{"id":3627,"date":"2025-11-27T20:28:35","date_gmt":"2025-11-27T13:28:35","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3627"},"modified":"2025-11-27T20:28:36","modified_gmt":"2025-11-27T13:28:36","slug":"ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#039;ah fil Aqidah\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/HDgklbzNNsw?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:01) Bagi Anda para pemirsa Roja TV yang telah dan yang sesaat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung. Roja TV, saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Inalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu nastagfiruh. W nauzubillahi min syururi anfusina waiati amalina. Man yadillah fala mudillalah waman yudlil fala hadiyaalah.<br \/>\n(00:44) Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Qal Allahu taala fi kitabihin karim. Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Amma baad. Saudarak seiman kita melanjutkan kitab ahlusunah wal jamaah fil akidah. Kemudian beliau berkata, &#8220;Al amru bil marufi wahyuil munkari miniril islam wa asbabu h jamaatihi wahuma yajibani bihasbqati wal maslahatu mtabaratun fialik Beramar makruf nahi mungkar adalah syiar Islam yang paling besar<br \/>\n(02:02) dan sebab terjaganya jemaah kaum muslimin dan hukumnya wajib sesuai dengan kemampuan dan maslahat wajib dipertimbangkan dalam masalah ini. Ikhwat Islam, saudaraku seiman, amar makruf nahi mungkar adalah merupakan perkara yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa taala. Allah Taala berfirman dalam surah Ali Imran, walakum minkum ummatun yaduna ilalir wamuruna bil maruf waanhaunail munkar.<br \/>\n(03:07) Hendaklah di antara kalian ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, beramar makruf, dan nahi mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. Dalam suralimun ayat 104. Kata Ibnu Qudamah, fi hadil ayah bayan anau fardun alifalah kifayah la fardu ain. Ayat ini menjelaskan bahwa amar makruf nahi mungkar itu hukumnya fardu kifayah bukan fardu ain.<br \/>\n(03:57) Kenapa? Kata beliau, &#8220;Liannahu qal wal takum minkum ummah. Hendaklah di antara kalian ada sekelompok orang. Allah tidak mengatakan hendaklah kalian semua, tapi Allah mengatakan hendaklah sebagian kalian. Itu menunjukkan bahwa amar makruf nahi mungkar itu hukumnya apa? hukumnya fardu kifayah bukan fardu ain. Dan apabila tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali maka Allah akan ratakan azab kepada mereka semua.<br \/>\n(04:40) Dalam hadis yang sahih Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Lamurunna bil maruf wanhaunnail munkar. Allahumakum bil bala tadun fala yustajabuakum. Hendaklah kalian benar-benar beramar makruf nahi mungkar. Jika kalian tidak lakukan itu Allah akan ratakan azabnya kepada kalian semua. Kena semua. Walaupun di situ ada orang saleh.<br \/>\n(05:21) Walaupun ada orang saleh, kalau ternyata orang salehnya diam, tidak beramar makruf nahi mungkar, maka adab itu mengenai semuanya, Pak. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dalam hadis memberikan perumpamaan ya hadis An&#8217;man bin Basyir semoga Allah meredainya. Ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,&#8221; matalul qoim ala hududillah wal waqi&#8217; fiha wal mudahin fiha matsaluumin rqibu safinatan faasoba ba&#8217;duhum asfalaha wa aoraha waaroha Wa as bad ba&#8217;duhum aahaalladina fi asfalihataqau al ma marru al manqahum fauhum<br \/>\n(06:25) faqalu la khqna fi nasibina khqon fastaqina minhu walam nuz fauqana fainquum waarahum jamian wain ak aidihim najau jamian Perumpamaan orang yang memelihara batasan-batasan Allah dengan orang yang melanggar batasan Allah dan orang yang diam ya seperti suatu kaum yang naik ke kapal sebagiannya nya ada di bagian atas. Sebagian lagi ada di bagian bawah.<br \/>\n(07:21) Nah, yang di bawah ini kalau mau mengambil air harus lewat ke atas dulu sehingga mengganggu orang yang di atas. Lalu kemudian mereka berkata, &#8220;Daripada kita mengganggu yang di atas, bagaimana kalau kita bolongi saja nih kapal biar bisa langsung ngambil air?