{"id":3633,"date":"2025-11-27T20:29:57","date_gmt":"2025-11-27T13:29:57","guid":{"rendered":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?p=3633"},"modified":"2025-11-27T20:29:58","modified_gmt":"2025-11-27T13:29:58","slug":"ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/","title":{"rendered":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim"},"content":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"[LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/gWiNU7cMv20?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>Transcript:<br \/>\n(00:00) Waa alihi wa ashabihi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang dengar Anda dan kelar kaca Anda kajian yang kami pancarluaskan dari Masjid Albarkah, Jalan Pahlawan Kampung Tengah Cilengsi atau komplek Radi Roja yang mudah-mudahan kita bisa mengambil faedahnya dan kami mengucapkan selamat menyimak semoga bermanfaat. Roja TV<br \/>\n(00:41) Anda para pem TV wasalatu wasalam. Rasulillah nabina Muhammadin waa alihi wasbihi waman walah. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba&#8217;. Kita lanjutkan saudaraku se imam masih di bab ke-38 bab atasbih wat tahlil wa amalul bir sodqah an abi dzarin radhiallahu anhu ananasan min ashabin nabi sallallahu alaihi wasallam qolu lin nabihi shallallahu<br \/>\n(01:55) alaihi wasallam ya rasulullah yuna kama nasumasdaquuna bifuduli amwalihim q aisaq ja&#8217;alallahu lakum maasdaquun inna bikulli tasbihatin shodqoh waulli takbiratin shodqoh waulli tahmidatin shodqoh bilufiq wahyun munkarin shodqahi ahadikum shodqah q ya rasulullahti ahaduna syahwatahuakun lahu f ajrun q aritum la fi haram akana alaihi wizrakika fil halal kana lahu ajr.<br \/>\n(03:04) Bahwa ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam itu fakir miskin ya berkata kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, &#8220;Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa pahala besar. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana mereka puasa saum. Dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Sedangkan kami tidak.<br \/>\n(03:43) Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Bukankah Allah sudah menjadikan untuk kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Itu setiap tasbih sedekah. Setiap takbir sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, menyuruh kepada yang makruf sedekah, melarang dari yang mungkar sedekah. Dan bahkan pada kemaluan salah seorang dari kalian sedekah.<br \/>\n(04:24) Mereka berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya mendapat pahala?&#8221; Kata Rasulullah, &#8220;Bagaimana pendapat kalian kalau ia meletakkan kemaluannya di tempat yang haram? Bukankah itu dosa?&#8221; Demikian pula apabila ia letakkan kemaluannya di tempat yang halal, maka itu pahala.<br \/>\n(04:56) Dan hadis ini, Pak, ada lafaz yang lain ya. Itu dari hadis Abu Hurairah anna fuqara al muhajirin atau Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwa kaum fakir miskin muhajirin datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Waqolu ya Rasulullah zahaba ahludur bid darajatil ula w naimil muqim.<br \/>\n(05:31) Mereka berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa derajat yang sangat tinggi dan kenikmatan yang abadi.&#8221; Faqala wadq kata Rasulullah, &#8220;Apa itu?&#8221; yuna kama nusolium nasumasqu wala natasdaq wquuna nuq mereka salat sebagaimana kami salat mereka saum sebagaimana kami saum mereka sedekah tapi kami tidak bisa sedekah mereka bisa memerdekakan budak sementara kami tidak tidak bisa.<br \/>\n(06:20) Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Afalaimukum saian tuduna bihi sabaqakum watasbiquuna bihiman ba&#8217;dakum wala yakunu ahadun afdola minkum illa man shona mlama sh&#8217;um.