{"id":3611,"date":"2025-11-27T20:24:29","date_gmt":"2025-11-27T13:24:29","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3611"},"modified":"2025-11-27T20:24:30","modified_gmt":"2025-11-27T13:24:30","slug":"ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/","title":{"rendered":"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/0U0WB2Wp7Ds?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. J kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor 10<br \/>\n(00:32) 0.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1. 1 FM, Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. [Musik] Menyebar cahaya sunah. Inalhamdulillah nahmaduf RJ TV, saluran tilawah Alquran dan kajian Islam. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. wasamulillah waa alihibihi. Saudaraku seiman dan seakidah sahabat Raja di mana pun Anda berada.<br \/>\n(01:28) Masih bersama dengan kami di saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Dan di kesempatan pagi hari ini kembali kami hadirkan kajian ilmiah yang kami pancarluaskan dari studio di STBI Imam Assyafi&#8217;i di Jember Jawa Timur bersama Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala. Dan seperti biasa di kesempatan Jumat pagi ini kita kembali akan membahas amalan-amalan hati.<br \/>\n(01:51) Dan khusus untuk hari ini kita akan membahas pembahasan terkait dengan muruah. Saudaraku seiman dan seakidah, kami ajak Anda untuk menyimak kajian ini dan juga berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Anda dapat mengirimkan pertanyaan melalui pesan WhatsApp dan line telepon di nomor 0218236543. Dan insyaallah setelah nasihat dari Al Ustaz kita akan coba angkat pertanyaan-pertanyaan Anda.<br \/>\n(02:19) Baiklah saudaraku seiman dan seakidah untuk selanjutnya kita akan simak nasihat dari Al Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala kepada al Ustaz Falyatafadol masykur. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu wassalamu ala asrofil iyaai wal mursalin nabiyina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain.<br \/>\n(02:57) Waman tabiahum bisihsanin yaumiddin. Amma ba. Allahumma alimna ma yanfauna wfna bima alamtana wazna ilma allahumma ati nufusana taqwa wakkiha antairu man zakaha anta waliyuha wa maulaha ikhwatul iman ka muslimin dan muslimat para pemirsa dan juga para pendengar di mana saja antum berada semoga senantiasa dalam keadaan sehat walafiat senantiasa mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup ini, mendapatkan pertolongan dalam melaksanakan ubudiah kepada Allah Subhanahu wa taala. Allahumma amin. Alhamdulillah kita bersyukur kepada<br \/>\n(03:44) Allah azza waalla. Lisan kita senantiasa memuji Allah dan hati kita mengakui meyakini bahwa nikmat hanyalah datang dari Allah azza waalla. Kemudian kita berubiyah kepada Allah yang merupakan bukti kesyukuran yang sesungguhnya kepada Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(04:11) Selawat dan salam mari kita perbanyak ucapkan untuk Nabi yang mulia, terutama di hari yang mulia ini, sayyidul ayyam yaumul jumuah. Mudah-mudahan kita semua menjadi umat yang setia dalam mengikuti jalan hidup beliau. berpegang teguh kepada sunahnya sehingga kita menjadi orang-orang yang mulia dan bahagia dengan izin Allah dunia dan akhirat. Ikhwatul iman, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa rahimakumullah.<br \/>\n(04:42) Masih bersama Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam pembahasan tentang A&#8217;malul qulub. Berbagai hal yang telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang semua hal itu akan mempengaruhi hati seseorang, akan menjadikan hati seorang hamba biidnillah hati yang bersih, hati yang mulia, hati yang lembut, yang mudah tersentuh.<br \/>\n(05:23) dengan nasihat mauah hati yang dengan mudah menangis tatkala mendengarkan seruan Allah mengajak kepada kebaikan tatkala membaca tentang surga dan di waktu yang sama tatkala membaca tentang ancaman neraka hati yang bisa menangis sebelum mata kita meneteskan air mata. Ikhwatul iman, para pemirsa rahimakumullah dan juga para pendengar yang dirahmati Allah subhanahu wa taala.<br \/>\n(05:57) Pada kesempatan yang mulia ini kita akan menjelaskan apa yang di sebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Di antara tingkatan-tingkatan ubudiyah yang semua hal itu akan mempengaruhi hati dan jiwa seorang hamba. Beliau menulis dengan istilah al-muruah, manzilah al-muruah, kedudukan muruah.<br \/>\n(06:38) Kalau kita kembali ke dalam atau kepada bahasa Indonesia di kamus ya di KBBI kita akan mendapatkan muroa itu terjemahannya ya kehormatan diri, harga diri kemudian yang ketiga nama baik. Ya, ini terjemahan muruah di dalam KBBI. ya, kehormatan diri, harga diri, dan nama baik. Dan sesungguhnya muruah ya lebih mencakup atau lebih luas dari terjemahan tersebut.<br \/>\n(07:21) Di terjemahan dalam kababii tersebut ya tidak bisa mewakili semua makna muruah ya. Akan tetapi ya memberikan kepada kita sebuah pemahaman bahwa muruat tersebut ya berkaitan dengan diri dan jiwa. Bagaimana kita menjaga ya harga diri. Bagaimana kita menjadi atau menjadi orang yang memiliki kehormatan diri dan juga menjaga nama baik.<br \/>\n(08:01) Ya, al Imam Ibnu Qayyim rahimahullah azza waalla menjelaskan hakikat muruah ya yang biillah dengan memiliki sifat tersebut seorang akan terus menjaga nama baiknya, akan selalu menjaga kehormatan dirinya. Bukan semata-mata di pandangan manusia, tapi terlebih terlebih utama adalah dalam pandangan Allah azza waalla.<br \/>\n(08:34) Kata Imam Ibnu Qayyim, hakikatuha hakikat dari muruaah itu ittisfun nafsi bisifatil insan allati farq bihal hayawanal ba wasyaitanarjim. Jadi jiwa yang memiliki sifat kemanusiaan, sifat yang dimiliki oleh manusia yang berbeda dengan sifat binatang ya dan setan. Namam. Jadi apabila seorang memiliki sifat yang itu yang pantas bagi manusia ya, yang membedakan dia dari binatang, dari hewan, ternak atau setan yang terkutuk. Kata beliau, itulah hakikat muruah.<br \/>\n(09:28) Iya. Kemudian beliau menyebutkan di dalam jiwa ini ada tiga tiga dawain, yaitu tiga yang selalu mendorong atau memotivasi atau mungkin mendorong ya untuk melakukan sesuatu dan ketiga ya dorongan tersebut atau ketiga sifat tersebut itu selalu ya saling ya tarik-menarik. Yang pertama dain yad&#8217;uha ilattisabi akhlaq sitan.<br \/>\n(10:15) Di dalam diri ada sifat atau pendorong yang mengajaknya untuk ya mengikuti sifat setan. Ada di dalam diri manusia ya. hal yang mendorong untuk ya memiliki sifat tersebut atau melakukan ya perbuatan atau sikap atau sifat memiliki sifat yang dimiliki oleh setan. Akhlak setan. Nah, minal kibir wal hasad. Sombong, hasad, ya. U membanggakan diri ya.