{"id":3534,"date":"2025-11-24T21:27:37","date_gmt":"2025-11-24T14:27:37","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3534"},"modified":"2025-11-24T21:27:38","modified_gmt":"2025-11-24T14:27:38","slug":"ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/","title":{"rendered":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/3fUxRj4ms8k?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) [Musik] dan radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja.<br \/>\n(00:54) Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi wafa wasalatu wassalamu ala rasulihil mustofa wa ala alihi wasohbihi. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, hari Rabu malam Kamis tanggal 8 Jumadal Ula 1447 Hijriah.<br \/>\n(01:55) atau yang bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2025, kita masih kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin tafsir Al-Qur&#8217;an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala. Allahumma amin.<br \/>\n(02:47) Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam. kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti. Seperti biasanya sebelum kita mengawali pengajian malam hari ini, kita akan membaca sebagian dari ayat-ayat yang termaktub di dalam surah yang mulia, surah abasa.<br \/>\n(03:27) Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi majelis kita. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Auzubillahiminasyaitanirrajim. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Bismillahirrahmanirrahim. Abasa wa tawalla. Abasa wa tawalla. an jaahul a&#8217;maahul [Musik] wama yudrika la&#8217;allahu yazzakka wama yudrika laallahu yazakar au yadzakkaru fatanfaahu<br \/>\n(04:46) Amma manistagna amma managna faanta lahu tasodda faanta lahu tasadda wama alaika akikaz [Musik] [Tertawa] wa amma man jaaka yas&#8217;a amma man jaaka yas&#8217;a wahua yakhya wahua yaksya Faantahu talahhahu kalla innaha tazkirah. Para hadirin dan hadirat sekalian serta pendengar dan pemirsa rahimani<br \/>\n(06:02) warahimakumullah. Sebelum kita memasuki materi hari ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan salah satu dari jemaah rutin pengajian kita, yaitu Bapak Moko yang sedang sakit. Kita doakan semoga Allah Subhanahu wa taala berkenan untuk melimpahkan dengan segera kesembuhan total kepada beliau dan kepada segenap kaum muslimin yang sedang sakit.<br \/>\n(06:39) Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin arrahmanirrahim. Maliki yaumiddin. Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama shaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidum majid. Allahumma rabbanas mudhibal bas isfi moko waardal muslimin antas syafi la syifaa illa syifauk syifaan la yhodiru saqama allahumma rabbanas mudhibal bas isfihim antasyafi la siifaa illa syifauk syifaan la yiruqama anifaukifaqwana [Musik] alamin. Jemaah sekalian rahimani warahimakumullah.<br \/>\n(07:46) Pertemuan yang lalu kita membahas ayat berapa? Kelima. Apa bunyinya? Amma manista. Bismillah. Adapun orang yang merasa tidak butuh, yaitu orang-orang yang sombong. Sombong dengan kekayaannya, sombong dengan kedudukannya, sombong dengan status sosialnya. Siapa dia? pembesar Quraisy. Para pembesar-pembesar Quraisy seperti Abu Jahal, seperti Utbah dan orang-orang yang sedang didakwahi oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(08:52) Itu adalah ayat yang kelima. Jadi Allah Subhanahu wa taala sedang menjelaskan kondisi manusia-manusia yang ada di hadapan Nabi sallallahu alaihi wasallam saat itu. Bahwa mereka adalah orang-orang yang istagna, orang-orang yang merasa tidak butuh dengan keimanan, orang-orang yang cuek dengan hidayah. Karena mereka merasa sudah cukup dengan kekayaannya, dengan kedudukannya, dengan jabatannya, dengan status sosialnya, dengan pengikutnya.<br \/>\n(09:36) Itulah kondisi orang yang ada di hadapan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lantas bagaimana Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam bersikap kepada manusia-manusia yang seperti itu dijelaskan oleh Allah azza wa jalla di ayat yang keenam. Apa ayat yang keenam? Fa anta lahu tashadda. Adapun engkau wahai Muhammad sallallahu alaihi wasallam, sikapmu kepada manusia-manusia tersebut adalah tasodda.