{"id":3538,"date":"2025-11-24T21:30:12","date_gmt":"2025-11-24T14:30:12","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3538"},"modified":"2025-11-24T21:30:13","modified_gmt":"2025-11-24T14:30:13","slug":"ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/","title":{"rendered":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/FKwItgNpjIg?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:10) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keotentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis kesalehan tidak cukup.<br \/>\n(00:35) Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwat al Islam azaniallahu wa iyakum. Alhamdulillahiabbil alamin hamdan katsir thiban mubarokan fih kama yuhibuna waard wasatu wasalamu ala asrofil mursalin waa alihi wa ashabihi ajmain w tabium bis yaumilqiamah w ik islam azaniallahuakum para pendengar pemerhati raja dan sahabat raja semuanya kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala di malam hari ini kembali kita bisa bertemu dalam rangka untuk menuntut ilmu syari Dan tentunya kita bersyukur kepada Allah<br \/>\n(01:27) Subhanahu wa taala atas karunia yang Allah berikan kepada kita semuanya. Dan kita mohon kepada Allah agar Allah memberikan karunia dan keberkahan untuk kita di malam hari ini hingga menjelang besok pagi insyaallah. Allahum amin. Ikhwat Islam azaniallahu wyakum.<br \/>\n(01:48) Kembali kami hadirkan di ruang dengar Anda dan layar televisi Anda satu kajian ilmiah dari pembahasan kitab sahih aljamiusir yang insyaallah akan disampaikan dan dipaparkan bersama guru kita Al Ustaz Alfadil Dr. M. Hasan Ayatullah, MA. Hafidullahu taala. Dan alhamdulillah kami telah terhubung dengan beliau. Tentunya sebelum kajian kita simak bersama, kami informasikan kepada Anda semuanya bagi Anda yang ingin bertanya secara langsung, Anda bisa menghubung kami langsung di 0218236543.<br \/>\n(02:15) Kami informasikan kembali nomor yang untuk menghubungi secara langsung. Anda menghubungi dengan nomor lokal, tidak bisa menghubungi melalui call WA. Adapun bagi Anda yang bertanya melalui chat WA, Anda bisa kirimkan di 0218236543. Untuk WhatsApp hanya kami bisa terima pertanyaan melalui tertulis.<br \/>\n(02:37) Adapun untuk menghubungi secara langsung Anda bisa menghubungi melalui telepon lokal. Nah, ikht Islam azani Allah wyakum. Kita simak bersama dan kepada ustaz kami persilakan. Falatafadil maskur. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nastainu ala umurid dunya waddin wasalatu wassalamu alal mabuti rahmatan lil alamin nabiina muhammadin waa alihi wasohabatihi wat tabiin waman tabiahum bisihsanin yaumiddin.<br \/>\n(03:17) Ya ayyuhalladina amanutaqulaha haqqa tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhanasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah walaqa minha zaujaha w minhuma rijalan waisa wattaqulahalladzial bihi wal arham inallahaana alikumqiba ya ayyuhalladina amanutqulaha wauluan sadida yuslih lakum aalakumagfirakum dunubakum wahulahu faq fauzan amma Ikhwah sekalian, kaum muslimin dan muslimat, pemirsa Raj TV dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian malam hari ini.<br \/>\n(04:01) Semoga kita menjadi hamba Allah yang bersyukur, memanfaatkan nikmat Allah dengan seperti yang dikehendakinya. Dan kita ingin tidak lupa dengan nikmat Allah Subhanahu wa taala, sehat, aman, dan bisa makan. Orang ketika memiliki tiga hal ini, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan, &#8220;Fakaannama hizat lahud dunya.&#8221; Seperti dia memiliki dan menggenggam dunia. Iya.<br \/>\n(04:33) Manana man asbaha muafan fi jasadihi aminan fi sirbihahumih lahud dunyaha. Dalam beberapa riwayat disebutkan barang siapa di hari itu dia mengetahui ee aman pada semua aktivitasnya, dia keluar masuk atau dia pergi, dia melakukan aktivitas apapun aman. tidak khawatir terjadi sesuatu.<br \/>\n(05:09) Kemudian yang kedua, dia merasa sehat dalam badannya. Kemudian dia bisa mendapatkan rezeki makan di hari itu. Seolah dunia menjadi miliknya. Ikhwah sekalian, orang ketika sakit seringki putus asa. Dia kadang merasa, &#8220;Iya, saya berdosa dan seolah-olah lemah. Dan barangkali pasrah. Orang sampai memberi motivasi mengatakan, &#8220;Ayo semangat, ayo semangat.<br \/>\n(05:42) &#8221; Masalahnya bukan semangat atau tidak semangat. Ketika seorang dalam kondisi lemah, dia tidak mampu untuk berbuat apapun. Dan seringkiali barangkali ketika dia sudah sembuh, lupa dengan kondisi waktu sakit. Sekuat apapun orang ketika sakit dia betul-betul pada sisi yang terlemah dan dia pasrah tidak bisa berbuat apa-apa.<br \/>\n(06:11) Orang kaya, pejabat memiliki semuanya ketika sakit selesai urusannya seolah dia akan pasrah kepada orang yang bisa membantunya. Dunia medis, obat-obatan disuruh istirahat, tidak beraktivitas. kekuatan yang dibanggakan hilang. Ini bisa jadi teguran dari Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(06:37) Maka kita akan merasa nikmat sehat itu pada saat Allah menguji dengan sakit. Maka ini yang juga disampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah. Beliau mengatakan, &#8220;Wa aksaru hadin nikmah innama yuqruhaal man minha.&#8221; Kebanyakan nikmat yang Allah berikan ini baru dirasakan berharganya pada saat hilang.<br \/>\n(07:03) Maka beruntung orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain. Sampai di dalam pepatah Arab mengatakan, &#8220;Fasaidu man wid bighirihi.&#8221; Orang berbahagia adalah orang yang bisa mengambil nasihat dari kejadian orang lain. Mendapat musibah diuji Allah. Dia tahu bahwa musibah itu bisa menimpa dia, maka dia bersyukur dan dia memanfaatkan.<br \/>\n(07:27) Selama dia tidak memiliki dan tidak diuji Allah, maka dia manfaatkan kesempatannya, kesehatannya dan iman dan akalnya sebelum Allah azza waalla mampu untuk memberikan hal serupa kepada dirinya. Sampai orang Arab juga mengatakan wasyaqiyu manta bihi giriruhu. Orang celaka adalah orang yang dijadikan pelajaran orang lain sementara dia tidak mengambil pelajaran.<br \/>\n(07:52) Ikhwah sekalian, kita akan berusaha untuk memanfaatkan umur kita, ilmu kita dengan mempelajari dan menyelami sabda Rasul sallallahu alaihi wasallam. Baik, kita melanjutkan pembahasan yang telah kita ee sampaikan pada pertemuan sebelumnya tentang kehadiran Malaikat Jibril. Kini kita akan mempelajari tentang wasiat yang disebutkan oleh Jibril kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(08:33) Sehingga pesan ini juga disampaikan kepada para sahabatnya, kepada umatnya. sebuah kaidah disebutkan lima hal dan menjadi sebuah kepastian sehingga orang yang tahu menyadari dia akan mengambil solusi, sikap yang bijaksana atau persiapan. Baik, hadis yang ke-73 dari sahabat Sahl Ibnu Sa&#8217;ad ini yang diriwayatkan dalam kitab Al-Hakim dan ee Albaihaqi. Dan juga disebutkan di sini oleh Assuyuti dalam kitab Asyirazi ya.<br \/>\n(09:11) Asyirazi Abu Bakar Ahmad ibn Abdurrahman wafat di tahun 4131 Hijriah. Beliau memiliki kitab seperti yang disebutkan Al-Aqab. Ee disebutkan namanya adalah Al-Alqab waluna. Dan ini menyebutkan tentang hadis dan kitab ini wallahuam barangkali belum tercetak.<br \/>\n(09:37) Akan tapi sebagian ulama ee sempat meringkas buku tersebut dan buku ringkasan itu ee dicetak dan bisa dimanfaatkan. Kemudian juga disebutkan oleh Albaihaqi dalam kitab Syu&#8217;abul Iman. Itu yang disebut atau Albaihaqi dalam kitab Syu&#8217;abul Iman dari hadis Jabir. Kemudian dari hadis Ali radhiallahu anhu yang meriwayatkan adalah Abu Nuaim dalam kitab beliau Hilyatul Auliya.<br \/>\n(10:03) Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Atani Jibril.&#8221; Jibril mendatangiku. Faqala ya Muhammad. Maka Jibril mengatakan, &#8220;Wahai Muhammad, Nabi sallallahu alaihi wasallam sering ditegur Allah azza waalla dan dipanggil dengan panggilan rasul, panggilan Nabi. Ya ayyuhan nabiyuttaqillah, ya ayyuhar rasulu balligh ma unzila ilaik.&#8221; Wahai nabi, bertakwalah kepada Allah.<br \/>\n(10:35) Wahai rasul, sampaikan risalah yang engkau emban.&#8221; Dan ini merupakan panggilan penghormatan. Akan tetapi dalam riwayat ini Jibril memanggilnya dengan nama langsung dikatakan ya Muhammad. Ya. Ee almunawi rahimahullah dalam Faidul Qadir syarah Jami Saghir mengatakan ini memang situasi untuk memberi nasihat seperti orang yang akan mendapat pujian dari Allah dan itu pasti ya.<br \/>\n(11:08) Maka ketika dia dipanggil dengan nama, dia akan lebih memperhatikan. Dan ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam dinasehhati, &#8220;Engkau akan melihat kematian, engkau akan mendapatkan sesuatu yang tidak bisa engkau hindari.<br \/>\n(11:28) &#8221; Ini lima hal yang akan disampaikan ini, maka pantas sekali dengan panggilan nama agar lebih ee diperhatikan. Kemudian disebutkan isma s&#8217;ta fainnaka mayyitun. Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena nanti engkau akan mati cepat atau lambat.&#8221; Orang yang tahu bahwa usianya panjang pun tahu. Orang berakal paham dia pasti akan mati. Tidak ada orang yang kekal. Ya, innaka mayyitun wa innahum mayyitun. Engkau wahai Muhammad mati dan mereka semua akan mati. Kullu nafsinqatul maut.<br \/>\n(12:02) Setiap jiwa akan mati. Kalaupun seandainya ada yang diberi kesempatan panjang umur, kita tahu bahwa umur Muhammad, umur umat Muhammad sallallahu alaihi wasallam terbatas. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;A&#8217;maru umati bain waqallum man yajuzik.&#8221; Umur umat ini atau umur umatku kata Nabi sallallahu alaihi wasallam berkisar 60 sampai 70 tahun. Jarang yang lebih dari itu.<br \/>\n(12:29) Kalau ada yang lebih berarti sedikit. Baik. Dulu ada umat-umat yang panjang umurnya. Dan mereka juga mati seperti disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an. Falabita fihim alfanatin illaama. Nabi Nuh diutus Allah azza waalla berdakwah di kaumnya 950 tahun. Itu berdakwahnya umur beliau sebelum berdakwah berapa? Mungkin sekali umur beliau 1000 tahun.