<br \/>\n(11:05) menzalimi wasyar, kejahatan walab, mengganggu wal fasad, kerusakan wal ghis, menipu. Ini semua adalah akhlak dan perilaku setan. Nah, di dalam diri manusia ada ya sifat dan perilaku yang mendorong untuk ya melakukan akhlak-akhlaknya setan. Kemudian kata beliau wadain yad&#8217;uha ila akhlakil hayawan. dalam diri juga ada ya keinginan hasrat yang mendorong untuk ya melakukan perbuatan atau memiliki sifat atau akhlaknya hewan yaitu dai syahwah syahwat syahwat hawa nafsu itu mendorong seorang melakukan hal-hal yang memiliki akhlak kebinatangan ya,<br \/>\n(12:02) perilaku hewan, ternak, binatang yang hanya memikirkan perut dan ya kemaluan tayib. Yang ketiga ada dalam diri manusia dain yad&#8217;uha ila akhlaqil malak. sifat yang mendorongnya untuk memiliki akhlak para malaikat seperti berbuat kebaikan ihsan wus memberikan nasihat wal bir buat kebajikan alilmu, keilmuan atau ilmu watah dan ketaatan serta semua hal-hal yang baik.<br \/>\n(12:53) ketiga ya hal ini yaitu dorongan yang ada dalam diri untuk melakukan kesombongan, hasad, ya bangga, berbuat kejahatan, buat kerusakan, suka mengganggu. Ini akhlak-akhlaknya setan. Nah, di dalam diri manusia ada dorongan untuk ya mengikuti akhlak-akhlak yang demikian.<br \/>\n(13:26) Maka muncul ya berbagai kerusakan, kesombongan, keangkuhan ya mengganggu, menzalimi, kerusakan, membuat kerusakan. Ini semua adalah perilaku dan akhlak setan. Ada juga ya di dalam diri dorongan untuk ya menyerupai perilaku hewan. Hewan itu ya makan, minum, makan minum gitu ya. dan hanya untuk memuaskan nafsu. J kalau orang dalam hidup ini tujuannya hanya bagaimana makan, minum dan melampiaskan ya syahwat nafsunya ya.<br \/>\n(14:08) Ya, inilah perilaku hewan enggak ada bedanya. Nah, kemudian yang ketiga, dorongan yang ada dalam diri manusia untuk memiliki akhlak para malaikat. maka dia termotivasi untuk berbuat kebaikan, memberikan nasihat, kemudian membuat kebajikan, melakukan atau memberikan atau berilmu, ya belajar mengetahui yang baik, mana yang jelek ditinggalkan, mana yang baik dilakukan. wat taah, ketaatan dan semua kebaikan.<br \/>\n(14:49) Karena di dalam diri ada dorongan untuk ya memiliki akhlak para malaikat tadi. Nah, kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, hakikat muruah itu fqiqatul muruah. Hakikat dari muruah yang tadi kalau terjemahan KBBI adalah nama baik menjaga kehormatan diri dan harga diri. Namam kata beliau bugduinya waabatu daialit.<br \/>\n(15:25) Hakikat muru itu membenci ya dua dua perilaku atau dorongan yang ada di dalam hati untuk mengikuti dua akhlak yang tercela tadi. Akhlak setan, perilaku setan atau akhlak hewan, ya. Perilaku hewan. Dan mengikuti dorongan yang ketiga, yaitu mengikuti dorongan untuk mengikuti akhlak para malaikat.<br \/>\n(15:58) Maka dengan demikian seorang akan menjaga kehormatan dirinya, seorang akan menjaga nama baiknya. Seorang akan menjaga harga dirinya. Ya, tapi seorang yang sombong, angkuh, hasad, dengki, menzalimi, ya buat kekejian, merusak, orang yang tidak punya harga diri ya yang tidak ada nama baiknya. Setiap disebut hanya dalam kejahatan ya.<br \/>\n(16:36) Orang murka, orang mencaci, orang dan ya menghina atau orang ya mencela dia karena perbuatannya jelek, perilakunya jelek, sikapnya jelek, tutur katanya jelek, ya semua kejelekan. Nah, yang kedua meninggalkan ya perilaku hewan yang hanya memikirkan ya syahwat dan nafsunya.<br \/>\n(17:11) Makan minum syahwat ya itu aja hubungan ee yang memuaskan kebutuhan biologisnya, nafsu syahwatnya. Dan kalau kita perhatikan orang-orang yang Allah sebutkan mereka orang-orang kafirin, ternyata mereka itu yaakuluna watatamattauna kama takamar. Mereka makan minum bersenang seperti hewan. Benar kata Imam Ibnu Qayyim, orang tidak memiliki iman, orang yang tidak memiliki orientasi akhirat, ya orang yang tidak ya mengikuti din yang benar, agama yang benar, yaitu Islam, maka perilakunya, sikapnya ya seperti yang Allah sebutkan yaakulun watatamattaun, makan dan bersenang-senang. Kama takulul an&#8217;amaram.<br \/>\n(18:01) Sebagaimana hewan ternak, makan dan minum bersenang-senang. Kemudian di akhirat tempatnya adalah neraka. Walyazubillah. Nah, bagaimana kita menjaga kehormatan diri? Bagaimana kita menjadi menjaga harga diri? Ya, bagaimana kita menjaga nama baik? Yaitu dengan memiliki akhlaknya para malaikat. Ya, dengan demikian kita akan selalu memiliki muruah.<br \/>\n(18:32) Karena akhlak malaikat semua baik ya. Memberikan kebaikan, memberikan nasihat, kebajikan. Mereka semua diciptakan untuk melakukan ketaatan. Ya, mereka juga mendoakan orang-orang yang beriman. Naam. Fagfir lilladinau watilakaal jahim. Ya Allah ampuni mereka orang-orang yang mengikuti jalanmu ya dan selamatkan mereka dari azab api neraka. Neraka jahim. Itulah akhlak para malaikat. Berilmu.<br \/>\n(19:11) Makanya majelis ilmu dihadiri para malaikat. Karena malaikat cinta kepada ilmu. Ketaatan. Ya. Jadi kesimpulannya jika kita ingin menjaga atau mendapatkan sifat muruah, menjaga kehormatan diri, menjaga nama baik, ya menjaga harga diri, maka hendaklah kita semua berusaha untuk mencontoh para malaikat dalam sikap perilaku akhlaknya.<br \/>\n(19:49) Tinggalkan akhlak setan, perilaku setan dan perilaku binatang dan hewan. Ya. Namam. Maka kita akan memiliki muruah. Seorang akan memiliki ya kehormatan diri. Seorang memiliki ya nama baik. Nah, memiliki harga diri. Harga diri seseorang, nama baik seorang ada dalam kebaikan dan sifat mulianya. Namam. Kemudian beliau melanjutkan waqillatul muruah wa adamuha dan ya krisis dalam muruah atau muruah yang sama sekali tidak ya ada pada diri hilangnya lenyapnya ya terkikisnya muruah tersebut adalah istirsal maini terusmenerahnya mengikuti akhlak setan dan binatang Perilaku setan dan binatang<br \/>\n(20:47) itu orang yang tidak memiliki muruah ya watwajuhwatihima aaka dan hanya mengikuti ya mengarah ke mana ya seruan setan dan perilaku kebinatangan itu yang ya yang mengajak dia. itu yang dia ikuti dengan ungkapan lain tidak lagi menggunakan akal yang sehat ya tidak menggunakan akal yang sehat namam maka dia hanya mengikuti perilaku setan dan juga ya perilaku hewan maka apa yang muncul dirinya kejahatan, kesombongan, kerusakan, kezaliman, ya enggak punya sifat malu, ya.<br \/>\n(21:51) Hanya memuaskan nafsu, perut, ya, syahwatnya, kemaksiatan. Nah, gak lagi menyelikiti sifat madu itu orang yang sampai tidak ada muruah, enggak ada jati dirinya, enggak ada nama baiknya, enggak ada kehormatan dirinya. Namam. Kemudian kata Imam Ibnu Qayyim, ba&#8217;dusala qala ba&#8217;dus salab.