{"id":3602,"date":"2025-11-27T20:23:19","date_gmt":"2025-11-27T13:23:19","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3602"},"modified":"2025-11-27T20:23:20","modified_gmt":"2025-11-27T13:23:20","slug":"ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/","title":{"rendered":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/rczw5AUauPs?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim.<br \/>\n(00:57) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi rabbil alamin wabihi nasta&#8217;inu ala umurid dunya waddin wasallallahu ala nabiyina wa sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba&#8217;d. Kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala. Pada kesempatan malam yang berbahagia kali ini, hari Rabu malam Kamis tanggal 15 Jumadal Ula 1447 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 5 November 2025.<br \/>\n(02:04) kita masih kembali diberi kekuatan, kesehatan, hidayah, serta taufik dari Allah jalla waala sehingga kita bisa kembali menghadiri pengajian rutin tafsir Al-Qur&#8217;an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Kita berharap semoga Allah Subhanahu wa taala melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah jalla waala.<br \/>\n(02:44) Allahum amin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad sallallahu alaihi wasallam kepada keluarganya, sahabatnya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti. Bapak, Ibu yang kami hormati, para hadirin, para hadirat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah azza waall.<br \/>\n(03:18) Seperti biasanya sebelum kita mengawali pengajian malam hari ini, kita akan membaca sebagian dari ayat-ayat yang termaktub di dalam surah yang mulia, surah A. Semoga Allah subhanahu wa taala memberkahi majelis kita. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Bismillahirrahmanirrahim.<br \/>\n(04:13) abasa wa tawalla a&#8217;ma [Musik] wama yudrika la&#8217;allahu yazakka wama yudri laallahum yazak au yadzakkaru fatanfaah Amma manistagna amma managna faanta lahu tasaddau [Musik] tasadda wama alaika akikazak wa amma man jaaka<br \/>\n(05:24) yas&#8217;a amma [Musik] yas&#8217;a wahua yakhya wahua yakhya Faantahu talahha faantahu [Musik] kalla innaha tazkirah kalla inna. Para hadirin dan hadirat sekalian juga para pendengar serta pemirsa rahimani warahimakumullah. Sebelum kita memasuki materi hari ini, mohon keikhlasannya untuk mendoakan salah satu di antara jemaah rutin pengajian kita, yaitu Bapak Moko yang sedang sakit dan insyaallah besok akan dilakukan operasi.<br \/>\n(06:26) Kita berdoa kepada Allah subhanahu wa taala semoga beliau dan seluruh kaum muslimin yang sedang sakit segera dikaruniai kesembuhan total oleh Allah subhanahu wa taala. Alhamdulillahi rabbil alamin arrahmanirrahim maiki yaumiddin. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama shita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim innaka hamidum majid.<br \/>\n(06:58) Allahumma rabbanas mudhibal bas isfi waardal muslimin antasyafi la sifaa illa syifauk syifaan la yhodiru saqama allahumma rabbanas mudhibal bas isfihim antasyafi la sifaa illa syifauk syifaan la yodiruqama allahum rabbanas Amdulillahbilamin. Alhamdulillah pada pertemuan yang lalu kita telah membahas ayat ke enam.<br \/>\n(07:50) Apa bunyinya? Fa anta lahu tasodda. Ya. Dan engkau wahai Muhammad memberikan perhatian yang besar kepadanya. Kepada sinten? Kepada pembesar Quraisy. Dan itu bagus atau tidak bagus? Bagus. Bagus. Bagus. Tapi kenapa kok Allah Subhanahu wa taala menegur Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam? Karena perhatian yang besar tersebut membuat beliau kurang memperhatikan seorang yang datang untuk belajar kepada beliau.