&#8221; Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Kalau yang di atas membiarkan yang di bawah itu membolongi, tenggelam semuanya.<br \/>\n(08:04) &#8221; Tapi kalau yang di atas mengingkari dan melarang yang di bawah untuk membolongi, selamat semua. Lihat ya, Akhi. Perumpamaan yang luar biasa dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mengumpamakan orang-orang yang berpegang kepada batasan Allah itu berada di atas karena memang derajatnya tinggi di sisi Allah.<br \/>\n(08:31) Dan orang-orang yang suka melanggar batasan Allah berada di bawah. Nah, orang-orang yang suka melanggar batasan Allah pasti akan mengganggu orang-orang yang berpegang kepada apa? Agama Allah. Makal misalnya mereka-mereka yang berpegang kepada agama Allah diam tidak mengingkari. Maka kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Apa, Pak?&#8221; Semuanya tenggelam, semua binasa.<br \/>\n(09:09) Tapi kalau mereka mengingkari maka semuanya selamat. Maka dari itu, kita merasa heran, Pak, dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat ketika kita ingkari ngomongnya apa? yang berbuat yang masuk neraka kan saya, bukan kamu. Kamu ngapain ngurusin kita? Iya. Kita katakan ya kamu berbuat maksiat itu pengaruhnya dahsyat nanti buat masyarakat.<br \/>\n(09:44) Kamu berbuat maksiat akan mempengaruhi yang lain. Dan kita sebagai orang-orang yang berpegang kepada agama pun kalau kita didiam kena juga kesialan daripada maksiat itu. Makanya ya akhi wajib ya harus ada orang yang beramar maruf nahi mungkar. Namun saudaraku seiman, amar makruf nahi mungkar itu jangan di apa? Jangan dikesankan arogan, Pak.<br \/>\n(10:22) Karena di neg di negara kita ini ada sebuah front, Pak, yang suka amar makruf nahi mungkar. Tapi caranya gimana, Pak? Arogan ngancurin dan yang lainnya. Ternyata isinya apa? Preman semua. Tentu ini tidak baik, Pak. Iya. Kenapa demikian? Karena beramarah nahi mungkar itu tetap harus mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.<br \/>\n(11:04) Makanya kata Ibnu Qayyim, beramar merauf nahi mungkar itu ada empat martabat. Martabat pertama apabila kita beramar makruf nahi mungkar maka menyebabkan kemungkaran hilang. Maka ini disyariatkan. Martabat yang kedua apabila kita beramar makruf nahi mungkar menyebabkan kemungkaran berkurang walaupun tidak hilang. Maka ini pun tetap disyariatkan.<br \/>\n(11:48) Martabat yang ketiga apabila kita beramar makruf nahi mungkar menyebabkan muncul kemungkaran yang selevel. kemungkaran yang apa? Yang selevel. Maka pada waktu itu kata para ulama, kita tawakuf dulu. Jangan dulu mengingkari kemungkaran sebab akan muncul kemungkaran yang sama juga. Martabat yang keempat, ketika kita mengingkari kemungkaran malah muncul kemungkaran yang lebih besar.<br \/>\n(12:28) malah muncul kemungkaran yang lebih apa? Besar. Maka yang keempat ini hukumnya haram. Enggak boleh. Yang keempat ini hukumnya apa? Haram. Enggak boleh. Mana dalilnya, Pak? Dalilnya hadis yang masyhur. Jaa arabiyun ila al ya ilal masjid. Fabala fi thaifatil masjid. Dalam hadis yang sahih itu yang disebutkan dalam kitab Mulugul Maram.<br \/>\n(13:06) Datang seorang Arab Badui masuk ke masjid. Ngapain? Kencing. Kencing di masjid. Di dalam masjid dia kencing. Apa yang terjadi, Pak? Fazajarahunas. Maka para sahabat mengingkarinya. memarahinya. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam melihat kalau orang Arab Badui yang sedang kencing ini diingkari oleh para sahabat mudaratnya lebih besar.<br \/>\n(13:44) Bayangkan kalau lagi kencing ditarik itu kencingnya ke mana-mana itu, Pak. kena bajunya si orang badui, kena bajunya sahabat dan yang lain. Mudrornya lebih besar tidak, Pak? Lebih besar. Apa kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada para sahabat? Dau wala tuzrimu. Biarkan, biarkan, biarkan. Jangan dilarang, jangan, jangan diputuskan. Biarkan.