<br \/>\n(13:00) Dan ada yang diberi kesempatan milih umur sendiri. Di dalam Sahih Bukhari dan Muslim, Nabi Musa alaihialatu wasalam didatangi malakul maut tapi dalam bentuk manusia. Ketika datang, Nabi Musa tidak tahu bahwa yang datang ini adalah malakul maut. Lalu dia mengatakan, &#8220;Ya Musa ajib rbak.&#8221; Wahai Musa, penuhi panggilan Rabbmu. Maksudnya siap-siap mati.<br \/>\n(13:29) Kamu sudah waktunya mati. Maka Nabi Musa tidak kenal. Dan tiba-tiba orang itu mengatakan demikian, maka beliau marah. Fasokahu, maka dipukul muka malakul maut yang berbentuk manusia ini. Fafaqa ainahu faqqa ainahu. Sampai matanya keluar.<br \/>\n(13:54) Maka malakul maut lapar kepada Allah sambil mengatakan, &#8220;Ya Rabb arsaltani abdin la yuridul maut. Wahai Rabb, Engkau utus aku kepada hambamu yang tidak mau mati.&#8221; Maka ee Allah azza waalla mengembalikan mata itu lalu dikatakan, &#8220;Idhab ilaihi waqul lahu.&#8221; Kamu pergi ke Musa lagi. Kamu katakan kepada dia, &#8220;Yada yadahu ala matur.&#8221; Biar dia meletakkan tangannya di punggung lembu. Di punggung lembu begini.<br \/>\n(14:30) Walahu ala ma yadahu walahu ala ma gat yadahu bikulli sya&#8217;ratin sanah. Dia sebesar tangannya menutupi bagian lembu dan yang ada di dalam di bawah tanah atau di bawah tangan ini ada bulu-bulu yang dimiliki oleh lembu itu. Satu helai bulu bisa dijadikan sebagai 1 tahun tambahan umur. Ya, dikatakan kalau seandainya dia mau, letakkan tanganmu saja sudah di lembu itu. Nanti ada bulu yang engkau tutupi dengan tanganmu.<br \/>\n(15:04) Satu helai lembu harganya sama dengan satu umur. 1 tahun lagi tambah umurmu. Tapi Nabi Musa alaihi salatu wasalam mengatakan, &#8220;Ya Rabb tsummaah.&#8221; Setelah itu apa? Kalaupun anggap saja ini bulunya banyak sekali, ratusan bulu. Anggap saja tambah ratusan tahun umurnya Nabi Musa alaihialatu wasalam. Setelah itu apa? Maka Allah mengatakan tsummal maut.<br \/>\n(15:28) Ya, setelah itu mati. Maka Nabi Musa mengatakan, &#8220;Falana idzan.&#8221; Kalau begitu sekarang saja. Enggak ada bedanya. Dan ini mestinya disadari oleh semua orang yang hidup. Kalau sudah pernah hidup berarti siap-siap mati. Ketika Abu Bakar radhiallahu anhu melihat Rasul sallallahu alaihi wasallam sudah wafat, beliau sempat memeluk Nabi sallallahu alaihi wasallam mencium antara dua mata beliau.<br \/>\n(15:58) Kemudian beliau menangis lalu mengatakan, &#8220;Lan yajmaallahu alaika mautatain.&#8221; Allah tidak akan mengumpulkan kepada engkau ya Rasul dua kematian. Ammal mautatullati muttaha amal mautatul ula faqad muttaha. Adapun yang pertama, engkau telah melewatinya. Semua akan melewati kematian. Maka ini juga sudah disampaikan Rasul sallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.<br \/>\n(16:25) Dan beliau mendengar dari Jibril, &#8220;Ya Muhammad, isma s&#8217;ta fainnaka mayitun. Mau hidup sesukamu engkau akan mati.&#8221; Ini pesan pertama. Yang kedua, wa ahbib manta fainnaka mufariqu. Cintailah semua orang yang kamu suka dan sesukamu, tapi satu saat engkau akan meninggalkannya. Engkau akan berpisah dengannya.<br \/>\n(16:52) Entah engkau berpisah dengannya dengan tempat atau dengan kematian atau dengan cara lain. Artinya kecintaan seseorang akan berujung dengan perpisahan. Maka kata almunawi rahimahullah, orang yang sadar dia tidak akan bisa selama-lamanya bersama orang atau bersama seseorang, maka dia tidak akan menambatkan semua hatinya pada orang yang akan ditinggalkan. Memang orang tidak tahu akan berapa lama dia bersama.<br \/>\n(17:23) Tetapi orang yang sadar dia tidak akan selamanya, maka dia akan membatasi. Tidak seperti orang yang menyangka akan selama-lamanya. Ya, seperti orang yang tahu dia tinggal di sebuah negara sebatas dia bekerja. Kalau tidak diperpanjang masa kerjanya, dia akan pulang kemungkinan 1 tahun, kemungkinan 2 tahun.<br \/>\n(17:50) Maka tidak mungkin kurun waktu 2 tahun ini dia akan manfaatkan untuk sebuah aktivitas yang butuh dalam membutuhkan waktu lama. dia butuh misalkan bisnis proyek yang kisaran waktu yang dibutuhkan 10 tahun. Padahal dia tahu 2 tahun mungkin dia akan pulang. Atau barangkali orang yang diajak kerja sudah tua sakit-sakitan, dia tahu orang ini enggak bakal lama.<br \/>\n(18:21) Sehingga dia akan mengambil langkah hati-hati dan waspada. Atau barangkali dia sendiri paham, orang ini datang kepadaku loyal karena ada kepentingan dan kepentingan itu ada padaku. Kemungkinan hanya bertahan 2 tahun ini. Setelah ini barangkali orang ini akan meninggalkanku, maka dia akan memikirkan apakah dia manfaat kalau dilakukan perpanjangan kontrak atau kerja sama.<br \/>\n(18:53) Ya, ini namanya ee seseorang realistis ya. Dan mestinya ketika dia sadar orang yang ada di dekatnya tidak akan lama dengan dia, maka dia pun harusnya seperti itu ya. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Ahbib man&#8217;ta fainnaka mufariqu.&#8221; Engkau akan suka dengan siapapun. Engkau harus sadar satu saat kau akan berpisah dengan dia.<br \/>\n(19:24) Kemudian berikutnya eh wal ma&#8217;ta fainnaka majziun bih. Silakan engkau mau melakukan apapun tapi ingat engkau pasti akan mendapat balasannya. Dan ini sejalan dengan firman Allah&#8217;al mqalatin yarah walqartinar yarar. Orang yang mau beramal dengan kebaikan sekecil apapun, dia akan melihat balasannya.<br \/>\n(20:02) Sebaliknya, sekecil apapun sebuah kejelekan, dia juga akan melihat akibatnya. Artinya tidak ada sia-sia. Allah Subhanahu wa taala melihat tidak ada yang terlewatkan dan semua orang tidak akan dizalimi. Alyaum tujza kullu nafsim bima kasabat laulmal yaum. Kata Allah subhanahu wa taala dalam surat Ghafir, &#8220;Hari ini semua akan diberi balasan. Tidak ada yang akan dizalimi.<br \/>\n(20:34) Allah juga mengatakan dalam Al-Fatihah, kita baca terus Maliki yaumiddin, raja hari pembalasan. Dan ini merupakan pembalasan seadil-adilnya. Tidak ada keadilan yang lebih adil pada hari kiamat daripada hari kiamat. Orang tidak mendapatkan haknya di dunia karena dia lemah, karena tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki bayaran, tidak memiliki koneksi, dan seterusnya, dia akan mendapatkan semua haknya di sisi Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat.<br \/>\n(21:12) Sehingga ayat-ayat tadi berikut juga adalah dalil ini menjadi kabar gembira untuk orang-orang yang terzalimi dan belum mendapatkan haknya. Sekaligus ancaman untuk orang-orang yang berbuat zalim. Hati-hati nanti tidak akan ada yang terlewat di sisi Allah Subhanahu wa taala. Maka di dalam surat Alkahfi disebutkanal kitabu mujrimina musfiqina fquun ya wailatanaal kitab la yadiruiratan w kabiratan illa ahsaha.<br \/>\n(21:46) Ketika tulisan catatan amal semua orang diletakkan, dipaparkan, ditampakkan, maka orang-orang berdosa yang zalim itu akan terlihat sengsara dan mereka akan menderita. Mereka akan mengatakan, &#8220;Ini catatan apa? Semuanya lengkap. Tidak ada yang terlewatkan sama sekali.&#8221; Iya. Sekarang kita tahu ini adalah teori dan semua orang harus paham apakah mereka menyadari, mau meyakini atau tidak semua tidak akan merubah takdir Allah. Allah maha adil dan semua hak-hak orang akan diberikan.<br \/>\n(22:24) Maka amal itu semuanya juga akan dibalas oleh Allah subhanahu wa taala. Maka ini pesan dari Jibril kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam sampaikan kepada kita sebagai umat umatnya agar kita tidak ada yang terlewat. Kemudian disebutkan wlam anna syarofal mukmini qiamuhu bila. Ketahuilah wahai Muhammad sesungguhnya kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malamnya. Wazzahu istighnauhuinas.<br \/>\n(23:01) Dan kemuliaan dia agar tidak gampang diremehkan atau dianggap rendah oleh siapapun agar dia selalu terhormat dan mulia. Apa kuncinya? Istighnauhu aninas. ketika dia bisa tidak tergantung pada orang lain. Ini diawali dengan waam, ketahuilah. Dan subhanallah, almunawi rahimahullah menukil perkataan ulama lain. Wallahuam.<br \/>\n(23:35) Ini perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika dikatakan iklam artinya ini ada pesan sesuatu yang tadinya engkau tidak tahu kamu harus tahu dan ketika engkau belajar engkau harus ajarkan. Ini isyaratnya begitu. Karena ilmu itu tidak dapat dihasilkan atau kelihatan tsamarah dan buahnya. kecuali kalau sudah dipelajari kemudian diajarkan.<br \/>\n(24:08) Maka dalam riwayat iklam ketahuilah ini menunjukkan ada pesan kamu harus belajar dan kamu ajarkan biar ilmu ini bisa estafet dan bermanfaat. Kemudian dikatakan syarofal mukmin kehormatan, kemuliaan. Ini jalan bergandengan antara syaraf dan izzah, kehormatan dan kemuliaan agar tidak gampang diremehkan. Kapan itu ada satu hubungan dengan Allah Subhanahu wa taala? Qiyamuhu bila selalu menjaga salat malamnya. Ya.<br \/>\n(24:49) Kemudian yang satu istighnauhuinas agar tidak suka gampang bergantung pada orang. Sebatas apa dia bisa mengukur qanaahnya bisa mandiri, tidak menggantungkan kepada orang lain. Maka sekadar itu pula dia akan semakin terhormat. Dan ini adalah pesan agar seorang mulia, wibawa dan tidak gampang diatur-atur pada saat memang dia tidak gampang berhutang budi.<br \/>\n(25:26) Ada pepatah Arab bagus sekali dinukil oleh almunawi rahimahullah. Beliau mengatakan, &#8220;Istagni amman faanttairuhu wahtaj faanta asiruhu wain man faanta amiruhu.&#8221; Ini bagus sekali perkataannya singkat tapi maknanya dalam. Yang pertama istagni amaniru. Engkau bersikap tidak butuh kepada orang.<br \/>\n(26:00) Jangan bergantung pada orang, maka engkau seolah-olah satu level dengan dia. Dan engkau kalau mau bergantunglah sama semua orang yang kamu mau, maka engkau dengan otomatis akan menjadi tawanannya. Dan yang ketiga, berbuat baiklah kepada semua orang. Kalau engkau bisa tanam jasa, maka engkau adalah amirnya atau ketuanya, atasannya.