&#8221; Maukah aku beritahu kepada kalian ya suatu amal yang kalian bisa menyusul orang-orang kaya yang sudah mendahului kalian itu dan kalian bisa mendahului orang-orang setelah kalian dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian kecuali yang melakukan sama dengan itu.<br \/>\n(07:03) Mereka berkata, &#8220;Bala, ya Rasulullah, mau wahai Rasulullah.&#8221; Kata Rasulullah, &#8220;Tusabbihuna wa tukabbiruna watahmaduna dubura kulli shatin salatan watina marah.&#8221; Itu kalian bertasbih, bertakbir, bertahmid setelah selesai salat 33 kali. Farjaa fuqarun muhajirin ila Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Iya. Ya, rupanya mereka apa yang terjadi, Pak? Mereka mengamalkannya, Pak.<br \/>\n(07:40) Rupanya orang kaya tahu. Maka orang kaya pun mengamalkan itu. Akhirnya para fuqara muhajirin pun datang lagi ke Rasulullahi sallallahu alaihi wasallam dan berkata, &#8220;Ya Rasulullah, sami ikhwanuna ahlul amwal bima fa&#8217;alna fa&#8217;alu mlah.&#8221; Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu tahu dan mendengar amalan yang kami lakukan dan mereka pun melakukan juga.<br \/>\n(08:16) Melihat itu Rasulullah bersabda, &#8220;Dalika fadlullahi yutihi yasya.&#8221; itu karunia yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki. Dan dalam ya riwayat lain 33 kemudian takbirnya 34 kali ya di muslim. Hadis ini akhi kita ambil faedah. Ya, faidah yang pertama yaitu fadlu asahabah haitu yatasabaquuna fil khairat.<br \/>\n(08:59) Keutamaan para sahabat, Pak, di mana mereka berlomba-lomba dalam kebaikan. Jadi, para sahabat yang miskin tuh ya tidak iri kepada orang kaya karena kekayaannya. Enggak. Tapi mereka iri kepada orang kaya karena mereka bisa beramal lebih, Pak. Bisa sedekah, bisa haji, bisa umrah, bisa apa namanya memerdekakan budak.<br \/>\n(09:34) I bisa membiayai orang-orang yang mau pergi jihad dan yang lainnya. Sementara mereka enggak bisa. Itu yang membuat mereka iri. Masyaallah. Demikian seharusnya kita kita melihat orang kaya yang pantai bersedekah itu iri. Adapun kalau ngelihat orang kaya yang pelit, orang kaya yang suka maksiat, ya kita enggak iri. Itu Pak, itu musibah. Musibah besar itu.<br \/>\n(10:03) Karena kekayaannya hanya akan mengazab dalam api neraka. Nauzubillah minzalik. yang kita iri itu ya itu makanya kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam la hasada illa fitnatain tidak boleh iri kecuali kepada dua orang yang pertama kepada siapa rajulun atahullahu maalan orang yang Allah berikan kepadanya harta ya lalu ia gunakan hartanya untuk apa di jalan Allah maka kita iri ya enggak apa-apa iri seperti itu.<br \/>\n(10:43) Kenapa? Karena iri seperti ini akan menimbulkan perlombaan. Iya. Jadi kalau kalau dalam amalan saleh kita itu melihat kepada yang lebih tinggi. Kalau masalah urusan dunia maka kita lihat kepada yang lebih rendah. Jangan kebalik, Pak. Kalau amalan saleh kita iri sama orang yang bisa hafal Quran, iri sama orang yang bisa apa namanya ya banyak berbuat kebaikan, sodqah dan yang lainnya.<br \/>\n(11:20) Maka kalau di hati kita ada iri melihat orang yang lebih hebat dari kita, berarti kita ya akhi termasuk orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Banyak di antara kita itu enggak ada rasa iri. melihat orang yang bisa puasa, bisa sodqah, biasa aja gitu, Pak. Ya. Terus berpikir, &#8220;Ah, saya mah yang penting sudah bisa salat lima waktu juga cukup dah.&#8221; Nah, ini subhanallah.<br \/>\n(11:51) Berarti di hati kita itu enggak ada yang namanya jiwa attasabuk bil khairat. Berlomba-lomba dalam apa? Kebaikan. Sementara kita disuruh oleh Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah berfirman, &#8220;Fastabiqul khairat.&#8221; Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan. Iya. Hadis ini kita ambil faedah ya akhal Islam.<br \/>\n(12:25) Yang kedua yang bisa kita petik dari hadis ini terjadi perselisihan para ulama mana yang lebih utama. Orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Sebagian ulama mengatakan orang miskin yang bersabar lebih utama. Dalilnya hadis Rasulullah bersabda, &#8220;Ya, uritul jannah.