{"id":3525,"date":"2025-11-24T21:24:13","date_gmt":"2025-11-24T14:24:13","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3525"},"modified":"2025-11-24T21:24:14","modified_gmt":"2025-11-24T14:24:14","slug":"ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror"},"content":{"rendered":"<p>(81) LIVE] Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"LIVE] Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/n-03ItnZBYQ?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Tanpa ada perantara berbicara kepada mereka seluruhnya. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Rj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(00:50) Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah nabina Muhammadin waa alihi wasbihi walah w ikw Islam rahimani warahimakumullah. Sahabat Roja, pemerhati Roja di mana pun saat ini Anda bisa menyimak siaran kami. Kita memuji seraya bersyukur pada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah limpahkan kepada kita semuanya sehingga pada kesempatan Rabu pagi hari ini di pekan yang kelima kita dapat kembali berjumpa di saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam Radio dan TV Roja. Dan kali ini insyaallah akan disampaikan kembali kajian dan bimbingan Bahjatul Qulubil Abrar bersama<br \/>\n(01:29) Ustaz Abu Fairus Ahmad Ridwan, MA. Hafidahullahu taala yang kami hadirkan kajian ini secara langsung dari studio Mini di Kota Batam. Dan menurut informasi yang telah kami peroleh dari rekan kami yang ada di Batam, insyaallah kita akan melanjutkan dari hadis yang ke-98 mengenai pembahasan kesempurnaan itu sulit.<br \/>\n(02:00) Seperti apa dan bagaimana pembahasan ini? Kita simak kurang lebih 1 jam ke depan. Dan kami ingatkan untuk Anda ingin bertanya seputar pembahasan ini nanti, silakan Anda bisa menghubungi kami via telepon maupun pesan singkat WhatsApp di nomor ini 0218236543. Selanjutnya kepada Ustaz kami persilakan. Falyatafadol masuk ya ustaz. Jazakullah khairan. Bismillahirrahmanirrahim.<br \/>\n(02:28) Alhamdulillahiabbil alamin wal aqibatu lil muttaqin fala udwana illa alimin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah al malikul haqqul mubin wa asadu asadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu shodqul wil amin amma ba&#8217;du rbisrohli sodri waassirli amri wahlul uqdatan m lisani yafqahu qa rbi zidni ilma warzuqni fahma wa amalan mutaqbala Para pemerhati Raja dan para pendengar di Raja di mana pun Anda berada yang dapat memantau siaran kita ini.<br \/>\n(03:03) Alhamdulillah pagi hari ini dapat kembali dipertemukan Allah jalla waala dalam ketaatan kepada Allah dalam kajian kitab Bahjatu qulubil abrar buah karya Alamah Abdurrahman bin Nasir Assa&#8217;di rahimahullah. Dan kita berharap kepada Allah jalla jalaluhu semoga Allah senantiasa membimbing kita, memberikan kepada kita taufiknya. hidayahnya, inayahnya hingga akhir hayat kita.<br \/>\n(03:27) Para pemirsa yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, pada kesempatan pagi yang penuh keberkahan ini kita akan lanjutkan pembahasan hadis yang ke98. [Musik] Hadis Abdullah bin Umar. Berkata Syekh Abdurrahman bin Nasir Sa&#8217;ni rahimahullah an Abdillah ibni Umar radhiallahu anhuma qal dari Abdullah bin Umar semoga Allah meridainya yaitu Abdullah bin Umar ee dari Abdullah bin Umar semoga Allah meridai keduanya dia dan ayahnya Abdullah dan Umar bin Khattab Qala dia berkata, &#8220;Qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah bersabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam innamas<br \/>\n(04:09) Sesungguhnya manusia kalbil miati bagaikan perumpamaan seekor unta. Innam sesungguhnya manusia itu yang begitu banyak itu bagaikan perumpamaan sekaunan unta-unta kal ibnil miah. Dari 100 ekor unta ini kadang-kadang la takadu tajidu fiha rahidatan. Hampir-hampir engkau tak mampu menemukan dari 100 ekor unta yang baik ini seekor unta yang memang tangguh yang layak dijadikan sebagai unta teman dalam bersafar yang memikul beban yang kuat yang sabar muttafaqun alaih.<br \/>\n(04:54) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memberikan perumpamaan manusia yang banyak bagaikan perumpamaan unta-unta yang banyak. Dari 100 ekor unta, dari kaunan 100 ekor unta, jarang-jarang ada unta yang tangguh, sabar, yang cekatan, yang cakap, yang layak untuk dipakai, memikul beban safar, berpergian jauh-jauh ke tempat-tempat yang jauh.<br \/>\n(05:18) Karena kebanyakan unta-unta tersebut hanyalah layak untuk disembelih sepatah. sebagai daging dikonsumsi tapi unta yang benar-benar untuk safar berat. Ya, muttafaqun alaih. Berkata Syekh Abdurrahman hadisu mustamilun ala khabarin sodqin wa irsyadin nafiin. Hadis ini mencakup dua hal. Pertama adalah berita informasi tentang hakikat manusia.<br \/>\n(05:49) Yang kedua adalah bagaimana anjuran yang harus dilakukan. Ya. Jadi hadis ini mengandung dua hal. pertama adalah berita informasi. Yang kedua adalah apa anjuran yang harus dilakukan. Ya, setelah kita mendengar hadis ini berkata Syekh Abdurrahman, &#8220;Ammal khabaru?&#8221; Adapun dari sisi berita informasi yang datang dari Nabi sallallahu alaihi wasallam fainnahu shallallahu alaihi wasallam akbar bahwasanya nabi kita yang mulia sallallahu alaihi wasallam beritahukan naqsailunas bahwasanya sifat kurang itu itulah yang paling banyak ada pada manusia yang sempurna itu sulit jarang payah<br \/>\n(06:33) kamila muqorbal Kamal orang yang betul-betul sempurna, tangguh, layak memikul beban yang banyak menjadi pemimpin, menjadi ahli fatwa, menjadi pengajar, menjadi alim ulama ya yang menanggung beban umat ya alkamil yang sempurna muqaribal kamal atau yang mendekati kesempurnaan.<br \/>\n(06:56) Fihim qalil sangatlah sedikit sekali jumlahnya. Allahu Akbar. Orang yang benar-benar berakal itu sedikit sulit. Tengoklah bilamana terjadi huru-hara demonstrasi besar-besaran orang semuanya keluar. Kadang-kadang hanya satu dua yang berakal. Kebanyakan mereka tak mengerti mengapa mereka harus berdemu, mengapa mereka harus keluar berjalan ramai-ramai. Subhanallah. Kadang-kadang kau tanya ini ada apa? Dia enggak tahu.<br \/>\n(07:22) Menjawab. Kalian demo apa? Dia enggak tahu. Apa yang kalian tuntut dia enggak tahu. Pokoknya demo. Pokoknya orang ramai keluar dia keluar. Orang teriak-teriak dia teriak-teriak. Ini kebanyakan dan ini contoh kasus ya, bahwasanya orang banyak itu tak selalu semuanya baik-baik, berakal, cerdas, paham ya.<br \/>\n(07:47) Bahkan kebanyakan manusia itu jika ada 100 ekor unta, hanya satu yang layak menjadikan dijadikan sebagai unta tunggangan. Maka dari 100 orang manusia jarang-jarang ada satu sosok manusia yang jadikan sebagai yakni pemimpin yang amanah, pemimpin yang memikul beban rakyatnya, masyarakatnya, pemimpin yang adil, yang arif, yang bijak, yang cekatan, yang mampu mendatangkan kebaikan bagi kaumnya. Jarang-jarang ada.