<br \/>\n(22:24) Sebagian ulama salaf mengatakan, &#8220;Khalaqallahul malaikah uklan bila syahwah. Jadi Allah menciptakan malaikat memiliki akal tanpa syahwat. Ya walaqal bahaim syahwatan bila uqul. Allah ciptakan hewan, ternak binatang syahwatan. Memiliki syahwat bila ukul tidak memiliki akal. Walaqa Adam dan Allah menciptakan Adam nenek moyang kita Adam alaihissalam.<br \/>\n(22:58) Warakaba fihil aqlah wasyahwah. Allah ciptakan pada dirinya ada dua hal, akal dan syahwat. Nah, ada akal, ada syahwatan. Famanaba aqluhu syahwatahu iltahaq bil malaik. Barang siapa yang akalnya ya yang mendominasi syahwatnya tib maka dia diikut sertakan kepada malaikat ya kelompok malaikat karena akalnya berfungsi.<br \/>\n(23:40) Waman galabat syahwatuhu aqlahu iltahaqa bil bahaim. Barang siapa yang syahwat nafsunya, yang mendominasi akalnya, mengalahkan akalnya, ya, maka dia diikut sertakan dengan binatang ternak, hewan. Karena enggak berfungsi lagi akalnya. Padahal yang membedakan dia dari hewan adalah akalnya. Dia punya nafsu. Hewan punya nafsu ya, tapi hewan tidak punya akal. Nah, kalau akal tidak berfungsi berarti ya sama-sama keduanya menggunakan nafsu.<br \/>\n(24:14) Artinya sama dong, enggak ada bedanya. Nah, wq jahanam minumunqah wahumun yubsun wahumun la yasmaha kalamum. Ya, jadi Allah akan penuhi neraka jahanam itu dari jin dan manusia. Punya hati tidak digunakan untuk memahami. Punya pendengaran tidak diguna untuk mendengar yang baik. Punya punya mata tidak diguna untuk melihat yang baik.<br \/>\n(24:58) Enggak ada fungsinya akal dan hati gak berfungsi. Ya. Maka kata Allah mereka itu seperti anam binatang ternak. Bal adal lebih hina dari itu. Nauzubillah minzalik. J ikhwatal iman para rahimakumullah. Jadi kemuliaan seorang hamba ya terletak dalam ya memfungsikan akalnya. Makanya Allah ciptakan akal dan akal diciptakan adalah untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.<br \/>\n(25:37) Namam. Tapi bila akal tidak berfungsi maka sebagaimana kata ulama salaf, maka dia diikut sertakan kepada kelompok hewan, bukan kelompok malaikat. Ikhwat al iman, maka orang yang berakal, orang yang memiliki ya kehormatan diri, orang yang memiliki ya nama baik. Nah, orang memiliki harga diri, dia memuliakan dirinya orang yang bisa memfungsikan akalnya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. ya akalnya ya mendominasi syahwatnya.<br \/>\n(26:28) Bila ada dorongan syahwat dia timbang dengan akal yang sehat. Oh enggak. Ini merugikan saya merugikan orang lain. Ya. Maka dia tinggalkan. Tapi bila ya syahwat yang mendominasi akal tidak berfungsi lagi, inilah orang yang tidak memiliki muruah. Enggak ada kehormatan dirinya.<br \/>\n(26:55) Dia sesungguhnya telah merendahkan, telah ya menghina, telah mencela ya dirinya sendiri. Karena akal yang Allah berikan, akal yang Allah karuniakan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, sebagaimana tujuan akal tersebut diciptakan. Oleh karena itu kata beliau, sebagian mengatakan bahwa hakikat atau definisi dari muroaah itu adalah galabatul aqli lyahwah.<br \/>\n(27:33) Jadi kalau kita sering mendengar ente enggak punya muruah, jaga muruah, sering kita mendengar ungkapan seperti itu. Apa sesungguhnya kalimat muruah tadi? Ternyata hakikatnya ya dalam sebagian ee perkataan para ulama disebutkan kata Imam Ibnu Qayyim ya qila fi haddil muruah batasan-batasannya definisinya muruah itu adalah galabatul aqli syahwah akal yang mendominasi syahwat tatkala akal telah itu yang mendominasi mengalahkan syahwatnya maka dia akan bertutur kata yang baik berbuat yang baik akan menjauhkan hal yang jelek ya akan mempertimbangkan tatkalain ingin mengambil suatu ya e<br \/>\n(28:21) ingin melakukan sesuatu ya ini menimbulkan kebaikan atau kejelekan. Jika keduanya baik keduanya hal yang baik dia akan pertimbangkan mana yang lebih besar kebaikannya. Jika ada dua kemungkaran dan dia tidak bisa ya meninggalkan kedua kemungkaran tersebut karena satu ada yang lainnya, maka dia akan mempertimbangkan ya mana yang lebih sedikit ya kemungkarannya itu.<br \/>\n(28:57) Seandainya dihadapkan kepada dua kemungkaran maka akal fungsinya adalah menimbang melihat. Nah, dan selalu ya mengarahkan kepada hal yang baik. Itulah fungsi akal. Nah, itulah fungsi akal. Maka orang yang berakal sesungguhnya bukan orang yang cerdas. Ya, harus dibedakan antara kecerdasan dengan orang yang berakal. Orang yang memiliki otak tapi tidak berakal.<br \/>\n(29:40) Nah, otak itu organ ya, alat yang Allah ciptakan yang ada kepala kita. Nah, tempat Allah guna ya dijadikan Allah untuk ya ee menampung berbagai informasi data, menyimpan data ya. Kemudian untuk memahami kemudian itu ditransfer ke hati menjadi satu keyakinan kemudian didorong yang kemudi kekuatan spiritual kemudian dalam bersikap dia menimbang itu gunakan.<br \/>\n(30:18) Nah, tatkala dia mampu telah menimbang mana yang baik, mana yang jelek dan mendorong ya memiliki iradah untuk melakukan kebaikan, maka dia memiliki akal yang otak yang tadi berfungsi itu melahirkan sebuah ya pemahaman kebaikan. dan ditransfer ke hati. Kemudian lahir keinginan. Kemudian ada aksi dalam perbuatan, dalam perilaku, semuanya yang baik. Karena akal yang telah ya menimbang dengan baik. Itulah fungsi akal.<br \/>\n(30:46) Maka orang yang melakukan ya terkadang kita malu ya melihat seorang yang ya subhanallah yang tidak ada lagi muru dia melakukan sesuatu yang terkadang hewan saya tidak melakukan, hewan saja tidak, binatang saya tidak melakukan, tapi dia walyazubillah melakukan. Nah, ini sama sekali orang yang tidak memiliki harga diri, orang yang tidak memiliki kehormatan diri, orang yang tidak memiliki nama baik.<br \/>\n(31:27) Ya, sampai hewan pun ya tidak mampu, tidak bisa melakukan hal itu. Ya, tapi manusia yang Allah berikan akal ternyata melakukan. Kenapa? kena dalam dirinya ya akhlak setan tadi, perilaku setan dan kebinatangan itu yang mendominasi ya. Waliyadzubillah. Kita berlindung dari kejahatan setan dan kejahatan diri kita.<br \/>\n(31:52) Makanya penting di setiap pagi kita berlindung di pagi dan petang hari kita berlindung dari kejahatan diri kita dan kejahatan setan. Nah, syarri setan wasirki. ini jangan lupa ya para pemirsa dan kaum muslimin rahimakumullah berlindung ya. Jadi kembali kita ya sampaikan kata Imam Ibnu Qayyim waliqil fi hadil muru. Oleh karena itu disebutkan dalam ya batasan-batasan muruah itu atau definisinya adalah innaha galabatul aqli syahwah. Yaitu akal yang mendominasi syahwat.