<br \/>\n(10:23) Tasadda itu artinya adalah melayani mereka dengan penuh kesungguhan dan perhatian. Kontras no mboten? Kontras nopo mboten? Kontras apa? Berbanding terbalik atau tidak? Iya. Wong mereka orangnya sombong, cuek, enggak peduli. Sedangkan Rasul sallallahu alaihi wasallam pripun? memberikan perhatian secara total, fokus untuk memperhatikan mereka, untuk mendakwahi mereka, untuk meluangkan waktu beliau buat mereka.<br \/>\n(11:19) Lihatlah bagaimana bertolak belakangnya sikap orang-orang Quraisy dengan sikap Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Pertanyaannya adalah sikap Rasul sallallahu alaihi wasallam yang penuh perhatian, yang sungguh-sungguh untuk mendakwahi mereka yang sombong tadi bagus atau tidak bagus? Ambleng.<br \/>\n(12:04) Sikap Rasul sallallahu alaihi wasallam yang melayani para pembesar Quraisy tadi dengan sepenuh hati. Dan mereka adalah orang-orang yang cuek, yang sombong, yang merasa enggak butuh dengan hidayah. Sikap Nabi sallallahu alaihi wasallam bagus atau tidak bagus? Bagus. Kenapa ditegur sama Allah? Yang ditegur itu bukan sikap kepedulian Nabi kepada mereka. Tapi yang ditegur oleh Allah adalah karena saking pedulinya kepada mereka sampai Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam kurang memperhatikan orang yang lebih butuh terhadap hidayah.<br \/>\n(12:56) Orang yang lebih semangat untuk mencari ilmu. Sinten? Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang punya kekurangan buta dan status sosialnya rendah. Jadi yang jadi masalah di sini adalah bukan perhatian besar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada pembesar Quraisy. Padahal mereka orang yang cuek, mereka orang yang sombong.<br \/>\n(13:42) Tapi yang jadi masalah adalah perhatian yang besar itu kemudian mengakibatkan ada orang yang terabaikan. Padahal orang yang terabaikan itu justru datang dengan penuh semangat. Dia datang tergopoh-gopoh dengan segala kekurangan fisik yang beliau miliki. Beliau tetap semangat untuk datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam pengin belajar.<br \/>\n(14:19) Tapi ternyata saat itu Rasulullah lagi nopo? Lagi si sibuk. Bismillah. Sibuk ngapain?Awahi mendakwahi ngopi bukan lagi sibuk mendakwahi orangorang musyrikin Quraisy sehingga itu kan ayat kelima, keenam nggih. Enggak lama kemudian, di ayat ke-8 sampai 10, Allah Subhanahu wa taala membandingkan membandingkan sikap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sangat perhatian kepada pembesar Quraisy tadi dengan sikap beliau sallallahu alaihi wasallam kepada Ibnu Ummi Maktum.<br \/>\n(15:15) Apa kata Allah di ayat ke-8 sampai 10? Insyaallah kita akan pelajari dengan lebih detail. Ini hanya menjelaskan secara umum saja. Wa amma man jaaka yas&#8217;a wahua yaksya faantahu talahha. Adapun orang yang datang kepadamu wahai Muhammad dengan bersegera datang dengan penuh semangat wahua yaksya.<br \/>\n(15:58) Dan dia datang dalam keadaan merasa takut kepada Allah pengin masuk surga takut neraka. Fa anta anhu talaha. Kok malah engkau mengabaikan dirinya? Nah, di situlah tegurannya. Jadi tegurannya itu bukan karena Nabi sallallahu alaihi wasallam memperhatikan para pembesar Quraisy, tapi karena perhatian besar itu mengakibatkan Nabi kita sallallahu alaihi wasallam agak abai dalam tanda kutip kepada orang yang lebih butuh.<br \/>\n(16:47) Pertanyaannya itu teguran buat Nabi sallallahu alaihi wasallam tok atau juga buat umatnya? Buat umatnya. Hah? Buat umatnya. As berlaku untuk kita semuanya. Supaya kita itu bukan menilai seseorang dari nopo? penampilan luarnya dari kekayaannya, dari status sosialnya, dari jabatannya, dari pakaiannya, dari sangat butuhnya dia kepada apa yang ada di tangan kita. Diabaikan.<br \/>\n(17:39) Orang yang tidak butuh malah diperhatikan. Banyak fenomena yang menunjukkan bahwa orang yang tidak butuh malah diperhatikan. Sedangkan orang yang butuh malah diabaikan. Ada kejadian seperti itu? Banyak banyak jenengan termasuk yang seperti itu apa enggak? Mandan Mandan.<br \/>\n(18:15) Kita lihat contohnya satu dalam dunia dakwah. Dalam dunia nopo dakwah? Tidak jarang seorang daih, seorang mubaligh itu mencurahkan waktunya, mencurahkan energinya. mencurahkan pikirannya untuk melakukan pendekatan kepada orang kaya, kepada para pejabat, kepada seleiti [Musik] yang mereka itu acuh tak acuh kepada ajaran agama. di waktu yang sama.<br \/>\n(19:08) Sayangnya kok mereka kurang perhatian kepada siapa? Kepada para santri, kepada jemaah pengajian rutin di masjid. Kepada ibu-ibu sepuh yang datang pengin menghadiri pengajian. kepada para mualaf [Musik] yang sangat butuh terhadap bimbingan yang sangat butuh terhadap orang yang bisa mengajari mereka. Dan ini namanya orang yang kurang memahami skala prioritas masih dalam dunia dakwah.