{"id":3505,"date":"2025-11-24T21:20:42","date_gmt":"2025-11-24T14:20:42","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3505"},"modified":"2025-11-24T21:20:42","modified_gmt":"2025-11-24T14:20:42","slug":"ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/","title":{"rendered":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/rMA1QtNq8kA?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) [Musik] cahaya sunahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta&#8217;inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba&#8217;d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(01:04) Pada kesempatan pagi menjelang siang yang berbahagia kali ini hari Senin tanggal 5 Jumadal Ula 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 2025 kita masih kembali diberi kekuatan kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin Senin pagi di Masjid Manarul Ilmi di komplek Pondok Pesantren Tunas Ilmu di Desa Gedung Wuluh, Purbalingga ini.<br \/>\n(01:58) Kita berharap semoga Allah subhanahu wa taala berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala. Allahum amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.<br \/>\n(02:45) Para hadirin dan hadirat sekalian serta para pendengar dan pemirsa rahimani warahimakumullah. Alhamdulillah kembali kita mengkaji tema fikih doa dan zikir. Kali ini kita memasuki pembahasan serial nomor 242 mengangkat tema disyariatkannya itidal. Kenapa kok kita membahas i&#8217;tidal? Karena kita sudah selesai membahas tentang rukuk. Sudah selesai membahas tentang nopo Bu? Rukuk.<br \/>\n(03:29) Habis rukuk nopo? Habis rukuk nopo ik&#8217;tal? Ya. Habis rukuk ik&#8217;tal. Ya. Jadi pembahasan kita hari ini tentang i&#8217;tidal. Dan kita mudah-mudahan akan semakin yakin, semakin maksimal di dalam menjalankan salat yang selama ini sudah kita kerjakan. Kenapa kok kita harus terus meningkatkan pengetahuan kita tentang ibadah yang mulia ini? Karena salat itu adalah amal yang bakalan dihisab pertama kali.<br \/>\n(04:24) Jadi nanti di hari kiamat Allah azza wa jalla akan menghisab amalan kita semuanya. Dan yang pertama kali akan dihisab adalah nopo? Salat. Seandainya salatnya baik, maka semua amalan insyaallah juga akan apao? Baik. Kebalikannya nopo? Kalau salatnya gak baik, enggak benar, maka sisa semua amalannya pun akan gak baik dan gak benar. Sehingga menyempurnakan salat itu harus menjadi prioritas. utama kita.<br \/>\n(05:05) [Musik] Ada orang rajin sedekah, ada orang rajin umrah, ada orang rajin nopo malih puasa. Bagus no mboten bagus. Tapi kalau ada orang cuma rajin umroh tapi mboten salat, pripun? [Musik] Ada orang rajin puasa Senin Kamis tapi mboten salat atau salate asal asalan mengerikan itu nanti di hari kiamat. Karena bisa-bisa nanti amalan-amalan yang sudah dikerjakan tadi itu bisa-bisa nanti enggak dianggap karena salatnya tidak diker kerjakan atau dikerjakan tapi cuma asal asalan.<br \/>\n(06:02) Jadi meluangkan waktu untuk mempelajari salat, membenarkan salat, menyempurnakan salat itu harus kita jadikan prioritas di dalam kehidupan kita. Yang akan kita bahas hari ini adalah iktidal. Iktidal itu apa? Iktidal itu adalah berdiri tegak setelah rukuk, sebelum nopo? sujud.<br \/>\n(06:34) Jadi, i&#8217;tidal itu adalah begitu kita rukuk. Setelah rukuk kita mengucapkan samiallahu liman hamidah. Terus kita berdiri. Berdiri tegak. Itulah namanya nopo? Iktidal. Dan iktidal ini adalah merupakan rukun. Merupakan rukun. Jadi, dalam salat itu ada rukun, ada wajib, ada nopo? Sunah ada nopo? Rukun, wajib, sunah.