<br \/>\n(14:19) Kenapa, Pak? Kenapa Rasulullah melarang para sahabat mengingkari apa orang Arab Badu yang kencing di dalam masjid itu, Pak? Dilarang sama Rasul sallallahu alaihi wasallam. Ya, supaya najisnya enggak ke mana-mana. supaya najisnya terfokus di situ. Setelah selesai orang Arab Badui itu kencing, Rasulullah minta satu ember air kemudian diguyurkan.<br \/>\n(14:59) Karena di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu enggak kayak ini ya lantainya pasir di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu. Lihat akhi fikihnya Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam dalam beramar makrif mungkar itu ternyata mempertimbangkan antara maslahat dan apa? Mudarat. Enggak semata semangat aja, Pak.<br \/>\n(15:28) Kayak kejadian beberapa waktu yang lalu kemarin tuh ada yang tidur di masjid sampai dipukulin sampai mati. Ya mungkin niatnya amar makruf nahi mungkar tapi kok caranya gitu ya. Enggak benar. Ustaz seiman rahimani warahimakumullah jamian. Nah ini saudaraku seiman ya. Jadi amar makruf nahi mungkar itu, Pak, harus paham, harus orang-orang yang bisa mempertimbangkan antara maslahat dan mudarat.<br \/>\n(16:03) Syarat yang pertama, alimun bima yamur wabima yanha. Berilmu tentang apa yang ia perintahkan dan yang ia larang. Harus berilmu, Pak. Ada orang, Pak, enggak punya ilmu, lalu mengingkari perkara yang dia anggap mungkar. Eh, ternyata enggak mungkar. Dia menganggap itu mungkar padahal tidak mungkar. Banyak, Pak.<br \/>\n(16:44) Contoh misalnya, Pak, banyak enggak orang yang mengingkari orang yang apa? Berjenggot banyak. Antum yang berada di instansi pemerintahan tuh antum berjenggot diingkari dah, Pak. Padahal jenggot mungkar bukan jenggot. Bukan mungkar, Pak. Bahkan jenggot itu diperintahkan oleh Allah dan Rasul sallallahu alaihi wasallam.<br \/>\n(17:20) Dia mereka kira itu mungkar padahal itu bukan mungkar bahkan itu sunah Rasul sallallahu alaihi wasallam. Makanya orang kalau mengingkari kemungkaran enggak punya ilmu, akhirnya malah mengingkari sesuatu yang sebetulnya tidak mungkar. Saudara seiman makanya harus berilmu. Syarat yang kedua yaitu anyakuna sabr. Punya sifat sabar. Sebab kalau dia tidak sabar dalam beramar makruf nahi mungkar bahaya, Pak.<br \/>\n(17:54) Bisa berantemlah malah menimbulkan mudarat yang lebih besar. Syarat yang ketiga punya sifat halim. Halim itu mampu menahan emosi. Dia punya sifat halim, yaitu mampu menahan emosi. Kalau antum temperamenan, terus antum amar makruf nahi mungkar, ya.<br \/>\n(18:30) Karena kan untuk mengingkari kemungkaran itu harus siap dengan balasan yang enggak enak, Pak. Rasulullah pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di kuburan anaknya. Rasul sallallahu alaihi wasallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di kuburan apa? Anaknya. Apa kata Rasulullah? Ittaqillaha wasbiri. Bertakwalah kamu kepada Allah dan sabarlah.<br \/>\n(19:02) Rupanya si wanita ini berkata apa? Ilaika fainnaka tusobi musibati. Pergi kamu dariku. Kamu belum pernah terkena musibah seperti aku. Ini wanita ini enggak tahu kalau itu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Paham. Bayangkan apa sikap Rasulullah ketika digituin? Kalau antum digituin gimana, Pak? Hah? Ya, Rasulullah mengingkari si wanita ini yang sedang nangis di kuburan anaknya.<br \/>\n(19:36) Lalu si wanita ini malah ngusir. Ilaika anni. Pergi kau dariku. Kira-kira kalau antum digituin gimana? Antum pemimpin lagi pasti ngambek. Kamu belum tahu siapa saya ya? Ternyata enggak Rasulullah pergi. Rasulullah pergi, Pak. Lalu seorang sahabat datang kepada wanita itu dan berkata, &#8220;Kamu tahu tidak siapa yang tadi yang berkata siapa Rasulullah itu.&#8221; Uh, siin itu langsung terkejut setengah mati.<br \/>\n(20:18) Akhirnya datang ke Rasulullah sallallahu alaihi wasallam minta maaf. Intinya di situ ya, Akhi. Ternyata ketika kita mengingkari kemungkaran terkadang kita mendapatkan balasan yang enggak enak. Kalau kita temperamen berantem, tapi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menghadapi orang seperti itu diam. Ya.