{"id":3577,"date":"2025-11-24T22:04:55","date_gmt":"2025-11-24T15:04:55","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3577"},"modified":"2025-11-24T22:04:56","modified_gmt":"2025-11-24T15:04:56","slug":"ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/","title":{"rendered":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun"},"content":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/S8_oIZoNwao?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah, dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menyebar cahaya sunah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(00:55) Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi waman walah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;du. Ikhwat al islamakumullah sahabat Raja di mana pun Anda berada. Semoga Allah subhanahu wa taala merahmati dan melindu kita semua.<br \/>\n(01:15) Alhamdulillah di kesempatan siang hari ini di hari Senin kita akan simak bersama kembali kajian ilmiah yang kami hadirkan secara langsung dari pembahasan al-aqidu awalan lau kanu ya&#8217;lamun disampaikan oleh Al Ustaz Afifi Abdul Wadud hafidahullahu taala dan tema pada kesempatan siang hari ini yaitu mengenai sifat ahlul jannah yaitu mereka yang melakukan amar makruf nahi mungkar dan Seperti biasa setelah materi kami akan sediakan sesi tanya sesi tanya jawab.<br \/>\n(01:47) Bagi Anda yang ingin bertanya silakan bisa mengirimkan pertanyaan baik melalui layanan pesan WhatsApp ataupun Anda bisa menghubumi kami di layanan dan telepon. Baik, langsung kita akan simak bersama materi yang akan disampaikan. Kepada al ustaz kami persilakan. F tafadal masykur. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(02:10) Innalhamdalillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wa ashabihi waalah wala haula wala quwwata illa billah. Amma ba&#8217;du. Alhamdulillah para pemirsa TV Raja, kaum muslimin rahimani warahimakumullah. Insyaallah kita melanjutkan pembahasan kita min sifati ahlil jannah. Di antara sifat-sifat ahlul jannah adalah alamru bil ma&#8217;ruf wahyu alil munkar.<br \/>\n(02:56) Senantiasa memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang mungkar. Mak&#8217;ruf adalah semua yang dikenal oleh syariat ini sebagai kebaikan dan sebesar-besar makruf adalah attauhid. Kemudian baru makruf yang lainnya. Demikian juga ini almunkar adalah semua yang digar oleh syariat dan sebesar-besar kemungkaran adalah asyirku billah yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(03:35) Al amru bil marruf wil mungkar merupakan satu di antara sifat ahlul jannah. Ketika hidup di dunia sekarang ini, para penghuni jannah di akhirat kelak satu di antara sifat yang dijelaskan oleh Allah dan Rasulnya adalah mereka senantiasa memerintahkan yang makruf dan melarang dari perkara-perkara yang mungkar.<br \/>\n(04:12) Sebagaimana di antaranya yang Allah sebutkan dalam surah at-Taubah. Ayat yang ke-7172 Allah Subhanahu wa taala berfirman, &#8220;Wal mukminuna wal mukminatu ba&#8217;duhum auliya ba.&#8221; Orang mukmin laki-laki dan perempuan satu dengan yang lainnya mereka saling yaitu ee menolong satu dengan yang lainnya. Yuruna bil marruf. munkar. Mereka senantiasa memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkarimunakah wtiunallah waasulah.<br \/>\n(05:03) Demikian pula mereka orang menegakkan salat, membayar zakat, dan senantiasa mentaati Allah dan rasulnya. Ulaika sayarhamullahu. Merekalah orang-orang yang akan dirahmati oleh Allah. Innallaha azizun hakim. Sesungguhnya Allah zat yang maha perkasa lagi maha bijaksana. Waadallahul mukminina wal mukminati jannatin tajri min tahtial anhar khidina fiha.<br \/>\n(05:44) Allah Subhanahu wa taala berjanji kepada kaum mukminin dan mukminat. Apa janji Allah? Yaitu jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai khidina fiha yang kekal di dalamnya. Akibatan jannati aden dan tempat yang baik di surga adenidwanum minallahi akbar dan keridaan Allah itu perkara terbesarika hual faulim itulah kebahagiaan yang sangat besar ayat ini satu di antara ayat yang menerangkan tentang orang-orang yang mereka dijanjikan surga oleh Allah kelak di yaumul kiamah.<br \/>\n(06:38) Yaitu orang-orang mukmin yang mereka senantiasa melakukan al amru bil ma&#8217;ruf wahyu anil munkar. Bagi mereka surga yang kekal di bawahnya, yang yang dia kekal di dalamnya, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai tempat yang indah yang Allah ee dan keridaan Allah itu di atas segala-galanya. Seorang mukmin ada orang mereka surganya adalah bagaimana senantiasa ittihaa mardatillah, senantiasa mencari keridaan Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(07:29) Dan hakikat alfazul adzim adalah ketika seorang di akhirat kelak dia dimasukkan ke jannah dan diselamatkan dari neraka. jannahq. Barang siapa yang dia diselamatkan di neraka dan dimasukkan ke surga maka sungguh dia telah ini berbahagia, beruntung, sukses dan itulah alfazul adzim, kesuksesan yang sangat besar. Tidak ada kesuksesan yang melebihi orang mereka dimasukkan ke dalam jannah.<br \/>\n(08:10) Sesukses apapun di dunia, kalau dia ternyata harus meringkuk di dalam jahanam, maka hakikatnya dia tidak sukses. Hakikatnya dia adalah orang yang bangkrut. Karena orang yang mereka di akhirat kelak tidak mendapatkan jannah, apapun yang dia korbankan dari perkara dunia. Roja TV, saluran tilawah Alquran dan kajian<br \/>\n(09:26) Islam. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Rojaaru dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roja Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.<br \/>\n(10:12) 3 FM. menebar cahaya sunah Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Di antara kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan seorang muadzin yang pertama dan ini banyak terlalu memanjangkan dan melenggok-lenggokkan suara azan. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. RJ TV, saluran tilawah Alquran.<br \/>\n(11:31) Kajian Islam ilmiah di Raj TV dan Radio Roja. Walladzinau ibti wajibbihim. Dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah, dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Di antara manfaat yang akan dihasilkan ketika orang tua bersikap ramah kepada anak adalah akan memunculkan kepercayaan apao diri.<br \/>\n(12:21) Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Rojo. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah. Ma ba&#8217;du.