<br \/>\n(26:30) Ya, seseorang barangkali dia kaya, barangkali dia terhormat. Tetapi ketika dia menjadi bawahan seseorang yang lebih atas, lebih kaya, lebih terhormat, dan dia merasa butuh sekali dengan atasannya, maka antum bisa bandingkan bagaimana dia betul-betul merendah, tidak menghargai dirinya yang dia sombong. yang dia congkak, bangga, bahkan dia merasa tidak butuh kepada orang lain karena kekayaan dan kekuatannya atau karena posisinya.<br \/>\n(27:02) Begitu kena atasannya seperti mengerut, seperti ular kena panas. Ya, artinya dibanding dengan orang yang sama dengan dia, bukan kekayaannya, tapi sama-sama manusia, sama-sama berjalan, sama-sama menghirup udara pagi, siang, sore, dan dia sama-sama mencari nafkah meskipun tidak sebanyak uang dia, tidak setinggi jabatan dia, tapi melihat ada orang yang tadi menjadi atasannya, orang yang tidak ada hubungan sama sekali, dia tenang Senang sekali ketemu di masjid, ketemu di lapangan, ketemu di tempat belanja. Ah, salaman biasa. Karena memang ini<br \/>\n(27:50) manusia biasa dan ini yang miskin juga manusia biasa. Ketemu tidak ada hubungan dan tidak ada ketergantungan maka dia lebih merasa mulia. Berbeda dengan orang yang tadi bergantung di bawahnya dan seolah keuntungan dia hanya pada orang ini, maka dia terlihat akan sangat bukan rendah lagi, bahkan mungkin terhina.<br \/>\n(28:16) Dia tidak berani ngomong apa-apa. Kalaupun dia ingin memiliki pilihan, tidak berani untuk menyelisihi atasannya, maka berbeda dengan orang yang bebas ketika dia bisa menentukan semua atas pilihan karena dia tidak tergantung pada orang lain. Merdeka. Dan ini mahal kita katakan mahal sekali. Lihat bagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau bukan orang yang kaya.<br \/>\n(28:47) makan dengan segala kecukupan, kemudian permata, singgassana, kepengawalan, dan seterusnya. Kita tidak berbicara bahwa itu semua tidak boleh. Selama tidak berlebihan, maka seorang menggunakan fasilitas sesuai dengan kemampuan. Tidak mengapa. Seorang pengin pasang pembantu, memberi pengawal atau menggunakan kendaraan, rumah yang bagus dan semuanya tidak ada masalah.<br \/>\n(29:14) Tetapi kita ingin sedang melihat bagaimana kesempurnaan yang dimiliki dalam kehidupan Rasul sallallahu alaihi wasallam. Beliau bukan orang kaya, bukan orang yang betul-betul rindu dengan penghormatan, akan tetapi beliau terhormat dengan wahyu, terhormat dengan agama, dan terhormat ketika beliau tidak merasa bergantung pada orang lain.<br \/>\n(29:40) Satu sisi beliau pemimpin dan beliau mengharap para sahabatnya yang mau sedekah silakan dan beliau puji beberapa sahabat yang memang bisa menguntungkan pasukan kaum muslimin. Sampai beliau mengatakan dalam sebuah riwayat tentang Utsman radhiallahu anhu menyiapkan sekian ribu ekor unta, sekian ribu dinar dan seterusnya.<br \/>\n(30:02) Lalu beliau mengatakan, &#8220;Ma Utsmana ba&#8217;da eh alyaum.&#8221; Apa yang dilakukan oleh Utsman setelah sedekahnya yang begitu besar ini tidak akan merugikan dia. Ya, artinya Nabi sallallahu alaihi wasallam sering dibantu orang tetapi ketika beliau merasa tidak butuh kepada orang lain karena memang beliau bukan menumpuk semua maslahat ee pribadinya, akan tetapi beliau berdakwah memberi motivasi untuk bersedekah atau untuk mendapat semua pahala karena urusan akhirat sehingga beliau tetap wibawa dan beliau bisa tetap mulia tidak kelihatan rendah di depan orang lain. Kuncinya di<br \/>\n(30:49) sini dan Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan, &#8220;Izhad fimaanas yuhibbakanas.&#8221; Kamu tidak bergantung kepada orang lain, tidak banyak minta kepada yang dimiliki orang lain, maka engkau akan disukai oleh orang lain. Disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam syarah hadis ini, sehebat dan sesuka apapun seseorang kepada orang lain, kalau suka diminta maka dia tidak suka.<br \/>\n(31:29) Maka Al-Han Al Bbashri rahimahullah beliau pernah ditanya tentang Al-Han Al Bashri ini seorang penduduk Basrah ditanya siapa orang yang paling hebat di kota ini maka orang tadi mengatakan alhan ya maksudnya Alhan Al Bashri adalah orang hebat nomor satu di situ. Kenapa bimaadahum? Apa yang membuat Alhan Al Basri rahimahullah hebat dan menjadi pemimpin di semua di tengah kalangan masyarakatnya.<br \/>\n(31:57) Dikatakan ihtajanasu ila ilmi wastagna hua amma fi aidihim. Semua orang butuh kepada ilmunya akan tetapi beliau tidak butuh kepada harta orang-orang. Ini mahal sekali. Jadi intinya di dalam hadis ini kata almunawi menukil beberapa perkataan ulama ada pesan untuk melatih jiwa bagaimana dia tampil ideal dan terhormat dunia akhirat di depan Allah dan di depan manusia agar dia bisa menjadi seorang yang ideal zahiran wa batina dikatakan perlu dia banyak memperbaiki hubungan dengan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(32:46) Qiamuhu bail disebutkan oleh almunawi menukil perkataan beberapa ulama yang menafsirkan artinya muhaf menjaga, disiplin untuk selalu salat di tengah malam tidak dihabiskan waktunya untuk tidur. Apalagi jika seandainya yang dimaksudkan salat di malam hari adalah salat fardunya seperti salat subuh.<br \/>\n(33:11) tidak dihabiskan dengan waktu istirahat, akan tetapi dia bisa menjaga bukan sekali dua kali salat malam, akan tetapi kalau dia bisa merutinkan salatnya di tengah malam, maka dia akan menjadi orang yang mulia. Intinya ini ada lima pesan yang ee kita sebutkan tadi sebagai kaidah sekaligus sebagai sebuah kepastian. Ketika orang pasti akan mati, pasti akan berpisah dengan orang yang dicintai, pasti akan melihat hasil apa yang dilakukan.<br \/>\n(33:43) Kemudian kemuliaan yang dia dapatkan dapat diraih dengan salat malam. Kemudian yang berikutnya yang terakhir pada saat dia ingin terhormat di depan orang lain, jangan dijadikan orang rendahan, ketergantungan, bahkan ee dipandang remeh oleh orang lain. Caranya itu tadi dalam hadis disebutkan jangan gampang bergantung suka minta dan seterusnya.<br \/>\n(34:15) Baik, hadis berikutnya hadis 74. disebutkan dari riwayat Abdurrahman Ibnu Khambas ya. Abdurrahman Ibnu Khambas ini yang meriwayatkan hadis ini dan hadis ini dibutkan dalam Musnad Imam Ahmad at-Tabarani dalam kitab Mujam beliau. Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan atani Jibril. Jibril mendatangiku.<br \/>\n(34:44) Faqala ya Muhammad wahai Muhammad qul eh cepat baca. Q ma aqul apa yang aku baca qala qul katakanlah atau bacalah iniu bikalimatillahit tamat aku minta perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna ya allati la yujawizuhunna barrun wala fajir yang tidak terlewatkan oleh seorang yang bertakwa maupun orang yang bermaksud At kalimat Allah yang sempurna yang tidak akan dilalaikan oleh orang bertakwa dan orang jelek.<br \/>\n(35:25) Minyar ma khalaq. Dan aku berlindung dari apa? Dari semua kejelekan yang Allah telah ciptakan makhluknya. Kejelekan yang ada pada makhluknya. Dan ini tidak menunjukkan bahwa berarti Allah menciptakan jelek-jelek meskipun ee semua yang ada di dunia ini Allah yang menciptakan. Akan tetapi ee tidak layak dan tidak pantas ketika seseorang menisbatkan kejelekan kepada Allah.<br \/>\n(35:53) Dan dalam sebuah doa disebutkan Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Wasyarru laisa ilaik.&#8221; ee keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah, akan tapi dinisbatkan kepada makhluknya yang membuat kejelekan itu. Nah, maka di sini Nabi sallallahu alaihi wasallam diperintah oleh Jibril untuk membaca agar beliau meminta perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna. Dari apa? Min syarri mak kalaq. Dari kejelekan apa-apa yang Allah ciptakan.<br \/>\n(36:25) Waraa wa baraoa ini artinya sama. Zaraa wa baroa artinya yang Allah subhanahu wa taala ciptakan. Waminar ma yanzilu minasama. Dan minta perlindungan kepada Allah dari yang Allah turunkan dari langit. Apa yang Allah turunkan dari langit? Bala musibah. Jika seandainya Allah mengutus makhluknya dari langit untuk melakukan sesuatu yang dikhawatirkan merugikan seperti petir atau hujan batu wali iyadzubillah atau air bah, hujan berkepanjangan, angin topan dan seterusnya. Kemudian wamin syarri ma ya&#8217;ruju fiha.<br \/>\n(37:14) Dan juga berlindung kepada Allah dari apa yang naik ke atas langit. Apa yang naik ke atas langit? Disebutkan tafsirnya al-a&#8217;mal asayyiah. Amal-amal yang kotor, yang jelek. Maksiat yang akan dilaporkan kepada Allah otomatis akan berbuah catatan keburukan.<br \/>\n(37:43) Maka Allah azza waalla atau Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan agar kita minta perlindungan kepada Allah dari amal amal jelek yang akan dilaporkan kepada Allah subhanahu wa taala. Wamin syarri mazaroa fil ardhi w bara. Dan minta perlindungan kepada Allah dari semua yang Allah ciptakan di atas tanah. Apa saja yang di atas tanah bisa jadi binatang buas, bisa jadi jin dan semua yang Allah ciptakan di atas tanah. Wamin syarri ma yakruju minha.<br \/>\n(38:17) Dan setiap yang Allah ciptakan bisa keluar dari tanah. Apa yang ada keluar dari tanah? Macam-macam yang Allah ciptakan dari dalam tanah. Disebutkan contohnya adalah alhasyarat wal hawam, binatang-binatang buas akan tapi yang timbul dari dalam tanah. Baik. Kemudian wamin syarri fitnatil lail fitanil laili wa nahar.<br \/>\n(38:43) Dan agar aku minta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa taala dari bahayanya setiap kejadian di malam maupun di siang hari. Ya. Wamin syarri kulli thqin yatruq. Dan aku diminta agar minta perlindungan kepada Allah dari setiap apa yang akan terjadi di dunia. Illa thqan yatru bikhair. Kecuali apa yang datang untuk datang dengan kebaikan.<br \/>\n(39:12) Ya, thik itu artinya mengetuk. Ya. Dan di sini artinya ketika seorang minta perlindungan kepada Allah dari yang mengetuk semuanya yang datang untuk menemui dia. Nah, itu maksudnya. Kemudian illa thun bilhair. Kecuali kalau ada yang datang kepada dia menyapa dengan sebuah kebaikan. Nah, di sini dikatakan illa thqan yatru bikhairin ya rahman.