<br \/>\n(08:54) Dan seorang yang datang itu punya kekurangan fisik. nopo buta buta. Jadi di dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Subhanahu wa taala menegur Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam karena beliau sangat fokus bila di dalam mendakwahi seseorang atau beberapa orang pembesar suku Quraisy yang sebenarnya mereka itu disebutkan di ayat sebelumnya nya istagna nopo istagna merasa tidak butuh dengan hidayah cu cuek cu cuek nah orang yang seperti ini oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sangat diperhatikan.<br \/>\n(09:55) Nanti kita akan jelaskan kenapa beliau duduk bersama mereka, beliau dakwahi mereka. ee beliau jelaskan Islam kepada mereka dengan penuh kesabaran, dengan penuh ketekunan. Karena beliau merasa bahwa orang-orang ini kalau sampai masuk Islam, maka efek dampak positif yang akan ditimbulkan itu sangat besar. Hanya saja Allah Subhanahu wa taala mengingatkan kepada beliau mana yang menjadi tugas beliau dan mana yang merupakan wewenang Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(10:45) Di dalam ayat yang akan kita pelajari malam hari ini, yaitu ayat yang ketujuh dari surah Abasa. Allah Subhanahu wa taala menerangkan apa yang menjadi wewenang Allah Subhanahu wa taala. Di mana Allah azza wa jalla berfirman, wama alaika alla yazakka. Seandainya orang itu tidak mau beriman, sinten? Quraisy para pembesar Quraisy.<br \/>\n(11:25) Seandainya dia tidak mau beriman, tidak mau mensucikan dirinya, tidak menerima ajakanmu, maka engkau tidak berdosa wahai Muhammad. Engkau tidak akan disalahkan. Kenapa? Karena urusan seseorang menerima hidayah, hatinya dibuka, mau menerima ajakan beriman, itu adalah wewenang [Musik] Allah subhanahu wa taala. Itu korelasi antara ayat yang ketujuh dengan ayat yang ke-enam.<br \/>\n(12:08) Jadi di dalam ayat-ayat ini Allah Subhanahu wa taala menjelaskan kepada kita apa tugas kita sebenarnya. Tugas seorang dai itu apa? Tugas seorang dai adalah me menyampaikan menyampaikan kebenaran, menyampaikan ilmu, menyampaikan nasihat. menyampaikan wejangan dengan cara yang baik. Apa cara-cara yang baik tersebut? Salah satu yang dijelaskan di dalam ayat-ayat yang sudah kita pelajari kemarin adalah menerapkan prinsip kesetaraan.<br \/>\n(12:58) Nopo kesetaraan? bahwa semua orang berhak untuk ngaji, bahwa semua orang itu berhak untuk mendapatkan ilmu. Bahwa semua orang itu berhak untuk mendengarkan nasihat. Bahwa semua orang itu berhak untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, hadis-hadis Rasul sallallahu alaihi wasallam. Enggak peduli apakah dia kaya atau miskin.<br \/>\n(13:35) Enggak peduli apakah dia anak pejabat atau anak tukang becak. Enggak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia seorang bos atau sekedar karyawan. semuanya berhak untuk mendapatkan penjelasan tentang Islam. Sehingga kalau kita perhatikan majelis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah majelis yang terbuka, tidak ada diskriminasi antara yang kulitnya hitam dengan yang kulitnya putih yang rambutnya nya keriting dengan yang rambutnya lurus, yang hidungnya mancung dengan yang hidungnya kurang mancung.<br \/>\n(14:45) Sama aja ya antara orang yang normal dengan orang yang tidak normal fisiknya. Subhanallah. Kemarin hari Ahad, hari Ahad kami ngisi pengajian di salah satu kota di Jawa Timur. Selesai ngisi pengajian ada surat, ada tulisan yang masuk. Biasanya kan ada pertanyaan di dalam kertas itu tidak ada pertanyaan.<br \/>\n(15:28) Beliau hanya ingin mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah karena anaknya mau hadir pengajian. Karena anaknya mau hadir pengajian selama ini diajak enggak mau. Diajak enggak mau. Diajak enggak mau. Kenapa? Karena anak ini merasa tertekan dengan pandangan orang. Sebab beliau penderita sipi, selebral palsi yang tidak bisa mengontrol gerakan sendiri sehingga bergerak terus tanpa bisa mengontrol dan jalannya hanya bisa nuwun sewu ngesot cuma gerak-gerak terus gitu dan usia usianya sudah 32 tahun.