<br \/>\n(08:12) Allahu Akbar. Kebanyakan manusia ikut-ikutan. Subhanallah. Ya. Berkata al Imam Ali bin Abi Thalib, inamasuatun, manusia itu dibagi tiga, kata Ali bin Abi Thalib. Yang pertama adalah alimun rabbani. Yang pertama adalah orang alim yang paham, rabbani, yang paham bagaimana mendidik umat, membangun umat dari apa yang mereka butuhkan, mengajarkan kepada mereka segala prioritas apa-apa yang diperitaskan untuk diajarkan.<br \/>\n(08:46) diajarkan membangun umat dengan perlahan-lahan namanya alimun rabbani yang ilmunya diamal daripada Allah rabbul alamin. Ini yang paling sedikit. Subhanallah. Alim rabbani sedikit. Oleh karena itulah engkau melihat hanya segelinten nama orang-orang alim yang naik ke permukaan dari zaman ke zaman. Mutiara-mutiara yang sedikit tak banyak.<br \/>\n(09:10) yang terlahir daripada nama para ulama semacam Syafi&#8217;i, Malik, Ahmad, Abu Hanifah sedikit Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa, Ibnu Majah dari beribu-ribu ya manusia, berjuta-juta manusia dari abad ke abad hanya satu dua yang menjadi mutiara yang memberikan faedah banyak kepada manusia. Sebagaimana kita sebutkan dari para ulama sedikit. Dari para umara pun sedikit. Subhanallah.<br \/>\n(09:43) Para pemimpin yang benar-benar memimpin manusia dan keadilan, kearifan juga sedikit. Subhanallah. Tersebutlah nama Khulafa Rasyidin Muawiyah bin Abi Sufyan. Tersebutlah nama Umar bin Abdul Aziz yang menjadi simbol keadilan. Umar bin Khattab. Ya. Al iya ini menunjukkan kepada kita alkamalu aziz. Sempurna itu berat. Perfect itu berat. Subhanallah.<br \/>\n(10:10) Ya, manusia itu memang banyak tapi untuk dipilih yang mampu menanggung beban yang yang sabar sebagaimana sabarnya unta yang dipakai untuk musafir yang tegar, yang tak putus asa itu sedikit. Subhanallah. Inilah kebanyakan manusia. Kondisi manusia, kebanyakan manusia ikut-ikut saja. Kata Ali, manusia ada tiga.<br \/>\n(10:35) Alim rabbani. Orang alim yang cerdas yang mengajarkan umat. Ilmu yang bermanfaat untuk mereka ingin membangun umat. Dan jumlah mereka sangat sedikit sekali. Iya. Dari zaman ke zaman pada para para tabiin yang terdengar dari mana-mana mereka. Al Imam Hasan Basri, Atha bin Abi Rawa, Said bin Zubair.<br \/>\n(10:54) Segelintir manusia dari para ahli tafsir, Ikrimah, Mujahid. Ya, tak banyak manusia itu yang benar-benar layak ya ditempatkan memegang tanggung jawab yang dapat memikul tanggung jawab yang bekerja sungguh-sungguh yang paham yang cerdas payah payah mencari orang-orang semacam ini. Bagaikan mencari jarum dalam jerami begitulah kiranya perumpamaannya.<br \/>\n(11:22) in kata Ali manusia e kata Ali inas manusia tiga alimbaniun yang kedua mutaalimun mutaalimun alqin najati yang kedua adalah orang yang belajar mencari jalan keselamatan ini lebih banyak daripada yang di atas tapi tetap sedikit sedikit orang yang mau belajar menimba ilmu agama itu sedikit kau tengoklah masjid-masjid di sana ada kajian-kajian manusia sedikit yang datang sedikit. Subhanallah ya.<br \/>\n(11:55) Ada kajian-kajian rutin, kajian kitab-kitab sedikit yang mau datang. Tapi kalau andai kata kau ajak manusia mendengarkan hingar-bingar musik, subhanallah orang akan datang berjubel. Artis fulan datang, artis fulanah datang, penyanyi fulan fulana datang. Orang berbondong-bondong beli tiket untuk mendengarkan ikut masuk ke sana bergabung. Kadang-kadang terjadi hal yang tak diinginkan.<br \/>\n(12:19) terjadi kekacauan, kadang-kadang sampai injak-injakan ada yang mati. Subhanallah. Tapi untuk yang namanya kajian, keilmuan sedikit. Subhanallah. Yang senang sedikit, yang mau penimba ilmu itu sedikit. Ulama lebih sedikit lagi. Barulah yang paling banyak yang ketiga berkata Ali, yang ketiga adalah alhamur atba. Ini yang paling banyak jumlah manusia.<br \/>\n(12:49) Alhamura ya suara hingar-bingar para penggembala-penggembala kambing yang teriak-teriak ya yang selalu ikut ke mana suara orang menjerit. Ada orang menjerit dia ikut, dihalau ke sana ikut, dihalau ke mana ikut. Dia tak tahu mengapa dia jalan, mengapa dia ikut, tak tahu. Ya, kau tengoklah contoh-contoh ini.<br \/>\n(13:15) Ketika ramai-ramai orang demonstrasi, coba kau jujur tanya satu dua orang, mengapa kamu ikut? Apa alasannya? Apa yang sering kalian perjuangkan? Kalian cari apa? Banyak yang enggak paham. Subhanallah. Yang penting dikasih uang makan siang. Yang penting dia dikasih aman uang bekal R.000 per orang. Selesailah ketika itu ramailah orang datang. Dia tak tahu arti perjuangan apa yang diperjuangkan. Subhanallah.<br \/>\n(13:39) Pemirsa yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala. Inilah kenyataan konkretnya manusia. Allahu Akbar. Jarang-jarang ada yang sempurna. Dari banyak jumlah mereka. Jarang-jarang ada satu dua orang yang bagus pemikirannya, cerdas, layak menjadi pemimpin, jujur ya. Karena kebanyakan manusia culas. Kadang-kadang dia pintar tapi culas.<br \/>\n(14:02) Menipu, menipu orang, mengerjai orang, kongkalikong dengan orang. Ian billah. Kembali kepada perkataan Abdurrahman bin Nasir Sa&#8217;di rahimahullah. Kal ibnil miah. Perumpamaan manusia itu bagian satu seekor unta. La kalibastir engkau anggap dia banyak. Faid arta minha rahilatan. Kalau kau ingin satu ekor unta saja lilam warukub yang layak untuk memikul beban untuk berkendaraan dipakai musafir wzahabi wab pergi ke sana kemari pulang ke sana kemari lam takad tajiduha. Lam takad tajidha.<br \/>\n(14:44) Hampir-hampir engkau akan gagal menemukannya. Dari satu seekor unta kau pilih-pilih satu yang layak tak dapat. Allahu Akbar. Berarti ini ini satu seekor unta untuk apa? Rata-rata satu seekor unta hanya untuk diambil yakni dagingnya saja. Subhanallah. Untuk disembelih saja tapi unta yang sabar, yang tangguh dikunakan berjalan jarang.<br \/>\n(15:08) Begitulah manusia. Kau lihat sekumpulan manusia. Setiap 100 orang manusia berkumpul, jarang-jarang satu orang yang benar-benar berakal, cerdas, paham, layak untuk dijadikan pemimpin, layak memikul beban, tanggung jawab. Jarang-jarang. Subhanallah.<br \/>\n(15:28) Ini perumpamaan yang luar biasa dari Nabi yang mulia menunjukkan beginilah manusia. Lihatlah perkataan Al-Qur&#8217;anul Karim pun ber yakni syarat dengan ucapan-ucapan semacam ini. Kebanyakan orang itu enggak paham. Wakin aksarasi la ylamun. Tetapi kebanyakan manusia mang enggak punya ilmu, tak paham. Ardukailah.<br \/>\n(15:51) Kalau kau ikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan sesatkan engkau dari Allah Subhanahu wa taala. Ya, kebanyakan manusia itu sesat. WQumar aalin sudah sungguh benar-benar tersesat sebelum kalian kebanyakan orang-orang terdahulu. sedikit itu ya adalah orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an dengan sifat-sifat pujian. Waqilun min ibadakur sedikit hambaku yang pandai bersyukur ya minatin bidillah.