<br \/>\n(13:01) Jamaah rahimakumullah, sahabat Raja di mana pun Anda berada, kami mohon maaf terputus koneksi kami dengan Al Ustaz Afifi Abdul Wadud yang berada di Yogyakarta dan alhamdulillah kami terkoneksi kembali dengan beliau yang berada di Jogja ya. Dan mudah-mudahan koneksi kami ee tidak terputus lagi lancar hingga akhir acara.<br \/>\n(13:21) Baik, langsung kita akan simak kembali materi yang akan disampaikan. Kepada Ustaz kami persilakan. Pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Hakikat kesakesan adalah ketika seorang itu mereka dimasukkan Allah ke dalam jannah dan diselamatkan dari ini anar. Apapun kesuksesan yang manusia raih di dunia ini, ketika dia harus meringkuk ke dalam jahanam, maka semua yang dia miliki dari perkara dunia tidak akan lagi bermanfaat untuk bisa menyelamatkan dia dari azab Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(13:57) Walaupun itu masih besar bumi, walaupun itu seluruh penduduk manusia di muka bumi, maka semuanya lafa, tidak akan memberikan manfaat untuk dia menyelamatkan dari jahanam. Dan Allah menyebutkan satu di antaranya adalah akhlak mereka di dunia atau sifat mereka di dunia adalah senantiasa mewujudkan al amru bil ma&#8217;ruf wahyi anil munkar.<br \/>\n(14:26) Pertanyaannya adalah kenapa ahlul jannah di akhirat kelak di dunia sekarang ini ada orang-orang yang mereka senantiasa melakukan alamru bil mar&#8217;ruf selalu memerintahkan yang makruf memerintahkan tauhid kemudian memerintahkan kebaikan-kebaikan yang lainnya salat puasa, zakat, haji, dan segala kebaikan yang dikenal dalam syariat ini.<br \/>\n(14:59) dan mengingkari yang mungkar, mencegah menahan dari perkara-perkara yang mungkar. syirik dan segala kemungkaran yang diingkar oleh syariat agama ini. Yang pertama alasannya adalah karena Allah Subhanahu wa taala sendiri yang memerintahkan agar senantiasa ada di kalangan umat ini yang terus menegakkan alamr bil ma&#8217;ruf wahyu anil munkar. Allah dan Rasul-Nya yang menginginkan untuk senantiasa adanya sekelompok orang yang senantiasa memerintahkan yang makruf dan malah yang mungkar.<br \/>\n(15:41) Firman Allah wala takum minkum ummatun yaduna ilal khair wuruna bil marruf waanhaunail munkar waul muflihun. Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok umat yang mereka senantiasa terus-menerus yaduna ilal khair, senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan, berdakwah, menyeru, mengajak untuk senantiasa menghidupkan kebaikan sehingga kebaikan di tengah-tengah kehidupan ini tidak lenyap, yaitu Islam.<br \/>\n(16:26) yang Islam isinya semuanya adalah kebaikan tauhid dan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Marruf wanilkar. Demikianlah senantiasa mereka memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar. Waulaika humul muflihun. Dan Allah mensifatkan tentang mereka itulah sifatnya itulah orang yang beruntung.<br \/>\n(16:57) Sehingga di antara sifat keberuntungan, sifatnya orang mereka beruntung, orang yang sukses, sukses di akhiratnya kelak adalah orang-orang yang mereka senantiasa memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, terus menyeru manusia kepada kebaikan-kebaikan. Ini akan menjadikan dunia itu penuh dengan rahmat Allah Subhanahu wa taala. dirahmati Allah, dijauhkan dari laknat Allah.<br \/>\n(17:25) Di dunia ini terwujud hakikat kebahagiaan dan di akhirat akan mereka ini meraih kebahagiaan hakiki yaitu dimasukkannya mereka ke dalam jannah. Rasul kita yang mulia sallallahu alaihi wasallam demikian juga memerintahkan setiap kita yang melihat kemungkaran agar meninggal atau agar melarang kemungkaran tersebut tentu sesuai dengan kemampuannya.<br \/>\n(17:56) minkum munkaran faliru biyadi. Barang siapa melihat kemungkaran di antara kalian, maka hendaklah dia merubah dengan tangannya, melihat dengan mata kepalanya sendiri dan dia melihat itu benar-benar sebuah kemungkaran. Tidak diragukan lagi itu adalah sebuah kemungkaran. Barang siapa yang dia melihat dengan matanya dia ee itu adalah kemungkaran. Yakin persis italah kemungkaran.<br \/>\n(18:27) Hendaklah kalau dia mampu dia rubah dengan tangannya, dengan kekuasaannya. Penguasa kepada rakyatnya, orang tua kepada anaknya, pemimpin kepada bawahannya. Mereka adalah para pemegang kekuasaan yang tidak boleh, yang tidak berada dalam kekuasaannya. Dia kemudian memotong, melakukan nahi mungkar yang bukan pada wilayah kekuasaannya.<br \/>\n(19:05) Meninggalkan salat itu kemungkaran. Tetapi kalau yang meninggalkan salat itu adalah anak tetangga, maka kita tidak berani untuk memukul karena itu adalah haknya atau kewajibannya orang tua. Adapun kita yang bukan orang tuanya, yang bukan wilayah kekuasaan kita hanya bisa dengan nasihat dan menyampaikan dengan lisan kita.<br \/>\n(19:37) Merubah dengan tangan, yaitu dengan kekuasaannya. adalah bagi mereka yang memang memiliki kekuasaan untuk merubah dengan kekuasaannya, dengan kekuatannya, dengan tangannya. am yastati fabilisan faillam yastati fabilisan kalau ternyata dia tidak mampu merubah dengan tangannya karena tidak karena bukan wilayah kekuasaannya maka hendaklah dia merubah dengan itu lisannya dia bagaimana mengingkari kemungkaran dengan lisannya menasihati kemudian menyampaikan dengan lisannya, mengikari dengan lisannya agar dia meninggalkan perbuatan mungkar.<br \/>\n(20:29) Faillam yastati fabiqolbih. Seandainya dengan lisannya pun dia enggak mampu, maka paling minimal dengan hatinya. Adapun hati semuanya yang punya iman harusnya ini mampu dia tinggalkan, dia memiliki kebencian. ini adalah pasti setiap orang mereka memiliki kemampuan karena dengan hatinya walika iman dan ini posisi iman yang paling yaitu lemah.<br \/>\n(21:05) Memerintahkan yang makruf, mengingkari yang mungkar adalah satu di antara perintah Allah dan perintah rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam. Dan seorang mukmin sifatnya adalah tidak ada atau tidaklah Allah dan rasul-Nya ketika memerintahkan yang makruf, ketika memerintahkan menyeru ini menyeru orang-orang mukmin kecuali orang mukmin itu dia senantiasa sami wa&#8217;na berusaha untuk mendengar dan taat kepada setiap yang diperintahkan Allah Taala.<br \/>\n(21:37) Termasuk di antaranya adalah kewajiban untuk menegakkan mewujudkan alamru bil marruf wahyu anil munkar. Maka seorang mukmin sesuai dengan kadar kemampuannya, dia berusaha untuk senantiasa mewujudkan perintah Allah untuk memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar sesuai dengan kemampuannya masing-masing.