&#8221; Aku diperlihatkan oleh Allah surga. Faidza aksaru ahlihal fuqaro.<br \/>\n(12:57) Ternyata kebanyakan penduduk surga itu fakir miskin, Pak. Orang-orang fakir. Ya, ikhwat Islam secara kuasa iman. Sebagian ulama mengatakan tidak. Orang kaya yang bersyukur lebih utama daripada orang miskin yang bersabar. Alasannya kenapa? Kata mereka, &#8220;Karena orang miskin dia harus sabar karena keadaannya memang mengharuskan untuk sabar. Udah mentok istilahnya, Pak.<br \/>\n(13:30) &#8221; Sementara orang kaya dimudahkan dia peluang untuk maksiat, dibukakan pintu-pintu untuk maksiat, tapi ya masyaallah tidak tertarik dengan maksiat. dia sabar ya dengan kesenangan-kesenangannya itu agar tidak lalai dan itu lebih berat ya antum kalau diberikan oleh kesenangan supaya kesenangan ini tidak membuat lalai itu berat Pak kenapa karena sifat kesenangan itu kan bikin lalai sifat kesenangan itu, Pak bikin orang kesabaran barangnya pendek karena biasa terbiasa senang, terbiasa enak. Orang kalau sudah<br \/>\n(14:20) terbiasa enak, pas dikasih kesusahan dikit sabarnya kurang, Pak. Beda dengan orang yang terbiasa susah. Ya memang sudah terlatih jiwa kesabarannya, saudaraku seiman. Tapi ketika orang kaya ini, masyaallah tidak tertipu oleh harta, kata mereka ini menunjukkan kehebatannya. Iya.<br \/>\n(14:42) Mereka juga berdalil dengan hadis yang sedang kita bahas ini. Karena orang miskin apa? Iri kepada orang kaya. Mereka bisa mengamalkan amalan-amalan yang mereka tidak bisa amalkan. Akhirnya diajarkan sama Rasulullah setelah selesai salat baca subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 34 kali. Eh rupanya orang kaya tahu. Maka apa kata Rasulullah? Fadlullahi yutihi yasya.<br \/>\n(15:17) Itu karunia yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki. Mana yang rajih? Syekhul Islam Taimiyah berkata, &#8220;Yang rajih adalah siapa yang paling bertakwa ialah yang paling utama.&#8221; Siapa yang paling bertakwa dari orang miskin atau orang kaya itu dialah yang paling apa? Utama di sisi Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(15:46) Karena Allah berfirman, &#8220;Inna akramakumallahi atqakum.&#8221; Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah itu yang paling bertakwa. Kalau ketakwaannya sama ya sudah berarti sama derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa taala. Faedah selanjutnya saudaraku seiman yang bisa kita petik dari hadis ini yaitu yang pernah kita sampaikan apabila kita tidak mampu dari suatu amal carilah amal lain yang selevel. Iya.<br \/>\n(16:25) Karena orang miskin ini enggak mampu sedekah. Orang miskin ini enggak mampu ya untuk apa? Memerdekakan budak. Enggak bisa. Maka Rasulullah membimbing ini loh ada amal yang kalau kalian amalkan kalian bisa mengejar orang-orang kaya itu. Iya.<br \/>\n(16:56) yaitu setelah selesai salat kalian ucapkan ini subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 34 kalian. Kalau kalianlah itu tutrikuna man sabaqakum, kalian akan bisa mengejar ya mereka yang telah mendahului kalian itu. Watasbiquuna man ba&#8217;dakum. Dan kalian akan mendahului orang-orang setelah kalian kecuali yang melakukan sama. Nah, demikian, Pak.<br \/>\n(17:21) Jadi kalau kita misalnya enggak bisa haji nih, orang-orang pada pergi haji, gimana caranya saya enggak bisa haji? Cari amalan yang nilainya senilai apa? Haji. Ada enggak amalan yang senilainya? Selainya haji, Pak? Ada. Sebkan dalam hadis Rasulullah sabda man ilal masjid aha la yuridu illa yatair yuallima khairon rojaa biajlil haj tam hajjatuhu siapa siapa yang pergi ke masjid tidak ada niat kecuali untuk menuntut ilmu atau mengajarkan ilmu, maka ia pulang membawa pahala sebesar pahala haji. Sempurna hajinya.