<br \/>\n(07:13) Yang levelnya paling harus dikerjakan itu yang mana? Rukun. Kalau yang sunah enggak dikerjakan, salatnya tetap sah. Kalau yang wajib ditinggalkan karena lupa, masih bisa diganti dengan apao? Di akhir salat noo sujud sahwi. Contoh ada orang lupa enggak duduk tasyahud awal ya itu masih bisa digantiin pakai nopo? sujud sahwi. Tapi kalau rukun itu enggak bisa digantiin.<br \/>\n(07:54) Sehingga kalau ada orang meninggalkan rukun, walaupun dia itu lupa, maka salatnya tidak sah. Jadi, ada orang misalnya ber rukuk langsung langsung sujud. Bar rukuk langsung sujud enggak pakai nopo? Iktidal salatnya sah. Mboten mboten? Itu berarti enggak ada toleransi. Gak ada toleransi kecuali dalam satu kondisi nopo? Orang ini punya uzur. Punya uzur, punya halangan syar&#8217;i.<br \/>\n(08:39) Apa contohnya? Sakit. Sakit apa? Lara untuk sakit. Nopo? Sakit yang membuat dia tidak bisa berdiri. berarti dia hanya bisa berbaring. Ah, itu baru boleh tidak iktidal. Kenapa? Karena dia tidak mampu untuk melakukan itu. Ya, berarti sakit parah nopo mboten sakit parah. Berarti nek sakite kur sakit panu berarti wajib iktidal mboten? Wajib.<br \/>\n(09:31) Ini sakit yang sampai bikin orang enggak bisa bangkit ya. Misal nauzubillah minzalik dia itu ee stroke sehingga enggak bisa bergerak ya atau dia baru dioperasi yang membuat dia tidak boleh bergerak sedikit pun. Ada itu ya. Contohnya ada orang operasi liver. Operasi nopo? Liver. Jadi livernya diganti, dicangkok dengan liver baru. Itu kan operasi super besar.<br \/>\n(10:12) Itu setelah operasi enggak boleh bergerak sekian puluh jam. Coba jenengan bayangin ora obah sekian puluh jam rasane pripun? Wis kie ba jenengan sekarang ora li obah 10 menit pripun? Padahal kadang-kadang kita itu cuma mau bergerak melakukan sesuatu yang kelihatannya remeh. Nopo contohne kukur-kukur? Atau pengin ngupil.<br \/>\n(10:52) Coba jenengan bayangkan pengin ngupil ora ngupil rasane pripun Bu? Risi banget itu. Padahal cuma berapa menit? Cuma 5 menit 10 menit lah. Ini ada orang puluhan jam enggak boleh bergerak. Nah, kalau dalam kondisi seperti itu berarti salatnya ngak harus iktidal. Cukup dia pakai isyarat ya. Pakai isyarat boleh isyarat jari yang digerakkan, boleh juga isyarat mata yang dikeedipkan.<br \/>\n(11:37) Jadi hanya itu toleransi orang boleh meninggalkan iktidal yaitu ketika sakit parah dan tidak bisa bangkit dari berbaringnya ya. Jadi harus dalam kondisi nopo? Berbaring. Oke. Apa dalilnya? Bahwa iktidal itu adalah wajib bahkan rukun. Dalilnya adalah perintah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam dalam banyak hadis.<br \/>\n(12:09) Salah satunya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan hadis ini dinyatakan sahih oleh Syekh Albani. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;La tatimmu shatun liahadin minanas. Sesungguhnya tidak akan sempurna salat seseorang hatta yaquula samiallahu liman hamidah. Sampai ketika dia bangkit dari rukuk, dia mengucapkan samiallahu liman hamidah. Hatta yastawiya qoiman.<br \/>\n(12:48) Hingga dia berdiri nopo? Tegak. lah berdiri tegak setelah rukuk itu namanya nopo? Iktidal. Dan berdiri tegaknya itu Bapak Ibu yang kami hormati harus dalam kondisi tumakninah. Nanti saya akan jelaskan tumakninah niku nopo. Berarti tidak boleh berdiri iktidalnya itu sekedar formalitas.