<br \/>\n(39:39) Hadis ini disebutkan dalam beberapa riwayat. dengan sanad yang disahihkan pula oleh Syekh Albani bahwa setan datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, jaatayatin ila rasulillahi sallallahu alaihi wasallama minal audiyah. Setan ini datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dari beberapa lembah. Wathadarat alaihi minal jibal.<br \/>\n(40:06) Dan ada sekumpulan setan turun dari gunung menuju Nabi sallallahu alaihi wasallam. alaihi was. Ada pula setan-setan yang turun bersama mereka membawa api yang berkobar-kobar ingin membakar Rasul sallallahu alaihi wasallam. Ini setan ini setan ingin mendatangi Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk membakar Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kita bayangkan. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam sempat ketakutan.<br \/>\n(40:34) Disebutkan dalam riwayat itu, faru&#8217;iba sampai Nabi sallallahu alaihi wasallam ketakutan. Q ja&#8217;ala yataakhar. Sampai dalam beberapa riwayat disebutkan Nabi sallallahu alaihi wasallam sempat mundur ketika melihat ada setan datang dari arah lembah, dari arah gunung, maka beliau sempat ketakutan. Ini setan bawa api dan setan ini akan membakar Nabi sallallahu alaihi wasallam nyerang. Dan itu dari bangsa jin setan.<br \/>\n(41:04) Nabi sallallahu alaihi wasallam ketakutan. Bahkan beliau sempat jalan mundur begini. Maka Jibril datang lalu beliau mengatakan, &#8220;Ya Muhammad, qul Muhammad ayo kamu komong kamu baca apa yang saya baca. Baca ini. Auzu bikalimatillahit tammati allati la yujawizuhunna barun wala fajir.<br \/>\n(41:30) Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat yang sempurna yang tidak akan dilewatkan oleh orang yang baik dan buruk.&#8221; Minar ma khalaq. Dari semua yang Allah ciptakan. ya ee doa yang serupa ini sering kita dengar auudzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq aku berlindung dengan kalimat-Mu yang sempurna dari semua kejelekan yang engkau ciptakan atau dari semua kejelekan yang Allah ciptakan.<br \/>\n(42:01) Hadis ini dalam Sahih Muslim ada seorang sahabiyah namanya Khaulah binti Hakim Asulamiyah. Beliau meriwayatkan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam, man nazala manzilan. Orang yang ee mendatangi tempat baru akan lewat atau hingga apa namanya? Bukan hinggap ya, akan tapi ee mengunjungi sebuah tempat ya. dia akan bermalam atau tidak dan tempat itu baru. Lalu dia membaca doa ini.<br \/>\n(42:34) Auzu bikalimatillah tammati min syar ma khalaq. Aku berlindungan kalimat Allah yang sempurna dari semua kejelekan makhluk Allah yang ia ciptakan. Lanadahuaiun hattaahil manziliik. maka dia akan ditimpa bahaya sampai dia meninggalkan tempat itu lagi. Ya, ini dalam Sahih Muslim.<br \/>\n(43:02) Dalam riwayat lain di Assuyuti rahimahullah dalam kitab aljami assaghir, beliau juga meriwayatkan hadis lain yang semakna dengan ini. Sampai dalam hadis Abu Huraira dikatakan ee afwan dalam ee hadis yang lain disebutkan ama innaka amsaita eh lam tadurak. Nah, disebutkan dalam riwayat Muslim juga, seandainya engkau membaca doa ini, bikalimatillahmati ma khalaq.<br \/>\n(43:33) Seandainya engkau membaca doa ini hina tumsi ketika kamu masuk waktu petang atau waktu sore lam tadurrak maka tidak akan ada yang bisa mencelakakan kamu. Artinya doa ini dianjurkan untuk yang pertama ketika masuk waktu sore. Yang kedua, ketika seseorang ee mendatangi sebuah tempat yang asing atau yang akan ditinggali.<br \/>\n(44:10) Kalau dia berdoa dengan itu, maka diharapkan dia akan selamat. Baik. Disebutkan oleh para ulama apakah dia pasti akan selamat 100%? Ternyata ini akan bergantung juga pada keyakinan dia terhadap penjagaan Allah Subhanahu wa taala. Ketika seseorang tahu bahwa Allah akan menjaganya 100% maka Allah azza waalla akan memelihara dia.<br \/>\n(44:37) Allah akan ee memelihara dia, menjaga dia sempurna sesuai dengan kesempurnaan ketakwaan dan ketawakalan dia kepada Allah. Sementara ada orang yang ragu-ragu membaca doa biasa saja, maka dia akan mendapatkan manfaatnya. Akan tetapi manfaatnya tidak akan semaksimal orang yang betul-betul yakin kepada Allah Subhanahu wa taala. Bukan berarti itu Nabi.<br \/>\n(45:01) Kalau kita orang biasa bagaimana kita akan sama dengan Nabi? Iya. Kita katakan bahwa pelajaran dalam mengenal Allah bisa dipelajari. Ketika seorang membaca firmannya, membaca hadis-hadis nabinya, kemudian mendalami agama yang Allah ridai, maka dia akan bisa paham Allah azza waalla ini melihat, melindungi, menjaga, dan akan mengalahkan musuh-musuhnya dan seterusnya.<br \/>\n(45:27) Maka orang akan semakin dekat kepada Allah pada saat dia tahu tentang agama Allah Subhanahu wa taala. Maka doa yang sama dipanjatkan dari orang berbeda, mungkin hasilnya bisa berbeda. Baik. Kemudian hadis yang berikutnya, hadis yang ke-75 ya. Ini diriwayatkan dari sahabat Jabir Ibnu Samurah dan di ee riwayatkan oleh At-Tabarani dalam kitab Almujam. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Atani Jibril.&#8221; Jibril mendatangi aku.<br \/>\n(45:57) Ya Muhammad, wahai Muhammadahullah. Kalau ada orang yang mendapatkan orang tuanya masih hidup, salah satu dari kedua orang tuanya, dia dapatkan ayahnya atau dia dapatkan ibunya masih hidup dan dia bisa berbakti kepada kedua orang tua.<br \/>\n(46:25) Kok dia mati? Orang tadi si anak tadi mati kok dia belum bisa masuk surga kok malah justru masuk neraka. Faab&#8217;adahullah. Maka semoga Allah jauhkan dia dari rahmat dan ampunannya. Kok bisa dia mendapatkan peluang untuk berbakti, peluang untuk masuk surga kok ya ternyata sampai mati dia enggak dapat ampunan Allah malah masuk neraka. Berarti istilahnya pesan ini orang ini betul-betul kelewatan.<br \/>\n(46:53) mendapatkan kesempatan untuk pahala Allah yang banyak, ampunannya juga yang banyak dengan cara birrul walidain ya berbakti kepada orang tuanya. Kok bisa dia tidak lakukan? Ini seperti seolah-olah Nabi sallallahu alaihi wasallam memberikan sebuah keprihatinan dan kekecewaan. Ya, kok bisa ada orang istilahnya ee bisa bertemu dengan orang tuanya masih hidup dan menjadi kesempatan dia untuk mendapatkan pahala, ternyata kesempatan itu seolah-olah terbuang sia-sia.<br \/>\n(47:31) Yang kedua disebutkan ee bahwa Jibril tab ketika beliau ee Jibril mengatakan kepada Rasul sallallahu alaihi wasallam, orang yang mendapatkan kedua orang tuanya masih hidup tapi dia tidak berbakti malah dia mati masuk neraka. Faab&#8217;adahullah. Semoga Allah menjauhkan dia sekalian dari rahmatnya dan juga ampunannya. Wahai Muhammad, qul amin. Katakan wahai Muhammad mudah-mudahan Allah kabulkan.<br \/>\n(47:51) Ya. Kemudian Rasul sallallahu alaihi wasallam mengatakan, &#8220;Faqulu amin.&#8221; Ya, akhirnya aku ucapkan amin itu. Dikatakan lagi oleh Jibril, &#8220;Ya Muhammad manrak syah ramadana falam yfah faudarahullah.&#8221; &#8220;Wahai Muhammad, kalau ada seorang dari umatmu mendapatkan bulan Ramadan, kemudian Ramadan itu pergi dia belum terampuni, maka mudah-mudahan Allah jauhkan dia dari rahmat Allah dan ampunannya.<br \/>\n(48:18) &#8221; Kok bisa? Ramadan kan kesempatan yang betul-betul besar pahala. Mau salat, sedekah, baca Quran, berdoa dan seterusnya, orang ada kesempatan besar pahalanya. Kok ada orang dapat bulan ini dia tidak masuk surga malah masuk neraka.<br \/>\n(48:40) Maka kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, kelewatan orang ini faabadahullah sekalian aja jauhkan dari rahmat dan ampunan Allah. Begitu. Kemudian yang berikutnya wukiru ini karena yang bilang adalah malaikat Jibril dan orang yang mendengarkan namamu disebut falam yusli alaika fadar faabahullah. E barang siapa orang yang mendengarkan namamu disebut tapi dia tidak berselawat ya bahkan dia mati dan masuk ke dalam neraka mestinya dia bisa banyak berselawat sehingga dia bisa terselamatkan dari api neraka.<br \/>\n(49:16) Kok dia tidak pernah berselawat? Namamu disebut, dia dengar, tapi dia tidak berselawat. Maka dia nanti mati kok kemudian tidak punya amal untuk menghindarkan diri dari api neraka sekalian. Ya Allah, jauhkan dia dari ee rahmat Allah. qul amin. Katakan Muhammad amin. Qala amin. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan amin. Di sini ada ee pesan bahwa pintu surga atau kesempatan untuk berbuat baik ada pada tiga hal yang disebutkan.<br \/>\n(49:47) Yang pertama berbakti kepada orang tua atau salah satu darinya. Semoga Allah azza waalla memberikan kita semua arahan, bimbingan agar bisa selalu berbakti kepada orang tua. Yang kedua, memanfaatkan momen Ramadan. Orang dapat bulan suci, kenapa kok bisa-bisanya belum terampuni? Padahal ada salat tarawih, ada puasanya, ada salat tahajudnya, dan banyak amal lainnya yang bisa memberikan janji ampunan. Kok dia keluar dari Ramadan aman-aman saja kayak tidak ada yang diampuni sama sekali.<br \/>\n(50:23) Wah, rugi orang ini. Ya. Kemudian yang ketiga adalah orang yang mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam disebut tapi tidak perlu selawat. Ini berarti ada pesan perintah untuk mendapatkan keutamaan dan meraih pahala yang banyak dari tiga hal ini. Bakti kepada orang tua, memanfaatkan Ramadan, dan banyak berselawat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(50:49) Dalam Sahih Muslim disebutkan dengan redaksi berbeda. Ragma anfimriin ragma anfi rajulin. Ya, disebutkan celaka kalau ada seseorang yang memiliki tiga syarat tadi atau tiga hal yang disebutkan. Dia punya orang tua tapi tidak sempat berbakti. Dia mendapatkan bulan suci Ramadan tapi tidak sempat diampuni. Kemudian dia mendengar suara atau nama Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan tapi dia tidak berselawat.<br \/>\n(51:16) Nah, ini menunjukkan bahwa orang yang sampai menyia-nyiakan kesempatan itu orang yang merugi sekali. Maka dikatakan rma anfimriin. Dalam riwayat yang lain dikatakan mudah-mudahan dia celaka gitu. Celaka. Dalam riwayat dikatakan khaoba wa khasir alangkah sangat ruginya dan juga ee apa ee seolah-olah dia kecewa mengecewakan sekali begitu.