<br \/>\n(32:31) Dan jaga akal kita itu dijaga. Nah, dijaga akal kita. Sebagaimana kita menjaga kesehatan otak kita, maka akal dijaga. Ya, jangan hanya menjaga kesehatan otak, tapi akalnya tidak dijaga. Banyak orang yang cerdas, banyak orang yang pintar, tapi tidak berakal. Karena melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ya apa yang menjadi fungsi akal.<br \/>\n(33:05) Wa hakikatul muruah. Beliau menjelaskan lagi, hakikat muruah itu tajannubun danat war meninggalkan hal-hal yang enggak berguna, hal-hal yang enggak ada nilainya, hal-hal yang tercela. Ya. Nah, minal aqwal dari perkataan wal akhlak wal a&#8217;mal. Ya, ada tiga hal kata Imam tiga hal. Yang pertama adalah kaul ya.<br \/>\n(33:40) Kemudian akhlak dan yang ketiga ada amal. Diperhatikan perkataan kita, perhatikan akhlak kita, perhatikan amal kita, ya perbuatan kita. Seorang yang ingin menjaga muruah, perhatikan. Perkataan yang keji tinggalkan. Perkataan tidak baik tinggalkan. berpikir sebelum berbicara. Nah, karena di situlah harga dirimu. Maka sering dikatakan mulutmu harimau.<br \/>\n(34:09) Kan begitu ya. Karena bila seorang telah berbicara, lihat penyebab atau lihat orang-orang kendati dia orang yang berkedudukan, dia wakil rakyat dan tapi lihat omongannya tidak menjakah harga dirinya. Bahkan dihinakan oleh manusia ya jatuh harga dirinya. Harga diri Anda ada pada ucapan Anda.<br \/>\n(34:35) Harga diri Anda ada pada akhlak Anda. Harga diri Anda ada dalam perbuatan Anda. Bilangan perbuatan yang baik, akhlak yang baik, ucapan yang di situlah harga diri Anda, di situlah kehormatan diri Anda, di situlah nama baik Anda. Nam. Tapi bila tidak melakukan hal itu ya omongan tidak ya dikontrol, akhlak tidak diperbaiki, perbuatan tidak baik, orang yang tidak memiliki harga diri, tidak memiliki muruah, ya tidak memiliki muruah manusia apalagi dapat Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(35:25) Uruatul lisan muruah lisan ucapan ya halawatuhu thayibatuhu walin ucapan yang manis ucapan yang baik ucapan yang santun ucapan yang lembut itulah muruahin wtinaar minhu bisul dan seorang akan ya ee memetik buah manis dari ucapan itu dengan mudah nam ini muruah muru Muruatul khuluq, muruah akhlak sa&#8217;u wa bastu, akhlak yang luas.<br \/>\n(35:59) Ya, lil habib wal baghid. Ada orang yang dia senangi atau orang yang tidak sukai. Akhlak jadi betul akhlak yang luas, akhlak yang bisa meliputi semua ya. Wuruatul mal. Muruah dalam sisi harta. Al isobah bibadlihi mawaqiahu mahmud. yaitu sikap yang benar dalam mendonasikan harta di tempat-tempat yang terpuji.<br \/>\n(36:32) Baik secara akal ya, adat ya kebiasaan atau syaraan agama. Jadi seorang yang mendermakan hartanya, seorang yang ee ee mendominasikan hartanya, namam mendonasikan hartanya dalam hal-hal yang baik yang terpuji. Di situlah muruah dia, ya. Situlah harga dirinya. Tapi seorang yang mengeluarkan harta untuk hal yang tidak berguna, hal yang tidak bermanfaat, untuk kemaksiatan, untuk berbuat dosa atau untuk mengerongrong ya kebaikan.<br \/>\n(37:11) Ya, maka orang yang tidak memiliki muruah di sisi harta, muruah jah, muruah kedudukan. Nam badluhu lil muhtaj ilaihi. Yaitu seorang kedudukannya yang digunakan dia untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Ya, muruatul ihsan ya. Muruah dalam ihsan kebaikan. Tajiluh wa taisiruh. Menyegerakan kebaikan.<br \/>\n(37:42) Berbagi kebaikan ya memperbanyak kebaikan. Nam beliau menyebutkan waamati wuki dia sama enggak peduli ya gak memperhatikan gak melihat memperhatikan tatkala kebaikan dia berikan apa dipuji orang atau ya di dokumentasikan ya atau mendapatkan pujian enggak perlu bagi dia wanisyanu ba&#8217;da wuki dia melupakan setelah terjadi kebaikan dia lupakan enggak perlu lagi diungkit-ungkit enggak Enggak perlu lagi dibicarakan. Udah kebaikan-kebaikan sudah terdokumentasi dalam catatan malaikat.<br \/>\n(38:22) Sudah dia betul-betul tulus. Berikan kebaikan. Enggak perlu dilihat. Mau dilihat, mau dipuji orang lain. Enggak perlu dipikirkan. Mau dipuji, mau didokumentasi, mau mendapatkan penghargaan, enggak perlu. Kemudian begitu menyelesaikan atau memberikan kebaikan tadi, sudah dia lupakan ya. Enggak perlu lagi diungkit.<br \/>\n(38:49) Kenapa? Karena kebaikan tidak akan pernah ya hilang. Semua tercatat. Namam. Fahad muruatu albadl. Naam. Ini adalah kata beliau muruah albadl yaitu dalam berbagi. Nah. Begitu juga dalamnya muruah. Sikap muruah dalam meninggalkan ya meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Alkhisam perselisihan. Al al muatabah mencela yang berlebihan ya mencela almutalabah menuntup almab pertentang perdebatan namam dan ya menutup mata dari kesalahan orang lain dan tidak ya terus-menerus menuntut ya mungkin dia punya haknya diambil oleh orang lain ya<br \/>\n(39:45) tapi dia orang yang betul memiliki muruah harga diri gak terus-menerus menuntut ya kemudian watagaratinas ya tidak ya tidak pedulikan dengan kesalahan manusia terkadang ya tidak mengungkit-ngungkit hal itau peduli dengan hal itu. Manusia yang tabiatnya adalah sering melakukan kesalahan.<br \/>\n(40:12) Apalagi dari di tengah keluarga bersama keluarga, anak-anak atau saudara ya pastilah ada dalam berinteraksi berbagai hal yang tidak disenangi, kesalahan ya jangan berlebihan dalam menyikapi itu ya. Terkadang kita harus tagful ya, jangan ya terlampau diperhatikan hal itu. Nah, karena kalau itu yang terus yang menjadi perilaku kita, maka kita tidak akan pernah tenang dalam hidup ini.<br \/>\n(40:44) Tidak akan pernah ber ee bisa memberikan atau bersikap yang baik. Karena kita selalu yang menjadikan sesuatu yang bisa hanya dengan menutup mata, menyelesaikan masalah, tapi malah menjadikan sumber masalah dengan terus mengungkit-ngungkit, membicarakan dan seterusnya. Waliyyazubillah. Namam. Bahkan kata beliau, di antara muruah dalam meninggalkan itu adalah engkau mampu memberikan ya atau menyampaikan kepada seseorang memberikan sebuah informasi bahwa dia atau Anda tidak ya sama memiliki catatan negatif tentang seseorang tadi. Nah, subhanallah ini hal yang luar biasa<br \/>\n(41:33) ya muruah. yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim ini. Kemudian beliau membagi mura itu ada tiga tingkatan ya. Tingkatan yang pertama murua almari ma nafsi. Muruah seseorang bersama dirinya. Nam ini yang pertama muruah ma nafs. Muruah kepada diri kita sendiri.<br \/>\n(42:01) Apa maksudnya? yang dia selalu mendorong dirinya, dia harus mampu mengajak dirinya untuk memperhatikan semua hal-hal yang akan menambah keindahan dia, kecantikan dia, ketampanan dia. Dari sisi apa ya? Perilaku akhlak. Karena itulah yang akan menghias seseorang bukan dari segi penampilan dalam artian ya kekayaan yang dia tampilkan. pakaian yang ee pakaian yang mahal yang dia pakai gitu ya.