<br \/>\n(22:08) Yang kedua, alasan kenapa seorang mukmin mereka memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar. Lianju bidalik lianju minalik. minabillah dalam rangka agar mereka selamat dari azab Allah Subhanahu wa taala. Satu di antara penyelamat dari azab itu ketika mereka senantiasa memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar.<br \/>\n(22:37) Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Falamma nasu maukiru bih. Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan Allah Subhanahu wa taala. Mereka tenggelam dengan hawa nafsunya. Mereka mengikuti syahwatnya. Mereka tidak peduli dengan agama Allah Subhanahu wa taala. anina. Ketika manusia mereka tenggelam dalam kelalaian, melupakan agama Allah, mengikuti hawa nafsunya, mereka hidup dengan yini syahwatnya.<br \/>\n(23:26) Maka kami selamatkan alladzina yanhauna anisu. Kami selamatkan orang-orang yang mereka senantiasa melarang dari perbuatan buruk. ba dan orang-orang yang mereka zalim akan kami timpakan azab yang pedih ya disebabkan karena kefasikan yang mereka itu lakukan. Sehingga kaum muslimin apabila manusia mereka memerintah e manusia mereka melakukan kemungkaran-kemungkaran lalu mereka tidak lalu muslimin tidak melarang kemungkaran mereka akan turunkan azab.<br \/>\n(24:09) Allah akan turunkan azab. Bahkan doa-doanya pun kemudian tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa taala ketika mereka selama ini tidak mengingkari kemungkaran yang terjadi. Dan ini disampaikan oleh Nabi kita yang mulia sallallahu alaihi wasallam. Walladzi nafsi biyadih.<br \/>\n(24:35) Demi jiwaku yang ada di tangan Allah Taala. Demi Allah demi Allah yang jiwaku ada di tangan Allah Taala. biluf wun munkarahuakum demi Allah yang jiwaku ada di tangannya kalian latanhawunnail munkarunna biluf Benar-benar kalian kalian memerintahkan yang makrufkar dan kalian meninggalkan melarang yang mungkar.<br \/>\n(25:29) Kalian senantiasa perintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar. Atau Allah Subhanahu wa taala akan mengirim kepada kalian hukuman dengan sebab kalian tidak melakukan tugas amar makruf nahi mungkar. Lalu kalian berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala dan Allah tidak akan kabulkan itu dan tidak akan dikabulkan oleh Allah doa-doa kalian.<br \/>\n(26:08) Sehingga satu di antara hukuman meninggalkan alamru bil ma&#8217;ruf wahyuil munkar. Allah akan kirimkan azab dan doa-doa kita tidak diterima oleh Allah, tidak dikabulkan oleh Allah Taala dengan sebab meninggalkan al amru bil ma&#8217;ruf wahyu alil munkar. Berbagai macam azab Allah bisa bentuknya fisik, bisa bentuknya ini psikis ditahannya hujan oleh Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(26:48) Atau seandainya datang hujan malah menimbulkan banjir. Bukan hujan rahmat tapi hujan azab. Menimbulkan banjir, menimbulkan longsor, menimbulkan bencana di mana-mana. atau dikuasainya orang kafir sehingga orang-orang kafir mereka menguasai menguasainya sehingga mereka berlaku semenang-menang, semena-mena kepada kaum muslimin.<br \/>\n(27:16) pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang kafir, pemberangusan yang dilakukan orang-orang kafir dan bermacam pembatasan-pembatasan kepada kaum muslimin sehingga menjadi suasana terhina di hadapan orang-orang kafir atau boleh jadi psikis, kehidupan yang sempit, kehidupan jiwa-jua yang sempit mereka jauh dari ketenangan, jauh dari kebahagiaan, jauh dari ee kelapangan dada.<br \/>\n(27:52) Kehidupan mereka kehidupan yang penuh dengan kemarahan, kesempitan, kemudian ya kemurkaan, gampang gundah gulana, gampang gelisah, gampang sedih. Ini adalah kehidupan yang sesungguhnya merupakan bagian hukuman Allah Subhanahu wa taala. Lalu orang-orang baik yang mereka mengangkat tangan pun tidak diterima doanya oleh Allah Subhanahu wa taala disebabkan selama ini mereka meninggalkan yaitu nahi mungkar.<br \/>\n(28:22) Lihatlah berapa banyak suami yang mereka ketika istrinya ini mutabarijah, berdandan tabarujtonkan kepada orang lain. Ini kemungkaran tapi suami tidak mengingkari. Berapa banyak kepala rumah tangga yang tidak mengingkari keluarganya yang meninggalkan salat? Keluarganya yang mereka berbuka di siang hari di bulan Ramadan.<br \/>\n(29:04) Berapa banyak di antara kita yang melihat khamar diminum, riba dimakan, dan tidak ada ingkarul mungkar terhadap perkara-perkara itu. Maka ini semuanya menjadi sebab diturunkannya azab oleh Allah Taala dan bahkan menjadi sebab pula doa-doa tidak diterima oleh Allah Taala ketika kemungkaran tersebar.<br \/>\n(29:35) Kemudian ee Allah timbulkan bencana karena kita tidak melakukan na mungkar terhadap bermacam perkara-perkara tersebut. Bukankah Allah telah kata bukankah Nabi kita mengabarkan pulaamak baha dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka kecuali Allah akan tahan itu air hujan seandainya bukan karena binatang-binatang ternak niscaya tidak akan diturunkan air hujan.<br \/>\n(30:16) meninggalkan perbuatan kemaksiat, meninggalkan perbuatan alamru bil ma&#8217;ruf wahyuil munkar maka akan menimbulkan azab. Kenapa? Karena ketika al amru bil ma&#8217;ruf wahyuil munkar ditinggalkan, maka yang akan merebah adalah asratul ma&#8217;asi. yang akan merebah adalah banyaknya kemaksiatan-kemaksiatan.<br \/>\n(30:48) Mereka merasa nyaman, mereka tidak diingkari, mereka merasa tidak ada gerakan pengingkaran. Ketika banyak maksiat, banyak kekecian, tersebar kerusakan-kerusakan di muka bumi, maka Allah akan turunkan bala. Allah akan turunkan akhlak, kebinasaan. Mak Allah akan turunkan azab. Dan ini merupakan hukuman Allah bagi umat yang mereka tidak melakukan alamru bil marruf w munkar.<br \/>\n(31:20) Rasulullah sahu alai wasallam beliau pernah menyampaikan kalimat lailahaillallah wailun lil arab min syarrin qodqtarab. Lailahaillallah. Celaka orang arab. atas keburukan yang telah dekat yang akan yang menimpa mereka. Lalu apa di antara yang dikatakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam? Ya Rasulullah, ee kata Zainab bin bintu Jahsyin, dia mengatakan, &#8220;Ya Rasulullah, anahlik wafinhun.<br \/>\n(32:08) &#8221; Ya Rasulullah, apakah kita akan hancur, akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita ada orang saleh? Kata Nabi, &#8220;Naam katal khabar.&#8221; Apabila telah banyak ini kekajian-kekan yang dilakukan oleh manusia, banyaknya kemaksiatan yang terjadi, banyaknya wanita-wanita mereka ya ini keluar rumah tanpa hijab, mereka berdandan seronok.