<br \/>\n(13:25) formalitas si nopo Bu? Sekedarnya api ora ngadeg ora ngadeg. Apa ada Bu yang seperti itu, Bu? Wonten. Wonten biasane kapan iku? Hah? Biasane pas tarawih. Pas nopo Bu? Tarawih. Karena pengin banter dewek ya, pengin masuk garis finish nomor satu. H wong ana tarawih nggo balapan. Kowe kurang nganggo nopo niku? Kurang nganggo helm. Ada ada orang tarawih sekian puluh rakaat cuma 7 menit.<br \/>\n(14:22) Bayangannya pinten menit? 7 menit. Padahal rakaatnya ada sekian puluh rakaat dalam 7 menit. Kui kepriwe jajal goleh salat ya? Ya, itu yang saya katakan berdirinya, iktidalnya itu enggak sempurna. Harusnya kan begitu rukuk berdiri. Berdirinya itu mak terpakninah. Saya akan jelaskan nanti.<br \/>\n(14:58) Ah, dia itu belum sempat berdiri tegak sudah nopo? Sudah sujud. Jadi rukuknya kayak gini ya. Kemudian belum sempat berdiri tegak berarti nembe separuh ngadeg ya. Jadi esi miring ya. Jadi ee apa namanya punggungnya ini masih nopo? Masih miring. Jadi dari rukuk kayak gini kan terus dia bangkit kayak gini belum sempat sampai ah baru separuh kayak gini sudah nopo sudah sujud. Ini berarti dia tidak tumakninah.<br \/>\n(15:32) Padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memerintahkan itu dalam banyak hadis. Contohnya dalam hadis riwayat Bukhari. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Tumarfa hatta taadila qoiman.&#8221; Kemudian bangkitlah dari rukuk hingga engkau berdiri tegak. Ta&#8217;tadila qoiman. Berdiri nopo? Tegak. lah yang tadi saya ceritakan sudah tegak atau belum? Belum.<br \/>\n(16:05) Belum sampai tegak. Wong belum sampai tegak sudah nopo? Sudah sujud. Ini berarti menyalahi apa yang diperintahkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ustaz, mbahku ora bisa tegak. Ustaz, mbahku ora bisa tegak. Kenapa? Wis bungkuk mengendi-ngendi nganggo teken. Pripun, Bu? Pripun dipeksa kudu tegak ya tugel.<br \/>\n(16:42) Ini termasuk yang mendapatkan toleransi karena memang posturnya, rangkanya sudah berubah ya. Rangka apanya? rangka pundaknya sudah berubah yo gak masalah. La yukallifulahu nafsan illa wus&#8217;aha. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan apao kemampuannya. Dia enggak mampu. Memang seperti itu. Nah.<br \/>\n(17:14) Oke, di dalam riwayat lain lebih tegas lagi dalam hadis riwayat Ahmad dan dinilai sahih al-Arnaud tummarfa hatta tatmainna qiman. Kemudian bangkitlah dari rukuk sampai engkau berdiri secara tumakninah. Lah ini yang akan kita bahas. Tumakninah niku nopo to? Tumakninah dalam ik&#8217;tal itu artinya berdiri dengan sempurna.<br \/>\n(17:43) Muncul pertanyaan, berdiri dengan sempurna itu apa? Ketika seluruh tulang dan persendian kembali kepada posisi yang stabil dan lurus. Jadi, tubuh kita itu banyak tulangnya dan banyak noone sendinya. Di punggung ada tulang, ada sendi ya. Di sini di apa namanya ini no? Pinggang itu ada tulang, ada nopo sendi ya.<br \/>\n(18:20) Kemudian tangan kita ada tulang, ada sendi. Leher kita juga demikian. Di sini ada tulangnya, ada sendinya. Maksud dari tumakninah itu apa? Maksud dari itu makninah adalah ketika tulang dan persendian itu kembali kepada posisi yang normal. Kayak wong ngadeg ya ngadeg temenan. Kayak wong jagong ya jagong temenan.