<br \/>\n(16:32) Jadi orang yang seperti itu biasanya sangat perasa. Jadi bisa membedakan orang melihat dia karena kasihan atau orang melihat dia karena meremehkan dan merendahkan. Biasanya orang kayak gitu tuh sangat apao? Peka dan perasa. Jadi selama ini dia itu tertekan karena ada orang-orang yang melihatnya dengan pandangan ih gitu loh. Kok ada orang kayak gini gitu ya.<br \/>\n(17:11) Alhamdulillah di hari itu itu pertama kalinya dia mau hadir pengajian sehingga si ibu itu menulis di dalam surat tadi, &#8220;Tolong Ustaz datangi anak itu, peluk dia, Ustaz dan beri motivasi.&#8221; Siap. Setelah pengajian saya peluk kelihatan senang banget ya. Jadi majelis kita itu harus terbuka. siapapun boleh ada orang yang punya keterbelakangan mental, orang yang punya cacat fisik, orang yang punya kekurangan, orang yang masa lalunya nopo kelam.<br \/>\n(18:02) Kemudian ingin memperbaiki diri. Sehingga ketika jenengan ujuk-ujuk di samping jenengan ada orang yang full nopo tato aja didelengi terus mbok jadiok minder ya walaupun itu mungkin aneh buat jenengan tapi jangan digitu pandangan yang nopo enggak enggak mengenakkan. Atau misalnya ujuk-ujuk ada orang hadir rambute nopo pirang ya. Rambutnya dicat warna-warni. Jangan dilihatin terus. Udah biarin dia.<br \/>\n(18:49) Yang penting mau hadir dulu gitu loh. Majelisnya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu terbuka. Bahkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pun memberi kesempatan kepada orang kafir, orang musyrik untuk hadir di majelis beliau, untuk mendengarkan nasihat beliau ya sebagaimana yang beliau lakukan pada kisah yang menjadi sebab turunnya surah nopo Abasa.<br \/>\n(19:24) Jadi prinsip kesetaraan, prinsip keterbukaan itu diajarkan di dalam ayat-ayat ini. Dan prinsip yang lain yang diajarkan di dalam ayat ini adalah prinsip kasih sayang. Prinsip noo kasih sayang. Jadi walaupun Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam ditegur oleh Allah subhanahu wa taala karena sikap beliau yang kurang simpatik kepada Abdullah Ibnu Ummi Maktum radhiallahu anhu.<br \/>\n(20:02) Tapi kejadian ini justru menunjukkan satu sisi yang sangat penting. Apa sisi tersebut? kasih sayang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada umatnya. Walaupun umat yang lagi didakwahi tersebut tidak ber iman atau belum beriman. Bahkan walaupun orang itu sebenarnya merasa enggak butuh dengan ajakan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Angkuh, sombong, cuek, enggak peduli.<br \/>\n(20:43) Tapi Nabi kita sallallahu alaihi wasallam tetap mengerahkan usahanya. Berusaha untuk mendakwahinya dengan segala cara yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Sampai ada satu ayat di dalam Al-Qur&#8217;an menggambarkan kepada kita bagaimana besarnya kasih sayang Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.<br \/>\n(21:09) Yaitu firman Allah Subhanahu wa taala dalam surah As-Syuara ayat 3. Surat apao? Asyuara ayat 3. Apa kata Allah Subhanahu wa taala? Laallakaun nafsaka alla yakunu mukminin. Wahai Muhammad, bisa jadi engkau itu menyiksa dirimu karena sangat sedih gara-gara mereka tidak mau beriman. Jadi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu saking sayangnya kepada umat beliau.<br \/>\n(21:50) Kalau ada yang diajak kok enggak beriman, beliau itu sedih banget. Saking sedihnya beliau sampai beliau itu disebut oleh Allah, bakiun nafsaka. Jangan sampai engkau menghancurkan dirimu. Jangan sampai engkau menyiksa dirimu. Saking sedihnya engkau ketika engkau melihat ada orang yang sudah engkau ajak dan dia tidak mau beriman.<br \/>\n(22:19) Ya. Jadi ayat ini walaupun sekilas di dalamnya ada teguran dari Allah Subhanahu wa taala kepada siapa? Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tapi sebenarnya di situ kita bisa menangkap betapa besar kasih sayang Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada umatnya.