<br \/>\n(32:44) Mereka membuka aurat. Banyaknya orang-or mereka tidak ke masjid ketika dipanggil azan oleh Allah Taala. Banyaknya orang yang mereka itu tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadan. Banyaknya orang mereka menyaksikan pandangan-pandangan yang haram. Dibukanya tempat-tempat hiburan yang haram. Banyaknya orang-orang yang mereka memakan riba.<br \/>\n(33:12) Mereka ini tidak meninggalkan riba, bahkan menikmati riba dan menawarkan riba, membudayakan hidup riba. Maka ini semuanya akan menjadikan turunnya azab Allah secara umum. Bahkan azab ketika menimpa maka tidak memilah-milik. Orang-orang saleh pun dia bisa terkena dampak daripada yni azab tersebut.<br \/>\n(33:46) Sehingga Allah ingatkan wattaqu fitnatan lausibannadinaamuinkum kh. Takutlah Anda akan datangnya azab yang tidak hanya menimpa orang-orang saleh ee tidak hanya menimpa orang-orang zalim yang melakukan ee kemungkaran itu saja. Azab yang tidak hanya khusus menimpa orang zalim, tapi akan menimpa umum. Menimpa umum.<br \/>\n(34:20) Sehingga ketika Allah timbulkan banjir, Allah timbulkan gempa, berapa banyak orang saleh yang ikut mati, berapa banyak masjid yang ikut ambru, berapa ini banyak ya ini tempat-tempat yang baik terdampak dengan musibah tersebut. Maka hendaklah seorang muslim dia khawatir akan menimpa hal seperti ini dalam kehidupannya. Sehingga tersebarnya khaba kemaksiatan, kekajian ini akan menjadi sebab turunnya azab Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(34:53) Dan Nabi kita juga mengingatkan dengan sebuah hadis yang kehidupan kita ini seperti para penumpang kapal. Kata Nabi, matalul qoim ala hududillah. Perumpamaan orang yang mereka menegakkan hukum-hukum Allah Taala ini orang saleh. Orang-orang saleh yang mereka menghidupkan hukum Allah Taala, yang mereka menghidupkan ajaran agama Allah Taala. Wal waqi fiha.<br \/>\n(35:25) Dan orang mereka bermaksiat, melakukan perbuatan keburukan, kemungkaran, kemaksiatan. is alfinah. Seperti suatu kaum yang mereka berundi tempat di sebuah kapal asfalaha yang sebagian orang mendapatkan tempat di atas, sebagian orang mendapatkan tempat di bawah. fi asfaliha idtaq minal ma. Orang yang mereka berada di bawah apabila dia pengin yaitu minum untuk mendapatkan air maka mereka maru al faqum mereka harus melewati orang di atas mereka.<br \/>\n(36:17) Lalu mereka mengatakan laqnaqam manqona. Seandainya kita melubangi dinding kapal yang di bawah ini yang merupakan ini tempat kita, niscaya kita tidak akan mengganggu yang di atas. Itu pikirannya orang tersebut. Maka apa catatan Nabi kepada orang mereka hendak melubangi dinding ee kapal yang di bawah agar tidak perlu mengambil air melewati yang di atas.<br \/>\n(36:54) Fain yatruquuhum w aru halaqu jaman. Kalau seandainya orang-orang yang di kapal itu yang melihat olah orang yang akan melubangi dinding kapal itu dibiarkan, mereka biarkan maka akan tenggelam semuanya akan ini binasa semuanya. Wa ak aidihim. Tapi kalau mereka cegah, mereka tahan najau wajau jamian, maka mereka akan selamat dan semuanya ini mereka akan selamat.<br \/>\n(37:28) Ini adalah penggembaran Nabi bahwa kehidupan kita seperti para penumpang kapal. Kalau ada orang mereka ingin berbuat buruk dan tidak dicegah, maka bisa menimbulkan e ini hancurnya atau kebinasaan yang menimpa semuanya. Bukan hanya pelakunya aja tapi akan menimpa yang lain-lainnya.<br \/>\n(37:56) Maka para dai senantiasa menyeruhkan agar meninggalkan khamar, meninggalkan zina, meninggalkan riba, meninggalkan berat keburukan. Seandainya para pelaku keburukan itu kemudian mereka enggak usah cerewet, enggak usah cerikis, enggak usah ribut, pelakunya saya, bukan kamu. Iya, pelakunya Anda. Tetapi kalau Allah timpakan azab, menimpa semuanya, semuanya akan berdampak.<br \/>\n(38:25) Sehingga orang saleh tidak boleh diam terhadap segala macam bentuk kemungkaran yang dilat oleh matanya. Karena dampaknya tidak hanya akan menimpa pelakunya, tapi dampaknya akan akan pula merembet kepada yang lain-lainnya. Bahkan binatang-binatang pun bisa terkena karena ini dampak buruk dari perbuatan manusia ini tersebut.<br \/>\n(38:51) Yang ketiga, kenapa ahlul jannah di dunia ini mereka senantiasa meminta pakai yang makruf, melarang yang mungkar dalam rangka liyanju bin laknatillah agar mereka selamat dari laknat Allah Subhanahu wa taala. Kehidupan yang malun, kehidupan yang jauh dari rahmat Allah Taala. kehidupan yang mal&#8217;un, kehidupan yang penuh dengan yakni hal-hal yang mendatangkan laknat Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(39:30) Di antara sebab kehidupan itu dilaknat oleh Allah taala adalah karena meninggalkan alamru bil maruf wahyu munkar. Perhatikan bagaimana Bani Israil dilaknat oleh Allah Taala. Luinalladina kafaru min bani israil ala lisani Daud wa Isa bni Maryam. telah dilaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisannya Nabi Allah Daud dan melalui lisannya Nabi Allah Isa binu Maryam.<br \/>\n(39:54) Pertanyaannya tentu kenapa mereka dilaknat oleh Allah Subhanahu wa taala? Dalika bimau yadun. Karena mereka bermaksiat kepada Allah dan bahkan mereka melampaui batas dalam maksiat mereka. kemaksiatan atau keterpelesetan dalam ini maksiat anak Adam pasti saja ini terpeleset. Bani Adam Khatta. Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan bahkan sering.<br \/>\n(40:32) Tapi wirin attawabun sebaik-baik orang yang mereka salah adalah orang mereka bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Mereka yang bertaubat kepada Allah subhanahu wa taala. Tetapi kalau kemudian dia maksiat dan terus-menerus melakukan perbuatan maksiat, ini yang terancam yang diancam oleh Allah Subhanahu wa taala. Mereka bermaksiat dan terus melangsungkan maksiat.<br \/>\n(41:01) Mereka melampaui batas. Kanuanahaunarin fa&#8217;alu. Mereka tidak saling mengingkari kemungkaran yang mereka lakukan. Sehingga sebab keterlaknatan mereka adalah tersebarnya maksiat yang semakin meluas, yang semakin ini melampaui batas dan tidak ditunaikan kewajiban alamru maklum w munkar labi yaf&#8217;alun. Sungguh buruk apa yang menjadi perbuatan yini mereka.<br \/>\n(41:33) Ada sebuah kisah yang bahkan oleh para ulama berkaitan ayat tersebut. Ada seorang mereka ketika bertemu dengan temannya yang sedang bermaksiat, maka orang ini mengingatkan, &#8220;Ya hadza ittaqillaha wada matasna.&#8221; Wahai kawan, tinggalkan bertakwalah Anda kepada Allah dan tinggalkan perbuatan Anda. Dan orang pun enggak peduli dengan perbuatan, dengan pengingkaran ini Anda.<br \/>\n(42:08) Besoknya dia lihat lagi orang itu bermaksiat, melakukan perbuatan maksiat, dia pun tidak mencegah, tidak melarang dari perbuatan tersebut. Bahkan mereka makan bareng, minum bareng, duduk bareng. Maka ketika begitu keadaannya, Allah yang ini timpakan azab kepada mereka. Dan azab itu bisa bentuknya adalah fisik, bisa bentuknya adalah hati.