<br \/>\n(18:43) Jadi kalau orang itu belum berdiri dengan sempurna, masih dalam proses untuk berdiri, itu berarti belum kembali tulang dan sendinya pada posisi yang normal. Ya, posisi normal itu adalah ketika dia sempat berdiri dan berdirinya sempurna. Itu yang diperintahkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(19:10) Secara tegas beliau mengatakan dalam hadis riwayat Ahmad dan dinilai sahih oleh Imam Ibnu Hibban dan kata Imam Albagawi, hadis ini hasan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Faidza rafa rasak.&#8221; Ketika engkau mengangkat kepalamu setelah rukukta mafasiliha. Maka tegakkanlah punggungmu sampai tulang-tulangmu kembali kepada sendi-sendi tempatnya.<br \/>\n(19:44) Jadi betul-betul kita sampai mak terp yang saya katakan tadi terpku ya berarti ngadek yo ngadek sempurna. Berapa menit, Ustaz? Ukurannya bukan menit. Ukurannya itu adalah bisa untuk membaca subhana, maaf samiallahu liman hamidah. Rabbana wakal hamdu. Cukup untuk membaca rabbana wakal hamdu. Itu bacaan paling pendek itu. Padahal masih ada bacaan kelanjutannya toh.<br \/>\n(20:24) Nopo? Rbana wakal hamdu milas samawati wail ardhi wil ma bainahuma minaiin ba&#8217;du ada. Nah, ini cukup untuk membaca bacaan yang paling pendek. Apa tadi bacaan yang paling pendek? Rabbana wakal hamdu. Berarti kalau ada orang rukuk nembe Rabb. Nembe nopo Bu? Rabb. atau nembe rba atau nembe rbana atau nembe rbana wa wis apa sudah sujud berarti itu tidak masuk dalam kategori tuminah [Musik] lah wong imame kaya k ustaz berarti jenengan tidak boleh jadi makmum terhadap imam yang seperti itu lah kenapa ustaz Yo berarti imame mboten sah.<br \/>\n(21:22) Nek imame salate mboten sah berarti berarti makmume nggih mboten sah. Saya kasih ilustrasi. Bagaimana salatnya imam tidak sah mengakibatkan makmum mboten sah. Contohne imame sudah tahiyat akhir lagi membaca attahiyatul mubarokatus shawatut thayibatulillah. Urung rampung dut nopo bu? Kentut dan suarane gede.<br \/>\n(22:04) Nek suarane mboten gede pripun? Ya pada bae. Yang penting imamnya kentut dan imamnya ini ngelanjutin salatnya sampai selesai ora menyat tanggung jere. Berarti imame salate batal mboten? Makmume batal. Kalau imamnya enggak mau pergi, kalau imamnya segera pergi dan digantikan dengan makmum yang di belakangnya, gantiin posisi nopo? Imam enggak batal.<br \/>\n(22:44) Siapa yang enggak batal? Makmume. Tapi kok imame tetap ngotot? Tanggunglah dari pirang menit atau dianya malu mungkin nggih. Gengsi gitu ya. Padahal sudah tahu-tahu sudah tahu dia yang kentut ya malah k sapa sing ngentut mau wong deweke sing ngentut malah itu saya katakan kalau imame salate mboten sah berarti makmume kena imbasnya lah imam ngimami mboten tumakninah tumakninah niku rukun ketika imamnya nya mboten tumakninah berarti dia meninggalkan opo? Rukun.<br \/>\n(23:31) Kalau meninggalkan rukun salate tidak sah. Makmume sama. Makanya Bapak Ibu yang kami hormati, memilih imam itu penting. Memilih imam niku nopo penting? Karena dia yang akan memimpin salat kita. Jadi, mboten pareng sembarangan. Enggak boleh asal-asalan. Asal wis kaji terus jadi imam. Ung mesti.<br \/>\n(24:07) Coba saya tanya sama jenengan, apa mesti kaji layak jadi imam? Belum tentu. Kecuali kalau dia sudah haji dan memang punya ilmu tentang salat. Ya gak apa-apa. Sekarang coba ada dua orang nih. Ada dua orang. Si A sama si B. Si A sudah haji. Si A sudah haji. Si B belum haji. Si A sudah haji tapi bacaan Qurane masih grotal gradun. Salate ya belum tumakne.