<br \/>\n(18:12) Luar biasa. Sodqah imanahimani warahimakumullah jamian. Faidah selanjutnya akhal Islam hadis ini menunjukkan bahwa sedekah itu tidak terbatas dengan harta. Ya, sedekah itu tidak terbatas dengan apa? Harta. Karena kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam apa? Awalaisallahu qad ja&#8217;ala lakum ma tasaddaquun.<br \/>\n(18:46) Bukankah Allah sudah menjadikan untuk kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Itu setiap tasbih seodqah, setiap tahmid seodekah, setiap takbir sedekah. Ternyata sedekah itu tidak harus dengan apa? harta kita berzikir aja sudah termasuk sedekah ya ikhwat Islam saudarakus iman hadis ini kita ambil faedah berikutnya hadis ini menunjukkan fadlu zikri ya subhanallah walhamdulillah lailahaillallah Allahu akbar yaitu keutamaan ucapan ini, Pak. Subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar. Demikian<br \/>\n(19:42) pula zikir-zikir yang lain. Dan itu termasuk kalimat-kalimat yang sangat dicintai oleh Allah. Disebutkan dalam hadis Rasulullah bersabda, &#8220;Ahabbul kalami ilallah arba.&#8221; Ucapan yang paling Allah cinta itu empat. yaitu subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar. Dan ucapan ini, Pak, disebutkan dalam hadis itu adalah tanaman-tanaman surga.<br \/>\n(20:19) Sebagaimana Imam Ahmad dalam mustadnya meriwayatkan wa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Ya laqitu Ibrahim lailata usri abi.&#8221; Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim ketika aku Isra Mikraj. Waqal lirahim berkata kepadaku, &#8220;Ya ya Muhammad, aqri ummataka min salam.<br \/>\n(20:46) &#8221; Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu. Wa akbirhum anal jannata thyibatut turbahbatul ma. Kabarkan kepada umatmu bahwa surga itu tanahnya subur, airnya segar. Waahaqi&#8217;an. Dan sekarang itu surga belum ada tanamannya. Wairasaha dan tanamannya adalah subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar. Itu rupanya Pak tanaman surga Pak.<br \/>\n(21:25) Maka dari itu ya akhi, kalau kita pengin punya tanaman yang banyak di surga, maka perbanyaklah kita untuk mengucapkan apa ya? Subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, Allahu Akbar. Ya, hadis ini kita ambil faedah ya, akhi. Fadlu al amri bil marruf w nahyi anil munkar. Keutamaan orang yang beramar makruf nahi mungkar.<br \/>\n(21:54) Dan bahwasanya perintah kepada yang makruf itu termasuk sedekah. Demikian pula melarang dari yang mungkar pun sedekah. Para ulama menyebutkan bahwa amar makruf nahi mungkar itu hukumnya fardu kifayah, Pak. Sebagaimana Allah berfirman, &#8220;Walta takum minkum ummatun yaduna ilalir wauruna bil ma&#8217;ruf waanhaunail munkar.<br \/>\n(22:23) &#8221; Hendaklah di antara kalian, sebagian kalian tuh ada sekelompok orang yang beramar makruf nahi mungkar. Harus ada. Kalau enggak ada dosa semuanya. Kalau tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar maka Allah ratakan azab semuanya kena. Sebagaimana dalam hadis lamurunna bil marruf wanunnail munkarusikanallahuakumullahu yaumakum bil bala atau Allah ya apa? Hendaklah kalian beramar makruf nahi mungkar.<br \/>\n(23:08) Kata Rasulullah, &#8220;Jika tidak kalian lakukan, Allah akan ratakan azabnya kepada kalian semua.&#8221; Itu kena semua kita, Pak. Iya. Cuma ya di zaman sekarang ini susah, Pak, mau beramar na mungkar. Zaman sekarang ini paling bisa dengan hati antum naik angkot di samping antum perempuan enggak pakai jilbab. Pernah enggak antum bilang ke dia? Mbak, kenapa enggak pakai jilbab? Wajib itu hukumnya. Kita cuma diam aja, enggak mengingkari.<br \/>\n(23:41) Bahkan di hati pun tidak mengingkari. Yang ada malah menikmati. Walau musibah. Kita pergi ya ke pantai banyak perempuan bagi se kita diam 1000 bahasa enggak mar-mar nahi mungkar. Nah, inilah Pak di zaman sekarang ini subhanallah kita khawatir jadinya Pak. Iya. Ikhwat Islam secara kuasa iman walaupun tentunya sesuai kemampuan masing-masing.