<br \/>\n(42:40) Dan bahkan di antara yang disebutkan oleh Ibnu Qayyim ini hukuman yang sering tidak disadari oleh manusia. abduinbiillah. Tidak ada hukuman Allah yang lebih besar yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba melebih daripada hati yang keras dan jauhnya dari Allah Taala. Hati yang keras kerugiannya bisa bermiliar-miliar bahkan bertriliun-triliun.<br \/>\n(43:15) Hati yang keras, hati yang tidak lagi peduli dengan agama, dia tidak lagi peduli dengan halal haram. Dia tidak tersentuh oleh nasihat-nasihat agama. Hati yang membuat manusia semakin jauh dari Allah Subhanahu wa taala. Dan tidak ada kebahagiaan bagi orang mereka semakin jauh hidupnya dari Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(43:40) Tidak ada ya keberkat, tidak ada kebahagiaan orang mereka hidupnya tenggelam dalam durhaka kemaksiatan. Walaupun dia bisa dipuaskan oleh kemaksiatannya, maka hendaklah seorang dia senantiasa berusaha untuk mengingkari kemungkaran. Apa yang dia lihat dari kemungkaran adalah dia sebisa mungkin dia mengingkari kemungkaran tersebut agar dia terlepas dari ancaman laknat Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(44:06) Para suami hendaknya dia mengontrol para istrinya. Ketika mereka akan keluar, maka dia tanpa hijab mereka bertabar. Hendaklah suami melarang. Jangan sampai suami justru yaitu membiarkan para istrinya mereka berbuat semaunya hanya karena dia mencintai istrinya kemudian menahan dia dari mengingkari kemungkaran. Ini sangat berbahaya.<br \/>\n(44:37) Ini perbuatan termasuk dalam ini meninggalkan alamru bil marruf wahyuil munkar. Yang keempat, alasan kenapa seorang mukmin di dunia ini mereka senantiasa mewujudkan al amru bil ma&#8217;ruf wil munkar. Karena dalam rangka untuk mendapatkan nasrullah, dalam rangka untuk mendapatkan pertolongan Allah subhanahu wa taala, mendapatkan pertolongan Allah subhanahu wa taala yang Allah yansuru man yangu maana ini suruh manasarahu.<br \/>\n(45:19) Allah akan menolong orang yang menolong ini agama Allah Taala. Aljaza min jinsil amal balasan sesuai dengan yaitu kadar amalan seseorang orang mereka menolong agama Allah maka Allah akan menolong ini orang tersebutallahuuruh Allah benar-benar akan menolong orang yang menolongnya Allah enggak butuh pertolongan bahkan Allah adalah ini Allah para anak penolong Ong Allah annasir. Allah adalah sang penolong.<br \/>\n(45:59) Apa maksudnya orang menolong Allah? Ini menolong agama Allah Taala yaitu menghidupkan agama Allah. Agama Allah yang di suatu tempat tidak hidup maka dia hidupkan. Dia tolong agama Allah dia bela agama Allah. Orang mereka di lingkungannya meremehkan, melecehkan, merendahkan agama Allah.<br \/>\n(46:27) dia tolong agama Allah sehingga agama Allah dia dalam keadaan ini ee dia bela, dia tolong, dia hidupkan, dia dakwahkan pada manusia. Orang yang mereka menolong agama Allah benar-benar akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa taala. Innallaha laqawiyun aziz. Allah zat yang maha kuat lagi maha perkasa. Allah kuat tidak terkalahkan. Allah kuat tidak tertimpa kelemahan sama sekali.<br \/>\n(46:50) Kekuatan Allah penuh dengan keagungan kewibawaan Allah Subhanahu wa taala. Siapa orang-orang mereka akan ditolong Allah ini? Alladina makkanahum fil ard aqus wauzaka waaru bil marufhail munkar. Ini orang yang mereka ketika Allah berikan kekuasaan di muka bumi mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar.<br \/>\n(47:20) Ini adalah kegiatan orang-orang yang mereka akan ditolong oleh Allah Taala di dunia ini. Mereka senantiasa berusaha untuk memerikan yang makruf, melarang yang mungkar. Apalagi ketika Allah berikan p mereka kekuasaan, maka dia bisa dengan sempurna menunaikan yaitu ee berbagai macam nahi mungkar, berbagai macam ini melarang kemungkaran dengan kekuasaannya, dengan lesanya mereka bisa semuanya.<br \/>\n(47:53) Maka mereka berusaha untuk senantiasa yaitu meluka, melakukan na mungkar dengan kekuasaan yang mereka j miliki. Sehingga barang siapa mereka menginginkan jannah, barang siapa yang di dunia ini mereka berangan-angan untuk menjadi ahlul jannah, hendaklah mereka betul-betul mewujudkan al amru bil marruf wahyuil munkar.<br \/>\n(48:19) Bagaimana caranya kita melakukan amar nahi mungkar? Allah bimbing kita yang pertama agar kita melakukan dengan hikmah dengan maldatul hasanah melakukan dengan tepat menyampaikan ayat Allah menyampaikan hadis Nabi. memberikan nasihat yang terbaik kepada mereka ini melakukan dengan cara-cara yang pas yang tepat sehingga dia bersikap bijak bersikapnya ini hikmah ila sabilika bil hikmah wal mail hasanah watilhum billati ahsan hendaklah mereka seru seruhah manusia ke jalan rohmu dengan hikmah dengan cara yang tepat tepat waktunya tepat, materinya tepat,<br \/>\n(49:06) yaitu ee arahnya sehingga serba tepat, bersikap bijak. Ini membutuhkan ilmu dan penguasaan, yakni agama dan memahami siapa yang dia akan nasihati. Wal mail hasanah dengan maudh, nasihat-nasihat yang menyentuh, nasihat yang balighah agar hati mereka tersentuh sehingga meninggalkan perbuatan kemungkaran mereka atau dengan jidal.<br \/>\n(49:33) membantah mendebak orang-orang yang mereka punya syubhat-syubat dalam rangka agar mereka betul-betul menemukan kebenaran tapi dengan bilatian dengan cara yang ahsan dengan cara yang baik bukan dibat kusir. Yang kedua, cara seorang memerintahkan yang makruf, mengingkari yang mungkar jadilah anda para teladan. La yukhalifuna ma yaquulun.<br \/>\n(49:57) Jangan sampai mereka ucapannya itu perbuatannya melisi ucapannya. Hendaklah mereka melakukan apa yang mereka ucapkan sehingga menjadi hasanah, menjadi contoh yang baik yang Allah sebutkan para nabi Allah alaihiatu wasalam ketika mereka melarang kaumnya melakukan melakukan perbuatan buruk, melakukan keburukan.<br \/>\n(50:29) Kata wifumu, aku tidak ingin menyelisihi kalian dalam hal yang aku larang kepada kalian. Alias Nabai menegaskan dirinya tidak menyeliapa yang diucapkan. Karena seorang mereka mengingkari kemungkaran dalam menjadi teladan bagi orang-orang mereka yang diingatkan agar lebih memudahkan orang meninggalkan kemungkaran dan dia tidak jatuh martabatnya di hadapan orang mereka dakwahi.