<br \/>\n(16:23) sedikit kelompok-kelompok ini, tapi meski sedikit besar kualitasnya bisa mengalahkan kelompok yang banyak. Kata Allah Subhanahu wa taala yail ada sekelompok orang-orang yang sedikit galabat fiatan kat bidillah dapat mengalahkan orang-orang yang banyak dengan izin Allah. Kualitas itu berat. Kuantitas bukanlah segala-galanya.<br \/>\n(16:47) Kau lihatlah sejarah peperangan Islam ketika Nabi berperang. Lihatlah peperangan ee Muktah. Para sahabat itu hanya membawa 3.000 pasukan berhadapan dengan Romawiyah yang jumlahnya 100.000 pasukan. Sebagian sumber mengatakan 200.000 pasukan. 100.000 dari bangsa Arab, 100.000 daripada orang-orang Romawiah. Tapi lihat hanya belasan yang terbunuh daripada 3.000 orang ini. Subhanallah.<br \/>\n(17:12) Khalid berhasil menyelamatkan pasukannya dari serangan musuh yang luar biasa. 3.000 melawan 200.000. Coba kau bayangkan tema perang Badar 319 orang dapat mengalahkan 1000 orang sehingga mereka lari kocar-kacar, tunggang-langgang, tertawan, harta rampasan perang dibawa. Niat awal perang Uhud kala bukan karena ketentuan takdir Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(17:39) Dan ketidakpatuhan sebagai pasukan, sebagian pasukan kaum muslimin sudah menang. Jumlah mereka hanya 700 orang. Dapat mengalahkan 3.000 orang. Mereka lari kucar-kacir. Tetapi karena ada kesalahan, kekhilafan, akhirnya berbalik arah. Tapi awalnya kemenangan ada pada kaum muslimin. Subhanallah. Ya, begitulah bahwasanya yang berkualitas itu sedikit. Oleh karena itulah jemaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, kalau kita sudah paham karakter manusia ini, Subhanallah, maka jangan cepat berikan amanah sembarang orang, jangan cepat berikan ee kepemimpinan kepada sembarang orang. Benar-benar<br \/>\n(18:19) dipilihlah pilihan, pilihanpilihan. Nukbatun nbah. Berkata Syekh Abdurrahman bin Nasir S rahimahullahuun. Begitulah juga perumpamaan manusia itu banyak. Bilamana kau ingin mencari daripada mereka memilih siapa yang layak llim untuk menjadi guru. Awil fatwa yang layak untuk menyampaikan fatwa. Awil imamah yang layak menjadi pemimpin, ail wilayat ya atau yang layak menjadi ee para pejabat alkibar aigar ya jabatan besar, jabatan yang kecil au alwadib almuhimah atau peran-peran penting ya dalam setiap lini.<br \/>\n(19:11) Lam takad tajid man yaquumilkal wadifati qiaman shihan. Jarang-jarang kau berhasil menemukan di antara orang banyak ini yang layak untuk menjadi representasi orang-orang yang kita inginkan. Subhanallah. Apa yang kebanyakan adalah orang-orang yang kurang tak sempurna. Yang sempurna itu berat.<br \/>\n(19:42) Yang dapat mengerjakan pekerjaan dengan bagus, benar, sempurna itu berat. Iya. Yang punya tanggung jawab yang besar itu berat. Yang jujur itu yang berat. Yang amanah itu berat. Wad hal waqi. Dan inilah yang merupakan realita. Subhanallah. Yang kita lihat alazizu ya ee alkamalu aziz. Bahasa Indonesianya yang perfect itu sulit. Subhanallah. Kebanyakan manusia tak perfect.<br \/>\n(20:19) Kebanyakan manusia tak layak untuk dipilih, ditunjuk untuk mengemban satu misi. Sulit mencari orang yang layak. Subhanallah. Fainnal insanaumun jahul. Karena manusia itu kebanyakan mereka adalah berbuat zalim dan jahil. Tak tahu apa-apa. Subhanallah. Dipilih manusia menjadi pemimpin bukan karena kecerdasannya.<br \/>\n(20:43) Kadang gara-gara kecantikannya banyak milih karena dia cantik. Kau tengoklah bagaimana sebagian daripada artis-artis yang naik panggung panggung politik dipilih karena kecantikannya dipilih karena kekayaannya. Sementara dalam agama Allah Subhanahu wa taala pemimpin itu dipilih dengan dua hal. Pertama dengan amanah. Yang kedua dengan kekuatan qawiul amin.<br \/>\n(21:09) Sesungguhnya yang layak kau jadikan pemimpin adalah yang kuat lagi amanah. Kuat keilmuannya, pintar, cerdas, kapel dan amanah. Tidak berkhianat. Kadang-kadang ada yang kuat keilmuannya tapi khianat. Habis harta rakyat, habis harta perusahaan. Subhanallah. Dia kuat, cerdas, tapi tak punya amanah. Khianat. Ada yang dia amanah, jujur tapi tak kuat keilmuannya.<br \/>\n(21:35) Jadi berantakan juga semua perkara ya ini dalam agama kita dan ini sulit dicari. Iya. Wadulmu wal jahlu sababun lin naqais. Yang namanya kezaliman, yang namanya kejahilan ini sebab segala sesuatu akan menjadi tak sempurna, berkurang. Negara ketika dipimpin oleh orang-orang yang zalim, orang-orang yang jahil, hancurlah suatu negara.<br \/>\n(22:00) Perusahaan pun demikian, sekolah pun demikian. Pendidikan di setiap sisi dan lini ya sulit mencari orang-orang yang perfect. Kebanyakan orang tak amanah. Kadang dia cerdas tapi cerdas untuk menipu orang. Subhanallah. Kadang-kadang ada orang yang saleh tapi tak layak memimpin karena tak punya kecerdasan yang benar-benar dibutuhkan. Wahiya maniatun minal kamali watmil.<br \/>\n(22:32) Tentulah hal ini akan menjadi penghalang untuk mencapai kesempurnaan dan disempurnakan. Subhanallah. Ini dari sisi khabar berita. Beginilah manusia. Beginilah Rasulullah menggambarkan tentang manusia. Jadi jangan berharap daripada orang banyak itu bagus-bagus semua. Satu dua yang yang layak kau ajak untuk berpikir.<br \/>\n(22:55) Sebagian mereka tak punya pemikiran yang lurus. Subhanallah. Iya. Kemudian kita akan pindah kepada sisi kedua. Wa amal irsyad. Adapun hadis ini kita jadikan sebagai bimbingan untuk ke depan irsad. Bagaimana menjadikan hadis ini sebagai bimbingan madmunaal khabar. Sesungguhnya kesimpulan daripada hadis ini irsyaadun minhu sallallahu alaihi wasallam ini adalah merupakan bimbingan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(23:26) Annahu yanbaghi. bahwasanya seharusnya sekumpulan umat agar mereka bersungguh-sungguh berusaha rijal pembentuk generasi-generasi yang tangguh yang layak yang sabar yang amanah yang bertanggung jawab takiri rijal siapkan ingat selalu bahwasanya bukanlah kualitas bukanlah kuantitas segala-galanya Tapi kualitas begitu yang Rasulullah ajarkan.<br \/>\n(24:02) Kualitas yang sedikit dapat mengalahkan kuantitas yang banyak. Kau lihatlah tadi saya sebutkan peperangan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pada perang Ahzab 10.000 pasukan sekutu. Kaum muslimin jumlahnya hanya 3.000. Rasulullah berhasil membuat mereka kaca balau antara mereka. Allah kirimkan angin. Akhirnya mereka lari. Mereka pulang. Mereka tinggalkan kota Madinah. Subhanallah. Pikirkanlah kualitas mutu.<br \/>\n(24:29) Jangan selalu engkau berkutar dengan kuantitas. Yang penting banyak. Subhanallah. Ya. Maka hendaklah umat ini menyiapkan orang-orang yang terbaik mereka yang akan menjadi segala sesuatu pilar-pilar kebangkitan umat, negeri, bangsa. Siapkan mereka. Ya, subhanallah. Ingat amanah dan kuat.