<br \/>\n(22:54) Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika abasa wat tawalla nopo abasa bermuka masam watawalla memalingkan mukanya itu bukan karena Nabi sallallahu alaihi wasallam cuek kepada siapa kepada Ibnu Ummi Maktum bukan bukan karena Nabi sallallahu alaihi wasallam bersikap diskriminatif kepada seorang yang miskin, kepada seorang yang maaf punya kekurangan fisik yang buta. Bukan. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam memberikan respon yang sifatnya sesaat, respon apa jenengannya? Spontan ya. Memberikan respon spontan karena Nabi sallallahu alaihi wasallam itu lagi sibuk.<br \/>\n(23:46) Dan sibuknya itu dalam hal yang positif. Nopo ngajak ya ngajak orang kepada kebaikan. Jadi bukan karena sibuk dolanan HP HP ya kayak siapa? Diceluk-celuk ora nyelinga. Apa sih? ganggu bae lagi sibuk ngerti sibuk ngapo nonton ya baca status orang lihat promo ya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam justru beliau saking fokusnya ya di dalam mendakwahi orang-orang tersebut itu menunjukkan bahwa beliau itu sayang banget gitu loh.<br \/>\n(24:47) Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam itu sungguh-sungguh banget ya untuk mendakwahi orang-orang tadi. Beliau khawatir kalau disalahkan gara-gara tidak maksimal di dalam mendakwahi orang-orang tersebut. Oke, itu adalah tugas kita. Tugas kita adalah nopo wau menyampaikan. Adapun wewenang Allah, wewenang Allah itu adalah memberikan hidayah.<br \/>\n(25:32) Jadi tugas dai itu apa tadi? Menyampaikan, menasihati, mengingatkan. [Musik] menyampaikan wejangan ngisi ngisi pengajian masalah kemudian setelah pengajian ada orang yang menerima, ada orang yang tidak menerima, ada orang yang mengamalkan ilmu, ada orang yang tidak mengamalkan ilmu yang barusan didengarkan di pengajian itu adalah wewe [Musik] Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(26:13) Jadi ada perbedaan jelas antara tugas manusia dengan wewenang sinten? Allah. Tugas manusia dijelaskan oleh Allah azza waalla, wama alaina illal balaghul mubin. Allah sampaikan itu dalam surat Yasin. Masa wis kelalen iat berapa? Ayat 17. Surah apa? Yasin ayat 17. Wama alaina tugas kita illal balaghul mubin hanyalah menyampaikan dengan cara yang jelas.<br \/>\n(27:03) Jadi tugas kita hanya menyampaikan menasihati anak kita, menasihati istri kita, menasihati suami kita, menasihati orang tua kita, menasihati tetangga kita, menasihati karyawan kita, menasihati bos kita. Tugas kita cuma menasihati, tapi nasihatnya harus baik ya. Nasihatnya harus baik. Dengan penuh kesabaran, dengan penuh kasih sayang dijelaskan dalilnya.<br \/>\n(27:36) Kalau ditanya ii dalilnya apa? Pokoke ya ora kayak gua. Bukan kayak gitu ya. Kalau ada orang kritis, &#8220;Kamu nyuruh saya kayak gini landasannya apa? Wislah aja kakak takon. itu berarti bukan albalaghul mubin. Albalaghu almubin. Jadi kewajiban kita itu bukan sekedar menyampaikan, tapi menyampaikan dengan cara yang jelas, dengan cara yang baik yang membikin orang itu jadinya yakin nek pokoke to ora ya.<br \/>\n(28:24) Nek kita sampaikan kemudian ada orang nanya kemudian kita balas pokoke itu berarti enggak jelas ya. Orang juga mau meninggalkan sesuatu yang pernah dia lakukan, pernah dia yakini sekian tahun kan enggak mudah. Dia harus mendapatkan penjelasan yang terang ya. Dia harus mendapatkan keterangan yang meyakinkan. Landasannya di mana kalau itu Al-Qur&#8217;an surah apa, ayat berapa.<br \/>\n(28:53) Kalau itu hadis, hadisnya riwayat siapa? Sahih atau tidak? Loh, wah kita kudu ustaz mulani mau. Makanya belajar ya. Sehingga kita saat menyampaikan sesuatu kita punya landasan yang kuat. Setelah semua ikhtiar ini kita lakukan, urusan dia menerima atau tidak menerima, urusan dia mendapatkan hidayah atau dia tidak mendapatkan hidayah, itu wewenang sinten? Allah.