<br \/>\n(24:13) Iya. Faedah selanjutnya akhal Islam, hadis ini menunjukkan bahwa sesuatu yang mubah bisa berubah menjadi pahala apabila disertai dengan niat. Sesuatu yang mubah bisa bernilai pahala bila disertai dengan apa? Niat. Kenapa? Kata Rasulullah apa? ahadikumqah dan pada kemaluan kalian ada sedekah.<br \/>\n(24:53) Lalu para sahabat bertanya, &#8220;Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kali kami mendatangi syahwatnya dapat pahala?&#8221; Ya, bersetubuh dengan istri boleh tidak mubah. Tapi kalau diniatkan untuk melaksanakan hak ya diniatkan untuk apa? menyalurkan syahwat dan meletakkan di tempat yang halal, maka pada waktu itu jadi pahala di sisi Allah Subhanahu wa taala.<br \/>\n(25:30) Demikian pula semua yang mubah makan, minum, tidur, olahraga. Kalau niat kita benar jadi pahala, Pak. Tapi kalau niat kita salah, enggak ada enggak ada pahala sama sekali. Antum makan kuliner cuma niatnya cuma pengin kuliner doang, cuma bersenang-senang. Dapat pahala enggak? Enggak. Iya. Faedah selanjutnya ya akhal Islam yang bisa kita petik dari hadis ini. Hadis ini menunjukkan hujatul qias.<br \/>\n(26:02) bahwa kias itu, Pak, hujah. Kenapa? Karena di sini Nabi berdalil dengan iias. Nabi berdalil dengan apa? Dengan iias. Ya. Karena para sahabat bertanya, &#8220;Hai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami mendatangi istrinya dapat pahala?&#8221; Apa kata Rasulullah? Bagaimana pendapat kalian kalau ada orang yang meletakkan kemaluannya di tempat yang haram? Dosa enggak? Loh, demikian pula kalau ia letakkan di tempat yang halal pahala.<br \/>\n(26:45) Ini namanya iias, Pak. Dan ini menunjukkan bahwa iias itu boleh digunakan. Tapi ingat kata Imam Asyafi&#8217;i, innama yusor ilal qiasadurah. Kias itu boleh dipakai kapan? Saat darurat, Pak. Darurat itu maksudnya sudah enggak ada dalil lagi dari Al-Qur&#8217;an dan hadis. Bahkan Imam Ahmad mengatakan, &#8220;Alqias bimanzilatil maitah.<br \/>\n(27:17) &#8221; Kias itu bagaikan bangkai. Maksudnya gimana, Pak? Boleh enggak makan bangkai? Kapan boleh makan bangkai? Kalau sudah tidak ada makanan lagi, kalau sudah tidak ada makanan adanya bangkai. Kalau kita enggak makan bangkai, kita bisa mati. Darurat enggak masalah. Demikian pula kias. Kias itu dipakai ketika sudah tidak ada dalil.<br \/>\n(27:48) Kalau masih ada dalil, jangan pakai kias. Makanya kata para ulama, semua kias yang bertabrakan dengan dalil, maka itu kias yang yang fasid, kias yang rusak. Iya. Ikota Islam adalah kusa iman. Makanya para ulama ya mendaifkan pendapat Abu Hanifah yang mengkiaskan wanita yang menikah akad nikah dengan akad jual beli.<br \/>\n(28:29) Kata mereka, akad jual beli itu tidak disyaratkan harus ada wali dan dua saksi. Demikian pula akad nikah sehingga wanita itu tidak kalau menikah tidak wajib wali tidak wajib harus ada dua saksi. Sehingga kalau si wanita menikahkan dirinya sendiri boleh kata mereka dikiaskan kepada akad apa? jual beli. Tapi ini batil, Pak. Karena akad nikah berbeda dengan akad jual jual beli.<br \/>\n(28:59) Makanya Rasulullah sallallahu alaihi wasam bersabda waliikahil. Wanita mana saja yang menikah dengan tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Ikhwat Islam saudaraku iman. Kemudian hadis Abu Hurairah tadi menunjukkan akhir keutamaan zikir setelah salat. Zikir setelah salat yaitu subhanallah 30 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 34 kali.<br \/>\n(29:41) Karena disebutkan dalam hadis tersebut kata Rasulullah apa? Maukah aku beritahu kalian amal tudrikuna bihi man sabaqokum yang dengan amal itu kalian bisa mengejar orang yang sudah mendahului kalian itu watasbiquuna man ba&#8217;dakum kalian bisa mengalahkan orang-orang setelah kalian apa itu tadi Pak I satu riwayat yang lain bahwa orang yang mengucapkan ini akan diampuni, dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Iya.