<br \/>\n(50:59) Bagaimana? Betapa sangat hinanya, jatuh martabatnya orang yang mereka tidak melakukan apa yang mereka sampaikan, tidak meninggalkan apa mereka larang. Maka ini akan menjadi insiden buruk, teladan yang buruk. Orang akan merendahkan, meremehkan orang yang mereka memerintahkan tapi tidak melaksanakan, melarang tapi malah dia lakukan.<br \/>\n(51:24) Dan Allah mengancam, &#8220;Ya ayyuhalladina amanu limaalunahun.&#8221; &#8220;Wahai orang yang beriman, kenapa Anda mengatakan apa yang tidak kalian lakukan?&#8221; Sungguh besar kemurkaan Allah kepada orang mereka mengucapkan apa yang tidak mereka lakukan. Apakah kalian perintahkan manusia berbuat baik sedangkan kalian melupakan diri Anda sendiri dan kalian membaca kitab apalakan tidak menggunakan akal anda? Apakah kalian tidak ingin punya otak? Dan ingatlah ada sebuah hadis Nabi yang menggambarkan bagaimana orang yang mereka di dunia dulu dia melarang yang mungkar tapi dia melaksanakan yang kemungkaran tersebut yaumamah akan didatangkan seorang dari<br \/>\n(52:11) kiamat kelakar dia dilemparkan ke dalam jahanam yang khususnya dalam keadaan brodol Ya, berputar-putar di neraka seperti putar-putarnya khimar yang mengenar yni penggiling gandum. Wa ini fastamiu ilaihi ahlunar sampai ahli neraka berkumpul. Lalu fayqulun lalu mengatakan, &#8220;Ya fulan malak wahai fulan kenapa engkau ya ustaz?&#8221; Ibaratnya ya ustaz kok engkau di sini? Kenapa? Bukankah Anda memerintahkan yanguf melarang mungkar betul aku yang makruf tapi aku tidak melakukannya aku melarang yang mungkar tapi aku justru melakukannya.<br \/>\n(53:15) Yang ketiga, hendaklah orang mereka melakukan amar-am mungkar itu, yaitu bil ilmi wal basirah. Dilakukan dengan ilmu dan basirah. La bil jah wal khurafat, bukan dengan kebodohan, khfat-khurafat. Sehingga jangan sampai dia mengingkari yang bukan mungkar. Jangan sampai dia memerintahkan yang bukan makruf.<br \/>\n(53:40) Di zaman kita ini banyak orang mereka modalnya semangat. Akhirnya amar makruf nahi mungkarnya justru menimbulkan maalat yang besar. Seorang wajib berilmu. Berilmu bagi berilmu tentang apa yang dia ingkari dan dia perintahkan. Pastikan yang Anda perintahkan makruf. Pastikan yang Anda larangan adalah mungkar.<br \/>\n(54:01) Dan kemudian pertimbangkan betul jangan sampai ingkarul mungkar Anda menimbulkan madarat yang lebih besar. yang lebih besar. Karena sesungguhnya para ulama memberikan kaidah kita dalam berar mungkar. Kalau Anda melakukan nahi mungkar, amar dan mungkar itu ee akan menghalang akan menghilangkan kemungkaran, maka wajib bagi Anda melakukan nai mungkar.<br \/>\n(54:25) Kalau Anda melakukan mungkar itu akan mengurangi kemungkaran walaupun enggak hilang total wajib melakukan nahi mungkar. Kalau Anda melakukan mungkar itu fifti-fifty kemungkinannya antara masalah dan madaratnya, maka ini majal ijtihad anda mana kira-kira dilakukan. Kalau Anda melakukan in mungkar itu menimbulkan kemungkaran yang lebih besar maka terlarang karena bisa lebih besar dibandingkan dengan ini manfaatnya musikin. Katakanlah inilah jalanku. Seorang mukmin menegaskan jalannya jalan yang jelas, terang, benderang, gamblang.<br \/>\n(55:00) Jalan dakwahnya Al-Qur&#8217;an, Asunah. Sebagaimana di para sahabat Nabi. Bukan jalan yang remeng-remeng yaitu mendakwahkan Islam tapi enggak jelas ini apakah Syiah atau Khawarij atau sufi atau kufuri atau Aklani dan seterusnya bisa menipu manusia. Maka ahlusunah menegaskan jalan dakwahnya yakni Al-Qur&#8217;an Asunah sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat Nabi Ridallahu alaihi jamian.<br \/>\n(55:29) Aku menyuruh manusia ke jalan Allah bukan ke jalan hisabnya, kelompoknya, ormasnya, organisasinya, pribadinya tapi menyeru manusia kepada Allah agar mereka beribadah kepada Allah dengan dia mengikhlaskan diri pula amalnya. Jangan sampai dia memiliki motif-motif di balik apa yang dia lakukan dari perkara duniawi. Allah basirah di atas basirah, di atas ilmu.<br \/>\n(55:48) Dengan ilmu bukan dengan kebodohan dengan ilmu. Sehingga betul-betul semua dilakukan itu di atas ilmu. Termasuk di antaranya dalam hal alamru bil makruf w munkar wajib dengan ilmu sehingga tidak menyimpang dari apa yang dituntunkan Nabi. Kata Khalifah Umar bin Abdul Aziz, manana yaudullahairi ilmin ini barang siapa yang mereka beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang dia timbulkan aksar ya mimma yuslim mausli itu aksar yusli kerusakan yang ditimbulkan akan lebih besar dibandingkan dengan kebaikan yang dimunculkannya.<br \/>\n(56:31) Yang keempat, seorang hendaklah ketika dia melakukan na mungkar, amar makruf nahi mungkar, hendaklah betul-betul berpegal kesabaran. Dada yang lapang, bersabar sehingga tidak gampang putus asa, tidak gampang kemudian dia jatuh, tidak gampang dia mutung, dia akan handal, akan tangguh dengan kesabaran dia miliki.<br \/>\n(56:58) Lihatlah bagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam diperintahkan Allah untuk bersabar. Bagaimana Allah memerintahkan Nabi ahlaka wasbir alaiha perintahkan keluarga Anda salat dan bersabarlah dan memerintahkan sehingga cukup sekali dua kali 100 kali 1000 kali terus memerintahkan yang ini memerintahkan yang makruf. Kemudian ketika Luqman menasti anaknya, &#8220;Ya bunya munkar.&#8221; &#8220;Wahai anakku, wahai putraku, tegakkan salat kemudian perintahkan yang makruf, larang yang mungkar. Bersabarlah atas itu semuanya, atas apa yang menimpa Anda semuanya.<br \/>\n(57:38) &#8221; Tadi sabar termasuk perkara yang sangat unggulan dalam kehidupan ini manusia. Pertolongan Allah bersama dengan kesabaran. Sabri, pertolongan Allah bersama dengan kesabaran. Sehingga perjuangan yang panjang yang menuntut pengorbanan waktu, tenaga segala macamnya hendaklah betul-betul dia berusaha untuk lakukan dengan kesabaran.<br \/>\n(57:56) Karena kesabarannya akan mengantarkan kepada pertolongan Allah Subhanahu wa taala. Dan seorang mereka akan nahi mungkar sesuai sesuai dengan kemampuannya. Jangan melebihi kadar kemampuannya. harus tahu diri pula di mana ya ini batas kemampuan dia, dia harus tahu diri.<br \/>\n(58:19) Jangan sampai dia dia orang tidak tahu diri karena ee jangan sampai dia kemudian justru menimbulkan kerusakan dengan apa yang dia lakukan tersebut. Ee para pemirsa ini yang kita sampaikan sekilas mudah-mudahan manfaat apa yang di ee ajarkan p kita. Barang siapa yang dia ingin menjadi ahlul jannah, hendaklah dia betul-betul berusaha untuk memiliki sifat ini. Berusaha memerintahkan yang makruf.