<br \/>\n(20:44) Nah, di sini saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian penting sekali kita ya untuk mempunyai sifat halim ya. Kemudian saudaraku seiman mengingkari kemungkaran. Amar makruf nahi mungkar itu ada empat rukun. Kata Ibnu Qudamah, am arkanal amri bil marruf wahyi anil munkar arbaah. Ketahuilah bahwa amar makruf nahi mungkar itu rukunnya empat.<br \/>\n(21:22) Ahaduha rukun yang pertama anyakunal munkir mukallafan musliman. Qadiron. Orang yang mengingkari. Rukun yang pertama, orang yang mengingkari harus mukalaf. Apa itu mukalaf? Mukalaf itu artinya balik dan berakal. musliman muslim qadiron mampu ya ini rukun yang pertama jadi orang yang mengingkari harus mukalaf muslim dan mampu.<br \/>\n(22:16) Kapan disebut mampu Pak? disebut mampu itu, Pak, kalau tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar. Kalau tidak kalau malah menimbulkan murat yang lebih besar tidak mampu namanya, Pak. Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Man roa minkum munkaran falyugyirhu biyadih.&#8221; Faillam yastati fabilisan faillam yastati fabiqalbih walika&#8217;ful iman.<br \/>\n(22:49) Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran? Melihat dengan mata kepala. Bukan dikabarin orang, tapi melihat. Siapa yang melihat di antara kalian kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan apa? Tangan. Sebagian ulama menafsirkan kata tangan di sini yaitu kekuasaan. Jika ia tidak mampu dengan tangan, maka dengan lisan. Jika ia tidak mampu dengan lisan, maka dengan hati. Dan itu selemah-lemah pengingkaran.<br \/>\n(23:28) Saudarak seiman, berat enggak, Pak, mengamalkan hadis ini? Berat, Pak. Antum naik angkot, di samping antum ada perempuan enggak pakai jilbab. Kita cuma bisa mengingkari dengan hati. I kan? Iya. Bahkan terkadang bukan malah tidak mengingkari, malah menikmati. Nauzubillah minzalik. Ini musibah memang kita di zaman sekarang ini susah untuk mengingkari kemungkaran.<br \/>\n(24:11) Ya. Nah, ini akhal Islam ini rukun yang pertama ya. Rukun yang pertama ya, yaitu orang yang mengingkari itu harus mukalaf, muslim, dan mampu. Rukun yang kedua, anyakuna ma fihil hisbah munkaran maujudan fil hali zahiron. adanya kemungkaran yang tampak jelas di mata kita. Adanya kemungkaran yang tampak jelas di mata kita.<br \/>\n(25:06) Jadi kemungkarannya jelas, Pak, di mata kita. Bukan dikasih tahu orang, bukan. Kalau dikasih tahu orang, eh si fulan gini gini gini gini gini. Kalau antum dilaporin gitu, kira-kira sikap antum gimana? Ada yang ngomong ke antum, &#8220;Itu si fulan gini gini gini gini.&#8221; Antum tanya sama dia, &#8220;Dia melakukannya, dia melakukannya diam-diam atau di depan orang banyak.<br \/>\n(25:49) &#8221; Yang kedua, kamu mengingkari enggak? Ya enggak. Makanya saya lapor ke kamu. Loh, kata Rasulullah, siapa yang melihat kemungkaran? Yang mengingkari itu yang melihat. Bukan kita yang enggak lihat. Bukan kita yang enggak lihat, saudaraku seiman. Kecuali kalau memang dia tidak mampu, kita punya kemampuan.<br \/>\n(26:12) Karena misalnya antum polisi atau antum sebagai seorang hakim jaksa punya kemampuan untuk apa? Mengingkari. Iya. Ikhwat Islam saudaraku seiman. Makanya kata beliau di sini ya, bahwa rukun yang kedua itu kemungkaran itu harus ada dan tampak jelas di mata kita. saat itu. Rukun yang kedua, ayat yang ketiga itu adanya orang yang berbuat kemungkaran.<br \/>\n(26:57) Adanya orang yang berbuat apa? Kemungkaran. Apakah syarat orang yang berbuat kemungkaran tuh harus mukalaf? Tidak. Kalau yang berbuat kemungkaran untuk anak kecil, tetap diinggari. Kalau yang berbuat kemungkaran untuk orang gila, tetap tinggali. Maka kalau yang berbuat kemungkaran tidak disyaratkan harus mukalaf.<br \/>\n(27:31) Rukun yang keempat. yaitu tata cara mengingkari. Tata cara apa? Mengingkari. Kata beliau, tata cara mengingkari ada beberapa derajat dan adab-adabnya. Derajat yang pertama any yuarifal munkar. An ya&#8217;rifal munkar yaitu dia tahu dan melihat kemungkaran langsung bukan dengan cara tajassus ya. Derajat yang kedua, attrif memberitahu kepada orang yang berbuat kemungkaran itu mungkar.