<br \/>\n(42:34) Bukan itu ya, tapi adalah perilaku dan sikap yang akan menambah keindahan ya kebaikan ya kecantikan ya ketampanan dia perilakunya akhlak dan perilakunya. yudanisu dan meninggalkan semua yang akan menodai, merusak hal itu. Namam sehingga sikap tersebut menjadi karakter yang tampak dalam kesehariannya. Nah, ini yang harus kita perhatikan ya.<br \/>\n(43:10) Jaga diri kita. Diri ini harus diri yang mulia. Diri ini memiliki harga, memiliki kehormatan. Dijaga itu. Bagaimana menjaganya? Ya, lakukan yang baik. Ya, jauhkan diri dari hal yang akan merusak ya, dari hal-hal yang akan menodai kemuliaan diri kita dari sifat-sifat yang tadi disebutkan dari perilaku akhlak setan atau akhlak ya binatang.<br \/>\n(43:45) Kemudian beliau mengatakan,&#8221;Adanian firihiwatihi malakahu fiati waj.&#8221; Seorang yang terbiasa ya melakukan sesuatu dalam kesendiriannya, dalam hal sembunyi dan kesendirian dia, maka itu yang akan mendominasi ya perilaku dia dalam ya hal yang e zahirnya. Nah, dalam hal yang zahir. Maka kata beliau, fala yafal khili.<br \/>\n(44:16) Jangan dia melakukan dalam kesembunyian, ya dalam kesendirian sesuatu yang dia malu melakukan di dalam di tengah ya ee di tengah manusia. Nah, jadi kalau kita malu melakukan sesuai tengah manusia, maka juga hendaklah kita malu melakukan dalam kesendirian kita. maka seorang akan menjaga harga dirinya. Nam. Kemudian yang kedua, derajat yang kedua, almuruah maal khalq.<br \/>\n(44:48) Muruah bersama ya dengan sesama. Bian yastil maahum surutal adab walya wal khuluqul jamil. itu menggunakan bersama mereka berinteraksi bersama dengan ya adab yang baik, sifat malu, akhlak yang baik ya nam dan tidak menampakkan kepada mereka sesuatu yang dia membenci hal itu bagi dirinya. Nam dan watakas miratan linafsi dia menjadikan manusia orang lain saudaranya sebagai ya cermin bagi dirinya.<br \/>\n(45:22) Nah, apa yang dia tidak senangi? apa yang dia tidak sukai dia tinggalkan. Begitu juga ya dia meninggalkan yang demikian itu ya jangan sampai ya mengganggu saudaranya. Perkataan, perbuatan, akhlak. Jika dia tidak ya menyukai hal itu, maka jangan dia melakukan hal itu bagi saudaranya.<br \/>\n(45:51) Jadi jadikan manusia cerminan bagi kita dan juga jadikan orang akan bercermin dengan diri kita dalam ya untuk bersikap berinteraksi dengan yang lainnya seperti itu. Almukmin miratun akhi. Nam mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya yang lain. Kemudian yang ketiga ya kata Imam Ibnu Qayyim almuruah maal haqqi subhanah muruah. kepada Allah azza wa jalla. Ya, bagaimana caranya? Bistihya minar ilai.<br \/>\n(46:24) Hendaklah kita selalu memiliki sifat malu ya, malu terhadap pandangan Allah, penglihatan Allah kepada kita. Allah mengetahui wat alika fiatin wfas memperhatikan Allah yang memantau kita dalam setiap ya gerak-gerik kita dan dalam setiap ya ee detak jantung kita. Nah, maka hendaklah kita malu kepada Allah.<br \/>\n(46:57) Istihya minallah walika biislah uyubi nafsik jahdal imkan. Yang demikian itu caranya bagaimana? yaitu memperbaiki ya aib kita, memperbaiki kekurangan kita ya kecacatan diri kita dengan ee jahdal imkan semaksimal mungkin. Bersungguh-sungguh namam untuk memperbaiki diri kita dari perilaku yang tidak baik. Ee kecacatan yang ada pada diri kita itu diperbaiki.<br \/>\n(47:36) Kenapa? Kata beliau, Allah sesungguhnya telah membeli dirimu ya dirimu sendiri. Allah telah beli itu ya. Dan engkau berusaha untuk menyerahkan ya sesuatu yang diperjual belikan tadiqman dan mendapatkan ya nilai itu harga. Tiada suatu yang dijual kemudian mendapatkan harga. Nah, Allah telah membeli diri kita dan balasannya harganyaalah surga.<br \/>\n(48:12) Maka merupakan ya muruah bagaimana seseorang ya memberikan yang terbaik kepada Allah kemudian mendapatkan ya balasan di sisi Allah. Jangan sampai kita memberikan sesuatu yang tidak baik kepada Allah kemudian kita berharap suatu balasan yang baik. Ini adalah orang yang tidak memiliki muruah kepada Allah.<br \/>\n(48:38) Ya, tidak memiliki muruah kepada Allah. Maka kata beliau, waisa minal muruah. Bukan sebuah ya perilaku yang muruah. Taslimu ala ma fi minal uyub. memberikan menyerahkan diri ini kepada Allah dengan segala kekurangan dan dosa kecatan yang kecacatan yang ada pada diri tersebut.<br \/>\n(49:00) Kemudian watqadaman kamil kemudian seorang mendapatkan harga balasan yang sempurna enggak sebanding ya ini bukanlah ya bagian dari muruah kepada Allah. Jadi intinya adalah mari terus ditanamkan dalam diri kita sifat malu kepada Allah. dihadirkan muraqabatullah, Allah selalu memantau kita sehingga kita akan ya terjaga dari melakukan hal-hal yang menudai diri kita dan kita terus akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan, kecacatan, dan kekurangan yang ada pada diri kita.<br \/>\n(49:32) Ada tiga tingkatan muruah. Muruah kepada diri kita sendiri, muruah kepada orang lain, dan muruah kepada Allah Rabb sang pencipta kita. Mudah-mudahan Allah azza waalla berikan taufik ya dan kemudahan kepada kita semua untuk memiliki sifat murua ini. Memiliki ya harga diri, memiliki diri yang baik dan juga kehormatan diri dengan memperhatikan apa-apa yang telah disampaikan Imam Ibnu Qayim tadi yaitu menggunakan akal kita ya. Jangan sampai nafsu syahwat yang mendominasi hidup kita ya.<br \/>\n(50:09) Karena orang yang memiliki muruah, orang memfungsikan akalnya untuk mengalahkan dorongan nafsu syahwatnya dan juga mengalahkan dorongan setan. Naam. Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Wasallallahu wasa nabina Muhammad wa alihi wasahbihi wasallim. Jazakallahu khairan. Kami sampaikan kepada Al Ustaz Dr.<br \/>\n(50:36) Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala yang telah membimbing kita di kajian edisi pagi hari ini langsung dari studio di STDI Imam Assyafi&#8217;i di Jember, Jawa Timur. Dan untuk selanjutnya kami undang Anda sahabat Roja di mana pun Anda berada untuk bertanya jawab. Anda dapat menyampaikan pertanyaan Anda melalui pesan WhatsApp ataupun line telepon di nomor yang sama di 021 8236543.<br \/>\n(50:59) Baik, Ustaz. Kita akan angkat pertanyaan pertama melalui pesan WhatsApp Ustaz dari hamba Allah di Sumatera Selatan. Ustaz izin bertanya. Saya seorang guru SD, Ustaz. Dan dalam pembelajaran agar lebih menarik dan anak-anak lebih antusias, saya terkadang mengajak anak-anak menari dan bernyanyi walaupun tanpa menggunakan alat musik.<br \/>\n(51:25) Ustaz, pertanyaannya, Ustaz, apakah metode pembelajaran seperti ini akan menjatuhkan muruah saya sebagai seorang guru? Mohon nasihatnya, Ustaz. Tafadol, Ustaz. Ya, terima kasih. Pertama sekali seorang yang Allah muliakan menjadi pendidik atau guru, dia harus ya menyadari bahwa posisi dia berada dia berada di posisi yang sangat penting sekali, posisi yang tinggi. Ya.