<br \/>\n(58:44) melarang yang mungkar paling tidak pada orang-orang yang berada dalam kekuasaan ini, kita keluarga kita, anak istri kita, kemudian juga pawan kita dan seterusnya. Semoga Allah berkahi waktu kita, Allah berikan mereka kepada kita taufik bimbingan Allah Taala sehingga kita tetap lurus di atas jalan yang ee yang lurus ini istiqamah sampai kita kembali kepada Allah yang inimah dipanggil Allah dengan panggilan indah ya sehingga menjadi ahlul jannah dengan apa yang kita lakukan di dunia sekarang ini.<br \/>\n(59:16) Demikian jazakumullahu khairan matur nuwun wasallallahu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi wasallam. Baik, alhamdulillah terima kasih banyak ustaz jazak atas materi yang telah disampaikan di kesempatan siang hari ini dari pembahasan alaqidatu awalan lau yamun yaitu pembahasan mengenai sifatul jannah itu melakukan amar makruf nahi mungkar. Baik ee kami ajukan pertanyaan selanjutnya ustaz di layanan pesan WhatsApp langsung yang pertama.<br \/>\n(59:42) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, Ustaz ee ada yang tidak mau ambil peduli dengan apa yang dilakukan ibadah masyarakat. Entah itu mereka melakukan sunah atau bidah. Dan yang mengatakan itu ee padahal dikenal sebagai ahli ilmu, Ustaz, atau seorang ustaz. Bagaimana e tanggapannya, Ustaz? jazakallah khair dalam masyarakat itu ee dia itu tidak peduli itu bidah apa sunah tapi dia itu seorang ustaz itu bagaimana lingkungan di lingkungan tapi dia itu apa tapi dia itu apa ustaz ustaz gimana dia itu enggak peduli antara fitrah sama<br \/>\n(1:00:23) sunahim ee ustaz tetapi tidak peduli dengan sunah bidah ya tentu ini adalah orang tidak peduli dengan ya ini perkara yang makruf atau perkara yang mungkar tidak boleh pula kita menjadi spesialis memerintah yang makruf saja meninggalkan yang mungkar tidak boleh kita harus menjadi spesialis mengar mungkar aja tanpa memerintahkan yang makruf maka menjadi basyiran wa nadirah menjadi orang yang mereka senantiasa memberikan kabar gembira bagi orang mereka mentaati Allah mewujudkan tauhid kemudian ee menegakkan ketaatan dan seterusnya dan juga memberikan peringatan kepada<br \/>\n(1:01:07) manusia bagi mereka terjatuh dalam perbuatan syirik, bidah, kufur, nifak, maksiat sehingga tidak bisa ustaz kecuali ya pasti harus yang dua-duanya yaitu memerintahkan makruf, mengajarkan yang makruf, mengajarkan tauhid, mengajarkan sunah, mengajarkan ketaatan yang itu tidak akan pernah lepas juga dari mengingari kesyirikan karena mengajarkan tauhid.<br \/>\n(1:01:34) tidak akan sempurna kecuali dengan dia menjelaskan perbuatan kesyirikan. Tidak akan sempurna bertauhid kecuali dengan meninggalkan perbuatan syirik. Bagaimana Anda tidak melaku e tidak memerintahkan tidak mengingkari perbuatan kesyirikan? Tidak akan sempurna orang melakukan sunah kecuali dengan meninggalkan bidah.<br \/>\n(1:01:54) Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilepaskan ketika kita menjelaskan tauhid pasti harus menjelaskan syirik. Ketika menjelaskan sunah pasti akan menjelaskan bidah. Enggak mungkin tidak bisa lepas. Sehingga mesti kita membuat manusia paham apa itu tauhid, apa itu syirik, apa itu mungkar, apa itu apa itu makruf, apa itu mungkar, apa itu sunah, apa itu bidah. Itu sebuah kebutuhan yang enggak mungkin ustaz lepas daripada itu.<br \/>\n(1:02:19) Kalau Anda tinggalkan, berarti Anda meninggalkan kewajiban untuk menjadi orang yang bayanul haq, menjelaskan al-haq dan juga sekaligus waradul batil. Walaupun tentu sesuai dengan kadar ini kita, tapi mesti itu akan akan harus kita lakukan. Tidak bisa Anda meninggalkan itu tidak peduli dengan syirik yang ada, tidak peduli dengan ini bidah yang ada.<br \/>\n(1:02:44) Orang yang mereka tidak peduli dengan syirik berarti dia enggak yakin dengan keutamaan tauhid. Enggak enggak yakin dengan ini bahaya syirik. berarti dia ee atau kurang sempurna keyakinan dia. Seakan-akan syirik bukan penyakit yang membahayakan. Seakan-akan syirik bukan ini hal yang menghancurkan kehidupan manusia. Seakan-akan syirik tidak mengancam mereka kekal di dalam neraka.<br \/>\n(1:03:05) Sehingga dianggap enteng-enteng aja, lu-luweh, enggak enggak peduli. Atau mungkin Anda enggak peduli, yang penting saya selamat. Enggak bisa. Karena Allah Subhanahu wa taala pula memerintahkan kita bukan hanya kita berhias secara pribadi, tapi kita wajib peduli dengan orang lain.<br \/>\n(1:03:25) Sehingga wal asri inal insana khusrinina amanuhat watw bilhaqi wat. Allah bersumpah dengan waktu manusia itu semuanya dalam kerugian kecuali mereka yang beriman beramal saleh. Ini pribadi iman amal saleh. Tapi Allah enggak mencukupkan dua hal ini. Tapi Allah e mewajibkan watwasau bilha haqqi watwabr. Ini adalah kewajiban untuk dia berdakwah menyeruh manusia kemudian beramal makruf nahi mungkar peduli kepada orang lain.<br \/>\n(1:03:56) Ini adalah kesempurnaan ini seorang muslim yang kalau dia meninggalkannya akan terancam dengan banyak ancaman. seperti yang Allah sebutkan dan Nabi sebutkan yang telah kita sampaikan di atas. Wallahu taala alam bisawab. Nam. Baik, terima kasih banyak Ustaz. Syukran jazakallah khair atas jawabannya.<br \/>\n(1:04:16) Dan selanjutnya kami ajukan pertanyaan kembali dian pesan WhatsApp dari Erni tidak sebutkan tempatnya. Ya, Ustaz, bagaimana cara menegakkan amar makruf nahi mungkar jika kita tidak mempunyai kemampuan? Contoh, atasan kami e melakukan gibah dan kami tidak bisa menghindar. Apa yang harus kami lakukan? Mau menegur pun tidak berani.<br \/>\n(1:04:38) Apa kami juga berdosa karena mendengar giipah tersebut dan hanya diam saja? Ustaz, mohon penjelasannya. Jazakullah khairan. Barakallahu fikum. Bismillahirrahmanirrahim. Majelis gibah, majelis kemungkaran. Ketika yaitu kita melihat, menyaksikan, mendengar, maka kita kalau punya kekuasaan kita pakai kekuasaan kita. Kalau kita enggak bisa, paling pakai lisan kita.<br \/>\n(1:05:03) Sebagaimana kita sampaikan hadisnya, manumar. Barang siapa di antara Anda yang melihat kemungkaran, melihat dengan mata kepalanya ituul mungkar kalau bisa dengan tangannya dengan tangannya. Kalau dia punya kekuasaan, kekuatan, maka dengan tangan Anda faamati.<br \/>\n(1:05:29) Kalau enggak pula dengan lisan Anda, yaitu menyampaikan jangan gibah ini haram dan ee bayar gibah sampaikan dan seterusnya. Intinya mengingkari faam yastati kalau enggak mampu pulang dengan dengan hati. dengan hati semuanya harus mampu. Artinya kalau iman itu kalau hati itu kalau hati itu beras dengan iman maka dia pasti akan mengingkari kemungkaran tersebut.