatnya. Nah, ikhwat Islamakumullah. Silakan bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung dilan telepon 0218236543 atau pertanyaan melalui pesan singkat di nomor yang sama.<br \/>\n(54:13) Baik, kita bacakan pertanyaan dari pesan singkat di kesempatan ini dari seorang akhwat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ustaz, izin bertanya, apakah di surga kita akan sebaya dengan orang tua dan leluhur kita? Apakah kita tetap memanggil mereka ayah dan ibu? Dan apakah kita bisa juga bermanja-manja lagi dengan mereka seperti di dunia? Mohon nasihatnya, Ustaz. Jazakallahu khairan.<br \/>\n(54:45) Bab. Barakallahu fik. Ee ikhwah azallahu waakum. Apakah kita sama usianya nanti dengan orang tua kita? Ya, sama. Kita orang tua kita, nenek kita, leluhur kita sama. Mungkin para pemirsa masih ingat enggak ketika Rasulullah didatangi oleh nenek-nenek dan dia minta Rasulullah supaya didoakan masuk surga? Ini salah satu candanya Rasulullah.<br \/>\n(55:13) Lantas Rasulullah mengatakan, &#8220;Nek, nenek-nenek enggak masuk surga. Menangis tuh nenek ya.&#8221; Si nenek nangis. Jadi akhirnya enggak enggak begitu, Nek. Enggak begitu. Ini bahasa kita lah, ya. Enggak begitu, Nek. Maksudnya enggak ada yang masuk surga itu nenek-nenek. Kalau nenek-nenek nanti masuk sur yang si nenek-nenek semasa di dunia nanti di surga dia enggak nenek-nenek. Dia kembali kepada usia 33 tahun.<br \/>\n(55:39) Seperti hadis yang kita sebutkan. Wahum abna salati wasalasin. Mereka berusia 33 tahun. Jadi anak, cucu, cicit, ee orang tua, ee nenek, kakek, buyut, apalagi dan seterusnya itu usianya sama. Usianya semuanya sama. Tib itu pertama. Kedua, terus panggilnya apa? Seperti di dunia. Si anak manggil manggil orang tuanya.<br \/>\n(56:09) Misa kalau biasa Abi manggilnya Abi begitu. Apakah sama panggilannya di dunia? Allahuam. Enggak disebutkan juga panggilannya. Panggilan-panggilan di dunia di akhirat itu nanti apa. Allahuam. Karena ikhwah mengenai panggilan-panggilan ini ya panggilan-panggilan ini kan di masing-masing daerah beda-beda ya. Masing-masing daerah beda-beda.<br \/>\n(56:35) Kalau di kita suami ee istri manggil suaminya itu kalau seandainya dia belum punya anak ya mungkin panggilnya papa. Mama, papi, mami, abi, umi, gitu kan, bapak, ayah, mamak, apalagi ya ee buya dan seterusnya kan beda-beda tuh. Tapi ketika dia sudah punya anak itu bisa berbeda ya.<br \/>\n(57:01) Kalau dia belum punya anak mungkin panggilannya ya ee Mas, Bang gitu kan. Kalau dia sudah punya anak nanti bisa beda. Dia ingin di Indonesia dia ingin memanggil anaknya sebagaimana dia memanggil suaminya. Jadi kalau dia ingin anak-anik memanggil Abi maka si istri berubah. Yang tadinya panggil Mas, panggil bang, panggil UA, panggil Ajo, akhirnya berubah menjadi Abi, berubah jadi bapak.<br \/>\n(57:27) Si istri manggil bapak kepada suaminya, padahal suaminya bukan bapaknya. Demikian. Ah, kalau di Arab beda lagi. Si istri manggil manggil manggil manggil suaminya pakai kuniah. Kalau anaknya Ahmad ya Abu Ahmad. Demikian ikhwah. Suami kadang-kadang manggil nama istri kadang-kadang panggil kuniahnya. Demikian beda-beda ikhwah ya. Jadi yang mana kalau di surga? Allahuam bisawab.<br \/>\n(57:51) Apa panggilan nanti? Saya juga belum enggak tahu, belum pernah baca apalah panggilan anak ke orang tuanya di surga. atau antara suami istri apakah panggilnya kalau semasa dia di dunia panggilannya yang bebai honey misalnya begitu kan ya. Jadi apakah sama nanti panggilannya Allahuam bisawab? Ya Allahuam bisawab. Gini aja dah yang penting masuk surga aja kita dulu. Nanti kita lihat tuh panggilannya apa ya.