<br \/>\n(24:48) Si B belum haji tapi bacaan Al-Qur&#8217;annya bagus. salate tuminah. Siapa yang jadi imam? Sian apa sih? Sibih. Walaupun belum haji. Jadi udu syarat, Bu, Pak. Bukan syarat imam kui harus wis kaji. Yang penting itu adalah salatnya baik atau tidak, bacaannya benar atau tidak, itu yang dijadikan ukuran. Maka penting sekali untuk memahami tumninah.<br \/>\n(25:27) Oke. Terus kalau salatnya enggak tumakninah bagaimana, Ustaz? Terancam dengan ancaman yang serius. Apa itu ancaman yang serius? Satu, salatnya tidak akan dilihat oleh sinten? Allah. Coba bayangkan Bapak Ibu yang kami hormati, kita salat itu beribadah kepada sinten? Kepada Allah. Salat itu adalah amalan yang kita persembahkan kepada Allah.<br \/>\n(26:03) Coba bayangkan kita salat buat Allah sama Allah enggak dilihat, diabaikan sama Allah, enggak dipedulikan. Nauzubillahi minzalik. Kata siapa, Ustaz? Kata Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, nabi kita sallallahu alaihi wasallam ngendiko, &#8220;La yan yzurullahu ila shati rjulin la yuqimu sulbahu baina rukuihi wa sujudihi.<br \/>\n(26:36) &#8221; Allah tidak melihat salat seorang hamba yang tidak menenangkan dengan sempurna tulang punggungnya saat rukuk dan sujudnya. Hadis riwayat Ahmad dan isnadnya dinilai sahih oleh Imam al-Iraqi. Allah tidak ngelihat orang yang salatnya enggak tumakninah, enggak dilihat sama Allah lah.<br \/>\n(27:04) Terus kita salat gimana kalau seandainya salat kita enggak dilihat sama Allah Subhanahu wa taala? Lah terus kalau enggak dilihat kenapa, Ustaz? Resiko berikutnya yang kedua salatnya mboten sah. Jadi ketika kita mengatakan dari tadi orang yang salatnya tidak tumakninah itu salatnya enggak sah, itu ada argumennya, itu ada dalilnya.<br \/>\n(27:25) Sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, la tujziu shatun la yuqimurulu fihabahu firu wasjud. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Tidak sah.&#8221; Nopa, Bu? Tidak sah. Siapa salat seseorang yang tidak menenangkan dengan sempurna tulang punggungnya ketika rukuk dan ketika sujud? Hadis riwayat Ibnu Majah dan dinilai hasan sahih oleh Imam at-Tirmidzi. Berarti tumakninah niku ru rukun.<br \/>\n(28:00) pun coba Bapak Ibu yang kami hormati mulai memperbaiki salat kita masing-masing sebelum kita mengkritik dan ngarani wong li mendingan ngarani awake dewek sebelum kita mengkritik orang lain, kritik diri kita sendiri. Coba nek jenengan salat kilat khusus apa ora? Nek salat ekspres nopo mboten? Coba kita perhatikan salat kita masing-masing.<br \/>\n(28:38) Apakah kita sudah menikmati salat kita? Menikmati niku berarti mboten kesu mboten kesusu. Ya. Apakah kita sudah menikmati salat kita? Dan salah satu cara supaya kita bisa masuk naik ke dalam level menikmati salat itu adalah mengamalkan apa yang dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lakukan salat itu berusaha sesempurna mungkin ya gerakannya, bacaannya, khusyuknya.<br \/>\n(29:09) Mudah-mudahan Allah bantu kita untuk terus bisa menyempurnakan salat kita sehingga ketika dihisab nanti salat kita menjadi salat yang terbaik sehingga amal-amal kita yang lainnya pun juga ikut baik. Allahuma amin. Masih ada sisa waktu kalau ada yang mau nanya silakan. Baik Ustaz Kumoras materi yang disampaikan kami bacakan pertanyaan pertama. Ustaz, izin bertanya.<br \/>\n(29:36) Ada ancaman meninggalkan iktidal dan tumni. Nah, apakah ini hanya termasuk kalau tidak sempurna menenangkan tulang punggungnya saja? Sementara tangan tidak melakukan gerakan takbir. Bahkan ada juga yang takbir tetapi telapak tangannya menghadap ke atas bukan ke kiblat. Jazakumullah khairan. Takbir telapak tangannya menghadap.