<br \/>\n(1:06:04) Karena iman itu ketika telah menghiasi hati akan membuat dia cinta kepada keimanan, benci kepada kekafiran, kefasikan, kemaksiatan. Maka ketika Anda pula dengan lesan enggak bisa merasa enggak mampu, maka Anda dengan hati tinggalkan majelis tersebut. Tinggalkan majelis tersebut sehingga Anda tidak masuk orang yang dianggap menyetujui majelis itu.<br \/>\n(1:06:31) Walaupun Anda ee hatinya mengingkari tapi Anda di situ namanya basa-basi. Maka untuk mewujudkan pengaran Anda, Anda pergi dari majelis tersebut sehingga Anda menunjukkan sikap tidak senang. sikap yaitu mengingkari perbuatan tersebut. Dan kalau bisa Anda sampaikan dengan lisan, Anda ingkari dengan lisan.<br \/>\n(1:06:51) Dan kalau enggak bisa, ya sudah Anda dengan hatinya itu kalau enggak bisa dengan lisan dengan hatinya dengan pergi bukan tetap duduk di situ tapi dengan pergi meninggalkan majelis tersebut sampai mereka tidak melakukan itu gibah. Wallahu taala alam bisawab. Nam. Baik, terima kasih banyak ustaz. Syukran jazakir atas jawaban dan penjelasannya ya, Ustaz. Ada pertanyaan kembali di layanan pesan WhatsApp ya, Ustaz.<br \/>\n(1:07:26) Bagaimana ee cara kami memberitahunya tentang para tetangga sangat gemar sekali mendengarkan musik dan ee jika memberitahunya pun malah ana yang disalahkan, Ustaz. Apakah kita ee biarkan saja karena jika diteruskan sepertinya akan menjadikan permusuhan. Ustaz mohon penjelasannya. Ya. Bismillahirrahmanirrahim. Ee moknya tetangga yang gemar bermaksiat di antaranya kalau nyetel musik cross-keros gitu ya tentilah musibah.<br \/>\n(1:08:03) Tentu kita bayar bagaimana berusaha untuk menunaikan hak tetangga. dan sekaligus juga ee ya ituu bisa mengingkari kemungkaran tersebut. Satu di antara cara untuk meluluhkan yaitu meluluhkan hati orang di antaranya adalah ee memberikan keuntungan dunia, berbuat baik dengan dengan dunia. Entah kita dengan ngasih-ngasih, ngasih hadiah, memberikan sesuatu yang dengan itu kemudian Anda tunjukkan Anda orang betul-betul perhatian dengan tetangga, dengan baik dengan tetangga dan ee ingin ee mereka mendapatkan kebaikan pula. Baru dengan kebaikan-kebaikan itu mudah-mudahan<br \/>\n(1:08:45) mereka punya perataan dengan Anda dan Anda sampaikan dengan baik. ee ya ini minta maaf bagaimana caranya supaya dia melirihkan musiknya. Ya tentu kita enggak bisa mengkari dengan ee totalitas dengan langsung tapi punya tahapan-tahapan agar mereka melirikan musiknya agar tidak mengganggu kami ada ee kepentingan ini dan itu seterusnya.<br \/>\n(1:09:10) Dan kalau itu juga mereka tidak bisa menerima ya bersabar. Makanya di antaranya nauk itu membutuhkan kesabaran. Nanti diulangi lagi, Anda berbuat baik pada dia. Mudah-mudahan dengan begitu satu saat dia bisa meninggalkan kemungkarannya tersebut sehingga menggabungkan antara bersabar dan berbuat baik kepada tetangga tersebut dengan banyak-banyak doa kepada Allah agar juga tetangga Anda bisa ini hatinya luluh leleh dengan apa yang Anda sampaikan dan mendapatkan hidayah Allah Subhanahu wa taala. sehingga jadikan yang seperti ini lahan terbaik untuk bagaimana merubah dia sekaligus Anda<br \/>\n(1:09:51) mendakwahi mereka dengan cara yang terbaik. Dan biasanya orang Jawa juga kalau namanya di pangku itu mati. Orang Jawa itu punya watak intanya di pangku itu mati. Artinya kalau kita baikin dia mudah-mudahan dia kemudian bisa luluh dengan itu Anda. Wallahu taala alam bawab. Sampai sini para pemirsa yang dirahmati Allah Taala.<br \/>\n(1:10:17) Terima kasih banyak atas perhatiannya dan minta maaf atas segala kekurangannya. Jazakumullahiran matur nuwun wasallahu ala nabina Muhammadin wa ali wasallam. Subhanakallahumma wabihamdika asadu alla ilahailla anta astagfiruka wauub ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan ee jazakumullah khair kepada ustaz yang sudah meluangkan waktunya untuk kami semua di kesempatan siang hari ini dalam memberikan faedah-faedah dari pembahasan kitab alakidatu awalan lanu ya yalamun yaitu mengenai sifat ahlul jannah yang<br \/>\n(1:10:48) mereka gemar melakukan amar makruf nahi mungkar. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua dan semoga Allah menjaga alustab beserta keluarga, memberkahi ilmu yang telah disampaikan juga memberkahi pertemuan kita di kesempatan siang hari ini. Dan semoga Allah tetap berikan kesehatan kepada al ustaz untuk terus bisa memberikan faedah-faedah kepada kita semua.<br \/>\n(1:11:06) Demikian kami undur diri mohon maaf apabila ada kesalahan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Simak Radio Roj Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM, dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah. Yeah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(81) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah, dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3577","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#039;lamuun - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(81) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah, dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T15:04:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T15:04:56+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/\",\"name\":\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-24T15:04:55+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T15:04:56+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","og_description":"(81) [LIVE] Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Dan orang-orang yang mereka bersabar dalam mencari wajah Allah, dalam menginginkan wajah Rabb mereka. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Rojo Bogor 100.1 FM, Radio Roja Majalengka 93.1 1 FM, Radio [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-24T15:04:55+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T15:04:56+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/","name":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya'lamuun - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-24T15:04:55+00:00","dateModified":"2025-11-24T15:04:56+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/24\/ustadz-afifi-abdul-wadud-b-a-al-aqidatu-awwalan-lau-kaanuu-yalamuun\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A | Al- Aqidatu Awwalan Lau Kaanuu Ya&#8217;lamuun"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3577"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3577"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3577\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3578,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3577\/revisions\/3578"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}