<br \/>\n(52:14) Kenapa demikian? karena apa yang akan dia sampaikan kepada anak didiknya. Dan bila itu suatu kebaikan kemudian kebaikan tersebut dilaksanakan oleh anak didiknya dan itu yang terus menjadi pedoman hidupnya sampai akhir hayatnya. Maka sepanjang perjalanan hidupnya yang bermodalkan nasihat dari sang guru tadi, maka setiap dia melakukan nasihat demi nasihat tersebut, melakukan kebaikan diajarkan oleh gurunya, maka seorang guru akan terus mendapatkan pahala dari perbuatan ya sang atau perbuatan anak didiknya sampai ya dia meninggalkan dunia ini. Maka sang guru terus mendapatkan pahala dari<br \/>\n(53:00) kebaikannya. Ya mendalla ala khairin kafailih. Barang siapa menunjuki kepada kebaikan maka seperti yang melakukannya. Manna sunatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amila biha min ba&#8217;dihu min ujurim. Seorang yang melakukan mengajak pada kebaikan, dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan sepeninggal dia dan tidak berkurang pahala orang yang mengerjakan tadi.<br \/>\n(53:31) Sebaliknya demikian perbuat ya mengajak kepada kejelekan. Maka dari sini pentingnya seorang guru memahami ya jangan sampai ya ee metode yang dia gunakan malah menanamkan dalam diri anak satu pemahaman persepsi yang negatif tidak benar. ya, malah menjadikan dia lebih menyukai dengan cara-cara yang seperti itu. Sementara hal itu ya tidak pantas dilakukan.<br \/>\n(53:59) Nah, oleh karena itu hendaklah seorang guru betul-betul bijak ya. Ya, banyak hal yang mungkin bisa membuat ya seorang itu menghilangkan kebosanan tadi daripada menari seperti itu atau mungkin nyanyian ya nanti tidak dengan alam musik.<br \/>\n(54:20) Bagaimana kalau dia bercerita tentang ya kisah-kisah yang inspiratif, kisah para nabi dan diambil di sana diambilkan di disampaikan dengan cara yang baik. Kemudian setelah itu pelajaran yang bisa menyentuh hati mereka yaitu akan insyaallah makan menalamkan nilai-nilai ya kemuliaan dalam diri mereka ya meditansi, kesadaran ya terus seperti itu. Jadi kemudian juga diajak mereka melihat ya bisa mungkin di alam terbuka bagaimana ciptaan Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(54:46) Kemudian mereka berpikir ajak mungkin mengajak mereka untuk sedikit merenungi dirinya masing-masing gitu ya. lihat bagaimana ciptaan yang sempurna seperti itu. Itu untuk hal-hal yang bisa menghilangkan kebosanan tadi. Atau dengan biasanya kalau hanya dalam bentuk ee nyanyian untuk menghafal sesuatu tanpa diiringi alat musik enggak ada masalah. Itu hanya sebagai wasilah, sarana atau dibaca secara bersama-sama.<br \/>\n(55:10) misalnya dia baca Al-Qur&#8217;an atau zikir untuk menghafal ayat gitu ya, enggak ada masalah karena itu proses dalam pembelajaran atau zikir. Adapun dengan cara ya menari atau nyanyian gitu tidak pantas sehingga ya nanti ya anak-anak yang ee didik kita yang tamat dari SD malah lebih suka menyanyi daripada ya ee mendengarkan Al-Qur&#8217;an kan begitu lebih suka menari daripada ya dia ee melakukan hal-hal yang ee bermanfaat.<br \/>\n(55:47) Namam. Oleh karena itu ee tidak pantaslah seperti itu ya cara kita mendidik. Karena perlu diperhatikan mereka ini ya bagaikan lembaran putih tergantung kepada siapa yang menggores ya yang mencatat di situ pesan-pesan yang membangun yang kesadaran akhlak mulia tergantung siapa yang akan menggores itu tinta dengan tinta apa yang dia akan menulis dengan pena apa dan tinta apa yang akan digunakan untuk menulis dalam lembaran putih tadi.<br \/>\n(56:19) Nah, kalau salah dalam menulis maka itu yang akan membekas. Namam. Maka hati-hati artinya memang tidak pantaslah seperti itu. Nah, cari cara yang lain untuk bisa menghilangkan kejenuhan dan juga kebosanan tadi. Namat suasana kelas lebih hidup ya. Wallahuam. Jazakallahu khairan ustaz atas nasihatnya.<br \/>\n(56:43) Dan berikutnya kita akan angkat insyaallah penanya melalui L telepon kami persilakan. Iya, silakan. Iya. Asalamualaikum. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Di mana? Ibu nama Allah di Baik. Silakan. Ust. Mohon maaf Ibu bisa lebih diangkat suaranya agar lebih terdengar dengan baik? Silakan. Ini Ustaz dulu ee Ibu Ana itu kan seorang pemulung gitu ya, Ustaz ya.<br \/>\n(57:26) Kalau ada lembaran-lembaran Al-Qur&#8217;an itu atau burin-bin itu suka ditolong gitu disimpan kemudian dibawa pulang gitu. Begitu selalu ee dulu gitu, Ustaz. Ee dia juga rajin salat tahajud, salat duhanya juga rajin juga puasa sunah. Cuma sayangnya ustaz dulu itu tidak ada tidak ada masih belum ada ajaran sunah yang seperti ini gitu. Meninggalnya itu pada tahun 2018 Ustaz ya.<br \/>\n(57:56) Nah, itu bagaimana Ustaz ee apakah nanti di hari kiamat juga ditolong ee dengan Allah sebagaimana ee ee ibu itu menolong ee apa namanya lembar-lembaran gitu atau bulin-bulin itu hadis-hadis atau ayat-ayat Al-Qur&#8217;an gitu, Ustaz. Kemudian di alam barzanya itu ee apakah itu juga mendapat pertolongan dari Allah itu Ustaz? Mohon penjelasan jaahir.<br \/>\n(58:20) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakillahu khairan untuk Ibu di situ Bondo. Silakan, Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya, terima kasih kepada Ibu yang bertanya. Barakallahu fik ya. Ee semoga Allah azza waalla ee mengampuni semua ya kaum mukminin dan juga bagi orang tua atau ibu kita yang telah mendahului kita.<br \/>\n(58:56) Semoga Allah subhanahu wa taala merahmati mereka dan juga ya mengampuni dosa-dosa mereka, mengangkat derajatnya dan melapangkan kuburannya. Allahumma amin. Ee ibu yang dimuliakan Allah Subhanahu wa taala. Rahmatullah was rahmatul was Allah arrahmanurrahim ya maha pengasih lagi maha penyayang. ee kita berharap ya seorang siapapun dari saudara kita apagi orang tua kita, keluarga kita yang alhamdulillah mereka dalam keadaan Islam, mereka beribadah, melakukan kebaikan mungkin menurut sebagian itu perkara yang ringan ya. Alhamdulillah.<br \/>\n(59:44) Dan tadi disampaikan juga mereka bisa beribadah tapi mungkin dengan keterbatasan ilmu belum maksimal ya. Dan mereka telah menghadap Allah Subhanahu wa taala. Dan tentu yang ada yang harus kita lakukan adalah kita berharap dan berdoa semoga Allah menerima amal ibadahnya dan ya berdoa kepada Allah semoga Allah ya memaafkan kesalahan-kesalahannya, kekurangannya semua kita ya memiliki salah dan kekurangan dan apa yang dia lakukan dari kebaikan ya itulah sebatas ilmu yang dia ketahui.