<br \/>\n(51:47) Nah, ini ee seperti yang kita tegaskan sering dibahas juga di bulan Ramadan karena memang keistimewaan bulan suci Ramadan adalah kesempatan. Kalau ada orang yang bisa mendapatkannya, dipanjangkan umurnya dan diberi kesempatan untuk sehat, melaksanakan puasa, salat malam, kemudian berdoa, maka mudah-mudahan dia betul-betul orang yang sukses di bulan Ramadan itu.<br \/>\n(52:18) Kemudian hadis berikutnya hadis yang ke-86 disebutkan di sini dari sahabat Usamah bin Zaid dari ayahnya Zaid Ibnu Haritah. Hadisnya diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad Addar Qutni dan Al Imam Al Hakim. Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, &#8220;Atani Jibril fi awali ma uhya ilai.&#8221; Aku didatangi oleh Jibril di awal-awal dia memberikan wahyu kepadaku.<br \/>\n(52:50) Dalam sebuah riwayat meskipun riwayat ini ada kelemahannya, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Fi gari hir ya Jibril datang ketika aku sedang di Gua Hira.&#8221; Dan ini kejadiannya di awal-awal ketika Allah turunkan wahyu. Faallaman wudua wasalah. Kemudian Jibril mengajari aku wudu dan salat. Nah, disebutkan oleh para ulama bahwa syariat berwudu letaknya sebelum syariat salat. Kemudian salat lima waktu baru diwajibkan Allah subhanahu wa taala di kejadian Isra dan Mikraj.<br \/>\n(53:28) Sementara yang disebutkan dalam hadis ini, Jibril datang di awal-awal memberikan wahyu. Di saat itu belum ada kewajiban salat, belum ada kewajiban untuk melaksanakan salat lima waktu. Karena kita tahu salat lima waktu baru diwajibkan ketika Isra dan Mikraj. Berarti salat yang dilakukan ini apa? Dikatakan faamanil wudua was. Jibril datang mengajari aku wudu dan salat.<br \/>\n(53:53) E e sebagian ulama mengatakan bahwa ee yang dimaksud dengan salat di sini adalah salat dua rakaat yang sunah. Salat dua rakaat yang sunah. Namam. Dan ee ada yang mengatakan ini bisa jadi salat fardu, salat wajib. Akan tetapi dulu awal pertama dan asal mula salat ini disyariatkan. Maka salat yang dilakukan hanya dua rakaat. Baru setelah itu disempurnakan dengan salat orang yang tidak safar menjadi empat rakaat.<br \/>\n(54:31) Nah, yang jelas ee di dalam riwayat ini menyebutkan bahwa Jibril sempat memberitahu dan mengajari ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tata cara wudu dan salat. Falamma farag minal wudu. Ketika e Jibril ini selesai dari wudu, ak garfatan minadaha biha farjahu. Maka e Jibril mengambil satu apa namanya? Satu telapak tangan ya. Tapi bukan dua telapak tangan ya. Satu. Diambil satu telapak tangan begini.<br \/>\n(55:05) F biha farahu. Kemudian dicipratkan ke arah pakaian bawahnya, sarungnya. Dan memang disebutkan oleh almunawi rahimahullah, malaikat tidak memiliki jenis kelamin. Ya, kalau di sini dikatakan fadha biha farjahu, maka ketika Jibril mengajari aku berwudu, setelah selesai wudunya maka beliau mengambil satu ee apa namanya? ee satu cakupan air dengan satu telapak tangan. Kemudian disiramkan begini ke arah kemaluan.<br \/>\n(55:37) Kenapa demikian? Maksudnya adalah cara ngajari manusia. Jibril dan malaikat lain tidak memiliki jenis kelamin. Akan tetapi yang disiramkan di situ adalah di arah di mana biasanya ee orang-orang menggunakan pakaian di bawah. Entah itu sarung atau pakaian jebah atau apa, tapi yang diarahkan adalah arah di kemaluan. Maksudnya untuk apa? Wudu sudah selesai dan ini masih ngambil air lagi dicipratkan.<br \/>\n(56:05) Tujuannya adalah untuk menghilangkan waswas. Karena sebagian orang waswasnya dari sisi bersuci. Dia akan menyangka jangan-jangan ee taharah atau bersuci saya kurang sempurna. kayaknya ada yang keluar dari air kencing ini. Kemudian terus dia was-was. Setiap dia wudu merasa belum sempurna dan dia perlu untuk membersihkan ee tempat keluar najisnya.<br \/>\n(56:36) Kemudian nanti dia wudu masih merasa kurang mantap, akhirnya mengulang wudunya lagi. Kemudian mengulang wudunya lagi. Selesai dari masalah taharah, dia pindah ke masalah salat. Maka salat pun juga sama. Ketika dia akan melaksanakan salat masuk ke dalamnya, dia ragu apakah niatnya sudah sempurna atau belum.<br \/>\n(56:54) Diulang-ulang terus. Kemudian ketika ruku, dia akan berulang-ulang seperti rukuk saya belum terjadi, belum sempurna, belum apa. Kemudian dia sampai ee menyangka salatnya tidak sah. Kayaknya perlu diulang salat lagi, merasa tidak sah lagi. Dan ini menjadi korban penyakit waswas. Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili hafidahullah pernah mengatakan ketika menjelaskan tentang penyakit waswas.<br \/>\n(57:28) Was-was itu artinya keragu-raguan, keganggu, sehingga dia tidak bisa segera melaksanakan aktivitas karena aktivitas sebelumnya. Kayaknya wudunya belum sempurna, kayaknya bacaan al-Fatihahnya belum sempurna, kayaknya salatnya belum sempurna sehingga harus diulang terus hanya terbelenggu dia dan dia susah untuk mengerjakan ibadah lain karena terbelenggu dengan ibadah yang tadi ada was-wasnya.<br \/>\n(57:52) Syekh ee Sulaiman ee Arruhaili hafidahullah mengatakan, &#8220;Kita ini semuanya memiliki peluang untuk was-was. Akan tetapi kita tidak boleh menyerah. Ketika seseorang memperturutkan rasa was-wasnya, maka dia akan menjadi budak waswas. Sementara ketika dia bisa melawan, maka itu cara satu-satunya. Cara yang tepat adalah memang dilakukan dengan melawan. Enggak, saya tadi belum batal.<br \/>\n(58:21) Enggak, saya tadi sudah berusaha untuk bersih-bersih, insyaallah enggak akan keluar lagi najisnya dan seterusnya. Maka itu cara yang ketika akan wudu maka dia memercikkan air di arah kemaluannya. tapi bukan di kemaluannya, tapi di sarung atau pakaian yang di bawah itu. Tujuannya agar ee ketika terjadi ee perasaan ragu apakah kencingnya keluar lagi atau tidak, maka dia melihat kepakaiannya. Oh, basah.<br \/>\n(58:49) Tetapi bukankah basah ini aku tadi yang menyipratkan air sehingga tidak lagi dia berpikir jangan-jangan basahnya karena keluar air najis dan seterusnya. Ini yang dimaksudkan eh ada perintah untuk nadhul ma dikatakan falamma farag minal wudu akatan minal maha biha farah. Ketika selesai wudunya maka sengaja ee Jibril mengambil air satu cakupan satu telapak tangan kemudian disiramkan ke sini.<br \/>\n(59:20) Ini yang disebutkan oleh para ulama tujuannya adalah untuk menghilangkan rasa ee was-was atau keragu-raguan. Baik. Hadis berikutnya, hadis ke-77 disebutkan ee dalam hadis Ubadah Ibnu Somit dan disebutkan dalam kitab atayalisi. Kemudian Muhammad Ibnu Nasar Almarwazi dalam kitab Takzim Qadris. Di sini dikatakan kitabus Salah.<br \/>\n(59:44) Dan maksudnya adalah beliau punya buku yang dikenal dengan takzimu qadris shah. Ya. Kemudian Adya fil Mukhtar. Maksudnya Ad almaqdisi dalam kitab al-hadis almukhtar. Hadis ini semuanya dinyatakan sahih. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Atani Jibril minillah.&#8221; Jibril datang kepadaku dari sisi Allah. Faqala ya Muhammad innallaha azza waalla yaquul. Wahai Muhammad sesungguhnya Rabbmu Allah azza waalla berfirman.<br \/>\n(1:00:12) Inni far umika khamsa shawat. Aku telah mewajibkan kepada umatmu lima waktu salatnya. Orang yang bisa menyempurnakan, menunaikan ya menunaikan apa? menunaikan kewajiban Allah subhanahu wa taala salat lima waktu tadi. Kalau ada orang yang bisa menjaga, merutinkan, disiplin salat lima waktu terus dengan disertai wudunya, disertai tepat waktunya, kemudian menyempurnakan rukuk dan sujudnya, maka aku memiliki janji untuk dia akan aku masukkan ke dalam surga.<br \/>\n(1:00:56) Kemudian inu eh waman laqiani qodtaq minalikaan falaisa lahu ahad. Tapi kalau ada orang yang menghadapku, kata Allah Subhanahu wa taala, ternyata dia tidak menjaga salatnya, ya dia tidak mau menjaga salatnya, maka aku tidak punya janji apa-apa ke dia untuk aku masukkan ke dalam surga. Iya. Dan ini dimaksudkan orang salat salat, tetapi juga dalam waktu yang sama dia tidak boleh melakukan pelanggaran.<br \/>\n(1:01:27) Kalau dia membunuh, maka dia akan dibunuh. Qisas. Kalau dia mencuruh, dia akan dipotong tangan. Kalau seandainya sudah mencukupi syarat, artinya di dalam ee hadis ini disebutkan bahwa orang yang akan mendapatkan janji Allah dimasukkan ke dalam surga, maka dia perlu melaksanakan salat disiplin dengan segala konsekuensinya, syarat-syarat sah dan rukunnya. Demikian pula dia tidak boleh melakukan maksiat-maksiat yang lain. Begitu.<br \/>\n(1:01:57) Kemudian di sini ada perintah untuk ee menjaga memelihara salat lima waktu. Maka dikatakan, &#8220;Man laqiani qodinq minikaian falaisa lahu ahad.&#8221; Orang yang tidak pernah menjaga kedisiplinan salatnya maka aku enggak punya janji apa-apa. Inuabuhu waitu rahimtahu rahimtuhu. Kalau aku mau aku akan siksa dia.<br \/>\n(1:02:24) Kalau aku mau aku pun akan bisa merahmati dia. Tapi maksudnya dalam hadis ini disebutkan bahwa ee salat lima waktu ini diwajibkan kepada umat Rasul sallallahu alaihi wasallam. Dan ini juga menunjukkan penekanan agar seorang tidak gampang meninggalkan salat. Dan kita lihat di sini bagaimana ee Nabi sallallahu alaihi wasallam menceritakan Allah azza waallahah siap untuk memberikan pahala orang-orang yang melaksanakan salat untuk dimasukkan ke dalam surga. Baik.<br \/>\n(1:03:02) Kemudian terakhir sebagai penutup hadis yang ke-78. Karena hadis yang ke-79 sudah kita bahas pada pertemuan sebelumnya karena masih ada hubungan dengan ee kabar gembira tentang Hasan dan Husein. Sehingga kita ee tutup pertemuan ini dengan hadis yang ke-78. Dan ini juga ada kaitannya dengan hadis yang sebelumnya kita sudah bahas ee dalam hadis ini disebutkan dalam Musad Imam Ahmad kemudian dalam Musnad Abd Humaid dalam Sunan An-Nasai dari sahabat Ubay bin Ka&#8217;ab. Kemudian dalam riwayat Musad Imam Ahmad Addabarani dari sahabat Abi Bakrah dan juga Ibnu Durais dari eh<br \/>\n(1:03:44) sahabat Ubadah bin Somit radhiallahu anhum ajmain. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda tentang bacaan Al-Qur&#8217;an yang bisa dibaca lebih dari satu bacaan sampai tujuh bacaan. Atani Jibril wa Mikail. Aku didatangi oleh dua malaikat. Yang satu Jibril, yang satu Mikail. Waqada Jibrilu an yamini. Jibril di tekananku. Wa Mikailu an yasari. Mikail di kiriku.<br \/>\n(1:04:11) Faqala Jibril, &#8220;Ya Muhammad iqrail il qurana ala harf.&#8221; Wahai Jibril, bacalah Al-Qur&#8217;an dengan satu bahasa. Ya, ini dimaksudkan satu huruf. Ini kata para ulama maksudnya adalah bahasa bahasa Arab. Ya. Faqala Mikail, istazidhu. Mikail di sebelah kiri bilang, &#8220;Ah, minta tambah.<br \/>\n(1:04:32) &#8221; Maksudnya minta tambah, jangan hanya dibatasi cara membaca Al-Qur&#8217;an dalam satu bahasa saja. Baik. Maka ee aku mengatakan kepada Jibril, &#8220;Zidni, tolong tambahkan kepadaku cara membaca Al-Qur&#8217;an. Faqalqu ala salat ahruf.&#8221; Kalau begitu bacalah Al-Qur&#8217;an dengan tiga huruf. Dan para ulama mengatakan tiga huruf maksudnya adalah tiga bahasa.<br \/>\n(1:04:56) Dan ini tiga bahasa Arab semua. Tiga bahasa ini Arab semua dan tidak ada perbedaan makna. Hanya perbedaan lahjah, huruf, ketebalan, imalah dan seterusnya. Seperti majreha. Kita belum pernah ee pernah jelaskan contohnya majreha ini artinya ada bacaan yang agak dikasrahkan tapi tidak kasrah. Kalau kasrah majriha. Ini bukan majriha tapi majriha. Bukan fathah juga majraha ya.<br \/>\n(1:05:29) Nah, ada bacaan yang tetap posisinya fathah majraha tapi ada bacaan yang menggunakan imalah majreha. Perbedaan seperti itu. Kitab kutub ini juga sama. Di dalam Al-Qur&#8217;an rasm Utsmani disebutkan kitab itu bisa ditulis dengan kaf ta ba. Kalau nanti bacanya kitab, maka kafnya pakai harakat kasrah, ta-nya pakai apa namanya? Tanda kalau ini panjang kitab. Dan bisa juga dibaca kutub.<br \/>\n(1:06:04) Karena sebagian bahasa dalam orang-orang Arab mereka ee menggunakan jamak. Ya, artinya di sini yang dimaksudkan dengan tiga huruf bukan berarti tiga huruf saja, akan tetapi tiga macam bacaan di dalam Al-Qur&#8217;an. Aku tadi diberi kesempatan untuk mengajarkan Al-Qur&#8217;an ini kepada umatku dengan hanya membaca satu bacaan, satu bahasa aja.<br \/>\n(1:06:37) Tapi aku diminta, diberi saran oleh Mikail, eh minta tambah biar agak mudah peluangnya, biar bisa lebih gampang. Kalau ada umat-umat yang ee dari bangsa ini, dari bangsa ini, maksudnya dari bangsa Arab yang susah untuk mengucapkan lahjah yang seperti ini, dialek yang seperti ini, maka dia bisa menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan kebiasaannya. Tapi selama itu masuk dalam Al-Qur&#8217;an yang diturunkan di dalamnya ya atau model cara bacanya disebutkan ee faqala Mikail istazidhu.<br \/>\n(1:07:11) Mikail kembali mengatakan ayo minta tambah lagi. Faqulu zidni. Aku mengatakan tambahkan aku. Kadzalika hatta balag sabata ahruf. Maka itu terus berlaku. Ee aku terus diminta sampai akhirnya yang tadi pertama satu kemudian tiga. Aku terus nambah lagi, minta tambah lagi sampai aku diberi kesempatan untuk membacakan Al-Qur&#8217;an sampai tujuh huruf, tujuh bahasa, tapi bahasa Arab semua.<br \/>\n(1:07:45) Yang berbeda adalah dialeknya atau cara ee apa? membaca lantunan huruf Al-Qur&#8217;an itu. Faqalaqu ala sabati ahruf kulluha syafin kafin. Bacalah Al-Qur&#8217;an dengan tujuh huruf, tujuh bahasa Arab itu dan semua akan sempurna dan lengkap. Nah, dulu pernah kita bahas hadis ini dari riwayat Ibnu Abbas dengan sanad yang sahih dalam Imam Ahmad dan Ibnu Majah.<br \/>\n(1:08:12) Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, &#8220;Aqraani Jibrilul qurana ala harfin.&#8221; Dulu Jibril mengajari aku membaca Al-Qur&#8217;an cuman satu bacaan saja. Farajuhu. Maka aku eh meminta agar Jibril nambahi lagi. Eh falam azal astaziduhu hattaha ila sabati ahruf.<br \/>\n(1:08:41) Dan aku terus minta kepada Jibril, tambahin lagi, tambahin lagi, tambahin lagi sampai tujuh bacaan Al-Qur&#8217;an. Tujuh bacaan Al-Qur&#8217;an yang sekarang bisa dipakai semua. Dan ini diriwayatkan dengan mutawatir. Dan dulu pernah di dalam Sahih Bukhari dan Muslim, Umar bin Khattab radhiallahu anhu pernah mendengar sahabat Hisyam ibn Hakim membaca surah Al-Furqan dengan bacaan yang tidak pernah dipelajari oleh Umar dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(1:09:07) Maka Umar sengaja mendengar sahabat ini kok bacanya berbeda dengan yang diajarkan kepada Umar radhiallahu anhu. Sementara sahabat ini membacanya di dalam salat sampai Umar bin Khattab mengatakan, &#8220;Fakittu usawiruhu fisah.&#8221; Aku hampir membatalkan salat dia. Enggak sabar aku.<br \/>\n(1:09:31) Ini sahabat kenapa membaca bacaan yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam kepadaku. Faqittu usawiruhu. Aku hampir batalkan salat dia yang dia lakukan itu. Fatasabartu hattaam. Tapi aku sabarkan diriku sampai orang itu selesai dari salatnya. Begitu selesai falabbabtu biridaiihi. Aku langsung pegang dan cengkeram ujung-ujung bajunya.<br \/>\n(1:09:54) Aku cengkeram begini. Faqulu man aqra had surah allati taqra. Kamu diajari siapa baca bacaan kayak begini. Maka sahabat Hisyam ibn Hakim mengatakan aqraaniha Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Eh, aku diajari oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam bacaan-bacaan tadi. Maka Umar bin Khattab radhiallahu anhu mengatakan, &#8220;Kadzabta, bohong kamu.<br \/>\n(1:10:25) &#8221; Ya, fainna Rasulullah sallallahu alaihi wasallam q aqraani alir maq. Nabi sallallahu alaihi wasallam ngajari surat alfurqan aku tapi bacaannya enggak seperti yang kamu baca tadi. Bihiquuh rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Maka aku bawa dia kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam kondisi tak cengkram. Ini Umar bin Khattab radhiallahu anhu orangnya gala.<br \/>\n(1:10:46) Jadi beliau ketika melihat ada orang yang ternyata bacaannya beda. Dikhawatirkan orang ini main-main. Maka dicengkram ini bajunya dipegang ini kemudian aku bawa menghadap Nabi sallallahu alaihi wasallam. Faqulu inni samu hadza yaqra bisuratil furqan ala huruf lam tuqriha.<br \/>\n(1:11:06) Ya Rasul, aku dengar orang ini baca tapi dengan gaya yang tidak pernah Engkau ajarkan kepadaku. Faqala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, arsilhu. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, iya lepasin dulu. Lepasin dulu cengkeramannya. Lepas. Baru Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, &#8220;Iqra ya Hisyam.&#8221; Wahai Hisyam, coba engkau baca.<br \/>\n(1:11:27) Maka dibaca oleh e Hisyam dengan qiraah yang tadi didengar oleh Umar. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian mengatakan, &#8220;Hakadza unzilat.&#8221; Beginilah surat ini diturunkan. Wa an taqra ya Umar. Wahai Umar, coba kau baca yang kamu sudah pernah belajar. Maka Umar mengatakan, &#8220;Akhirnya aku baca sesuai dengan yang aku pelajari.&#8221; Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam komentar yang sama. Hakadza unzilat. Demikian pula Al-Qur&#8217;an diturunkan.<br \/>\n(1:11:55) Lalu di terakhir Nabi mengatakan, &#8220;Inna hadal qurana unzila ala sabati ahruf.&#8221; Sesungguhnya Al-Qur&#8217;an ini diturunkan dengan tujuh macam bacaan, tujuh macam bahasa Arab. Faqra ma tayassar minhu. Bacalah sesuai dengan yang kalian mudah untuk baca.<br \/>\n(1:12:18) ini dalam rangka memberikan kemudahan kepada kaum muslimin agar ketika membaca Al-Qur&#8217;an bisa untuk ee mereka pahami, mereka mudah lafalkan. Bukan berarti untuk sombong-sombongan apalagi sampai mempersulit ketika ada tujuh huruf, tujuh macam bacaan dan tujuh bahasa. Lalu ada orang pengin nukar-nukar atau pengin sembarangan dalam baca. Para ulama mengatakan bahwa ee bacaan Al-Qur&#8217;an yang diriwayatkan dengan mutawatir ini hanya yang boleh dibaca.<br \/>\n(1:12:52) Adapun bacaan-bacaan yang sampai dikatakan qiraah syadzah atau bacaan tambahan, bacaan yang tidak masyhur riwayatnya tidak boleh dijadikan bacaan Al-Qur&#8217;an. Wallahuam bissawab. Ini dapat kita belajar. Semoga bermanfaat. Wasallallahu wasallam waka abdi wa rasulihi nabina Muhammad wa ala alihi washbihi ajmain. Walhamdulillahiabbil alamin. Nam ustaz. Jazakumullah khairan.<br \/>\n(1:13:18) Barakallahu fikum ustaz atas materi yang telah antum sampaikan di kesempatan malam hari ini tentang kabar Jibril bagian yang ketiga dari pembahasan kitab sahih aljamius shogir. Nama kata Islam azaniallahu wyakum. Untuk sesi berikutnya kami membuka sesi interaktif soal jawab. Bagi Anda semuanya yang ingin bertanya secara langsung bisa menghubungi kami di 0218236543 ataupun Anda dapat bertanya dengan mengirimkan chat WA di 0218236543.<br \/>\n(1:13:45) Nah, untuk yang pertama kita akan angkat pertanyaan dari telepon terlebih dahulu ya. Silakan bagi Anda sudah terhubung ya. Silakan. Baik, terputus. Kami tunggu kembali bagi Anda semuanya. Ikhwat Islam azani Allahu ayakum. Bagi Anda yang ingin bertanya bisa menghubung kami di 0218236543.<br \/>\n(1:14:11) Kami persilakan kepada Anda untuk bertanya ya. Silakan I silakan ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa, Ibu? Saya saya Herlina. I dari Keranji. Silakan, Ibu Erlina. Heeh. Ini saya kalau lagi pas wudu selalu kayaknya ee was-was gitu. Terus lagi salat juga saya sudah baca taut, baca bismillahirrahmanirrahim.<br \/>\n(1:14:52) Terus saya niat, saya niatnya suka kalau saya enggak jaharin, jarinnya tapi ini pelan gitu. Misal usoli fardu isai arbarokatin adan lillahi taala gitu terus kayaknya kok salah gitu saya ulang lagi gitu suka berkali-kali kenapa ya Pak Ustaz ya sudah baca taut sudah baca lagi wudu juga gitu saya bismillah dengan nama wudu saya suka kalau di kamar mandi kita boleh baca bismillah enggak Pak Ustaz baik cukup Ibu Elena ya cukup banyak pertanyaan Bu ya makasih ya asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh itu mungkin bisa dijawab Ustaz dan kepada Ustaz kami persilakan<br \/>\n(1:15:27) untuk menjawab. Silakan Ustazam warahmatullah. Baik. Tadi kita sebutkan bahwa was-was ini peluangnya untuk semua orang punya peluang. Tapi kalau seandainya kita tidak menyerah, kita tidak mengikuti dan memperturutkan, maka kita tidak akan diperbudak dengan perasaan was-was itu.