<br \/>\n(30:20) Namun zikir setelah salat ini pada empat bentuk ya. Yang pertama tadi subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 34 kali. Yang kedua, subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali. Ditutup dengan lailahaillallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahua ala kulliin qodir.<br \/>\n(30:52) Yang ketiga, subhanallah 25, alhamdulillah 25, Allahu akbar 25, lailahaillallah 25. Itu dalam riwayat Imam Ahmad. Yang keempat, subhanallah 10, alhamdulillah 10, Allahu Akbar 10. Sudah. Demikian itu dalam riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya. Yang paling utama yang mana? Ya kita amalkan terkadang ini, terkadang itu. Karena ini namanya ibadah yang ada beberapa macam.<br \/>\n(31:31) Selama itu Nabi mengamalkan semuanya ya kita pun amalkan terkadang ini, terkadang itu. Walaupun tentu ya semakin sering Rasulullah lakukan itu yang paling utama. Hadis berikutnya babus shodqah wa wujubiha alas sulama. Bab sodqah dan wajibnya sodqah atas sendi-sendi. Aisyah radhiallahu anha an Nabi shallallahu alaihi wasallam q innahu khuliqo kullu insanin min bani adam ala sittina waat miat mafsil faman kabarallaha wa hamidallaha waallaha wasabbahallah wastagfirallaha wazala hajaran an thqinas zahza nafsahu rah abu taubah warubama qal yumsi<br \/>\n(33:00) dari aisyah semoga Allah meridainya ia berkata rasulullah Allah sallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya setiap manusia dari anak Adam diciptakan oleh Allah ya dengan 360 sendi.&#8221; 360 apa? sendi. Siapa yang bertakbir kepada Allah, bertahmid, bertahlil, bertasbih, beristigfar, dan menyingkirkan batu dari jalan orang, atau menyingkirkan duri atau tulang dari jalan orang dan menyuruh kepada yang makruf atau melarang dari yang mungkar sejumlah 360 Maka pada hari itu ia berjalan dalam keadaan ia sudah membebaskan dirinya dari api neraka.<br \/>\n(34:05) Ya, maka tabu taubah atau di sore harinya ia sudah membebaskan dirinya dari api neraka. Ikhwat Islam saudarakus iman rahimani warahimakumullah jamian. Hadis ini Pak ada lafaz yang lain yaitu yang ya dengan lafaz begini dari Abu Musa an Nabi sallallahu alaihi wasallam q ala kulli muslimin shodqoh atas setiap muslim seodqah kata-kata ala dalam bahasa Arab biasanya digunakan untuk makna wajib Pakila arita am yajid Wahai Rasulullah, kalau ia tidak mendapatkan itu bagaimana hai Rasulullah? Oh gak maksud apa lafaz yang lain? an Abi Hurairah qala Rasulullah sallallahu<br \/>\n(35:10) alaihi wasallam sulama minanas alquminams setiap sendi-sendi dari manusia hendaknya dipenuhi sedqahnya setiap hari yang matahari terbit padanya harus dipenuhi apa sedekahnya i qat takdilu Alhamdulillah ya takdilu bainalnain shodqah kamu mendamaikan dua orang yang bertengkar alhamdulillah ya kamu mendamaikan dua orang yang bertengkar itu sedekahin rajul fiatihi Kamu membantu seseorang untuk mengangkat barang dia untuk<br \/>\n(36:18) dinaikkan ke untanya seodqah. Wal kalimatu thyibatu shodqah. Dan kalimat-kalimat yang baik itu kata-kata yang baik seodqah. Wullu khotwatin tamsiha ila shati shodqah. Dan setiap langkah kaki menuju salat seodqahumitulqodqoh. Dan kamu singkirkan gangguan dari jalan juga apa? Sodqah. Masyaallah ikatan Islam saudaraku se iman rahimani warahimakumullah jam.<br \/>\n(36:56) Dari hadis ini akhi kita ambil faedah. Hadis ini menunjukkan, Pak, mukjizat Rasulullah. Di mana Rasulullah mengabarkan sesuatu yang dibenarkan oleh medis zaman ini, Pak. Itu bahwa manusia itu memiliki 360 sendi. Dari mana Rasulullah tahu? Rasulullah bukan dokter. Rasulullah pun belum pernah melakukan operasi dan yang lainnya.<br \/>\n(37:34) Tentu dari pencipta manusia. Siapa itu? Allah Subhanahu wa taala. Dan ternyata benar para ahli kedokteran di zaman ini mengatakan dalam tubuh manusia itu terdiri dari 360 sendi. Dan setiap sendinya fungsinya luar biasa. itu menunjukkan akan nikmat Allah yang besar kepada kita saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamia.<br \/>\n(38:06) Faedah yang kedua yang bisa kita petik di hadis ini, saudaraku seiman, hadis ini menunjukkan bahwa setiap sendi itu hendaknya dipenuhi sedekahnya setiap hari. Namun terjadi perselisihan para ulama, Pak, memenuhi sedekah 360 sendi ini wajib atau sunah? Ya, wajib atau apa? Sunah. Sebagian ulama mengatakan wajib hukumnya, bukan sunah lagi.<br \/>\n(38:52) Kenapa? Karena berdasarkan riwayat tadi, kullama ya setiap sendinya itu alaihi sodqah. Kata-kata ala dalam bahasa Arab biasanya mempunyai makna apa? Wajib. Nah, ini yang dirojihkan oleh Syekh Utsimin rahimahullah dalam syarah al-Arbain an-Nawawiyah. Syekh Utimin merojikan bahwa memenuhi 360 sendi itu tiap harinya wajib, Pak.<br \/>\n(39:27) Tapi alhamdulillah sih, Pak. Insyaallah gampang. Antum dari rumah jalan kaki ke masjid berapa langkah? Hah? Berapa meter antum? Rumah antum dari masjid 100. 100 m. Oke. 1 mnya berapa rangka? Kalau 1 mnya dua langkah misalnya, berarti apa? Sekali salat 200 pulang berangkat 200 pulang 200 sudah 400 sudah cukup tuh.<br \/>\n(40:07) Iya kan? Kan kata Rasulullah setiap langkah kaki untuk salat sodqah. Iya tidak? Iya. Makanya rugi antum kalau naik motor. Ya, antum setelah salat baca apa? Subhanallah 33 kali, jumlahnya 100. Lima kali salat berapa? 500 terpenuhi. Alhamdulillah. Berarti untuk memenuhi 360 sendi setiap harinya tidak sulit sebetulnya ya. Tidak sulit ikhwat Islam saudarakus iman rahimani warahimakumullah jam.<br \/>\n(40:50) Sementara sebagian ulama mengatakan hukumnya sunah. Ya, pendapat Imam Nawawi dan Ibnu Hajar. Wallahuam saudaraku seiman. mana yang rajih dalam hal ini ana tidak tidak ya tawakuf yang jelas Pak usahakan kita untuk memerdekakan diri api neraka karena kata Rasulullah siapa yang setiap harinya memenuhi 360 sendi maka di sore harinya ia sudah memerdekakan dirinya dari api neraka.<br \/>\n(41:30) Bayangkan. Jadi kalau sudah tercukupi 360 setiap hari, bayangkan sudah tercukupi. Kita selamat dari api neraka. Alhamdulillah. Ikhwat Islam, Saudarakus iman. Faedah selanjutnya yang bisa kita petik dari hadis ini, Saudaraku Siman, hadis ini menunjukkan ya akhal Islam yaitu tadi yang sudah kita sebutkan tentang bahwa makna sodqah itu lebih luas daripada makna infaq.<br \/>\n(42:16) Kalau ada yang bertanya, &#8220;Apa, Ustaz, bedanya sodqah dengan infak?&#8221; Kalau infak biasanya dengan harta, Pak. Adapun sedqah itu dengan harta ataupun dengan yang lainnya. Makanya sodqah itu maknanya lebih luas dibandingkan dengan apa? Infak. Saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jiah. Dan dalam riwayat yang dikeluarkan Imam Ahmad bahwa 360 sendi ini bisa dicukupi dengan dua rakaat duha, Pak.<br \/>\n(42:56) Kata Rasulullah, wat tujziuika rakataduh. Dan 360 sendi ini bisa dicukupi dengan dua rakaat duha. Dan itu hujah yang menunjukkan boleh salat duha setiap hari. Iya. Adapun riwayat yang menyebutkan Rasulullah kalau salat duha seakan-akan tidak meninggalkan dan kalau beliau tidak salat duha seakan-akan tidak melakukan. Itu riwayat yang lemah, tidak sahih.<br \/>\n(43:29) Ya, pendapat yang paling kuat dari pendapat para ulama bahwa salat duha boleh. Makanya Rasulullah berwasiat kepada Abu Hurairah, kepada Abu Dzar, &#8220;Jangan tinggalkan salat duha setiap hari dua rakaat.&#8221; Ya, kalaulah salat duha tidak boleh dilakukan tiap hari, tentu Rasulullah tidak akan berwasiat seperti itu.<br \/>\n(43:52) Tapi ketika Rasulullah berwasiat, jangan tinggalkan salat duha setiap hari dua rakaat. Itu menunjukkan boleh, Pak. Ya, ikhwat Islam, saudaraku seiman rahimani warahimakumullah jamian. Bab fiqabuli shodqah fi ghairi ahliha. Bab diterimanya sedekah walaupun ternyata diberi jatuhnya kepada orang yang tidak berhak. Maksudnya kalau kita sedekah, kita mengira dia berhak, ternyata enggak berhak. maka sedekah kita ya sah.