<br \/>\n(28:33) memberitahu kepada orang yang berbuat kemungkaran bahwa itu perbuatan mungkar dengan membuahkan dalil dan yang lainnya. Antum bilang ke dia, &#8220;Ah, antum tahu enggak perbuatan antum tuh mungkar?&#8221; Karena bisa jadi, Pak, orang yang melakukan kemungkaran ini enggak tahu. Enggak tahu kata Munkar. Maka kita kasih tahu dulu ya.<br \/>\n(29:03) Derajat yang ketiga, anahyu bil wa&#8217; wus takf billah itu memberi nasihat dengan cara menakut-nakuti dia dengan azab Allah dengan mengatakan ittaqillah ya akhi. Bertakwalah kamu kepada Allah ya akhi. Ya. Apa kamu enggak takut kamu bakal diazab sama Allah ketika berbuat maksiat? Gimana kalau kamu berbuat maksiat tiba-tiba kamu mati? Gimana? N diingatkan gitu, Pak.<br \/>\n(29:44) Ditakut-takuti dia, Pak, supaya dia mau meninggalkan apa? Maksiat. Derajat yang keempat, attif bilq walidil khas kalau ternyata dengan cara lembut tidak bermanfaat, maka dengan cak dengan sikap yang cukup keras dan kata-kata yang agak kasar kalau memang dengan cara lembut tidak bermanfaat. Harus dengan lembut dulu, Pak.<br \/>\n(30:25) Ya, jangan belum apa-apa udah pakai sikap kasar. Enggak boleh. Karena apa? Setiap manusia itu lebih suka sifat lembut daripada sikap apa? Kasar. Makanya kan Allah berfirman kepada Nabi Musa, &#8220;Bapak idhaba ila Firauna innahu thaqu lahu layina laallahu yatadakaru yaksya.&#8221; Pergilah kamu berdua kepada Firaun. Sesungguhnya Firaun itu sudah melampaui batas.<br \/>\n(31:06) Dan ucapkan kepada Firaun dengan ucapan yang lemah lembut. Masyaallah. Bayangkan kepada Firaun disuruh mengucapkan kata-kata yang lemah lembut, Pak. Gimana? Kepada kepada seorang muslim. Makanya amar makruf nahi mungkar itu pada asalnya harus dengan lembut. Harus. Kecuali kalau lembut itu sudah tidak ada manfaatnya. Baru kita pakai kekerasan enggak masalah. Agak kasar ngomongnya dikit.<br \/>\n(31:39) Iya ikhwat Islam saudaraku seiman. Tapi bukan dengan cara mencaci maki ya. Kadang kita kesal akhirnya ngomong apa? Goblok kamu, tolol kamu. Nah tadi dulu lupa jangan ya. seperti ini malah menyebabkan dia malah ngambek marah. Akhirnya kalau dia marah kita marah udah yang keluar golok nanti. Iya. Kemudian derajat yang kelima kata beliau atagyir bilad merubah dengan tangan seperti menuangkan arak.<br \/>\n(32:27) Iya. Kalau ada yang ngerokok langsung maaf, Pak. Saya mau ngambil rokoknya. Antum ambil rokoknya, Pak. Kasih duit deh nih. Ya, kok kenapa? Bapak tahu enggak, Pak, berapa banyak orang akan sakit gara-gara Bapak? Karena asap rokok ini bahaya. Semua dokter sepakat bahwa dokter itu bahaya. Silakan, Pak.<br \/>\n(32:59) Antum perlihatkan itu apa tempatnya rokok itu. Bapak baca enggak nih? Rokok membunuhmu. Kan ada ikhot Islam iman. Ada ya salah satu teman kita seperti itu, Pak. Ketika ada yang merokok langsung didatangin, langsung diambil rokoknya kasih duit. Maaf ya, Pak, merokok ini bahagia sekali, Pak. Iya. Dijelaskan sama dia. Masyaallah. Ikhw Islam secara kuasa iman.<br \/>\n(33:39) Derajat yang keenam, attahdid watakhfif. Kalau tidak bermanfaat juga dengan diberikan ancaman ya dengan diberikan padanya apa? Ancaman. Tapi ini ya yang bisa memberikan ancaman tentu orang-orang yang punya kedudukan, Pak. Enggak sembarangan orang. Saudaraku seiman. Derajat yang ke tujuh. dengan cara memukul.<br \/>\n(34:20) Namun ini khusus untuk orang yang punya apa? Kedudukan, kekuasaan. Tidak tidak boleh sembarangan orang. Iya. Nah, ini dia Bapak sekalian rukun daripada amar makruf nahi mungkar. Jadi rukun amar makruf nahi mungkar ada empat tadi. Simanahimani warahimakumullah jamian. Kemudian akhi tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh orang yang beramar marufruf nahi mungkar.<br \/>\n(35:08) Sifat yang pertama kata Imam Ibnu Qudamah, anyakuna hasanal khulq akhlaknya baik-baik. Beramar mauf nahi mungkar itu enggak harus dengan mata melotot, wajah yang garang. Tidak, Pak. Terkadang beramar maruf nahi mungkar itu dengan senyum. dengan senyum. Iya. Tadi sudah kita sebutkan, Pak. Penting sekali beramar makruf nahi mungkar itu dengan sifat yang lembut, bukan dengan arogan, bukan dengan kasar.