<br \/>\n(29:20) Bahkan Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam, manusia yang paling istimewa, manusia yang paling mulia, manusia yang paling dekat sama Allah Subhanahu wa taala pun tidak punya wewenang untuk memberikan hidayah. Sebagaimana yang Allah sampaikan di dalam surah Al-Qasas ayat 56. Surah apao? Al-Qasas ayat 56.<br \/>\n(29:52) Apa kata Allah Subhanahu wa taala? Innaka tahdi man ahbabta. Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Dalam kasus ini yang dimaksud adalah sinten? Paman yang sangat beliau sayangi. Sinten? Abu Thalib yang jasanya sangat besar sekali. di dalam membela Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(30:38) Namun Allah menghendaki wafatnya dalam keadaan tidak beriman. Nabi sallallahu alaihi wasallam sedih banget. Beliau berkata, &#8220;La astaghfironna lak unha an.&#8221; Begitu pamannya meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman, maka beliau pun bersabda, &#8220;Sungguh aku akan mendoakanmu wahai pamanku.<br \/>\n(31:09) Aku akan mohonkan kepada Allah ampunan untukmu selama aku tidak dilarang sama Allah.&#8221; Ternyata dilarang sama Allah. Kenapa? Karena meninggalnya tidak beriman, meninggal dalam keadaan kafir. Maka mumpung orang-orang yang kita cintai masih hidup, ajak bapak kita, ibu kita, suami kita, istri kita, anak kita. Mumpung masih hidup, masih ada kesempatan untuk mau salat, untuk mau ngaji.<br \/>\n(31:48) Yang belum masuk Islam untuk masuk Islam. Ya, apa kata Allah? Innaka la tahdi man ahbabta. Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Wakinnallaha yahdi may yasya. Adapun Allah Subhanahu wa taala, dialah yang bisa memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendakinya. Siapa yang dikehendaki mendapatkan hidayah? Di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Abu Bakar. Sinten? Umar.<br \/>\n(32:30) Sinten? Utsman. Sinten? Ali. Sinten. Abdurrahman bin Auf. Yang enggak dapat hidayah Abu Jahal, Abu Lahab dan csannya. Ya. Terus Allah Subhanahu wa taala tutup firmannya, wahua a&#8217;lamu bil muhtadin. Dan Allah itulah yang maha mengetahui siapa di antara manusia yang pantas mendapatkan hidayah. Jadi kita enggak boleh protes.<br \/>\n(33:15) Protes kepada siapa? Allahu Akbar. Kenapa yang dapat hidayah Abu Bakar bukan Abu Lahab? Enggak boleh kita protes. Ya. Kenapa? Yang dapat hidayah Abu ee maaf ee Al-Abbas paman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Hamzah paman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kenapa paman Nabi yang lain? yaitu sinten? Wau, Abu Thalib, Abu Lahab itu paman Nabi sallallahu alaihi wasallam kok enggak mau beriman. Itu kita enggak boleh protes.<br \/>\n(33:51) Kenapa? Karena Allah itu yang mengetahui isi hati mereka. Dari manusia-manusia ini yang layak, yang pantas untuk mendapatkan hidayah yang sangat mahal ini siapa? Allah yang tahu. Maka kalau jenengan hari ini di sini, hari ini di sini, bersyukurlah kepada Allah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang pantas dapat hidayah. Kalau sudah di sini jangan pergi.<br \/>\n(34:26) Maksudde yo oli engko waktune bali boleh tapi aja kapok gitu loh. Wong ngaji kok kapok sih kepriwe kita ini sudah di jalan yang benar gitu loh. Kecuali orang di luar jalan yang benar kembali ke jalan yang benar. Itu itu bagus. Ini orang sudah di jalan yang benar kok malah keluar. Itu gimana? gitu loh ya.<br \/>\n(34:54) Ya, tapi kan aku ora sengaja, aku kesasar. Kowe kesasar sing apik k aku ora niat ngaji jane ustaz. Itu berarti Allah sedang me menuntun jenengan untuk hadir menjemput hidayah dari Allah Subhanahu wa taala. Oke. Jadi ayat ini itu menjelaskan kepada kita batasan yang jelas. Mana tugas manusia dan mana wewenang Allah? Memahami ini, memahami ini akan membuat hidup kita bahagia, akan membuat kita tidak tertekan ketika kita tahu mana tugas kita, mana wewenang Allah.