<br \/>\n(24:58) kuat fisiknya, kuat akalnya, cerdas, amanah. Ini ciri-ciri keberhasilan seorang pemimpin dan itu butuh persiapan pendidikan. Ya, berkata Syekh Abdurrahmantahidu fiilijalina yasluhunqiam bil muhimmat. Siapkan orang-orang yang siap menanggung beban. Umat ini yang dapat menegakkan ee berbagai macam cita-cita umat ini ya. Wal umur alquliyah alamalin nafi.<br \/>\n(25:34) Orang-orang yang datang yang mendatangkan kemaslahatan untuk orang banyak. Jadi standar manusia itu khairunasi. Sebaik-baik manusia anfahum linas yang paling banyak memberi manfaat untuk manusia. Allahu Akbar. Itu sebaik-baik manusia. Bukan yang paling banyak nyusahkan manusia, apalagi nyusahkan negara. Subhanallah.<br \/>\n(25:58) Ada orang curi ayam, ada orang curi bebek, curi motor, ada curang yang mencuri uang negara. Allahu Akbar. Allah mustaan. Luar biasa kezalimannya. Bertriliun-triliun habis lenyap. Subhanallah. Mengapa? Karena mereka yang dipilih ini bukan orang-orang yang yang layak dipilih. Alangkah sulitnya mencari orang-orang yang layak dipilih. Yang paling banyak adalah pengkhianat.<br \/>\n(26:29) Yang paling banyak orang-orang yang yang jahil, yang dungu, jahulan, zaluman. Dan itulah ciri-ciri sudah dekatnya kiamat. Ciri-ciri dekatnya kiamat. Usnal amru ila giri ahli fantadirusah. Bilamana suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kiamat sudah dekat. Berkata Syekh Abdurrahman eh rahimahullah, ya waqad arsyadallahual ma&#8217;na fihi.<br \/>\n(27:07) Allah telah membimbing kita agar melakukan apa yang terkandung dalam hadis ini dalam firmannya, falaula nafar min kulli firqatin minhum thfatun. Mengapa tidak ada daripada seluruh umat ini satu kelompok manusia liatafaqqahu fiddin agar mereka benar-benar belajar agama ini. Walunziruahum agar mereka kelak menjadi pemberi peringatan bagi kaum mereka.<br \/>\n(27:33) Raja ilaihim ketika mereka pulang kepada kaum mereka. Syariat ini menganjurkan agar ada seang orang yang belajar. Iya benar-benar belajar agar mereka siap. Kata Umar, &#8220;Tafaqahu qobla anasudu belajar sebelum pemimpin.&#8221; Karena orang kalau sudah keburu diangkat sebagai pemimpin, dia enggak belajar. Dalam kejahilan, habislah segala-galanya. Dia rusak segala-galanya. Sebelum jadi pemimpin, belajar tafqahu qoblanu.<br \/>\n(28:01) Kata Allah, &#8220;Mengapa tidak ada sekelompok daripada mereka yang fokus belajar menimba ilmu agama? Ya, agar mereka sebagai penerang bagi kaum mereka ketika kembali. harus disiapkan. Subhanallah. I faamar bil jihad waquifatun kafiah. Di sini Allah perintahkan agar ada jihad, agar tegak sebagian orang untuk berjihad. Dan harus ada juga orang-orang yang mereka fokus belajar.<br \/>\n(28:38) Tidak berjihad dengan pedang, tapi dengan ilmu kelak. menepis syubhat-syubhat itu sama-sama jihad itu jihad dengan senjata ini jihad dengan ilmu. Semuanya disiapkan liina haula haula wa haula wa haula agar saling tolong-menolong. Kita tidak selalu berhadapan dengan musuh-musuh kita dengan senjata. Kadang-kadang lebih berat pada itu adalah perang syubuhat yang mereka sebarkan melalui jejaring sosial.<br \/>\n(29:04) pemikiran-pemikiran nyeleneh, pemikiran-pemikiran yang menyimpang, budaya adat istiadat yang menyimpang. Peperangan ini luar biasa. Bukan hanya peperangan pedang. Berapa banyak hancur satu bangsa bukan dengan pedang, tapi moral dihancurkan, pemikiran dihancurkan. Subhanallah. Disebarkan berbagai macam narkoba, akhirnya umat menjadi bodoh. Allahu Akbar.<br \/>\n(29:30) dibuat manus masyarakat semua sibuk dengan judi online. Akhirnya mereka jadi bodoh, generasi bodoh, semua sibuk dengan judi-judi tersebut. Allahu Akbar. Melemahlah satu bangsa. Akhlaknya rusak, rusak dengan berbagai macam tontonan-tontonan yang cabul, pemikiran-pemikiran yang tak baik, rusak moral, rusak bangsa, rusak amanah.<br \/>\n(29:53) Apa yang diharapkan dari bangsa semacam ini? Subhanallah. Maka dibutuhkan jihad. Ya, jihad para penimba ilmu, jihad para pejuang, semuanya saling butuh-membutkan. Waarahu taala bil wilayati watulati. Ya Allah perintahkan manusia untuk benar-benar dengan menyiapkan segala macam bentuk ya tokoh-tokoh orang-orang tertentu dalam segala macam bentuk tugas-tugas yang diberi mereka tugas tauliah.<br \/>\n(30:26) Iya. Wamar taala bil wilayati amar Allah perintahkan ini semua wimtim dan hanya akan dapat tercapai kesempurnaan dengan sarana ini minasuti wal mukamilat dibutuhkan syarat-syarat dibutuhkan penyempurna agar muncul orang-orang semacam ini. dibutuhkan pendidikan, pengajaran. Subhanallah. Fal wadaifuluddiniah wad duniawiyah.<br \/>\n(31:06) Maka segala macam misi-misi duniawi, ukhrawi, segala macam kewajiban-kewajiban agama, kewajiban-kewajiban dunia wal amal kulliyah, segala macam amalan-amalan yang sifatnya umum. La budda linasi minha. Harus ada orang-orang yang pegang ya. W tat masatuhum illa biha. Kalau enggak ada yang pegang dan dia enggak punya kelayakan hancur manusia, urusan mereka akan hancur. Harus ada yang pegang yang kuat, yang amanah, yang jujur, yang sanggup memikul beban.<br \/>\n(31:34) Wahiya la tatimmu illa bian yatawallahakiu wal umana. Yang enggak akan mungkin dapat terwujud kecuali yang dipilih, yang memegang adalah orang-orang yang memiliki kelayakan, orang yang memiliki amanah. Allahu Akbar. Yang dipilih karena memang layak, bukan dipilih karena keluarga, karena nepotisme.<br \/>\n(31:59) Dinaikkan keluarganya, anaknya, cucunya, menantunya padahal enggak punya kelayakan. Hancurlah suatu ya instansi pemerintah, negeri secara kekala besar, sekolah, pendidikan, perusahaan yang mana mereka tak peduli dengan orang-orang yang layak memegang. Subhanallah. Jadilah perusahaan keluarga ya. Jadilah pemerintahan begitu besar menjadi pemerintahan keluarga.<br \/>\n(32:29) Subhanallah yang la bukan orang-orang yang layak tapi karena ada jabatan yang berkaitan hubungan kekerabatan, nepotisme dan semacamnya. [Musik] ini membutuhkan kesungguhan menyiapkan orang-orang semacam ini. Butuh sekali disiapkan orang-orang semacam ini pendidikan yang memang layak. Contoh layak yang mendidik mereka menjadi orang-orang besar bihasabil istitaah dengan sekemampuan kita. Qallahu taala di mana Allah berfirman, &#8220;Fattaqulahaum.<br \/>\n(33:06) &#8221; Bertakwalah kepada Allah semampumu. Memang harus ada dalam segala sesuatu orang-orang yang memang mereka diperhatikan, di-support agar mereka kelak menjadi pemimpin, memiliki berbagai macam bentuk kebaikan-kebaikan ya yang dibutuhkan dalam dirinya ada. Ada hobi, ada keinginan, ada kerja keras, ada amanah.<br \/>\n(33:26) Orang-orang semacam inilah harus dididik agar kelak mereka memimpin dalam segala perkara. Demikianlah kiranya para pemirsa yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, para pemerhati raja, para pendengar haja di mana pun Anda berada. Beginilah kondisi ril setiap manusia kita harus siapkan orang-orang yang layak dalam segala macam bidang.