<br \/>\n(35:53) Saya ingat dulu sebelum COVID ya, ada sebuah TV swasta punya program buka bersama di tempat pelacuran buka bersama di tempat apa? pelacuran. Dicari ustaz yang mau enggak ada yang mau, Pak. Ada seorang ustaz yang saya kenal, masyaallah, akhirnya dia bersedia, enggak apa-apa. Hari pertama ya dia ceramah di depan pelacur.<br \/>\n(36:38) Pak bayangkan pelacur-pelacur disarangnya pelacur lagi. Dia jelaskan dulu tentang apa? Tentang hakikat kehidupan. Wah, semua kita bakalan mati. Semua kita akan kembali kepada Allah. Untuk apa kita hidup di dunia? Dikenalkan tentang Allah yang menciptakan kita dan yang lain. Masyaallah. Baru pertama pertemuan pertama aja banyak yang langsung kenal, Pak.<br \/>\n(37:14) Banyak pelacur-pelacur itu malah nangis. Iya. Hari kedua diingatkan lagi terus sampai akhirnya apa? Banyak yang tobat. Pelacurannya sepi karena pelacurnya sudah banyak tobat. Subhanallah. Sampai di antara mereka berkata, &#8220;Bu kali ini saya mendengar lagi ucapan salam. Enggak pernah saya mendengar orang ucapan salam.<br \/>\n(37:51) itu terkadang, Pak, mengingkari apa tempat pelacuran terkadang enggak harus dengan serbu hancurin gitu. Yang ada kalau dihancurin besok-besok dibangun dengan yang lebih megah itu Pak. Betul. Tapi ketika kita ketuk hatinya, kita ingatkan sudah iya bab nam. Wabillahi taufik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Roja<br \/>\n(39:26) bagi Anda para pemirsa si<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Bagi Anda para pemirsa Roja TV yang telah dan yang sesaat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung. Roja TV, saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Inalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu nastagfiruh. W [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3627","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#039;ah fil Aqidah - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#039;ah fil Aqidah - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Bagi Anda para pemirsa Roja TV yang telah dan yang sesaat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung. Roja TV, saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Inalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu nastagfiruh. W [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:28:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:28:36+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama'ah fil Aqidah - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:28:35+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:28:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama'ah fil Aqidah - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama'ah fil Aqidah - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah &#8211; YouTube Transcript: (00:01) Bagi Anda para pemirsa Roja TV yang telah dan yang sesaat lagi kami hadirkan untuk Anda program acara kajian ilmiah secara langsung. Roja TV, saluran tilawah Al-Qur&#8217;an dan kajian Islam. Inalhamdalillah nahmaduhu wasastainuhu nastagfiruh. W [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:28:35+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:28:36+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/","name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama'ah fil Aqidah - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:28:35+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:28:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mujmal-ushul-ahlussunnah-wal-jamaah-fil-aqidah-3\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. | Mujmal Ushul Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah fil Aqidah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3627"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3627"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3627\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3628,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3627\/revisions\/3628"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}