<br \/>\n(35:45) Fokuslah untuk menjalan menjalankan mana yang jadi tugas kita. Fokuslah untuk menjalankan mana yang jadi tugas kita. Yang bukan tugas kita dan itu memenang Allah serahkan sama Allah. Hidup kita akan bahagia. Saya kasih contoh. Ngaji nopo ngaji? Tugas kita apa? hadir menyimak terus apaagi menulis mengingat berusaha paham kok kemudian hasilnya bagaimana hasilnya itu maksudde nyantoli pirang persen iku maksudde hasile itu urusan sinten Allah jadi jangan kemudian lah Ah, ngaji ora nyantol-nyantol ya wis orang ngaji. Itu namanya kita enggak<br \/>\n(36:54) tahu mana wewenang Allah, mana tugas kita. Sudah tugas kita itu ngaji. Ngaji sing bener maksudde ada ngaji karo dolanan HP. Ngaji ora benar. Jeneng ngaji yang rutin itu tugas kita. Adapun berapa yang melekat di kepala kita udah itu menenang siden Allah. Contoh yang lain kerja nyari noi.<br \/>\n(37:24) Rezeki tugas kita nopo? Mangkat gasik ya dengan penuh dedikasi jujur ya profesionalisme ya menjalankan tugas sebaik mungkin. Adapun hasil hasil nopo oli pira itu hasil. Maka kita serahkan kepada sinten? Allah hati akan tenang. Sudah kerja keras hasilnya dapat sekian. Ya memang ini sudah nopo takdirnya Allah. Tapi harus ikhtiar beneran loh ya. Jadi jangan lah turu bae hasilnya terserah Allah ya.<br \/>\n(38:04) Ora kaya ku ya. ada tugas gitu. Contoh yang lain di dalam menjaga kesehatan. Di dalam apao menjaga kesehatan apa tugas kita? Menjaga pola makan, menjaga pola hidup, olahraga, makanan yang bergizi. Terus apa lagi? Istirahat. Waktunya istirahat. Istirahat. Kalau sakit. Berobat. Ya, itu tugas kita.<br \/>\n(38:42) Adapun kemudian hasilnya sembuh atau tidak sembuh itu adalah wewenang Allah Subhanahu wa taala. Sehingga jangan menyesal. Wah, saya sudah olahraga, saya sudah menjaga makanan, saya sudah menjaga kebersihan, saya sudah disiplin minum obat kok ternyata enggak sembuh-sembuh. Itu wewenang sinten? Allah. Menghadapi anak sing nakale pol. Tugas kita nopo? Cari akar masalah, komunikasi yang baik, berikan nasihat, doakan kebaikan. Itu tugas sinten? Manusia.<br \/>\n(39:21) Adapun anak ini dapat hidayah, menerima nasihat kita, hatinya terbuka, itu wewenang sinten? Allah. Jalankan apa yang menjadi tugas kita sebaik mungkin. Hasilnya serahkan kepada Allah, niscaya hidup kita akan bahagia. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon atas segala kekurangannya. Kita akhiri.<br \/>\n(39:50) Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3602","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:23:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:23:20+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/\",\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:23:19+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:23:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma &#8211; YouTube Transcript: (00:09) Kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan. Jadi bukan hanya manusia ada laki-laki, bukan hanya binatang ada, termasuk juga alam semesta ini. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Bismillahirrahmanirrahim. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:23:19+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:23:20+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/","name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:23:19+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:23:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abdullah-zaen-m-a-tafsir-juz-amma-14\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abdullah Zaen, M.A. | Tafsir Juz Amma"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3602"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3602"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3602\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3603,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3602\/revisions\/3603"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}