<br \/>\n(33:47) Bukan sembarang comot, bukan sembarang ambil. Wallahu tabaraka wa taala alam. Wasallallahu wasallam wabarak ala abdihi wa rasulihi Muhammad. [Musik] Baik, Ustaz. Barakallah fikum wazakallahu khairan. Terima kasih atas pelajaran serta bimbingan yang telah disampaikan khususnya di kesempatan pagi hari ini.<br \/>\n(34:10) Semoga menjadi tambahan ilmu untuk kita semuanya dan Allah mudahkan kita bisa memahami dan mengamalkannya dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan serta ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Baik al Islam rahimani warahimakumullah. Sahabat Rja di mana pun Anda berada, silakan bagi Anda yang bertanya separ di 0218236543 atau pesan singkat di 0218236543.<br \/>\n(34:41) Berikut ini kami bacakan dari hamba Allah di Cikarang yang bertanya sebagai berikut. Ustaz, Ustaz, bagaimana cara bersikap kepada seseorang yang sering meremehkan dan bersikap tidak baik kepada kita hingga sikapnya ditiru oleh orang lain? Halnya karena ia guru ngaji dan merasa tinggi ilmunya.<br \/>\n(35:05) Hingga orang lain jika menegur saya di depan umum karena yang dilihat begitu dari gurunya. Jadi karena gurunya itu sering menegur dari amalan-amalan yang saya kerjakan, orang-orang lain pun mengikuti dan mengolok-olok bagaimana kita menyikapi yang seperti ini. Ustaz, silakan. Bismillah walhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah wala haula wala quwwata illa billah wa ba&#8217;duh.<br \/>\n(35:37) Jadi tadi sebagaimana kita bahas manusia itu banyak tapi jarang-jarang yang memang layak untuk suatu tugas. Iya. Demikian juga dalam ee dunia pendidikan tak semua guru itu layak ya. Tetapi kadang-kadang tak ada yang lain tetap mereka dijadikan sebagai guru, diangkat. Ya, kadang-kadang mereka khianat dengan tugas mereka.<br \/>\n(36:03) Kadang-kadang mereka tak punya kapasitas yang dapat diajarkan ilmu kepada anak-anaknya. Dan ini pun juga dalam segala bab ya sampai pada guru-guru agama ya, para mualimin, para ustaz-ustaz. Kadang-kadang juga mereka ada yang tak layak, tak memiliki kapasitas, tak memiliki keahlian. Kadang-kadang karena kurangnya ilmu, kadang-kadang memang kurang disiapkan ya lembaga-lembaga yang tak menyiapkan para pemimpin-pemimpin apa adanya ala kadarnya itulah yang naik, itulah yang menjadi guru.<br \/>\n(36:36) Ya, dalam kasus ini ada seseorang yang merasa tak enak ya, tak nyaman karena mungkin diperingatkan di depan orang banyak sehingga akhirnya dia dibully. Dan tentunya hal ini yang menyalahi prinsip-prinsip dalam agama bilamana ada yang salah langkah pertama adalah diingatkan secara agar yang memperbaiki kesalahannya.<br \/>\n(37:03) Tak ada orang yang senang diingatkan di hadapan orang banyak, diungkapkan kesalahannya di hadapan orang banyak, ditunjuk-tunjuk di wajahnya enggak ada. Orang tak suka meski dia salah, tapi tidak akan bela diri sehingga tak terwujudlah apa yang diharapkan. Kita berharap untuk memperbaikinya, kita berharap untuk meluruskannya. Tapi ketika itu dilakukan di hadapan orang banyak, ya akhirnya dia terlecehkan, maka dia enggak suka.<br \/>\n(37:26) Dia akan mentah, dia akan membalas. Ya, oleh karena itulah perhatikanlah bagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam memperbaiki umat yang salah. Nabi selalu menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung menembak orang tertentu dengan namanya. Nabi enggak sebutkan. Nabi kebanyakan mengatakan maalu aqwamin, maalu rijalin.<br \/>\n(37:50) Mengapa ada sebagian orang? Mengapa ada sebagian laki-laki? Yaritun yaritun laisa fi kitabillah. Buat syarat yang macam-macam yang mengada-ada enggak terdapat dalam kitab Allah Subhanahu wa taala. Ini adalah merupakan kasus yang terjadi sebagian orang. Tetapi Rasulullah tidak sebutkan namanya. Maka demikianlah dalam perbaikan. Ya.<br \/>\n(38:15) Dan bilamana guru terjadi di lingkuan sekolah, melecehkan murid-muridnya, merendahkan murid-muridnya, ditiru oleh kawan-kawan lain sehingga mereka membulinya. Ini guru, guru yang tak layak menjadi guru, yang perlu dididik kembali, perlu diulangi kembali ya. Subhanallah. Janganlah anak-anak dibully, murid-murid jangan dibully. Akhirnya ditiru oleh orang lain. Subhanallah. Ajarkan semua agar menghormati yang lain.<br \/>\n(38:40) Memuliakan ya, tidak sombong. [Musik] Bilamana seseorang di antara kawan-kawannya ada yang kurang dibantu, bukan direcehkan, bukan dibully, diajarkan agar dia dapat berar kembang. Dan berapa banyak orang-orang yang gara-gara dibully akhirnya hancur masa depannya. Bahkan ada yang sampai pada tingkat stres gila gara-gara terus dibully di mana-mana. Wallahul mustaan.<br \/>\n(39:03) Nam. Jazakallahu khairan. Ustaz, terima kasih atas nasihat dan bimbingannya. Semoga dapat menjadi tambahan ilmu untuk yang bertanya khususnya dan kita semuanya yang menyimak pada kesempatan pagi hari ini. Kembali kami akan bacakan pesan singat yang telah masuk dari hamba Allah yang bertanya. Asalamualaikum ustaz.<br \/>\n(39:26) Ana punya tetangga kalau menyetel musik kencang sekali. Setiap pagi rutin dangdutan dan mengganggu anak. Ketika anak ingin salat duha, bagaimana sebaiknya, Ustaz? Bagaimana saya menyikapinya? Haruskah saya tegur atau membiarkan hal ini terjadi setiap hari? Silakan. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin. Wasallallahu wasallam wabarak ala abbih rasul Muhammadin w ba&#8217;du.<br \/>\n(39:58) Kewajiban kita dalam agama ada kewajiban saling nasihat-menasihati. Ketika Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang beruntung, Allah menyebutkan pada karakter mereka ada empat karakter. Illalladina amanu wailus shihat watw bilhaq watwabr. Ketika Allah menyebutkan banyaknya orang merugi, Allah kecualikan dengan orang-orang yang memiliki empat karakter. Pertama adalah beriman.<br \/>\n(40:23) Dan iman adalah merupakan natijah hasil daripada ilmu. Yang kedua, orang yang beramal. mengamalkan ilmu yang dia pelajari. Yang ketiga, orang yang mendakwahkan manusia. Saling wasiat mewasiatkan ya agar manusia menepati jalan kebenaran. Dan dalam agama agama kita ada konsep namanya amar makruf nahi mungkar. Kata Allah, &#8220;Kuntum khair umatin ukhrijat linas.&#8221; Kalianlah sebaik-baik umat yang pernah dikeluarkan kepada manusia.<br \/>\n(40:50) Mengapa? [Musik] bilufi munkar karena kalian menegakkan amar makruf karena kalian mencegah perbuatan mungkar dan karena kalian beriman kepada Allah tabarak wa taala. Seianya Anda memahamkan kepada tetangga dengan jalan yang hikmah yang bijak, katakan oh kepada mereka, mohon maaf kecilnya ee boleh enggak kiranya musik dikecilkan terganggu kita.