<br \/>\n(20:04) Ada orang yang terlalu sibuk untuk membuat bangunan-bangunan, masjid-masjid yang sangat megah, yang sangat mewah, full fasilitas. Tapi sing salat ora nak di waktu yang sama. Ada masjid, ada musala yang jemaah pengajiannya full, toilete kur siji. Salone gemresek, karpete ora nana. Mana skala prioritas kita? Kenapa kita sangat perhatian kepada orang-orang yang tidak butuh dan justru malah kita abai kepada orang yang butuh? Ini contoh di dalam dunia nopo dakwah. Contoh yang kedua<br \/>\n(21:12) dalam dunia pendidikan. Dunia nopo pendidikan. Ada sebagian kampus, ada sebagian universitas. Kalau calon mahasiswanya itu berasal dari keluarga yang kaya digelarkan karpet merah. Kenang apa? sumbangannya gede padahal nilai akademiknya biasa-biasa saja malah kadang-kadang harus dika trol tapi begitu yang datang adalah calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu kurang mampu teka-teka gawa Pro proal pengin dapat beasiswa tidak mendapatkan perhatian padahal bijine<br \/>\n(22:28) sangsanga sanga a a malah a plus sing ma wong sugih C min enggak tahu ada apa enggak ya. I atau D. Ini namanya enggak punya skala prioritas. Masih dalam dunia pendidikan. Guru sangat memperhatikan muridnya yang nakale pol. Cuma karena dia anak pejabat. Sedangkan murid sing manut banget berprestasi malah kurang mendapatkan perhatian.<br \/>\n(23:32) Kenapa? Karena babake kuli bangunan. Ini contoh dalam dunia nopo? Pendidikan. Yang pertama dalam dunia dakwah. Yang kedua dalam dunia pendidikan. Yang ketiga dalam dunia kerja dan bisnis. Dalam apa? Dunia kerja dan bisnis. Ada sebagian manajer itu lebih memperhatikan klien-klien yang besar ya. Sehingga dijamu didengarkan padahal kliennya rewele pol.<br \/>\n(24:25) klien itu sombong, selalu menuntut. Di waktu yang sama dia mengabaikan klien-klien langganan yang kecil-kecil. Padahal mereka adalah klien yang setia yang justru mereka menjadi tulang punggung bisnis tersebut supaya bisa stabil. Ini contoh tidak paham skala prioritas. Begitu ada pembeli kelihatan bajunya nopo bagus ya, mobilnya bagus.<br \/>\n(25:13) Wah, langsung karyawan tergopoh-gopoh untuk menyambut. Padahal baru datang. Sedangkan tadi sudah ada datang ibu-ibu bawa kresek isine duit receh. Arep tuku kulkas golenge tung. Oh, sebentar Bu ya. Sebentar ya. Tunggu-tunggu sebentar. Silakan. Ini disambut. Padahal ini belum tentu belum. Kenapa? Karena sudah kelihatan bawa kartu padahal anu ngutang ya. Gaya-gayane gawa kartu jane anu ngutang lebih terhormat.<br \/>\n(26:06) Yang mana? Sing gawa kresek duit tunai duit dewek ora ngutang. Ya malah orang yang seperti itu diapain? Diabaikan. Tiga dalam dunia nopo bisnis? Tiga. Yang keempat dalam interaksi sosial. Ya, dalam interaksi sosial. Contoh yang paling gampang adalah ketika walimah. Ketika nopo walimah? Siapa yang akan disambut dengan ramah? yang datang pakai mobil dipersilakan untuk masuk.<br \/>\n(27:00) Duduknya di mana? Depan sendiri pakai jas, pakai sepatu. Begitu yang datang nganggo sepeda ontel sendale jepit selen maning jagonge nang endi? nang dapur. Karena itulah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dan redaksi yang saya bawakan adalah redaksinya Imam Muslim.<br \/>\n(27:44) Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Syarrut thami thamul walimah.&#8221; Makanan yang paling buruk adalah makanan yang disajikan saat walimah. Priwe makanan yang paling buruk adalah makanan yang disajikan saat nopo? Walimah. Priwe ustaz wong k lagi perbaikan gizi malah makanan yang buruk. Yang jadi masalah itu bukan makanannya. Yumnauha man yatiha waud&#8217;a ilaiha man ya&#8217;baha.<br \/>\n(28:40) Karena makanan di dalam walimah itu atau walimah itu biasanya yang diundang adalah yang enggak butuh dan yang butuh malah enggak diundang. Maksudnya pripun? Yang diundang yang enggak butuh maksudde orang kaya. Orang kaya itu kan wis biasa mangan enak. Ketika dia ngelihat makanan di walimah biasa no mboten biasa. Wong lawu luwih enak nang umah. Yang orang enggak butuh malah diundang.<br \/>\n(29:23) Orang yang butuh malah enggak diundang. Siapa sing butuh? Orang yang setiap hari di rumahnya lah weuyah jelanta dia pengin sekali-kali mangan karo ayam daging sate endle malah enggak boleh nopo datang perbeda Bedaan itu terjadi karena apa? Karena yang dicari amplop. Kalau yang diundang orang miskin amplope R000u. Ora balik modal modal.