<br \/>\n(30:05) Oh, kayak gini. Oh, kayak gini. Oh, nggih. Enggih. Ya, maksud dari hadis ini adalah kesempurnaan tumakninah. Tumakninah kalau ada gerakan-gerakan yang tidak mirip persis ya. dengan gerakan yang diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam terkait dengan hal-hal yang sifatnya sunah, maka tetap sah salatnya.<br \/>\n(30:34) Contoh misalnya kita tahu ketika kita bangkit dari rukuk, kita kan sambil mengucap sambil mengucapkan samiallahu liman hamidah. Terus tangannya diapain? Diangkat toh ya? Diangkat telapaknya ke mana? Telapaknya menghadap ke depan. Ada orang misalnya sami&#8217;allahu liman hamidah kemudian tangannya telapaknya bukan menghadap ke depan seperti yang tadi dicontohkan tapi menghadap ke atas atau malah kayak gini ke walik ya.<br \/>\n(31:17) Jadi samiallahu liman hamidah. Apakah salatnya tetap sah? Setahu kami telapak tangan yang menghadap ke depan itu hukumnya sunah. Hukumannya apa, Bu? Sunah. Sehingga ketika ada kekeliruan ya harusnya menghadap ke depan atau harusnya diangkat tapi mboten diangkat atau harusnya diangkatnya sejajar dengan ee apa ini? Bahu atau sejajar dengan telinga kok kemudian diangkatnya cuma rendah saja. Insyaallah salatnya tetap sah.<br \/>\n(31:59) Hanya saja pahalanya tidak sesempurna orang yang gerakanya mirip seperti yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Itulah yang tadi saya sampaikan di awal. Jadi penting untuk mengetahui ini rukun, ini wajib, ini nopo setunggal sunah. itu penting ya. Ini rukun, ini wajib, ini sunah. Supaya kita tahu apa resikonya kalau itu ditinggalkan.<br \/>\n(32:30) Ya, kayak tadi pertanyaannya tentang ee apa? telapak tangan itu setahu kami itu hukumnya sunah. Sehingga kalau tidak dikerjakan sesuai dengan apa yang dicontohkan maka tetap sah salatnya. Karena dia meninggalkan sesuatu yang sifatnya sunah, bukan sesuatu yang sifatnya rukun. Wallahuam. Ya. Baik. Jazakumullah khairan. Pertanyaan berikutnya.<br \/>\n(33:01) Ustaz, apakah boleh anak laki-laki usia kelas 1 SD mengimami ibunya dan saudara perempuannya? Karena insyaallah tata cara wudu dan bacaan al-Fatihahnya sudah bagus. Terima kasih. Jazakumullah khairan. Apakah boleh anak umur 1 SD mengimami ibunya dan mengimami kakak perempuannya? Karena wudunya sudah baik, salatnya sudah baik. Syarat anak kecil mengimami adalah tamyiz. Nopo tamyiz? Tamyiz itu usia sebelum baligh.<br \/>\n(33:38) Tamyiz itu usia sebelum nopo? Baligh. Baligh itu kalau sekarang mungkin ya umur berapa yo? 12 gitu, 13 mungkin ya. Semakin ke sini kan semakin cepat anak itu baligh. Berarti kalau tamyiz itu usia berapa? 6 tahun. 7 tahun. Tamyiz itu apa toh, Ustaz? Tamyiz itu bisa membedakan mana yang berbahaya, mana yang tidak berbahaya.<br \/>\n(34:16) Contoh misalnya dia membedakan kalau api itu bahaya, panas ya, sehingga dia melihat api tidak pegang. Itu namanya tamyiz ya. Jadi dia sudah bisa tahu, &#8220;Oh, ini bara ini enggak boleh dipegang ya. Oh, itu kalau ada sumur kalau lompat itu bahaya masuk. Kalau bayi tahu apa enggak?&#8221; itu enggak tahu ya. Bisa-bisa nauzubillahi minzalik nyemplung nopo sumur atau ada api dikiranya apa ini bagus terang dicekel itu namanya belum nopo tamyiz.<br \/>\n(35:05) Nah kelas 1 SD apakah sudah temyis? Sampun insyaallah insyaallah sudah. Karena kelas SD 1 SD biasanya umur pinten? 