<br \/>\n(1:00:25) Tatkala itu tidak ada yang mungkin menyampaikan kepadanya ilmu yang lebih sempurna. Ya, semoga Allah memaafkan kekurangan-kekurangan itu. Tapi yang jelas ya selama seorang memiliki iman dan kecintaan di sebagai bukti juga kecintaan dia kepada Al-Qur&#8217;an. Lembaran Al-Qur&#8217;an yang berserahkan itu dia kumpulkan, dia selamatkan.<br \/>\n(1:00:52) Ini bentuk pengagungan kepada Al-Qur&#8217;an juga. Salat tahajud dilakukan ya. Mudah Allah subhanahu wa taala ya mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan ya amal ibadah yang dilakukannya. Nah, begitu ya dalam barzakh. Semoga Allah ya mengampuni dan juga melapangkan kuburannya dan ee memaafkan kesalahannya. Nah, itu yang bisa kita lakukan.<br \/>\n(1:01:21) kepastian tidak bisa ya kita atau kita tidak bisa memiliki kepastian itu. Semua yang telah menghadap Allah dengan amal kebaikannya ya kita berharap semoga Allah merahmatinya menjadi itu ya bekal dalam menghadapi perjalanan akhirat. Semua yang menghadap Allah dari orang yang fasik tidak beriman, kita khawatir hal itu akan menambah ee atau kesulitan dia dalam perjalanan menujat.<br \/>\n(1:01:46) Jadi tetelah berdoa ibu ya jangan pesimis berdoa kepada Allah rahman rahim ya rahmat Allah warahmati wasiat kai rahmat Allah meliputi segala sesuatu warahmati sabaq gab rahmatku ya eh lebih mendahului kemurkaanku mudah-mudahan Allah subhanahu wa taala merahmati kita semua apabila sampai ya kepada Allah azza waalla bilaa kita meninggalkan dunia ini dan semoga Allah merahmati orang tua kita ya yang telah mendahului kita dan semoga Allah mengangkat derajat mereka, mengampuni kesalahannya, melapangkan kuburannya dan menjadikan di akhirat kelak surga<br \/>\n(1:02:24) sebagai tempatnya dan kita dikumpulkan bersama mereka dan keluarga kita orang-orang yang baik nantinya. Allahumma amin. Demikian. Wallahuam. Jazakallahu khairan ustaz atas penjelasan dan doanya. Dan untuk berikutnya, Ustaz, kita akan kembali bacakan pertanyaan melalui pesan WhatsApp. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:02:50) Izin bertanya di luar tema, Ustaz dari hamba Allah di Maluku Utara. Ustaz, pertanyaannya ustaz, apakah salat saya sah jika belum hafal doa? Termasuk, Ustaz, doa dalam qunut witir. Jazakallahu khairan, Ustaz. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tafadal ustaz. Ya. Nam ya. Terima kasih kepada saudara yang bertanya di Maluku Utara ya.<br \/>\n(1:03:24) Apakah ee salat saya sah jika tidak menghafal doa? Tadi disbutkan juga doa di qunut witir. Ya, salatnya sah. Karena doa witir ya bukanlah syarat sahnya salat. syarat salat apabila terpenuhi rukunnya dan ya wajib-wajibnya apabila seorang salat dalam keadaan dan syarat-syaratnya dia dalam keadaan bersuci dalam berwudu, kemudian dia menutup aurat kemudian menghadap kiblat kemudian dia takbir kemudian baca al-Fatihah.<br \/>\n(1:03:58) modal. Kemudian yang ee melengkapi wajib-wajib dan rukun-rukunnya ya lengkap, sah diterima salatnya. Namam. Adapun doa yang tidak dihafal apalagi tadi doa di waktu qunut witir begitu ya, maka itu tidak ada masalah ya. Karena pun juga apakah doa dan qunut itu harus wajib? Tidak.<br \/>\n(1:04:22) Nah, jadi intinya apabila terpenuhi rukunnya dan juga ada syarat-syaratnya dan wajib-wajibnya, maka salat tersebut ya sah dan bermohon kepada Allah untuk diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Permasalahan diterima atau tidaknya ini yang tidak urusan kita. Kita hanya berharap kewajiban kita melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat.<br \/>\n(1:04:49) penuhi ya syarat-syaratnya, rukunnya, wajibnya ya. Kemudian lakukan dengan khusyuk. Itu yang diperintahkan kepada kita. Masalah diterima itu serahkan kepada Allah. Yang penting kita berharap naam dan khawatir salat kita tidak diterima, ibadah kita tidak diterima. Tapi terus teruslah berharap kepada Allah, berdoa.<br \/>\n(1:05:09) Ya, Nabi Ibrahim Alaih Salam enggak bisa memastikan bahwa ibadah dia telah diterima. Beliau yang membangun Ka&#8217;bah dengan perintah Allah. bersama putranya Ismail. Perintah Allah, rumah Allah, perintah dari Allah. Ya. Kemudian beliau mengatakan setelah membangun rumah Allah tersebut, dia mengatakan, &#8220;Ya taqabbal minaru ibrahimul qawaida minal bait waabana taqabbal minna.<br \/>\n(1:05:37) &#8221; Ya Allah, ingatlah tatk Nabi Ibrahim membangun pondasi rumah Allah Ka&#8217;bah itu bersama putra Ismail. Selesai membangun, mereka mengatakan, &#8220;Rabbana taqabbal minna.&#8221; Ya Allah, terima dari kami ya Allah. Itu yang kita bisa lakukan. Berharap. Maka perbaiki ibadah kita ya. Perbaiki dan lengkapi tentunya bekali di dengan ilmu agar ee ibadah kita lebih sempurna. Naam. Demikian. Wallahuam.<br \/>\n(1:06:03) Jazakallahu khairan ustaz atas penjelasannya. Dan masih dalam sesi tanya jawab ini. Kita angkat ee kembali pertanyaan oleh telepon kami persilakan. Asalamualaikum, Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan siapa? Di mana Bapak? Dengan Pak Hadi di Jakarta. Baik, silakan Pak Hadi.<br \/>\n(1:06:28) Saya mau tanya Ustaz, bagaimana bagaimana caranya menasehati ketua yayasan dan jajaran pengurusnya? He agar karena karena sampai dengan sudah hampir 5 tahun berdiri yayasan itu belum membuat akta pendirian. Tidak membuat akta pendirian dan akta kepengurusan Ustaz dan tidak membuat laporan keuangan seperti yang diisyaratkan dalam undang-undang yayasan.<br \/>\n(1:07:06) Karena ini saya khawatir kehormatan daripada yayasan dan jajaran pengurusnya akan akan berkurang di mata umat. Dan kalau seandainya orang-orang tua daripada santri-santri ini kan tidak tahu, Ustaz, tentang internal yayasan dalam rangka mentaati ketentuan yang berlaku di negara ini, Ustaz. Tentang yayasan. Mohon nasihatnya, Ustaz. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<br \/>\n(1:07:37) Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallahu khairan, Pak Hadi tafadol. Ustaz ya ee terima kasih kepada Pak Hadi ya. Barakallahu fik. ini juga ya yasan tidak punya muruah ini. Nam kalau kita kaitkan dengan judul kita Yasan tidak punya muruah ya mana ya ee yang istilahnya ya nilai ya dari kemuliaan pada yasan.<br \/>\n(1:08:16) Sementara yasan itu ya adalah sebagai sarana untuk kelangsungan ya kegiatan pendidikan dan sangat juga disayangkan kalau mengaku mungkin sebagai yayasan dakwah, yayasan sosial, yayasan sunah, tapi tidak ada kejelasan. Ini secara syariat jelas ya, tidak dibenarkan. Kemudian secara aturan undang-undang kita juga kita negara yang punya hukum dan juga ada undang-undang yang telah mengatur hal itu, ini juga tidak dibenarkan.