<br \/>\n(41:19) Kita sedang ada aktivitas di rumah. sedang baca, sedang salat, sedang ibadah, katakan ya andai kata ada kesempatan kapan masanya tepat, sampaikan juga tentang hukum musik kepadanya. Ya, minimal disampaikan jangan mengganggu orang lain. Setiap orang itu punya kemerdekaan ya, tapi kemerdekaannya berbatas dengan kemerdekaan orang lain. Dia bebas mendengarkan musik ya.<br \/>\n(41:46) Tetapi jika sampai mengganggu orang di sampingnya maka dia akan menjadi masalah. Subhanallah. ingatkan kepadanya ya agar jangan mengganggu tetangga ini. Mengganggu tetangga dan sungguh banyak orang-orang yang sekarang tak punya hati. Banyak orang yang tak tahu sama sekali tak punya perasaan. Ya kadang-kadang musik sekeras-kerasnya ada pada upacara pernikahan sampai malam-malam barut orang joget-joget suara hingar-bingar musik mengganggu tetangga sekitarnya.<br \/>\n(42:17) Ada anak-anak bayi yang sedang tidur terganggu. Ada orang yang keletihan masirat terganggu. Banyak orang tak punya perasaan. Allahu Akbar. Yang penting enak di dia. Yang penting nikmat dia. Ini sekarang sungguh banyak orang-orang semacam enggak peduli. Dia hanya peduli dengan dirinya. Subhanallah. Yang lain dia enggak peduli.<br \/>\n(42:37) Yang penting dia enak rasanya. Banyak orang sembarang buang sampah. Bawa rumahnya sampah. Campakkan di pinggir jalan, jalan menjadi tempat sampah. Enggak peduli dia. Yang penting bukan rumahku bersampah. Ya, akhirnya bertumpuk-tumpuk sampah di mana-mana. Inilah kebanyakan manusia.<br \/>\n(42:56) Iya, dia hanya sibuk bagaimana perkara yang menguntungkan dirinya tak perlu dengan orang lain. Allah mustaan. Maka ingatkan orang-orang semacam ini. Datangi dia bicara yang baik-baik, terangkan. Iya. Semoga insyaallah taala bila mana dilakukan dengan cara yang baik dia akan paham insyaallah tabaraka wa taala. Iya. Wallahu tabaraka wa taala alam. Nam.<br \/>\n(43:20) Barakallah fikum wajakallahu khairan. Terima kasih atas jawabannya. Dan berikut ini kami akan coba bacakan kembali pertanyaan dari pesanan singkat. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Bagaimana kita bisa meneladani sifat-sifat Allah yang maha sempurna dalam kehidupan sehari-hari tanpa merasa terbebani dengan tuntun? tuntutan kesempurnaan yang tidak realistis. Silakan, Ustaz.<br \/>\n(43:50) Pertanyaan sebagai berikut. Bismillah walhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wala haula wala quwwata illa billah wa ba&#8217;du. Allahu jalla waala memiliki secara kas besar dua sifat yang kembali kepada dua sifat. Ini semua sifat-sifat Allah. Yang pertama namanya sifatul jalal, sifat-sifat keagungan.<br \/>\n(44:16) Yang kedua, sifatul jamal, sifat-sifat keindahan. Ya, sebagaimana Allah katakan ee dalam Al-Qur&#8217;an Karim ya, fatabaroka fatabarmu dzil jalali wal ikram atau dzul jalali wal ikram. Dialah pemilik sifat aljal. Itulah sifat keagungan. Yang kedua, al-ikram itulah sifat jamal, kemuliaan. Sifat aljal ini seperti keagungan, kesombongan, kebesaran, ketinggian, ya keperkasaan.<br \/>\n(44:55) Ini sifat hanya layak untuk dimiliki Allah Subhanahu wa taala semata. Kita dilarang untuk mengambil sifat-sifat Allah ini, menirunya enggak boleh. Kita dilarang bersifat sombong, angkuh, takabur, masa hebat, masa tinggi, dilarang. Dan Rasulullah telah mengingatkan ya dalam dalam hadis beliau dalam hadis qudsi bahwasanya Allah Subhanahu wa taala mengatakan kesombongan adalah merupakan pakaianku.<br \/>\n(45:24) Ya, maka barang siapa yang mengambil pakaianku akan kau azab. Maka tak boleh kita meniru sifat Allah, sifat jal ini. Merasa kita hebat, merasa kita tinggi, merasa kita besar, merasa kuat. Jangan. Enggak boleh. Ya, ini dilarang ditiru. Yang meniru sifat ini Allah akan azab.<br \/>\n(45:51) Yang kedua, sifatu aljamal atau sifatul ikram dil jalali wal ikram. Sifatul jamal ini adalah segala macam sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang efeknya kepada manusia berupa cinta, kasih, sayang, rahmat, memaafkan, toleransi. Kita disuruh meniru sifat ini. Ya, kata Allah, wahsinu. Berbuat ihsanlah kalian. Innallaha yuhibbul muhsinin.<br \/>\n(46:18) Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan. Faufu. Wasfahu alhibbunfirullah lakum. Berilah mereka uzur. Berilah mereka maaf. Kepada mereka tidakkah kalian mau Allah mengampun dosa kalian? Tidakkah kalian mau Allah memaafkan kalian? Kalian ini sifat-sifat ihsan atau sifat-sifat aljamal ya. Ini kita hendaklah tiru.<br \/>\n(46:44) Innallaha jamilun yuhibbul jamal. Allah itu indah menyukai keindahan. Maka di antaranya kita diharapkan agar memiliki sifat-sifat yang indah. kepada sesama manusia. Sifat memuliakan mereka, membantu mereka, menolong mereka. Wallahuam Allah akan menolong hamba bilaana hamba menolong saudaranya.<br \/>\n(47:08) Ya kata Allah, kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Yarhamu man ard yarhamukum fama.&#8221; Rahmati yang di bumi, merahmatikan yang di langit. Ini sifat-sifat yang kita harus tiru, harus berupaya untuk menjadikan Allah sebagai panduan dalam kebaikan ini. Bilaana Allah mudah maafkan. Mengapa kau sulit maafkan? Maafkanlah sebagaimana Allah mudah memaafkanmu. Ya.<br \/>\n(47:28) Wallahu tabaraka wa taala alam. Nam. Jazakallahu khairan. Terima kasih atas jawaban dan nasihat yang bermanfaat. Dan berikutnya kami akan berikan kesempatan untuk Anda yang ingin bertanya langsung melalui via telepon di nomor 0218236543. Silakan. Halo. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(47:55) Bapak dengan siapa ini? Di mana? Mohon maaf. B Pak Bustan di Solok, Sumatera Barat. Silakan, Pak Bustan pertanyaannya. Nah, masalah ee gerakan gerarakan anggota tubuh, Ustaz, ada orang yang matanya kelopak matanya bergerak-gerak, ada ee jari yang bergerak gitu. Nah, itu bolehkah ditakwil itu? Ustaz ah sebelumnya ada yang mendakwilkan orang kalau mata suka bergerak ee kelopak matanya ee berarti tanda dapat musibah menangis. Ah, akibatnya.<br \/>\n(48:27) Kemudian ada telepat tangan yang bergara-gara mungkin ee dapat rezeki kedutan maksudnya gitu ya, Pak. Mata berkedut. atau tangan bergak sendiri hutan atau seperti apa itu akan ada tanda-tanda mendapatkan sesuatu gitu ya Pak ya menyikapi dari Iya. Iya. I begitu atau e termasuk syirik juga kalau sudah diyakini begitu. Iya. Nah, kemudian satu lagi ee pakaian-pakaian yang sifatnya boleh dipakai oleh ee laki-laki dan oleh perempuan seperti training rupanya kan ah yang sudah dibuntuhkan untuk istri ee dipakai oleh suaminya atau yang dibutuhkan oleh suami dipakai oleh istrinya. Apakah itu termasuk ee<br \/>\n(49:06) apanya memakai makai menyerupakan perempuan pakan perempuan, Ustaz? atau yang sebaliknya cukup. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak. Apa? Terima kasih atas pertanyaan. Ditunggu jawaban dari Ustaz dan nasihat. Iya. Ya. Ya. Ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan Ustazillah wasalatu wasalamu ala rasulillah.