6 atau 7. Jadi insyaallah sudah tamyiz dan sudah boleh untuk menjadi iam. Yang penting seperti yang tadi disampaikan sudah wudunya sudah benar ya, salatnya juga sudah benar. Baik ya. Jazakumullahiran Ustaz, pertanyaan berikutnya.<br \/>\n(35:33) Ustaz, apabila salat berjamaah, kapan makmum bangkit dari rukuk? Apakah menunggu imam menyelesaikan bacaan i&#8217;tidalnya lalu makmum bangkit dan rukuk? Karena ada makmum yang bangkit dari ruku berbaringan dengan imamnya. Ustaz astagfirullahir kapan makmum itu bangkit dari rukuk tidak boleh mendahului imam satu dan juga jangan membersamai. Berarti setelah imam nopo? Setelah imam.<br \/>\n(36:08) Makanya bagusnya Bapak, Ibu yang kami hormati, supaya kita tidak mendahului atau membersamai, sebaiknya kita itu mulai menggerakkan tubuh kita untuk bangkit adalah setelah kita mendengar imamnya rampung membaca samiallahu liman hamidah. Rampung berarti nopo dah? Samiallahu liman hamidah. K berarti wis rampung.<br \/>\n(36:48) Nek wis rampung nembe jenengan bangkit, nembe jenengan menyat. Nek urung rampung berarti pripun? Imame nembe sa jenengan wis menyat. Itu namanya imam belum selesai mengucapkan samiallahu liman hamidah. Jenengan sudah bangkit, maka akan lebih aman supaya kita tidak mendahului atau membersamai gerakannya imam. Tunggu imamnya sampai selesai membaca samiallahu liman hamidah. Baru jenengan bangkit.<br \/>\n(37:28) Ya, jadi kalau imamnya masih tengah-tengah mengucapkan sami ung rampung kok jenengan sudah bangkit. maka dikhawatirkan nanti akan member samamai. Akan membersamai dan itu tidak baik apalagi mendahului ya. mendahului itu lebih mengerikan lagi ya. Dan itu sering terjadi Bapak Ibu sering nopo terjadi karena makmume mboten mboten sabar ya mbokm sabar ung krungu imame.<br \/>\n(38:04) Malah ada yang lebih parah imamnya belum mengucapkan sami allahu limidah wis apa wis menyat ada kayak gitu ada ada. ya ora sabaran ya jangan itu bisa merusak salat kita nggih. Baik. Jazakumullah khairan. Pertanyaan berikutnya ustaz apabila kita lupa tidak membaca tasyahud awal kemudian langsung ee bangkit apakah ketika kita ingat perlu duduk kembali atau tidak Ustaz? Lupa tidak? Tasyahud awal.<br \/>\n(38:44) Tasyahud awal. Iya. Terus terlanjur berdiri ketika ingat apakah harus duduk lagi atau tidak. Ada dua kondisi. Ada dua kondisi. Ketika kita tidak lupa tasyahud awal dan kita ingatnya sebelum berdiri sempurna, berarti masih dalam noo proses berdiri. Jadi lagi menyat ya. Jadi kan ini kan kita tasyahud ee duduk ya.<br \/>\n(39:15) Habis rukuk kita duduk, kita mau berdiri. Nah, ketika dari posisi duduk mau berdiri itu kan ada prosesnya ya. Ada prosesnya. Ketika kita dalam proses itu ingat, maka segera duduk lagi sebelum kita sempurna berdiri. Ini kondisi pertama. Kondisi yang kedua adalah ketika kita sudah terlanjur berdiri tegak, wis ngadek, janggleng, sudah sempurna berdirinya.<br \/>\n(39:46) baru nopo ingat maka jangan duduk lagi. Jangan duduk lagi terus pripun ustaz? Ya sudah dilanjutkan salatnya nanti di akhir diganti nopo sujud sawi berarti ada berapa kondisi, Bu? Ada dua kondisi. Kondisi pertama kita masih dalam pro proses ya. Proses itu berarti sedang dalam keadaan bangkit. belum berdiri sempurna ya, masih bungkuklah, masih megang apa namanya ee tangan di lantai ya atau masih dalam posisi mau bangkit kok belum berdiri tegak kemudian ingat maka kembalilah duduk ya dan sempurnakan tasyahudnya baca duduk tasyahud baca<br \/>\n(40:35) tasyahudnya kalau ternyata ini kondisi pertama, kondisi kedua sudah terlanjur berdiri tegak maka jangan Jangan kembali lagi ee duduk, tapi gantilah nanti di akhir dengan sujud syahw. Ya. Baik. Jazakullah. Satu pertanyaan terakhir, Ustaz. Ee terkait dengan bacaan rukuk dan bacaan sujud.