<br \/>\n(1:15:56) Akan tetapi, orang yang memang memperturutkannya, maka dia akan terbelenggu dengan kebiasaan waswas, tambah ragu dan itu dari setan. Maka caranya istiadah tadi yang pertama. Yang kedua, lawan. Bagaimana caranya? Yakinkan, mantapkan. Aman. Wudu saya sempurna, najis saya sudah saya atasi, kemudian salat sudah sah, selesai. Tinggalkan enggak usah diperturutkan.<br \/>\n(1:16:21) Kenapa harus diulang? Dan ini sebenarnya ketika ada orang berusaha untuk ngulang-ngulang, merasa ini belum sempurna dan dia memperturutkannya, maka sebenarnya dia sedang ee merugikan diri sendiri, mencapekan, dan mungkin membuat salatnya tidak selesai-selesai. ketika membaca surat Al-Fatihah ngerasa bacaannya kurang sempurna, kurang fasih, kurang mantap dan kurang dihayati. Akhirnya nambah lagi al-Fatihahnya.<br \/>\n(1:16:49) Kemudian wudunya kayaknya belum sempurna tadi, kayaknya batal lagi atau kayaknya tadi keganggu apa ngobrol sehingga ee bacaan wudu tidak sempurna, ngulang wudu lagi. Tidak. harus dilawan seperti ini. Cara ngelawannya adalah dengan ee mencukupkan dengan sekali saja ya. Kita lakukan yang terbaik.<br \/>\n(1:17:12) Wudu kemudian setelah itu sudah enggak boleh di ulangi salat. Salat yang terbaik kemudian setelah itu enggak usah diulangi. Biarkan sudah perasaan tidak mantap jangan dijadikan patokan dalam ibadah. Ibadah itu yang penting ikhlas. Kemudian benar, tidak mantap. Mantap tidak mantap. keganggu atau tidak itu bukan patokan dalam ibadah.<br \/>\n(1:17:35) Maka kalau seandainya kita mengatakan, &#8220;Saya tidak mantap kalau tidak dengan suara keras, akhirnya ketika salat zuhur kita membaca seperti salat Isya.&#8221; Kan enggak benar loh. Ini saya enggak mantap ini. Saya membaca kalau lirih suka keganggu dengan was-was, dengan bisikan-bisikan dengan apa. Sudah setiap salat zuhur saya seperti salat Isya. Enggak benar.<br \/>\n(1:18:04) Maka cara yang ee tepat untuk mengatasi was-was itu bukan dengan cara perasaan mantap atau tidak mantap, akan tapi kita contoh dulu salat Nabi sallallahu alaihi wasallam bagaimana. Ya, kita minta perlindungan kepada Allah, minta pertolongan kepada Allah dan kita berusaha agar semua salat kita benar. Setelah itu campakkan semua perasaan. Insyaallah Allah akan beri pertolongan agar tidak ragu lagi.<br \/>\n(1:18:27) Dan memang kebanyakan orang yang diuji dengan perasaan was-was adalah kaum Hawa. Tapi orang laki-laki juga bisa. Seperti saya pernah melihat ada orang seperti itu. Wudu sampai badan basah semua, baju basah semua. Bahkan tengah malam 11.30 dia masih bergumul dengan air. Kenapa? Dia merasa salat isyanya belum sempurna.<br \/>\n(1:18:51) Kasihan sekali tersiksa dia. Cara yang tepat ada orang yang perlu memaksa membimbing dia. Kamu sudah salat enggak usah diulang. Enggak. Kamu sudah salat enggak usah diulang. Dan diikuti terus. Nah, seperti dulu pernah ada ee sebagian santri dan ditegur oleh ustaznya. Setiap selesai salat jemaah dia keluar untuk salat lagi.<br \/>\n(1:19:16) Ditegas, &#8220;Kamu mau ngapain?&#8221; &#8220;Saya mau salat, Ustaz. Saya belum salat. Duduk di sebelah saya. Kamu sudah salat? Saya sudah lihat. sudah duduk ke sini sampai lama-kelamaan selesai juga. Itu artinya ee ini perlu perlawanan dan keseriusan. Insyaallah Allah kasih kekuatan dan pertolongan. Ee baca basmalah di kamar mandi tidak boleh ya. Tidak boleh.<br \/>\n(1:19:38) Tapi kalau dalam hati tidak apa-apa. Tapi namanya bukan membaca tapi bergumam. Kalau dalam hati itu maka orang yang akan baca basmalah dalam wudu kalau seandainya wudunya dilakukan di dalam kamar mandi, basmalahnya di luar begitu. Wallahuam bawab. Nah, Ustaz, jazakumullah k barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum sampaikan ustaz.<br \/>\n(1:20:03) Dan kita akan angkat satu pertanyaan kembali dari telepon di 0218236543. Nam silakan bagi Anda yang sudah terhubung untuk bertanya ya. Silakan. Baik, terputus. Nah, Ustaz, kita angkat satu pertanyaan dari pesan singkat Ustaz yang sudah masuk. Ustaz mohon dijelaskan bagaimanakah hukumnya bagi seorang wanita yang selalu keluar angin ketika dalam ketika dalam salat dalam salat.<br \/>\n(1:20:29) Ketika dalam salat. Bagaimanakah hukumnya bagi seorang wanita yang selalu keluar angin ketika dalam salatnya, Ustaz? Apakah memang harus berwudu berulang-ulang setiap kali buang angin? Ataukah hanya cukup berwudu di awal saja atau di kedua kalinya ketika buang angin? Ustaz silakan, Ustaz. Baik. Ini perlu dipertegas.<br \/>\n(1:21:02) Apakah buang angin itu betulan keluar angin atau hanya was-was? Sekiranya itu was-was, maka tidak perlu dipedulikan. Tapi seandainya memang itu keluar anginnya dan itu memang penyakit, maka ini tidak khusus untuk seorang wanita saja, tapi untuk laki-laki juga bisa. Sebagaimana bukan hanya angin, akan tetapi kencing. Kencing yang tidak bisa berhenti. Ini laki dan perempuan sama.<br \/>\n(1:21:27) Ada orang yang bisa ee apa? Keluar terus air kencingnya. Dan ini para ulama menyebutkan sebagai silasul baul. Penyakit silasul baul yang memang kencingnya selalu keluar. Maka caranya adalah ketika dia akan berwudu. Ini untuk penyakit silasul baul ya, yang air kencingnya tidak bisa berhenti.<br \/>\n(1:21:51) Ketika dia akan salat dan dia berwudu maka dia bersihkan dulu. Setelah dia bersih maka tempat keluar najis itu disumbat, ditutup. dengan sesuatu yang tidak membuat najis itu menyebar ke mana-mana. Setelah itu dia berwudu. Setelah itu dia salat. Setelah itu ketika dia salat kok masih mengeluarkan air kencing dan tidak bisa berhenti, aman enggak apa-apa. Para ulama menilai bahwa itu dimaafkan.<br \/>\n(1:22:19) Begitu. Demikian pula orang yang keluar angin terus. Orang yang keluar angin terus ini bisa dihukumi dengan silasul baul tadi karena itu penyakit. Nah, sebagian ulama mengatakan nanti wudunya menjelang salat. Wudunya menjelang salat bukan jauh-jauh sebelum waktu salat. salat misalkan masih setengah jam lagi azan dia sudah wudu. Ah, nanti akan batal lagi.<br \/>\n(1:22:48) Dan menjelang dia salat maka dia wudu. Setelah itu dia salat toh nanti keluar lagi di tengah-tengah salat biarkan. Karena itu dimafu atau ditoleransi karena dia sakit. Wallahuamwab. Nah, Ustaz jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah antum berikan ustaz. Dan kita akan angkat pertanyaan berikutnya mulai kembali mulai chat, Ustaz yang sudah masuk dari penanya kita di dari hamba Allah di Celeduk, Sat Tengerang. Beliau bertanya, &#8220;Ustaz, izin Ustaz izin bertanya, Ustaz. Kapan tepatnya kita<br \/>\n(1:23:22) harus berselawat kepada Nabi ketika mendengar namanya? Apakah ketika dengar nama Muhammad sallallahu alaihi wasallam disebutkan? Ataukah ketika disebutkan kata Nabi atau ketika disebutkan ee Rasulullah sahu alaihi wasallam? Mohon ustaz memberikan penjelasannya. Terima kasih. Jazakumullah khairan.<br \/>\n(1:23:40) Barakallahu fikum. Kepada Ustaz kami bisa untuk menjawab. Silakan Ustaz. Wabaraka fikum. Iya. Sama tadi yang disebutkan dalam hadis yang kita bahas bahwa orang yang mendengar namaku disebut falam yusolli alaik. Ee dan dia tidak mengucapkan selawat kepada engkau. Faabadahullah. Semoga Allah jauhkan dia dari rahmat Allah dan ampunannya.<br \/>\n(1:24:08) Dalam lafaz Muslim dikatakan ragma anfimriin. Orang yang ee seperti tadi itu celaka sekali. Siapa orang yang celaka itu? Orang yang mendengar namamu disebut engkau tapi dia tidak berselawat. Ada sebuah hadis meskipun lafaznya ada sebagian ulama melemahkan. Albakilu manukirtuahu falam yusolli alai. Tapi sebagian ulama mensahihkan atau menghasankan. Albakhilu.<br \/>\n(1:24:36) Orang yang pelit itu orang yang mendengar namaku disebut dan dia tidak berselawat. Kapan itu? Ya, kapan saja. Ketika dia mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam disebut. Kalau ada kata-kata Muhammad, maka kita langsung mengatakan sallallahu alaihi wasallam atau Allahumma sholli wasallim alaih.<br \/>\n(1:24:55) Ketika ada orang mengatakan qar rasulu sallallahu alaihi wasallam, kita pun berselawat. Kita berselawat. Allahumma sholli wasallim alai shallallahu alaihi wasallam. Ketika orang mengatakan wa samun nabi shallallahu alaihi wasallam yaakul aku mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam maka kita boleh berselawat seperti itu. Tapi kalau ada seorang nabi, nah kata-kata nabi kalau yang dimaksudkan adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam maka dia berselawat.<br \/>\n(1:25:24) Tapi kalau yang dimaksudkan Nabi adalah seorang nabi tidak pasti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, maka kita diwajib untuk berselawat. Seperti kalau disebutkan Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Zakaria, Nabi Adam dan lainnya. Wallahuam. Tidak ada dalil yang menunjukkan wajib selawat kepada mereka. Tapi yang dimaksudkan adalah Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(1:25:43) Kita mendengar ee maka kita dianjurkan untuk berselawat. Nah, sebagian ulama mengatakan berarti selawat itu wajib. Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan dalam hadis ini, ab&#8217;adahullah. Semoga Allah menjauhkan dia dari rahmat Allah.<br \/>\n(1:26:05) Orang yang sampai dijauhkan dari rahmat Allah itu tidak pantas kecuali kalau dia melakukan sebuah pelanggaran yang serius. Dan dalam riwayat Muslim dikatakan ragma anfimriin. Ragmaan fimriin itu dalam bahasa Arab artinya ee semoga ini hidung ini nempel di tanah gitu. Artinya semoga celaka dia gitu. Nah, ini berarti tidak mungkin sampai didoakan jelek kecuali dia melakukan kesalahan serius.<br \/>\n(1:26:31) Maka ketika mendengar ee nama Nabi sallallahu alaihi wasallam atau hadis beliau dibacakan atau kita mendengar Rasul sallallahu alaihi wasallam, kita akan berselawat. Maka ini yang disebutkan oleh ulama ahli hadis seperti Sufyanauri yang meninggal tahun 161 Hijriah. Beliau mengatakan ee am yakun liashhabil hadisi illa eh katratus shati alaihi fainnahu lam yazal yusolli alaihi ma dama fi kitab.