<br \/>\n(44:41) Memang terjadi khilaf di kalangan para ulama untuk sedekah yang wajib berupa zakat. Karena sebagian ya ulama mengatakan yang sah itu kalau sedekah sunah. Adapun sedekah wajib tidak sah. Nanti akan disebutkan an Abi Hurairah an Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah masuk kisah ya. Nabi sallallahu alaihi wasallam qala rajulun laatq lailahqah bisodqotiwadah fiadi zaniah faasbahu yatahaddasun.<br \/>\n(45:26) lailah alaniah q allahum lakal hamdu alaniahqi faahuhadun q allahumakal hamdu alasqin Allah fautiya faqilahu amqatukaqilat amal tastainaha walirufiqu mimullah wqha Nah, Ikhwatal Islam, untuk selanjutnya kita simak dikumandangkannya azan untuk salat<br \/>\n(47:09) Isya bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Akbar. ashadu alla ilahaillallah [Tepuk tangan]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Waa alihi wa ashabihi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3633","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-rodjatv"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Waa alihi wa ashabihi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Transkrip\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T13:29:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-27T13:29:58+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/\",\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-11-27T13:29:57+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-27T13:29:58+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/\",\"name\":\"Transkrip\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818\",\"name\":\"Admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Admin\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/ngaji.id\/tran\"],\"url\":\"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","og_description":"(3) [LIVE] Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim &#8211; YouTube Transcript: (00:00) Waa alihi wa ashabihi waman ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ba&#8217;du. Ikhul Islamakumullah para pemisa dan pendengar RJA di mana pun Anda berada. Beberapa saat lagi kami akan hadirkan ke ruang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/","og_site_name":"Transkrip","article_published_time":"2025-11-27T13:29:57+00:00","article_modified_time":"2025-11-27T13:29:58+00:00","author":"Admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Admin","Est. reading time":"17 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/","name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. - Mukhtasar Shahih Muslim - Transkrip","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website"},"datePublished":"2025-11-27T13:29:57+00:00","dateModified":"2025-11-27T13:29:58+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/2025\/11\/27\/ustadz-abu-yahya-badru-salam-lc-mukhtasar-shahih-muslim-45\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc. &#8211; Mukhtasar Shahih Muslim"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#website","url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/","name":"Transkrip","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/73c6e0c1689bb54491a01c778ea5d818","name":"Admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d161f9b85bb4a0affd060f64c3f2802?s=96&d=mm&r=g","caption":"Admin"},"sameAs":["https:\/\/ngaji.id\/tran"],"url":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/author\/dedi73-sck\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3633"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3633"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3633\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3634,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3633\/revisions\/3634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ngaji.id\/tran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}