<br \/>\n(41:02) Ustaz, dalam satu kali rukuk atau sujud, apakah boleh membaca sekaligus beberapa bacaan? Ustaz, memvariasikan bacaannya. Jazakumullah khairan. Apakah boleh dalam satu rukuk atau satu sujud kita kombinasikan, kita gabungkan antara beberapa bacaan? Sebaiknya tidak. Sebaiknya tidak. Tapi bacalah bacaan salah satunya saja. Contoh misalnya kemarin kita baru belajar subhanadil dening sepi subhanadil jabaruti wal malakuti wal kibriyaai walomah.<br \/>\n(41:44) Kita baru belajar itu. Padahal selama ini kita membaca subhana rabbiyal adzim. Boleh enggak kita baca dua redaksi? Jadi ketika rukuk kita baca dua dua macam tadi itu kita baca subhana rabbiyim terhio subhana dil jabaruti wal malakuti wal kibriyaai walomah boleh jawabannya sebaiknya tidak ya.<br \/>\n(42:19) Terus pripun, Ustaz? Ya, satu-satu aja. Satu-satu aja baca salah satunya. Maksudnya ya. Baca salah satunya. Kalau ternyata dalam satu salat, rakaat pertama baca yang ini, rakaat kedua baca yang itu boleh. Kalau itu insyaallah boleh. Yang tidak boleh itu dalam satu rukuk digabungkan beberapa jenis versi bacaan. Ini yang bisa kita pelajari. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya. Terima kasih atas perhatiannya.<br \/>\n(42:47) Mohon maaf atas segala kekurangannya. Kita akhiri. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka. Yeah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] cahaya sunahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta&#8217;inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba&#8217;d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3505","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] cahaya sunahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta&#8217;inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba&#8217;d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:20:42+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/\",\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:20:42+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:20:42+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] cahaya sunahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta&#8217;inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi ajmain. Amma ba&#8217;d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:20:42+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"17 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/","name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242 - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:20:42+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:20:42+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-serial-fiqih-doa-dan-dzikir-no-242\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 242"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3505"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3505"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3506,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3505\/revisions\/3506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}