<br \/>\n(58:19) Kecuali kalau ada dalilnya ya yang menyebutkan apalah panggilannya kira-kira. Allahuam. Nam. Terima kasih. Jazakallah fu khairan. Barakallahu fikum ustaz atas jawaban yang disampaikan. Semoga bermanfaat untuk penanya dan kita semua yang menyimak. Pertanyaan berikutnya dari Pak Arif Dedi Sentik di Bekasi.<br \/>\n(58:40) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Ada dua pertanyaan. Pertanyaan yang pertama tadi dikatakan penduduk surga tidak beringus, tidak meludah, dan tidak bab juga. Berarti kalau untuk buang air kecil apakah masih, Ustaz? Dan pertanyaan yang kedua, apakah di surga kita bisa melihat wajah Allah setiap saat atau hanya saat tertentu saja? Mohon ustaz.<br \/>\n(59:08) Jazakallahu khairan. Namam dalam riwayat memang tidak wabul. Dia juga tidak buang air kecil ya. Dia tidak buang tidak buang air kecil. Jadi sesuatu yang sifatnya kotoran itu tidak keluar dari tidak keluar dari tubuh penduduk surga. Jadi wala yabasuquun wala e ya wala yatagwatun. Dia tidak buang air kecil, buang air besar dan juga wala yabulun dia juga tidak buang air kecil.<br \/>\n(59:42) Jadi penduduk surga tidak buang air kecil, tidak buang air tidak abe-abe, tidak juga tidak pipis, dia juga tidak buang buang air kecil. Kemudian ikhw rahimallahu wyakum yang kedua tadi apa, akhi? Yang kedua tadi apa? Ya, pertanyaan yang kedua, apakah di surga kita bisa melihat wajah Allah setiap saat, Ustaz, atau hanya saat tertentu saja? Syukran. I azallahu wyakum.<br \/>\n(1:00:10) Allah Subhanahu wa taala firman, lilladzina amanu lilladina ahsanul husna wa ziyadah. Dan untuk orang-orang yang telah berbuat baik husna akan mendapat balasan husna. Husna itu maknanya surga waziadah dan tambahannya. Banyak para mufasir menyebutkan wazziadah yang dimaksud adalah melihat wajahnya Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:00:32) Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis ketika penduduk surga itu sedang sibuk dengan menikmati surga yang menikmati nikmat-nikmat surga. Sedang sibuk tapi sedang menikmati sibuknya ya. Sedang sibuk menikmati surga. Kemudian Allah Subhanahu wa taala bertanya apakah ada nikmatku yang masih kurang? Lantas mereka mengatakan, &#8220;Ya Allah, bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari neraka? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami dan memberikan kami nikmat surga?&#8221; Penduduk surga itu mengatakan tidak ada lagi nikmat yang kurang. Semua sudah melimpah, semua sudah berlebih-lebih.<br \/>\n(1:01:10) Kata Allah, &#8220;Ada yang belum.&#8221; Lantas Allah Subhanahu wa taala menyingkapkan wajahnya. Maka tidak ada nikmat yang lebih nikmat melain melainkan melebihi menikmati melihat wajah Allah Subhanahu wa taala. Allah buka tabir cahayanya. Demikian sampai penduduk surga itu lupa dengan semua dengan semua ee nikmat-nikmat surga itu ketika melihat wajahnya Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(1:01:44) Lantas apakah sejak saat itu mereka akan melihat terus ataukah setelah itu ditutup kembali wajah Allah itu? Allahuam ya. Allahuam. Kalau kita logikakan ini ya logikakannya berarti kalau sebentar itu saja ditutup kembali berkurang dong nikmatnya. Sementara kaidah nikmat surga itu bertambah dan bertambah ya. Allahuam bissawab.<br \/>\n(1:02:12) Apakah telah itu tutup kembali atau tidak? Ya, kita perlu pembahasan lagi, perlu penelitian lagi tentang masalah ini. Seandainya seandainya ada dasar yang menyebutkan bahwasanya sejak dan kemudian Allah menutup kembali wajahnya, ya, maka kita katakan begitu. Tapi kalau enggak ya, maka kita katakan Allah tetap menyingkap wajahnya. Yang mana ini? Allahuam bisawab. La adri demikian ya. Allahuam.