<br \/>\n(49:29) La haula wala quwwata illa billah wa ba&#8217;du. Dalam tradisi sebagian masyarakat kita ada yang namanya khurafat. Khurafat adalah sesuatu perkara yang tak ada dasarnya. Dari agama tak ada keterangan. Bahkan dalam alam realita pun tak ada. Hanya dihubung-hubungkan saja khurafat. Ya, macam-macam khurafat yang ada pada manusia.<br \/>\n(49:57) Ya, kadang-kadang khurafat itu menyentuh sisi-sisi akidah. Misalnya apa? Andai kata datang burung hantu atau terlihat burung hantu atau terlihat burung gagak. Akhirnya dia merasa sial. Ini sialah kita ini nanti akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Iya. Kadang dia melihat hal tertentu ya dianggap ini akan mendatangkan kesialahan. Ketabrak kucing. Udahlah sih hidup kita ya.<br \/>\n(50:24) Macam-macam khurafat yang ada pada manusia. Dan dalam agama kita semuanya ditimbang dengan dalil syarak dengan dalil daripada syariat. Nabi kita mengatakan sallallahu alaihi wasallam ketika menyebutkan 70.000 orang masuk surga tanpa hisab, tanpa adab, di antaranya adalah walladzina la yatayarun. Merekalah orang-orang yang tidak pernah meyakini tatayyur.<br \/>\n(50:50) Apa tatayyur? Meyakini bahwasanya benda-benda tertentu yang kala itu dilambangkan dengan burung bisa mendatangkan marah, bahaya, bencana, musibah ataupun keuntungan. Maka orang-orang semacam ini tidak akan masuk surga. Ya, orang yang memiliki perasaan tatayyurun ini menganggap ini angka 13 angka ini angka sial. Ini hari-hari Rabu, ini hari sial ini jumat-jumat kliwon ini hari sial.<br \/>\n(51:19) Ya, ini semua bagian daripada khurafat tradisi orang-orang musyrikin yang dia tak masuk akal logika sehat berpikir juga tidak dalil syarak bahkan bertentangan dengan dalil syarak. Tadi ditanyakan kepada kita tentang tafsiran sebagian orang. Bila matanya bergerak-gerak maka begini. Bila tangannya bergerak-gerak maka begitu. Subhanallah.<br \/>\n(51:46) Tanyakan kepada si fulan, &#8220;Mengapa matamu bergerak-gerak?&#8221; Ya, mungkin matanya bergerak-gerak karena memang sebagian orang qadarallah ada stroke ringan sehingga matanya enggak dapat dikendalikan bergerak-gerak. Ya, demikian juga tangannya pun demikian, gemetaran bergerak-gerak karena enggak dapat apa dikendalikan.<br \/>\n(52:04) Maka janganlah kita mudah menghubungkan segala sesuatu ini dengan perkara-perkara mistis, perkara gaib, perkara klinik, perkara klinik. Ya, kita khawatir atau terjebak dalam kesyirikan yang dilarang Nabi sallallahu alaihi wasallam. Itu untuk pertanyaan pertama. Kadang-kadang ya macam-macamlah datang kupu-kupu ini akan datang orang ini akan datang orang itu, orang agung akan datang.<br \/>\n(52:29) Ya, ini semua dihilangkan diabaikan kembalikan kepada Allah Subhanahu wa taala. Katakan qulan yusibana illa ma kataballahuana. Katakan takkan menimpa apapun musibah kepada kita kecuali apa yang Allah tentukan belaka. Enggak ada hubungan dengan burung, enggak ada hubungan dengan ketabrak kucing dan semacamnya. Enggak ada. Adapun pertanyaan yang kedua tentang pakaian.<br \/>\n(52:54) Apa yang dimaksud dengan larangan perempuan meniru pakaian laki-laki, laki-laki meniru pakaian perempuan? Ya. Jadi kita harus pahamkan pula bahwasanya ada pakaian yang berserikat padanya laki-laki dan perempuan. Misalnya jam ya. Ada ja yang bisa dipakai laki-laki juga bisa dipakai perempuan. Maka ini enggak dikatakan tasyabuh, enggak dianggap meniru. Yang satu menurut lainnya yang dilarang agama.<br \/>\n(53:19) Misalnya, misalnya lagi apa? Sarung. Di dalam di dalam tradisi kita, budaya kita, laki-laki pakai sarung, perempuan juga pakai sarung. Maka manakala sang istri memakai sarung suaminya atau suami memakai sarung istrinya, enggak ada masalah. Ini enggak dianggap tasyabuh. Karena masyarakat sudah menganggap ini pakaian yang dipakai bersama oleh dua jenis kelamin ini, laki-laki maupun perempuan.<br \/>\n(53:43) Demikian juga misalnya sebagian celana karena perempuan kadang-kadang dia mau keluar dia lebih aman rasanya. Dia memakai celana di dalam pakaian roknya atau jubahnya dia pakai celana. Kadang-kadang dia beli training. Training ini kadang-kadang juga digunakan laki-laki untuk berolahraga juga digunakan perempuan di dalam.<br \/>\n(54:02) Selama memang dia pakaian di dalam. bukan di luar untuk menjaga supaya tak tersingkap aurat ketika perempuan berolahraga, mendaki gunung dan semacamnya, maka ini enggak dianggap pakaian yang dilarang tasyabuh. Karena berserikat antara perempuan dan laki-laki ada baju-baju kaus yang dipakai laki-laki juga dipakai perempuan kadang-kadang sama mereknya, sama bentuknya, sama-sama pakaian dalam.<br \/>\n(54:27) Selama memang itu pakaian di dalam dipakai oleh perempuan, pakaian suaminya dipakai, kemudian di luar dia pakai jubah dan segala macam, enggak ada masalah walaupun dia memakai pakaian suaminya. Atau ada baju kaos punya istri, cocok pula dengan suami, dipakai suami, keluarahraga juga enggak ada masalah.<br \/>\n(54:44) Kenapa? Karena ini pakaian-pakaian yang berserikat antara laki-laki dan perempuan. Ya, maka dalam hal-hal yang berserikat enggak ada masalah. Kadang-kadang tas bisa dipakai laki-laki, bisa dipakai perempuan, kadang-kadang sandal ya sandal gunung misalnya itu bisa dipakai laki-laki, bisa dipakai perempuan. Di sini tidak ada namanya tasyabbuh yang dilarang dalam agama.<br \/>\n(55:02) Kenapa? Karena mereka berserikat dalam pakaian tersebut. Wallahu taala alam. Jazakallahu khairan. Kembali kami berikan kesempatan. Silakan di layanan telepon 0218236543 untuk bertanya langsung. Halo. Asalamualaikum, Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bapak dengan siapa ini? Di mana? Mohon maaf. Iskandar, Pak. Dari Kalimantan Timur.<br \/>\n(55:27) Iya, silakan Bapak Iskandar pertanyaannya. Anu, Pak ee masalah saya mau tanya masalah perlombaan-perlombaan, Pak. Kan kita ini ee sekarang apa di dunia ini banyak misalnya ee banyak perlombaan tilawah. Apakah dibolehkan Al-Qur&#8217;an itu di perlombahan begitu, Pak? Misalnya, ya bagus bacaannya diperlumba ke mana-mana. Boleh itu, Pak Ustaz? Itu aja, Pak Ustaz. Iya.<br \/>\n(55:54) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan, Ustaz. Alhamdulillah wasalatu wasalam rasulillah wala haula wala quata illa billah wa ba&#8217;du. Dalam sebagian ayat Al-Qur&#8217;an, ada perintah-perintah Allah agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Kata Allah, &#8220;Fastabiqul khairat.<br \/>\n(56:12) &#8221; &#8220;Hendaklah bermusabaqah dalam kebaikan, berlomba-lomba dalam kebaikan.&#8221; Ya, limli falyatanafasil mutanafisun. Untuk perkara semacam inilah seharusnya orang-orang saling berlomba. Ini ayat-ayat menunjukkan bahwasanya agama kita memerintahkan kita untuk mencapai kesempurnaan diri. Ya, menjadi orang terdepan. Kata Nabi, &#8220;Saddidu waqorbu.