<br \/>\n(1:08:48) Maka sebagai bentuk kepatuhan kita dalam mentaati pemerintah dalam kebaikan ini kebaikan ya. Adanya undang-undang yang mengatur yayasan harus terdaftar ada aktanya jelas kepengurusannya gitu ya. Siapa ketuanya, pembinanya dan bendahara semua ya. Kemudian pelaksana hariannya ini untuk mengatur ada pertanggungjawaban.<br \/>\n(1:09:13) Karena sering dakwah pendidikan itu adalah dari ee kita menampung ya atau untuk sarana dan media untuk ee mengatur, menyusun atau pelaksanakan pelaksanaan dakwah pendidikan namam dan donasi yang masuk. dikelola dengan baik, ada penanggungjawaban kepada ya umat kalau itu ya yayasan sosial, kepada juga orang tua itu yayasan pendidikan itu semuanya jelas ya.<br \/>\n(1:09:55) Inilah dan itu sesuai dengan Islam, prinsip Islam ya sesuai dengan prinsip sunah yang kita ajarkan ya. Jadi jangan sampai ya kita mengatakan inilah ee lembaga pendidikan, dakwah, mengajarkan pada sunah, tapi ternyata perilaku pengelolanya ya kepengurusannya tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Jelas ini tidak dibenarkan. Secara syariat tidak dibenarkan ya.<br \/>\n(1:10:22) Kemudian juga secara ya aturan perundangan juga tidak dibenarkan. Kenapa saya katakan tidak dibenarkan secara syariat? Ya, karena di situ bagaimana pertanggungjawabannya harta yang dikelola ya mengatasnamakan pendidikan ya terus ada penanggungjawabannya. Siapa yang bertanggung jawab dalam hal itu? Mana dan bila terjadi sesuatu siapa yang bertanggung jawab? Jika tidak ada terbukti tertulis si fulannya yang menjabat sebagian dan sebagainya maka tidak bisa dituntut. Ya.<br \/>\n(1:11:00) Dan kita mengetahui kita punya hati, kita bukannya malaikat, bukan generasi sahabat Abu Bakar, Umar yang tidak ada kepentingan dunia dalam mengelola urusan ya dakwah dan pendidikan ini. Kita lebih banyak yang didominasi oleh kepentingan ya dunia kita ya. Kemudian menyebabkan ya label-label dakwah atau sunah atau pendidikan dan seterusnya.<br \/>\n(1:11:28) Maka perlu ya kalau perlu didatangkan mungkin pakar hukum tentang bagaimana menyadarkan mereka tentang pentingnya tata kelola sebuah lembaga pendidikan yang formal yang semua mengikuti aturan yang berlaku. Nam semua pemerintah memberikan aturan itu untuk mengatur untuk kebaikan untuk mengatur. Namam dan hamba tidak dipersulit ya. Tidak dipersulit apabila prosedurnya jelas, aturannya jelas.<br \/>\n(1:11:54) Nah, oleh karena itu tidak pantas itu dilakukan. Saya berharap semoga mereka menyadari jangan sampai dengan cara-cara yang seperti itu menudai ya semangat untuk pendidikan sunah atau pendidikan Islam atau pendidikan yang mengajarkan umat kepada kebaikan. Nam demikian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua, kepada seluruh kaum muslimin dan semoga Allah Subhanahu wa taala menjaga kita di mana saja berada.<br \/>\n(1:12:25) Dan semoga Allah Subhanahu wa taala juga ya menyelamatkan, menjaga kesehatan akal kita dan betul bisa difungsikan kepada hal yang baik. Jangan sampai akal dikalahkan oleh syahwat ya. Jangan sampai akal dikalahkan oleh ambisi sesaat. Tapi gunakanlah akal untuk menimbang segalanya. kebaikan, kejelekan, dan berbagai hal yang biillah akan terus menjaga kehormatan diri kita n ee nama baik kita dan juga harga diri kita. Demikian yang bisa disampaikan. Wallahuam.<br \/>\n(1:12:58) Wasallallahu wasallam nabina Muhammad wa alihi wasahbihi wasallim. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan jazakallahu khairan kepada Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala yang telah membimbing kita dan memberikan nasihat bermanfaatnya kepada kita di kajian edisi pagi hari ini.<br \/>\n(1:13:28) Langsung beliau sampaikan dari studio di STDI Imam Assyafi&#8217;i di Jember, Jawa Timur. Dan kami ucapkan pula jazakumullahu khairan untuk Anda sahabat Roja di mana pun Anda berada yang telah menyimak dengan baik kajian ini dan juga bertanya jawab. Dan kami mohon maaf untuk banyaknya pertanyaan yang belum bisa kita angkat baik melalui L telepon maupun melalui pesan WhatsApp.<br \/>\n(1:13:47) Semoga Allah pertemukan kita kembali di kajian-kajian mendatang di Roja TV dan Radio Roja khususnya untuk kajian bersama Al Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan hafidahullahu taala dalam pembahasan amalan-amalan hati. di setiap hari Jumat pagi pukul 6 kurang lebih waktu Indonesia bagian barat sampai dengan selesai. Kami mohon maaf atas segala kekurangan. Sampai bertemu di lain kesempatan.<br \/>\n(1:14:11) Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Radio Roja Bogor 100.1 FM. Radio Roja Majalengka 93.1 FM. Radio Roj Palu 101,8 FM dan Radio Roja Bandung 104.3 FM. Menebar cahaya sunah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati &#8211; YouTube Transcript: (00:01) mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. J kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3611","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati &#8211; YouTube Transcript: (00:01) mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. J kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:24:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:24:30+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"32 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/\",\"name\":\"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:24:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:24:30+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati &#8211; YouTube Transcript: (00:01) mukhbitin dalam surah al-Haj ayat 34. Dan berikanlah kabar gembira kepada almukhbitin. J kabar gembira bagi mereka secara mutlak tidak dibatasi ya baik di dunia atau akhirat. Saksikanlah kajian Islam ilmiah di Roja TV dan Radio Roja. Simak Radio Roja Bogor [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:24:29+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:24:30+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"32 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/","name":"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:24:29+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:24:30+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-dr-muhammad-nur-ihsan-amalan-hati-14\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Dr Muhammad Nur Ihsan | Amalan Hati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3611"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3611"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3611\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3612,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3611\/revisions\/3612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3611"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}