<br \/>\n(1:26:57) Kalau seandainya tidak ada kelebihan yang dimiliki oleh ahlil hadis kecuali banyak berselawat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam cukup. Itu merupakan keistimewaan mereka. Karena ahlil hadis, para penuntut ilmu hadis mereka akan selalu berselawat. Setiap nama Nabi sallallahu alaihi wasallam disebutkan dalam buku mereka. Begitu.<br \/>\n(1:27:16) Wallahuam bawab. Nah, Ustaz, jazakumullah khairan barakallahu fikum Ustaz atas jawaban yang telah antum berikan. Dan demikian untuk jawaban para penanya yang sudah bertanya. Kita akan berikan kesempatan kembali di 0218236543. Bagi Anda yang bertanya, kami persilakan ya. Kami persilakan yang sudah terhubung ya. Silakan.<br \/>\n(1:27:39) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa Bapak dan berada di mana? Dengan Bapak Ino di Sumatera Utara. Bapak Ino di Sumatera Utara. Silakan Bapak Ino. Iya. Ee mohon bimbingannya, Ustaz. Ketika seorang wanita berwudu saat mengusap kepala karena apakah cukup ee menarik ke belakang tanpa mengembalikan ke depan? Karena saat dikembalikan ke depan kan rambutnya itu menutup wajah. Mohon bimbingannya, Ustaz. Enam.<br \/>\n(1:28:19) Terima kasih, Pak Ino atas pertanyaannya. Cukup Pak Ino ya. I Ustaz, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan, Ustaz. Baik. Dalam hadis tentang ee tata cara wudu Nabi sallallahu alaihi wasallam kalau tidak salah disebutkan dalam hadis ee Abdullah bin Zaid ibni eh Asim Almazini kalau tidak salah ya atau sahabat yang lain. Akan tetapi hadis ini sahih dalam Sahih Muslim.<br \/>\n(1:28:55) Dalam tata cara wudu, Nabi sallallahu alaihi wasallam mengusap dari depan ke belakang dari jidat ini. Badaa bimuqadami rasihi hatta dahahaba bihima qofah. Beliau mulai dari awal bentuk depan kepala sampai tengkuk qofahuahuma ilal makanilladzi bada minhu. Kemudian dikembalikan lagi dari tempat asal beliau memulai tadi. Begitu.<br \/>\n(1:29:23) Jadi begini kemudian begini. Wallahuam. Ini tidak membedakan antara orang yang panjang rambutnya atau yang pendek. Antara yang rambutnya tebal atau yang tipis. Bahkan yang gundul tidak dipisahkan, tidak dibedakan. Nabi sallallahu alaihi wasallam rambut beliau panjang, gondrong.<br \/>\n(1:29:45) Nabi Nabi sallallahu alaihi wasallam sampai dalam sebuah riwayat ee sampai di daun telinga rambut beliau ya. Ada yang riwayatkan sampai menjelang nyentuh apa namanya pundak ya. Dan beliau memang rambutnya banyak ya sehingga beliau wudunya begini dan begini. Jadi tak dibedakan orang yang misalkan rambutnya tipis atau bahkan habis kundul misalkan tetap aja caranya begitu.<br \/>\n(1:30:09) Demikian pula para wanita juga seperti itu. Kalaupun rambutnya nanti akhirnya kembali dan akhirnya kena mukanya ya tidak apa-apa juga. Memang membatalkan wudu kalau seandainya rambutnya kena muka. Nah dan orang melaksanakan wudu itu se ee sebisanya. Tapi itulah sunah kalau seandainya ada orang berwudu dengan memulai dari depan ke belakang kemudian dari belakang dikedepankan, maka itulah sunah.<br \/>\n(1:30:32) Maka insyaallah tidak mengapa. Wallahuam bissawab. Enam ustaz jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan ustaz. Pertanyaan dari Pak Ino dari Sumatera Utara merupakan pertanyaan yang terot di perjumpaan kita malam hari ini. Sebelum kita akhiri perjumpaan yang penuh dengan faedah ilmu ini, kami meminta kepada untuk menyampaikan iktiit. Silakan, Ustaz.<br \/>\n(1:31:02) Baik, ikhwah sekalian, ada sebuah perkataan yang di pernah disampaikan oleh sahabat Nabi sallallahu alaihi wasallam yang mulia. Beliau adalah Saad ibn Muad radhiallahu anh. Beliau mengatakan, &#8220;Thatun ana fihinna rajulun wa amma fi ghairihinna faana rajulun minanas.&#8221; Ada tiga hal yang aku ingat-ingat.<br \/>\n(1:31:28) Aku pantas menjadi seorang kesatria karena aku betul-betul memperjuangkan. Kalau selain kesempatan yang tiga ini, aku orang biasa. Yang pertama ma balagani an rasulillahi shallallahu alaihi wasallam haditun illa alimtu annahu haq. Tidaklah aku mendengar satu hadis dari Nabi sallallahu alaihi wasallam kecuali aku akan meyakini bahwa itu pasti kebenaran.<br \/>\n(1:32:02) Pasti kebenaran. Dan ini bukan beliau saja. Dan tadi yang disebutkan beliau ini memiliki tiga kondisi. Tiga kondisi ini aku bisa merasa bahwa aku ini betul-betul ber apa? Berjuang. Berjuang di selain tiga keadaan ini. Ana biasa aja. Ana seperti orang-orang biasa gitu.<br \/>\n(1:32:26) Nah, yang pertama dia sebutkan bahwa aku tidaklah mendengar sebuah hadis kecuali aku akan pastikan, aku akan yakini bahwa itu adalah kebenaran. Yang kedua, &#8220;Tidaklah aku memulai sebuah salat sampai selesai, kecuali aku akan berusaha untuk khusyuk, tidak boleh memikirkan yang lain.&#8221; Kemudian yang ketiga, setiap aku mengikuti sebuah jenazah maka aku akan selalu berpikir ini jenazah apa kira-kira yang akan dipikirkan? Kira-kira apa yang akan ditanyakan? Kemudian bagaimana kira-kira jenazah ini akan menjawab sampai jenazah ini nanti akan ditinggal oleh orang-orang yang mengantar. Yang tiga hal ini kata Sa&#8217;ad<br \/>\n(1:33:05) bin Muad radhiallahu anhu yang selalu beliau berusaha untuk memperjuangkannya. Dan ini merupakan ee sebuah prinsip yang perlu dipegangi. Bahwa yang datang dari Nabi sallallahu alaihi wasallam adalah sebuah kebenaran dan kita memiliki konsekuensi. Tahu itu benar harus diikuti dan diprioritaskan dari semua pendapat yang lain.<br \/>\n(1:33:36) Mudah-mudahan kita mampu untuk merealisasikannya dan semoga Allah rida kepada kita. Wallahuam bawab. Shallallahu wasallam wabarak ala abdihi waasulihi nabina Muhammad wa ala alihi washbihi ajmain. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Walhamdulillahiabbil alamin.<br \/>\n(1:33:55) Nah, Ustaz, jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas waktu yang telah Antum berikan di malam hari ini untuk kita semuanya menyimak kajian yang penuh dengan ilmu yang telah Antum sampaikan dan juga jawaban yang telah Antum berikan untuk kita semuanya dari pertanyaan yang telah diajukan. Kami ucapkan terima kasih banyak.<br \/>\n(1:34:11) Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa menjaga antum dan meluaskan keilmuan antum sehingga semakin banyak faedah ilmu yang dapat diambil dari setiap perjumpaan bersama antum. Insyaallah. Allahum amin. Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih banyak untuk rekan-rekan kami Koroja Challengsi dan juga rekan-rekan kami yang berada di ee STD Jember atas kerja samamanya kita telah bisa menghadirkan kajian ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin. Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan kembali untuk di pertemuan<br \/>\n(1:34:42) berikutnya kita bisa menghadirkan kembali kajian ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin. Dan untuk Anda semuanya ikhwatal Islam, azaniallahu wyakum. Kami ucapkan terima kasih banyak atas kebersamaan Anda di malam hari ini dan juga atas atensi Anda. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan. Barakallah fikum.<br \/>\n(1:35:00) Nantikan kembali kajian beliau insyaallah pada hari Kamis yang akan datang untuk kita simak bersama kelanjutan di pembahasan kitab sahih aljamius shogir. Akhir kalam untuk Anda semuanya ikhwat Islam azani Allahu wyakum. Semoga Allah subhanahu wa taala memudahkan bagi kita mengamalkan iman yang telah kita dapatkan dan tetap jaga kesehatan. Barakallah fikum. Billahi taufik wal hidayah.<br \/>\n(1:35:20) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:10) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keotentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis kesalehan tidak cukup. (00:35) Saksikanlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3538","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami&#039; As-Shagir - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:10) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keotentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis kesalehan tidak cukup. (00:35) Saksikanlah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T14:30:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T14:30:13+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"47 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/\",\"name\":\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T14:30:12+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T14:30:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir &#8211; YouTube Transcript: (00:10) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dalam rangka menjunjung tinggi keotentikan kejernihan hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka para ulama periwayat hadis pun perlu dijelaskan kesalahan mereka. Ketika seorang meriwayatkan hadis kesalehan tidak cukup. (00:35) Saksikanlah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T14:30:12+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T14:30:13+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"47 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/","name":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. - Shahih Jami' As-Shagir - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T14:30:12+00:00","dateModified":"2025-11-24T14:30:13+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-dr-emha-hasan-ayatullah-m-a-shahih-jami-as-shagir-5\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A. &#8211; Shahih Jami&#8217; As-Shagir"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3538"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3538"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3538\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3539,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3538\/revisions\/3539"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}