<br \/>\n(30:28) Wis mangane akeh ngweine setidik. Kalau ngundang orang kaya kan orang kaya kan biasanya gengsinya apa? Gede. Malu dia kelihatan ngambil banyak paling jukute suprit gitu ya. Ngine pira jenengan biasanya ngene pira? Jangan, Ustaz, takut riak, Ustaz. Ya, ngambil paling cuma kalau dihitung di warung itu paling cuma berapa? Rp15.000, Rp2.<br \/>\n(31:15) 000 ngambil sedikit aja sekedar forma formalitas tapi gole amplopi 100 minimal loh. Minimal ya 500 kan badin akeh banget. Justru karena itulah kemudian makanan di walimah itu dikatakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sebagai makanan yang paling buruk karena ada diskriminasi. Orang yang butuh malah enggak diundang. Orang yang enggak butuh malah diundang.<br \/>\n(31:54) Berarti besok kalau jenengan diundang walimah datang nopo mboten? Datang no mboten memakan makanan buruk. Jangan salah paham. Nabi sallallahu alaihi wasallam bukan lagi mengkritik ya makanannya, tapi yang dikritik intinya adalah diskriminasi yang terjadi. Itu yang sedang dikritik sebenarnya.<br \/>\n(32:28) Makanya apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Waman lam yujibid dawata faqad asallaha wa rasulahu sallallahu alaihi wasallam. Barang siapa yang diundang kok tidak mendatangi undangan tersebut maksudde undangan opo? Walimah maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Milih sing i mangkat apa ora? Mangkat mangkat mangkat ustaznya ya. Jadi ini penting buat kita kalau mau bikin walimah jangan ee pilih kasih ya. Jangan apa pilih kasih.<br \/>\n(33:12) Oh ustaz berarti open host ustaz siapa bae bisa teka. Ya bukan seperti itu. Kita juga ngelihat nopo kemampuan kita. Wong mampune cuma bisa menjamu 100 orang, masa buka undangan di medsos ya sing teka sewu kepriwe kan kafiran. Tapi maksud saya itu ketika kita cuma punya uang buat jamu 100 orang, mbok yau yang diundang itu jangan hanya orang kaya saja, tapi di-mix.<br \/>\n(33:51) Di-mix di apa? dicampur dicampur CRT, CRW yang semuanya ini ada yang kaya, ada yang miskin, ada anak yatim ya. Sehingga nanti makanannya tidak menjadi makanan yang buruk. Terakhir dalam keluarga. Dalam noo keluarga. Ada sebagian orang tua rela lembur demi untuk menyenangkan atasannya. Padahal anak-anaknya di rumah membutuhkan kehadiran orang tua tersebut.<br \/>\n(34:36) Ini juga orang tua yang tidak punya skala prioritas. anaknya butuh untuk ditemani garap PR. Anaknya butuh untuk sekedar dibacain buku cerita. anaknya butuh untuk sekedar ditemani diran, tapi waktu itu dirampas untuk memenuhi ambisi atasannya. Bukan berarti tidak bekerja, tapi semua ada waktunya. [Musik] Waktunya kerja. Iya.<br \/>\n(35:26) Kerja waktunya bercengkerama dengan keluarga ya jangan untuk kerja. Aku ora usah ora mangat kantor waktune nang umah. Ya nang umah bae. Cuman gawa lemburan mengumah ya pada bae. Pahami skala prioritas. Semoga bermanfaat. Kita akan lanjutkan insyaallah pada pertemuan berikutnya. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon atas segala kunanya kita akhiri.<br \/>\n(35:59) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] dan radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3534","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] dan radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:27:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T14:27:38+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/\",\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:27:37+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:27:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:00) [Musik] dan radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:27:37+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T14:27:38+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/","name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:27:37+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:27:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-13\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3534"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3535,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3534\/revisions\/3535"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3534"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3534"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3534"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}