<br \/>\n(1:02:35) Ikhwah rahimahullah. sepertinya waktu kita sudah habis ya. Demikian para pemirsa pemerhati Raja TV dan pendengar radio Raja di mana pun Anda berada. Semoga pembahasan ini menambah keyakinan kita ikhwah. Menambah keyakinan kita tentang surga itu. Sehingga dengan demikian kita bisa lebih mengutamakan surga dalam kehidupan dunia kita ketimbang nikmat-nikmat sesaat yang kita dapati semasa di dunia. Jangan sampai kita mengorbankan akhirat kita.<br \/>\n(1:03:06) hanya untuk nikmat yang sesaat, hanya untuk mataud dunya, hanya untuk kenikmatan dunia yang sangat sebentar sekali jika kita banding-bandingkan dengan kekalnya nikmat yang Allah siapkan di dalam surga. Semoga Allah subhanahu wa taala memberikan kita istikamah, keimanan, kekuatan, hidayah ya sehingga kita tetap berupaya, tetap istikamah dalam melaksanakan amal-amal saleh.<br \/>\n(1:03:39) Dan semoga Allah Subhanahu wa taala memberikan rahmat pada kita dan memasukkan kita semuanya ke dalam surganya kelak. Demikian lebih dalam kurang mohon maaf astag. Terima kasih. Jazakallahu khairan, barakallahu fikum ustaz atas penyampaian materi dan jawaban-jawaban yang telah disampaikan. Demikian ikhwat Islamakumullah program kajian ilmiah dalam pembahasan rutin kitab aljannatu wanar menuju negeri abadi dengan tema karakteristik penduduk surga dan nikmatnya.<br \/>\n(1:04:11) Semoga apa yang telah kita simak dengarkan dapat menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat dan memotivasi kita semua untuk senantiasa beramal saleh. Semoga Allah subhanahu wa taala selalu memberikan kemudahan bagi kita dalam meraih hidayah dan petunjuknya. Amin ya rabbal alamin. Kami yang bertugas pamit undur diri. Mohon maaf atas segala kekhilafan. Terima kasih.<br \/>\n(1:04:34) Jazakumullahu khairon barakallah fikum atas kebersamaan Anda. Wabillahi taufik wal hidayah. Subhanaka Allahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roj Bogor 100.1 FM. Yeah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:04) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Takutlah kalian dengan api neraka yang membuat dia semakin nyala dan marah adalah manusia dan batu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3502","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:04) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Takutlah kalian dengan api neraka yang membuat dia semakin nyala dan marah adalah manusia dan batu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:20:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T14:20:15+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"32 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/\",\"name\":\"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:20:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:20:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi &#8211; YouTube Transcript: (00:04) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Takutlah kalian dengan api neraka yang membuat dia semakin nyala dan marah adalah manusia dan batu untuk orang-orang yang kafir. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:20:14+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T14:20:15+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"32 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/","name":"Ustadz Ali Nur - Menuju Negeri Abadi - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:20:14+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:20:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-ali-nur-menuju-negeri-abadi-28\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Ali Nur &#8211; Menuju Negeri Abadi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3502"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3503,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3502\/revisions\/3503"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}