<br \/>\n(56:39) Berupayalah engkau mencapai kesempurnaan. Tasdid bila tak mampu waqoribu. Mendekatilah kepada kesempurnaan. Dekati kesempurnaan. Maka dari ayat-ayat ini, dari hadis ini juga praktik para sahabat kadang-kadang mereka sahabat juga berlomba. Nabi mengatakan la sabaq illa finin hafidin.<br \/>\n(57:01) Tak ada perlombaan itu yang lebih utama kecuali lomba memanah, lomba menunggang unta, lomba menunggang kuda. Ini menunjukkan dalam agama kita selama perlombaan ini tujuannya adalah untuk kebaikan. Dengan perlombaan kuda, memanah, ngunta, orang akan siap berjihad. Kemudian dibuat jugalah perlombaan-perlombaan.<br \/>\n(57:26) Perlombaan menghafal hadis sekian ribu hadis, menghafal 500 hadis, menghafal 40 hadis, perlombaan menghafal Quran. Maka ini adalah perkara-perkara yang bagian daripada perintah Allah. Fastafiqul khairat. Berlomba-lombalah kepada kebaikan. Ya, maka tak ada masalah. bahkan akan memacu para murid-murid untuk bersemangat menghafal dan mereka teruji dengan perlombaan-perlombaan semacam ini.<br \/>\n(57:52) Tetapi dengan catatan hendaklah selalu anak-anak diingatkan ini hanyalah merupakan sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan menjadi tujuan kalian menghafalkan Quran bukan untuk menjadi juara ya. Kalian menjadi juara musabaqah, mendapatkan uang, mendapatkan piala bukan itu tujuan. itu hanyalah sarana untuk memacu diri lebih baik lagi. Tujuannya adalah Allah negeri akhirat.<br \/>\n(58:15) Maka ingatkan mereka agar menjaga niat agar mereka lurus tapi bukan terlarang. Dan kita melihat bahkan diadakan sudah internasional. Banyak negara-negara Islam melakukan di Makkah selalu diadakan perlombaan tahfiz Quran dari seluruh dunia. Dan para ulama-ulama kibar tak ada satuun yang kita ketahui melarang hal ini.<br \/>\n(58:36) Adapun perkara niat itu masing-masing kembali kepada manusianya. Nah, maka ingatkan mereka agar menjaga keikhlasan. Wallahu tabaraka wa taala alam. Jazakallahu khairan. Dan nampaknya pertanyaan tadi merupakan pertanyaan terakhir di pertemuan kita di kesempatan pagi hari ini. Terima kasih jazakumullahu khairan atas kesediaan Ustaz untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah masuk.<br \/>\n(58:56) Dan sebelum kami akhiri mohon Ustaz memberikan ikhtit fadal ya Ustaz. Bismillah walhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah wala haula wala quwwata illa billah ba&#8217;du di penghujung acara ini ada beberapa faedah faedah dapat kita petik daripada hadis yang mulia ini bahwasanya kita jangan sibuk dengan kuantitas tapi selalulah perjuangkan kualitas dan dalam agama kita juga kualitas bukanlah segala-galanya bahkan agama ini banyak memuji yang minim minoritas daripada yang mayoritas dalam banyak hal qil ibaduk Akur sedikit hamba-hambaku yang<br \/>\n(59:32) bersyukur. AKAS yamun. Kebanyakan manusia tak mengerti dan semacamnya. Jadi jangan tertipu dengan jumlah banyak. Kadang-kadang jumlah banyak belum dijamin dia itu yang paling baik, yang lebih selamat. Bahkan kadang-kadang yang banyak itu yang sesat. Sedikit yang di atas kebenaran. Dan hadis ini mengajarkan kepada kita untuk benar-benar mempersiapkan orang yang betul-betul layak memikul beban menjadi pemimpin dalam segala bab yang amanah yang dipercaya.<br \/>\n(1:00:03) Kita harus fokus untuk memilih daripada generasi-generasi kita orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di belakangan hari kelak dalam segala bab. Pemimpin dalam agama, pemimpin dalam dunia, pemimpin dalam usaha dan semacamnya. siapkan untuk mereka dan jangan mudah-mudah memilih mengambil sembarang orang karena akan mendatangkan kehancuran. Wallahu tabarak wa taala alam.<br \/>\n(1:00:29) Wasallallahu wasallam wabarak ala abhi wa rasulih Muhammad. Wa akhir dawanahamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallahu khairan. Wabarakallah fikum. Terima kasih kami ucapkan kepada guru kita Ustaz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, MA hafidahullahu taala yang telah meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukan beliau di dalam mengajar dan berdakwah.<br \/>\n(1:01:01) Kembali membahas dari kitab Bajatul Qulubil Abrar hadis ke-98. Betapa sulitnya untuk menuhi kesempurnaan. Disampaikan pada kesempatan pagi hari ini yaitu kesempurnaan itu sulit. Dan semoga Allah Subhanahu wa taala dapat memberikan kemudahan untuk kita semuanya di dalam setiap urusan. Allahum amin. Ikhwat al Islam rahimani warahimakumullah. Sahabat terja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(1:01:24) Kami yang bertugas mohon maaf apabila ada kekurangan atau kekhilafan dalam menghadirkan program acara ini. Kami akhiri subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Radio Ro Bogor 100.1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) LIVE] Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tanpa ada perantara berbicara kepada mereka seluruhnya. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Rj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3525","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) LIVE] Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tanpa ada perantara berbicara kepada mereka seluruhnya. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Rj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:24:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T14:24:14+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"31 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:24:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:24:14+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip","og_description":"(81) LIVE] Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Tanpa ada perantara berbicara kepada mereka seluruhnya. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Rj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:24:13+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T14:24:14+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"31 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/","name":"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. - Bahjatu Qulubil Abror - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:24:13+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:24:14+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abu-fairuz-ahmad-ridwan-m-a-bahjatu-qulubil-abror-23\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, M.A. &#8211; Bahjatu Qulubil Abror"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3525"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3525"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3525\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3526,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3525\/revisions\/3526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}